Quantcast

From Zero to Zero - Oleh Aajin Sangmusafir

classic Classic list List threaded Threaded
2 messages Options
Reply | Threaded
Open this post in threaded view
|  
Report Content as Inappropriate

From Zero to Zero - Oleh Aajin Sangmusafir

Leonardo Rimba
Administrator
Bagian Satu Seorang teman menulis PM
berbunyi " ... apakah Aa pernah membaca buku ini ttg Yesus/ Issa yg
konon pernah ke India, selamat dari hukuman salib dan mati tua di
sekitar Khasmir? Buku ini sangat kontroversial dan apabila terbukti
benar dapat meruntuhkan pengaruh dan kuasa gereja2 terhadap umat
kristiani. Bgmn pendapat Aa?" Jawaban saya: Sudah
saya jawab di Dee bagian 3. Di situ saya katakan bahwa Yesus, kalaupun
benar2 pernah ada, adalah seorang rabbi dari tradisi Farisi dan bisa
jadi seorang murid tokoh karismatik yaitu rabbi Hilel, atau setidaknya
Yesus terpengaruh dengan pemikiran rabbi Hilel. Ini terlihat dari Doa
Bapa Kami yg ia ajarkan, sebenarnya adalah versi lain dari doa yg
diajarkan Rabbi Hillel. Namun nampaknya Yesus lebih
tertarik menjadi petapa padang gurun, berguru pada Yohanes Pembaptis
dan mengusahakan suatu gerakan teokrasi dan pengusiran pada kaum
penjajah Roma. Ia mati dihukum atas inisiatif Gubernur Romawi Pontius
Pilatus yg merasa geram dengan tindak-tanduknya. Tidak
ada bukti yang kuat mengenai perjalanannya ke India dan Tibet. Karya
Anand Krishna memperlihatkan bagaimana spiritualis bisa sangat keliru
apabila pengetahuannya didasari atas intuitif subyektif belaka. Dan
saya bukan orang semacam itu. Spiritualitas itu memerlukan
rasionalitas, bukan kotbah2 orang dengan deretan titel KH, atau Pdt,
atau YA / Yang Arya. <Keterangan
gambar: Yesus dari Nazaret upppss maaf, Yesus dari Tibet yang sedang
bermeditasi. Rumor kunjungan Yesus ke India dan Tibet adalah upaya
politik relijius kaum Hindu untuk menjinakkan Yesus dan agama kristen
yang oleh Barat dianggap agama superior, namun  sebenarnya  ajarannya
masih kalah dalamnya dengan Hinduisme dan Buddhisme>   Kembali
pada Yesus. Para ahli sejarah malah kebingungan karena tidak ada
catatan ttg kehidupan Yesus di luar catatan komunitas kristen itu
sendiri. Kita berharap setidaknya apabila Yesus pernah benar2 menjadi
tokoh historis yang berinisiati...f mendirikan pemerintahan teokrasi ia
seharusnya tercatat dalam laporan2 sejarahwan romawi yang dipekerjakan
di kegubernuran Yudea. Kenyataannya tidak pernah ada catatan ttg Yesus.
Ini membuktikan bahwa kalaupun Yesus pernah benar2 hidup, ia hanyalah
seorang rabbi sederhana dari kampung Galilea yang tidak begitu dikenal
orang sampai penyalibannya sekalipun. Adapun kisah-kisah
tentang Yesus hanya terdapat dalam lingkaran komunitas kristen belaka,
suatu penuturan yang sudah tidak faktual historis lagi, lebih merupakan
perspektif iman dan ekspresi kekaguman dari murid-murid kepada seorang
guru. Jadi Yesus yang melakukan mujizat ini itu bukanlah kisah faktual
dan historis , melainkan kisah-kisah mediatif untuk menyampaikan pesan
dan ideologi si pembuat kisah itu, dalam hal ini adalah komunitas2
kristen yang tersebar dengan berbagai latar belakang dan perspektif
keimanan yang berbeda2. Puluhan dan ratusan tahun kemudian,
mazhab-mazhab ini diupayakan kesatuannya oleh gereja-gereja utama, yang
nantinya menjadi 5 patriakat: Katolik Roma, Katolik Ortodox, Koptik
Mesir, Ortodox Syria, Ortodox Yerusalem. Diluar kelima itu adalah
menyimpang atau heterodox  atau sesat. Sesat kata siapa? Kata mereka
yang merasa lurus atau ortodox. Subyektif sekali bukan? Melabeli pihak
lain sebagai sesat dan menyesatkan adalah ciri utama sejarah
agama-agama dan itu yang kita lihat dengan mata kepala kita sendiri di
Indonesia saat ini. Begitu pula kasusnya dengan Muhammad.
Tidak ada secuilpun rujukan tentang kehidupan seorang nabi dari arab
pada awal abad 6-7 M yang tertulis dalam catatan2 komunitas lain.
Padahal secara logis, manusia dengan sederet pengaguman dari
komunitasnya, dan dengan manuver2 luar biasa seperti yang dikisahkan
oleh umat islam tentang muhammad, seharusnya menarik minat para
sejarahwan lain. Para orientalis memberi kita fakta bahwa
nama Muhammad sendiri baru muncul sekitar abad 8M , puluhan tahun
setelah invasi bangsa Arab ke Palestina. Bahkan tulisan di Dome of The
Rock sendiri tidak mengisahkan apa2 tentang kisah Isra Miraj. Hal ini
memberi indikasi bahwa islam adalah agama yang kisah2nya mengalami
evolusi, berasal dari berbagai kisah2 kecil dan kemudian disatukan oleh
sekelompok elit dan dijadikan kisah baku yang harus diimani begitu saja
oleh umatnya.  <Keterangan
Gambar : Kisah Isra Miraj adalah gerilya politik religius kaum Arab
untuk meninggikan Muhammad mengatasi Yesus, Musa, Abraham dan
Zoroaster.>  Berangkat dari kritik-kritik
historis ini seharusnya kita menyadari bahwa agama, kalaupun anda masih
tertarik pada agama, bukan sekedar mempercayai ini itu seturut dengan
syahadat atau kredo, namun seharusnya memberi makna pada hidup ini
dengan suatu sikap hidup yang anda percayai sebagai guide kepada
kehidupan yang bermakna, bukan tentang benar dan salah, duniawi dan
akherat.    Bagian dua Lanny Theresia menulis komen demikian : “ … and what do you think and you know about sidharta   gautama.....,please share...”  Jawaban saya: Saya
pernah menulis spt ini di salah satu note saya: "Buddha, Yesus,
Krishna, Muhammad dan tokoh2 spiritual lain adalah bahan mentah
ditangan para ideolog dan pujangga. Bahan-bahan mentah ini diracik
sedemikian rupa dalam style si pujangga dan ideolog sehingga menjadi
roti bercitarasa tertentu." Kritik yang sama bisa
diaplikasikan pada sosok Buddha Gautama. Tidak ada catatan apapun
tentang kehidupan Petapa Gautama di luar buddhisme. Mungkinkah
Buddha Gautama pernah hidup? bisa ya, bisa juga tidak. Saya pribadi
percaya bahwa Gautama memang pernah hidup dan berkarya. Hanya saja
tidak persis seperti yang dituturkan dalam tripitaka, baik itu versi
Theravada maupun Mahayana. Kalau ibu Lanny perhatikan tulisan2 saya,
saya lebih senang merujuk kepada Gautama dengan panggilan Petapa
Gautama, bukan Buddha Gautama. Mengapa? karena panggilan Buddha Gautama
telah mengalami permak-permak keimanan, sehingga kemanusiaannya
terabaikan. Titik pijak saya ini ternyata mendapat
sandaran dari lingkaran komunitas buddhisme itu sendiri. Tak kurang
dari seorang biksu dan penulis ternama bernama Buddhadasa yang pernah
menuliskan bahwa kisah-kisah Gautama telah berevolusi dari sejarah
kepada legenda dan mitos. Namun ia menegaskan bahwa pilar buddhisme
bukanlah sosok Buddha itu sendiri. Namun filsafat sunyata. Ada atau
tidak ada figure Buddha bukan masalah utama. Bahkan jika Gautama tidak
pernah hidup, buddhisme nyata-nyata adalah spiritualitas yang berbasis
pada etika dan filsafat, bukan agama yang disandarkan pada sosok tokoh
seperti halnya Islam dengan Muhammadnya dan Kristen dengan Yesusnya.<untuk buku karangan Buddhadasa silahkan anda tanyakan pada orang   buddhis sendiri. Saya sendiri lupa apa nama buku itu> Para
penulis jaman dahulu, dalam tiap budaya dan latar belakang ideologi
agama, terbiasa dengan pelebih-lebihan berita. Misi penulisan mereka
bukan tanpa motif. Misi mereka adalah untuk mengajak si pembaca
mengikuti keyakinan mereka. Mereka merujuk kepada pilahan-plahan
sejarah untuk mengabsahkan keimanan mereka sendiri, bukan untuk
menghadirkan fakta2 yang sesungguhnya terjadi. <Keterangan
gambar: Kisah Kunjungan Buddha Ke surga 33 Langit, Surganya Dewa
Indra,  adalah gerilya politik relijius Buddhisme untuk meninggikan
Buddha di atas dewa-dewa Hindu.>  Jadi
dalam tiap agama ada satu hal yang harus kita pahami : adanya tokoh
agama yang manusiawi yang tidak lepas dari kekeliruan dan batas-batas
kemanusiaan yang kemudian setelah beberapa puluh bahkan ratusan tahun
menjadi tokoh keimanan, mengalami deifikasi atau pengilahian,
berkarakter superstar, menjadi sosok sempurna, tanpa cacat dan dosa,
yang tidak bisa dikritik dan dipersalahkan. Dalam Kristen : Yesus yang manusia sejarah menjadi Yesus Kristus.Dalam
Islam :  pemimpin klan quraisy yang namanya tidak dikenal sebelumnya
menjadi nabi Muhammad, dan dalam Buddhisme - Petapa Gotama yang menjadi
Buddha Gautama.  Jadi cocoklah tokoh-tokoh diatas
saya katakan from zero to hero. Dari sosok manusia sejarah yang seperti
anda dan saya, memiliki keterbatasan, kekeliruan dan kesalahpengertian,
berevolusi menjadi tokoh-tokoh keimanan yang superstar, penuh atribut
pemujaan dan deifikasi. Jadi siapa yang membuat mereka begitu agung dan mulia? Ya para   pengikutnya.Siapa yang berperan dalam evolusi agama-agama ini? Ya para   pengikutnya juga.Siapa pula yang tertipu dan terjerat dalam kebodohan yang super heboh   ini? Ya pengikutnya juga. Berbahagialah mereka yang sadar dan terbangunkan dari ilusi maha   besar ini.

Reply | Threaded
Open this post in threaded view
|  
Report Content as Inappropriate

Re: From Zero to Zero - Oleh Aajin Sangmusafir

Leonardo Rimba
Administrator
Sorry friends,

Judulnya yg benar adalah "From Zero to Hero".

Cuma beda satu huruf, mohon dimaklumi karena Jibril tadi pagi masih ngantuk waktu nurunin ayat itu.



--- In [hidden email], Leonardo Rimba <leonardo_rimba@...> wrote:

>
> Bagian Satu Seorang teman menulis PM
> berbunyi " ... apakah Aa pernah membaca buku ini ttg Yesus/ Issa yg
> konon pernah ke India, selamat dari hukuman salib dan mati tua di
> sekitar Khasmir? Buku ini sangat kontroversial dan apabila terbukti
> benar dapat meruntuhkan pengaruh dan kuasa gereja2 terhadap umat
> kristiani. Bgmn pendapat Aa?" Jawaban saya: Sudah
> saya jawab di Dee bagian 3. Di situ saya katakan bahwa Yesus, kalaupun
> benar2 pernah ada, adalah seorang rabbi dari tradisi Farisi dan bisa
> jadi seorang murid tokoh karismatik yaitu rabbi Hilel, atau setidaknya
> Yesus terpengaruh dengan pemikiran rabbi Hilel. Ini terlihat dari Doa
> Bapa Kami yg ia ajarkan, sebenarnya adalah versi lain dari doa yg
> diajarkan Rabbi Hillel. Namun nampaknya Yesus lebih
> tertarik menjadi petapa padang gurun, berguru pada Yohanes Pembaptis
> dan mengusahakan suatu gerakan teokrasi dan pengusiran pada kaum
> penjajah Roma. Ia mati dihukum atas inisiatif Gubernur Romawi Pontius
> Pilatus yg merasa geram dengan tindak-tanduknya. Tidak
> ada bukti yang kuat mengenai perjalanannya ke India dan Tibet. Karya
> Anand Krishna memperlihatkan bagaimana spiritualis bisa sangat keliru
> apabila pengetahuannya didasari atas intuitif subyektif belaka. Dan
> saya bukan orang semacam itu. Spiritualitas itu memerlukan
> rasionalitas, bukan kotbah2 orang dengan deretan titel KH, atau Pdt,
> atau YA / Yang Arya. <Keterangan
> gambar: Yesus dari Nazaret upppss maaf, Yesus dari Tibet yang sedang
> bermeditasi. Rumor kunjungan Yesus ke India dan Tibet adalah upaya
> politik relijius kaum Hindu untuk menjinakkan Yesus dan agama kristen
> yang oleh Barat dianggap agama superior, namun  sebenarnya  ajarannya
> masih kalah dalamnya dengan Hinduisme dan Buddhisme>   Kembali
> pada Yesus. Para ahli sejarah malah kebingungan karena tidak ada
> catatan ttg kehidupan Yesus di luar catatan komunitas kristen itu
> sendiri. Kita berharap setidaknya apabila Yesus pernah benar2 menjadi
> tokoh historis yang berinisiati...f mendirikan pemerintahan teokrasi ia
> seharusnya tercatat dalam laporan2 sejarahwan romawi yang dipekerjakan
> di kegubernuran Yudea. Kenyataannya tidak pernah ada catatan ttg Yesus.
> Ini membuktikan bahwa kalaupun Yesus pernah benar2 hidup, ia hanyalah
> seorang rabbi sederhana dari kampung Galilea yang tidak begitu dikenal
> orang sampai penyalibannya sekalipun. Adapun kisah-kisah
> tentang Yesus hanya terdapat dalam lingkaran komunitas kristen belaka,
> suatu penuturan yang sudah tidak faktual historis lagi, lebih merupakan
> perspektif iman dan ekspresi kekaguman dari murid-murid kepada seorang
> guru. Jadi Yesus yang melakukan mujizat ini itu bukanlah kisah faktual
> dan historis , melainkan kisah-kisah mediatif untuk menyampaikan pesan
> dan ideologi si pembuat kisah itu, dalam hal ini adalah komunitas2
> kristen yang tersebar dengan berbagai latar belakang dan perspektif
> keimanan yang berbeda2. Puluhan dan ratusan tahun kemudian,
> mazhab-mazhab ini diupayakan kesatuannya oleh gereja-gereja utama, yang
> nantinya menjadi 5 patriakat: Katolik Roma, Katolik Ortodox, Koptik
> Mesir, Ortodox Syria, Ortodox Yerusalem. Diluar kelima itu adalah
> menyimpang atau heterodox  atau sesat. Sesat kata siapa? Kata mereka
> yang merasa lurus atau ortodox. Subyektif sekali bukan? Melabeli pihak
> lain sebagai sesat dan menyesatkan adalah ciri utama sejarah
> agama-agama dan itu yang kita lihat dengan mata kepala kita sendiri di
> Indonesia saat ini. Begitu pula kasusnya dengan Muhammad.
> Tidak ada secuilpun rujukan tentang kehidupan seorang nabi dari arab
> pada awal abad 6-7 M yang tertulis dalam catatan2 komunitas lain.
> Padahal secara logis, manusia dengan sederet pengaguman dari
> komunitasnya, dan dengan manuver2 luar biasa seperti yang dikisahkan
> oleh umat islam tentang muhammad, seharusnya menarik minat para
> sejarahwan lain. Para orientalis memberi kita fakta bahwa
> nama Muhammad sendiri baru muncul sekitar abad 8M , puluhan tahun
> setelah invasi bangsa Arab ke Palestina. Bahkan tulisan di Dome of The
> Rock sendiri tidak mengisahkan apa2 tentang kisah Isra Miraj. Hal ini
> memberi indikasi bahwa islam adalah agama yang kisah2nya mengalami
> evolusi, berasal dari berbagai kisah2 kecil dan kemudian disatukan oleh
> sekelompok elit dan dijadikan kisah baku yang harus diimani begitu saja
> oleh umatnya.  <Keterangan
> Gambar : Kisah Isra Miraj adalah gerilya politik religius kaum Arab
> untuk meninggikan Muhammad mengatasi Yesus, Musa, Abraham dan
> Zoroaster.>  Berangkat dari kritik-kritik
> historis ini seharusnya kita menyadari bahwa agama, kalaupun anda masih
> tertarik pada agama, bukan sekedar mempercayai ini itu seturut dengan
> syahadat atau kredo, namun seharusnya memberi makna pada hidup ini
> dengan suatu sikap hidup yang anda percayai sebagai guide kepada
> kehidupan yang bermakna, bukan tentang benar dan salah, duniawi dan
> akherat.    Bagian dua Lanny Theresia menulis komen demikian : “ … and what do you think and you know about sidharta   gautama.....,please share...”  Jawaban saya: Saya
> pernah menulis spt ini di salah satu note saya: "Buddha, Yesus,
> Krishna, Muhammad dan tokoh2 spiritual lain adalah bahan mentah
> ditangan para ideolog dan pujangga. Bahan-bahan mentah ini diracik
> sedemikian rupa dalam style si pujangga dan ideolog sehingga menjadi
> roti bercitarasa tertentu." Kritik yang sama bisa
> diaplikasikan pada sosok Buddha Gautama. Tidak ada catatan apapun
> tentang kehidupan Petapa Gautama di luar buddhisme. Mungkinkah
> Buddha Gautama pernah hidup? bisa ya, bisa juga tidak. Saya pribadi
> percaya bahwa Gautama memang pernah hidup dan berkarya. Hanya saja
> tidak persis seperti yang dituturkan dalam tripitaka, baik itu versi
> Theravada maupun Mahayana. Kalau ibu Lanny perhatikan tulisan2 saya,
> saya lebih senang merujuk kepada Gautama dengan panggilan Petapa
> Gautama, bukan Buddha Gautama. Mengapa? karena panggilan Buddha Gautama
> telah mengalami permak-permak keimanan, sehingga kemanusiaannya
> terabaikan. Titik pijak saya ini ternyata mendapat
> sandaran dari lingkaran komunitas buddhisme itu sendiri. Tak kurang
> dari seorang biksu dan penulis ternama bernama Buddhadasa yang pernah
> menuliskan bahwa kisah-kisah Gautama telah berevolusi dari sejarah
> kepada legenda dan mitos. Namun ia menegaskan bahwa pilar buddhisme
> bukanlah sosok Buddha itu sendiri. Namun filsafat sunyata. Ada atau
> tidak ada figure Buddha bukan masalah utama. Bahkan jika Gautama tidak
> pernah hidup, buddhisme nyata-nyata adalah spiritualitas yang berbasis
> pada etika dan filsafat, bukan agama yang disandarkan pada sosok tokoh
> seperti halnya Islam dengan Muhammadnya dan Kristen dengan Yesusnya.<untuk buku karangan Buddhadasa silahkan anda tanyakan pada orang   buddhis sendiri. Saya sendiri lupa apa nama buku itu> Para
> penulis jaman dahulu, dalam tiap budaya dan latar belakang ideologi
> agama, terbiasa dengan pelebih-lebihan berita. Misi penulisan mereka
> bukan tanpa motif. Misi mereka adalah untuk mengajak si pembaca
> mengikuti keyakinan mereka. Mereka merujuk kepada pilahan-plahan
> sejarah untuk mengabsahkan keimanan mereka sendiri, bukan untuk
> menghadirkan fakta2 yang sesungguhnya terjadi. <Keterangan
> gambar: Kisah Kunjungan Buddha Ke surga 33 Langit, Surganya Dewa
> Indra,  adalah gerilya politik relijius Buddhisme untuk meninggikan
> Buddha di atas dewa-dewa Hindu.>  Jadi
> dalam tiap agama ada satu hal yang harus kita pahami : adanya tokoh
> agama yang manusiawi yang tidak lepas dari kekeliruan dan batas-batas
> kemanusiaan yang kemudian setelah beberapa puluh bahkan ratusan tahun
> menjadi tokoh keimanan, mengalami deifikasi atau pengilahian,
> berkarakter superstar, menjadi sosok sempurna, tanpa cacat dan dosa,
> yang tidak bisa dikritik dan dipersalahkan. Dalam Kristen : Yesus yang manusia sejarah menjadi Yesus Kristus.Dalam
> Islam :  pemimpin klan quraisy yang namanya tidak dikenal sebelumnya
> menjadi nabi Muhammad, dan dalam Buddhisme - Petapa Gotama yang menjadi
> Buddha Gautama.  Jadi cocoklah tokoh-tokoh diatas
> saya katakan from zero to hero. Dari sosok manusia sejarah yang seperti
> anda dan saya, memiliki keterbatasan, kekeliruan dan kesalahpengertian,
> berevolusi menjadi tokoh-tokoh keimanan yang superstar, penuh atribut
> pemujaan dan deifikasi. Jadi siapa yang membuat mereka begitu agung dan mulia? Ya para   pengikutnya.Siapa yang berperan dalam evolusi agama-agama ini? Ya para   pengikutnya juga.Siapa pula yang tertipu dan terjerat dalam kebodohan yang super heboh   ini? Ya pengikutnya juga. Berbahagialah mereka yang sadar dan terbangunkan dari ilusi maha   besar ini.
>


Loading...