Quantcast

Habib Salim bin Jindan, Ulama dan Pejuang Kemerdekaan

classic Classic list List threaded Threaded
13 messages Options
Reply | Threaded
Open this post in threaded view
|  
Report Content as Inappropriate

Habib Salim bin Jindan, Ulama dan Pejuang Kemerdekaan

yusa nugroho
Habib Salim bin Jindan, Ulama dan Pejuang Kemerdekaan

Ulama habaib Jakarta ini menguasai beberapa ilmu agama. Banyak ulama dan habaib berguru kepadanya. Koleksi kitabnya berjumlah ratusan. Ia juga pejuang kemerdekaan. Pada periode 1940-1960, di Jakarta ada tiga habaib yang seiring sejalan dalam berdakwah. Mereka itu: Habib Ali bin Abdurahman Alhabsyi (Kwitang), Ali bin Husein Alatas (Bungur) dan Habib Salim bin Jindan (Otista). Hampir semua habaib dan ulama di Jakarta berguru kepada mereka, terutama kepada Habib Salim bin Jindan - yang memiliki koleksi sekitar 15.000 kitab, termasuk kitab yang langka. Sementara Habib Salim sendiri menulis sekitar 100 kitab, antara lain tentang hadits dan tarikh, termasuk yang belum dicetak.

Lahir di Surabaya pada 18 Rajab 1324 (7 September 1906) dan wafat di Jakarta pada 16 Rabiulawal 1389 (1 Juni 1969), nama lengkapnya Habib Salim bin Ahmad bin Husain bin Saleh bin Abdullah bin Umar bin Abdullah bin Jindan. Seperti lazimnya para ulama, sejak kecil ia juga mendapat pendidikan agama dari ayahandanya.

Menginjak usia remaja ia memperdalam agama kepada Habib Abdullah bin Muhsin Alatas (Habib Empang, Bogor), Habib Muhammad bin Ahmad Al-Muhdhar (Bondowoso), Habib Muhammad bin Idrus Alhabsyi (Surabaya), Habib Abubakar bin Muhammad Assegaf (Gresik), K.H. Cholil bin Abdul Muthalib (Kiai Cholil Bangkalan), dan Habib Alwi bin Abdullah Syahab di Tarim, Hadramaut.
Selain itu ia juga berguru kepada Habib Abdul Qadir bin Ahmad Bilfagih, seorang ahli hadits dan fuqaha, yang sat itu juga memimpin Madrasah Al-Khairiyah di Surabaya. Bukan hanya itu, ia juga rajin menghadiri beberapa majelis taklim yang digelar oleh para ulama besar. Kalau dihitung, sudah ratusan ulama besar yang ia kunjungi.

Dari perjalanan taklimnya itu, akhirnya Habib Salim mampu menguasai berbagai ilmu agama, terutama hadits, tarikh dan nasab. Ia juga hafal sejumlah kitab hadits. Berkat penguasaannya terhadap ilmu hadits ia mendapat gelar sebagai muhaddist, dan karena menguasai ilmu sanad maka ia digelari sebagai musnid. Mengenai guru-gurunya itu, Habib Salim pernah berkata, "Aku telah berkumpul dan hadir di majelis mereka. Dan sesungguhnya majelis mereka menyerupai majelis para sahabat Rasulullah SAW dimana terdapat kekhusyukan, ketenangan dan kharisma mereka." Adapun guru yang paling berkesan di hatinya ialah Habib Alwi bin Muhammad Alhaddad dan Habib Abubakar bin Muhammad Assegaf. Tentang mereka, Habib Salim pernah berkata, "Cukuplah bagi kami mereka itu sebagai panutan dan suri tauladan."

Pada 1940 ia hijrah ke Jakarta. Di sini selain membuka majelis taklim ia juga berdakwah ke berbagai daerah. Di masa perjuangan menjelang kemerdekaan, Habib Salim ikut serta membakar semangat para pejuang untuk berjihad melawan penjajah Belanda. Itu sebabnya ia pernah ditangkap, baik di masa penjajahan Jepang maupun ketika Belanda ingin kembali menjajah Indonesia seperti pada Aksi Polisionil I pada 1947 dan 1948.

Dalam tahanan penjajah, ia sering disiksa: dipukul, ditendang, disetrum. Namun, ia tetap tabah, pantang menyerah. Niatnya bukan hanya demi amar makruf nahi munkar, menentang kebatilan dan kemungkaran, tetapi juga demi kemerdekaan tanah airnya. Sebab, hubbul wathan minal iman - cinta tanah air adalah sebagian dari pada iman.

Kembali Berdakwah

Setelah Indonesia benar-benar aman, Habib Salim sama sekali tidak mempedulikan apakah perjuangannya demi kemerdekaan tanah air itu dihargai atau tidak. Ia ikhlas berjuang, kemudian kembali membuka majelis taklim yang diberi nama Qashar Al-Wafiddin. Ia juga kembalin berdakwah dan mengajar, baik di Jakarta, di beberapa daerah maupun di luar negeri, seperti Singapura, Malaysia, Kamboja.

Ketika berdakwah di daerah-daerah itulah ia mengumpulkan data-data sejarah Islam. Dengan cermat dan tekun ia kumpulkan sejarah perkembangan Islam di Ternate, Maluku, Ambon, Sulawesi, Kalimantan, Nusa Tenggara, Timor Timur, Pulau Roti, Sumatera, Pulau Jawa. Ia juga mendirikan sebuah perpustakaan bernama Al-Fakhriah.

Di masa itu Habib Salim juga dikenal sebagai ulama yang ahli dalam menjawab berbagai persoalan - yang kadang-kadang menjebak. Misalnya, suatu hari, ketika ia ditanya oleh seorang pendeta, "Habib, yang lebih mulia itu yang masih hidup atau yang sudah mati?" Maka jawab Habib Salim, "Semua orang akan menjawab, yang hidup lebih mulia dari yang mati. Sebab yang mati sudah jadi bangkai." Lalu kata pendeta itu, "Kalau begitu Isa bin Maryam lebih mulia dari Muhammad bin Abdullah. Sebab, Muhammad sudah meninggal, sementara Isa -- menurut keyakinan Habib -- belum mati, masih hidup."

"Kalau begitu berarti ibu saya lebih mulia dari Maryam. Sebab, Maryam sudah meninggal, sedang ibu saya masih hidup. Itu, dia ada di belakang," jawab Habib Salim enteng. Mendengar jawaban diplomatis itu, si pendeta terbungkam seribu bahasa, lalu pamit pulang. Ketika itu banyak kaum Nasrani yang akhirnya memeluk Islam setelah bertukar pikiran dengan Habib Salim.

Habib Salim memang ahli berdebat dan orator ulung. Pendiriannya pun teguh. Sejak lama, jauh-jauh hari, ia sudah memperingatkan bahaya kerusakan moral akibat pornografi dan kemaksiatan. "Para wanita mestinya jangan membuka aurat mereka, karena hal ini merupakan penyakit yang disebut tabarruj, atau memamerkan aurat, yang bisa menyebar ke seluruh rumah kaum muslimin," kata Habib Salim kala itu.

Ulama besar ini wafat di Jakarta pada 16 Rabiulawal 1389 (1 Juni 1969). Ketika itu ratusan ribu kaum muslimin dari berbagai pelosok datang bertakziah ke rumahnya di Jalan Otto Iskandar Dinata, Jakarta Timur. Iring-iringan para pelayat begitu panjang sampai ke Condet. Jasadnya dimakamkan di kompleks Masjid Alhawi, Condet, Jakarta Timur.

Almarhum meninggalkan dua putera, Habib Shalahudin dan Habib Novel yang juga sudah menyusul ayahandanya. Namun, dakwah mereka tetap diteruskan oleh anak keturunan mereka. Mereka, misalnya, membuka majelis taklim dan menggelar maulid (termasuk haul Habib Salim) di rumah peninggalan Habib Salim di Jalan Otto Iskandar Dinata.

Belakangan, nama perpustakaan Habib Salim, yaitu Al-Fachriyyah, diresmikan sebagai nama pondok pesantren yang didirikan oleh Habib Novel bin Salim di Ciledug, Tangerang. Kini pesantren tersebut diasuh oleh Habib Jindan bin Novel bin Salim dan Habib Ahmad bin Novel bin Salim - dua putra almarhum Habib Novel. "Sekarang ini sulit mendapatkan seorang ulama seperti jid (kakek) kami. Meski begitu, kami tetap mewarisi semangatnya dalam berdakwah di daerah-daerah yang sulit dijangkau," kata Habib Ahmad, cucu Habib Salim bin Jindan.

Ada sebuah nasihat almarhum Habib Salim bin Jindan yang sampai sekarang tetap diingat oleh keturunan dan para jemaahnya, ialah pentingnya menjaga akhlak keluarga. "Kewajiban kaum muslimin, khususnya orangtua untuk menasihati keluarga mereka, menjaga dan mendidik mereka, menjauhkan mereka dari orang-orang yang bisa merusak akhlak. Sebab, orangtua adalah wasilah (perantara) dalam menuntun anak-anak. Nasihat seorang ayah dan ibu lebih berpengaruh pada anak-anak dibanding nasehat orang lain."

Disarikan dari Manakib Habib Salim bin Jindan karya Habib Ahmad bin Novel bin Salim

Habib+Salim+Jindan.jpg (17K) Download Attachment
Habib+Salim+bin+Jindan.jpg (7K) Download Attachment
Reply | Threaded
Open this post in threaded view
|  
Report Content as Inappropriate

Habib Salim bin Jindan+++Mas Yusa

semar samiaji
Mas Yusa....bisa bantu saya apa makna Habib? apakah ada kriteria tertentu sehingga nama tertentu bisa dipanggil Habib?....punten..ini sering terlintas di benak saya, kenapa sih ada kata Habib di depan nama seseorang dan saat ini banyak sekali warga negara Indonesia depannya pake Habib.......Jika di depan namanya diberikan M (yang merupakan singkatan dari Muhammad) saya bisa paham....
 
terima kasih
ss

--- On Mon, 6/30/08, Yusa <[hidden email]> wrote:

From: Yusa <[hidden email]>
Subject: [Spiritual-Indonesia] Habib Salim bin Jindan, Ulama dan Pejuang Kemerdekaan
To: "SI" <[hidden email]>, [hidden email]
Date: Monday, June 30, 2008, 3:04 PM








Habib Salim bin Jindan, Ulama dan Pejuang Kemerdekaan
 


Ulama habaib Jakarta ini menguasai beberapa ilmu agama. Banyak ulama dan habaib berguru kepadanya. Koleksi kitabnya berjumlah ratusan. Ia juga pejuang kemerdekaan. Pada periode 1940-1960, di Jakarta ada tiga habaib yang seiring sejalan dalam berdakwah. Mereka itu: Habib Ali bin Abdurahman Alhabsyi (Kwitang), Ali bin Husein Alatas (Bungur) dan Habib Salim bin Jindan (Otista). Hampir semua habaib dan ulama di Jakarta berguru kepada mereka, terutama kepada Habib Salim bin Jindan – yang memiliki koleksi sekitar 15.000 kitab, termasuk kitab yang langka. Sementara Habib Salim sendiri menulis sekitar 100 kitab, antara lain tentang hadits dan tarikh, termasuk yang belum dicetak.

Lahir di Surabaya pada 18 Rajab 1324 (7 September 1906) dan wafat di Jakarta pada 16 Rabiulawal 1389 (1 Juni 1969), nama lengkapnya Habib Salim bin Ahmad bin Husain bin Saleh bin Abdullah bin Umar bin Abdullah bin Jindan. Seperti lazimnya para ulama, sejak kecil ia juga mendapat pendidikan agama dari ayahandanya.

Menginjak usia remaja ia memperdalam agama kepada Habib Abdullah bin Muhsin Alatas (Habib Empang, Bogor), Habib Muhammad bin Ahmad Al-Muhdhar (Bondowoso), Habib Muhammad bin Idrus Alhabsyi (Surabaya), Habib Abubakar bin Muhammad Assegaf (Gresik), K.H. Cholil bin Abdul Muthalib (Kiai Cholil Bangkalan), dan Habib Alwi bin Abdullah Syahab di Tarim, Hadramaut.
Selain itu ia juga berguru kepada Habib Abdul Qadir bin Ahmad Bilfagih, seorang ahli hadits dan fuqaha, yang sat itu juga memimpin Madrasah Al-Khairiyah di Surabaya. Bukan hanya itu, ia juga rajin menghadiri beberapa majelis taklim yang digelar oleh para ulama besar. Kalau dihitung, sudah ratusan ulama besar yang ia kunjungi.

Dari perjalanan taklimnya itu, akhirnya Habib Salim mampu menguasai berbagai ilmu agama, terutama hadits, tarikh dan nasab. Ia juga hafal sejumlah kitab hadits. Berkat penguasaannya terhadap ilmu hadits ia mendapat gelar sebagai muhaddist, dan karena menguasai ilmu sanad maka ia digelari sebagai musnid. Mengenai guru-gurunya itu, Habib Salim pernah berkata, “Aku telah berkumpul dan hadir di majelis mereka. Dan sesungguhnya majelis mereka menyerupai majelis para sahabat Rasulullah SAW dimana terdapat kekhusyukan, ketenangan dan kharisma mereka.” Adapun guru yang paling berkesan di hatinya ialah Habib Alwi bin Muhammad Alhaddad dan Habib Abubakar bin Muhammad Assegaf. Tentang mereka, Habib Salim pernah berkata, ”Cukuplah bagi kami mereka itu sebagai panutan dan suri tauladan.”

Pada 1940 ia hijrah ke Jakarta. Di sini selain membuka majelis taklim ia juga berdakwah ke berbagai daerah. Di masa perjuangan menjelang kemerdekaan, Habib Salim ikut serta membakar semangat para pejuang untuk berjihad melawan penjajah Belanda. Itu sebabnya ia pernah ditangkap, baik di masa penjajahan Jepang maupun ketika Belanda ingin kembali menjajah Indonesia seperti pada Aksi Polisionil I pada 1947 dan 1948.

Dalam tahanan penjajah, ia sering disiksa: dipukul, ditendang, disetrum. Namun, ia tetap tabah, pantang menyerah. Niatnya bukan hanya demi amar makruf nahi munkar, menentang kebatilan dan kemungkaran, tetapi juga demi kemerdekaan tanah airnya. Sebab, hubbul wathan minal iman – cinta tanah air adalah sebagian dari pada iman.

Kembali Berdakwah

Setelah Indonesia benar-benar aman, Habib Salim sama sekali tidak mempedulikan apakah perjuangannya demi kemerdekaan tanah air itu dihargai atau tidak. Ia ikhlas berjuang, kemudian kembali membuka majelis taklim yang diberi nama Qashar Al-Wafiddin. Ia juga kembalin berdakwah dan mengajar, baik di Jakarta, di beberapa daerah maupun di luar negeri, seperti Singapura, Malaysia, Kamboja.

Ketika berdakwah di daerah-daerah itulah ia mengumpulkan data-data sejarah Islam. Dengan cermat dan tekun ia kumpulkan sejarah perkembangan Islam di Ternate, Maluku, Ambon, Sulawesi, Kalimantan, Nusa Tenggara, Timor Timur, Pulau Roti, Sumatera, Pulau Jawa. Ia juga mendirikan sebuah perpustakaan bernama Al-Fakhriah.

Di masa itu Habib Salim juga dikenal sebagai ulama yang ahli dalam menjawab berbagai persoalan – yang kadang-kadang menjebak. Misalnya, suatu hari, ketika ia ditanya oleh seorang pendeta, ”Habib, yang lebih mulia itu yang masih hidup atau yang sudah mati?” Maka jawab Habib Salim, “Semua orang akan menjawab, yang hidup lebih mulia dari yang mati. Sebab yang mati sudah jadi bangkai.” Lalu kata pendeta itu, “Kalau begitu Isa bin Maryam lebih mulia dari Muhammad bin Abdullah. Sebab, Muhammad sudah meninggal, sementara Isa -- menurut keyakinan Habib -- belum mati, masih hidup.”

“Kalau begitu berarti ibu saya lebih mulia dari Maryam. Sebab, Maryam sudah meninggal, sedang ibu saya masih hidup. Itu, dia ada di belakang,” jawab Habib Salim enteng. Mendengar jawaban diplomatis itu, si pendeta terbungkam seribu bahasa, lalu pamit pulang. Ketika itu banyak kaum Nasrani yang akhirnya memeluk Islam setelah bertukar pikiran dengan Habib Salim.

Habib Salim memang ahli berdebat dan orator ulung. Pendiriannya pun teguh. Sejak lama, jauh-jauh hari, ia sudah memperingatkan bahaya kerusakan moral akibat pornografi dan kemaksiatan. “Para wanita mestinya jangan membuka aurat mereka, karena hal ini merupakan penyakit yang disebut tabarruj, atau memamerkan aurat, yang bisa menyebar ke seluruh rumah kaum muslimin,” kata Habib Salim kala itu.

Ulama besar ini wafat di Jakarta pada 16 Rabiulawal 1389 (1 Juni 1969). Ketika itu ratusan ribu kaum muslimin dari berbagai pelosok datang bertakziah ke rumahnya di Jalan Otto Iskandar Dinata, Jakarta Timur. Iring-iringan para pelayat begitu panjang sampai ke Condet. Jasadnya dimakamkan di kompleks Masjid Alhawi, Condet, Jakarta Timur.

Almarhum meninggalkan dua putera, Habib Shalahudin dan Habib Novel yang juga sudah menyusul ayahandanya. Namun, dakwah mereka tetap diteruskan oleh anak keturunan mereka. Mereka, misalnya, membuka majelis taklim dan menggelar maulid (termasuk haul Habib Salim) di rumah peninggalan Habib Salim di Jalan Otto Iskandar Dinata.

Belakangan, nama perpustakaan Habib Salim, yaitu Al-Fachriyyah, diresmikan sebagai nama pondok pesantren yang didirikan oleh Habib Novel bin Salim di Ciledug, Tangerang. Kini pesantren tersebut diasuh oleh Habib Jindan bin Novel bin Salim dan Habib Ahmad bin Novel bin Salim – dua putra almarhum Habib Novel. “Sekarang ini sulit mendapatkan seorang ulama seperti jid (kakek) kami. Meski begitu, kami tetap mewarisi semangatnya dalam berdakwah di daerah-daerah yang sulit dijangkau,” kata Habib Ahmad, cucu Habib Salim bin Jindan.

Ada sebuah nasihat almarhum Habib Salim bin Jindan yang sampai sekarang tetap diingat oleh keturunan dan para jemaahnya, ialah pentingnya menjaga akhlak keluarga. ”Kewajiban kaum muslimin, khususnya orangtua untuk menasihati keluarga mereka, menjaga dan mendidik mereka, menjauhkan mereka dari orang-orang yang bisa merusak akhlak. Sebab, orangtua adalah wasilah (perantara) dalam menuntun anak-anak. Nasihat seorang ayah dan ibu lebih berpengaruh pada anak-anak dibanding nasehat orang lain.”

Disarikan dari Manakib Habib Salim bin Jindan karya Habib Ahmad bin Novel bin Salim














     
Reply | Threaded
Open this post in threaded view
|  
Report Content as Inappropriate

Re: Habib Salim bin Jindan+++Mas Yusa

yusa nugroho
^_^

Setahu saya habib itu kekasih. Tp dlm hal sebutan di dpn nama orang itu adalah penyebutan untuk keturunan Nabi Muhammad Saw lewat puteri beliau sayidah Fathimah Az-Zahro dan sayid Ali Kwh, lewat cucu Nabi Saw yaitu sayid Hasan dan sayid Husein. Anak keturunan sayid Hasan dan Husein ini dipanggil dg bermacam-cara penyebutan, spt sayid (meski demikian saat ini sayid dipakai ketika memanggil orang dlm makna asli yaitu tuan), syarif, habib. Untuk penyebutan keturunan darah Nabi Saw yg wanita ada syarifah, hababah dsb.

Dan, di belakang nama habaib biasanya ada "marga" dari masing-masing keluarga, misal Alatas, Alhaddad, Aljufri, Assegaf, Baharun, Shihab, Albar, Alhasani, Alhamid, bin syeh Abu Bakar, bin Yahya dsb. "Marga" di sini bukan spt marga orang Batak misalnya, bukan, "marga" ini hanya kebiasaan dari beliau yg kemudian dijadikan panggilan untuk keturunan beliau.

Misal, Alatas...Alatas berasal dari kata bersin. Orang yg pertamankali disebut Alatas adalah orag yg ketika beliau msh dlm kandungan sdh bersin dan suara bersinnya terdengar dari luar perut ibunya. Beliau kemudian disebut Alatas di belakang namanya. Misal Muhsin Alatas yg penyanyi itu atau Alwi Alatas dsb.

Lalu Alhaddad, orang yg pertama kali dipanggil Alhaddad adalah orang yg mampu melembutkan hati yg sekeras apapun juga. Beliau lalu disebut Alhaddad.

Assegaf, orang yg pertama kali dipanggil Assegaf adalah orang yg ilmunya luas hingga menaungi masyarakat. Beliau lalu disebut Assegaf.

Dst.

Menghormati habaib adalah wajib bagi yg mengetahui, menghormati disini ndak lalu membenarkan kalau beliau salah, ndak, mengatakan yg lebih baik pd beliau adalah wajib pula bagi kita yg mampu.

Jalan para habaib kher adalah jalan salaf karena beliau diajari bapaknya lalu bapaknya diajari kakeknya, lalu diajari oleh bapaknya kakek dst hingga sampai ke sayid Alfaqih Almuqoddam Muhammad bin Ali Ba 'alawi dan lalu sampai ke Alhasan alhusein, sayid Ali dan istri beliau sayidah Fathimah puteri Nabi Saw.

Secara pribadi, saya menemukan ketenangan dan kebahagian bersama habaib ini. Saya menemukan yg saya ndak temukan di kyai-kyai yg saya temui. Habaib mengajarkan sesuai kadar yg muridnya bisa terima, ndak membebani muridnya dg wirid-wirid yg ndak sanggup dilakukan muridnya dan awal diajarkan adab serta akhlak di samping syari'at. Memang bagi yg blm tahu akan memahami ikut habaib ini yg diajarkan syari'at melulu, padahal ndak...beliau pandai mengajarkan tentang makna meskipun dlm obrolan biasa serta tingkah laku beliau.

Spt itu yg saya tahu, pak...cmiiw. Trm ksh.
Salam, Yusa.


  ----- Original Message -----
  From: semar samiaji
  To: [hidden email]
  Sent: Monday, June 30, 2008 3:25 PM
  Subject: [Spiritual-Indonesia] Habib Salim bin Jindan+++Mas Yusa


  . Mas Yusa....bisa bantu saya apa makna Habib? apakah ada kriteria tertentu sehingga nama tertentu bisa dipanggil Habib?....punten..ini sering terlintas di benak saya, kenapa sih ada kata Habib di depan nama seseorang dan saat ini banyak sekali warga negara Indonesia depannya pake Habib.......Jika di depan namanya diberikan M (yang merupakan singkatan dari Muhammad) saya bisa paham....

  terima kasih
  ss
Reply | Threaded
Open this post in threaded view
|  
Report Content as Inappropriate

Ahlul Bait

yusa nugroho
In reply to this post by semar samiaji
Ahlul Bait



Ahlul Bait adalah orang-orang yang mendapat keistimewaan dan keutamaan serta kedudukan tinggi dari Allah SWT. Dimana Allah telah membersihkan dosa-dosa mereka serta mensucikan mereka sesuci-sucinya.


Allah berfirman :

  انما يريد الله ليذهب عنكم الرجس اهل البيت ويطهركم تطهيرا



( الاحزاب ؛ ٣٣ )



“ Sesungguhnya Allah hendak menghapus segala noda dan kotoran (dosa) dari kalian Ahlul Bait dan hendak mensucikan kalian sesuci-sucinya”

(Al-Ahzab-33)
 

Kemudian para ulama sepakat bahwa Ahlul Kisa’, selain Rasulullah SAW yaitu Imam Ali, Siti Fatimah, Imam Hasan dan Imam Husin adalah termasuk Ahlul Bait. Dimana saat itu Rasulullah bersabda:

    اللهم هؤلاء اهل بيتى



“ Yaa Allah mereka adalah Ahlul Baitku”.

Sebuah hadist yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad dan Imam Turmudzi dari Ummi Salamah, bahwa setelah turun Ayatuttathir, Rasulullah menutup kain Kisa’nya (sorbannya) diatas Ali, Fatimah, Hasan dan Husin, seraya berkata :



    اللهم هؤلاء اهل بيتى فاذهب عنهم الرجس وطهرهم تطهيرا



 ( رواه مسلم والترمذى واحمد والحاكم )



 “ Ya Allah, mereka adalah Ahlul Baitku, maka hapuskanlah dari mereka dosa dan sucikan mereka sesuci-sucinya”.

(HR. Muslim, Turmudzi, Ahmad dll )



Sebuah hadist yang terkenal, yang diriwayatkan oleh Imam Muslim di dalam kitab sahihnya, dari Zeid bin Arqom sebagai berikut : “Pada suatu hari Rasulullah berkhotbah di satu tempat yang ada sumber airnya yang dikenal dengan nama Khumman yang terletak antara kota Mekkah dan Madinah. Setelah beliau bertahmid dan memuji Allah serta memberikan wejangan beliaupun bersabda :
 



   اما بعد :الا ايها الناس ، انما انا بشر يوشك ان يأتى رسول ربى فأجيب وانا تارك  

    فيكم  ثقلين ،اولها كتاب الله فيه الهدى والنور، فخذوا بكتاب الله واستمسكوا، فحث

  على كتاب الله ورغب فيه,ثم قال: واهل  بيتى ، اذكركم الله فى اهل بيتى, اذكركم الله

   فى اهل بيتى ،اذكركم الله فى اهل بيتى , فقال له حصين : ومن اهل بيته يازيد ؟

  اليس نساؤه من اهل بيته ؟ قال نساؤه من اهل بيته ،ولكن اهل بيته من حرم الصدقة

   بعده ،قال : ومن هم ؟ قال :هم ال على وال عقيل وال جعفر وال عباس .

   قال : كل هؤلاء حرم الصدقة ؟ قال : نعم.

( رواه مسلم واحمد والحاكم والدارمى وابن حبان والبزاروالطبرانى )





Amma ba’du : “ Hai orang-orang sesungguhnya aku adalah manusia, aku merasa akan datang utusan Tuhanku dan aku menyambutnya, aku meninggalkan pada kalian dua bekal (pegangan), yang pertama Kitabullah (Al-Qur’an), didalamnya terdapat petunjuk dan cahaya,. Ambillah (terimalah) Kitabullah dan berpegang-teguhlah padanya. “Setelah Rasulullah menekankan Kitabullah, kemudian berkata lebih lanjut. Dan Ahlul Baitku, kuingatkan kalian kepada Allah mengenai Ahlu Baitku, kuingatkan kalian kepada Allah mengenai Ahli Baitku, kuingatkan kalian kepada Allah mengenai Ahli Baitku”.

Kemudian sahabat Khushoin bertanya : “ Siapa saja Ahlul Baitnya hai Zaid ? Apakah istri-istrinya termasuk juga Ahlul Bait?, maka dijawab, “istri-istrinya juga termasuk Ahlul Bait. Ahlu Baitnya adalah mereka yang diharamkan menerima shodaqoh”.


Lalu Khusoin bertanya lagi : “ Siapa saja mereka ?” Lalu dijawab: “Mereka itu keluarga Ali, keluarga Agil, keluarga Ja’far dan keluarga Abbas.” Penanya bertanya lagi : “Semua itu diharamkan menerima shodaqoh ?” Dijawab : “Ya”.



( H Muslim, Ahmad, Al Hakim, Ad Darini, Ibnu Hibban,

Al Bazzar dan At Thobaroni )


Dengan dasar hadist tersebut, para ulama berpendapat bahwa istri-istri Rasulullah juga termasuk Ahlul Bait. Hal tersebut juga dikuatkan, bahwa ayat tathir itu merupakan sambungan dari ayat-ayat yang diturunkan atau ditujukan kepada istri-istri Rasulullah SAW.
Kemudian diakhir hadist tersebut juga menerangkan bahwa yang dimaksud dengan Ahlul Bait adalah mereka yang diharamkan menerima shodaqoh. Mereka adalah keluarga Ali, keluarga Agil, keluarga Ja’far dan keluarga Abbas. Hal tersebut juga dikuatkan oleh hadist yang lain, dimana Rasulullah bersabda:
 

  انا ال محمد لا تحل لنا الصدقة    

( رواه البخارى )





“ Kami keluarga Muhammad, tidak dihalalkan bagi kami pemberian shodaqoh”.


( HR. Bukhori )



Disamping hadist-hadist diatas, sebagian ulama mengajukan argumentasi bahwa yang dimaksud dengan “Keluarga Muhammad“ itu adalah istri-istrinya dan keturunannya. Dalil mereka adalah penjelasan Rasulullah SAW, ketika beliau ditanya, “Bagaimana kami membaca sholawat kepadamu ?” maka nabi bersabda :



           

   قولو   اللهم صل على محمد وعلى ازواجه وذريته ،كما صليت على ابراهيم    

  وعلى ال ابراهيم ، وبارك على محمد وعلى ازواجه وذريته ،

  كما باركت على ابراهيم وعلى ال ابراهيم ،

                                           ( متفق عليه )





Katakanlah : Yaa Allah, sampaikan salam sejahtera kepada Muhammad dan kepada istri-istrinya serta keturunannya, sebagaimana Engkau memberikan rahmat kepada Ibrahim dan keluarganya. Dan berkatilah Muhammad dan istri-istrinya serta keturunannya, sebagaimana Engkau memberikan berkah kepada Ibrahim dan keluarga Ibrahim. Sesungguhnya Engkau Maha Terpuji lagi Maha Agung.

Dalam hadist ini, Rasulullah SAW tidak menyebut “Keluarganya” dengan kata “Aali Muhammad” tapi menggantikannya (menjabarkannya) dengan kata “Istri-istrinya dan keturunannya”.


Sehubungan dengan adanya hadist-hadist tersebut, kami menghimbau kepada para pembaca agar tidak mengikuti faham atau pendapat yang sifatnya berspekulasi yang mengatakan dan memvonis bahwa istri-istri Rasulullah SAW itu tidak termasuk Ahlul Bait. Sebab pendapat yang demikian itu faedahnya tidak ada, yang ada justru sebaliknya. Apa jadinya jika pendapat itu salah. Tidakkah Rasulullah SAW akan marah kepada kita, jika ternyata istri-istrinya itu termasuk Ahlul Bait? Mengapa kita harus mengambil resiko yang demikian besarnya. Padahal kita tahu, bahwa keistimewaan dan kedudukan tinggi itu Allah berikan kepada orang-orang yang Allah kehendaki.


Dalam hal ini para ulama dari kalangan Habaib (salafunassholeh) berpendapat bahwa para istri Rasulullah SAW juga termasuk Ahlul Bait.


Oleh karena itu untuk mengetahui sejarah Ahlul Bait, kami sarankan para pembaca untuk membaca buku-buku sejarah Ahlul Bait yang ditulis oleh ulama-ulama Ahlus Sunnah. Sebab mereka itu dalam menilai segala sesuatu, selalu didasari dengan Al-Akhlaqul Karimah dan Khusnudhon (sangka baik). Berbeda dengan buku-buku yang ditulis oleh ulama-ulama Syiah, dasar mereka adalah Suudhon (buruk sangka) serta didasari dengan rasa permusuhan kepada para sahabat dan istri-istri Rasulullah SAW, sehingga isinya penuh dengan kedustaan dan pemutar balikan sejarah.


Demikian sedikit yang dimaksud dengan Ahlul Bait.
Reply | Threaded
Open this post in threaded view
|  
Report Content as Inappropriate

Habib Salim bin Jindan+++Mas Yusa

semar samiaji
In reply to this post by yusa nugroho
punten ya Mas....khusus yang diberi warna biru....di negara asalnya, katakanlah Arab Saudi dalam hal ini, apakah ada secara khusus penyebutan "habib"?....dan apakah negara Arab Saudi itu menganut paham Bapak atau paham Ibu?....sepanjang yang saya tahu adalah menganut paham Bapak, sedangkan Rasululullah TIDAK diberi keturunan laki-laki....di sini lho yang saya cukup perlu masukan....
 
sedangkan yang berwarna pink, jika dimaknai kekasih...maka kekasih siapa Mas? Jika kekasih Allah, maka dari mana yang bersangkutan bisa paham bahwa dirinya adalah kekasih Allah? So, siapa sich yang awalnya kasih ini kata Habib?
 
tentang apa yang Mas sampaikan bahwa "kelakukan" adalah akhirnya satu bukti ujud ke-habib-annya...nah, ini baru OK...namun, apakah nantinya Habib tidak menyampaikan wirid atau tidak...ya amat sangat tergantung kepada pola pikirnya Habib juga khan?.....
 
boleh saya tahu, ada nggak yang BUKAN keturunan Arab dikasih kata Habib depannya?....punten Mas...saya perlu banget ini, agar saya sebagai manusia Indonesia mengerti dan paham kata Habib yang sudah begitu banyaknya di tanah ini, hampir sama banyaknya dengan Kya Haji.....tidak ditikadkan iuntuk menyatakan benar atau salam...jika ada pemahaman yang OBYEKTIF saja, saya sudah sangat bersyukur Mas.....maklum nenek moyang saya ndak ada yang paham ini Mas...udah saya tanyain nggak ada yang bisa kasih saya jawaban...
 
terima kasih atas masukan dan pengertian Mas...
 
salam,
ss

--- On Mon, 6/30/08, Yusa <[hidden email]> wrote:

From: Yusa <[hidden email]>
Subject: Re: [Spiritual-Indonesia] Habib Salim bin Jindan+++Mas Yusa
To: [hidden email]
Date: Monday, June 30, 2008, 4:09 PM







^_^
 
Setahu saya habib itu kekasih. Tp dlm hal sebutan di dpn nama orang itu adalah penyebutan untuk keturunan Nabi Muhammad Saw lewat puteri beliau sayidah Fathimah Az-Zahro dan sayid Ali Kwh, lewat cucu Nabi Saw yaitu sayid Hasan dan sayid Husein. Anak keturunan sayid Hasan dan Husein ini dipanggil dg bermacam-cara penyebutan, spt sayid (meski demikian saat ini sayid dipakai ketika memanggil orang dlm makna asli yaitu tuan), syarif, habib. Untuk penyebutan keturunan darah Nabi Saw yg wanita ada syarifah, hababah dsb.
 
Dan, di belakang nama habaib biasanya ada "marga" dari masing-masing keluarga, misal Alatas, Alhaddad, Aljufri, Assegaf, Baharun, Shihab, Albar, Alhasani, Alhamid, bin syeh Abu Bakar, bin Yahya dsb. "Marga" di sini bukan spt marga orang Batak misalnya, bukan, "marga" ini hanya kebiasaan dari beliau yg kemudian dijadikan panggilan untuk keturunan beliau.
 
Misal, Alatas...Alatas berasal dari kata bersin. Orang yg pertamankali disebut Alatas adalah orag yg ketika beliau msh dlm kandungan sdh bersin dan suara bersinnya terdengar dari luar perut ibunya. Beliau kemudian disebut Alatas di belakang namanya. Misal Muhsin Alatas yg penyanyi itu atau Alwi Alatas dsb.
 
Lalu Alhaddad, orang yg pertama kali dipanggil Alhaddad adalah orang yg mampu melembutkan hati yg sekeras apapun juga. Beliau lalu disebut Alhaddad.
 
Assegaf, orang yg pertama kali dipanggil Assegaf adalah orang yg ilmunya luas hingga menaungi masyarakat. Beliau lalu disebut Assegaf.
 
Dst.
 
Menghormati habaib adalah wajib bagi yg mengetahui, menghormati disini ndak lalu membenarkan kalau beliau salah, ndak, mengatakan yg lebih baik pd beliau adalah wajib pula bagi kita yg mampu.
 
Jalan para habaib kher adalah jalan salaf karena beliau diajari bapaknya lalu bapaknya diajari kakeknya, lalu diajari oleh bapaknya kakek dst hingga sampai ke sayid Alfaqih Almuqoddam Muhammad bin Ali Ba 'alawi dan lalu sampai ke Alhasan alhusein, sayid Ali dan istri beliau sayidah Fathimah puteri Nabi Saw.
 
Secara pribadi, saya menemukan ketenangan dan kebahagian bersama habaib ini. Saya menemukan yg saya ndak temukan di kyai-kyai yg saya temui. Habaib mengajarkan sesuai kadar yg muridnya bisa terima, ndak membebani muridnya dg wirid-wirid yg ndak sanggup dilakukan muridnya dan awal diajarkan adab serta akhlak di samping syari'at. Memang bagi yg blm tahu akan memahami ikut habaib ini yg diajarkan syari'at melulu, padahal ndak...beliau pandai mengajarkan tentang makna meskipun dlm obrolan biasa serta tingkah laku beliau.
 
Spt itu yg saya tahu, pak...cmiiw. Trm ksh.
Salam, Yusa.
 
 

----- Original Message -----
From: semar samiaji
To: Spiritual-Indonesia @yahoogroups. com
Sent: Monday, June 30, 2008 3:25 PM
Subject: [Spiritual-Indonesi a] Habib Salim bin Jindan+++Mas Yusa



.Mas Yusa....bisa bantu saya apa makna Habib? apakah ada kriteria tertentu sehingga nama tertentu bisa dipanggil Habib?....punten. .ini sering terlintas di benak saya, kenapa sih ada kata Habib di depan nama seseorang dan saat ini banyak sekali warga negara Indonesia depannya pake Habib....... Jika di depan namanya diberikan M (yang merupakan singkatan dari Muhammad) saya bisa paham....

terima kasih
ss














     
Reply | Threaded
Open this post in threaded view
|  
Report Content as Inappropriate

Re: Habib Salim bin Jindan+++Mas Yusa

the_most_braveheart
In reply to this post by semar samiaji
Habib dianggap keturunan NAbi Muhammad secara garis lahir
(genetika/darah)..NAh sayangnya Ga semua habib memiliki akhlak
sebagus NAbi..Dan yang tidak disadari, kadang2 spiritualisme tidak
mengenal garis keturunan..Saya bisa katakan seorang Gus Dur saja bisa
lebih baik dari seorang HAbib Riziek..Memang zaman dulu, garis
keturunan dianggap penting, karena memang jiwa yang akan inkarnasi
tentunya memilih keturunan yang baik pula..namun tidak selamanya
demikian..


SAlam

--- In [hidden email], semar samiaji
<kind_evil_06@...> wrote:
>
> Mas Yusa....bisa bantu saya apa makna Habib? apakah ada kriteria
tertentu sehingga nama tertentu bisa dipanggil Habib?....punten..ini
sering terlintas di benak saya, kenapa sih ada kata Habib di depan
nama seseorang dan saat ini banyak sekali warga negara Indonesia
depannya pake Habib.......Jika di depan namanya diberikan M (yang
merupakan singkatan dari Muhammad) saya bisa paham....
>  
> terima kasih
> ss
>
> --- On Mon, 6/30/08, Yusa <yusa.nugroho@...> wrote:
>
> From: Yusa <yusa.nugroho@...>
> Subject: [Spiritual-Indonesia] Habib Salim bin Jindan, Ulama dan
Pejuang Kemerdekaan
> To: "SI" <[hidden email]>, keluarga-
[hidden email]

> Date: Monday, June 30, 2008, 3:04 PM
>
>
>
>
>
>
>
>
> Habib Salim bin Jindan, Ulama dan Pejuang Kemerdekaan
>  
>
>
> Ulama habaib Jakarta ini menguasai beberapa ilmu agama. Banyak
ulama dan habaib berguru kepadanya. Koleksi kitabnya berjumlah
ratusan. Ia juga pejuang kemerdekaan. Pada periode 1940-1960, di
Jakarta ada tiga habaib yang seiring sejalan dalam berdakwah. Mereka
itu: Habib Ali bin Abdurahman Alhabsyi (Kwitang), Ali bin Husein
Alatas (Bungur) dan Habib Salim bin Jindan (Otista). Hampir semua
habaib dan ulama di Jakarta berguru kepada mereka, terutama kepada
Habib Salim bin Jindan – yang memiliki koleksi sekitar 15.000 kitab,
termasuk kitab yang langka. Sementara Habib Salim sendiri menulis
sekitar 100 kitab, antara lain tentang hadits dan tarikh, termasuk
yang belum dicetak.
>
> Lahir di Surabaya pada 18 Rajab 1324 (7 September 1906) dan wafat
di Jakarta pada 16 Rabiulawal 1389 (1 Juni 1969), nama lengkapnya
Habib Salim bin Ahmad bin Husain bin Saleh bin Abdullah bin Umar bin
Abdullah bin Jindan. Seperti lazimnya para ulama, sejak kecil ia juga
mendapat pendidikan agama dari ayahandanya.
>
> Menginjak usia remaja ia memperdalam agama kepada Habib Abdullah
bin Muhsin Alatas (Habib Empang, Bogor), Habib Muhammad bin Ahmad Al-
Muhdhar (Bondowoso), Habib Muhammad bin Idrus Alhabsyi (Surabaya),
Habib Abubakar bin Muhammad Assegaf (Gresik), K.H. Cholil bin Abdul
Muthalib (Kiai Cholil Bangkalan), dan Habib Alwi bin Abdullah Syahab
di Tarim, Hadramaut.
> Selain itu ia juga berguru kepada Habib Abdul Qadir bin Ahmad
Bilfagih, seorang ahli hadits dan fuqaha, yang sat itu juga memimpin
Madrasah Al-Khairiyah di Surabaya. Bukan hanya itu, ia juga rajin
menghadiri beberapa majelis taklim yang digelar oleh para ulama
besar. Kalau dihitung, sudah ratusan ulama besar yang ia kunjungi.
>
> Dari perjalanan taklimnya itu, akhirnya Habib Salim mampu menguasai
berbagai ilmu agama, terutama hadits, tarikh dan nasab. Ia juga hafal
sejumlah kitab hadits. Berkat penguasaannya terhadap ilmu hadits ia
mendapat gelar sebagai muhaddist, dan karena menguasai ilmu sanad
maka ia digelari sebagai musnid. Mengenai guru-gurunya itu, Habib
Salim pernah berkata, "Aku telah berkumpul dan hadir di majelis
mereka. Dan sesungguhnya majelis mereka menyerupai majelis para
sahabat Rasulullah SAW dimana terdapat kekhusyukan, ketenangan dan
kharisma mereka." Adapun guru yang paling berkesan di hatinya ialah
Habib Alwi bin Muhammad Alhaddad dan Habib Abubakar bin Muhammad
Assegaf. Tentang mereka, Habib Salim pernah berkata, "Cukuplah bagi
kami mereka itu sebagai panutan dan suri tauladan."
>
> Pada 1940 ia hijrah ke Jakarta. Di sini selain membuka majelis
taklim ia juga berdakwah ke berbagai daerah. Di masa perjuangan
menjelang kemerdekaan, Habib Salim ikut serta membakar semangat para
pejuang untuk berjihad melawan penjajah Belanda. Itu sebabnya ia
pernah ditangkap, baik di masa penjajahan Jepang maupun ketika
Belanda ingin kembali menjajah Indonesia seperti pada Aksi Polisionil
I pada 1947 dan 1948.
>
> Dalam tahanan penjajah, ia sering disiksa: dipukul, ditendang,
disetrum. Namun, ia tetap tabah, pantang menyerah. Niatnya bukan
hanya demi amar makruf nahi munkar, menentang kebatilan dan
kemungkaran, tetapi juga demi kemerdekaan tanah airnya. Sebab, hubbul
wathan minal iman – cinta tanah air adalah sebagian dari pada iman.
>
> Kembali Berdakwah
>
> Setelah Indonesia benar-benar aman, Habib Salim sama sekali tidak
mempedulikan apakah perjuangannya demi kemerdekaan tanah air itu
dihargai atau tidak. Ia ikhlas berjuang, kemudian kembali membuka
majelis taklim yang diberi nama Qashar Al-Wafiddin. Ia juga kembalin
berdakwah dan mengajar, baik di Jakarta, di beberapa daerah maupun di
luar negeri, seperti Singapura, Malaysia, Kamboja.
>
> Ketika berdakwah di daerah-daerah itulah ia mengumpulkan data-data
sejarah Islam. Dengan cermat dan tekun ia kumpulkan sejarah
perkembangan Islam di Ternate, Maluku, Ambon, Sulawesi, Kalimantan,
Nusa Tenggara, Timor Timur, Pulau Roti, Sumatera, Pulau Jawa. Ia juga
mendirikan sebuah perpustakaan bernama Al-Fakhriah.
>
> Di masa itu Habib Salim juga dikenal sebagai ulama yang ahli dalam
menjawab berbagai persoalan – yang kadang-kadang menjebak. Misalnya,
suatu hari, ketika ia ditanya oleh seorang pendeta, "Habib, yang
lebih mulia itu yang masih hidup atau yang sudah mati?" Maka jawab
Habib Salim, "Semua orang akan menjawab, yang hidup lebih mulia dari
yang mati. Sebab yang mati sudah jadi bangkai." Lalu kata pendeta
itu, "Kalau begitu Isa bin Maryam lebih mulia dari Muhammad bin
Abdullah. Sebab, Muhammad sudah meninggal, sementara Isa -- menurut
keyakinan Habib -- belum mati, masih hidup."
>
> "Kalau begitu berarti ibu saya lebih mulia dari Maryam. Sebab,
Maryam sudah meninggal, sedang ibu saya masih hidup. Itu, dia ada di
belakang," jawab Habib Salim enteng. Mendengar jawaban diplomatis
itu, si pendeta terbungkam seribu bahasa, lalu pamit pulang. Ketika
itu banyak kaum Nasrani yang akhirnya memeluk Islam setelah bertukar
pikiran dengan Habib Salim.
>
> Habib Salim memang ahli berdebat dan orator ulung. Pendiriannya pun
teguh. Sejak lama, jauh-jauh hari, ia sudah memperingatkan bahaya
kerusakan moral akibat pornografi dan kemaksiatan. "Para wanita
mestinya jangan membuka aurat mereka, karena hal ini merupakan
penyakit yang disebut tabarruj, atau memamerkan aurat, yang bisa
menyebar ke seluruh rumah kaum muslimin," kata Habib Salim kala itu.
>
> Ulama besar ini wafat di Jakarta pada 16 Rabiulawal 1389 (1 Juni
1969). Ketika itu ratusan ribu kaum muslimin dari berbagai pelosok
datang bertakziah ke rumahnya di Jalan Otto Iskandar Dinata, Jakarta
Timur. Iring-iringan para pelayat begitu panjang sampai ke Condet.
Jasadnya dimakamkan di kompleks Masjid Alhawi, Condet, Jakarta Timur.
>
> Almarhum meninggalkan dua putera, Habib Shalahudin dan Habib Novel
yang juga sudah menyusul ayahandanya. Namun, dakwah mereka tetap
diteruskan oleh anak keturunan mereka. Mereka, misalnya, membuka
majelis taklim dan menggelar maulid (termasuk haul Habib Salim) di
rumah peninggalan Habib Salim di Jalan Otto Iskandar Dinata.
>
> Belakangan, nama perpustakaan Habib Salim, yaitu Al-Fachriyyah,
diresmikan sebagai nama pondok pesantren yang didirikan oleh Habib
Novel bin Salim di Ciledug, Tangerang. Kini pesantren tersebut diasuh
oleh Habib Jindan bin Novel bin Salim dan Habib Ahmad bin Novel bin
Salim – dua putra almarhum Habib Novel. "Sekarang ini sulit
mendapatkan seorang ulama seperti jid (kakek) kami. Meski begitu,
kami tetap mewarisi semangatnya dalam berdakwah di daerah-daerah yang
sulit dijangkau," kata Habib Ahmad, cucu Habib Salim bin Jindan.
>
> Ada sebuah nasihat almarhum Habib Salim bin Jindan yang sampai
sekarang tetap diingat oleh keturunan dan para jemaahnya, ialah
pentingnya menjaga akhlak keluarga. "Kewajiban kaum muslimin,
khususnya orangtua untuk menasihati keluarga mereka, menjaga dan
mendidik mereka, menjauhkan mereka dari orang-orang yang bisa merusak
akhlak. Sebab, orangtua adalah wasilah (perantara) dalam menuntun
anak-anak. Nasihat seorang ayah dan ibu lebih berpengaruh pada anak-
anak dibanding nasehat orang lain."
>
> Disarikan dari Manakib Habib Salim bin Jindan karya Habib Ahmad bin
Novel bin Salim
>


Reply | Threaded
Open this post in threaded view
|  
Report Content as Inappropriate

TANYA: Ahlul Bait+++Mas Yusa

semar samiaji
In reply to this post by yusa nugroho
Mas Yusa...bisa saya tahu: apakah Mas "menguasai" I'rab, Nahu, dan Shorof? Tolong dijawab ya Mas...sehingga jelas makna tulisan yang Mas sampaikan di bawah ini, hanya disadur ataukah pemahamannya setelah Mas I'rab?
 
terima kasih,
ss

--- On Mon, 6/30/08, Yusa <[hidden email]> wrote:

From: Yusa <[hidden email]>
Subject: [Spiritual-Indonesia] Ahlul Bait
To: [hidden email]
Date: Monday, June 30, 2008, 4:20 PM








Ahlul Bait
 
Ahlul Bait adalah orang-orang yang mendapat keistimewaan dan keutamaan serta kedudukan tinggi dari Allah SWT. Dimana Allah telah membersihkan dosa-dosa mereka serta mensucikan mereka sesuci-sucinya.

Allah berfirman :
  انما يريد الله ليذهب عنكم الرجس اهل البيت ويطهركم تطهيرا
 
( الاحزاب ؛ ٣٣ )
 
“ Sesungguhnya Allah hendak menghapus segala noda dan kotoran (dosa) dari kalian Ahlul Bait dan hendak mensucikan kalian sesuci-sucinya”
(Al-Ahzab-33)
 
Kemudian para ulama sepakat bahwa Ahlul Kisa’, selain Rasulullah SAW yaitu Imam Ali, Siti Fatimah, Imam Hasan dan Imam Husin adalah termasuk Ahlul Bait. Dimana saat itu Rasulullah bersabda:
    اللهم هؤلاء اهل بيتى
 
“ Yaa Allah mereka adalah Ahlul Baitku”.

Sebuah hadist yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad dan Imam Turmudzi dari Ummi Salamah, bahwa setelah turun Ayatuttathir, Rasulullah menutup kain Kisa’nya (sorbannya) diatas Ali, Fatimah, Hasan dan Husin, seraya berkata :
 
    اللهم هؤلاء اهل بيتى فاذهب عنهم الرجس وطهرهم تطهيرا
 
 ( رواه مسلم والترمذى واحمد والحاكم )
 
 “ Ya Allah, mereka adalah Ahlul Baitku, maka hapuskanlah dari mereka dosa dan sucikan mereka sesuci-sucinya”.
(HR. Muslim, Turmudzi, Ahmad dll )


Sebuah hadist yang terkenal, yang diriwayatkan oleh Imam Muslim di dalam kitab sahihnya, dari Zeid bin Arqom sebagai berikut : “Pada suatu hari Rasulullah berkhotbah di satu tempat yang ada sumber airnya yang dikenal dengan nama Khumman yang terletak antara kota Mekkah dan Madinah. Setelah beliau bertahmid dan memuji Allah serta memberikan wejangan beliaupun bersabda :
 
 
   اما بعد :الا ايها الناس ، انما انا بشر يوشك ان يأتى رسول ربى فأجيب وانا تارك 
    فيكم  ثقلين ،اولها كتاب الله فيه الهدى والنور، فخذوا بكتاب الله واستمسكوا، فحث
  على كتاب الله ورغب فيه,ثم قال: واهل  بيتى ، اذكركم الله فى اهل بيتى, اذكركم الله
   فى اهل بيتى ،اذكركم الله فى اهل بيتى , فقال له حصين : ومن اهل بيته يازيد ؟
  اليس نساؤه من اهل بيته ؟ قال نساؤه من اهل بيته ،ولكن اهل بيته من حرم الصدقة
   بعده ،قال : ومن هم ؟ قال :هم ال على وال عقيل وال جعفر وال عباس .
   قال : كل هؤلاء حرم الصدقة ؟ قال : نعم.
( رواه مسلم واحمد والحاكم والدارمى وابن حبان والبزاروالطبرانى )
 
 
Amma ba’du : “ Hai orang-orang sesungguhnya aku adalah manusia, aku merasa akan datang utusan Tuhanku dan aku menyambutnya, aku meninggalkan pada kalian dua bekal (pegangan), yang pertama Kitabullah (Al-Qur’an), didalamnya terdapat petunjuk dan cahaya,. Ambillah (terimalah) Kitabullah dan berpegang-teguhlah padanya. “Setelah Rasulullah menekankan Kitabullah, kemudian berkata lebih lanjut. Dan Ahlul Baitku, kuingatkan kalian kepada Allah mengenai Ahlu Baitku, kuingatkan kalian kepada Allah mengenai Ahli Baitku, kuingatkan kalian kepada Allah mengenai Ahli Baitku”.

Kemudian sahabat Khushoin bertanya : “ Siapa saja Ahlul Baitnya hai Zaid ? Apakah istri-istrinya termasuk juga Ahlul Bait?, maka dijawab, “istri-istrinya juga termasuk Ahlul Bait. Ahlu Baitnya adalah mereka yang diharamkan menerima shodaqoh”.

Lalu Khusoin bertanya lagi : “ Siapa saja mereka ?” Lalu dijawab: “Mereka itu keluarga Ali, keluarga Agil, keluarga Ja’far dan keluarga Abbas.” Penanya bertanya lagi : “Semua itu diharamkan menerima shodaqoh ?” Dijawab : “Ya”.
 
( H Muslim, Ahmad, Al Hakim, Ad Darini, Ibnu Hibban,
Al Bazzar dan At Thobaroni )

Dengan dasar hadist tersebut, para ulama berpendapat bahwa istri-istri Rasulullah juga termasuk Ahlul Bait. Hal tersebut juga dikuatkan, bahwa ayat tathir itu merupakan sambungan dari ayat-ayat yang diturunkan atau ditujukan kepada istri-istri Rasulullah SAW.
Kemudian diakhir hadist tersebut juga menerangkan bahwa yang dimaksud dengan Ahlul Bait adalah mereka yang diharamkan menerima shodaqoh. Mereka adalah keluarga Ali, keluarga Agil, keluarga Ja’far dan keluarga Abbas. Hal tersebut juga dikuatkan oleh hadist yang lain, dimana Rasulullah bersabda:
 
  انا ال محمد لا تحل لنا الصدقة    
( رواه البخارى )
 
 
“ Kami keluarga Muhammad, tidak dihalalkan bagi kami pemberian shodaqoh”.

( HR. Bukhori )


Disamping hadist-hadist diatas, sebagian ulama mengajukan argumentasi bahwa yang dimaksud dengan “Keluarga Muhammad“ itu adalah istri-istrinya dan keturunannya. Dalil mereka adalah penjelasan Rasulullah SAW, ketika beliau ditanya, “Bagaimana kami membaca sholawat kepadamu ?” maka nabi bersabda :
 
            
   قولو   اللهم صل على محمد وعلى ازواجه وذريته ،كما صليت على ابراهيم   
  وعلى ال ابراهيم ، وبارك على محمد وعلى ازواجه وذريته ،
  كما باركت على ابراهيم وعلى ال ابراهيم ،
                                           ( متفق عليه )
 
 
Katakanlah : Yaa Allah, sampaikan salam sejahtera kepada Muhammad dan kepada istri-istrinya serta keturunannya, sebagaimana Engkau memberikan rahmat kepada Ibrahim dan keluarganya. Dan berkatilah Muhammad dan istri-istrinya serta keturunannya, sebagaimana Engkau memberikan berkah kepada Ibrahim dan keluarga Ibrahim. Sesungguhnya Engkau Maha Terpuji lagi Maha Agung.

Dalam hadist ini, Rasulullah SAW tidak menyebut “Keluarganya” dengan kata “Aali Muhammad” tapi menggantikannya (menjabarkannya) dengan kata “Istri-istrinya dan keturunannya”.

Sehubungan dengan adanya hadist-hadist tersebut, kami menghimbau kepada para pembaca agar tidak mengikuti faham atau pendapat yang sifatnya berspekulasi yang mengatakan dan memvonis bahwa istri-istri Rasulullah SAW itu tidak termasuk Ahlul Bait. Sebab pendapat yang demikian itu faedahnya tidak ada, yang ada justru sebaliknya. Apa jadinya jika pendapat itu salah. Tidakkah Rasulullah SAW akan marah kepada kita, jika ternyata istri-istrinya itu termasuk Ahlul Bait? Mengapa kita harus mengambil resiko yang demikian besarnya. Padahal kita tahu, bahwa keistimewaan dan kedudukan tinggi itu Allah berikan kepada orang-orang yang Allah kehendaki.

Dalam hal ini para ulama dari kalangan Habaib (salafunassholeh) berpendapat bahwa para istri Rasulullah SAW juga termasuk Ahlul Bait.

Oleh karena itu untuk mengetahui sejarah Ahlul Bait, kami sarankan para pembaca untuk membaca buku-buku sejarah Ahlul Bait yang ditulis oleh ulama-ulama Ahlus Sunnah. Sebab mereka itu dalam menilai segala sesuatu, selalu didasari dengan Al-Akhlaqul Karimah dan Khusnudhon (sangka baik). Berbeda dengan buku-buku yang ditulis oleh ulama-ulama Syiah, dasar mereka adalah Suudhon (buruk sangka) serta didasari dengan rasa permusuhan kepada para sahabat dan istri-istri Rasulullah SAW, sehingga isinya penuh dengan kedustaan dan pemutar balikan sejarah.

Demikian sedikit yang dimaksud dengan Ahlul Bait.














     
Reply | Threaded
Open this post in threaded view
|  
Report Content as Inappropriate

Re: TANYA: Ahlul Bait+++Mas Yusa

yusa nugroho
Ndak ndak, pak...itu diambil dari www.albayyinat.net saya lupa cantumkan di sana. Ma'af. Yah paling ndak spt itu gambarannya tentang habaib (ahlul bait Nabi Saw). Cmiiw

Dan, untuk pertanyaan anda td saya jwb besok ya, pak...saya skrg hrs pulang. Trm ksh.

Salam, Yusa.


  ----- Original Message -----
  From: semar samiaji
  To: [hidden email]
  Sent: Monday, June 30, 2008 4:39 PM
  Subject: [Spiritual-Indonesia] TANYA: Ahlul Bait+++Mas Yusa


  Mas Yusa...bisa saya tahu: apakah Mas "menguasai" I'rab, Nahu, dan Shorof? Tolong dijawab ya Mas...sehingga jelas makna tulisan yang Mas sampaikan di bawah ini, hanya disadur ataukah pemahamannya setelah Mas I'rab?

  terima kasih,
  ss___
Reply | Threaded
Open this post in threaded view
|  
Report Content as Inappropriate

Re: TANYA: Ahlul Bait+++Mas Yusa

semar samiaji
hatur nuhun...coba Mas kaji dan pahami dulu satu tulisan itu apakah patut disampaikan dalam makna untuk berbagi yang terbaik atau hanya sekedar meneruskan pola pikir pihak lain...kasihan Mas, kalau hati dan pikiran sehat yang dinugerahkan YMK tidak dimanfaatkan....
 
dan jika Mas tidak kuasai I'rab, sebaiknya ndak usah kirim yang pakai bahasa asli Mas, cukup menurut apa yang Mas pahami dan kaji sesuai pikiran dan hati Mas....ini sekedar masukan saja Mas....karena yang namanya AQ atau hadist BUKAN yang bahasa Indonesianya...namun, bahasa "aslinya" ...sehingga TANPA Mas kuasai dengan baik I'rab, Nahu, dan Shorof, maka Mas hanya akan jadi "penyadur" arti AQ dan hadist berbahasa Indonesia, udah terlalu banyak yang begini Mas...akhirnya kalau hati dan pikiran sehatnya ndak jalan...hanya ribut dogma doang.....punten ya Mas, syukur2 Mas bisa kaji....
 
salam,
ss


--- On Mon, 6/30/08, Yusa <[hidden email]> wrote:

From: Yusa <[hidden email]>
Subject: Re: [Spiritual-Indonesia] TANYA: Ahlul Bait+++Mas Yusa
To: [hidden email]
Date: Monday, June 30, 2008, 4:45 PM







Ndak ndak, pak...itu diambil dari www.albayyinat. net saya lupa cantumkan di sana. Ma'af. Yah paling ndak spt itu gambarannya tentang habaib (ahlul bait Nabi Saw). Cmiiw
 
Dan, untuk pertanyaan anda td saya jwb besok ya, pak...saya skrg hrs pulang. Trm ksh.
 
Salam, Yusa.
 
 

----- Original Message -----
From: semar samiaji
To: Spiritual-Indonesia @yahoogroups. com
Sent: Monday, June 30, 2008 4:39 PM
Subject: [Spiritual-Indonesi a] TANYA: Ahlul Bait+++Mas Yusa

Mas Yusa...bisa saya tahu: apakah Mas "menguasai" I'rab, Nahu, dan Shorof? Tolong dijawab ya Mas...sehingga jelas makna tulisan yang Mas sampaikan di bawah ini, hanya disadur ataukah pemahamannya setelah Mas I'rab?

terima kasih,
ss___  














     
Reply | Threaded
Open this post in threaded view
|  
Report Content as Inappropriate

Re: TANYA: Ahlul Bait+++Mas Yusa

yusa nugroho
^_^

Iya pak, saya paham maksud anda. Karena takut keliru maka saya copy-kan tentang hal yg sama yg saya yakin itu berasal dari pihak yg benar. Kalo ada masukkan, silahkan aja saya terima, pak.

Tp memang seharusnya saya berani bicara, kalo salah ya diperbaiki...bukan begitu, pak?

Salam, Yusa.



  ----- Original Message -----
  From: semar samiaji
  To: [hidden email]
  Sent: Monday, June 30, 2008 4:57 PM
  Subject: Re: [Spiritual-Indonesia] TANYA: Ahlul Bait+++Mas Yusa


        hatur nuhun...coba Mas kaji dan pahami dulu satu tulisan itu apakah patut disampaikan dalam makna untuk berbagi yang terbaik atau hanya sekedar meneruskan pola pikir pihak lain...kasihan Mas, kalau hati dan pikiran sehat yang dinugerahkan YMK tidak dimanfaatkan....



        dan jika Mas tidak kuasai I'rab, sebaiknya ndak usah kirim yang pakai bahasa asli Mas, cukup menurut apa yang Mas pahami dan kaji sesuai pikiran dan hati Mas....ini sekedar masukan saja Mas....karena yang namanya AQ atau hadist BUKAN yang bahasa Indonesianya...namun, bahasa "aslinya" ...sehingga TANPA Mas kuasai dengan baik I'rab, Nahu, dan Shorof, maka Mas hanya akan jadi "penyadur" arti AQ dan hadist berbahasa Indonesia, udah terlalu banyak yang begini Mas...akhirnya kalau hati dan pikiran sehatnya ndak jalan...hanya ribut dogma doang.....punten ya Mas, syukur2 Mas bisa kaji....



        salam,

        ss



        --- On Mon, 6/30/08, Yusa <[hidden email]> wrote:


          From: Yusa <[hidden email]>
          Subject: Re: [Spiritual-Indonesia] TANYA: Ahlul Bait+++Mas Yusa
          To: [hidden email]
          Date: Monday, June 30, 2008, 4:45 PM


          

          Ndak ndak, pak...itu diambil dari www.albayyinat. net saya lupa cantumkan di sana. Ma'af. Yah paling ndak spt itu gambarannya tentang habaib (ahlul bait Nabi Saw). Cmiiw

          Dan, untuk pertanyaan anda td saya jwb besok ya, pak...saya skrg hrs pulang. Trm ksh.

          Salam, Yusa.


            ----- Original Message -----
            From: semar samiaji
            To: Spiritual-Indonesia @yahoogroups. com
            Sent: Monday, June 30, 2008 4:39 PM
            Subject: [Spiritual-Indonesi a] TANYA: Ahlul Bait+++Mas Yusa


            Mas Yusa...bisa saya tahu: apakah Mas "menguasai" I'rab, Nahu, dan Shorof? Tolong dijawab ya Mas...sehingga jelas makna tulisan yang Mas sampaikan di bawah ini, hanya disadur ataukah pemahamannya setelah Mas I'rab?

            terima kasih,
            ss___  



   
Reply | Threaded
Open this post in threaded view
|  
Report Content as Inappropriate

TANYA: Ahlul Bait+++Mas Yusa

semar samiaji
jika Mas sudah yakini itu BENAR...ya sudah...apa saya mau bilang Mas salah?...weleh..weleh....ndak lah yao, apa hak saya menyalahkan keyakinan pihak lain?..he..he..he..he..silahkan Mas jika itu sudah keyakinan Mas...silahkan.....semoga antara hati dan laku nyambung....
 
salam
ss

--- On Mon, 6/30/08, Yusa <[hidden email]> wrote:

From: Yusa <[hidden email]>
Subject: Re: [Spiritual-Indonesia] TANYA: Ahlul Bait+++Mas Yusa
To: [hidden email]
Date: Monday, June 30, 2008, 5:00 PM







^_^
 
Iya pak, saya paham maksud anda. Karena takut keliru maka saya copy-kan tentang hal yg sama yg saya yakin itu berasal dari pihak yg benar. Kalo ada masukkan, silahkan aja saya terima, pak.
 
Tp memang seharusnya saya berani bicara, kalo salah ya diperbaiki.. .bukan begitu, pak?
 
Salam, Yusa.
 
 
 

----- Original Message -----
From: semar samiaji
To: Spiritual-Indonesia @yahoogroups. com
Sent: Monday, June 30, 2008 4:57 PM
Subject: Re: [Spiritual-Indonesi a] TANYA: Ahlul Bait+++Mas Yusa








hatur nuhun...coba Mas kaji dan pahami dulu satu tulisan itu apakah patut disampaikan dalam makna untuk berbagi yang terbaik atau hanya sekedar meneruskan pola pikir pihak lain...kasihan Mas, kalau hati dan pikiran sehat yang dinugerahkan YMK tidak dimanfaatkan. ...
 
dan jika Mas tidak kuasai I'rab, sebaiknya ndak usah kirim yang pakai bahasa asli Mas, cukup menurut apa yang Mas pahami dan kaji sesuai pikiran dan hati Mas....ini sekedar masukan saja Mas....karena yang namanya AQ atau hadist BUKAN yang bahasa Indonesianya. ..namun, bahasa "aslinya" ...sehingga TANPA Mas kuasai dengan baik I'rab, Nahu, dan Shorof, maka Mas hanya akan jadi "penyadur" arti AQ dan hadist berbahasa Indonesia, udah terlalu banyak yang begini Mas...akhirnya kalau hati dan pikiran sehatnya ndak jalan...hanya ribut dogma doang.....punten ya Mas, syukur2 Mas bisa kaji....
 
salam,
ss


--- On Mon, 6/30/08, Yusa <yusa.nugroho@ gmail.com> wrote:

From: Yusa <yusa.nugroho@ gmail.com>
Subject: Re: [Spiritual-Indonesi a] TANYA: Ahlul Bait+++Mas Yusa
To: Spiritual-Indonesia @yahoogroups. com
Date: Monday, June 30, 2008, 4:45 PM





Ndak ndak, pak...itu diambil dari www.albayyinat. net saya lupa cantumkan di sana. Ma'af. Yah paling ndak spt itu gambarannya tentang habaib (ahlul bait Nabi Saw). Cmiiw
 
Dan, untuk pertanyaan anda td saya jwb besok ya, pak...saya skrg hrs pulang. Trm ksh.
 
Salam, Yusa.
 
 

----- Original Message -----
From: semar samiaji
To: Spiritual-Indonesia @yahoogroups. com
Sent: Monday, June 30, 2008 4:39 PM
Subject: [Spiritual-Indonesi a] TANYA: Ahlul Bait+++Mas Yusa

Mas Yusa...bisa saya tahu: apakah Mas "menguasai" I'rab, Nahu, dan Shorof? Tolong dijawab ya Mas...sehingga jelas makna tulisan yang Mas sampaikan di bawah ini, hanya disadur ataukah pemahamannya setelah Mas I'rab?

terima kasih,
ss___
 














     
Reply | Threaded
Open this post in threaded view
|  
Report Content as Inappropriate

Re: Ahlul Bait

mentirotiku mentirotiku
In reply to this post by yusa nugroho
Salam semua,

kadang mentok ya, merasa ilmu tak pernah cukup membahas hidup dan misteri
alam semesta. Tapi justru karena ketidak sempurnaan kita, kita jadinya terus
mencari dan mencari, kadang sampai capek dan merasa seandainya saja kita
tidak tahu apa2 akan lebih baik. Memandang semuanya lebih jujur dan apa
adanya. Tanpa pretensi. Polos, bahagia, begitu saja...
Tapi ilmu sebenarnya sepertinya adalah melepaskan ikatan ketika kita
terikat, merasa puas ketika kita sedang mengejarnya. Menjadi bahagia di saat
yang terbaik kita, yaitu saat ini. Present moment.

Senang ya, sama-sama belajar... Saling kirim kabar dan bagi ilmu.
Kebetulan ini ada workshop tentang kesadaran spiritual, mudah2an teman2
tertarik.

Tks

Iklan Kompas 23 Juni 2008_BW.JPG (471K) Download Attachment
24
Reply | Threaded
Open this post in threaded view
|  
Report Content as Inappropriate

MENGENAI HABIB YANG MERUPAKAN KETURUNAN NABI MUHAMMAD SAW

24
In reply to this post by yusa nugroho
FADHA'IL (KEUTAMAAN) AHLULBAIT
Syeikhul Islam Ibnul Qayyim Al-Jauziyyah dalam bukunya yang berjudul 'Jala'ul-Afham', mulai halaman 210, membicarakan keutamaan-keutamaan (fadha'il) ahlulbait Rasulullah s.a.w. sekaitan dengan kemuliaan ahlulbaitun-nubuwwah secara menyeluruh. Yang dimaksud dengan 'ahlubaitun-nubuwwah' dalam hal itu ialah mulai dari ahlubait Nabi Ibrahim a.s hingga ahlubait Muhammad Rasulullah s.a.w. Kami rasa hal itu sangat baik dan perlu diketahui, kerana dapat memberikan gambaran menyeluruh tentang betapa mulianya ahlulbait Rasulullah s.a.w. dan keturunannya.
Ibnul Qayyim mengatakan, bahawa keluarga silsilah keturunan Nabi Ibrahim a.s adalah keluarga-keluarga yang diberkati dan disucikan Allah s.w.t., kerana itu mereka adalah silsilah keluarga yang paling mulia di antara semua ummat manusia. Allah s.w.t. berkenan menganugerahkan berbagai keistimewaan dan keutamaan kepada mereka. Di antara keutamaan yang banyak itu ialah:
1. Banyak Nabi dan Rasul – dengan syari'at dan Kitab Sucinya masing-masing – lahir dari kalangan mereka, dan dari kalangan mereka pula lahir para Imam yang memberikan penerangan serta petunjuk kepada ummat manusia hingga saat tibanya hari kiamat kelak. Semua hali takwa dan para waliyyullah yang dijanjikan akan masuk syurga adalah kerana mereka itu menempuh jalan hidup yang diserukan dan dianjurkan oleh keluarga nubuwwah.
2. Allah s.w.t. mengangkat martabat Nabi Ibrahim a.s sedemikian tinggi dengan memberi gelar kepada beliau sebagai 'Khalil' (sahabat dekat), sebagaimana ditegaskan Allah s.w.t. di dalam firman-Nya (surah An-Nisa: 125). Rasulullah s.a.w. sendiri dalam sebuah hadits menegaskan: "Sesungguhnya Allah telah mengangkat diriku sebagai 'Khalil', sama dengan Ibrahim yang telah diangkat pula sebagai 'Khalil'."
3. Allah s.w.t. telah menjadikan Nabi Ibrahim a.s dan keturunannya sebagai Imam (pemimpin) bagi seluruh ummat manusia. Hal ini difirmankan Allah s.w.t. di dalam Al-Qur'anul-Karim surah Al-Baqarah ayat 124.
4. Nabi Ibrahim bersama puteranya Nabi Ismail – alaihissalam – membangun baitullah (rumah Allah) – Al-Ka'batul-Mukarramah – yang kemudian oleh Allah s.w.t. ditetapkan sebagai kiblat, dan ke sana pula semua kaum Muslimin menunaikan ibadah haji. Rumah suci tersebut adalah buah karya baitun-nubuwwah yang mulia.
5. Allah s.w.t. telah memerintahkan semua orang yang beriman supaya senantiasa mengucapkan shalawat bagi Nabi Muhammad s.a.w. dan keluarga (aal) beliau seperti shalawat yang diucapkan bagi Nabi Ibrahim dan keluarga (aal) beliau.
6. Allah s.w.t. telah menciptakan dua ummat manusia terbesar di dunia, iaitu ummat Nabi Musa a.s dan ummat Nabi Muhammad s.a.w. sebagai ummat-ummat terbaik dalam pandangan Allah, guna melengkapi jumlah 70 ummat yang diciptakan-Nya.
7. Allah s.w.t. melestarikan kemuliaan baitun-nubuwwah sepanjang zaman dengan selalu disebut-sebutnya keagungan mereka dan keluarga serta keturunan mereka; sebagaimana firman Allah dalam Al-Qur'anul-Karim (surah Ash-Shaffat: 108-110)
8. Allah s.w.t. telah menjadikan baitun-nubuwwah (keluarga Nabi Ibrahim a.s dan keturunannya hingga Nabi Muhammad s.a.w. dan keturunannya) sebagai 'furqan' (batas pemisah kebenaran dan kebatilan). Bahagilah manusia yang mengikuti seruan dan jejak mereka, dan celakalah mereka yang memusuhi dan menentangnya.
9. Allah s.w.t. berkenan menyebut nama-nama mereka disamping nama-Nya sendiri dengan menyebut Nabi Ibrahim: "Ibrahim Khalilullah", "Musa Kalimullah" (manusia yang langsung menerima firman Allah), dan "Muhammad Habibullah" (kesayangan Allah). Kecuali itu Allah s.w.t. telah menegaskan juga kepada Nabi Muhammad s.a.w. tentang nikmat besar yang telah dilimpahkan-Nya kepada beliau s.a.w., sebagaimana termaktub dalam surah Al-Insyirah: 4. Sehubungan dengan itu Ibnu 'Abbas meriwayatkan, bahawasanya Rasulullah s.a.w. pernah bersabda: "Apabila engkau menyebut Allah, sebutlah pula namaku". Yakni: Tiada tuhan selain Allah dan Muhammad adalah Rasulullah. Sebutlah kalimat itu, baik pada saat orang mulai memeluk Islam, di dalam azan, dalam khutbah, dalam tasyahud dan lain sebagainya. Demikian kata Ibnu 'Abbas r.a.
10. Allah s.w.t. menghindarkan ummat manusia dari kesengsaraan dunia dan akhirat melalui tuntutan dan bimbingan baitun-nubuwwah itu. Betapa besar kebajikan yang telah dicurahkan oleh baitun-nubuwwah demi keselamatan ummat manusia. Mereka telah banyak berbuat kebajikan dan ihsan bagi manusia masa silam, masa kini dan masa mendatang. Setiap amal kebajikan yang dilakukan oleh manusia di muka bumi, di samping Allah memberikan pahala kepadanya, Allah juga berkenan memberikan pahala kepada baitun-nubuwwah atas jasa-jasa yang telah mereka berikan kepada seluruh ummat manusia. Maha Suci Allah Yang telah memberikan kemuliaan kepada siapa saja menurut kehendak-Nya.
11. Kepada baitun-nubuwwah itu Allah s.w.t. telah menganugerahkan keistimewaan khusus, iaitu menutup semua jalan dan pintu bagi manusia di dunia ini untuk mendekatkan diri kepada-Nya, selain jalan dan pintu yang telah dirintis dan dibukakan oleh baitun-nubuwwah. Dalam sebuah hadits Qudsiy Allah s.w.t. berfirman kepada Rasul-Nya, Muhammad s.a.w.: "Demi Kemuliaan-Ku dan Demi Keagungan-Ku, seandainya manusia hendak datang kepada-Ku melalui jalan dan pintu mana saja, tak akan Ku-bukakan sebelum mereka mengikuti jejakmu"
12. Allah s.w.t. telah menjadikan baitun-nubuwwah sebagai pemusatan ilmu pengetahuan tentang: Keagungan Asma Allah, sifat-sifat Allah, hukum-hukum Allah, af'al Allah (segala sesuatu yang dilakukan Allah), anugerah dan ganjaran Allah, hal-hal yang diridhai dan dimurkai Allah, para malaikat dan semua makhluk ciptaan Allah; lebih banyak daripada ilmu pengetahuan yang ada pada baitun-nubuwwah.
13. Allah s.w.t. menempatkan baitun-nubuwwah di muka bumi sebagai khalifah yang dipatuhi oleh ummat manusia. Kemuliaan seperti itu tidak diberikan Allah s.w.t. kepada keluarga lain, dan itu merupakan keistimewaan yang luar biasa besarnya.
14. Melalui baitun-nubuwwah itu Allah s.w.t. hendak menghapuskan kesesatan dan syirik dari muka bumi, iaitu suatu sikap mental dan kejiwaan yang paling dimurkai Allah. Untuk itu Allah s.w.t. menanamkan perasaan cinta kepada mereka di dalam hati ummat manusia. Tidak ada keluarga lain manapun juga yang pernah memperoleh kecintaan ummat manusia setinggi yang mereka peroleh.
15. Allah s.w.t. telah menjadikan peninggalan mereka (agama-agama yang mereka bawakan) di muka bumi ini sebagai jaminan keselamatan bagi alam semesta, yang akan senantiasa tetap lestari selama agama mereka tetap lestari. Manakala agama yang mereka ajarkan itu lenyap dari muka bumi, itu merupakan petanda mulai hancurnya alam semesta. Allah s.w.t. telah menjelaskan di dalam Al-Qur'anul-Karim, bahawa Allah tetap menjadikan Ka'bah sebagai tempat suci yang di dalamnya dilarang adanya perbuatan permusuhan dan lain sebagainya. Ibnu 'Abbas r.a pernah mengatakan andaikata tidak ada lagi manusia yang menunaikan ibadah haji, maka akan ambruklah langit ini. Kecuali itu, konon Rasulullah s.a.w. sendiri pernah memberitahu para sahabatnya, bahawa pada akhir zaman Allah akan mengangkat Ka'bah dari muka bumi dan meniadakan Kalam-Nya (firman-firman-Nya) dari kitab Suci dan dari dada setiap insane, sehingga di bumi ini tidak ada lagi Ka'bah tempat orang menunaikan ibadah haji, dan tidak ada lagi ayat-ayat suci dibaca orang. Saat itu menandakan hampir tibanya hari kiamat dan kehancuran alam semesta.
Demikian pula keadaan manusia dewasa ini, kesentosaan mereka tergantung pada kesentosaan agama dan syari'at yang ditinggalkan oleh seorang Nabi akhir zaman yang datang dari baitun-nubuwwah, iaitu Nabi Muhammad s.a.w. keselamatan manusia dari cubaan dan malapetaka tergantung pada sikap manusia sendiri dalam melestarikan kesentosaan ajaran agama yang dibawakan oleh Nabi Muhammad s.a.w. Malapetaka dan berbagai macam bencana pasti akan menimpa kehidupan ummat manusia manakala mereka menjauhi kebenaran dan keadilan yang diajarkan Muhammad Rasulullah s.a.w. dan bernaung kepada hal-hal selain Allah dan tuntutan agama-Nya. Barangsiapa yang merenungkan murka Allah yang ditimpakan kepada seorang manusia atau sebuah negeri yang memusuhi-Nya, ia dapat memahami bahawa turunnya azab itu akibat sikap manusia sendiri yang tidak menghiraukan agama Allah.
Kesemuanya itu merupakan berkah dan rahmat Allah s.w.t. yang telah dilimpahkan kepada baitun-nubuwwah. Di antara mereka itu ada yang memperoleh martabat tinggi dan keutamaan-keutamaan lain, seperti: Nabi Ibrahim diangkat sebagai 'Khalilullah', Nabi Ismail diberi gelaran sebagai 'Zabihullah', Nabi Musa didekatkan kepada-Nya dan dianugerahkan gelaran 'Kalimullah', Nabi Yusuf dianugerahi kehormatan dan paras indah yang luarbiasa, Nabi Sulaiman dianugerahi kerajaan dan kekuasaan yang tiada tolok bandingannya di kalangan ummat manusia dan jin, Nabi Isa diangkat kedudukannya ke martabat yang setinggi-tingginya, dan Nabi Muhammad diangkat sebagai penghulu semua Nabi dan Rasul serta sebagai Nabi terakhir pembawa agama Allah yang terakhir, Islam. Maha Benar Allah yang telah menyatakan bahawa mereka itu telah dianugerahi keutamaan mengungguli semua keutamaan yang ada di dunia dan di alam semesta.
Keistimewaan-keistimewaan khusus lainnya dilimpahkan Allah s.w.t. kepada mereka ialah, bahawa Allah meniadakan azab umum dari ummat manusia. Tidak seperti ummat-ummat sebelum mereka yang selalu dikenakan azab umum apabila sudah banyak orang yang mendustakan para Nabi dan Rasul yang diutus Allah kepada mereka; seperti azab umum yang ditimpakan Allah kepada ummat Nabi Nuh a.s, ummat Nabi Salleh a.s, ummat Nabi Luth a.s dan lain-lain. Akan tetapi setelah Allah s.w.t. menurunkan kitab-kitab suci Taurat, Injil dan Al-Qur'an, Allah berkenan meniadakan azab umum dari ummat manusia. Allah hanya memerintahkan dilakukannya perjuangan terhadap manusia-manusia yang mendustakan para Nabi dan Rasul.
Demikianlah, beberapa keutamaan baitun-nubuwwah yang diketengahkan oleh Syeikhul Islam Ibnul Qayyim dalam kitabnya, 'Jala'ul-Afham'.
Mengingat kemuliaan martabat baitun-nubuwwah yang dimulai sejak Nabi Ibrahim a.s secara turun-temurun hingga Nabi kita Muhammad s.a.w. tidaklah menghairankan jika beliau mewanti-wanti ummatnya supaya menghormati dan bersikap tepat terhadap ahlulbait dan keturunannya. Ini bukan semata-mata kerana keagungan martabat beliau sendiri sebagai Nabi dan Rasul, melainkan kerana kemuliaan baitun-nubuwwah yang telah ditetapkan Allah s.w.t. sejak Nabi Ibrahim a.s. Itulah rahsia besar yang terselip di dalam hadits Tsaqalain dan hadits-hadits lainnya yang berkaitan dengan kedudukan ahlulbait Rasulullah s.a.w.
Hadits-hadits Nabi s.a.w. yang mengenai fadha'il (keutamaan) ahlulbait Rasulullah s.a.w.
Mufti Makkah Syeikh Muhammad Sa'id bin Muhammad Babushail Al-Hadhramiy – rahimahullah – mengetengahkan nas-nas hadits Rasulullah s.a.w. mengenai fadha'il ahlulbait dan keturunan beliau s.a.w., di dalam sebuah risalah yang ditulisnya berjudul 'Ad-Durarun-Naqiyyah Fi Fadha'ili Dzurriyyati Kharil-Barriyyah', dicetak di kairo pada tahun 1969 M/1389 H.
Pada bahagian pertama risalah tersebut Syeikh Muhammad Sa'id menerangkan makna 'ahlulbait' berdasarkan hadits-hadits shahih. Dalam hal itu ia mengatakan sebagai berikut: "…ayat Al-Qur'an yang mengenai ahlulbait" (yakni ayat 33 surah Al-Ahzab) tidak menolak pengertian tentang masuknya para isteri Rasulullah s.a.w. dalam lingkungan ahlulbait Rasulullah s.a.w., kerana kata 'ahlul-bait' mencakup dua pengertian, iaitu: keluarga yang tinggal serumah (baitus-sukna) dan keluarga menurut silsilah (batin-nasab). Para isteri Rasulullah s.a.w. adalah keluarga yang tinggal serumah dengan beliau s.a.w., sedangkan kaum kerabat beliau (termasuk anak cucu keturunan beliau) adalah keluarga senasab. Ayat tersebut pada dasarnya turun berkenaan dengan hak dan kewajipan para isteri Nabi. Akan tetapi dengan adanya hadits-hadits yang menunjukkan, bahawa ayat tersebut mencakup ahlulbait sukna dan ahlulbait senasab, maka pengertian mencakup semua pihak…"
Mengenai fadha'il ahlulbait Rasulullah s.a.w. Syeikh Muhammad Sa'id mengetengahkan nas-nas Al-Qur'an dan hadits seperti di bawah ini:
"Katakanlah (hai Muhammad): 'Kepada kalian aku tidak minta upah apa pun juga atas seruanku kecuali kasih-sayang dalam kekeluargaan'. Barangsiapa berbuat kebajikan baginya Kami tambahkan kebaikan pada kebajikannya itu. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Membalas syukur". [Asy-Syura: 23]
Imam Ahmad bin Hanbal, Thabraniy dan Al-Hakim meriwayatkan sebuah hadits berasal dari Ibnu 'Abbas r.a yang mengatakan, bahawa setelah turun ayat tersebut di atas, para sahabat bertanya:
"Ya Rasulullah, siapakah kerabat anda yang wajib kita berkasih sayang kepada mereka?" Rasulullah s.a.w. menjawap: "'Ali, Fatimah dab dua orang anak mereka berdua".
Abu Syeikh meriwayatkan sebuah hadits dari Imam 'Ali bin Abi Thalib r.a yang mengatakan bahawa:
"Ayat Haa Miim turun berkenaan dengan diri kami".
Yang dimaksud dengan ayat 'Haa Miim' adalah ayat tersebut di atas. Selanjutnya Imam 'Ali r.a mengatakan:
"Tidak ada yang memelihara kasih sayang kepada kami selain orang yang beriman".
Ayat lainnya lagi yang menunjukkan fadha'il ahlulbait Rasulullah s.a.w. dan membenarkan hubungan nasab mereka dengan beliau s.a.w. ialah:
"Barangsiapa yang membantahmu tentang kisah Isa setelah datang ilmu kepadamu (yakni pemberitahuan yang meyakinkan dari Allah) maka katakanlah (kepada mereka): "Marilah kita panggil anak-anak kami dan anak-anak kalian, isteri-isteri kami dan isteri-isteri kalian, diri kami dan diri kalian; kemudian marilah kita bermubahalah (berdoa kepada Allah supaya menjatuhkan laknat bagi orang-orang yang berdusta)".
Imam Ar-Raziy mengatakan: "Tidak ada dalil yang lebih kuat daripada ayat mubahalah tersebut, mengenai fadha'il ahlul-kisa, iaitu 'Ali, Fatimah, Al-Hasan, Al-Husein – radhiyallahu anhum. Ketika berangkat untuk bermubahalah (dengan kaum Nasrani Najran) Rasulullah s.a.w. menggendong Al-Husein r.a, menggandeng Al-Hasan r.a, sedang Fatimah r.a berjalan di belakang beliau, dan 'Ali r.a berjalan di belakang mereka. Dengan demikian maka dapat diketahui dengan jelas, bahawa mereka itulah yang dimaksud ayat tersebut. Dalam hal itu putera-putera Fatimah r.a dan keturunannya disebut "putera-putera Rasulullah s.a.w." dan dinyatakan benar-benar bernasab kepada beliau s.a.w.
Adapun hadits-hadits yang menerangkan fadha'il ahlulbait Rasulullah s.a.w. banyak sekali. Beberapa di antaranya adalah:
1. Hadits yang diriwayatkan oleh Thabraniy, bahawasanya Rasulullah s.a.w. telah bersabda:
"Allah menciptakan keturunan setiap Nabi dari tulang sulbinya sendiri, namun Allah menciptakan keturunanku dari tulang sulbi 'Ali bin Abi Thalib".
Abulkhair dan Al-Hakim meriwayatkan sebuah hadits berasal dari Al-'Abbas, paman Nabi, bahawa pada suatu hari 'Ali bin Abi Thalib r.a datang menghadap Rasulullah s.a.w., dan di tempat itu hadir Al-'Abbas. Setelah Rasulullah s.a.w. menjawap ucapan salam 'Ali bin Abi Thalib r.a beliau berdiri, kemudian merangkulnya dan mencium keningnya, lalu dipersilakan duduk di sebelah kanan beliau. Ketika itu Al-'Abbas bertanya: 'Ya Rasulullah, apakah anda mencintai dia'? Beliau menjawap:
"Paman, demi Allah, Allah lebih mencintai dia daripada aku. Allah Azza wa Jalla menjadikan keturunan setiap Nabi dari tulang sulbinya sendiri, namun Allah menjadikan keturunanku dari tulang sulbi orang ini".
Al-Bukhariy di dalam 'Shahih'nya meriwayatkan sebuah hadits berasal dari Abu Bikrah Ats-Tsaqafiy r.a yang mengatakan sebagai berikut:
"Saya mendengar Rasulullah s.a.w. berkata dari atas mimbar – al-Hasan di samping beliau, beliau sebentar melihat kepadanya dan sebentar melihat kepada hadirin – 'Puteraku ini adalah sayyid. Mudah-mudahan dengan dia Allah kelak akan mendamaikan dua golongan kaum Muslimin".
Tirmudziy mengetengahkan sebuah hadits berasal dari Usamah bin Zaid r.a yang mengatakan sebagai berikut:
"Saya melihat Rasulullah s.a.w. duduk memangku al-Hasan dan al-Husein, kemudian beliau berkata: Dua orang anak ini anak-anakku dan anak-anak Fatimah. Ya Allah, aku mencintai dua anak ini, maka cintailah mereka berdua dan cintailah pula orang yang mencintai kedua-duanya".
Dalam kitab 'Al-Hilyah' Abu Nu'aim meriwayatkan sebuah hadits berasal dari Abu Bakar Ash-Shiddiq r.a yang menceritakan kesaksiannya, bahawa pada suatu hari di saat Rasulullah s.a.w. sedang mengimami sholat jama'ah, tiba-tiba datanglah al-Hasan r.a. Di saat Rasulullah s.a.w. sedang sujud al-Hasan yang masih kecil itu naik ke atas punggung beliau, kemudian turun dan naik lagi ke atas tengkuk beliau. Rasulullah s.a.w. mengangkat anak itu perlahan-lahan. Selesai sholat para sahabat berkata: Ya Rasulullah, anda memperlakukan anak itu tidak seperti perlakuan yang anda berikan kepada siapa pun juga. Rasulullah s.a.w. menjawap:
"Anak ini raihanahku3. Anakku ini adalah sayyid, semoga dengan dia Allah akan mendamaikan dua golongan kaum Muslimin".
Al-Hafidz As-Salafiy meriwayatkan sebuah hadits dari Abu Hurairah r.a yang mengatakan, bahawa pada suatu hari Rasulullah s.a.w. bersama saya pergi ke tempat perniagaan Bani Qainuqa. Sekembalinya dari tempat itu beliau masuk ke masjid, kemudian menyuruh saya: "Panggilkan anakku…" Al-Hasan bin Ali segera datang lalu masuk ke dalam hijr beliau, Rasulullah s.a.w. kemudian membuka mulut al-Hasan dan berdoa di depan mulutnya:
"Ya Allah, aku mencintai dia maka cintailah dia dan cintailah orang yang mencintainya – beliau mengucapkannya tiga kali".
Ahmad dan Al-Hakim meriwayatkan sebuah hadits berasal dari Musawwar bin Makhramah radhiyallahu 'anhuma; bahawasanya Rasulullah s.a.w. telah berkata:
"Fatimah adalah sebahagian dari diriku, apa yang membuatnya marah membuatku marah dan apa yang melegakannya melegakan aku. Sesungguhnya bahawa semua nasab akan terputus pada hari kiamat, selain nasabku, sebabku dan menantuku".
Thabraniy meriwayatkan sebuah hadits dari Siti Fatimah r.a, bahawasanya Rasulullah s.a.w. pernah menegaskan:
"Semua anak yang dilahirkan oleh ibunya bernasab kepada ayah mereka kecuali anak Fatimah; akulah wali mereka, akulah nasab mereka dan akulah ayah mereka".
Al-Baihaqiy, Thabraniy dan lain-lainnya meriwayatkan, bahawa ketika Umar Ibnul-Khatthab r.a meminang puteri Imam 'Ali r.a yang bernama Ummu Kaltsum (puteri Siti Fatimah Az-Zahra r.a), ia berkata:
Lebih lanjut Umar r.a berkata. "Aku tidak menginginkan kedudukan, tetapi saya pernah mendengar Rasulullah s.a.w. berkata: 'Semua sebab dan nasab akan terputus pada hari kiamat kecuali sebabku dan nasabku. Semua anak yang dilahirkan ibunya bernasab kepada ayah mereka kecuali anak Fatimah, akulah ayah mereka dan kepadaku mereka bernasab'. Umar r.a berkata lebih lanjut: 'Aku adalah sahabat beliau, dan dengan hidup bersama Ummu Kaltsum aku ingin memperoleh hubungan sebab dan nasab (dengan Rasulullah s.a.w.)'.
Abulkhair Al-Qazwainiy meriwayatkan sebuah hadits dari Anas bin Malik r.a, bahawasanya Rasulullah s.a.w. ketika menikahkan 'Ali bin Abi Thalib r.a dengan Siti Fatimah r.a berkata sebagai berikut:
"Allah mempererat kerukunan kalian berdua, memenangkan pengikut kalian, memberkahi kalian dan semoga mengeluarkan keturunan yang banyak dan baik dari kalian".
Anas mengatakan: Demi Allah, benarlah bahawa Allah mengeluarkan keturunan yang banyak dan baik dari dua orang (suami-isteri) itu.
Imam Ahmad bin Hanbal dan Ibnu Abi Hatim meriwayatkan sebuah hadits berasal dari Ummu Aiman r.a, bahawasanya Rasulullah s.a.w. pada malam pertama pernikahan 'Ali dengan Fatimah radhiyallahu 'anhuma berdoa bagi keselamatan kedua-duanya. Untuk Fatimah r.a beliau berdoa:
"Ya Allah, ia (Fatimah r.a) dan keturunannya kuperlindungkan kepadaMu dari syaitan terkutuk".
Untuk 'Ali r.a beliau berdoa:
"Ya Allah, ia ('Ali r.a) dan keturunannya keperlindungkan kepadamu dari syaitan terkutuk".
Kemudian kepada 'Ali r.a beliau berkata:
"Gaulilah keluargamu bismillah wal barakah".
Al-Bazar, Abu Ya'la, Thabraniy dan Al-Hakim meriwayatkan sebuah hadits dari Ibnu Mas'ud r.a, bahawasanya Rasulullah s.a.w. telah berkata:
"Fatimah telah menjaga kehormatannya, kerana itu Allah mengharamkan dia dan keturunannya dari neraka".
Al-Bukhariy dan Muslim dalam 'Shahih'nya masing-masing meriwayatkan sebuah hadits dari Siti Fatimah r.a, bahawa Rasulullah s.a.w. pernah berkata kepadanya:
"Apakah engkau tidak puas menjadi sayyidatu nisa'ul Mu'minin (wanita kaum Muslimin yang terkemuka)"?
Tirmudziy dan Al-Hakim meriwayatkan sebuah hadits dari Usaman bin Zaid r.a, bahawasanya Rasulullah s.a.w. telah berkata:
"Keluargaku yang paling kucintai ialah Fatimah".
Imam Ahmad bin Hanbal dan Tirmudziy meriwayatkan sebuah hadits dari Ibnuz-Zubair r.a, bahawasanya Rasulullah s.a.w. telah berkata:
"Fatimah adalah bahagian dari diriku, apa yang mengganggunya mengganggu diriku dan apa yang menyakitinya menyakiti diriku".
Dalam kitab 'Al-Ghilaniyyat' Abubakar meriwayatkan sebuah hadits dari Abu Ayuub Al-Anshariy, bahawasanya Rasulullah s.a.w. pernah berkata:
"Pada hari kiamat akan terdengar suara berseru dari tengah Arsy: 'Hai semua manusia, tundukkanlah kepala dan pejamkan mata kalian hingga Fatimah binti Muhammad lewat di atas shirath! Fatimah kemudian berjalan bersama tujuhpuluh ribu bidadari secepat kilat hingga sampai ke syurga".
Imam Ahmad bin Hanbal meriwayatkan sebuah hadits dari Abu Hurairah r.a, bahawa Rasulullah s.a.w. pernah berkata kepada 'Ali bin Abi Thalib r.a:
"Fatimah lebih kucintai daripada engkau, dan bagiku engkau lebih mulia daripada Fatimah".
Abu Dawud meriwayatkan sebuah hadits, bahawasanya Rasulullah s.a.w. telah berkata:
"Barangsiapa mencintaiku dan mencintai kedua anak itu – yakni al-Hasan dan al-Husein radhiyallahu 'anhum – serta mencintai ayah bonda mereka (yakni Imam 'Ali dan Siti Fatimah radhiyallahu 'anhuma) kemudian ia mati dalam keadaan mengikuti sunnahku ia akan masuk syurga yang sederajat dengan syurgaku".
Imam Ahmad bin Hanbal dan Tirmudziy mengetengahkan sebuah hadits dari Abu Sa'id Al-Khudhariy r.a, yang diriwayatkan juga oleh Thabraniy dari hadits Umar, Jabir, Abu Hurairah, Amamah bin Zaid, Al-Barra bin Azib dan Ibn Adiy, berasal dari Abdullah bin Mas'ud r.a; bahawasanya Rasulullah s.a.w. berkata:
"Al-Hasan dan Al-Husein adalah dua orang pemuda terkemuka penghuni Syurga. – Dalam hadits Ibnu Mas'ud: Dua orang puteraku ini, Al-Hasan dan Al-Husein, adalah dua orang pemuda terkemuka penghuni Syurga, namun ayah kedua anak itu lebih mulia".
Di dalam hadits yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad bin Hanbal, Tirmudziy, An-Nasa'iy dan Ibnu Hiban, yang berasal dari Hudzaifah bin Al-Yaman r.a; bahawasanya Rasulullah s.a.w. berkata:
"Yang diperlihatkan kepada sebelum itu ialah seorang malaikat yang sebelum malam ini tidak pernah turun ke bumi. Ia mohon izin kepada Allah Azza wa Jalla untuk menyampaikan salam kepadaku dan memberi kabar gembira kepadaku, bahawa Al-Hasan dan Al-Husein adalah dua orang pemuda terkemuka penghuni syurga, dan bahawa Fatimah adalah wanita terkemuka penghuni syurga".
Tirmudziy meriwayatkan sebuah hadits berasal dari Abdullah bin Umar r.a bahawasanya Rasulullah s.a.w. berkata:
"Al-Hasan dan Al-Husein adalah dua raihanahku di dunia".
Abu Ya'la meriwayatkan sebuah hadits dari Salmah bin Al-Akwa r.a, bahawasanya Rasulullah s.a.w. pernah berkata:
"Bintang-bintang adalah keselamatan bagi penghuni langit sedangkan ahlulbaitku adalah keselamatan bagi ummatku dari perselisihan".
Dalam hadits yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad bin Hanbal, Rasulullah berkata:
"Apabila bintang-bintang lenyap, lenyaplah langit; dan apabila ahlulbait lenyap, lenyaplah penghuni bumi".
Dalam hadits lain Rasulullah berkata:
"Apabila ahlulbaitku punah, maka tibalah apa yang dijanjikan dalam ayat-ayat Al-Qur'an kepada penghuni bumi (yakni kepunahan)".
Ibnu Adiy dan Ad-Dailamiy meriwayatkan sebuah hadits berasal dari 'Ali bin Abi Thalib r.a, bahawasanya Rasulullah s.a.w. berkata:
"Di antara kalian yang paling mantap (tidak goyah) di atas shirath ialah yang paling besar kecintaannya kepada ahlulbaitku".
Tirmudziy, Ibnu Majah dan Al-Hakim meriwayatkan, bahawa Rasulullah s.a.w. berkata:
"Aku memerangi orang yang memerangi mereka (ahlulbaitku) dan berdamai dengan orang yang berdamai dengan mereka".
Ibnu Ma'jah meriwayatkan sebuah hadits yang berasal dari Al-'Abbas bin Abdul Mutthalib, bahawasanya Rasulullah s.a.w. berkata:
"Kepada ada orang-orang yang sedang bercakap-cakap kemudian jika didatangi seorang dari ahlulbait lalu memutuskan pembicaraan? Demi Allah yang nyawaku berada di tangan-Nya, iman tidak akan masuk ke dalam hati seorang sebelum ia mencintai mereka (ahlulbaitku) demi kerana Allah dan kerana kerabatku".
Menurut riwayat lain beliau berkata:
"Seseorang (hamba Allah) tidak beriman kepadaku sebelum ia mencintaiku, dan ia tidak mencintaiku sebelum mencintai ahlulbaitku".
Dalam riwayat hadits yang lain lagi beliau berkata:
"Mereka tidak akan masuk syurga sebelum beriman, dan mereka tidak beriman sebelum mencintai kalian (ahlulbait Rasulullah s.a.w.) demi kerana Allah dan Rasul-Nya".
Thabraniy dan Al-Baihaqiy meriwayatkan sebuah hadits, bahawa dalam salah satu khutbah di atas mimbar Rasulullah s.a.w. berkata:
"Kepana ada orang-orang yang menggangguku mengenai nasab dan kaum kerabatku? Bukankah orang yang mengganggu nasabku dan kaum kerabatku bererti ia telah menggangguku dan siapa yang menggangguku bererti ia mengganggu Allah s.w.t.?"
Ad-Dailamiy meriwayatkan sebuah hadits, bahawasanya Rasulullah s.a.w. berkata:
"Barangsiapa mencintai Allah ia mencintai Al-Qur'an. Barangsiapa yang mencintai Al-Qur'an ia mencintai aku dan barangsiapa yang mencintai aku ia tentu mencintai para sahabatku dan kaum kerabatku".
Al-Mala dalam kitab 'Sirah'nya mengetengahkan sebuah hadits, bahawasanya Rasulullah s.a.w. berkata:
"Tidak ada yang mencintai kami ahlulbait kecuali orang yang beriman dan bertakwa, dan tidak ada yang membenci kami kecuali orang munafik dan derhaka".
Ad-Dailamiy meriwayatkan sebuah hadits dari Ibnu Sa'id Al-Khudhariy bahawasanya Rasulullah s.a.w. berkata:
"Allah sangat murka terhadap orang yang menggangguku melalui ahlulbaitku (itrahku)".
Ad-Dailamiy mengatakan, benarlah bahawa Rasulullah s.a.w. telah berkata:
"Barangsiapa yang ditangguhkan ajalnya (dipanjangkan umurnya) dan ingin mendapat kebahagiaan dengan kebajikan yang dikurniakan Allah kepadanya, hendaklah berlaku baik terhadap keluargaku sepeninggalanku. Barangsiapa tidak berlaku baik terhadap keluargaku sepeninggalku, ia akan dipendekkan umurnya, dan pada hari kiamat ia akan dihadapkan kepadaku dalam keadaan mukanya berwarna hitam".
Ibnu Sa'ad mengetengahkan sebuah hadits, bahawasanya Rasulullah s.a.w. pernah menegaskan:
"Hendaklah kalian berwasiat yang baik mengenai ahlulbaitku. Kelak aku akan menggugat kalian. Barangsiapa yang kugugat bererti aku menjadi lawannya, dan orang yang menjadi lawanku ia masuk neraka. Barangsiapa yang menjaga baik-baik wasiatku mengenai ahlulbaitku, bererti ia telah membuat perjanjian dengan Allah".
Ibnu Sa'ad juga mengetengahkan hadits lain, bahawasanya Rasulullah s.a.w. berkata:
"Aku dan ahlulbaitku ibarat sebuah pohon di syurga yang cabang dahannya berada di dunia. Barangsiapa menghendaki dapat menjadikannya sebagai jalan kepada Tuhannya".
Ad-Dailamiy mengetengahkan sebuah riwayat hadits, bahawasanya Rasulullah s.a.w. berkata:
"Doa seseorang masih tertutup hijab sebelum ia mengucapkan shalawat bagi Muhammad dan ahlulbaitnya: Ya Allah limpahkanlah shalawat kepada Muhammad, aal Muhammad dan para sahabatnya dan limpahkanlah salam sejahtera kepada mereka".
Tirmudziy dan Al-Hakim meriwayatkan hadits dari Ibnu 'Abbas r.a, bahawasanya Rasulullah s.a.w. berkata:
"Cintailah Allah yang dengan nikmat kurnia-Nya memberi makan kepada kalian, dan cintailah aku demi kerana Allah s.w.t. serta cintailah ahlulbaitku demi kecintaan kalian kepadaku".
Al-Baihaqiy dan Ad-Dailamiy meriwayatkan sebuah hadits, bahawasanya Rasulullah s.a.w. menegaskan:
"Seorang hamba Allah tidak beriman sebelum ia mencintai diriku lebih daripada dirinya sendiri, lebih mencintai keturunanku daripada keturunannya, lebih mencintai keluargaku daripada keluarganya dan lebih mencintai dzatku daripada dzatnya sendiri".
Ad-Dailamiy mengetengahkan sebuah hadits, bahawasanya Rasulullah s.a.w. berpesan kepada kaum Muslimin:
"Didiklah anak-anak kalian supaya mempunyai tiga macam sifat: Mencintai Nabi kalian, mencintai ahlulbaitnya dan gemar membaca Al-Qur'an".
Al-Hafidz As-Salafiy meriwayatkan sebuah hadits berasal dari Muhammad bin Al-Hanafiyyah, bahawa ia (Muhammad bin Al-Hanafiyyah) dalam tafsirnya mengenai firman Allah dalam surah Maryam: 96, iaitu:
"Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan berbuat kebajikan, Allah Yang Maha Pengasih akan – menanamkan dalam hati mereka – rasa kasih sayang".
Mengatakan:
"Seorang mu'min tidak akan mantap imannya sebelum di dalam hatinya terdapat rasa kasih-sayang kepada 'Ali r.a dan ahlulbaitnya".
Abu Sa'id di dalam kitab 'Syarafun-Nubuwwah' mengetengahkan sebuah hadits, bahawasanya Rasulullah s.a.w. berkata kepada Fatimah r.a:
"Hai Fatimah, engkau marah Allah marah, dan engkau ridho (puas) Allah ridho".
Al-allamah Ibnu Hajar dalam kitabnya, 'Ash-Shawaiqul-Muriqah', menerangkan sebagai berikut: Barangsiapa mengganggu salah seorang putera Fatimah, ia akan menghadapi bahaya kerana perbuatannya itu membuat marah Siti Fatimah r.a. Sebaliknya, barangsiapa mencintai putera-putera Fatimah r.a ia akan memperoleh keridhaannya. Para ulama khawash (yakni para ulama yang mempunyai keistimewaan khusus) merasa di dalam hatinya terdapat keistimewaan yang sempurna kerana kecintaan mereka kepada Rasulullah s.a.w. dan ahlulbait serta keturunannya atas dasar pengertian, bahawa ahlulbait dan keturunan beliau s.a.w. adalah orang-orang suci. Selain itu mereka (para ulama khawash itu) juga mencintai anak-anak 10 orang yang telah dijanjikan masuk syurga, di samping itu mereka juga mencintai anak-anak para sahabat Nabi yang lain. Mereka memandang anak-anak semua sahabat Nabi sebagaimana mereka memandang para orang tua mereka.
Ibnu Hajar lebih jauh mengatakan: Orang harus menahan diri sampai mengecam mereka (ahlulbait dan keturunan Rasulullah s.a.w.). Jika ada seorang di antara mereka yang berbuat fasik berupa bid'ah atau lainnya, yang harus dikecam hanyalah perbuatannya, bukan dzatnya, kerana dzatnya itu merupakan bahagian dari Rasulullah s.a.w., sekalipun antara dzat beliau dan dzat orang itu terdapat perantara (wasa'ith).
Ad-Dailamiy meriwayatkan sebuah hadits, bahawasanya Rasulullah s.a.w. berkata:
"Barangsiapa ingin bertawassul (berwasilah) padaku dan ingin memperoleh syafaatku pada hari kiamat, hendaklah ia menyambung hubungan (yakni memelihara kasih-sayang) dengan ahlulbaitku dan berbuat yang menyenangkan mereka".
Ibnu Asakir meriwayatkan sebuah hadits berasal dari Imam 'Ali r.a, bahawasanya Rasulullah s.a.w. berkata:
"Barangsiapa yang menanam budi baik bagi ahlulbaitku, pada hari kiamat kelak ia akan kubalas".
Dalam riwayat lain, Rasulullah s.a.w. berkata:
"Pada hari kiamat aku akan menjadi penolong (syafi') bagi empat golongan orang, iaitu: Orang yang menghormati keturunanku, orang yang memenuhi kebutuhan mereka, orang yang berusaha membantu urusan mereka pada saat mereka membutuhkan bantuannya, dan orang yang mencintai mereka dengan hatinya".
Al-Bazar dan Thabraniy meriwayatkan sebuah hadits panjang dari Al-Hasan bin 'Ali radhiyallahu 'anhuma, yang antara lain mengatakan:
"Aku termasuk ahlul-bait yang Allah mewajibkan setiap Muslim supaya berkasih-sayang dengan mereka. Mengenai merekalah Allah telah menurunkan ayat Al-Qur'an: "Katakanlah (hai Muhammad): 'Aku tidak minta upah apa pun atas seruanku kecuali kasih-sayang kepada keluargaku'. Dan siapa yang berbuat kebaikan akan Kami tambahkan kebaikan baginya". [Asy-Syura: 51]
Berbuat kebaikan dalam ayat tersebut bermakna kasih-sayang kepada ahlul-bait.
Hadits lainnya yang semakna dan diketengahkan oleh Imam Ahmad bin Hanbal dari Ibnu 'Abbas r.a yang menafsirkan kata 'kebaikan' dalam ayat tersebut di atas dengan 'kasihsayang kepada aal Muhammad s.a.w."
Demikian sejumlah hadits tentang fadha'il ahlulbait Rasulullah s.a.w., yang diketengahkan oleh Mufti Makkah, Syeikh Muhammad Sa'id bin Muhammad Babushail Al-Hadhramiy, dalam risalahnya yang berjudul 'Ad-Durarun-Naqiyyah Fi Fadha'ili Dzurriyyati Khairil-Barriyyah'.
Kiranya akan lebih lengkaplah jika kami tambahkan beberapa riwayat mengenai sikap hormat para sahabat Nabi kepada ahlulbait Rasulullah s.a.w. sebagai pencerminan nyata tentang betapa kesetiaan mereka dalam menjaga dan melaksanakan wasiat Rasulullah s.a.w. mengenai ahlulbaitnya.
Abu Bakar Ash-Shiddiq r.a pernah berkata kepada Imam 'Ali bin Abi Thalib r.a sebagai berikut: "Demi Allah yang nyawaku berada di tangan-Nya, sungguhlah bahawa kerabat Rasulullah s.a.w. lebih kucintai daripada kerabatku sendiri".
Umar Ibnul-Khatthab r.a pernah berkata kepada 'Abbas bin Abdul Mutthalib, paman Nabi s.a.w., dengan bersumpah, bahawa andaikata ayah Umar sendiri memeluk Islam maka bagi Umar Islamnya 'Abbas r.a lebih disukai olehnya, kerana Rasulullah s.a.w., lebih menyukai Islamnya 'Abbas r.a.
Pada suatu hari Zainul Abidin bin Al-Husein bin 'Ali bin Thalib radhiyallahu anhum datang ke rumah Ibnu 'Abbas r.a, ia disambut dengan ucapan: 'Marhaban bil-habib ibnil-habib' ('Selamat datang saudara tercinta putera saudara tercinta').
Pada suatu hari Zaid bin Tsabit r.a melawat seorang sahabat yang wafat. Sesuai menunaikan sholat jenazah datang seorang membawa seekor keldai untuk ditungganginya. Oleh Zaid r.a keldai itu diserahkan kepada Ibnu 'Abbas r.a yang berada di dekatnya seraya berkata: "Hai putera paman Rasulullah, biarlah anda saja yang mengendarai keldai ini!" Ibnu 'Abbas r.a menyahut: 'Memang demikianlah Rasulullah s.a.w. memerintahkan kita supaya menghormati para ulama". Sambil mencium tangan Ibnu 'Abbas r.a, Zaid bin Tsabit r.a berkata: "Memang demikianlah Rasulullah s.a.w. memerintahkan kita supaya menghormati ahlulbait beliau s.a.w."
Umar bin Abdul Aziz r.a (Khalifah Bani Umayyah satu-satunya yang terkenal saleh dan zuhud) berkata kepada buyut Rasulullah s.a.w. yang bernama Abdullah bin Al-Hasan Al-Mutsanna bin Al-Hasan bin 'Ali radhiyallahu anhum: "Bila anda membutuhkan sesuatu tulis sajalah surat kepadaku, kerana aku malu kepada Allah yang melihat anda berdiri di depan pintu kediamanku".
Ketika Umar bin Abdul Aziz masih menjabat sebagai penguasa kota Madinah, buyut perempuan Rasulullah s.a.w. yang bernama Fatimah binti 'Ali Zainul Abidin bin Al-Husein bin 'Ali bin Abi Thalib radhiyallahu anhum datang kepadanya. Semua orang yang berada di dalam rumah disuruh keluar oleh Umar bin Abdul Aziz, kemudian ia berkata kepada Fatimah r.a: "Di muka bumi ini tidak ada keluarga yang lebih kucintai daripada kalian, dan kalian lebih kucintai daripada keluargaku sendiri".
Abu Bakar bin Ayyasy berkata: "Seumpama Abu Bakar, Umar dan 'Ali radhiyallahu anhum; tiga-tiganya itu datang bersama kepadaku untuk suatu kebutuhan, tentu aku mendahulukan 'Ali daripada dua orang sahabatnya itu, kerana hubungan kekerabatan 'Ali dengan Rasulullah s.a.w. Daripada aku mendahulukan Abu Bakar dan Umar, rasanya aku lebih baik dijatuhkan dari langit ke bumi!"
Apabila Ibnu 'Abbas r.a menanyakan suatu hadits kepada seorang sahabat Nabi, ia selalu datang ke rumahnya. Pada suatu hari seorang sahabat Nabi yang didatanginya berkata: "Semestinya anda menyuruh orang saja memanggil saya, dan saya pasti datang kepada anda"! Ibnu 'Abbas menjawap: "Akulah yang harus datang kepada anda"!
Imam Ahmad bin Hanbal pernah disesali beberapa orang kerana mengadakan hubungan dekat dengan seorang penganut mazhab Syi'ah. Terhadap reaksi mereka itu ia berkata: "Subhanallah, ia seorang yang sangat mencintai ahlulbait Rasulullah s.a.w., dan ia seorang perawi yang dapat dipercayai"! Apabila Imam Ahmad melihat ada seorang terkemuka datang ke rumahnya, lebih-lebih jika yang datang itu orang Quraisy, ia segera keluar menjemputnya, mempersilakan masuk, dan ia sendiri berjalan di belakangnya.
Imam Abu Hanifah sangat besar kecintaannya kepada ahlulbait Rasulullah s.a.w., menghormati mereka dan sering membantu kesukaran mereka, baik yang sedang dikejar-kejar oleh kekuasaan Bani Umayyah mahupun yang tidak. Pada suatu saat ia memberi bantuan kewangan kepada keluarga ahlulbait yang sedang dikejar-kejar dengan wang sebesar 12 000 dirham. Bahkan ia mendorong sahabat-sahabatnya supaya membantu kesulitan para anggota keluarga ahlulbait Rasulullah s.a.w.
Demikian juga Imam Malik r.a, ia seorang yang sangat mencintai dan menghormati keluarga ahlulbait Rasulullah s.a.w. Ketika itu ia dipukuli hingga pengsan oleh penguasa Madinah yang bernama Ja'far bin Sulaiman Al-'Abbasiy (dari keluarga 'Abbas). Setelah sedarkan diri kembali ia berucap: "Saya bersaksi bahawa orang yang memukulku tidak salah"! Ketika ada orang bertanya apa sebabnya, Imam Malik menjawap: "Saya takut dan malu kalau saya mati dan bertemu dengan Rasulullah s.a.w. ada seorang dari kerabat beliau (Yakni Ja'far bin Sulaiman) masuk neraka kerana diriku"! Beberapa waktu kemudian ketika Khalifah Al-Manshur (dari dinasti Bani 'Abbas) datang ke Madinah dan berniat hendak mengambil tindakan terhadap Ja'far bin Sulaiman, ia menyerahkan sebuah cambuk kepada Imam Malik dan menyuruhnya supaya membalas perbuatan Ja'far. Saat itu Imam Malik menjawap: "Ma'adzallah, demi Allah, saya tidak akan memukulnya dengan cambuk ini, saya telah menyatakan dia tidak bersalah kerana ia kerabat Rasulullah s.a.w."!
Imam Syafi'iy r.a lebih besar lagi kecintaannya kepada ahlulbait Rasulullah s.a.w. Ketika ia dituduh oleh kaum Khawarij sebagai pengikut kaum Rawafidh dan kaum Nawashib (kerana kecintaan dan penghormatannya kepada ahlulbait dan Abu Bakar Ash-Shiddiq dan Umar Ibnul-Khatthab radhiyallahu anhum); dalam beberapa bait sya'irnya ia menjawap tegas:
"Kalau aku dituduh oleh orang-orang bodoh sebagai penganut kaum rawafidh kerana aku memuliakan 'Ali r.a…kalau aku dituduh sebagai penganut kaum nawashib kerana aku memuliakan Abu Bakar r.a, biarlah aku selamanya menjadi orang rawafidh dan nawashib kedua-duanya, kerana aku memang memuliakan 'Ali dan Abu Bakar radhiyallahu 'anhuma, kendatipun aku akan dibenamkan dalam gundukan pasir"… "Kalau kerana mencintai aal Muhammad aku dituduh penganut kaum Rawafidh, biarlah Tsaqalain (Kitabullah dan ahlulbait Rasulullah s.a.w.) menjadi saksi bahawa aku ini seorang rawafidh"!
Demikianlah beberapa contoh mengenai kesetiaan para sahabat Nabi dan para Imam empat mazhab kepada wasiat Rasulullah s.a.w. yang mewanti-wanti ummatnya supaya menghormati dan memuliakan ahlulbait beliau s.a.w.
Dalil-dalil atau hujjah-hujjah, baik yang berupa Hadits-Hadits, ayat-ayat Al-Qur'an mahupun contoh-contoh yang telah diberikan oleh para sahabat Nabi dan para Imam – sebagaimana yang kami kemukakan terdahulu – kiranya cukup meyakinkan bagi setiap Muslim yang mendambakan keridhaan Allah dan Rasul-Nya. Setiap Mu'min, apa mazhab dan aliran yang dianutnya, tentu menyedari bahawa hakikat ajaran agama Islam ialah iman kepada Allah dan Rasul-Nya, taat kepada kedua-duanya dan patuh melaksanakan semua perintahnya.
Berbicara tentang 'keridhaan Allah dan Rasul-Nya', tidak bererti lain kecuali, bahawa keridhaan yang terpokok adalah keridhaan Allah, sedang keridhaan Rasulullah s.a.w. adalah kesinambungan dari keridhaan Allah s.w.t. Tiap perbuatan yang diridhai Allah pasti diridhai oleh Rasul-Nya, dan tiap perbuatan yang dimurkai Allah pasti dimurkai pula oleh Rasul-Nya. Demikian juga sebaliknya Allah s.w.t. ridha terhadap apa yang diridhai oleh Rasul-Nya, dan murka terhadap apa yang dimurkai oleh Rasul-Nya, dalam hal ridha dan murka, antara Allah dan Rasul-Nya tidak terdapat pemisahan. Tidak mungkin seorang beriman taat melaksanakan perintah Allah tanpa melaksanakan perintah Rasul-Nya, dan tidak pula mungkin pula orang taat melaksanakan perintah Rasulullah s.a.w. tanpa mentaati perintah Allah s.w.t. Hal itu banyak ditegaskan dalam Al-Qur'anul-Karim, antara lain firman Allah s.w.t.:
"Barangsiapa taat kepada Rasul bererti taat kepada Allah…" [An-Nisa: 80]
"…Dan Allah beserta Rasul-Nya itulah yang lebih berhak didambakan keridhaan-Nya…" [At-Taubah: 62]
"Hendaklah kalian beriman kepada Allah dan Rasul-Nya…" [An-Nisa: 136]
Masih banyak lagi ayat Al-Qur'an yang semakna dengan ayat-ayat tersebut di atas. Jadi, sekalipun yang terpokok adalah iman kepada Allah s.w.t., namun iman kepada Rasul-Nya sama sekali tidak terpisahkan dari iman kepada Allah. Atas dasar pengertian yang benar itu, maka soal menjaga kehormatan dan memelihara hak-hak ahlulbait dan keturunan Rasulullah s.a.w. – sebagaimana yang beliau wasiatkan dalam hadits Tsaqalain dan lain-lainnya – merupakan kewajipan ummat Islam dalam rangka melaksanakan ketaatan kepada Rasulullah s.a.w.
Memandang ahlulbait dan keturunan Rasulullah s.a.w. sebagai orang-orang mulia sama sekali tidak mengurangi makna firman Allah s.w.t. dalam Al-Qur'an:
"Kalian Kami jadikan berbangsa-bangsa dan berpuak-puak agar kalian saling mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kalian ialah yang paling besar takwanya". [Al-Hujurat: 13]
dan tidak pula mengurangi makna sabda Rasulullah s.a.w. yang menegaskan:
"Tiada kelebihan bagi orang Arab atas orang bukan Arab ('Ajam) dan tiada kelebihan bagi orang bukan Arab atas orang Arab kecuali kerana takwa"
Ayat 13 surah Al-Hurujat dan hadits Nabi yang kami kemukakan di atas itu tidak bertentangan dengan ayat 33 surah Al-Ahzab yang menegaskan:
"Sesungguhnya Allah hendak menghapuskan rijsa (kotoran) dari kalian, ahlulbait, dan hendak mensucikan kalian sesuci-sucinya".
Kemuliaan yang diperoleh seorang beriman dari kebesaran takwanya kepada Allah dan Rasul-Nya adalah kemuliaan yang bersifat umum, yakni dapat diperoleh setiap orang beriman dengan jalan takwa. Lain halnya dengan kemuliaan ahlulbait dan keturunan Rasulullah s.a.w. Mereka memperoleh kemuliaan berdasarkan kesucian yang dilimpahkan Allah kepada mereka sebagai keluarga dan keturunan Rasulullah s.a.w. Jadi, kemuliaan yang ada pada mereka bersifat khusus, tidak mungkin dapat diperoleh orang lain yang bukan ahlulbait dan bukan keturunan Rasulullah s.a.w. Akan tetapi itu tidak bererti bahawa mereka tidak diharuskan bertakwa kepada Allah dan Rasul-Nya. Dengan memperbesarkan ketakwaan kepada Allah dan Rasul-Nya mereka memperoleh kemuliaan khusus dan kemuliaan umum, sedangkan orang-orang selain mereka dengan ketakwaan kepada Allah dan Rasul-Nya hanya memperoleh kemuliaan umum. Itulah yang membezakan martabat kemuliaan ahlulbait dan keturunan Rasulullah s.a.w. dari martabat kemuliaan orang-orang selain mereka. Ketinggian martabat yang diberikan Allah kepada mereka merupakan penghargaan Allah s.w.t. kepada Rasul-Nya, junjungan kita Nabi Besar Muhammad s.a.w.
Mengenai kemuliaan para sahabat Nabi, Allah s.w.t. telah menyatakan pujian dan penghargaanNya atas kesetiaan dan ketaatan mereka kepada Allah dan Rasul-Nya, dan atas keikhlasan mereka dalam perjuangan menegakkan kebenaran Allah di muka bumi. Dalam Al-Qur'anul-Karim Allah telah berfirman:
"Kalian adalah ummat terbaik yang dilahirkan bagi ummat manusia. Kalian menyuruh manusia berbuat kebajikan dan mencegah kemungkaran." [Aali Imran: 110]
"Dan demikian pula kalian telah Kami jadikan ummat yang adil – wasathan – agar kalian menjadi saksi atas perbuatan manusia". [Al-Baqarah: 143]
"…Pada hari Allah tidak merendahkan Nabi dan kaum mu'minin yang menyertainya, cahaya mereka memancar di hadapan dan sebelah kanan mereka…" [At-Tahrim: 8]
"Sesungguhnyalah, bahawa Allah telah ridha kepada orang-orang beriman ketika mereka menyatakan janji setia kepadamu di bawah sebatang pohon – Bai'atur-Ridhwan". [Al-Fath: 18]
"…Orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama memeluk Islam di kalangan kaum Muhajirin dan Ansar serta semua orang yang mengikuti mereka dengan baik. Kepada mereka itu Allah telah ridha dan mereka pun ridha kepada Allah…" [At-Taubah: 100]
"Hai Nabi, cukuplah bagimu Allah dan orang-orang beriman yang mengikutimu – yang akan membelamu". [Al-Anfal: 64]
"…Juga bagi orang-orang fakir yang berhijrah, yang diusir dari kampung halaman dan dari harta bendanya – hanya kerana mereka itu – mencari kurnia dari Allah dan mendambakan keridhaan-Nya, dan (kerana) mereka itu membela Allah dan Rasul-Nya. Mereka itulah orang-orang yang shadiq (benar-benar beriman). Dan orang-orang yang bertempat tinggal tetap (yakni penghuni kota Madinah) dan telah beriman sebelum (kedatangan) mereka (kaum Muhajirin), mereka itu mencintai orang-orang yang datang (dari Makkah) berhijrah kepada mereka. Dalam hati mereka tidak menginginkan apa pun juga dari mereka (yang datang berhijrah), dan mereka mengutamakan orang-orang yang berhijrah lebih daripada diri mereka sendiri, sekalipun mereka berada di dalam kesusahan. Barangsiapa dirinya terpelihara dari kekikiran, maka orang-orang yang demikian itulah yang beruntung. Dan orang-orang yang datang sesudah mereka berdoa kepada Allah: "Ya Allah, Tuhan kami, ampunilah kami dan saudara-saudara kami yang telah beriman lebih dulu daripada kami. Janganlah Engkau biarkan ada kedengkian dalam hati kami terhadap orang-orang yang telah beriman. Ya Allah Tuhan kami, sungguhlah Engkau Maha Penyantun lagi Maha Penyayang". [Al-Hasyr: 8-10]
"Muhammad Rasulullah, dan orang-orang yang bersama dia adalah keras terhadap kaum kafir, tetapi berkasih sayang sesama mereka. Engkau saksikan mereka itu berruku' dan bersujud mencari kurnia Allah dan mendambakan keridhaan-Nya. Tanda bekas sujud tampak pada wajah mereka. Demikianlah sifat-sifat mereka – yang termaktub – di dalam Taurat, dan sifat-sifat mereka – yang termaktub – di dalam Injil. Ibarat tanaman bertunas yang membuat tanaman itu kuat, besar dan tegak lurus di atas pokoknya. Tanaman itu memuaskan hati orang-orang yang menanamnya, dan Allah hendak membuat hati orang-orang kafir merasa dengki. Allah menjanjikan kepada orang-orang di antara mereka yang beriman dan berbuat kebajikan dengan ampunan dan pahala yang amat besar". [Al-Fath: 29]
"…Maka Allah akan mendatangkan suatu kaum yang Allah mencintai mereka dan mereka mencintai-Nya, iaitu mereka yang bersikap lemah-lembut terhadap sesama orang beriman dan bersikap keras terhadap kaum kafir, orang-orang yang berjuang di jalan Allah dan tidak takut disesali orang. Itulah kurnia Allah yang dilimpahkan kepada siapa saja menurut kehendak-Nya, dan Allah Maha Luas (rahmat-Nya) lagi Maha Mengetahui". [Al-Maidah: 54]
Demikian itulah kemuliaan para sahabat Nabi, mereka memperoleh penilaian tinggi langsung dari Allah s.w.t. Tak ada alasan apa pun untuk meragukan kesetiaan mereka kepada Allah dan Rasul-Nya. Ayat-ayat Al-Qur'anul-Karim yang kami kemukakan di atas menunjukkan betapa mulianya para sahabat Rasulullah s.a.w.
Sebagai sesama manusia, para ahlulbait dan keturunan Rasulullah s.a.w. adalah sama dengan para sahabat Nabi dan keturunannya. Mereka bisa saja berbuat suatu kekeliruan atau terkena dosa, kerana bukan orang-orang ma'sum (terpelihara dari kemungkinan berbuat kekeliruan). Orang-orang yang ma'sum hanyalah para Nabi dan Rasul, sebagai pembawa syari'at Ilahi dan hukum-hukum-Nya untuk disampaikan kepada ummat manusia. Betapa pun tingginya martabat, keutamaan (fadha'il) dan ketakwaan mereka, sebagai manusia mereka tetap menghadapi kemungkinan berbuat kekeliruan. Namun secara khusus bagi ahlulbait dan keturunan Rasulullah s.a.w., atas berkah dan kepemurahan Allah s.w.t. mereka itu memperoleh ampunan atas segala kekeliruan dan kesalahan yang mungkin diperbuat, dan Allah memelihara mereka dari cacat cela yang dapat merendahkan kadudukan mereka.
Jelaslah, kepada ahlulbait Rasulullah s.a.w. Allah berfirman: "Allah hendak menghapuskan kotoran (rijsa) dari kalian dan mensucikan kalian sesuci-sucinya"; sedangkan mengenai para sahabat Nabi, Allah berfirman: "…Allah telah ridha kepada orang-orang beriman ketika mereka menyatakan janji setia kepadamu di bawah sebatang pohon" (Bai'atur-Ridhwan).
Dilihat dari sudut akal, bisa saja terjadi suatu perbuatan tidak menyenangkan ahlulbait Rasulullah s.a.w. yang dilakukan oleh seorang atau beberapa sahabat Nabi, dan sebaliknya. Hal itu bukan merupakan kejadian aneh, kerana setiap manusia dapat saja berbuat kekeliruan dan kesalahan, apalagi mereka itu bukan orang-orang ma'sum.
Kita, seluruh kaum Muslimin, wajib mencintai dua golongan tersebut agar kita – insya Allah – dapat memperoleh kebajikan di dunia dan akhirat. Kita wajib memandang mereka semua dengan sikap yang adil, mengingat jasa-jasa yang telah mereka berikan kepada agama Islam dan kepada ummat Islam. Pandangan kita terhadap mereka semua harus bertitik-tolak pada keinginan memperoleh keridhaan Allah dan Rasul-Nya. Kita harus menjauhkan dari hati dan fikiran kita kecenderungan nafsu berpihak kepada yang satu dan mengecam yang lain. Orang yang berfikir sihat tentu tidak akan membiarkan dirinya dicekam oleh fikiran dan perasaan yang tidak selaras dengan ajaran Al-Qur'an dan Sunnah.
Loading...