Quantcast

Bls: Re: Re: Nilai Kepahlawanan

classic Classic list List threaded Threaded
14 messages Options
Reply | Threaded
Open this post in threaded view
|  
Report Content as Inappropriate

Bls: Re: Re: Nilai Kepahlawanan

Sendy V



Salam buat saudaraku Indradewi (^_^),

thanks atas inputnya (^_^)
kesan tulisan sendy pedas, karena tarian kata-katanya ga berirama Waltz ya.. hhh, iramanya brak bruk brak bruk..

iya, sih, sendy sebenarnya sedih membaca ceritanya salah satu anak Sayuti Malik itu, ada kesan ga bisa nrimo dan agak dendam ama pemerintah.. (my opinion).. tpi apakah ga ada org2 yang care dan justru membantu meredam sakit hati mereka, karena kalo yang sendy baca itu seakan2 malah banyak yang mengompori, sehingga ada luka sampai bertahun-tahun, sehingga keluarlah komentar sendy kemaren itu,
sebenarnya pengen bilang... Come On, wake up... hadapi..jangan lar.. jangan sembunyi..jangan berlindung di balik kebesaran orgtua..dan bla bla bla.. tpi nanti ada yg bilang.. eh.. emangnya elo siapa ya ??? hhhh...pake merintah2 gitu... (^_^)

hhh.. dan kemudian kisahnya agak lucu pula.. (tdi sedih kok jdi lucu ya ??), udah mengemis di Kanada, trus pake embel2 kafir Kanada.. apa ga haram tuh ngemis ama org kafir ???.. (kalo base on agamanya, ya kalo sama org kafir kan boleh dekat2..apalgi sampe makan dan segalanya dibantu org kafir, napa ga minta ke yg ga kafir ya.. ke arab kek yg kaya raya itu ???,..... pas kebenaran sendy ga beragama, jdi cuman tergelitik aza dengan kata kafir Kanada itu..)

but sekali lagi, ini bukan buat membuat kacau siapapun atau memprovokasi apapun, hanya berdasar kesadaran aza nulisnya, karena yang terlihat adalah seperti itu, so, itu semua apa adanya,, bukan ada apanya. Oke ??

** sepertinya saudaraku Indradewi juga seorng yg butuh pengakuan ya... HHHH (^_^)
so, kuakui.. Indradewi org yg hangat dan ramah... salam semesta selalu

thanks alot ya buat semua pembaca di milis SI ini..
,, (^_^) ,,  

------------------------------
Pada Sab, 24 Nov 2012 20:54 Waktu Baku Pasifik [hidden email] menulis:

>
>Salut utk Sendy yg berkenan kasih komentar apa adanya (kebetulan, komentarnya "pedas").
>
>Pengakuan adalah kebutuhan dasar manusia.
>
>Sayangnya, banyak orang yg butuh pengakuan dari pihak2 di luar dirinya. Padahal pengakuan yg sejati dan hakiki justru berasal dari diri sendiri.
>
>Menurut saya, apa pun ucapan, tindakan, sikap, pemikiran, dll, selama itu utk kebaikan dan ketenangan si pelaku (dgn catatan, tdk merugikan org lain), biarkan lah.
>
>Kalau memang Pak Heru Baskoro pribadi dan keluarga "happy and peaceful", just let them be happy and peaceful, we shouldn't be bothered or bother them.
>
>Enjoy your Sunday.....
>
>Indra Dewi
>
>
>
>Sent from my BlackBerry® smartphone from Sinyal Bagus XL, Nyambung Teruuusss...!
>
>-----Original Message-----
>From: "Sendy V" <[hidden email]>
>Sender: [hidden email]
>Date: Sat, 24 Nov 2012 14:12:49
>To: <[hidden email]>
>Reply-To: [hidden email]
>Subject: [Spiritual-Indonesia] Re: Nilai Kepahlawanan
>
>salam semesta,
>
>entah mengapa, pas membaca tulisan di atas, ujung2 nya sendy berpendapat, tetap saja masalah harta dan tahta..
>maksudnya apa ????
>ya, kalo emang bangga jdi org Indonesia, ya hadapilah hidup di Indonesia dengan segala kerumitannya. Kalo omongin anak2 Presiden masih hidup bermewah2 hingga sekarang, juga ttg tentang kemalasan org2 Indonesia, ya sama aza, anaknya Sayuti Malik yg nyari kesenangan juga keliatan malas, buktinya sampe ditanggung ama pemerintah Canada yg tdi sempat disebut kafir... aneh juga ya, kok kesannya munafik gitu.. HHH...
>
>kalo emang bangga jdi org Indonesia, banggakan juga almarhum ortunya, kan udah jelas bahwa orgtuanya berjuang tanpa tanda jasa, sementara sang anak sekarng butuh diakui jasa2 orgtuanya.. pernahkah ya anaknya Sayuti Malik berpikir kalo perjuangan ortunya itu murni, tapi sekrng malah ditetesin sedikit noda karena butuh sebuah pengakuan.. buat apa pengakuan atau penghargaan kepahlawanan itu ? ya buat mempermudah anak2 nya dan cucunya Sayuti Malik, ujung2 nya kan sama aza dengan kemalasan, karena dengan menjdi anaknya seorng pahlawan, semua akan dipermudah.. iya ga ??? pdhal dulunya ortunya berjuang demi negara, sekarang anaknya berjuang buat diri sendiri dengan mencela negaranya.. so, bagi sendy yang membaca tulisan anaknya Sayuti Malik (kalo memang itu benar yg nulis anaknya ya.. ).. maka... kesannya munafik banget.. moga cepat2 bisa disadari... Sayuti Malik banyak diceritakan dalam sejarah2 di sekolah dari tahun ke tahun, so, tanpa gelar pahlawan pun,
 byk org yang tau bahwa beliau memang penjuang sejati..

>
>that's my pendapat..atas tulisannya anaknya Sayuti Malik
>
>Nuhun ya.. buat semua..
>
>salam damai semesta..
>
>
>--- In [hidden email], "leonardor" <leonardo_rimba@...> wrote:
>>
>> Kesaksian yg luar biasa sekali. Terimakasih sudah berbagi.
>>
>> Leo
>>
>>
>> --- In [hidden email], "Heru" <heru_bas21@> wrote:
>> >
>> > Ayah dan ibu saya (Sayuti Melik dan S.K. Trimurti)dikubur di Makam Pahlawan di Kali bata. Ada beberapa teman kasih komentar bahwa di kuburan tersebut juga dikuburkan para pengchianat bangsa dan para koruptor. Kata mereka saya harus ikut contoh keluarga Bung Karno, Bung Hatta yang jauh lebih besar ketokohannya dari Sayuti Melik dan S.K. Trimurti tidak mau dikuburkan di taman Pahlawan. Saya jawab, jelas keluarga Bung Hata dan Soekarno adalah orang kaya bisa punya kuburan sendiri yang lebih mewah dari kuburan Kalibata. Buat saya kuburan Kalibata membebaskan saya dari segala biaya penguburan. Bahkan polisi yang mengawal jenasahpun tidak saya kasih uang walaupun mereka minta uang dari saya. Saya bilang kalau tidak mau mengawal silahkan. Sekarang saya sebagai anak pahlawan minta bantuan dari pemerintah kafir Kanada, karena pertama saya tidak suka hidup hipokrit di Indonesia kedua tidak ada perhatian dari pemerintah atas jasa2 orang tua saya.Waktu saya
 lahir ibu saya disiksa Jepang sampai tidak bisa memberi air susu kepada saya (waktu itu saya berumur 2 tahun}. Saya hidup dari air tajin. Masih bagus saya masih bisa hidup walaupun kurang gizi waktu kecil. Secara tidak langsung saya ikut berkorban karena perjuangan orang tua saya. Anak2 Soekarno dan Hatta hidupnya mewah2 saja. Apalagi anak2 Soeharto. Sampai sekarang orang tua saya belum mendapat gelar pahlawan. Kalau anda percaya ada kihdupan setelah mati maka mereka pasti tidak mengharapkan gelar tersebut. Tapi saya yang tidak percaya ada kehidupan setelah mati perlu gelar tersebut supaya saya dapat tunjangan dari Pemerintah. Di Kanada baik saya maupun orang tua saya bukan siapa2. Selama di Kanada saya tidak pernah membayar pajak pendapatan, karena saya pindah dari permanent resident US ke permanent resicent Kanada. Di US saya bayar pajak karena bekerja disana. Di Kanada saya yang bukan siapa2 dapat bantuan dari pemerintah Kanada $1,270 sebulan belum
 lagi mendapat Care Card tanpa harus bayar premi asuransi. Saya telah dioperasi 3 kali sedang isteri saya di operasi sekali tanpa bayar seperserpun. Saya juga berhak mendapat bantuan ticket Public Transportation untuk Skytrain dan Bus keseluruh zone di Vancouver Area (luasnya mungkin sebesar seluruh daerah Jakarta).Sebagai senior maka obat dari resep dokter hampir semuanya dibayar pemerintah. Disamping itu karena saya adalah penduduk British Columbia yang kalau beli barang tertentu membayar Pajak Penjualan maka setelah saya mengisi Tax Return (isian paja) maka tiap quartal saya mendapat pengembalian sebesar $299.00  Sistim asuransi kesehatan ini yang akan ditiru Obama. Tahun 2014 saya akan dapat pensiun resmi dari pemerintah Kanada (setelah 10 tahun tinggal di Kanada) padahal saya masih tetap warga negara Indonesia. Status saya cuma permanent resident. Kanada bukan negara Pancasila dan masih mengakui Elizabeth sebagai Ratu. Sungguh aneh. Walaupun diberi
 kemudahan saya masih bebas untuk mengemukakan pendirian saya bahawa saya anti Ratu Inggris dan keturunannya.

>> > Saya tidak memuji Kanada serta penduduknya. Orang Kanada tidak lebih pintar dari orang Indonesia. Saya ikut kursus matematik disuatu Adult School. Saya dapat 100%(artinya seluruh quiz, test dan exam saya selama kursus selalu 100%. Menurut guru2 sekolah tersebut sudah bertahun2 tidak ada murid yang mendapat angka 100 % disekolah tersebut. Padahal kepandaian matematik saya di Indonesia biasa2 saja.
>> > Saya tidak seperti kebanyakan anak2 yang suka berdemonstrasi membenci negara barat (terutama orang kulit putihnya), tapi kalau menghadapi bule pada minder. Padahal di Kanada banyak bule yang jadi pengemis (sudah dapat bantuan dari pemerintah tapi tidak dapat memanfaatkan bantuan tersebut karena malas dan mennghamburkan uangnya untuk "drug" dll, sehingga mereka jadi pengemis, di Indonesia menjadi pengemis karena terpaksa}. Saya selalu bangga jadi orang Indonesia. Dimana2 saya selalu membanggakan diri saya sebagai orang Indonesia.
>> >
>> > Salam,
>> > Heru Baskoro
>> >
>> >
>> >
>> > --- In [hidden email], semar samiaji <kind_evil_06@> wrote:
>> > >
>> > > Merujuk pada link berikut http://www.tempo.co/read/news/2012/04/12/117396582/David-Cameron-Indonesia-Bisa-Memimpin-Dunia
>> > > memberi refleksi bahwa medan perjuangan salah satu yang utamanya adalah
>> > > melalui dunia pendidikan. Kalau Indonesia mendidik masyarakatnya
>> > > melalui nilai-nilai yang ke luar dari JIWA Pembukaan UUD 1945, semakna
>> > > dengan menanamkan nilai-nilai yang akan menjadi gangguan kejiwaan bagi
>> > > bangsa Indonesia akhirnya.
>> > >
>> > > Kalau kita merujuk kepada penghargaan
>> > > dari Ratu Inggris kepada Presiden  yang diberitakan akhir-akhir ini,
>> > > semestinya (menurut saya), tidak perlu bawa-bawa Indonesianya.
>> > > Silahkan, kalau penghargaan demikian diterima atas nama PRIBADI Pak
>> > > Presiden. Silahkan pelajari dan kaji, latar belakang gelar tersebut
>> > > diberikan oleh para Raja / Ratu Inggris. Diberikan bukan dalam rangka
>> > > hubungan antar-negara, namun diberikan bagi satria melalui proses
>> > > pemandian (dipermandikan) oleh Raja / Ratu Inggris.
>> > >
>> > > Kalau
>> > > kemudian, ada suara-suara yang mengkaitkan pemberian gelar satria
>> > > tersebut dengan urusan investasi Inggris di Indonesia, jangan kemudian
>> > > dibantah begitu saja. Lalu, menyatakan  bahwa pemberian tersebut
>> > > katanya karena prestasi demokrasi Indonesia. Kalau kita rujuk link
>> > > berikut http://www.metrotvnews.com/ekonomi/news/2012/11/02/112274/BP-Siapkan-Investasi-US$12-Miliar-di-Indonesia
>> > > , apakah kemudian bisa dipisahkan antara urusan gelar satria itu dengan
>> > > urusan ekonomi dengan nilai investasi yang aduhai tersebut? Sesaat
>> > > beralihnya rezim Bung Karno kepada Pak Harto, wilayah Irian Barat,
>> > > khususnya Freeport menjadi bagian dari proses peralihannya. Apakah
>> > > kemudian menjadi tidak mungkin, saat ini, Inggris dengan Proyek
>> > > Tangguhnya? Apakah jumlah hingga 12 miliar US$ di wilayah yang
>> > > disengketakan dan dimasalahkan oleh para LSM Inggris dan juga para
>> > > penegak HAM, di mana Indonesia katanya melakukan tindakan melanggar
>> > > HAM. Namun di saat itu pula dijawab melalui
>> > >  bentuk investasi
>> > > pertambangan di wilayah tersebut. Bagaimana bisa meyakini adanya
>> > > keselarasan antara ucap dengan laku perbuatan kalau sudah demikian?
>> > >
>> > > Sebenarnya,
>> > > kita tidak mempermasalahkan bentuk-bentuk investasi bagi Indonesia.
>> > > Yang menjadi masalah, ternyata investasi kemudian merugikan pihak
>> > > Indonesia dalam konteks kehidupan kita yang berupaya menghidupkan
>> > > nilai-nilai kebangsaan dan pengelolaan negara yang selaras dan sejiwa
>> > > dengan Pembukaan UUD 1945. Mari dikaji, silahkan sebutkan, mana bentuk
>> > > investasi, khususnya dalam pertambangan, yang benar-benar berpihak
>> > > kepada Indonesia? Tanah ini dijadikan selain dikuras tambangnya, juga
>> > > dijadikan pasar agar bergantung kepada si penguras tambang. Apakah
>> > > masih kurang cukup peristiwa-peristiwa yang ada selama ini? Apa yang
>> > > terjadi pada urusan energi di Indonesia? Apa yang terjadi di
>> > > wilayah-wilayah tambang yang menghancurkan lingkungan di Indonesia?
>> > > Lalu, melalui kekuatan penguasaan pertambangan, bangsa kita pun berebut
>> > > saling menguasai sumber uang yang terbesar ini. Lalu, masuk ke wilayah
>> > > perebutan kekuasaan, baik dalam cakupan nasional mau pun
>> > >
>> > > internasional. Perjalanan rezim Bung Karno yang begitu "keras"
>> > > melakukan upaya kesetaraan saja kemudian "kalah", bukan? Esensinya
>> > > bukan terletak pada kalahnya, namun kepada SURI TAULADAN kepemimpinan
>> > > yang SETIA dan TAAT kepada nilai-nilai Pembukaan UUD 1945-nya.
>> > >
>> > > Melalui
>> > > refleksi demikian, medan perjuangan bangsa Indonesia kemudian esensinya
>> > > TIDAK terletak pada seakan-akan kalau sudah menerima penghargaan
>> > > kemudian pahlawan atau manusia yang sudah berkorban besar bagi
>> > > negaranya, sebagai mana kejadian di Surabaya 67 tahun yang lalu, bukan?
>> > > Kecuali, baru sebatas pengakuan-pengakuan saja, bukan?
>> > >
>> > > Saat
>> > > terjadinya pertempuran besar di Surabaya, 67 tahun yang lalu, tolok
>> > > ukurnya jelas, yaitu mempertahankan kemerdekaan sebagai negara. Saat
>> > > ini, ukurannya adalah JIWA Pembukaan UUD 1945. Ini perjuangan beratnya,
>> > > upaya tetap menanamkan dan berbuat dengan nilai-nilai Pembukaan UUD
>> > > 1945 tidak mudah, karena dunia umumnya tidak demikian nuansanya.
>> > > Diperlukan suri tauladan yang nyata dan JUJUR. Bukan yang sibuk takut
>> > > karena imagenya menjadi rusak atau buruk.
>> > >
>> > > Pak Presiden
>> > > berpidato katanya Indonesia akan menjadi jembatan kebudayaan dunia.
>> > > Saya yakin dengan itu, tetapi TIDAK dengan cara-cara yang mengedepankan
>> > > nilai-nilai kebudayaan merusak ekonomi negara melalui investasi yang
>> > > merusak alam Indonesia. Tidak dengan cara-cara menunduk, patuh, dan
>> > > taat kepada maunya kepentingan-kepentingan asing melampaui nilai-nilai
>> > > kebudayaan (refleksi Pembukaan UUD 1945) bangsa Indonesia.
>> > >
>> > > Esensi
>> > > nilai-nilai kepahlawanan di era saat ini, TIDAK terletak kepada
>> > > bentuk-bentuk penghargaan yang disematkan oleh manusia. Esensi
>> > > kepahlawanan sejatinya berlaku bagi siapa pun manusia Indonesia yang
>> > > benar-benar atau sungguh-sungguh dengan nilai-nilai kemanusiaan buah
>> > > dari ketuhanannya. Tidak memerlukan bentuk-bentuk pengakuan bahwa sudah
>> > > merasa berjasa, apalagi sambil seret-seret jabatan / kekuasaan. Semua
>> > > bentuk-bentuk kepemimpinan yang tidak demikian PASTI akan ditelanjangi
>> > > sampai ke akar-akarnya. Silahkan, si manusia itu berkelit dan melakukan
>> > > upaya menghindar dari tanggung jawab dan kewenangan yang dititipkan
>> > > kepadanya, mari kita buktikan apakah si manusia nantinya memang
>> > > benar-benar mampu menghindar dari gerak alam semesta.
>> > >
>> > > Semoga YMK beri setetes cahaya kepada setiap hati manusia Indonesia yang masih gelap mata hatinya.
>> > >
>> > > Selamat berjuang. Sekali merdeka tetap merdeka!!
>> > >
>> > > Bogor, 5 November 2012
>> > >
>> > > salam,
>> > > ss
>> > >
>> >
>>
>
>
>

Reply | Threaded
Open this post in threaded view
|  
Report Content as Inappropriate

Re: Bls: Re: Re: Nilai Kepahlawanan

mudhy manroe
Sendy Kerenz euii....

Salam,


Powered by Telkomsel BlackBerry®

-----Original Message-----
From: Sendy Huang <[hidden email]>
Sender: [hidden email]
Date: Sun, 25 Nov 2012 13:25:30
To: <[hidden email]>
Reply-To: [hidden email]
Subject: Bls: Re: [Spiritual-Indonesia] Re: Nilai Kepahlawanan




Salam buat saudaraku Indradewi (^_^),

thanks atas inputnya (^_^)
kesan tulisan sendy pedas, karena tarian kata-katanya ga berirama Waltz ya.. hhh, iramanya brak bruk brak bruk..

iya, sih, sendy sebenarnya sedih membaca ceritanya salah satu anak Sayuti Malik itu, ada kesan ga bisa nrimo dan agak dendam ama pemerintah.. (my opinion).. tpi apakah ga ada org2 yang care dan justru membantu meredam sakit hati mereka, karena kalo yang sendy baca itu seakan2 malah banyak yang mengompori, sehingga ada luka sampai bertahun-tahun, sehingga keluarlah komentar sendy kemaren itu,
sebenarnya pengen bilang... Come On, wake up... hadapi..jangan lar.. jangan sembunyi..jangan berlindung di balik kebesaran orgtua..dan bla bla bla.. tpi nanti ada yg bilang.. eh.. emangnya elo siapa ya ??? hhhh...pake merintah2 gitu... (^_^)

hhh.. dan kemudian kisahnya agak lucu pula.. (tdi sedih kok jdi lucu ya ??), udah mengemis di Kanada, trus pake embel2 kafir Kanada.. apa ga haram tuh ngemis ama org kafir ???.. (kalo base on agamanya, ya kalo sama org kafir kan boleh dekat2..apalgi sampe makan dan segalanya dibantu org kafir, napa ga minta ke yg ga kafir ya.. ke arab kek yg kaya raya itu ???,..... pas kebenaran sendy ga beragama, jdi cuman tergelitik aza dengan kata kafir Kanada itu..)

but sekali lagi, ini bukan buat membuat kacau siapapun atau memprovokasi apapun, hanya berdasar kesadaran aza nulisnya, karena yang terlihat adalah seperti itu, so, itu semua apa adanya,, bukan ada apanya. Oke ??

** sepertinya saudaraku Indradewi juga seorng yg butuh pengakuan ya... HHHH (^_^)
so, kuakui.. Indradewi org yg hangat dan ramah... salam semesta selalu

thanks alot ya buat semua pembaca di milis SI ini..
,, (^_^) ,,  

------------------------------
Pada Sab, 24 Nov 2012 20:54 Waktu Baku Pasifik [hidden email] menulis:

>
>Salut utk Sendy yg berkenan kasih komentar apa adanya (kebetulan, komentarnya "pedas").
>
>Pengakuan adalah kebutuhan dasar manusia.
>
>Sayangnya, banyak orang yg butuh pengakuan dari pihak2 di luar dirinya. Padahal pengakuan yg sejati dan hakiki justru berasal dari diri sendiri.
>
>Menurut saya, apa pun ucapan, tindakan, sikap, pemikiran, dll, selama itu utk kebaikan dan ketenangan si pelaku (dgn catatan, tdk merugikan org lain), biarkan lah.
>
>Kalau memang Pak Heru Baskoro pribadi dan keluarga "happy and peaceful", just let them be happy and peaceful, we shouldn't be bothered or bother them.
>
>Enjoy your Sunday.....
>
>Indra Dewi
>
>
>
>Sent from my BlackBerry® smartphone from Sinyal Bagus XL, Nyambung Teruuusss...!
>
>-----Original Message-----
>From: "Sendy V" <[hidden email]>
>Sender: [hidden email]
>Date: Sat, 24 Nov 2012 14:12:49
>To: <[hidden email]>
>Reply-To: [hidden email]
>Subject: [Spiritual-Indonesia] Re: Nilai Kepahlawanan
>
>salam semesta,
>
>entah mengapa, pas membaca tulisan di atas, ujung2 nya sendy berpendapat, tetap saja masalah harta dan tahta..
>maksudnya apa ????
>ya, kalo emang bangga jdi org Indonesia, ya hadapilah hidup di Indonesia dengan segala kerumitannya. Kalo omongin anak2 Presiden masih hidup bermewah2 hingga sekarang, juga ttg tentang kemalasan org2 Indonesia, ya sama aza, anaknya Sayuti Malik yg nyari kesenangan juga keliatan malas, buktinya sampe ditanggung ama pemerintah Canada yg tdi sempat disebut kafir... aneh juga ya, kok kesannya munafik gitu.. HHH...
>
>kalo emang bangga jdi org Indonesia, banggakan juga almarhum ortunya, kan udah jelas bahwa orgtuanya berjuang tanpa tanda jasa, sementara sang anak sekarng butuh diakui jasa2 orgtuanya.. pernahkah ya anaknya Sayuti Malik berpikir kalo perjuangan ortunya itu murni, tapi sekrng malah ditetesin sedikit noda karena butuh sebuah pengakuan.. buat apa pengakuan atau penghargaan kepahlawanan itu ? ya buat mempermudah anak2 nya dan cucunya Sayuti Malik, ujung2 nya kan sama aza dengan kemalasan, karena dengan menjdi anaknya seorng pahlawan, semua akan dipermudah.. iya ga ??? pdhal dulunya ortunya berjuang demi negara, sekarang anaknya berjuang buat diri sendiri dengan mencela negaranya.. so, bagi sendy yang membaca tulisan anaknya Sayuti Malik (kalo memang itu benar yg nulis anaknya ya.. ).. maka... kesannya munafik banget.. moga cepat2 bisa disadari... Sayuti Malik banyak diceritakan dalam sejarah2 di sekolah dari tahun ke tahun, so, tanpa gelar pahlawan pun,
 byk org yang tau bahwa beliau memang penjuang sejati..

>
>that's my pendapat..atas tulisannya anaknya Sayuti Malik
>
>Nuhun ya.. buat semua..
>
>salam damai semesta..
>
>
>--- In [hidden email], "leonardor" <leonardo_rimba@...> wrote:
>>
>> Kesaksian yg luar biasa sekali. Terimakasih sudah berbagi.
>>
>> Leo
>>
>>
>> --- In [hidden email], "Heru" <heru_bas21@> wrote:
>> >
>> > Ayah dan ibu saya (Sayuti Melik dan S.K. Trimurti)dikubur di Makam Pahlawan di Kali bata. Ada beberapa teman kasih komentar bahwa di kuburan tersebut juga dikuburkan para pengchianat bangsa dan para koruptor. Kata mereka saya harus ikut contoh keluarga Bung Karno, Bung Hatta yang jauh lebih besar ketokohannya dari Sayuti Melik dan S.K. Trimurti tidak mau dikuburkan di taman Pahlawan. Saya jawab, jelas keluarga Bung Hata dan Soekarno adalah orang kaya bisa punya kuburan sendiri yang lebih mewah dari kuburan Kalibata. Buat saya kuburan Kalibata membebaskan saya dari segala biaya penguburan. Bahkan polisi yang mengawal jenasahpun tidak saya kasih uang walaupun mereka minta uang dari saya. Saya bilang kalau tidak mau mengawal silahkan. Sekarang saya sebagai anak pahlawan minta bantuan dari pemerintah kafir Kanada, karena pertama saya tidak suka hidup hipokrit di Indonesia kedua tidak ada perhatian dari pemerintah atas jasa2 orang tua saya.Waktu saya
 lahir ibu saya disiksa Jepang sampai tidak bisa memberi air susu kepada saya (waktu itu saya berumur 2 tahun}. Saya hidup dari air tajin. Masih bagus saya masih bisa hidup walaupun kurang gizi waktu kecil. Secara tidak langsung saya ikut berkorban karena perjuangan orang tua saya. Anak2 Soekarno dan Hatta hidupnya mewah2 saja. Apalagi anak2 Soeharto. Sampai sekarang orang tua saya belum mendapat gelar pahlawan. Kalau anda percaya ada kihdupan setelah mati maka mereka pasti tidak mengharapkan gelar tersebut. Tapi saya yang tidak percaya ada kehidupan setelah mati perlu gelar tersebut supaya saya dapat tunjangan dari Pemerintah. Di Kanada baik saya maupun orang tua saya bukan siapa2. Selama di Kanada saya tidak pernah membayar pajak pendapatan, karena saya pindah dari permanent resident US ke permanent resicent Kanada. Di US saya bayar pajak karena bekerja disana. Di Kanada saya yang bukan siapa2 dapat bantuan dari pemerintah Kanada $1,270 sebulan belum
 lagi mendapat Care Card tanpa harus bayar premi asuransi. Saya telah dioperasi 3 kali sedang isteri saya di operasi sekali tanpa bayar seperserpun. Saya juga berhak mendapat bantuan ticket Public Transportation untuk Skytrain dan Bus keseluruh zone di Vancouver Area (luasnya mungkin sebesar seluruh daerah Jakarta).Sebagai senior maka obat dari resep dokter hampir semuanya dibayar pemerintah. Disamping itu karena saya adalah penduduk British Columbia yang kalau beli barang tertentu membayar Pajak Penjualan maka setelah saya mengisi Tax Return (isian paja) maka tiap quartal saya mendapat pengembalian sebesar $299.00  Sistim asuransi kesehatan ini yang akan ditiru Obama. Tahun 2014 saya akan dapat pensiun resmi dari pemerintah Kanada (setelah 10 tahun tinggal di Kanada) padahal saya masih tetap warga negara Indonesia. Status saya cuma permanent resident. Kanada bukan negara Pancasila dan masih mengakui Elizabeth sebagai Ratu. Sungguh aneh. Walaupun diberi
 kemudahan saya masih bebas untuk mengemukakan pendirian saya bahawa saya anti Ratu Inggris dan keturunannya.

>> > Saya tidak memuji Kanada serta penduduknya. Orang Kanada tidak lebih pintar dari orang Indonesia. Saya ikut kursus matematik disuatu Adult School. Saya dapat 100%(artinya seluruh quiz, test dan exam saya selama kursus selalu 100%. Menurut guru2 sekolah tersebut sudah bertahun2 tidak ada murid yang mendapat angka 100 % disekolah tersebut. Padahal kepandaian matematik saya di Indonesia biasa2 saja.
>> > Saya tidak seperti kebanyakan anak2 yang suka berdemonstrasi membenci negara barat (terutama orang kulit putihnya), tapi kalau menghadapi bule pada minder. Padahal di Kanada banyak bule yang jadi pengemis (sudah dapat bantuan dari pemerintah tapi tidak dapat memanfaatkan bantuan tersebut karena malas dan mennghamburkan uangnya untuk "drug" dll, sehingga mereka jadi pengemis, di Indonesia menjadi pengemis karena terpaksa}. Saya selalu bangga jadi orang Indonesia. Dimana2 saya selalu membanggakan diri saya sebagai orang Indonesia.
>> >
>> > Salam,
>> > Heru Baskoro
>> >
>> >
>> >
>> > --- In [hidden email], semar samiaji <kind_evil_06@> wrote:
>> > >
>> > > Merujuk pada link berikut http://www.tempo.co/read/news/2012/04/12/117396582/David-Cameron-Indonesia-Bisa-Memimpin-Dunia
>> > > memberi refleksi bahwa medan perjuangan salah satu yang utamanya adalah
>> > > melalui dunia pendidikan. Kalau Indonesia mendidik masyarakatnya
>> > > melalui nilai-nilai yang ke luar dari JIWA Pembukaan UUD 1945, semakna
>> > > dengan menanamkan nilai-nilai yang akan menjadi gangguan kejiwaan bagi
>> > > bangsa Indonesia akhirnya.
>> > >
>> > > Kalau kita merujuk kepada penghargaan
>> > > dari Ratu Inggris kepada Presiden  yang diberitakan akhir-akhir ini,
>> > > semestinya (menurut saya), tidak perlu bawa-bawa Indonesianya.
>> > > Silahkan, kalau penghargaan demikian diterima atas nama PRIBADI Pak
>> > > Presiden. Silahkan pelajari dan kaji, latar belakang gelar tersebut
>> > > diberikan oleh para Raja / Ratu Inggris. Diberikan bukan dalam rangka
>> > > hubungan antar-negara, namun diberikan bagi satria melalui proses
>> > > pemandian (dipermandikan) oleh Raja / Ratu Inggris.
>> > >
>> > > Kalau
>> > > kemudian, ada suara-suara yang mengkaitkan pemberian gelar satria
>> > > tersebut dengan urusan investasi Inggris di Indonesia, jangan kemudian
>> > > dibantah begitu saja. Lalu, menyatakan  bahwa pemberian tersebut
>> > > katanya karena prestasi demokrasi Indonesia. Kalau kita rujuk link
>> > > berikut http://www.metrotvnews.com/ekonomi/news/2012/11/02/112274/BP-Siapkan-Investasi-US$12-Miliar-di-Indonesia
>> > > , apakah kemudian bisa dipisahkan antara urusan gelar satria itu dengan
>> > > urusan ekonomi dengan nilai investasi yang aduhai tersebut? Sesaat
>> > > beralihnya rezim Bung Karno kepada Pak Harto, wilayah Irian Barat,
>> > > khususnya Freeport menjadi bagian dari proses peralihannya. Apakah
>> > > kemudian menjadi tidak mungkin, saat ini, Inggris dengan Proyek
>> > > Tangguhnya? Apakah jumlah hingga 12 miliar US$ di wilayah yang
>> > > disengketakan dan dimasalahkan oleh para LSM Inggris dan juga para
>> > > penegak HAM, di mana Indonesia katanya melakukan tindakan melanggar
>> > > HAM. Namun di saat itu pula dijawab melalui
>> > >  bentuk investasi
>> > > pertambangan di wilayah tersebut. Bagaimana bisa meyakini adanya
>> > > keselarasan antara ucap dengan laku perbuatan kalau sudah demikian?
>> > >
>> > > Sebenarnya,
>> > > kita tidak mempermasalahkan bentuk-bentuk investasi bagi Indonesia.
>> > > Yang menjadi masalah, ternyata investasi kemudian merugikan pihak
>> > > Indonesia dalam konteks kehidupan kita yang berupaya menghidupkan
>> > > nilai-nilai kebangsaan dan pengelolaan negara yang selaras dan sejiwa
>> > > dengan Pembukaan UUD 1945. Mari dikaji, silahkan sebutkan, mana bentuk
>> > > investasi, khususnya dalam pertambangan, yang benar-benar berpihak
>> > > kepada Indonesia? Tanah ini dijadikan selain dikuras tambangnya, juga
>> > > dijadikan pasar agar bergantung kepada si penguras tambang. Apakah
>> > > masih kurang cukup peristiwa-peristiwa yang ada selama ini? Apa yang
>> > > terjadi pada urusan energi di Indonesia? Apa yang terjadi di
>> > > wilayah-wilayah tambang yang menghancurkan lingkungan di Indonesia?
>> > > Lalu, melalui kekuatan penguasaan pertambangan, bangsa kita pun berebut
>> > > saling menguasai sumber uang yang terbesar ini. Lalu, masuk ke wilayah
>> > > perebutan kekuasaan, baik dalam cakupan nasional mau pun
>> > >
>> > > internasional. Perjalanan rezim Bung Karno yang begitu "keras"
>> > > melakukan upaya kesetaraan saja kemudian "kalah", bukan? Esensinya
>> > > bukan terletak pada kalahnya, namun kepada SURI TAULADAN kepemimpinan
>> > > yang SETIA dan TAAT kepada nilai-nilai Pembukaan UUD 1945-nya.
>> > >
>> > > Melalui
>> > > refleksi demikian, medan perjuangan bangsa Indonesia kemudian esensinya
>> > > TIDAK terletak pada seakan-akan kalau sudah menerima penghargaan
>> > > kemudian pahlawan atau manusia yang sudah berkorban besar bagi
>> > > negaranya, sebagai mana kejadian di Surabaya 67 tahun yang lalu, bukan?
>> > > Kecuali, baru sebatas pengakuan-pengakuan saja, bukan?
>> > >
>> > > Saat
>> > > terjadinya pertempuran besar di Surabaya, 67 tahun yang lalu, tolok
>> > > ukurnya jelas, yaitu mempertahankan kemerdekaan sebagai negara. Saat
>> > > ini, ukurannya adalah JIWA Pembukaan UUD 1945. Ini perjuangan beratnya,
>> > > upaya tetap menanamkan dan berbuat dengan nilai-nilai Pembukaan UUD
>> > > 1945 tidak mudah, karena dunia umumnya tidak demikian nuansanya.
>> > > Diperlukan suri tauladan yang nyata dan JUJUR. Bukan yang sibuk takut
>> > > karena imagenya menjadi rusak atau buruk.
>> > >
>> > > Pak Presiden
>> > > berpidato katanya Indonesia akan menjadi jembatan kebudayaan dunia.
>> > > Saya yakin dengan itu, tetapi TIDAK dengan cara-cara yang mengedepankan
>> > > nilai-nilai kebudayaan merusak ekonomi negara melalui investasi yang
>> > > merusak alam Indonesia. Tidak dengan cara-cara menunduk, patuh, dan
>> > > taat kepada maunya kepentingan-kepentingan asing melampaui nilai-nilai
>> > > kebudayaan (refleksi Pembukaan UUD 1945) bangsa Indonesia.
>> > >
>> > > Esensi
>> > > nilai-nilai kepahlawanan di era saat ini, TIDAK terletak kepada
>> > > bentuk-bentuk penghargaan yang disematkan oleh manusia. Esensi
>> > > kepahlawanan sejatinya berlaku bagi siapa pun manusia Indonesia yang
>> > > benar-benar atau sungguh-sungguh dengan nilai-nilai kemanusiaan buah
>> > > dari ketuhanannya. Tidak memerlukan bentuk-bentuk pengakuan bahwa sudah
>> > > merasa berjasa, apalagi sambil seret-seret jabatan / kekuasaan. Semua
>> > > bentuk-bentuk kepemimpinan yang tidak demikian PASTI akan ditelanjangi
>> > > sampai ke akar-akarnya. Silahkan, si manusia itu berkelit dan melakukan
>> > > upaya menghindar dari tanggung jawab dan kewenangan yang dititipkan
>> > > kepadanya, mari kita buktikan apakah si manusia nantinya memang
>> > > benar-benar mampu menghindar dari gerak alam semesta.
>> > >
>> > > Semoga YMK beri setetes cahaya kepada setiap hati manusia Indonesia yang masih gelap mata hatinya.
>> > >
>> > > Selamat berjuang. Sekali merdeka tetap merdeka!!
>> > >
>> > > Bogor, 5 November 2012
>> > >
>> > > salam,
>> > > ss
>> > >
>> >
>>
>
>
>


Reply | Threaded
Open this post in threaded view
|  
Report Content as Inappropriate

Re: Bls: Re: Re: Nilai Kepahlawanan

indradewi71

Duh senangnya..... Bisa tdk beragama.

Bagaimana caranya ya?

Bukannya wajib hukumnya, setiap orang di Indonesia beragama?

Indra Dewi
Sent from my BlackBerry® smartphone from Sinyal Bagus XL, Nyambung Teruuusss...!

-----Original Message-----
From: [hidden email]
Sender: [hidden email]
Date: Sun, 25 Nov 2012 07:00:14
To: [hidden email]<[hidden email]>
Reply-To: [hidden email]
Subject: Re: Bls: Re: [Spiritual-Indonesia] Re: Nilai Kepahlawanan

Sendy Kerenz euii....

Salam,


Powered by Telkomsel BlackBerry®

-----Original Message-----
From: Sendy Huang <[hidden email]>
Sender: [hidden email]
Date: Sun, 25 Nov 2012 13:25:30
To: <[hidden email]>
Reply-To: [hidden email]
Subject: Bls: Re: [Spiritual-Indonesia] Re: Nilai Kepahlawanan




Salam buat saudaraku Indradewi (^_^),

thanks atas inputnya (^_^)
kesan tulisan sendy pedas, karena tarian kata-katanya ga berirama Waltz ya.. hhh, iramanya brak bruk brak bruk..

iya, sih, sendy sebenarnya sedih membaca ceritanya salah satu anak Sayuti Malik itu, ada kesan ga bisa nrimo dan agak dendam ama pemerintah.. (my opinion).. tpi apakah ga ada org2 yang care dan justru membantu meredam sakit hati mereka, karena kalo yang sendy baca itu seakan2 malah banyak yang mengompori, sehingga ada luka sampai bertahun-tahun, sehingga keluarlah komentar sendy kemaren itu,
sebenarnya pengen bilang... Come On, wake up... hadapi..jangan lar.. jangan sembunyi..jangan berlindung di balik kebesaran orgtua..dan bla bla bla.. tpi nanti ada yg bilang.. eh.. emangnya elo siapa ya ??? hhhh...pake merintah2 gitu... (^_^)

hhh.. dan kemudian kisahnya agak lucu pula.. (tdi sedih kok jdi lucu ya ??), udah mengemis di Kanada, trus pake embel2 kafir Kanada.. apa ga haram tuh ngemis ama org kafir ???.. (kalo base on agamanya, ya kalo sama org kafir kan boleh dekat2..apalgi sampe makan dan segalanya dibantu org kafir, napa ga minta ke yg ga kafir ya.. ke arab kek yg kaya raya itu ???,..... pas kebenaran sendy ga beragama, jdi cuman tergelitik aza dengan kata kafir Kanada itu..)

but sekali lagi, ini bukan buat membuat kacau siapapun atau memprovokasi apapun, hanya berdasar kesadaran aza nulisnya, karena yang terlihat adalah seperti itu, so, itu semua apa adanya,, bukan ada apanya. Oke ??

** sepertinya saudaraku Indradewi juga seorng yg butuh pengakuan ya... HHHH (^_^)
so, kuakui.. Indradewi org yg hangat dan ramah... salam semesta selalu

thanks alot ya buat semua pembaca di milis SI ini..
,, (^_^) ,,  

------------------------------
Pada Sab, 24 Nov 2012 20:54 Waktu Baku Pasifik [hidden email] menulis:

>
>Salut utk Sendy yg berkenan kasih komentar apa adanya (kebetulan, komentarnya "pedas").
>
>Pengakuan adalah kebutuhan dasar manusia.
>
>Sayangnya, banyak orang yg butuh pengakuan dari pihak2 di luar dirinya. Padahal pengakuan yg sejati dan hakiki justru berasal dari diri sendiri.
>
>Menurut saya, apa pun ucapan, tindakan, sikap, pemikiran, dll, selama itu utk kebaikan dan ketenangan si pelaku (dgn catatan, tdk merugikan org lain), biarkan lah.
>
>Kalau memang Pak Heru Baskoro pribadi dan keluarga "happy and peaceful", just let them be happy and peaceful, we shouldn't be bothered or bother them.
>
>Enjoy your Sunday.....
>
>Indra Dewi
>
>
>
>Sent from my BlackBerry® smartphone from Sinyal Bagus XL, Nyambung Teruuusss...!
>
>-----Original Message-----
>From: "Sendy V" <[hidden email]>
>Sender: [hidden email]
>Date: Sat, 24 Nov 2012 14:12:49
>To: <[hidden email]>
>Reply-To: [hidden email]
>Subject: [Spiritual-Indonesia] Re: Nilai Kepahlawanan
>
>salam semesta,
>
>entah mengapa, pas membaca tulisan di atas, ujung2 nya sendy berpendapat, tetap saja masalah harta dan tahta..
>maksudnya apa ????
>ya, kalo emang bangga jdi org Indonesia, ya hadapilah hidup di Indonesia dengan segala kerumitannya. Kalo omongin anak2 Presiden masih hidup bermewah2 hingga sekarang, juga ttg tentang kemalasan org2 Indonesia, ya sama aza, anaknya Sayuti Malik yg nyari kesenangan juga keliatan malas, buktinya sampe ditanggung ama pemerintah Canada yg tdi sempat disebut kafir... aneh juga ya, kok kesannya munafik gitu.. HHH...
>
>kalo emang bangga jdi org Indonesia, banggakan juga almarhum ortunya, kan udah jelas bahwa orgtuanya berjuang tanpa tanda jasa, sementara sang anak sekarng butuh diakui jasa2 orgtuanya.. pernahkah ya anaknya Sayuti Malik berpikir kalo perjuangan ortunya itu murni, tapi sekrng malah ditetesin sedikit noda karena butuh sebuah pengakuan.. buat apa pengakuan atau penghargaan kepahlawanan itu ? ya buat mempermudah anak2 nya dan cucunya Sayuti Malik, ujung2 nya kan sama aza dengan kemalasan, karena dengan menjdi anaknya seorng pahlawan, semua akan dipermudah.. iya ga ??? pdhal dulunya ortunya berjuang demi negara, sekarang anaknya berjuang buat diri sendiri dengan mencela negaranya.. so, bagi sendy yang membaca tulisan anaknya Sayuti Malik (kalo memang itu benar yg nulis anaknya ya.. ).. maka... kesannya munafik banget.. moga cepat2 bisa disadari... Sayuti Malik banyak diceritakan dalam sejarah2 di sekolah dari tahun ke tahun, so, tanpa gelar pahlawan pun,
 byk org yang tau bahwa beliau memang penjuang sejati..

>
>that's my pendapat..atas tulisannya anaknya Sayuti Malik
>
>Nuhun ya.. buat semua..
>
>salam damai semesta..
>
>
>--- In [hidden email], "leonardor" <leonardo_rimba@...> wrote:
>>
>> Kesaksian yg luar biasa sekali. Terimakasih sudah berbagi.
>>
>> Leo
>>
>>
>> --- In [hidden email], "Heru" <heru_bas21@> wrote:
>> >
>> > Ayah dan ibu saya (Sayuti Melik dan S.K. Trimurti)dikubur di Makam Pahlawan di Kali bata. Ada beberapa teman kasih komentar bahwa di kuburan tersebut juga dikuburkan para pengchianat bangsa dan para koruptor. Kata mereka saya harus ikut contoh keluarga Bung Karno, Bung Hatta yang jauh lebih besar ketokohannya dari Sayuti Melik dan S.K. Trimurti tidak mau dikuburkan di taman Pahlawan. Saya jawab, jelas keluarga Bung Hata dan Soekarno adalah orang kaya bisa punya kuburan sendiri yang lebih mewah dari kuburan Kalibata. Buat saya kuburan Kalibata membebaskan saya dari segala biaya penguburan. Bahkan polisi yang mengawal jenasahpun tidak saya kasih uang walaupun mereka minta uang dari saya. Saya bilang kalau tidak mau mengawal silahkan. Sekarang saya sebagai anak pahlawan minta bantuan dari pemerintah kafir Kanada, karena pertama saya tidak suka hidup hipokrit di Indonesia kedua tidak ada perhatian dari pemerintah atas jasa2 orang tua saya.Waktu saya
 lahir ibu saya disiksa Jepang sampai tidak bisa memberi air susu kepada saya (waktu itu saya berumur 2 tahun}. Saya hidup dari air tajin. Masih bagus saya masih bisa hidup walaupun kurang gizi waktu kecil. Secara tidak langsung saya ikut berkorban karena perjuangan orang tua saya. Anak2 Soekarno dan Hatta hidupnya mewah2 saja. Apalagi anak2 Soeharto. Sampai sekarang orang tua saya belum mendapat gelar pahlawan. Kalau anda percaya ada kihdupan setelah mati maka mereka pasti tidak mengharapkan gelar tersebut. Tapi saya yang tidak percaya ada kehidupan setelah mati perlu gelar tersebut supaya saya dapat tunjangan dari Pemerintah. Di Kanada baik saya maupun orang tua saya bukan siapa2. Selama di Kanada saya tidak pernah membayar pajak pendapatan, karena saya pindah dari permanent resident US ke permanent resicent Kanada. Di US saya bayar pajak karena bekerja disana. Di Kanada saya yang bukan siapa2 dapat bantuan dari pemerintah Kanada $1,270 sebulan belum
 lagi mendapat Care Card tanpa harus bayar premi asuransi. Saya telah dioperasi 3 kali sedang isteri saya di operasi sekali tanpa bayar seperserpun. Saya juga berhak mendapat bantuan ticket Public Transportation untuk Skytrain dan Bus keseluruh zone di Vancouver Area (luasnya mungkin sebesar seluruh daerah Jakarta).Sebagai senior maka obat dari resep dokter hampir semuanya dibayar pemerintah. Disamping itu karena saya adalah penduduk British Columbia yang kalau beli barang tertentu membayar Pajak Penjualan maka setelah saya mengisi Tax Return (isian paja) maka tiap quartal saya mendapat pengembalian sebesar $299.00  Sistim asuransi kesehatan ini yang akan ditiru Obama. Tahun 2014 saya akan dapat pensiun resmi dari pemerintah Kanada (setelah 10 tahun tinggal di Kanada) padahal saya masih tetap warga negara Indonesia. Status saya cuma permanent resident. Kanada bukan negara Pancasila dan masih mengakui Elizabeth sebagai Ratu. Sungguh aneh. Walaupun diberi
 kemudahan saya masih bebas untuk mengemukakan pendirian saya bahawa saya anti Ratu Inggris dan keturunannya.

>> > Saya tidak memuji Kanada serta penduduknya. Orang Kanada tidak lebih pintar dari orang Indonesia. Saya ikut kursus matematik disuatu Adult School. Saya dapat 100%(artinya seluruh quiz, test dan exam saya selama kursus selalu 100%. Menurut guru2 sekolah tersebut sudah bertahun2 tidak ada murid yang mendapat angka 100 % disekolah tersebut. Padahal kepandaian matematik saya di Indonesia biasa2 saja.
>> > Saya tidak seperti kebanyakan anak2 yang suka berdemonstrasi membenci negara barat (terutama orang kulit putihnya), tapi kalau menghadapi bule pada minder. Padahal di Kanada banyak bule yang jadi pengemis (sudah dapat bantuan dari pemerintah tapi tidak dapat memanfaatkan bantuan tersebut karena malas dan mennghamburkan uangnya untuk "drug" dll, sehingga mereka jadi pengemis, di Indonesia menjadi pengemis karena terpaksa}. Saya selalu bangga jadi orang Indonesia. Dimana2 saya selalu membanggakan diri saya sebagai orang Indonesia.
>> >
>> > Salam,
>> > Heru Baskoro
>> >
>> >
>> >
>> > --- In [hidden email], semar samiaji <kind_evil_06@> wrote:
>> > >
>> > > Merujuk pada link berikut http://www.tempo.co/read/news/2012/04/12/117396582/David-Cameron-Indonesia-Bisa-Memimpin-Dunia
>> > > memberi refleksi bahwa medan perjuangan salah satu yang utamanya adalah
>> > > melalui dunia pendidikan. Kalau Indonesia mendidik masyarakatnya
>> > > melalui nilai-nilai yang ke luar dari JIWA Pembukaan UUD 1945, semakna
>> > > dengan menanamkan nilai-nilai yang akan menjadi gangguan kejiwaan bagi
>> > > bangsa Indonesia akhirnya.
>> > >
>> > > Kalau kita merujuk kepada penghargaan
>> > > dari Ratu Inggris kepada Presiden  yang diberitakan akhir-akhir ini,
>> > > semestinya (menurut saya), tidak perlu bawa-bawa Indonesianya.
>> > > Silahkan, kalau penghargaan demikian diterima atas nama PRIBADI Pak
>> > > Presiden. Silahkan pelajari dan kaji, latar belakang gelar tersebut
>> > > diberikan oleh para Raja / Ratu Inggris. Diberikan bukan dalam rangka
>> > > hubungan antar-negara, namun diberikan bagi satria melalui proses
>> > > pemandian (dipermandikan) oleh Raja / Ratu Inggris.
>> > >
>> > > Kalau
>> > > kemudian, ada suara-suara yang mengkaitkan pemberian gelar satria
>> > > tersebut dengan urusan investasi Inggris di Indonesia, jangan kemudian
>> > > dibantah begitu saja. Lalu, menyatakan  bahwa pemberian tersebut
>> > > katanya karena prestasi demokrasi Indonesia. Kalau kita rujuk link
>> > > berikut http://www.metrotvnews.com/ekonomi/news/2012/11/02/112274/BP-Siapkan-Investasi-US$12-Miliar-di-Indonesia
>> > > , apakah kemudian bisa dipisahkan antara urusan gelar satria itu dengan
>> > > urusan ekonomi dengan nilai investasi yang aduhai tersebut? Sesaat
>> > > beralihnya rezim Bung Karno kepada Pak Harto, wilayah Irian Barat,
>> > > khususnya Freeport menjadi bagian dari proses peralihannya. Apakah
>> > > kemudian menjadi tidak mungkin, saat ini, Inggris dengan Proyek
>> > > Tangguhnya? Apakah jumlah hingga 12 miliar US$ di wilayah yang
>> > > disengketakan dan dimasalahkan oleh para LSM Inggris dan juga para
>> > > penegak HAM, di mana Indonesia katanya melakukan tindakan melanggar
>> > > HAM. Namun di saat itu pula dijawab melalui
>> > >  bentuk investasi
>> > > pertambangan di wilayah tersebut. Bagaimana bisa meyakini adanya
>> > > keselarasan antara ucap dengan laku perbuatan kalau sudah demikian?
>> > >
>> > > Sebenarnya,
>> > > kita tidak mempermasalahkan bentuk-bentuk investasi bagi Indonesia.
>> > > Yang menjadi masalah, ternyata investasi kemudian merugikan pihak
>> > > Indonesia dalam konteks kehidupan kita yang berupaya menghidupkan
>> > > nilai-nilai kebangsaan dan pengelolaan negara yang selaras dan sejiwa
>> > > dengan Pembukaan UUD 1945. Mari dikaji, silahkan sebutkan, mana bentuk
>> > > investasi, khususnya dalam pertambangan, yang benar-benar berpihak
>> > > kepada Indonesia? Tanah ini dijadikan selain dikuras tambangnya, juga
>> > > dijadikan pasar agar bergantung kepada si penguras tambang. Apakah
>> > > masih kurang cukup peristiwa-peristiwa yang ada selama ini? Apa yang
>> > > terjadi pada urusan energi di Indonesia? Apa yang terjadi di
>> > > wilayah-wilayah tambang yang menghancurkan lingkungan di Indonesia?
>> > > Lalu, melalui kekuatan penguasaan pertambangan, bangsa kita pun berebut
>> > > saling menguasai sumber uang yang terbesar ini. Lalu, masuk ke wilayah
>> > > perebutan kekuasaan, baik dalam cakupan nasional mau pun
>> > >
>> > > internasional. Perjalanan rezim Bung Karno yang begitu "keras"
>> > > melakukan upaya kesetaraan saja kemudian "kalah", bukan? Esensinya
>> > > bukan terletak pada kalahnya, namun kepada SURI TAULADAN kepemimpinan
>> > > yang SETIA dan TAAT kepada nilai-nilai Pembukaan UUD 1945-nya.
>> > >
>> > > Melalui
>> > > refleksi demikian, medan perjuangan bangsa Indonesia kemudian esensinya
>> > > TIDAK terletak pada seakan-akan kalau sudah menerima penghargaan
>> > > kemudian pahlawan atau manusia yang sudah berkorban besar bagi
>> > > negaranya, sebagai mana kejadian di Surabaya 67 tahun yang lalu, bukan?
>> > > Kecuali, baru sebatas pengakuan-pengakuan saja, bukan?
>> > >
>> > > Saat
>> > > terjadinya pertempuran besar di Surabaya, 67 tahun yang lalu, tolok
>> > > ukurnya jelas, yaitu mempertahankan kemerdekaan sebagai negara. Saat
>> > > ini, ukurannya adalah JIWA Pembukaan UUD 1945. Ini perjuangan beratnya,
>> > > upaya tetap menanamkan dan berbuat dengan nilai-nilai Pembukaan UUD
>> > > 1945 tidak mudah, karena dunia umumnya tidak demikian nuansanya.
>> > > Diperlukan suri tauladan yang nyata dan JUJUR. Bukan yang sibuk takut
>> > > karena imagenya menjadi rusak atau buruk.
>> > >
>> > > Pak Presiden
>> > > berpidato katanya Indonesia akan menjadi jembatan kebudayaan dunia.
>> > > Saya yakin dengan itu, tetapi TIDAK dengan cara-cara yang mengedepankan
>> > > nilai-nilai kebudayaan merusak ekonomi negara melalui investasi yang
>> > > merusak alam Indonesia. Tidak dengan cara-cara menunduk, patuh, dan
>> > > taat kepada maunya kepentingan-kepentingan asing melampaui nilai-nilai
>> > > kebudayaan (refleksi Pembukaan UUD 1945) bangsa Indonesia.
>> > >
>> > > Esensi
>> > > nilai-nilai kepahlawanan di era saat ini, TIDAK terletak kepada
>> > > bentuk-bentuk penghargaan yang disematkan oleh manusia. Esensi
>> > > kepahlawanan sejatinya berlaku bagi siapa pun manusia Indonesia yang
>> > > benar-benar atau sungguh-sungguh dengan nilai-nilai kemanusiaan buah
>> > > dari ketuhanannya. Tidak memerlukan bentuk-bentuk pengakuan bahwa sudah
>> > > merasa berjasa, apalagi sambil seret-seret jabatan / kekuasaan. Semua
>> > > bentuk-bentuk kepemimpinan yang tidak demikian PASTI akan ditelanjangi
>> > > sampai ke akar-akarnya. Silahkan, si manusia itu berkelit dan melakukan
>> > > upaya menghindar dari tanggung jawab dan kewenangan yang dititipkan
>> > > kepadanya, mari kita buktikan apakah si manusia nantinya memang
>> > > benar-benar mampu menghindar dari gerak alam semesta.
>> > >
>> > > Semoga YMK beri setetes cahaya kepada setiap hati manusia Indonesia yang masih gelap mata hatinya.
>> > >
>> > > Selamat berjuang. Sekali merdeka tetap merdeka!!
>> > >
>> > > Bogor, 5 November 2012
>> > >
>> > > salam,
>> > > ss
>> > >
>> >
>>
>
>
>


Reply | Threaded
Open this post in threaded view
|  
Report Content as Inappropriate

Re: Bls: Re: Re: Nilai Kepahlawanan

mudhy manroe
Undang2 mana yang menyatakan setiap masyarakat Indonesia wajib beragama ? Masa siy agama itu wajib ??


Powered by Telkomsel BlackBerry®

-----Original Message-----
From: [hidden email]
Sender: [hidden email]
Date: Sun, 25 Nov 2012 07:41:42
To: <[hidden email]>
Reply-To: [hidden email]
Subject: Re: Bls: Re: [Spiritual-Indonesia] Re: Nilai Kepahlawanan


Duh senangnya..... Bisa tdk beragama.

Bagaimana caranya ya?

Bukannya wajib hukumnya, setiap orang di Indonesia beragama?

Indra Dewi
Sent from my BlackBerry® smartphone from Sinyal Bagus XL, Nyambung Teruuusss...!

-----Original Message-----
From: [hidden email]
Sender: [hidden email]
Date: Sun, 25 Nov 2012 07:00:14
To: [hidden email]<[hidden email]>
Reply-To: [hidden email]
Subject: Re: Bls: Re: [Spiritual-Indonesia] Re: Nilai Kepahlawanan

Sendy Kerenz euii....

Salam,


Powered by Telkomsel BlackBerry®

-----Original Message-----
From: Sendy Huang <[hidden email]>
Sender: [hidden email]
Date: Sun, 25 Nov 2012 13:25:30
To: <[hidden email]>
Reply-To: [hidden email]
Subject: Bls: Re: [Spiritual-Indonesia] Re: Nilai Kepahlawanan




Salam buat saudaraku Indradewi (^_^),

thanks atas inputnya (^_^)
kesan tulisan sendy pedas, karena tarian kata-katanya ga berirama Waltz ya.. hhh, iramanya brak bruk brak bruk..

iya, sih, sendy sebenarnya sedih membaca ceritanya salah satu anak Sayuti Malik itu, ada kesan ga bisa nrimo dan agak dendam ama pemerintah.. (my opinion).. tpi apakah ga ada org2 yang care dan justru membantu meredam sakit hati mereka, karena kalo yang sendy baca itu seakan2 malah banyak yang mengompori, sehingga ada luka sampai bertahun-tahun, sehingga keluarlah komentar sendy kemaren itu,
sebenarnya pengen bilang... Come On, wake up... hadapi..jangan lar.. jangan sembunyi..jangan berlindung di balik kebesaran orgtua..dan bla bla bla.. tpi nanti ada yg bilang.. eh.. emangnya elo siapa ya ??? hhhh...pake merintah2 gitu... (^_^)

hhh.. dan kemudian kisahnya agak lucu pula.. (tdi sedih kok jdi lucu ya ??), udah mengemis di Kanada, trus pake embel2 kafir Kanada.. apa ga haram tuh ngemis ama org kafir ???.. (kalo base on agamanya, ya kalo sama org kafir kan boleh dekat2..apalgi sampe makan dan segalanya dibantu org kafir, napa ga minta ke yg ga kafir ya.. ke arab kek yg kaya raya itu ???,..... pas kebenaran sendy ga beragama, jdi cuman tergelitik aza dengan kata kafir Kanada itu..)

but sekali lagi, ini bukan buat membuat kacau siapapun atau memprovokasi apapun, hanya berdasar kesadaran aza nulisnya, karena yang terlihat adalah seperti itu, so, itu semua apa adanya,, bukan ada apanya. Oke ??

** sepertinya saudaraku Indradewi juga seorng yg butuh pengakuan ya... HHHH (^_^)
so, kuakui.. Indradewi org yg hangat dan ramah... salam semesta selalu

thanks alot ya buat semua pembaca di milis SI ini..
,, (^_^) ,,  

------------------------------
Pada Sab, 24 Nov 2012 20:54 Waktu Baku Pasifik [hidden email] menulis:

>
>Salut utk Sendy yg berkenan kasih komentar apa adanya (kebetulan, komentarnya "pedas").
>
>Pengakuan adalah kebutuhan dasar manusia.
>
>Sayangnya, banyak orang yg butuh pengakuan dari pihak2 di luar dirinya. Padahal pengakuan yg sejati dan hakiki justru berasal dari diri sendiri.
>
>Menurut saya, apa pun ucapan, tindakan, sikap, pemikiran, dll, selama itu utk kebaikan dan ketenangan si pelaku (dgn catatan, tdk merugikan org lain), biarkan lah.
>
>Kalau memang Pak Heru Baskoro pribadi dan keluarga "happy and peaceful", just let them be happy and peaceful, we shouldn't be bothered or bother them.
>
>Enjoy your Sunday.....
>
>Indra Dewi
>
>
>
>Sent from my BlackBerry® smartphone from Sinyal Bagus XL, Nyambung Teruuusss...!
>
>-----Original Message-----
>From: "Sendy V" <[hidden email]>
>Sender: [hidden email]
>Date: Sat, 24 Nov 2012 14:12:49
>To: <[hidden email]>
>Reply-To: [hidden email]
>Subject: [Spiritual-Indonesia] Re: Nilai Kepahlawanan
>
>salam semesta,
>
>entah mengapa, pas membaca tulisan di atas, ujung2 nya sendy berpendapat, tetap saja masalah harta dan tahta..
>maksudnya apa ????
>ya, kalo emang bangga jdi org Indonesia, ya hadapilah hidup di Indonesia dengan segala kerumitannya. Kalo omongin anak2 Presiden masih hidup bermewah2 hingga sekarang, juga ttg tentang kemalasan org2 Indonesia, ya sama aza, anaknya Sayuti Malik yg nyari kesenangan juga keliatan malas, buktinya sampe ditanggung ama pemerintah Canada yg tdi sempat disebut kafir... aneh juga ya, kok kesannya munafik gitu.. HHH...
>
>kalo emang bangga jdi org Indonesia, banggakan juga almarhum ortunya, kan udah jelas bahwa orgtuanya berjuang tanpa tanda jasa, sementara sang anak sekarng butuh diakui jasa2 orgtuanya.. pernahkah ya anaknya Sayuti Malik berpikir kalo perjuangan ortunya itu murni, tapi sekrng malah ditetesin sedikit noda karena butuh sebuah pengakuan.. buat apa pengakuan atau penghargaan kepahlawanan itu ? ya buat mempermudah anak2 nya dan cucunya Sayuti Malik, ujung2 nya kan sama aza dengan kemalasan, karena dengan menjdi anaknya seorng pahlawan, semua akan dipermudah.. iya ga ??? pdhal dulunya ortunya berjuang demi negara, sekarang anaknya berjuang buat diri sendiri dengan mencela negaranya.. so, bagi sendy yang membaca tulisan anaknya Sayuti Malik (kalo memang itu benar yg nulis anaknya ya.. ).. maka... kesannya munafik banget.. moga cepat2 bisa disadari... Sayuti Malik banyak diceritakan dalam sejarah2 di sekolah dari tahun ke tahun, so, tanpa gelar pahlawan pun,
 byk org yang tau bahwa beliau memang penjuang sejati..

>
>that's my pendapat..atas tulisannya anaknya Sayuti Malik
>
>Nuhun ya.. buat semua..
>
>salam damai semesta..
>
>
>--- In [hidden email], "leonardor" <leonardo_rimba@...> wrote:
>>
>> Kesaksian yg luar biasa sekali. Terimakasih sudah berbagi.
>>
>> Leo
>>
>>
>> --- In [hidden email], "Heru" <heru_bas21@> wrote:
>> >
>> > Ayah dan ibu saya (Sayuti Melik dan S.K. Trimurti)dikubur di Makam Pahlawan di Kali bata. Ada beberapa teman kasih komentar bahwa di kuburan tersebut juga dikuburkan para pengchianat bangsa dan para koruptor. Kata mereka saya harus ikut contoh keluarga Bung Karno, Bung Hatta yang jauh lebih besar ketokohannya dari Sayuti Melik dan S.K. Trimurti tidak mau dikuburkan di taman Pahlawan. Saya jawab, jelas keluarga Bung Hata dan Soekarno adalah orang kaya bisa punya kuburan sendiri yang lebih mewah dari kuburan Kalibata. Buat saya kuburan Kalibata membebaskan saya dari segala biaya penguburan. Bahkan polisi yang mengawal jenasahpun tidak saya kasih uang walaupun mereka minta uang dari saya. Saya bilang kalau tidak mau mengawal silahkan. Sekarang saya sebagai anak pahlawan minta bantuan dari pemerintah kafir Kanada, karena pertama saya tidak suka hidup hipokrit di Indonesia kedua tidak ada perhatian dari pemerintah atas jasa2 orang tua saya.Waktu saya
 lahir ibu saya disiksa Jepang sampai tidak bisa memberi air susu kepada saya (waktu itu saya berumur 2 tahun}. Saya hidup dari air tajin. Masih bagus saya masih bisa hidup walaupun kurang gizi waktu kecil. Secara tidak langsung saya ikut berkorban karena perjuangan orang tua saya. Anak2 Soekarno dan Hatta hidupnya mewah2 saja. Apalagi anak2 Soeharto. Sampai sekarang orang tua saya belum mendapat gelar pahlawan. Kalau anda percaya ada kihdupan setelah mati maka mereka pasti tidak mengharapkan gelar tersebut. Tapi saya yang tidak percaya ada kehidupan setelah mati perlu gelar tersebut supaya saya dapat tunjangan dari Pemerintah. Di Kanada baik saya maupun orang tua saya bukan siapa2. Selama di Kanada saya tidak pernah membayar pajak pendapatan, karena saya pindah dari permanent resident US ke permanent resicent Kanada. Di US saya bayar pajak karena bekerja disana. Di Kanada saya yang bukan siapa2 dapat bantuan dari pemerintah Kanada $1,270 sebulan belum
 lagi mendapat Care Card tanpa harus bayar premi asuransi. Saya telah dioperasi 3 kali sedang isteri saya di operasi sekali tanpa bayar seperserpun. Saya juga berhak mendapat bantuan ticket Public Transportation untuk Skytrain dan Bus keseluruh zone di Vancouver Area (luasnya mungkin sebesar seluruh daerah Jakarta).Sebagai senior maka obat dari resep dokter hampir semuanya dibayar pemerintah. Disamping itu karena saya adalah penduduk British Columbia yang kalau beli barang tertentu membayar Pajak Penjualan maka setelah saya mengisi Tax Return (isian paja) maka tiap quartal saya mendapat pengembalian sebesar $299.00  Sistim asuransi kesehatan ini yang akan ditiru Obama. Tahun 2014 saya akan dapat pensiun resmi dari pemerintah Kanada (setelah 10 tahun tinggal di Kanada) padahal saya masih tetap warga negara Indonesia. Status saya cuma permanent resident. Kanada bukan negara Pancasila dan masih mengakui Elizabeth sebagai Ratu. Sungguh aneh. Walaupun diberi
 kemudahan saya masih bebas untuk mengemukakan pendirian saya bahawa saya anti Ratu Inggris dan keturunannya.

>> > Saya tidak memuji Kanada serta penduduknya. Orang Kanada tidak lebih pintar dari orang Indonesia. Saya ikut kursus matematik disuatu Adult School. Saya dapat 100%(artinya seluruh quiz, test dan exam saya selama kursus selalu 100%. Menurut guru2 sekolah tersebut sudah bertahun2 tidak ada murid yang mendapat angka 100 % disekolah tersebut. Padahal kepandaian matematik saya di Indonesia biasa2 saja.
>> > Saya tidak seperti kebanyakan anak2 yang suka berdemonstrasi membenci negara barat (terutama orang kulit putihnya), tapi kalau menghadapi bule pada minder. Padahal di Kanada banyak bule yang jadi pengemis (sudah dapat bantuan dari pemerintah tapi tidak dapat memanfaatkan bantuan tersebut karena malas dan mennghamburkan uangnya untuk "drug" dll, sehingga mereka jadi pengemis, di Indonesia menjadi pengemis karena terpaksa}. Saya selalu bangga jadi orang Indonesia. Dimana2 saya selalu membanggakan diri saya sebagai orang Indonesia.
>> >
>> > Salam,
>> > Heru Baskoro
>> >
>> >
>> >
>> > --- In [hidden email], semar samiaji <kind_evil_06@> wrote:
>> > >
>> > > Merujuk pada link berikut http://www.tempo.co/read/news/2012/04/12/117396582/David-Cameron-Indonesia-Bisa-Memimpin-Dunia
>> > > memberi refleksi bahwa medan perjuangan salah satu yang utamanya adalah
>> > > melalui dunia pendidikan. Kalau Indonesia mendidik masyarakatnya
>> > > melalui nilai-nilai yang ke luar dari JIWA Pembukaan UUD 1945, semakna
>> > > dengan menanamkan nilai-nilai yang akan menjadi gangguan kejiwaan bagi
>> > > bangsa Indonesia akhirnya.
>> > >
>> > > Kalau kita merujuk kepada penghargaan
>> > > dari Ratu Inggris kepada Presiden  yang diberitakan akhir-akhir ini,
>> > > semestinya (menurut saya), tidak perlu bawa-bawa Indonesianya.
>> > > Silahkan, kalau penghargaan demikian diterima atas nama PRIBADI Pak
>> > > Presiden. Silahkan pelajari dan kaji, latar belakang gelar tersebut
>> > > diberikan oleh para Raja / Ratu Inggris. Diberikan bukan dalam rangka
>> > > hubungan antar-negara, namun diberikan bagi satria melalui proses
>> > > pemandian (dipermandikan) oleh Raja / Ratu Inggris.
>> > >
>> > > Kalau
>> > > kemudian, ada suara-suara yang mengkaitkan pemberian gelar satria
>> > > tersebut dengan urusan investasi Inggris di Indonesia, jangan kemudian
>> > > dibantah begitu saja. Lalu, menyatakan  bahwa pemberian tersebut
>> > > katanya karena prestasi demokrasi Indonesia. Kalau kita rujuk link
>> > > berikut http://www.metrotvnews.com/ekonomi/news/2012/11/02/112274/BP-Siapkan-Investasi-US$12-Miliar-di-Indonesia
>> > > , apakah kemudian bisa dipisahkan antara urusan gelar satria itu dengan
>> > > urusan ekonomi dengan nilai investasi yang aduhai tersebut? Sesaat
>> > > beralihnya rezim Bung Karno kepada Pak Harto, wilayah Irian Barat,
>> > > khususnya Freeport menjadi bagian dari proses peralihannya. Apakah
>> > > kemudian menjadi tidak mungkin, saat ini, Inggris dengan Proyek
>> > > Tangguhnya? Apakah jumlah hingga 12 miliar US$ di wilayah yang
>> > > disengketakan dan dimasalahkan oleh para LSM Inggris dan juga para
>> > > penegak HAM, di mana Indonesia katanya melakukan tindakan melanggar
>> > > HAM. Namun di saat itu pula dijawab melalui
>> > >  bentuk investasi
>> > > pertambangan di wilayah tersebut. Bagaimana bisa meyakini adanya
>> > > keselarasan antara ucap dengan laku perbuatan kalau sudah demikian?
>> > >
>> > > Sebenarnya,
>> > > kita tidak mempermasalahkan bentuk-bentuk investasi bagi Indonesia.
>> > > Yang menjadi masalah, ternyata investasi kemudian merugikan pihak
>> > > Indonesia dalam konteks kehidupan kita yang berupaya menghidupkan
>> > > nilai-nilai kebangsaan dan pengelolaan negara yang selaras dan sejiwa
>> > > dengan Pembukaan UUD 1945. Mari dikaji, silahkan sebutkan, mana bentuk
>> > > investasi, khususnya dalam pertambangan, yang benar-benar berpihak
>> > > kepada Indonesia? Tanah ini dijadikan selain dikuras tambangnya, juga
>> > > dijadikan pasar agar bergantung kepada si penguras tambang. Apakah
>> > > masih kurang cukup peristiwa-peristiwa yang ada selama ini? Apa yang
>> > > terjadi pada urusan energi di Indonesia? Apa yang terjadi di
>> > > wilayah-wilayah tambang yang menghancurkan lingkungan di Indonesia?
>> > > Lalu, melalui kekuatan penguasaan pertambangan, bangsa kita pun berebut
>> > > saling menguasai sumber uang yang terbesar ini. Lalu, masuk ke wilayah
>> > > perebutan kekuasaan, baik dalam cakupan nasional mau pun
>> > >
>> > > internasional. Perjalanan rezim Bung Karno yang begitu "keras"
>> > > melakukan upaya kesetaraan saja kemudian "kalah", bukan? Esensinya
>> > > bukan terletak pada kalahnya, namun kepada SURI TAULADAN kepemimpinan
>> > > yang SETIA dan TAAT kepada nilai-nilai Pembukaan UUD 1945-nya.
>> > >
>> > > Melalui
>> > > refleksi demikian, medan perjuangan bangsa Indonesia kemudian esensinya
>> > > TIDAK terletak pada seakan-akan kalau sudah menerima penghargaan
>> > > kemudian pahlawan atau manusia yang sudah berkorban besar bagi
>> > > negaranya, sebagai mana kejadian di Surabaya 67 tahun yang lalu, bukan?
>> > > Kecuali, baru sebatas pengakuan-pengakuan saja, bukan?
>> > >
>> > > Saat
>> > > terjadinya pertempuran besar di Surabaya, 67 tahun yang lalu, tolok
>> > > ukurnya jelas, yaitu mempertahankan kemerdekaan sebagai negara. Saat
>> > > ini, ukurannya adalah JIWA Pembukaan UUD 1945. Ini perjuangan beratnya,
>> > > upaya tetap menanamkan dan berbuat dengan nilai-nilai Pembukaan UUD
>> > > 1945 tidak mudah, karena dunia umumnya tidak demikian nuansanya.
>> > > Diperlukan suri tauladan yang nyata dan JUJUR. Bukan yang sibuk takut
>> > > karena imagenya menjadi rusak atau buruk.
>> > >
>> > > Pak Presiden
>> > > berpidato katanya Indonesia akan menjadi jembatan kebudayaan dunia.
>> > > Saya yakin dengan itu, tetapi TIDAK dengan cara-cara yang mengedepankan
>> > > nilai-nilai kebudayaan merusak ekonomi negara melalui investasi yang
>> > > merusak alam Indonesia. Tidak dengan cara-cara menunduk, patuh, dan
>> > > taat kepada maunya kepentingan-kepentingan asing melampaui nilai-nilai
>> > > kebudayaan (refleksi Pembukaan UUD 1945) bangsa Indonesia.
>> > >
>> > > Esensi
>> > > nilai-nilai kepahlawanan di era saat ini, TIDAK terletak kepada
>> > > bentuk-bentuk penghargaan yang disematkan oleh manusia. Esensi
>> > > kepahlawanan sejatinya berlaku bagi siapa pun manusia Indonesia yang
>> > > benar-benar atau sungguh-sungguh dengan nilai-nilai kemanusiaan buah
>> > > dari ketuhanannya. Tidak memerlukan bentuk-bentuk pengakuan bahwa sudah
>> > > merasa berjasa, apalagi sambil seret-seret jabatan / kekuasaan. Semua
>> > > bentuk-bentuk kepemimpinan yang tidak demikian PASTI akan ditelanjangi
>> > > sampai ke akar-akarnya. Silahkan, si manusia itu berkelit dan melakukan
>> > > upaya menghindar dari tanggung jawab dan kewenangan yang dititipkan
>> > > kepadanya, mari kita buktikan apakah si manusia nantinya memang
>> > > benar-benar mampu menghindar dari gerak alam semesta.
>> > >
>> > > Semoga YMK beri setetes cahaya kepada setiap hati manusia Indonesia yang masih gelap mata hatinya.
>> > >
>> > > Selamat berjuang. Sekali merdeka tetap merdeka!!
>> > >
>> > > Bogor, 5 November 2012
>> > >
>> > > salam,
>> > > ss
>> > >
>> >
>>
>
>
>


Reply | Threaded
Open this post in threaded view
|  
Report Content as Inappropriate

Re: Bls: Re: Re: Nilai Kepahlawanan

odoy_s
Tdk wajib tapi kalau tdk beragama dipersulit negara dalam pengurusan surat2 identitas yang ujungnya sulit dalam urusan perdata, sulit mau menikah resmi, sulit bagi waris dst...

Saya beragama sekarang hanya di ktp. Biar ktp saya sj yg masuk surga... ;D

Powered by Telkomsel BlackBerry®

-----Original Message-----
From: [hidden email]
Sender: [hidden email]
Date: Sun, 25 Nov 2012 07:40:15
To: [hidden email]<[hidden email]>
Reply-To: [hidden email]
Subject: Re: Bls: Re: [Spiritual-Indonesia] Re: Nilai Kepahlawanan

Undang2 mana yang menyatakan setiap masyarakat Indonesia wajib beragama ? Masa siy agama itu wajib ??


Powered by Telkomsel BlackBerry®

-----Original Message-----
From: [hidden email]
Sender: [hidden email]
Date: Sun, 25 Nov 2012 07:41:42
To: <[hidden email]>
Reply-To: [hidden email]
Subject: Re: Bls: Re: [Spiritual-Indonesia] Re: Nilai Kepahlawanan


Duh senangnya..... Bisa tdk beragama.

Bagaimana caranya ya?

Bukannya wajib hukumnya, setiap orang di Indonesia beragama?

Indra Dewi
Sent from my BlackBerry® smartphone from Sinyal Bagus XL, Nyambung Teruuusss...!

-----Original Message-----
From: [hidden email]
Sender: [hidden email]
Date: Sun, 25 Nov 2012 07:00:14
To: [hidden email]<[hidden email]>
Reply-To: [hidden email]
Subject: Re: Bls: Re: [Spiritual-Indonesia] Re: Nilai Kepahlawanan

Sendy Kerenz euii....

Salam,


Powered by Telkomsel BlackBerry®

-----Original Message-----
From: Sendy Huang <[hidden email]>
Sender: [hidden email]
Date: Sun, 25 Nov 2012 13:25:30
To: <[hidden email]>
Reply-To: [hidden email]
Subject: Bls: Re: [Spiritual-Indonesia] Re: Nilai Kepahlawanan




Salam buat saudaraku Indradewi (^_^),

thanks atas inputnya (^_^)
kesan tulisan sendy pedas, karena tarian kata-katanya ga berirama Waltz ya.. hhh, iramanya brak bruk brak bruk..

iya, sih, sendy sebenarnya sedih membaca ceritanya salah satu anak Sayuti Malik itu, ada kesan ga bisa nrimo dan agak dendam ama pemerintah.. (my opinion).. tpi apakah ga ada org2 yang care dan justru membantu meredam sakit hati mereka, karena kalo yang sendy baca itu seakan2 malah banyak yang mengompori, sehingga ada luka sampai bertahun-tahun, sehingga keluarlah komentar sendy kemaren itu,
sebenarnya pengen bilang... Come On, wake up... hadapi..jangan lar.. jangan sembunyi..jangan berlindung di balik kebesaran orgtua..dan bla bla bla.. tpi nanti ada yg bilang.. eh.. emangnya elo siapa ya ??? hhhh...pake merintah2 gitu... (^_^)

hhh.. dan kemudian kisahnya agak lucu pula.. (tdi sedih kok jdi lucu ya ??), udah mengemis di Kanada, trus pake embel2 kafir Kanada.. apa ga haram tuh ngemis ama org kafir ???.. (kalo base on agamanya, ya kalo sama org kafir kan boleh dekat2..apalgi sampe makan dan segalanya dibantu org kafir, napa ga minta ke yg ga kafir ya.. ke arab kek yg kaya raya itu ???,..... pas kebenaran sendy ga beragama, jdi cuman tergelitik aza dengan kata kafir Kanada itu..)

but sekali lagi, ini bukan buat membuat kacau siapapun atau memprovokasi apapun, hanya berdasar kesadaran aza nulisnya, karena yang terlihat adalah seperti itu, so, itu semua apa adanya,, bukan ada apanya. Oke ??

** sepertinya saudaraku Indradewi juga seorng yg butuh pengakuan ya... HHHH (^_^)
so, kuakui.. Indradewi org yg hangat dan ramah... salam semesta selalu

thanks alot ya buat semua pembaca di milis SI ini..
,, (^_^) ,,  

------------------------------
Pada Sab, 24 Nov 2012 20:54 Waktu Baku Pasifik [hidden email] menulis:

>
>Salut utk Sendy yg berkenan kasih komentar apa adanya (kebetulan, komentarnya "pedas").
>
>Pengakuan adalah kebutuhan dasar manusia.
>
>Sayangnya, banyak orang yg butuh pengakuan dari pihak2 di luar dirinya. Padahal pengakuan yg sejati dan hakiki justru berasal dari diri sendiri.
>
>Menurut saya, apa pun ucapan, tindakan, sikap, pemikiran, dll, selama itu utk kebaikan dan ketenangan si pelaku (dgn catatan, tdk merugikan org lain), biarkan lah.
>
>Kalau memang Pak Heru Baskoro pribadi dan keluarga "happy and peaceful", just let them be happy and peaceful, we shouldn't be bothered or bother them.
>
>Enjoy your Sunday.....
>
>Indra Dewi
>
>
>
>Sent from my BlackBerry® smartphone from Sinyal Bagus XL, Nyambung Teruuusss...!
>
>-----Original Message-----
>From: "Sendy V" <[hidden email]>
>Sender: [hidden email]
>Date: Sat, 24 Nov 2012 14:12:49
>To: <[hidden email]>
>Reply-To: [hidden email]
>Subject: [Spiritual-Indonesia] Re: Nilai Kepahlawanan
>
>salam semesta,
>
>entah mengapa, pas membaca tulisan di atas, ujung2 nya sendy berpendapat, tetap saja masalah harta dan tahta..
>maksudnya apa ????
>ya, kalo emang bangga jdi org Indonesia, ya hadapilah hidup di Indonesia dengan segala kerumitannya. Kalo omongin anak2 Presiden masih hidup bermewah2 hingga sekarang, juga ttg tentang kemalasan org2 Indonesia, ya sama aza, anaknya Sayuti Malik yg nyari kesenangan juga keliatan malas, buktinya sampe ditanggung ama pemerintah Canada yg tdi sempat disebut kafir... aneh juga ya, kok kesannya munafik gitu.. HHH...
>
>kalo emang bangga jdi org Indonesia, banggakan juga almarhum ortunya, kan udah jelas bahwa orgtuanya berjuang tanpa tanda jasa, sementara sang anak sekarng butuh diakui jasa2 orgtuanya.. pernahkah ya anaknya Sayuti Malik berpikir kalo perjuangan ortunya itu murni, tapi sekrng malah ditetesin sedikit noda karena butuh sebuah pengakuan.. buat apa pengakuan atau penghargaan kepahlawanan itu ? ya buat mempermudah anak2 nya dan cucunya Sayuti Malik, ujung2 nya kan sama aza dengan kemalasan, karena dengan menjdi anaknya seorng pahlawan, semua akan dipermudah.. iya ga ??? pdhal dulunya ortunya berjuang demi negara, sekarang anaknya berjuang buat diri sendiri dengan mencela negaranya.. so, bagi sendy yang membaca tulisan anaknya Sayuti Malik (kalo memang itu benar yg nulis anaknya ya.. ).. maka... kesannya munafik banget.. moga cepat2 bisa disadari... Sayuti Malik banyak diceritakan dalam sejarah2 di sekolah dari tahun ke tahun, so, tanpa gelar pahlawan pun,
 byk org yang tau bahwa beliau memang penjuang sejati..

>
>that's my pendapat..atas tulisannya anaknya Sayuti Malik
>
>Nuhun ya.. buat semua..
>
>salam damai semesta..
>
>
>--- In [hidden email], "leonardor" <leonardo_rimba@...> wrote:
>>
>> Kesaksian yg luar biasa sekali. Terimakasih sudah berbagi.
>>
>> Leo
>>
>>
>> --- In [hidden email], "Heru" <heru_bas21@> wrote:
>> >
>> > Ayah dan ibu saya (Sayuti Melik dan S.K. Trimurti)dikubur di Makam Pahlawan di Kali bata. Ada beberapa teman kasih komentar bahwa di kuburan tersebut juga dikuburkan para pengchianat bangsa dan para koruptor. Kata mereka saya harus ikut contoh keluarga Bung Karno, Bung Hatta yang jauh lebih besar ketokohannya dari Sayuti Melik dan S.K. Trimurti tidak mau dikuburkan di taman Pahlawan. Saya jawab, jelas keluarga Bung Hata dan Soekarno adalah orang kaya bisa punya kuburan sendiri yang lebih mewah dari kuburan Kalibata. Buat saya kuburan Kalibata membebaskan saya dari segala biaya penguburan. Bahkan polisi yang mengawal jenasahpun tidak saya kasih uang walaupun mereka minta uang dari saya. Saya bilang kalau tidak mau mengawal silahkan. Sekarang saya sebagai anak pahlawan minta bantuan dari pemerintah kafir Kanada, karena pertama saya tidak suka hidup hipokrit di Indonesia kedua tidak ada perhatian dari pemerintah atas jasa2 orang tua saya.Waktu saya
 lahir ibu saya disiksa Jepang sampai tidak bisa memberi air susu kepada saya (waktu itu saya berumur 2 tahun}. Saya hidup dari air tajin. Masih bagus saya masih bisa hidup walaupun kurang gizi waktu kecil. Secara tidak langsung saya ikut berkorban karena perjuangan orang tua saya. Anak2 Soekarno dan Hatta hidupnya mewah2 saja. Apalagi anak2 Soeharto. Sampai sekarang orang tua saya belum mendapat gelar pahlawan. Kalau anda percaya ada kihdupan setelah mati maka mereka pasti tidak mengharapkan gelar tersebut. Tapi saya yang tidak percaya ada kehidupan setelah mati perlu gelar tersebut supaya saya dapat tunjangan dari Pemerintah. Di Kanada baik saya maupun orang tua saya bukan siapa2. Selama di Kanada saya tidak pernah membayar pajak pendapatan, karena saya pindah dari permanent resident US ke permanent resicent Kanada. Di US saya bayar pajak karena bekerja disana. Di Kanada saya yang bukan siapa2 dapat bantuan dari pemerintah Kanada $1,270 sebulan belum
 lagi mendapat Care Card tanpa harus bayar premi asuransi. Saya telah dioperasi 3 kali sedang isteri saya di operasi sekali tanpa bayar seperserpun. Saya juga berhak mendapat bantuan ticket Public Transportation untuk Skytrain dan Bus keseluruh zone di Vancouver Area (luasnya mungkin sebesar seluruh daerah Jakarta).Sebagai senior maka obat dari resep dokter hampir semuanya dibayar pemerintah. Disamping itu karena saya adalah penduduk British Columbia yang kalau beli barang tertentu membayar Pajak Penjualan maka setelah saya mengisi Tax Return (isian paja) maka tiap quartal saya mendapat pengembalian sebesar $299.00  Sistim asuransi kesehatan ini yang akan ditiru Obama. Tahun 2014 saya akan dapat pensiun resmi dari pemerintah Kanada (setelah 10 tahun tinggal di Kanada) padahal saya masih tetap warga negara Indonesia. Status saya cuma permanent resident. Kanada bukan negara Pancasila dan masih mengakui Elizabeth sebagai Ratu. Sungguh aneh. Walaupun diberi
 kemudahan saya masih bebas untuk mengemukakan pendirian saya bahawa saya anti Ratu Inggris dan keturunannya.

>> > Saya tidak memuji Kanada serta penduduknya. Orang Kanada tidak lebih pintar dari orang Indonesia. Saya ikut kursus matematik disuatu Adult School. Saya dapat 100%(artinya seluruh quiz, test dan exam saya selama kursus selalu 100%. Menurut guru2 sekolah tersebut sudah bertahun2 tidak ada murid yang mendapat angka 100 % disekolah tersebut. Padahal kepandaian matematik saya di Indonesia biasa2 saja.
>> > Saya tidak seperti kebanyakan anak2 yang suka berdemonstrasi membenci negara barat (terutama orang kulit putihnya), tapi kalau menghadapi bule pada minder. Padahal di Kanada banyak bule yang jadi pengemis (sudah dapat bantuan dari pemerintah tapi tidak dapat memanfaatkan bantuan tersebut karena malas dan mennghamburkan uangnya untuk "drug" dll, sehingga mereka jadi pengemis, di Indonesia menjadi pengemis karena terpaksa}. Saya selalu bangga jadi orang Indonesia. Dimana2 saya selalu membanggakan diri saya sebagai orang Indonesia.
>> >
>> > Salam,
>> > Heru Baskoro
>> >
>> >
>> >
>> > --- In [hidden email], semar samiaji <kind_evil_06@> wrote:
>> > >
>> > > Merujuk pada link berikut http://www.tempo.co/read/news/2012/04/12/117396582/David-Cameron-Indonesia-Bisa-Memimpin-Dunia
>> > > memberi refleksi bahwa medan perjuangan salah satu yang utamanya adalah
>> > > melalui dunia pendidikan. Kalau Indonesia mendidik masyarakatnya
>> > > melalui nilai-nilai yang ke luar dari JIWA Pembukaan UUD 1945, semakna
>> > > dengan menanamkan nilai-nilai yang akan menjadi gangguan kejiwaan bagi
>> > > bangsa Indonesia akhirnya.
>> > >
>> > > Kalau kita merujuk kepada penghargaan
>> > > dari Ratu Inggris kepada Presiden  yang diberitakan akhir-akhir ini,
>> > > semestinya (menurut saya), tidak perlu bawa-bawa Indonesianya.
>> > > Silahkan, kalau penghargaan demikian diterima atas nama PRIBADI Pak
>> > > Presiden. Silahkan pelajari dan kaji, latar belakang gelar tersebut
>> > > diberikan oleh para Raja / Ratu Inggris. Diberikan bukan dalam rangka
>> > > hubungan antar-negara, namun diberikan bagi satria melalui proses
>> > > pemandian (dipermandikan) oleh Raja / Ratu Inggris.
>> > >
>> > > Kalau
>> > > kemudian, ada suara-suara yang mengkaitkan pemberian gelar satria
>> > > tersebut dengan urusan investasi Inggris di Indonesia, jangan kemudian
>> > > dibantah begitu saja. Lalu, menyatakan  bahwa pemberian tersebut
>> > > katanya karena prestasi demokrasi Indonesia. Kalau kita rujuk link
>> > > berikut http://www.metrotvnews.com/ekonomi/news/2012/11/02/112274/BP-Siapkan-Investasi-US$12-Miliar-di-Indonesia
>> > > , apakah kemudian bisa dipisahkan antara urusan gelar satria itu dengan
>> > > urusan ekonomi dengan nilai investasi yang aduhai tersebut? Sesaat
>> > > beralihnya rezim Bung Karno kepada Pak Harto, wilayah Irian Barat,
>> > > khususnya Freeport menjadi bagian dari proses peralihannya. Apakah
>> > > kemudian menjadi tidak mungkin, saat ini, Inggris dengan Proyek
>> > > Tangguhnya? Apakah jumlah hingga 12 miliar US$ di wilayah yang
>> > > disengketakan dan dimasalahkan oleh para LSM Inggris dan juga para
>> > > penegak HAM, di mana Indonesia katanya melakukan tindakan melanggar
>> > > HAM. Namun di saat itu pula dijawab melalui
>> > >  bentuk investasi
>> > > pertambangan di wilayah tersebut. Bagaimana bisa meyakini adanya
>> > > keselarasan antara ucap dengan laku perbuatan kalau sudah demikian?
>> > >
>> > > Sebenarnya,
>> > > kita tidak mempermasalahkan bentuk-bentuk investasi bagi Indonesia.
>> > > Yang menjadi masalah, ternyata investasi kemudian merugikan pihak
>> > > Indonesia dalam konteks kehidupan kita yang berupaya menghidupkan
>> > > nilai-nilai kebangsaan dan pengelolaan negara yang selaras dan sejiwa
>> > > dengan Pembukaan UUD 1945. Mari dikaji, silahkan sebutkan, mana bentuk
>> > > investasi, khususnya dalam pertambangan, yang benar-benar berpihak
>> > > kepada Indonesia? Tanah ini dijadikan selain dikuras tambangnya, juga
>> > > dijadikan pasar agar bergantung kepada si penguras tambang. Apakah
>> > > masih kurang cukup peristiwa-peristiwa yang ada selama ini? Apa yang
>> > > terjadi pada urusan energi di Indonesia? Apa yang terjadi di
>> > > wilayah-wilayah tambang yang menghancurkan lingkungan di Indonesia?
>> > > Lalu, melalui kekuatan penguasaan pertambangan, bangsa kita pun berebut
>> > > saling menguasai sumber uang yang terbesar ini. Lalu, masuk ke wilayah
>> > > perebutan kekuasaan, baik dalam cakupan nasional mau pun
>> > >
>> > > internasional. Perjalanan rezim Bung Karno yang begitu "keras"
>> > > melakukan upaya kesetaraan saja kemudian "kalah", bukan? Esensinya
>> > > bukan terletak pada kalahnya, namun kepada SURI TAULADAN kepemimpinan
>> > > yang SETIA dan TAAT kepada nilai-nilai Pembukaan UUD 1945-nya.
>> > >
>> > > Melalui
>> > > refleksi demikian, medan perjuangan bangsa Indonesia kemudian esensinya
>> > > TIDAK terletak pada seakan-akan kalau sudah menerima penghargaan
>> > > kemudian pahlawan atau manusia yang sudah berkorban besar bagi
>> > > negaranya, sebagai mana kejadian di Surabaya 67 tahun yang lalu, bukan?
>> > > Kecuali, baru sebatas pengakuan-pengakuan saja, bukan?
>> > >
>> > > Saat
>> > > terjadinya pertempuran besar di Surabaya, 67 tahun yang lalu, tolok
>> > > ukurnya jelas, yaitu mempertahankan kemerdekaan sebagai negara. Saat
>> > > ini, ukurannya adalah JIWA Pembukaan UUD 1945. Ini perjuangan beratnya,
>> > > upaya tetap menanamkan dan berbuat dengan nilai-nilai Pembukaan UUD
>> > > 1945 tidak mudah, karena dunia umumnya tidak demikian nuansanya.
>> > > Diperlukan suri tauladan yang nyata dan JUJUR. Bukan yang sibuk takut
>> > > karena imagenya menjadi rusak atau buruk.
>> > >
>> > > Pak Presiden
>> > > berpidato katanya Indonesia akan menjadi jembatan kebudayaan dunia.
>> > > Saya yakin dengan itu, tetapi TIDAK dengan cara-cara yang mengedepankan
>> > > nilai-nilai kebudayaan merusak ekonomi negara melalui investasi yang
>> > > merusak alam Indonesia. Tidak dengan cara-cara menunduk, patuh, dan
>> > > taat kepada maunya kepentingan-kepentingan asing melampaui nilai-nilai
>> > > kebudayaan (refleksi Pembukaan UUD 1945) bangsa Indonesia.
>> > >
>> > > Esensi
>> > > nilai-nilai kepahlawanan di era saat ini, TIDAK terletak kepada
>> > > bentuk-bentuk penghargaan yang disematkan oleh manusia. Esensi
>> > > kepahlawanan sejatinya berlaku bagi siapa pun manusia Indonesia yang
>> > > benar-benar atau sungguh-sungguh dengan nilai-nilai kemanusiaan buah
>> > > dari ketuhanannya. Tidak memerlukan bentuk-bentuk pengakuan bahwa sudah
>> > > merasa berjasa, apalagi sambil seret-seret jabatan / kekuasaan. Semua
>> > > bentuk-bentuk kepemimpinan yang tidak demikian PASTI akan ditelanjangi
>> > > sampai ke akar-akarnya. Silahkan, si manusia itu berkelit dan melakukan
>> > > upaya menghindar dari tanggung jawab dan kewenangan yang dititipkan
>> > > kepadanya, mari kita buktikan apakah si manusia nantinya memang
>> > > benar-benar mampu menghindar dari gerak alam semesta.
>> > >
>> > > Semoga YMK beri setetes cahaya kepada setiap hati manusia Indonesia yang masih gelap mata hatinya.
>> > >
>> > > Selamat berjuang. Sekali merdeka tetap merdeka!!
>> > >
>> > > Bogor, 5 November 2012
>> > >
>> > > salam,
>> > > ss
>> > >
>> >
>>
>
>
>


Reply | Threaded
Open this post in threaded view
|  
Report Content as Inappropriate

Re: Bls: Re: Re: Nilai Kepahlawanan

Witingurip-2
In reply to this post by mudhy manroe
WNI yang bersikeras tidak beragama (mengaku-aku beragama tak ada yang melarang, kok) akan menemui kesulitan dalam pengabsahan akta perkawinannya di Catatan Sipil dan anak-anaknya pun tidak bakal dapat memeroleh akta kelahiran karena perkawinan orangtuanya tidak sah secara hukum.

Secara pribadi, tidak beragama dan berdomisili di Indonesia dan tetap sebagai WNI sih "no problem at all" asal mau menikah di luar negeri. Oh ya, satu lagi. Jangan coba-coba cari para pengikut atau cuap-cuap tentang hebatnya ateisme di Indonesia karena penganut radikal agama mayoritas akan memusuhi Anda. :-)

W
Sent from my BlackBerry® smartphone from Sinyal Bagus XL, Nyambung Teruuusss...!

-----Original Message-----
From: [hidden email]
Sender: [hidden email]
Date: Sun, 25 Nov 2012 07:40:15
To: [hidden email]<[hidden email]>
Reply-To: [hidden email]
Subject: Re: Bls: Re: [Spiritual-Indonesia] Re: Nilai Kepahlawanan

Undang2 mana yang menyatakan setiap masyarakat Indonesia wajib beragama ? Masa siy agama itu wajib ??


Powered by Telkomsel BlackBerry®

-----Original Message-----
From: [hidden email]
Sender: [hidden email]
Date: Sun, 25 Nov 2012 07:41:42
To: <[hidden email]>
Reply-To: [hidden email]
Subject: Re: Bls: Re: [Spiritual-Indonesia] Re: Nilai Kepahlawanan


Duh senangnya..... Bisa tdk beragama.

Bagaimana caranya ya?

Bukannya wajib hukumnya, setiap orang di Indonesia beragama?

Indra Dewi
Sent from my BlackBerry® smartphone from Sinyal Bagus XL, Nyambung Teruuusss...!

-----Original Message-----
From: [hidden email]
Sender: [hidden email]
Date: Sun, 25 Nov 2012 07:00:14
To: [hidden email]<[hidden email]>
Reply-To: [hidden email]
Subject: Re: Bls: Re: [Spiritual-Indonesia] Re: Nilai Kepahlawanan

Sendy Kerenz euii....

Salam,


Powered by Telkomsel BlackBerry®

-----Original Message-----
From: Sendy Huang <[hidden email]>
Sender: [hidden email]
Date: Sun, 25 Nov 2012 13:25:30
To: <[hidden email]>
Reply-To: [hidden email]
Subject: Bls: Re: [Spiritual-Indonesia] Re: Nilai Kepahlawanan




Salam buat saudaraku Indradewi (^_^),

thanks atas inputnya (^_^)
kesan tulisan sendy pedas, karena tarian kata-katanya ga berirama Waltz ya.. hhh, iramanya brak bruk brak bruk..

iya, sih, sendy sebenarnya sedih membaca ceritanya salah satu anak Sayuti Malik itu, ada kesan ga bisa nrimo dan agak dendam ama pemerintah.. (my opinion).. tpi apakah ga ada org2 yang care dan justru membantu meredam sakit hati mereka, karena kalo yang sendy baca itu seakan2 malah banyak yang mengompori, sehingga ada luka sampai bertahun-tahun, sehingga keluarlah komentar sendy kemaren itu,
sebenarnya pengen bilang... Come On, wake up... hadapi..jangan lar.. jangan sembunyi..jangan berlindung di balik kebesaran orgtua..dan bla bla bla.. tpi nanti ada yg bilang.. eh.. emangnya elo siapa ya ??? hhhh...pake merintah2 gitu... (^_^)

hhh.. dan kemudian kisahnya agak lucu pula.. (tdi sedih kok jdi lucu ya ??), udah mengemis di Kanada, trus pake embel2 kafir Kanada.. apa ga haram tuh ngemis ama org kafir ???.. (kalo base on agamanya, ya kalo sama org kafir kan boleh dekat2..apalgi sampe makan dan segalanya dibantu org kafir, napa ga minta ke yg ga kafir ya.. ke arab kek yg kaya raya itu ???,..... pas kebenaran sendy ga beragama, jdi cuman tergelitik aza dengan kata kafir Kanada itu..)

but sekali lagi, ini bukan buat membuat kacau siapapun atau memprovokasi apapun, hanya berdasar kesadaran aza nulisnya, karena yang terlihat adalah seperti itu, so, itu semua apa adanya,, bukan ada apanya. Oke ??

** sepertinya saudaraku Indradewi juga seorng yg butuh pengakuan ya... HHHH (^_^)
so, kuakui.. Indradewi org yg hangat dan ramah... salam semesta selalu

thanks alot ya buat semua pembaca di milis SI ini..
,, (^_^) ,,  

------------------------------
Pada Sab, 24 Nov 2012 20:54 Waktu Baku Pasifik [hidden email] menulis:

>
>Salut utk Sendy yg berkenan kasih komentar apa adanya (kebetulan, komentarnya "pedas").
>
>Pengakuan adalah kebutuhan dasar manusia.
>
>Sayangnya, banyak orang yg butuh pengakuan dari pihak2 di luar dirinya. Padahal pengakuan yg sejati dan hakiki justru berasal dari diri sendiri.
>
>Menurut saya, apa pun ucapan, tindakan, sikap, pemikiran, dll, selama itu utk kebaikan dan ketenangan si pelaku (dgn catatan, tdk merugikan org lain), biarkan lah.
>
>Kalau memang Pak Heru Baskoro pribadi dan keluarga "happy and peaceful", just let them be happy and peaceful, we shouldn't be bothered or bother them.
>
>Enjoy your Sunday.....
>
>Indra Dewi
>
>
>
>Sent from my BlackBerry® smartphone from Sinyal Bagus XL, Nyambung Teruuusss...!
>
>-----Original Message-----
>From: "Sendy V" <[hidden email]>
>Sender: [hidden email]
>Date: Sat, 24 Nov 2012 14:12:49
>To: <[hidden email]>
>Reply-To: [hidden email]
>Subject: [Spiritual-Indonesia] Re: Nilai Kepahlawanan
>
>salam semesta,
>
>entah mengapa, pas membaca tulisan di atas, ujung2 nya sendy berpendapat, tetap saja masalah harta dan tahta..
>maksudnya apa ????
>ya, kalo emang bangga jdi org Indonesia, ya hadapilah hidup di Indonesia dengan segala kerumitannya. Kalo omongin anak2 Presiden masih hidup bermewah2 hingga sekarang, juga ttg tentang kemalasan org2 Indonesia, ya sama aza, anaknya Sayuti Malik yg nyari kesenangan juga keliatan malas, buktinya sampe ditanggung ama pemerintah Canada yg tdi sempat disebut kafir... aneh juga ya, kok kesannya munafik gitu.. HHH...
>
>kalo emang bangga jdi org Indonesia, banggakan juga almarhum ortunya, kan udah jelas bahwa orgtuanya berjuang tanpa tanda jasa, sementara sang anak sekarng butuh diakui jasa2 orgtuanya.. pernahkah ya anaknya Sayuti Malik berpikir kalo perjuangan ortunya itu murni, tapi sekrng malah ditetesin sedikit noda karena butuh sebuah pengakuan.. buat apa pengakuan atau penghargaan kepahlawanan itu ? ya buat mempermudah anak2 nya dan cucunya Sayuti Malik, ujung2 nya kan sama aza dengan kemalasan, karena dengan menjdi anaknya seorng pahlawan, semua akan dipermudah.. iya ga ??? pdhal dulunya ortunya berjuang demi negara, sekarang anaknya berjuang buat diri sendiri dengan mencela negaranya.. so, bagi sendy yang membaca tulisan anaknya Sayuti Malik (kalo memang itu benar yg nulis anaknya ya.. ).. maka... kesannya munafik banget.. moga cepat2 bisa disadari... Sayuti Malik banyak diceritakan dalam sejarah2 di sekolah dari tahun ke tahun, so, tanpa gelar pahlawan pun,
 byk org yang tau bahwa beliau memang penjuang sejati..

>
>that's my pendapat..atas tulisannya anaknya Sayuti Malik
>
>Nuhun ya.. buat semua..
>
>salam damai semesta..
>
>
>--- In [hidden email], "leonardor" <leonardo_rimba@...> wrote:
>>
>> Kesaksian yg luar biasa sekali. Terimakasih sudah berbagi.
>>
>> Leo
>>
>>
>> --- In [hidden email], "Heru" <heru_bas21@> wrote:
>> >
>> > Ayah dan ibu saya (Sayuti Melik dan S.K. Trimurti)dikubur di Makam Pahlawan di Kali bata. Ada beberapa teman kasih komentar bahwa di kuburan tersebut juga dikuburkan para pengchianat bangsa dan para koruptor. Kata mereka saya harus ikut contoh keluarga Bung Karno, Bung Hatta yang jauh lebih besar ketokohannya dari Sayuti Melik dan S.K. Trimurti tidak mau dikuburkan di taman Pahlawan. Saya jawab, jelas keluarga Bung Hata dan Soekarno adalah orang kaya bisa punya kuburan sendiri yang lebih mewah dari kuburan Kalibata. Buat saya kuburan Kalibata membebaskan saya dari segala biaya penguburan. Bahkan polisi yang mengawal jenasahpun tidak saya kasih uang walaupun mereka minta uang dari saya. Saya bilang kalau tidak mau mengawal silahkan. Sekarang saya sebagai anak pahlawan minta bantuan dari pemerintah kafir Kanada, karena pertama saya tidak suka hidup hipokrit di Indonesia kedua tidak ada perhatian dari pemerintah atas jasa2 orang tua saya.Waktu saya
 lahir ibu saya disiksa Jepang sampai tidak bisa memberi air susu kepada saya (waktu itu saya berumur 2 tahun}. Saya hidup dari air tajin. Masih bagus saya masih bisa hidup walaupun kurang gizi waktu kecil. Secara tidak langsung saya ikut berkorban karena perjuangan orang tua saya. Anak2 Soekarno dan Hatta hidupnya mewah2 saja. Apalagi anak2 Soeharto. Sampai sekarang orang tua saya belum mendapat gelar pahlawan. Kalau anda percaya ada kihdupan setelah mati maka mereka pasti tidak mengharapkan gelar tersebut. Tapi saya yang tidak percaya ada kehidupan setelah mati perlu gelar tersebut supaya saya dapat tunjangan dari Pemerintah. Di Kanada baik saya maupun orang tua saya bukan siapa2. Selama di Kanada saya tidak pernah membayar pajak pendapatan, karena saya pindah dari permanent resident US ke permanent resicent Kanada. Di US saya bayar pajak karena bekerja disana. Di Kanada saya yang bukan siapa2 dapat bantuan dari pemerintah Kanada $1,270 sebulan belum
 lagi mendapat Care Card tanpa harus bayar premi asuransi. Saya telah dioperasi 3 kali sedang isteri saya di operasi sekali tanpa bayar seperserpun. Saya juga berhak mendapat bantuan ticket Public Transportation untuk Skytrain dan Bus keseluruh zone di Vancouver Area (luasnya mungkin sebesar seluruh daerah Jakarta).Sebagai senior maka obat dari resep dokter hampir semuanya dibayar pemerintah. Disamping itu karena saya adalah penduduk British Columbia yang kalau beli barang tertentu membayar Pajak Penjualan maka setelah saya mengisi Tax Return (isian paja) maka tiap quartal saya mendapat pengembalian sebesar $299.00  Sistim asuransi kesehatan ini yang akan ditiru Obama. Tahun 2014 saya akan dapat pensiun resmi dari pemerintah Kanada (setelah 10 tahun tinggal di Kanada) padahal saya masih tetap warga negara Indonesia. Status saya cuma permanent resident. Kanada bukan negara Pancasila dan masih mengakui Elizabeth sebagai Ratu. Sungguh aneh. Walaupun diberi
 kemudahan saya masih bebas untuk mengemukakan pendirian saya bahawa saya anti Ratu Inggris dan keturunannya.

>> > Saya tidak memuji Kanada serta penduduknya. Orang Kanada tidak lebih pintar dari orang Indonesia. Saya ikut kursus matematik disuatu Adult School. Saya dapat 100%(artinya seluruh quiz, test dan exam saya selama kursus selalu 100%. Menurut guru2 sekolah tersebut sudah bertahun2 tidak ada murid yang mendapat angka 100 % disekolah tersebut. Padahal kepandaian matematik saya di Indonesia biasa2 saja.
>> > Saya tidak seperti kebanyakan anak2 yang suka berdemonstrasi membenci negara barat (terutama orang kulit putihnya), tapi kalau menghadapi bule pada minder. Padahal di Kanada banyak bule yang jadi pengemis (sudah dapat bantuan dari pemerintah tapi tidak dapat memanfaatkan bantuan tersebut karena malas dan mennghamburkan uangnya untuk "drug" dll, sehingga mereka jadi pengemis, di Indonesia menjadi pengemis karena terpaksa}. Saya selalu bangga jadi orang Indonesia. Dimana2 saya selalu membanggakan diri saya sebagai orang Indonesia.
>> >
>> > Salam,
>> > Heru Baskoro
>> >
>> >
>> >
>> > --- In [hidden email], semar samiaji <kind_evil_06@> wrote:
>> > >
>> > > Merujuk pada link berikut http://www.tempo.co/read/news/2012/04/12/117396582/David-Cameron-Indonesia-Bisa-Memimpin-Dunia
>> > > memberi refleksi bahwa medan perjuangan salah satu yang utamanya adalah
>> > > melalui dunia pendidikan. Kalau Indonesia mendidik masyarakatnya
>> > > melalui nilai-nilai yang ke luar dari JIWA Pembukaan UUD 1945, semakna
>> > > dengan menanamkan nilai-nilai yang akan menjadi gangguan kejiwaan bagi
>> > > bangsa Indonesia akhirnya.
>> > >
>> > > Kalau kita merujuk kepada penghargaan
>> > > dari Ratu Inggris kepada Presiden  yang diberitakan akhir-akhir ini,
>> > > semestinya (menurut saya), tidak perlu bawa-bawa Indonesianya.
>> > > Silahkan, kalau penghargaan demikian diterima atas nama PRIBADI Pak
>> > > Presiden. Silahkan pelajari dan kaji, latar belakang gelar tersebut
>> > > diberikan oleh para Raja / Ratu Inggris. Diberikan bukan dalam rangka
>> > > hubungan antar-negara, namun diberikan bagi satria melalui proses
>> > > pemandian (dipermandikan) oleh Raja / Ratu Inggris.
>> > >
>> > > Kalau
>> > > kemudian, ada suara-suara yang mengkaitkan pemberian gelar satria
>> > > tersebut dengan urusan investasi Inggris di Indonesia, jangan kemudian
>> > > dibantah begitu saja. Lalu, menyatakan  bahwa pemberian tersebut
>> > > katanya karena prestasi demokrasi Indonesia. Kalau kita rujuk link
>> > > berikut http://www.metrotvnews.com/ekonomi/news/2012/11/02/112274/BP-Siapkan-Investasi-US$12-Miliar-di-Indonesia
>> > > , apakah kemudian bisa dipisahkan antara urusan gelar satria itu dengan
>> > > urusan ekonomi dengan nilai investasi yang aduhai tersebut? Sesaat
>> > > beralihnya rezim Bung Karno kepada Pak Harto, wilayah Irian Barat,
>> > > khususnya Freeport menjadi bagian dari proses peralihannya. Apakah
>> > > kemudian menjadi tidak mungkin, saat ini, Inggris dengan Proyek
>> > > Tangguhnya? Apakah jumlah hingga 12 miliar US$ di wilayah yang
>> > > disengketakan dan dimasalahkan oleh para LSM Inggris dan juga para
>> > > penegak HAM, di mana Indonesia katanya melakukan tindakan melanggar
>> > > HAM. Namun di saat itu pula dijawab melalui
>> > >  bentuk investasi
>> > > pertambangan di wilayah tersebut. Bagaimana bisa meyakini adanya
>> > > keselarasan antara ucap dengan laku perbuatan kalau sudah demikian?
>> > >
>> > > Sebenarnya,
>> > > kita tidak mempermasalahkan bentuk-bentuk investasi bagi Indonesia.
>> > > Yang menjadi masalah, ternyata investasi kemudian merugikan pihak
>> > > Indonesia dalam konteks kehidupan kita yang berupaya menghidupkan
>> > > nilai-nilai kebangsaan dan pengelolaan negara yang selaras dan sejiwa
>> > > dengan Pembukaan UUD 1945. Mari dikaji, silahkan sebutkan, mana bentuk
>> > > investasi, khususnya dalam pertambangan, yang benar-benar berpihak
>> > > kepada Indonesia? Tanah ini dijadikan selain dikuras tambangnya, juga
>> > > dijadikan pasar agar bergantung kepada si penguras tambang. Apakah
>> > > masih kurang cukup peristiwa-peristiwa yang ada selama ini? Apa yang
>> > > terjadi pada urusan energi di Indonesia? Apa yang terjadi di
>> > > wilayah-wilayah tambang yang menghancurkan lingkungan di Indonesia?
>> > > Lalu, melalui kekuatan penguasaan pertambangan, bangsa kita pun berebut
>> > > saling menguasai sumber uang yang terbesar ini. Lalu, masuk ke wilayah
>> > > perebutan kekuasaan, baik dalam cakupan nasional mau pun
>> > >
>> > > internasional. Perjalanan rezim Bung Karno yang begitu "keras"
>> > > melakukan upaya kesetaraan saja kemudian "kalah", bukan? Esensinya
>> > > bukan terletak pada kalahnya, namun kepada SURI TAULADAN kepemimpinan
>> > > yang SETIA dan TAAT kepada nilai-nilai Pembukaan UUD 1945-nya.
>> > >
>> > > Melalui
>> > > refleksi demikian, medan perjuangan bangsa Indonesia kemudian esensinya
>> > > TIDAK terletak pada seakan-akan kalau sudah menerima penghargaan
>> > > kemudian pahlawan atau manusia yang sudah berkorban besar bagi
>> > > negaranya, sebagai mana kejadian di Surabaya 67 tahun yang lalu, bukan?
>> > > Kecuali, baru sebatas pengakuan-pengakuan saja, bukan?
>> > >
>> > > Saat
>> > > terjadinya pertempuran besar di Surabaya, 67 tahun yang lalu, tolok
>> > > ukurnya jelas, yaitu mempertahankan kemerdekaan sebagai negara. Saat
>> > > ini, ukurannya adalah JIWA Pembukaan UUD 1945. Ini perjuangan beratnya,
>> > > upaya tetap menanamkan dan berbuat dengan nilai-nilai Pembukaan UUD
>> > > 1945 tidak mudah, karena dunia umumnya tidak demikian nuansanya.
>> > > Diperlukan suri tauladan yang nyata dan JUJUR. Bukan yang sibuk takut
>> > > karena imagenya menjadi rusak atau buruk.
>> > >
>> > > Pak Presiden
>> > > berpidato katanya Indonesia akan menjadi jembatan kebudayaan dunia.
>> > > Saya yakin dengan itu, tetapi TIDAK dengan cara-cara yang mengedepankan
>> > > nilai-nilai kebudayaan merusak ekonomi negara melalui investasi yang
>> > > merusak alam Indonesia. Tidak dengan cara-cara menunduk, patuh, dan
>> > > taat kepada maunya kepentingan-kepentingan asing melampaui nilai-nilai
>> > > kebudayaan (refleksi Pembukaan UUD 1945) bangsa Indonesia.
>> > >
>> > > Esensi
>> > > nilai-nilai kepahlawanan di era saat ini, TIDAK terletak kepada
>> > > bentuk-bentuk penghargaan yang disematkan oleh manusia. Esensi
>> > > kepahlawanan sejatinya berlaku bagi siapa pun manusia Indonesia yang
>> > > benar-benar atau sungguh-sungguh dengan nilai-nilai kemanusiaan buah
>> > > dari ketuhanannya. Tidak memerlukan bentuk-bentuk pengakuan bahwa sudah
>> > > merasa berjasa, apalagi sambil seret-seret jabatan / kekuasaan. Semua
>> > > bentuk-bentuk kepemimpinan yang tidak demikian PASTI akan ditelanjangi
>> > > sampai ke akar-akarnya. Silahkan, si manusia itu berkelit dan melakukan
>> > > upaya menghindar dari tanggung jawab dan kewenangan yang dititipkan
>> > > kepadanya, mari kita buktikan apakah si manusia nantinya memang
>> > > benar-benar mampu menghindar dari gerak alam semesta.
>> > >
>> > > Semoga YMK beri setetes cahaya kepada setiap hati manusia Indonesia yang masih gelap mata hatinya.
>> > >
>> > > Selamat berjuang. Sekali merdeka tetap merdeka!!
>> > >
>> > > Bogor, 5 November 2012
>> > >
>> > > salam,
>> > > ss
>> > >
>> >
>>
>
>
>


Reply | Threaded
Open this post in threaded view
|  
Report Content as Inappropriate

Re: Bls: Re: Re: Mulai Kepahlawanan

Hendra Sujana
In reply to this post by odoy_s
Hahahaha.
Lama2 jadi ngaran  baca tulisan ini.

Terimakasih untuk pendant Dan pandas
Salad
Sent from my BlackBerry®
powered by Sinyal Kuat INDOSAT

-----Original Message-----
From: [hidden email]
Sender: [hidden email]
Date: Sun, 25 Nov 2012 10:11:35
To: <[hidden email]>
Reply-To: [hidden email]
Subject: Re: Bls: Re: [Spiritual-Indonesia] Re: Nilai Kepahlawanan

Tdk wajib tapi kalau tdk beragama dipersulit negara dalam pengurusan surat2 identitas yang ujungnya sulit dalam urusan perdata, sulit mau menikah resmi, sulit bagi waris dst...

Saya beragama sekarang hanya di ktp. Biar ktp saya sj yg masuk surga... ;D

Powered by Telkomsel BlackBerry®

-----Original Message-----
From: [hidden email]
Sender: [hidden email]
Date: Sun, 25 Nov 2012 07:40:15
To: [hidden email]<[hidden email]>
Reply-To: [hidden email]
Subject: Re: Bls: Re: [Spiritual-Indonesia] Re: Nilai Kepahlawanan

Undang2 mana yang menyatakan setiap masyarakat Indonesia wajib beragama ? Masa siy agama itu wajib ??


Powered by Telkomsel BlackBerry®

-----Original Message-----
From: [hidden email]
Sender: [hidden email]
Date: Sun, 25 Nov 2012 07:41:42
To: <[hidden email]>
Reply-To: [hidden email]
Subject: Re: Bls: Re: [Spiritual-Indonesia] Re: Nilai Kepahlawanan


Duh senangnya..... Bisa tdk beragama.

Bagaimana caranya ya?

Bukannya wajib hukumnya, setiap orang di Indonesia beragama?

Indra Dewi
Sent from my BlackBerry® smartphone from Sinyal Bagus XL, Nyambung Teruuusss...!

-----Original Message-----
From: [hidden email]
Sender: [hidden email]
Date: Sun, 25 Nov 2012 07:00:14
To: [hidden email]<[hidden email]>
Reply-To: [hidden email]
Subject: Re: Bls: Re: [Spiritual-Indonesia] Re: Nilai Kepahlawanan

Sendy Kerenz euii....

Salam,


Powered by Telkomsel BlackBerry®

-----Original Message-----
From: Sendy Huang <[hidden email]>
Sender: [hidden email]
Date: Sun, 25 Nov 2012 13:25:30
To: <[hidden email]>
Reply-To: [hidden email]
Subject: Bls: Re: [Spiritual-Indonesia] Re: Nilai Kepahlawanan




Salam buat saudaraku Indradewi (^_^),

thanks atas inputnya (^_^)
kesan tulisan sendy pedas, karena tarian kata-katanya ga berirama Waltz ya.. hhh, iramanya brak bruk brak bruk..

iya, sih, sendy sebenarnya sedih membaca ceritanya salah satu anak Sayuti Malik itu, ada kesan ga bisa nrimo dan agak dendam ama pemerintah.. (my opinion).. tpi apakah ga ada org2 yang care dan justru membantu meredam sakit hati mereka, karena kalo yang sendy baca itu seakan2 malah banyak yang mengompori, sehingga ada luka sampai bertahun-tahun, sehingga keluarlah komentar sendy kemaren itu,
sebenarnya pengen bilang... Come On, wake up... hadapi..jangan lar.. jangan sembunyi..jangan berlindung di balik kebesaran orgtua..dan bla bla bla.. tpi nanti ada yg bilang.. eh.. emangnya elo siapa ya ??? hhhh...pake merintah2 gitu... (^_^)

hhh.. dan kemudian kisahnya agak lucu pula.. (tdi sedih kok jdi lucu ya ??), udah mengemis di Kanada, trus pake embel2 kafir Kanada.. apa ga haram tuh ngemis ama org kafir ???.. (kalo base on agamanya, ya kalo sama org kafir kan boleh dekat2..apalgi sampe makan dan segalanya dibantu org kafir, napa ga minta ke yg ga kafir ya.. ke arab kek yg kaya raya itu ???,..... pas kebenaran sendy ga beragama, jdi cuman tergelitik aza dengan kata kafir Kanada itu..)

but sekali lagi, ini bukan buat membuat kacau siapapun atau memprovokasi apapun, hanya berdasar kesadaran aza nulisnya, karena yang terlihat adalah seperti itu, so, itu semua apa adanya,, bukan ada apanya. Oke ??

** sepertinya saudaraku Indradewi juga seorng yg butuh pengakuan ya... HHHH (^_^)
so, kuakui.. Indradewi org yg hangat dan ramah... salam semesta selalu

thanks alot ya buat semua pembaca di milis SI ini..
,, (^_^) ,,  

------------------------------
Pada Sab, 24 Nov 2012 20:54 Waktu Baku Pasifik [hidden email] menulis:

>
>Salut utk Sendy yg berkenan kasih komentar apa adanya (kebetulan, komentarnya "pedas").
>
>Pengakuan adalah kebutuhan dasar manusia.
>
>Sayangnya, banyak orang yg butuh pengakuan dari pihak2 di luar dirinya. Padahal pengakuan yg sejati dan hakiki justru berasal dari diri sendiri.
>
>Menurut saya, apa pun ucapan, tindakan, sikap, pemikiran, dll, selama itu utk kebaikan dan ketenangan si pelaku (dgn catatan, tdk merugikan org lain), biarkan lah.
>
>Kalau memang Pak Heru Baskoro pribadi dan keluarga "happy and peaceful", just let them be happy and peaceful, we shouldn't be bothered or bother them.
>
>Enjoy your Sunday.....
>
>Indra Dewi
>
>
>
>Sent from my BlackBerry® smartphone from Sinyal Bagus XL, Nyambung Teruuusss...!
>
>-----Original Message-----
>From: "Sendy V" <[hidden email]>
>Sender: [hidden email]
>Date: Sat, 24 Nov 2012 14:12:49
>To: <[hidden email]>
>Reply-To: [hidden email]
>Subject: [Spiritual-Indonesia] Re: Nilai Kepahlawanan
>
>salam semesta,
>
>entah mengapa, pas membaca tulisan di atas, ujung2 nya sendy berpendapat, tetap saja masalah harta dan tahta..
>maksudnya apa ????
>ya, kalo emang bangga jdi org Indonesia, ya hadapilah hidup di Indonesia dengan segala kerumitannya. Kalo omongin anak2 Presiden masih hidup bermewah2 hingga sekarang, juga ttg tentang kemalasan org2 Indonesia, ya sama aza, anaknya Sayuti Malik yg nyari kesenangan juga keliatan malas, buktinya sampe ditanggung ama pemerintah Canada yg tdi sempat disebut kafir... aneh juga ya, kok kesannya munafik gitu.. HHH...
>
>kalo emang bangga jdi org Indonesia, banggakan juga almarhum ortunya, kan udah jelas bahwa orgtuanya berjuang tanpa tanda jasa, sementara sang anak sekarng butuh diakui jasa2 orgtuanya.. pernahkah ya anaknya Sayuti Malik berpikir kalo perjuangan ortunya itu murni, tapi sekrng malah ditetesin sedikit noda karena butuh sebuah pengakuan.. buat apa pengakuan atau penghargaan kepahlawanan itu ? ya buat mempermudah anak2 nya dan cucunya Sayuti Malik, ujung2 nya kan sama aza dengan kemalasan, karena dengan menjdi anaknya seorng pahlawan, semua akan dipermudah.. iya ga ??? pdhal dulunya ortunya berjuang demi negara, sekarang anaknya berjuang buat diri sendiri dengan mencela negaranya.. so, bagi sendy yang membaca tulisan anaknya Sayuti Malik (kalo memang itu benar yg nulis anaknya ya.. ).. maka... kesannya munafik banget.. moga cepat2 bisa disadari... Sayuti Malik banyak diceritakan dalam sejarah2 di sekolah dari tahun ke tahun, so, tanpa gelar pahlawan pun,
 byk org yang tau bahwa beliau memang penjuang sejati..

>
>that's my pendapat..atas tulisannya anaknya Sayuti Malik
>
>Nuhun ya.. buat semua..
>
>salam damai semesta..
>
>
>--- In [hidden email], "leonardor" <leonardo_rimba@...> wrote:
>>
>> Kesaksian yg luar biasa sekali. Terimakasih sudah berbagi.
>>
>> Leo
>>
>>
>> --- In [hidden email], "Heru" <heru_bas21@> wrote:
>> >
>> > Ayah dan ibu saya (Sayuti Melik dan S.K. Trimurti)dikubur di Makam Pahlawan di Kali bata. Ada beberapa teman kasih komentar bahwa di kuburan tersebut juga dikuburkan para pengchianat bangsa dan para koruptor. Kata mereka saya harus ikut contoh keluarga Bung Karno, Bung Hatta yang jauh lebih besar ketokohannya dari Sayuti Melik dan S.K. Trimurti tidak mau dikuburkan di taman Pahlawan. Saya jawab, jelas keluarga Bung Hata dan Soekarno adalah orang kaya bisa punya kuburan sendiri yang lebih mewah dari kuburan Kalibata. Buat saya kuburan Kalibata membebaskan saya dari segala biaya penguburan. Bahkan polisi yang mengawal jenasahpun tidak saya kasih uang walaupun mereka minta uang dari saya. Saya bilang kalau tidak mau mengawal silahkan. Sekarang saya sebagai anak pahlawan minta bantuan dari pemerintah kafir Kanada, karena pertama saya tidak suka hidup hipokrit di Indonesia kedua tidak ada perhatian dari pemerintah atas jasa2 orang tua saya.Waktu saya
 lahir ibu saya disiksa Jepang sampai tidak bisa memberi air susu kepada saya (waktu itu saya berumur 2 tahun}. Saya hidup dari air tajin. Masih bagus saya masih bisa hidup walaupun kurang gizi waktu kecil. Secara tidak langsung saya ikut berkorban karena perjuangan orang tua saya. Anak2 Soekarno dan Hatta hidupnya mewah2 saja. Apalagi anak2 Soeharto. Sampai sekarang orang tua saya belum mendapat gelar pahlawan. Kalau anda percaya ada kihdupan setelah mati maka mereka pasti tidak mengharapkan gelar tersebut. Tapi saya yang tidak percaya ada kehidupan setelah mati perlu gelar tersebut supaya saya dapat tunjangan dari Pemerintah. Di Kanada baik saya maupun orang tua saya bukan siapa2. Selama di Kanada saya tidak pernah membayar pajak pendapatan, karena saya pindah dari permanent resident US ke permanent resicent Kanada. Di US saya bayar pajak karena bekerja disana. Di Kanada saya yang bukan siapa2 dapat bantuan dari pemerintah Kanada $1,270 sebulan belum
 lagi mendapat Care Card tanpa harus bayar premi asuransi. Saya telah dioperasi 3 kali sedang isteri saya di operasi sekali tanpa bayar seperserpun. Saya juga berhak mendapat bantuan ticket Public Transportation untuk Skytrain dan Bus keseluruh zone di Vancouver Area (luasnya mungkin sebesar seluruh daerah Jakarta).Sebagai senior maka obat dari resep dokter hampir semuanya dibayar pemerintah. Disamping itu karena saya adalah penduduk British Columbia yang kalau beli barang tertentu membayar Pajak Penjualan maka setelah saya mengisi Tax Return (isian paja) maka tiap quartal saya mendapat pengembalian sebesar $299.00  Sistim asuransi kesehatan ini yang akan ditiru Obama. Tahun 2014 saya akan dapat pensiun resmi dari pemerintah Kanada (setelah 10 tahun tinggal di Kanada) padahal saya masih tetap warga negara Indonesia. Status saya cuma permanent resident. Kanada bukan negara Pancasila dan masih mengakui Elizabeth sebagai Ratu. Sungguh aneh. Walaupun diberi
 kemudahan saya masih bebas untuk mengemukakan pendirian saya bahawa saya anti Ratu Inggris dan keturunannya.

>> > Saya tidak memuji Kanada serta penduduknya. Orang Kanada tidak lebih pintar dari orang Indonesia. Saya ikut kursus matematik disuatu Adult School. Saya dapat 100%(artinya seluruh quiz, test dan exam saya selama kursus selalu 100%. Menurut guru2 sekolah tersebut sudah bertahun2 tidak ada murid yang mendapat angka 100 % disekolah tersebut. Padahal kepandaian matematik saya di Indonesia biasa2 saja.
>> > Saya tidak seperti kebanyakan anak2 yang suka berdemonstrasi membenci negara barat (terutama orang kulit putihnya), tapi kalau menghadapi bule pada minder. Padahal di Kanada banyak bule yang jadi pengemis (sudah dapat bantuan dari pemerintah tapi tidak dapat memanfaatkan bantuan tersebut karena malas dan mennghamburkan uangnya untuk "drug" dll, sehingga mereka jadi pengemis, di Indonesia menjadi pengemis karena terpaksa}. Saya selalu bangga jadi orang Indonesia. Dimana2 saya selalu membanggakan diri saya sebagai orang Indonesia.
>> >
>> > Salam,
>> > Heru Baskoro
>> >
>> >
>> >
>> > --- In [hidden email], semar samiaji <kind_evil_06@> wrote:
>> > >
>> > > Merujuk pada link berikut http://www.tempo.co/read/news/2012/04/12/117396582/David-Cameron-Indonesia-Bisa-Memimpin-Dunia
>> > > memberi refleksi bahwa medan perjuangan salah satu yang utamanya adalah
>> > > melalui dunia pendidikan. Kalau Indonesia mendidik masyarakatnya
>> > > melalui nilai-nilai yang ke luar dari JIWA Pembukaan UUD 1945, semakna
>> > > dengan menanamkan nilai-nilai yang akan menjadi gangguan kejiwaan bagi
>> > > bangsa Indonesia akhirnya.
>> > >
>> > > Kalau kita merujuk kepada penghargaan
>> > > dari Ratu Inggris kepada Presiden  yang diberitakan akhir-akhir ini,
>> > > semestinya (menurut saya), tidak perlu bawa-bawa Indonesianya.
>> > > Silahkan, kalau penghargaan demikian diterima atas nama PRIBADI Pak
>> > > Presiden. Silahkan pelajari dan kaji, latar belakang gelar tersebut
>> > > diberikan oleh para Raja / Ratu Inggris. Diberikan bukan dalam rangka
>> > > hubungan antar-negara, namun diberikan bagi satria melalui proses
>> > > pemandian (dipermandikan) oleh Raja / Ratu Inggris.
>> > >
>> > > Kalau
>> > > kemudian, ada suara-suara yang mengkaitkan pemberian gelar satria
>> > > tersebut dengan urusan investasi Inggris di Indonesia, jangan kemudian
>> > > dibantah begitu saja. Lalu, menyatakan  bahwa pemberian tersebut
>> > > katanya karena prestasi demokrasi Indonesia. Kalau kita rujuk link
>> > > berikut http://www.metrotvnews.com/ekonomi/news/2012/11/02/112274/BP-Siapkan-Investasi-US$12-Miliar-di-Indonesia
>> > > , apakah kemudian bisa dipisahkan antara urusan gelar satria itu dengan
>> > > urusan ekonomi dengan nilai investasi yang aduhai tersebut? Sesaat
>> > > beralihnya rezim Bung Karno kepada Pak Harto, wilayah Irian Barat,
>> > > khususnya Freeport menjadi bagian dari proses peralihannya. Apakah
>> > > kemudian menjadi tidak mungkin, saat ini, Inggris dengan Proyek
>> > > Tangguhnya? Apakah jumlah hingga 12 miliar US$ di wilayah yang
>> > > disengketakan dan dimasalahkan oleh para LSM Inggris dan juga para
>> > > penegak HAM, di mana Indonesia katanya melakukan tindakan melanggar
>> > > HAM. Namun di saat itu pula dijawab melalui
>> > >  bentuk investasi
>> > > pertambangan di wilayah tersebut. Bagaimana bisa meyakini adanya
>> > > keselarasan antara ucap dengan laku perbuatan kalau sudah demikian?
>> > >
>> > > Sebenarnya,
>> > > kita tidak mempermasalahkan bentuk-bentuk investasi bagi Indonesia.
>> > > Yang menjadi masalah, ternyata investasi kemudian merugikan pihak
>> > > Indonesia dalam konteks kehidupan kita yang berupaya menghidupkan
>> > > nilai-nilai kebangsaan dan pengelolaan negara yang selaras dan sejiwa
>> > > dengan Pembukaan UUD 1945. Mari dikaji, silahkan sebutkan, mana bentuk
>> > > investasi, khususnya dalam pertambangan, yang benar-benar berpihak
>> > > kepada Indonesia? Tanah ini dijadikan selain dikuras tambangnya, juga
>> > > dijadikan pasar agar bergantung kepada si penguras tambang. Apakah
>> > > masih kurang cukup peristiwa-peristiwa yang ada selama ini? Apa yang
>> > > terjadi pada urusan energi di Indonesia? Apa yang terjadi di
>> > > wilayah-wilayah tambang yang menghancurkan lingkungan di Indonesia?
>> > > Lalu, melalui kekuatan penguasaan pertambangan, bangsa kita pun berebut
>> > > saling menguasai sumber uang yang terbesar ini. Lalu, masuk ke wilayah
>> > > perebutan kekuasaan, baik dalam cakupan nasional mau pun
>> > >
>> > > internasional. Perjalanan rezim Bung Karno yang begitu "keras"
>> > > melakukan upaya kesetaraan saja kemudian "kalah", bukan? Esensinya
>> > > bukan terletak pada kalahnya, namun kepada SURI TAULADAN kepemimpinan
>> > > yang SETIA dan TAAT kepada nilai-nilai Pembukaan UUD 1945-nya.
>> > >
>> > > Melalui
>> > > refleksi demikian, medan perjuangan bangsa Indonesia kemudian esensinya
>> > > TIDAK terletak pada seakan-akan kalau sudah menerima penghargaan
>> > > kemudian pahlawan atau manusia yang sudah berkorban besar bagi
>> > > negaranya, sebagai mana kejadian di Surabaya 67 tahun yang lalu, bukan?
>> > > Kecuali, baru sebatas pengakuan-pengakuan saja, bukan?
>> > >
>> > > Saat
>> > > terjadinya pertempuran besar di Surabaya, 67 tahun yang lalu, tolok
>> > > ukurnya jelas, yaitu mempertahankan kemerdekaan sebagai negara. Saat
>> > > ini, ukurannya adalah JIWA Pembukaan UUD 1945. Ini perjuangan beratnya,
>> > > upaya tetap menanamkan dan berbuat dengan nilai-nilai Pembukaan UUD
>> > > 1945 tidak mudah, karena dunia umumnya tidak demikian nuansanya.
>> > > Diperlukan suri tauladan yang nyata dan JUJUR. Bukan yang sibuk takut
>> > > karena imagenya menjadi rusak atau buruk.
>> > >
>> > > Pak Presiden
>> > > berpidato katanya Indonesia akan menjadi jembatan kebudayaan dunia.
>> > > Saya yakin dengan itu, tetapi TIDAK dengan cara-cara yang mengedepankan
>> > > nilai-nilai kebudayaan merusak ekonomi negara melalui investasi yang
>> > > merusak alam Indonesia. Tidak dengan cara-cara menunduk, patuh, dan
>> > > taat kepada maunya kepentingan-kepentingan asing melampaui nilai-nilai
>> > > kebudayaan (refleksi Pembukaan UUD 1945) bangsa Indonesia.
>> > >
>> > > Esensi
>> > > nilai-nilai kepahlawanan di era saat ini, TIDAK terletak kepada
>> > > bentuk-bentuk penghargaan yang disematkan oleh manusia. Esensi
>> > > kepahlawanan sejatinya berlaku bagi siapa pun manusia Indonesia yang
>> > > benar-benar atau sungguh-sungguh dengan nilai-nilai kemanusiaan buah
>> > > dari ketuhanannya. Tidak memerlukan bentuk-bentuk pengakuan bahwa sudah
>> > > merasa berjasa, apalagi sambil seret-seret jabatan / kekuasaan. Semua
>> > > bentuk-bentuk kepemimpinan yang tidak demikian PASTI akan ditelanjangi
>> > > sampai ke akar-akarnya. Silahkan, si manusia itu berkelit dan melakukan
>> > > upaya menghindar dari tanggung jawab dan kewenangan yang dititipkan
>> > > kepadanya, mari kita buktikan apakah si manusia nantinya memang
>> > > benar-benar mampu menghindar dari gerak alam semesta.
>> > >
>> > > Semoga YMK beri setetes cahaya kepada setiap hati manusia Indonesia yang masih gelap mata hatinya.
>> > >
>> > > Selamat berjuang. Sekali merdeka tetap merdeka!!
>> > >
>> > > Bogor, 5 November 2012
>> > >
>> > > salam,
>> > > ss
>> > >
>> >
>>
>
>
>


Reply | Threaded
Open this post in threaded view
|  
Report Content as Inappropriate

Re: Bls: Re: Re: Nilai Kepahlawanan

Hendra Sujana
In reply to this post by odoy_s
Kenapa jadi salah ya spelling tulisan nya

Ha haha. Baca komentar2 nya jadi ngakak

Terimakasih untuk semua nya
Sent from my BlackBerry®
powered by Sinyal Kuat INDOSAT

-----Original Message-----
From: [hidden email]
Sender: [hidden email]
Date: Sun, 25 Nov 2012 10:11:35
To: <[hidden email]>
Reply-To: [hidden email]
Subject: Re: Bls: Re: [Spiritual-Indonesia] Re: Nilai Kepahlawanan

Tdk wajib tapi kalau tdk beragama dipersulit negara dalam pengurusan surat2 identitas yang ujungnya sulit dalam urusan perdata, sulit mau menikah resmi, sulit bagi waris dst...

Saya beragama sekarang hanya di ktp. Biar ktp saya sj yg masuk surga... ;D

Powered by Telkomsel BlackBerry®

-----Original Message-----
From: [hidden email]
Sender: [hidden email]
Date: Sun, 25 Nov 2012 07:40:15
To: [hidden email]<[hidden email]>
Reply-To: [hidden email]
Subject: Re: Bls: Re: [Spiritual-Indonesia] Re: Nilai Kepahlawanan

Undang2 mana yang menyatakan setiap masyarakat Indonesia wajib beragama ? Masa siy agama itu wajib ??


Powered by Telkomsel BlackBerry®

-----Original Message-----
From: [hidden email]
Sender: [hidden email]
Date: Sun, 25 Nov 2012 07:41:42
To: <[hidden email]>
Reply-To: [hidden email]
Subject: Re: Bls: Re: [Spiritual-Indonesia] Re: Nilai Kepahlawanan


Duh senangnya..... Bisa tdk beragama.

Bagaimana caranya ya?

Bukannya wajib hukumnya, setiap orang di Indonesia beragama?

Indra Dewi
Sent from my BlackBerry® smartphone from Sinyal Bagus XL, Nyambung Teruuusss...!

-----Original Message-----
From: [hidden email]
Sender: [hidden email]
Date: Sun, 25 Nov 2012 07:00:14
To: [hidden email]<[hidden email]>
Reply-To: [hidden email]
Subject: Re: Bls: Re: [Spiritual-Indonesia] Re: Nilai Kepahlawanan

Sendy Kerenz euii....

Salam,


Powered by Telkomsel BlackBerry®

-----Original Message-----
From: Sendy Huang <[hidden email]>
Sender: [hidden email]
Date: Sun, 25 Nov 2012 13:25:30
To: <[hidden email]>
Reply-To: [hidden email]
Subject: Bls: Re: [Spiritual-Indonesia] Re: Nilai Kepahlawanan




Salam buat saudaraku Indradewi (^_^),

thanks atas inputnya (^_^)
kesan tulisan sendy pedas, karena tarian kata-katanya ga berirama Waltz ya.. hhh, iramanya brak bruk brak bruk..

iya, sih, sendy sebenarnya sedih membaca ceritanya salah satu anak Sayuti Malik itu, ada kesan ga bisa nrimo dan agak dendam ama pemerintah.. (my opinion).. tpi apakah ga ada org2 yang care dan justru membantu meredam sakit hati mereka, karena kalo yang sendy baca itu seakan2 malah banyak yang mengompori, sehingga ada luka sampai bertahun-tahun, sehingga keluarlah komentar sendy kemaren itu,
sebenarnya pengen bilang... Come On, wake up... hadapi..jangan lar.. jangan sembunyi..jangan berlindung di balik kebesaran orgtua..dan bla bla bla.. tpi nanti ada yg bilang.. eh.. emangnya elo siapa ya ??? hhhh...pake merintah2 gitu... (^_^)

hhh.. dan kemudian kisahnya agak lucu pula.. (tdi sedih kok jdi lucu ya ??), udah mengemis di Kanada, trus pake embel2 kafir Kanada.. apa ga haram tuh ngemis ama org kafir ???.. (kalo base on agamanya, ya kalo sama org kafir kan boleh dekat2..apalgi sampe makan dan segalanya dibantu org kafir, napa ga minta ke yg ga kafir ya.. ke arab kek yg kaya raya itu ???,..... pas kebenaran sendy ga beragama, jdi cuman tergelitik aza dengan kata kafir Kanada itu..)

but sekali lagi, ini bukan buat membuat kacau siapapun atau memprovokasi apapun, hanya berdasar kesadaran aza nulisnya, karena yang terlihat adalah seperti itu, so, itu semua apa adanya,, bukan ada apanya. Oke ??

** sepertinya saudaraku Indradewi juga seorng yg butuh pengakuan ya... HHHH (^_^)
so, kuakui.. Indradewi org yg hangat dan ramah... salam semesta selalu

thanks alot ya buat semua pembaca di milis SI ini..
,, (^_^) ,,  

------------------------------
Pada Sab, 24 Nov 2012 20:54 Waktu Baku Pasifik [hidden email] menulis:

>
>Salut utk Sendy yg berkenan kasih komentar apa adanya (kebetulan, komentarnya "pedas").
>
>Pengakuan adalah kebutuhan dasar manusia.
>
>Sayangnya, banyak orang yg butuh pengakuan dari pihak2 di luar dirinya. Padahal pengakuan yg sejati dan hakiki justru berasal dari diri sendiri.
>
>Menurut saya, apa pun ucapan, tindakan, sikap, pemikiran, dll, selama itu utk kebaikan dan ketenangan si pelaku (dgn catatan, tdk merugikan org lain), biarkan lah.
>
>Kalau memang Pak Heru Baskoro pribadi dan keluarga "happy and peaceful", just let them be happy and peaceful, we shouldn't be bothered or bother them.
>
>Enjoy your Sunday.....
>
>Indra Dewi
>
>
>
>Sent from my BlackBerry® smartphone from Sinyal Bagus XL, Nyambung Teruuusss...!
>
>-----Original Message-----
>From: "Sendy V" <[hidden email]>
>Sender: [hidden email]
>Date: Sat, 24 Nov 2012 14:12:49
>To: <[hidden email]>
>Reply-To: [hidden email]
>Subject: [Spiritual-Indonesia] Re: Nilai Kepahlawanan
>
>salam semesta,
>
>entah mengapa, pas membaca tulisan di atas, ujung2 nya sendy berpendapat, tetap saja masalah harta dan tahta..
>maksudnya apa ????
>ya, kalo emang bangga jdi org Indonesia, ya hadapilah hidup di Indonesia dengan segala kerumitannya. Kalo omongin anak2 Presiden masih hidup bermewah2 hingga sekarang, juga ttg tentang kemalasan org2 Indonesia, ya sama aza, anaknya Sayuti Malik yg nyari kesenangan juga keliatan malas, buktinya sampe ditanggung ama pemerintah Canada yg tdi sempat disebut kafir... aneh juga ya, kok kesannya munafik gitu.. HHH...
>
>kalo emang bangga jdi org Indonesia, banggakan juga almarhum ortunya, kan udah jelas bahwa orgtuanya berjuang tanpa tanda jasa, sementara sang anak sekarng butuh diakui jasa2 orgtuanya.. pernahkah ya anaknya Sayuti Malik berpikir kalo perjuangan ortunya itu murni, tapi sekrng malah ditetesin sedikit noda karena butuh sebuah pengakuan.. buat apa pengakuan atau penghargaan kepahlawanan itu ? ya buat mempermudah anak2 nya dan cucunya Sayuti Malik, ujung2 nya kan sama aza dengan kemalasan, karena dengan menjdi anaknya seorng pahlawan, semua akan dipermudah.. iya ga ??? pdhal dulunya ortunya berjuang demi negara, sekarang anaknya berjuang buat diri sendiri dengan mencela negaranya.. so, bagi sendy yang membaca tulisan anaknya Sayuti Malik (kalo memang itu benar yg nulis anaknya ya.. ).. maka... kesannya munafik banget.. moga cepat2 bisa disadari... Sayuti Malik banyak diceritakan dalam sejarah2 di sekolah dari tahun ke tahun, so, tanpa gelar pahlawan pun,
 byk org yang tau bahwa beliau memang penjuang sejati..

>
>that's my pendapat..atas tulisannya anaknya Sayuti Malik
>
>Nuhun ya.. buat semua..
>
>salam damai semesta..
>
>
>--- In [hidden email], "leonardor" <leonardo_rimba@...> wrote:
>>
>> Kesaksian yg luar biasa sekali. Terimakasih sudah berbagi.
>>
>> Leo
>>
>>
>> --- In [hidden email], "Heru" <heru_bas21@> wrote:
>> >
>> > Ayah dan ibu saya (Sayuti Melik dan S.K. Trimurti)dikubur di Makam Pahlawan di Kali bata. Ada beberapa teman kasih komentar bahwa di kuburan tersebut juga dikuburkan para pengchianat bangsa dan para koruptor. Kata mereka saya harus ikut contoh keluarga Bung Karno, Bung Hatta yang jauh lebih besar ketokohannya dari Sayuti Melik dan S.K. Trimurti tidak mau dikuburkan di taman Pahlawan. Saya jawab, jelas keluarga Bung Hata dan Soekarno adalah orang kaya bisa punya kuburan sendiri yang lebih mewah dari kuburan Kalibata. Buat saya kuburan Kalibata membebaskan saya dari segala biaya penguburan. Bahkan polisi yang mengawal jenasahpun tidak saya kasih uang walaupun mereka minta uang dari saya. Saya bilang kalau tidak mau mengawal silahkan. Sekarang saya sebagai anak pahlawan minta bantuan dari pemerintah kafir Kanada, karena pertama saya tidak suka hidup hipokrit di Indonesia kedua tidak ada perhatian dari pemerintah atas jasa2 orang tua saya.Waktu saya
 lahir ibu saya disiksa Jepang sampai tidak bisa memberi air susu kepada saya (waktu itu saya berumur 2 tahun}. Saya hidup dari air tajin. Masih bagus saya masih bisa hidup walaupun kurang gizi waktu kecil. Secara tidak langsung saya ikut berkorban karena perjuangan orang tua saya. Anak2 Soekarno dan Hatta hidupnya mewah2 saja. Apalagi anak2 Soeharto. Sampai sekarang orang tua saya belum mendapat gelar pahlawan. Kalau anda percaya ada kihdupan setelah mati maka mereka pasti tidak mengharapkan gelar tersebut. Tapi saya yang tidak percaya ada kehidupan setelah mati perlu gelar tersebut supaya saya dapat tunjangan dari Pemerintah. Di Kanada baik saya maupun orang tua saya bukan siapa2. Selama di Kanada saya tidak pernah membayar pajak pendapatan, karena saya pindah dari permanent resident US ke permanent resicent Kanada. Di US saya bayar pajak karena bekerja disana. Di Kanada saya yang bukan siapa2 dapat bantuan dari pemerintah Kanada $1,270 sebulan belum
 lagi mendapat Care Card tanpa harus bayar premi asuransi. Saya telah dioperasi 3 kali sedang isteri saya di operasi sekali tanpa bayar seperserpun. Saya juga berhak mendapat bantuan ticket Public Transportation untuk Skytrain dan Bus keseluruh zone di Vancouver Area (luasnya mungkin sebesar seluruh daerah Jakarta).Sebagai senior maka obat dari resep dokter hampir semuanya dibayar pemerintah. Disamping itu karena saya adalah penduduk British Columbia yang kalau beli barang tertentu membayar Pajak Penjualan maka setelah saya mengisi Tax Return (isian paja) maka tiap quartal saya mendapat pengembalian sebesar $299.00  Sistim asuransi kesehatan ini yang akan ditiru Obama. Tahun 2014 saya akan dapat pensiun resmi dari pemerintah Kanada (setelah 10 tahun tinggal di Kanada) padahal saya masih tetap warga negara Indonesia. Status saya cuma permanent resident. Kanada bukan negara Pancasila dan masih mengakui Elizabeth sebagai Ratu. Sungguh aneh. Walaupun diberi
 kemudahan saya masih bebas untuk mengemukakan pendirian saya bahawa saya anti Ratu Inggris dan keturunannya.

>> > Saya tidak memuji Kanada serta penduduknya. Orang Kanada tidak lebih pintar dari orang Indonesia. Saya ikut kursus matematik disuatu Adult School. Saya dapat 100%(artinya seluruh quiz, test dan exam saya selama kursus selalu 100%. Menurut guru2 sekolah tersebut sudah bertahun2 tidak ada murid yang mendapat angka 100 % disekolah tersebut. Padahal kepandaian matematik saya di Indonesia biasa2 saja.
>> > Saya tidak seperti kebanyakan anak2 yang suka berdemonstrasi membenci negara barat (terutama orang kulit putihnya), tapi kalau menghadapi bule pada minder. Padahal di Kanada banyak bule yang jadi pengemis (sudah dapat bantuan dari pemerintah tapi tidak dapat memanfaatkan bantuan tersebut karena malas dan mennghamburkan uangnya untuk "drug" dll, sehingga mereka jadi pengemis, di Indonesia menjadi pengemis karena terpaksa}. Saya selalu bangga jadi orang Indonesia. Dimana2 saya selalu membanggakan diri saya sebagai orang Indonesia.
>> >
>> > Salam,
>> > Heru Baskoro
>> >
>> >
>> >
>> > --- In [hidden email], semar samiaji <kind_evil_06@> wrote:
>> > >
>> > > Merujuk pada link berikut http://www.tempo.co/read/news/2012/04/12/117396582/David-Cameron-Indonesia-Bisa-Memimpin-Dunia
>> > > memberi refleksi bahwa medan perjuangan salah satu yang utamanya adalah
>> > > melalui dunia pendidikan. Kalau Indonesia mendidik masyarakatnya
>> > > melalui nilai-nilai yang ke luar dari JIWA Pembukaan UUD 1945, semakna
>> > > dengan menanamkan nilai-nilai yang akan menjadi gangguan kejiwaan bagi
>> > > bangsa Indonesia akhirnya.
>> > >
>> > > Kalau kita merujuk kepada penghargaan
>> > > dari Ratu Inggris kepada Presiden  yang diberitakan akhir-akhir ini,
>> > > semestinya (menurut saya), tidak perlu bawa-bawa Indonesianya.
>> > > Silahkan, kalau penghargaan demikian diterima atas nama PRIBADI Pak
>> > > Presiden. Silahkan pelajari dan kaji, latar belakang gelar tersebut
>> > > diberikan oleh para Raja / Ratu Inggris. Diberikan bukan dalam rangka
>> > > hubungan antar-negara, namun diberikan bagi satria melalui proses
>> > > pemandian (dipermandikan) oleh Raja / Ratu Inggris.
>> > >
>> > > Kalau
>> > > kemudian, ada suara-suara yang mengkaitkan pemberian gelar satria
>> > > tersebut dengan urusan investasi Inggris di Indonesia, jangan kemudian
>> > > dibantah begitu saja. Lalu, menyatakan  bahwa pemberian tersebut
>> > > katanya karena prestasi demokrasi Indonesia. Kalau kita rujuk link
>> > > berikut http://www.metrotvnews.com/ekonomi/news/2012/11/02/112274/BP-Siapkan-Investasi-US$12-Miliar-di-Indonesia
>> > > , apakah kemudian bisa dipisahkan antara urusan gelar satria itu dengan
>> > > urusan ekonomi dengan nilai investasi yang aduhai tersebut? Sesaat
>> > > beralihnya rezim Bung Karno kepada Pak Harto, wilayah Irian Barat,
>> > > khususnya Freeport menjadi bagian dari proses peralihannya. Apakah
>> > > kemudian menjadi tidak mungkin, saat ini, Inggris dengan Proyek
>> > > Tangguhnya? Apakah jumlah hingga 12 miliar US$ di wilayah yang
>> > > disengketakan dan dimasalahkan oleh para LSM Inggris dan juga para
>> > > penegak HAM, di mana Indonesia katanya melakukan tindakan melanggar
>> > > HAM. Namun di saat itu pula dijawab melalui
>> > >  bentuk investasi
>> > > pertambangan di wilayah tersebut. Bagaimana bisa meyakini adanya
>> > > keselarasan antara ucap dengan laku perbuatan kalau sudah demikian?
>> > >
>> > > Sebenarnya,
>> > > kita tidak mempermasalahkan bentuk-bentuk investasi bagi Indonesia.
>> > > Yang menjadi masalah, ternyata investasi kemudian merugikan pihak
>> > > Indonesia dalam konteks kehidupan kita yang berupaya menghidupkan
>> > > nilai-nilai kebangsaan dan pengelolaan negara yang selaras dan sejiwa
>> > > dengan Pembukaan UUD 1945. Mari dikaji, silahkan sebutkan, mana bentuk
>> > > investasi, khususnya dalam pertambangan, yang benar-benar berpihak
>> > > kepada Indonesia? Tanah ini dijadikan selain dikuras tambangnya, juga
>> > > dijadikan pasar agar bergantung kepada si penguras tambang. Apakah
>> > > masih kurang cukup peristiwa-peristiwa yang ada selama ini? Apa yang
>> > > terjadi pada urusan energi di Indonesia? Apa yang terjadi di
>> > > wilayah-wilayah tambang yang menghancurkan lingkungan di Indonesia?
>> > > Lalu, melalui kekuatan penguasaan pertambangan, bangsa kita pun berebut
>> > > saling menguasai sumber uang yang terbesar ini. Lalu, masuk ke wilayah
>> > > perebutan kekuasaan, baik dalam cakupan nasional mau pun
>> > >
>> > > internasional. Perjalanan rezim Bung Karno yang begitu "keras"
>> > > melakukan upaya kesetaraan saja kemudian "kalah", bukan? Esensinya
>> > > bukan terletak pada kalahnya, namun kepada SURI TAULADAN kepemimpinan
>> > > yang SETIA dan TAAT kepada nilai-nilai Pembukaan UUD 1945-nya.
>> > >
>> > > Melalui
>> > > refleksi demikian, medan perjuangan bangsa Indonesia kemudian esensinya
>> > > TIDAK terletak pada seakan-akan kalau sudah menerima penghargaan
>> > > kemudian pahlawan atau manusia yang sudah berkorban besar bagi
>> > > negaranya, sebagai mana kejadian di Surabaya 67 tahun yang lalu, bukan?
>> > > Kecuali, baru sebatas pengakuan-pengakuan saja, bukan?
>> > >
>> > > Saat
>> > > terjadinya pertempuran besar di Surabaya, 67 tahun yang lalu, tolok
>> > > ukurnya jelas, yaitu mempertahankan kemerdekaan sebagai negara. Saat
>> > > ini, ukurannya adalah JIWA Pembukaan UUD 1945. Ini perjuangan beratnya,
>> > > upaya tetap menanamkan dan berbuat dengan nilai-nilai Pembukaan UUD
>> > > 1945 tidak mudah, karena dunia umumnya tidak demikian nuansanya.
>> > > Diperlukan suri tauladan yang nyata dan JUJUR. Bukan yang sibuk takut
>> > > karena imagenya menjadi rusak atau buruk.
>> > >
>> > > Pak Presiden
>> > > berpidato katanya Indonesia akan menjadi jembatan kebudayaan dunia.
>> > > Saya yakin dengan itu, tetapi TIDAK dengan cara-cara yang mengedepankan
>> > > nilai-nilai kebudayaan merusak ekonomi negara melalui investasi yang
>> > > merusak alam Indonesia. Tidak dengan cara-cara menunduk, patuh, dan
>> > > taat kepada maunya kepentingan-kepentingan asing melampaui nilai-nilai
>> > > kebudayaan (refleksi Pembukaan UUD 1945) bangsa Indonesia.
>> > >
>> > > Esensi
>> > > nilai-nilai kepahlawanan di era saat ini, TIDAK terletak kepada
>> > > bentuk-bentuk penghargaan yang disematkan oleh manusia. Esensi
>> > > kepahlawanan sejatinya berlaku bagi siapa pun manusia Indonesia yang
>> > > benar-benar atau sungguh-sungguh dengan nilai-nilai kemanusiaan buah
>> > > dari ketuhanannya. Tidak memerlukan bentuk-bentuk pengakuan bahwa sudah
>> > > merasa berjasa, apalagi sambil seret-seret jabatan / kekuasaan. Semua
>> > > bentuk-bentuk kepemimpinan yang tidak demikian PASTI akan ditelanjangi
>> > > sampai ke akar-akarnya. Silahkan, si manusia itu berkelit dan melakukan
>> > > upaya menghindar dari tanggung jawab dan kewenangan yang dititipkan
>> > > kepadanya, mari kita buktikan apakah si manusia nantinya memang
>> > > benar-benar mampu menghindar dari gerak alam semesta.
>> > >
>> > > Semoga YMK beri setetes cahaya kepada setiap hati manusia Indonesia yang masih gelap mata hatinya.
>> > >
>> > > Selamat berjuang. Sekali merdeka tetap merdeka!!
>> > >
>> > > Bogor, 5 November 2012
>> > >
>> > > salam,
>> > > ss
>> > >
>> >
>>
>
>
>


Reply | Threaded
Open this post in threaded view
|  
Report Content as Inappropriate

Re: Bls: Re: Re: Nilai Kepahlawanan

heiji.smart
In reply to this post by odoy_s
Hal yg paling dasar untuk NKRI adalah ketuhanan yg maha esa, dan bentuk perwujudannya adalah agama karena sulit kalau negara harus merumuskan sendiri format ketuhanan untuk warganya, 4 sila selanjutnya baru bisa diwujudkan dalam format hukum negara

 
Sent from my BlackBerry® smartphone from Sinyal Bagus XL, Nyambung Teruuusss...!

-----Original Message-----
From: [hidden email]
Sender: [hidden email]
Date: Sun, 25 Nov 2012 10:11:35
To: <[hidden email]>
Reply-To: [hidden email]
Subject: Re: Bls: Re: [Spiritual-Indonesia] Re: Nilai Kepahlawanan

Tdk wajib tapi kalau tdk beragama dipersulit negara dalam pengurusan surat2 identitas yang ujungnya sulit dalam urusan perdata, sulit mau menikah resmi, sulit bagi waris dst...

Saya beragama sekarang hanya di ktp. Biar ktp saya sj yg masuk surga... ;D

Powered by Telkomsel BlackBerry®

-----Original Message-----
From: [hidden email]
Sender: [hidden email]
Date: Sun, 25 Nov 2012 07:40:15
To: [hidden email]<[hidden email]>
Reply-To: [hidden email]
Subject: Re: Bls: Re: [Spiritual-Indonesia] Re: Nilai Kepahlawanan

Undang2 mana yang menyatakan setiap masyarakat Indonesia wajib beragama ? Masa siy agama itu wajib ??


Powered by Telkomsel BlackBerry®

-----Original Message-----
From: [hidden email]
Sender: [hidden email]
Date: Sun, 25 Nov 2012 07:41:42
To: <[hidden email]>
Reply-To: [hidden email]
Subject: Re: Bls: Re: [Spiritual-Indonesia] Re: Nilai Kepahlawanan


Duh senangnya..... Bisa tdk beragama.

Bagaimana caranya ya?

Bukannya wajib hukumnya, setiap orang di Indonesia beragama?

Indra Dewi
Sent from my BlackBerry® smartphone from Sinyal Bagus XL, Nyambung Teruuusss...!

-----Original Message-----
From: [hidden email]
Sender: [hidden email]
Date: Sun, 25 Nov 2012 07:00:14
To: [hidden email]<[hidden email]>
Reply-To: [hidden email]
Subject: Re: Bls: Re: [Spiritual-Indonesia] Re: Nilai Kepahlawanan

Sendy Kerenz euii....

Salam,


Powered by Telkomsel BlackBerry®

-----Original Message-----
From: Sendy Huang <[hidden email]>
Sender: [hidden email]
Date: Sun, 25 Nov 2012 13:25:30
To: <[hidden email]>
Reply-To: [hidden email]
Subject: Bls: Re: [Spiritual-Indonesia] Re: Nilai Kepahlawanan




Salam buat saudaraku Indradewi (^_^),

thanks atas inputnya (^_^)
kesan tulisan sendy pedas, karena tarian kata-katanya ga berirama Waltz ya.. hhh, iramanya brak bruk brak bruk..

iya, sih, sendy sebenarnya sedih membaca ceritanya salah satu anak Sayuti Malik itu, ada kesan ga bisa nrimo dan agak dendam ama pemerintah.. (my opinion).. tpi apakah ga ada org2 yang care dan justru membantu meredam sakit hati mereka, karena kalo yang sendy baca itu seakan2 malah banyak yang mengompori, sehingga ada luka sampai bertahun-tahun, sehingga keluarlah komentar sendy kemaren itu,
sebenarnya pengen bilang... Come On, wake up... hadapi..jangan lar.. jangan sembunyi..jangan berlindung di balik kebesaran orgtua..dan bla bla bla.. tpi nanti ada yg bilang.. eh.. emangnya elo siapa ya ??? hhhh...pake merintah2 gitu... (^_^)

hhh.. dan kemudian kisahnya agak lucu pula.. (tdi sedih kok jdi lucu ya ??), udah mengemis di Kanada, trus pake embel2 kafir Kanada.. apa ga haram tuh ngemis ama org kafir ???.. (kalo base on agamanya, ya kalo sama org kafir kan boleh dekat2..apalgi sampe makan dan segalanya dibantu org kafir, napa ga minta ke yg ga kafir ya.. ke arab kek yg kaya raya itu ???,..... pas kebenaran sendy ga beragama, jdi cuman tergelitik aza dengan kata kafir Kanada itu..)

but sekali lagi, ini bukan buat membuat kacau siapapun atau memprovokasi apapun, hanya berdasar kesadaran aza nulisnya, karena yang terlihat adalah seperti itu, so, itu semua apa adanya,, bukan ada apanya. Oke ??

** sepertinya saudaraku Indradewi juga seorng yg butuh pengakuan ya... HHHH (^_^)
so, kuakui.. Indradewi org yg hangat dan ramah... salam semesta selalu

thanks alot ya buat semua pembaca di milis SI ini..
,, (^_^) ,,  

------------------------------
Pada Sab, 24 Nov 2012 20:54 Waktu Baku Pasifik [hidden email] menulis:

>
>Salut utk Sendy yg berkenan kasih komentar apa adanya (kebetulan, komentarnya "pedas").
>
>Pengakuan adalah kebutuhan dasar manusia.
>
>Sayangnya, banyak orang yg butuh pengakuan dari pihak2 di luar dirinya. Padahal pengakuan yg sejati dan hakiki justru berasal dari diri sendiri.
>
>Menurut saya, apa pun ucapan, tindakan, sikap, pemikiran, dll, selama itu utk kebaikan dan ketenangan si pelaku (dgn catatan, tdk merugikan org lain), biarkan lah.
>
>Kalau memang Pak Heru Baskoro pribadi dan keluarga "happy and peaceful", just let them be happy and peaceful, we shouldn't be bothered or bother them.
>
>Enjoy your Sunday.....
>
>Indra Dewi
>
>
>
>Sent from my BlackBerry® smartphone from Sinyal Bagus XL, Nyambung Teruuusss...!
>
>-----Original Message-----
>From: "Sendy V" <[hidden email]>
>Sender: [hidden email]
>Date: Sat, 24 Nov 2012 14:12:49
>To: <[hidden email]>
>Reply-To: [hidden email]
>Subject: [Spiritual-Indonesia] Re: Nilai Kepahlawanan
>
>salam semesta,
>
>entah mengapa, pas membaca tulisan di atas, ujung2 nya sendy berpendapat, tetap saja masalah harta dan tahta..
>maksudnya apa ????
>ya, kalo emang bangga jdi org Indonesia, ya hadapilah hidup di Indonesia dengan segala kerumitannya. Kalo omongin anak2 Presiden masih hidup bermewah2 hingga sekarang, juga ttg tentang kemalasan org2 Indonesia, ya sama aza, anaknya Sayuti Malik yg nyari kesenangan juga keliatan malas, buktinya sampe ditanggung ama pemerintah Canada yg tdi sempat disebut kafir... aneh juga ya, kok kesannya munafik gitu.. HHH...
>
>kalo emang bangga jdi org Indonesia, banggakan juga almarhum ortunya, kan udah jelas bahwa orgtuanya berjuang tanpa tanda jasa, sementara sang anak sekarng butuh diakui jasa2 orgtuanya.. pernahkah ya anaknya Sayuti Malik berpikir kalo perjuangan ortunya itu murni, tapi sekrng malah ditetesin sedikit noda karena butuh sebuah pengakuan.. buat apa pengakuan atau penghargaan kepahlawanan itu ? ya buat mempermudah anak2 nya dan cucunya Sayuti Malik, ujung2 nya kan sama aza dengan kemalasan, karena dengan menjdi anaknya seorng pahlawan, semua akan dipermudah.. iya ga ??? pdhal dulunya ortunya berjuang demi negara, sekarang anaknya berjuang buat diri sendiri dengan mencela negaranya.. so, bagi sendy yang membaca tulisan anaknya Sayuti Malik (kalo memang itu benar yg nulis anaknya ya.. ).. maka... kesannya munafik banget.. moga cepat2 bisa disadari... Sayuti Malik banyak diceritakan dalam sejarah2 di sekolah dari tahun ke tahun, so, tanpa gelar pahlawan pun,
 byk org yang tau bahwa beliau memang penjuang sejati..

>
>that's my pendapat..atas tulisannya anaknya Sayuti Malik
>
>Nuhun ya.. buat semua..
>
>salam damai semesta..
>
>
>--- In [hidden email], "leonardor" <leonardo_rimba@...> wrote:
>>
>> Kesaksian yg luar biasa sekali. Terimakasih sudah berbagi.
>>
>> Leo
>>
>>
>> --- In [hidden email], "Heru" <heru_bas21@> wrote:
>> >
>> > Ayah dan ibu saya (Sayuti Melik dan S.K. Trimurti)dikubur di Makam Pahlawan di Kali bata. Ada beberapa teman kasih komentar bahwa di kuburan tersebut juga dikuburkan para pengchianat bangsa dan para koruptor. Kata mereka saya harus ikut contoh keluarga Bung Karno, Bung Hatta yang jauh lebih besar ketokohannya dari Sayuti Melik dan S.K. Trimurti tidak mau dikuburkan di taman Pahlawan. Saya jawab, jelas keluarga Bung Hata dan Soekarno adalah orang kaya bisa punya kuburan sendiri yang lebih mewah dari kuburan Kalibata. Buat saya kuburan Kalibata membebaskan saya dari segala biaya penguburan. Bahkan polisi yang mengawal jenasahpun tidak saya kasih uang walaupun mereka minta uang dari saya. Saya bilang kalau tidak mau mengawal silahkan. Sekarang saya sebagai anak pahlawan minta bantuan dari pemerintah kafir Kanada, karena pertama saya tidak suka hidup hipokrit di Indonesia kedua tidak ada perhatian dari pemerintah atas jasa2 orang tua saya.Waktu saya
 lahir ibu saya disiksa Jepang sampai tidak bisa memberi air susu kepada saya (waktu itu saya berumur 2 tahun}. Saya hidup dari air tajin. Masih bagus saya masih bisa hidup walaupun kurang gizi waktu kecil. Secara tidak langsung saya ikut berkorban karena perjuangan orang tua saya. Anak2 Soekarno dan Hatta hidupnya mewah2 saja. Apalagi anak2 Soeharto. Sampai sekarang orang tua saya belum mendapat gelar pahlawan. Kalau anda percaya ada kihdupan setelah mati maka mereka pasti tidak mengharapkan gelar tersebut. Tapi saya yang tidak percaya ada kehidupan setelah mati perlu gelar tersebut supaya saya dapat tunjangan dari Pemerintah. Di Kanada baik saya maupun orang tua saya bukan siapa2. Selama di Kanada saya tidak pernah membayar pajak pendapatan, karena saya pindah dari permanent resident US ke permanent resicent Kanada. Di US saya bayar pajak karena bekerja disana. Di Kanada saya yang bukan siapa2 dapat bantuan dari pemerintah Kanada $1,270 sebulan belum
 lagi mendapat Care Card tanpa harus bayar premi asuransi. Saya telah dioperasi 3 kali sedang isteri saya di operasi sekali tanpa bayar seperserpun. Saya juga berhak mendapat bantuan ticket Public Transportation untuk Skytrain dan Bus keseluruh zone di Vancouver Area (luasnya mungkin sebesar seluruh daerah Jakarta).Sebagai senior maka obat dari resep dokter hampir semuanya dibayar pemerintah. Disamping itu karena saya adalah penduduk British Columbia yang kalau beli barang tertentu membayar Pajak Penjualan maka setelah saya mengisi Tax Return (isian paja) maka tiap quartal saya mendapat pengembalian sebesar $299.00  Sistim asuransi kesehatan ini yang akan ditiru Obama. Tahun 2014 saya akan dapat pensiun resmi dari pemerintah Kanada (setelah 10 tahun tinggal di Kanada) padahal saya masih tetap warga negara Indonesia. Status saya cuma permanent resident. Kanada bukan negara Pancasila dan masih mengakui Elizabeth sebagai Ratu. Sungguh aneh. Walaupun diberi
 kemudahan saya masih bebas untuk mengemukakan pendirian saya bahawa saya anti Ratu Inggris dan keturunannya.

>> > Saya tidak memuji Kanada serta penduduknya. Orang Kanada tidak lebih pintar dari orang Indonesia. Saya ikut kursus matematik disuatu Adult School. Saya dapat 100%(artinya seluruh quiz, test dan exam saya selama kursus selalu 100%. Menurut guru2 sekolah tersebut sudah bertahun2 tidak ada murid yang mendapat angka 100 % disekolah tersebut. Padahal kepandaian matematik saya di Indonesia biasa2 saja.
>> > Saya tidak seperti kebanyakan anak2 yang suka berdemonstrasi membenci negara barat (terutama orang kulit putihnya), tapi kalau menghadapi bule pada minder. Padahal di Kanada banyak bule yang jadi pengemis (sudah dapat bantuan dari pemerintah tapi tidak dapat memanfaatkan bantuan tersebut karena malas dan mennghamburkan uangnya untuk "drug" dll, sehingga mereka jadi pengemis, di Indonesia menjadi pengemis karena terpaksa}. Saya selalu bangga jadi orang Indonesia. Dimana2 saya selalu membanggakan diri saya sebagai orang Indonesia.
>> >
>> > Salam,
>> > Heru Baskoro
>> >
>> >
>> >
>> > --- In [hidden email], semar samiaji <kind_evil_06@> wrote:
>> > >
>> > > Merujuk pada link berikut http://www.tempo.co/read/news/2012/04/12/117396582/David-Cameron-Indonesia-Bisa-Memimpin-Dunia
>> > > memberi refleksi bahwa medan perjuangan salah satu yang utamanya adalah
>> > > melalui dunia pendidikan. Kalau Indonesia mendidik masyarakatnya
>> > > melalui nilai-nilai yang ke luar dari JIWA Pembukaan UUD 1945, semakna
>> > > dengan menanamkan nilai-nilai yang akan menjadi gangguan kejiwaan bagi
>> > > bangsa Indonesia akhirnya.
>> > >
>> > > Kalau kita merujuk kepada penghargaan
>> > > dari Ratu Inggris kepada Presiden  yang diberitakan akhir-akhir ini,
>> > > semestinya (menurut saya), tidak perlu bawa-bawa Indonesianya.
>> > > Silahkan, kalau penghargaan demikian diterima atas nama PRIBADI Pak
>> > > Presiden. Silahkan pelajari dan kaji, latar belakang gelar tersebut
>> > > diberikan oleh para Raja / Ratu Inggris. Diberikan bukan dalam rangka
>> > > hubungan antar-negara, namun diberikan bagi satria melalui proses
>> > > pemandian (dipermandikan) oleh Raja / Ratu Inggris.
>> > >
>> > > Kalau
>> > > kemudian, ada suara-suara yang mengkaitkan pemberian gelar satria
>> > > tersebut dengan urusan investasi Inggris di Indonesia, jangan kemudian
>> > > dibantah begitu saja. Lalu, menyatakan  bahwa pemberian tersebut
>> > > katanya karena prestasi demokrasi Indonesia. Kalau kita rujuk link
>> > > berikut http://www.metrotvnews.com/ekonomi/news/2012/11/02/112274/BP-Siapkan-Investasi-US$12-Miliar-di-Indonesia
>> > > , apakah kemudian bisa dipisahkan antara urusan gelar satria itu dengan
>> > > urusan ekonomi dengan nilai investasi yang aduhai tersebut? Sesaat
>> > > beralihnya rezim Bung Karno kepada Pak Harto, wilayah Irian Barat,
>> > > khususnya Freeport menjadi bagian dari proses peralihannya. Apakah
>> > > kemudian menjadi tidak mungkin, saat ini, Inggris dengan Proyek
>> > > Tangguhnya? Apakah jumlah hingga 12 miliar US$ di wilayah yang
>> > > disengketakan dan dimasalahkan oleh para LSM Inggris dan juga para
>> > > penegak HAM, di mana Indonesia katanya melakukan tindakan melanggar
>> > > HAM. Namun di saat itu pula dijawab melalui
>> > >  bentuk investasi
>> > > pertambangan di wilayah tersebut. Bagaimana bisa meyakini adanya
>> > > keselarasan antara ucap dengan laku perbuatan kalau sudah demikian?
>> > >
>> > > Sebenarnya,
>> > > kita tidak mempermasalahkan bentuk-bentuk investasi bagi Indonesia.
>> > > Yang menjadi masalah, ternyata investasi kemudian merugikan pihak
>> > > Indonesia dalam konteks kehidupan kita yang berupaya menghidupkan
>> > > nilai-nilai kebangsaan dan pengelolaan negara yang selaras dan sejiwa
>> > > dengan Pembukaan UUD 1945. Mari dikaji, silahkan sebutkan, mana bentuk
>> > > investasi, khususnya dalam pertambangan, yang benar-benar berpihak
>> > > kepada Indonesia? Tanah ini dijadikan selain dikuras tambangnya, juga
>> > > dijadikan pasar agar bergantung kepada si penguras tambang. Apakah
>> > > masih kurang cukup peristiwa-peristiwa yang ada selama ini? Apa yang
>> > > terjadi pada urusan energi di Indonesia? Apa yang terjadi di
>> > > wilayah-wilayah tambang yang menghancurkan lingkungan di Indonesia?
>> > > Lalu, melalui kekuatan penguasaan pertambangan, bangsa kita pun berebut
>> > > saling menguasai sumber uang yang terbesar ini. Lalu, masuk ke wilayah
>> > > perebutan kekuasaan, baik dalam cakupan nasional mau pun
>> > >
>> > > internasional. Perjalanan rezim Bung Karno yang begitu "keras"
>> > > melakukan upaya kesetaraan saja kemudian "kalah", bukan? Esensinya
>> > > bukan terletak pada kalahnya, namun kepada SURI TAULADAN kepemimpinan
>> > > yang SETIA dan TAAT kepada nilai-nilai Pembukaan UUD 1945-nya.
>> > >
>> > > Melalui
>> > > refleksi demikian, medan perjuangan bangsa Indonesia kemudian esensinya
>> > > TIDAK terletak pada seakan-akan kalau sudah menerima penghargaan
>> > > kemudian pahlawan atau manusia yang sudah berkorban besar bagi
>> > > negaranya, sebagai mana kejadian di Surabaya 67 tahun yang lalu, bukan?
>> > > Kecuali, baru sebatas pengakuan-pengakuan saja, bukan?
>> > >
>> > > Saat
>> > > terjadinya pertempuran besar di Surabaya, 67 tahun yang lalu, tolok
>> > > ukurnya jelas, yaitu mempertahankan kemerdekaan sebagai negara. Saat
>> > > ini, ukurannya adalah JIWA Pembukaan UUD 1945. Ini perjuangan beratnya,
>> > > upaya tetap menanamkan dan berbuat dengan nilai-nilai Pembukaan UUD
>> > > 1945 tidak mudah, karena dunia umumnya tidak demikian nuansanya.
>> > > Diperlukan suri tauladan yang nyata dan JUJUR. Bukan yang sibuk takut
>> > > karena imagenya menjadi rusak atau buruk.
>> > >
>> > > Pak Presiden
>> > > berpidato katanya Indonesia akan menjadi jembatan kebudayaan dunia.
>> > > Saya yakin dengan itu, tetapi TIDAK dengan cara-cara yang mengedepankan
>> > > nilai-nilai kebudayaan merusak ekonomi negara melalui investasi yang
>> > > merusak alam Indonesia. Tidak dengan cara-cara menunduk, patuh, dan
>> > > taat kepada maunya kepentingan-kepentingan asing melampaui nilai-nilai
>> > > kebudayaan (refleksi Pembukaan UUD 1945) bangsa Indonesia.
>> > >
>> > > Esensi
>> > > nilai-nilai kepahlawanan di era saat ini, TIDAK terletak kepada
>> > > bentuk-bentuk penghargaan yang disematkan oleh manusia. Esensi
>> > > kepahlawanan sejatinya berlaku bagi siapa pun manusia Indonesia yang
>> > > benar-benar atau sungguh-sungguh dengan nilai-nilai kemanusiaan buah
>> > > dari ketuhanannya. Tidak memerlukan bentuk-bentuk pengakuan bahwa sudah
>> > > merasa berjasa, apalagi sambil seret-seret jabatan / kekuasaan. Semua
>> > > bentuk-bentuk kepemimpinan yang tidak demikian PASTI akan ditelanjangi
>> > > sampai ke akar-akarnya. Silahkan, si manusia itu berkelit dan melakukan
>> > > upaya menghindar dari tanggung jawab dan kewenangan yang dititipkan
>> > > kepadanya, mari kita buktikan apakah si manusia nantinya memang
>> > > benar-benar mampu menghindar dari gerak alam semesta.
>> > >
>> > > Semoga YMK beri setetes cahaya kepada setiap hati manusia Indonesia yang masih gelap mata hatinya.
>> > >
>> > > Selamat berjuang. Sekali merdeka tetap merdeka!!
>> > >
>> > > Bogor, 5 November 2012
>> > >
>> > > salam,
>> > > ss
>> > >
>> >
>>
>
>
>


Reply | Threaded
Open this post in threaded view
|  
Report Content as Inappropriate

Re: Bls: Re: Re: Nilai Kepahlawanan

odoy_s
In reply to this post by Witingurip-2
Tidak beragama belum/tidak berarti atheis mang... Sdh banyak di bahas di forum ini...

O
Powered by Telkomsel BlackBerry®

-----Original Message-----
From: [hidden email]
Sender: [hidden email]
Date: Sun, 25 Nov 2012 10:17:47
To: <[hidden email]>
Reply-To: [hidden email]
Subject: Re: Bls: Re: [Spiritual-Indonesia] Re: Nilai Kepahlawanan

WNI yang bersikeras tidak beragama (mengaku-aku beragama tak ada yang melarang, kok) akan menemui kesulitan dalam pengabsahan akta perkawinannya di Catatan Sipil dan anak-anaknya pun tidak bakal dapat memeroleh akta kelahiran karena perkawinan orangtuanya tidak sah secara hukum.

Secara pribadi, tidak beragama dan berdomisili di Indonesia dan tetap sebagai WNI sih "no problem at all" asal mau menikah di luar negeri. Oh ya, satu lagi. Jangan coba-coba cari para pengikut atau cuap-cuap tentang hebatnya ateisme di Indonesia karena penganut radikal agama mayoritas akan memusuhi Anda. :-)

W
Sent from my BlackBerry® smartphone from Sinyal Bagus XL, Nyambung Teruuusss...!

-----Original Message-----
From: [hidden email]
Sender: [hidden email]
Date: Sun, 25 Nov 2012 07:40:15
To: [hidden email]<[hidden email]>
Reply-To: [hidden email]
Subject: Re: Bls: Re: [Spiritual-Indonesia] Re: Nilai Kepahlawanan

Undang2 mana yang menyatakan setiap masyarakat Indonesia wajib beragama ? Masa siy agama itu wajib ??


Powered by Telkomsel BlackBerry®

-----Original Message-----
From: [hidden email]
Sender: [hidden email]
Date: Sun, 25 Nov 2012 07:41:42
To: <[hidden email]>
Reply-To: [hidden email]
Subject: Re: Bls: Re: [Spiritual-Indonesia] Re: Nilai Kepahlawanan


Duh senangnya..... Bisa tdk beragama.

Bagaimana caranya ya?

Bukannya wajib hukumnya, setiap orang di Indonesia beragama?

Indra Dewi
Sent from my BlackBerry® smartphone from Sinyal Bagus XL, Nyambung Teruuusss...!

-----Original Message-----
From: [hidden email]
Sender: [hidden email]
Date: Sun, 25 Nov 2012 07:00:14
To: [hidden email]<[hidden email]>
Reply-To: [hidden email]
Subject: Re: Bls: Re: [Spiritual-Indonesia] Re: Nilai Kepahlawanan

Sendy Kerenz euii....

Salam,


Powered by Telkomsel BlackBerry®

-----Original Message-----
From: Sendy Huang <[hidden email]>
Sender: [hidden email]
Date: Sun, 25 Nov 2012 13:25:30
To: <[hidden email]>
Reply-To: [hidden email]
Subject: Bls: Re: [Spiritual-Indonesia] Re: Nilai Kepahlawanan




Salam buat saudaraku Indradewi (^_^),

thanks atas inputnya (^_^)
kesan tulisan sendy pedas, karena tarian kata-katanya ga berirama Waltz ya.. hhh, iramanya brak bruk brak bruk..

iya, sih, sendy sebenarnya sedih membaca ceritanya salah satu anak Sayuti Malik itu, ada kesan ga bisa nrimo dan agak dendam ama pemerintah.. (my opinion).. tpi apakah ga ada org2 yang care dan justru membantu meredam sakit hati mereka, karena kalo yang sendy baca itu seakan2 malah banyak yang mengompori, sehingga ada luka sampai bertahun-tahun, sehingga keluarlah komentar sendy kemaren itu,
sebenarnya pengen bilang... Come On, wake up... hadapi..jangan lar.. jangan sembunyi..jangan berlindung di balik kebesaran orgtua..dan bla bla bla.. tpi nanti ada yg bilang.. eh.. emangnya elo siapa ya ??? hhhh...pake merintah2 gitu... (^_^)

hhh.. dan kemudian kisahnya agak lucu pula.. (tdi sedih kok jdi lucu ya ??), udah mengemis di Kanada, trus pake embel2 kafir Kanada.. apa ga haram tuh ngemis ama org kafir ???.. (kalo base on agamanya, ya kalo sama org kafir kan boleh dekat2..apalgi sampe makan dan segalanya dibantu org kafir, napa ga minta ke yg ga kafir ya.. ke arab kek yg kaya raya itu ???,..... pas kebenaran sendy ga beragama, jdi cuman tergelitik aza dengan kata kafir Kanada itu..)

but sekali lagi, ini bukan buat membuat kacau siapapun atau memprovokasi apapun, hanya berdasar kesadaran aza nulisnya, karena yang terlihat adalah seperti itu, so, itu semua apa adanya,, bukan ada apanya. Oke ??

** sepertinya saudaraku Indradewi juga seorng yg butuh pengakuan ya... HHHH (^_^)
so, kuakui.. Indradewi org yg hangat dan ramah... salam semesta selalu

thanks alot ya buat semua pembaca di milis SI ini..
,, (^_^) ,,  

------------------------------
Pada Sab, 24 Nov 2012 20:54 Waktu Baku Pasifik [hidden email] menulis:

>
>Salut utk Sendy yg berkenan kasih komentar apa adanya (kebetulan, komentarnya "pedas").
>
>Pengakuan adalah kebutuhan dasar manusia.
>
>Sayangnya, banyak orang yg butuh pengakuan dari pihak2 di luar dirinya. Padahal pengakuan yg sejati dan hakiki justru berasal dari diri sendiri.
>
>Menurut saya, apa pun ucapan, tindakan, sikap, pemikiran, dll, selama itu utk kebaikan dan ketenangan si pelaku (dgn catatan, tdk merugikan org lain), biarkan lah.
>
>Kalau memang Pak Heru Baskoro pribadi dan keluarga "happy and peaceful", just let them be happy and peaceful, we shouldn't be bothered or bother them.
>
>Enjoy your Sunday.....
>
>Indra Dewi
>
>
>
>Sent from my BlackBerry® smartphone from Sinyal Bagus XL, Nyambung Teruuusss...!
>
>-----Original Message-----
>From: "Sendy V" <[hidden email]>
>Sender: [hidden email]
>Date: Sat, 24 Nov 2012 14:12:49
>To: <[hidden email]>
>Reply-To: [hidden email]
>Subject: [Spiritual-Indonesia] Re: Nilai Kepahlawanan
>
>salam semesta,
>
>entah mengapa, pas membaca tulisan di atas, ujung2 nya sendy berpendapat, tetap saja masalah harta dan tahta..
>maksudnya apa ????
>ya, kalo emang bangga jdi org Indonesia, ya hadapilah hidup di Indonesia dengan segala kerumitannya. Kalo omongin anak2 Presiden masih hidup bermewah2 hingga sekarang, juga ttg tentang kemalasan org2 Indonesia, ya sama aza, anaknya Sayuti Malik yg nyari kesenangan juga keliatan malas, buktinya sampe ditanggung ama pemerintah Canada yg tdi sempat disebut kafir... aneh juga ya, kok kesannya munafik gitu.. HHH...
>
>kalo emang bangga jdi org Indonesia, banggakan juga almarhum ortunya, kan udah jelas bahwa orgtuanya berjuang tanpa tanda jasa, sementara sang anak sekarng butuh diakui jasa2 orgtuanya.. pernahkah ya anaknya Sayuti Malik berpikir kalo perjuangan ortunya itu murni, tapi sekrng malah ditetesin sedikit noda karena butuh sebuah pengakuan.. buat apa pengakuan atau penghargaan kepahlawanan itu ? ya buat mempermudah anak2 nya dan cucunya Sayuti Malik, ujung2 nya kan sama aza dengan kemalasan, karena dengan menjdi anaknya seorng pahlawan, semua akan dipermudah.. iya ga ??? pdhal dulunya ortunya berjuang demi negara, sekarang anaknya berjuang buat diri sendiri dengan mencela negaranya.. so, bagi sendy yang membaca tulisan anaknya Sayuti Malik (kalo memang itu benar yg nulis anaknya ya.. ).. maka... kesannya munafik banget.. moga cepat2 bisa disadari... Sayuti Malik banyak diceritakan dalam sejarah2 di sekolah dari tahun ke tahun, so, tanpa gelar pahlawan pun,
 byk org yang tau bahwa beliau memang penjuang sejati..

>
>that's my pendapat..atas tulisannya anaknya Sayuti Malik
>
>Nuhun ya.. buat semua..
>
>salam damai semesta..
>
>
>--- In [hidden email], "leonardor" <leonardo_rimba@...> wrote:
>>
>> Kesaksian yg luar biasa sekali. Terimakasih sudah berbagi.
>>
>> Leo
>>
>>
>> --- In [hidden email], "Heru" <heru_bas21@> wrote:
>> >
>> > Ayah dan ibu saya (Sayuti Melik dan S.K. Trimurti)dikubur di Makam Pahlawan di Kali bata. Ada beberapa teman kasih komentar bahwa di kuburan tersebut juga dikuburkan para pengchianat bangsa dan para koruptor. Kata mereka saya harus ikut contoh keluarga Bung Karno, Bung Hatta yang jauh lebih besar ketokohannya dari Sayuti Melik dan S.K. Trimurti tidak mau dikuburkan di taman Pahlawan. Saya jawab, jelas keluarga Bung Hata dan Soekarno adalah orang kaya bisa punya kuburan sendiri yang lebih mewah dari kuburan Kalibata. Buat saya kuburan Kalibata membebaskan saya dari segala biaya penguburan. Bahkan polisi yang mengawal jenasahpun tidak saya kasih uang walaupun mereka minta uang dari saya. Saya bilang kalau tidak mau mengawal silahkan. Sekarang saya sebagai anak pahlawan minta bantuan dari pemerintah kafir Kanada, karena pertama saya tidak suka hidup hipokrit di Indonesia kedua tidak ada perhatian dari pemerintah atas jasa2 orang tua saya.Waktu saya
 lahir ibu saya disiksa Jepang sampai tidak bisa memberi air susu kepada saya (waktu itu saya berumur 2 tahun}. Saya hidup dari air tajin. Masih bagus saya masih bisa hidup walaupun kurang gizi waktu kecil. Secara tidak langsung saya ikut berkorban karena perjuangan orang tua saya. Anak2 Soekarno dan Hatta hidupnya mewah2 saja. Apalagi anak2 Soeharto. Sampai sekarang orang tua saya belum mendapat gelar pahlawan. Kalau anda percaya ada kihdupan setelah mati maka mereka pasti tidak mengharapkan gelar tersebut. Tapi saya yang tidak percaya ada kehidupan setelah mati perlu gelar tersebut supaya saya dapat tunjangan dari Pemerintah. Di Kanada baik saya maupun orang tua saya bukan siapa2. Selama di Kanada saya tidak pernah membayar pajak pendapatan, karena saya pindah dari permanent resident US ke permanent resicent Kanada. Di US saya bayar pajak karena bekerja disana. Di Kanada saya yang bukan siapa2 dapat bantuan dari pemerintah Kanada $1,270 sebulan belum
 lagi mendapat Care Card tanpa harus bayar premi asuransi. Saya telah dioperasi 3 kali sedang isteri saya di operasi sekali tanpa bayar seperserpun. Saya juga berhak mendapat bantuan ticket Public Transportation untuk Skytrain dan Bus keseluruh zone di Vancouver Area (luasnya mungkin sebesar seluruh daerah Jakarta).Sebagai senior maka obat dari resep dokter hampir semuanya dibayar pemerintah. Disamping itu karena saya adalah penduduk British Columbia yang kalau beli barang tertentu membayar Pajak Penjualan maka setelah saya mengisi Tax Return (isian paja) maka tiap quartal saya mendapat pengembalian sebesar $299.00  Sistim asuransi kesehatan ini yang akan ditiru Obama. Tahun 2014 saya akan dapat pensiun resmi dari pemerintah Kanada (setelah 10 tahun tinggal di Kanada) padahal saya masih tetap warga negara Indonesia. Status saya cuma permanent resident. Kanada bukan negara Pancasila dan masih mengakui Elizabeth sebagai Ratu. Sungguh aneh. Walaupun diberi
 kemudahan saya masih bebas untuk mengemukakan pendirian saya bahawa saya anti Ratu Inggris dan keturunannya.

>> > Saya tidak memuji Kanada serta penduduknya. Orang Kanada tidak lebih pintar dari orang Indonesia. Saya ikut kursus matematik disuatu Adult School. Saya dapat 100%(artinya seluruh quiz, test dan exam saya selama kursus selalu 100%. Menurut guru2 sekolah tersebut sudah bertahun2 tidak ada murid yang mendapat angka 100 % disekolah tersebut. Padahal kepandaian matematik saya di Indonesia biasa2 saja.
>> > Saya tidak seperti kebanyakan anak2 yang suka berdemonstrasi membenci negara barat (terutama orang kulit putihnya), tapi kalau menghadapi bule pada minder. Padahal di Kanada banyak bule yang jadi pengemis (sudah dapat bantuan dari pemerintah tapi tidak dapat memanfaatkan bantuan tersebut karena malas dan mennghamburkan uangnya untuk "drug" dll, sehingga mereka jadi pengemis, di Indonesia menjadi pengemis karena terpaksa}. Saya selalu bangga jadi orang Indonesia. Dimana2 saya selalu membanggakan diri saya sebagai orang Indonesia.
>> >
>> > Salam,
>> > Heru Baskoro
>> >
>> >
>> >
>> > --- In [hidden email], semar samiaji <kind_evil_06@> wrote:
>> > >
>> > > Merujuk pada link berikut http://www.tempo.co/read/news/2012/04/12/117396582/David-Cameron-Indonesia-Bisa-Memimpin-Dunia
>> > > memberi refleksi bahwa medan perjuangan salah satu yang utamanya adalah
>> > > melalui dunia pendidikan. Kalau Indonesia mendidik masyarakatnya
>> > > melalui nilai-nilai yang ke luar dari JIWA Pembukaan UUD 1945, semakna
>> > > dengan menanamkan nilai-nilai yang akan menjadi gangguan kejiwaan bagi
>> > > bangsa Indonesia akhirnya.
>> > >
>> > > Kalau kita merujuk kepada penghargaan
>> > > dari Ratu Inggris kepada Presiden  yang diberitakan akhir-akhir ini,
>> > > semestinya (menurut saya), tidak perlu bawa-bawa Indonesianya.
>> > > Silahkan, kalau penghargaan demikian diterima atas nama PRIBADI Pak
>> > > Presiden. Silahkan pelajari dan kaji, latar belakang gelar tersebut
>> > > diberikan oleh para Raja / Ratu Inggris. Diberikan bukan dalam rangka
>> > > hubungan antar-negara, namun diberikan bagi satria melalui proses
>> > > pemandian (dipermandikan) oleh Raja / Ratu Inggris.
>> > >
>> > > Kalau
>> > > kemudian, ada suara-suara yang mengkaitkan pemberian gelar satria
>> > > tersebut dengan urusan investasi Inggris di Indonesia, jangan kemudian
>> > > dibantah begitu saja. Lalu, menyatakan  bahwa pemberian tersebut
>> > > katanya karena prestasi demokrasi Indonesia. Kalau kita rujuk link
>> > > berikut http://www.metrotvnews.com/ekonomi/news/2012/11/02/112274/BP-Siapkan-Investasi-US$12-Miliar-di-Indonesia
>> > > , apakah kemudian bisa dipisahkan antara urusan gelar satria itu dengan
>> > > urusan ekonomi dengan nilai investasi yang aduhai tersebut? Sesaat
>> > > beralihnya rezim Bung Karno kepada Pak Harto, wilayah Irian Barat,
>> > > khususnya Freeport menjadi bagian dari proses peralihannya. Apakah
>> > > kemudian menjadi tidak mungkin, saat ini, Inggris dengan Proyek
>> > > Tangguhnya? Apakah jumlah hingga 12 miliar US$ di wilayah yang
>> > > disengketakan dan dimasalahkan oleh para LSM Inggris dan juga para
>> > > penegak HAM, di mana Indonesia katanya melakukan tindakan melanggar
>> > > HAM. Namun di saat itu pula dijawab melalui
>> > >  bentuk investasi
>> > > pertambangan di wilayah tersebut. Bagaimana bisa meyakini adanya
>> > > keselarasan antara ucap dengan laku perbuatan kalau sudah demikian?
>> > >
>> > > Sebenarnya,
>> > > kita tidak mempermasalahkan bentuk-bentuk investasi bagi Indonesia.
>> > > Yang menjadi masalah, ternyata investasi kemudian merugikan pihak
>> > > Indonesia dalam konteks kehidupan kita yang berupaya menghidupkan
>> > > nilai-nilai kebangsaan dan pengelolaan negara yang selaras dan sejiwa
>> > > dengan Pembukaan UUD 1945. Mari dikaji, silahkan sebutkan, mana bentuk
>> > > investasi, khususnya dalam pertambangan, yang benar-benar berpihak
>> > > kepada Indonesia? Tanah ini dijadikan selain dikuras tambangnya, juga
>> > > dijadikan pasar agar bergantung kepada si penguras tambang. Apakah
>> > > masih kurang cukup peristiwa-peristiwa yang ada selama ini? Apa yang
>> > > terjadi pada urusan energi di Indonesia? Apa yang terjadi di
>> > > wilayah-wilayah tambang yang menghancurkan lingkungan di Indonesia?
>> > > Lalu, melalui kekuatan penguasaan pertambangan, bangsa kita pun berebut
>> > > saling menguasai sumber uang yang terbesar ini. Lalu, masuk ke wilayah
>> > > perebutan kekuasaan, baik dalam cakupan nasional mau pun
>> > >
>> > > internasional. Perjalanan rezim Bung Karno yang begitu "keras"
>> > > melakukan upaya kesetaraan saja kemudian "kalah", bukan? Esensinya
>> > > bukan terletak pada kalahnya, namun kepada SURI TAULADAN kepemimpinan
>> > > yang SETIA dan TAAT kepada nilai-nilai Pembukaan UUD 1945-nya.
>> > >
>> > > Melalui
>> > > refleksi demikian, medan perjuangan bangsa Indonesia kemudian esensinya
>> > > TIDAK terletak pada seakan-akan kalau sudah menerima penghargaan
>> > > kemudian pahlawan atau manusia yang sudah berkorban besar bagi
>> > > negaranya, sebagai mana kejadian di Surabaya 67 tahun yang lalu, bukan?
>> > > Kecuali, baru sebatas pengakuan-pengakuan saja, bukan?
>> > >
>> > > Saat
>> > > terjadinya pertempuran besar di Surabaya, 67 tahun yang lalu, tolok
>> > > ukurnya jelas, yaitu mempertahankan kemerdekaan sebagai negara. Saat
>> > > ini, ukurannya adalah JIWA Pembukaan UUD 1945. Ini perjuangan beratnya,
>> > > upaya tetap menanamkan dan berbuat dengan nilai-nilai Pembukaan UUD
>> > > 1945 tidak mudah, karena dunia umumnya tidak demikian nuansanya.
>> > > Diperlukan suri tauladan yang nyata dan JUJUR. Bukan yang sibuk takut
>> > > karena imagenya menjadi rusak atau buruk.
>> > >
>> > > Pak Presiden
>> > > berpidato katanya Indonesia akan menjadi jembatan kebudayaan dunia.
>> > > Saya yakin dengan itu, tetapi TIDAK dengan cara-cara yang mengedepankan
>> > > nilai-nilai kebudayaan merusak ekonomi negara melalui investasi yang
>> > > merusak alam Indonesia. Tidak dengan cara-cara menunduk, patuh, dan
>> > > taat kepada maunya kepentingan-kepentingan asing melampaui nilai-nilai
>> > > kebudayaan (refleksi Pembukaan UUD 1945) bangsa Indonesia.
>> > >
>> > > Esensi
>> > > nilai-nilai kepahlawanan di era saat ini, TIDAK terletak kepada
>> > > bentuk-bentuk penghargaan yang disematkan oleh manusia. Esensi
>> > > kepahlawanan sejatinya berlaku bagi siapa pun manusia Indonesia yang
>> > > benar-benar atau sungguh-sungguh dengan nilai-nilai kemanusiaan buah
>> > > dari ketuhanannya. Tidak memerlukan bentuk-bentuk pengakuan bahwa sudah
>> > > merasa berjasa, apalagi sambil seret-seret jabatan / kekuasaan. Semua
>> > > bentuk-bentuk kepemimpinan yang tidak demikian PASTI akan ditelanjangi
>> > > sampai ke akar-akarnya. Silahkan, si manusia itu berkelit dan melakukan
>> > > upaya menghindar dari tanggung jawab dan kewenangan yang dititipkan
>> > > kepadanya, mari kita buktikan apakah si manusia nantinya memang
>> > > benar-benar mampu menghindar dari gerak alam semesta.
>> > >
>> > > Semoga YMK beri setetes cahaya kepada setiap hati manusia Indonesia yang masih gelap mata hatinya.
>> > >
>> > > Selamat berjuang. Sekali merdeka tetap merdeka!!
>> > >
>> > > Bogor, 5 November 2012
>> > >
>> > > salam,
>> > > ss
>> > >
>> >
>>
>
>
>


Reply | Threaded
Open this post in threaded view
|  
Report Content as Inappropriate

Re: Bls: Re: Re: Nilai Kepahlawanan

Witingurip-2
Loh, siapa yang menyatakan bahwa orang tidak beragama itu mesti ateis? You are barking up the wrong tree, man. :-)

W
Sent from my BlackBerry® smartphone from Sinyal Bagus XL, Nyambung Teruuusss...!

-----Original Message-----
From: [hidden email]
Sender: [hidden email]
Date: Sun, 25 Nov 2012 11:19:35
To: <[hidden email]>
Reply-To: [hidden email]
Subject: Re: Bls: Re: [Spiritual-Indonesia] Re: Nilai Kepahlawanan

Tidak beragama belum/tidak berarti atheis mang... Sdh banyak di bahas di forum ini...

O
Powered by Telkomsel BlackBerry®

-----Original Message-----
From: [hidden email]
Sender: [hidden email]
Date: Sun, 25 Nov 2012 10:17:47
To: <[hidden email]>
Reply-To: [hidden email]
Subject: Re: Bls: Re: [Spiritual-Indonesia] Re: Nilai Kepahlawanan

WNI yang bersikeras tidak beragama (mengaku-aku beragama tak ada yang melarang, kok) akan menemui kesulitan dalam pengabsahan akta perkawinannya di Catatan Sipil dan anak-anaknya pun tidak bakal dapat memeroleh akta kelahiran karena perkawinan orangtuanya tidak sah secara hukum.

Secara pribadi, tidak beragama dan berdomisili di Indonesia dan tetap sebagai WNI sih "no problem at all" asal mau menikah di luar negeri. Oh ya, satu lagi. Jangan coba-coba cari para pengikut atau cuap-cuap tentang hebatnya ateisme di Indonesia karena penganut radikal agama mayoritas akan memusuhi Anda. :-)

W
Sent from my BlackBerry® smartphone from Sinyal Bagus XL, Nyambung Teruuusss...!

-----Original Message-----
From: [hidden email]
Sender: [hidden email]
Date: Sun, 25 Nov 2012 07:40:15
To: [hidden email]<[hidden email]>
Reply-To: [hidden email]
Subject: Re: Bls: Re: [Spiritual-Indonesia] Re: Nilai Kepahlawanan

Undang2 mana yang menyatakan setiap masyarakat Indonesia wajib beragama ? Masa siy agama itu wajib ??


Powered by Telkomsel BlackBerry®

-----Original Message-----
From: [hidden email]
Sender: [hidden email]
Date: Sun, 25 Nov 2012 07:41:42
To: <[hidden email]>
Reply-To: [hidden email]
Subject: Re: Bls: Re: [Spiritual-Indonesia] Re: Nilai Kepahlawanan


Duh senangnya..... Bisa tdk beragama.

Bagaimana caranya ya?

Bukannya wajib hukumnya, setiap orang di Indonesia beragama?

Indra Dewi
Sent from my BlackBerry® smartphone from Sinyal Bagus XL, Nyambung Teruuusss...!

-----Original Message-----
From: [hidden email]
Sender: [hidden email]
Date: Sun, 25 Nov 2012 07:00:14
To: [hidden email]<[hidden email]>
Reply-To: [hidden email]
Subject: Re: Bls: Re: [Spiritual-Indonesia] Re: Nilai Kepahlawanan

Sendy Kerenz euii....

Salam,


Powered by Telkomsel BlackBerry®

-----Original Message-----
From: Sendy Huang <[hidden email]>
Sender: [hidden email]
Date: Sun, 25 Nov 2012 13:25:30
To: <[hidden email]>
Reply-To: [hidden email]
Subject: Bls: Re: [Spiritual-Indonesia] Re: Nilai Kepahlawanan




Salam buat saudaraku Indradewi (^_^),

thanks atas inputnya (^_^)
kesan tulisan sendy pedas, karena tarian kata-katanya ga berirama Waltz ya.. hhh, iramanya brak bruk brak bruk..

iya, sih, sendy sebenarnya sedih membaca ceritanya salah satu anak Sayuti Malik itu, ada kesan ga bisa nrimo dan agak dendam ama pemerintah.. (my opinion).. tpi apakah ga ada org2 yang care dan justru membantu meredam sakit hati mereka, karena kalo yang sendy baca itu seakan2 malah banyak yang mengompori, sehingga ada luka sampai bertahun-tahun, sehingga keluarlah komentar sendy kemaren itu,
sebenarnya pengen bilang... Come On, wake up... hadapi..jangan lar.. jangan sembunyi..jangan berlindung di balik kebesaran orgtua..dan bla bla bla.. tpi nanti ada yg bilang.. eh.. emangnya elo siapa ya ??? hhhh...pake merintah2 gitu... (^_^)

hhh.. dan kemudian kisahnya agak lucu pula.. (tdi sedih kok jdi lucu ya ??), udah mengemis di Kanada, trus pake embel2 kafir Kanada.. apa ga haram tuh ngemis ama org kafir ???.. (kalo base on agamanya, ya kalo sama org kafir kan boleh dekat2..apalgi sampe makan dan segalanya dibantu org kafir, napa ga minta ke yg ga kafir ya.. ke arab kek yg kaya raya itu ???,..... pas kebenaran sendy ga beragama, jdi cuman tergelitik aza dengan kata kafir Kanada itu..)

but sekali lagi, ini bukan buat membuat kacau siapapun atau memprovokasi apapun, hanya berdasar kesadaran aza nulisnya, karena yang terlihat adalah seperti itu, so, itu semua apa adanya,, bukan ada apanya. Oke ??

** sepertinya saudaraku Indradewi juga seorng yg butuh pengakuan ya... HHHH (^_^)
so, kuakui.. Indradewi org yg hangat dan ramah... salam semesta selalu

thanks alot ya buat semua pembaca di milis SI ini..
,, (^_^) ,,  

------------------------------
Pada Sab, 24 Nov 2012 20:54 Waktu Baku Pasifik [hidden email] menulis:

>
>Salut utk Sendy yg berkenan kasih komentar apa adanya (kebetulan, komentarnya "pedas").
>
>Pengakuan adalah kebutuhan dasar manusia.
>
>Sayangnya, banyak orang yg butuh pengakuan dari pihak2 di luar dirinya. Padahal pengakuan yg sejati dan hakiki justru berasal dari diri sendiri.
>
>Menurut saya, apa pun ucapan, tindakan, sikap, pemikiran, dll, selama itu utk kebaikan dan ketenangan si pelaku (dgn catatan, tdk merugikan org lain), biarkan lah.
>
>Kalau memang Pak Heru Baskoro pribadi dan keluarga "happy and peaceful", just let them be happy and peaceful, we shouldn't be bothered or bother them.
>
>Enjoy your Sunday.....
>
>Indra Dewi
>
>
>
>Sent from my BlackBerry® smartphone from Sinyal Bagus XL, Nyambung Teruuusss...!
>
>-----Original Message-----
>From: "Sendy V" <[hidden email]>
>Sender: [hidden email]
>Date: Sat, 24 Nov 2012 14:12:49
>To: <[hidden email]>
>Reply-To: [hidden email]
>Subject: [Spiritual-Indonesia] Re: Nilai Kepahlawanan
>
>salam semesta,
>
>entah mengapa, pas membaca tulisan di atas, ujung2 nya sendy berpendapat, tetap saja masalah harta dan tahta..
>maksudnya apa ????
>ya, kalo emang bangga jdi org Indonesia, ya hadapilah hidup di Indonesia dengan segala kerumitannya. Kalo omongin anak2 Presiden masih hidup bermewah2 hingga sekarang, juga ttg tentang kemalasan org2 Indonesia, ya sama aza, anaknya Sayuti Malik yg nyari kesenangan juga keliatan malas, buktinya sampe ditanggung ama pemerintah Canada yg tdi sempat disebut kafir... aneh juga ya, kok kesannya munafik gitu.. HHH...
>
>kalo emang bangga jdi org Indonesia, banggakan juga almarhum ortunya, kan udah jelas bahwa orgtuanya berjuang tanpa tanda jasa, sementara sang anak sekarng butuh diakui jasa2 orgtuanya.. pernahkah ya anaknya Sayuti Malik berpikir kalo perjuangan ortunya itu murni, tapi sekrng malah ditetesin sedikit noda karena butuh sebuah pengakuan.. buat apa pengakuan atau penghargaan kepahlawanan itu ? ya buat mempermudah anak2 nya dan cucunya Sayuti Malik, ujung2 nya kan sama aza dengan kemalasan, karena dengan menjdi anaknya seorng pahlawan, semua akan dipermudah.. iya ga ??? pdhal dulunya ortunya berjuang demi negara, sekarang anaknya berjuang buat diri sendiri dengan mencela negaranya.. so, bagi sendy yang membaca tulisan anaknya Sayuti Malik (kalo memang itu benar yg nulis anaknya ya.. ).. maka... kesannya munafik banget.. moga cepat2 bisa disadari... Sayuti Malik banyak diceritakan dalam sejarah2 di sekolah dari tahun ke tahun, so, tanpa gelar pahlawan pun,
 byk org yang tau bahwa beliau memang penjuang sejati..

>
>that's my pendapat..atas tulisannya anaknya Sayuti Malik
>
>Nuhun ya.. buat semua..
>
>salam damai semesta..
>
>
>--- In [hidden email], "leonardor" <leonardo_rimba@...> wrote:
>>
>> Kesaksian yg luar biasa sekali. Terimakasih sudah berbagi.
>>
>> Leo
>>
>>
>> --- In [hidden email], "Heru" <heru_bas21@> wrote:
>> >
>> > Ayah dan ibu saya (Sayuti Melik dan S.K. Trimurti)dikubur di Makam Pahlawan di Kali bata. Ada beberapa teman kasih komentar bahwa di kuburan tersebut juga dikuburkan para pengchianat bangsa dan para koruptor. Kata mereka saya harus ikut contoh keluarga Bung Karno, Bung Hatta yang jauh lebih besar ketokohannya dari Sayuti Melik dan S.K. Trimurti tidak mau dikuburkan di taman Pahlawan. Saya jawab, jelas keluarga Bung Hata dan Soekarno adalah orang kaya bisa punya kuburan sendiri yang lebih mewah dari kuburan Kalibata. Buat saya kuburan Kalibata membebaskan saya dari segala biaya penguburan. Bahkan polisi yang mengawal jenasahpun tidak saya kasih uang walaupun mereka minta uang dari saya. Saya bilang kalau tidak mau mengawal silahkan. Sekarang saya sebagai anak pahlawan minta bantuan dari pemerintah kafir Kanada, karena pertama saya tidak suka hidup hipokrit di Indonesia kedua tidak ada perhatian dari pemerintah atas jasa2 orang tua saya.Waktu saya
 lahir ibu saya disiksa Jepang sampai tidak bisa memberi air susu kepada saya (waktu itu saya berumur 2 tahun}. Saya hidup dari air tajin. Masih bagus saya masih bisa hidup walaupun kurang gizi waktu kecil. Secara tidak langsung saya ikut berkorban karena perjuangan orang tua saya. Anak2 Soekarno dan Hatta hidupnya mewah2 saja. Apalagi anak2 Soeharto. Sampai sekarang orang tua saya belum mendapat gelar pahlawan. Kalau anda percaya ada kihdupan setelah mati maka mereka pasti tidak mengharapkan gelar tersebut. Tapi saya yang tidak percaya ada kehidupan setelah mati perlu gelar tersebut supaya saya dapat tunjangan dari Pemerintah. Di Kanada baik saya maupun orang tua saya bukan siapa2. Selama di Kanada saya tidak pernah membayar pajak pendapatan, karena saya pindah dari permanent resident US ke permanent resicent Kanada. Di US saya bayar pajak karena bekerja disana. Di Kanada saya yang bukan siapa2 dapat bantuan dari pemerintah Kanada $1,270 sebulan belum
 lagi mendapat Care Card tanpa harus bayar premi asuransi. Saya telah dioperasi 3 kali sedang isteri saya di operasi sekali tanpa bayar seperserpun. Saya juga berhak mendapat bantuan ticket Public Transportation untuk Skytrain dan Bus keseluruh zone di Vancouver Area (luasnya mungkin sebesar seluruh daerah Jakarta).Sebagai senior maka obat dari resep dokter hampir semuanya dibayar pemerintah. Disamping itu karena saya adalah penduduk British Columbia yang kalau beli barang tertentu membayar Pajak Penjualan maka setelah saya mengisi Tax Return (isian paja) maka tiap quartal saya mendapat pengembalian sebesar $299.00  Sistim asuransi kesehatan ini yang akan ditiru Obama. Tahun 2014 saya akan dapat pensiun resmi dari pemerintah Kanada (setelah 10 tahun tinggal di Kanada) padahal saya masih tetap warga negara Indonesia. Status saya cuma permanent resident. Kanada bukan negara Pancasila dan masih mengakui Elizabeth sebagai Ratu. Sungguh aneh. Walaupun diberi
 kemudahan saya masih bebas untuk mengemukakan pendirian saya bahawa saya anti Ratu Inggris dan keturunannya.

>> > Saya tidak memuji Kanada serta penduduknya. Orang Kanada tidak lebih pintar dari orang Indonesia. Saya ikut kursus matematik disuatu Adult School. Saya dapat 100%(artinya seluruh quiz, test dan exam saya selama kursus selalu 100%. Menurut guru2 sekolah tersebut sudah bertahun2 tidak ada murid yang mendapat angka 100 % disekolah tersebut. Padahal kepandaian matematik saya di Indonesia biasa2 saja.
>> > Saya tidak seperti kebanyakan anak2 yang suka berdemonstrasi membenci negara barat (terutama orang kulit putihnya), tapi kalau menghadapi bule pada minder. Padahal di Kanada banyak bule yang jadi pengemis (sudah dapat bantuan dari pemerintah tapi tidak dapat memanfaatkan bantuan tersebut karena malas dan mennghamburkan uangnya untuk "drug" dll, sehingga mereka jadi pengemis, di Indonesia menjadi pengemis karena terpaksa}. Saya selalu bangga jadi orang Indonesia. Dimana2 saya selalu membanggakan diri saya sebagai orang Indonesia.
>> >
>> > Salam,
>> > Heru Baskoro
>> >
>> >
>> >
>> > --- In [hidden email], semar samiaji <kind_evil_06@> wrote:
>> > >
>> > > Merujuk pada link berikut http://www.tempo.co/read/news/2012/04/12/117396582/David-Cameron-Indonesia-Bisa-Memimpin-Dunia
>> > > memberi refleksi bahwa medan perjuangan salah satu yang utamanya adalah
>> > > melalui dunia pendidikan. Kalau Indonesia mendidik masyarakatnya
>> > > melalui nilai-nilai yang ke luar dari JIWA Pembukaan UUD 1945, semakna
>> > > dengan menanamkan nilai-nilai yang akan menjadi gangguan kejiwaan bagi
>> > > bangsa Indonesia akhirnya.
>> > >
>> > > Kalau kita merujuk kepada penghargaan
>> > > dari Ratu Inggris kepada Presiden  yang diberitakan akhir-akhir ini,
>> > > semestinya (menurut saya), tidak perlu bawa-bawa Indonesianya.
>> > > Silahkan, kalau penghargaan demikian diterima atas nama PRIBADI Pak
>> > > Presiden. Silahkan pelajari dan kaji, latar belakang gelar tersebut
>> > > diberikan oleh para Raja / Ratu Inggris. Diberikan bukan dalam rangka
>> > > hubungan antar-negara, namun diberikan bagi satria melalui proses
>> > > pemandian (dipermandikan) oleh Raja / Ratu Inggris.
>> > >
>> > > Kalau
>> > > kemudian, ada suara-suara yang mengkaitkan pemberian gelar satria
>> > > tersebut dengan urusan investasi Inggris di Indonesia, jangan kemudian
>> > > dibantah begitu saja. Lalu, menyatakan  bahwa pemberian tersebut
>> > > katanya karena prestasi demokrasi Indonesia. Kalau kita rujuk link
>> > > berikut http://www.metrotvnews.com/ekonomi/news/2012/11/02/112274/BP-Siapkan-Investasi-US$12-Miliar-di-Indonesia
>> > > , apakah kemudian bisa dipisahkan antara urusan gelar satria itu dengan
>> > > urusan ekonomi dengan nilai investasi yang aduhai tersebut? Sesaat
>> > > beralihnya rezim Bung Karno kepada Pak Harto, wilayah Irian Barat,
>> > > khususnya Freeport menjadi bagian dari proses peralihannya. Apakah
>> > > kemudian menjadi tidak mungkin, saat ini, Inggris dengan Proyek
>> > > Tangguhnya? Apakah jumlah hingga 12 miliar US$ di wilayah yang
>> > > disengketakan dan dimasalahkan oleh para LSM Inggris dan juga para
>> > > penegak HAM, di mana Indonesia katanya melakukan tindakan melanggar
>> > > HAM. Namun di saat itu pula dijawab melalui
>> > >  bentuk investasi
>> > > pertambangan di wilayah tersebut. Bagaimana bisa meyakini adanya
>> > > keselarasan antara ucap dengan laku perbuatan kalau sudah demikian?
>> > >
>> > > Sebenarnya,
>> > > kita tidak mempermasalahkan bentuk-bentuk investasi bagi Indonesia.
>> > > Yang menjadi masalah, ternyata investasi kemudian merugikan pihak
>> > > Indonesia dalam konteks kehidupan kita yang berupaya menghidupkan
>> > > nilai-nilai kebangsaan dan pengelolaan negara yang selaras dan sejiwa
>> > > dengan Pembukaan UUD 1945. Mari dikaji, silahkan sebutkan, mana bentuk
>> > > investasi, khususnya dalam pertambangan, yang benar-benar berpihak
>> > > kepada Indonesia? Tanah ini dijadikan selain dikuras tambangnya, juga
>> > > dijadikan pasar agar bergantung kepada si penguras tambang. Apakah
>> > > masih kurang cukup peristiwa-peristiwa yang ada selama ini? Apa yang
>> > > terjadi pada urusan energi di Indonesia? Apa yang terjadi di
>> > > wilayah-wilayah tambang yang menghancurkan lingkungan di Indonesia?
>> > > Lalu, melalui kekuatan penguasaan pertambangan, bangsa kita pun berebut
>> > > saling menguasai sumber uang yang terbesar ini. Lalu, masuk ke wilayah
>> > > perebutan kekuasaan, baik dalam cakupan nasional mau pun
>> > >
>> > > internasional. Perjalanan rezim Bung Karno yang begitu "keras"
>> > > melakukan upaya kesetaraan saja kemudian "kalah", bukan? Esensinya
>> > > bukan terletak pada kalahnya, namun kepada SURI TAULADAN kepemimpinan
>> > > yang SETIA dan TAAT kepada nilai-nilai Pembukaan UUD 1945-nya.
>> > >
>> > > Melalui
>> > > refleksi demikian, medan perjuangan bangsa Indonesia kemudian esensinya
>> > > TIDAK terletak pada seakan-akan kalau sudah menerima penghargaan
>> > > kemudian pahlawan atau manusia yang sudah berkorban besar bagi
>> > > negaranya, sebagai mana kejadian di Surabaya 67 tahun yang lalu, bukan?
>> > > Kecuali, baru sebatas pengakuan-pengakuan saja, bukan?
>> > >
>> > > Saat
>> > > terjadinya pertempuran besar di Surabaya, 67 tahun yang lalu, tolok
>> > > ukurnya jelas, yaitu mempertahankan kemerdekaan sebagai negara. Saat
>> > > ini, ukurannya adalah JIWA Pembukaan UUD 1945. Ini perjuangan beratnya,
>> > > upaya tetap menanamkan dan berbuat dengan nilai-nilai Pembukaan UUD
>> > > 1945 tidak mudah, karena dunia umumnya tidak demikian nuansanya.
>> > > Diperlukan suri tauladan yang nyata dan JUJUR. Bukan yang sibuk takut
>> > > karena imagenya menjadi rusak atau buruk.
>> > >
>> > > Pak Presiden
>> > > berpidato katanya Indonesia akan menjadi jembatan kebudayaan dunia.
>> > > Saya yakin dengan itu, tetapi TIDAK dengan cara-cara yang mengedepankan
>> > > nilai-nilai kebudayaan merusak ekonomi negara melalui investasi yang
>> > > merusak alam Indonesia. Tidak dengan cara-cara menunduk, patuh, dan
>> > > taat kepada maunya kepentingan-kepentingan asing melampaui nilai-nilai
>> > > kebudayaan (refleksi Pembukaan UUD 1945) bangsa Indonesia.
>> > >
>> > > Esensi
>> > > nilai-nilai kepahlawanan di era saat ini, TIDAK terletak kepada
>> > > bentuk-bentuk penghargaan yang disematkan oleh manusia. Esensi
>> > > kepahlawanan sejatinya berlaku bagi siapa pun manusia Indonesia yang
>> > > benar-benar atau sungguh-sungguh dengan nilai-nilai kemanusiaan buah
>> > > dari ketuhanannya. Tidak memerlukan bentuk-bentuk pengakuan bahwa sudah
>> > > merasa berjasa, apalagi sambil seret-seret jabatan / kekuasaan. Semua
>> > > bentuk-bentuk kepemimpinan yang tidak demikian PASTI akan ditelanjangi
>> > > sampai ke akar-akarnya. Silahkan, si manusia itu berkelit dan melakukan
>> > > upaya menghindar dari tanggung jawab dan kewenangan yang dititipkan
>> > > kepadanya, mari kita buktikan apakah si manusia nantinya memang
>> > > benar-benar mampu menghindar dari gerak alam semesta.
>> > >
>> > > Semoga YMK beri setetes cahaya kepada setiap hati manusia Indonesia yang masih gelap mata hatinya.
>> > >
>> > > Selamat berjuang. Sekali merdeka tetap merdeka!!
>> > >
>> > > Bogor, 5 November 2012
>> > >
>> > > salam,
>> > > ss
>> > >
>> >
>>
>
>
>


Reply | Threaded
Open this post in threaded view
|  
Report Content as Inappropriate

Re: Bls: Re: Re: Nilai Kepahlawanan

odoy_s
Sy cuma mengaitkan konteks kalimat awal "WNI yang bersikeras tidak beragama,"  dengan kalimat penutup "jangan coba-coba cari para pengikut atau cuap-cuap tentang hebatnya ateisme di Indonesia," ternyata salah ya...

Sorry.

O
Powered by Telkomsel BlackBerry®

-----Original Message-----
From: [hidden email]
Sender: [hidden email]
Date: Sun, 25 Nov 2012 12:53:37
To: <[hidden email]>
Reply-To: [hidden email]
Subject: Re: Bls: Re: [Spiritual-Indonesia] Re: Nilai Kepahlawanan

Loh, siapa yang menyatakan bahwa orang tidak beragama itu mesti ateis? You are barking up the wrong tree, man. :-)

W
Sent from my BlackBerry® smartphone from Sinyal Bagus XL, Nyambung Teruuusss...!

-----Original Message-----
From: [hidden email]
Sender: [hidden email]
Date: Sun, 25 Nov 2012 11:19:35
To: <[hidden email]>
Reply-To: [hidden email]
Subject: Re: Bls: Re: [Spiritual-Indonesia] Re: Nilai Kepahlawanan

Tidak beragama belum/tidak berarti atheis mang... Sdh banyak di bahas di forum ini...

O
Powered by Telkomsel BlackBerry®

-----Original Message-----
From: [hidden email]
Sender: [hidden email]
Date: Sun, 25 Nov 2012 10:17:47
To: <[hidden email]>
Reply-To: [hidden email]
Subject: Re: Bls: Re: [Spiritual-Indonesia] Re: Nilai Kepahlawanan

WNI yang bersikeras tidak beragama (mengaku-aku beragama tak ada yang melarang, kok) akan menemui kesulitan dalam pengabsahan akta perkawinannya di Catatan Sipil dan anak-anaknya pun tidak bakal dapat memeroleh akta kelahiran karena perkawinan orangtuanya tidak sah secara hukum.

Secara pribadi, tidak beragama dan berdomisili di Indonesia dan tetap sebagai WNI sih "no problem at all" asal mau menikah di luar negeri. Oh ya, satu lagi. Jangan coba-coba cari para pengikut atau cuap-cuap tentang hebatnya ateisme di Indonesia karena penganut radikal agama mayoritas akan memusuhi Anda. :-)

W
Sent from my BlackBerry® smartphone from Sinyal Bagus XL, Nyambung Teruuusss...!

-----Original Message-----
From: [hidden email]
Sender: [hidden email]
Date: Sun, 25 Nov 2012 07:40:15
To: [hidden email]<[hidden email]>
Reply-To: [hidden email]
Subject: Re: Bls: Re: [Spiritual-Indonesia] Re: Nilai Kepahlawanan

Undang2 mana yang menyatakan setiap masyarakat Indonesia wajib beragama ? Masa siy agama itu wajib ??


Powered by Telkomsel BlackBerry®

-----Original Message-----
From: [hidden email]
Sender: [hidden email]
Date: Sun, 25 Nov 2012 07:41:42
To: <[hidden email]>
Reply-To: [hidden email]
Subject: Re: Bls: Re: [Spiritual-Indonesia] Re: Nilai Kepahlawanan


Duh senangnya..... Bisa tdk beragama.

Bagaimana caranya ya?

Bukannya wajib hukumnya, setiap orang di Indonesia beragama?

Indra Dewi
Sent from my BlackBerry® smartphone from Sinyal Bagus XL, Nyambung Teruuusss...!

-----Original Message-----
From: [hidden email]
Sender: [hidden email]
Date: Sun, 25 Nov 2012 07:00:14
To: [hidden email]<[hidden email]>
Reply-To: [hidden email]
Subject: Re: Bls: Re: [Spiritual-Indonesia] Re: Nilai Kepahlawanan

Sendy Kerenz euii....

Salam,


Powered by Telkomsel BlackBerry®

-----Original Message-----
From: Sendy Huang <[hidden email]>
Sender: [hidden email]
Date: Sun, 25 Nov 2012 13:25:30
To: <[hidden email]>
Reply-To: [hidden email]
Subject: Bls: Re: [Spiritual-Indonesia] Re: Nilai Kepahlawanan




Salam buat saudaraku Indradewi (^_^),

thanks atas inputnya (^_^)
kesan tulisan sendy pedas, karena tarian kata-katanya ga berirama Waltz ya.. hhh, iramanya brak bruk brak bruk..

iya, sih, sendy sebenarnya sedih membaca ceritanya salah satu anak Sayuti Malik itu, ada kesan ga bisa nrimo dan agak dendam ama pemerintah.. (my opinion).. tpi apakah ga ada org2 yang care dan justru membantu meredam sakit hati mereka, karena kalo yang sendy baca itu seakan2 malah banyak yang mengompori, sehingga ada luka sampai bertahun-tahun, sehingga keluarlah komentar sendy kemaren itu,
sebenarnya pengen bilang... Come On, wake up... hadapi..jangan lar.. jangan sembunyi..jangan berlindung di balik kebesaran orgtua..dan bla bla bla.. tpi nanti ada yg bilang.. eh.. emangnya elo siapa ya ??? hhhh...pake merintah2 gitu... (^_^)

hhh.. dan kemudian kisahnya agak lucu pula.. (tdi sedih kok jdi lucu ya ??), udah mengemis di Kanada, trus pake embel2 kafir Kanada.. apa ga haram tuh ngemis ama org kafir ???.. (kalo base on agamanya, ya kalo sama org kafir kan boleh dekat2..apalgi sampe makan dan segalanya dibantu org kafir, napa ga minta ke yg ga kafir ya.. ke arab kek yg kaya raya itu ???,..... pas kebenaran sendy ga beragama, jdi cuman tergelitik aza dengan kata kafir Kanada itu..)

but sekali lagi, ini bukan buat membuat kacau siapapun atau memprovokasi apapun, hanya berdasar kesadaran aza nulisnya, karena yang terlihat adalah seperti itu, so, itu semua apa adanya,, bukan ada apanya. Oke ??

** sepertinya saudaraku Indradewi juga seorng yg butuh pengakuan ya... HHHH (^_^)
so, kuakui.. Indradewi org yg hangat dan ramah... salam semesta selalu

thanks alot ya buat semua pembaca di milis SI ini..
,, (^_^) ,,  

------------------------------
Pada Sab, 24 Nov 2012 20:54 Waktu Baku Pasifik [hidden email] menulis:

>
>Salut utk Sendy yg berkenan kasih komentar apa adanya (kebetulan, komentarnya "pedas").
>
>Pengakuan adalah kebutuhan dasar manusia.
>
>Sayangnya, banyak orang yg butuh pengakuan dari pihak2 di luar dirinya. Padahal pengakuan yg sejati dan hakiki justru berasal dari diri sendiri.
>
>Menurut saya, apa pun ucapan, tindakan, sikap, pemikiran, dll, selama itu utk kebaikan dan ketenangan si pelaku (dgn catatan, tdk merugikan org lain), biarkan lah.
>
>Kalau memang Pak Heru Baskoro pribadi dan keluarga "happy and peaceful", just let them be happy and peaceful, we shouldn't be bothered or bother them.
>
>Enjoy your Sunday.....
>
>Indra Dewi
>
>
>
>Sent from my BlackBerry® smartphone from Sinyal Bagus XL, Nyambung Teruuusss...!
>
>-----Original Message-----
>From: "Sendy V" <[hidden email]>
>Sender: [hidden email]
>Date: Sat, 24 Nov 2012 14:12:49
>To: <[hidden email]>
>Reply-To: [hidden email]
>Subject: [Spiritual-Indonesia] Re: Nilai Kepahlawanan
>
>salam semesta,
>
>entah mengapa, pas membaca tulisan di atas, ujung2 nya sendy berpendapat, tetap saja masalah harta dan tahta..
>maksudnya apa ????
>ya, kalo emang bangga jdi org Indonesia, ya hadapilah hidup di Indonesia dengan segala kerumitannya. Kalo omongin anak2 Presiden masih hidup bermewah2 hingga sekarang, juga ttg tentang kemalasan org2 Indonesia, ya sama aza, anaknya Sayuti Malik yg nyari kesenangan juga keliatan malas, buktinya sampe ditanggung ama pemerintah Canada yg tdi sempat disebut kafir... aneh juga ya, kok kesannya munafik gitu.. HHH...
>
>kalo emang bangga jdi org Indonesia, banggakan juga almarhum ortunya, kan udah jelas bahwa orgtuanya berjuang tanpa tanda jasa, sementara sang anak sekarng butuh diakui jasa2 orgtuanya.. pernahkah ya anaknya Sayuti Malik berpikir kalo perjuangan ortunya itu murni, tapi sekrng malah ditetesin sedikit noda karena butuh sebuah pengakuan.. buat apa pengakuan atau penghargaan kepahlawanan itu ? ya buat mempermudah anak2 nya dan cucunya Sayuti Malik, ujung2 nya kan sama aza dengan kemalasan, karena dengan menjdi anaknya seorng pahlawan, semua akan dipermudah.. iya ga ??? pdhal dulunya ortunya berjuang demi negara, sekarang anaknya berjuang buat diri sendiri dengan mencela negaranya.. so, bagi sendy yang membaca tulisan anaknya Sayuti Malik (kalo memang itu benar yg nulis anaknya ya.. ).. maka... kesannya munafik banget.. moga cepat2 bisa disadari... Sayuti Malik banyak diceritakan dalam sejarah2 di sekolah dari tahun ke tahun, so, tanpa gelar pahlawan pun,
 byk org yang tau bahwa beliau memang penjuang sejati..

>
>that's my pendapat..atas tulisannya anaknya Sayuti Malik
>
>Nuhun ya.. buat semua..
>
>salam damai semesta..
>
>
>--- In [hidden email], "leonardor" <leonardo_rimba@...> wrote:
>>
>> Kesaksian yg luar biasa sekali. Terimakasih sudah berbagi.
>>
>> Leo
>>
>>
>> --- In [hidden email], "Heru" <heru_bas21@> wrote:
>> >
>> > Ayah dan ibu saya (Sayuti Melik dan S.K. Trimurti)dikubur di Makam Pahlawan di Kali bata. Ada beberapa teman kasih komentar bahwa di kuburan tersebut juga dikuburkan para pengchianat bangsa dan para koruptor. Kata mereka saya harus ikut contoh keluarga Bung Karno, Bung Hatta yang jauh lebih besar ketokohannya dari Sayuti Melik dan S.K. Trimurti tidak mau dikuburkan di taman Pahlawan. Saya jawab, jelas keluarga Bung Hata dan Soekarno adalah orang kaya bisa punya kuburan sendiri yang lebih mewah dari kuburan Kalibata. Buat saya kuburan Kalibata membebaskan saya dari segala biaya penguburan. Bahkan polisi yang mengawal jenasahpun tidak saya kasih uang walaupun mereka minta uang dari saya. Saya bilang kalau tidak mau mengawal silahkan. Sekarang saya sebagai anak pahlawan minta bantuan dari pemerintah kafir Kanada, karena pertama saya tidak suka hidup hipokrit di Indonesia kedua tidak ada perhatian dari pemerintah atas jasa2 orang tua saya.Waktu saya
 lahir ibu saya disiksa Jepang sampai tidak bisa memberi air susu kepada saya (waktu itu saya berumur 2 tahun}. Saya hidup dari air tajin. Masih bagus saya masih bisa hidup walaupun kurang gizi waktu kecil. Secara tidak langsung saya ikut berkorban karena perjuangan orang tua saya. Anak2 Soekarno dan Hatta hidupnya mewah2 saja. Apalagi anak2 Soeharto. Sampai sekarang orang tua saya belum mendapat gelar pahlawan. Kalau anda percaya ada kihdupan setelah mati maka mereka pasti tidak mengharapkan gelar tersebut. Tapi saya yang tidak percaya ada kehidupan setelah mati perlu gelar tersebut supaya saya dapat tunjangan dari Pemerintah. Di Kanada baik saya maupun orang tua saya bukan siapa2. Selama di Kanada saya tidak pernah membayar pajak pendapatan, karena saya pindah dari permanent resident US ke permanent resicent Kanada. Di US saya bayar pajak karena bekerja disana. Di Kanada saya yang bukan siapa2 dapat bantuan dari pemerintah Kanada $1,270 sebulan belum
 lagi mendapat Care Card tanpa harus bayar premi asuransi. Saya telah dioperasi 3 kali sedang isteri saya di operasi sekali tanpa bayar seperserpun. Saya juga berhak mendapat bantuan ticket Public Transportation untuk Skytrain dan Bus keseluruh zone di Vancouver Area (luasnya mungkin sebesar seluruh daerah Jakarta).Sebagai senior maka obat dari resep dokter hampir semuanya dibayar pemerintah. Disamping itu karena saya adalah penduduk British Columbia yang kalau beli barang tertentu membayar Pajak Penjualan maka setelah saya mengisi Tax Return (isian paja) maka tiap quartal saya mendapat pengembalian sebesar $299.00  Sistim asuransi kesehatan ini yang akan ditiru Obama. Tahun 2014 saya akan dapat pensiun resmi dari pemerintah Kanada (setelah 10 tahun tinggal di Kanada) padahal saya masih tetap warga negara Indonesia. Status saya cuma permanent resident. Kanada bukan negara Pancasila dan masih mengakui Elizabeth sebagai Ratu. Sungguh aneh. Walaupun diberi
 kemudahan saya masih bebas untuk mengemukakan pendirian saya bahawa saya anti Ratu Inggris dan keturunannya.

>> > Saya tidak memuji Kanada serta penduduknya. Orang Kanada tidak lebih pintar dari orang Indonesia. Saya ikut kursus matematik disuatu Adult School. Saya dapat 100%(artinya seluruh quiz, test dan exam saya selama kursus selalu 100%. Menurut guru2 sekolah tersebut sudah bertahun2 tidak ada murid yang mendapat angka 100 % disekolah tersebut. Padahal kepandaian matematik saya di Indonesia biasa2 saja.
>> > Saya tidak seperti kebanyakan anak2 yang suka berdemonstrasi membenci negara barat (terutama orang kulit putihnya), tapi kalau menghadapi bule pada minder. Padahal di Kanada banyak bule yang jadi pengemis (sudah dapat bantuan dari pemerintah tapi tidak dapat memanfaatkan bantuan tersebut karena malas dan mennghamburkan uangnya untuk "drug" dll, sehingga mereka jadi pengemis, di Indonesia menjadi pengemis karena terpaksa}. Saya selalu bangga jadi orang Indonesia. Dimana2 saya selalu membanggakan diri saya sebagai orang Indonesia.
>> >
>> > Salam,
>> > Heru Baskoro
>> >
>> >
>> >
>> > --- In [hidden email], semar samiaji <kind_evil_06@> wrote:
>> > >
>> > > Merujuk pada link berikut http://www.tempo.co/read/news/2012/04/12/117396582/David-Cameron-Indonesia-Bisa-Memimpin-Dunia
>> > > memberi refleksi bahwa medan perjuangan salah satu yang utamanya adalah
>> > > melalui dunia pendidikan. Kalau Indonesia mendidik masyarakatnya
>> > > melalui nilai-nilai yang ke luar dari JIWA Pembukaan UUD 1945, semakna
>> > > dengan menanamkan nilai-nilai yang akan menjadi gangguan kejiwaan bagi
>> > > bangsa Indonesia akhirnya.
>> > >
>> > > Kalau kita merujuk kepada penghargaan
>> > > dari Ratu Inggris kepada Presiden  yang diberitakan akhir-akhir ini,
>> > > semestinya (menurut saya), tidak perlu bawa-bawa Indonesianya.
>> > > Silahkan, kalau penghargaan demikian diterima atas nama PRIBADI Pak
>> > > Presiden. Silahkan pelajari dan kaji, latar belakang gelar tersebut
>> > > diberikan oleh para Raja / Ratu Inggris. Diberikan bukan dalam rangka
>> > > hubungan antar-negara, namun diberikan bagi satria melalui proses
>> > > pemandian (dipermandikan) oleh Raja / Ratu Inggris.
>> > >
>> > > Kalau
>> > > kemudian, ada suara-suara yang mengkaitkan pemberian gelar satria
>> > > tersebut dengan urusan investasi Inggris di Indonesia, jangan kemudian
>> > > dibantah begitu saja. Lalu, menyatakan  bahwa pemberian tersebut
>> > > katanya karena prestasi demokrasi Indonesia. Kalau kita rujuk link
>> > > berikut http://www.metrotvnews.com/ekonomi/news/2012/11/02/112274/BP-Siapkan-Investasi-US$12-Miliar-di-Indonesia
>> > > , apakah kemudian bisa dipisahkan antara urusan gelar satria itu dengan
>> > > urusan ekonomi dengan nilai investasi yang aduhai tersebut? Sesaat
>> > > beralihnya rezim Bung Karno kepada Pak Harto, wilayah Irian Barat,
>> > > khususnya Freeport menjadi bagian dari proses peralihannya. Apakah
>> > > kemudian menjadi tidak mungkin, saat ini, Inggris dengan Proyek
>> > > Tangguhnya? Apakah jumlah hingga 12 miliar US$ di wilayah yang
>> > > disengketakan dan dimasalahkan oleh para LSM Inggris dan juga para
>> > > penegak HAM, di mana Indonesia katanya melakukan tindakan melanggar
>> > > HAM. Namun di saat itu pula dijawab melalui
>> > >  bentuk investasi
>> > > pertambangan di wilayah tersebut. Bagaimana bisa meyakini adanya
>> > > keselarasan antara ucap dengan laku perbuatan kalau sudah demikian?
>> > >
>> > > Sebenarnya,
>> > > kita tidak mempermasalahkan bentuk-bentuk investasi bagi Indonesia.
>> > > Yang menjadi masalah, ternyata investasi kemudian merugikan pihak
>> > > Indonesia dalam konteks kehidupan kita yang berupaya menghidupkan
>> > > nilai-nilai kebangsaan dan pengelolaan negara yang selaras dan sejiwa
>> > > dengan Pembukaan UUD 1945. Mari dikaji, silahkan sebutkan, mana bentuk
>> > > investasi, khususnya dalam pertambangan, yang benar-benar berpihak
>> > > kepada Indonesia? Tanah ini dijadikan selain dikuras tambangnya, juga
>> > > dijadikan pasar agar bergantung kepada si penguras tambang. Apakah
>> > > masih kurang cukup peristiwa-peristiwa yang ada selama ini? Apa yang
>> > > terjadi pada urusan energi di Indonesia? Apa yang terjadi di
>> > > wilayah-wilayah tambang yang menghancurkan lingkungan di Indonesia?
>> > > Lalu, melalui kekuatan penguasaan pertambangan, bangsa kita pun berebut
>> > > saling menguasai sumber uang yang terbesar ini. Lalu, masuk ke wilayah
>> > > perebutan kekuasaan, baik dalam cakupan nasional mau pun
>> > >
>> > > internasional. Perjalanan rezim Bung Karno yang begitu "keras"
>> > > melakukan upaya kesetaraan saja kemudian "kalah", bukan? Esensinya
>> > > bukan terletak pada kalahnya, namun kepada SURI TAULADAN kepemimpinan
>> > > yang SETIA dan TAAT kepada nilai-nilai Pembukaan UUD 1945-nya.
>> > >
>> > > Melalui
>> > > refleksi demikian, medan perjuangan bangsa Indonesia kemudian esensinya
>> > > TIDAK terletak pada seakan-akan kalau sudah menerima penghargaan
>> > > kemudian pahlawan atau manusia yang sudah berkorban besar bagi
>> > > negaranya, sebagai mana kejadian di Surabaya 67 tahun yang lalu, bukan?
>> > > Kecuali, baru sebatas pengakuan-pengakuan saja, bukan?
>> > >
>> > > Saat
>> > > terjadinya pertempuran besar di Surabaya, 67 tahun yang lalu, tolok
>> > > ukurnya jelas, yaitu mempertahankan kemerdekaan sebagai negara. Saat
>> > > ini, ukurannya adalah JIWA Pembukaan UUD 1945. Ini perjuangan beratnya,
>> > > upaya tetap menanamkan dan berbuat dengan nilai-nilai Pembukaan UUD
>> > > 1945 tidak mudah, karena dunia umumnya tidak demikian nuansanya.
>> > > Diperlukan suri tauladan yang nyata dan JUJUR. Bukan yang sibuk takut
>> > > karena imagenya menjadi rusak atau buruk.
>> > >
>> > > Pak Presiden
>> > > berpidato katanya Indonesia akan menjadi jembatan kebudayaan dunia.
>> > > Saya yakin dengan itu, tetapi TIDAK dengan cara-cara yang mengedepankan
>> > > nilai-nilai kebudayaan merusak ekonomi negara melalui investasi yang
>> > > merusak alam Indonesia. Tidak dengan cara-cara menunduk, patuh, dan
>> > > taat kepada maunya kepentingan-kepentingan asing melampaui nilai-nilai
>> > > kebudayaan (refleksi Pembukaan UUD 1945) bangsa Indonesia.
>> > >
>> > > Esensi
>> > > nilai-nilai kepahlawanan di era saat ini, TIDAK terletak kepada
>> > > bentuk-bentuk penghargaan yang disematkan oleh manusia. Esensi
>> > > kepahlawanan sejatinya berlaku bagi siapa pun manusia Indonesia yang
>> > > benar-benar atau sungguh-sungguh dengan nilai-nilai kemanusiaan buah
>> > > dari ketuhanannya. Tidak memerlukan bentuk-bentuk pengakuan bahwa sudah
>> > > merasa berjasa, apalagi sambil seret-seret jabatan / kekuasaan. Semua
>> > > bentuk-bentuk kepemimpinan yang tidak demikian PASTI akan ditelanjangi
>> > > sampai ke akar-akarnya. Silahkan, si manusia itu berkelit dan melakukan
>> > > upaya menghindar dari tanggung jawab dan kewenangan yang dititipkan
>> > > kepadanya, mari kita buktikan apakah si manusia nantinya memang
>> > > benar-benar mampu menghindar dari gerak alam semesta.
>> > >
>> > > Semoga YMK beri setetes cahaya kepada setiap hati manusia Indonesia yang masih gelap mata hatinya.
>> > >
>> > > Selamat berjuang. Sekali merdeka tetap merdeka!!
>> > >
>> > > Bogor, 5 November 2012
>> > >
>> > > salam,
>> > > ss
>> > >
>> >
>>
>
>
>


Reply | Threaded
Open this post in threaded view
|  
Report Content as Inappropriate

Re: Bls: Re: Re: Nilai Kepahlawanan

Witingurip-2
Sebenarnya Anda tidak bersalah juga karena dalam posting sebelumnya memang tidak dijelaskan bahwa WNI yang tidak beragama itu bisa merupakan "teis" dalam arti percaya kepada Tuhan selain Tuhannya agama-agama yang diakui resmi oleh NKRI, dan bisa juga merupakan "ateis". Dan memropagandakan "ateisme" (atau teisme model lain sebagai agama "resmi") memang sering dimusuhi oleh penganut garis keras agama mayoritas. Itu adalah kenyataan "pahit" yang kita alami di NKRI saat ini. :-)

W
Sent from my BlackBerry® smartphone from Sinyal Bagus XL, Nyambung Teruuusss...!

-----Original Message-----
From: [hidden email]
Sender: [hidden email]
Date: Sun, 25 Nov 2012 14:46:03
To: <[hidden email]>
Reply-To: [hidden email]
Subject: Re: Bls: Re: [Spiritual-Indonesia] Re: Nilai Kepahlawanan

Sy cuma mengaitkan konteks kalimat awal "WNI yang bersikeras tidak beragama,"  dengan kalimat penutup "jangan coba-coba cari para pengikut atau cuap-cuap tentang hebatnya ateisme di Indonesia," ternyata salah ya...

Sorry.

O
Powered by Telkomsel BlackBerry®

-----Original Message-----
From: [hidden email]
Sender: [hidden email]
Date: Sun, 25 Nov 2012 12:53:37
To: <[hidden email]>
Reply-To: [hidden email]
Subject: Re: Bls: Re: [Spiritual-Indonesia] Re: Nilai Kepahlawanan

Loh, siapa yang menyatakan bahwa orang tidak beragama itu mesti ateis? You are barking up the wrong tree, man. :-)

W
Sent from my BlackBerry® smartphone from Sinyal Bagus XL, Nyambung Teruuusss...!

-----Original Message-----
From: [hidden email]
Sender: [hidden email]
Date: Sun, 25 Nov 2012 11:19:35
To: <[hidden email]>
Reply-To: [hidden email]
Subject: Re: Bls: Re: [Spiritual-Indonesia] Re: Nilai Kepahlawanan

Tidak beragama belum/tidak berarti atheis mang... Sdh banyak di bahas di forum ini...

O
Powered by Telkomsel BlackBerry®

-----Original Message-----
From: [hidden email]
Sender: [hidden email]
Date: Sun, 25 Nov 2012 10:17:47
To: <[hidden email]>
Reply-To: [hidden email]
Subject: Re: Bls: Re: [Spiritual-Indonesia] Re: Nilai Kepahlawanan

WNI yang bersikeras tidak beragama (mengaku-aku beragama tak ada yang melarang, kok) akan menemui kesulitan dalam pengabsahan akta perkawinannya di Catatan Sipil dan anak-anaknya pun tidak bakal dapat memeroleh akta kelahiran karena perkawinan orangtuanya tidak sah secara hukum.

Secara pribadi, tidak beragama dan berdomisili di Indonesia dan tetap sebagai WNI sih "no problem at all" asal mau menikah di luar negeri. Oh ya, satu lagi. Jangan coba-coba cari para pengikut atau cuap-cuap tentang hebatnya ateisme di Indonesia karena penganut radikal agama mayoritas akan memusuhi Anda. :-)

W
Sent from my BlackBerry® smartphone from Sinyal Bagus XL, Nyambung Teruuusss...!

-----Original Message-----
From: [hidden email]
Sender: [hidden email]
Date: Sun, 25 Nov 2012 07:40:15
To: [hidden email]<[hidden email]>
Reply-To: [hidden email]
Subject: Re: Bls: Re: [Spiritual-Indonesia] Re: Nilai Kepahlawanan

Undang2 mana yang menyatakan setiap masyarakat Indonesia wajib beragama ? Masa siy agama itu wajib ??


Powered by Telkomsel BlackBerry®

-----Original Message-----
From: [hidden email]
Sender: [hidden email]
Date: Sun, 25 Nov 2012 07:41:42
To: <[hidden email]>
Reply-To: [hidden email]
Subject: Re: Bls: Re: [Spiritual-Indonesia] Re: Nilai Kepahlawanan


Duh senangnya..... Bisa tdk beragama.

Bagaimana caranya ya?

Bukannya wajib hukumnya, setiap orang di Indonesia beragama?

Indra Dewi
Sent from my BlackBerry® smartphone from Sinyal Bagus XL, Nyambung Teruuusss...!

-----Original Message-----
From: [hidden email]
Sender: [hidden email]
Date: Sun, 25 Nov 2012 07:00:14
To: [hidden email]<[hidden email]>
Reply-To: [hidden email]
Subject: Re: Bls: Re: [Spiritual-Indonesia] Re: Nilai Kepahlawanan

Sendy Kerenz euii....

Salam,


Powered by Telkomsel BlackBerry®

-----Original Message-----
From: Sendy Huang <[hidden email]>
Sender: [hidden email]
Date: Sun, 25 Nov 2012 13:25:30
To: <[hidden email]>
Reply-To: [hidden email]
Subject: Bls: Re: [Spiritual-Indonesia] Re: Nilai Kepahlawanan




Salam buat saudaraku Indradewi (^_^),

thanks atas inputnya (^_^)
kesan tulisan sendy pedas, karena tarian kata-katanya ga berirama Waltz ya.. hhh, iramanya brak bruk brak bruk..

iya, sih, sendy sebenarnya sedih membaca ceritanya salah satu anak Sayuti Malik itu, ada kesan ga bisa nrimo dan agak dendam ama pemerintah.. (my opinion).. tpi apakah ga ada org2 yang care dan justru membantu meredam sakit hati mereka, karena kalo yang sendy baca itu seakan2 malah banyak yang mengompori, sehingga ada luka sampai bertahun-tahun, sehingga keluarlah komentar sendy kemaren itu,
sebenarnya pengen bilang... Come On, wake up... hadapi..jangan lar.. jangan sembunyi..jangan berlindung di balik kebesaran orgtua..dan bla bla bla.. tpi nanti ada yg bilang.. eh.. emangnya elo siapa ya ??? hhhh...pake merintah2 gitu... (^_^)

hhh.. dan kemudian kisahnya agak lucu pula.. (tdi sedih kok jdi lucu ya ??), udah mengemis di Kanada, trus pake embel2 kafir Kanada.. apa ga haram tuh ngemis ama org kafir ???.. (kalo base on agamanya, ya kalo sama org kafir kan boleh dekat2..apalgi sampe makan dan segalanya dibantu org kafir, napa ga minta ke yg ga kafir ya.. ke arab kek yg kaya raya itu ???,..... pas kebenaran sendy ga beragama, jdi cuman tergelitik aza dengan kata kafir Kanada itu..)

but sekali lagi, ini bukan buat membuat kacau siapapun atau memprovokasi apapun, hanya berdasar kesadaran aza nulisnya, karena yang terlihat adalah seperti itu, so, itu semua apa adanya,, bukan ada apanya. Oke ??

** sepertinya saudaraku Indradewi juga seorng yg butuh pengakuan ya... HHHH (^_^)
so, kuakui.. Indradewi org yg hangat dan ramah... salam semesta selalu

thanks alot ya buat semua pembaca di milis SI ini..
,, (^_^) ,,  

------------------------------
Pada Sab, 24 Nov 2012 20:54 Waktu Baku Pasifik [hidden email] menulis:

>
>Salut utk Sendy yg berkenan kasih komentar apa adanya (kebetulan, komentarnya "pedas").
>
>Pengakuan adalah kebutuhan dasar manusia.
>
>Sayangnya, banyak orang yg butuh pengakuan dari pihak2 di luar dirinya. Padahal pengakuan yg sejati dan hakiki justru berasal dari diri sendiri.
>
>Menurut saya, apa pun ucapan, tindakan, sikap, pemikiran, dll, selama itu utk kebaikan dan ketenangan si pelaku (dgn catatan, tdk merugikan org lain), biarkan lah.
>
>Kalau memang Pak Heru Baskoro pribadi dan keluarga "happy and peaceful", just let them be happy and peaceful, we shouldn't be bothered or bother them.
>
>Enjoy your Sunday.....
>
>Indra Dewi
>
>
>
>Sent from my BlackBerry® smartphone from Sinyal Bagus XL, Nyambung Teruuusss...!
>
>-----Original Message-----
>From: "Sendy V" <[hidden email]>
>Sender: [hidden email]
>Date: Sat, 24 Nov 2012 14:12:49
>To: <[hidden email]>
>Reply-To: [hidden email]
>Subject: [Spiritual-Indonesia] Re: Nilai Kepahlawanan
>
>salam semesta,
>
>entah mengapa, pas membaca tulisan di atas, ujung2 nya sendy berpendapat, tetap saja masalah harta dan tahta..
>maksudnya apa ????
>ya, kalo emang bangga jdi org Indonesia, ya hadapilah hidup di Indonesia dengan segala kerumitannya. Kalo omongin anak2 Presiden masih hidup bermewah2 hingga sekarang, juga ttg tentang kemalasan org2 Indonesia, ya sama aza, anaknya Sayuti Malik yg nyari kesenangan juga keliatan malas, buktinya sampe ditanggung ama pemerintah Canada yg tdi sempat disebut kafir... aneh juga ya, kok kesannya munafik gitu.. HHH...
>
>kalo emang bangga jdi org Indonesia, banggakan juga almarhum ortunya, kan udah jelas bahwa orgtuanya berjuang tanpa tanda jasa, sementara sang anak sekarng butuh diakui jasa2 orgtuanya.. pernahkah ya anaknya Sayuti Malik berpikir kalo perjuangan ortunya itu murni, tapi sekrng malah ditetesin sedikit noda karena butuh sebuah pengakuan.. buat apa pengakuan atau penghargaan kepahlawanan itu ? ya buat mempermudah anak2 nya dan cucunya Sayuti Malik, ujung2 nya kan sama aza dengan kemalasan, karena dengan menjdi anaknya seorng pahlawan, semua akan dipermudah.. iya ga ??? pdhal dulunya ortunya berjuang demi negara, sekarang anaknya berjuang buat diri sendiri dengan mencela negaranya.. so, bagi sendy yang membaca tulisan anaknya Sayuti Malik (kalo memang itu benar yg nulis anaknya ya.. ).. maka... kesannya munafik banget.. moga cepat2 bisa disadari... Sayuti Malik banyak diceritakan dalam sejarah2 di sekolah dari tahun ke tahun, so, tanpa gelar pahlawan pun,
 byk org yang tau bahwa beliau memang penjuang sejati..

>
>that's my pendapat..atas tulisannya anaknya Sayuti Malik
>
>Nuhun ya.. buat semua..
>
>salam damai semesta..
>
>
>--- In [hidden email], "leonardor" <leonardo_rimba@...> wrote:
>>
>> Kesaksian yg luar biasa sekali. Terimakasih sudah berbagi.
>>
>> Leo
>>
>>
>> --- In [hidden email], "Heru" <heru_bas21@> wrote:
>> >
>> > Ayah dan ibu saya (Sayuti Melik dan S.K. Trimurti)dikubur di Makam Pahlawan di Kali bata. Ada beberapa teman kasih komentar bahwa di kuburan tersebut juga dikuburkan para pengchianat bangsa dan para koruptor. Kata mereka saya harus ikut contoh keluarga Bung Karno, Bung Hatta yang jauh lebih besar ketokohannya dari Sayuti Melik dan S.K. Trimurti tidak mau dikuburkan di taman Pahlawan. Saya jawab, jelas keluarga Bung Hata dan Soekarno adalah orang kaya bisa punya kuburan sendiri yang lebih mewah dari kuburan Kalibata. Buat saya kuburan Kalibata membebaskan saya dari segala biaya penguburan. Bahkan polisi yang mengawal jenasahpun tidak saya kasih uang walaupun mereka minta uang dari saya. Saya bilang kalau tidak mau mengawal silahkan. Sekarang saya sebagai anak pahlawan minta bantuan dari pemerintah kafir Kanada, karena pertama saya tidak suka hidup hipokrit di Indonesia kedua tidak ada perhatian dari pemerintah atas jasa2 orang tua saya.Waktu saya
 lahir ibu saya disiksa Jepang sampai tidak bisa memberi air susu kepada saya (waktu itu saya berumur 2 tahun}. Saya hidup dari air tajin. Masih bagus saya masih bisa hidup walaupun kurang gizi waktu kecil. Secara tidak langsung saya ikut berkorban karena perjuangan orang tua saya. Anak2 Soekarno dan Hatta hidupnya mewah2 saja. Apalagi anak2 Soeharto. Sampai sekarang orang tua saya belum mendapat gelar pahlawan. Kalau anda percaya ada kihdupan setelah mati maka mereka pasti tidak mengharapkan gelar tersebut. Tapi saya yang tidak percaya ada kehidupan setelah mati perlu gelar tersebut supaya saya dapat tunjangan dari Pemerintah. Di Kanada baik saya maupun orang tua saya bukan siapa2. Selama di Kanada saya tidak pernah membayar pajak pendapatan, karena saya pindah dari permanent resident US ke permanent resicent Kanada. Di US saya bayar pajak karena bekerja disana. Di Kanada saya yang bukan siapa2 dapat bantuan dari pemerintah Kanada $1,270 sebulan belum
 lagi mendapat Care Card tanpa harus bayar premi asuransi. Saya telah dioperasi 3 kali sedang isteri saya di operasi sekali tanpa bayar seperserpun. Saya juga berhak mendapat bantuan ticket Public Transportation untuk Skytrain dan Bus keseluruh zone di Vancouver Area (luasnya mungkin sebesar seluruh daerah Jakarta).Sebagai senior maka obat dari resep dokter hampir semuanya dibayar pemerintah. Disamping itu karena saya adalah penduduk British Columbia yang kalau beli barang tertentu membayar Pajak Penjualan maka setelah saya mengisi Tax Return (isian paja) maka tiap quartal saya mendapat pengembalian sebesar $299.00  Sistim asuransi kesehatan ini yang akan ditiru Obama. Tahun 2014 saya akan dapat pensiun resmi dari pemerintah Kanada (setelah 10 tahun tinggal di Kanada) padahal saya masih tetap warga negara Indonesia. Status saya cuma permanent resident. Kanada bukan negara Pancasila dan masih mengakui Elizabeth sebagai Ratu. Sungguh aneh. Walaupun diberi
 kemudahan saya masih bebas untuk mengemukakan pendirian saya bahawa saya anti Ratu Inggris dan keturunannya.

>> > Saya tidak memuji Kanada serta penduduknya. Orang Kanada tidak lebih pintar dari orang Indonesia. Saya ikut kursus matematik disuatu Adult School. Saya dapat 100%(artinya seluruh quiz, test dan exam saya selama kursus selalu 100%. Menurut guru2 sekolah tersebut sudah bertahun2 tidak ada murid yang mendapat angka 100 % disekolah tersebut. Padahal kepandaian matematik saya di Indonesia biasa2 saja.
>> > Saya tidak seperti kebanyakan anak2 yang suka berdemonstrasi membenci negara barat (terutama orang kulit putihnya), tapi kalau menghadapi bule pada minder. Padahal di Kanada banyak bule yang jadi pengemis (sudah dapat bantuan dari pemerintah tapi tidak dapat memanfaatkan bantuan tersebut karena malas dan mennghamburkan uangnya untuk "drug" dll, sehingga mereka jadi pengemis, di Indonesia menjadi pengemis karena terpaksa}. Saya selalu bangga jadi orang Indonesia. Dimana2 saya selalu membanggakan diri saya sebagai orang Indonesia.
>> >
>> > Salam,
>> > Heru Baskoro
>> >
>> >
>> >
>> > --- In [hidden email], semar samiaji <kind_evil_06@> wrote:
>> > >
>> > > Merujuk pada link berikut http://www.tempo.co/read/news/2012/04/12/117396582/David-Cameron-Indonesia-Bisa-Memimpin-Dunia
>> > > memberi refleksi bahwa medan perjuangan salah satu yang utamanya adalah
>> > > melalui dunia pendidikan. Kalau Indonesia mendidik masyarakatnya
>> > > melalui nilai-nilai yang ke luar dari JIWA Pembukaan UUD 1945, semakna
>> > > dengan menanamkan nilai-nilai yang akan menjadi gangguan kejiwaan bagi
>> > > bangsa Indonesia akhirnya.
>> > >
>> > > Kalau kita merujuk kepada penghargaan
>> > > dari Ratu Inggris kepada Presiden  yang diberitakan akhir-akhir ini,
>> > > semestinya (menurut saya), tidak perlu bawa-bawa Indonesianya.
>> > > Silahkan, kalau penghargaan demikian diterima atas nama PRIBADI Pak
>> > > Presiden. Silahkan pelajari dan kaji, latar belakang gelar tersebut
>> > > diberikan oleh para Raja / Ratu Inggris. Diberikan bukan dalam rangka
>> > > hubungan antar-negara, namun diberikan bagi satria melalui proses
>> > > pemandian (dipermandikan) oleh Raja / Ratu Inggris.
>> > >
>> > > Kalau
>> > > kemudian, ada suara-suara yang mengkaitkan pemberian gelar satria
>> > > tersebut dengan urusan investasi Inggris di Indonesia, jangan kemudian
>> > > dibantah begitu saja. Lalu, menyatakan  bahwa pemberian tersebut
>> > > katanya karena prestasi demokrasi Indonesia. Kalau kita rujuk link
>> > > berikut http://www.metrotvnews.com/ekonomi/news/2012/11/02/112274/BP-Siapkan-Investasi-US$12-Miliar-di-Indonesia
>> > > , apakah kemudian bisa dipisahkan antara urusan gelar satria itu dengan
>> > > urusan ekonomi dengan nilai investasi yang aduhai tersebut? Sesaat
>> > > beralihnya rezim Bung Karno kepada Pak Harto, wilayah Irian Barat,
>> > > khususnya Freeport menjadi bagian dari proses peralihannya. Apakah
>> > > kemudian menjadi tidak mungkin, saat ini, Inggris dengan Proyek
>> > > Tangguhnya? Apakah jumlah hingga 12 miliar US$ di wilayah yang
>> > > disengketakan dan dimasalahkan oleh para LSM Inggris dan juga para
>> > > penegak HAM, di mana Indonesia katanya melakukan tindakan melanggar
>> > > HAM. Namun di saat itu pula dijawab melalui
>> > >  bentuk investasi
>> > > pertambangan di wilayah tersebut. Bagaimana bisa meyakini adanya
>> > > keselarasan antara ucap dengan laku perbuatan kalau sudah demikian?
>> > >
>> > > Sebenarnya,
>> > > kita tidak mempermasalahkan bentuk-bentuk investasi bagi Indonesia.
>> > > Yang menjadi masalah, ternyata investasi kemudian merugikan pihak
>> > > Indonesia dalam konteks kehidupan kita yang berupaya menghidupkan
>> > > nilai-nilai kebangsaan dan pengelolaan negara yang selaras dan sejiwa
>> > > dengan Pembukaan UUD 1945. Mari dikaji, silahkan sebutkan, mana bentuk
>> > > investasi, khususnya dalam pertambangan, yang benar-benar berpihak
>> > > kepada Indonesia? Tanah ini dijadikan selain dikuras tambangnya, juga
>> > > dijadikan pasar agar bergantung kepada si penguras tambang. Apakah
>> > > masih kurang cukup peristiwa-peristiwa yang ada selama ini? Apa yang
>> > > terjadi pada urusan energi di Indonesia? Apa yang terjadi di
>> > > wilayah-wilayah tambang yang menghancurkan lingkungan di Indonesia?
>> > > Lalu, melalui kekuatan penguasaan pertambangan, bangsa kita pun berebut
>> > > saling menguasai sumber uang yang terbesar ini. Lalu, masuk ke wilayah
>> > > perebutan kekuasaan, baik dalam cakupan nasional mau pun
>> > >
>> > > internasional. Perjalanan rezim Bung Karno yang begitu "keras"
>> > > melakukan upaya kesetaraan saja kemudian "kalah", bukan? Esensinya
>> > > bukan terletak pada kalahnya, namun kepada SURI TAULADAN kepemimpinan
>> > > yang SETIA dan TAAT kepada nilai-nilai Pembukaan UUD 1945-nya.
>> > >
>> > > Melalui
>> > > refleksi demikian, medan perjuangan bangsa Indonesia kemudian esensinya
>> > > TIDAK terletak pada seakan-akan kalau sudah menerima penghargaan
>> > > kemudian pahlawan atau manusia yang sudah berkorban besar bagi
>> > > negaranya, sebagai mana kejadian di Surabaya 67 tahun yang lalu, bukan?
>> > > Kecuali, baru sebatas pengakuan-pengakuan saja, bukan?
>> > >
>> > > Saat
>> > > terjadinya pertempuran besar di Surabaya, 67 tahun yang lalu, tolok
>> > > ukurnya jelas, yaitu mempertahankan kemerdekaan sebagai negara. Saat
>> > > ini, ukurannya adalah JIWA Pembukaan UUD 1945. Ini perjuangan beratnya,
>> > > upaya tetap menanamkan dan berbuat dengan nilai-nilai Pembukaan UUD
>> > > 1945 tidak mudah, karena dunia umumnya tidak demikian nuansanya.
>> > > Diperlukan suri tauladan yang nyata dan JUJUR. Bukan yang sibuk takut
>> > > karena imagenya menjadi rusak atau buruk.
>> > >
>> > > Pak Presiden
>> > > berpidato katanya Indonesia akan menjadi jembatan kebudayaan dunia.
>> > > Saya yakin dengan itu, tetapi TIDAK dengan cara-cara yang mengedepankan
>> > > nilai-nilai kebudayaan merusak ekonomi negara melalui investasi yang
>> > > merusak alam Indonesia. Tidak dengan cara-cara menunduk, patuh, dan
>> > > taat kepada maunya kepentingan-kepentingan asing melampaui nilai-nilai
>> > > kebudayaan (refleksi Pembukaan UUD 1945) bangsa Indonesia.
>> > >
>> > > Esensi
>> > > nilai-nilai kepahlawanan di era saat ini, TIDAK terletak kepada
>> > > bentuk-bentuk penghargaan yang disematkan oleh manusia. Esensi
>> > > kepahlawanan sejatinya berlaku bagi siapa pun manusia Indonesia yang
>> > > benar-benar atau sungguh-sungguh dengan nilai-nilai kemanusiaan buah
>> > > dari ketuhanannya. Tidak memerlukan bentuk-bentuk pengakuan bahwa sudah
>> > > merasa berjasa, apalagi sambil seret-seret jabatan / kekuasaan. Semua
>> > > bentuk-bentuk kepemimpinan yang tidak demikian PASTI akan ditelanjangi
>> > > sampai ke akar-akarnya. Silahkan, si manusia itu berkelit dan melakukan
>> > > upaya menghindar dari tanggung jawab dan kewenangan yang dititipkan
>> > > kepadanya, mari kita buktikan apakah si manusia nantinya memang
>> > > benar-benar mampu menghindar dari gerak alam semesta.
>> > >
>> > > Semoga YMK beri setetes cahaya kepada setiap hati manusia Indonesia yang masih gelap mata hatinya.
>> > >
>> > > Selamat berjuang. Sekali merdeka tetap merdeka!!
>> > >
>> > > Bogor, 5 November 2012
>> > >
>> > > salam,
>> > > ss
>> > >
>> >
>>
>
>
>


Reply | Threaded
Open this post in threaded view
|  
Report Content as Inappropriate

Bls: Bls: Re: Re: Nilai Kepahlawanan

Sendy V
In reply to this post by heiji.smart
Salam damai para saudaraku,

alasan sendy ga beragama lagi, karena hidup di NKRI ini kalo beragama,,suka dikekang berPancasila-nya, so, akhirnya sendy memutuskan universal saja. Sementara sendy seorng yg nasionalis Pancasilais sejak kecil..(^_^)

Dan pun kenyataannya..selama ini beragama aza dipersulit apalagi ga beragama.. (^_^)
rata2 agama di Indonesia agama KTP aza kok.. iya ga ???
karena apa ??? karena kalo memang benar2 beragama, ga mungkin banyak gap antar kaya dan miskin
si kaya ga mungkin membiarkan si miskin. Ga mungkin sampe  pudar budaya aslinya karena agama itu katanya mengajarkan tidak berzina (berzina politik dan budaya dan ekonomi dan hukum dan segalanya harus sesuai hukum agama)..

tpi nyatanya ???? banyak yg berzina ke mana-mana, hukum pake hukum Belanda, perekonomian masih ala Barat, campur2.. (nasi campur uenak ya.. HHHH... )

iya ga ??
so, daripada beragama, tapi hanya sebatas ditulis, bukan dipraktekkan, lebih baik ga beragama.

Tidak beragama bukan berarti tidak mengenal TUAN SEMESTA ALAM alias TUHAN..
dan beragam pun ga dijamin mengenal TUHAN nya.. paling hanya di bibir saja..
karena kalo kita benar2 mengenal TUAN kita, maka kita akan menydari bahwa hidup kita saling ketergantungan, kita sebagai satu ekosistem (keterhubungan), namun nyatanya, kadang sama tetangga aza yg beda 3 rumah kita ga keep in touch.. iya, ga ??? (^_^)


ya.. demikianlah pengakuan sendy pagi ini..
semoga tidak ada yang tersinggung ya,,

just open mind n let's sharing ..
,, (^_^) ,,



________________________________
 Dari: "[hidden email]" <[hidden email]>
Kepada: [hidden email]
Dikirim: Minggu, 25 November 2012 17:38
Judul: Re: Bls: Re: [Spiritual-Indonesia] Re: Nilai Kepahlawanan


 
Hal yg paling dasar untuk NKRI adalah ketuhanan yg maha esa, dan bentuk perwujudannya adalah agama karena sulit kalau negara harus merumuskan sendiri format ketuhanan untuk warganya, 4 sila selanjutnya baru bisa diwujudkan dalam format hukum negara


Sent from my BlackBerry® smartphone from Sinyal Bagus XL, Nyambung Teruuusss...!
________________________________

From:  [hidden email]
Sender:  [hidden email]
Date: Sun, 25 Nov 2012 10:11:35 +0000
To: <[hidden email]>
ReplyTo:  [hidden email]
Subject: Re: Bls: Re: [Spiritual-Indonesia] Re: Nilai Kepahlawanan
 
Tdk wajib tapi kalau tdk beragama dipersulit negara dalam pengurusan surat2 identitas yang ujungnya sulit dalam urusan perdata, sulit mau menikah resmi, sulit bagi waris dst...

Saya beragama sekarang hanya di ktp. Biar ktp saya sj yg masuk surga... ;D

Powered by Telkomsel BlackBerry®
________________________________

From:  [hidden email]
Sender:  [hidden email]
Date: Sun, 25 Nov 2012 07:40:15 +0000
To: [hidden email]<[hidden email]>
ReplyTo:  [hidden email]
Subject: Re: Bls: Re: [Spiritual-Indonesia] Re: Nilai Kepahlawanan
 
Undang2 mana yang menyatakan setiap masyarakat Indonesia wajib beragama ? Masa siy agama itu wajib ??


Powered by Telkomsel BlackBerry®
________________________________

From:  [hidden email]
Sender:  [hidden email]
Date: Sun, 25 Nov 2012 07:41:42 +0000
To: <[hidden email]>
ReplyTo:  [hidden email]
Subject: Re: Bls: Re: [Spiritual-Indonesia] Re: Nilai Kepahlawanan
 

Duh senangnya..... Bisa tdk beragama.

Bagaimana caranya ya?

Bukannya wajib hukumnya, setiap orang di Indonesia beragama?

Indra Dewi
Sent from my BlackBerry® smartphone from Sinyal Bagus XL, Nyambung Teruuusss...!
________________________________

From:  [hidden email]
Sender:  [hidden email]
Date: Sun, 25 Nov 2012 07:00:14 +0000
To: [hidden email]<[hidden email]>
ReplyTo:  [hidden email]
Subject: Re: Bls: Re: [Spiritual-Indonesia] Re: Nilai Kepahlawanan
 
Sendy Kerenz euii....

Salam,


Powered by Telkomsel BlackBerry®
________________________________

From:  Sendy Huang <[hidden email]>
Sender:  [hidden email]
Date: Sun, 25 Nov 2012 13:25:30 +0800 (SGT)
To: <[hidden email]>
ReplyTo:  [hidden email]
Subject: Bls: Re: [Spiritual-Indonesia] Re: Nilai Kepahlawanan
 


Salam buat saudaraku Indradewi (^_^),

thanks atas inputnya (^_^)
kesan tulisan sendy pedas, karena tarian kata-katanya ga berirama Waltz ya.. hhh, iramanya brak bruk brak bruk..

iya, sih, sendy sebenarnya sedih membaca ceritanya salah satu anak Sayuti Malik itu, ada kesan ga bisa nrimo dan agak dendam ama pemerintah.. (my opinion).. tpi apakah ga ada org2 yang care dan justru membantu meredam sakit hati mereka, karena kalo yang sendy baca itu seakan2 malah banyak yang mengompori, sehingga ada luka sampai bertahun-tahun, sehingga keluarlah komentar sendy kemaren itu,
sebenarnya pengen bilang... Come On, wake up... hadapi..jangan lar.. jangan sembunyi..jangan berlindung di balik kebesaran orgtua..dan bla bla bla.. tpi nanti ada yg bilang.. eh.. emangnya elo siapa ya ??? hhhh...pake merintah2 gitu... (^_^)

hhh.. dan kemudian kisahnya agak lucu pula.. (tdi sedih kok jdi lucu ya ??), udah mengemis di Kanada, trus pake embel2 kafir Kanada.. apa ga haram tuh ngemis ama org kafir ???.. (kalo base on agamanya, ya kalo sama org kafir kan boleh dekat2..apalgi sampe makan dan segalanya dibantu org kafir, napa ga minta ke yg ga kafir ya.. ke arab kek yg kaya raya itu ???,..... pas kebenaran sendy ga beragama, jdi cuman tergelitik aza dengan kata kafir Kanada itu..)

but sekali lagi, ini bukan buat membuat kacau siapapun atau memprovokasi apapun, hanya berdasar kesadaran aza nulisnya, karena yang terlihat adalah seperti itu, so, itu semua apa adanya,, bukan ada apanya. Oke ??

** sepertinya saudaraku Indradewi juga seorng yg butuh pengakuan ya... HHHH (^_^)
so, kuakui.. Indradewi org yg hangat dan ramah... salam semesta selalu

thanks alot ya buat semua pembaca di milis SI ini..
,, (^_^) ,,

------------------------------
Pada Sab, 24 Nov 2012 20:54 Waktu Baku Pasifik [hidden email] menulis:

>
>Salut utk Sendy yg berkenan kasih komentar apa adanya (kebetulan, komentarnya "pedas").
>
>Pengakuan adalah kebutuhan dasar manusia.
>
>Sayangnya, banyak orang yg butuh pengakuan dari pihak2 di luar dirinya. Padahal pengakuan yg sejati dan hakiki justru berasal dari diri sendiri.
>
>Menurut saya, apa pun ucapan, tindakan, sikap, pemikiran, dll, selama itu utk kebaikan dan ketenangan si pelaku (dgn catatan, tdk merugikan org lain), biarkan lah.
>
>Kalau memang Pak Heru Baskoro pribadi dan keluarga "happy and peaceful", just let them be happy and peaceful, we shouldn't be bothered or bother them.
>
>Enjoy your Sunday.....
>
>Indra Dewi
>
>
>
>Sent from my BlackBerry® smartphone from Sinyal Bagus XL, Nyambung Teruuusss...!
>
>-----Original Message-----
>From: "Sendy V" <[hidden email]>
>Sender: [hidden email]
>Date: Sat, 24 Nov 2012 14:12:49
>To: <[hidden email]>
>Reply-To: [hidden email]
>Subject: [Spiritual-Indonesia] Re: Nilai Kepahlawanan
>
>salam semesta,
>
>entah mengapa, pas membaca tulisan di atas, ujung2 nya sendy berpendapat, tetap saja masalah harta dan tahta..
>maksudnya apa ????
>ya, kalo emang bangga jdi org Indonesia, ya hadapilah hidup di Indonesia dengan segala kerumitannya. Kalo omongin anak2 Presiden masih hidup bermewah2 hingga sekarang, juga ttg tentang kemalasan org2 Indonesia, ya sama aza, anaknya Sayuti Malik yg nyari kesenangan juga keliatan malas, buktinya sampe ditanggung ama pemerintah Canada yg tdi sempat disebut kafir... aneh juga ya, kok kesannya munafik gitu.. HHH...
>
>kalo emang bangga jdi org Indonesia, banggakan juga almarhum ortunya, kan udah jelas bahwa orgtuanya berjuang tanpa tanda jasa, sementara sang anak sekarng butuh diakui jasa2 orgtuanya.. pernahkah ya anaknya Sayuti Malik berpikir kalo perjuangan ortunya itu murni, tapi sekrng malah ditetesin sedikit noda karena butuh sebuah pengakuan.. buat apa pengakuan atau penghargaan kepahlawanan itu ? ya buat mempermudah anak2 nya dan cucunya Sayuti Malik, ujung2 nya kan sama aza dengan kemalasan, karena dengan menjdi anaknya seorng pahlawan, semua akan dipermudah.. iya ga ??? pdhal dulunya ortunya berjuang demi negara, sekarang anaknya berjuang buat diri sendiri dengan mencela negaranya.. so, bagi sendy yang membaca tulisan anaknya Sayuti Malik (kalo memang itu benar yg nulis anaknya ya.. ).. maka... kesannya munafik banget.. moga cepat2 bisa disadari... Sayuti Malik banyak diceritakan dalam sejarah2 di sekolah dari tahun ke tahun, so, tanpa gelar pahlawan pun,
byk org yang tau bahwa beliau memang penjuang sejati..

>
>that's my pendapat..atas tulisannya anaknya Sayuti Malik
>
>Nuhun ya.. buat semua..
>
>salam damai semesta..
>
>
>--- In [hidden email], "leonardor" <leonardo_rimba@...> wrote:
>>
>> Kesaksian yg luar biasa sekali. Terimakasih sudah berbagi.
>>
>> Leo
>>
>>
>> --- In [hidden email], "Heru" <heru_bas21@> wrote:
>> >
>> > Ayah dan ibu saya (Sayuti Melik dan S.K. Trimurti)dikubur di Makam Pahlawan di Kali bata. Ada beberapa teman kasih komentar bahwa di kuburan tersebut juga dikuburkan para pengchianat bangsa dan para koruptor. Kata mereka saya harus ikut contoh keluarga Bung Karno, Bung Hatta yang jauh lebih besar ketokohannya dari Sayuti Melik dan S.K. Trimurti tidak mau dikuburkan di taman Pahlawan. Saya jawab, jelas keluarga Bung Hata dan Soekarno adalah orang kaya bisa punya kuburan sendiri yang lebih mewah dari kuburan Kalibata. Buat saya kuburan Kalibata membebaskan saya dari segala biaya penguburan. Bahkan polisi yang mengawal jenasahpun tidak saya kasih uang walaupun mereka minta uang dari saya. Saya bilang kalau tidak mau mengawal silahkan. Sekarang saya sebagai anak pahlawan minta bantuan dari pemerintah kafir Kanada, karena pertama saya tidak suka hidup hipokrit di Indonesia kedua tidak ada perhatian dari pemerintah atas jasa2 orang tua saya.Waktu saya
lahir ibu saya disiksa Jepang sampai tidak bisa memberi air susu kepada saya (waktu itu saya berumur 2 tahun}. Saya hidup dari air tajin. Masih bagus saya masih bisa hidup walaupun kurang gizi waktu kecil. Secara tidak langsung saya ikut berkorban karena perjuangan orang tua saya. Anak2 Soekarno dan Hatta hidupnya mewah2 saja. Apalagi anak2 Soeharto. Sampai sekarang orang tua saya belum mendapat gelar pahlawan. Kalau anda percaya ada kihdupan setelah mati maka mereka pasti tidak mengharapkan gelar tersebut. Tapi saya yang tidak percaya ada kehidupan setelah mati perlu gelar tersebut supaya saya dapat tunjangan dari Pemerintah. Di Kanada baik saya maupun orang tua saya bukan siapa2. Selama di Kanada saya tidak pernah membayar pajak pendapatan, karena saya pindah dari permanent resident US ke permanent resicent Kanada. Di US saya bayar pajak karena bekerja disana. Di Kanada saya yang bukan siapa2 dapat bantuan dari pemerintah Kanada $1,270 sebulan belum
lagi mendapat Care Card tanpa harus bayar premi asuransi. Saya telah dioperasi 3 kali sedang isteri saya di operasi sekali tanpa bayar seperserpun. Saya juga berhak mendapat bantuan ticket Public Transportation untuk Skytrain dan Bus keseluruh zone di Vancouver Area (luasnya mungkin sebesar seluruh daerah Jakarta).Sebagai senior maka obat dari resep dokter hampir semuanya dibayar pemerintah. Disamping itu karena saya adalah penduduk British Columbia yang kalau beli barang tertentu membayar Pajak Penjualan maka setelah saya mengisi Tax Return (isian paja) maka tiap quartal saya mendapat pengembalian sebesar $299.00  Sistim asuransi kesehatan ini yang akan ditiru Obama. Tahun 2014 saya akan dapat pensiun resmi dari pemerintah Kanada (setelah 10 tahun tinggal di Kanada) padahal saya masih tetap warga negara Indonesia. Status saya cuma permanent resident. Kanada bukan negara Pancasila dan masih mengakui Elizabeth sebagai Ratu. Sungguh aneh. Walaupun diberi
kemudahan saya masih bebas untuk mengemukakan pendirian saya bahawa saya anti Ratu Inggris dan keturunannya.

>> > Saya tidak memuji Kanada serta penduduknya. Orang Kanada tidak lebih pintar dari orang Indonesia. Saya ikut kursus matematik disuatu Adult School. Saya dapat 100%(artinya seluruh quiz, test dan exam saya selama kursus selalu 100%. Menurut guru2 sekolah tersebut sudah bertahun2 tidak ada murid yang mendapat angka 100 % disekolah tersebut. Padahal kepandaian matematik saya di Indonesia biasa2 saja.
>> > Saya tidak seperti kebanyakan anak2 yang suka berdemonstrasi membenci negara barat (terutama orang kulit putihnya), tapi kalau menghadapi bule pada minder. Padahal di Kanada banyak bule yang jadi pengemis (sudah dapat bantuan dari pemerintah tapi tidak dapat memanfaatkan bantuan tersebut karena malas dan mennghamburkan uangnya untuk "drug" dll, sehingga mereka jadi pengemis, di Indonesia menjadi pengemis karena terpaksa}. Saya selalu bangga jadi orang Indonesia. Dimana2 saya selalu membanggakan diri saya sebagai orang Indonesia.
>> >
>> > Salam,
>> > Heru Baskoro
>> >
>> >
>> >
>> > --- In [hidden email], semar samiaji <kind_evil_06@> wrote:
>> > >
>> > > Merujuk pada link berikut http://www.tempo.co/read/news/2012/04/12/117396582/David-Cameron-Indonesia-Bisa-Memimpin-Dunia
>> > > memberi refleksi bahwa medan perjuangan salah satu yang utamanya adalah
>> > > melalui dunia pendidikan. Kalau Indonesia mendidik masyarakatnya
>> > > melalui nilai-nilai yang ke luar dari JIWA Pembukaan UUD 1945, semakna
>> > > dengan menanamkan nilai-nilai yang akan menjadi gangguan kejiwaan bagi
>> > > bangsa Indonesia akhirnya.
>> > >
>> > > Kalau kita merujuk kepada penghargaan
>> > > dari Ratu Inggris kepada Presiden  yang diberitakan akhir-akhir ini,
>> > > semestinya (menurut saya), tidak perlu bawa-bawa Indonesianya.
>> > > Silahkan, kalau penghargaan demikian diterima atas nama PRIBADI Pak
>> > > Presiden. Silahkan pelajari dan kaji, latar belakang gelar tersebut
>> > > diberikan oleh para Raja / Ratu Inggris. Diberikan bukan dalam rangka
>> > > hubungan antar-negara, namun diberikan bagi satria melalui proses
>> > > pemandian (dipermandikan) oleh Raja / Ratu Inggris.
>> > >
>> > > Kalau
>> > > kemudian, ada suara-suara yang mengkaitkan pemberian gelar satria
>> > > tersebut dengan urusan investasi Inggris di Indonesia, jangan kemudian
>> > > dibantah begitu saja. Lalu, menyatakan  bahwa pemberian tersebut
>> > > katanya karena prestasi demokrasi Indonesia. Kalau kita rujuk link
>> > > berikut http://www.metrotvnews.com/ekonomi/news/2012/11/02/112274/BP-Siapkan-Investasi-US$12-Miliar-di-Indonesia
>> > > , apakah kemudian bisa dipisahkan antara urusan gelar satria itu dengan
>> > > urusan ekonomi dengan nilai investasi yang aduhai tersebut? Sesaat
>> > > beralihnya rezim Bung Karno kepada Pak Harto, wilayah Irian Barat,
>> > > khususnya Freeport menjadi bagian dari proses peralihannya. Apakah
>> > > kemudian menjadi tidak mungkin, saat ini, Inggris dengan Proyek
>> > > Tangguhnya? Apakah jumlah hingga 12 miliar US$ di wilayah yang
>> > > disengketakan dan dimasalahkan oleh para LSM Inggris dan juga para
>> > > penegak HAM, di mana Indonesia katanya melakukan tindakan melanggar
>> > > HAM. Namun di saat itu pula dijawab melalui
>> > >  bentuk investasi
>> > > pertambangan di wilayah tersebut. Bagaimana bisa meyakini adanya
>> > > keselarasan antara ucap dengan laku perbuatan kalau sudah demikian?
>> > >
>> > > Sebenarnya,
>> > > kita tidak mempermasalahkan bentuk-bentuk investasi bagi Indonesia.
>> > > Yang menjadi masalah, ternyata investasi kemudian merugikan pihak
>> > > Indonesia dalam konteks kehidupan kita yang berupaya menghidupkan
>> > > nilai-nilai kebangsaan dan pengelolaan negara yang selaras dan sejiwa
>> > > dengan Pembukaan UUD 1945. Mari dikaji, silahkan sebutkan, mana bentuk
>> > > investasi, khususnya dalam pertambangan, yang benar-benar berpihak
>> > > kepada Indonesia? Tanah ini dijadikan selain dikuras tambangnya, juga
>> > > dijadikan pasar agar bergantung kepada si penguras tambang. Apakah
>> > > masih kurang cukup peristiwa-peristiwa yang ada selama ini? Apa yang
>> > > terjadi pada urusan energi di Indonesia? Apa yang terjadi di
>> > > wilayah-wilayah tambang yang menghancurkan lingkungan di Indonesia?
>> > > Lalu, melalui kekuatan penguasaan pertambangan, bangsa kita pun berebut
>> > > saling menguasai sumber uang yang terbesar ini. Lalu, masuk ke wilayah
>> > > perebutan kekuasaan, baik dalam cakupan nasional mau pun
>> > >
>> > > internasional. Perjalanan rezim Bung Karno yang begitu "keras"
>> > > melakukan upaya kesetaraan saja kemudian "kalah", bukan? Esensinya
>> > > bukan terletak pada kalahnya, namun kepada SURI TAULADAN kepemimpinan
>> > > yang SETIA dan TAAT kepada nilai-nilai Pembukaan UUD 1945-nya.
>> > >
>> > > Melalui
>> > > refleksi demikian, medan perjuangan bangsa Indonesia kemudian esensinya
>> > > TIDAK terletak pada seakan-akan kalau sudah menerima penghargaan
>> > > kemudian pahlawan atau manusia yang sudah berkorban besar bagi
>> > > negaranya, sebagai mana kejadian di Surabaya 67 tahun yang lalu, bukan?
>> > > Kecuali, baru sebatas pengakuan-pengakuan saja, bukan?
>> > >
>> > > Saat
>> > > terjadinya pertempuran besar di Surabaya, 67 tahun yang lalu, tolok
>> > > ukurnya jelas, yaitu mempertahankan kemerdekaan sebagai negara. Saat
>> > > ini, ukurannya adalah JIWA Pembukaan UUD 1945. Ini perjuangan beratnya,
>> > > upaya tetap menanamkan dan berbuat dengan nilai-nilai Pembukaan UUD
>> > > 1945 tidak mudah, karena dunia umumnya tidak demikian nuansanya.
>> > > Diperlukan suri tauladan yang nyata dan JUJUR. Bukan yang sibuk takut
>> > > karena imagenya menjadi rusak atau buruk.
>> > >
>> > > Pak Presiden
>> > > berpidato katanya Indonesia akan menjadi jembatan kebudayaan dunia.
>> > > Saya yakin dengan itu, tetapi TIDAK dengan cara-cara yang mengedepankan
>> > > nilai-nilai kebudayaan merusak ekonomi negara melalui investasi yang
>> > > merusak alam Indonesia. Tidak dengan cara-cara menunduk, patuh, dan
>> > > taat kepada maunya kepentingan-kepentingan asing melampaui nilai-nilai
>> > > kebudayaan (refleksi Pembukaan UUD 1945) bangsa Indonesia.
>> > >
>> > > Esensi
>> > > nilai-nilai kepahlawanan di era saat ini, TIDAK terletak kepada
>> > > bentuk-bentuk penghargaan yang disematkan oleh manusia. Esensi
>> > > kepahlawanan sejatinya berlaku bagi siapa pun manusia Indonesia yang
>> > > benar-benar atau sungguh-sungguh dengan nilai-nilai kemanusiaan buah
>> > > dari ketuhanannya. Tidak memerlukan bentuk-bentuk pengakuan bahwa sudah
>> > > merasa berjasa, apalagi sambil seret-seret jabatan / kekuasaan. Semua
>> > > bentuk-bentuk kepemimpinan yang tidak demikian PASTI akan ditelanjangi
>> > > sampai ke akar-akarnya. Silahkan, si manusia itu berkelit dan melakukan
>> > > upaya menghindar dari tanggung jawab dan kewenangan yang dititipkan
>> > > kepadanya, mari kita buktikan apakah si manusia nantinya memang
>> > > benar-benar mampu menghindar dari gerak alam semesta.
>> > >
>> > > Semoga YMK beri setetes cahaya kepada setiap hati manusia Indonesia yang masih gelap mata hatinya.
>> > >
>> > > Selamat berjuang. Sekali merdeka tetap merdeka!!
>> > >
>> > > Bogor, 5 November 2012
>> > >
>> > > salam,
>> > > ss
>> > >
>> >
>>
>
>
>


Loading...