Quantcast

Bls: Re: baru belajar matematik

classic Classic list List threaded Threaded
5 messages Options
Reply | Threaded
Open this post in threaded view
|  
Report Content as Inappropriate

Bls: Re: baru belajar matematik

semar samiaji
Selamat malam Bung Andy / Bung Witingurip,

Kita diskusi di awali dari postingan dari Pak Heru. Nuansa yang disampaikan Pak Heru melalui pendekatan matematika, yang mengkaitkan dengan asumsi. Lalu saya berbagi bahwa di dunia matematika ada kata aksioma, sekaligus menyampaikan pemaknaannya.

Saya bertanya, lalu di balik kata superbeing (tentunya dari pendekatan) matematika apakah aksioma atau asumsi sesungguhnya? Dalam konteks demikian, lalu Bung ikutan diskusi sambil seret2 urusan agama samawi dan non-samawi. Yang di diskusikan cara pandang dalam konteks matematika, Bung masukkan unsur urusan agama samawi. Padahal, yang di sampaikan oleh Pak Heru tidak usah terlalu banyak asumsi agar tidak salah berlebihan dalam konteks Tuhan. Sementara saya bertanya, dari sisi aksiomanya (matematika) dalam hal yang tentunya adalah Tuhan.

Upaya yang bisa saya lakukan dalam suasana di atas adalah merespon dengan ikuti gaya Bung itu. Lalu, saya bertanya sesuai runutan di bawah, yang kemudian Bung sampaikan "mengapa mengajukan pertanyaan yang jawabannya sudah jelas?"...Apanya yang jelas??????? Yang mulai ke luar dari konteks matematika Bung sendiri, saya bertanya kok ujug2 sudah jelas (nuansa dari kata bertanya Bung)?? Apanya yang logis ya kalau demikian? Kalo menurut Bung Andy sudah logis, ya saya terima aksioma Bung dech...iya dech..he..he..he...

salam,
ss

From: Witingurip <[hidden email]>;
To: spiritual-indonesia <[hidden email]>;
Subject: Re: [Spiritual-Indonesia] baru belajar matematik
Sent: Mon, Dec 3, 2012 9:36:44 AM

Mengapa bung mengajukan pertanyaan yang jawabannya sudah jelas? Yang bertanya tentu saja orang berpikiran logis dalam menaggapi pernyataan atau klaim bahwa 'segala sesuatu yang ada ini PASTI ada penciptanya'.

Kitab itu hanya disebutkan untuk memberi contoh dalam menjawab pertanyaan bung sendiri. :-)

W

2012/12/3 semar samiaji <[hidden email]>

 

Ijinkan saya tanya ya. Bung berbicara superbeing dalam konteks Maha Pencipta (menurut agama samawi). Lalu, ada pertanyaan, siapa yang ciptakan Maha Pencipta. Siapa yang bertanya pertanyaan tersebut?

Ndak perlu bawa2 kitab dulu deh.

salam,
ss

From: [hidden email] <[hidden email]>;
To: <[hidden email]>;
Subject: Re: Bls: Re: Bls: [Spiritual-Indonesia] baru belajar matematik
Sent: Mon, Dec 3, 2012 6:54:45 AM

Loh, "Superbeing" yang sedang kita bicarakan di sini adalah "Tuhan sang Maha Penciptanya" agama Samawi. Ya jelaslah menurut konsep ajaran agama ini Ia tentu mendahului ajaran agama.

Jika yang dimaksudkan oleh bung SS adalah "superbeing" dalam arti manusia tercerahkan/unggulan yang hidup di antara manusia kebanyakan/biasa, mereka pun telah hadir di muka bumi ini jauh sebelum munculnya agama. Di masyarakat primitif, misalnya, ada tetua yang disebut sebagai "Shaman" yang terpilih oleh para anggota masyarakat itu sebagai pemimpin mereka. Lalu para rshi/empu spiritual yang dituturkan dalam berbagai kitab Upanishad itu pun hidup jauh lebih dulu daripada agama. :-)

W

Sent from my BlackBerry® smartphone from Sinyal Bagus XL, Nyambung Teruuusss...!

From: semar samiaji <[hidden email]>

Sender: [hidden email]

Date: Mon, 3 Dec 2012 14:20:15 +0800 (SGT)

To: Spiritual-Indonesia@yahoogroups com<[hidden email]>

ReplyTo: [hidden email]

Subject: Bls: Re: Bls: [Spiritual-Indonesia] baru belajar matematik

 

Jadi maksud Bung Witingurip, super being di antara manusia memang hadir oleh manusia, hanya untuk mempertanyakan asal muasal agama?

Kalau memang demikian, lebih dahulu kata super being atau hadirnya agama2 yg ada di muka bumi ini?

salam,
ss

From: [hidden email] <[hidden email]>;
To: <[hidden email]>;
Subject: Re: Bls: [Spiritual-Indonesia] baru belajar matematik
Sent: Mon, Dec 3, 2012 5:58:27 AM

Maaf, ikut nimbrung. "Superbeing" dalam konteks sang Maha Pencipta (konsep dogma agama Samawi) memang membawa konsekuensi logis timbulnya pertanyaan "lalu siapa pencipta "Superbeing" sang Maha Pencipta itu, dan demikian seterusnya sampai tidak terbatas (ad infinitum). Konsep "causa prima" sebagai pembelaan diri telah lama menjadi bahan tertawaan para filsuf "non agama Samawi" karena ketidaklogisan awal argumen doktrin Penciptaan agama itu. :-)

W

Sent from my BlackBerry® smartphone from Sinyal Bagus XL, Nyambung Teruuusss...!

From: semar samiaji <[hidden email]>

Sender: [hidden email]

Date: Mon, 3 Dec 2012 11:37:53 +0800 (SGT)

To: Spiritual-Indonesia@yahoogroups com<[hidden email]>

ReplyTo: [hidden email]

Subject: Bls: [Spiritual-Indonesia] baru belajar matematik

 

Di dalam matematika, kita kenal ada bangun segitiga sama sisi. Satu titik yang di puncak saat segitiga dalam posisi berdiri dan di topang salah satu sisinya, dikenal atau diberi sebutan sebagai titik aksioma.

Makna aksioma tidak perlu atau tidak boleh dipertanyakan. Kata ini memiliki pemaknaan berbeda dengan asumsi. Kata asumsi mengandung perlu ada, sehingga baru bisa ada. Tanpa kandungan ada, tidak akan ada / terjadi.

Saat manusia menentukan kata super being, konteksnya aksioma atau asumsi sehingga hadir kata super being?

salam,
ss

From: Heru Baskoro ;
To: Spiritual Indonesia ;
Subject: [Spiritual-Indonesia] baru belajar matematik
Sent: Sat, Dec 1, 2012 11:08:41 PM

Saya baru belajar lagi matematik. Dalam matematik saya belajar bahwa makin banyak asumsi makin besar kemungkinan salah.

Manusia mempelajari alam akan tetapi tidak menemukan jawaban dari mana datngnya alam ini. Secara logika "from something can not comes out from nothing". Jadi alam ini harus ada yang menciptakan yaitu zat yang maha kuasa atau super being. Logika selanjutanya super being tidak mungkin ada kalau tidak ada yang menciptakan, jadi ada pencipta dari si super being. asumsi ini akan berjalan terus tidak ada habis2nya.Kalau jawabannya Tuhan tercipta dengan sendirinya (yang tidak dapat dibuktikan, mengapa tidak berpikir lebih sederhana yaitu alam tidak ada yang menciptakan akan tetapi tercipta dengan sendirinya. Lebih sederhana. Mungkin salah akan tetapi dengan mengasumsikan adanya Tuhan keslahan menjadi diperbesar.

Reply | Threaded
Open this post in threaded view
|  
Report Content as Inappropriate

Re: Bls: Re: baru belajar matematik

Witingurip-2
Hal sesederhana itu tidak memerlukan asumsi dan aksioma, yang diperlukan hanyalah akal sehat biasa dari orang yang dapat berpikir secara logis.

Wah, jangan-jangan bung SS telah ketularan virus korup birokrat bejad: "kalau sesuatu dapai dibuat sulit dan rumit, mengapa mesti dibuat sederhana dan mudah"? Hahahahaaaa...iya deh.

W
Sent from my BlackBerry® smartphone from Sinyal Bagus XL, Nyambung Teruuusss...!

-----Original Message-----
From: semar samiaji <[hidden email]>
Sender: [hidden email]
Date: Mon, 3 Dec 2012 20:50:42
To: Spiritual-Indonesia@yahoogroups com<[hidden email]>
Reply-To: [hidden email]
Subject: Bls: Re: [Spiritual-Indonesia] baru belajar matematik

Selamat malam Bung Andy / Bung Witingurip,

Kita diskusi di awali dari postingan dari Pak Heru. Nuansa yang disampaikan Pak Heru melalui pendekatan matematika, yang mengkaitkan dengan asumsi. Lalu saya berbagi bahwa di dunia matematika ada kata aksioma, sekaligus menyampaikan pemaknaannya.

Saya bertanya, lalu di balik kata superbeing (tentunya dari pendekatan) matematika apakah aksioma atau asumsi sesungguhnya? Dalam konteks demikian, lalu Bung ikutan diskusi sambil seret2 urusan agama samawi dan non-samawi. Yang di diskusikan cara pandang dalam konteks matematika, Bung masukkan unsur urusan agama samawi. Padahal, yang di sampaikan oleh Pak Heru tidak usah terlalu banyak asumsi agar tidak salah berlebihan dalam konteks Tuhan. Sementara saya bertanya, dari sisi aksiomanya (matematika) dalam hal yang tentunya adalah Tuhan.

Upaya yang bisa saya lakukan dalam suasana di atas adalah merespon dengan ikuti gaya Bung itu. Lalu, saya bertanya sesuai runutan di bawah, yang kemudian Bung sampaikan "mengapa mengajukan pertanyaan yang jawabannya sudah jelas?"...Apanya yang jelas??????? Yang mulai ke luar dari konteks matematika Bung sendiri, saya bertanya kok ujug2 sudah jelas (nuansa dari kata bertanya Bung)?? Apanya yang logis ya kalau demikian? Kalo menurut Bung Andy sudah logis, ya saya terima aksioma Bung dech...iya dech..he..he..he...

salam,
ss

From: Witingurip <[hidden email]>;
To: spiritual-indonesia <[hidden email]>;
Subject: Re: [Spiritual-Indonesia] baru belajar matematik
Sent: Mon, Dec 3, 2012 9:36:44 AM

Mengapa bung mengajukan pertanyaan yang jawabannya sudah jelas? Yang bertanya tentu saja orang berpikiran logis dalam menaggapi pernyataan atau klaim bahwa 'segala sesuatu yang ada ini PASTI ada penciptanya'.

Kitab itu hanya disebutkan untuk memberi contoh dalam menjawab pertanyaan bung sendiri. :-)

W

2012/12/3 semar samiaji <[hidden email]>

 

Ijinkan saya tanya ya. Bung berbicara superbeing dalam konteks Maha Pencipta (menurut agama samawi). Lalu, ada pertanyaan, siapa yang ciptakan Maha Pencipta. Siapa yang bertanya pertanyaan tersebut?

Ndak perlu bawa2 kitab dulu deh.

salam,
ss

From: [hidden email] <[hidden email]>;
To: <[hidden email]>;
Subject: Re: Bls: Re: Bls: [Spiritual-Indonesia] baru belajar matematik
Sent: Mon, Dec 3, 2012 6:54:45 AM

Loh, "Superbeing" yang sedang kita bicarakan di sini adalah "Tuhan sang Maha Penciptanya" agama Samawi. Ya jelaslah menurut konsep ajaran agama ini Ia tentu mendahului ajaran agama.

Jika yang dimaksudkan oleh bung SS adalah "superbeing" dalam arti manusia tercerahkan/unggulan yang hidup di antara manusia kebanyakan/biasa, mereka pun telah hadir di muka bumi ini jauh sebelum munculnya agama. Di masyarakat primitif, misalnya, ada tetua yang disebut sebagai "Shaman" yang terpilih oleh para anggota masyarakat itu sebagai pemimpin mereka. Lalu para rshi/empu spiritual yang dituturkan dalam berbagai kitab Upanishad itu pun hidup jauh lebih dulu daripada agama. :-)

W

Sent from my BlackBerry® smartphone from Sinyal Bagus XL, Nyambung Teruuusss...!

From: semar samiaji <[hidden email]>

Sender: [hidden email]

Date: Mon, 3 Dec 2012 14:20:15 +0800 (SGT)

To: Spiritual-Indonesia@yahoogroups com<[hidden email]>

ReplyTo: [hidden email]

Subject: Bls: Re: Bls: [Spiritual-Indonesia] baru belajar matematik

 

Jadi maksud Bung Witingurip, super being di antara manusia memang hadir oleh manusia, hanya untuk mempertanyakan asal muasal agama?

Kalau memang demikian, lebih dahulu kata super being atau hadirnya agama2 yg ada di muka bumi ini?

salam,
ss

From: [hidden email] <[hidden email]>;
To: <[hidden email]>;
Subject: Re: Bls: [Spiritual-Indonesia] baru belajar matematik
Sent: Mon, Dec 3, 2012 5:58:27 AM

Maaf, ikut nimbrung. "Superbeing" dalam konteks sang Maha Pencipta (konsep dogma agama Samawi) memang membawa konsekuensi logis timbulnya pertanyaan "lalu siapa pencipta "Superbeing" sang Maha Pencipta itu, dan demikian seterusnya sampai tidak terbatas (ad infinitum). Konsep "causa prima" sebagai pembelaan diri telah lama menjadi bahan tertawaan para filsuf "non agama Samawi" karena ketidaklogisan awal argumen doktrin Penciptaan agama itu. :-)

W

Sent from my BlackBerry® smartphone from Sinyal Bagus XL, Nyambung Teruuusss...!

From: semar samiaji <[hidden email]>

Sender: [hidden email]

Date: Mon, 3 Dec 2012 11:37:53 +0800 (SGT)

To: Spiritual-Indonesia@yahoogroups com<[hidden email]>

ReplyTo: [hidden email]

Subject: Bls: [Spiritual-Indonesia] baru belajar matematik

 

Di dalam matematika, kita kenal ada bangun segitiga sama sisi. Satu titik yang di puncak saat segitiga dalam posisi berdiri dan di topang salah satu sisinya, dikenal atau diberi sebutan sebagai titik aksioma.

Makna aksioma tidak perlu atau tidak boleh dipertanyakan. Kata ini memiliki pemaknaan berbeda dengan asumsi. Kata asumsi mengandung perlu ada, sehingga baru bisa ada. Tanpa kandungan ada, tidak akan ada / terjadi.

Saat manusia menentukan kata super being, konteksnya aksioma atau asumsi sehingga hadir kata super being?

salam,
ss

From: Heru Baskoro ;
To: Spiritual Indonesia ;
Subject: [Spiritual-Indonesia] baru belajar matematik
Sent: Sat, Dec 1, 2012 11:08:41 PM

Saya baru belajar lagi matematik. Dalam matematik saya belajar bahwa makin banyak asumsi makin besar kemungkinan salah.

Manusia mempelajari alam akan tetapi tidak menemukan jawaban dari mana datngnya alam ini. Secara logika "from something can not comes out from nothing". Jadi alam ini harus ada yang menciptakan yaitu zat yang maha kuasa atau super being. Logika selanjutanya super being tidak mungkin ada kalau tidak ada yang menciptakan, jadi ada pencipta dari si super being. asumsi ini akan berjalan terus tidak ada habis2nya.Kalau jawabannya Tuhan tercipta dengan sendirinya (yang tidak dapat dibuktikan, mengapa tidak berpikir lebih sederhana yaitu alam tidak ada yang menciptakan akan tetapi tercipta dengan sendirinya. Lebih sederhana. Mungkin salah akan tetapi dengan mengasumsikan adanya Tuhan keslahan menjadi diperbesar.


Reply | Threaded
Open this post in threaded view
|  
Report Content as Inappropriate

Re: Bls: Re: baru belajar matematik

David Goh-2
Kalau dilihat dari pembicaraan sejak awal mulanya, sebenarnya ada 4 yang dimasalahkan:
1. Tuhan (super being) tidak ada!
2. Tuhan ada dan menciptakan!
3. Tuhan ada dan tidak menciptakan!
4. Tuhan tidak ada atau ada, emang gua pikirin..ha..ha..ha..ha..

Salam Sejati®

"Siapa yang bersungguh-sungguh,
akan menemukan yang dicarinya"

-----Original Message-----
From: [hidden email]
Sender: [hidden email]
Date: Mon, 3 Dec 2012 15:00:12
To: <[hidden email]>
Reply-To: [hidden email]
Subject: Re: Bls: Re: [Spiritual-Indonesia] baru belajar matematik

Hal sesederhana itu tidak memerlukan asumsi dan aksioma, yang diperlukan hanyalah akal sehat biasa dari orang yang dapat berpikir secara logis.

Wah, jangan-jangan bung SS telah ketularan virus korup birokrat bejad: "kalau sesuatu dapai dibuat sulit dan rumit, mengapa mesti dibuat sederhana dan mudah"? Hahahahaaaa...iya deh.

W
Sent from my BlackBerry® smartphone from Sinyal Bagus XL, Nyambung Teruuusss...!

-----Original Message-----
From: semar samiaji <[hidden email]>
Sender: [hidden email]
Date: Mon, 3 Dec 2012 20:50:42
To: Spiritual-Indonesia@yahoogroups com<[hidden email]>
Reply-To: [hidden email]
Subject: Bls: Re: [Spiritual-Indonesia] baru belajar matematik

Selamat malam Bung Andy / Bung Witingurip,

Kita diskusi di awali dari postingan dari Pak Heru. Nuansa yang disampaikan Pak Heru melalui pendekatan matematika, yang mengkaitkan dengan asumsi. Lalu saya berbagi bahwa di dunia matematika ada kata aksioma, sekaligus menyampaikan pemaknaannya.

Saya bertanya, lalu di balik kata superbeing (tentunya dari pendekatan) matematika apakah aksioma atau asumsi sesungguhnya? Dalam konteks demikian, lalu Bung ikutan diskusi sambil seret2 urusan agama samawi dan non-samawi. Yang di diskusikan cara pandang dalam konteks matematika, Bung masukkan unsur urusan agama samawi. Padahal, yang di sampaikan oleh Pak Heru tidak usah terlalu banyak asumsi agar tidak salah berlebihan dalam konteks Tuhan. Sementara saya bertanya, dari sisi aksiomanya (matematika) dalam hal yang tentunya adalah Tuhan.

Upaya yang bisa saya lakukan dalam suasana di atas adalah merespon dengan ikuti gaya Bung itu. Lalu, saya bertanya sesuai runutan di bawah, yang kemudian Bung sampaikan "mengapa mengajukan pertanyaan yang jawabannya sudah jelas?"...Apanya yang jelas??????? Yang mulai ke luar dari konteks matematika Bung sendiri, saya bertanya kok ujug2 sudah jelas (nuansa dari kata bertanya Bung)?? Apanya yang logis ya kalau demikian? Kalo menurut Bung Andy sudah logis, ya saya terima aksioma Bung dech...iya dech..he..he..he...

salam,
ss

From: Witingurip <[hidden email]>;
To: spiritual-indonesia <[hidden email]>;
Subject: Re: [Spiritual-Indonesia] baru belajar matematik
Sent: Mon, Dec 3, 2012 9:36:44 AM

Mengapa bung mengajukan pertanyaan yang jawabannya sudah jelas? Yang bertanya tentu saja orang berpikiran logis dalam menaggapi pernyataan atau klaim bahwa 'segala sesuatu yang ada ini PASTI ada penciptanya'.

Kitab itu hanya disebutkan untuk memberi contoh dalam menjawab pertanyaan bung sendiri. :-)

W

2012/12/3 semar samiaji <[hidden email]>

 

Ijinkan saya tanya ya. Bung berbicara superbeing dalam konteks Maha Pencipta (menurut agama samawi). Lalu, ada pertanyaan, siapa yang ciptakan Maha Pencipta. Siapa yang bertanya pertanyaan tersebut?

Ndak perlu bawa2 kitab dulu deh.

salam,
ss

From: [hidden email] <[hidden email]>;
To: <[hidden email]>;
Subject: Re: Bls: Re: Bls: [Spiritual-Indonesia] baru belajar matematik
Sent: Mon, Dec 3, 2012 6:54:45 AM

Loh, "Superbeing" yang sedang kita bicarakan di sini adalah "Tuhan sang Maha Penciptanya" agama Samawi. Ya jelaslah menurut konsep ajaran agama ini Ia tentu mendahului ajaran agama.

Jika yang dimaksudkan oleh bung SS adalah "superbeing" dalam arti manusia tercerahkan/unggulan yang hidup di antara manusia kebanyakan/biasa, mereka pun telah hadir di muka bumi ini jauh sebelum munculnya agama. Di masyarakat primitif, misalnya, ada tetua yang disebut sebagai "Shaman" yang terpilih oleh para anggota masyarakat itu sebagai pemimpin mereka. Lalu para rshi/empu spiritual yang dituturkan dalam berbagai kitab Upanishad itu pun hidup jauh lebih dulu daripada agama. :-)

W

Sent from my BlackBerry® smartphone from Sinyal Bagus XL, Nyambung Teruuusss...!

From: semar samiaji <[hidden email]>

Sender: [hidden email]

Date: Mon, 3 Dec 2012 14:20:15 +0800 (SGT)

To: Spiritual-Indonesia@yahoogroups com<[hidden email]>

ReplyTo: [hidden email]

Subject: Bls: Re: Bls: [Spiritual-Indonesia] baru belajar matematik

 

Jadi maksud Bung Witingurip, super being di antara manusia memang hadir oleh manusia, hanya untuk mempertanyakan asal muasal agama?

Kalau memang demikian, lebih dahulu kata super being atau hadirnya agama2 yg ada di muka bumi ini?

salam,
ss

From: [hidden email] <[hidden email]>;
To: <[hidden email]>;
Subject: Re: Bls: [Spiritual-Indonesia] baru belajar matematik
Sent: Mon, Dec 3, 2012 5:58:27 AM

Maaf, ikut nimbrung. "Superbeing" dalam konteks sang Maha Pencipta (konsep dogma agama Samawi) memang membawa konsekuensi logis timbulnya pertanyaan "lalu siapa pencipta "Superbeing" sang Maha Pencipta itu, dan demikian seterusnya sampai tidak terbatas (ad infinitum). Konsep "causa prima" sebagai pembelaan diri telah lama menjadi bahan tertawaan para filsuf "non agama Samawi" karena ketidaklogisan awal argumen doktrin Penciptaan agama itu. :-)

W

Sent from my BlackBerry® smartphone from Sinyal Bagus XL, Nyambung Teruuusss...!

From: semar samiaji <[hidden email]>

Sender: [hidden email]

Date: Mon, 3 Dec 2012 11:37:53 +0800 (SGT)

To: Spiritual-Indonesia@yahoogroups com<[hidden email]>

ReplyTo: [hidden email]

Subject: Bls: [Spiritual-Indonesia] baru belajar matematik

 

Di dalam matematika, kita kenal ada bangun segitiga sama sisi. Satu titik yang di puncak saat segitiga dalam posisi berdiri dan di topang salah satu sisinya, dikenal atau diberi sebutan sebagai titik aksioma.

Makna aksioma tidak perlu atau tidak boleh dipertanyakan. Kata ini memiliki pemaknaan berbeda dengan asumsi. Kata asumsi mengandung perlu ada, sehingga baru bisa ada. Tanpa kandungan ada, tidak akan ada / terjadi.

Saat manusia menentukan kata super being, konteksnya aksioma atau asumsi sehingga hadir kata super being?

salam,
ss

From: Heru Baskoro ;
To: Spiritual Indonesia ;
Subject: [Spiritual-Indonesia] baru belajar matematik
Sent: Sat, Dec 1, 2012 11:08:41 PM

Saya baru belajar lagi matematik. Dalam matematik saya belajar bahwa makin banyak asumsi makin besar kemungkinan salah.

Manusia mempelajari alam akan tetapi tidak menemukan jawaban dari mana datngnya alam ini. Secara logika "from something can not comes out from nothing". Jadi alam ini harus ada yang menciptakan yaitu zat yang maha kuasa atau super being. Logika selanjutanya super being tidak mungkin ada kalau tidak ada yang menciptakan, jadi ada pencipta dari si super being. asumsi ini akan berjalan terus tidak ada habis2nya.Kalau jawabannya Tuhan tercipta dengan sendirinya (yang tidak dapat dibuktikan, mengapa tidak berpikir lebih sederhana yaitu alam tidak ada yang menciptakan akan tetapi tercipta dengan sendirinya. Lebih sederhana. Mungkin salah akan tetapi dengan mengasumsikan adanya Tuhan keslahan menjadi diperbesar.


Reply | Threaded
Open this post in threaded view
|  
Report Content as Inappropriate

Re: Bls: Re: baru belajar matematik

Sisi Gelap
Tetep menyimak dengan seksama,


#jangan lupa bernapas.




Powered by Telkomsel BlackBerry®

-----Original Message-----
From: "David Goh" <[hidden email]>
Sender: [hidden email]
Date: Mon, 3 Dec 2012 15:06:45
To: SI<[hidden email]>
Reply-To: [hidden email]
Subject: Re: Bls: Re: [Spiritual-Indonesia] baru belajar matematik

Kalau dilihat dari pembicaraan sejak awal mulanya, sebenarnya ada 4 yang dimasalahkan:
1. Tuhan (super being) tidak ada!
2. Tuhan ada dan menciptakan!
3. Tuhan ada dan tidak menciptakan!
4. Tuhan tidak ada atau ada, emang gua pikirin..ha..ha..ha..ha..

Salam Sejati®

"Siapa yang bersungguh-sungguh,
akan menemukan yang dicarinya"

-----Original Message-----
From: [hidden email]
Sender: [hidden email]
Date: Mon, 3 Dec 2012 15:00:12
To: <[hidden email]>
Reply-To: [hidden email]
Subject: Re: Bls: Re: [Spiritual-Indonesia] baru belajar matematik

Hal sesederhana itu tidak memerlukan asumsi dan aksioma, yang diperlukan hanyalah akal sehat biasa dari orang yang dapat berpikir secara logis.

Wah, jangan-jangan bung SS telah ketularan virus korup birokrat bejad: "kalau sesuatu dapai dibuat sulit dan rumit, mengapa mesti dibuat sederhana dan mudah"? Hahahahaaaa...iya deh.

W
Sent from my BlackBerry® smartphone from Sinyal Bagus XL, Nyambung Teruuusss...!

-----Original Message-----
From: semar samiaji <[hidden email]>
Sender: [hidden email]
Date: Mon, 3 Dec 2012 20:50:42
To: Spiritual-Indonesia@yahoogroups com<[hidden email]>
Reply-To: [hidden email]
Subject: Bls: Re: [Spiritual-Indonesia] baru belajar matematik

Selamat malam Bung Andy / Bung Witingurip,

Kita diskusi di awali dari postingan dari Pak Heru. Nuansa yang disampaikan Pak Heru melalui pendekatan matematika, yang mengkaitkan dengan asumsi. Lalu saya berbagi bahwa di dunia matematika ada kata aksioma, sekaligus menyampaikan pemaknaannya.

Saya bertanya, lalu di balik kata superbeing (tentunya dari pendekatan) matematika apakah aksioma atau asumsi sesungguhnya? Dalam konteks demikian, lalu Bung ikutan diskusi sambil seret2 urusan agama samawi dan non-samawi. Yang di diskusikan cara pandang dalam konteks matematika, Bung masukkan unsur urusan agama samawi. Padahal, yang di sampaikan oleh Pak Heru tidak usah terlalu banyak asumsi agar tidak salah berlebihan dalam konteks Tuhan. Sementara saya bertanya, dari sisi aksiomanya (matematika) dalam hal yang tentunya adalah Tuhan.

Upaya yang bisa saya lakukan dalam suasana di atas adalah merespon dengan ikuti gaya Bung itu. Lalu, saya bertanya sesuai runutan di bawah, yang kemudian Bung sampaikan "mengapa mengajukan pertanyaan yang jawabannya sudah jelas?"...Apanya yang jelas??????? Yang mulai ke luar dari konteks matematika Bung sendiri, saya bertanya kok ujug2 sudah jelas (nuansa dari kata bertanya Bung)?? Apanya yang logis ya kalau demikian? Kalo menurut Bung Andy sudah logis, ya saya terima aksioma Bung dech...iya dech..he..he..he...

salam,
ss

From: Witingurip <[hidden email]>;
To: spiritual-indonesia <[hidden email]>;
Subject: Re: [Spiritual-Indonesia] baru belajar matematik
Sent: Mon, Dec 3, 2012 9:36:44 AM

Mengapa bung mengajukan pertanyaan yang jawabannya sudah jelas? Yang bertanya tentu saja orang berpikiran logis dalam menaggapi pernyataan atau klaim bahwa 'segala sesuatu yang ada ini PASTI ada penciptanya'.

Kitab itu hanya disebutkan untuk memberi contoh dalam menjawab pertanyaan bung sendiri. :-)

W

2012/12/3 semar samiaji <[hidden email]>

 

Ijinkan saya tanya ya. Bung berbicara superbeing dalam konteks Maha Pencipta (menurut agama samawi). Lalu, ada pertanyaan, siapa yang ciptakan Maha Pencipta. Siapa yang bertanya pertanyaan tersebut?

Ndak perlu bawa2 kitab dulu deh.

salam,
ss

From: [hidden email] <[hidden email]>;
To: <[hidden email]>;
Subject: Re: Bls: Re: Bls: [Spiritual-Indonesia] baru belajar matematik
Sent: Mon, Dec 3, 2012 6:54:45 AM

Loh, "Superbeing" yang sedang kita bicarakan di sini adalah "Tuhan sang Maha Penciptanya" agama Samawi. Ya jelaslah menurut konsep ajaran agama ini Ia tentu mendahului ajaran agama.

Jika yang dimaksudkan oleh bung SS adalah "superbeing" dalam arti manusia tercerahkan/unggulan yang hidup di antara manusia kebanyakan/biasa, mereka pun telah hadir di muka bumi ini jauh sebelum munculnya agama. Di masyarakat primitif, misalnya, ada tetua yang disebut sebagai "Shaman" yang terpilih oleh para anggota masyarakat itu sebagai pemimpin mereka. Lalu para rshi/empu spiritual yang dituturkan dalam berbagai kitab Upanishad itu pun hidup jauh lebih dulu daripada agama. :-)

W

Sent from my BlackBerry® smartphone from Sinyal Bagus XL, Nyambung Teruuusss...!

From: semar samiaji <[hidden email]>

Sender: [hidden email]

Date: Mon, 3 Dec 2012 14:20:15 +0800 (SGT)

To: Spiritual-Indonesia@yahoogroups com<[hidden email]>

ReplyTo: [hidden email]

Subject: Bls: Re: Bls: [Spiritual-Indonesia] baru belajar matematik

 

Jadi maksud Bung Witingurip, super being di antara manusia memang hadir oleh manusia, hanya untuk mempertanyakan asal muasal agama?

Kalau memang demikian, lebih dahulu kata super being atau hadirnya agama2 yg ada di muka bumi ini?

salam,
ss

From: [hidden email] <[hidden email]>;
To: <[hidden email]>;
Subject: Re: Bls: [Spiritual-Indonesia] baru belajar matematik
Sent: Mon, Dec 3, 2012 5:58:27 AM

Maaf, ikut nimbrung. "Superbeing" dalam konteks sang Maha Pencipta (konsep dogma agama Samawi) memang membawa konsekuensi logis timbulnya pertanyaan "lalu siapa pencipta "Superbeing" sang Maha Pencipta itu, dan demikian seterusnya sampai tidak terbatas (ad infinitum). Konsep "causa prima" sebagai pembelaan diri telah lama menjadi bahan tertawaan para filsuf "non agama Samawi" karena ketidaklogisan awal argumen doktrin Penciptaan agama itu. :-)

W

Sent from my BlackBerry® smartphone from Sinyal Bagus XL, Nyambung Teruuusss...!

From: semar samiaji <[hidden email]>

Sender: [hidden email]

Date: Mon, 3 Dec 2012 11:37:53 +0800 (SGT)

To: Spiritual-Indonesia@yahoogroups com<[hidden email]>

ReplyTo: [hidden email]

Subject: Bls: [Spiritual-Indonesia] baru belajar matematik

 

Di dalam matematika, kita kenal ada bangun segitiga sama sisi. Satu titik yang di puncak saat segitiga dalam posisi berdiri dan di topang salah satu sisinya, dikenal atau diberi sebutan sebagai titik aksioma.

Makna aksioma tidak perlu atau tidak boleh dipertanyakan. Kata ini memiliki pemaknaan berbeda dengan asumsi. Kata asumsi mengandung perlu ada, sehingga baru bisa ada. Tanpa kandungan ada, tidak akan ada / terjadi.

Saat manusia menentukan kata super being, konteksnya aksioma atau asumsi sehingga hadir kata super being?

salam,
ss

From: Heru Baskoro ;
To: Spiritual Indonesia ;
Subject: [Spiritual-Indonesia] baru belajar matematik
Sent: Sat, Dec 1, 2012 11:08:41 PM

Saya baru belajar lagi matematik. Dalam matematik saya belajar bahwa makin banyak asumsi makin besar kemungkinan salah.

Manusia mempelajari alam akan tetapi tidak menemukan jawaban dari mana datngnya alam ini. Secara logika "from something can not comes out from nothing". Jadi alam ini harus ada yang menciptakan yaitu zat yang maha kuasa atau super being. Logika selanjutanya super being tidak mungkin ada kalau tidak ada yang menciptakan, jadi ada pencipta dari si super being. asumsi ini akan berjalan terus tidak ada habis2nya.Kalau jawabannya Tuhan tercipta dengan sendirinya (yang tidak dapat dibuktikan, mengapa tidak berpikir lebih sederhana yaitu alam tidak ada yang menciptakan akan tetapi tercipta dengan sendirinya. Lebih sederhana. Mungkin salah akan tetapi dengan mengasumsikan adanya Tuhan keslahan menjadi diperbesar.


Reply | Threaded
Open this post in threaded view
|  
Report Content as Inappropriate

Re: Bls: Re: baru belajar matematik

nanasurjatna
Salam semuanya,

Saya juga baru belajar matematika neh.

1+0=1, n+0 = n, 1-0=1, n-0 = n
Bahasa sederhananya : 0 = kesepakatan
Gunanya untuk menyelesaikan masalah dengan kesepakatan baru.
Contoh kerennya pemakaian persamaan lagrange

0x1=0, nx1 = n, 0/1=0, n/1 = n
Bahasa sederhananya :x1 atau /1=ngaca


Gunanya untuk menyelesaikan masalah dengan penyamaan kesepakatan
Contoh sederhana 1/3+1/6=n,  1/3 disuruh ngaca, x 1, x 2/2 dapet penyelesaiaan.


1x0=0, nx0 = 0, 1/0=ngaco, n/0 =ngaco


Bahasa sederhananya /0=ngaco



Gunanya untuk menghilangkan kenyataan menggunakan kesepakatan.

contoh :
kenyataan : seorang gadis diperkosa beramai-ramai, mengadukan ke polisi minta perlidungan hukum.
kesepakatannya:
- para tersangka bersaksi kejadiannya suka-sama suka bukan perkosa.
- secara hukum para tersangka bukan suami, bukan perkosaan jadi perzinahan
- secara hukum wanita berzinah di hukum mati.
kenyataan lanjutan : sang gadis dihukum mati karena telah mengaku berzinah.


Yg lain diperkenankan untuk bikin rame..

Salam,

Nana






--- Pada Sel, 4/12/12, [hidden email] <[hidden email]> menulis:

Dari: [hidden email] <[hidden email]>
Judul: Re: Bls: Re: [Spiritual-Indonesia] baru belajar matematik
Kepada: [hidden email]
Tanggal: Selasa, 4 Desember, 2012, 9:10 PM










       














Tetep menyimak dengan seksama,


#jangan lupa bernapas.



Powered by Telkomsel BlackBerry®From:  "David Goh" <[hidden email]>
Sender:  [hidden email]
Date: Mon, 3 Dec 2012 15:06:45 +0000To: SI<[hidden email]>ReplyTo:  [hidden email]
Subject: Re: Bls: Re: [Spiritual-Indonesia] baru belajar matematik

 



   
     
     
     












Kalau dilihat dari pembicaraan sejak awal mulanya, sebenarnya ada 4 yang dimasalahkan:
1. Tuhan (super being) tidak ada!
2. Tuhan ada dan menciptakan!
3. Tuhan ada dan tidak menciptakan!
4. Tuhan tidak ada atau ada, emang gua pikirin..ha..ha..ha..ha..
Salam Sejati®

"Siapa yang bersungguh-sungguh,
akan menemukan yang dicarinya"From:  [hidden email]
Sender:  [hidden email]
Date: Mon, 3 Dec 2012 15:00:12 +0000To: <[hidden email]>ReplyTo:  [hidden email]
Subject: Re: Bls: Re: [Spiritual-Indonesia] baru belajar matematik

 



   
     
     
     












Hal sesederhana itu tidak memerlukan asumsi dan aksioma, yang diperlukan hanyalah akal sehat biasa dari orang yang dapat berpikir secara logis.

Wah, jangan-jangan bung SS telah ketularan virus korup birokrat bejad: "kalau sesuatu dapai dibuat sulit dan rumit, mengapa mesti dibuat sederhana dan mudah"? Hahahahaaaa...iya deh.

WSent from my BlackBerry® smartphone from Sinyal Bagus XL, Nyambung Teruuusss...!From:  semar samiaji <[hidden email]>
Sender:  [hidden email]
Date: Mon, 3 Dec 2012 20:50:42 +0800 (SGT)To: Spiritual-Indonesia@yahoogroups com<[hidden email]>ReplyTo:  [hidden email]
Subject: Bls: Re: [Spiritual-Indonesia] baru belajar matematik

 



   
     
     
      Selamat malam Bung Andy / Bung Witingurip,
Kita diskusi di awali dari postingan dari Pak Heru. Nuansa yang disampaikan Pak Heru melalui pendekatan matematika, yang mengkaitkan dengan asumsi. Lalu saya berbagi bahwa di dunia matematika ada kata aksioma, sekaligus menyampaikan pemaknaannya.
Saya bertanya, lalu di balik kata superbeing (tentunya dari pendekatan) matematika apakah aksioma atau asumsi sesungguhnya? Dalam konteks demikian, lalu Bung ikutan diskusi sambil seret2 urusan agama samawi dan non-samawi. Yang di diskusikan cara pandang dalam konteks matematika, Bung masukkan unsur urusan agama samawi. Padahal, yang di sampaikan oleh Pak Heru tidak usah terlalu banyak asumsi agar tidak salah berlebihan dalam konteks Tuhan. Sementara saya bertanya, dari sisi aksiomanya (matematika) dalam hal yang tentunya adalah Tuhan.
Upaya yang bisa saya lakukan dalam suasana di atas adalah merespon dengan ikuti gaya Bung itu. Lalu, saya bertanya sesuai runutan di bawah, yang kemudian Bung sampaikan "mengapa mengajukan pertanyaan yang jawabannya sudah jelas?"...Apanya yang jelas??????? Yang mulai ke luar dari konteks matematika Bung sendiri, saya bertanya kok ujug2 sudah jelas (nuansa dari kata bertanya Bung)?? Apanya yang logis ya kalau demikian? Kalo menurut Bung Andy sudah logis, ya saya terima aksioma Bung dech...iya dech..he..he..he...
salam,

ss
From: Witingurip ;

To: spiritual-indonesia ;

Subject: Re: [Spiritual-Indonesia] baru belajar matematik

Sent: Mon, Dec 3, 2012 9:36:44 AM


Mengapa bung mengajukan pertanyaan yang jawabannya sudah jelas? Yang bertanya tentu saja orang berpikiran logis dalam menaggapi pernyataan atau klaim bahwa 'segala sesuatu yang ada ini PASTI ada penciptanya'.
Kitab itu hanya disebutkan untuk memberi contoh dalam menjawab pertanyaan bung sendiri. :-)
W


2012/12/3 semar samiaji  
 
Ijinkan saya tanya ya. Bung berbicara superbeing dalam konteks Maha Pencipta (menurut agama samawi). Lalu, ada pertanyaan, siapa yang ciptakan Maha Pencipta. Siapa yang bertanya pertanyaan tersebut?
Ndak perlu bawa2 kitab dulu deh.
salam,

ss

From: [hidden email] ;

To:  ;

Subject: Re: Bls: Re: Bls: [Spiritual-Indonesia] baru belajar matematik

Sent: Mon, Dec 3, 2012 6:54:45 AM


Loh, "Superbeing" yang sedang kita bicarakan di sini adalah "Tuhan sang Maha Penciptanya" agama Samawi. Ya jelaslah menurut konsep ajaran agama ini Ia tentu mendahului ajaran agama.
Jika yang dimaksudkan oleh bung SS adalah "superbeing" dalam arti manusia tercerahkan/unggulan yang hidup di antara manusia kebanyakan/biasa, mereka pun telah hadir di muka bumi ini jauh sebelum munculnya agama. Di masyarakat primitif, misalnya, ada tetua yang disebut sebagai "Shaman" yang terpilih oleh para anggota masyarakat itu sebagai pemimpin mereka. Lalu para rshi/empu spiritual yang dituturkan dalam berbagai kitab Upanishad itu pun hidup jauh lebih dulu daripada agama. :-)
W
Sent from my BlackBerry® smartphone from Sinyal Bagus XL, Nyambung Teruuusss...!
From: semar samiaji  
Sender: [hidden email]
Date: Mon, 3 Dec 2012 14:20:15 +0800 (SGT)
To: Spiritual-Indonesia@yahoogroups com
ReplyTo: [hidden email]
Subject: Bls: Re: Bls: [Spiritual-Indonesia] baru belajar matematik

 
Jadi maksud Bung Witingurip, super being di antara manusia memang hadir oleh manusia, hanya untuk mempertanyakan asal muasal agama?
Kalau memang demikian, lebih dahulu kata super being atau hadirnya agama2 yg ada di muka bumi ini?
salam,

ss

From: [hidden email] ;

To:  ;

Subject: Re: Bls: [Spiritual-Indonesia] baru belajar matematik

Sent: Mon, Dec 3, 2012 5:58:27 AM


Maaf, ikut nimbrung. "Superbeing" dalam konteks sang Maha Pencipta (konsep dogma agama Samawi) memang membawa konsekuensi logis timbulnya pertanyaan "lalu siapa pencipta "Superbeing" sang Maha Pencipta itu, dan demikian seterusnya sampai tidak terbatas (ad infinitum). Konsep "causa prima" sebagai pembelaan diri telah lama menjadi bahan tertawaan para filsuf "non agama Samawi" karena ketidaklogisan awal argumen doktrin Penciptaan agama itu. :-)
W
Sent from my BlackBerry® smartphone from Sinyal Bagus XL, Nyambung Teruuusss...!
From: semar samiaji  
Sender: [hidden email]
Date: Mon, 3 Dec 2012 11:37:53 +0800 (SGT)
To: Spiritual-Indonesia@yahoogroups com
ReplyTo: [hidden email]
Subject: Bls: [Spiritual-Indonesia] baru belajar matematik

 
Di dalam matematika, kita kenal ada bangun segitiga sama sisi. Satu titik yang di puncak saat segitiga dalam posisi berdiri dan di topang salah satu sisinya, dikenal atau diberi sebutan sebagai titik aksioma.
Makna aksioma tidak perlu atau tidak boleh dipertanyakan. Kata ini memiliki pemaknaan berbeda dengan asumsi. Kata asumsi mengandung perlu ada, sehingga baru bisa ada. Tanpa kandungan ada, tidak akan ada / terjadi.
Saat manusia menentukan kata super being, konteksnya aksioma atau asumsi sehingga hadir kata super being?
salam,

ss
From: Heru Baskoro ;

To: Spiritual Indonesia ;

Subject: [Spiritual-Indonesia] baru belajar matematik

Sent: Sat, Dec 1, 2012 11:08:41 PM
Saya baru belajar lagi matematik. Dalam matematik saya belajar bahwa makin banyak asumsi makin besar kemungkinan salah.
Manusia mempelajari alam akan tetapi tidak menemukan jawaban dari mana datngnya alam ini. Secara logika "from something can not comes out from nothing". Jadi alam ini harus ada yang menciptakan yaitu zat yang maha kuasa atau super being. Logika selanjutanya super being tidak mungkin ada kalau tidak ada yang menciptakan, jadi ada pencipta dari si super being. asumsi ini akan berjalan terus tidak ada habis2nya.Kalau jawabannya Tuhan tercipta dengan sendirinya (yang tidak dapat dibuktikan, mengapa tidak berpikir lebih sederhana yaitu alam tidak ada yang menciptakan akan tetapi tercipta dengan sendirinya. Lebih sederhana. Mungkin salah akan tetapi dengan mengasumsikan adanya Tuhan keslahan menjadi diperbesar.



   
     

   










   
     

   









   
     

   










   
   










Loading...