Quantcast

Hubungan Agama dan Olahraga

classic Classic list List threaded Threaded
12 messages Options
Reply | Threaded
Open this post in threaded view
|  
Report Content as Inappropriate

Hubungan Agama dan Olahraga

Frans JS
BBCIndonesia.com : detikNews
detikcom - Indonesia - BBC,

Para pemain sepakbola berdoa di lapangan, yakin pada kekuatan Tuhan. Dalam pertandingan final Piala Champions di London, tak terelakkan ada bukti bahwa para pemain memiliki keyakinan agama.
Misalnya, sejumlah pemain melakukan gerak
tangan tanda salib atau pun isyarat keagamaan
lainnya. Tetapi apakah keyakinan agama memperkuat kinerja olahraga? Inilah pertanyaan yang ditelusuri oleh Matthew Syed.
Semua mata akan tertuju pada Lionel Messi,
pemain bola terhebat di dunia, ketika dia bersama tim Barcelona turun ke lapangan untuk final Piala Champions. Kalau Anda cermat, akan terlihat dia membuat gerakan tanda salib ketika masuk lapangan. Di belahan lawannya, Manchester United, striker Javier Hernandez sudah sering tampak berdoa di lapangan. Messi dan Hernandez bukan satu-satunya pesepakbola yang menunjukkan keyakinan agamanya di arena pertandingan.
Bintang Real Madrid, Kaka, sering berbicara
mengenai agama, berdoa di lapangan, dan
bersyukur kepada Tuhan atas kesembuhan yang
cepat dari cedera punggungnya. Olahragawan lainnya, mulai dari Muhammad Ali sampai Jonathan Edwards si peloncat jangkit, juga
berbicara tentang kekuatan Tuhan. Agama mereka berbeda-beda namun semua mereka menegaskan bahwa keyakinannya memberikan berkah. Seperti dikatakan Ali menjelang pertandingan melawan George Foreman pada tahun 1974: "Bagaimana mungkin saya kalah selagi Allah di pihak saya?"

Atheis.
Orang-orang atheis berpendapat bahwa kepercayaan bahwa agama bisa berperan menentukan hasil pertandingan, sebagai khayalan belaka.
Tetapi sangat mungkin mengesampingkan isu
apakah Tuhan ada atau tidak dan amati saja
dampak keyakinan pada Tuhan terhadap kinerja.
Inilah yang dilakukan Jeong-keu Park dari Universitas Seoul pada tahun 2000 dengan mempelajari kinerja para atlet Korea Selatan. Dia
mendapati bahwa doa bukan hanya faktor penting dalam mengatasi rasa grogi tetapi juga dalam mencapai kinerja puncak.
Satu kutipan salah seorang peserta dalam
penelitian Park memperkuat temuan itu: "Saya
selalu menyiapkan pertandingan dengan doa. Saya menyerahkan seluruhnya kepada Tuhan tanpa ragu. Doa membuat asya tenang dan lebih yakin dan saya melupakan ketakutan pada kekalahan. Hasilnya, permainan menjadi bagus."
Ini mirip dengan riset hebat tentang kekuatan
keyakinan di dunia kesehatan.
Pada tahun 1960-an, serangkaian pelenitian
mendapati bahwa penyakit jantung lebih jarang
dialami oleh masyarakat yang taat bergama.
Penelitian berikutnya memperpanjang temuan ini, termasuk makalah tahun 1996 yang menemukan bahwa tingkat kematian di kalangan sekuler dua kali lebih tinggi dibanding kalangan yang taat beragama. Tampaknya, keyakinan agama bisa memberikan maanfaat kesehatan.

Bagaimana mungkin?
Pertanyaannya, bagaimana mungkin itu terjadi?
Kita bisa melihat jawabannya dalam salah satu
misteri psikologi yang paling mengherankan; yaitu efek plasebo yang merupakan fenomena yang mengejutkan para dokter sejak Theodor Kocker yang melaksanakan 1.600 operasi tanpa bius di Bern, Swiss, pada tahun 1890-an. Semua ini terkait dengan keyakinan pada keberadaan pertolongan Tuhan.
Hasil dari penelitian atlet Korea Selatan terulang
berkali-kali, dan tidak hanya terjadi di satu-dua
keyakinan agama. Para atlet yakin Tuhan bisa membantu kinerja di lapangan olahraga.
Reply | Threaded
Open this post in threaded view
|  
Report Content as Inappropriate

Re: Hubungan Agama dan Olahraga

Frans JS
>> Seperti dikatakan Ali menjelang pertandingan melawan George Foreman pada tahun 1974: "Bagaimana mungkin saya kalah selagi Allah di pihak saya?" <<
.
Kalo Opa Wal bertinju dengan keyakinan seperti Ali, besar harapan bisa menang. Siapa tau lawannya baru tersenggol tonjokan Opa langsung kena stroke dan KO.
.
.
-----Original Message-----
From: "Frans JS" <[hidden email]>
Sender: [hidden email]
Date: Sat, 28 May 2011 23:43:18
To: SI<[hidden email]>
Reply-To: [hidden email]
Subject: [Spiritual-Indonesia] Hubungan Agama dan Olahraga

BBCIndonesia.com : detikNews
detikcom - Indonesia - BBC,

Para pemain sepakbola berdoa di lapangan, yakin pada kekuatan Tuhan. Dalam pertandingan final Piala Champions di London, tak terelakkan ada bukti bahwa para pemain memiliki keyakinan agama.
Misalnya, sejumlah pemain melakukan gerak
tangan tanda salib atau pun isyarat keagamaan
lainnya. Tetapi apakah keyakinan agama memperkuat kinerja olahraga? Inilah pertanyaan yang ditelusuri oleh Matthew Syed.
Semua mata akan tertuju pada Lionel Messi,
pemain bola terhebat di dunia, ketika dia bersama tim Barcelona turun ke lapangan untuk final Piala Champions. Kalau Anda cermat, akan terlihat dia membuat gerakan tanda salib ketika masuk lapangan. Di belahan lawannya, Manchester United, striker Javier Hernandez sudah sering tampak berdoa di lapangan. Messi dan Hernandez bukan satu-satunya pesepakbola yang menunjukkan keyakinan agamanya di arena pertandingan.
Bintang Real Madrid, Kaka, sering berbicara
mengenai agama, berdoa di lapangan, dan
bersyukur kepada Tuhan atas kesembuhan yang
cepat dari cedera punggungnya. Olahragawan lainnya, mulai dari Muhammad Ali sampai Jonathan Edwards si peloncat jangkit, juga
berbicara tentang kekuatan Tuhan. Agama mereka berbeda-beda namun semua mereka menegaskan bahwa keyakinannya memberikan berkah. Seperti dikatakan Ali menjelang pertandingan melawan George Foreman pada tahun 1974: "Bagaimana mungkin saya kalah selagi Allah di pihak saya?"

Atheis.
Orang-orang atheis berpendapat bahwa kepercayaan bahwa agama bisa berperan menentukan hasil pertandingan, sebagai khayalan belaka.
Tetapi sangat mungkin mengesampingkan isu
apakah Tuhan ada atau tidak dan amati saja
dampak keyakinan pada Tuhan terhadap kinerja.
Inilah yang dilakukan Jeong-keu Park dari Universitas Seoul pada tahun 2000 dengan mempelajari kinerja para atlet Korea Selatan. Dia
mendapati bahwa doa bukan hanya faktor penting dalam mengatasi rasa grogi tetapi juga dalam mencapai kinerja puncak.
Satu kutipan salah seorang peserta dalam
penelitian Park memperkuat temuan itu: "Saya
selalu menyiapkan pertandingan dengan doa. Saya menyerahkan seluruhnya kepada Tuhan tanpa ragu. Doa membuat asya tenang dan lebih yakin dan saya melupakan ketakutan pada kekalahan. Hasilnya, permainan menjadi bagus."
Ini mirip dengan riset hebat tentang kekuatan
keyakinan di dunia kesehatan.
Pada tahun 1960-an, serangkaian pelenitian
mendapati bahwa penyakit jantung lebih jarang
dialami oleh masyarakat yang taat bergama.
Penelitian berikutnya memperpanjang temuan ini, termasuk makalah tahun 1996 yang menemukan bahwa tingkat kematian di kalangan sekuler dua kali lebih tinggi dibanding kalangan yang taat beragama. Tampaknya, keyakinan agama bisa memberikan maanfaat kesehatan.

Bagaimana mungkin?
Pertanyaannya, bagaimana mungkin itu terjadi?
Kita bisa melihat jawabannya dalam salah satu
misteri psikologi yang paling mengherankan; yaitu efek plasebo yang merupakan fenomena yang mengejutkan para dokter sejak Theodor Kocker yang melaksanakan 1.600 operasi tanpa bius di Bern, Swiss, pada tahun 1890-an. Semua ini terkait dengan keyakinan pada keberadaan pertolongan Tuhan.
Hasil dari penelitian atlet Korea Selatan terulang
berkali-kali, dan tidak hanya terjadi di satu-dua
keyakinan agama. Para atlet yakin Tuhan bisa membantu kinerja di lapangan olahraga.
Reply | Threaded
Open this post in threaded view
|  
Report Content as Inappropriate

Re: Hubungan Agama dan Olahraga

Wal Suparmo
Salam,
 Karena saya orang Indonesia yang pertama ( pada waktu umur 17 tahun) yang menterjemahkan buku Karl May, dalam buku itu ada peranan tokoh SAYA  yaitu Old Shatterhand yang pasti orang Jerman Kristen dan sebanarnya Karl May sendiri.Jika mengutuk musuhnya SAMBER GLEDEG . dalam waktu sedetik orang itu akan hangus disambar petir yang diturunkan oleh Tuhan.

Wasalam,
Wal Suparmo

--- Pada Ming, 29/5/11, Frans JS <[hidden email]> menulis:


Dari: Frans JS <[hidden email]>
Judul: Re: [Spiritual-Indonesia] Hubungan Agama dan Olahraga
Kepada: "SI" <[hidden email]>
Tanggal: Minggu, 29 Mei, 2011, 6:56 AM


 



>> Seperti dikatakan Ali menjelang pertandingan melawan George Foreman pada tahun 1974: "Bagaimana mungkin saya kalah selagi Allah di pihak saya?" <<
.
Kalo Opa Wal bertinju dengan keyakinan seperti Ali, besar harapan bisa menang. Siapa tau lawannya baru tersenggol tonjokan Opa langsung kena stroke dan KO.
.
.


From: "Frans JS" <[hidden email]>
Sender: [hidden email]
Date: Sat, 28 May 2011 23:43:18 +0000
To: SI<[hidden email]>
ReplyTo: [hidden email]
Subject: [Spiritual-Indonesia] Hubungan Agama dan Olahraga

 

BBCIndonesia.com : detikNews
detikcom - Indonesia - BBC,

Para pemain sepakbola berdoa di lapangan, yakin pada kekuatan Tuhan. Dalam pertandingan final Piala Champions di London, tak terelakkan ada bukti bahwa para pemain memiliki keyakinan agama.
Misalnya, sejumlah pemain melakukan gerak
tangan tanda salib atau pun isyarat keagamaan
lainnya. Tetapi apakah keyakinan agama memperkuat kinerja olahraga? Inilah pertanyaan yang ditelusuri oleh Matthew Syed.
Semua mata akan tertuju pada Lionel Messi,
pemain bola terhebat di dunia, ketika dia bersama tim Barcelona turun ke lapangan untuk final Piala Champions. Kalau Anda cermat, akan terlihat dia membuat gerakan tanda salib ketika masuk lapangan. Di belahan lawannya, Manchester United, striker Javier Hernandez sudah sering tampak berdoa di lapangan. Messi dan Hernandez bukan satu-satunya pesepakbola yang menunjukkan keyakinan agamanya di arena pertandingan.
Bintang Real Madrid, Kaka, sering berbicara
mengenai agama, berdoa di lapangan, dan
bersyukur kepada Tuhan atas kesembuhan yang
cepat dari cedera punggungnya. Olahragawan lainnya, mulai dari Muhammad Ali sampai Jonathan Edwards si peloncat jangkit, juga
berbicara tentang kekuatan Tuhan. Agama mereka berbeda-beda namun semua mereka menegaskan bahwa keyakinannya memberikan berkah. Seperti dikatakan Ali menjelang pertandingan melawan George Foreman pada tahun 1974: "Bagaimana mungkin saya kalah selagi Allah di pihak saya?"

Atheis.
Orang-orang atheis berpendapat bahwa kepercayaan bahwa agama bisa berperan menentukan hasil pertandingan, sebagai khayalan belaka.
Tetapi sangat mungkin mengesampingkan isu
apakah Tuhan ada atau tidak dan amati saja
dampak keyakinan pada Tuhan terhadap kinerja.
Inilah yang dilakukan Jeong-keu Park dari Universitas Seoul pada tahun 2000 dengan mempelajari kinerja para atlet Korea Selatan. Dia
mendapati bahwa doa bukan hanya faktor penting dalam mengatasi rasa grogi tetapi juga dalam mencapai kinerja puncak.
Satu kutipan salah seorang peserta dalam
penelitian Park memperkuat temuan itu: "Saya
selalu menyiapkan pertandingan dengan doa. Saya menyerahkan seluruhnya kepada Tuhan tanpa ragu. Doa membuat asya tenang dan lebih yakin dan saya melupakan ketakutan pada kekalahan. Hasilnya, permainan menjadi bagus."
Ini mirip dengan riset hebat tentang kekuatan
keyakinan di dunia kesehatan.
Pada tahun 1960-an, serangkaian pelenitian
mendapati bahwa penyakit jantung lebih jarang
dialami oleh masyarakat yang taat bergama.
Penelitian berikutnya memperpanjang temuan ini, termasuk makalah tahun 1996 yang menemukan bahwa tingkat kematian di kalangan sekuler dua kali lebih tinggi dibanding kalangan yang taat beragama. Tampaknya, keyakinan agama bisa memberikan maanfaat kesehatan.

Bagaimana mungkin?
Pertanyaannya, bagaimana mungkin itu terjadi?
Kita bisa melihat jawabannya dalam salah satu
misteri psikologi yang paling mengherankan; yaitu efek plasebo yang merupakan fenomena yang mengejutkan para dokter sejak Theodor Kocker yang melaksanakan 1.600 operasi tanpa bius di Bern, Swiss, pada tahun 1890-an. Semua ini terkait dengan keyakinan pada keberadaan pertolongan Tuhan.
Hasil dari penelitian atlet Korea Selatan terulang
berkali-kali, dan tidak hanya terjadi di satu-dua
keyakinan agama. Para atlet yakin Tuhan bisa membantu kinerja di lapangan olahraga.





Reply | Threaded
Open this post in threaded view
|  
Report Content as Inappropriate

Re: Hubungan Agama dan Olahraga

ananda bahagia
yang jelas,  dari sejak jaman yunani  kuno (atau mungkin malah lebih tua
lagi), sampai jaman ini, siapa pun yang unggul dalam olahraga, dia akan
diperlakukan seperti dewa yang disembah-sembah di mana-mana .. mareka akan
mendapatkan puja-puji...dielu-elukan....dan mendapatkan aneka persembahan
berupa harta berlimpah.. dan aneka kenikmatan lainnya.....siapa yang kini
tidak memuja-muja bintang sepakbola, tenis, tinju, dst..dst? merekalah
dewa-dewa......


2011/5/29 Wal Suparmo <[hidden email]>

>
>
> Salam,
>  Karena saya orang Indonesia yang pertama ( pada waktu umur 17 tahun) yang
> menterjemahkan buku Karl May, dalam buku itu ada peranan tokoh SAYA  yaitu
> Old Shatterhand yang pasti orang Jerman Kristen dan sebanarnya Karl May
> sendiri.Jika mengutuk musuhnya SAMBER GLEDEG . dalam waktu sedetik orang itu
> akan hangus disambar petir yang diturunkan oleh Tuhan.
>
> Wasalam,
> Wal Suparmo
>
> --- Pada *Ming, 29/5/11, Frans JS <[hidden email]>* menulis:
>
>
> Dari: Frans JS <[hidden email]>
> Judul: Re: [Spiritual-Indonesia] Hubungan Agama dan Olahraga
> Kepada: "SI" <[hidden email]>
> Tanggal: Minggu, 29 Mei, 2011, 6:56 AM
>
>
> >> Seperti dikatakan Ali menjelang pertandingan melawan George Foreman pada
> tahun 1974: "Bagaimana mungkin saya kalah selagi Allah di pihak saya?" <<
> .
> Kalo Opa Wal bertinju dengan keyakinan seperti Ali, besar harapan bisa
> menang. Siapa tau lawannya baru tersenggol tonjokan Opa langsung kena stroke
> dan KO.
> .
> .
> ------------------------------
> *From: *"Frans JS" <[hidden email]>
> *Sender: *[hidden email]
> *Date: *Sat, 28 May 2011 23:43:18 +0000
> *To: *SI<[hidden email]>
> *ReplyTo: *[hidden email]
> *Subject: *[Spiritual-Indonesia] Hubungan Agama dan Olahraga
>
>
> BBCIndonesia.com : detikNews
> detikcom - Indonesia - BBC,
>
> Para pemain sepakbola berdoa di lapangan, yakin pada kekuatan Tuhan. Dalam
> pertandingan final Piala Champions di London, tak terelakkan ada bukti bahwa
> para pemain memiliki keyakinan agama.
> Misalnya, sejumlah pemain melakukan gerak
> tangan tanda salib atau pun isyarat keagamaan
> lainnya. Tetapi apakah keyakinan agama memperkuat kinerja olahraga? Inilah
> pertanyaan yang ditelusuri oleh Matthew Syed.
> Semua mata akan tertuju pada Lionel Messi,
> pemain bola terhebat di dunia, ketika dia bersama tim Barcelona turun ke
> lapangan untuk final Piala Champions. Kalau Anda cermat, akan terlihat dia
> membuat gerakan tanda salib ketika masuk lapangan. Di belahan lawannya,
> Manchester United, striker Javier Hernandez sudah sering tampak berdoa di
> lapangan. Messi dan Hernandez bukan satu-satunya pesepakbola yang
> menunjukkan keyakinan agamanya di arena pertandingan.
> Bintang Real Madrid, Kaka, sering berbicara
> mengenai agama, berdoa di lapangan, dan
> bersyukur kepada Tuhan atas kesembuhan yang
> cepat dari cedera punggungnya. Olahragawan lainnya, mulai dari Muhammad Ali
> sampai Jonathan Edwards si peloncat jangkit, juga
> berbicara tentang kekuatan Tuhan. Agama mereka berbeda-beda namun semua
> mereka menegaskan bahwa keyakinannya memberikan berkah. Seperti dikatakan
> Ali menjelang pertandingan melawan George Foreman pada tahun 1974:
> "Bagaimana mungkin saya kalah selagi Allah di pihak saya?"
>
> Atheis.
> Orang-orang atheis berpendapat bahwa kepercayaan bahwa agama bisa berperan
> menentukan hasil pertandingan, sebagai khayalan belaka.
> Tetapi sangat mungkin mengesampingkan isu
> apakah Tuhan ada atau tidak dan amati saja
> dampak keyakinan pada Tuhan terhadap kinerja.
> Inilah yang dilakukan Jeong-keu Park dari Universitas Seoul pada tahun 2000
> dengan mempelajari kinerja para atlet Korea Selatan. Dia
> mendapati bahwa doa bukan hanya faktor penting dalam mengatasi rasa grogi
> tetapi juga dalam mencapai kinerja puncak.
> Satu kutipan salah seorang peserta dalam
> penelitian Park memperkuat temuan itu: "Saya
> selalu menyiapkan pertandingan dengan doa. Saya menyerahkan seluruhnya
> kepada Tuhan tanpa ragu. Doa membuat asya tenang dan lebih yakin dan saya
> melupakan ketakutan pada kekalahan. Hasilnya, permainan menjadi bagus."
> Ini mirip dengan riset hebat tentang kekuatan
> keyakinan di dunia kesehatan.
> Pada tahun 1960-an, serangkaian pelenitian
> mendapati bahwa penyakit jantung lebih jarang
> dialami oleh masyarakat yang taat bergama.
> Penelitian berikutnya memperpanjang temuan ini, termasuk makalah tahun 1996
> yang menemukan bahwa tingkat kematian di kalangan sekuler dua kali lebih
> tinggi dibanding kalangan yang taat beragama. Tampaknya, keyakinan agama
> bisa memberikan maanfaat kesehatan.
>
> Bagaimana mungkin?
> Pertanyaannya, bagaimana mungkin itu terjadi?
> Kita bisa melihat jawabannya dalam salah satu
> misteri psikologi yang paling mengherankan; yaitu efek plasebo yang
> merupakan fenomena yang mengejutkan para dokter sejak Theodor Kocker yang
> melaksanakan 1.600 operasi tanpa bius di Bern, Swiss, pada tahun 1890-an.
> Semua ini terkait dengan keyakinan pada keberadaan pertolongan Tuhan.
> Hasil dari penelitian atlet Korea Selatan terulang
> berkali-kali, dan tidak hanya terjadi di satu-dua
> keyakinan agama. Para atlet yakin Tuhan bisa membantu kinerja di lapangan
> olahraga.
>
>  
>
Reply | Threaded
Open this post in threaded view
|  
Report Content as Inappropriate

Re: Hubungan Agama dan Olahraga

Wal Suparmo
Salam,
DEWA (o) = gede dowo= besar dan panjang.Pasti dipuja terlebih oleh orang perempuan.

Wasalam,

Wal Suparmo

--- Pada Sen, 30/5/11, ananda bahagia <[hidden email]> menulis:

Dari: ananda bahagia <[hidden email]>
Judul: Re: [Spiritual-Indonesia] Hubungan Agama dan Olahraga
Kepada: [hidden email]
Tanggal: Senin, 30 Mei, 2011, 4:13 AM







 



 


   
     
     
      yang jelas,  dari sejak jaman yunani  kuno (atau mungkin malah lebih tua lagi), sampai jaman ini, siapa pun yang unggul dalam olahraga, dia akan diperlakukan seperti dewa yang disembah-sembah di mana-mana .. mareka akan mendapatkan puja-puji...dielu-elukan....dan mendapatkan aneka persembahan berupa harta berlimpah.. dan aneka kenikmatan lainnya.....siapa yang kini tidak memuja-muja bintang sepakbola, tenis, tinju, dst..dst? merekalah dewa-dewa......



2011/5/29 Wal Suparmo <[hidden email]>

















 



 


   
     
     
      Salam,
 Karena saya orang Indonesia yang pertama ( pada waktu umur 17 tahun) yang menterjemahkan buku Karl May, dalam buku itu ada peranan tokoh SAYA  yaitu Old Shatterhand yang pasti orang Jerman Kristen dan sebanarnya Karl May sendiri.Jika mengutuk musuhnya SAMBER GLEDEG . dalam waktu sedetik orang itu akan hangus disambar petir yang diturunkan oleh Tuhan.



Wasalam,
Wal Suparmo

--- Pada Ming, 29/5/11, Frans JS <[hidden email]> menulis:


Dari: Frans JS <[hidden email]>
Judul: Re: [Spiritual-Indonesia] Hubungan Agama dan Olahraga


Kepada: "SI" <[hidden email]>
Tanggal: Minggu, 29 Mei, 2011, 6:56 AM


 

>> Seperti dikatakan Ali menjelang pertandingan melawan George Foreman pada tahun 1974: "Bagaimana mungkin saya kalah selagi Allah di pihak saya?" <<
.
Kalo Opa Wal bertinju dengan keyakinan seperti Ali, besar harapan bisa menang. Siapa tau lawannya baru tersenggol tonjokan Opa langsung kena stroke dan KO.


.
.


From: "Frans JS" <[hidden email]>
Sender: [hidden email]
Date: Sat, 28 May 2011 23:43:18 +0000
To: SI<[hidden email]>
ReplyTo: [hidden email]
Subject: [Spiritual-Indonesia] Hubungan Agama dan Olahraga

 

BBCIndonesia.com : detikNews
detikcom - Indonesia - BBC,

Para pemain sepakbola berdoa di lapangan, yakin pada kekuatan Tuhan. Dalam pertandingan final Piala Champions di London, tak terelakkan ada bukti bahwa para pemain memiliki keyakinan agama.


Misalnya, sejumlah pemain melakukan gerak
tangan tanda salib atau pun isyarat keagamaan
lainnya. Tetapi apakah keyakinan agama memperkuat kinerja olahraga? Inilah pertanyaan yang ditelusuri oleh Matthew Syed.
Semua mata akan tertuju pada Lionel Messi,


pemain bola terhebat di dunia, ketika dia bersama tim Barcelona turun ke lapangan untuk final Piala Champions. Kalau Anda cermat, akan terlihat dia membuat gerakan tanda salib ketika masuk lapangan. Di belahan lawannya, Manchester United, striker Javier Hernandez sudah sering tampak berdoa di lapangan. Messi dan Hernandez bukan satu-satunya pesepakbola yang menunjukkan keyakinan agamanya di arena pertandingan.


Bintang Real Madrid,
 Kaka, sering berbicara
mengenai agama, berdoa di lapangan, dan
bersyukur kepada Tuhan atas kesembuhan yang
cepat dari cedera punggungnya. Olahragawan lainnya, mulai dari Muhammad Ali sampai Jonathan Edwards si peloncat jangkit, juga


berbicara tentang kekuatan Tuhan. Agama mereka berbeda-beda namun semua mereka menegaskan bahwa keyakinannya memberikan berkah. Seperti dikatakan Ali menjelang pertandingan melawan George Foreman pada tahun 1974: "Bagaimana mungkin saya kalah selagi Allah di pihak saya?"



Atheis.
Orang-orang atheis berpendapat bahwa kepercayaan bahwa agama bisa berperan menentukan hasil pertandingan, sebagai khayalan belaka.
Tetapi sangat mungkin mengesampingkan isu
apakah Tuhan ada atau tidak dan amati saja


dampak keyakinan pada Tuhan terhadap kinerja.
Inilah yang dilakukan Jeong-keu Park dari Universitas Seoul pada tahun 2000 dengan mempelajari kinerja para atlet Korea Selatan. Dia
mendapati bahwa doa
 bukan hanya faktor penting dalam mengatasi rasa grogi tetapi juga dalam mencapai kinerja puncak.
Satu kutipan salah seorang peserta dalam
penelitian Park memperkuat temuan itu: "Saya
selalu menyiapkan pertandingan dengan doa. Saya menyerahkan seluruhnya kepada Tuhan tanpa ragu. Doa membuat asya tenang dan lebih yakin dan saya melupakan ketakutan pada kekalahan. Hasilnya, permainan menjadi bagus."


Ini mirip dengan riset hebat tentang kekuatan
keyakinan di dunia kesehatan.
Pada tahun 1960-an, serangkaian pelenitian
mendapati bahwa penyakit jantung lebih jarang
dialami oleh masyarakat yang taat bergama.


Penelitian berikutnya memperpanjang temuan ini, termasuk makalah tahun 1996 yang menemukan bahwa tingkat kematian di kalangan sekuler dua kali lebih tinggi dibanding kalangan yang taat beragama. Tampaknya, keyakinan agama bisa memberikan maanfaat kesehatan.



Bagaimana mungkin?
Pertanyaannya, bagaimana mungkin itu
 terjadi?
Kita bisa melihat jawabannya dalam salah satu
misteri psikologi yang paling mengherankan; yaitu efek plasebo yang merupakan fenomena yang mengejutkan para dokter sejak Theodor Kocker yang melaksanakan 1.600 operasi tanpa bius di Bern, Swiss, pada tahun 1890-an. Semua ini terkait dengan keyakinan pada keberadaan pertolongan Tuhan.


Hasil dari penelitian atlet Korea Selatan terulang
berkali-kali, dan tidak hanya terjadi di satu-dua
keyakinan agama. Para atlet yakin Tuhan bisa membantu kinerja di lapangan olahraga.




   
     

   
   






 










   
     

   
   


 



 



Reply | Threaded
Open this post in threaded view
|  
Report Content as Inappropriate

Re: Hubungan Agama dan Olahraga

Heru Baskoro
In reply to this post by ananda bahagia
Dalam pertandingan olah raga kedua belah pihak berdoa kepada Tuhan. Tidak mungkin kedua2nya menang.
Waktu Uni Sovyet masih jaya olahragawannya tidak berdoa kepad Tuhan toh mereka  menang dalam pertandingan.
Ternyata disini yang penting adalah ketenangan dan percaya diri. Untuk orang yang bertuhan kepercayaan dirinya diletakkan kepada Tuhan yang dipercayainya. Orang yang tidak bertuhan bisa saja lebih tenang dari orang yang tidak beragama. Caranya dengan self suggestion. Men"suggest" langsung kedirinya bahwa "saya bisa menang kalau saya lakukan yang terbaik". Juara catur dunia dari Rusia men'suggest dirinya supaya menang dan menang.
Orang yang merokok akan tidak tenang kalau tidak merokok.Orang beragama tidak tenang kalau tidak berdoa. Dalam bertandingan yang memerlukan otak ternyata "self suggestion" lebih ampuh dari pada  berdoa.
Salam kasih ke umat manuisa,
Heru

--- In [hidden email], ananda bahagia <anandabahagia@...> wrote:

>
> yang jelas,  dari sejak jaman yunani  kuno (atau mungkin malah lebih tua
> lagi), sampai jaman ini, siapa pun yang unggul dalam olahraga, dia akan
> diperlakukan seperti dewa yang disembah-sembah di mana-mana .. mareka akan
> mendapatkan puja-puji...dielu-elukan....dan mendapatkan aneka persembahan
> berupa harta berlimpah.. dan aneka kenikmatan lainnya.....siapa yang kini
> tidak memuja-muja bintang sepakbola, tenis, tinju, dst..dst? merekalah
> dewa-dewa......
>
>
> 2011/5/29 Wal Suparmo <wal.suparmo@...>
>
> >
> >
> > Salam,
> >  Karena saya orang Indonesia yang pertama ( pada waktu umur 17 tahun) yang
> > menterjemahkan buku Karl May, dalam buku itu ada peranan tokoh SAYA  yaitu
> > Old Shatterhand yang pasti orang Jerman Kristen dan sebanarnya Karl May
> > sendiri.Jika mengutuk musuhnya SAMBER GLEDEG . dalam waktu sedetik orang itu
> > akan hangus disambar petir yang diturunkan oleh Tuhan.
> >
> > Wasalam,
> > Wal Suparmo
> >
> > --- Pada *Ming, 29/5/11, Frans JS <fransjsantoso@...>* menulis:
> >
> >
> > Dari: Frans JS <fransjsantoso@...>
> > Judul: Re: [Spiritual-Indonesia] Hubungan Agama dan Olahraga
> > Kepada: "SI" <[hidden email]>
> > Tanggal: Minggu, 29 Mei, 2011, 6:56 AM
> >
> >
> > >> Seperti dikatakan Ali menjelang pertandingan melawan George Foreman pada
> > tahun 1974: "Bagaimana mungkin saya kalah selagi Allah di pihak saya?" <<
> > .
> > Kalo Opa Wal bertinju dengan keyakinan seperti Ali, besar harapan bisa
> > menang. Siapa tau lawannya baru tersenggol tonjokan Opa langsung kena stroke
> > dan KO.
> > .
> > .
> > ------------------------------
> > *From: *"Frans JS" <fransjsantoso@...>
> > *Sender: *[hidden email]
> > *Date: *Sat, 28 May 2011 23:43:18 +0000
> > *To: *SI<[hidden email]>
> > *ReplyTo: *[hidden email]
> > *Subject: *[Spiritual-Indonesia] Hubungan Agama dan Olahraga
> >
> >
> > BBCIndonesia.com : detikNews
> > detikcom - Indonesia - BBC,
> >
> > Para pemain sepakbola berdoa di lapangan, yakin pada kekuatan Tuhan. Dalam
> > pertandingan final Piala Champions di London, tak terelakkan ada bukti bahwa
> > para pemain memiliki keyakinan agama.
> > Misalnya, sejumlah pemain melakukan gerak
> > tangan tanda salib atau pun isyarat keagamaan
> > lainnya. Tetapi apakah keyakinan agama memperkuat kinerja olahraga? Inilah
> > pertanyaan yang ditelusuri oleh Matthew Syed.
> > Semua mata akan tertuju pada Lionel Messi,
> > pemain bola terhebat di dunia, ketika dia bersama tim Barcelona turun ke
> > lapangan untuk final Piala Champions. Kalau Anda cermat, akan terlihat dia
> > membuat gerakan tanda salib ketika masuk lapangan. Di belahan lawannya,
> > Manchester United, striker Javier Hernandez sudah sering tampak berdoa di
> > lapangan. Messi dan Hernandez bukan satu-satunya pesepakbola yang
> > menunjukkan keyakinan agamanya di arena pertandingan.
> > Bintang Real Madrid, Kaka, sering berbicara
> > mengenai agama, berdoa di lapangan, dan
> > bersyukur kepada Tuhan atas kesembuhan yang
> > cepat dari cedera punggungnya. Olahragawan lainnya, mulai dari Muhammad Ali
> > sampai Jonathan Edwards si peloncat jangkit, juga
> > berbicara tentang kekuatan Tuhan. Agama mereka berbeda-beda namun semua
> > mereka menegaskan bahwa keyakinannya memberikan berkah. Seperti dikatakan
> > Ali menjelang pertandingan melawan George Foreman pada tahun 1974:
> > "Bagaimana mungkin saya kalah selagi Allah di pihak saya?"
> >
> > Atheis.
> > Orang-orang atheis berpendapat bahwa kepercayaan bahwa agama bisa berperan
> > menentukan hasil pertandingan, sebagai khayalan belaka.
> > Tetapi sangat mungkin mengesampingkan isu
> > apakah Tuhan ada atau tidak dan amati saja
> > dampak keyakinan pada Tuhan terhadap kinerja.
> > Inilah yang dilakukan Jeong-keu Park dari Universitas Seoul pada tahun 2000
> > dengan mempelajari kinerja para atlet Korea Selatan. Dia
> > mendapati bahwa doa bukan hanya faktor penting dalam mengatasi rasa grogi
> > tetapi juga dalam mencapai kinerja puncak.
> > Satu kutipan salah seorang peserta dalam
> > penelitian Park memperkuat temuan itu: "Saya
> > selalu menyiapkan pertandingan dengan doa. Saya menyerahkan seluruhnya
> > kepada Tuhan tanpa ragu. Doa membuat asya tenang dan lebih yakin dan saya
> > melupakan ketakutan pada kekalahan. Hasilnya, permainan menjadi bagus."
> > Ini mirip dengan riset hebat tentang kekuatan
> > keyakinan di dunia kesehatan.
> > Pada tahun 1960-an, serangkaian pelenitian
> > mendapati bahwa penyakit jantung lebih jarang
> > dialami oleh masyarakat yang taat bergama.
> > Penelitian berikutnya memperpanjang temuan ini, termasuk makalah tahun 1996
> > yang menemukan bahwa tingkat kematian di kalangan sekuler dua kali lebih
> > tinggi dibanding kalangan yang taat beragama. Tampaknya, keyakinan agama
> > bisa memberikan maanfaat kesehatan.
> >
> > Bagaimana mungkin?
> > Pertanyaannya, bagaimana mungkin itu terjadi?
> > Kita bisa melihat jawabannya dalam salah satu
> > misteri psikologi yang paling mengherankan; yaitu efek plasebo yang
> > merupakan fenomena yang mengejutkan para dokter sejak Theodor Kocker yang
> > melaksanakan 1.600 operasi tanpa bius di Bern, Swiss, pada tahun 1890-an.
> > Semua ini terkait dengan keyakinan pada keberadaan pertolongan Tuhan.
> > Hasil dari penelitian atlet Korea Selatan terulang
> > berkali-kali, dan tidak hanya terjadi di satu-dua
> > keyakinan agama. Para atlet yakin Tuhan bisa membantu kinerja di lapangan
> > olahraga.
> >
> >  
> >
>


Reply | Threaded
Open this post in threaded view
|  
Report Content as Inappropriate

Bls: Re: Hubungan Agama dan Olahraga

Wal Suparmo
Salam,
Doa atau mantra atau umik-2  dalam agama/kepercayaan apa saja , adalah untuk MEMPERKUAT KEPERCAYAAN diri SENDIRI dalam setiap manusia. Tetapi manusia yg otaknya terbatas, memang suka mendramatisasi semua hal supya  lebih menyeramkan dan terutama lebih menarik dan MENGHIBUR, dgn menghubungkan dgn Tuhan/Allah/Dewa dsb.

Wasalam,
Wal Suparmo

--- Pada Sel, 31/5/11, Heru <[hidden email]> menulis:


Dari: Heru <[hidden email]>
Judul: [Spiritual-Indonesia] Re: Hubungan Agama dan Olahraga
Kepada: [hidden email]
Tanggal: Selasa, 31 Mei, 2011, 10:15 AM


 



Dalam pertandingan olah raga kedua belah pihak berdoa kepada Tuhan. Tidak mungkin kedua2nya menang.
Waktu Uni Sovyet masih jaya olahragawannya tidak berdoa kepad Tuhan toh mereka menang dalam pertandingan.
Ternyata disini yang penting adalah ketenangan dan percaya diri. Untuk orang yang bertuhan kepercayaan dirinya diletakkan kepada Tuhan yang dipercayainya. Orang yang tidak bertuhan bisa saja lebih tenang dari orang yang tidak beragama. Caranya dengan self suggestion. Men"suggest" langsung kedirinya bahwa "saya bisa menang kalau saya lakukan yang terbaik". Juara catur dunia dari Rusia men'suggest dirinya supaya menang dan menang.
Orang yang merokok akan tidak tenang kalau tidak merokok.Orang beragama tidak tenang kalau tidak berdoa. Dalam bertandingan yang memerlukan otak ternyata "self suggestion" lebih ampuh dari pada berdoa.
Salam kasih ke umat manuisa,
Heru

--- In [hidden email], ananda bahagia <anandabahagia@...> wrote:

>
> yang jelas, dari sejak jaman yunani kuno (atau mungkin malah lebih tua
> lagi), sampai jaman ini, siapa pun yang unggul dalam olahraga, dia akan
> diperlakukan seperti dewa yang disembah-sembah di mana-mana .. mareka akan
> mendapatkan puja-puji...dielu-elukan....dan mendapatkan aneka persembahan
> berupa harta berlimpah.. dan aneka kenikmatan lainnya.....siapa yang kini
> tidak memuja-muja bintang sepakbola, tenis, tinju, dst..dst? merekalah
> dewa-dewa......
>
>
> 2011/5/29 Wal Suparmo <wal.suparmo@...>
>
> >
> >
> > Salam,
> > Karena saya orang Indonesia yang pertama ( pada waktu umur 17 tahun) yang
> > menterjemahkan buku Karl May, dalam buku itu ada peranan tokoh SAYA yaitu
> > Old Shatterhand yang pasti orang Jerman Kristen dan sebanarnya Karl May
> > sendiri.Jika mengutuk musuhnya SAMBER GLEDEG . dalam waktu sedetik orang itu
> > akan hangus disambar petir yang diturunkan oleh Tuhan.
> >
> > Wasalam,
> > Wal Suparmo
> >
> > --- Pada *Ming, 29/5/11, Frans JS <fransjsantoso@...>* menulis:
> >
> >
> > Dari: Frans JS <fransjsantoso@...>
> > Judul: Re: [Spiritual-Indonesia] Hubungan Agama dan Olahraga
> > Kepada: "SI" <[hidden email]>
> > Tanggal: Minggu, 29 Mei, 2011, 6:56 AM
> >
> >
> > >> Seperti dikatakan Ali menjelang pertandingan melawan George Foreman pada
> > tahun 1974: "Bagaimana mungkin saya kalah selagi Allah di pihak saya?" <<
> > .
> > Kalo Opa Wal bertinju dengan keyakinan seperti Ali, besar harapan bisa
> > menang. Siapa tau lawannya baru tersenggol tonjokan Opa langsung kena stroke
> > dan KO.
> > .
> > .
> > ------------------------------
> > *From: *"Frans JS" <fransjsantoso@...>
> > *Sender: *[hidden email]
> > *Date: *Sat, 28 May 2011 23:43:18 +0000
> > *To: *SI<[hidden email]>
> > *ReplyTo: *[hidden email]
> > *Subject: *[Spiritual-Indonesia] Hubungan Agama dan Olahraga
> >
> >
> > BBCIndonesia.com : detikNews
> > detikcom - Indonesia - BBC,
> >
> > Para pemain sepakbola berdoa di lapangan, yakin pada kekuatan Tuhan. Dalam
> > pertandingan final Piala Champions di London, tak terelakkan ada bukti bahwa
> > para pemain memiliki keyakinan agama.
> > Misalnya, sejumlah pemain melakukan gerak
> > tangan tanda salib atau pun isyarat keagamaan
> > lainnya. Tetapi apakah keyakinan agama memperkuat kinerja olahraga? Inilah
> > pertanyaan yang ditelusuri oleh Matthew Syed.
> > Semua mata akan tertuju pada Lionel Messi,
> > pemain bola terhebat di dunia, ketika dia bersama tim Barcelona turun ke
> > lapangan untuk final Piala Champions. Kalau Anda cermat, akan terlihat dia
> > membuat gerakan tanda salib ketika masuk lapangan. Di belahan lawannya,
> > Manchester United, striker Javier Hernandez sudah sering tampak berdoa di
> > lapangan. Messi dan Hernandez bukan satu-satunya pesepakbola yang
> > menunjukkan keyakinan agamanya di arena pertandingan.
> > Bintang Real Madrid, Kaka, sering berbicara
> > mengenai agama, berdoa di lapangan, dan
> > bersyukur kepada Tuhan atas kesembuhan yang
> > cepat dari cedera punggungnya. Olahragawan lainnya, mulai dari Muhammad Ali
> > sampai Jonathan Edwards si peloncat jangkit, juga
> > berbicara tentang kekuatan Tuhan. Agama mereka berbeda-beda namun semua
> > mereka menegaskan bahwa keyakinannya memberikan berkah. Seperti dikatakan
> > Ali menjelang pertandingan melawan George Foreman pada tahun 1974:
> > "Bagaimana mungkin saya kalah selagi Allah di pihak saya?"
> >
> > Atheis.
> > Orang-orang atheis berpendapat bahwa kepercayaan bahwa agama bisa berperan
> > menentukan hasil pertandingan, sebagai khayalan belaka.
> > Tetapi sangat mungkin mengesampingkan isu
> > apakah Tuhan ada atau tidak dan amati saja
> > dampak keyakinan pada Tuhan terhadap kinerja.
> > Inilah yang dilakukan Jeong-keu Park dari Universitas Seoul pada tahun 2000
> > dengan mempelajari kinerja para atlet Korea Selatan. Dia
> > mendapati bahwa doa bukan hanya faktor penting dalam mengatasi rasa grogi
> > tetapi juga dalam mencapai kinerja puncak.
> > Satu kutipan salah seorang peserta dalam
> > penelitian Park memperkuat temuan itu: "Saya
> > selalu menyiapkan pertandingan dengan doa. Saya menyerahkan seluruhnya
> > kepada Tuhan tanpa ragu. Doa membuat asya tenang dan lebih yakin dan saya
> > melupakan ketakutan pada kekalahan. Hasilnya, permainan menjadi bagus."
> > Ini mirip dengan riset hebat tentang kekuatan
> > keyakinan di dunia kesehatan.
> > Pada tahun 1960-an, serangkaian pelenitian
> > mendapati bahwa penyakit jantung lebih jarang
> > dialami oleh masyarakat yang taat bergama.
> > Penelitian berikutnya memperpanjang temuan ini, termasuk makalah tahun 1996
> > yang menemukan bahwa tingkat kematian di kalangan sekuler dua kali lebih
> > tinggi dibanding kalangan yang taat beragama. Tampaknya, keyakinan agama
> > bisa memberikan maanfaat kesehatan.
> >
> > Bagaimana mungkin?
> > Pertanyaannya, bagaimana mungkin itu terjadi?
> > Kita bisa melihat jawabannya dalam salah satu
> > misteri psikologi yang paling mengherankan; yaitu efek plasebo yang
> > merupakan fenomena yang mengejutkan para dokter sejak Theodor Kocker yang
> > melaksanakan 1.600 operasi tanpa bius di Bern, Swiss, pada tahun 1890-an.
> > Semua ini terkait dengan keyakinan pada keberadaan pertolongan Tuhan.
> > Hasil dari penelitian atlet Korea Selatan terulang
> > berkali-kali, dan tidak hanya terjadi di satu-dua
> > keyakinan agama. Para atlet yakin Tuhan bisa membantu kinerja di lapangan
> > olahraga.
> >
> >
> >
>






Reply | Threaded
Open this post in threaded view
|  
Report Content as Inappropriate

Bls: Hubungan Agama dan Olahraga

Gerah Jiwo
In reply to this post by Frans JS
>>Para pemain sepakbola berdoa di lapangan, yakin pada kekuatan Tuhan.<<

Mbah Juma'in temen ngopi gw, :)
pernah melihat suatu sekolah berbasis agama
yg mengalami pencemaran energi negatif dalam skala cukup parah.

Semua ruangan terkontaminasi, kecuali dua: (guess what)
- ruang doa
- ruang control panel
  yaitu tempat dimana semua peralatan yg berkaitan dgn pembagian arus listrik
  dioperasikan di situ, seperti:  fuse, PABX, diesel, UPS, dsb.

------------------------------------
Apakah suatu kebetulan,
ataukah mereka memang agak alergi dgn doa dan medan listrik?
Wallahu a’lam.



________________________________
Dari: Frans JS <[hidden email]>
Kepada: SI <[hidden email]>
Terkirim: Ming, 29 Mei, 2011 06:43:18
Judul: [Spiritual-Indonesia] Hubungan Agama dan Olahraga

 
BBCIndonesia.com : detikNews
detikcom - Indonesia - BBC,

Para pemain sepakbola berdoa di lapangan, yakin pada kekuatan Tuhan. Dalam
pertandingan final Piala Champions di London, tak terelakkan ada bukti bahwa
para pemain memiliki keyakinan agama.
Misalnya, sejumlah pemain melakukan gerak
tangan tanda salib atau pun isyarat keagamaan
lainnya. Tetapi apakah keyakinan agama memperkuat kinerja olahraga? Inilah
pertanyaan yang ditelusuri oleh Matthew Syed.
Semua mata akan tertuju pada Lionel Messi,
pemain bola terhebat di dunia, ketika dia bersama tim Barcelona turun ke
lapangan untuk final Piala Champions. Kalau Anda cermat, akan terlihat dia
membuat gerakan tanda salib ketika masuk lapangan. Di belahan lawannya,
Manchester United, striker Javier Hernandez sudah sering tampak berdoa di
lapangan. Messi dan Hernandez bukan satu-satunya pesepakbola yang menunjukkan
keyakinan agamanya di arena pertandingan.
Bintang Real Madrid, Kaka, sering berbicara
mengenai agama, berdoa di lapangan, dan
bersyukur kepada Tuhan atas kesembuhan yang
cepat dari cedera punggungnya. Olahragawan lainnya, mulai dari Muhammad Ali
sampai Jonathan Edwards si peloncat jangkit, juga
berbicara tentang kekuatan Tuhan. Agama mereka berbeda-beda namun semua mereka
menegaskan bahwa keyakinannya memberikan berkah. Seperti dikatakan Ali menjelang
pertandingan melawan George Foreman pada tahun 1974: "Bagaimana mungkin saya
kalah selagi Allah di pihak saya?"

Atheis.
Orang-orang atheis berpendapat bahwa kepercayaan bahwa agama bisa berperan
menentukan hasil pertandingan, sebagai khayalan belaka.
Tetapi sangat mungkin mengesampingkan isu
apakah Tuhan ada atau tidak dan amati saja
dampak keyakinan pada Tuhan terhadap kinerja.
Inilah yang dilakukan Jeong-keu Park dari Universitas Seoul pada tahun 2000
dengan mempelajari kinerja para atlet Korea Selatan. Dia
mendapati bahwa doa bukan hanya faktor penting dalam mengatasi rasa grogi tetapi
juga dalam mencapai kinerja puncak.
Satu kutipan salah seorang peserta dalam
penelitian Park memperkuat temuan itu: "Saya
selalu menyiapkan pertandingan dengan doa. Saya menyerahkan seluruhnya kepada
Tuhan tanpa ragu. Doa membuat asya tenang dan lebih yakin dan saya melupakan
ketakutan pada kekalahan. Hasilnya, permainan menjadi bagus."
Ini mirip dengan riset hebat tentang kekuatan
keyakinan di dunia kesehatan.
Pada tahun 1960-an, serangkaian pelenitian
mendapati bahwa penyakit jantung lebih jarang
dialami oleh masyarakat yang taat bergama.
Penelitian berikutnya memperpanjang temuan ini, termasuk makalah tahun 1996 yang
menemukan bahwa tingkat kematian di kalangan sekuler dua kali lebih tinggi
dibanding kalangan yang taat beragama. Tampaknya, keyakinan agama bisa
memberikan maanfaat kesehatan.

Bagaimana mungkin?
Pertanyaannya, bagaimana mungkin itu terjadi?
Kita bisa melihat jawabannya dalam salah satu
misteri psikologi yang paling mengherankan; yaitu efek plasebo yang merupakan
fenomena yang mengejutkan para dokter sejak Theodor Kocker yang melaksanakan
1.600 operasi tanpa bius di Bern, Swiss, pada tahun 1890-an. Semua ini terkait
dengan keyakinan pada keberadaan pertolongan Tuhan.
Hasil dari penelitian atlet Korea Selatan terulang
berkali-kali, dan tidak hanya terjadi di satu-dua
keyakinan agama. Para atlet yakin Tuhan bisa membantu kinerja di lapangan
olahraga.

 <!-- #ygrp-mkp { border:1px solid
#d8d8d8;font-family:Arial;margin:10px 0;padding:0 10px;}  #ygrp-mkp hr {
border:1px solid #d8d8d8;}  #ygrp-mkp #hd {
color:#628c2a;font-size:85%;font-weight:700;line-height:122%;margin:10px 0;}  
#ygrp-mkp #ads { margin-bottom:10px;}  #ygrp-mkp .ad { padding:0 0;}  #ygrp-mkp
.ad p { margin:0;}  #ygrp-mkp .ad a { color:#0000ff;text-decoration:none;}
#ygrp-sponsor #ygrp-lc { font-family:Arial;}  #ygrp-sponsor #ygrp-lc #hd {
margin:10px 0px;font-weight:700;font-size:78%;line-height:122%;}  #ygrp-sponsor
#ygrp-lc .ad { margin-bottom:10px;padding:0 0;}  a { color:#1e66ae;}  #actions {
font-family:Verdana;font-size:11px;padding:10px 0;}  #activity {
background-color:#e0ecee;float:left;font-family:Verdana;font-size:10px;padding:10px;}
  #activity span { font-weight:700;}  #activity span:first-child {
text-transform:uppercase;}  #activity span a {
color:#5085b6;text-decoration:none;}  #activity span span { color:#ff7900;}  
#activity span .underline { text-decoration:underline;}  .attach {
clear:both;display:table;font-family:Arial;font-size:12px;padding:10px
0;width:400px;}  .attach div a { text-decoration:none;}  .attach img {
border:none;padding-right:5px;}  .attach label {
display:block;margin-bottom:5px;}  .attach label a { text-decoration:none;}  
blockquote { margin:0 0 0 4px;}  .bold {
font-family:Arial;font-size:13px;font-weight:700;}  .bold a {
text-decoration:none;}  dd.last p a { font-family:Verdana;font-weight:700;}  
dd.last p span { margin-right:10px;font-family:Verdana;font-weight:700;}  
dd.last p span.yshortcuts { margin-right:0;}  div.attach-table div div a {
text-decoration:none;}  div.attach-table { width:400px;}  div.file-title a,
div.file-title a:active, div.file-title a:hover, div.file-title a:visited {
text-decoration:none;}  div.photo-title a, div.photo-title a:active,
div.photo-title a:hover, div.photo-title a:visited { text-decoration:none;}  
div#ygrp-mlmsg #ygrp-msg p a span.yshortcuts {
font-family:Verdana;font-size:10px;font-weight:normal;}  .green {
color:#628c2a;}  .MsoNormal { margin:0 0 0 0;}  o { font-size:0;}  #photos div {
float:left;width:72px;}  #photos div div { border:1px solid
#666666;height:62px;overflow:hidden;width:62px;}  #photos div label {
color:#666666;font-size:10px;overflow:hidden;text-align:center;white-space:nowrap;width:64px;}
  #reco-category { font-size:77%;}  #reco-desc { font-size:77%;}  .replbq {
margin:4px;}  #ygrp-actbar div a:first-child {
margin-right:2px;padding-right:5px;}  #ygrp-mlmsg {
font-size:13px;font-family:Arial, helvetica, clean, sans-serif;}  #ygrp-mlmsg
table { font-size:inherit;font:100%;}  #ygrp-mlmsg select, input, textarea {
font:99% Arial, Helvetica, clean, sans-serif;}  #ygrp-mlmsg pre, code {
font:115% monospace;}  #ygrp-mlmsg * { line-height:1.22em;}  #ygrp-mlmsg #logo {
padding-bottom:10px;}  #ygrp-mlmsg a { color:#1E66AE;}  #ygrp-msg p a {
font-family:Verdana;}  #ygrp-msg p#attach-count span {
color:#1E66AE;font-weight:700;}  #ygrp-reco #reco-head {
color:#ff7900;font-weight:700;}  #ygrp-reco { margin-bottom:20px;padding:0px;}  
#ygrp-sponsor #ov li a { font-size:130%;text-decoration:none;}  #ygrp-sponsor
#ov li { font-size:77%;list-style-type:square;padding:6px 0;}  #ygrp-sponsor #ov
ul { margin:0;padding:0 0 0 8px;}  #ygrp-text { font-family:Georgia;}  
#ygrp-text p { margin:0 0 1em 0;}  #ygrp-text tt { font-size:120%;}  #ygrp-vital
ul li:last-child { border-right:none !important; } -->
Reply | Threaded
Open this post in threaded view
|  
Report Content as Inappropriate

Re: Bls: Hubungan Agama dan Olahraga

Frans JS
Yang jelas, di ruang kontrol panel:
1) Banyak barang berasal dari bali, made in ...
2) Petugas yang jaga, seringnya browsing hentai
.
Ini kata mbah Juma'at
.
-----Original Message-----
From: Gerah Jiwo <[hidden email]>
Sender: [hidden email]
Date: Wed, 1 Jun 2011 19:04:25
To: <[hidden email]>
Reply-To: [hidden email]
Subject: Bls: [Spiritual-Indonesia] Hubungan Agama dan Olahraga

>>Para pemain sepakbola berdoa di lapangan, yakin pada kekuatan Tuhan.<<

Mbah Juma'in temen ngopi gw, :)
pernah melihat suatu sekolah berbasis agama
yg mengalami pencemaran energi negatif dalam skala cukup parah.

Semua ruangan terkontaminasi, kecuali dua: (guess what)
- ruang doa
- ruang control panel
  yaitu tempat dimana semua peralatan yg berkaitan dgn pembagian arus listrik
  dioperasikan di situ, seperti:  fuse, PABX, diesel, UPS, dsb.

------------------------------------
Apakah suatu kebetulan,
ataukah mereka memang agak alergi dgn doa dan medan listrik?
Wallahu a’lam.



________________________________
Dari: Frans JS <[hidden email]>
Kepada: SI <[hidden email]>
Terkirim: Ming, 29 Mei, 2011 06:43:18
Judul: [Spiritual-Indonesia] Hubungan Agama dan Olahraga

 
BBCIndonesia.com : detikNews
detikcom - Indonesia - BBC,

Para pemain sepakbola berdoa di lapangan, yakin pada kekuatan Tuhan. Dalam
pertandingan final Piala Champions di London, tak terelakkan ada bukti bahwa
para pemain memiliki keyakinan agama.
Misalnya, sejumlah pemain melakukan gerak
tangan tanda salib atau pun isyarat keagamaan
lainnya. Tetapi apakah keyakinan agama memperkuat kinerja olahraga? Inilah
pertanyaan yang ditelusuri oleh Matthew Syed.
Semua mata akan tertuju pada Lionel Messi,
pemain bola terhebat di dunia, ketika dia bersama tim Barcelona turun ke
lapangan untuk final Piala Champions. Kalau Anda cermat, akan terlihat dia
membuat gerakan tanda salib ketika masuk lapangan. Di belahan lawannya,
Manchester United, striker Javier Hernandez sudah sering tampak berdoa di
lapangan. Messi dan Hernandez bukan satu-satunya pesepakbola yang menunjukkan
keyakinan agamanya di arena pertandingan.
Bintang Real Madrid, Kaka, sering berbicara
mengenai agama, berdoa di lapangan, dan
bersyukur kepada Tuhan atas kesembuhan yang
cepat dari cedera punggungnya. Olahragawan lainnya, mulai dari Muhammad Ali
sampai Jonathan Edwards si peloncat jangkit, juga
berbicara tentang kekuatan Tuhan. Agama mereka berbeda-beda namun semua mereka
menegaskan bahwa keyakinannya memberikan berkah. Seperti dikatakan Ali menjelang
pertandingan melawan George Foreman pada tahun 1974: "Bagaimana mungkin saya
kalah selagi Allah di pihak saya?"

Atheis.
Orang-orang atheis berpendapat bahwa kepercayaan bahwa agama bisa berperan
menentukan hasil pertandingan, sebagai khayalan belaka.
Tetapi sangat mungkin mengesampingkan isu
apakah Tuhan ada atau tidak dan amati saja
dampak keyakinan pada Tuhan terhadap kinerja.
Inilah yang dilakukan Jeong-keu Park dari Universitas Seoul pada tahun 2000
dengan mempelajari kinerja para atlet Korea Selatan. Dia
mendapati bahwa doa bukan hanya faktor penting dalam mengatasi rasa grogi tetapi
juga dalam mencapai kinerja puncak.
Satu kutipan salah seorang peserta dalam
penelitian Park memperkuat temuan itu: "Saya
selalu menyiapkan pertandingan dengan doa. Saya menyerahkan seluruhnya kepada
Tuhan tanpa ragu. Doa membuat asya tenang dan lebih yakin dan saya melupakan
ketakutan pada kekalahan. Hasilnya, permainan menjadi bagus."
Ini mirip dengan riset hebat tentang kekuatan
keyakinan di dunia kesehatan.
Pada tahun 1960-an, serangkaian pelenitian
mendapati bahwa penyakit jantung lebih jarang
dialami oleh masyarakat yang taat bergama.
Penelitian berikutnya memperpanjang temuan ini, termasuk makalah tahun 1996 yang
menemukan bahwa tingkat kematian di kalangan sekuler dua kali lebih tinggi
dibanding kalangan yang taat beragama. Tampaknya, keyakinan agama bisa
memberikan maanfaat kesehatan.

Bagaimana mungkin?
Pertanyaannya, bagaimana mungkin itu terjadi?
Kita bisa melihat jawabannya dalam salah satu
misteri psikologi yang paling mengherankan; yaitu efek plasebo yang merupakan
fenomena yang mengejutkan para dokter sejak Theodor Kocker yang melaksanakan
1.600 operasi tanpa bius di Bern, Swiss, pada tahun 1890-an. Semua ini terkait
dengan keyakinan pada keberadaan pertolongan Tuhan.
Hasil dari penelitian atlet Korea Selatan terulang
berkali-kali, dan tidak hanya terjadi di satu-dua
keyakinan agama. Para atlet yakin Tuhan bisa membantu kinerja di lapangan
olahraga.

 <!-- #ygrp-mkp { border:1px solid
#d8d8d8;font-family:Arial;margin:10px 0;padding:0 10px;}  #ygrp-mkp hr {
border:1px solid #d8d8d8;}  #ygrp-mkp #hd {
color:#628c2a;font-size:85%;font-weight:700;line-height:122%;margin:10px 0;}  
#ygrp-mkp #ads { margin-bottom:10px;}  #ygrp-mkp .ad { padding:0 0;}  #ygrp-mkp
.ad p { margin:0;}  #ygrp-mkp .ad a { color:#0000ff;text-decoration:none;}
#ygrp-sponsor #ygrp-lc { font-family:Arial;}  #ygrp-sponsor #ygrp-lc #hd {
margin:10px 0px;font-weight:700;font-size:78%;line-height:122%;}  #ygrp-sponsor
#ygrp-lc .ad { margin-bottom:10px;padding:0 0;}  a { color:#1e66ae;}  #actions {
font-family:Verdana;font-size:11px;padding:10px 0;}  #activity {
background-color:#e0ecee;float:left;font-family:Verdana;font-size:10px;padding:10px;}
  #activity span { font-weight:700;}  #activity span:first-child {
text-transform:uppercase;}  #activity span a {
color:#5085b6;text-decoration:none;}  #activity span span { color:#ff7900;}  
#activity span .underline { text-decoration:underline;}  .attach {
clear:both;display:table;font-family:Arial;font-size:12px;padding:10px
0;width:400px;}  .attach div a { text-decoration:none;}  .attach img {
border:none;padding-right:5px;}  .attach label {
display:block;margin-bottom:5px;}  .attach label a { text-decoration:none;}  
blockquote { margin:0 0 0 4px;}  .bold {
font-family:Arial;font-size:13px;font-weight:700;}  .bold a {
text-decoration:none;}  dd.last p a { font-family:Verdana;font-weight:700;}  
dd.last p span { margin-right:10px;font-family:Verdana;font-weight:700;}  
dd.last p span.yshortcuts { margin-right:0;}  div.attach-table div div a {
text-decoration:none;}  div.attach-table { width:400px;}  div.file-title a,
div.file-title a:active, div.file-title a:hover, div.file-title a:visited {
text-decoration:none;}  div.photo-title a, div.photo-title a:active,
div.photo-title a:hover, div.photo-title a:visited { text-decoration:none;}  
div#ygrp-mlmsg #ygrp-msg p a span.yshortcuts {
font-family:Verdana;font-size:10px;font-weight:normal;}  .green {
color:#628c2a;}  .MsoNormal { margin:0 0 0 0;}  o { font-size:0;}  #photos div {
float:left;width:72px;}  #photos div div { border:1px solid
#666666;height:62px;overflow:hidden;width:62px;}  #photos div label {
color:#666666;font-size:10px;overflow:hidden;text-align:center;white-space:nowrap;width:64px;}
  #reco-category { font-size:77%;}  #reco-desc { font-size:77%;}  .replbq {
margin:4px;}  #ygrp-actbar div a:first-child {
margin-right:2px;padding-right:5px;}  #ygrp-mlmsg {
font-size:13px;font-family:Arial, helvetica, clean, sans-serif;}  #ygrp-mlmsg
table { font-size:inherit;font:100%;}  #ygrp-mlmsg select, input, textarea {
font:99% Arial, Helvetica, clean, sans-serif;}  #ygrp-mlmsg pre, code {
font:115% monospace;}  #ygrp-mlmsg * { line-height:1.22em;}  #ygrp-mlmsg #logo {
padding-bottom:10px;}  #ygrp-mlmsg a { color:#1E66AE;}  #ygrp-msg p a {
font-family:Verdana;}  #ygrp-msg p#attach-count span {
color:#1E66AE;font-weight:700;}  #ygrp-reco #reco-head {
color:#ff7900;font-weight:700;}  #ygrp-reco { margin-bottom:20px;padding:0px;}  
#ygrp-sponsor #ov li a { font-size:130%;text-decoration:none;}  #ygrp-sponsor
#ov li { font-size:77%;list-style-type:square;padding:6px 0;}  #ygrp-sponsor #ov
ul { margin:0;padding:0 0 0 8px;}  #ygrp-text { font-family:Georgia;}  
#ygrp-text p { margin:0 0 1em 0;}  #ygrp-text tt { font-size:120%;}  #ygrp-vital
ul li:last-child { border-right:none !important; } -->

Reply | Threaded
Open this post in threaded view
|  
Report Content as Inappropriate

Bls: Bls: Hubungan Agama dan Olahraga

Gerah Jiwo
>>Petugas yang jaga, seringnya browsing hentai<<
Berarti dhemit takutnya sama Hentai.
:D




________________________________
Dari: Frans JS <[hidden email]>
Kepada: SI <[hidden email]>
Terkirim: Kam, 2 Juni, 2011 09:08:17
Judul: Re: Bls: [Spiritual-Indonesia] Hubungan Agama dan Olahraga

 
Yang jelas, di ruang kontrol panel:
1) Banyak barang berasal dari bali, made in ...
2) Petugas yang jaga, seringnya browsing hentai
.
Ini kata mbah Juma'at
.
________________________________

From:  Gerah Jiwo <[hidden email]>
Sender:  [hidden email]
Date: Wed, 1 Jun 2011 19:04:25 -0700 (PDT)
To: <[hidden email]>
ReplyTo:  [hidden email]
Subject: Bls: [Spiritual-Indonesia] Hubungan Agama dan Olahraga
 
>>Para pemain sepakbola berdoa di lapangan, yakin pada kekuatan Tuhan.<<

Mbah Juma'in temen ngopi gw, :)
pernah melihat suatu sekolah berbasis agama
yg mengalami pencemaran energi negatif dalam skala cukup parah.

Semua ruangan terkontaminasi, kecuali dua: (guess what)
- ruang doa
- ruang control panel
  yaitu tempat dimana semua peralatan yg berkaitan dgn pembagian arus listrik
  dioperasikan di situ, seperti:  fuse, PABX, diesel, UPS, dsb.

------------------------------------
Apakah suatu kebetulan,
ataukah mereka memang agak alergi dgn doa dan medan listrik?
Wallahu  a’lam.



________________________________
Dari: Frans JS <[hidden email]>
Kepada: SI <[hidden email]>
Terkirim: Ming, 29 Mei, 2011 06:43:18
Judul: [Spiritual-Indonesia] Hubungan Agama dan Olahraga

 
BBCIndonesia.com : detikNews
detikcom - Indonesia - BBC,

Para pemain sepakbola berdoa di lapangan, yakin pada kekuatan Tuhan. Dalam
pertandingan final Piala Champions di London, tak terelakkan ada bukti bahwa
para pemain memiliki keyakinan agama.

Misalnya, sejumlah pemain melakukan gerak
tangan tanda salib atau pun isyarat keagamaan
lainnya. Tetapi apakah keyakinan agama memperkuat kinerja olahraga? Inilah
pertanyaan yang ditelusuri oleh Matthew Syed.
Semua mata akan tertuju pada Lionel Messi,
pemain bola terhebat di dunia, ketika dia bersama tim Barcelona turun ke
lapangan untuk final Piala Champions. Kalau Anda cermat, akan terlihat dia
membuat gerakan tanda salib ketika masuk lapangan. Di belahan lawannya,
Manchester United, striker Javier Hernandez sudah sering tampak berdoa di
lapangan. Messi dan Hernandez bukan satu-satunya pesepakbola yang menunjukkan
keyakinan agamanya di arena pertandingan.
Bintang Real Madrid, Kaka, sering berbicara
mengenai agama, berdoa di lapangan, dan
bersyukur kepada Tuhan atas kesembuhan yang
cepat dari cedera punggungnya. Olahragawan lainnya, mulai dari Muhammad Ali
sampai Jonathan Edwards si peloncat jangkit, juga
berbicara tentang kekuatan Tuhan. Agama mereka berbeda-beda namun semua mereka
menegaskan bahwa keyakinannya memberikan berkah. Seperti dikatakan Ali menjelang
pertandingan melawan George Foreman pada tahun 1974: "Bagaimana mungkin saya
kalah selagi Allah di pihak saya?"

Atheis.
Orang-orang atheis berpendapat bahwa kepercayaan bahwa agama bisa berperan
menentukan hasil pertandingan, sebagai khayalan belaka.
Tetapi sangat mungkin mengesampingkan isu
apakah Tuhan ada atau tidak dan amati saja
dampak keyakinan pada Tuhan terhadap kinerja.
Inilah yang dilakukan Jeong-keu Park dari Universitas Seoul pada tahun 2000
dengan mempelajari kinerja para atlet Korea Selatan. Dia
mendapati bahwa doa bukan hanya faktor penting dalam mengatasi rasa grogi tetapi
juga dalam mencapai kinerja puncak.
Satu kutipan salah seorang peserta dalam
penelitian Park memperkuat temuan itu: "Saya
selalu menyiapkan pertandingan dengan doa. Saya menyerahkan seluruhnya kepada
Tuhan tanpa ragu. Doa membuat asya tenang dan lebih yakin dan saya melupakan
ketakutan pada kekalahan. Hasilnya, permainan menjadi bagus."
Ini mirip dengan riset hebat tentang kekuatan
keyakinan di dunia kesehatan.
Pada tahun 1960-an, serangkaian pelenitian
mendapati bahwa penyakit jantung lebih jarang
dialami oleh masyarakat yang taat bergama.
Penelitian berikutnya memperpanjang temuan ini, termasuk makalah tahun 1996 yang
menemukan bahwa tingkat kematian di kalangan sekuler dua kali lebih tinggi
dibanding kalangan yang taat beragama. Tampaknya, keyakinan agama bisa
memberikan maanfaat kesehatan.

Bagaimana mungkin?
Pertanyaannya, bagaimana mungkin itu terjadi?
Kita bisa melihat jawabannya dalam salah satu
misteri psikologi yang paling mengherankan; yaitu efek plasebo yang merupakan
fenomena yang mengejutkan para dokter sejak Theodor Kocker yang melaksanakan
1.600 operasi tanpa bius di Bern, Swiss, pada tahun 1890-an. Semua ini terkait
dengan keyakinan pada keberadaan pertolongan Tuhan.
Hasil dari penelitian atlet Korea Selatan terulang
berkali-kali, dan tidak hanya terjadi di satu-dua
keyakinan agama. Para atlet yakin Tuhan bisa membantu kinerja di lapangan
olahraga.

Reply | Threaded
Open this post in threaded view
|  
Report Content as Inappropriate

Re: Bls: Bls: Hubungan Agama dan Olahraga

Frans JS
Bisa jadi, demit juga sudah merasa takut diperkosa oleh manusia. ☺
.
.
-----Original Message-----
From: Gerah Jiwo <[hidden email]>
Sender: [hidden email]
Date: Wed, 1 Jun 2011 19:18:40
To: <[hidden email]>
Reply-To: [hidden email]
Subject: Bls: Bls: [Spiritual-Indonesia] Hubungan Agama dan Olahraga

>>Petugas yang jaga, seringnya browsing hentai<<
Berarti dhemit takutnya sama Hentai.
:D




________________________________
Dari: Frans JS <[hidden email]>
Kepada: SI <[hidden email]>
Terkirim: Kam, 2 Juni, 2011 09:08:17
Judul: Re: Bls: [Spiritual-Indonesia] Hubungan Agama dan Olahraga

 
Yang jelas, di ruang kontrol panel:
1) Banyak barang berasal dari bali, made in ...
2) Petugas yang jaga, seringnya browsing hentai
.
Ini kata mbah Juma'at
.
________________________________

From:  Gerah Jiwo <[hidden email]>
Sender:  [hidden email]
Date: Wed, 1 Jun 2011 19:04:25 -0700 (PDT)
To: <[hidden email]>
ReplyTo:  [hidden email]
Subject: Bls: [Spiritual-Indonesia] Hubungan Agama dan Olahraga
 
>>Para pemain sepakbola berdoa di lapangan, yakin pada kekuatan Tuhan.<<

Mbah Juma'in temen ngopi gw, :)
pernah melihat suatu sekolah berbasis agama
yg mengalami pencemaran energi negatif dalam skala cukup parah.

Semua ruangan terkontaminasi, kecuali dua: (guess what)
- ruang doa
- ruang control panel
  yaitu tempat dimana semua peralatan yg berkaitan dgn pembagian arus listrik
  dioperasikan di situ, seperti:  fuse, PABX, diesel, UPS, dsb.

------------------------------------
Apakah suatu kebetulan,
ataukah mereka memang agak alergi dgn doa dan medan listrik?
Wallahu  a’lam.



________________________________
Dari: Frans JS <[hidden email]>
Kepada: SI <[hidden email]>
Terkirim: Ming, 29 Mei, 2011 06:43:18
Judul: [Spiritual-Indonesia] Hubungan Agama dan Olahraga

 
BBCIndonesia.com : detikNews
detikcom - Indonesia - BBC,

Para pemain sepakbola berdoa di lapangan, yakin pada kekuatan Tuhan. Dalam
pertandingan final Piala Champions di London, tak terelakkan ada bukti bahwa
para pemain memiliki keyakinan agama.

Misalnya, sejumlah pemain melakukan gerak
tangan tanda salib atau pun isyarat keagamaan
lainnya. Tetapi apakah keyakinan agama memperkuat kinerja olahraga? Inilah
pertanyaan yang ditelusuri oleh Matthew Syed.
Semua mata akan tertuju pada Lionel Messi,
pemain bola terhebat di dunia, ketika dia bersama tim Barcelona turun ke
lapangan untuk final Piala Champions. Kalau Anda cermat, akan terlihat dia
membuat gerakan tanda salib ketika masuk lapangan. Di belahan lawannya,
Manchester United, striker Javier Hernandez sudah sering tampak berdoa di
lapangan. Messi dan Hernandez bukan satu-satunya pesepakbola yang menunjukkan
keyakinan agamanya di arena pertandingan.
Bintang Real Madrid, Kaka, sering berbicara
mengenai agama, berdoa di lapangan, dan
bersyukur kepada Tuhan atas kesembuhan yang
cepat dari cedera punggungnya. Olahragawan lainnya, mulai dari Muhammad Ali
sampai Jonathan Edwards si peloncat jangkit, juga
berbicara tentang kekuatan Tuhan. Agama mereka berbeda-beda namun semua mereka
menegaskan bahwa keyakinannya memberikan berkah. Seperti dikatakan Ali menjelang
pertandingan melawan George Foreman pada tahun 1974: "Bagaimana mungkin saya
kalah selagi Allah di pihak saya?"

Atheis.
Orang-orang atheis berpendapat bahwa kepercayaan bahwa agama bisa berperan
menentukan hasil pertandingan, sebagai khayalan belaka.
Tetapi sangat mungkin mengesampingkan isu
apakah Tuhan ada atau tidak dan amati saja
dampak keyakinan pada Tuhan terhadap kinerja.
Inilah yang dilakukan Jeong-keu Park dari Universitas Seoul pada tahun 2000
dengan mempelajari kinerja para atlet Korea Selatan. Dia
mendapati bahwa doa bukan hanya faktor penting dalam mengatasi rasa grogi tetapi
juga dalam mencapai kinerja puncak.
Satu kutipan salah seorang peserta dalam
penelitian Park memperkuat temuan itu: "Saya
selalu menyiapkan pertandingan dengan doa. Saya menyerahkan seluruhnya kepada
Tuhan tanpa ragu. Doa membuat asya tenang dan lebih yakin dan saya melupakan
ketakutan pada kekalahan. Hasilnya, permainan menjadi bagus."
Ini mirip dengan riset hebat tentang kekuatan
keyakinan di dunia kesehatan.
Pada tahun 1960-an, serangkaian pelenitian
mendapati bahwa penyakit jantung lebih jarang
dialami oleh masyarakat yang taat bergama.
Penelitian berikutnya memperpanjang temuan ini, termasuk makalah tahun 1996 yang
menemukan bahwa tingkat kematian di kalangan sekuler dua kali lebih tinggi
dibanding kalangan yang taat beragama. Tampaknya, keyakinan agama bisa
memberikan maanfaat kesehatan.

Bagaimana mungkin?
Pertanyaannya, bagaimana mungkin itu terjadi?
Kita bisa melihat jawabannya dalam salah satu
misteri psikologi yang paling mengherankan; yaitu efek plasebo yang merupakan
fenomena yang mengejutkan para dokter sejak Theodor Kocker yang melaksanakan
1.600 operasi tanpa bius di Bern, Swiss, pada tahun 1890-an. Semua ini terkait
dengan keyakinan pada keberadaan pertolongan Tuhan.
Hasil dari penelitian atlet Korea Selatan terulang
berkali-kali, dan tidak hanya terjadi di satu-dua
keyakinan agama. Para atlet yakin Tuhan bisa membantu kinerja di lapangan
olahraga.


Reply | Threaded
Open this post in threaded view
|  
Report Content as Inappropriate

Bls: Hubungan Agama dan Olahraga

Wal Suparmo
In reply to this post by Gerah Jiwo
Salam,
Kalau listrik mati, mereka siap berdoa sambil me-nangis-2 dan listrik akan segera menyala lagi. Ditanggung! (bohong).

Wasalam,
Wal Suparmo

--- Pada Kam, 2/6/11, Gerah Jiwo <[hidden email]> menulis:


Dari: Gerah Jiwo <[hidden email]>
Judul: Bls: [Spiritual-Indonesia] Hubungan Agama dan Olahraga
Kepada: [hidden email]
Tanggal: Kamis, 2 Juni, 2011, 9:04 AM


 





>>Para pemain sepakbola berdoa di lapangan, yakin pada kekuatan Tuhan.<<

Mbah Juma'in temen ngopi gw, :)
pernah melihat suatu sekolah berbasis agama
yg mengalami pencemaran energi negatif dalam skala cukup parah.

Semua ruangan terkontaminasi, kecuali dua: (guess what)
- ruang doa
- ruang control panel
  yaitu tempat dimana semua peralatan yg berkaitan dgn pembagian arus listrik
  dioperasikan di situ, seperti:  fuse, PABX, diesel, UPS, dsb.

------------------------------------
Apakah suatu kebetulan,
ataukah mereka memang agak alergi dgn doa dan medan listrik?
Wallahu a’lam.




Dari: Frans JS <[hidden email]>
Kepada: SI <[hidden email]>
Terkirim: Ming, 29 Mei, 2011 06:43:18
Judul: [Spiritual-Indonesia] Hubungan Agama dan Olahraga

 

BBCIndonesia.com : detikNews
detikcom - Indonesia - BBC,

Para pemain sepakbola berdoa di lapangan, yakin pada kekuatan Tuhan. Dalam pertandingan final Piala Champions di London, tak terelakkan ada bukti bahwa para pemain memiliki keyakinan agama.
Misalnya, sejumlah pemain melakukan gerak
tangan tanda salib atau pun isyarat keagamaan
lainnya. Tetapi apakah keyakinan agama memperkuat kinerja olahraga? Inilah pertanyaan yang ditelusuri oleh Matthew Syed.
Semua mata akan tertuju pada Lionel Messi,
pemain bola terhebat di dunia, ketika dia bersama tim Barcelona turun ke lapangan untuk final Piala Champions. Kalau Anda cermat, akan terlihat dia membuat gerakan tanda salib ketika masuk lapangan. Di belahan lawannya, Manchester United, striker Javier Hernandez sudah sering tampak berdoa di lapangan. Messi dan Hernandez bukan satu-satunya pesepakbola yang menunjukkan keyakinan agamanya di arena pertandingan.
Bintang Real Madrid, Kaka, sering berbicara
mengenai agama, berdoa di lapangan, dan
bersyukur kepada Tuhan atas kesembuhan yang
cepat dari cedera punggungnya. Olahragawan lainnya, mulai dari Muhammad Ali sampai Jonathan Edwards si peloncat jangkit, juga
berbicara tentang kekuatan Tuhan. Agama mereka berbeda-beda namun semua mereka menegaskan bahwa keyakinannya memberikan berkah. Seperti dikatakan Ali menjelang pertandingan melawan George Foreman pada tahun 1974: "Bagaimana mungkin saya kalah selagi Allah di pihak saya?"

Atheis.
Orang-orang atheis berpendapat bahwa kepercayaan bahwa agama bisa berperan menentukan hasil pertandingan, sebagai khayalan belaka.
Tetapi sangat mungkin mengesampingkan isu
apakah Tuhan ada atau tidak dan amati saja
dampak keyakinan pada Tuhan terhadap kinerja.
Inilah yang dilakukan Jeong-keu Park dari Universitas Seoul pada tahun 2000 dengan mempelajari kinerja para atlet Korea Selatan. Dia
mendapati bahwa doa bukan hanya faktor penting dalam mengatasi rasa grogi tetapi juga dalam mencapai kinerja puncak.
Satu kutipan salah seorang peserta dalam
penelitian Park memperkuat temuan itu: "Saya
selalu menyiapkan pertandingan dengan doa. Saya menyerahkan seluruhnya kepada Tuhan tanpa ragu. Doa membuat asya tenang dan lebih yakin dan saya melupakan ketakutan pada kekalahan. Hasilnya, permainan menjadi bagus."
Ini mirip dengan riset hebat tentang kekuatan
keyakinan di dunia kesehatan.
Pada tahun 1960-an, serangkaian pelenitian
mendapati bahwa penyakit jantung lebih jarang
dialami oleh masyarakat yang taat bergama.
Penelitian berikutnya memperpanjang temuan ini, termasuk makalah tahun 1996 yang menemukan bahwa tingkat kematian di kalangan sekuler dua kali lebih tinggi dibanding kalangan yang taat beragama. Tampaknya, keyakinan agama bisa memberikan maanfaat kesehatan.

Bagaimana mungkin?
Pertanyaannya, bagaimana mungkin itu terjadi?
Kita bisa melihat jawabannya dalam salah satu
misteri psikologi yang paling mengherankan; yaitu efek plasebo yang merupakan fenomena yang mengejutkan para dokter sejak Theodor Kocker yang melaksanakan 1.600 operasi tanpa bius di Bern, Swiss, pada tahun 1890-an. Semua ini terkait dengan keyakinan pada keberadaan pertolongan Tuhan.
Hasil dari penelitian atlet Korea Selatan terulang
berkali-kali, dan tidak hanya terjadi di satu-dua
keyakinan agama. Para atlet yakin Tuhan bisa membantu kinerja di lapangan olahraga.





Loading...