Quantcast

Inilah Kajian Al Ghazali tentang Konsep Ketuhanan Yesus

classic Classic list List threaded Threaded
36 messages Options
12
Reply | Threaded
Open this post in threaded view
|  
Report Content as Inappropriate

Inilah Kajian Al Ghazali tentang Konsep Ketuhanan Yesus

Spiritual Indonesia
http://www.republika.co.id/berita/ensiklopedia-islam/islam-digest/10/05/21/116540-inilah-kajian-al-ghazali-tentang-konsep-ketuhanan-yesus


Inilah Kajian Al Ghazali tentang Konsep Ketuhanan YesusJumat, 21 Mei 2010, 08:16 WIB

   


Imam Al Ghazali
REPUBLIKA.CO.ID,JAKARTA--Imam al-Ghazali adalah salah seorang ulama klasik yang berusaha keras mematahkan hujjah ketuhanan Yesus. Melalui bukunya yang berjudul al-Raddul Jamil li Ilahiyati `Isa, al-Ghazali membantah ketuhanan Yesus dengan mengutip teks-teks Bibel. Buku ini menarik untuk dikaji karena diterbitkan oleh UNESCO dalam bahasa Arab.

Imam al-Ghazali adalah ulama yang sangat terkenal di zamannya sampai zaman sekarang ini. Nama lengkapnya, Abu Hamid Muhammad bin Muhammad bin Muhammad bin Ahmad At-Thusi Asy-Syafii (pengikut mazhab Syaf'i). AlGhazali lahir 450 H/1058 M dan wafat pada tahun 505H/1111M dalam usia 55 tahun.

Karyanya tidak kurang dari 200 buku, dan di antara karyanya yang sangat monumental adalah "Ihya `Ulumiddin" (Revival of Religious Sciences). Ia dikenal sebagai seorang filosof, ahli tasawwuf, ahli fikih, dan juga bisa dikatakan sebagai seorang Kristolog. Ini terbukti lewat karyanya al-Raddul Jamil, yang ditulisnya secara serius dan mendalam.

Dalam bukunya, Al-Ghazali memberikan kritik-kritik terhadap kepercayaan kaum Nasrani yang bertaklid kepada akidah pendahulunya, yang keliru. Kata al-Ghazali dalam mukaddimah bukunya: "Aku melihat pembahasan-pembahasan orang Nasrani tentang akidah mereka memiliki pondasi yang lemah. Orang Nasrani menganggap agama mereka adalah syariat yang tidak bisa di takwil" Imam al-Ghazali juga berpendapat bahwa orang Nasrani taklid kepada para filosof dalam soal keimanan. Misalnya dalam masalah al-ittihad, yaitu menyatunya zat Allah dengan zat Yesus.

Al-Ghazali membantah teori al-ittihad kaum Nasrani. Menurutnya, anggapan bahwa Isa AS mempunyai keterkaitan dengan Tuhan seperti keterkaitan jiwa dengan badan, kemudian dengan keterkaitan ini terjadi hakikat ketiga yang berbeda dengan dua hakikat tadi, adalah keliru. Menurutnya, bergabungnya dua zat dan dua sifat (isytirak), kemudian menjadi hakikat lain yang berbeda adalah hal yang mustahil yang tidak diterima akal.

Dalam pandangan al-Ghazali, teori alittihad ini justru membuktikan bahwa Yesus bukanlah Tuhan. Al-Ghazali menggunakan analogi mantik atau logika. Ia berkata, ketika Yesus disalib, bukankah yang disalib adalah Tuhan, apakah mungkin Tuhan disalib? Jadi, Yesus bukanlah Tuhan. Penjelasannya dapat dilihat pada surat an-Nisa ayat 157: "Dan tidaklah mereka membunuhnya (Isa AS) dan tidak juga mereka menyalibnya akan tetapi disamarkan kepada mereka".

Selain al-ittihad, masalah al-hulul tak kalah pentingnya. Menurut Al-Ghazali, makna al-hulul, artinya zat Allah menempati setiap makhluk, sebenarnya dimaksudkan sebagai makna majaz atau metafora. Dan itu digunakan sebagai perumpamaan seperti kata "Bapa" dan "Anak". Misalnya seperti dalam Injil Yohannes pasal 14 ayat 10: "Tidak percayakah engkau, bahwa Aku di dalam Bapa dan Bapa di dalam Aku. Apa yang Aku katakan kepadamu, tidak Aku katakan dari diriKu sendiri tetapi Bapa yang diam di dalam Aku, Dia-lah yang melakukan pekerjaanNya."

Dalam melakukan kajiannya, Imam alGhazali merujuk kepada Bibel kaum Nasrani. Dalam al-Raddul Jamil, al-Ghazali mencantumkan enam teks Bibel yang menurutnya menafikan ketuhanan Yesus, dan dikuatkan dengan teks-teks Bibel lainnya sebagai tafsiran teks-teks yang enam tadi.

Di antara teks yang dikritisi oleh alGhazali adalah Injil Yohannes pasal 10 ayat 30-36, "Aku dan Bapa adalah satu. Sekali lagi orang-orang Yahudi mengambil batu untuk melempari Yesus. Kata Yesus kepada mereka: "banyak pekerjaan baik yang berasal dari Bapa-ku yang kuperlihatkan kepadamu; pekerjaan manakah di antaranya yang menyebabkan kamu mau melempari aku? Jawab orang-orang Yahudi itu: "bukan karena suatu pekerjaan baik maka kami mau melempari engkau, melainkan karena engkau menghujat Allah dan karena engkau, sekalipun hanya seorang manusia saja, menyamakan dirimu dengan Allah. Kata Yesus kepada mereka: "tidakkah ada tertulis dalam kitab Taurat kamu: Aku telah berfirman: kamu adalah Allah? Jikalau mereka, kepada siapa firman itu disampaikan, disebut Allah  sedangkan kitab suci tidak dapat dibatalkan, masihkah kamu berkata kepada dia yang dikuduskan oleh Bapa dan yang telah diutus-Nya ke dalam dunia." (Teks dikutip dari Bibel terbitan Lembaga Al-kitab
 Indonesia; Jakarta 2008.)

Teks ini, menurut al-Ghazali, menerangkan masalah al-ittihad (menyatunya Allah dengan hamba-Nya). Orang Yahudi mengingkari perkataan Yesus "aku dan Bapa adalah satu". Al-Ghazali berpendapat, perkataan Yesus, Isa AS "..aku dan Bapa adalah satu" adalah makna metafora.

Al Ghazali mengkiaskannya seperti yang terdapat dalam hadits Qudsi, dimana Allah berfirman: "Tidaklah mendekatkan kepadaKu orang-orang yang mendekatkan diri dengan yang lebih utama dari pada melakukan yang Aku fardhukan kepada mereka. Kemudian tidaklah seorang hamba terus mendekatkan diri kepadaKu dengan hal-hal yang sunnah sehingga Aku mencintainya. Apabila Aku telah mencintainya maka Aku adalah pendengaran yang ia mendengar dengannya, penglihatan yang ia melihat dengannya, lisannya yang ia berbicara dengannya dan tangannya yang ia memukul dengannnya."

Menurut Al-Ghazali, adalah mustahil Sang Pencipta menempati indra-indra tersebut atau Allah adalah salah satu dari indra-indra tersebut. Akan tetapi seorang hamba ketika bersungguh-sungguh dalam taat kepada Allah, maka Allah akan memberikannya kemampuan dan pertolongan yang ia mampu dengan keduanya untuk berbicara dengan lisan-Nya, memukul dengan tangan-Nya, dan lain-lainnya. Makna metafora dalam teks Bibel dan hadis Qudsi itulah yang dimaksudkan bersatunya manusia dengan Tuhan, bukan arti harfiahnya.

Demikianlah, di abad ke-12 M, Imam al-Ghazali telah melalukan kajian yang serius tantang agama-agama selain Islam. Kajian ini tentu saja sesuatu yang jauh melampaui zamannya. Kritiknya terhadap konsep Ketuhanan Yesus jelas didasari pada keyakinannya sebagai Muslim, berdasarkan penjelasan Alquran.

Al-Ghazali bersifat seobjektif mungkin saat meneliti fakta tentang konsep kaum Kristen soal Ketuhanan Yesus. Tapi, pada saat yang sama, dia juga tidak melepaslan posisinya sebagai Muslim saat mengkaji agama-agama.
Red: irf
Rep: Rachmat Morado S Alumnus Univ Mulay Islamil, Meknes, Maroko

Reply | Threaded
Open this post in threaded view
|  
Report Content as Inappropriate

Re: Inilah Kajian Al Ghazali tentang Konsep Ketuhanan Yesus

fernando_pm_tambunan
Berarti gazali tidak mengerti bersatunya Zat Allah dan Zat Yesus..
Powered by Telkomsel BlackBerry®

-----Original Message-----
From: Spiritual Indonesia <[hidden email]>
Sender: [hidden email]
Date: Fri, 21 May 2010 10:28:28
To: <[hidden email]>
Reply-To: [hidden email]
Subject: [Spiritual-Indonesia] Inilah Kajian Al Ghazali tentang Konsep Ketuhanan Yesus

http://www.republika.co.id/berita/ensiklopedia-islam/islam-digest/10/05/21/116540-inilah-kajian-al-ghazali-tentang-konsep-ketuhanan-yesus


Inilah Kajian Al Ghazali tentang Konsep Ketuhanan YesusJumat, 21 Mei 2010, 08:16 WIB

   


Imam Al Ghazali
REPUBLIKA.CO.ID,JAKARTA--Imam al-Ghazali adalah salah seorang ulama klasik yang berusaha keras mematahkan hujjah ketuhanan Yesus. Melalui bukunya yang berjudul al-Raddul Jamil li Ilahiyati `Isa, al-Ghazali membantah ketuhanan Yesus dengan mengutip teks-teks Bibel. Buku ini menarik untuk dikaji karena diterbitkan oleh UNESCO dalam bahasa Arab.

Imam al-Ghazali adalah ulama yang sangat terkenal di zamannya sampai zaman sekarang ini. Nama lengkapnya, Abu Hamid Muhammad bin Muhammad bin Muhammad bin Ahmad At-Thusi Asy-Syafii (pengikut mazhab Syaf'i). AlGhazali lahir 450 H/1058 M dan wafat pada tahun 505H/1111M dalam usia 55 tahun.

Karyanya tidak kurang dari 200 buku, dan di antara karyanya yang sangat monumental adalah "Ihya `Ulumiddin" (Revival of Religious Sciences). Ia dikenal sebagai seorang filosof, ahli tasawwuf, ahli fikih, dan juga bisa dikatakan sebagai seorang Kristolog. Ini terbukti lewat karyanya al-Raddul Jamil, yang ditulisnya secara serius dan mendalam.

Dalam bukunya, Al-Ghazali memberikan kritik-kritik terhadap kepercayaan kaum Nasrani yang bertaklid kepada akidah pendahulunya, yang keliru. Kata al-Ghazali dalam mukaddimah bukunya: "Aku melihat pembahasan-pembahasan orang Nasrani tentang akidah mereka memiliki pondasi yang lemah. Orang Nasrani menganggap agama mereka adalah syariat yang tidak bisa di takwil" Imam al-Ghazali juga berpendapat bahwa orang Nasrani taklid kepada para filosof dalam soal keimanan. Misalnya dalam masalah al-ittihad, yaitu menyatunya zat Allah dengan zat Yesus.

Al-Ghazali membantah teori al-ittihad kaum Nasrani. Menurutnya, anggapan bahwa Isa AS mempunyai keterkaitan dengan Tuhan seperti keterkaitan jiwa dengan badan, kemudian dengan keterkaitan ini terjadi hakikat ketiga yang berbeda dengan dua hakikat tadi, adalah keliru. Menurutnya, bergabungnya dua zat dan dua sifat (isytirak), kemudian menjadi hakikat lain yang berbeda adalah hal yang mustahil yang tidak diterima akal.

Dalam pandangan al-Ghazali, teori alittihad ini justru membuktikan bahwa Yesus bukanlah Tuhan. Al-Ghazali menggunakan analogi mantik atau logika. Ia berkata, ketika Yesus disalib, bukankah yang disalib adalah Tuhan, apakah mungkin Tuhan disalib? Jadi, Yesus bukanlah Tuhan. Penjelasannya dapat dilihat pada surat an-Nisa ayat 157: "Dan tidaklah mereka membunuhnya (Isa AS) dan tidak juga mereka menyalibnya akan tetapi disamarkan kepada mereka".

Selain al-ittihad, masalah al-hulul tak kalah pentingnya. Menurut Al-Ghazali, makna al-hulul, artinya zat Allah menempati setiap makhluk, sebenarnya dimaksudkan sebagai makna majaz atau metafora. Dan itu digunakan sebagai perumpamaan seperti kata "Bapa" dan "Anak". Misalnya seperti dalam Injil Yohannes pasal 14 ayat 10: "Tidak percayakah engkau, bahwa Aku di dalam Bapa dan Bapa di dalam Aku. Apa yang Aku katakan kepadamu, tidak Aku katakan dari diriKu sendiri tetapi Bapa yang diam di dalam Aku, Dia-lah yang melakukan pekerjaanNya."

Dalam melakukan kajiannya, Imam alGhazali merujuk kepada Bibel kaum Nasrani. Dalam al-Raddul Jamil, al-Ghazali mencantumkan enam teks Bibel yang menurutnya menafikan ketuhanan Yesus, dan dikuatkan dengan teks-teks Bibel lainnya sebagai tafsiran teks-teks yang enam tadi.

Di antara teks yang dikritisi oleh alGhazali adalah Injil Yohannes pasal 10 ayat 30-36, "Aku dan Bapa adalah satu. Sekali lagi orang-orang Yahudi mengambil batu untuk melempari Yesus. Kata Yesus kepada mereka: "banyak pekerjaan baik yang berasal dari Bapa-ku yang kuperlihatkan kepadamu; pekerjaan manakah di antaranya yang menyebabkan kamu mau melempari aku? Jawab orang-orang Yahudi itu: "bukan karena suatu pekerjaan baik maka kami mau melempari engkau, melainkan karena engkau menghujat Allah dan karena engkau, sekalipun hanya seorang manusia saja, menyamakan dirimu dengan Allah. Kata Yesus kepada mereka: "tidakkah ada tertulis dalam kitab Taurat kamu: Aku telah berfirman: kamu adalah Allah? Jikalau mereka, kepada siapa firman itu disampaikan, disebut Allah  sedangkan kitab suci tidak dapat dibatalkan, masihkah kamu berkata kepada dia yang dikuduskan oleh Bapa dan yang telah diutus-Nya ke dalam dunia." (Teks dikutip dari Bibel terbitan Lembaga Al-kitab
 Indonesia; Jakarta 2008.)

Teks ini, menurut al-Ghazali, menerangkan masalah al-ittihad (menyatunya Allah dengan hamba-Nya). Orang Yahudi mengingkari perkataan Yesus "aku dan Bapa adalah satu". Al-Ghazali berpendapat, perkataan Yesus, Isa AS "..aku dan Bapa adalah satu" adalah makna metafora.

Al Ghazali mengkiaskannya seperti yang terdapat dalam hadits Qudsi, dimana Allah berfirman: "Tidaklah mendekatkan kepadaKu orang-orang yang mendekatkan diri dengan yang lebih utama dari pada melakukan yang Aku fardhukan kepada mereka. Kemudian tidaklah seorang hamba terus mendekatkan diri kepadaKu dengan hal-hal yang sunnah sehingga Aku mencintainya. Apabila Aku telah mencintainya maka Aku adalah pendengaran yang ia mendengar dengannya, penglihatan yang ia melihat dengannya, lisannya yang ia berbicara dengannya dan tangannya yang ia memukul dengannnya."

Menurut Al-Ghazali, adalah mustahil Sang Pencipta menempati indra-indra tersebut atau Allah adalah salah satu dari indra-indra tersebut. Akan tetapi seorang hamba ketika bersungguh-sungguh dalam taat kepada Allah, maka Allah akan memberikannya kemampuan dan pertolongan yang ia mampu dengan keduanya untuk berbicara dengan lisan-Nya, memukul dengan tangan-Nya, dan lain-lainnya. Makna metafora dalam teks Bibel dan hadis Qudsi itulah yang dimaksudkan bersatunya manusia dengan Tuhan, bukan arti harfiahnya.

Demikianlah, di abad ke-12 M, Imam al-Ghazali telah melalukan kajian yang serius tantang agama-agama selain Islam. Kajian ini tentu saja sesuatu yang jauh melampaui zamannya. Kritiknya terhadap konsep Ketuhanan Yesus jelas didasari pada keyakinannya sebagai Muslim, berdasarkan penjelasan Alquran.

Al-Ghazali bersifat seobjektif mungkin saat meneliti fakta tentang konsep kaum Kristen soal Ketuhanan Yesus. Tapi, pada saat yang sama, dia juga tidak melepaslan posisinya sebagai Muslim saat mengkaji agama-agama.
Red: irf
Rep: Rachmat Morado S Alumnus Univ Mulay Islamil, Meknes, Maroko


Reply | Threaded
Open this post in threaded view
|  
Report Content as Inappropriate

Re: Inilah Kajian Al Ghazali tentang Konsep Ketuhanan Yesus

Indra N
Sebetulnya yg bisa mengkaji Agama adalah orang yg tidak beragama.
Kalau masih melekat salah satu agama maka kajiannya pasti lebih berdasar kepada agama yg dianutnya.
Tapi semua tentu berbalik kepada pembacanya.
Bila Nasrani pasti kajian itu berasa tidak pas, bila muslim pasti dianggap lebih pas karena dasarnya sama.

Padahal semua agama itu pasti buatan manusia diluar kepercayaan beberapa orang itu berdasar kata 2 "Tuhan"
Dan kitab suci orang beragamapun sama sama buatan manusia yg pada perkembangannya saling "menyempurnakan" dan masing masing pengikutnya secara membabibuta menganggap kitabnya yg paling baik.

Yah begitu deh, Buku bacaan karangan orang Israel dan Arab kok diperdebatkan.
Dasar manusia ber"agama"

Indra


  ----- Original Message -----
  From: [hidden email]
  To: [hidden email]
  Sent: Friday, May 21, 2010 12:55 PM
  Subject: Re: [Spiritual-Indonesia] Inilah Kajian Al Ghazali tentang Konsep Ketuhanan Yesus


   
  Berarti gazali tidak mengerti bersatunya Zat Allah dan Zat Yesus..

  Powered by Telkomsel BlackBerry®


------------------------------------------------------------------------------

  From: Spiritual Indonesia <[hidden email]>
  Sender: [hidden email]
  Date: Fri, 21 May 2010 10:28:28 +0800 (SGT)
  To: <[hidden email]>
  ReplyTo: [hidden email]
  Subject: [Spiritual-Indonesia] Inilah Kajian Al Ghazali tentang Konsep Ketuhanan Yesus


   

  http://www.republika.co.id/berita/ensiklopedia-islam/islam-digest/10/05/21/116540-inilah-kajian-al-ghazali-tentang-konsep-ketuhanan-yesus




  Inilah Kajian Al Ghazali tentang Konsep Ketuhanan Yesus
  Jumat, 21 Mei 2010, 08:16 WIB

     


  Imam Al Ghazali
  REPUBLIKA.CO.ID,JAKARTA--Imam al-Ghazali adalah salah seorang ulama klasik yang berusaha keras mematahkan hujjah ketuhanan Yesus. Melalui bukunya yang berjudul al-Raddul Jamil li Ilahiyati `Isa, al-Ghazali membantah ketuhanan Yesus dengan mengutip teks-teks Bibel. Buku ini menarik untuk dikaji karena diterbitkan oleh UNESCO dalam bahasa Arab.

  Imam al-Ghazali adalah ulama yang sangat terkenal di zamannya sampai zaman sekarang ini. Nama lengkapnya, Abu Hamid Muhammad bin Muhammad bin Muhammad bin Ahmad At-Thusi Asy-Syafii (pengikut mazhab Syaf'i). AlGhazali lahir 450 H/1058 M dan wafat pada tahun 505H/1111M dalam usia 55 tahun.

  Karyanya tidak kurang dari 200 buku, dan di antara karyanya yang sangat monumental adalah "Ihya `Ulumiddin" (Revival of Religious Sciences). Ia dikenal sebagai seorang filosof, ahli tasawwuf, ahli fikih, dan juga bisa dikatakan sebagai seorang Kristolog. Ini terbukti lewat karyanya al-Raddul Jamil, yang ditulisnya secara serius dan mendalam.

  Dalam bukunya, Al-Ghazali memberikan kritik-kritik terhadap kepercayaan kaum Nasrani yang bertaklid kepada akidah pendahulunya, yang keliru. Kata al-Ghazali dalam mukaddimah bukunya: "Aku melihat pembahasan-pembahasan orang Nasrani tentang akidah mereka memiliki pondasi yang lemah. Orang Nasrani menganggap agama mereka adalah syariat yang tidak bisa di takwil" Imam al-Ghazali juga berpendapat bahwa orang Nasrani taklid kepada para filosof dalam soal keimanan. Misalnya dalam masalah al-ittihad, yaitu menyatunya zat Allah dengan zat Yesus.

  Al-Ghazali membantah teori al-ittihad kaum Nasrani. Menurutnya, anggapan bahwa Isa AS mempunyai keterkaitan dengan Tuhan seperti keterkaitan jiwa dengan badan, kemudian dengan keterkaitan ini terjadi hakikat ketiga yang berbeda dengan dua hakikat tadi, adalah keliru. Menurutnya, bergabungnya dua zat dan dua sifat (isytirak), kemudian menjadi hakikat lain yang berbeda adalah hal yang mustahil yang tidak diterima akal.

  Dalam pandangan al-Ghazali, teori alittihad ini justru membuktikan bahwa Yesus bukanlah Tuhan. Al-Ghazali menggunakan analogi mantik atau logika. Ia berkata, ketika Yesus disalib, bukankah yang disalib adalah Tuhan, apakah mungkin Tuhan disalib? Jadi, Yesus bukanlah Tuhan. Penjelasannya dapat dilihat pada surat an-Nisa ayat 157: "Dan tidaklah mereka membunuhnya (Isa AS) dan tidak juga mereka menyalibnya akan tetapi disamarkan kepada mereka".

  Selain al-ittihad, masalah al-hulul tak kalah pentingnya. Menurut Al-Ghazali, makna al-hulul, artinya zat Allah menempati setiap makhluk, sebenarnya dimaksudkan sebagai makna majaz atau metafora. Dan itu digunakan sebagai perumpamaan seperti kata "Bapa" dan "Anak". Misalnya seperti dalam Injil Yohannes pasal 14 ayat 10: "Tidak percayakah engkau, bahwa Aku di dalam Bapa dan Bapa di dalam Aku. Apa yang Aku katakan kepadamu, tidak Aku katakan dari diriKu sendiri tetapi Bapa yang diam di dalam Aku, Dia-lah yang melakukan pekerjaanNya."

  Dalam melakukan kajiannya, Imam alGhazali merujuk kepada Bibel kaum Nasrani. Dalam al-Raddul Jamil, al-Ghazali mencantumkan enam teks Bibel yang menurutnya menafikan ketuhanan Yesus, dan dikuatkan dengan teks-teks Bibel lainnya sebagai tafsiran teks-teks yang enam tadi.

  Di antara teks yang dikritisi oleh alGhazali adalah Injil Yohannes pasal 10 ayat 30-36, "Aku dan Bapa adalah satu. Sekali lagi orang-orang Yahudi mengambil batu untuk melempari Yesus. Kata Yesus kepada mereka: "banyak pekerjaan baik yang berasal dari Bapa-ku yang kuperlihatkan kepadamu; pekerjaan manakah di antaranya yang menyebabkan kamu mau melempari aku? Jawab orang-orang Yahudi itu: "bukan karena suatu pekerjaan baik maka kami mau melempari engkau, melainkan karena engkau menghujat Allah dan karena engkau, sekalipun hanya seorang manusia saja, menyamakan dirimu dengan Allah. Kata Yesus kepada mereka: "tidakkah ada tertulis dalam kitab Taurat kamu: Aku telah berfirman: kamu adalah Allah? Jikalau mereka, kepada siapa firman itu disampaikan, disebut Allah  sedangkan kitab suci tidak dapat dibatalkan, masihkah kamu berkata kepada dia yang dikuduskan oleh Bapa dan yang telah diutus-Nya ke dalam dunia." (Teks dikutip dari Bibel terbitan Lembaga Al-kitab Indonesia; Jakarta 2008.)

  Teks ini, menurut al-Ghazali, menerangkan masalah al-ittihad (menyatunya Allah dengan hamba-Nya). Orang Yahudi mengingkari perkataan Yesus "aku dan Bapa adalah satu". Al-Ghazali berpendapat, perkataan Yesus, Isa AS "..aku dan Bapa adalah satu" adalah makna metafora.

  Al Ghazali mengkiaskannya seperti yang terdapat dalam hadits Qudsi, dimana Allah berfirman: "Tidaklah mendekatkan kepadaKu orang-orang yang mendekatkan diri dengan yang lebih utama dari pada melakukan yang Aku fardhukan kepada mereka. Kemudian tidaklah seorang hamba terus mendekatkan diri kepadaKu dengan hal-hal yang sunnah sehingga Aku mencintainya. Apabila Aku telah mencintainya maka Aku adalah pendengaran yang ia mendengar dengannya, penglihatan yang ia melihat dengannya, lisannya yang ia berbicara dengannya dan tangannya yang ia memukul dengannnya."

  Menurut Al-Ghazali, adalah mustahil Sang Pencipta menempati indra-indra tersebut atau Allah adalah salah satu dari indra-indra tersebut. Akan tetapi seorang hamba ketika bersungguh-sungguh dalam taat kepada Allah, maka Allah akan memberikannya kemampuan dan pertolongan yang ia mampu dengan keduanya untuk berbicara dengan lisan-Nya, memukul dengan tangan-Nya, dan lain-lainnya. Makna metafora dalam teks Bibel dan hadis Qudsi itulah yang dimaksudkan bersatunya manusia dengan Tuhan, bukan arti harfiahnya.

  Demikianlah, di abad ke-12 M, Imam al-Ghazali telah melalukan kajian yang serius tantang agama-agama selain Islam. Kajian ini tentu saja sesuatu yang jauh melampaui zamannya. Kritiknya terhadap konsep Ketuhanan Yesus jelas didasari pada keyakinannya sebagai Muslim, berdasarkan penjelasan Alquran.

  Al-Ghazali bersifat seobjektif mungkin saat meneliti fakta tentang konsep kaum Kristen soal Ketuhanan Yesus. Tapi, pada saat yang sama, dia juga tidak melepaslan posisinya sebagai Muslim saat mengkaji agama-agama.

  Red: irf
  Rep: Rachmat Morado S Alumnus Univ Mulay Islamil, Meknes, Maroko




 
Reply | Threaded
Open this post in threaded view
|  
Report Content as Inappropriate

Re: Inilah Kajian Al Ghazali tentang Konsep Ketuhanan Yesus

priangkasa-2
In reply to this post by fernando_pm_tambunan
Konon katanya, di usia muda Ghazali banyak menulis buku2  fiqih, aqidah, dan tema2 syariat. Di usia tuanya ia dekat dengan tasawuf. Tasawuf adalah inti spiritual islam. Setelah larut dalam dunia spiritual mungkin Ghazali tidak sempat nulis buku untuk 'menentang' buku2nya terdahulu.

Itu konon katanya :)

Salam,
Prib

-----Original Message-----
From: [hidden email]
Sender: [hidden email]
Date: Fri, 21 May 2010 05:55:37
To: <[hidden email]>
Reply-To: [hidden email]
Subject: Re: [Spiritual-Indonesia] Inilah Kajian Al Ghazali tentang Konsep Ketuhanan Yesus

Berarti gazali tidak mengerti bersatunya Zat Allah dan Zat Yesus..
Powered by Telkomsel BlackBerry®

-----Original Message-----
From: Spiritual Indonesia <[hidden email]>
Sender: [hidden email]
Date: Fri, 21 May 2010 10:28:28
To: <[hidden email]>
Reply-To: [hidden email]
Subject: [Spiritual-Indonesia] Inilah Kajian Al Ghazali tentang Konsep Ketuhanan Yesus

http://www.republika.co.id/berita/ensiklopedia-islam/islam-digest/10/05/21/116540-inilah-kajian-al-ghazali-tentang-konsep-ketuhanan-yesus


Inilah Kajian Al Ghazali tentang Konsep Ketuhanan YesusJumat, 21 Mei 2010, 08:16 WIB

   


Imam Al Ghazali
REPUBLIKA.CO.ID,JAKARTA--Imam al-Ghazali adalah salah seorang ulama klasik yang berusaha keras mematahkan hujjah ketuhanan Yesus. Melalui bukunya yang berjudul al-Raddul Jamil li Ilahiyati `Isa, al-Ghazali membantah ketuhanan Yesus dengan mengutip teks-teks Bibel. Buku ini menarik untuk dikaji karena diterbitkan oleh UNESCO dalam bahasa Arab.

Imam al-Ghazali adalah ulama yang sangat terkenal di zamannya sampai zaman sekarang ini. Nama lengkapnya, Abu Hamid Muhammad bin Muhammad bin Muhammad bin Ahmad At-Thusi Asy-Syafii (pengikut mazhab Syaf'i). AlGhazali lahir 450 H/1058 M dan wafat pada tahun 505H/1111M dalam usia 55 tahun.

Karyanya tidak kurang dari 200 buku, dan di antara karyanya yang sangat monumental adalah "Ihya `Ulumiddin" (Revival of Religious Sciences). Ia dikenal sebagai seorang filosof, ahli tasawwuf, ahli fikih, dan juga bisa dikatakan sebagai seorang Kristolog. Ini terbukti lewat karyanya al-Raddul Jamil, yang ditulisnya secara serius dan mendalam.

Dalam bukunya, Al-Ghazali memberikan kritik-kritik terhadap kepercayaan kaum Nasrani yang bertaklid kepada akidah pendahulunya, yang keliru. Kata al-Ghazali dalam mukaddimah bukunya: "Aku melihat pembahasan-pembahasan orang Nasrani tentang akidah mereka memiliki pondasi yang lemah. Orang Nasrani menganggap agama mereka adalah syariat yang tidak bisa di takwil" Imam al-Ghazali juga berpendapat bahwa orang Nasrani taklid kepada para filosof dalam soal keimanan. Misalnya dalam masalah al-ittihad, yaitu menyatunya zat Allah dengan zat Yesus.

Al-Ghazali membantah teori al-ittihad kaum Nasrani. Menurutnya, anggapan bahwa Isa AS mempunyai keterkaitan dengan Tuhan seperti keterkaitan jiwa dengan badan, kemudian dengan keterkaitan ini terjadi hakikat ketiga yang berbeda dengan dua hakikat tadi, adalah keliru. Menurutnya, bergabungnya dua zat dan dua sifat (isytirak), kemudian menjadi hakikat lain yang berbeda adalah hal yang mustahil yang tidak diterima akal.

Dalam pandangan al-Ghazali, teori alittihad ini justru membuktikan bahwa Yesus bukanlah Tuhan. Al-Ghazali menggunakan analogi mantik atau logika. Ia berkata, ketika Yesus disalib, bukankah yang disalib adalah Tuhan, apakah mungkin Tuhan disalib? Jadi, Yesus bukanlah Tuhan. Penjelasannya dapat dilihat pada surat an-Nisa ayat 157: "Dan tidaklah mereka membunuhnya (Isa AS) dan tidak juga mereka menyalibnya akan tetapi disamarkan kepada mereka".

Selain al-ittihad, masalah al-hulul tak kalah pentingnya. Menurut Al-Ghazali, makna al-hulul, artinya zat Allah menempati setiap makhluk, sebenarnya dimaksudkan sebagai makna majaz atau metafora. Dan itu digunakan sebagai perumpamaan seperti kata "Bapa" dan "Anak". Misalnya seperti dalam Injil Yohannes pasal 14 ayat 10: "Tidak percayakah engkau, bahwa Aku di dalam Bapa dan Bapa di dalam Aku. Apa yang Aku katakan kepadamu, tidak Aku katakan dari diriKu sendiri tetapi Bapa yang diam di dalam Aku, Dia-lah yang melakukan pekerjaanNya."

Dalam melakukan kajiannya, Imam alGhazali merujuk kepada Bibel kaum Nasrani. Dalam al-Raddul Jamil, al-Ghazali mencantumkan enam teks Bibel yang menurutnya menafikan ketuhanan Yesus, dan dikuatkan dengan teks-teks Bibel lainnya sebagai tafsiran teks-teks yang enam tadi.

Di antara teks yang dikritisi oleh alGhazali adalah Injil Yohannes pasal 10 ayat 30-36, "Aku dan Bapa adalah satu. Sekali lagi orang-orang Yahudi mengambil batu untuk melempari Yesus. Kata Yesus kepada mereka: "banyak pekerjaan baik yang berasal dari Bapa-ku yang kuperlihatkan kepadamu; pekerjaan manakah di antaranya yang menyebabkan kamu mau melempari aku? Jawab orang-orang Yahudi itu: "bukan karena suatu pekerjaan baik maka kami mau melempari engkau, melainkan karena engkau menghujat Allah dan karena engkau, sekalipun hanya seorang manusia saja, menyamakan dirimu dengan Allah. Kata Yesus kepada mereka: "tidakkah ada tertulis dalam kitab Taurat kamu: Aku telah berfirman: kamu adalah Allah? Jikalau mereka, kepada siapa firman itu disampaikan, disebut Allah  sedangkan kitab suci tidak dapat dibatalkan, masihkah kamu berkata kepada dia yang dikuduskan oleh Bapa dan yang telah diutus-Nya ke dalam dunia." (Teks dikutip dari Bibel terbitan Lembaga Al-kitab
 Indonesia; Jakarta 2008.)

Teks ini, menurut al-Ghazali, menerangkan masalah al-ittihad (menyatunya Allah dengan hamba-Nya). Orang Yahudi mengingkari perkataan Yesus "aku dan Bapa adalah satu". Al-Ghazali berpendapat, perkataan Yesus, Isa AS "..aku dan Bapa adalah satu" adalah makna metafora.

Al Ghazali mengkiaskannya seperti yang terdapat dalam hadits Qudsi, dimana Allah berfirman: "Tidaklah mendekatkan kepadaKu orang-orang yang mendekatkan diri dengan yang lebih utama dari pada melakukan yang Aku fardhukan kepada mereka. Kemudian tidaklah seorang hamba terus mendekatkan diri kepadaKu dengan hal-hal yang sunnah sehingga Aku mencintainya. Apabila Aku telah mencintainya maka Aku adalah pendengaran yang ia mendengar dengannya, penglihatan yang ia melihat dengannya, lisannya yang ia berbicara dengannya dan tangannya yang ia memukul dengannnya."

Menurut Al-Ghazali, adalah mustahil Sang Pencipta menempati indra-indra tersebut atau Allah adalah salah satu dari indra-indra tersebut. Akan tetapi seorang hamba ketika bersungguh-sungguh dalam taat kepada Allah, maka Allah akan memberikannya kemampuan dan pertolongan yang ia mampu dengan keduanya untuk berbicara dengan lisan-Nya, memukul dengan tangan-Nya, dan lain-lainnya. Makna metafora dalam teks Bibel dan hadis Qudsi itulah yang dimaksudkan bersatunya manusia dengan Tuhan, bukan arti harfiahnya.

Demikianlah, di abad ke-12 M, Imam al-Ghazali telah melalukan kajian yang serius tantang agama-agama selain Islam. Kajian ini tentu saja sesuatu yang jauh melampaui zamannya. Kritiknya terhadap konsep Ketuhanan Yesus jelas didasari pada keyakinannya sebagai Muslim, berdasarkan penjelasan Alquran.

Al-Ghazali bersifat seobjektif mungkin saat meneliti fakta tentang konsep kaum Kristen soal Ketuhanan Yesus. Tapi, pada saat yang sama, dia juga tidak melepaslan posisinya sebagai Muslim saat mengkaji agama-agama.
Red: irf
Rep: Rachmat Morado S Alumnus Univ Mulay Islamil, Meknes, Maroko


Reply | Threaded
Open this post in threaded view
|  
Report Content as Inappropriate

Re: Inilah Kajian Al Ghazali tentang Konsep Ketuhanan Yesus

fernando_pm_tambunan
In reply to this post by Indra N
Bukan mengkaji agamanya.. Tapi mengkaji bagaimana zat Allah dan Zat Yesus bisa bersatu? Atau Zat Allah Dan Zat Sidharta Gautama bersatu? Sehingga dapat menciptakan sebuah fenomena alam.. Mungkin om Leo dapat memberikan petunjuk..
Powered by Telkomsel BlackBerry®

-----Original Message-----
From: "Indra" <[hidden email]>
Sender: [hidden email]
Date: Fri, 21 May 2010 13:14:45
To: <[hidden email]>
Reply-To: [hidden email]
Subject: Re: [Spiritual-Indonesia] Inilah Kajian Al Ghazali tentang Konsep Ketuhanan Yesus

Sebetulnya yg bisa mengkaji Agama adalah orang yg tidak beragama.
Kalau masih melekat salah satu agama maka kajiannya pasti lebih berdasar kepada agama yg dianutnya.
Tapi semua tentu berbalik kepada pembacanya.
Bila Nasrani pasti kajian itu berasa tidak pas, bila muslim pasti dianggap lebih pas karena dasarnya sama.

Padahal semua agama itu pasti buatan manusia diluar kepercayaan beberapa orang itu berdasar kata 2 "Tuhan"
Dan kitab suci orang beragamapun sama sama buatan manusia yg pada perkembangannya saling "menyempurnakan" dan masing masing pengikutnya secara membabibuta menganggap kitabnya yg paling baik.

Yah begitu deh, Buku bacaan karangan orang Israel dan Arab kok diperdebatkan.
Dasar manusia ber"agama"

Indra


  ----- Original Message -----
  From: [hidden email]
  To: [hidden email]
  Sent: Friday, May 21, 2010 12:55 PM
  Subject: Re: [Spiritual-Indonesia] Inilah Kajian Al Ghazali tentang Konsep Ketuhanan Yesus


   
  Berarti gazali tidak mengerti bersatunya Zat Allah dan Zat Yesus..

  Powered by Telkomsel BlackBerry®


------------------------------------------------------------------------------

  From: Spiritual Indonesia <[hidden email]>
  Sender: [hidden email]
  Date: Fri, 21 May 2010 10:28:28 +0800 (SGT)
  To: <[hidden email]>
  ReplyTo: [hidden email]
  Subject: [Spiritual-Indonesia] Inilah Kajian Al Ghazali tentang Konsep Ketuhanan Yesus


   

  http://www.republika.co.id/berita/ensiklopedia-islam/islam-digest/10/05/21/116540-inilah-kajian-al-ghazali-tentang-konsep-ketuhanan-yesus




  Inilah Kajian Al Ghazali tentang Konsep Ketuhanan Yesus
  Jumat, 21 Mei 2010, 08:16 WIB

     


  Imam Al Ghazali
  REPUBLIKA.CO.ID,JAKARTA--Imam al-Ghazali adalah salah seorang ulama klasik yang berusaha keras mematahkan hujjah ketuhanan Yesus. Melalui bukunya yang berjudul al-Raddul Jamil li Ilahiyati `Isa, al-Ghazali membantah ketuhanan Yesus dengan mengutip teks-teks Bibel. Buku ini menarik untuk dikaji karena diterbitkan oleh UNESCO dalam bahasa Arab.

  Imam al-Ghazali adalah ulama yang sangat terkenal di zamannya sampai zaman sekarang ini. Nama lengkapnya, Abu Hamid Muhammad bin Muhammad bin Muhammad bin Ahmad At-Thusi Asy-Syafii (pengikut mazhab Syaf'i). AlGhazali lahir 450 H/1058 M dan wafat pada tahun 505H/1111M dalam usia 55 tahun.

  Karyanya tidak kurang dari 200 buku, dan di antara karyanya yang sangat monumental adalah "Ihya `Ulumiddin" (Revival of Religious Sciences). Ia dikenal sebagai seorang filosof, ahli tasawwuf, ahli fikih, dan juga bisa dikatakan sebagai seorang Kristolog. Ini terbukti lewat karyanya al-Raddul Jamil, yang ditulisnya secara serius dan mendalam.

  Dalam bukunya, Al-Ghazali memberikan kritik-kritik terhadap kepercayaan kaum Nasrani yang bertaklid kepada akidah pendahulunya, yang keliru. Kata al-Ghazali dalam mukaddimah bukunya: "Aku melihat pembahasan-pembahasan orang Nasrani tentang akidah mereka memiliki pondasi yang lemah. Orang Nasrani menganggap agama mereka adalah syariat yang tidak bisa di takwil" Imam al-Ghazali juga berpendapat bahwa orang Nasrani taklid kepada para filosof dalam soal keimanan. Misalnya dalam masalah al-ittihad, yaitu menyatunya zat Allah dengan zat Yesus.

  Al-Ghazali membantah teori al-ittihad kaum Nasrani. Menurutnya, anggapan bahwa Isa AS mempunyai keterkaitan dengan Tuhan seperti keterkaitan jiwa dengan badan, kemudian dengan keterkaitan ini terjadi hakikat ketiga yang berbeda dengan dua hakikat tadi, adalah keliru. Menurutnya, bergabungnya dua zat dan dua sifat (isytirak), kemudian menjadi hakikat lain yang berbeda adalah hal yang mustahil yang tidak diterima akal.

  Dalam pandangan al-Ghazali, teori alittihad ini justru membuktikan bahwa Yesus bukanlah Tuhan. Al-Ghazali menggunakan analogi mantik atau logika. Ia berkata, ketika Yesus disalib, bukankah yang disalib adalah Tuhan, apakah mungkin Tuhan disalib? Jadi, Yesus bukanlah Tuhan. Penjelasannya dapat dilihat pada surat an-Nisa ayat 157: "Dan tidaklah mereka membunuhnya (Isa AS) dan tidak juga mereka menyalibnya akan tetapi disamarkan kepada mereka".

  Selain al-ittihad, masalah al-hulul tak kalah pentingnya. Menurut Al-Ghazali, makna al-hulul, artinya zat Allah menempati setiap makhluk, sebenarnya dimaksudkan sebagai makna majaz atau metafora. Dan itu digunakan sebagai perumpamaan seperti kata "Bapa" dan "Anak". Misalnya seperti dalam Injil Yohannes pasal 14 ayat 10: "Tidak percayakah engkau, bahwa Aku di dalam Bapa dan Bapa di dalam Aku. Apa yang Aku katakan kepadamu, tidak Aku katakan dari diriKu sendiri tetapi Bapa yang diam di dalam Aku, Dia-lah yang melakukan pekerjaanNya."

  Dalam melakukan kajiannya, Imam alGhazali merujuk kepada Bibel kaum Nasrani. Dalam al-Raddul Jamil, al-Ghazali mencantumkan enam teks Bibel yang menurutnya menafikan ketuhanan Yesus, dan dikuatkan dengan teks-teks Bibel lainnya sebagai tafsiran teks-teks yang enam tadi.

  Di antara teks yang dikritisi oleh alGhazali adalah Injil Yohannes pasal 10 ayat 30-36, "Aku dan Bapa adalah satu. Sekali lagi orang-orang Yahudi mengambil batu untuk melempari Yesus. Kata Yesus kepada mereka: "banyak pekerjaan baik yang berasal dari Bapa-ku yang kuperlihatkan kepadamu; pekerjaan manakah di antaranya yang menyebabkan kamu mau melempari aku? Jawab orang-orang Yahudi itu: "bukan karena suatu pekerjaan baik maka kami mau melempari engkau, melainkan karena engkau menghujat Allah dan karena engkau, sekalipun hanya seorang manusia saja, menyamakan dirimu dengan Allah. Kata Yesus kepada mereka: "tidakkah ada tertulis dalam kitab Taurat kamu: Aku telah berfirman: kamu adalah Allah? Jikalau mereka, kepada siapa firman itu disampaikan, disebut Allah  sedangkan kitab suci tidak dapat dibatalkan, masihkah kamu berkata kepada dia yang dikuduskan oleh Bapa dan yang telah diutus-Nya ke dalam dunia." (Teks dikutip dari Bibel terbitan Lembaga Al-kitab Indonesia; Jakarta 2008.)

  Teks ini, menurut al-Ghazali, menerangkan masalah al-ittihad (menyatunya Allah dengan hamba-Nya). Orang Yahudi mengingkari perkataan Yesus "aku dan Bapa adalah satu". Al-Ghazali berpendapat, perkataan Yesus, Isa AS "..aku dan Bapa adalah satu" adalah makna metafora.

  Al Ghazali mengkiaskannya seperti yang terdapat dalam hadits Qudsi, dimana Allah berfirman: "Tidaklah mendekatkan kepadaKu orang-orang yang mendekatkan diri dengan yang lebih utama dari pada melakukan yang Aku fardhukan kepada mereka. Kemudian tidaklah seorang hamba terus mendekatkan diri kepadaKu dengan hal-hal yang sunnah sehingga Aku mencintainya. Apabila Aku telah mencintainya maka Aku adalah pendengaran yang ia mendengar dengannya, penglihatan yang ia melihat dengannya, lisannya yang ia berbicara dengannya dan tangannya yang ia memukul dengannnya."

  Menurut Al-Ghazali, adalah mustahil Sang Pencipta menempati indra-indra tersebut atau Allah adalah salah satu dari indra-indra tersebut. Akan tetapi seorang hamba ketika bersungguh-sungguh dalam taat kepada Allah, maka Allah akan memberikannya kemampuan dan pertolongan yang ia mampu dengan keduanya untuk berbicara dengan lisan-Nya, memukul dengan tangan-Nya, dan lain-lainnya. Makna metafora dalam teks Bibel dan hadis Qudsi itulah yang dimaksudkan bersatunya manusia dengan Tuhan, bukan arti harfiahnya.

  Demikianlah, di abad ke-12 M, Imam al-Ghazali telah melalukan kajian yang serius tantang agama-agama selain Islam. Kajian ini tentu saja sesuatu yang jauh melampaui zamannya. Kritiknya terhadap konsep Ketuhanan Yesus jelas didasari pada keyakinannya sebagai Muslim, berdasarkan penjelasan Alquran.

  Al-Ghazali bersifat seobjektif mungkin saat meneliti fakta tentang konsep kaum Kristen soal Ketuhanan Yesus. Tapi, pada saat yang sama, dia juga tidak melepaslan posisinya sebagai Muslim saat mengkaji agama-agama.

  Red: irf
  Rep: Rachmat Morado S Alumnus Univ Mulay Islamil, Meknes, Maroko




 
Reply | Threaded
Open this post in threaded view
|  
Report Content as Inappropriate

Re: Inilah Kajian Al Ghazali tentang Konsep Ketuhanan Yesus

Indra N
lah, Zat Allah bukanya Zat Agama ????
kalau nasrani vokal "a" kalau moslem vokal "o" ???

lah gimana lagi.

Indra

  ----- Original Message -----
  From: [hidden email]
  To: [hidden email]
  Sent: Friday, May 21, 2010 1:38 PM
  Subject: Re: [Spiritual-Indonesia] Inilah Kajian Al Ghazali tentang Konsep Ketuhanan Yesus


   
  Bukan mengkaji agamanya.. Tapi mengkaji bagaimana zat Allah dan Zat Yesus bisa bersatu? Atau Zat Allah Dan Zat Sidharta Gautama bersatu? Sehingga dapat menciptakan sebuah fenomena alam.. Mungkin om Leo dapat memberikan petunjuk..

  Powered by Telkomsel BlackBerry®


------------------------------------------------------------------------------

  From: "Indra" <[hidden email]>
  Sender: [hidden email]
  Date: Fri, 21 May 2010 13:14:45 +0700
  To: <[hidden email]>
  ReplyTo: [hidden email]
  Subject: Re: [Spiritual-Indonesia] Inilah Kajian Al Ghazali tentang Konsep Ketuhanan Yesus


   
  

  Sebetulnya yg bisa mengkaji Agama adalah orang yg tidak beragama.
  Kalau masih melekat salah satu agama maka kajiannya pasti lebih berdasar kepada agama yg dianutnya.
  Tapi semua tentu berbalik kepada pembacanya.
  Bila Nasrani pasti kajian itu berasa tidak pas, bila muslim pasti dianggap lebih pas karena dasarnya sama.

  Padahal semua agama itu pasti buatan manusia diluar kepercayaan beberapa orang itu berdasar kata 2 "Tuhan"
  Dan kitab suci orang beragamapun sama sama buatan manusia yg pada perkembangannya saling "menyempurnakan" dan masing masing pengikutnya secara membabibuta menganggap kitabnya yg paling baik.

  Yah begitu deh, Buku bacaan karangan orang Israel dan Arab kok diperdebatkan.
  Dasar manusia ber"agama"

  Indra


    ----- Original Message -----
    From: [hidden email]
    To: [hidden email]
    Sent: Friday, May 21, 2010 12:55 PM
    Subject: Re: [Spiritual-Indonesia] Inilah Kajian Al Ghazali tentang Konsep Ketuhanan Yesus


     
    Berarti gazali tidak mengerti bersatunya Zat Allah dan Zat Yesus..

    Powered by Telkomsel BlackBerry®


----------------------------------------------------------------------------

    From: Spiritual Indonesia <[hidden email]>
    Sender: [hidden email]
    Date: Fri, 21 May 2010 10:28:28 +0800 (SGT)
    To: <[hidden email]>
    ReplyTo: [hidden email]
    Subject: [Spiritual-Indonesia] Inilah Kajian Al Ghazali tentang Konsep Ketuhanan Yesus


     

    http://www.republika.co.id/berita/ensiklopedia-islam/islam-digest/10/05/21/116540-inilah-kajian-al-ghazali-tentang-konsep-ketuhanan-yesus




    Inilah Kajian Al Ghazali tentang Konsep Ketuhanan Yesus
    Jumat, 21 Mei 2010, 08:16 WIB

       


    Imam Al Ghazali
    REPUBLIKA.CO.ID,JAKARTA--Imam al-Ghazali adalah salah seorang ulama klasik yang berusaha keras mematahkan hujjah ketuhanan Yesus. Melalui bukunya yang berjudul al-Raddul Jamil li Ilahiyati `Isa, al-Ghazali membantah ketuhanan Yesus dengan mengutip teks-teks Bibel. Buku ini menarik untuk dikaji karena diterbitkan oleh UNESCO dalam bahasa Arab.

    Imam al-Ghazali adalah ulama yang sangat terkenal di zamannya sampai zaman sekarang ini. Nama lengkapnya, Abu Hamid Muhammad bin Muhammad bin Muhammad bin Ahmad At-Thusi Asy-Syafii (pengikut mazhab Syaf'i). AlGhazali lahir 450 H/1058 M dan wafat pada tahun 505H/1111M dalam usia 55 tahun.

    Karyanya tidak kurang dari 200 buku, dan di antara karyanya yang sangat monumental adalah "Ihya `Ulumiddin" (Revival of Religious Sciences). Ia dikenal sebagai seorang filosof, ahli tasawwuf, ahli fikih, dan juga bisa dikatakan sebagai seorang Kristolog. Ini terbukti lewat karyanya al-Raddul Jamil, yang ditulisnya secara serius dan mendalam.

    Dalam bukunya, Al-Ghazali memberikan kritik-kritik terhadap kepercayaan kaum Nasrani yang bertaklid kepada akidah pendahulunya, yang keliru. Kata al-Ghazali dalam mukaddimah bukunya: "Aku melihat pembahasan-pembahasan orang Nasrani tentang akidah mereka memiliki pondasi yang lemah. Orang Nasrani menganggap agama mereka adalah syariat yang tidak bisa di takwil" Imam al-Ghazali juga berpendapat bahwa orang Nasrani taklid kepada para filosof dalam soal keimanan. Misalnya dalam masalah al-ittihad, yaitu menyatunya zat Allah dengan zat Yesus.

    Al-Ghazali membantah teori al-ittihad kaum Nasrani. Menurutnya, anggapan bahwa Isa AS mempunyai keterkaitan dengan Tuhan seperti keterkaitan jiwa dengan badan, kemudian dengan keterkaitan ini terjadi hakikat ketiga yang berbeda dengan dua hakikat tadi, adalah keliru. Menurutnya, bergabungnya dua zat dan dua sifat (isytirak), kemudian menjadi hakikat lain yang berbeda adalah hal yang mustahil yang tidak diterima akal.

    Dalam pandangan al-Ghazali, teori alittihad ini justru membuktikan bahwa Yesus bukanlah Tuhan. Al-Ghazali menggunakan analogi mantik atau logika. Ia berkata, ketika Yesus disalib, bukankah yang disalib adalah Tuhan, apakah mungkin Tuhan disalib? Jadi, Yesus bukanlah Tuhan. Penjelasannya dapat dilihat pada surat an-Nisa ayat 157: "Dan tidaklah mereka membunuhnya (Isa AS) dan tidak juga mereka menyalibnya akan tetapi disamarkan kepada mereka".

    Selain al-ittihad, masalah al-hulul tak kalah pentingnya. Menurut Al-Ghazali, makna al-hulul, artinya zat Allah menempati setiap makhluk, sebenarnya dimaksudkan sebagai makna majaz atau metafora. Dan itu digunakan sebagai perumpamaan seperti kata "Bapa" dan "Anak". Misalnya seperti dalam Injil Yohannes pasal 14 ayat 10: "Tidak percayakah engkau, bahwa Aku di dalam Bapa dan Bapa di dalam Aku. Apa yang Aku katakan kepadamu, tidak Aku katakan dari diriKu sendiri tetapi Bapa yang diam di dalam Aku, Dia-lah yang melakukan pekerjaanNya."

    Dalam melakukan kajiannya, Imam alGhazali merujuk kepada Bibel kaum Nasrani. Dalam al-Raddul Jamil, al-Ghazali mencantumkan enam teks Bibel yang menurutnya menafikan ketuhanan Yesus, dan dikuatkan dengan teks-teks Bibel lainnya sebagai tafsiran teks-teks yang enam tadi.

    Di antara teks yang dikritisi oleh alGhazali adalah Injil Yohannes pasal 10 ayat 30-36, "Aku dan Bapa adalah satu. Sekali lagi orang-orang Yahudi mengambil batu untuk melempari Yesus. Kata Yesus kepada mereka: "banyak pekerjaan baik yang berasal dari Bapa-ku yang kuperlihatkan kepadamu; pekerjaan manakah di antaranya yang menyebabkan kamu mau melempari aku? Jawab orang-orang Yahudi itu: "bukan karena suatu pekerjaan baik maka kami mau melempari engkau, melainkan karena engkau menghujat Allah dan karena engkau, sekalipun hanya seorang manusia saja, menyamakan dirimu dengan Allah. Kata Yesus kepada mereka: "tidakkah ada tertulis dalam kitab Taurat kamu: Aku telah berfirman: kamu adalah Allah? Jikalau mereka, kepada siapa firman itu disampaikan, disebut Allah  sedangkan kitab suci tidak dapat dibatalkan, masihkah kamu berkata kepada dia yang dikuduskan oleh Bapa dan yang telah diutus-Nya ke dalam dunia." (Teks dikutip dari Bibel terbitan Lembaga Al-kitab Indonesia; Jakarta 2008.)

    Teks ini, menurut al-Ghazali, menerangkan masalah al-ittihad (menyatunya Allah dengan hamba-Nya). Orang Yahudi mengingkari perkataan Yesus "aku dan Bapa adalah satu". Al-Ghazali berpendapat, perkataan Yesus, Isa AS "..aku dan Bapa adalah satu" adalah makna metafora.

    Al Ghazali mengkiaskannya seperti yang terdapat dalam hadits Qudsi, dimana Allah berfirman: "Tidaklah mendekatkan kepadaKu orang-orang yang mendekatkan diri dengan yang lebih utama dari pada melakukan yang Aku fardhukan kepada mereka. Kemudian tidaklah seorang hamba terus mendekatkan diri kepadaKu dengan hal-hal yang sunnah sehingga Aku mencintainya. Apabila Aku telah mencintainya maka Aku adalah pendengaran yang ia mendengar dengannya, penglihatan yang ia melihat dengannya, lisannya yang ia berbicara dengannya dan tangannya yang ia memukul dengannnya."

    Menurut Al-Ghazali, adalah mustahil Sang Pencipta menempati indra-indra tersebut atau Allah adalah salah satu dari indra-indra tersebut. Akan tetapi seorang hamba ketika bersungguh-sungguh dalam taat kepada Allah, maka Allah akan memberikannya kemampuan dan pertolongan yang ia mampu dengan keduanya untuk berbicara dengan lisan-Nya, memukul dengan tangan-Nya, dan lain-lainnya. Makna metafora dalam teks Bibel dan hadis Qudsi itulah yang dimaksudkan bersatunya manusia dengan Tuhan, bukan arti harfiahnya.

    Demikianlah, di abad ke-12 M, Imam al-Ghazali telah melalukan kajian yang serius tantang agama-agama selain Islam. Kajian ini tentu saja sesuatu yang jauh melampaui zamannya. Kritiknya terhadap konsep Ketuhanan Yesus jelas didasari pada keyakinannya sebagai Muslim, berdasarkan penjelasan Alquran.

    Al-Ghazali bersifat seobjektif mungkin saat meneliti fakta tentang konsep kaum Kristen soal Ketuhanan Yesus. Tapi, pada saat yang sama, dia juga tidak melepaslan posisinya sebagai Muslim saat mengkaji agama-agama.

    Red: irf
    Rep: Rachmat Morado S Alumnus Univ Mulay Islamil, Meknes, Maroko






 
Reply | Threaded
Open this post in threaded view
|  
Report Content as Inappropriate

Re: Inilah Kajian Al Ghazali tentang Konsep Ketuhanan Yesus

fernando_pm_tambunan
Zat Allah menurut pendapat saya bukan dari agama.. Karena saya yang mau berkata Allah..
Powered by Telkomsel BlackBerry®

-----Original Message-----
From: "Indra" <[hidden email]>
Sender: [hidden email]
Date: Fri, 21 May 2010 13:53:09
To: <[hidden email]>
Reply-To: [hidden email]
Subject: Re: [Spiritual-Indonesia] Inilah Kajian Al Ghazali tentang Konsep Ketuhanan Yesus

lah, Zat Allah bukanya Zat Agama ????
kalau nasrani vokal "a" kalau moslem vokal "o" ???

lah gimana lagi.

Indra

  ----- Original Message -----
  From: [hidden email]
  To: [hidden email]
  Sent: Friday, May 21, 2010 1:38 PM
  Subject: Re: [Spiritual-Indonesia] Inilah Kajian Al Ghazali tentang Konsep Ketuhanan Yesus


   
  Bukan mengkaji agamanya.. Tapi mengkaji bagaimana zat Allah dan Zat Yesus bisa bersatu? Atau Zat Allah Dan Zat Sidharta Gautama bersatu? Sehingga dapat menciptakan sebuah fenomena alam.. Mungkin om Leo dapat memberikan petunjuk..

  Powered by Telkomsel BlackBerry®


------------------------------------------------------------------------------

  From: "Indra" <[hidden email]>
  Sender: [hidden email]
  Date: Fri, 21 May 2010 13:14:45 +0700
  To: <[hidden email]>
  ReplyTo: [hidden email]
  Subject: Re: [Spiritual-Indonesia] Inilah Kajian Al Ghazali tentang Konsep Ketuhanan Yesus


   
  

  Sebetulnya yg bisa mengkaji Agama adalah orang yg tidak beragama.
  Kalau masih melekat salah satu agama maka kajiannya pasti lebih berdasar kepada agama yg dianutnya.
  Tapi semua tentu berbalik kepada pembacanya.
  Bila Nasrani pasti kajian itu berasa tidak pas, bila muslim pasti dianggap lebih pas karena dasarnya sama.

  Padahal semua agama itu pasti buatan manusia diluar kepercayaan beberapa orang itu berdasar kata 2 "Tuhan"
  Dan kitab suci orang beragamapun sama sama buatan manusia yg pada perkembangannya saling "menyempurnakan" dan masing masing pengikutnya secara membabibuta menganggap kitabnya yg paling baik.

  Yah begitu deh, Buku bacaan karangan orang Israel dan Arab kok diperdebatkan.
  Dasar manusia ber"agama"

  Indra


    ----- Original Message -----
    From: [hidden email]
    To: [hidden email]
    Sent: Friday, May 21, 2010 12:55 PM
    Subject: Re: [Spiritual-Indonesia] Inilah Kajian Al Ghazali tentang Konsep Ketuhanan Yesus


     
    Berarti gazali tidak mengerti bersatunya Zat Allah dan Zat Yesus..

    Powered by Telkomsel BlackBerry®


----------------------------------------------------------------------------

    From: Spiritual Indonesia <[hidden email]>
    Sender: [hidden email]
    Date: Fri, 21 May 2010 10:28:28 +0800 (SGT)
    To: <[hidden email]>
    ReplyTo: [hidden email]
    Subject: [Spiritual-Indonesia] Inilah Kajian Al Ghazali tentang Konsep Ketuhanan Yesus


     

    http://www.republika.co.id/berita/ensiklopedia-islam/islam-digest/10/05/21/116540-inilah-kajian-al-ghazali-tentang-konsep-ketuhanan-yesus




    Inilah Kajian Al Ghazali tentang Konsep Ketuhanan Yesus
    Jumat, 21 Mei 2010, 08:16 WIB

       


    Imam Al Ghazali
    REPUBLIKA.CO.ID,JAKARTA--Imam al-Ghazali adalah salah seorang ulama klasik yang berusaha keras mematahkan hujjah ketuhanan Yesus. Melalui bukunya yang berjudul al-Raddul Jamil li Ilahiyati `Isa, al-Ghazali membantah ketuhanan Yesus dengan mengutip teks-teks Bibel. Buku ini menarik untuk dikaji karena diterbitkan oleh UNESCO dalam bahasa Arab.

    Imam al-Ghazali adalah ulama yang sangat terkenal di zamannya sampai zaman sekarang ini. Nama lengkapnya, Abu Hamid Muhammad bin Muhammad bin Muhammad bin Ahmad At-Thusi Asy-Syafii (pengikut mazhab Syaf'i). AlGhazali lahir 450 H/1058 M dan wafat pada tahun 505H/1111M dalam usia 55 tahun.

    Karyanya tidak kurang dari 200 buku, dan di antara karyanya yang sangat monumental adalah "Ihya `Ulumiddin" (Revival of Religious Sciences). Ia dikenal sebagai seorang filosof, ahli tasawwuf, ahli fikih, dan juga bisa dikatakan sebagai seorang Kristolog. Ini terbukti lewat karyanya al-Raddul Jamil, yang ditulisnya secara serius dan mendalam.

    Dalam bukunya, Al-Ghazali memberikan kritik-kritik terhadap kepercayaan kaum Nasrani yang bertaklid kepada akidah pendahulunya, yang keliru. Kata al-Ghazali dalam mukaddimah bukunya: "Aku melihat pembahasan-pembahasan orang Nasrani tentang akidah mereka memiliki pondasi yang lemah. Orang Nasrani menganggap agama mereka adalah syariat yang tidak bisa di takwil" Imam al-Ghazali juga berpendapat bahwa orang Nasrani taklid kepada para filosof dalam soal keimanan. Misalnya dalam masalah al-ittihad, yaitu menyatunya zat Allah dengan zat Yesus.

    Al-Ghazali membantah teori al-ittihad kaum Nasrani. Menurutnya, anggapan bahwa Isa AS mempunyai keterkaitan dengan Tuhan seperti keterkaitan jiwa dengan badan, kemudian dengan keterkaitan ini terjadi hakikat ketiga yang berbeda dengan dua hakikat tadi, adalah keliru. Menurutnya, bergabungnya dua zat dan dua sifat (isytirak), kemudian menjadi hakikat lain yang berbeda adalah hal yang mustahil yang tidak diterima akal.

    Dalam pandangan al-Ghazali, teori alittihad ini justru membuktikan bahwa Yesus bukanlah Tuhan. Al-Ghazali menggunakan analogi mantik atau logika. Ia berkata, ketika Yesus disalib, bukankah yang disalib adalah Tuhan, apakah mungkin Tuhan disalib? Jadi, Yesus bukanlah Tuhan. Penjelasannya dapat dilihat pada surat an-Nisa ayat 157: "Dan tidaklah mereka membunuhnya (Isa AS) dan tidak juga mereka menyalibnya akan tetapi disamarkan kepada mereka".

    Selain al-ittihad, masalah al-hulul tak kalah pentingnya. Menurut Al-Ghazali, makna al-hulul, artinya zat Allah menempati setiap makhluk, sebenarnya dimaksudkan sebagai makna majaz atau metafora. Dan itu digunakan sebagai perumpamaan seperti kata "Bapa" dan "Anak". Misalnya seperti dalam Injil Yohannes pasal 14 ayat 10: "Tidak percayakah engkau, bahwa Aku di dalam Bapa dan Bapa di dalam Aku. Apa yang Aku katakan kepadamu, tidak Aku katakan dari diriKu sendiri tetapi Bapa yang diam di dalam Aku, Dia-lah yang melakukan pekerjaanNya."

    Dalam melakukan kajiannya, Imam alGhazali merujuk kepada Bibel kaum Nasrani. Dalam al-Raddul Jamil, al-Ghazali mencantumkan enam teks Bibel yang menurutnya menafikan ketuhanan Yesus, dan dikuatkan dengan teks-teks Bibel lainnya sebagai tafsiran teks-teks yang enam tadi.

    Di antara teks yang dikritisi oleh alGhazali adalah Injil Yohannes pasal 10 ayat 30-36, "Aku dan Bapa adalah satu. Sekali lagi orang-orang Yahudi mengambil batu untuk melempari Yesus. Kata Yesus kepada mereka: "banyak pekerjaan baik yang berasal dari Bapa-ku yang kuperlihatkan kepadamu; pekerjaan manakah di antaranya yang menyebabkan kamu mau melempari aku? Jawab orang-orang Yahudi itu: "bukan karena suatu pekerjaan baik maka kami mau melempari engkau, melainkan karena engkau menghujat Allah dan karena engkau, sekalipun hanya seorang manusia saja, menyamakan dirimu dengan Allah. Kata Yesus kepada mereka: "tidakkah ada tertulis dalam kitab Taurat kamu: Aku telah berfirman: kamu adalah Allah? Jikalau mereka, kepada siapa firman itu disampaikan, disebut Allah  sedangkan kitab suci tidak dapat dibatalkan, masihkah kamu berkata kepada dia yang dikuduskan oleh Bapa dan yang telah diutus-Nya ke dalam dunia." (Teks dikutip dari Bibel terbitan Lembaga Al-kitab Indonesia; Jakarta 2008.)

    Teks ini, menurut al-Ghazali, menerangkan masalah al-ittihad (menyatunya Allah dengan hamba-Nya). Orang Yahudi mengingkari perkataan Yesus "aku dan Bapa adalah satu". Al-Ghazali berpendapat, perkataan Yesus, Isa AS "..aku dan Bapa adalah satu" adalah makna metafora.

    Al Ghazali mengkiaskannya seperti yang terdapat dalam hadits Qudsi, dimana Allah berfirman: "Tidaklah mendekatkan kepadaKu orang-orang yang mendekatkan diri dengan yang lebih utama dari pada melakukan yang Aku fardhukan kepada mereka. Kemudian tidaklah seorang hamba terus mendekatkan diri kepadaKu dengan hal-hal yang sunnah sehingga Aku mencintainya. Apabila Aku telah mencintainya maka Aku adalah pendengaran yang ia mendengar dengannya, penglihatan yang ia melihat dengannya, lisannya yang ia berbicara dengannya dan tangannya yang ia memukul dengannnya."

    Menurut Al-Ghazali, adalah mustahil Sang Pencipta menempati indra-indra tersebut atau Allah adalah salah satu dari indra-indra tersebut. Akan tetapi seorang hamba ketika bersungguh-sungguh dalam taat kepada Allah, maka Allah akan memberikannya kemampuan dan pertolongan yang ia mampu dengan keduanya untuk berbicara dengan lisan-Nya, memukul dengan tangan-Nya, dan lain-lainnya. Makna metafora dalam teks Bibel dan hadis Qudsi itulah yang dimaksudkan bersatunya manusia dengan Tuhan, bukan arti harfiahnya.

    Demikianlah, di abad ke-12 M, Imam al-Ghazali telah melalukan kajian yang serius tantang agama-agama selain Islam. Kajian ini tentu saja sesuatu yang jauh melampaui zamannya. Kritiknya terhadap konsep Ketuhanan Yesus jelas didasari pada keyakinannya sebagai Muslim, berdasarkan penjelasan Alquran.

    Al-Ghazali bersifat seobjektif mungkin saat meneliti fakta tentang konsep kaum Kristen soal Ketuhanan Yesus. Tapi, pada saat yang sama, dia juga tidak melepaslan posisinya sebagai Muslim saat mengkaji agama-agama.

    Red: irf
    Rep: Rachmat Morado S Alumnus Univ Mulay Islamil, Meknes, Maroko






 
Reply | Threaded
Open this post in threaded view
|  
Report Content as Inappropriate

Re: Inilah Kajian Al Ghazali tentang Konsep Ketuhanan Yesus

semar samiaji
In reply to this post by Indra N
he..he..he...mosok sich??...he..he..he..he...coba baca baik2 yang Masne tuliskan di bawah...koq saya menangkapnya, kalau memang benar2 merujuk kepada sesuatu yang berlaku bagi siapa pun, tidak mengherankan jika setiap perdiskusian akan dipengaruhi latar belakang kehidupan setiap peserta diskusinya...
 
belum tentu yang mengaku nasrani atau muslim atau di luar dari keduanya PAHAM isi yang PALING obyektif dari apa yang diyakininya dengan menempatkan pada nilai2 kemanusiaannya.....contoh sederhana saja, kata nasrani dan muslim apakah itu bermakna agama?...jika perdiskusian di buka dan dipaparkan konteksnya adalah MENEMPATKAN pada pemaknaan yang tepat dalam konteks yang sesuai...tidak memandang apakah manusia itu beragama atau tidak khan?...di atas itulah RASA EGO yang memastikan bagi setiap diri...dan untuk yang terakhir ini LEBIH banyak diarahkan kepada orang atau pihak lain dari pada kepada dirinya sendiri khan?....makanya, jadi "hingar bingar"...he..he..he..he.he...
 
salam,
ss

--- On Fri, 5/21/10, Indra <[hidden email]> wrote:


From: Indra <[hidden email]>
Subject: Re: [Spiritual-Indonesia] Inilah Kajian Al Ghazali tentang Konsep Ketuhanan Yesus
To: [hidden email]
Date: Friday, May 21, 2010, 1:14 PM


 




Sebetulnya yg bisa mengkaji Agama adalah orang yg tidak beragama.
Kalau masih melekat salah satu agama maka kajiannya pasti lebih berdasar kepada agama yg dianutnya.
Tapi semua tentu berbalik kepada pembacanya.
Bila Nasrani pasti kajian itu berasa tidak pas, bila muslim pasti dianggap lebih pas karena dasarnya sama.
 
Padahal semua agama itu pasti buatan manusia diluar kepercayaan beberapa orang itu berdasar kata 2 "Tuhan"
Dan kitab suci orang beragamapun sama sama buatan manusia yg pada perkembangannya saling "menyempurnakan" dan masing masing pengikutnya secara membabibuta menganggap kitabnya yg paling baik.
 
Yah begitu deh, Buku bacaan karangan orang Israel dan Arab kok diperdebatkan.
Dasar manusia ber"agama"
 
Indra
 
 


.








     
Reply | Threaded
Open this post in threaded view
|  
Report Content as Inappropriate

Re: Inilah Kajian Al Ghazali tentang Konsep Ketuhanan Yesus

Leonardo Rimba
Administrator
In reply to this post by fernando_pm_tambunan
Gak bisa.

Leo



--- In [hidden email], fernando_pm_tambunan@... wrote:

>
> Bukan mengkaji agamanya.. Tapi mengkaji bagaimana zat Allah dan Zat Yesus bisa bersatu? Atau Zat Allah Dan Zat Sidharta Gautama bersatu? Sehingga dapat menciptakan sebuah fenomena alam.. Mungkin om Leo dapat memberikan petunjuk..
> Powered by Telkomsel BlackBerry®
>
> -----Original Message-----
> From: "Indra" <indra@...>
> Sender: [hidden email]
> Date: Fri, 21 May 2010 13:14:45
> To: <[hidden email]>
> Reply-To: [hidden email]
> Subject: Re: [Spiritual-Indonesia] Inilah Kajian Al Ghazali tentang Konsep Ketuhanan Yesus
>
> Sebetulnya yg bisa mengkaji Agama adalah orang yg tidak beragama.
> Kalau masih melekat salah satu agama maka kajiannya pasti lebih berdasar kepada agama yg dianutnya.
> Tapi semua tentu berbalik kepada pembacanya.
> Bila Nasrani pasti kajian itu berasa tidak pas, bila muslim pasti dianggap lebih pas karena dasarnya sama.
>
> Padahal semua agama itu pasti buatan manusia diluar kepercayaan beberapa orang itu berdasar kata 2 "Tuhan"
> Dan kitab suci orang beragamapun sama sama buatan manusia yg pada perkembangannya saling "menyempurnakan" dan masing masing pengikutnya secara membabibuta menganggap kitabnya yg paling baik.
>
> Yah begitu deh, Buku bacaan karangan orang Israel dan Arab kok diperdebatkan.
> Dasar manusia ber"agama"
>
> Indra
>
>
>   ----- Original Message -----
>   From: fernando_pm_tambunan@...
>   To: [hidden email]
>   Sent: Friday, May 21, 2010 12:55 PM
>   Subject: Re: [Spiritual-Indonesia] Inilah Kajian Al Ghazali tentang Konsep Ketuhanan Yesus
>
>
>    
>   Berarti gazali tidak mengerti bersatunya Zat Allah dan Zat Yesus..
>
>   Powered by Telkomsel BlackBerry®
>
>
> ------------------------------------------------------------------------------
>
>   From: Spiritual Indonesia <spiritual_indonesia@...>
>   Sender: [hidden email]
>   Date: Fri, 21 May 2010 10:28:28 +0800 (SGT)
>   To: <[hidden email]>
>   ReplyTo: [hidden email]
>   Subject: [Spiritual-Indonesia] Inilah Kajian Al Ghazali tentang Konsep Ketuhanan Yesus
>
>
>    
>
>   http://www.republika.co.id/berita/ensiklopedia-islam/islam-digest/10/05/21/116540-inilah-kajian-al-ghazali-tentang-konsep-ketuhanan-yesus
>
>
>
>
>   Inilah Kajian Al Ghazali tentang Konsep Ketuhanan Yesus
>   Jumat, 21 Mei 2010, 08:16 WIB
>
>      
>
>
>   Imam Al Ghazali
>   REPUBLIKA.CO.ID,JAKARTA--Imam al-Ghazali adalah salah seorang ulama klasik yang berusaha keras mematahkan hujjah ketuhanan Yesus. Melalui bukunya yang berjudul al-Raddul Jamil li Ilahiyati `Isa, al-Ghazali membantah ketuhanan Yesus dengan mengutip teks-teks Bibel. Buku ini menarik untuk dikaji karena diterbitkan oleh UNESCO dalam bahasa Arab.
>
>   Imam al-Ghazali adalah ulama yang sangat terkenal di zamannya sampai zaman sekarang ini. Nama lengkapnya, Abu Hamid Muhammad bin Muhammad bin Muhammad bin Ahmad At-Thusi Asy-Syafii (pengikut mazhab Syaf'i). AlGhazali lahir 450 H/1058 M dan wafat pada tahun 505H/1111M dalam usia 55 tahun.
>
>   Karyanya tidak kurang dari 200 buku, dan di antara karyanya yang sangat monumental adalah "Ihya `Ulumiddin" (Revival of Religious Sciences). Ia dikenal sebagai seorang filosof, ahli tasawwuf, ahli fikih, dan juga bisa dikatakan sebagai seorang Kristolog. Ini terbukti lewat karyanya al-Raddul Jamil, yang ditulisnya secara serius dan mendalam.
>
>   Dalam bukunya, Al-Ghazali memberikan kritik-kritik terhadap kepercayaan kaum Nasrani yang bertaklid kepada akidah pendahulunya, yang keliru. Kata al-Ghazali dalam mukaddimah bukunya: "Aku melihat pembahasan-pembahasan orang Nasrani tentang akidah mereka memiliki pondasi yang lemah. Orang Nasrani menganggap agama mereka adalah syariat yang tidak bisa di takwil" Imam al-Ghazali juga berpendapat bahwa orang Nasrani taklid kepada para filosof dalam soal keimanan. Misalnya dalam masalah al-ittihad, yaitu menyatunya zat Allah dengan zat Yesus.
>
>   Al-Ghazali membantah teori al-ittihad kaum Nasrani. Menurutnya, anggapan bahwa Isa AS mempunyai keterkaitan dengan Tuhan seperti keterkaitan jiwa dengan badan, kemudian dengan keterkaitan ini terjadi hakikat ketiga yang berbeda dengan dua hakikat tadi, adalah keliru. Menurutnya, bergabungnya dua zat dan dua sifat (isytirak), kemudian menjadi hakikat lain yang berbeda adalah hal yang mustahil yang tidak diterima akal.
>
>   Dalam pandangan al-Ghazali, teori alittihad ini justru membuktikan bahwa Yesus bukanlah Tuhan. Al-Ghazali menggunakan analogi mantik atau logika. Ia berkata, ketika Yesus disalib, bukankah yang disalib adalah Tuhan, apakah mungkin Tuhan disalib? Jadi, Yesus bukanlah Tuhan. Penjelasannya dapat dilihat pada surat an-Nisa ayat 157: "Dan tidaklah mereka membunuhnya (Isa AS) dan tidak juga mereka menyalibnya akan tetapi disamarkan kepada mereka".
>
>   Selain al-ittihad, masalah al-hulul tak kalah pentingnya. Menurut Al-Ghazali, makna al-hulul, artinya zat Allah menempati setiap makhluk, sebenarnya dimaksudkan sebagai makna majaz atau metafora. Dan itu digunakan sebagai perumpamaan seperti kata "Bapa" dan "Anak". Misalnya seperti dalam Injil Yohannes pasal 14 ayat 10: "Tidak percayakah engkau, bahwa Aku di dalam Bapa dan Bapa di dalam Aku. Apa yang Aku katakan kepadamu, tidak Aku katakan dari diriKu sendiri tetapi Bapa yang diam di dalam Aku, Dia-lah yang melakukan pekerjaanNya."
>
>   Dalam melakukan kajiannya, Imam alGhazali merujuk kepada Bibel kaum Nasrani. Dalam al-Raddul Jamil, al-Ghazali mencantumkan enam teks Bibel yang menurutnya menafikan ketuhanan Yesus, dan dikuatkan dengan teks-teks Bibel lainnya sebagai tafsiran teks-teks yang enam tadi.
>
>   Di antara teks yang dikritisi oleh alGhazali adalah Injil Yohannes pasal 10 ayat 30-36, "Aku dan Bapa adalah satu. Sekali lagi orang-orang Yahudi mengambil batu untuk melempari Yesus. Kata Yesus kepada mereka: "banyak pekerjaan baik yang berasal dari Bapa-ku yang kuperlihatkan kepadamu; pekerjaan manakah di antaranya yang menyebabkan kamu mau melempari aku? Jawab orang-orang Yahudi itu: "bukan karena suatu pekerjaan baik maka kami mau melempari engkau, melainkan karena engkau menghujat Allah dan karena engkau, sekalipun hanya seorang manusia saja, menyamakan dirimu dengan Allah. Kata Yesus kepada mereka: "tidakkah ada tertulis dalam kitab Taurat kamu: Aku telah berfirman: kamu adalah Allah? Jikalau mereka, kepada siapa firman itu disampaikan, disebut Allah  sedangkan kitab suci tidak dapat dibatalkan, masihkah kamu berkata kepada dia yang dikuduskan oleh Bapa dan yang telah diutus-Nya ke dalam dunia." (Teks dikutip dari Bibel terbitan Lembaga Al-kitab Indonesia; Jakarta 2008.)
>
>   Teks ini, menurut al-Ghazali, menerangkan masalah al-ittihad (menyatunya Allah dengan hamba-Nya). Orang Yahudi mengingkari perkataan Yesus "aku dan Bapa adalah satu". Al-Ghazali berpendapat, perkataan Yesus, Isa AS "..aku dan Bapa adalah satu" adalah makna metafora.
>
>   Al Ghazali mengkiaskannya seperti yang terdapat dalam hadits Qudsi, dimana Allah berfirman: "Tidaklah mendekatkan kepadaKu orang-orang yang mendekatkan diri dengan yang lebih utama dari pada melakukan yang Aku fardhukan kepada mereka. Kemudian tidaklah seorang hamba terus mendekatkan diri kepadaKu dengan hal-hal yang sunnah sehingga Aku mencintainya. Apabila Aku telah mencintainya maka Aku adalah pendengaran yang ia mendengar dengannya, penglihatan yang ia melihat dengannya, lisannya yang ia berbicara dengannya dan tangannya yang ia memukul dengannnya."
>
>   Menurut Al-Ghazali, adalah mustahil Sang Pencipta menempati indra-indra tersebut atau Allah adalah salah satu dari indra-indra tersebut. Akan tetapi seorang hamba ketika bersungguh-sungguh dalam taat kepada Allah, maka Allah akan memberikannya kemampuan dan pertolongan yang ia mampu dengan keduanya untuk berbicara dengan lisan-Nya, memukul dengan tangan-Nya, dan lain-lainnya. Makna metafora dalam teks Bibel dan hadis Qudsi itulah yang dimaksudkan bersatunya manusia dengan Tuhan, bukan arti harfiahnya.
>
>   Demikianlah, di abad ke-12 M, Imam al-Ghazali telah melalukan kajian yang serius tantang agama-agama selain Islam. Kajian ini tentu saja sesuatu yang jauh melampaui zamannya. Kritiknya terhadap konsep Ketuhanan Yesus jelas didasari pada keyakinannya sebagai Muslim, berdasarkan penjelasan Alquran.
>
>   Al-Ghazali bersifat seobjektif mungkin saat meneliti fakta tentang konsep kaum Kristen soal Ketuhanan Yesus. Tapi, pada saat yang sama, dia juga tidak melepaslan posisinya sebagai Muslim saat mengkaji agama-agama.
>
>   Red: irf
>   Rep: Rachmat Morado S Alumnus Univ Mulay Islamil, Meknes, Maroko
>


Reply | Threaded
Open this post in threaded view
|  
Report Content as Inappropriate

Re: Re: Inilah Kajian Al Ghazali tentang Konsep Ketuhanan Yesus

fernando_pm_tambunan
Bisa.
Powered by Telkomsel BlackBerry®

-----Original Message-----
From: "leonardor" <[hidden email]>
Sender: [hidden email]
Date: Fri, 21 May 2010 09:01:15
To: <[hidden email]>
Reply-To: [hidden email]
Subject: [Spiritual-Indonesia] Re: Inilah Kajian Al Ghazali tentang Konsep Ketuhanan Yesus

Gak bisa.

Leo



--- In [hidden email], fernando_pm_tambunan@... wrote:

>
> Bukan mengkaji agamanya.. Tapi mengkaji bagaimana zat Allah dan Zat Yesus bisa bersatu? Atau Zat Allah Dan Zat Sidharta Gautama bersatu? Sehingga dapat menciptakan sebuah fenomena alam.. Mungkin om Leo dapat memberikan petunjuk..
> Powered by Telkomsel BlackBerry®
>
> -----Original Message-----
> From: "Indra" <indra@...>
> Sender: [hidden email]
> Date: Fri, 21 May 2010 13:14:45
> To: <[hidden email]>
> Reply-To: [hidden email]
> Subject: Re: [Spiritual-Indonesia] Inilah Kajian Al Ghazali tentang Konsep Ketuhanan Yesus
>
> Sebetulnya yg bisa mengkaji Agama adalah orang yg tidak beragama.
> Kalau masih melekat salah satu agama maka kajiannya pasti lebih berdasar kepada agama yg dianutnya.
> Tapi semua tentu berbalik kepada pembacanya.
> Bila Nasrani pasti kajian itu berasa tidak pas, bila muslim pasti dianggap lebih pas karena dasarnya sama.
>
> Padahal semua agama itu pasti buatan manusia diluar kepercayaan beberapa orang itu berdasar kata 2 "Tuhan"
> Dan kitab suci orang beragamapun sama sama buatan manusia yg pada perkembangannya saling "menyempurnakan" dan masing masing pengikutnya secara membabibuta menganggap kitabnya yg paling baik.
>
> Yah begitu deh, Buku bacaan karangan orang Israel dan Arab kok diperdebatkan.
> Dasar manusia ber"agama"
>
> Indra
>
>
>   ----- Original Message -----
>   From: fernando_pm_tambunan@...
>   To: [hidden email]
>   Sent: Friday, May 21, 2010 12:55 PM
>   Subject: Re: [Spiritual-Indonesia] Inilah Kajian Al Ghazali tentang Konsep Ketuhanan Yesus
>
>
>    
>   Berarti gazali tidak mengerti bersatunya Zat Allah dan Zat Yesus..
>
>   Powered by Telkomsel BlackBerry®
>
>
> ------------------------------------------------------------------------------
>
>   From: Spiritual Indonesia <spiritual_indonesia@...>
>   Sender: [hidden email]
>   Date: Fri, 21 May 2010 10:28:28 +0800 (SGT)
>   To: <[hidden email]>
>   ReplyTo: [hidden email]
>   Subject: [Spiritual-Indonesia] Inilah Kajian Al Ghazali tentang Konsep Ketuhanan Yesus
>
>
>    
>
>   http://www.republika.co.id/berita/ensiklopedia-islam/islam-digest/10/05/21/116540-inilah-kajian-al-ghazali-tentang-konsep-ketuhanan-yesus
>
>
>
>
>   Inilah Kajian Al Ghazali tentang Konsep Ketuhanan Yesus
>   Jumat, 21 Mei 2010, 08:16 WIB
>
>      
>
>
>   Imam Al Ghazali
>   REPUBLIKA.CO.ID,JAKARTA--Imam al-Ghazali adalah salah seorang ulama klasik yang berusaha keras mematahkan hujjah ketuhanan Yesus. Melalui bukunya yang berjudul al-Raddul Jamil li Ilahiyati `Isa, al-Ghazali membantah ketuhanan Yesus dengan mengutip teks-teks Bibel. Buku ini menarik untuk dikaji karena diterbitkan oleh UNESCO dalam bahasa Arab.
>
>   Imam al-Ghazali adalah ulama yang sangat terkenal di zamannya sampai zaman sekarang ini. Nama lengkapnya, Abu Hamid Muhammad bin Muhammad bin Muhammad bin Ahmad At-Thusi Asy-Syafii (pengikut mazhab Syaf'i). AlGhazali lahir 450 H/1058 M dan wafat pada tahun 505H/1111M dalam usia 55 tahun.
>
>   Karyanya tidak kurang dari 200 buku, dan di antara karyanya yang sangat monumental adalah "Ihya `Ulumiddin" (Revival of Religious Sciences). Ia dikenal sebagai seorang filosof, ahli tasawwuf, ahli fikih, dan juga bisa dikatakan sebagai seorang Kristolog. Ini terbukti lewat karyanya al-Raddul Jamil, yang ditulisnya secara serius dan mendalam.
>
>   Dalam bukunya, Al-Ghazali memberikan kritik-kritik terhadap kepercayaan kaum Nasrani yang bertaklid kepada akidah pendahulunya, yang keliru. Kata al-Ghazali dalam mukaddimah bukunya: "Aku melihat pembahasan-pembahasan orang Nasrani tentang akidah mereka memiliki pondasi yang lemah. Orang Nasrani menganggap agama mereka adalah syariat yang tidak bisa di takwil" Imam al-Ghazali juga berpendapat bahwa orang Nasrani taklid kepada para filosof dalam soal keimanan. Misalnya dalam masalah al-ittihad, yaitu menyatunya zat Allah dengan zat Yesus.
>
>   Al-Ghazali membantah teori al-ittihad kaum Nasrani. Menurutnya, anggapan bahwa Isa AS mempunyai keterkaitan dengan Tuhan seperti keterkaitan jiwa dengan badan, kemudian dengan keterkaitan ini terjadi hakikat ketiga yang berbeda dengan dua hakikat tadi, adalah keliru. Menurutnya, bergabungnya dua zat dan dua sifat (isytirak), kemudian menjadi hakikat lain yang berbeda adalah hal yang mustahil yang tidak diterima akal.
>
>   Dalam pandangan al-Ghazali, teori alittihad ini justru membuktikan bahwa Yesus bukanlah Tuhan. Al-Ghazali menggunakan analogi mantik atau logika. Ia berkata, ketika Yesus disalib, bukankah yang disalib adalah Tuhan, apakah mungkin Tuhan disalib? Jadi, Yesus bukanlah Tuhan. Penjelasannya dapat dilihat pada surat an-Nisa ayat 157: "Dan tidaklah mereka membunuhnya (Isa AS) dan tidak juga mereka menyalibnya akan tetapi disamarkan kepada mereka".
>
>   Selain al-ittihad, masalah al-hulul tak kalah pentingnya. Menurut Al-Ghazali, makna al-hulul, artinya zat Allah menempati setiap makhluk, sebenarnya dimaksudkan sebagai makna majaz atau metafora. Dan itu digunakan sebagai perumpamaan seperti kata "Bapa" dan "Anak". Misalnya seperti dalam Injil Yohannes pasal 14 ayat 10: "Tidak percayakah engkau, bahwa Aku di dalam Bapa dan Bapa di dalam Aku. Apa yang Aku katakan kepadamu, tidak Aku katakan dari diriKu sendiri tetapi Bapa yang diam di dalam Aku, Dia-lah yang melakukan pekerjaanNya."
>
>   Dalam melakukan kajiannya, Imam alGhazali merujuk kepada Bibel kaum Nasrani. Dalam al-Raddul Jamil, al-Ghazali mencantumkan enam teks Bibel yang menurutnya menafikan ketuhanan Yesus, dan dikuatkan dengan teks-teks Bibel lainnya sebagai tafsiran teks-teks yang enam tadi.
>
>   Di antara teks yang dikritisi oleh alGhazali adalah Injil Yohannes pasal 10 ayat 30-36, "Aku dan Bapa adalah satu. Sekali lagi orang-orang Yahudi mengambil batu untuk melempari Yesus. Kata Yesus kepada mereka: "banyak pekerjaan baik yang berasal dari Bapa-ku yang kuperlihatkan kepadamu; pekerjaan manakah di antaranya yang menyebabkan kamu mau melempari aku? Jawab orang-orang Yahudi itu: "bukan karena suatu pekerjaan baik maka kami mau melempari engkau, melainkan karena engkau menghujat Allah dan karena engkau, sekalipun hanya seorang manusia saja, menyamakan dirimu dengan Allah. Kata Yesus kepada mereka: "tidakkah ada tertulis dalam kitab Taurat kamu: Aku telah berfirman: kamu adalah Allah? Jikalau mereka, kepada siapa firman itu disampaikan, disebut Allah  sedangkan kitab suci tidak dapat dibatalkan, masihkah kamu berkata kepada dia yang dikuduskan oleh Bapa dan yang telah diutus-Nya ke dalam dunia." (Teks dikutip dari Bibel terbitan Lembaga Al-kitab Indonesia; Jakarta 2008.)
>
>   Teks ini, menurut al-Ghazali, menerangkan masalah al-ittihad (menyatunya Allah dengan hamba-Nya). Orang Yahudi mengingkari perkataan Yesus "aku dan Bapa adalah satu". Al-Ghazali berpendapat, perkataan Yesus, Isa AS "..aku dan Bapa adalah satu" adalah makna metafora.
>
>   Al Ghazali mengkiaskannya seperti yang terdapat dalam hadits Qudsi, dimana Allah berfirman: "Tidaklah mendekatkan kepadaKu orang-orang yang mendekatkan diri dengan yang lebih utama dari pada melakukan yang Aku fardhukan kepada mereka. Kemudian tidaklah seorang hamba terus mendekatkan diri kepadaKu dengan hal-hal yang sunnah sehingga Aku mencintainya. Apabila Aku telah mencintainya maka Aku adalah pendengaran yang ia mendengar dengannya, penglihatan yang ia melihat dengannya, lisannya yang ia berbicara dengannya dan tangannya yang ia memukul dengannnya."
>
>   Menurut Al-Ghazali, adalah mustahil Sang Pencipta menempati indra-indra tersebut atau Allah adalah salah satu dari indra-indra tersebut. Akan tetapi seorang hamba ketika bersungguh-sungguh dalam taat kepada Allah, maka Allah akan memberikannya kemampuan dan pertolongan yang ia mampu dengan keduanya untuk berbicara dengan lisan-Nya, memukul dengan tangan-Nya, dan lain-lainnya. Makna metafora dalam teks Bibel dan hadis Qudsi itulah yang dimaksudkan bersatunya manusia dengan Tuhan, bukan arti harfiahnya.
>
>   Demikianlah, di abad ke-12 M, Imam al-Ghazali telah melalukan kajian yang serius tantang agama-agama selain Islam. Kajian ini tentu saja sesuatu yang jauh melampaui zamannya. Kritiknya terhadap konsep Ketuhanan Yesus jelas didasari pada keyakinannya sebagai Muslim, berdasarkan penjelasan Alquran.
>
>   Al-Ghazali bersifat seobjektif mungkin saat meneliti fakta tentang konsep kaum Kristen soal Ketuhanan Yesus. Tapi, pada saat yang sama, dia juga tidak melepaslan posisinya sebagai Muslim saat mengkaji agama-agama.
>
>   Red: irf
>   Rep: Rachmat Morado S Alumnus Univ Mulay Islamil, Meknes, Maroko
>



Reply | Threaded
Open this post in threaded view
|  
Report Content as Inappropriate

Re: Re: Inilah Kajian Al Ghazali tentang Konsep Ketuhanan Yesus

blubps
Leonardor itu sapa, seh?
kok mesra banget ama Bang Fernando Pm. Tambunan....


blub!





________________________________
From: "[hidden email]" <[hidden email]>
To: [hidden email]
Sent: Fri, May 21, 2010 5:10:22 AM
Subject: Re: [Spiritual-Indonesia] Re: Inilah Kajian Al Ghazali tentang Konsep Ketuhanan Yesus

 

Bisa.
Powered by Telkomsel BlackBerry®
________________________________

From:  "leonardor" <[hidden email]>
Sender:  [hidden email]
Date: Fri, 21 May 2010 09:01:15 -0000
To: <[hidden email]>
ReplyTo:  [hidden email]
Subject: [Spiritual-Indonesia] Re: Inilah Kajian Al Ghazali tentang Konsep Ketuhanan Yesus
 
Gak bisa.

Leo

--- In [hidden email], fernando_pm_tambunan@... wrote:
>
> Bukan mengkaji agamanya.. Tapi mengkaji bagaimana zat Allah dan Zat Yesus bisa bersatu? Atau Zat Allah Dan Zat Sidharta Gautama bersatu? Sehingga dapat menciptakan sebuah fenomena alam.. Mungkin om Leo dapat memberikan petunjuk..
> Powered by Telkomsel BlackBerry®
>







     
Reply | Threaded
Open this post in threaded view
|  
Report Content as Inappropriate

Re: Re: Inilah Kajian Al Ghazali tentang Konsep Ketuhanan Yesus

fernando_pm_tambunan
Blups..
Powered by Telkomsel BlackBerry®

-----Original Message-----
From: blubps <[hidden email]>
Sender: [hidden email]
Date: Fri, 21 May 2010 02:41:18
To: <[hidden email]>
Reply-To: [hidden email]
Subject: Re: [Spiritual-Indonesia] Re: Inilah Kajian Al Ghazali tentang Konsep Ketuhanan Yesus

Leonardor itu sapa, seh?
kok mesra banget ama Bang Fernando Pm. Tambunan....


blub!





________________________________
From: "[hidden email]" <[hidden email]>
To: [hidden email]
Sent: Fri, May 21, 2010 5:10:22 AM
Subject: Re: [Spiritual-Indonesia] Re: Inilah Kajian Al Ghazali tentang Konsep Ketuhanan Yesus

 

Bisa.
Powered by Telkomsel BlackBerry®
________________________________

From:  "leonardor" <[hidden email]>
Sender:  [hidden email]
Date: Fri, 21 May 2010 09:01:15 -0000
To: <[hidden email]>
ReplyTo:  [hidden email]
Subject: [Spiritual-Indonesia] Re: Inilah Kajian Al Ghazali tentang Konsep Ketuhanan Yesus
 
Gak bisa.

Leo

--- In [hidden email], fernando_pm_tambunan@... wrote:
>
> Bukan mengkaji agamanya.. Tapi mengkaji bagaimana zat Allah dan Zat Yesus bisa bersatu? Atau Zat Allah Dan Zat Sidharta Gautama bersatu? Sehingga dapat menciptakan sebuah fenomena alam.. Mungkin om Leo dapat memberikan petunjuk..
> Powered by Telkomsel BlackBerry®
>







     
Reply | Threaded
Open this post in threaded view
|  
Report Content as Inappropriate

Re: Inilah Kajian Al Ghazali tentang Konsep Ketuhanan Yesus

Indra N
In reply to this post by semar samiaji
ada benarnya juga,
tapi latar belakang orang beragama yg didoktrin dari lahir tidak bisa lepas begitu saja.
seperti doktrin 10+10=20 (yg untungnya semua sama)
pasti yg kepikiran itu dulu dibandingkan orang mikir apakah itu bilangan biner atau decimal.
ok deh kembali ke kontek.

nasrani dan moslem menurut saya tetap bermakna agama karena kata itu muncul stelah ada orang beragama yg menyebut nasrani dan moslem. Beda dengan politisi dan rakyat itu bermakna kewarganegaraan.

salah atau benar itu tergantung dari sudut mana kita lihat

Indra




  ----- Original Message -----
  From: semar samiaji
  To: [hidden email]
  Sent: Friday, May 21, 2010 2:09 PM
  Subject: Re: [Spiritual-Indonesia] Inilah Kajian Al Ghazali tentang Konsep Ketuhanan Yesus


   
        he..he..he...mosok sich??...he..he..he..he...coba baca baik2 yang Masne tuliskan di bawah...koq saya menangkapnya, kalau memang benar2 merujuk kepada sesuatu yang berlaku bagi siapa pun, tidak mengherankan jika setiap perdiskusian akan dipengaruhi latar belakang kehidupan setiap peserta diskusinya...

        belum tentu yang mengaku nasrani atau muslim atau di luar dari keduanya PAHAM isi yang PALING obyektif dari apa yang diyakininya dengan menempatkan pada nilai2 kemanusiaannya.....contoh sederhana saja, kata nasrani dan muslim apakah itu bermakna agama?...jika perdiskusian di buka dan dipaparkan konteksnya adalah MENEMPATKAN pada pemaknaan yang tepat dalam konteks yang sesuai...tidak memandang apakah manusia itu beragama atau tidak khan?...di atas itulah RASA EGO yang memastikan bagi setiap diri...dan untuk yang terakhir ini LEBIH banyak diarahkan kepada orang atau pihak lain dari pada kepada dirinya sendiri khan?....makanya, jadi "hingar bingar"...he..he..he..he.he...

        salam,
        ss

        --- On Fri, 5/21/10, Indra <[hidden email]> wrote:


          From: Indra <[hidden email]>
          Subject: Re: [Spiritual-Indonesia] Inilah Kajian Al Ghazali tentang Konsep Ketuhanan Yesus
          To: [hidden email]
          Date: Friday, May 21, 2010, 1:14 PM


           
          
          Sebetulnya yg bisa mengkaji Agama adalah orang yg tidak beragama.
          Kalau masih melekat salah satu agama maka kajiannya pasti lebih berdasar kepada agama yg dianutnya.
          Tapi semua tentu berbalik kepada pembacanya.
          Bila Nasrani pasti kajian itu berasa tidak pas, bila muslim pasti dianggap lebih pas karena dasarnya sama.

          Padahal semua agama itu pasti buatan manusia diluar kepercayaan beberapa orang itu berdasar kata 2 "Tuhan"
          Dan kitab suci orang beragamapun sama sama buatan manusia yg pada perkembangannya saling "menyempurnakan" dan masing masing pengikutnya secara membabibuta menganggap kitabnya yg paling baik.

          Yah begitu deh, Buku bacaan karangan orang Israel dan Arab kok diperdebatkan.
          Dasar manusia ber"agama"

          Indra


          .
           
       



 
Reply | Threaded
Open this post in threaded view
|  
Report Content as Inappropriate

Re: Inilah Kajian Al Ghazali tentang Konsep Ketuhanan Yesus

blubps
In reply to this post by Indra N
vokal o itu kalo yang bilang awoh2 wong jawa. selainnya itu, ya, gak gitu o, gak gitu woh2, pa wloh2.

mong-ngomong, gw kalo melafalkan allah mayan fasih, lhoh. dah kayaks orang arab aje. jadi kalo gw nyebut allah2 di balik hijab, pasti orang pikir idung gw idung arab!

yeeeiii...!
dah, yah....
yen tak rasak2ken gw kok mulai rada2 kumat gimane....
mending ngeblub aje gwnye!


blub!


--- In [hidden email], "Indra" <indra@...> wrote:
>
> lah, Zat Allah bukanya Zat Agama ????
> kalau nasrani vokal "a" kalau moslem vokal "o" ???
>
> lah gimana lagi.
>
> Indra
>


Reply | Threaded
Open this post in threaded view
|  
Report Content as Inappropriate

Re: Inilah Kajian Al Ghazali tentang Konsep Ketuhanan Yesus

semar samiaji
In reply to this post by Indra N
he..he..he...benar atau salah bukan tujuan perdiskusian...menempatkan pada tempat dan porsinya di dalam itulah akan selalu memunculkan obyektivitas, terelpas apakah manusianya mau menerima atau menolaknya...
 
saya nukilkan kalimat yang sebelumnya "contoh sederhana saja, kata nasrani dan muslim apakah itu bermakna agama?"...Masne tanggapi "nasrani dan moslem menurut saya tetap bermakna agama karena kata itu muncul stelah ada orang beragama yg menyebut nasrani dan moslem"...jika kita mau buka makna kata merujuk kepada awalnya...ndak ada istilah agama dalam konteks nasrani dan moslem...silahkan Masne kasih saya rujukannya ada di mana?..kecuali, itu murni karena ASUMSI dari apa yang Mas sampaikan sendiri khan?...
 
silahkan buka semua rujukan sejak kapan manusia yang menjadi junjungan dari kedua bentuk keyakinan itu menyatakan itu adalah agama?...silahkan tunjukkan menurut Mas...jadi rujukannya BUKAN pengakuan dari orang2 yang mengaku di dalam setiap agama semata...di sinilah upaya MEMURNINKAN apa adanya...termasuk bagi mereka yang tidak beragama tidak sekedar memahami dari sudiut pandangnya saja...
 
melalui itu baru nilai2 obyektivitas akan muncul semakin tajam dan terpercaya, SEPANJANG..akal sehat dan hati nurani manusia itu tidak bantet..he..he..he..he..he...
 
salam,
ss
 


--- On Fri, 5/21/10, Indra <[hidden email]> wrote:


From: Indra <[hidden email]>
Subject: Re: [Spiritual-Indonesia] Inilah Kajian Al Ghazali tentang Konsep Ketuhanan Yesus
To: [hidden email]
Date: Friday, May 21, 2010, 4:50 PM


 




ada benarnya juga,
tapi latar belakang orang beragama yg didoktrin dari lahir tidak bisa lepas begitu saja.
seperti doktrin 10+10=20 (yg untungnya semua sama)
pasti yg kepikiran itu dulu dibandingkan orang mikir apakah itu bilangan biner atau decimal.
ok deh kembali ke kontek.
 
nasrani dan moslem menurut saya tetap bermakna agama karena kata itu muncul stelah ada orang beragama yg menyebut nasrani dan moslem. Beda dengan politisi dan rakyat itu bermakna kewarganegaraan.
 
salah atau benar itu tergantung dari sudut mana kita lihat
 
Indra
 
 
 
 

----- Original Message -----
From: semar samiaji
To: Spiritual-Indonesia @yahoogroups. com
Sent: Friday, May 21, 2010 2:09 PM
Subject: Re: [Spiritual-Indonesi a] Inilah Kajian Al Ghazali tentang Konsep Ketuhanan Yesus

 






he..he..he.. .mosok sich??...he. .he..he.. he...coba baca baik2 yang Masne tuliskan di bawah...koq saya menangkapnya, kalau memang benar2 merujuk kepada sesuatu yang berlaku bagi siapa pun, tidak mengherankan jika setiap perdiskusian akan dipengaruhi latar belakang kehidupan setiap peserta diskusinya.. .
 
belum tentu yang mengaku nasrani atau muslim atau di luar dari keduanya PAHAM isi yang PALING obyektif dari apa yang diyakininya dengan menempatkan pada nilai2 kemanusiaannya. ....contoh sederhana saja, kata nasrani dan muslim apakah itu bermakna agama?...jika perdiskusian di buka dan dipaparkan konteksnya adalah MENEMPATKAN pada pemaknaan yang tepat dalam konteks yang sesuai...tidak memandang apakah manusia itu beragama atau tidak khan?...di atas itulah RASA EGO yang memastikan bagi setiap diri...dan untuk yang terakhir ini LEBIH banyak diarahkan kepada orang atau pihak lain dari pada kepada dirinya sendiri khan?....makanya, jadi "hingar bingar"...he. .he..he.. he.he...
 
salam,
ss

--- On Fri, 5/21/10, Indra <indra@padma. co.id> wrote:


From: Indra <indra@padma. co.id>
Subject: Re: [Spiritual-Indonesi a] Inilah Kajian Al Ghazali tentang Konsep Ketuhanan Yesus
To: Spiritual-Indonesia @yahoogroups. com
Date: Friday, May 21, 2010, 1:14 PM


 


Sebetulnya yg bisa mengkaji Agama adalah orang yg tidak beragama.
Kalau masih melekat salah satu agama maka kajiannya pasti lebih berdasar kepada agama yg dianutnya.
Tapi semua tentu berbalik kepada pembacanya.
Bila Nasrani pasti kajian itu berasa tidak pas, bila muslim pasti dianggap lebih pas karena dasarnya sama.
 
Padahal semua agama itu pasti buatan manusia diluar kepercayaan beberapa orang itu berdasar kata 2 "Tuhan"
Dan kitab suci orang beragamapun sama sama buatan manusia yg pada perkembangannya saling "menyempurnakan" dan masing masing pengikutnya secara membabibuta menganggap kitabnya yg paling baik.
 
Yah begitu deh, Buku bacaan karangan orang Israel dan Arab kok diperdebatkan.
Dasar manusia ber"agama"
 
Indra
 
 


.










     
Reply | Threaded
Open this post in threaded view
|  
Report Content as Inappropriate

Re: Re: Inilah Kajian Al Ghazali tentang Konsep Ketuhanan Yesus

Chiw
In reply to this post by blubps
Mbak blups dibungkus kain jadi kayak lemper juga tak?
Sent from my BlackBerry® smartphone

-----Original Message-----
From: "blubps" <[hidden email]>
Sender: [hidden email]
Date: Fri, 21 May 2010 09:55:40
To: <[hidden email]>
Reply-To: [hidden email]
Subject: [Spiritual-Indonesia] Re: Inilah Kajian Al Ghazali tentang Konsep Ketuhanan Yesus

vokal o itu kalo yang bilang awoh2 wong jawa. selainnya itu, ya, gak gitu o, gak gitu woh2, pa wloh2.

mong-ngomong, gw kalo melafalkan allah mayan fasih, lhoh. dah kayaks orang arab aje. jadi kalo gw nyebut allah2 di balik hijab, pasti orang pikir idung gw idung arab!

yeeeiii...!
dah, yah....
yen tak rasak2ken gw kok mulai rada2 kumat gimane....
mending ngeblub aje gwnye!


blub!


--- In [hidden email], "Indra" <indra@...> wrote:
>
> lah, Zat Allah bukanya Zat Agama ????
> kalau nasrani vokal "a" kalau moslem vokal "o" ???
>
> lah gimana lagi.
>
> Indra
>



Reply | Threaded
Open this post in threaded view
|  
Report Content as Inappropriate

Re: Inilah Kajian Al Ghazali tentang Konsep Ketuhanan Yesus

svapnamitra
In reply to this post by priangkasa-2
Ada kemungkinan lain. Takut berseberangan denan kalangan ulama-mainstream. Takut senasib dengan A-Hallaj. Sehingga memilih bungkam, persis mayoritas sufi muslim Indonesia pasca-kematian-Siti-Jenar.

Trims
sw

--- In [hidden email], priangkasa@... wrote:

>
> Konon katanya, di usia muda Ghazali banyak menulis buku2  fiqih, aqidah, dan tema2 syariat. Di usia tuanya ia dekat dengan tasawuf. Tasawuf adalah inti spiritual islam. Setelah larut dalam dunia spiritual mungkin Ghazali tidak sempat nulis buku untuk 'menentang' buku2nya terdahulu.
>
> Itu konon katanya :)
>
> Salam,
> Prib
>
> -----Original Message-----
> From: fernando_pm_tambunan@...
> Sender: [hidden email]
> Date: Fri, 21 May 2010 05:55:37
> To: <[hidden email]>
> Reply-To: [hidden email]
> Subject: Re: [Spiritual-Indonesia] Inilah Kajian Al Ghazali tentang Konsep Ketuhanan Yesus
>
> Berarti gazali tidak mengerti bersatunya Zat Allah dan Zat Yesus..
> Powered by Telkomsel BlackBerry®
>
> -----Original Message-----
> From: Spiritual Indonesia <spiritual_indonesia@...>
> Sender: [hidden email]
> Date: Fri, 21 May 2010 10:28:28
> To: <[hidden email]>
> Reply-To: [hidden email]
> Subject: [Spiritual-Indonesia] Inilah Kajian Al Ghazali tentang Konsep Ketuhanan Yesus
>
> http://www.republika.co.id/berita/ensiklopedia-islam/islam-digest/10/05/21/116540-inilah-kajian-al-ghazali-tentang-konsep-ketuhanan-yesus
>
>
> Inilah Kajian Al Ghazali tentang Konsep Ketuhanan YesusJumat, 21 Mei 2010, 08:16 WIB
>
>    
>
>
> Imam Al Ghazali
> REPUBLIKA.CO.ID,JAKARTA--Imam al-Ghazali adalah salah seorang ulama klasik yang berusaha keras mematahkan hujjah ketuhanan Yesus. Melalui bukunya yang berjudul al-Raddul Jamil li Ilahiyati `Isa, al-Ghazali membantah ketuhanan Yesus dengan mengutip teks-teks Bibel. Buku ini menarik untuk dikaji karena diterbitkan oleh UNESCO dalam bahasa Arab.
>
> Imam al-Ghazali adalah ulama yang sangat terkenal di zamannya sampai zaman sekarang ini. Nama lengkapnya, Abu Hamid Muhammad bin Muhammad bin Muhammad bin Ahmad At-Thusi Asy-Syafii (pengikut mazhab Syaf'i). AlGhazali lahir 450 H/1058 M dan wafat pada tahun 505H/1111M dalam usia 55 tahun.
>
> Karyanya tidak kurang dari 200 buku, dan di antara karyanya yang sangat monumental adalah "Ihya `Ulumiddin" (Revival of Religious Sciences). Ia dikenal sebagai seorang filosof, ahli tasawwuf, ahli fikih, dan juga bisa dikatakan sebagai seorang Kristolog. Ini terbukti lewat karyanya al-Raddul Jamil, yang ditulisnya secara serius dan mendalam.
>
> Dalam bukunya, Al-Ghazali memberikan kritik-kritik terhadap kepercayaan kaum Nasrani yang bertaklid kepada akidah pendahulunya, yang keliru. Kata al-Ghazali dalam mukaddimah bukunya: "Aku melihat pembahasan-pembahasan orang Nasrani tentang akidah mereka memiliki pondasi yang lemah. Orang Nasrani menganggap agama mereka adalah syariat yang tidak bisa di takwil" Imam al-Ghazali juga berpendapat bahwa orang Nasrani taklid kepada para filosof dalam soal keimanan. Misalnya dalam masalah al-ittihad, yaitu menyatunya zat Allah dengan zat Yesus.
>
> Al-Ghazali membantah teori al-ittihad kaum Nasrani. Menurutnya, anggapan bahwa Isa AS mempunyai keterkaitan dengan Tuhan seperti keterkaitan jiwa dengan badan, kemudian dengan keterkaitan ini terjadi hakikat ketiga yang berbeda dengan dua hakikat tadi, adalah keliru. Menurutnya, bergabungnya dua zat dan dua sifat (isytirak), kemudian menjadi hakikat lain yang berbeda adalah hal yang mustahil yang tidak diterima akal.
>
> Dalam pandangan al-Ghazali, teori alittihad ini justru membuktikan bahwa Yesus bukanlah Tuhan. Al-Ghazali menggunakan analogi mantik atau logika. Ia berkata, ketika Yesus disalib, bukankah yang disalib adalah Tuhan, apakah mungkin Tuhan disalib? Jadi, Yesus bukanlah Tuhan. Penjelasannya dapat dilihat pada surat an-Nisa ayat 157: "Dan tidaklah mereka membunuhnya (Isa AS) dan tidak juga mereka menyalibnya akan tetapi disamarkan kepada mereka".
>
> Selain al-ittihad, masalah al-hulul tak kalah pentingnya. Menurut Al-Ghazali, makna al-hulul, artinya zat Allah menempati setiap makhluk, sebenarnya dimaksudkan sebagai makna majaz atau metafora. Dan itu digunakan sebagai perumpamaan seperti kata "Bapa" dan "Anak". Misalnya seperti dalam Injil Yohannes pasal 14 ayat 10: "Tidak percayakah engkau, bahwa Aku di dalam Bapa dan Bapa di dalam Aku. Apa yang Aku katakan kepadamu, tidak Aku katakan dari diriKu sendiri tetapi Bapa yang diam di dalam Aku, Dia-lah yang melakukan pekerjaanNya."
>
> Dalam melakukan kajiannya, Imam alGhazali merujuk kepada Bibel kaum Nasrani. Dalam al-Raddul Jamil, al-Ghazali mencantumkan enam teks Bibel yang menurutnya menafikan ketuhanan Yesus, dan dikuatkan dengan teks-teks Bibel lainnya sebagai tafsiran teks-teks yang enam tadi.
>
> Di antara teks yang dikritisi oleh alGhazali adalah Injil Yohannes pasal 10 ayat 30-36, "Aku dan Bapa adalah satu. Sekali lagi orang-orang Yahudi mengambil batu untuk melempari Yesus. Kata Yesus kepada mereka: "banyak pekerjaan baik yang berasal dari Bapa-ku yang kuperlihatkan kepadamu; pekerjaan manakah di antaranya yang menyebabkan kamu mau melempari aku? Jawab orang-orang Yahudi itu: "bukan karena suatu pekerjaan baik maka kami mau melempari engkau, melainkan karena engkau menghujat Allah dan karena engkau, sekalipun hanya seorang manusia saja, menyamakan dirimu dengan Allah. Kata Yesus kepada mereka: "tidakkah ada tertulis dalam kitab Taurat kamu: Aku telah berfirman: kamu adalah Allah? Jikalau mereka, kepada siapa firman itu disampaikan, disebut Allah  sedangkan kitab suci tidak dapat dibatalkan, masihkah kamu berkata kepada dia yang dikuduskan oleh Bapa dan yang telah diutus-Nya ke dalam dunia." (Teks dikutip dari Bibel terbitan Lembaga Al-kitab
>  Indonesia; Jakarta 2008.)
>
> Teks ini, menurut al-Ghazali, menerangkan masalah al-ittihad (menyatunya Allah dengan hamba-Nya). Orang Yahudi mengingkari perkataan Yesus "aku dan Bapa adalah satu". Al-Ghazali berpendapat, perkataan Yesus, Isa AS "..aku dan Bapa adalah satu" adalah makna metafora.
>
> Al Ghazali mengkiaskannya seperti yang terdapat dalam hadits Qudsi, dimana Allah berfirman: "Tidaklah mendekatkan kepadaKu orang-orang yang mendekatkan diri dengan yang lebih utama dari pada melakukan yang Aku fardhukan kepada mereka. Kemudian tidaklah seorang hamba terus mendekatkan diri kepadaKu dengan hal-hal yang sunnah sehingga Aku mencintainya. Apabila Aku telah mencintainya maka Aku adalah pendengaran yang ia mendengar dengannya, penglihatan yang ia melihat dengannya, lisannya yang ia berbicara dengannya dan tangannya yang ia memukul dengannnya."
>
> Menurut Al-Ghazali, adalah mustahil Sang Pencipta menempati indra-indra tersebut atau Allah adalah salah satu dari indra-indra tersebut. Akan tetapi seorang hamba ketika bersungguh-sungguh dalam taat kepada Allah, maka Allah akan memberikannya kemampuan dan pertolongan yang ia mampu dengan keduanya untuk berbicara dengan lisan-Nya, memukul dengan tangan-Nya, dan lain-lainnya. Makna metafora dalam teks Bibel dan hadis Qudsi itulah yang dimaksudkan bersatunya manusia dengan Tuhan, bukan arti harfiahnya.
>
> Demikianlah, di abad ke-12 M, Imam al-Ghazali telah melalukan kajian yang serius tantang agama-agama selain Islam. Kajian ini tentu saja sesuatu yang jauh melampaui zamannya. Kritiknya terhadap konsep Ketuhanan Yesus jelas didasari pada keyakinannya sebagai Muslim, berdasarkan penjelasan Alquran.
>
> Al-Ghazali bersifat seobjektif mungkin saat meneliti fakta tentang konsep kaum Kristen soal Ketuhanan Yesus. Tapi, pada saat yang sama, dia juga tidak melepaslan posisinya sebagai Muslim saat mengkaji agama-agama.
> Red: irf
> Rep: Rachmat Morado S Alumnus Univ Mulay Islamil, Meknes, Maroko
>


Reply | Threaded
Open this post in threaded view
|  
Report Content as Inappropriate

yang baru di www.majalah-historia.com

Hendri F Isnaeni
In reply to this post by Chiw
Yang baru di www.majalah-historia.com:

"Ada
Jepang di Belakang PKS"

--Beberapa bulan setelah menduduki Jawa,
balatentara Jepang membutuhkan
banyak dukungan logistik, tak
terkecuali sayuran. Jepang kemudian mendirikan PKS.
http://www.majalah-historia.com/majalah/historia/berita-225-ada-jepang-di-belakang-pks.html

"Di Balik Kutang"

--Sempat terhambat karena perang dan gerakan feminis, pemakaian
kutang sebagai penopang dada, juga fashion, kini jadi kelaziman.

http://www.majalah-historia.com/majalah/historia/berita-224-di-balik-kutang-.html

"Tat-Tit-Tut, Ding-Dong..."

--Berawal dari alat simulasi perang, kini video game merambah ke
rumah-rumah.

http://www.majalah-historia.com/majalah/historia/berita-226-tattittut-dingdong%E2%80%A6.html

salam,
hendri f isnaeni
wartawan www.majalah-historia.com




________________________________
Dari: Chiw <[hidden email]>
Kepada: [hidden email]
Terkirim: Jum, 21 Mei, 2010 18:19:58
Judul: Re: [Spiritual-Indonesia] Re: Inilah Kajian Al Ghazali tentang Konsep Ketuhanan Yesus

 
Mbak blups dibungkus kain jadi kayak lemper juga tak?
Sent from my BlackBerry® smartphone
________________________________

From:  "blubps" <blubps@yahoo. com>
Sender:  Spiritual-Indonesia @yahoogroups. com
Date: Fri, 21 May 2010 09:55:40 -0000
To: <Spiritual-Indonesia @yahoogroups. com>
ReplyTo:  Spiritual-Indonesia @yahoogroups. com
Subject: [Spiritual-Indonesi a] Re: Inilah Kajian Al Ghazali tentang Konsep Ketuhanan Yesus
 
vokal o itu kalo yang bilang awoh2 wong jawa. selainnya itu, ya, gak gitu o, gak gitu woh2, pa wloh2.

mong-ngomong, gw kalo melafalkan allah mayan fasih, lhoh. dah kayaks orang arab aje. jadi kalo gw nyebut allah2 di balik hijab, pasti orang pikir idung gw idung arab!

yeeeiii...!
dah, yah....
yen tak rasak2ken gw kok mulai rada2 kumat gimane....
mending ngeblub aje gwnye!

blub!

--- In Spiritual-Indonesia @yahoogroups. com, "Indra" <indra@...> wrote:
>
> lah, Zat Allah bukanya Zat Agama ????
> kalau nasrani vokal "a" kalau moslem vokal "o" ???
>
> lah gimana lagi.
>
> Indra
>


 

Reply | Threaded
Open this post in threaded view
|  
Report Content as Inappropriate

Re: Inilah Kajian Al Ghazali tentang Konsep Ketuhanan Yesus

blubps
In reply to this post by Chiw
haha!
kumat jail!

awas, Chiw!


blub!
blubps
(semedi)



--- In [hidden email], "Chiw" <chiwkhususmilis@...> wrote:
>
> Mbak blups dibungkus kain jadi kayak lemper juga tak?
> Sent from my BlackBerry® smartphone
>



Reply | Threaded
Open this post in threaded view
|  
Report Content as Inappropriate

Re: Inilah Kajian Al Ghazali tentang Konsep Ketuhanan Yesus

semar samiaji
In reply to this post by Spiritual Indonesia
he..he..he...upaya memperoleh kemurnian BUKAN diletakkan kepada arti kata per kata..perlu digandeng dengan konteks dan runutannya..contoh sederhana, kata bisa, akan diartikan sebagai dapat atau racun...mana yang murni?..berdasarkan kamus yang menerangkan kata yang sepadang keduanya murni / benar...menjadi tidak benar saat konteksnya tidak tepat memasukkannya...misal, ada untaian kata, gigitan ular itu berbisa...makna katanya menjadi racun yang benar...saat dimakani sebagai dapat, sudah tidak benar lagi terhadap konteksnya...
 
kata agama pun demikian...bahasa awalnya adalah din...salah satu maknanya selain yang dipahami secara umum adalah penataan..konteksnya apa yang ditata?..kehidupan...yang bagaimana? yang "selamat"..yang "damai"...itulah makna kata islam selain agama...kapan itu bisa demikian?..kalau manusianya sudah melakoni dalam suri tauladan yang ikhsan (berbudi luhur) dalam nilai-nilai kemanusiaan...tidak ada satu ayat pun yang menyatakan manusia bernama Ahmad dihadirkan untuk membawa agama...yang ada menjadi sur tauladan untuk memperbaiki akhlak manusia melalui suri tauladan..jadi, kalau ada DONGENG, walau pun dilantunkan sendiri oleh orang2 yang mengaku sudah ber-agama islam, ternyata ujud kelakuannya tidak sesuai dengan konteks kata penataan hidup dalam nilai2 kemanusiaan, silahkan bercermin, apakah yang dilakoni itu menjadikan image junjungannya baik atau cacat?...apa bedanya dengan yang mengaku kristen...ndak ada ayat yang menyatakan manusia bernama Yesus membawa
 agama Kristen...
 
sedangkan, leluhur bangsa ini, misalnya Prabu Silihwangi pun sama...hanya dipahami kebanyakan Beliau adalah seorang raja...apakah bentuk pemimpin hanya raja?...kenapa semua ini ada?...di sinilah perlu setiap diri bijak...kaji melalui keluasan hati...tidak terjebak keopada retorika kehidupan yang dihadirkan semata...karena dari itu semua, muaranya kepada bagaimana diri terus menyempurnakan nilai-nilai kemanusiaannya khan?...INILAH DALAM LELUHUR BANGSA INI DISEBUTKAN SEBAGAI PROSES MENSEJAJARKAN NILAI-NILAIKEHIDUPAN YANG BERANEKA WARNA...BUKAN PAJAJARAN KERAJAAN DOANG MAKNANYA...
 
apakah itu semua menjadi murni dalam konteks KADAR obyektivitas yang paling optimal atau sempurna, akhirnya kembali kepada keselarasan hati dan akal sehat setiap diri...di dalam inilah jadi sinyal, itu keduanya berkembang secara sehat atau bantet..kalau masih bantet,,,jemur aja lagi..he..he...he..he....
 
salam,
ss 
 
--- On Fri, 5/21/10, [hidden email] <[hidden email]> wrote:


From: [hidden email] <[hidden email]>
Subject: Re: [Spiritual-Indonesia] Inilah Kajian Al Ghazali tentang Konsep Ketuhanan Yesus
To: [hidden email]
Date: Friday, May 21, 2010, 10:23 PM


 



Islam adalah ad dien. Di buku terjemahan al quran, ad dien diterjemahkan sebagai agama. Muslim adalah orang (yang beragama) islam. Kalau menurut mas ss, yang konon katanya bisa melihat secara murni dan obyektif, islam itu apa?

Salam,
Prib
Rasanya aku memahami mas ss bukan dari tutur kata dan bahasanya, tapi dari aura tulisannya.





From: semar samiaji <kind_evil_06@ yahoo.com>
Sender: Spiritual-Indonesia @yahoogroups. com
Date: Fri, 21 May 2010 18:01:04 +0800 (SGT)
To: <Spiritual-Indonesia @yahoogroups. com>
ReplyTo: Spiritual-Indonesia @yahoogroups. com
Subject: Re: [Spiritual-Indonesi a] Inilah Kajian Al Ghazali tentang Konsep Ketuhanan Yesus

 






he..he..he.. .benar atau salah bukan tujuan perdiskusian. ..menempatkan pada tempat dan porsinya di dalam itulah akan selalu memunculkan obyektivitas, terelpas apakah manusianya mau menerima atau menolaknya.. .
 
saya nukilkan kalimat yang sebelumnya "contoh sederhana saja, kata nasrani dan muslim apakah itu bermakna agama?"...Masne tanggapi "nasrani dan moslem menurut saya tetap bermakna agama karena kata itu muncul stelah ada orang beragama yg menyebut nasrani dan moslem"...jika kita mau buka makna kata merujuk kepada awalnya...ndak ada istilah agama dalam konteks nasrani dan moslem...silahkan Masne kasih saya rujukannya ada di mana?..kecuali, itu murni karena ASUMSI dari apa yang Mas sampaikan sendiri khan?...
 
silahkan buka semua rujukan sejak kapan manusia yang menjadi junjungan dari kedua bentuk keyakinan itu menyatakan itu adalah agama?...silahkan tunjukkan menurut Mas...jadi rujukannya BUKAN pengakuan dari orang2 yang mengaku di dalam setiap agama semata...di sinilah upaya MEMURNINKAN apa adanya...termasuk bagi mereka yang tidak beragama tidak sekedar memahami dari sudiut pandangnya saja...
 
melalui itu baru nilai2 obyektivitas akan muncul semakin tajam dan terpercaya, SEPANJANG..akal sehat dan hati nurani manusia itu tidak bantet..he.. he..he..he. .he...
 
salam,
ss
 


--- On Fri, 5/21/10, Indra <indra@padma. co.id> wrote:


From: Indra <indra@padma. co.id>
Subject: Re: [Spiritual-Indonesi a] Inilah Kajian Al Ghazali tentang Konsep Ketuhanan Yesus
To: Spiritual-Indonesia @yahoogroups. com
Date: Friday, May 21, 2010, 4:50 PM


 


ada benarnya juga,
tapi latar belakang orang beragama yg didoktrin dari lahir tidak bisa lepas begitu saja.
seperti doktrin 10+10=20 (yg untungnya semua sama)
pasti yg kepikiran itu dulu dibandingkan orang mikir apakah itu bilangan biner atau decimal.
ok deh kembali ke kontek.
 
nasrani dan moslem menurut saya tetap bermakna agama karena kata itu muncul stelah ada orang beragama yg menyebut nasrani dan moslem. Beda dengan politisi dan rakyat itu bermakna kewarganegaraan.
 
salah atau benar itu tergantung dari sudut mana kita lihat
 
Indra
 
 
 
 

----- Original Message -----
From: semar samiaji
To: Spiritual-Indonesia @yahoogroups. com
Sent: Friday, May 21, 2010 2:09 PM
Subject: Re: [Spiritual-Indonesi a] Inilah Kajian Al Ghazali tentang Konsep Ketuhanan Yesus

 






he..he..he.. .mosok sich??...he. .he..he.. he...coba baca baik2 yang Masne tuliskan di bawah...koq saya menangkapnya, kalau memang benar2 merujuk kepada sesuatu yang berlaku bagi siapa pun, tidak mengherankan jika setiap perdiskusian akan dipengaruhi latar belakang kehidupan setiap peserta diskusinya.. .
 
belum tentu yang mengaku nasrani atau muslim atau di luar dari keduanya PAHAM isi yang PALING obyektif dari apa yang diyakininya dengan menempatkan pada nilai2 kemanusiaannya. ....contoh sederhana saja, kata nasrani dan muslim apakah itu bermakna agama?...jika perdiskusian di buka dan dipaparkan konteksnya adalah MENEMPATKAN pada pemaknaan yang tepat dalam konteks yang sesuai...tidak memandang apakah manusia itu beragama atau tidak khan?...di atas itulah RASA EGO yang memastikan bagi setiap diri...dan untuk yang terakhir ini LEBIH banyak diarahkan kepada orang atau pihak lain dari pada kepada dirinya sendiri khan?....makanya, jadi "hingar bingar"...he. .he..he.. he.he...
 
salam,
ss

--- On Fri, 5/21/10, Indra <indra@padma. co.id> wrote:


From: Indra <indra@padma. co.id>
Subject: Re: [Spiritual-Indonesi a] Inilah Kajian Al Ghazali tentang Konsep Ketuhanan Yesus
To: Spiritual-Indonesia @yahoogroups. com
Date: Friday, May 21, 2010, 1:14 PM


 


Sebetulnya yg bisa mengkaji Agama adalah orang yg tidak beragama.
Kalau masih melekat salah satu agama maka kajiannya pasti lebih berdasar kepada agama yg dianutnya.
Tapi semua tentu berbalik kepada pembacanya.
Bila Nasrani pasti kajian itu berasa tidak pas, bila muslim pasti dianggap lebih pas karena dasarnya sama.
 
Padahal semua agama itu pasti buatan manusia diluar kepercayaan beberapa orang itu berdasar kata 2 "Tuhan"
Dan kitab suci orang beragamapun sama sama buatan manusia yg pada perkembangannya saling "menyempurnakan" dan masing masing pengikutnya secara membabibuta menganggap kitabnya yg paling baik.
 
Yah begitu deh, Buku bacaan karangan orang Israel dan Arab kok diperdebatkan.
Dasar manusia ber"agama"
 
Indra
 
 


.











     
12
Loading...