Quantcast

Bagaimana manusia berpikir?

classic Classic list List threaded Threaded
1 message Options
Reply | Threaded
Open this post in threaded view
|  
Report Content as Inappropriate

Bagaimana manusia berpikir?

wawan-3
--- In [hidden email], "selarasmilis" <selarasmilis@...>
wrote:

Bagaimana manusia berpikir?
Otak Manusia dan Sistem Kepercayaan 2

Berikut response tanya jawab dari artikel saya berjudul
"otak manusia dan sistem kepercayaan"

Ihsan Dalimus Pokiah Kayo at 3:39am March 1
Tp, bagaimana pendapat pakar yg mengatakan perkembangan otak
terbentuk dari hubungan antar sel-sel otak dengan adanya kirim dan
terima signal, signal yg berupa getaran aliran listrik mengalir dari
satu sel ke sel yg lainnya, dan dengan bantuan zat yg namanya
serotonin, terbentuklah hubungan yg menciptakan perkembangan otak itu
sendiri. Satu sel otak mampu membuat kurang lebih 15.000 hubungan
dengan sel otak lannya. Empirisisme-lah yang membuat hubungan antar
sel-sel otak bekerja, dan jaringan antar sel-sel otak menjadi
terbentuk. Sedangkan yang namanya doktrinisasi adalah suatu bentuk
penegasian terhadap empirisisme itu sendiri, dan dengan sendirinya
bisa mematikan cara kerja otak. Contoh 1+1=2 adalah suatu contoh yang
agak absurd untuk melukiskan cara kerja otak, 1+1=2 adalah suatu
bentuk kepastian alam. Sedangkan cara kerja otak berangkat dari
ketidakpastian-ketidakpastian yg ada di alam ini. Bagaimana yg tidak
pasti itu menjadi pasti, dan di terima sebagai suatu "common sense."

Wawan Setiawan at 3:58am March 1
serotonin,melatonin,dopamine itu semua boleh saya kategorikan dalam
domain hardware (sisem didalam otak), sedangkan 1+1=2 adalah
software, atau metodologi/suatu konsep yang didoktrinkan/diajarkan.
Kepastian2/logik2 sbg contoh 1+1=2 itu wilayah software/konsep/
metodologi yang sudah kita terima sebagai dogma sehingga sudah ada di
alam sistem alam bawah sadar kita/kernel, sehingga tampak logik. Coba
Anda imajinasikan kalau tidak pernah diajarkan mathematik, apakah
bisa mengetahui 1+1=2?
Segala sesuatunya tampak logik/seperti kepastian karena seperti
aplikasi yang telah terinstall dalam sistem alam bawah sadar kita,
seperti misalnya kalau di komputer kita sudah ada corel draw maka
untuk menggambar kita pake aplikasi corel draw, kalau belum ada maka
tentunya kita juga tidak bisa menggambar, demikian juga dengan
methodologi, sbg contoh mathematic, karena sudah diinstal di alam
bawah sadar kita maka 1+1=2 menjadi tampak logic, tapi kalau
ditanyakan kepada tarzan yang belum pernah diinstal mathematic maka
1+1 juga menjadi tidak pasti.

Ihsan Dalimus Pokiah Kayo at 4:58am March 1
Saya setuju Sdr Wawan. Mnrt pendapat pakar psikologi, 80% kehidupan
kita ini digerakkan oleh alam bawah sadar kita, yg domain kerjanya
dari otak kecil (kalau saya gak salah kutip).Nah,...sekarang kita
coba bawa ke konteks keberagamaan. Apakah keberagamaan itu suatu
doktrinasi atau empiris? Sedangkan Kepercayaan dan keyakinan
membutuhkan suatu pembelajaran dan proses yg berkelindan.
Hormat Saya dan Terima Kasih.

Wawan Setiawan at 6:25am March 1
keberagaman terjadi oleh proses kognisi baik yg tidak disengaja,
misal ini pengalaman seseorang terekam dalam otak, ataupun yang
disengaja misalnya dogma pendidikan sekolah ataupun agama. Mestinya
disadari saja bahwa meski saya pake windows, dan mungkin anda juga
pake windows, windows kita mungkin berbeda versi, demikian juga
aplikasi2 yang diinstal di windows saya kemungkinan berbeda dng
aplikasi2 yg diinstal di windows anda. Manusia pada dasarnya unique
dan mempunyai pengalaman memory otak yang berbeda-beda yang merupakan
hasil dari kognisi pengalamannya. Apa yg menjadi persepsional dalam
diri kita merupakan hasil rekaman proses otak baik yang tidak
disengaja ataupun dogma2 yg disengaja.Logik-pun bisa berasal dari
persepsional diri kita sendiri, ataupun persepsional hasil dogma
pendidikan ataupun dogma agama, karena semua berada di alam bawah
sadar, kadang kita menganggapnya itu sebagai suatu realita
materialistis,padahal sebenarnya apa yang ada di alam pikiran kita
adalah immaterial

Ihsan Dalimus Pokiah Kayo at 8:05am March 1
Pak, kalau menurut saya, Islam sebagai ajaran universal tidak lah
keras. Orang2 saja yg menafsirkannya dengan cara kekerasan, untuk
menjustifikasi kepentingannya. Saya ambil contoh ayat2 ttg Qishash,
jarang ada orang yang mau melihat di penghujung ayat2 tersebut. Di
penghujung ayat2 di sebutkan "memberi ma'af adalah sebaik-baik
perbuatan bagimu. Jadi, sebenarnya Islam sudah mengedepankan nilai2
universal, atau dengan kata2 lain hukum Islam yg sering dipakai
adalah hukum yg bersifat khos, bukan hukum yg bersifat 'am. Maka
jadilah Islam itu sebagai sebuah agama yg keras. Trus, penerapan
hukum Islam yg khos tersebut juga serampangan, contohnya seperti yg
dilakukan oleh Arab saudi. Kalau dahulu tokoh2 sufi di bunuh, mnrt
saya, itu gak lebih dari sebuah kebijakan politis, karena dianggap
bisa meresahkan umat, dan ketertiban negara jadi terganggu. Inbu al-
'Arabi dengan Wihdatul Wujudnya bisa kita jadikan contoh bagaimana
kejamnya sebuah kebijakan politik atas nama Agama.

Handhika S Ramadhan at 9:41am March 1
with all due respect, bung Wawan, but this time i'm afraid i must
disagree with you.....
kalo logic (such as 1+1=2) sebagai the very foundation of everything
diragukan, maka kepada apa lagikah kita akan bersandar?
mungkin tarzan nun jauh di pelosok rimba tidak tahu cara
mengekspresikan jawaban 1+!, but somehow in someway dia logikanya
akan mengatakan benar bahwa 1+1=2. mungkin menurut konvensi dia 1=$
dan 2=&, maka ia akan mengatakan bahwa $+$=&. it's just a matter of
convention (read: language)

Wawan Setiawan at 10:02am March 1
Dear Bung Handhika
berbeda pendapat adalah biasa dan tidak menjadi masalah, justru
menjadikan warna diskusi menjadi menarik. Di beberapa artikel yang
akan saya posting, saya hanya ingin mengekspresikan pikiran saya
terutama pemahaman saya thd sistem berpikir manusia. Saat ini saya
mengkomparasikannya dng sistem kerja komputer, bahwa semua yg menjadi
basis logic kita adalah aplikasi modular yang telah diinstal di alam
bawah sadar kita, dan kepercayaan2 kita merupakan suatu kernel
operating system. Begitulah saya memahami bagaimana manusia berpikir,
saya juga yakin manusia membuat sistem komputer dan artificial
intelligent, pastilah itu berasal dari sistem berpikirnya sendiri.
Dalam hal ini saya bisa berekspresi dan berargumentasi demikian
karena saya terkena angin lesus sampai kiri jauh moscow, alias
agnostik binti atheis :)
Dalam artikel2 saya berikutnya saya tidak menolak aplikasi2 modular
yg telah diiinstal di alam bawah sadar kita, namun kira2 cuman pengin
mendeskripsikan bagaimana sebenarnya sistem berpikir kita bekerja,
mengapa sesuatunya tampak logis, mengapa seseorang mempunyai persepsi
a sedangkan yg lain mempersepsikan b padahal itu dari satu source
sumber penalaran.

Sebagai contoh sederhana begini, secara standar alat music guitar
kalau dipetik loss, maka nada dasarnya adalah e, namun keith richard
rolling stone membuat nada dasar suatu gitar dipetik dng loss jari
menjadi g, jadi saya sangat meyakini bahwa semua pikiran2 kita itu
sebenarnya konsepsional/methodologi saja, dan kita memang install
beberapa aplikasi memang untuk kebutuhan sistem hidup, atau untuk
sistem memandang alam dan peradaban ini bekerja. Sbg contoh kalau
seseorang mengambil aplikasi dialektika materialisme 100% tentu akan
menjadi atheis karena tidak menyisakan ruang bagi God dalam cara
pandangnya thd alam, tapi seseorang yg mengintal aplikasi agama tentu
juga tidak bisa menjalankan aplikasi dialektika materialisme 100%,
jadi dlm hal ini saya beranggapan semuanya adalah aplikasi2 pilihan
yang bebas kita instal saja sesuai kebutuhan kita


Handhika S Ramadhan at 10:39am March 1
saya mengerti dan sepakat dgn bung Wawan mengenai persepsi.....
tapi menurut saya, logika matematika bukanlah persepsi.....ia adalah
kebenaran elementer, bahkan lebih elementer dari sekadar dogma2
agama.....
tanpa logika matematika tidak akan ada dialektika, bukan?
well, tapi memang mungkin dalam filsafat saya lebih terpengaruh dgn
mahzhab rasionalis-naturalis cartesian dibandingkan empirisisme
Locke, apalagi Hume dan Berkeley....
salam.

Edi Aryono at 10:51am March 1
...he..hehe...yang dimaksud islam itu apa mas...apa kitabnya atau
umat yang ngos2an berusaha mengerti kitabnya...kalo kitabnya dari
dulu juga begitu aja...kalo penafsirannya bukan kitab karena sudah
ada plus minusnya....dan yang mana perlu direnewal ,karena banyak dan
gak bisa dipake sebagai wakil kitab (suka2 yang nafsiriin aja)...kalo
umatnya berarti manusia....jadi yang perlu selamat itu manusia itu
sendiri...jadi gak perlu repot2 ngurusin kitab,karena kitab juga
isinya sebuah "cerita" saja...nah kalo ingin menyelamatkan sesama
manusia ini yang agak repot karena sama2 mempunyai otoritas...mungkin
mas punya energi yang berlebih dan ingin menyelamatkan yang
lain...hanya saja menjadi miris hati saya kalo yang lain bisa mas
terselamatkan tetapi mas tidak dapat menyelamatkan diri sendiri...dan
soal nada dasar gitar itu tidak ada yang pakem,gak usah jauh2 keith
richard, bassist krakatau:pra dharma saja nyetem bassnya dengan nada
pelog pentatonik..salam

Gigih Rahadi at 9:47pm March 1
selamat siang kawan..
tulisan2 anda ternyata kontroversi bgt men, y semoga itu dilandasi
dgn materi yg cukup..
ad beberapa poin penting yg akan sya soroti dalam tulisan anda ini..
pertama ketika anda mengatakan bahwa islam mengharamkan pembaruan,
memang secara global islam mengharamkan pengetahuan, tp apa yg
melandasi islam mengharamkan pembaruan, hal ini disebabkan dalam
islam telah mencakup keseluruhan mulai dari awal terbentuknya alam
semesta hingga berakhirnya alam semesta ini, mungkin anda mengatakan
islam lebih memilih menggunakan DOS dikarenakan watak feodal beberapa
golongan islam di Indonesia, sedangkan setau yg saya ketahui kenapa
kristen menghalalkan pembaruan karena mulai pasca perang salib hingga
saat ini belum pernah sekali pun diketahui bentuk serta isi injil yg
sebenarnya..oleh karena itu perlu diadakan pembaruan2 didalamnya..
kedua yg saya bener2 g sepakat ketika MDH adalah tool...bukannya MDH
adalah cara, bagaimana manusia berfikir secara utuh???
terakhir saya ingin menyakan jika manusia itu lebih menggunakan emosi
daripada logika, apa otak manusia jg dapat dianalogikan seperti
hardware??

Wawan Setiawan at 10:41pm March 1
Dear Friend
menurut saya gini, semua yg ada baik mathematika, MDH, Agama, Fisika,
itu semua tool, itu semua konsep, itu semua tata cara manusia
menyikapi peradaban dan alam, jangan mengkultuskan 100% terhadap
suatu aplikasi atau tool, MDH, Mathematika, Fisika,Agama itu bagi aku
seperti microsoft word,corel draw,Internet explorer, tidak tertutup
kemungkinan lho nanti kedepan ada lagi sistem berpikir manusia yg
lebih canggih dari MDH, mungkin teman Gigih menganggap MDH adalah
tool berpikir yg paling tepat karena seperti menginstal Microsoft
Word versi terbaru dan digunakan untuk menulis dilengkapi attachment
gambar kok cepet, mudah dan asyik sekali, tapi belum tentu bagi orang
lain bisa cocok menggunakan aplikasi berpikir taktis dengan MDH.
Habis ini saya posting berikutnya ttg diskusi kita sebelumnya yah.

Dulunya manusia mengira emosi berkaitan dengan hati/cakra jantung,
itu konsep 7 cakra India, namun science membuktikan bahwa emosi
digenerate oleh proses kimiwai otak antara dopamine dan serotonin.
Otak manusia itu boleh saya katakan hardware yang mempunyai
perubahan2 zat kimia didalamnya dan juga tegangan2 impulse dan pada
dasarnya tidak mengetahui sistem logik. Sistem logik dibangun di
level software atau dalam istilah komputer namanya kernel. Alam bawah
sadar manusia menguasai 80% dan alam bawah sadar yang saya analogikan
sebagai kernel itu mengatur pola suhu manusia, detak jantung, dlsb.
Jadi menurut saya pemetaannya otak itu adalah hardware yang mempunyai
pola perubahan kimia, sedangkan logic berada di tataran software baik
kernel ataupun aplikasi diatas kernel yang sudah terinstal dan
mungkin sudah seperti dijadikan built in dalam satu distro, misal
mathematic, ini boleh saya istilahkan wordpad, kalau Windows hanya
sistem operasi aja, lalu buat apa kita menggunakan sistem operasi
windows? bagaimanapun mathematica itu juga dikonsepkan oleh seseorang
filsuf lalu karena itu cara pandang yg taktis maka sudah seperti
embedded system dalam suatu sistem operasi, jadi seperti windows
standar skrg ada ms paint, word pad,internet explorer dll. Dalam
faktanya cara menganalisa alam ini juga berbeda2 misal Islam
menggunakan cara kalender hijiriah dan barat menggunakan kalender
masehi, dalam hitungan angka ada istilah binari, decimal, dan juga
hexadecimal. Mungkin kira2 kalau anda bisa menurunkan kesadaran di
titik blank/no-mind yang tidak menimbulkan gaya tarik pikiran, disitu
rasanya seperti bayi yang tidak punya konsep apapun, teknik ini dalam
buddhism disebut no-mind, ini juga teknik melepas kemelekatan karena
pikiran mempunyai gaya tarik atau gravitasi.

Wawan Setiawan at 12:28am March 2
@bung handhika
logika matematika bukanlah persepsi.....ia adalah kebenaran
elementer, bahkan lebih elementer dari sekadar dogma2 agama.....
tanpa logika matematika tidak akan ada dialektika, bukan?
===================
Sebenarnya manusia tidak mengenal benar salah dan logis, itu semua
menjadi ada kategori benar,kategori salah, kategori logis karena
pikiran kita sudah menginstal aplikasi2 methodologi termasuk math.
Memang hal ini akan berkembang terus, software sendiri pasti akan
update terus fungsi dan kegunaanya, dulu tentunya belum ada
browser,saya ingat mengakses Internet masih pake SLIP. Demikian juga
dengan peradaban, filsafat dan methodologi sistem berpikir akan
berkembang terus, Karl Marx sendiri baru menawarkan ide dialektika
materialisme di abad 19, dan tidak tertutup kemungkinan nanti ada
sistem berpikir modular yang baru lagi. Semua methodologi/aplikasi
yang kita instal berada di alam bawah sadar, sehingga pikiran kita
mulai bisa membedakan logis dan tidak, salah dan benar

Jadi kira2 saya gambarkan sebenarnya kita sudah mempunyai sistem
kernel berpikir yang sangat standar di alam bawah sadar, ini mengatur
ttg kerja jantung dan device2 tubuh lainnya,lalu ketika kecil kita
mulai instal mathematika, IPA, IPS,PMP, seperti halnya OS yang hanya
kernel saja tidak berfungsi apa2 tanpa ada ms paint, wordpad,
calculator, dlsb. Sesuai kedewasaan kita maka kita musti punya
keahlian specific, misal autocad, atau corel draw. Semuanya aplikasi
modular saja, dan yang mempengaruhi cara pandang/sistem berpikir
kita. Namun memang sebaiknya kita membuat distro sendiri karena
manusia memang pada dasarnya unique atau tidak ada yang sama.Salam

--- End forwarded message ---


Loading...