Quantcast

Kejawen Islam

classic Classic list List threaded Threaded
28 messages Options
12
Reply | Threaded
Open this post in threaded view
|  
Report Content as Inappropriate

Kejawen Islam

Mas Dipo

Mari kita mengutip satu tembang Jawa
Tak uwisi gunem iki                      saya akhiri pembicaraan ini
Niyatku mung aweh wikan           saya hanya ingin memberi tahu
Kabatinan akeh lire                      kabatinan banyak macamnya
Lan gawat ka liwat-liwat              dan artinya sangat gawat
Mulo dipun prayitno                      maka itu berhati-hatilah
Ojo keliru pamilihmu                     Jangan kamu salah pilih
Lamun mardi kebatinan                  kalau belajar kebatinan

Tembang ini menggambarkan nasihat seorang tua (pinisepuh) kepada mereka yang ingin mempelajari kabatinan cara kejawen. Kiranya perlu dipahami bahwa tujuan hakiki dari kejawen adalah berusaha mendapatkan ilmu sejati untuk mencapai hidup sejati, dan berada dalam keadaan harmonis hubungan antara kawula (manusia) dan Gusti (Pencipta) ( jumbuhing kawula Gusti ) /pendekatan kepada Yang Maha Kuasa secara total.

Keadaan spiritual ini bisa dicapai oleh setiap orang yang percaya kepada Tuhan, yang mempunyai moral yang baik, bersih dan jujur. beberapa laku harus dipraktekkan dengan kesadaran dan ketetapan hati yang mantap. Pencari dan penghayat ilmu sejati diwajibkan untuk melakukan sesuatu yang berguna bagi semua orang serta  melalui kebersihan hati dan tindakannya. Cipta, rasa, karsa dan karya (kuasa) harus baik, benar, suci dan ditujukan untuk mamayu hayuning bawono. Ati suci jumbuhing Kawulo Gusti : hati suci itu adalah hubungan yang serasi antara Kawulo dan Gusti,  kejawen merupakan aset dari orang Jawa tradisional  yang berusaha memahami dan mencari makna dan  hakekat hidup yang mengandung nilai-nilai.

Dalam budaya jawa dikenal adanya simbolisme, yaitu suatu faham yang menggunakan lambang atau simbol untuk membimbing pemikiran manusia kearah pemahaman terhadap suatu hal secara lebih dalam. Manusia mempergunakan simbol sebagai media penghantar komunikasi antar sesama dan segala sesuatu yang dilakukan manusia merupakan perlambang dari tindakan atau bahkan karakter dari manusia itu selanjutnya. Ilmu pengetahuan adalah simbol-simbol dari Tuhan, yang diturunkan kepada manusia, dan oleh manusia simbol-simbol itu ditelaah dibuktikan dan kemudian diubah menjadi simbol-simbol yang lebih mudah difahami agar bisa diterima oleh manusia lain yang memiliki daya tangkap yang berberda-beda.

Biasanya sebutan orang Jawa adalah orang yang hidup di wilayah sebelah timur sungai Citanduy dan Cilosari. Bukan berarti wilayah di sebelah barat-nya bukan wilayah pulau Jawa. Masyarakat Jawa adalah masyarakat yang menjunjung tinggi rasa kekeluargaan dan suka bergotong royong dengan semboyannya “saiyeg saekoproyo “ yang berarti sekata satu tujuan.

Kisah suku Jawa diawali dengan kedatangan seorang satriya pinandita yang bernama Aji Saka, sampai kemudian satriya itu menulis sebuah sajak yang kemudian sajak tersebut diakui menjadi huruf jawa dan digunakan sebagai tanda dimulainya penanggalan tarikh Caka.

Kejawena dalah faham orang jawa atau aliran kepercayaan yang muncul dari masuknya berbagai macam agama ke jawa. Kejawen mengakui adanya Tuhan Gusti Allah tetapi juga mengakui mistik yang berkembang dari ajaran tasawuf agama-agama yang ada.

Tindakan tersebut dibagi  tiga bagian yaitu tindakan simbolis dalam religi, tindakan simbolis dalam tradisi dan tindakan simbolis dalam seni. Tindakan simbolis dalam religi, adalah contoh kebiasaan orang Jawa yang percaya bahwa Tuhan adalah zat yang tidak mampu dijangkau oleh pikiran manusia, karenanya harus di simbolkan agar dapat di akui keberadaannya misalnya dengan menyebut Tuhan dengan Gusti Ingkang Murbheng Dumadi, Gusti Ingkang Maha Kuaos, Hyang Manon dan sebagainya.

Tindakan simbolis dalam tradisi dimisalkan dengan adanya tradisi upacara kematian yaitu medo’akan orang yang meninggal pada tiga hari, tujuh hari, empatpuluh hari, seratus hari, satu tahun, dua tahun, tiga tahun, dan seribu harinya setelah seseorang meninggal (tahlillan). Dan tindakan simbolis dalam seni dicontohkan dengan berbagai macam warna yang terlukis pada wajah wayang kulit;warna ini menggambarkan karakter dari masing-masing tokoh dalam wayang.

Perkembangan budaya jawa yang mulai tergilas oleh perkembangan teknologi yang mempengaruhi pola pikir dan tindakan orang jawa dalam kehidupan. Maka orang mulai berfikir bagaimana bisa membuktikan hal gaib secara empiris tersebut dengan menggunakan berbagai macam metode tanpa mengindahkan unsur kesakralan. Bahkan terkadang kepercayaan itu kehilangan unsur kesakralannya karena dijadikan sebagai obyek exploitasi dan penelitian.

Kebiasaan orang Jawa yang percaya bahwa segala sesuatu adalah simbol dari hakikat kehidupan, seperti syarat sebuah rumah harus memiliki empat buah soko guru (tiang penyangga) yang melambangkan empat unsur alam yaitu tanah, air, api, dan udara, yang ke empatnya dipercaya akan memperkuat rumah baik secara fisik dan mental penghuni rumah tersebut. Namun dengan adanya teknologi konstruksi yang semakin maju, keberadaan soko guru itu tidak lagi menjadi syarat pembangunan rumah. Dengan analisa tersebut dapat diperkirakan bagaimana nantinya faham simbolisme akan bergeser dari budaya jawa. Tapi bahwa simbolisme tidak akan terpengaruh oleh kehidupan manusia tapi kehidupan manusialah yang tergantung pada simbolisme. Dan sampai kapanpun simbolisme akan terus berkembang mengikuti berputarnya sangkakala.

Mangkunegara IV (Sembah dan Budiluhur)
Mangkunegara IV memiliki empat ajaran utama yang meliputi sembah raga, sembah cipta (kalbu), sembah jiwa, dan sembah rasa.

Sembah Raga
Sembah raga ialah menyembah Tuhan dengan mengutamakan gerak laku badaniah atau amal perbuatan yang bersifat lahiriah. Cara bersucinya sama dengan sembahyang biasa, yaitu dengan mempergunakan air (wudhu). Sembah yang demikian biasa dikerjakan lima kali sehari semalam dengan mengindahkan pedoman secara tepat, tekun dan terus menerus, seperti bait berikut:

Sembah raga puniku / pakartining wong amagang laku / sesucine asarana saking warih / kang wus lumrah limang wektu / wantu wataking wawaton

Sembah raga, sebagai bagian pertama dari empat sembah yang merupakan perjalanan hidup yang panjang ditamsilkan sebagai orang yang magang laku (calon pelaku atau penempuh perjalanan hidup kerohanian), orang menjalani tahap awal kehidupan bertapa (sembah raga puniku, pakartining wong amagang laku). Sembah ini didahului dengan bersuci yang menggunakan air (sesucine asarana saking warih). Yang berlaku umum sembah raga ditunaikan sehari semalam lima kali. Atau dengan kata lain bahwa untuk menunaikan sembah ini telah ditetapkan waktu-waktunya lima kali dalam sehari semalam (kang wus lumrah limang wektu). Sembah lima waktu merupakan shalat fardlu yang wajib ditunaikan (setiap muslim) dengan memenuhi segala syarat dan rukunnya (wantu wataking wawaton). Sembah raga yang demikian ini wajib ditunaikan terus-menerus tiada henti (wantu) seumur hidup. Dengan keharusan memenuhi segala ketentuan syarat dan rukun yang wajib dipedomani (wataking wawaton). Watak suatu
 waton (pedoman) harus dipedomani. Tanpa mempedomani syarat dan rukun, maka sembah itu tidak sah.

Sembah raga tersebut, meskipun lebih menekankan gerak laku badaniah, namun bukan berarti mengabaikan aspek rohaniah, sebab orang yang magang laku selain ia menghadirkan seperangkat fisiknya, ia juga menghadirkan seperangkat aspek spiritualnya sehingga ia meningkat ke tahap kerohanian yang lebih tinggi.

Sembah Cipta( Kalbu )
Sembah ini kadang-kadang disebut sembah cipta dan kadang-kadang disebut sembah kalbu, seperti terungkap pada Pupuh Gambuh bait 1 dan Pupuh Gambuh bait 11 berikut :
Samengkon sembah kalbu / yen lumintu uga dadi laku / laku agung kang kagungan narapati / patitis teteking kawruh / meruhi marang kang momong.

Apabila cipta mengandung arti gagasan, angan-angan, harapan atau keinginan yang tersimpan di dalam hati, kalbu berarti hati , maka sembah cipta di sini mengandung arti sembah kalbu atau sembah hati, bukan sembah gagasan atau angan-angan.
Apabila sembah raga menekankan penggunaan air untuk membasuh segala kotoran dan najis lahiriah, maka sembah kalbu menekankan pengekangan hawa nafsu yang dapat mengakibatkan terjadinya berbagai pelanggaran dan dosa (sucine tanpa banyu, amung nyunyuda hardaning kalbu).

Thaharah (bersuci) itu, demikian kata Al-Ghazali, ada empat tingkat.
Pertama,membersihkan hadats dan najis yang bersifat lahiriah.
Kedua,membersihkan anggota badan dari berbagai pelanggaran dan dosa.
Ketiga,membersihkan hati dari akhlak yang tercela dan budi pekerti yang hina.
Keempat,membersihkan hati nurani dari apa yang selain Allah. Dan yang keempat inilah taharah pada Nabi dan Shiddiqin.

Jika thaharah yang pertama dan kedua menurut Al-Ghazali masih menekankan bentuk lahiriah berupa hadats dan najis yang melekat di badan yang berupa pelanggaran dan dosa yang dilakukan oleh anggota tubuh. Cara membersihkannya dibasuh dengan air. Sedangkan kotoran yang kedua dibersihkan dan dibasuh tanpa air yaitu dengan menahan dan menjauhkan diri dari pelanggaran dan dosa. Thaharah yang ketiga dan keempat juga tanpa menggunakan air. Tetapi dengan membersihkan hati dari budi jahat dan mengosongkan hati dari apa saja yang selain Allah.

Sembah Jiwa
Sembah jiwa adalah sembah kepada Hyang Sukma ( Allah ) dengan mengutamakan peran jiwa. Jika sembah cipta (kalbu) mengutamakan peran kalbu, maka sembah jiwa lebih halus dan mendalam dengan menggunakan jiwa atau al-ruh. Sembah ini hendaknya diresapi secara menyeluruh tanpa henti setiap hari dan dilaksanakan dengan tekun secara terus-menerus, seperti terlihat pada bait berikut:
Samengko kang tinutur / Sembah katri kang sayekti katur / Mring Hyang Sukma suksmanen saari-ari / Arahen dipun kecakup / Sembahing jiwa sutengong.

Dalam rangkaian ajaran sembah Mangkunegara IV yang telah disebut terdahulu, sembah jiwa ini menempati kedudukan yang sangat penting. Ia disebut pepuntoning laku (pokok tujuan atau akhir perjalanan suluk). Inilah akhir perjalanan hidup batiniah. Cara bersucinya tidak seperti pada sembah raga dengan air wudlu atau mandi, tidak pula seperti pada sembah kalbu dengan menundukkan hawa nafsu, tetapi dengan awas emut (selalu waspada dan ingat/dzikir kepada keadaan alam baka/langgeng), alam Ilahi.

Betapa penting dan mendalamnya sembah jiwa ini, tampak dengan jelas pada bait berikut :
Sayekti luwih perlu / ingaranan pepuntoning laku / Kalakuan kang tumrap bangsaning batin / Sucine lan awas emut / Mring alaming lama amota.

Berbeda dengan sembah raga dan sembah kalbu, ditinjau dari segi perjalanan suluk, sembah ini adalah tingkat permulaan (wong amagang laku) dan sembah yang kedua adalah tingkat lanjutan. Ditinjau dari segi tata cara pelaksanaannya, sembah yang pertama menekankan kesucian jasmaniah dengan menggunakan air dan sembah yang kedua menekankan kesucian kalbu dari pengaruh jahat hawa nafsu lalu membuangnya dan menukarnya dengan sifat utama. Sedangkan sembah ketiga menekankan pengisian seluruh aspek jiwa dengan dzikir kepada Allah seraya mengosongkannya dari apa saja yang selain Allah.

Pelaksanaan sembah jiwa ialah dengan berniat teguh di dalam hati untuk mengemaskan segenap aspek jiwa, lalu diikatnya kuat-kuat untuk diarahkan kepada tujuan yang hendak dicapai tanpa melepaskan apa yang telah dipegang pada saat itu. Dengan demikian triloka (alam semesta) tergulung menjadi satu. Begitu pula jagad besar dan jagad kecil digulungkan disatupadukan. Di situlah terlihat alam yang bersinar gemerlapan. Maka untuk menghadapi keadaan yang menggumkan itu, hendaklah perasaan hati dipertebal dan diperteguh jangan terpengaruh apa yang terjadi. Hal yang demikian itu dijelaskan Mangkunegara IV pada bait berikut:
“Ruktine ngangkah ngukud / ngiket ngruket triloka kakukud / jagad agung ginulung lan jagad alit / den kandel kumandel kulup / mring kelaping alam kono.”

Sembah Rasa
Sembah rasa ini berlainan dengan sembah-sembah yang sebelumnya. Ia didasarkan kepada rasa cemas. Sembah yang keempat ini ialah sembah yang dihayati dengan merasakan intisari kehidupan makhluk semesta alam,  demikian menurut Mangkunegara IV.
Jika sembah kalbu mengandung arti menyembah Tuhan dengan alat batin kalbu atau hati seperti disebutkan sebelumnya, sembah jiwa berarti menyembah Tuhan dengan alat batin jiwa atau ruh, maka sembah rasa berarti menyembah Tuhan dengan menggunakan alat batin inti ruh. Alat batin yang belakangan ini adalah alat batin yang paling dalam dan paling halus yang menurut Mangkunegara IV disebut telenging kalbu (lubuk hati yang paling dalam) atau disebut wosing jiwangga (inti ruh yang paling halus).
Dengan demikian menurut Mangkunegara IV, dalam diri manusia terdapat tiga buah alat batin yaitu, kalbu, jiwa/ruh dan inti jiwa/inti ruh (telengking kalbu atau wosing jiwangga) yang memperlihatkan susunan urutan kedalaman dan kehalusannya.

Pelaksanaan sembah rasa itu tidak lagi memerlukan petunjuk dan bimbingan guru seperti ketiga sembah sebelumnya, tetapi harus dilakukan salik sendiri dengan kekuatan batinnya, seperti diungkapkan Mangkunegara IV dalam bait berikut:
Semongko ingsun tutur / gantya sembah lingkang kaping catur / sembah rasa karasa wosing dumadi / dadi wus tanpa tuduh / mung kalawan kasing batos.

Apabila sembah jiwa dipandang sebagai sembah pada proses pencapaian tujuan akhir perjalanan suluk (pepuntoning laku), maka sembah rasa adalah sembah yang dilakukan bukan dalam perjalanan suluk itu, melainkan sembah yang dilakukan di tempat tujuan akhir suluk. Dengan kata lain, seorang salik telah tiba di tempat yang dituju. Dan di sinilah akhir perjalanan suluknya. Untuk sampai di sini, seorang salik masih tetap dibimbing gurunya seperti telah disebut di muka. Setelah ia diantarkan sampai selamat oleh gurunya untuk memasuki pintu gerbang, tempat sembah yang keempat, maka selanjutnya ia harus mandiri melakukan sembah rasa.

Pada tingkatan ini, seorang salik dapat melaksanakan sendiri sembah rasa sesuai petunjuk-petunjuk gurunya. Pada tingkat ini ia dipandang telah memiliki kematangan rohani. Oleh karena itu, ia dipandang telah cukup ahli dalam melakukan sembah dengan mempergunakan aspek-aspek batiniahnya sendiri.

Di sini, dituntut kemandirian, keberanian dan keteguhan hati seorang salik, tanpa menyandarkan kepada orang lain. Kejernihan batinlah yang menjadi modal utama. Hal ini sesuai dengan wejangan Amongraga kepada Tambangraras dalam Centini bait 156. Sembah tersebut, demikian dinyatakan Amongraga, sungguh sangat mendalam, tidak dapat diselami dengan kata-kata, tidak dapat pula dimintakan bimbingan guru. Oleh karena itu, seorang salik harus merampungkannya sendiri dengan segala ketenangan, kejernihan batin dan kecintaan yang mendalam untuk melebur diri di muara samudera luas tanpa tepi dan berjalan menuju kesempurnaan. Kesemuanya itu tergantung pada diri sendiri, seperti terlihat pada bait berikut:
Iku luwih banget gawat neki / ing rarasantang keneng rinasa / tan kena ginurokake / yeku yayi dan rampung / eneng onengira kang ening / sungapan ing lautan / tanpa tepinipun / pelayaran ing kesidan / aneng sira dewe tan Iyan iku yayi eneng ening wardaya.


     
Reply | Threaded
Open this post in threaded view
|  
Report Content as Inappropriate

Re: Kejawen Islam

bustanus salatin
buku SATRIO PANINGIT, BENCANA NUSANTARA, MANUNGGALINGKAWULOGUSTI dalam UNIVERSALITAS KEAGAMAAN
ISBN:978-979-17824-0-1/barcode
 
Bab 10: Kajian Tafsir Huruf Muqota’ah: Pandangan Siti Jenar dan Husain ibnu Mansur al-Hallaj dalam Manunggaling Kawulo Gusti
 
Syekh Siti Jenar begitu sering dihubung-hubungkan dengan al-Husain ibnu Mansur al-Hallaj atau singkatnya Al-Hallaj saja, sufi Persia abad ke-10, yang sepintas lalu ajarannya mirip dengan Siti Jenar, karena ia memohon dibunuh agar tubuhnya tidak menjadi penghalang penyatuannya kembali dengan Tuhan. Adalah Al-Hallaj yang karena konsep satunya Tuhan dan dunia mengucapkan kalimat, “Akulah Kebenaran/ Anna al Haq,” yang menjadi alasan bagi hukuman matinya pada 922 Masehi di Baghdad. Seperti Syekh Siti Jenar pula, nama Al-Hallaj menjadi monumen keberbedaan dalam penghayatan agama, sehingga bahkan diandaikan bahwa jika secara historis Syekh Siti Jenar tak ada, maka dongengnya adalah personifikasi saja dari ajaran Al-Hallaj, bagi yang mendukung maupun yang menindas ajaran tersebut.
petikan atas kutipan dari Serat Siti Jenar yang diterbitkan oleh Tan Khoen Swie, Kediri, pada 1922:
Kawula dan gusti sudah ada dalam diriku, siang dan malam tidak dapat memisahkan diriku dari mereka. Tetapi hanya saat ini nama kawula-gusti itu berlaku, yakni selama saya mati. Nanti, kalau saya sudah hidup lagi, gusti dan kawula lenyap, yang tinggal hanya hidupku, ketenteraman langgeng dalam Ada sendiri.
Hai Pangeran Bayat, bila kau belum menyadari kebenaran kata-kataku maka dengan tepat dapat dikatakan, bahwa kau masih terbenam dalam masa kematian. Di sini memang banyak hiburan aneka warna. Lebih banyak lagi hal-hal yang menimbulkan hawa nafsu. Tetapi kau tidak melihat, bahwa itu hanya akibat pancaindera.
Itu hanya impian yang sama sekali tidak mengandung kebenaran dan sebentar lagi akan lenyap. Gilalah orang yang terikat padanya, tidak seperti Syeh Siti Jenar. Saya tidak merasa tertarik, tak sudi tersesat dalam kerajaan kematian. Satu-satunya yang kuusahakan, ialah kembali kepada kehidupan
Dalam pupuhnya, Syekh Siti Jenar merasa malu apabila harus berdebat masalah agama. Alasannya sederhana, yaitu dalam agama apapun, setiap pemeluk sebenarnya menyembah zat Yang Maha Kuasa. Hanya saja masing - masing menyembah dengan menyebut nama yang berbeda - beda dan menjalankan ajaran dengan cara yang belum tentu sama. Oleh karena itu, masing - masing pemeluk tidak perlu saling berdebat untuk mendapat pengakuan bahwa agamanya yang paling benar.
Syekh Siti Jenar juga mengajarkan agar seseorang dapat lebih mengutamakan prinsip ikhlas dalam menjalankan ibadah. Orang yang beribadah dengan mengharapkan surga atau pahala berarti belum bisa disebut ikhlas.
Manunggaling Kawula Gusti, Dalam ajarannya ini, pendukungnya berpendapat bahwa Syekh Siti Jenar tidak pernah menyebut dirinya sebagai Tuhan. Manunggaling Kawula Gusti dianggap bukan berarti bercampurnya Tuhan dengan Makhluknya, melainkan bahwa Sang Pencipta adalah tempat kembali semua makhluk. Dan dengan kembali kepada Tuhannya, manusia telah menjadi sangat dekat dengan Tuhannya.
Dan dalam ajarannya, 'Manunggaling Kawula Gusti' adalah bahwa di dalam diri manusia terdapat ruh yang berasal dari ruh Tuhan sesuai dengan ayat Al Qur'an yang menerangkan tentang penciptaan manusia (" Ketika Tuhanmu berfirman kepada malaikat: "Sesungguhnya Aku akan menciptakan manusia dari tanah. Maka apabila telah Kusempurnakan kejadiannya dan Kutiupkan kepadanya roh Ku; maka hendaklah kamu tersungkur dengan bersujud kepadanya (Shaad; 71-72)"). Dengan demikian ruh manusia akan menyatu dengan ruh Tuhan dikala penyembahan terhadap Tuhan terjadi.
Riwayat pertemuan Ibrahim ibn Sam’an dengan Husain bin Mansur al Hallaj ( Kutipan dari Buku Husain bin Manshur al Hallaj, karangan Louis Massignon)
Aku melihat al Hallaj pada suatu hari di masjid al Mansur: Aku memiliki 2 dinar dalam sakuku dan aku berpikir untuk menghabiskan uang itu untuk hal-hal yang melanggar hukum. Seseorang datang dan memintah sedekah.Dan Husain bin Mansur al Hallaj berkata:’ Ibnu Sam’an berikanlah sedekah  dengan apa yang kamu simpan di dalam jubahmu, aku terdiam dan menangis, ” oh syaikh,bagaimana engkau mengetahui hal itu?’’ Al Hallaj berkata:’ Setiap hati yang mengosongkan diri dari yang selain Alloh, dapat membaca kesadaran orang dan menyaksikan apa yang ghoib’’. Ibnu Sam’an berkata:’’ o,syaikh ajarilah aku sebuah hikmah’’. Kemudian berkata al Hallaj :’’Orang yang mencari Tuhan dibalik huruf miim dan ain akan menemukan Nya.Dan seseorang yang mencarinya dalam konsonan idhafah antara alif dan nun, orang itu akan kehilangan Dia. Karena Dia itu Maha Suci, di luar jangkauan pikiran dan diatas yang terselubung , yang berada di dalam diri setiap
 orang. Kembalilah kepada Tuhan, Titik Terakhir adalah Dia. Tidak ada “Mengapa” di hari akhir kecuali Dia.Bagi manusia ”MA/ yaitu miim dan ain” milik Dia berada dalam miim dan ain makna “”MA”” ini adalah Tuhan Maha Suci. Dia mengajak makhluk terbang menuju Tuhan. ”miim” membimbing ke Dia dari atas ke bawah. ”ain”membimbing ke Dia dari Jauh dan Luas.
 
Ilmu Huruf Muqota’ah
Ilmu huruf, yang didasarkan pada satu bahsa suci, tentulah memiliki sebuah fondasi mistis yang diperlukan. Orang bisa menemukan  doktrin ini dalam puisi mistis yang terkenal Ghulsyan-i Raz (Taman Mawar), karya Syabistari: ” Bagi orang yang jiwanya adalah manifestasi Tuhan yaitu al Qur’an, keseluruhan alam ini adalah huruf-huruf vokalNya dan substansinya adalah huruf konsonan Nya ” Pasal 200-209 puisi Ghulsyan-i Raz.
Abu Ishaq Quhistani, sufi Islam, menegaskan pentingnya ilmu huruf dengan menyatakan bahwa ” ilmu huruf adalah akar dari segala ilmu ”. Secara skematis ilmu huruf mengandung :

Simbolisme ketuhanan dan metafisika atau /metakosmik
Simbolisme universal / makrokosmik yang didasarkan pada korespondensi antara huruf-huruf dan benda astrologis (ruang angkasa/ planet/ lambang zodiak dll)
Simbolisme manusia dan individu yang didasarkan pada korespondensi fisiologis/organ tubuh
Jumlah huruf muqatta’ah (terpotong) ada 14 huruf yaitu :alif lam miim,ha miim, alif lam ra, tha ha,ha miim ain sin qaf, ya sin, kaf ha ya ‘ain shad, kaf dan nun. Kalau dirangkai keseluruhannya menjadi sebuah kalimat : Shiratu ‘aliyin haqqun namsikuhu (jalan Ali adalah kebenaran yang kita pegang). huruf muqatta’ah (terpotong) adalah huruf-huruf yang merupakan rumusan dialog antara Alloh swt dengan kekasihnya (para Nabi dan para Wali)
Apa Makna miim dan ain sehingga dapat menemukan Tuhan dan bertemu dengan Nya dan Mengapa ketika mencari Tuhan dibalik huruf alif dan nun maka tidak bisa bertemu dengan Nya?
Tafsir Miim (numerology Arabiyah)::

Huruf miim merupakan muhammad rosulillah atau Ahmad, yang merupakan pintu menuju Ahad yang merupakan wahdaniyah Allah. Perbedaan antara  Ahad dan Ahmad adalah huruf arab Miim (muhammad rosulillah - penutup jalur risalah dan kenabian)
Miim juga berarti malakuti / keagungan / penguasaan atas seluruh langit bumi, ayat Kursi merupakan ayat yang mengandung banyak huruf miim didalamya
Huruf miim bernilai 40, 40 hari khalwat dengan ikhlas dengan mengamalkan surat al ikhlas dan ayat Kursi (ayat yang banyak mengandung huruf miim /sujud jadi sujud adalah cara menggapai keagungan). Juga surat al ikhlas di awali dengan qulhuwa allohu ahad. Jadi perwujudan ahad di dunia adalah ahmad, ketika manusia menjadi ahmad maka merupakan tajalli/ penampakan sang Mahakuasa dalam diri manusia. Sekali lagi bedakan Ahmad dan Ahad terletak huruf miim.
Huruf miim membentuk, posisi sujud dalam solat, sujud merupakan posisi kedekatan dengan Alloh, bahkan sujud merupakan simbol dari wahdaniyah Allah. Metode untuk mendekat (muqorrobin/ kewalian) kepada Tuhan yang paling cepat adalah dengan sujud yang lama dalam Sholat. Hadits qudsi Allah berfirman : ” Barangsiapa memusuhi waliku sungguh kuumumkan perang kepadanya, tiadalah hamba Ku mendekat kepada Ku dengan hal hal yg fardhu- 17 rokaat, dan Hamba Ku terus mendekat kepada Ku dengan hal hal yg sunnah- 34 rokaat qobliyah dan bakdiyah- baginya hingga Aku mencintainya, bila Aku mencintainya maka aku menjadi telinganya yg ia gunakan untuk mendengar, dan matanya yg ia gunakan untuk melihat, dan menjadi tangannya yg ia gunakan untuk memerangi, dan kakinya yg ia gunakan untuk melangkah, bila ia meminta pada Ku niscaya kuberi permintaannya....” (shahih Bukhari hadits no.6137).
 
Tafsir Ain,Yaa,Sin,Nuun,Aliif (numerology Arabiyah):

Huruf ain bermakna sayidina Ali bin Abu tholib merupakan pintu gerbang keilmuan. Sesuai hadits Nabi yang menyatakan bahwa Muhammad rosulluloh adalah gudang ilmu dan Sayidina Ali adalah pintunya. Huruf ayn membentuk posisi rukuk dalam sujud, dalam riwayat asbabun nuzul quran ada ayat yang berkenaan dengan Ali bin abu thalib, yaitu orang yang rukuk kemudian dalam posisi rukuk dalam solat melakukan sedekah berupa cincin. Inilah ayat quran itu: Walimu hanyalah Allah, Rasul-Nya dan mereka yang beriman yang menegakkan salat, membayar zakat seraya rukuk. (QS. al-Mâ`idah: 55)
Kunci sholat yang merupakan adab tatakrama/ kepasrahaan total ila allohu ada di rukuk/ huruf ain, sujud/ huruf miim adalah kedekatan (muqorobin- fana asma dan tajalli asma), barangsiapa tidak tahu adab ( rukuknya)  maka tidak layak untuk dekat (muqorobin).
Huruf Ain bernilai 70.sedang huruf Ya bernilai 10 dan huruf Sin bernilai 60. jadi secara matematis yaitu 70(ain)= yaa(10)+sin(60) jadi Ya + Seen = Ain merupakan Quran dalam surat 36 adalah surat Ya Seen. ayat ke 58 dari surat Yasin adalah Salaamun Qawlam Mir Rabbir Raheem. Jadi 5+8=13, posisi huruf ke 13 dalam abjad Arab adalah huruf Miim/ Sujud. Jadi untuk mengerti Ain/ rukuk  kita harus mengerti tafsir huruf Yaa dan Tafsir huruf Sin. Dengan mengerti Yaa dan Sin kita akan sampai kepada Sayidina Ali bin Abu Tholib.
Kyai Kholil Bangkalan, salah seorang pencetak kyai besar Nahdlatul Ulama, selama perjalanan pesantren Keboncandi, Pasuruan-Sidogiri kyai kholil Bangkalan sewaktu muda selalu membaca YaSin, hingga khatam berkali-kali
Huruf Ya adalah akhir dari abjad Arab and Alif awal dari abjad Arab. Huruf  Ya/ hamba memimpin/cenderung ke arah Alif/ Alloh. Huwal Awwalu wa Hu wal Akhiru.
Rincian huruf Awwalu  :
Alif(1)+waw(6)+lam(30)=37ß-à3+7=10,(Ya=10),
10 ß-à1+0=1ß-àpertama.
·         Rincian huruf Akhiru :: Alif(1)+Kho(600)+Ro(200)= 801ß-à8+0 +1= 9 ß-à terakhir adalah 9, angka 9 dalam numerology arab adalah huruf Ta yang bermakna penyucian atau Tahara/penyucian dan bulan ke 9 dalam Arab/ Qomariah adalah bulan ramadhon yaitu bulan puasa
·         Penyucian kalbu dari kecintan diri dan dunia merupakan tingkat awal penyucian untuk bersuluk kepada Alloh. Sesungguhnya kotoran maknawi terbesar yang tidak bisa disucikan meskipun dengan tujuh lautan dan para nabi pun tidak mampu menghilangkannya adalah kotora kejahilan ganda (pura-pura tahu padahal tidak tahu). Kekeruhan ini mungkin akan memadamkan cahaya petunjuk dan meredupkan api kerinduan yang merupakan buraq untuk bermikraj mencapai berbagai maqom spiritual.( Imam Khomeini dalam Hakikat dan Rahasia Sholat)
·          dan Alif(1)+ Ta(9)=10ß-à (Ya=10=hamba) , nilai huruf (Ya=10), jadi seorang Hamba yaitu simbol Ya harus melakukan Puasa/ penyucian jiwa/ tazkiyah nafs simbol (Ta=9) untuk Alloh semata simbol (Alif=1) atau Hamba harus sabar dengan KetentuanNya atau nrimo ing pandum, karena hasil puasa Lillah Billah menjadikan orang sabar atau innalloha ma’ashobirin (Sesungguhnya Alloh bersama (MA terdiri huruf miim dan ain lihat al Baqarah:153 ) orang yang sabar. Lihat bersama adalah Ma yaitu ma’asshobirin. Disini terungkap rahasia mim dan ayn yaitu MA seperti yang diucapkan oleh Husain bin Mansur al Hallaj. jadi Sabar adalah kunci menemukan Tuhan. Para mufassir menafsirkan sabar dengan melakukan puasa. Pahala puasa hanya Alloh yang tahu. Artinya Hak menilai puasa langsung di tangan Alloh bukan di tangan para malaikat. Sabda Rosullulloh saw Puasa yang dilakukan khusus untuk-Ku/ puasa Lillah Billah dan cukuplah Aku sebagai pahalanya
·         Mempelajari Ilmu Ketuhanan akan menjadikan orang bersabar, seperti dialog Nabi Musa as dan Nabi Khidr as yaitu Bagaimana kamu dapat sabar terhadap persoalan yang kamu samasekali belum memiliki pengetahuan yang cukup tentangNya(QS 18:68). Barangsiapa menghadapi kesengsaraan dengan hati terbuka, menunjukkan kesabaran dengan penuh ketenangan dan martabat, termasuk dalam golongan orang terpilih dan bagian untuknya adalah Berikanlah kabar gembira (keberhasilan dan kejayaan) kepada orang yang sabar (QS 2:155),

Dalam Islam, kemampuan mengendalikan emosi dan menahan diri disebut sabar. Orang yang paling sabar adalah orang yang paling tinggi dalam kecerdasan emosionalnya. Ia biasanya tabah dalam menghadapi kesulitan. Ketika belajar orang ini tekun. Ia berhasil mengatasi berbagai gangguan dan tidak memperturutkan emosi-nya.
Gabungan rincian Awwalu dan Akhiru adalah Seorang Hamba (Ya=10=hamba) karena  Akhiru(9)+ Awwalu (1)=10ß-à (Ya=10=hamba) , jadi seorang Hamba menampung Asma Alloh yang lengkap dan memiliki potensi untuk menampakkan sifat ketuhanan
Huruf Sin bernilai 60 dalam numerology Arab, merupakan simbol dari sirr Muhammad, sirr adalah rahasia ketuhanan yang disimpan dalam diri manusia sebagai hamba. Huruf sin dalam INSAN. huruf alif nya adalah Alloh, huruf  sin adalah rahasia /sirr ketuhanan, 2 huruf nun adalah simbol hukum dunia dan akhirat yang merupakan representasi /perwakilan kitab suci al Qur’an.
Huruf Yaa/ simbol Hamba digunakan untuk memanggil seseorang atau menarik perhatian sesorang. Ya adalah simbol seorang Hamba menyembah dan menyebut Tuhannya Ya Alloh Ya Robbi dll.Yaa juga digunakan oleh Alloh memanggil Hambanya.Ya juga berarti simbol antara yang disembah dan menyembah, tetapi posisi Ya=10/ hamba selalu cenderung kepada Alif=1 atau Alloh karena Alloh sebagai Awwalu, dalam ilmu huruf,
Alif(1)+waw(6)+lam(30)=37ß-à3+7=10 adalah Yaa menyatu dengan Alif (10ß-à1+0=1) atau dibalik Yaa ada Alif atau di dalam Manusia ada Tuhan atau istilah Wahdatul Wujud nya Ibnu Arobi yaitu antara penyembah dan yang disembah itu sama tapi tidak serupa atau menurut istilah ajaran Syekh Siti Jenar, yaitu Manunggaling Kawula Gusti. "PERSAMAAN" antara manusia dan Allah. Hal inilah yang dimaksudkan dalam sabda Nabi saw.: "Sesungguhnya Allah menciptakan manusia dalam kemiripan dengan diriNya sendiri." Lebih jauh lagi Allah telah berfirman: "Hambaku mendekat kepadaKu sehingga Aku menjadikannya sahabatKu. Aku pun menjadi telinganya, matanya dan lidahnya." Juga Allah berfirman kepada Musa as.: "Aku pernah sakit tapi engkau tidak menjengukku!" Musa menjawab: "Ya Allah, Engkau adalah Rabb langit dan bumi; bagaimana Engkau bisa sakit?" Allah berfirman: "Salah seorang hambaKu sakit; dan dengan menjenguknya berarti engkau telah mengunjungiKu. "Memang ini adalah suatu
 masalah yang agak berbahaya untuk diperbincangkan, karena hal ini berada di balik pemahaman orang-orang awam. Seseorang yang cerdas sekalipun bisa tersandung dalam membicarakan soal ini dan percaya pada inkarnasi dan kersekutuan dengan Allah.
Tafsir huruf Nun dan Alif- Pencari Tuhan dibalik huruf alif dan nun maka tidak bisa bertemu dengan Nya::

Bernilai 50 dalam numerology Arab.
Tafsir huruf INSAN, memiliki 2 huruf nun merupakan simbol alam dunia/ jasad dan alam akhirat/ ruh/ jiwa. Ruh yang disucikan akan memperoleh Nur/ surga sedangkan Ruh yang dikotori akan memperoleh Nar/ neraka.
Tafsir Alif dan Nun: Penggambaran Simbolis Huruf dan Alif Nun merupakan lambang sebuah perahu (syariat) dan sebuah Jiwa/ individu /personal mengarungi lautan / medan ujian, kayuh/sampan ( membentuk huruf Alif) kiri kanan adalah wilayah pilihan manusia ( sunnatulloh adalah qadha’ qadar baik buruk) yang telah ditetapkan oleh Alloh arti simbol Alif. Individu yang sedang menaiki perahu ( simbol Nun), sampan/kayuh adalah alat/ pilihan yang akan mengerakkan jiwanya menuju 3 pilihan yaitu, pertama, arah perahu ke  kiri berarti ashabul syimal/ Nun menjadi Naar/ neraka, kedua arah perahu ke  kanan berarti ashabul yamin/ Nun menjadi Nur/cahaya, ketiga arah perahu tidak ke  kiri dan tidak ke kanan tetapi tengah berarti sabiqunal awwalun/ terdahulu mencapai tujuan - ini adalah golongan para pencinta yaitu menyembah karena kerinduan ingin bertemu dengan sang Khaliq – ini adalah jawaban isyarah tersembunyi dari Husain bin Manshur al Hallaj- yaitu para nabi
 dengan simbol miim (arti bathinnya adalah sujud) yaitu Muhammad saw dan ain (arti bathinnya adalah rukuk) yaitu sayidina Ali bin Abuthalib
Huruf Nun Mengingatkan Kita juga  kepada  Zunnun/ Nabi Yunus as yang naik perahu di tengah lautan dan ditelan Ikan karena meninggalkan Kaum nya sebelum ada perintah dari ALLOH swt.
Zikir Zunnun / N.Yunus  - doa keselamatan menghadapi medan ujian : wa dzan nuni idz dzahaba mughadziban fa dhanna an lan naqdiro alayhi fa nada fid dhulumati an laila antan subhanaka inni kuntu minadolimin fastajabna lahu wa najjaynahu minal ghammi wa kadzalika nunjil mukminina (Anbiya :87-88).
 
Kesimpulan:
·        Tafsir Yaa Sin akan membuka rahasia huruf ‘’MA’’ yaitu miim dan ain seperti yang dikatakan oleh Husain bin Mansur al Hallaj:
Quran dalam surat 36 adalah surat Ya Seen. ayat ke 58 dari surat Yasin adalah Salaamun Qawlam Mir Rabbir Raheem
“Rahasia Ketuhanan ada dalam diri manusia, agar manusia mampu menampakkan atau men-tajallikan Ketuhanan dalam dirinya maka perintah solat (Rukuk, Sujud) adalah sarana 'Manunggaling Kawula Gusti dan sodaqoh ( menebarkan hasil usaha kebenaran/ pengabdian masyarakat/ agen perubahan/ social agent) kepada sesama makhluk Tuhan (kesalehan sosial) yang merupakan perwujudan dari Salaamun Qawlam Mir Rabbir Raheem”
·         Tafsir YaaSin adalah simbol manusia sempurna yaitu hamba yang mampu menampung rahasia Alloh swt dan didalam sirr itu seorang penyembah dan disembah bertemu dan berdialog, ibarat sebuah pohon lengkap dengan pokoknya, cabangnya dan puncaknya. Imam al Baqir berkata: Maukah kamu akau beritahu pokok-pokok Islam, cabang dan puncaknya dan pintu kebaikan? Sulaiman bin Khalid berkata: Tentu, lalu jawab Imam al Baqir: Pokoknya adalah sholat, cabangnya adalah zakat, dan puncaknya adalah membela kaum tertindas dan menegakkan keadilan. Pintu kebaikan itu adalah :
1.      Puasa merupakan perisai api neraka
2.      Sedekah itu menghapus dosa
3.      Sholat di malam hari untuk berzikir
 
Tafsir Rukuk/Huruf Ain
Etika rukuk adalah meninggikan maqam rububiyah Nya yang agung, mulia dan merendahkan maqam ubudiyah seorang hamba yang lemah, faqir dan hina. Rukuk adalah awal ketundukkan dan sujud adalah puncaknya.Yang melakukan rukuk dengan sempurna dan benar akan menemukan keselarasan pada sujud. Imam Shadiq berkata” rukuk yang benar kepada Alloh adalah menghiasi dengan cahaya keindahan asma Nya. Rukuk adalah yang pertama dan sujud adalah yang kedua. Dalam rukuk ada adab penghambaan dan dalam sujud ada kedekatan/Qurb dengan Zat yang disembah. Simbol rukuk adalah hamba dengan hati tunduk kepada Alloh, merasa hina dan takut di bawah kekuasaan-Nya. Merendahkan anggota badan karena gelisah dan takut tidak memperoleh manfaat rukuk.
 
Tafsir Sujud/Huruf Mim
Sujud merupakan puncak ketundukan dan puncak kekhusyukan seorang hamba, sebaik-baik wasilah taqarrub ila Alloh, sebaik-baik posisi untuk mencapai cahaya-cahaya tajalli Asma  Alloh swt dan maqam Qurb dengan Nya. N. Saw bersabda : ”lamakanlah sujudmu”, sebab tiada amal yang lebih berat dan paling tak disukai oleh syetan saat melihat anak Adam sedang sujud, karena dia telah diperintahakan sujud dan dia tidak patuh. Sujud merupakan sebab mendekatnya hamba dengan sang Kholik. Wahai orang yang beriman, mintalah pertolongan dengan sabar dan solat, sesungguhnya Alloh bersama orang yang sabar (al Baqarah:153)
 
Tafsir Salam/Huruf Yaa Sin
Salam adalah salah satu nama Alloh. Arti Salam dari sisi Alloh adalah keselamatan zat, sifat, perbuatan-Nya. Adapun Zatnya terpelihara dari kelenyapan, perubahan dan dari segala kekurangan. Salam dari sisi Hamba adalah doa,yaitu memohon keselamatan kepada Alloh untuk orang yang kita ucapkan salam /selamat dari segala cobaaan dan bencana dunia akhirat. Salam juga berarti ungkapan Kepasrahan/ ketundukan kepada Sunnatulloh ( Quran Hadits). Menurut Imam Shadiq “salam adalah orang yang melaksanakan perintah Alloh dan melakukan sunnah Rosulillah dengan ikhlas (intinya Ahad dan Ahmad), juga selamat  dari bencana dunia dan akhirat. Salam juga bermakna penghormatan kepada hamba yang sholih (assalamu alaina wa ala ibadilahis sholihin) dan malaikat pencatat amal
 Al Futuhat al Makkiyah, Karangan Ibnu Aroby, merujuk empat perjalanan akal dalam bab 69 tentang rahasia rahasia shalat sebagai perjalanan spiritual manusia. Perintah sholat 51 rokaat kepada Nabi Muhammad saw saat isro miroj: Tuhan memerintahkan hambaNya itu supaya setiap Muslim setiap hari sembahyang limapuluh kali. Kemudian untuk umatnya menjadi 17 rokaat wajib di lima waktu dan sisanya 34 rokaat menjadi sunah muakkad- qobliyah dan bakdiya.
Mulla Shadra dalam bukunya al Asfar al Arba’ah mengatakan:
“Ketahuilah bahwa para pesuluk diantara orang Arif/ Irfan dan para Wali menempuh empat perjalanan akal :

Perjalanan makhluk kepada kebenaran –diskusi metafisika umum (min al khalq ila al Haq)
Pesuluk mempelajari dasar-dasar metafisika umum dan dalilnya.pesuluk cenderung pada kajian semantik dan metafisika dasar terhadap firman Ttuhan dalam Quran.

Perjalanan bersama kebenaran didalam  kebenaran- pengalaman metafisika khusus dengan pengalaman pribadi (bi al Haq fi al Haq)
Pesuluk akan melihat sifat dan namaNya yang tertinggi baik nama yang mewujudkan rahmatNya dan murkaNya. Hukum nama nama Alloh ini di dalam kejamakannya akan mewujud di dalam diri pesuluk.Hal ini dikenal dengan makam wahidiyah atau tujuh substansi halus (lataif). Pesuluk akan mengalami rasa takut dan harapan (al khauf wa al raja)

Perjalanan dari Kebenaran menuju makhluk  (min al Haq ila al al khalq)
Setelah mengalami fase peniadaan diri,pesuluk menerima karunia Tuhan dan kembali kepada kesadaran diri. Pesuluk menyaksikan penciptaan dan alam kejamakan dalam diri makhluk tetapi dengan mata yang lain, dengan pendengaran yang berbeda. Puncak perjalan ketiga membawa pesuluk menuju kesucian/Wilayah(kewalian)

Perjalanan bersama Kebenaran di dalam makhluk (bi al Haq fi al khalq)
Maqam penetapan hukum dan pembedaan dari baik dan buruk.ini adalah derajat kenabian,penetapan hukum dan kepemimpinan atas umat manusia yang berhubungan dengan urusan urusan mereka yang beragam dan berbeda-beda serta bagaimana mereka saling berinteraksi satu sama lain. seorang `arif tak akan benar-benar mencapai maqam spiritual tertinggi jika tidak memanifestasikan keimanan-puncak, yang telah diraihnya lewat dua perjalanan pertama, dalam bentuk concern sosial politik untuk mereformasi masyarakat dan membebaskan kaum tertindas dari rantai penindasannya.Tidak lain maqam penetapan hukum (legislatif) atau melibatkan diri dalam kemasyarakatan dan hubungan social, merupakan perwujudan penebaran salam kepada makhluk yaitu Salaamun Qawlam Mir Rabbir Raheem yang merupakan inti tafsir       Yaa Sin.

--- On Sun, 7/20/08, mang dipo <[hidden email]> wrote:

From: mang dipo <[hidden email]>
Subject: [Spiritual-Indonesia] Kejawen Islam
To: [hidden email]
Date: Sunday, July 20, 2008, 1:46 AM









Mari kita mengutip satu tembang Jawa
Tak uwisi gunem iki                      saya akhiri pembicaraan ini
Niyatku mung aweh wikan           saya hanya ingin memberi tahu
Kabatinan akeh lire                      kabatinan banyak macamnya
Lan gawat ka liwat-liwat              dan artinya sangat gawat
Mulo dipun prayitno                      maka itu berhati-hatilah
Ojo keliru pamilihmu                     Jangan kamu salah pilih
Lamun mardi kebatinan                  kalau belajar kebatinan

Tembang ini menggambarkan nasihat seorang tua (pinisepuh) kepada mereka yang ingin mempelajari kabatinan cara kejawen. Kiranya perlu dipahami bahwa tujuan hakiki dari kejawen adalah berusaha mendapatkan ilmu sejati untuk mencapai hidup sejati, dan berada dalam keadaan harmonis hubungan antara kawula (manusia) dan Gusti (Pencipta) ( jumbuhing kawula Gusti ) /pendekatan kepada Yang Maha Kuasa secara total.

Keadaan spiritual ini bisa dicapai oleh setiap orang yang percaya kepada Tuhan, yang mempunyai moral yang baik, bersih dan jujur. beberapa laku harus dipraktekkan dengan kesadaran dan ketetapan hati yang mantap. Pencari dan penghayat ilmu sejati diwajibkan untuk melakukan sesuatu yang berguna bagi semua orang serta  melalui kebersihan hati dan tindakannya. Cipta, rasa, karsa dan karya (kuasa) harus baik, benar, suci dan ditujukan untuk mamayu hayuning bawono. Ati suci jumbuhing Kawulo Gusti : hati suci itu adalah hubungan yang serasi antara Kawulo dan Gusti,  kejawen merupakan aset dari orang Jawa tradisional  yang berusaha memahami dan mencari makna dan  hakekat hidup yang mengandung nilai-nilai.

Dalam budaya jawa dikenal adanya simbolisme, yaitu suatu faham yang menggunakan lambang atau simbol untuk membimbing pemikiran manusia kearah pemahaman terhadap suatu hal secara lebih dalam. Manusia mempergunakan simbol sebagai media penghantar komunikasi antar sesama dan segala sesuatu yang dilakukan manusia merupakan perlambang dari tindakan atau bahkan karakter dari manusia itu selanjutnya. Ilmu pengetahuan adalah simbol-simbol dari Tuhan, yang diturunkan kepada manusia, dan oleh manusia simbol-simbol itu ditelaah dibuktikan dan kemudian diubah menjadi simbol-simbol yang lebih mudah difahami agar bisa diterima oleh manusia lain yang memiliki daya tangkap yang berberda-beda.

Biasanya sebutan orang Jawa adalah orang yang hidup di wilayah sebelah timur sungai Citanduy dan Cilosari. Bukan berarti wilayah di sebelah barat-nya bukan wilayah pulau Jawa. Masyarakat Jawa adalah masyarakat yang menjunjung tinggi rasa kekeluargaan dan suka bergotong royong dengan semboyannya “saiyeg saekoproyo “ yang berarti sekata satu tujuan.

Kisah suku Jawa diawali dengan kedatangan seorang satriya pinandita yang bernama Aji Saka, sampai kemudian satriya itu menulis sebuah sajak yang kemudian sajak tersebut diakui menjadi huruf jawa dan digunakan sebagai tanda dimulainya penanggalan tarikh Caka.

Kejawena dalah faham orang jawa atau aliran kepercayaan yang muncul dari masuknya berbagai macam agama ke jawa. Kejawen mengakui adanya Tuhan Gusti Allah tetapi juga mengakui mistik yang berkembang dari ajaran tasawuf agama-agama yang ada.

Tindakan tersebut dibagi  tiga bagian yaitu tindakan simbolis dalam religi, tindakan simbolis dalam tradisi dan tindakan simbolis dalam seni. Tindakan simbolis dalam religi, adalah contoh kebiasaan orang Jawa yang percaya bahwa Tuhan adalah zat yang tidak mampu dijangkau oleh pikiran manusia, karenanya harus di simbolkan agar dapat di akui keberadaannya misalnya dengan menyebut Tuhan dengan Gusti Ingkang Murbheng Dumadi, Gusti Ingkang Maha Kuaos, Hyang Manon dan sebagainya.

Tindakan simbolis dalam tradisi dimisalkan dengan adanya tradisi upacara kematian yaitu medo’akan orang yang meninggal pada tiga hari, tujuh hari, empatpuluh hari, seratus hari, satu tahun, dua tahun, tiga tahun, dan seribu harinya setelah seseorang meninggal (tahlillan). Dan tindakan simbolis dalam seni dicontohkan dengan berbagai macam warna yang terlukis pada wajah wayang kulit; warna ini menggambarkan karakter dari masing-masing tokoh dalam wayang.

Perkembangan budaya jawa yang mulai tergilas oleh perkembangan teknologi yang mempengaruhi pola pikir dan tindakan orang jawa dalam kehidupan. Maka orang mulai berfikir bagaimana bisa membuktikan hal gaib secara empiris tersebut dengan menggunakan berbagai macam metode tanpa mengindahkan unsur kesakralan. Bahkan terkadang kepercayaan itu kehilangan unsur kesakralannya karena dijadikan sebagai obyek exploitasi dan penelitian.

Kebiasaan orang Jawa yang percaya bahwa segala sesuatu adalah simbol dari hakikat kehidupan, seperti syarat sebuah rumah harus memiliki empat buah soko guru (tiang penyangga) yang melambangkan empat unsur alam yaitu tanah, air, api, dan udara, yang ke empatnya dipercaya akan memperkuat rumah baik secara fisik dan mental penghuni rumah tersebut. Namun dengan adanya teknologi konstruksi yang semakin maju, keberadaan soko guru itu tidak lagi menjadi syarat pembangunan rumah. Dengan analisa tersebut dapat diperkirakan bagaimana nantinya faham simbolisme akan bergeser dari budaya jawa. Tapi bahwa simbolisme tidak akan terpengaruh oleh kehidupan manusia tapi kehidupan manusialah yang tergantung pada simbolisme. Dan sampai kapanpun simbolisme akan terus berkembang mengikuti berputarnya sangkakala.

Mangkunegara IV (Sembah dan Budiluhur)
Mangkunegara IV memiliki empat ajaran utama yang meliputi sembah raga, sembah cipta (kalbu), sembah jiwa, dan sembah rasa.

Sembah Raga
Sembah raga ialah menyembah Tuhan dengan mengutamakan gerak laku badaniah atau amal perbuatan yang bersifat lahiriah. Cara bersucinya sama dengan sembahyang biasa, yaitu dengan mempergunakan air (wudhu). Sembah yang demikian biasa dikerjakan lima kali sehari semalam dengan mengindahkan pedoman secara tepat, tekun dan terus menerus, seperti bait berikut:

Sembah raga puniku / pakartining wong amagang laku / sesucine asarana saking warih / kang wus lumrah limang wektu / wantu wataking wawaton

Sembah raga, sebagai bagian pertama dari empat sembah yang merupakan perjalanan hidup yang panjang ditamsilkan sebagai orang yang magang laku (calon pelaku atau penempuh perjalanan hidup kerohanian), orang menjalani tahap awal kehidupan bertapa (sembah raga puniku, pakartining wong amagang laku). Sembah ini didahului dengan bersuci yang menggunakan air (sesucine asarana saking warih). Yang berlaku umum sembah raga ditunaikan sehari semalam lima kali. Atau dengan kata lain bahwa untuk menunaikan sembah ini telah ditetapkan waktu-waktunya lima kali dalam sehari semalam (kang wus lumrah limang wektu). Sembah lima waktu merupakan shalat fardlu yang wajib ditunaikan (setiap muslim) dengan memenuhi segala syarat dan rukunnya (wantu wataking wawaton). Sembah raga yang demikian ini wajib ditunaikan terus-menerus tiada henti (wantu) seumur hidup. Dengan keharusan memenuhi segala ketentuan syarat dan rukun yang wajib dipedomani (wataking wawaton). Watak suatu
 waton (pedoman) harus dipedomani. Tanpa mempedomani syarat dan rukun, maka sembah itu tidak sah.

Sembah raga tersebut, meskipun lebih menekankan gerak laku badaniah, namun bukan berarti mengabaikan aspek rohaniah, sebab orang yang magang laku selain ia menghadirkan seperangkat fisiknya, ia juga menghadirkan seperangkat aspek spiritualnya sehingga ia meningkat ke tahap kerohanian yang lebih tinggi.

Sembah Cipta( Kalbu )
Sembah ini kadang-kadang disebut sembah cipta dan kadang-kadang disebut sembah kalbu, seperti terungkap pada Pupuh Gambuh bait 1 dan Pupuh Gambuh bait 11 berikut :
Samengkon sembah kalbu / yen lumintu uga dadi laku / laku agung kang kagungan narapati / patitis teteking kawruh / meruhi marang kang momong.

Apabila cipta mengandung arti gagasan, angan-angan, harapan atau keinginan yang tersimpan di dalam hati, kalbu berarti hati , maka sembah cipta di sini mengandung arti sembah kalbu atau sembah hati, bukan sembah gagasan atau angan-angan.
Apabila sembah raga menekankan penggunaan air untuk membasuh segala kotoran dan najis lahiriah, maka sembah kalbu menekankan pengekangan hawa nafsu yang dapat mengakibatkan terjadinya berbagai pelanggaran dan dosa (sucine tanpa banyu, amung nyunyuda hardaning kalbu).

Thaharah (bersuci) itu, demikian kata Al-Ghazali, ada empat tingkat.
Pertama,membersihka n hadats dan najis yang bersifat lahiriah.
Kedua,membersihkan anggota badan dari berbagai pelanggaran dan dosa.
Ketiga,membersihkan hati dari akhlak yang tercela dan budi pekerti yang hina.
Keempat,membersihka n hati nurani dari apa yang selain Allah. Dan yang keempat inilah taharah pada Nabi dan Shiddiqin.

Jika thaharah yang pertama dan kedua menurut Al-Ghazali masih menekankan bentuk lahiriah berupa hadats dan najis yang melekat di badan yang berupa pelanggaran dan dosa yang dilakukan oleh anggota tubuh. Cara membersihkannya dibasuh dengan air. Sedangkan kotoran yang kedua dibersihkan dan dibasuh tanpa air yaitu dengan menahan dan menjauhkan diri dari pelanggaran dan dosa. Thaharah yang ketiga dan keempat juga tanpa menggunakan air. Tetapi dengan membersihkan hati dari budi jahat dan mengosongkan hati dari apa saja yang selain Allah.

Sembah Jiwa
Sembah jiwa adalah sembah kepada Hyang Sukma ( Allah ) dengan mengutamakan peran jiwa. Jika sembah cipta (kalbu) mengutamakan peran kalbu, maka sembah jiwa lebih halus dan mendalam dengan menggunakan jiwa atau al-ruh. Sembah ini hendaknya diresapi secara menyeluruh tanpa henti setiap hari dan dilaksanakan dengan tekun secara terus-menerus, seperti terlihat pada bait berikut:
Samengko kang tinutur / Sembah katri kang sayekti katur / Mring Hyang Sukma suksmanen saari-ari / Arahen dipun kecakup / Sembahing jiwa sutengong.

Dalam rangkaian ajaran sembah Mangkunegara IV yang telah disebut terdahulu, sembah jiwa ini menempati kedudukan yang sangat penting. Ia disebut pepuntoning laku (pokok tujuan atau akhir perjalanan suluk). Inilah akhir perjalanan hidup batiniah. Cara bersucinya tidak seperti pada sembah raga dengan air wudlu atau mandi, tidak pula seperti pada sembah kalbu dengan menundukkan hawa nafsu, tetapi dengan awas emut (selalu waspada dan ingat/dzikir kepada keadaan alam baka/langgeng) , alam Ilahi.

Betapa penting dan mendalamnya sembah jiwa ini, tampak dengan jelas pada bait berikut :
Sayekti luwih perlu / ingaranan pepuntoning laku / Kalakuan kang tumrap bangsaning batin / Sucine lan awas emut / Mring alaming lama amota.

Berbeda dengan sembah raga dan sembah kalbu, ditinjau dari segi perjalanan suluk, sembah ini adalah tingkat permulaan (wong amagang laku) dan sembah yang kedua adalah tingkat lanjutan. Ditinjau dari segi tata cara pelaksanaannya, sembah yang pertama menekankan kesucian jasmaniah dengan menggunakan air dan sembah yang kedua menekankan kesucian kalbu dari pengaruh jahat hawa nafsu lalu membuangnya dan menukarnya dengan sifat utama. Sedangkan sembah ketiga menekankan pengisian seluruh aspek jiwa dengan dzikir kepada Allah seraya mengosongkannya dari apa saja yang selain Allah.

Pelaksanaan sembah jiwa ialah dengan berniat teguh di dalam hati untuk mengemaskan segenap aspek jiwa, lalu diikatnya kuat-kuat untuk diarahkan kepada tujuan yang hendak dicapai tanpa melepaskan apa yang telah dipegang pada saat itu. Dengan demikian triloka (alam semesta) tergulung menjadi satu. Begitu pula jagad besar dan jagad kecil digulungkan disatupadukan. Di situlah terlihat alam yang bersinar gemerlapan. Maka untuk menghadapi keadaan yang menggumkan itu, hendaklah perasaan hati dipertebal dan diperteguh jangan terpengaruh apa yang terjadi. Hal yang demikian itu dijelaskan Mangkunegara IV pada bait berikut:
“Ruktine ngangkah ngukud / ngiket ngruket triloka kakukud / jagad agung ginulung lan jagad alit / den kandel kumandel kulup / mring kelaping alam kono.”

Sembah Rasa
Sembah rasa ini berlainan dengan sembah-sembah yang sebelumnya. Ia didasarkan kepada rasa cemas. Sembah yang keempat ini ialah sembah yang dihayati dengan merasakan intisari kehidupan makhluk semesta alam,  demikian menurut Mangkunegara IV.
Jika sembah kalbu mengandung arti menyembah Tuhan dengan alat batin kalbu atau hati seperti disebutkan sebelumnya, sembah jiwa berarti menyembah Tuhan dengan alat batin jiwa atau ruh, maka sembah rasa berarti menyembah Tuhan dengan menggunakan alat batin inti ruh. Alat batin yang belakangan ini adalah alat batin yang paling dalam dan paling halus yang menurut Mangkunegara IV disebut telenging kalbu (lubuk hati yang paling dalam) atau disebut wosing jiwangga (inti ruh yang paling halus).
Dengan demikian menurut Mangkunegara IV, dalam diri manusia terdapat tiga buah alat batin yaitu, kalbu, jiwa/ruh dan inti jiwa/inti ruh (telengking kalbu atau wosing jiwangga) yang memperlihatkan susunan urutan kedalaman dan kehalusannya.

Pelaksanaan sembah rasa itu tidak lagi memerlukan petunjuk dan bimbingan guru seperti ketiga sembah sebelumnya, tetapi harus dilakukan salik sendiri dengan kekuatan batinnya, seperti diungkapkan Mangkunegara IV dalam bait berikut:
Semongko ingsun tutur / gantya sembah lingkang kaping catur / sembah rasa karasa wosing dumadi / dadi wus tanpa tuduh / mung kalawan kasing batos.

Apabila sembah jiwa dipandang sebagai sembah pada proses pencapaian tujuan akhir perjalanan suluk (pepuntoning laku), maka sembah rasa adalah sembah yang dilakukan bukan dalam perjalanan suluk itu, melainkan sembah yang dilakukan di tempat tujuan akhir suluk. Dengan kata lain, seorang salik telah tiba di tempat yang dituju. Dan di sinilah akhir perjalanan suluknya. Untuk sampai di sini, seorang salik masih tetap dibimbing gurunya seperti telah disebut di muka. Setelah ia diantarkan sampai selamat oleh gurunya untuk memasuki pintu gerbang, tempat sembah yang keempat, maka selanjutnya ia harus mandiri melakukan sembah rasa.

Pada tingkatan ini, seorang salik dapat melaksanakan sendiri sembah rasa sesuai petunjuk-petunjuk gurunya. Pada tingkat ini ia dipandang telah memiliki kematangan rohani. Oleh karena itu, ia dipandang telah cukup ahli dalam melakukan sembah dengan mempergunakan aspek-aspek batiniahnya sendiri.

Di sini, dituntut kemandirian, keberanian dan keteguhan hati seorang salik, tanpa menyandarkan kepada orang lain. Kejernihan batinlah yang menjadi modal utama. Hal ini sesuai dengan wejangan Amongraga kepada Tambangraras dalam Centini bait 156. Sembah tersebut, demikian dinyatakan Amongraga, sungguh sangat mendalam, tidak dapat diselami dengan kata-kata, tidak dapat pula dimintakan bimbingan guru. Oleh karena itu, seorang salik harus merampungkannya sendiri dengan segala ketenangan, kejernihan batin dan kecintaan yang mendalam untuk melebur diri di muara samudera luas tanpa tepi dan berjalan menuju kesempurnaan. Kesemuanya itu tergantung pada diri sendiri, seperti terlihat pada bait berikut:
Iku luwih banget gawat neki / ing rarasantang keneng rinasa / tan kena ginurokake / yeku yayi dan rampung / eneng onengira kang ening / sungapan ing lautan / tanpa tepinipun / pelayaran ing kesidan / aneng sira dewe tan Iyan iku yayi eneng ening wardaya.
 














     
Reply | Threaded
Open this post in threaded view
|  
Report Content as Inappropriate

Re: Kejawen Islam ( AJI PAMELENG )

bambang satrio
RAHAYU

Salam Kenal Mang Dipo dan Mas Bus.
Hanya sekedar menambahkan tentang asal usul KEJAWEN ISLAM, semoga
ada gunanya buat rekan-rekan SI semua :


   AJI PAMELENG

Tegesipun aji = ratu, pameleng = pasamaden; mengku pikajeng :
tandaning sedya ingkang luhur piyambak. Dene empaning pandamelan wau
winastan manekung, pujabrata, mesu budi, mesu cipta, ngeningaken
utawi angluhuraken paningal, matiraga lan sasaminipun.

Papan ingkang kangge nindakaken wau panepen, panekungan, pamujan,
pamurcitan, pamursitan, pahoman, paheningan lan sanes-sanesipun.
Dene wedharing kawruh winastan daiwan, dawan, tirtaamerta,
tirtakamandhanu, tirtanirwala, mahosadi, kawasanan, kawaspadan,
kawicaksanaan, sastracetha, utawi sastrajendrayuningrat pangruwating
diyu lan sapanunggalanipun.

Menggah pigunanipun kawruh lan pandamel wau, perlu kangge sarananing
panembah murid manggih kawilujengan, margi saged anindakaken dhateng
sawarnaning pandamel sae, punapadene kangge sarana duk kita darbe
sedya nunuwun kanugrahaning gesang kita pribadi (Pangeran), inggih
nunuwun bab punapa kemawon ingkang limrah kenging linampahan saking
pandamel kita ingkang boten tilar murwat.

Wondene purwanipun ing jagad teka wonten kawruh pasamaden, bilih
miturut saking tembung-tembungipun, sanyata kathah ingkang nagngge
basa Sansekrit; yen makaten tetela manawi wimbaning kawruh pasamaden
wau saking tumitising kawicaksananipun bangsa Indhu ing jaman kina
makina, ingkang sampun boten kasumerepan petang ewoning taun.
Bokmanawi kemawon papantaranipun kalihan nalika bangsa Indhu
amurwani iyasa candhi dalah reca-recanipun. Dene kawruh wau ing
sakawit inggih namung kangge bangsa Indhu, boten nawang bangsa Indhu
ingkang agami punapa kemawon, katamtokaken mesthi ngrasuk pasamaden.
Awit inggih namung kawruh pasamaden punika ingkang dados mukaning
saliring kawruh sajagad, lan ugi dados pangajenging piwulan agami.

Ing ngalami lami bangsa Indhu sami lumeber dhateng ing Tanah Jawi
lan sanes sanesipun, serta sami anggelaraken agaminipun tuwin kawruh
sanes sanesipun; makaten ugi kawruh pasamaden inggih boten kantun.
Kawruh pamasaden wonten ing Tanah Jawi saget ngrembaka tuwuhipun,
margi bangsa Jawi tan pilih drajad sami remen puruita lan saged
nandangaken dating pangolahing kawruh punika, awit kawruh wau saget
nocoki kalihan dhadhasaring pamanahipun titiyang Jawi, mila kalayan
gampil rumasukipun wonten ing balung sungsuming titiyang Jawi.
Kasembuh malih saking kathahing bangsa Indhu kados sinuntak sami
angajawi, nedya anggelar agami Jawi lan kawruh kawicaksananipun.
Bebasan sakedeping netra, bangsa Jawi ing sa'indhengipun maratah
sampun sami angrasuk agami Indhu, lan ugi sampun sami saget
ngraosaken kabegjan, kamulyan, kawilujengan lan sasaminipun, margi
saking wohing kawruh pandamel wau.

Ing wusana katungka dhatengipun titiyang bangsa Arab sami lumebet
ing Tanah jawi, ingkang ugi ambekta kawruh lan agaminipun Mohammad,
kasebut agami Islam, temah nyunyuda tumangkaring agami Indhu, sebab
lajeng wonten ingkang angrasuk agami Islam. Namung kemawon wedharing
agami Islam boten andarbeni kawruh pasamaden, kados kasebut ing
nginggil.

Sareng golonganipun tiyang Islam sampun saget ngendhih Nagari,
inggih punika adeging Karaton Bintara (Demak), ing ngriku lajeng
angawisi kalayan kenceng, titiyang Jawi boten kenging anindakaken
kawruh pasamaden, mekaten ugi sami kinen nilar agaminipun lami,
serta kedah santun angrasuk agami Islam.

Ananging boten ta manawi bangsa Jawi lajeng anut purun santun agami
Islam sadaya, purunipun wau namung margi saking ajrih paukuman
wisesaning Nata, dados Islam-ipun wau namung wonten ing lahir
kemawon, utawi Islam pangaran-aran, yen batosipun taksih angrungkepi
agamipun lami. Milo bab kawruh pasamaden inggih taksih lajeng
katindakaken, ananging pamulang pamedharing kawruh pasamaden wau,
ingkang karan nama wejangan (wijang-wijang) sarana lampah
dhedhemitan, katindakaken ing wanci ndalu sasampunipun jam 12, ugi
papaning pamejang boten kenging kaubah wangon, kadosta ing ara-ara,
ing wana, ing lepen lan sasaminipun ing papan ingkang sepen.
Pamejangipun srana bisikan boten kenging kapireng ngasanes, sanadyan
suket godhong, kewan tuwin bangsanipun gegremetan kutu-kutu
walangataga ugi boten kenging miring, yen miring lajeng malih dados
manungsa. Mila linggihipun Kyai Guru ajeng-ajengan aben bathuk
kaliyan pun murid, serta sanget pamantos-mantosipun Kyai Guru, pun
murid boten kenging nularaken wewejanganipun (kawruhipun) dhateng
tiyang sanes, bilih dereng angsal palilah Guru, yen nerak bade
angsal wilalat manggih sapudendhaning Pangeran. Panindak ingkang
mekaten punika, purwanipun namung tetep kangge panjagi, supados
pamulanging kawruh pasamaden boten katupiksan dhateng pamarintahing
agami Islam. Sebab yen ngantos kasumerepan, tamtu manggih pidana.

Dumuginipun ing jaman samangke, sanadyan Nagari sampun boten
angarubiru dhateng wontenipun wewejangan kawruh pasamaden, nanging
panindaking wejangan wau taksih kalestantunaken sarana dhedhemitan
kados kawursita ing nginggil. Mila lajeng angsal paparab saking
panyedaning titiyang ingkang boten remen, utami tiyang ingkang
anglampahi sarengating agami Islam, bilih wontening wejangan kawruh
pasamaden wau lajeng kawastan ilmu klenik. Purwo saking tembung
klenik, lajeng angandhakaken tembung abangan lan putihan. Ingkang
kasebut abangan punika tiyang ingkang boten nindakaken saraking
agami Islam, dene putihan mastani tiyang Jawi ingkang teluh manjing
agami Islam sarta anglampahi sadaya sarak sarengating agami Islam
wau, inggih punika ingkang kasebut nama santri. Mila santri karan
putihan, margi miturut panganggenipun titiyang agami Islam, bilih
santri punika sarwo-sarwi langkung resik utawi suci tinimbang
kaliyan titiyang ingkang boten angrasuk agami Islam.

Mangsuli wontening kawruh pasamaden anggenipun sanget winados,
menggah ingkang dados sababipun kapretalakaken ing nginggil. Dene
yen saleresipun ingkang nama wados-wados wau pancen boten wonten;
dados inggih kenging-kenging kemawon kawulangaken dhateng sok
tiyanga, boten mawang nem sepuh, serta kenging kawejangaken ing
sawanci-wancinipun, uger tiyang wau pancen ambetahaken kawruh
pasamaden kasebat. Sebab wontenipun sadaya punika supados
kasumerepan dhateng ingakathah, langkung-langkung kawruh pasamaden
punika ingkang sanyata dados mukaning sadaya kawruh. Mila wajib
sinebar dados seserepaning tiyang nem sepuh wadarin ing
saindengipun, tanpa nawang andhap inggiling darajadipun.

Amarengi wahyaning mangsakala, wusana wonten kaelokaning lalampahan
ingkang boten kanyana-nyana; ing pawingkingipun bab kawruh pasamaden
wau lajeng muncul katampen dhateng tiyang Islam, margi yakin bilih
kawruh pasamaden wau, pancen musthikaning gagayuhan ingkang saged
andhatengaken ing kawilujengan, kamulyan, katentreman, lan
sasaminipun. Mila kawruh wau dening tiyang ingkang sampun suluh
papadhanging raosipun inggih punika Seh Sitijenar, ingkang ugi dados
pramugarining agami Islam apangkat Wali, lajeng kadhapuk ing ndalem
serat karanganipun, ingkang lajeng winastan daim, wirid saking
tembung daiwan kasebut ing nginggil. Punapadene lajeng kaewoaken
dados saperanganing panembah, sarana dipun wewahi tembungipun,
lajeng mungel : salat daim (salat - basa arab, daim saking daiwan
basa Sansekrit). Milanipun dipun wewahi basa arab, namung
kawigatosan kangge mikekahaken kapitadosanipun murid-muridipun
ingkang sampun sami necep agami Islam. Punapadene tembung salat
lajeng kapilah kalih prakawis. Sapisan salat 5 wekdal, kasebut
salat  sarengat, ateges panembah lahir. Kaping kalih salat daim,
punika panembahing batos; mangertosipun : anekadaken manunggaling
pribadinipun, utawi kasebut loroning atunggil.
Kitab karanganipun Seh Sitijenar wau lajeng kangge paugeraning
piwulang. Sareng sampun angsal kawigatosaning ngakathah, ing ngriku
salat 5 wekdal lan sarak agami sanes-sanesipun lajeng kasuwak boten
kawulangaken babar pisan. Ingkang pinindeng namung mumuruk
tumindaking salat daim kemawon. Mila titiyang Jawi ingkang suwau
manjing agami Islam, langkung-langkung ingkang dereng, lajeng sami
ambyuk maguru dhateng Seh Sitijenar, margi piwulangipun langkung
gampil, terang lan nyata.

Wondene purwanipun Seh Sitijenar kaserenan kawruh pasamaden, ingkang
mijeni Kyai Ageng Pengging, sebab Seh Sitijenar punika
mitradarmanipun Kyai Ageng Pengging. Kawruh pasamaden, dening Seh
Sitijenar lajeng katularaken Raden Watiswara, inggih Pangeran
Panggung, ingkang ugi apangkat Wali. Lajeng tunimbal dhateng Sunan
Geseng, inggih Ki Cakrajaya, tiyang asal saking Pagelen, ingkang
kacarios saderengipun dados Wali, Ki Cakrajaya wau pandamelanipun
anderes nitis gendhis. Salajengipun sumrambah kawiridaken dhateng
ingakatah. Makaten ugi sakabat-sakabatipun Seh Sitijenar ingkang
sampun kabuka raosipun, dening Seh Sitijenar kinen sami madeg
paguron amiridaken kawruh pasamaden wau. Sangsaya dangu sangsaya
ngrebda, anyuremaken panguwaosing para Wali, anggenipun amencaraken
piwulang agami Islam. Yen kalajeng-lajeng masjid saestu badhe suwung.

Ngawekani sampun ngantos wonten kadadosan ingkang makaten, temah
Kyai Ageng Pengging tuwin Seh Sitijenar sasekabatipun ingkang sami
pinejahan katigas jangganipun dening para Wali, saking dhawuhipun
Sultan Demak. Makaten ugi Pangeran Panggung boten kantun, kapidana
kalebetaken ing brama gesang-gesangan wonten samadyaning alun-alun
Demak, kangge pangewan-ewan murih titiyang sami ajrih, lajeng sami
mantuni utawi nglepeh piwulangipun Seh Sitijenar.

Kacariyos sariranipun Pangeran Panggung boten tumawa dening
mawerdining Hyang Brama, lajeng oncat medal saking salebeting latu
murub, nilar nagari Demak. Kanjeng Sultan Bintara tuwin para Wali
sami kablerengen kaprabawan katiyasaning Pangeran Panggung, temah
kamitenggengen kadi tugu sinukarta. Sareng sampun sawatawis tebih
tindakipun Sang Pangeran, Kanjeng Sultan tuwin para Wali saweg sami
enget bilih Pangeran Panggung kalis saking pidana, temah sami rumaos
kawon angsal sihing Pangeran. Katungka unjuking wadyabala, atur
uninga bilih Sunan Geseng, inggih Ki Cakrajaya, kesah anututi
lampahipun Pangeran Panggung. Ing ngriku Kanjeng Sultan katetangi
dukanipun, temah dhawahing bendu, para sakabat tuwin murid-muridipun
Seh Sitijenar ingkang kapikut lajeng sami pinejahan. Ingkang boten
kacepeng sami lumajar pados gesang.

Para sakabatipun Seh Sitijenar ingkang taksih wilujeng
kakantunanipun ingkang sami pejah, ugi taksih sami madeg paguron
nglestantunaken pencaring kawruh pasamaden, nanging mawi sislintru
tinutupan wuwulang sarengating agami Islam, murih boten ka'arubiru
dening para Wali pramugarining praja. Dene piwulangipun kados ing
ngandhap punika :

Pamulanging kawruh pasamaden ingkang lajeng karan salat daim,
karangkepan wuwulang salat 5 wekdal tuwin rukuning Islam sanes-
sanesipun malih. Wewejanganipun salat daim wau lajeng winastan
wiridan naksobandiyah, dene panindaking piwulang kawastan tafakur.
Saweneh wonten ingkang pamulangipun ing saderengipun para murid
nampi wiridan salat daim, langkung rumiyin kalatih lampah
dhidhikiran lan maos ayat-ayat. Wiwit punika wuwulangan pasamaden
lajeng wonten wanrni kalih, inggih punika :

1. Piwulang pasamaden wiwiridan saking para sekabatipun Seh
Sitijenar, ingkang sarana tinutupan utawi aling-aling sarak rukuning
agami Islam. Wuwulangan wau dumuginipun ing jaman samangke sampun
mleset saking jejer ing sakawit, mila para guru samangke, ingkang
sami miridaken kawruh pasamaden, ingkang dipun santuni nama
naksobandiyah utawi satariyah, nginten bilih kawruh wau wiwiridan
saking ngulami ing Jabalkuber (Mekah). Salajengipun para Kyai guru
wau, amastani guru klenik dhateng para ingkang sami miridaken kawruh
pasamaden miturut wawaton Jawi pipiridan saking Seh Sitijenar.
Punapadene para Kyai guru wau nyukani paparab nama Kiniyai,
pikajengipun : guru ingkang mulangaken ilmuning setan. Dene nama
Kyai, punika guru ingkang mulangaken ilmuning para nabi.

2. Piwulang pasamaden miturut Jawi, wiji saking Kyai Ageng
Pengging, ingkang kapencaraken dening Seh Sitijenar (ingkang ing
samangke karan klenik), punika ing sakawit, ingkang dados purwaning
piwulang, dumunung wonten panggulawenthahing wawatekan 5 prakawis,
kados ing ngandhap punika :

1. Setya tuhu utawi temen lan jujur.
2. Santosa, adil paramarta, tanggeljawab boten lewerweh.
3. Leres ing samubarang damel, sabar welas asih ing sasami,
boten ngunggul-unggulaken dhirinipun, tebih saking watak panganiaya.
4. Pinter saliring kawruh, langkung-langkung pinter ngecani
manahing sasami-sami, punapadene pinter angereh kamurkaning manah
pribadi, boten anguthuh melik anggendhong lali, margi saking
dayaning mas picis rajabrana.
5. Susila anor-raga, tansah nganggeni tatakrami, maweh
rereseping paningal tuwin sengseming pamiharsa, dhateng ingkang sami
kataman.

Lampah 5 prakawis wau kedah linampahan winantu ing pujabrata
anandangaken ulah samadi, inggih amesu cipta angeningaken
pranawaning paningal. Awit saking makaten punika mila tumrap
panindaking agami Jawi (Buda), bab kawruh pasamaden tuwin lampah 5
prakawis wau kedah kawulangaken dhateng sadaya titiyang enem sepuh
boten pilih andhap inggiling darajatipun. Mila makaten, sebab
musthikaning kawruh tuwin luhur-luhuring kamanungsan, punika bilih
tetep samadinipun, kuwasa anindakaken lampah 5 prakawis kados
kawursita ing nginggil. Temah kita manggen ing sasananing
katrenteman, dene wontening katentreman mahanani harja kerta lan
kamardikan kita sami. Yen boten makaten, ngantos sabujading jagad,
kita badhe nandhang papa cintraka, kagiles dening rodha jantraning
jagad, margi kacidraning manah kita pribadi.

Bab kawruh pasamaden ingkang lajeng karan wiridan naksobandiyah lan
satariyah, ingkang ing nguni wiwiridan saking Seh Sitijenar, sampun
ka'andharaken ing nginggil, namung kemawon tumandangipun boten
kawedharaken. Ing riki namung badhe anggelaraken lampah tumandanging
samadi sacara Jawi, ingkang dereng kacarobosan agami sanes, inggih
punika makaten :

Para nupiksa, mugi sampun kalintu panampi, bilih samadi punika
angicalaken rahsaning gesang utawi nyawanipun (gesangipun) medal
saking badan wadhag. Panampi makaten punika, purwanipun mirid saking
cariyos lalampahanipun Sri Kresna ing Dwarawati, utawi Sang Arjuna
yen angraga-suksma. Mugi kawuninganana, bilih cariyos makaten punika
tetep namung kangge pasemon utawi pralambang.

Ing samangke wiwit wedharaken lampahing samadi makaten : tembung
samadi = sarasa - rasa tunggal - maligining rasa - rasa jati - rasa
nalika dereng makarti. Dene makartining rasa jalaran saking
panggulawenthah utawi piwulang, punapadene pangalaman-pangalaman
ingkang tinampen utawi kasandhang ing sadinten-dintenipun. Inggih
makartining rasa punika ingkang kawastanan pikir. Saking dayaning
panggulawenthah, piwulang tuwin pangalaman-pangalaman wau, pikir
lajeng gadhah panganggep awon lan sae, temah anuwuhaken tatacara,
pamacak lan sanes-sanesipun ingkang lajeng dados pakulinan. Punapa
panganggep awon sae, ingkang sampun dados tata-cara margi sampun
dados pakulinan punika, yen awon inggih awon sayektos, yen sae
inggih sae temenan, punika dereng tamtu, jer punika namung
pakulinaning panganggep. Dene panganggep, boten yekti, tetep namung
ngenggeni pakulinaning tata-cara, dados inggih dede kajaten utawi
kasunyatan. Menggah pikajenganipun samadi ing riki, boten wonten
sanes namung badhe nyumerepi kajaten, dene sarananipun boten wonten
malih kajawi nyumerepi utawi anyilahaken panganggep saking
makartining rasa, kasebut sirnaning papan lan tulis. Inggih ing riku
punika jumenenging rasa jati kang nyata, kang yekti, kang weruh
tanpa tuduh. Wondene kasembadanipun kedah angendelaken ing
saniskara, sarana angereh solahing anggota (badan). Mangrehing
anggota wau ingkang langkung pikantuk kalihan sareyan malumah, saha
sidhakep utawi kalurusaken mangandhap, epek-epek kiwa tengen
tumempel ing pupu kiwa tengen, suku ingkang lurus, dalamakan suku
ingkang tengen katumpangaken ing dalamakan suku kiwa, mila lajeng
kasebut sidhakep suku (saluku) tunggal. Punapadene angendelna
ebahing netra (mripat), inggih punika ingkang kawastanan meleng.
Lampah makaten wau ingkang kuwasa ngendelaken osiking cipta
(panggagas), tuwin amuntu ilining rahsa, dene pancering paningal
kasipatna amandeng pucuking grana medal saking sa'antawising netra
kakalih, inggih punika ing papasu, dene pamandengipun kedah kalayan
angeremaken netra kakalih pisan.

Sasampunipun lajeng nata lebet wedaling napas (ambegan) makaten :
panariking napas saking puser kasengkakna minggah anglangkungi
cethak ingga dumugi ing suhunan (utek = embun-embunan), sarta mawi
kaendelna ing sawatawis dangunipun. Sumengkanipun napas wau
kadosdene darbe raos angangkat punapa-punapa, dene temenipun ingkang
kados kita angkat, punika ilining rahsa ingkang kita pepet saking
sumengkaning napas wau, menawi sampun kraos awrat panyangginipun
napas, inggih lajeng ka'edhakna kalayan alon-alon. Inggih patrap
ingkang makaten punika ingkang kawastanan sastracetha. Tegesipun
cetha = empaning kawruh, cetha = antebing swara cethak, inggih
cethaking tutuk kita punika. Mila winastan makaten, awit duk kita
mangreh sumengkaning napas anglangkungi dhadha lajeng minggah malih
anglangkungi cethak ingga dumugi suhunan. Menawi napas kita dipun
ereh, dados namung manut lampahing napas piyambak, tamtu boten saget
dumugi ing suhunan, margi saweg dumugi ing cethak lajeng sampun
medhak malih. Punapadene ugi winastan daiwan (dawan), pikajengipun :
mangreh lebet wedaling napas ingkang panjang lan sareh, sarwi
mocapaken mantra sarana kabatos kemawon, inggih punika mungel `hu'
kasarengan kalihan lumebeting napas, inggih panariking napas saking
puser, minggah dumugi ing suhunan. Lajeng `ya', kasarengan kalihan
wedaling napas, inggih medhaking napas saking suhunan dumugi ing
puser, minggah mandhaping napas wau anglangkungi dhadha lan cethak.
Dene, anggenipun kawastanan sastracetha, margi nalika mocapaken
mantra sastra kakalih : hu - ya, wedaling swara ingkang namung
kabatos wau, ugi kawistara saking dayaning cethak. (Ungeling mantra
utawi panebut kakalih : hu – ya, ing wiridan naksobandiyah kaewahan
dados mungel, hu – Allah, panebutipun ugi kasarengan lampahing
napas. Dene ing wiridan satariyah, panebut wau mungel : hailah –
haillolah, nanging tanpa angereh lampahing napas).

Menggah lebet medaling napas kados kasebut ing nginggil,
sa'angkatanipun namung kuwasa angambali rambah kaping tiga, mila
makaten, awit napas kita sampun boten kadugi manawi kinen
anandangana malih, jalaran sampun menggeh-menggeh. Dene manawi
sampun sareh, inggih lajeng ka'angkatana malih, makaten salajengipun
ngantos marambah-rambah sakuwawinipun, margi saya kuwawi dangu,
sangsaya langkung prayogi sanget. Dene sa'angkataning pandamel wau
kawastan : tripandurat, tegesipun tri = tiga, pandu = suci, rat =
jagad – badan – enggen, suraosipun : kaping tiga napas kita saget
tumameng ing ngabyantaraning ingkang Maha suci manggen ing
salebeting suhunan (ingkang dipun suwuni). Inggih punika ingkang
kabasakaken paworing kawula Gusti, tegesipun : manawi napas kita
sumengka, kita jumeneng gusti, yen tumedhak, wangsul dados kawula.
Bab punika para nupiksa sampun kalintu tampi ! Menggah ingkang dipun
wastani kawula gusti punika dede napas kita, nanging dayaning cipta
kita. Dados ulah samadi punika, pokokipun kita kedah amanjangaken
panjing wijiling napas (lebet wedaling napas), kalihan angeningaken
(ambeningaken) paningal, sebab paningal punika kadadosan saking
rahsa.

Wondene patraping samadi kados kasebut ing nginggil wau, ugi kenging
karancagaken, uger kita tansah lumintu tanpa pedhot mangeh panjing
wijiling napas, kalihan lenggah, lumampah, utawi nyambutdamel inggih
kedah boten kenging tilar mangreh lebet wedaling napas wau, ingkang
sarana mocapaken mantra mungel : hu – ya, kados ingkang kajarwa ing
nginggil.

Kajawi punika, wirid saking tembung daiwan punika ugi taksih darbe
maksud sanesipun malih, inggih punika ateges panjang tanpa ujung,
utawi ateges langgeng. Dene pikajengipun amastani bilih wontening
napas kita punika sanyata wahananing gesang kita ingkang langgeng,
inggih wontening ambegan kita. Dene ambegan punika, sanyata
wontening angin ingkang tansah mlebet medal tanpa kendel, ingkang
sasarengan kalihan keketeg panglampahing rah (roh). Bilih kakalih
wau kendel boten makarti nama pejah, inggih risaking badan wadhag
wangsul dados babakalan malih. Mila sayogyanipun lampahing napas
inggih ambegan kita ingkang tansah mlebet medal tanpa kendel, kedah
kapanjang-panjangana lampahipun, murih panjanga ugi umur kita, temah
saget awet wonten ing donya tutug panyawangipun dhateng anak, putu,
buyut, canggah, wareng, ingkang babranahan.

Wontenipun andharan ing nginggil, mratelakaken bilih kawruh
pasamaden punika sanyata langkung ageng pigunanipun, mila lajeng
sinebut sastrajendrayuningrat pangruwating diyu. Tegesipun sastra =
empaning kawruh, jendra = saking panggarbaning tembung harja endra.
Tegesipun harja = raharja, endra = ratu – dewa, yu = rahayu –
wilujeng, ningrat = jagad – enggen – badan. Suraosipun :
Musthikaning kawruh ingkang kuwasa amartani ing karahayon, kaharjan,
katentreman lan sapatunggalipun. Dene tegesesipun pangruwating diyu
= amalihaken diyu; dene diyu = danawa – raksasa – asura – buta,
punika kangge pasemoning piawon, penyakit, rereget, babaya,
pepeteng, kabodhohan lan sanesipun. Dados diyu punika
kosokwangsulipun dewa, engkang ateges pinter, sae, wilujeng lan
sapanunggilipun. Mengku suraos amastani ingkang saget anyirnakaken
saliring piawon tuwin samubarang babaya pekewed. Mangertosipun,
sinten ingkang tansah ajeg lumintu anandangaken ulah samadi, punika
bilih ing suwaunipun tiyang awon, lajeng sirna piawonipun, malih
dados tiyang sae lampahipun. Tiyang sakit sirna sakitipun, dados
saras, tiyang murka daksiya lajeng narimah sabar, welasasih. Tiyang
goroh lajeng dados temen. Tiyang bodho dados pinter. Tiyang pinter
dados pinter sanget. Makaten ugi tiyang golongan sudra dados waesia,
waesia dados satriya, satriya dados brahmana, brahmana sumengka
pangawak braja asarira bathara.


RAHAYU

BS

--- In [hidden email], bustanus salatin
<ki_ageng_jenar@...> wrote:
>
> buku SATRIO PANINGIT, BENCANA NUSANTARA, MANUNGGALINGKAWULOGUSTI
dalam UNIVERSALITAS KEAGAMAAN
> ISBN:978-979-17824-0-1/barcode
>  
> Bab 10: Kajian Tafsir Huruf Muqota'ah: Pandangan Siti Jenar dan
Husain ibnu Mansur al-Hallaj dalam Manunggaling Kawulo Gusti
>  
> Syekh Siti Jenar begitu sering dihubung-hubungkan dengan al-Husain
ibnu Mansur al-Hallaj atau singkatnya Al-Hallaj saja, sufi Persia
abad ke-10, yang sepintas lalu ajarannya mirip dengan Siti Jenar,
karena ia memohon dibunuh agar tubuhnya tidak menjadi penghalang
penyatuannya kembali dengan Tuhan. Adalah Al-Hallaj yang karena
konsep satunya Tuhan dan dunia mengucapkan kalimat, "Akulah
Kebenaran/ Anna al Haq," yang menjadi alasan bagi hukuman matinya
pada 922 Masehi di Baghdad. Seperti Syekh Siti Jenar pula, nama Al-
Hallaj menjadi monumen keberbedaan dalam penghayatan agama, sehingga
bahkan diandaikan bahwa jika secara historis Syekh Siti Jenar tak
ada, maka dongengnya adalah personifikasi saja dari ajaran Al-
Hallaj, bagi yang mendukung maupun yang menindas ajaran tersebut.
> petikan atas kutipan dari Serat Siti Jenar yang diterbitkan oleh
Tan Khoen Swie, Kediri, pada 1922:
> Kawula dan gusti sudah ada dalam diriku, siang dan malam tidak
dapat memisahkan diriku dari mereka. Tetapi hanya saat ini nama
kawula-gusti itu berlaku, yakni selama saya mati. Nanti, kalau saya
sudah hidup lagi, gusti dan kawula lenyap, yang tinggal hanya
hidupku, ketenteraman langgeng dalam Ada sendiri.
> Hai Pangeran Bayat, bila kau belum menyadari kebenaran kata-kataku
maka dengan tepat dapat dikatakan, bahwa kau masih terbenam dalam
masa kematian. Di sini memang banyak hiburan aneka warna. Lebih
banyak lagi hal-hal yang menimbulkan hawa nafsu. Tetapi kau tidak
melihat, bahwa itu hanya akibat pancaindera.
> Itu hanya impian yang sama sekali tidak mengandung kebenaran dan
sebentar lagi akan lenyap. Gilalah orang yang terikat padanya, tidak
seperti Syeh Siti Jenar. Saya tidak merasa tertarik, tak sudi
tersesat dalam kerajaan kematian. Satu-satunya yang kuusahakan,
ialah kembali kepada kehidupan
> Dalam pupuhnya, Syekh Siti Jenar merasa malu apabila harus
berdebat masalah agama. Alasannya sederhana, yaitu dalam agama
apapun, setiap pemeluk sebenarnya menyembah zat Yang Maha Kuasa.
Hanya saja masing - masing menyembah dengan menyebut nama yang
berbeda - beda dan menjalankan ajaran dengan cara yang belum tentu
sama. Oleh karena itu, masing - masing pemeluk tidak perlu saling
berdebat untuk mendapat pengakuan bahwa agamanya yang paling benar.
> Syekh Siti Jenar juga mengajarkan agar seseorang dapat lebih
mengutamakan prinsip ikhlas dalam menjalankan ibadah. Orang yang
beribadah dengan mengharapkan surga atau pahala berarti belum bisa
disebut ikhlas.
> Manunggaling Kawula Gusti, Dalam ajarannya ini, pendukungnya
berpendapat bahwa Syekh Siti Jenar tidak pernah menyebut dirinya
sebagai Tuhan. Manunggaling Kawula Gusti dianggap bukan berarti
bercampurnya Tuhan dengan Makhluknya, melainkan bahwa Sang Pencipta
adalah tempat kembali semua makhluk. Dan dengan kembali kepada
Tuhannya, manusia telah menjadi sangat dekat dengan Tuhannya.
> Dan dalam ajarannya, 'Manunggaling Kawula Gusti' adalah bahwa di
dalam diri manusia terdapat ruh yang berasal dari ruh Tuhan sesuai
dengan ayat Al Qur'an yang menerangkan tentang penciptaan manusia ("
Ketika Tuhanmu berfirman kepada malaikat: "Sesungguhnya Aku akan
menciptakan manusia dari tanah. Maka apabila telah Kusempurnakan
kejadiannya dan Kutiupkan kepadanya roh Ku; maka hendaklah kamu
tersungkur dengan bersujud kepadanya (Shaad; 71-72)"). Dengan
demikian ruh manusia akan menyatu dengan ruh Tuhan dikala
penyembahan terhadap Tuhan terjadi.
> Riwayat pertemuan Ibrahim ibn Sam'an dengan Husain bin Mansur al
Hallaj ( Kutipan dari Buku Husain bin Manshur al Hallaj, karangan
Louis Massignon)
> Aku melihat al Hallaj pada suatu hari di masjid al Mansur: Aku
memiliki 2 dinar dalam sakuku dan aku berpikir untuk menghabiskan
uang itu untuk hal-hal yang melanggar hukum. Seseorang datang dan
memintah sedekah.Dan Husain bin Mansur al Hallaj berkata:' Ibnu
Sam'an berikanlah sedekah  dengan apa yang kamu simpan di dalam
jubahmu, aku terdiam dan menangis, " oh syaikh,bagaimana engkau
mengetahui hal itu?'' Al Hallaj berkata:' Setiap hati yang
mengosongkan diri dari yang selain Alloh, dapat membaca kesadaran
orang dan menyaksikan apa yang ghoib''. Ibnu Sam'an berkata:''
o,syaikh ajarilah aku sebuah hikmah''. Kemudian berkata al
Hallaj :''Orang yang mencari Tuhan dibalik huruf miim dan ain akan
menemukan Nya.Dan seseorang yang mencarinya dalam konsonan idhafah
antara alif dan nun, orang itu akan kehilangan Dia. Karena Dia itu
Maha Suci, di luar jangkauan pikiran dan diatas yang terselubung ,
yang berada di dalam diri setiap
>  orang. Kembalilah kepada Tuhan, Titik Terakhir adalah Dia. Tidak
ada "Mengapa" di hari akhir kecuali Dia.Bagi manusia "MA/ yaitu miim
dan ain" milik Dia berada dalam miim dan ain makna ""MA"" ini adalah
Tuhan Maha Suci. Dia mengajak makhluk terbang menuju Tuhan. "miim"
membimbing ke Dia dari atas ke bawah. "ain"membimbing ke Dia dari
Jauh dan Luas.
>  
> Ilmu Huruf Muqota'ah
> Ilmu huruf, yang didasarkan pada satu bahsa suci, tentulah
memiliki sebuah fondasi mistis yang diperlukan. Orang bisa
menemukan  doktrin ini dalam puisi mistis yang terkenal Ghulsyan-i
Raz (Taman Mawar), karya Syabistari: " Bagi orang yang jiwanya
adalah manifestasi Tuhan yaitu al Qur'an, keseluruhan alam ini
adalah huruf-huruf vokalNya dan substansinya adalah huruf konsonan
Nya " Pasal 200-209 puisi Ghulsyan-i Raz.
> Abu Ishaq Quhistani, sufi Islam, menegaskan pentingnya ilmu huruf
dengan menyatakan bahwa " ilmu huruf adalah akar dari segala ilmu ".
Secara skematis ilmu huruf mengandung :
>
> Simbolisme ketuhanan dan metafisika atau /metakosmik
> Simbolisme universal / makrokosmik yang didasarkan pada
korespondensi antara huruf-huruf dan benda astrologis (ruang
angkasa/ planet/ lambang zodiak dll)
> Simbolisme manusia dan individu yang didasarkan pada korespondensi
fisiologis/organ tubuh
> Jumlah huruf muqatta'ah (terpotong) ada 14 huruf yaitu :alif lam
miim,ha miim, alif lam ra, tha ha,ha miim ain sin qaf, ya sin, kaf
ha ya `ain shad, kaf dan nun. Kalau dirangkai keseluruhannya menjadi
sebuah kalimat : Shiratu `aliyin haqqun namsikuhu (jalan Ali adalah
kebenaran yang kita pegang). huruf muqatta'ah (terpotong) adalah
huruf-huruf yang merupakan rumusan dialog antara Alloh swt dengan
kekasihnya (para Nabi dan para Wali)
> Apa Makna miim dan ain sehingga dapat menemukan Tuhan dan bertemu
dengan Nya dan Mengapa ketika mencari Tuhan dibalik huruf alif dan
nun maka tidak bisa bertemu dengan Nya?
> Tafsir Miim (numerology Arabiyah)::
>
> Huruf miim merupakan muhammad rosulillah atau Ahmad, yang
merupakan pintu menuju Ahad yang merupakan wahdaniyah Allah.
Perbedaan antara  Ahad dan Ahmad adalah huruf arab Miim (muhammad
rosulillah - penutup jalur risalah dan kenabian)
> Miim juga berarti malakuti / keagungan / penguasaan atas seluruh
langit bumi, ayat Kursi merupakan ayat yang mengandung banyak huruf
miim didalamya
> Huruf miim bernilai 40, 40 hari khalwat dengan ikhlas dengan
mengamalkan surat al ikhlas dan ayat Kursi (ayat yang banyak
mengandung huruf miim /sujud jadi sujud adalah cara menggapai
keagungan). Juga surat al ikhlas di awali dengan qulhuwa allohu
ahad. Jadi perwujudan ahad di dunia adalah ahmad, ketika manusia
menjadi ahmad maka merupakan tajalli/ penampakan sang Mahakuasa
dalam diri manusia. Sekali lagi bedakan Ahmad dan Ahad terletak
huruf miim.
> Huruf miim membentuk, posisi sujud dalam solat, sujud merupakan
posisi kedekatan dengan Alloh, bahkan sujud merupakan simbol dari
wahdaniyah Allah. Metode untuk mendekat (muqorrobin/ kewalian)
kepada Tuhan yang paling cepat adalah dengan sujud yang lama dalam
Sholat. Hadits qudsi Allah berfirman : " Barangsiapa memusuhi waliku
sungguh kuumumkan perang kepadanya, tiadalah hamba Ku mendekat
kepada Ku dengan hal hal yg fardhu- 17 rokaat, dan Hamba Ku terus
mendekat kepada Ku dengan hal hal yg sunnah- 34 rokaat qobliyah dan
bakdiyah- baginya hingga Aku mencintainya, bila Aku mencintainya
maka aku menjadi telinganya yg ia gunakan untuk mendengar, dan
matanya yg ia gunakan untuk melihat, dan menjadi tangannya yg ia
gunakan untuk memerangi, dan kakinya yg ia gunakan untuk melangkah,
bila ia meminta pada Ku niscaya kuberi permintaannya...." (shahih
Bukhari hadits no.6137).
>  
> Tafsir Ain,Yaa,Sin,Nuun,Aliif (numerology Arabiyah):
>
> Huruf ain bermakna sayidina Ali bin Abu tholib merupakan pintu
gerbang keilmuan. Sesuai hadits Nabi yang menyatakan bahwa Muhammad
rosulluloh adalah gudang ilmu dan Sayidina Ali adalah pintunya.
Huruf ayn membentuk posisi rukuk dalam sujud, dalam riwayat asbabun
nuzul quran ada ayat yang berkenaan dengan Ali bin abu thalib, yaitu
orang yang rukuk kemudian dalam posisi rukuk dalam solat melakukan
sedekah berupa cincin. Inilah ayat quran itu: Walimu hanyalah Allah,
Rasul-Nya dan mereka yang beriman yang menegakkan salat, membayar
zakat seraya rukuk. (QS. al-Mâ`idah: 55)
> Kunci sholat yang merupakan adab tatakrama/ kepasrahaan total ila
allohu ada di rukuk/ huruf ain, sujud/ huruf miim adalah kedekatan
(muqorobin- fana asma dan tajalli asma), barangsiapa tidak tahu adab
( rukuknya)  maka tidak layak untuk dekat (muqorobin).
> Huruf Ain bernilai 70.sedang huruf Ya bernilai 10 dan huruf Sin
bernilai 60. jadi secara matematis yaitu 70(ain)= yaa(10)+sin(60)
jadi Ya + Seen = Ain merupakan Quran dalam surat 36 adalah surat Ya
Seen. ayat ke 58 dari surat Yasin adalah Salaamun Qawlam Mir Rabbir
Raheem. Jadi 5+8=13, posisi huruf ke 13 dalam abjad Arab adalah
huruf Miim/ Sujud. Jadi untuk mengerti Ain/ rukuk  kita harus
mengerti tafsir huruf Yaa dan Tafsir huruf Sin. Dengan mengerti Yaa
dan Sin kita akan sampai kepada Sayidina Ali bin Abu Tholib.
> Kyai Kholil Bangkalan, salah seorang pencetak kyai besar Nahdlatul
Ulama, selama perjalanan pesantren Keboncandi, Pasuruan-Sidogiri
kyai kholil Bangkalan sewaktu muda selalu membaca YaSin, hingga
khatam berkali-kali
> Huruf Ya adalah akhir dari abjad Arab and Alif awal dari abjad
Arab. Huruf  Ya/ hamba memimpin/cenderung ke arah Alif/ Alloh. Huwal
Awwalu wa Hu wal Akhiru.
> Rincian huruf Awwalu  :
> Alif(1)+waw(6)+lam(30)=37ß-à3+7=10,(Ya=10),
> 10 ß-à1+0=1ß-àpertama.
> ·         Rincian huruf Akhiru :: Alif(1)+Kho(600)+Ro(200)= 801ß-
à8+0 +1= 9 ß-à terakhir adalah 9, angka 9 dalam numerology arab
adalah huruf Ta yang bermakna penyucian atau Tahara/penyucian dan
bulan ke 9 dalam Arab/ Qomariah adalah bulan ramadhon yaitu bulan
puasa
> ·         Penyucian kalbu dari kecintan diri dan dunia merupakan
tingkat awal penyucian untuk bersuluk kepada Alloh. Sesungguhnya
kotoran maknawi terbesar yang tidak bisa disucikan meskipun dengan
tujuh lautan dan para nabi pun tidak mampu menghilangkannya adalah
kotora kejahilan ganda (pura-pura tahu padahal tidak tahu).
Kekeruhan ini mungkin akan memadamkan cahaya petunjuk dan meredupkan
api kerinduan yang merupakan buraq untuk bermikraj mencapai berbagai
maqom spiritual.( Imam Khomeini dalam Hakikat dan Rahasia Sholat)
> ·          dan Alif(1)+ Ta(9)=10ß-à (Ya=10=hamba) , nilai huruf
(Ya=10), jadi seorang Hamba yaitu simbol Ya harus melakukan Puasa/
penyucian jiwa/ tazkiyah nafs simbol (Ta=9) untuk Alloh semata
simbol (Alif=1) atau Hamba harus sabar dengan KetentuanNya atau
nrimo ing pandum, karena hasil puasa Lillah Billah menjadikan orang
sabar atau innalloha ma'ashobirin (Sesungguhnya Alloh bersama (MA
terdiri huruf miim dan ain lihat al Baqarah:153 ) orang yang sabar.
Lihat bersama adalah Ma yaitu ma'asshobirin. Disini terungkap
rahasia mim dan ayn yaitu MA seperti yang diucapkan oleh Husain bin
Mansur al Hallaj. jadi Sabar adalah kunci menemukan Tuhan. Para
mufassir menafsirkan sabar dengan melakukan puasa. Pahala puasa
hanya Alloh yang tahu. Artinya Hak menilai puasa langsung di tangan
Alloh bukan di tangan para malaikat. Sabda Rosullulloh saw Puasa
yang dilakukan khusus untuk-Ku/ puasa Lillah Billah dan cukuplah Aku
sebagai pahalanya
> ·         Mempelajari Ilmu Ketuhanan akan menjadikan orang
bersabar, seperti dialog Nabi Musa as dan Nabi Khidr as yaitu
Bagaimana kamu dapat sabar terhadap persoalan yang kamu samasekali
belum memiliki pengetahuan yang cukup tentangNya(QS 18:68).
Barangsiapa menghadapi kesengsaraan dengan hati terbuka, menunjukkan
kesabaran dengan penuh ketenangan dan martabat, termasuk dalam
golongan orang terpilih dan bagian untuknya adalah Berikanlah kabar
gembira (keberhasilan dan kejayaan) kepada orang yang sabar (QS
2:155),
>
> Dalam Islam, kemampuan mengendalikan emosi dan menahan diri
disebut sabar. Orang yang paling sabar adalah orang yang paling
tinggi dalam kecerdasan emosionalnya. Ia biasanya tabah dalam
menghadapi kesulitan. Ketika belajar orang ini tekun. Ia berhasil
mengatasi berbagai gangguan dan tidak memperturutkan emosi-nya.
> Gabungan rincian Awwalu dan Akhiru adalah Seorang Hamba
(Ya=10=hamba) karena  Akhiru(9)+ Awwalu (1)=10ß-à (Ya=10=hamba) ,
jadi seorang Hamba menampung Asma Alloh yang lengkap dan memiliki
potensi untuk menampakkan sifat ketuhanan
> Huruf Sin bernilai 60 dalam numerology Arab, merupakan simbol dari
sirr Muhammad, sirr adalah rahasia ketuhanan yang disimpan dalam
diri manusia sebagai hamba. Huruf sin dalam INSAN. huruf alif nya
adalah Alloh, huruf  sin adalah rahasia /sirr ketuhanan, 2 huruf nun
adalah simbol hukum dunia dan akhirat yang merupakan
representasi /perwakilan kitab suci al Qur'an.
> Huruf Yaa/ simbol Hamba digunakan untuk memanggil seseorang atau
menarik perhatian sesorang. Ya adalah simbol seorang Hamba menyembah
dan menyebut Tuhannya Ya Alloh Ya Robbi dll.Yaa juga digunakan oleh
Alloh memanggil Hambanya.Ya juga berarti simbol antara yang disembah
dan menyembah, tetapi posisi Ya=10/ hamba selalu cenderung kepada
Alif=1 atau Alloh karena Alloh sebagai Awwalu, dalam ilmu huruf,
> Alif(1)+waw(6)+lam(30)=37ß-à3+7=10 adalah Yaa menyatu dengan Alif
(10ß-à1+0=1) atau dibalik Yaa ada Alif atau di dalam Manusia ada
Tuhan atau istilah Wahdatul Wujud nya Ibnu Arobi yaitu antara
penyembah dan yang disembah itu sama tapi tidak serupa atau menurut
istilah ajaran Syekh Siti Jenar, yaitu Manunggaling Kawula
Gusti. "PERSAMAAN" antara manusia dan Allah. Hal inilah yang
dimaksudkan dalam sabda Nabi saw.: "Sesungguhnya Allah menciptakan
manusia dalam kemiripan dengan diriNya sendiri." Lebih jauh lagi
Allah telah berfirman: "Hambaku mendekat kepadaKu sehingga Aku
menjadikannya sahabatKu. Aku pun menjadi telinganya, matanya dan
lidahnya." Juga Allah berfirman kepada Musa as.: "Aku pernah sakit
tapi engkau tidak menjengukku!" Musa menjawab: "Ya Allah, Engkau
adalah Rabb langit dan bumi; bagaimana Engkau bisa sakit?" Allah
berfirman: "Salah seorang hambaKu sakit; dan dengan menjenguknya
berarti engkau telah mengunjungiKu. "Memang ini adalah suatu
>  masalah yang agak berbahaya untuk diperbincangkan, karena hal ini
berada di balik pemahaman orang-orang awam. Seseorang yang cerdas
sekalipun bisa tersandung dalam membicarakan soal ini dan percaya
pada inkarnasi dan kersekutuan dengan Allah.
> Tafsir huruf Nun dan Alif- Pencari Tuhan dibalik huruf alif dan
nun maka tidak bisa bertemu dengan Nya::
>
> Bernilai 50 dalam numerology Arab.
> Tafsir huruf INSAN, memiliki 2 huruf nun merupakan simbol alam
dunia/ jasad dan alam akhirat/ ruh/ jiwa. Ruh yang disucikan akan
memperoleh Nur/ surga sedangkan Ruh yang dikotori akan memperoleh
Nar/ neraka.
> Tafsir Alif dan Nun: Penggambaran Simbolis Huruf dan Alif Nun
merupakan lambang sebuah perahu (syariat) dan sebuah Jiwa/
individu /personal mengarungi lautan / medan ujian, kayuh/sampan (
membentuk huruf Alif) kiri kanan adalah wilayah pilihan manusia (
sunnatulloh adalah qadha' qadar baik buruk) yang telah ditetapkan
oleh Alloh arti simbol Alif. Individu yang sedang menaiki perahu (
simbol Nun), sampan/kayuh adalah alat/ pilihan yang akan mengerakkan
jiwanya menuju 3 pilihan yaitu, pertama, arah perahu ke  kiri
berarti ashabul syimal/ Nun menjadi Naar/ neraka, kedua arah perahu
ke  kanan berarti ashabul yamin/ Nun menjadi Nur/cahaya, ketiga arah
perahu tidak ke  kiri dan tidak ke kanan tetapi tengah berarti
sabiqunal awwalun/ terdahulu mencapai tujuan - ini adalah golongan
para pencinta yaitu menyembah karena kerinduan ingin bertemu dengan
sang Khaliq – ini adalah jawaban isyarah tersembunyi dari Husain bin
Manshur al Hallaj- yaitu para nabi
>  dengan simbol miim (arti bathinnya adalah sujud) yaitu Muhammad
saw dan ain (arti bathinnya adalah rukuk) yaitu sayidina Ali bin
Abuthalib
> Huruf Nun Mengingatkan Kita juga  kepada  Zunnun/ Nabi Yunus as
yang naik perahu di tengah lautan dan ditelan Ikan karena
meninggalkan Kaum nya sebelum ada perintah dari ALLOH swt.
> Zikir Zunnun / N.Yunus  - doa keselamatan menghadapi medan ujian :
wa dzan nuni idz dzahaba mughadziban fa dhanna an lan naqdiro alayhi
fa nada fid dhulumati an laila antan subhanaka inni kuntu
minadolimin fastajabna lahu wa najjaynahu minal ghammi wa kadzalika
nunjil mukminina (Anbiya :87-88).
>  
> Kesimpulan:
> ·        Tafsir Yaa Sin akan membuka rahasia huruf `'MA'' yaitu
miim dan ain seperti yang dikatakan oleh Husain bin Mansur al
Hallaj:
> Quran dalam surat 36 adalah surat Ya Seen. ayat ke 58 dari surat
Yasin adalah Salaamun Qawlam Mir Rabbir Raheem
> "Rahasia Ketuhanan ada dalam diri manusia, agar manusia mampu
menampakkan atau men-tajallikan Ketuhanan dalam dirinya maka
perintah solat (Rukuk, Sujud) adalah sarana 'Manunggaling Kawula
Gusti dan sodaqoh ( menebarkan hasil usaha kebenaran/ pengabdian
masyarakat/ agen perubahan/ social agent) kepada sesama makhluk
Tuhan (kesalehan sosial) yang merupakan perwujudan dari Salaamun
Qawlam Mir Rabbir Raheem"
> ·         Tafsir YaaSin adalah simbol manusia sempurna yaitu hamba
yang mampu menampung rahasia Alloh swt dan didalam sirr itu seorang
penyembah dan disembah bertemu dan berdialog, ibarat sebuah pohon
lengkap dengan pokoknya, cabangnya dan puncaknya. Imam al Baqir
berkata: Maukah kamu akau beritahu pokok-pokok Islam, cabang dan
puncaknya dan pintu kebaikan? Sulaiman bin Khalid berkata: Tentu,
lalu jawab Imam al Baqir: Pokoknya adalah sholat, cabangnya adalah
zakat, dan puncaknya adalah membela kaum tertindas dan menegakkan
keadilan. Pintu kebaikan itu adalah :
> 1.      Puasa merupakan perisai api neraka
> 2.      Sedekah itu menghapus dosa
> 3.      Sholat di malam hari untuk berzikir
>  
> Tafsir Rukuk/Huruf Ain
> Etika rukuk adalah meninggikan maqam rububiyah Nya yang agung,
mulia dan merendahkan maqam ubudiyah seorang hamba yang lemah, faqir
dan hina. Rukuk adalah awal ketundukkan dan sujud adalah
puncaknya.Yang melakukan rukuk dengan sempurna dan benar akan
menemukan keselarasan pada sujud. Imam Shadiq berkata" rukuk yang
benar kepada Alloh adalah menghiasi dengan cahaya keindahan asma
Nya. Rukuk adalah yang pertama dan sujud adalah yang kedua. Dalam
rukuk ada adab penghambaan dan dalam sujud ada kedekatan/Qurb dengan
Zat yang disembah. Simbol rukuk adalah hamba dengan hati tunduk
kepada Alloh, merasa hina dan takut di bawah kekuasaan-Nya.
Merendahkan anggota badan karena gelisah dan takut tidak memperoleh
manfaat rukuk.
>  
> Tafsir Sujud/Huruf Mim
> Sujud merupakan puncak ketundukan dan puncak kekhusyukan seorang
hamba, sebaik-baik wasilah taqarrub ila Alloh, sebaik-baik posisi
untuk mencapai cahaya-cahaya tajalli Asma  Alloh swt dan maqam Qurb
dengan Nya. N. Saw bersabda : "lamakanlah sujudmu", sebab tiada amal
yang lebih berat dan paling tak disukai oleh syetan saat melihat
anak Adam sedang sujud, karena dia telah diperintahakan sujud dan
dia tidak patuh. Sujud merupakan sebab mendekatnya hamba dengan sang
Kholik. Wahai orang yang beriman, mintalah pertolongan dengan sabar
dan solat, sesungguhnya Alloh bersama orang yang sabar (al
Baqarah:153)
>  
> Tafsir Salam/Huruf Yaa Sin
> Salam adalah salah satu nama Alloh. Arti Salam dari sisi Alloh
adalah keselamatan zat, sifat, perbuatan-Nya. Adapun Zatnya
terpelihara dari kelenyapan, perubahan dan dari segala kekurangan.
Salam dari sisi Hamba adalah doa,yaitu memohon keselamatan kepada
Alloh untuk orang yang kita ucapkan salam /selamat dari segala
cobaaan dan bencana dunia akhirat. Salam juga berarti ungkapan
Kepasrahan/ ketundukan kepada Sunnatulloh ( Quran Hadits). Menurut
Imam Shadiq "salam adalah orang yang melaksanakan perintah Alloh dan
melakukan sunnah Rosulillah dengan ikhlas (intinya Ahad dan Ahmad),
juga selamat  dari bencana dunia dan akhirat. Salam juga bermakna
penghormatan kepada hamba yang sholih (assalamu alaina wa ala
ibadilahis sholihin) dan malaikat pencatat amal
>  Al Futuhat al Makkiyah, Karangan Ibnu Aroby, merujuk empat
perjalanan akal dalam bab 69 tentang rahasia rahasia shalat sebagai
perjalanan spiritual manusia. Perintah sholat 51 rokaat kepada Nabi
Muhammad saw saat isro miroj: Tuhan memerintahkan hambaNya itu
supaya setiap Muslim setiap hari sembahyang limapuluh kali. Kemudian
untuk umatnya menjadi 17 rokaat wajib di lima waktu dan sisanya 34
rokaat menjadi sunah muakkad- qobliyah dan bakdiya.
> Mulla Shadra dalam bukunya al Asfar al Arba'ah mengatakan:
> "Ketahuilah bahwa para pesuluk diantara orang Arif/ Irfan dan para
Wali menempuh empat perjalanan akal :
>
> Perjalanan makhluk kepada kebenaran –diskusi metafisika umum (min
al khalq ila al Haq)
> Pesuluk mempelajari dasar-dasar metafisika umum dan
dalilnya.pesuluk cenderung pada kajian semantik dan metafisika dasar
terhadap firman Ttuhan dalam Quran.
>
> Perjalanan bersama kebenaran didalam  kebenaran- pengalaman
metafisika khusus dengan pengalaman pribadi (bi al Haq fi al Haq)
> Pesuluk akan melihat sifat dan namaNya yang tertinggi baik nama
yang mewujudkan rahmatNya dan murkaNya. Hukum nama nama Alloh ini di
dalam kejamakannya akan mewujud di dalam diri pesuluk.Hal ini
dikenal dengan makam wahidiyah atau tujuh substansi halus (lataif).
Pesuluk akan mengalami rasa takut dan harapan (al khauf wa al raja)
>
> Perjalanan dari Kebenaran menuju makhluk  (min al Haq ila al al
khalq)
> Setelah mengalami fase peniadaan diri,pesuluk menerima karunia
Tuhan dan kembali kepada kesadaran diri. Pesuluk menyaksikan
penciptaan dan alam kejamakan dalam diri makhluk tetapi dengan mata
yang lain, dengan pendengaran yang berbeda. Puncak perjalan ketiga
membawa pesuluk menuju kesucian/Wilayah(kewalian)
>
> Perjalanan bersama Kebenaran di dalam makhluk (bi al Haq fi al
khalq)
> Maqam penetapan hukum dan pembedaan dari baik dan buruk.ini adalah
derajat kenabian,penetapan hukum dan kepemimpinan atas umat manusia
yang berhubungan dengan urusan urusan mereka yang beragam dan
berbeda-beda serta bagaimana mereka saling berinteraksi satu sama
lain. seorang `arif tak akan benar-benar mencapai maqam spiritual
tertinggi jika tidak memanifestasikan keimanan-puncak, yang telah
diraihnya lewat dua perjalanan pertama, dalam bentuk concern sosial
politik untuk mereformasi masyarakat dan membebaskan kaum tertindas
dari rantai penindasannya.Tidak lain maqam penetapan hukum
(legislatif) atau melibatkan diri dalam kemasyarakatan dan hubungan
social, merupakan perwujudan penebaran salam kepada makhluk yaitu
Salaamun Qawlam Mir Rabbir Raheem yang merupakan inti tafsir      
Yaa Sin.

>
> --- On Sun, 7/20/08, mang dipo <dipo1601@...> wrote:
>
> From: mang dipo <dipo1601@...>
> Subject: [Spiritual-Indonesia] Kejawen Islam
> To: [hidden email]
> Date: Sunday, July 20, 2008, 1:46 AM
>
>
>
>
>
>
>
>
>
> Mari kita mengutip satu tembang Jawa
> Tak uwisi gunem iki                      saya akhiri pembicaraan
ini
> Niyatku mung aweh wikan           saya hanya ingin memberi tahu
> Kabatinan akeh lire                      kabatinan banyak macamnya
> Lan gawat ka liwat-liwat              dan artinya sangat gawat
> Mulo dipun prayitno                      maka itu berhati-hatilah
> Ojo keliru pamilihmu                     Jangan kamu salah pilih
> Lamun mardi kebatinan                  kalau belajar kebatinan
>
> Tembang ini menggambarkan nasihat seorang tua (pinisepuh) kepada
mereka yang ingin mempelajari kabatinan cara kejawen. Kiranya perlu
dipahami bahwa tujuan hakiki dari kejawen adalah berusaha
mendapatkan ilmu sejati untuk mencapai hidup sejati, dan berada
dalam keadaan harmonis hubungan antara kawula (manusia) dan Gusti
(Pencipta) ( jumbuhing kawula Gusti ) /pendekatan kepada Yang Maha
Kuasa secara total.
>
> Keadaan spiritual ini bisa dicapai oleh setiap orang yang percaya
kepada Tuhan, yang mempunyai moral yang baik, bersih dan jujur.
beberapa laku harus dipraktekkan dengan kesadaran dan ketetapan hati
yang mantap. Pencari dan penghayat ilmu sejati diwajibkan untuk
melakukan sesuatu yang berguna bagi semua orang serta  melalui
kebersihan hati dan tindakannya. Cipta, rasa, karsa dan karya
(kuasa) harus baik, benar, suci dan ditujukan untuk mamayu hayuning
bawono. Ati suci jumbuhing Kawulo Gusti : hati suci itu adalah
hubungan yang serasi antara Kawulo dan Gusti,  kejawen merupakan
aset dari orang Jawa tradisional  yang berusaha memahami dan mencari
makna dan  hakekat hidup yang mengandung nilai-nilai.
>
> Dalam budaya jawa dikenal adanya simbolisme, yaitu suatu faham
yang menggunakan lambang atau simbol untuk membimbing pemikiran
manusia kearah pemahaman terhadap suatu hal secara lebih dalam.
Manusia mempergunakan simbol sebagai media penghantar komunikasi
antar sesama dan segala sesuatu yang dilakukan manusia merupakan
perlambang dari tindakan atau bahkan karakter dari manusia itu
selanjutnya. Ilmu pengetahuan adalah simbol-simbol dari Tuhan, yang
diturunkan kepada manusia, dan oleh manusia simbol-simbol itu
ditelaah dibuktikan dan kemudian diubah menjadi simbol-simbol yang
lebih mudah difahami agar bisa diterima oleh manusia lain yang
memiliki daya tangkap yang berberda-beda.
>
> Biasanya sebutan orang Jawa adalah orang yang hidup di wilayah
sebelah timur sungai Citanduy dan Cilosari. Bukan berarti wilayah di
sebelah barat-nya bukan wilayah pulau Jawa. Masyarakat Jawa adalah
masyarakat yang menjunjung tinggi rasa kekeluargaan dan suka
bergotong royong dengan semboyannya "saiyeg saekoproyo " yang
berarti sekata satu tujuan.
>
> Kisah suku Jawa diawali dengan kedatangan seorang satriya
pinandita yang bernama Aji Saka, sampai kemudian satriya itu menulis
sebuah sajak yang kemudian sajak tersebut diakui menjadi huruf jawa
dan digunakan sebagai tanda dimulainya penanggalan tarikh Caka.
>
> Kejawena dalah faham orang jawa atau aliran kepercayaan yang
muncul dari masuknya berbagai macam agama ke jawa. Kejawen mengakui
adanya Tuhan Gusti Allah tetapi juga mengakui mistik yang berkembang
dari ajaran tasawuf agama-agama yang ada.
>
> Tindakan tersebut dibagi  tiga bagian yaitu tindakan simbolis
dalam religi, tindakan simbolis dalam tradisi dan tindakan simbolis
dalam seni. Tindakan simbolis dalam religi, adalah contoh kebiasaan
orang Jawa yang percaya bahwa Tuhan adalah zat yang tidak mampu
dijangkau oleh pikiran manusia, karenanya harus di simbolkan agar
dapat di akui keberadaannya misalnya dengan menyebut Tuhan dengan
Gusti Ingkang Murbheng Dumadi, Gusti Ingkang Maha Kuaos, Hyang Manon
dan sebagainya.
>
> Tindakan simbolis dalam tradisi dimisalkan dengan adanya tradisi
upacara kematian yaitu medo'akan orang yang meninggal pada tiga
hari, tujuh hari, empatpuluh hari, seratus hari, satu tahun, dua
tahun, tiga tahun, dan seribu harinya setelah seseorang meninggal
(tahlillan). Dan tindakan simbolis dalam seni dicontohkan dengan
berbagai macam warna yang terlukis pada wajah wayang kulit; warna
ini menggambarkan karakter dari masing-masing tokoh dalam wayang.
>
> Perkembangan budaya jawa yang mulai tergilas oleh perkembangan
teknologi yang mempengaruhi pola pikir dan tindakan orang jawa dalam
kehidupan. Maka orang mulai berfikir bagaimana bisa membuktikan hal
gaib secara empiris tersebut dengan menggunakan berbagai macam
metode tanpa mengindahkan unsur kesakralan. Bahkan terkadang
kepercayaan itu kehilangan unsur kesakralannya karena dijadikan
sebagai obyek exploitasi dan penelitian.
>
> Kebiasaan orang Jawa yang percaya bahwa segala sesuatu adalah
simbol dari hakikat kehidupan, seperti syarat sebuah rumah harus
memiliki empat buah soko guru (tiang penyangga) yang melambangkan
empat unsur alam yaitu tanah, air, api, dan udara, yang ke empatnya
dipercaya akan memperkuat rumah baik secara fisik dan mental
penghuni rumah tersebut. Namun dengan adanya teknologi konstruksi
yang semakin maju, keberadaan soko guru itu tidak lagi menjadi
syarat pembangunan rumah. Dengan analisa tersebut dapat diperkirakan
bagaimana nantinya faham simbolisme akan bergeser dari budaya jawa.
Tapi bahwa simbolisme tidak akan terpengaruh oleh kehidupan manusia
tapi kehidupan manusialah yang tergantung pada simbolisme. Dan
sampai kapanpun simbolisme akan terus berkembang mengikuti
berputarnya sangkakala.
>
> Mangkunegara IV (Sembah dan Budiluhur)
> Mangkunegara IV memiliki empat ajaran utama yang meliputi sembah
raga, sembah cipta (kalbu), sembah jiwa, dan sembah rasa.
>
> Sembah Raga
> Sembah raga ialah menyembah Tuhan dengan mengutamakan gerak laku
badaniah atau amal perbuatan yang bersifat lahiriah. Cara bersucinya
sama dengan sembahyang biasa, yaitu dengan mempergunakan air
(wudhu). Sembah yang demikian biasa dikerjakan lima kali sehari
semalam dengan mengindahkan pedoman secara tepat, tekun dan terus
menerus, seperti bait berikut:
>
> Sembah raga puniku / pakartining wong amagang laku / sesucine
asarana saking warih / kang wus lumrah limang wektu / wantu wataking
wawaton
>
> Sembah raga, sebagai bagian pertama dari empat sembah yang
merupakan perjalanan hidup yang panjang ditamsilkan sebagai orang
yang magang laku (calon pelaku atau penempuh perjalanan hidup
kerohanian), orang menjalani tahap awal kehidupan bertapa (sembah
raga puniku, pakartining wong amagang laku). Sembah ini didahului
dengan bersuci yang menggunakan air (sesucine asarana saking warih).
Yang berlaku umum sembah raga ditunaikan sehari semalam lima kali.
Atau dengan kata lain bahwa untuk menunaikan sembah ini telah
ditetapkan waktu-waktunya lima kali dalam sehari semalam (kang wus
lumrah limang wektu). Sembah lima waktu merupakan shalat fardlu yang
wajib ditunaikan (setiap muslim) dengan memenuhi segala syarat dan
rukunnya (wantu wataking wawaton). Sembah raga yang demikian ini
wajib ditunaikan terus-menerus tiada henti (wantu) seumur hidup.
Dengan keharusan memenuhi segala ketentuan syarat dan rukun yang
wajib dipedomani (wataking wawaton). Watak suatu
>  waton (pedoman) harus dipedomani. Tanpa mempedomani syarat dan
rukun, maka sembah itu tidak sah.
>
> Sembah raga tersebut, meskipun lebih menekankan gerak laku
badaniah, namun bukan berarti mengabaikan aspek rohaniah, sebab
orang yang magang laku selain ia menghadirkan seperangkat fisiknya,
ia juga menghadirkan seperangkat aspek spiritualnya sehingga ia
meningkat ke tahap kerohanian yang lebih tinggi.
>
> Sembah Cipta( Kalbu )
> Sembah ini kadang-kadang disebut sembah cipta dan kadang-kadang
disebut sembah kalbu, seperti terungkap pada Pupuh Gambuh bait 1 dan
Pupuh Gambuh bait 11 berikut :
> Samengkon sembah kalbu / yen lumintu uga dadi laku / laku agung
kang kagungan narapati / patitis teteking kawruh / meruhi marang
kang momong.
>
> Apabila cipta mengandung arti gagasan, angan-angan, harapan atau
keinginan yang tersimpan di dalam hati, kalbu berarti hati , maka
sembah cipta di sini mengandung arti sembah kalbu atau sembah hati,
bukan sembah gagasan atau angan-angan.
> Apabila sembah raga menekankan penggunaan air untuk membasuh
segala kotoran dan najis lahiriah, maka sembah kalbu menekankan
pengekangan hawa nafsu yang dapat mengakibatkan terjadinya berbagai
pelanggaran dan dosa (sucine tanpa banyu, amung nyunyuda hardaning
kalbu).
>
> Thaharah (bersuci) itu, demikian kata Al-Ghazali, ada empat
tingkat.
> Pertama,membersihka n hadats dan najis yang bersifat lahiriah.
> Kedua,membersihkan anggota badan dari berbagai pelanggaran dan
dosa.
> Ketiga,membersihkan hati dari akhlak yang tercela dan budi pekerti
yang hina.
> Keempat,membersihka n hati nurani dari apa yang selain Allah. Dan
yang keempat inilah taharah pada Nabi dan Shiddiqin.
>
> Jika thaharah yang pertama dan kedua menurut Al-Ghazali masih
menekankan bentuk lahiriah berupa hadats dan najis yang melekat di
badan yang berupa pelanggaran dan dosa yang dilakukan oleh anggota
tubuh. Cara membersihkannya dibasuh dengan air. Sedangkan kotoran
yang kedua dibersihkan dan dibasuh tanpa air yaitu dengan menahan
dan menjauhkan diri dari pelanggaran dan dosa. Thaharah yang ketiga
dan keempat juga tanpa menggunakan air. Tetapi dengan membersihkan
hati dari budi jahat dan mengosongkan hati dari apa saja yang selain
Allah.
>
> Sembah Jiwa
> Sembah jiwa adalah sembah kepada Hyang Sukma ( Allah ) dengan
mengutamakan peran jiwa. Jika sembah cipta (kalbu) mengutamakan
peran kalbu, maka sembah jiwa lebih halus dan mendalam dengan
menggunakan jiwa atau al-ruh. Sembah ini hendaknya diresapi secara
menyeluruh tanpa henti setiap hari dan dilaksanakan dengan tekun
secara terus-menerus, seperti terlihat pada bait berikut:
> Samengko kang tinutur / Sembah katri kang sayekti katur / Mring
Hyang Sukma suksmanen saari-ari / Arahen dipun kecakup / Sembahing
jiwa sutengong.
>
> Dalam rangkaian ajaran sembah Mangkunegara IV yang telah disebut
terdahulu, sembah jiwa ini menempati kedudukan yang sangat penting.
Ia disebut pepuntoning laku (pokok tujuan atau akhir perjalanan
suluk). Inilah akhir perjalanan hidup batiniah. Cara bersucinya
tidak seperti pada sembah raga dengan air wudlu atau mandi, tidak
pula seperti pada sembah kalbu dengan menundukkan hawa nafsu, tetapi
dengan awas emut (selalu waspada dan ingat/dzikir kepada keadaan
alam baka/langgeng) , alam Ilahi.
>
> Betapa penting dan mendalamnya sembah jiwa ini, tampak dengan
jelas pada bait berikut :
> Sayekti luwih perlu / ingaranan pepuntoning laku / Kalakuan kang
tumrap bangsaning batin / Sucine lan awas emut / Mring alaming lama
amota.
>
> Berbeda dengan sembah raga dan sembah kalbu, ditinjau dari segi
perjalanan suluk, sembah ini adalah tingkat permulaan (wong amagang
laku) dan sembah yang kedua adalah tingkat lanjutan. Ditinjau dari
segi tata cara pelaksanaannya, sembah yang pertama menekankan
kesucian jasmaniah dengan menggunakan air dan sembah yang kedua
menekankan kesucian kalbu dari pengaruh jahat hawa nafsu lalu
membuangnya dan menukarnya dengan sifat utama. Sedangkan sembah
ketiga menekankan pengisian seluruh aspek jiwa dengan dzikir kepada
Allah seraya mengosongkannya dari apa saja yang selain Allah.
>
> Pelaksanaan sembah jiwa ialah dengan berniat teguh di dalam hati
untuk mengemaskan segenap aspek jiwa, lalu diikatnya kuat-kuat untuk
diarahkan kepada tujuan yang hendak dicapai tanpa melepaskan apa
yang telah dipegang pada saat itu. Dengan demikian triloka (alam
semesta) tergulung menjadi satu. Begitu pula jagad besar dan jagad
kecil digulungkan disatupadukan. Di situlah terlihat alam yang
bersinar gemerlapan. Maka untuk menghadapi keadaan yang menggumkan
itu, hendaklah perasaan hati dipertebal dan diperteguh jangan
terpengaruh apa yang terjadi. Hal yang demikian itu dijelaskan
Mangkunegara IV pada bait berikut:
> "Ruktine ngangkah ngukud / ngiket ngruket triloka kakukud / jagad
agung ginulung lan jagad alit / den kandel kumandel kulup / mring
kelaping alam kono."
>
> Sembah Rasa
> Sembah rasa ini berlainan dengan sembah-sembah yang sebelumnya. Ia
didasarkan kepada rasa cemas. Sembah yang keempat ini ialah sembah
yang dihayati dengan merasakan intisari kehidupan makhluk semesta
alam,  demikian menurut Mangkunegara IV.
> Jika sembah kalbu mengandung arti menyembah Tuhan dengan alat
batin kalbu atau hati seperti disebutkan sebelumnya, sembah jiwa
berarti menyembah Tuhan dengan alat batin jiwa atau ruh, maka sembah
rasa berarti menyembah Tuhan dengan menggunakan alat batin inti ruh.
Alat batin yang belakangan ini adalah alat batin yang paling dalam
dan paling halus yang menurut Mangkunegara IV disebut telenging
kalbu (lubuk hati yang paling dalam) atau disebut wosing jiwangga
(inti ruh yang paling halus).
> Dengan demikian menurut Mangkunegara IV, dalam diri manusia
terdapat tiga buah alat batin yaitu, kalbu, jiwa/ruh dan inti
jiwa/inti ruh (telengking kalbu atau wosing jiwangga) yang
memperlihatkan susunan urutan kedalaman dan kehalusannya.
>
> Pelaksanaan sembah rasa itu tidak lagi memerlukan petunjuk dan
bimbingan guru seperti ketiga sembah sebelumnya, tetapi harus
dilakukan salik sendiri dengan kekuatan batinnya, seperti
diungkapkan Mangkunegara IV dalam bait berikut:
> Semongko ingsun tutur / gantya sembah lingkang kaping catur /
sembah rasa karasa wosing dumadi / dadi wus tanpa tuduh / mung
kalawan kasing batos.
>
> Apabila sembah jiwa dipandang sebagai sembah pada proses
pencapaian tujuan akhir perjalanan suluk (pepuntoning laku), maka
sembah rasa adalah sembah yang dilakukan bukan dalam perjalanan
suluk itu, melainkan sembah yang dilakukan di tempat tujuan akhir
suluk. Dengan kata lain, seorang salik telah tiba di tempat yang
dituju. Dan di sinilah akhir perjalanan suluknya. Untuk sampai di
sini, seorang salik masih tetap dibimbing gurunya seperti telah
disebut di muka. Setelah ia diantarkan sampai selamat oleh gurunya
untuk memasuki pintu gerbang, tempat sembah yang keempat, maka
selanjutnya ia harus mandiri melakukan sembah rasa.
>
> Pada tingkatan ini, seorang salik dapat melaksanakan sendiri
sembah rasa sesuai petunjuk-petunjuk gurunya. Pada tingkat ini ia
dipandang telah memiliki kematangan rohani. Oleh karena itu, ia
dipandang telah cukup ahli dalam melakukan sembah dengan
mempergunakan aspek-aspek batiniahnya sendiri.
>
> Di sini, dituntut kemandirian, keberanian dan keteguhan hati
seorang salik, tanpa menyandarkan kepada orang lain. Kejernihan
batinlah yang menjadi modal utama. Hal ini sesuai dengan wejangan
Amongraga kepada Tambangraras dalam Centini bait 156. Sembah
tersebut, demikian dinyatakan Amongraga, sungguh sangat mendalam,
tidak dapat diselami dengan kata-kata, tidak dapat pula dimintakan
bimbingan guru. Oleh karena itu, seorang salik harus merampungkannya
sendiri dengan segala ketenangan, kejernihan batin dan kecintaan
yang mendalam untuk melebur diri di muara samudera luas tanpa tepi
dan berjalan menuju kesempurnaan. Kesemuanya itu tergantung pada
diri sendiri, seperti terlihat pada bait berikut:
> Iku luwih banget gawat neki / ing rarasantang keneng rinasa / tan
kena ginurokake / yeku yayi dan rampung / eneng onengira kang
ening / sungapan ing lautan / tanpa tepinipun / pelayaran ing
kesidan / aneng sira dewe tan Iyan iku yayi eneng ening wardaya.
>


Reply | Threaded
Open this post in threaded view
|  
Report Content as Inappropriate

Re: Re: Kejawen Islam ( AJI PAMELENG )

Mas Dipo
Mas BS,
Terima kasih atas kirimannya dan semoga apa yang tertulis didalam serat itu sudah dijalankan semuanya, karena didalam isi serat tersebut tersirat pelajaran dan tatacara yang disebut: "Sholat Da'im"
Berbahagialah bagi seseorang yang mengetahui dan sudah menjalankannya.
Salam rahayu, dipo



----- Original Message ----
From: bambang satrio <[hidden email]>
To: [hidden email]
Sent: Sunday, July 20, 2008 6:10:56 PM
Subject: [Spiritual-Indonesia] Re: Kejawen Islam ( AJI PAMELENG )


RAHAYU

Salam Kenal Mang Dipo dan Mas Bus.
Hanya sekedar menambahkan tentang asal usul KEJAWEN ISLAM, semoga
ada gunanya buat rekan-rekan SI semua :

AJI PAMELENG

Tegesipun aji = ratu, pameleng = pasamaden; mengku pikajeng :
tandaning sedya ingkang luhur piyambak. Dene empaning pandamelan wau
winastan manekung, pujabrata, mesu budi, mesu cipta, ngeningaken
utawi angluhuraken paningal, matiraga lan sasaminipun.

Papan ingkang kangge nindakaken wau panepen, panekungan, pamujan,
pamurcitan, pamursitan, pahoman, paheningan lan sanes-sanesipun.
Dene wedharing kawruh winastan daiwan, dawan, tirtaamerta,
tirtakamandhanu, tirtanirwala, mahosadi, kawasanan, kawaspadan,
kawicaksanaan, sastracetha, utawi sastrajendrayuningr at pangruwating
diyu lan sapanunggalanipun.

Menggah pigunanipun kawruh lan pandamel wau, perlu kangge sarananing
panembah murid manggih kawilujengan, margi saged anindakaken dhateng
sawarnaning pandamel sae, punapadene kangge sarana duk kita darbe
sedya nunuwun kanugrahaning gesang kita pribadi (Pangeran), inggih
nunuwun bab punapa kemawon ingkang limrah kenging linampahan saking
pandamel kita ingkang boten tilar murwat.

Wondene purwanipun ing jagad teka wonten kawruh pasamaden, bilih
miturut saking tembung-tembungipun , sanyata kathah ingkang nagngge
basa Sansekrit; yen makaten tetela manawi wimbaning kawruh pasamaden
wau saking tumitising kawicaksananipun bangsa Indhu ing jaman kina
makina, ingkang sampun boten kasumerepan petang ewoning taun.
Bokmanawi kemawon papantaranipun kalihan nalika bangsa Indhu
amurwani iyasa candhi dalah reca-recanipun. Dene kawruh wau ing
sakawit inggih namung kangge bangsa Indhu, boten nawang bangsa Indhu
ingkang agami punapa kemawon, katamtokaken mesthi ngrasuk pasamaden.
Awit inggih namung kawruh pasamaden punika ingkang dados mukaning
saliring kawruh sajagad, lan ugi dados pangajenging piwulan agami.

Ing ngalami lami bangsa Indhu sami lumeber dhateng ing Tanah Jawi
lan sanes sanesipun, serta sami anggelaraken agaminipun tuwin kawruh
sanes sanesipun; makaten ugi kawruh pasamaden inggih boten kantun.
Kawruh pamasaden wonten ing Tanah Jawi saget ngrembaka tuwuhipun,
margi bangsa Jawi tan pilih drajad sami remen puruita lan saged
nandangaken dating pangolahing kawruh punika, awit kawruh wau saget
nocoki kalihan dhadhasaring pamanahipun titiyang Jawi, mila kalayan
gampil rumasukipun wonten ing balung sungsuming titiyang Jawi.
Kasembuh malih saking kathahing bangsa Indhu kados sinuntak sami
angajawi, nedya anggelar agami Jawi lan kawruh kawicaksananipun.
Bebasan sakedeping netra, bangsa Jawi ing sa'indhengipun maratah
sampun sami angrasuk agami Indhu, lan ugi sampun sami saget
ngraosaken kabegjan, kamulyan, kawilujengan lan sasaminipun, margi
saking wohing kawruh pandamel wau.

Ing wusana katungka dhatengipun titiyang bangsa Arab sami lumebet
ing Tanah jawi, ingkang ugi ambekta kawruh lan agaminipun Mohammad,
kasebut agami Islam, temah nyunyuda tumangkaring agami Indhu, sebab
lajeng wonten ingkang angrasuk agami Islam. Namung kemawon wedharing
agami Islam boten andarbeni kawruh pasamaden, kados kasebut ing
nginggil.

Sareng golonganipun tiyang Islam sampun saget ngendhih Nagari,
inggih punika adeging Karaton Bintara (Demak), ing ngriku lajeng
angawisi kalayan kenceng, titiyang Jawi boten kenging anindakaken
kawruh pasamaden, mekaten ugi sami kinen nilar agaminipun lami,
serta kedah santun angrasuk agami Islam.

Ananging boten ta manawi bangsa Jawi lajeng anut purun santun agami
Islam sadaya, purunipun wau namung margi saking ajrih paukuman
wisesaning Nata, dados Islam-ipun wau namung wonten ing lahir
kemawon, utawi Islam pangaran-aran, yen batosipun taksih angrungkepi
agamipun lami. Milo bab kawruh pasamaden inggih taksih lajeng
katindakaken, ananging pamulang pamedharing kawruh pasamaden wau,
ingkang karan nama wejangan (wijang-wijang) sarana lampah
dhedhemitan, katindakaken ing wanci ndalu sasampunipun jam 12, ugi
papaning pamejang boten kenging kaubah wangon, kadosta ing ara-ara,
ing wana, ing lepen lan sasaminipun ing papan ingkang sepen.
Pamejangipun srana bisikan boten kenging kapireng ngasanes, sanadyan
suket godhong, kewan tuwin bangsanipun gegremetan kutu-kutu
walangataga ugi boten kenging miring, yen miring lajeng malih dados
manungsa. Mila linggihipun Kyai Guru ajeng-ajengan aben bathuk
kaliyan pun murid, serta sanget pamantos-mantosipun Kyai Guru, pun
murid boten kenging nularaken wewejanganipun (kawruhipun) dhateng
tiyang sanes, bilih dereng angsal palilah Guru, yen nerak bade
angsal wilalat manggih sapudendhaning Pangeran. Panindak ingkang
mekaten punika, purwanipun namung tetep kangge panjagi, supados
pamulanging kawruh pasamaden boten katupiksan dhateng pamarintahing
agami Islam. Sebab yen ngantos kasumerepan, tamtu manggih pidana.

Dumuginipun ing jaman samangke, sanadyan Nagari sampun boten
angarubiru dhateng wontenipun wewejangan kawruh pasamaden, nanging
panindaking wejangan wau taksih kalestantunaken sarana dhedhemitan
kados kawursita ing nginggil. Mila lajeng angsal paparab saking
panyedaning titiyang ingkang boten remen, utami tiyang ingkang
anglampahi sarengating agami Islam, bilih wontening wejangan kawruh
pasamaden wau lajeng kawastan ilmu klenik. Purwo saking tembung
klenik, lajeng angandhakaken tembung abangan lan putihan. Ingkang
kasebut abangan punika tiyang ingkang boten nindakaken saraking
agami Islam, dene putihan mastani tiyang Jawi ingkang teluh manjing
agami Islam sarta anglampahi sadaya sarak sarengating agami Islam
wau, inggih punika ingkang kasebut nama santri. Mila santri karan
putihan, margi miturut panganggenipun titiyang agami Islam, bilih
santri punika sarwo-sarwi langkung resik utawi suci tinimbang
kaliyan titiyang ingkang boten angrasuk agami Islam.

Mangsuli wontening kawruh pasamaden anggenipun sanget winados,
menggah ingkang dados sababipun kapretalakaken ing nginggil. Dene
yen saleresipun ingkang nama wados-wados wau pancen boten wonten;
dados inggih kenging-kenging kemawon kawulangaken dhateng sok
tiyanga, boten mawang nem sepuh, serta kenging kawejangaken ing
sawanci-wancinipun, uger tiyang wau pancen ambetahaken kawruh
pasamaden kasebat. Sebab wontenipun sadaya punika supados
kasumerepan dhateng ingakathah, langkung-langkung kawruh pasamaden
punika ingkang sanyata dados mukaning sadaya kawruh. Mila wajib
sinebar dados seserepaning tiyang nem sepuh wadarin ing
saindengipun, tanpa nawang andhap inggiling darajadipun.

Amarengi wahyaning mangsakala, wusana wonten kaelokaning lalampahan
ingkang boten kanyana-nyana; ing pawingkingipun bab kawruh pasamaden
wau lajeng muncul katampen dhateng tiyang Islam, margi yakin bilih
kawruh pasamaden wau, pancen musthikaning gagayuhan ingkang saged
andhatengaken ing kawilujengan, kamulyan, katentreman, lan
sasaminipun. Mila kawruh wau dening tiyang ingkang sampun suluh
papadhanging raosipun inggih punika Seh Sitijenar, ingkang ugi dados
pramugarining agami Islam apangkat Wali, lajeng kadhapuk ing ndalem
serat karanganipun, ingkang lajeng winastan daim, wirid saking
tembung daiwan kasebut ing nginggil. Punapadene lajeng kaewoaken
dados saperanganing panembah, sarana dipun wewahi tembungipun,
lajeng mungel : salat daim (salat - basa arab, daim saking daiwan
basa Sansekrit). Milanipun dipun wewahi basa arab, namung
kawigatosan kangge mikekahaken kapitadosanipun murid-muridipun
ingkang sampun sami necep agami Islam. Punapadene tembung salat
lajeng kapilah kalih prakawis. Sapisan salat 5 wekdal, kasebut
salat sarengat, ateges panembah lahir. Kaping kalih salat daim,
punika panembahing batos; mangertosipun : anekadaken manunggaling
pribadinipun, utawi kasebut loroning atunggil.
Kitab karanganipun Seh Sitijenar wau lajeng kangge paugeraning
piwulang. Sareng sampun angsal kawigatosaning ngakathah, ing ngriku
salat 5 wekdal lan sarak agami sanes-sanesipun lajeng kasuwak boten
kawulangaken babar pisan. Ingkang pinindeng namung mumuruk
tumindaking salat daim kemawon. Mila titiyang Jawi ingkang suwau
manjing agami Islam, langkung-langkung ingkang dereng, lajeng sami
ambyuk maguru dhateng Seh Sitijenar, margi piwulangipun langkung
gampil, terang lan nyata.

Wondene purwanipun Seh Sitijenar kaserenan kawruh pasamaden, ingkang
mijeni Kyai Ageng Pengging, sebab Seh Sitijenar punika
mitradarmanipun Kyai Ageng Pengging. Kawruh pasamaden, dening Seh
Sitijenar lajeng katularaken Raden Watiswara, inggih Pangeran
Panggung, ingkang ugi apangkat Wali. Lajeng tunimbal dhateng Sunan
Geseng, inggih Ki Cakrajaya, tiyang asal saking Pagelen, ingkang
kacarios saderengipun dados Wali, Ki Cakrajaya wau pandamelanipun
anderes nitis gendhis. Salajengipun sumrambah kawiridaken dhateng
ingakatah. Makaten ugi sakabat-sakabatipun Seh Sitijenar ingkang
sampun kabuka raosipun, dening Seh Sitijenar kinen sami madeg
paguron amiridaken kawruh pasamaden wau. Sangsaya dangu sangsaya
ngrebda, anyuremaken panguwaosing para Wali, anggenipun amencaraken
piwulang agami Islam. Yen kalajeng-lajeng masjid saestu badhe suwung.

Ngawekani sampun ngantos wonten kadadosan ingkang makaten, temah
Kyai Ageng Pengging tuwin Seh Sitijenar sasekabatipun ingkang sami
pinejahan katigas jangganipun dening para Wali, saking dhawuhipun
Sultan Demak. Makaten ugi Pangeran Panggung boten kantun, kapidana
kalebetaken ing brama gesang-gesangan wonten samadyaning alun-alun
Demak, kangge pangewan-ewan murih titiyang sami ajrih, lajeng sami
mantuni utawi nglepeh piwulangipun Seh Sitijenar.

Kacariyos sariranipun Pangeran Panggung boten tumawa dening
mawerdining Hyang Brama, lajeng oncat medal saking salebeting latu
murub, nilar nagari Demak. Kanjeng Sultan Bintara tuwin para Wali
sami kablerengen kaprabawan katiyasaning Pangeran Panggung, temah
kamitenggengen kadi tugu sinukarta. Sareng sampun sawatawis tebih
tindakipun Sang Pangeran, Kanjeng Sultan tuwin para Wali saweg sami
enget bilih Pangeran Panggung kalis saking pidana, temah sami rumaos
kawon angsal sihing Pangeran. Katungka unjuking wadyabala, atur
uninga bilih Sunan Geseng, inggih Ki Cakrajaya, kesah anututi
lampahipun Pangeran Panggung. Ing ngriku Kanjeng Sultan katetangi
dukanipun, temah dhawahing bendu, para sakabat tuwin murid-muridipun
Seh Sitijenar ingkang kapikut lajeng sami pinejahan. Ingkang boten
kacepeng sami lumajar pados gesang.

Para sakabatipun Seh Sitijenar ingkang taksih wilujeng
kakantunanipun ingkang sami pejah, ugi taksih sami madeg paguron
nglestantunaken pencaring kawruh pasamaden, nanging mawi sislintru
tinutupan wuwulang sarengating agami Islam, murih boten ka'arubiru
dening para Wali pramugarining praja. Dene piwulangipun kados ing
ngandhap punika :

Pamulanging kawruh pasamaden ingkang lajeng karan salat daim,
karangkepan wuwulang salat 5 wekdal tuwin rukuning Islam sanes-
sanesipun malih. Wewejanganipun salat daim wau lajeng winastan
wiridan naksobandiyah, dene panindaking piwulang kawastan tafakur.
Saweneh wonten ingkang pamulangipun ing saderengipun para murid
nampi wiridan salat daim, langkung rumiyin kalatih lampah
dhidhikiran lan maos ayat-ayat. Wiwit punika wuwulangan pasamaden
lajeng wonten wanrni kalih, inggih punika :

1. Piwulang pasamaden wiwiridan saking para sekabatipun Seh
Sitijenar, ingkang sarana tinutupan utawi aling-aling sarak rukuning
agami Islam. Wuwulangan wau dumuginipun ing jaman samangke sampun
mleset saking jejer ing sakawit, mila para guru samangke, ingkang
sami miridaken kawruh pasamaden, ingkang dipun santuni nama
naksobandiyah utawi satariyah, nginten bilih kawruh wau wiwiridan
saking ngulami ing Jabalkuber (Mekah). Salajengipun para Kyai guru
wau, amastani guru klenik dhateng para ingkang sami miridaken kawruh
pasamaden miturut wawaton Jawi pipiridan saking Seh Sitijenar.
Punapadene para Kyai guru wau nyukani paparab nama Kiniyai,
pikajengipun : guru ingkang mulangaken ilmuning setan. Dene nama
Kyai, punika guru ingkang mulangaken ilmuning para nabi.

2. Piwulang pasamaden miturut Jawi, wiji saking Kyai Ageng
Pengging, ingkang kapencaraken dening Seh Sitijenar (ingkang ing
samangke karan klenik), punika ing sakawit, ingkang dados purwaning
piwulang, dumunung wonten panggulawenthahing wawatekan 5 prakawis,
kados ing ngandhap punika :

1. Setya tuhu utawi temen lan jujur.
2. Santosa, adil paramarta, tanggeljawab boten lewerweh.
3. Leres ing samubarang damel, sabar welas asih ing sasami,
boten ngunggul-unggulaken dhirinipun, tebih saking watak panganiaya.
4. Pinter saliring kawruh, langkung-langkung pinter ngecani
manahing sasami-sami, punapadene pinter angereh kamurkaning manah
pribadi, boten anguthuh melik anggendhong lali, margi saking
dayaning mas picis rajabrana.
5. Susila anor-raga, tansah nganggeni tatakrami, maweh
rereseping paningal tuwin sengseming pamiharsa, dhateng ingkang sami
kataman.

Lampah 5 prakawis wau kedah linampahan winantu ing pujabrata
anandangaken ulah samadi, inggih amesu cipta angeningaken
pranawaning paningal. Awit saking makaten punika mila tumrap
panindaking agami Jawi (Buda), bab kawruh pasamaden tuwin lampah 5
prakawis wau kedah kawulangaken dhateng sadaya titiyang enem sepuh
boten pilih andhap inggiling darajatipun. Mila makaten, sebab
musthikaning kawruh tuwin luhur-luhuring kamanungsan, punika bilih
tetep samadinipun, kuwasa anindakaken lampah 5 prakawis kados
kawursita ing nginggil. Temah kita manggen ing sasananing
katrenteman, dene wontening katentreman mahanani harja kerta lan
kamardikan kita sami. Yen boten makaten, ngantos sabujading jagad,
kita badhe nandhang papa cintraka, kagiles dening rodha jantraning
jagad, margi kacidraning manah kita pribadi.

Bab kawruh pasamaden ingkang lajeng karan wiridan naksobandiyah lan
satariyah, ingkang ing nguni wiwiridan saking Seh Sitijenar, sampun
ka'andharaken ing nginggil, namung kemawon tumandangipun boten
kawedharaken. Ing riki namung badhe anggelaraken lampah tumandanging
samadi sacara Jawi, ingkang dereng kacarobosan agami sanes, inggih
punika makaten :

Para nupiksa, mugi sampun kalintu panampi, bilih samadi punika
angicalaken rahsaning gesang utawi nyawanipun (gesangipun) medal
saking badan wadhag. Panampi makaten punika, purwanipun mirid saking
cariyos lalampahanipun Sri Kresna ing Dwarawati, utawi Sang Arjuna
yen angraga-suksma. Mugi kawuninganana, bilih cariyos makaten punika
tetep namung kangge pasemon utawi pralambang.

Ing samangke wiwit wedharaken lampahing samadi makaten : tembung
samadi = sarasa - rasa tunggal - maligining rasa - rasa jati - rasa
nalika dereng makarti. Dene makartining rasa jalaran saking
panggulawenthah utawi piwulang, punapadene pangalaman-pangalam an
ingkang tinampen utawi kasandhang ing sadinten-dintenipun . Inggih
makartining rasa punika ingkang kawastanan pikir. Saking dayaning
panggulawenthah, piwulang tuwin pangalaman-pangalam an wau, pikir
lajeng gadhah panganggep awon lan sae, temah anuwuhaken tatacara,
pamacak lan sanes-sanesipun ingkang lajeng dados pakulinan. Punapa
panganggep awon sae, ingkang sampun dados tata-cara margi sampun
dados pakulinan punika, yen awon inggih awon sayektos, yen sae
inggih sae temenan, punika dereng tamtu, jer punika namung
pakulinaning panganggep. Dene panganggep, boten yekti, tetep namung
ngenggeni pakulinaning tata-cara, dados inggih dede kajaten utawi
kasunyatan. Menggah pikajenganipun samadi ing riki, boten wonten
sanes namung badhe nyumerepi kajaten, dene sarananipun boten wonten
malih kajawi nyumerepi utawi anyilahaken panganggep saking
makartining rasa, kasebut sirnaning papan lan tulis. Inggih ing riku
punika jumenenging rasa jati kang nyata, kang yekti, kang weruh
tanpa tuduh. Wondene kasembadanipun kedah angendelaken ing
saniskara, sarana angereh solahing anggota (badan). Mangrehing
anggota wau ingkang langkung pikantuk kalihan sareyan malumah, saha
sidhakep utawi kalurusaken mangandhap, epek-epek kiwa tengen
tumempel ing pupu kiwa tengen, suku ingkang lurus, dalamakan suku
ingkang tengen katumpangaken ing dalamakan suku kiwa, mila lajeng
kasebut sidhakep suku (saluku) tunggal. Punapadene angendelna
ebahing netra (mripat), inggih punika ingkang kawastanan meleng.
Lampah makaten wau ingkang kuwasa ngendelaken osiking cipta
(panggagas), tuwin amuntu ilining rahsa, dene pancering paningal
kasipatna amandeng pucuking grana medal saking sa'antawising netra
kakalih, inggih punika ing papasu, dene pamandengipun kedah kalayan
angeremaken netra kakalih pisan.

Sasampunipun lajeng nata lebet wedaling napas (ambegan) makaten :
panariking napas saking puser kasengkakna minggah anglangkungi
cethak ingga dumugi ing suhunan (utek = embun-embunan) , sarta mawi
kaendelna ing sawatawis dangunipun. Sumengkanipun napas wau
kadosdene darbe raos angangkat punapa-punapa, dene temenipun ingkang
kados kita angkat, punika ilining rahsa ingkang kita pepet saking
sumengkaning napas wau, menawi sampun kraos awrat panyangginipun
napas, inggih lajeng ka'edhakna kalayan alon-alon. Inggih patrap
ingkang makaten punika ingkang kawastanan sastracetha. Tegesipun
cetha = empaning kawruh, cetha = antebing swara cethak, inggih
cethaking tutuk kita punika. Mila winastan makaten, awit duk kita
mangreh sumengkaning napas anglangkungi dhadha lajeng minggah malih
anglangkungi cethak ingga dumugi suhunan. Menawi napas kita dipun
ereh, dados namung manut lampahing napas piyambak, tamtu boten saget
dumugi ing suhunan, margi saweg dumugi ing cethak lajeng sampun
medhak malih. Punapadene ugi winastan daiwan (dawan), pikajengipun :
mangreh lebet wedaling napas ingkang panjang lan sareh, sarwi
mocapaken mantra sarana kabatos kemawon, inggih punika mungel `hu'
kasarengan kalihan lumebeting napas, inggih panariking napas saking
puser, minggah dumugi ing suhunan. Lajeng `ya', kasarengan kalihan
wedaling napas, inggih medhaking napas saking suhunan dumugi ing
puser, minggah mandhaping napas wau anglangkungi dhadha lan cethak.
Dene, anggenipun kawastanan sastracetha, margi nalika mocapaken
mantra sastra kakalih : hu - ya, wedaling swara ingkang namung
kabatos wau, ugi kawistara saking dayaning cethak. (Ungeling mantra
utawi panebut kakalih : hu – ya, ing wiridan naksobandiyah kaewahan
dados mungel, hu – Allah, panebutipun ugi kasarengan lampahing
napas. Dene ing wiridan satariyah, panebut wau mungel : hailah –
haillolah, nanging tanpa angereh lampahing napas).

Menggah lebet medaling napas kados kasebut ing nginggil,
sa'angkatanipun namung kuwasa angambali rambah kaping tiga, mila
makaten, awit napas kita sampun boten kadugi manawi kinen
anandangana malih, jalaran sampun menggeh-menggeh. Dene manawi
sampun sareh, inggih lajeng ka'angkatana malih, makaten salajengipun
ngantos marambah-rambah sakuwawinipun, margi saya kuwawi dangu,
sangsaya langkung prayogi sanget. Dene sa'angkataning pandamel wau
kawastan : tripandurat, tegesipun tri = tiga, pandu = suci, rat =
jagad – badan – enggen, suraosipun : kaping tiga napas kita saget
tumameng ing ngabyantaraning ingkang Maha suci manggen ing
salebeting suhunan (ingkang dipun suwuni). Inggih punika ingkang
kabasakaken paworing kawula Gusti, tegesipun : manawi napas kita
sumengka, kita jumeneng gusti, yen tumedhak, wangsul dados kawula.
Bab punika para nupiksa sampun kalintu tampi ! Menggah ingkang dipun
wastani kawula gusti punika dede napas kita, nanging dayaning cipta
kita. Dados ulah samadi punika, pokokipun kita kedah amanjangaken
panjing wijiling napas (lebet wedaling napas), kalihan angeningaken
(ambeningaken) paningal, sebab paningal punika kadadosan saking
rahsa.

Wondene patraping samadi kados kasebut ing nginggil wau, ugi kenging
karancagaken, uger kita tansah lumintu tanpa pedhot mangeh panjing
wijiling napas, kalihan lenggah, lumampah, utawi nyambutdamel inggih
kedah boten kenging tilar mangreh lebet wedaling napas wau, ingkang
sarana mocapaken mantra mungel : hu – ya, kados ingkang kajarwa ing
nginggil.

Kajawi punika, wirid saking tembung daiwan punika ugi taksih darbe
maksud sanesipun malih, inggih punika ateges panjang tanpa ujung,
utawi ateges langgeng. Dene pikajengipun amastani bilih wontening
napas kita punika sanyata wahananing gesang kita ingkang langgeng,
inggih wontening ambegan kita. Dene ambegan punika, sanyata
wontening angin ingkang tansah mlebet medal tanpa kendel, ingkang
sasarengan kalihan keketeg panglampahing rah (roh). Bilih kakalih
wau kendel boten makarti nama pejah, inggih risaking badan wadhag
wangsul dados babakalan malih. Mila sayogyanipun lampahing napas
inggih ambegan kita ingkang tansah mlebet medal tanpa kendel, kedah
kapanjang-panjangan a lampahipun, murih panjanga ugi umur kita, temah
saget awet wonten ing donya tutug panyawangipun dhateng anak, putu,
buyut, canggah, wareng, ingkang babranahan.

Wontenipun andharan ing nginggil, mratelakaken bilih kawruh
pasamaden punika sanyata langkung ageng pigunanipun, mila lajeng
sinebut sastrajendrayuningr at pangruwating diyu. Tegesipun sastra =
empaning kawruh, jendra = saking panggarbaning tembung harja endra.
Tegesipun harja = raharja, endra = ratu – dewa, yu = rahayu –
wilujeng, ningrat = jagad – enggen – badan. Suraosipun :
Musthikaning kawruh ingkang kuwasa amartani ing karahayon, kaharjan,
katentreman lan sapatunggalipun. Dene tegesesipun pangruwating diyu
= amalihaken diyu; dene diyu = danawa – raksasa – asura – buta,
punika kangge pasemoning piawon, penyakit, rereget, babaya,
pepeteng, kabodhohan lan sanesipun. Dados diyu punika
kosokwangsulipun dewa, engkang ateges pinter, sae, wilujeng lan
sapanunggilipun. Mengku suraos amastani ingkang saget anyirnakaken
saliring piawon tuwin samubarang babaya pekewed. Mangertosipun,
sinten ingkang tansah ajeg lumintu anandangaken ulah samadi, punika
bilih ing suwaunipun tiyang awon, lajeng sirna piawonipun, malih
dados tiyang sae lampahipun. Tiyang sakit sirna sakitipun, dados
saras, tiyang murka daksiya lajeng narimah sabar, welasasih. Tiyang
goroh lajeng dados temen. Tiyang bodho dados pinter. Tiyang pinter
dados pinter sanget. Makaten ugi tiyang golongan sudra dados waesia,
waesia dados satriya, satriya dados brahmana, brahmana sumengka
pangawak braja asarira bathara.

RAHAYU

BS

--- In Spiritual-Indonesia @yahoogroups. com, bustanus salatin
<ki_ageng_jenar@ ...> wrote:
>
> buku SATRIO PANINGIT, BENCANA NUSANTARA, MANUNGGALINGKAWULOG USTI
dalam UNIVERSALITAS KEAGAMAAN
> ISBN:978-979- 17824-0-1/ barcode
>  
> Bab 10: Kajian Tafsir Huruf Muqota'ah: Pandangan Siti Jenar dan
Husain ibnu Mansur al-Hallaj dalam Manunggaling Kawulo Gusti
>  
> Syekh Siti Jenar begitu sering dihubung-hubungkan dengan al-Husain
ibnu Mansur al-Hallaj atau singkatnya Al-Hallaj saja, sufi Persia
abad ke-10, yang sepintas lalu ajarannya mirip dengan Siti Jenar,
karena ia memohon dibunuh agar tubuhnya tidak menjadi penghalang
penyatuannya kembali dengan Tuhan. Adalah Al-Hallaj yang karena
konsep satunya Tuhan dan dunia mengucapkan kalimat, "Akulah
Kebenaran/ Anna al Haq," yang menjadi alasan bagi hukuman matinya
pada 922 Masehi di Baghdad. Seperti Syekh Siti Jenar pula, nama Al-
Hallaj menjadi monumen keberbedaan dalam penghayatan agama, sehingga
bahkan diandaikan bahwa jika secara historis Syekh Siti Jenar tak
ada, maka dongengnya adalah personifikasi saja dari ajaran Al-
Hallaj, bagi yang mendukung maupun yang menindas ajaran tersebut.
> petikan atas kutipan dari Serat Siti Jenar yang diterbitkan oleh
Tan Khoen Swie, Kediri, pada 1922:
> Kawula dan gusti sudah ada dalam diriku, siang dan malam tidak
dapat memisahkan diriku dari mereka. Tetapi hanya saat ini nama
kawula-gusti itu berlaku, yakni selama saya mati. Nanti, kalau saya
sudah hidup lagi, gusti dan kawula lenyap, yang tinggal hanya
hidupku, ketenteraman langgeng dalam Ada sendiri.
> Hai Pangeran Bayat, bila kau belum menyadari kebenaran kata-kataku
maka dengan tepat dapat dikatakan, bahwa kau masih terbenam dalam
masa kematian. Di sini memang banyak hiburan aneka warna. Lebih
banyak lagi hal-hal yang menimbulkan hawa nafsu. Tetapi kau tidak
melihat, bahwa itu hanya akibat pancaindera.
> Itu hanya impian yang sama sekali tidak mengandung kebenaran dan
sebentar lagi akan lenyap. Gilalah orang yang terikat padanya, tidak
seperti Syeh Siti Jenar. Saya tidak merasa tertarik, tak sudi
tersesat dalam kerajaan kematian. Satu-satunya yang kuusahakan,
ialah kembali kepada kehidupan
> Dalam pupuhnya, Syekh Siti Jenar merasa malu apabila harus
berdebat masalah agama. Alasannya sederhana, yaitu dalam agama
apapun, setiap pemeluk sebenarnya menyembah zat Yang Maha Kuasa.
Hanya saja masing - masing menyembah dengan menyebut nama yang
berbeda - beda dan menjalankan ajaran dengan cara yang belum tentu
sama. Oleh karena itu, masing - masing pemeluk tidak perlu saling
berdebat untuk mendapat pengakuan bahwa agamanya yang paling benar.
> Syekh Siti Jenar juga mengajarkan agar seseorang dapat lebih
mengutamakan prinsip ikhlas dalam menjalankan ibadah. Orang yang
beribadah dengan mengharapkan surga atau pahala berarti belum bisa
disebut ikhlas.
> Manunggaling Kawula Gusti, Dalam ajarannya ini, pendukungnya
berpendapat bahwa Syekh Siti Jenar tidak pernah menyebut dirinya
sebagai Tuhan. Manunggaling Kawula Gusti dianggap bukan berarti
bercampurnya Tuhan dengan Makhluknya, melainkan bahwa Sang Pencipta
adalah tempat kembali semua makhluk. Dan dengan kembali kepada
Tuhannya, manusia telah menjadi sangat dekat dengan Tuhannya.
> Dan dalam ajarannya, 'Manunggaling Kawula Gusti' adalah bahwa di
dalam diri manusia terdapat ruh yang berasal dari ruh Tuhan sesuai
dengan ayat Al Qur'an yang menerangkan tentang penciptaan manusia ("
Ketika Tuhanmu berfirman kepada malaikat: "Sesungguhnya Aku akan
menciptakan manusia dari tanah. Maka apabila telah Kusempurnakan
kejadiannya dan Kutiupkan kepadanya roh Ku; maka hendaklah kamu
tersungkur dengan bersujud kepadanya (Shaad; 71-72)"). Dengan
demikian ruh manusia akan menyatu dengan ruh Tuhan dikala
penyembahan terhadap Tuhan terjadi.
> Riwayat pertemuan Ibrahim ibn Sam'an dengan Husain bin Mansur al
Hallaj ( Kutipan dari Buku Husain bin Manshur al Hallaj, karangan
Louis Massignon)
> Aku melihat al Hallaj pada suatu hari di masjid al Mansur: Aku
memiliki 2 dinar dalam sakuku dan aku berpikir untuk menghabiskan
uang itu untuk hal-hal yang melanggar hukum. Seseorang datang dan
memintah sedekah.Dan Husain bin Mansur al Hallaj berkata:' Ibnu
Sam'an berikanlah sedekah  dengan apa yang kamu simpan di dalam
jubahmu, aku terdiam dan menangis, " oh syaikh,bagaimana engkau
mengetahui hal itu?'' Al Hallaj berkata:' Setiap hati yang
mengosongkan diri dari yang selain Alloh, dapat membaca kesadaran
orang dan menyaksikan apa yang ghoib''. Ibnu Sam'an berkata:''
o,syaikh ajarilah aku sebuah hikmah''. Kemudian berkata al
Hallaj :''Orang yang mencari Tuhan dibalik huruf miim dan ain akan
menemukan Nya.Dan seseorang yang mencarinya dalam konsonan idhafah
antara alif dan nun, orang itu akan kehilangan Dia. Karena Dia itu
Maha Suci, di luar jangkauan pikiran dan diatas yang terselubung ,
yang berada di dalam diri setiap
> orang. Kembalilah kepada Tuhan, Titik Terakhir adalah Dia. Tidak
ada "Mengapa" di hari akhir kecuali Dia.Bagi manusia "MA/ yaitu miim
dan ain" milik Dia berada dalam miim dan ain makna ""MA"" ini adalah
Tuhan Maha Suci. Dia mengajak makhluk terbang menuju Tuhan. "miim"
membimbing ke Dia dari atas ke bawah. "ain"membimbing ke Dia dari
Jauh dan Luas.
>  
> Ilmu Huruf Muqota'ah
> Ilmu huruf, yang didasarkan pada satu bahsa suci, tentulah
memiliki sebuah fondasi mistis yang diperlukan. Orang bisa
menemukan  doktrin ini dalam puisi mistis yang terkenal Ghulsyan-i
Raz (Taman Mawar), karya Syabistari: " Bagi orang yang jiwanya
adalah manifestasi Tuhan yaitu al Qur'an, keseluruhan alam ini
adalah huruf-huruf vokalNya dan substansinya adalah huruf konsonan
Nya " Pasal 200-209 puisi Ghulsyan-i Raz.
> Abu Ishaq Quhistani, sufi Islam, menegaskan pentingnya ilmu huruf
dengan menyatakan bahwa " ilmu huruf adalah akar dari segala ilmu ".
Secara skematis ilmu huruf mengandung :
>
> Simbolisme ketuhanan dan metafisika atau /metakosmik
> Simbolisme universal / makrokosmik yang didasarkan pada
korespondensi antara huruf-huruf dan benda astrologis (ruang
angkasa/ planet/ lambang zodiak dll)
> Simbolisme manusia dan individu yang didasarkan pada korespondensi
fisiologis/organ tubuh
> Jumlah huruf muqatta'ah (terpotong) ada 14 huruf yaitu :alif lam
miim,ha miim, alif lam ra, tha ha,ha miim ain sin qaf, ya sin, kaf
ha ya `ain shad, kaf dan nun. Kalau dirangkai keseluruhannya menjadi
sebuah kalimat : Shiratu `aliyin haqqun namsikuhu (jalan Ali adalah
kebenaran yang kita pegang). huruf muqatta'ah (terpotong) adalah
huruf-huruf yang merupakan rumusan dialog antara Alloh swt dengan
kekasihnya (para Nabi dan para Wali)
> Apa Makna miim dan ain sehingga dapat menemukan Tuhan dan bertemu
dengan Nya dan Mengapa ketika mencari Tuhan dibalik huruf alif dan
nun maka tidak bisa bertemu dengan Nya?
> Tafsir Miim (numerology Arabiyah)::
>
> Huruf miim merupakan muhammad rosulillah atau Ahmad, yang
merupakan pintu menuju Ahad yang merupakan wahdaniyah Allah.
Perbedaan antara  Ahad dan Ahmad adalah huruf arab Miim (muhammad
rosulillah - penutup jalur risalah dan kenabian)
> Miim juga berarti malakuti / keagungan / penguasaan atas seluruh
langit bumi, ayat Kursi merupakan ayat yang mengandung banyak huruf
miim didalamya
> Huruf miim bernilai 40, 40 hari khalwat dengan ikhlas dengan
mengamalkan surat al ikhlas dan ayat Kursi (ayat yang banyak
mengandung huruf miim /sujud jadi sujud adalah cara menggapai
keagungan). Juga surat al ikhlas di awali dengan qulhuwa allohu
ahad. Jadi perwujudan ahad di dunia adalah ahmad, ketika manusia
menjadi ahmad maka merupakan tajalli/ penampakan sang Mahakuasa
dalam diri manusia. Sekali lagi bedakan Ahmad dan Ahad terletak
huruf miim.
> Huruf miim membentuk, posisi sujud dalam solat, sujud merupakan
posisi kedekatan dengan Alloh, bahkan sujud merupakan simbol dari
wahdaniyah Allah. Metode untuk mendekat (muqorrobin/ kewalian)
kepada Tuhan yang paling cepat adalah dengan sujud yang lama dalam
Sholat. Hadits qudsi Allah berfirman : " Barangsiapa memusuhi waliku
sungguh kuumumkan perang kepadanya, tiadalah hamba Ku mendekat
kepada Ku dengan hal hal yg fardhu- 17 rokaat, dan Hamba Ku terus
mendekat kepada Ku dengan hal hal yg sunnah- 34 rokaat qobliyah dan
bakdiyah- baginya hingga Aku mencintainya, bila Aku mencintainya
maka aku menjadi telinganya yg ia gunakan untuk mendengar, dan
matanya yg ia gunakan untuk melihat, dan menjadi tangannya yg ia
gunakan untuk memerangi, dan kakinya yg ia gunakan untuk melangkah,
bila ia meminta pada Ku niscaya kuberi permintaannya. ..." (shahih
Bukhari hadits no.6137).
>  
> Tafsir Ain,Yaa,Sin, Nuun,Aliif (numerology Arabiyah):
>
> Huruf ain bermakna sayidina Ali bin Abu tholib merupakan pintu
gerbang keilmuan. Sesuai hadits Nabi yang menyatakan bahwa Muhammad
rosulluloh adalah gudang ilmu dan Sayidina Ali adalah pintunya.
Huruf ayn membentuk posisi rukuk dalam sujud, dalam riwayat asbabun
nuzul quran ada ayat yang berkenaan dengan Ali bin abu thalib, yaitu
orang yang rukuk kemudian dalam posisi rukuk dalam solat melakukan
sedekah berupa cincin. Inilah ayat quran itu: Walimu hanyalah Allah,
Rasul-Nya dan mereka yang beriman yang menegakkan salat, membayar
zakat seraya rukuk. (QS. al-Mâ`idah: 55)
> Kunci sholat yang merupakan adab tatakrama/ kepasrahaan total ila
allohu ada di rukuk/ huruf ain, sujud/ huruf miim adalah kedekatan
(muqorobin- fana asma dan tajalli asma), barangsiapa tidak tahu adab
( rukuknya)  maka tidak layak untuk dekat (muqorobin).
> Huruf Ain bernilai 70.sedang huruf Ya bernilai 10 dan huruf Sin
bernilai 60. jadi secara matematis yaitu 70(ain)= yaa(10)+sin( 60)
jadi Ya + Seen = Ain merupakan Quran dalam surat 36 adalah surat Ya
Seen. ayat ke 58 dari surat Yasin adalah Salaamun Qawlam Mir Rabbir
Raheem. Jadi 5+8=13, posisi huruf ke 13 dalam abjad Arab adalah
huruf Miim/ Sujud. Jadi untuk mengerti Ain/ rukuk  kita harus
mengerti tafsir huruf Yaa dan Tafsir huruf Sin. Dengan mengerti Yaa
dan Sin kita akan sampai kepada Sayidina Ali bin Abu Tholib.
> Kyai Kholil Bangkalan, salah seorang pencetak kyai besar Nahdlatul
Ulama, selama perjalanan pesantren Keboncandi, Pasuruan-Sidogiri
kyai kholil Bangkalan sewaktu muda selalu membaca YaSin, hingga
khatam berkali-kali
> Huruf Ya adalah akhir dari abjad Arab and Alif awal dari abjad
Arab. Huruf  Ya/ hamba memimpin/cenderung ke arah Alif/ Alloh. Huwal
Awwalu wa Hu wal Akhiru.
> Rincian huruf Awwalu  :
> Alif(1)+waw( 6)+lam(30) =37ß-à3+7=10, (Ya=10),
> 10 ß-à1+0=1ß-àpertama.
> ·         Rincian huruf Akhiru :: Alif(1)+Kho( 600)+Ro(200) = 801ß-
à8+0 +1= 9 ß-à terakhir adalah 9, angka 9 dalam numerology arab
adalah huruf Ta yang bermakna penyucian atau Tahara/penyucian dan
bulan ke 9 dalam Arab/ Qomariah adalah bulan ramadhon yaitu bulan
puasa
> ·         Penyucian kalbu dari kecintan diri dan dunia merupakan
tingkat awal penyucian untuk bersuluk kepada Alloh. Sesungguhnya
kotoran maknawi terbesar yang tidak bisa disucikan meskipun dengan
tujuh lautan dan para nabi pun tidak mampu menghilangkannya adalah
kotora kejahilan ganda (pura-pura tahu padahal tidak tahu).
Kekeruhan ini mungkin akan memadamkan cahaya petunjuk dan meredupkan
api kerinduan yang merupakan buraq untuk bermikraj mencapai berbagai
maqom spiritual.( Imam Khomeini dalam Hakikat dan Rahasia Sholat)
> ·          dan Alif(1)+ Ta(9)=10ß-à (Ya=10=hamba) , nilai huruf
(Ya=10), jadi seorang Hamba yaitu simbol Ya harus melakukan Puasa/
penyucian jiwa/ tazkiyah nafs simbol (Ta=9) untuk Alloh semata
simbol (Alif=1) atau Hamba harus sabar dengan KetentuanNya atau
nrimo ing pandum, karena hasil puasa Lillah Billah menjadikan orang
sabar atau innalloha ma'ashobirin (Sesungguhnya Alloh bersama (MA
terdiri huruf miim dan ain lihat al Baqarah:153 ) orang yang sabar.
Lihat bersama adalah Ma yaitu ma'asshobirin. Disini terungkap
rahasia mim dan ayn yaitu MA seperti yang diucapkan oleh Husain bin
Mansur al Hallaj. jadi Sabar adalah kunci menemukan Tuhan. Para
mufassir menafsirkan sabar dengan melakukan puasa. Pahala puasa
hanya Alloh yang tahu. Artinya Hak menilai puasa langsung di tangan
Alloh bukan di tangan para malaikat. Sabda Rosullulloh saw Puasa
yang dilakukan khusus untuk-Ku/ puasa Lillah Billah dan cukuplah Aku
sebagai pahalanya
> ·         Mempelajari Ilmu Ketuhanan akan menjadikan orang
bersabar, seperti dialog Nabi Musa as dan Nabi Khidr as yaitu
Bagaimana kamu dapat sabar terhadap persoalan yang kamu samasekali
belum memiliki pengetahuan yang cukup tentangNya(QS 18:68).
Barangsiapa menghadapi kesengsaraan dengan hati terbuka, menunjukkan
kesabaran dengan penuh ketenangan dan martabat, termasuk dalam
golongan orang terpilih dan bagian untuknya adalah Berikanlah kabar
gembira (keberhasilan dan kejayaan) kepada orang yang sabar (QS
2:155),
>
> Dalam Islam, kemampuan mengendalikan emosi dan menahan diri
disebut sabar. Orang yang paling sabar adalah orang yang paling
tinggi dalam kecerdasan emosionalnya. Ia biasanya tabah dalam
menghadapi kesulitan. Ketika belajar orang ini tekun. Ia berhasil
mengatasi berbagai gangguan dan tidak memperturutkan emosi-nya.
> Gabungan rincian Awwalu dan Akhiru adalah Seorang Hamba
(Ya=10=hamba) karena  Akhiru(9)+ Awwalu (1)=10ß-à (Ya=10=hamba) ,
jadi seorang Hamba menampung Asma Alloh yang lengkap dan memiliki
potensi untuk menampakkan sifat ketuhanan
> Huruf Sin bernilai 60 dalam numerology Arab, merupakan simbol dari
sirr Muhammad, sirr adalah rahasia ketuhanan yang disimpan dalam
diri manusia sebagai hamba. Huruf sin dalam INSAN. huruf alif nya
adalah Alloh, huruf  sin adalah rahasia /sirr ketuhanan, 2 huruf nun
adalah simbol hukum dunia dan akhirat yang merupakan
representasi /perwakilan kitab suci al Qur'an.
> Huruf Yaa/ simbol Hamba digunakan untuk memanggil seseorang atau
menarik perhatian sesorang. Ya adalah simbol seorang Hamba menyembah
dan menyebut Tuhannya Ya Alloh Ya Robbi dll.Yaa juga digunakan oleh
Alloh memanggil Hambanya.Ya juga berarti simbol antara yang disembah
dan menyembah, tetapi posisi Ya=10/ hamba selalu cenderung kepada
Alif=1 atau Alloh karena Alloh sebagai Awwalu, dalam ilmu huruf,
> Alif(1)+waw( 6)+lam(30) =37ß-à3+7=10 adalah Yaa menyatu dengan Alif
(10ß-à1+0=1) atau dibalik Yaa ada Alif atau di dalam Manusia ada
Tuhan atau istilah Wahdatul Wujud nya Ibnu Arobi yaitu antara
penyembah dan yang disembah itu sama tapi tidak serupa atau menurut
istilah ajaran Syekh Siti Jenar, yaitu Manunggaling Kawula
Gusti. "PERSAMAAN" antara manusia dan Allah. Hal inilah yang
dimaksudkan dalam sabda Nabi saw.: "Sesungguhnya Allah menciptakan
manusia dalam kemiripan dengan diriNya sendiri." Lebih jauh lagi
Allah telah berfirman: "Hambaku mendekat kepadaKu sehingga Aku
menjadikannya sahabatKu. Aku pun menjadi telinganya, matanya dan
lidahnya." Juga Allah berfirman kepada Musa as.: "Aku pernah sakit
tapi engkau tidak menjengukku! " Musa menjawab: "Ya Allah, Engkau
adalah Rabb langit dan bumi; bagaimana Engkau bisa sakit?" Allah
berfirman: "Salah seorang hambaKu sakit; dan dengan menjenguknya
berarti engkau telah mengunjungiKu. "Memang ini adalah suatu
> masalah yang agak berbahaya untuk diperbincangkan, karena hal ini
berada di balik pemahaman orang-orang awam. Seseorang yang cerdas
sekalipun bisa tersandung dalam membicarakan soal ini dan percaya
pada inkarnasi dan kersekutuan dengan Allah.
> Tafsir huruf Nun dan Alif- Pencari Tuhan dibalik huruf alif dan
nun maka tidak bisa bertemu dengan Nya::
>
> Bernilai 50 dalam numerology Arab.
> Tafsir huruf INSAN, memiliki 2 huruf nun merupakan simbol alam
dunia/ jasad dan alam akhirat/ ruh/ jiwa. Ruh yang disucikan akan
memperoleh Nur/ surga sedangkan Ruh yang dikotori akan memperoleh
Nar/ neraka.
> Tafsir Alif dan Nun: Penggambaran Simbolis Huruf dan Alif Nun
merupakan lambang sebuah perahu (syariat) dan sebuah Jiwa/
individu /personal mengarungi lautan / medan ujian, kayuh/sampan (
membentuk huruf Alif) kiri kanan adalah wilayah pilihan manusia (
sunnatulloh adalah qadha' qadar baik buruk) yang telah ditetapkan
oleh Alloh arti simbol Alif. Individu yang sedang menaiki perahu (
simbol Nun), sampan/kayuh adalah alat/ pilihan yang akan mengerakkan
jiwanya menuju 3 pilihan yaitu, pertama, arah perahu ke  kiri
berarti ashabul syimal/ Nun menjadi Naar/ neraka, kedua arah perahu
ke  kanan berarti ashabul yamin/ Nun menjadi Nur/cahaya, ketiga arah
perahu tidak ke  kiri dan tidak ke kanan tetapi tengah berarti
sabiqunal awwalun/ terdahulu mencapai tujuan - ini adalah golongan
para pencinta yaitu menyembah karena kerinduan ingin bertemu dengan
sang Khaliq – ini adalah jawaban isyarah tersembunyi dari Husain bin
Manshur al Hallaj- yaitu para nabi
> dengan simbol miim (arti bathinnya adalah sujud) yaitu Muhammad
saw dan ain (arti bathinnya adalah rukuk) yaitu sayidina Ali bin
Abuthalib
> Huruf Nun Mengingatkan Kita juga  kepada  Zunnun/ Nabi Yunus as
yang naik perahu di tengah lautan dan ditelan Ikan karena
meninggalkan Kaum nya sebelum ada perintah dari ALLOH swt.
> Zikir Zunnun / N.Yunus  - doa keselamatan menghadapi medan ujian :
wa dzan nuni idz dzahaba mughadziban fa dhanna an lan naqdiro alayhi
fa nada fid dhulumati an laila antan subhanaka inni kuntu
minadolimin fastajabna lahu wa najjaynahu minal ghammi wa kadzalika
nunjil mukminina (Anbiya :87-88).
>  
> Kesimpulan:
> ·        Tafsir Yaa Sin akan membuka rahasia huruf `'MA'' yaitu
miim dan ain seperti yang dikatakan oleh Husain bin Mansur al
Hallaj:
> Quran dalam surat 36 adalah surat Ya Seen. ayat ke 58 dari surat
Yasin adalah Salaamun Qawlam Mir Rabbir Raheem
> "Rahasia Ketuhanan ada dalam diri manusia, agar manusia mampu
menampakkan atau men-tajallikan Ketuhanan dalam dirinya maka
perintah solat (Rukuk, Sujud) adalah sarana 'Manunggaling Kawula
Gusti dan sodaqoh ( menebarkan hasil usaha kebenaran/ pengabdian
masyarakat/ agen perubahan/ social agent) kepada sesama makhluk
Tuhan (kesalehan sosial) yang merupakan perwujudan dari Salaamun
Qawlam Mir Rabbir Raheem"
> ·         Tafsir YaaSin adalah simbol manusia sempurna yaitu hamba
yang mampu menampung rahasia Alloh swt dan didalam sirr itu seorang
penyembah dan disembah bertemu dan berdialog, ibarat sebuah pohon
lengkap dengan pokoknya, cabangnya dan puncaknya. Imam al Baqir
berkata: Maukah kamu akau beritahu pokok-pokok Islam, cabang dan
puncaknya dan pintu kebaikan? Sulaiman bin Khalid berkata: Tentu,
lalu jawab Imam al Baqir: Pokoknya adalah sholat, cabangnya adalah
zakat, dan puncaknya adalah membela kaum tertindas dan menegakkan
keadilan. Pintu kebaikan itu adalah :
> 1.      Puasa merupakan perisai api neraka
> 2.      Sedekah itu menghapus dosa
> 3.      Sholat di malam hari untuk berzikir
>  
> Tafsir Rukuk/Huruf Ain
> Etika rukuk adalah meninggikan maqam rububiyah Nya yang agung,
mulia dan merendahkan maqam ubudiyah seorang hamba yang lemah, faqir
dan hina. Rukuk adalah awal ketundukkan dan sujud adalah
puncaknya.Yang melakukan rukuk dengan sempurna dan benar akan
menemukan keselarasan pada sujud. Imam Shadiq berkata" rukuk yang
benar kepada Alloh adalah menghiasi dengan cahaya keindahan asma
Nya. Rukuk adalah yang pertama dan sujud adalah yang kedua. Dalam
rukuk ada adab penghambaan dan dalam sujud ada kedekatan/Qurb dengan
Zat yang disembah. Simbol rukuk adalah hamba dengan hati tunduk
kepada Alloh, merasa hina dan takut di bawah kekuasaan-Nya.
Merendahkan anggota badan karena gelisah dan takut tidak memperoleh
manfaat rukuk.
>  
> Tafsir Sujud/Huruf Mim
> Sujud merupakan puncak ketundukan dan puncak kekhusyukan seorang
hamba, sebaik-baik wasilah taqarrub ila Alloh, sebaik-baik posisi
untuk mencapai cahaya-cahaya tajalli Asma  Alloh swt dan maqam Qurb
dengan Nya. N. Saw bersabda : "lamakanlah sujudmu", sebab tiada amal
yang lebih berat dan paling tak disukai oleh syetan saat melihat
anak Adam sedang sujud, karena dia telah diperintahakan sujud dan
dia tidak patuh. Sujud merupakan sebab mendekatnya hamba dengan sang
Kholik. Wahai orang yang beriman, mintalah pertolongan dengan sabar
dan solat, sesungguhnya Alloh bersama orang yang sabar (al
Baqarah:153)
>  
> Tafsir Salam/Huruf Yaa Sin
> Salam adalah salah satu nama Alloh. Arti Salam dari sisi Alloh
adalah keselamatan zat, sifat, perbuatan-Nya. Adapun Zatnya
terpelihara dari kelenyapan, perubahan dan dari segala kekurangan.
Salam dari sisi Hamba adalah doa,yaitu memohon keselamatan kepada
Alloh untuk orang yang kita ucapkan salam /selamat dari segala
cobaaan dan bencana dunia akhirat. Salam juga berarti ungkapan
Kepasrahan/ ketundukan kepada Sunnatulloh ( Quran Hadits). Menurut
Imam Shadiq "salam adalah orang yang melaksanakan perintah Alloh dan
melakukan sunnah Rosulillah dengan ikhlas (intinya Ahad dan Ahmad),
juga selamat  dari bencana dunia dan akhirat. Salam juga bermakna
penghormatan kepada hamba yang sholih (assalamu alaina wa ala
ibadilahis sholihin) dan malaikat pencatat amal
>  Al Futuhat al Makkiyah, Karangan Ibnu Aroby, merujuk empat
perjalanan akal dalam bab 69 tentang rahasia rahasia shalat sebagai
perjalanan spiritual manusia. Perintah sholat 51 rokaat kepada Nabi
Muhammad saw saat isro miroj: Tuhan memerintahkan hambaNya itu
supaya setiap Muslim setiap hari sembahyang limapuluh kali. Kemudian
untuk umatnya menjadi 17 rokaat wajib di lima waktu dan sisanya 34
rokaat menjadi sunah muakkad- qobliyah dan bakdiya.
> Mulla Shadra dalam bukunya al Asfar al Arba'ah mengatakan:
> "Ketahuilah bahwa para pesuluk diantara orang Arif/ Irfan dan para
Wali menempuh empat perjalanan akal :
>
> Perjalanan makhluk kepada kebenaran –diskusi metafisika umum (min
al khalq ila al Haq)
> Pesuluk mempelajari dasar-dasar metafisika umum dan
dalilnya.pesuluk cenderung pada kajian semantik dan metafisika dasar
terhadap firman Ttuhan dalam Quran.
>
> Perjalanan bersama kebenaran didalam  kebenaran- pengalaman
metafisika khusus dengan pengalaman pribadi (bi al Haq fi al Haq)
> Pesuluk akan melihat sifat dan namaNya yang tertinggi baik nama
yang mewujudkan rahmatNya dan murkaNya. Hukum nama nama Alloh ini di
dalam kejamakannya akan mewujud di dalam diri pesuluk.Hal ini
dikenal dengan makam wahidiyah atau tujuh substansi halus (lataif).
Pesuluk akan mengalami rasa takut dan harapan (al khauf wa al raja)
>
> Perjalanan dari Kebenaran menuju makhluk  (min al Haq ila al al
khalq)
> Setelah mengalami fase peniadaan diri,pesuluk menerima karunia
Tuhan dan kembali kepada kesadaran diri. Pesuluk menyaksikan
penciptaan dan alam kejamakan dalam diri makhluk tetapi dengan mata
yang lain, dengan pendengaran yang berbeda. Puncak perjalan ketiga
membawa pesuluk menuju kesucian/Wilayah( kewalian)
>
> Perjalanan bersama Kebenaran di dalam makhluk (bi al Haq fi al
khalq)
> Maqam penetapan hukum dan pembedaan dari baik dan buruk.ini adalah
derajat kenabian,penetapan hukum dan kepemimpinan atas umat manusia
yang berhubungan dengan urusan urusan mereka yang beragam dan
berbeda-beda serta bagaimana mereka saling berinteraksi satu sama
lain. seorang `arif tak akan benar-benar mencapai maqam spiritual
tertinggi jika tidak memanifestasikan keimanan-puncak, yang telah
diraihnya lewat dua perjalanan pertama, dalam bentuk concern sosial
politik untuk mereformasi masyarakat dan membebaskan kaum tertindas
dari rantai penindasannya. Tidak lain maqam penetapan hukum
(legislatif) atau melibatkan diri dalam kemasyarakatan dan hubungan
social, merupakan perwujudan penebaran salam kepada makhluk yaitu
Salaamun Qawlam Mir Rabbir Raheem yang merupakan inti tafsir      
Yaa Sin.

>
> --- On Sun, 7/20/08, mang dipo <dipo1601@.. .> wrote:
>
> From: mang dipo <dipo1601@.. .>
> Subject: [Spiritual-Indonesi a] Kejawen Islam
> To: Spiritual-Indonesia @yahoogroups. com
> Date: Sunday, July 20, 2008, 1:46 AM
>
>
>
>
>
>
>
>
>
> Mari kita mengutip satu tembang Jawa
> Tak uwisi gunem iki                      saya akhiri pembicaraan
ini
> Niyatku mung aweh wikan           saya hanya ingin memberi tahu
> Kabatinan akeh lire                      kabatinan banyak macamnya
> Lan gawat ka liwat-liwat              dan artinya sangat gawat
> Mulo dipun prayitno                      maka itu berhati-hatilah
> Ojo keliru pamilihmu                     Jangan kamu salah pilih
> Lamun mardi kebatinan                  kalau belajar kebatinan
>
> Tembang ini menggambarkan nasihat seorang tua (pinisepuh) kepada
mereka yang ingin mempelajari kabatinan cara kejawen. Kiranya perlu
dipahami bahwa tujuan hakiki dari kejawen adalah berusaha
mendapatkan ilmu sejati untuk mencapai hidup sejati, dan berada
dalam keadaan harmonis hubungan antara kawula (manusia) dan Gusti
(Pencipta) ( jumbuhing kawula Gusti ) /pendekatan kepada Yang Maha
Kuasa secara total.
>
> Keadaan spiritual ini bisa dicapai oleh setiap orang yang percaya
kepada Tuhan, yang mempunyai moral yang baik, bersih dan jujur.
beberapa laku harus dipraktekkan dengan kesadaran dan ketetapan hati
yang mantap. Pencari dan penghayat ilmu sejati diwajibkan untuk
melakukan sesuatu yang berguna bagi semua orang serta  melalui
kebersihan hati dan tindakannya. Cipta, rasa, karsa dan karya
(kuasa) harus baik, benar, suci dan ditujukan untuk mamayu hayuning
bawono. Ati suci jumbuhing Kawulo Gusti : hati suci itu adalah
hubungan yang serasi antara Kawulo dan Gusti,  kejawen merupakan
aset dari orang Jawa tradisional  yang berusaha memahami dan mencari
makna dan  hakekat hidup yang mengandung nilai-nilai.
>
> Dalam budaya jawa dikenal adanya simbolisme, yaitu suatu faham
yang menggunakan lambang atau simbol untuk membimbing pemikiran
manusia kearah pemahaman terhadap suatu hal secara lebih dalam.
Manusia mempergunakan simbol sebagai media penghantar komunikasi
antar sesama dan segala sesuatu yang dilakukan manusia merupakan
perlambang dari tindakan atau bahkan karakter dari manusia itu
selanjutnya. Ilmu pengetahuan adalah simbol-simbol dari Tuhan, yang
diturunkan kepada manusia, dan oleh manusia simbol-simbol itu
ditelaah dibuktikan dan kemudian diubah menjadi simbol-simbol yang
lebih mudah difahami agar bisa diterima oleh manusia lain yang
memiliki daya tangkap yang berberda-beda.
>
> Biasanya sebutan orang Jawa adalah orang yang hidup di wilayah
sebelah timur sungai Citanduy dan Cilosari. Bukan berarti wilayah di
sebelah barat-nya bukan wilayah pulau Jawa. Masyarakat Jawa adalah
masyarakat yang menjunjung tinggi rasa kekeluargaan dan suka
bergotong royong dengan semboyannya "saiyeg saekoproyo " yang
berarti sekata satu tujuan.
>
> Kisah suku Jawa diawali dengan kedatangan seorang satriya
pinandita yang bernama Aji Saka, sampai kemudian satriya itu menulis
sebuah sajak yang kemudian sajak tersebut diakui menjadi huruf jawa
dan digunakan sebagai tanda dimulainya penanggalan tarikh Caka.
>
> Kejawena dalah faham orang jawa atau aliran kepercayaan yang
muncul dari masuknya berbagai macam agama ke jawa. Kejawen mengakui
adanya Tuhan Gusti Allah tetapi juga mengakui mistik yang berkembang
dari ajaran tasawuf agama-agama yang ada.
>
> Tindakan tersebut dibagi  tiga bagian yaitu tindakan simbolis
dalam religi, tindakan simbolis dalam tradisi dan tindakan simbolis
dalam seni. Tindakan simbolis dalam religi, adalah contoh kebiasaan
orang Jawa yang percaya bahwa Tuhan adalah zat yang tidak mampu
dijangkau oleh pikiran manusia, karenanya harus di simbolkan agar
dapat di akui keberadaannya misalnya dengan menyebut Tuhan dengan
Gusti Ingkang Murbheng Dumadi, Gusti Ingkang Maha Kuaos, Hyang Manon
dan sebagainya.
>
> Tindakan simbolis dalam tradisi dimisalkan dengan adanya tradisi
upacara kematian yaitu medo'akan orang yang meninggal pada tiga
hari, tujuh hari, empatpuluh hari, seratus hari, satu tahun, dua
tahun, tiga tahun, dan seribu harinya setelah seseorang meninggal
(tahlillan). Dan tindakan simbolis dalam seni dicontohkan dengan
berbagai macam warna yang terlukis pada wajah wayang kulit; warna
ini menggambarkan karakter dari masing-masing tokoh dalam wayang.
>
> Perkembangan budaya jawa yang mulai tergilas oleh perkembangan
teknologi yang mempengaruhi pola pikir dan tindakan orang jawa dalam
kehidupan. Maka orang mulai berfikir bagaimana bisa membuktikan hal
gaib secara empiris tersebut dengan menggunakan berbagai macam
metode tanpa mengindahkan unsur kesakralan. Bahkan terkadang
kepercayaan itu kehilangan unsur kesakralannya karena dijadikan
sebagai obyek exploitasi dan penelitian.
>
> Kebiasaan orang Jawa yang percaya bahwa segala sesuatu adalah
simbol dari hakikat kehidupan, seperti syarat sebuah rumah harus
memiliki empat buah soko guru (tiang penyangga) yang melambangkan
empat unsur alam yaitu tanah, air, api, dan udara, yang ke empatnya
dipercaya akan memperkuat rumah baik secara fisik dan mental
penghuni rumah tersebut. Namun dengan adanya teknologi konstruksi
yang semakin maju, keberadaan soko guru itu tidak lagi menjadi
syarat pembangunan rumah. Dengan analisa tersebut dapat diperkirakan
bagaimana nantinya faham simbolisme akan bergeser dari budaya jawa.
Tapi bahwa simbolisme tidak akan terpengaruh oleh kehidupan manusia
tapi kehidupan manusialah yang tergantung pada simbolisme. Dan
sampai kapanpun simbolisme akan terus berkembang mengikuti
berputarnya sangkakala.
>
> Mangkunegara IV (Sembah dan Budiluhur)
> Mangkunegara IV memiliki empat ajaran utama yang meliputi sembah
raga, sembah cipta (kalbu), sembah jiwa, dan sembah rasa.
>
> Sembah Raga
> Sembah raga ialah menyembah Tuhan dengan mengutamakan gerak laku
badaniah atau amal perbuatan yang bersifat lahiriah. Cara bersucinya
sama dengan sembahyang biasa, yaitu dengan mempergunakan air
(wudhu). Sembah yang demikian biasa dikerjakan lima kali sehari
semalam dengan mengindahkan pedoman secara tepat, tekun dan terus
menerus, seperti bait berikut:
>
> Sembah raga puniku / pakartining wong amagang laku / sesucine
asarana saking warih / kang wus lumrah limang wektu / wantu wataking
wawaton
>
> Sembah raga, sebagai bagian pertama dari empat sembah yang
merupakan perjalanan hidup yang panjang ditamsilkan sebagai orang
yang magang laku (calon pelaku atau penempuh perjalanan hidup
kerohanian), orang menjalani tahap awal kehidupan bertapa (sembah
raga puniku, pakartining wong amagang laku). Sembah ini didahului
dengan bersuci yang menggunakan air (sesucine asarana saking warih).
Yang berlaku umum sembah raga ditunaikan sehari semalam lima kali.
Atau dengan kata lain bahwa untuk menunaikan sembah ini telah
ditetapkan waktu-waktunya lima kali dalam sehari semalam (kang wus
lumrah limang wektu). Sembah lima waktu merupakan shalat fardlu yang
wajib ditunaikan (setiap muslim) dengan memenuhi segala syarat dan
rukunnya (wantu wataking wawaton). Sembah raga yang demikian ini
wajib ditunaikan terus-menerus tiada henti (wantu) seumur hidup.
Dengan keharusan memenuhi segala ketentuan syarat dan rukun yang
wajib dipedomani (wataking wawaton). Watak suatu
> waton (pedoman) harus dipedomani. Tanpa mempedomani syarat dan
rukun, maka sembah itu tidak sah.
>
> Sembah raga tersebut, meskipun lebih menekankan gerak laku
badaniah, namun bukan berarti mengabaikan aspek rohaniah, sebab
orang yang magang laku selain ia menghadirkan seperangkat fisiknya,
ia juga menghadirkan seperangkat aspek spiritualnya sehingga ia
meningkat ke tahap kerohanian yang lebih tinggi.
>
> Sembah Cipta( Kalbu )
> Sembah ini kadang-kadang disebut sembah cipta dan kadang-kadang
disebut sembah kalbu, seperti terungkap pada Pupuh Gambuh bait 1 dan
Pupuh Gambuh bait 11 berikut :
> Samengkon sembah kalbu / yen lumintu uga dadi laku / laku agung
kang kagungan narapati / patitis teteking kawruh / meruhi marang
kang momong.
>
> Apabila cipta mengandung arti gagasan, angan-angan, harapan atau
keinginan yang tersimpan di dalam hati, kalbu berarti hati , maka
sembah cipta di sini mengandung arti sembah kalbu atau sembah hati,
bukan sembah gagasan atau angan-angan.
> Apabila sembah raga menekankan penggunaan air untuk membasuh
segala kotoran dan najis lahiriah, maka sembah kalbu menekankan
pengekangan hawa nafsu yang dapat mengakibatkan terjadinya berbagai
pelanggaran dan dosa (sucine tanpa banyu, amung nyunyuda hardaning
kalbu).
>
> Thaharah (bersuci) itu, demikian kata Al-Ghazali, ada empat
tingkat.
> Pertama,membersihka n hadats dan najis yang bersifat lahiriah.
> Kedua,membersihkan anggota badan dari berbagai pelanggaran dan
dosa.
> Ketiga,membersihkan hati dari akhlak yang tercela dan budi pekerti
yang hina.
> Keempat,membersihka n hati nurani dari apa yang selain Allah. Dan
yang keempat inilah taharah pada Nabi dan Shiddiqin.
>
> Jika thaharah yang pertama dan kedua menurut Al-Ghazali masih
menekankan bentuk lahiriah berupa hadats dan najis yang melekat di
badan yang berupa pelanggaran dan dosa yang dilakukan oleh anggota
tubuh. Cara membersihkannya dibasuh dengan air. Sedangkan kotoran
yang kedua dibersihkan dan dibasuh tanpa air yaitu dengan menahan
dan menjauhkan diri dari pelanggaran dan dosa. Thaharah yang ketiga
dan keempat juga tanpa menggunakan air. Tetapi dengan membersihkan
hati dari budi jahat dan mengosongkan hati dari apa saja yang selain
Allah.
>
> Sembah Jiwa
> Sembah jiwa adalah sembah kepada Hyang Sukma ( Allah ) dengan
mengutamakan peran jiwa. Jika sembah cipta (kalbu) mengutamakan
peran kalbu, maka sembah jiwa lebih halus dan mendalam dengan
menggunakan jiwa atau al-ruh. Sembah ini hendaknya diresapi secara
menyeluruh tanpa henti setiap hari dan dilaksanakan dengan tekun
secara terus-menerus, seperti terlihat pada bait berikut:
> Samengko kang tinutur / Sembah katri kang sayekti katur / Mring
Hyang Sukma suksmanen saari-ari / Arahen dipun kecakup / Sembahing
jiwa sutengong.
>
> Dalam rangkaian ajaran sembah Mangkunegara IV yang telah disebut
terdahulu, sembah jiwa ini menempati kedudukan yang sangat penting.
Ia disebut pepuntoning laku (pokok tujuan atau akhir perjalanan
suluk). Inilah akhir perjalanan hidup batiniah. Cara bersucinya
tidak seperti pada sembah raga dengan air wudlu atau mandi, tidak
pula seperti pada sembah kalbu dengan menundukkan hawa nafsu, tetapi
dengan awas emut (selalu waspada dan ingat/dzikir kepada keadaan
alam baka/langgeng) , alam Ilahi.
>
> Betapa penting dan mendalamnya sembah jiwa ini, tampak dengan
jelas pada bait berikut :
> Sayekti luwih perlu / ingaranan pepuntoning laku / Kalakuan kang
tumrap bangsaning batin / Sucine lan awas emut / Mring alaming lama
amota.
>
> Berbeda dengan sembah raga dan sembah kalbu, ditinjau dari segi
perjalanan suluk, sembah ini adalah tingkat permulaan (wong amagang
laku) dan sembah yang kedua adalah tingkat lanjutan. Ditinjau dari
segi tata cara pelaksanaannya, sembah yang pertama menekankan
kesucian jasmaniah dengan menggunakan air dan sembah yang kedua
menekankan kesucian kalbu dari pengaruh jahat hawa nafsu lalu
membuangnya dan menukarnya dengan sifat utama. Sedangkan sembah
ketiga menekankan pengisian seluruh aspek jiwa dengan dzikir kepada
Allah seraya mengosongkannya dari apa saja yang selain Allah.
>
> Pelaksanaan sembah jiwa ialah dengan berniat teguh di dalam hati
untuk mengemaskan segenap aspek jiwa, lalu diikatnya kuat-kuat untuk
diarahkan kepada tujuan yang hendak dicapai tanpa melepaskan apa
yang telah dipegang pada saat itu. Dengan demikian triloka (alam
semesta) tergulung menjadi satu. Begitu pula jagad besar dan jagad
kecil digulungkan disatupadukan. Di situlah terlihat alam yang
bersinar gemerlapan. Maka untuk menghadapi keadaan yang menggumkan
itu, hendaklah perasaan hati dipertebal dan diperteguh jangan
terpengaruh apa yang terjadi. Hal yang demikian itu dijelaskan
Mangkunegara IV pada bait berikut:
> "Ruktine ngangkah ngukud / ngiket ngruket triloka kakukud / jagad
agung ginulung lan jagad alit / den kandel kumandel kulup / mring
kelaping alam kono."
>
> Sembah Rasa
> Sembah rasa ini berlainan dengan sembah-sembah yang sebelumnya. Ia
didasarkan kepada rasa cemas. Sembah yang keempat ini ialah sembah
yang dihayati dengan merasakan intisari kehidupan makhluk semesta
alam,  demikian menurut Mangkunegara IV.
> Jika sembah kalbu mengandung arti menyembah Tuhan dengan alat
batin kalbu atau hati seperti disebutkan sebelumnya, sembah jiwa
berarti menyembah Tuhan dengan alat batin jiwa atau ruh, maka sembah
rasa berarti menyembah Tuhan dengan menggunakan alat batin inti ruh.
Alat batin yang belakangan ini adalah alat batin yang paling dalam
dan paling halus yang menurut Mangkunegara IV disebut telenging
kalbu (lubuk hati yang paling dalam) atau disebut wosing jiwangga
(inti ruh yang paling halus).
> Dengan demikian menurut Mangkunegara IV, dalam diri manusia
terdapat tiga buah alat batin yaitu, kalbu, jiwa/ruh dan inti
jiwa/inti ruh (telengking kalbu atau wosing jiwangga) yang
memperlihatkan susunan urutan kedalaman dan kehalusannya.
>
> Pelaksanaan sembah rasa itu tidak lagi memerlukan petunjuk dan
bimbingan guru seperti ketiga sembah sebelumnya, tetapi harus
dilakukan salik sendiri dengan kekuatan batinnya, seperti
diungkapkan Mangkunegara IV dalam bait berikut:
> Semongko ingsun tutur / gantya sembah lingkang kaping catur /
sembah rasa karasa wosing dumadi / dadi wus tanpa tuduh / mung
kalawan kasing batos.
>
> Apabila sembah jiwa dipandang sebagai sembah pada proses
pencapaian tujuan akhir perjalanan suluk (pepuntoning laku), maka
sembah rasa adalah sembah yang dilakukan bukan dalam perjalanan
suluk itu, melainkan sembah yang dilakukan di tempat tujuan akhir
suluk. Dengan kata lain, seorang salik telah tiba di tempat yang
dituju. Dan di sinilah akhir perjalanan suluknya. Untuk sampai di
sini, seorang salik masih tetap dibimbing gurunya seperti telah
disebut di muka. Setelah ia diantarkan sampai selamat oleh gurunya
untuk memasuki pintu gerbang, tempat sembah yang keempat, maka
selanjutnya ia harus mandiri melakukan sembah rasa.
>
> Pada tingkatan ini, seorang salik dapat melaksanakan sendiri
sembah rasa sesuai petunjuk-petunjuk gurunya. Pada tingkat ini ia
dipandang telah memiliki kematangan rohani. Oleh karena itu, ia
dipandang telah cukup ahli dalam melakukan sembah dengan
mempergunakan aspek-aspek batiniahnya sendiri.
>
> Di sini, dituntut kemandirian, keberanian dan keteguhan hati
seorang salik, tanpa menyandarkan kepada orang lain. Kejernihan
batinlah yang menjadi modal utama. Hal ini sesuai dengan wejangan
Amongraga kepada Tambangraras dalam Centini bait 156. Sembah
tersebut, demikian dinyatakan Amongraga, sungguh sangat mendalam,
tidak dapat diselami dengan kata-kata, tidak dapat pula dimintakan
bimbingan guru. Oleh karena itu, seorang salik harus merampungkannya
sendiri dengan segala ketenangan, kejernihan batin dan kecintaan
yang mendalam untuk melebur diri di muara samudera luas tanpa tepi
dan berjalan menuju kesempurnaan. Kesemuanya itu tergantung pada
diri sendiri, seperti terlihat pada bait berikut:
> Iku luwih banget gawat neki / ing rarasantang keneng rinasa / tan
kena ginurokake / yeku yayi dan rampung / eneng onengira kang
ening / sungapan ing lautan / tanpa tepinipun / pelayaran ing
kesidan / aneng sira dewe tan Iyan iku yayi eneng ening wardaya.
>

 


     
Reply | Threaded
Open this post in threaded view
|  
Report Content as Inappropriate

Re: Re: Kejawen Islam ( AJI PAMELENG )

frenchleghorn
kawruh yang sama juga ditulis di buku attasadur adammakna......dan menurut riwayatnya
aji pameleng ini warisan dari syech lemah abrit...



salam

darma

--- On Sun, 7/20/08, mang dipo <[hidden email]> wrote:
From: mang dipo <[hidden email]>
Subject: Re: [Spiritual-Indonesia] Re: Kejawen Islam  ( AJI PAMELENG )
To: [hidden email]
Date: Sunday, July 20, 2008, 6:36 PM










   
            Mas BS,
Terima kasih atas kirimannya dan semoga apa yang tertulis didalam serat itu sudah dijalankan semuanya, karena didalam isi serat tersebut tersirat pelajaran dan tatacara yang disebut: "Sholat Da'im"
Berbahagialah bagi seseorang yang mengetahui dan sudah menjalankannya.
 
Salam rahayu, dipo
 




----- Original Message ----
From: bambang satrio <gathomalioboro@ yahoo.com>
To: Spiritual-Indonesia @yahoogroups. com
Sent: Sunday, July 20, 2008 6:10:56 PM
Subject: [Spiritual-Indonesi a] Re: Kejawen Islam ( AJI PAMELENG )



RAHAYU

Salam Kenal Mang Dipo dan Mas Bus.
Hanya sekedar menambahkan tentang asal usul KEJAWEN ISLAM, semoga
ada gunanya buat rekan-rekan SI semua :

AJI PAMELENG

Tegesipun aji = ratu, pameleng = pasamaden; mengku pikajeng :
tandaning sedya ingkang luhur piyambak. Dene empaning pandamelan wau
winastan manekung, pujabrata, mesu budi, mesu cipta, ngeningaken
utawi angluhuraken paningal, matiraga lan sasaminipun.

Papan ingkang kangge nindakaken wau panepen, panekungan, pamujan,
pamurcitan, pamursitan, pahoman, paheningan lan sanes-sanesipun.
Dene wedharing kawruh winastan daiwan, dawan, tirtaamerta,
tirtakamandhanu, tirtanirwala, mahosadi, kawasanan, kawaspadan,
kawicaksanaan, sastracetha, utawi sastrajendrayuningr at pangruwating
diyu lan sapanunggalanipun.

Menggah pigunanipun kawruh lan pandamel wau, perlu kangge sarananing
panembah murid manggih kawilujengan, margi saged
 anindakaken dhateng
sawarnaning pandamel sae, punapadene kangge sarana duk kita darbe
sedya nunuwun kanugrahaning gesang kita pribadi (Pangeran), inggih
nunuwun bab punapa kemawon ingkang limrah kenging linampahan saking
pandamel kita ingkang boten tilar murwat.

Wondene purwanipun ing jagad teka wonten kawruh pasamaden, bilih
miturut saking tembung-tembungipun , sanyata kathah ingkang nagngge
basa Sansekrit; yen makaten tetela manawi wimbaning kawruh pasamaden
wau saking tumitising kawicaksananipun bangsa Indhu ing jaman kina
makina, ingkang sampun boten kasumerepan petang ewoning taun.
Bokmanawi kemawon papantaranipun kalihan nalika bangsa Indhu
amurwani iyasa candhi dalah reca-recanipun. Dene kawruh wau ing
sakawit inggih namung kangge bangsa Indhu, boten nawang bangsa Indhu
ingkang agami punapa kemawon, katamtokaken mesthi ngrasuk pasamaden.
Awit inggih namung kawruh pasamaden punika ingkang
 dados mukaning
saliring kawruh sajagad, lan ugi dados pangajenging piwulan agami.

Ing ngalami lami bangsa Indhu sami lumeber dhateng ing Tanah Jawi
lan sanes sanesipun, serta sami anggelaraken agaminipun tuwin kawruh
sanes sanesipun; makaten ugi kawruh pasamaden inggih boten kantun.
Kawruh pamasaden wonten ing Tanah Jawi saget ngrembaka tuwuhipun,
margi bangsa Jawi tan pilih drajad sami remen puruita lan saged
nandangaken dating pangolahing kawruh punika, awit kawruh wau saget
nocoki kalihan dhadhasaring pamanahipun titiyang Jawi, mila kalayan
gampil rumasukipun wonten ing balung sungsuming titiyang Jawi.
Kasembuh malih saking kathahing bangsa Indhu kados sinuntak sami
angajawi, nedya anggelar agami Jawi lan kawruh kawicaksananipun.
Bebasan sakedeping netra, bangsa Jawi ing sa'indhengipun maratah
sampun sami angrasuk agami Indhu, lan ugi sampun sami saget
ngraosaken kabegjan, kamulyan,
 kawilujengan lan sasaminipun, margi
saking wohing kawruh pandamel wau.

Ing wusana katungka dhatengipun titiyang bangsa Arab sami lumebet
ing Tanah jawi, ingkang ugi ambekta kawruh lan agaminipun Mohammad,
kasebut agami Islam, temah nyunyuda tumangkaring agami Indhu, sebab
lajeng wonten ingkang angrasuk agami Islam. Namung kemawon wedharing
agami Islam boten andarbeni kawruh pasamaden, kados kasebut ing
nginggil.

Sareng golonganipun tiyang Islam sampun saget ngendhih Nagari,
inggih punika adeging Karaton Bintara (Demak), ing ngriku lajeng
angawisi kalayan kenceng, titiyang Jawi boten kenging anindakaken
kawruh pasamaden, mekaten ugi sami kinen nilar agaminipun lami,
serta kedah santun angrasuk agami Islam.

Ananging boten ta manawi bangsa Jawi lajeng anut purun santun agami
Islam sadaya, purunipun wau namung margi saking ajrih paukuman
wisesaning Nata, dados Islam-ipun wau namung wonten
 ing lahir
kemawon, utawi Islam pangaran-aran, yen batosipun taksih angrungkepi
agamipun lami. Milo bab kawruh pasamaden inggih taksih lajeng
katindakaken, ananging pamulang pamedharing kawruh pasamaden wau,
ingkang karan nama wejangan (wijang-wijang) sarana lampah
dhedhemitan, katindakaken ing wanci ndalu sasampunipun jam 12, ugi
papaning pamejang boten kenging kaubah wangon, kadosta ing ara-ara,
ing wana, ing lepen lan sasaminipun ing papan ingkang sepen.
Pamejangipun srana bisikan boten kenging kapireng ngasanes, sanadyan
suket godhong, kewan tuwin bangsanipun gegremetan kutu-kutu
walangataga ugi boten kenging miring, yen miring lajeng malih dados
manungsa. Mila linggihipun Kyai Guru ajeng-ajengan aben bathuk
kaliyan pun murid, serta sanget pamantos-mantosipun Kyai Guru, pun
murid boten kenging nularaken wewejanganipun (kawruhipun) dhateng
tiyang sanes, bilih dereng angsal palilah Guru, yen nerak
 bade
angsal wilalat manggih sapudendhaning Pangeran. Panindak ingkang
mekaten punika, purwanipun namung tetep kangge panjagi, supados
pamulanging kawruh pasamaden boten katupiksan dhateng pamarintahing
agami Islam. Sebab yen ngantos kasumerepan, tamtu manggih pidana.

Dumuginipun ing jaman samangke, sanadyan Nagari sampun boten
angarubiru dhateng wontenipun wewejangan kawruh pasamaden, nanging
panindaking wejangan wau taksih kalestantunaken sarana dhedhemitan
kados kawursita ing nginggil. Mila lajeng angsal paparab saking
panyedaning titiyang ingkang boten remen, utami tiyang ingkang
anglampahi sarengating agami Islam, bilih wontening wejangan kawruh
pasamaden wau lajeng kawastan ilmu klenik. Purwo saking tembung
klenik, lajeng angandhakaken tembung abangan lan putihan. Ingkang
kasebut abangan punika tiyang ingkang boten nindakaken saraking
agami Islam, dene putihan mastani tiyang Jawi ingkang
 teluh manjing
agami Islam sarta anglampahi sadaya sarak sarengating agami Islam
wau, inggih punika ingkang kasebut nama santri. Mila santri karan
putihan, margi miturut panganggenipun titiyang agami Islam, bilih
santri punika sarwo-sarwi langkung resik utawi suci tinimbang
kaliyan titiyang ingkang boten angrasuk agami Islam.

Mangsuli wontening kawruh pasamaden anggenipun sanget winados,
menggah ingkang dados sababipun kapretalakaken ing nginggil. Dene
yen saleresipun ingkang nama wados-wados wau pancen boten wonten;
dados inggih kenging-kenging kemawon kawulangaken dhateng sok
tiyanga, boten mawang nem sepuh, serta kenging kawejangaken ing
sawanci-wancinipun, uger tiyang wau pancen ambetahaken kawruh
pasamaden kasebat. Sebab wontenipun sadaya punika supados
kasumerepan dhateng ingakathah, langkung-langkung kawruh pasamaden
punika ingkang sanyata dados mukaning sadaya kawruh. Mila wajib
 
sinebar dados seserepaning tiyang nem sepuh wadarin ing
saindengipun, tanpa nawang andhap inggiling darajadipun.

Amarengi wahyaning mangsakala, wusana wonten kaelokaning lalampahan
ingkang boten kanyana-nyana; ing pawingkingipun bab kawruh pasamaden
wau lajeng muncul katampen dhateng tiyang Islam, margi yakin bilih
kawruh pasamaden wau, pancen musthikaning gagayuhan ingkang saged
andhatengaken ing kawilujengan, kamulyan, katentreman, lan
sasaminipun. Mila kawruh wau dening tiyang ingkang sampun suluh
papadhanging raosipun inggih punika Seh Sitijenar, ingkang ugi dados
pramugarining agami Islam apangkat Wali, lajeng kadhapuk ing ndalem
serat karanganipun, ingkang lajeng winastan daim, wirid saking
tembung daiwan kasebut ing nginggil. Punapadene lajeng kaewoaken
dados saperanganing panembah, sarana dipun wewahi tembungipun,
lajeng mungel : salat daim (salat - basa arab, daim saking daiwan
basa
 Sansekrit). Milanipun dipun wewahi basa arab, namung
kawigatosan kangge mikekahaken kapitadosanipun murid-muridipun
ingkang sampun sami necep agami Islam. Punapadene tembung salat
lajeng kapilah kalih prakawis. Sapisan salat 5 wekdal, kasebut
salat sarengat, ateges panembah lahir. Kaping kalih salat daim,
punika panembahing batos; mangertosipun : anekadaken manunggaling
pribadinipun, utawi kasebut loroning atunggil.
Kitab karanganipun Seh Sitijenar wau lajeng kangge paugeraning
piwulang. Sareng sampun angsal kawigatosaning ngakathah, ing ngriku
salat 5 wekdal lan sarak agami sanes-sanesipun lajeng kasuwak boten
kawulangaken babar pisan. Ingkang pinindeng namung mumuruk
tumindaking salat daim kemawon. Mila titiyang Jawi ingkang suwau
manjing agami Islam, langkung-langkung ingkang dereng, lajeng sami
ambyuk maguru dhateng Seh Sitijenar, margi piwulangipun langkung
gampil, terang lan
 nyata.

Wondene purwanipun Seh Sitijenar kaserenan kawruh pasamaden, ingkang
mijeni Kyai Ageng Pengging, sebab Seh Sitijenar punika
mitradarmanipun Kyai Ageng Pengging. Kawruh pasamaden, dening Seh
Sitijenar lajeng katularaken Raden Watiswara, inggih Pangeran
Panggung, ingkang ugi apangkat Wali. Lajeng tunimbal dhateng Sunan
Geseng, inggih Ki Cakrajaya, tiyang asal saking Pagelen, ingkang
kacarios saderengipun dados Wali, Ki Cakrajaya wau pandamelanipun
anderes nitis gendhis. Salajengipun sumrambah kawiridaken dhateng
ingakatah. Makaten ugi sakabat-sakabatipun Seh Sitijenar ingkang
sampun kabuka raosipun, dening Seh Sitijenar kinen sami madeg
paguron amiridaken kawruh pasamaden wau. Sangsaya dangu sangsaya
ngrebda, anyuremaken panguwaosing para Wali, anggenipun amencaraken
piwulang agami Islam. Yen kalajeng-lajeng masjid saestu badhe suwung.

Ngawekani sampun ngantos wonten kadadosan ingkang
 makaten, temah
Kyai Ageng Pengging tuwin Seh Sitijenar sasekabatipun ingkang sami
pinejahan katigas jangganipun dening para Wali, saking dhawuhipun
Sultan Demak. Makaten ugi Pangeran Panggung boten kantun, kapidana
kalebetaken ing brama gesang-gesangan wonten samadyaning alun-alun
Demak, kangge pangewan-ewan murih titiyang sami ajrih, lajeng sami
mantuni utawi nglepeh piwulangipun Seh Sitijenar.

Kacariyos sariranipun Pangeran Panggung boten tumawa dening
mawerdining Hyang Brama, lajeng oncat medal saking salebeting latu
murub, nilar nagari Demak. Kanjeng Sultan Bintara tuwin para Wali
sami kablerengen kaprabawan katiyasaning Pangeran Panggung, temah
kamitenggengen kadi tugu sinukarta. Sareng sampun sawatawis tebih
tindakipun Sang Pangeran, Kanjeng Sultan tuwin para Wali saweg sami
enget bilih Pangeran Panggung kalis saking pidana, temah sami rumaos
kawon angsal sihing Pangeran. Katungka
 unjuking wadyabala, atur
uninga bilih Sunan Geseng, inggih Ki Cakrajaya, kesah anututi
lampahipun Pangeran Panggung. Ing ngriku Kanjeng Sultan katetangi
dukanipun, temah dhawahing bendu, para sakabat tuwin murid-muridipun
Seh Sitijenar ingkang kapikut lajeng sami pinejahan. Ingkang boten
kacepeng sami lumajar pados gesang.

Para sakabatipun Seh Sitijenar ingkang taksih wilujeng
kakantunanipun ingkang sami pejah, ugi taksih sami madeg paguron
nglestantunaken pencaring kawruh pasamaden, nanging mawi sislintru
tinutupan wuwulang sarengating agami Islam, murih boten ka'arubiru
dening para Wali pramugarining praja. Dene piwulangipun kados ing
ngandhap punika :

Pamulanging kawruh pasamaden ingkang lajeng karan salat daim,
karangkepan wuwulang salat 5 wekdal tuwin rukuning Islam sanes-
sanesipun malih. Wewejanganipun salat daim wau lajeng winastan
wiridan naksobandiyah, dene panindaking piwulang
 kawastan tafakur.
Saweneh wonten ingkang pamulangipun ing saderengipun para murid
nampi wiridan salat daim, langkung rumiyin kalatih lampah
dhidhikiran lan maos ayat-ayat. Wiwit punika wuwulangan pasamaden
lajeng wonten wanrni kalih, inggih punika :

1. Piwulang pasamaden wiwiridan saking para sekabatipun Seh
Sitijenar, ingkang sarana tinutupan utawi aling-aling sarak rukuning
agami Islam. Wuwulangan wau dumuginipun ing jaman samangke sampun
mleset saking jejer ing sakawit, mila para guru samangke, ingkang
sami miridaken kawruh pasamaden, ingkang dipun santuni nama
naksobandiyah utawi satariyah, nginten bilih kawruh wau wiwiridan
saking ngulami ing Jabalkuber (Mekah). Salajengipun para Kyai guru
wau, amastani guru klenik dhateng para ingkang sami miridaken kawruh
pasamaden miturut wawaton Jawi pipiridan saking Seh Sitijenar.
Punapadene para Kyai guru wau nyukani paparab nama Kiniyai,
 
pikajengipun : guru ingkang mulangaken ilmuning setan. Dene nama
Kyai, punika guru ingkang mulangaken ilmuning para nabi.

2. Piwulang pasamaden miturut Jawi, wiji saking Kyai Ageng
Pengging, ingkang kapencaraken dening Seh Sitijenar (ingkang ing
samangke karan klenik), punika ing sakawit, ingkang dados purwaning
piwulang, dumunung wonten panggulawenthahing wawatekan 5 prakawis,
kados ing ngandhap punika :

1. Setya tuhu utawi temen lan jujur.
2. Santosa, adil paramarta, tanggeljawab boten lewerweh.
3. Leres ing samubarang damel, sabar welas asih ing sasami,
boten ngunggul-unggulaken dhirinipun, tebih saking watak panganiaya.
4. Pinter saliring kawruh, langkung-langkung pinter ngecani
manahing sasami-sami, punapadene pinter angereh kamurkaning manah
pribadi, boten anguthuh melik anggendhong lali, margi saking
dayaning mas picis rajabrana.
5. Susila anor-raga, tansah nganggeni tatakrami,
 maweh
rereseping paningal tuwin sengseming pamiharsa, dhateng ingkang sami
kataman.

Lampah 5 prakawis wau kedah linampahan winantu ing pujabrata
anandangaken ulah samadi, inggih amesu cipta angeningaken
pranawaning paningal. Awit saking makaten punika mila tumrap
panindaking agami Jawi (Buda), bab kawruh pasamaden tuwin lampah 5
prakawis wau kedah kawulangaken dhateng sadaya titiyang enem sepuh
boten pilih andhap inggiling darajatipun. Mila makaten, sebab
musthikaning kawruh tuwin luhur-luhuring kamanungsan, punika bilih
tetep samadinipun, kuwasa anindakaken lampah 5 prakawis kados
kawursita ing nginggil. Temah kita manggen ing sasananing
katrenteman, dene wontening katentreman mahanani harja kerta lan
kamardikan kita sami. Yen boten makaten, ngantos sabujading jagad,
kita badhe nandhang papa cintraka, kagiles dening rodha jantraning
jagad, margi kacidraning manah kita pribadi.

Bab
 kawruh pasamaden ingkang lajeng karan wiridan naksobandiyah lan
satariyah, ingkang ing nguni wiwiridan saking Seh Sitijenar, sampun
ka'andharaken ing nginggil, namung kemawon tumandangipun boten
kawedharaken. Ing riki namung badhe anggelaraken lampah tumandanging
samadi sacara Jawi, ingkang dereng kacarobosan agami sanes, inggih
punika makaten :

Para nupiksa, mugi sampun kalintu panampi, bilih samadi punika
angicalaken rahsaning gesang utawi nyawanipun (gesangipun) medal
saking badan wadhag. Panampi makaten punika, purwanipun mirid saking
cariyos lalampahanipun Sri Kresna ing Dwarawati, utawi Sang Arjuna
yen angraga-suksma. Mugi kawuninganana, bilih cariyos makaten punika
tetep namung kangge pasemon utawi pralambang.

Ing samangke wiwit wedharaken lampahing samadi makaten : tembung
samadi = sarasa - rasa tunggal - maligining rasa - rasa jati - rasa
nalika dereng makarti. Dene makartining rasa
 jalaran saking
panggulawenthah utawi piwulang, punapadene pangalaman-pangalam an
ingkang tinampen utawi kasandhang ing sadinten-dintenipun . Inggih
makartining rasa punika ingkang kawastanan pikir. Saking dayaning
panggulawenthah, piwulang tuwin pangalaman-pangalam an wau, pikir
lajeng gadhah panganggep awon lan sae, temah anuwuhaken tatacara,
pamacak lan sanes-sanesipun ingkang lajeng dados pakulinan. Punapa
panganggep awon sae, ingkang sampun dados tata-cara margi sampun
dados pakulinan punika, yen awon inggih awon sayektos, yen sae
inggih sae temenan, punika dereng tamtu, jer punika namung
pakulinaning panganggep. Dene panganggep, boten yekti, tetep namung
ngenggeni pakulinaning tata-cara, dados inggih dede kajaten utawi
kasunyatan. Menggah pikajenganipun samadi ing riki, boten wonten
sanes namung badhe nyumerepi kajaten, dene sarananipun boten wonten
malih kajawi nyumerepi utawi anyilahaken
 panganggep saking
makartining rasa, kasebut sirnaning papan lan tulis. Inggih ing riku
punika jumenenging rasa jati kang nyata, kang yekti, kang weruh
tanpa tuduh. Wondene kasembadanipun kedah angendelaken ing
saniskara, sarana angereh solahing anggota (badan). Mangrehing
anggota wau ingkang langkung pikantuk kalihan sareyan malumah, saha
sidhakep utawi kalurusaken mangandhap, epek-epek kiwa tengen
tumempel ing pupu kiwa tengen, suku ingkang lurus, dalamakan suku
ingkang tengen katumpangaken ing dalamakan suku kiwa, mila lajeng
kasebut sidhakep suku (saluku) tunggal. Punapadene angendelna
ebahing netra (mripat), inggih punika ingkang kawastanan meleng.
Lampah makaten wau ingkang kuwasa ngendelaken osiking cipta
(panggagas), tuwin amuntu ilining rahsa, dene pancering paningal
kasipatna amandeng pucuking grana medal saking sa'antawising netra
kakalih, inggih punika ing papasu, dene pamandengipun
 kedah kalayan
angeremaken netra kakalih pisan.

Sasampunipun lajeng nata lebet wedaling napas (ambegan) makaten :
panariking napas saking puser kasengkakna minggah anglangkungi
cethak ingga dumugi ing suhunan (utek = embun-embunan) , sarta mawi
kaendelna ing sawatawis dangunipun. Sumengkanipun napas wau
kadosdene darbe raos angangkat punapa-punapa, dene temenipun ingkang
kados kita angkat, punika ilining rahsa ingkang kita pepet saking
sumengkaning napas wau, menawi sampun kraos awrat panyangginipun
napas, inggih lajeng ka'edhakna kalayan alon-alon. Inggih patrap
ingkang makaten punika ingkang kawastanan sastracetha. Tegesipun
cetha = empaning kawruh, cetha = antebing swara cethak, inggih
cethaking tutuk kita punika. Mila winastan makaten, awit duk kita
mangreh sumengkaning napas anglangkungi dhadha lajeng minggah malih
anglangkungi cethak ingga dumugi suhunan. Menawi napas kita dipun
ereh,
 dados namung manut lampahing napas piyambak, tamtu boten saget
dumugi ing suhunan, margi saweg dumugi ing cethak lajeng sampun
medhak malih. Punapadene ugi winastan daiwan (dawan), pikajengipun :
mangreh lebet wedaling napas ingkang panjang lan sareh, sarwi
mocapaken mantra sarana kabatos kemawon, inggih punika mungel `hu'
kasarengan kalihan lumebeting napas, inggih panariking napas saking
puser, minggah dumugi ing suhunan. Lajeng `ya', kasarengan kalihan
wedaling napas, inggih medhaking napas saking suhunan dumugi ing
puser, minggah mandhaping napas wau anglangkungi dhadha lan cethak.
Dene, anggenipun kawastanan sastracetha, margi nalika mocapaken
mantra sastra kakalih : hu - ya, wedaling swara ingkang namung
kabatos wau, ugi kawistara saking dayaning cethak. (Ungeling mantra
utawi panebut kakalih : hu – ya, ing wiridan naksobandiyah kaewahan
dados mungel, hu – Allah, panebutipun ugi kasarengan
 lampahing
napas. Dene ing wiridan satariyah, panebut wau mungel : hailah –
haillolah, nanging tanpa angereh lampahing napas).

Menggah lebet medaling napas kados kasebut ing nginggil,
sa'angkatanipun namung kuwasa angambali rambah kaping tiga, mila
makaten, awit napas kita sampun boten kadugi manawi kinen
anandangana malih, jalaran sampun menggeh-menggeh. Dene manawi
sampun sareh, inggih lajeng ka'angkatana malih, makaten salajengipun
ngantos marambah-rambah sakuwawinipun, margi saya kuwawi dangu,
sangsaya langkung prayogi sanget. Dene sa'angkataning pandamel wau
kawastan : tripandurat, tegesipun tri = tiga, pandu = suci, rat =
jagad – badan – enggen, suraosipun : kaping tiga napas kita saget
tumameng ing ngabyantaraning ingkang Maha suci manggen ing
salebeting suhunan (ingkang dipun suwuni). Inggih punika ingkang
kabasakaken paworing kawula Gusti, tegesipun : manawi napas kita
 
sumengka, kita jumeneng gusti, yen tumedhak, wangsul dados kawula.
Bab punika para nupiksa sampun kalintu tampi ! Menggah ingkang dipun
wastani kawula gusti punika dede napas kita, nanging dayaning cipta
kita. Dados ulah samadi punika, pokokipun kita kedah amanjangaken
panjing wijiling napas (lebet wedaling napas), kalihan angeningaken
(ambeningaken) paningal, sebab paningal punika kadadosan saking
rahsa.

Wondene patraping samadi kados kasebut ing nginggil wau, ugi kenging
karancagaken, uger kita tansah lumintu tanpa pedhot mangeh panjing
wijiling napas, kalihan lenggah, lumampah, utawi nyambutdamel inggih
kedah boten kenging tilar mangreh lebet wedaling napas wau, ingkang
sarana mocapaken mantra mungel : hu – ya, kados ingkang kajarwa ing
nginggil.

Kajawi punika, wirid saking tembung daiwan punika ugi taksih darbe
maksud sanesipun malih, inggih punika ateges panjang tanpa ujung,
 
utawi ateges langgeng. Dene pikajengipun amastani bilih wontening
napas kita punika sanyata wahananing gesang kita ingkang langgeng,
inggih wontening ambegan kita. Dene ambegan punika, sanyata
wontening angin ingkang tansah mlebet medal tanpa kendel, ingkang
sasarengan kalihan keketeg panglampahing rah (roh). Bilih kakalih
wau kendel boten makarti nama pejah, inggih risaking badan wadhag
wangsul dados babakalan malih. Mila sayogyanipun lampahing napas
inggih ambegan kita ingkang tansah mlebet medal tanpa kendel, kedah
kapanjang-panjangan a lampahipun, murih panjanga ugi umur kita, temah
saget awet wonten ing donya tutug panyawangipun dhateng anak, putu,
buyut, canggah, wareng, ingkang babranahan.

Wontenipun andharan ing nginggil, mratelakaken bilih kawruh
pasamaden punika sanyata langkung ageng pigunanipun, mila lajeng
sinebut sastrajendrayuningr at pangruwating diyu. Tegesipun sastra =
 
empaning kawruh, jendra = saking panggarbaning tembung harja endra.
Tegesipun harja = raharja, endra = ratu – dewa, yu = rahayu –
wilujeng, ningrat = jagad – enggen – badan. Suraosipun :
Musthikaning kawruh ingkang kuwasa amartani ing karahayon, kaharjan,
katentreman lan sapatunggalipun. Dene tegesesipun pangruwating diyu
= amalihaken diyu; dene diyu = danawa – raksasa – asura – buta,
punika kangge pasemoning piawon, penyakit, rereget, babaya,
pepeteng, kabodhohan lan sanesipun. Dados diyu punika
kosokwangsulipun dewa, engkang ateges pinter, sae, wilujeng lan
sapanunggilipun. Mengku suraos amastani ingkang saget anyirnakaken
saliring piawon tuwin samubarang babaya pekewed. Mangertosipun,
sinten ingkang tansah ajeg lumintu anandangaken ulah samadi, punika
bilih ing suwaunipun tiyang awon, lajeng sirna piawonipun, malih
dados tiyang sae lampahipun. Tiyang sakit sirna sakitipun, dados
 
saras, tiyang murka daksiya lajeng narimah sabar, welasasih. Tiyang
goroh lajeng dados temen. Tiyang bodho dados pinter. Tiyang pinter
dados pinter sanget. Makaten ugi tiyang golongan sudra dados waesia,
waesia dados satriya, satriya dados brahmana, brahmana sumengka
pangawak braja asarira bathara.

RAHAYU

BS

--- In Spiritual-Indonesia @yahoogroups. com, bustanus salatin
<ki_ageng_jenar@ ...> wrote:
>
> buku SATRIO PANINGIT, BENCANA NUSANTARA, MANUNGGALINGKAWULOG USTI
dalam UNIVERSALITAS KEAGAMAAN
> ISBN:978-979- 17824-0-1/ barcode
>  
> Bab 10: Kajian Tafsir Huruf Muqota'ah: Pandangan Siti Jenar dan
Husain ibnu Mansur al-Hallaj dalam Manunggaling Kawulo Gusti
>  
> Syekh Siti Jenar begitu sering
 dihubung-hubungkan dengan al-Husain
ibnu Mansur al-Hallaj atau singkatnya Al-Hallaj saja, sufi Persia
abad ke-10, yang sepintas lalu ajarannya mirip dengan Siti Jenar,
karena ia memohon dibunuh agar tubuhnya tidak menjadi penghalang
penyatuannya kembali dengan Tuhan. Adalah Al-Hallaj yang karena
konsep satunya Tuhan dan dunia mengucapkan kalimat, "Akulah
Kebenaran/ Anna al Haq," yang menjadi alasan bagi hukuman matinya
pada 922 Masehi di Baghdad. Seperti Syekh Siti Jenar pula, nama Al-
Hallaj menjadi monumen keberbedaan dalam penghayatan agama, sehingga
bahkan diandaikan bahwa jika secara historis Syekh Siti Jenar tak
ada, maka dongengnya adalah personifikasi saja dari ajaran Al-
Hallaj, bagi yang mendukung maupun yang menindas ajaran tersebut.
> petikan atas kutipan dari Serat Siti Jenar yang diterbitkan oleh
Tan Khoen Swie, Kediri, pada 1922:
> Kawula dan gusti sudah ada dalam diriku, siang dan
 malam tidak
dapat memisahkan diriku dari mereka. Tetapi hanya saat ini nama
kawula-gusti itu berlaku, yakni selama saya mati. Nanti, kalau saya
sudah hidup lagi, gusti dan kawula lenyap, yang tinggal hanya
hidupku, ketenteraman langgeng dalam Ada sendiri.
> Hai Pangeran Bayat, bila kau belum menyadari kebenaran kata-kataku
maka dengan tepat dapat dikatakan, bahwa kau masih terbenam dalam
masa kematian. Di sini memang banyak hiburan aneka warna. Lebih
banyak lagi hal-hal yang menimbulkan hawa nafsu. Tetapi kau tidak
melihat, bahwa itu hanya akibat pancaindera.
> Itu hanya impian yang sama sekali tidak mengandung kebenaran dan
sebentar lagi akan lenyap. Gilalah orang yang terikat padanya, tidak
seperti Syeh Siti Jenar. Saya tidak merasa tertarik, tak sudi
tersesat dalam kerajaan kematian. Satu-satunya yang kuusahakan,
ialah kembali kepada kehidupan
> Dalam pupuhnya, Syekh Siti Jenar merasa
 malu apabila harus
berdebat masalah agama. Alasannya sederhana, yaitu dalam agama
apapun, setiap pemeluk sebenarnya menyembah zat Yang Maha Kuasa.
Hanya saja masing - masing menyembah dengan menyebut nama yang
berbeda - beda dan menjalankan ajaran dengan cara yang belum tentu
sama. Oleh karena itu, masing - masing pemeluk tidak perlu saling
berdebat untuk mendapat pengakuan bahwa agamanya yang paling benar.
> Syekh Siti Jenar juga mengajarkan agar seseorang dapat lebih
mengutamakan prinsip ikhlas dalam menjalankan ibadah. Orang yang
beribadah dengan mengharapkan surga atau pahala berarti belum bisa
disebut ikhlas.
> Manunggaling Kawula Gusti, Dalam ajarannya ini, pendukungnya
berpendapat bahwa Syekh Siti Jenar tidak pernah menyebut dirinya
sebagai Tuhan. Manunggaling Kawula Gusti dianggap bukan berarti
bercampurnya Tuhan dengan Makhluknya, melainkan bahwa Sang Pencipta
adalah tempat kembali
 semua makhluk. Dan dengan kembali kepada
Tuhannya, manusia telah menjadi sangat dekat dengan Tuhannya.
> Dan dalam ajarannya, 'Manunggaling Kawula Gusti' adalah bahwa di
dalam diri manusia terdapat ruh yang berasal dari ruh Tuhan sesuai
dengan ayat Al Qur'an yang menerangkan tentang penciptaan manusia ("
Ketika Tuhanmu berfirman kepada malaikat: "Sesungguhnya Aku akan
menciptakan manusia dari tanah. Maka apabila telah Kusempurnakan
kejadiannya dan Kutiupkan kepadanya roh Ku; maka hendaklah kamu
tersungkur dengan bersujud kepadanya (Shaad; 71-72)"). Dengan
demikian ruh manusia akan menyatu dengan ruh Tuhan dikala
penyembahan terhadap Tuhan terjadi.
> Riwayat pertemuan Ibrahim ibn Sam'an dengan Husain bin Mansur al
Hallaj ( Kutipan dari Buku Husain bin Manshur al Hallaj, karangan
Louis Massignon)
> Aku melihat al Hallaj pada suatu hari di masjid al Mansur: Aku
memiliki 2 dinar dalam sakuku
 dan aku berpikir untuk menghabiskan
uang itu untuk hal-hal yang melanggar hukum. Seseorang datang dan
memintah sedekah.Dan Husain bin Mansur al Hallaj berkata:' Ibnu
Sam'an berikanlah sedekah  dengan apa yang kamu simpan di dalam
jubahmu, aku terdiam dan menangis, " oh syaikh,bagaimana engkau
mengetahui hal itu?'' Al Hallaj berkata:' Setiap hati yang
mengosongkan diri dari yang selain Alloh, dapat membaca kesadaran
orang dan menyaksikan apa yang ghoib''. Ibnu Sam'an berkata:''
o,syaikh ajarilah aku sebuah hikmah''. Kemudian berkata al
Hallaj :''Orang yang mencari Tuhan dibalik huruf miim dan ain akan
menemukan Nya.Dan seseorang yang mencarinya dalam konsonan idhafah
antara alif dan nun, orang itu akan kehilangan Dia. Karena Dia itu
Maha Suci, di luar jangkauan pikiran dan diatas yang terselubung ,
yang berada di dalam diri setiap
> orang. Kembalilah kepada Tuhan, Titik Terakhir adalah Dia.
 Tidak
ada "Mengapa" di hari akhir kecuali Dia.Bagi manusia "MA/ yaitu miim
dan ain" milik Dia berada dalam miim dan ain makna ""MA"" ini adalah
Tuhan Maha Suci. Dia mengajak makhluk terbang menuju Tuhan. "miim"
membimbing ke Dia dari atas ke bawah. "ain"membimbing ke Dia dari
Jauh dan Luas.
>  
> Ilmu Huruf Muqota'ah
> Ilmu huruf, yang didasarkan pada satu bahsa suci, tentulah
memiliki sebuah fondasi mistis yang diperlukan. Orang bisa
menemukan  doktrin ini dalam puisi mistis yang terkenal Ghulsyan-i
Raz (Taman Mawar), karya Syabistari: " Bagi orang yang jiwanya
adalah manifestasi Tuhan yaitu al Qur'an, keseluruhan alam ini
adalah huruf-huruf vokalNya dan substansinya adalah huruf konsonan
Nya " Pasal 200-209 puisi Ghulsyan-i Raz.
> Abu Ishaq Quhistani, sufi Islam, menegaskan pentingnya ilmu huruf
dengan menyatakan bahwa " ilmu huruf adalah akar dari segala ilmu ".
 
Secara skematis ilmu huruf mengandung :
>
> Simbolisme ketuhanan dan metafisika atau /metakosmik
> Simbolisme universal / makrokosmik yang didasarkan pada
korespondensi antara huruf-huruf dan benda astrologis (ruang
angkasa/ planet/ lambang zodiak dll)
> Simbolisme manusia dan individu yang didasarkan pada korespondensi
fisiologis/organ tubuh
> Jumlah huruf muqatta'ah (terpotong) ada 14 huruf yaitu :alif lam
miim,ha miim, alif lam ra, tha ha,ha miim ain sin qaf, ya sin, kaf
ha ya `ain shad, kaf dan nun. Kalau dirangkai keseluruhannya menjadi
sebuah kalimat : Shiratu `aliyin haqqun namsikuhu (jalan Ali adalah
kebenaran yang kita pegang). huruf muqatta'ah (terpotong) adalah
huruf-huruf yang merupakan rumusan dialog antara Alloh swt dengan
kekasihnya (para Nabi dan para Wali)
> Apa Makna miim dan ain sehingga dapat menemukan Tuhan dan bertemu
dengan Nya dan Mengapa
 ketika mencari Tuhan dibalik huruf alif dan
nun maka tidak bisa bertemu dengan Nya?
> Tafsir Miim (numerology Arabiyah)::
>
> Huruf miim merupakan muhammad rosulillah atau Ahmad, yang
merupakan pintu menuju Ahad yang merupakan wahdaniyah Allah.
Perbedaan antara  Ahad dan Ahmad adalah huruf arab Miim (muhammad
rosulillah - penutup jalur risalah dan kenabian)
> Miim juga berarti malakuti / keagungan / penguasaan atas seluruh
langit bumi, ayat Kursi merupakan ayat yang mengandung banyak huruf
miim didalamya
> Huruf miim bernilai 40, 40 hari khalwat dengan ikhlas dengan
mengamalkan surat al ikhlas dan ayat Kursi (ayat yang banyak
mengandung huruf miim /sujud jadi sujud adalah cara menggapai
keagungan). Juga surat al ikhlas di awali dengan qulhuwa allohu
ahad. Jadi perwujudan ahad di dunia adalah ahmad, ketika manusia
menjadi ahmad maka merupakan tajalli/ penampakan sang
 Mahakuasa
dalam diri manusia. Sekali lagi bedakan Ahmad dan Ahad terletak
huruf miim.
> Huruf miim membentuk, posisi sujud dalam solat, sujud merupakan
posisi kedekatan dengan Alloh, bahkan sujud merupakan simbol dari
wahdaniyah Allah. Metode untuk mendekat (muqorrobin/ kewalian)
kepada Tuhan yang paling cepat adalah dengan sujud yang lama dalam
Sholat. Hadits qudsi Allah berfirman : " Barangsiapa memusuhi waliku
sungguh kuumumkan perang kepadanya, tiadalah hamba Ku mendekat
kepada Ku dengan hal hal yg fardhu- 17 rokaat, dan Hamba Ku terus
mendekat kepada Ku dengan hal hal yg sunnah- 34 rokaat qobliyah dan
bakdiyah- baginya hingga Aku mencintainya, bila Aku mencintainya
maka aku menjadi telinganya yg ia gunakan untuk mendengar, dan
matanya yg ia gunakan untuk melihat, dan menjadi tangannya yg ia
gunakan untuk memerangi, dan kakinya yg ia gunakan untuk melangkah,
bila ia meminta pada Ku
 niscaya kuberi permintaannya. ..." (shahih
Bukhari hadits no.6137).
>  
> Tafsir Ain,Yaa,Sin, Nuun,Aliif (numerology Arabiyah):
>
> Huruf ain bermakna sayidina Ali bin Abu tholib merupakan pintu
gerbang keilmuan. Sesuai hadits Nabi yang menyatakan bahwa Muhammad
rosulluloh adalah gudang ilmu dan Sayidina Ali adalah pintunya.
Huruf ayn membentuk posisi rukuk dalam sujud, dalam riwayat asbabun
nuzul quran ada ayat yang berkenaan dengan Ali bin abu thalib, yaitu
orang yang rukuk kemudian dalam posisi rukuk dalam solat melakukan
sedekah berupa cincin. Inilah ayat quran itu: Walimu hanyalah Allah,
Rasul-Nya dan mereka yang beriman yang menegakkan salat, membayar
zakat seraya rukuk. (QS. al-Mâ`idah: 55)
> Kunci sholat yang merupakan adab tatakrama/ kepasrahaan total ila
allohu ada di rukuk/ huruf ain, sujud/ huruf miim adalah kedekatan
(muqorobin- fana asma dan tajalli asma),
 barangsiapa tidak tahu adab
( rukuknya)  maka tidak layak untuk dekat (muqorobin).
> Huruf Ain bernilai 70.sedang huruf Ya bernilai 10 dan huruf Sin
bernilai 60. jadi secara matematis yaitu 70(ain)= yaa(10)+sin( 60)
jadi Ya + Seen = Ain merupakan Quran dalam surat 36 adalah surat Ya
Seen. ayat ke 58 dari surat Yasin adalah Salaamun Qawlam Mir Rabbir
Raheem. Jadi 5+8=13, posisi huruf ke 13 dalam abjad Arab adalah
huruf Miim/ Sujud. Jadi untuk mengerti Ain/ rukuk  kita harus
mengerti tafsir huruf Yaa dan Tafsir huruf Sin. Dengan mengerti Yaa
dan Sin kita akan sampai kepada Sayidina Ali bin Abu Tholib.
> Kyai Kholil Bangkalan, salah seorang pencetak kyai besar Nahdlatul
Ulama, selama perjalanan pesantren Keboncandi, Pasuruan-Sidogiri
kyai kholil Bangkalan sewaktu muda selalu membaca YaSin, hingga
khatam berkali-kali
> Huruf Ya adalah akhir dari abjad Arab and Alif awal dari abjad
 
Arab. Huruf  Ya/ hamba memimpin/cenderung ke arah Alif/ Alloh. Huwal
Awwalu wa Hu wal Akhiru.
> Rincian huruf Awwalu  :
> Alif(1)+waw( 6)+lam(30) =37ß-à3+7=10, (Ya=10),
> 10 ß-à1+0=1ß-àpertama.
> ·         Rincian huruf Akhiru :: Alif(1)+Kho( 600)+Ro(200) = 801ß-
à8+0 +1= 9 ß-à terakhir adalah 9, angka 9 dalam numerology arab
adalah huruf Ta yang bermakna penyucian atau Tahara/penyucian dan
bulan ke 9 dalam Arab/ Qomariah adalah bulan ramadhon yaitu bulan
puasa
> ·         Penyucian kalbu dari kecintan diri dan dunia merupakan
tingkat awal penyucian untuk bersuluk kepada Alloh. Sesungguhnya
kotoran maknawi terbesar yang tidak bisa disucikan meskipun dengan
tujuh lautan dan para nabi pun tidak mampu menghilangkannya adalah
kotora kejahilan ganda (pura-pura tahu padahal tidak tahu).
 
Kekeruhan ini mungkin akan memadamkan cahaya petunjuk dan meredupkan
api kerinduan yang merupakan buraq untuk bermikraj mencapai berbagai
maqom spiritual.( Imam Khomeini dalam Hakikat dan Rahasia Sholat)
> ·          dan Alif(1)+ Ta(9)=10ß-à (Ya=10=hamba) , nilai huruf
(Ya=10), jadi seorang Hamba yaitu simbol Ya harus melakukan Puasa/
penyucian jiwa/ tazkiyah nafs simbol (Ta=9) untuk Alloh semata
simbol (Alif=1) atau Hamba harus sabar dengan KetentuanNya atau
nrimo ing pandum, karena hasil puasa Lillah Billah menjadikan orang
sabar atau innalloha ma'ashobirin (Sesungguhnya Alloh bersama (MA
terdiri huruf miim dan ain lihat al Baqarah:153 ) orang yang sabar.
Lihat bersama adalah Ma yaitu ma'asshobirin. Disini terungkap
rahasia mim dan ayn yaitu MA seperti yang diucapkan oleh Husain bin
Mansur al Hallaj. jadi Sabar adalah kunci menemukan Tuhan. Para
 
mufassir menafsirkan sabar dengan melakukan puasa. Pahala puasa
hanya Alloh yang tahu. Artinya Hak menilai puasa langsung di tangan
Alloh bukan di tangan para malaikat. Sabda Rosullulloh saw Puasa
yang dilakukan khusus untuk-Ku/ puasa Lillah Billah dan cukuplah Aku
sebagai pahalanya
> ·         Mempelajari Ilmu Ketuhanan akan menjadikan orang
bersabar, seperti dialog Nabi Musa as dan Nabi Khidr as yaitu
Bagaimana kamu dapat sabar terhadap persoalan yang kamu samasekali
belum memiliki pengetahuan yang cukup tentangNya(QS 18:68).
Barangsiapa menghadapi kesengsaraan dengan hati terbuka, menunjukkan
kesabaran dengan penuh ketenangan dan martabat, termasuk dalam
golongan orang terpilih dan bagian untuknya adalah Berikanlah kabar
gembira (keberhasilan dan kejayaan) kepada orang yang sabar (QS
2:155),
>
> Dalam Islam, kemampuan mengendalikan emosi
 dan menahan diri
disebut sabar. Orang yang paling sabar adalah orang yang paling
tinggi dalam kecerdasan emosionalnya. Ia biasanya tabah dalam
menghadapi kesulitan. Ketika belajar orang ini tekun. Ia berhasil
mengatasi berbagai gangguan dan tidak memperturutkan emosi-nya.
> Gabungan rincian Awwalu dan Akhiru adalah Seorang Hamba
(Ya=10=hamba) karena  Akhiru(9)+ Awwalu (1)=10ß-à (Ya=10=hamba) ,
jadi seorang Hamba menampung Asma Alloh yang lengkap dan memiliki
potensi untuk menampakkan sifat ketuhanan
> Huruf Sin bernilai 60 dalam numerology Arab, merupakan simbol dari
sirr Muhammad, sirr adalah rahasia ketuhanan yang disimpan dalam
diri manusia sebagai hamba. Huruf sin dalam INSAN. huruf alif nya
adalah Alloh, huruf  sin adalah rahasia /sirr ketuhanan, 2 huruf nun
adalah simbol hukum dunia dan akhirat yang merupakan
representasi /perwakilan kitab suci al Qur'an.
> Huruf Yaa/
 simbol Hamba digunakan untuk memanggil seseorang atau
menarik perhatian sesorang. Ya adalah simbol seorang Hamba menyembah
dan menyebut Tuhannya Ya Alloh Ya Robbi dll.Yaa juga digunakan oleh
Alloh memanggil Hambanya.Ya juga berarti simbol antara yang disembah
dan menyembah, tetapi posisi Ya=10/ hamba selalu cenderung kepada
Alif=1 atau Alloh karena Alloh sebagai Awwalu, dalam ilmu huruf,
> Alif(1)+waw( 6)+lam(30) =37ß-à3+7=10 adalah Yaa menyatu dengan Alif
(10ß-à1+0=1) atau dibalik Yaa ada Alif atau di dalam Manusia ada
Tuhan atau istilah Wahdatul Wujud nya Ibnu Arobi yaitu antara
penyembah dan yang disembah itu sama tapi tidak serupa atau menurut
istilah ajaran Syekh Siti Jenar, yaitu Manunggaling Kawula
Gusti. "PERSAMAAN" antara manusia dan Allah. Hal inilah yang
dimaksudkan dalam sabda Nabi saw.: "Sesungguhnya Allah menciptakan
manusia dalam kemiripan dengan diriNya sendiri." Lebih jauh lagi
 
Allah telah berfirman: "Hambaku mendekat kepadaKu sehingga Aku
menjadikannya sahabatKu. Aku pun menjadi telinganya, matanya dan
lidahnya." Juga Allah berfirman kepada Musa as.: "Aku pernah sakit
tapi engkau tidak menjengukku! " Musa menjawab: "Ya Allah, Engkau
adalah Rabb langit dan bumi; bagaimana Engkau bisa sakit?" Allah
berfirman: "Salah seorang hambaKu sakit; dan dengan menjenguknya
berarti engkau telah mengunjungiKu. "Memang ini adalah suatu
> masalah yang agak berbahaya untuk diperbincangkan, karena hal ini
berada di balik pemahaman orang-orang awam. Seseorang yang cerdas
sekalipun bisa tersandung dalam membicarakan soal ini dan percaya
pada inkarnasi dan kersekutuan dengan Allah.
> Tafsir huruf Nun dan Alif- Pencari Tuhan dibalik huruf alif dan
nun maka tidak bisa bertemu dengan Nya::
>
> Bernilai 50 dalam numerology Arab.
> Tafsir huruf INSAN, memiliki 2 huruf nun
 merupakan simbol alam
dunia/ jasad dan alam akhirat/ ruh/ jiwa. Ruh yang disucikan akan
memperoleh Nur/ surga sedangkan Ruh yang dikotori akan memperoleh
Nar/ neraka.
> Tafsir Alif dan Nun: Penggambaran Simbolis Huruf dan Alif Nun
merupakan lambang sebuah perahu (syariat) dan sebuah Jiwa/
individu /personal mengarungi lautan / medan ujian, kayuh/sampan (
membentuk huruf Alif) kiri kanan adalah wilayah pilihan manusia (
sunnatulloh adalah qadha' qadar baik buruk) yang telah ditetapkan
oleh Alloh arti simbol Alif. Individu yang sedang menaiki perahu (
simbol Nun), sampan/kayuh adalah alat/ pilihan yang akan mengerakkan
jiwanya menuju 3 pilihan yaitu, pertama, arah perahu ke  kiri
berarti ashabul syimal/ Nun menjadi Naar/ neraka, kedua arah perahu
ke  kanan berarti ashabul yamin/ Nun menjadi Nur/cahaya, ketiga arah
perahu tidak ke  kiri dan tidak ke kanan tetapi tengah berarti
 
sabiqunal awwalun/ terdahulu mencapai tujuan - ini adalah golongan
para pencinta yaitu menyembah karena kerinduan ingin bertemu dengan
sang Khaliq – ini adalah jawaban isyarah tersembunyi dari Husain bin
Manshur al Hallaj- yaitu para nabi
> dengan simbol miim (arti bathinnya adalah sujud) yaitu Muhammad
saw dan ain (arti bathinnya adalah rukuk) yaitu sayidina Ali bin
Abuthalib
> Huruf Nun Mengingatkan Kita juga  kepada  Zunnun/ Nabi Yunus as
yang naik perahu di tengah lautan dan ditelan Ikan karena
meninggalkan Kaum nya sebelum ada perintah dari ALLOH swt.
> Zikir Zunnun / N.Yunus  - doa keselamatan menghadapi medan ujian :
wa dzan nuni idz dzahaba mughadziban fa dhanna an lan naqdiro alayhi
fa nada fid dhulumati an laila antan subhanaka inni kuntu
minadolimin fastajabna lahu wa najjaynahu minal ghammi wa kadzalika
nunjil mukminina (Anbiya :87-88).
>
  
> Kesimpulan:
> ·        Tafsir Yaa Sin akan membuka rahasia huruf `'MA'' yaitu
miim dan ain seperti yang dikatakan oleh Husain bin Mansur al
Hallaj:
> Quran dalam surat 36 adalah surat Ya Seen. ayat ke 58 dari surat
Yasin adalah Salaamun Qawlam Mir Rabbir Raheem
> "Rahasia Ketuhanan ada dalam diri manusia, agar manusia mampu
menampakkan atau men-tajallikan Ketuhanan dalam dirinya maka
perintah solat (Rukuk, Sujud) adalah sarana 'Manunggaling Kawula
Gusti dan sodaqoh ( menebarkan hasil usaha kebenaran/ pengabdian
masyarakat/ agen perubahan/ social agent) kepada sesama makhluk
Tuhan (kesalehan sosial) yang merupakan perwujudan dari Salaamun
Qawlam Mir Rabbir Raheem"
> ·         Tafsir YaaSin adalah simbol manusia sempurna yaitu hamba
yang mampu menampung rahasia Alloh swt dan didalam sirr itu seorang
 
penyembah dan disembah bertemu dan berdialog, ibarat sebuah pohon
lengkap dengan pokoknya, cabangnya dan puncaknya. Imam al Baqir
berkata: Maukah kamu akau beritahu pokok-pokok Islam, cabang dan
puncaknya dan pintu kebaikan? Sulaiman bin Khalid berkata: Tentu,
lalu jawab Imam al Baqir: Pokoknya adalah sholat, cabangnya adalah
zakat, dan puncaknya adalah membela kaum tertindas dan menegakkan
keadilan. Pintu kebaikan itu adalah :
> 1.      Puasa merupakan perisai api neraka
> 2.      Sedekah itu menghapus dosa
> 3.      Sholat di malam hari untuk berzikir
>  
> Tafsir Rukuk/Huruf Ain
> Etika rukuk adalah meninggikan maqam rububiyah Nya yang agung,
mulia dan merendahkan maqam ubudiyah seorang hamba yang lemah, faqir
dan hina. Rukuk adalah awal ketundukkan dan sujud adalah
puncaknya.Yang melakukan rukuk
 dengan sempurna dan benar akan
menemukan keselarasan pada sujud. Imam Shadiq berkata" rukuk yang
benar kepada Alloh adalah menghiasi dengan cahaya keindahan asma
Nya. Rukuk adalah yang pertama dan sujud adalah yang kedua. Dalam
rukuk ada adab penghambaan dan dalam sujud ada kedekatan/Qurb dengan
Zat yang disembah. Simbol rukuk adalah hamba dengan hati tunduk
kepada Alloh, merasa hina dan takut di bawah kekuasaan-Nya.
Merendahkan anggota badan karena gelisah dan takut tidak memperoleh
manfaat rukuk.
>  
> Tafsir Sujud/Huruf Mim
> Sujud merupakan puncak ketundukan dan puncak kekhusyukan seorang
hamba, sebaik-baik wasilah taqarrub ila Alloh, sebaik-baik posisi
untuk mencapai cahaya-cahaya tajalli Asma  Alloh swt dan maqam Qurb
dengan Nya. N. Saw bersabda : "lamakanlah sujudmu", sebab tiada amal
yang lebih berat dan paling tak disukai oleh syetan saat melihat
anak Adam sedang
 sujud, karena dia telah diperintahakan sujud dan
dia tidak patuh. Sujud merupakan sebab mendekatnya hamba dengan sang
Kholik. Wahai orang yang beriman, mintalah pertolongan dengan sabar
dan solat, sesungguhnya Alloh bersama orang yang sabar (al
Baqarah:153)
>  
> Tafsir Salam/Huruf Yaa Sin
> Salam adalah salah satu nama Alloh. Arti Salam dari sisi Alloh
adalah keselamatan zat, sifat, perbuatan-Nya. Adapun Zatnya
terpelihara dari kelenyapan, perubahan dan dari segala kekurangan.
Salam dari sisi Hamba adalah doa,yaitu memohon keselamatan kepada
Alloh untuk orang yang kita ucapkan salam /selamat dari segala
cobaaan dan bencana dunia akhirat. Salam juga berarti ungkapan
Kepasrahan/ ketundukan kepada Sunnatulloh ( Quran Hadits). Menurut
Imam Shadiq "salam adalah orang yang melaksanakan perintah Alloh dan
melakukan sunnah Rosulillah dengan ikhlas (intinya Ahad dan Ahmad),
juga
 selamat  dari bencana dunia dan akhirat. Salam juga bermakna
penghormatan kepada hamba yang sholih (assalamu alaina wa ala
ibadilahis sholihin) dan malaikat pencatat amal
>  Al Futuhat al Makkiyah, Karangan Ibnu Aroby, merujuk empat
perjalanan akal dalam bab 69 tentang rahasia rahasia shalat sebagai
perjalanan spiritual manusia. Perintah sholat 51 rokaat kepada Nabi
Muhammad saw saat isro miroj: Tuhan memerintahkan hambaNya itu
supaya setiap Muslim setiap hari sembahyang limapuluh kali. Kemudian
untuk umatnya menjadi 17 rokaat wajib di lima waktu dan sisanya 34
rokaat menjadi sunah muakkad- qobliyah dan bakdiya.
> Mulla Shadra dalam bukunya al Asfar al Arba'ah mengatakan:
> "Ketahuilah bahwa para pesuluk diantara orang Arif/ Irfan dan para
Wali menempuh empat perjalanan akal :
>
> Perjalanan makhluk kepada kebenaran –diskusi metafisika umum (min
al khalq ila al
 Haq)
> Pesuluk mempelajari dasar-dasar metafisika umum dan
dalilnya.pesuluk cenderung pada kajian semantik dan metafisika dasar
terhadap firman Ttuhan dalam Quran.
>
> Perjalanan bersama kebenaran didalam  kebenaran- pengalaman
metafisika khusus dengan pengalaman pribadi (bi al Haq fi al Haq)
> Pesuluk akan melihat sifat dan namaNya yang tertinggi baik nama
yang mewujudkan rahmatNya dan murkaNya. Hukum nama nama Alloh ini di
dalam kejamakannya akan mewujud di dalam diri pesuluk.Hal ini
dikenal dengan makam wahidiyah atau tujuh substansi halus (lataif).
Pesuluk akan mengalami rasa takut dan harapan (al khauf wa al raja)
>
> Perjalanan dari Kebenaran menuju makhluk  (min al Haq ila al al
khalq)
> Setelah mengalami fase peniadaan diri,pesuluk menerima karunia
Tuhan dan kembali kepada kesadaran diri. Pesuluk menyaksikan
penciptaan dan alam kejamakan dalam diri
 makhluk tetapi dengan mata
yang lain, dengan pendengaran yang berbeda. Puncak perjalan ketiga
membawa pesuluk menuju kesucian/Wilayah( kewalian)
>
> Perjalanan bersama Kebenaran di dalam makhluk (bi al Haq fi al
khalq)
> Maqam penetapan hukum dan pembedaan dari baik dan buruk.ini adalah
derajat kenabian,penetapan hukum dan kepemimpinan atas umat manusia
yang berhubungan dengan urusan urusan mereka yang beragam dan
berbeda-beda serta bagaimana mereka saling berinteraksi satu sama
lain. seorang `arif tak akan benar-benar mencapai maqam spiritual
tertinggi jika tidak memanifestasikan keimanan-puncak, yang telah
diraihnya lewat dua perjalanan pertama, dalam bentuk concern sosial
politik untuk mereformasi masyarakat dan membebaskan kaum tertindas
dari rantai penindasannya. Tidak lain maqam penetapan hukum
(legislatif) atau melibatkan diri dalam kemasyarakatan dan hubungan
social,
 merupakan perwujudan penebaran salam kepada makhluk yaitu
Salaamun Qawlam Mir Rabbir Raheem yang merupakan inti tafsir      
Yaa Sin.

>
> --- On Sun, 7/20/08, mang dipo <dipo1601@.. .> wrote:
>
> From: mang dipo <dipo1601@.. .>
> Subject: [Spiritual-Indonesi a] Kejawen Islam
> To: Spiritual-Indonesia @yahoogroups. com
> Date: Sunday, July 20, 2008, 1:46 AM
>
>
>
>
>
>
>
>
>
> Mari kita mengutip satu tembang Jawa
> Tak uwisi gunem iki                      saya akhiri pembicaraan
ini
> Niyatku mung aweh
 wikan           saya hanya ingin memberi tahu
> Kabatinan akeh lire                      kabatinan banyak macamnya
> Lan gawat ka liwat-liwat              dan artinya sangat gawat
> Mulo dipun prayitno                      maka itu berhati-hatilah
> Ojo keliru pamilihmu                     Jangan kamu salah pilih
> Lamun mardi kebatinan                  kalau belajar kebatinan
>
> Tembang
 ini menggambarkan nasihat seorang tua (pinisepuh) kepada
mereka yang ingin mempelajari kabatinan cara kejawen. Kiranya perlu
dipahami bahwa tujuan hakiki dari kejawen adalah berusaha
mendapatkan ilmu sejati untuk mencapai hidup sejati, dan berada
dalam keadaan harmonis hubungan antara kawula (manusia) dan Gusti
(Pencipta) ( jumbuhing kawula Gusti ) /pendekatan kepada Yang Maha
Kuasa secara total.
>
> Keadaan spiritual ini bisa dicapai oleh setiap orang yang percaya
kepada Tuhan, yang mempunyai moral yang baik, bersih dan jujur.
beberapa laku harus dipraktekkan dengan kesadaran dan ketetapan hati
yang mantap. Pencari dan penghayat ilmu sejati diwajibkan untuk
melakukan sesuatu yang berguna bagi semua orang serta  melalui
kebersihan hati dan tindakannya. Cipta, rasa, karsa dan karya
(kuasa) harus baik, benar, suci dan ditujukan untuk mamayu hayuning
bawono. Ati suci jumbuhing
 Kawulo Gusti : hati suci itu adalah
hubungan yang serasi antara Kawulo dan Gusti,  kejawen merupakan
aset dari orang Jawa tradisional  yang berusaha memahami dan mencari
makna dan  hakekat hidup yang mengandung nilai-nilai.
>
> Dalam budaya jawa dikenal adanya simbolisme, yaitu suatu faham
yang menggunakan lambang atau simbol untuk membimbing pemikiran
manusia kearah pemahaman terhadap suatu hal secara lebih dalam.
Manusia mempergunakan simbol sebagai media penghantar komunikasi
antar sesama dan segala sesuatu yang dilakukan manusia merupakan
perlambang dari tindakan atau bahkan karakter dari manusia itu
selanjutnya. Ilmu pengetahuan adalah simbol-simbol dari Tuhan, yang
diturunkan kepada manusia, dan oleh manusia simbol-simbol itu
ditelaah dibuktikan dan kemudian diubah menjadi simbol-simbol yang
lebih mudah difahami agar bisa diterima oleh manusia lain yang
memiliki daya
 tangkap yang berberda-beda.
>
> Biasanya sebutan orang Jawa adalah orang yang hidup di wilayah
sebelah timur sungai Citanduy dan Cilosari. Bukan berarti wilayah di
sebelah barat-nya bukan wilayah pulau Jawa. Masyarakat Jawa adalah
masyarakat yang menjunjung tinggi rasa kekeluargaan dan suka
bergotong royong dengan semboyannya "saiyeg saekoproyo " yang
berarti sekata satu tujuan.
>
> Kisah suku Jawa diawali dengan kedatangan seorang satriya
pinandita yang bernama Aji Saka, sampai kemudian satriya itu menulis
sebuah sajak yang kemudian sajak tersebut diakui menjadi huruf jawa
dan digunakan sebagai tanda dimulainya penanggalan tarikh Caka.
>
> Kejawena dalah faham orang jawa atau aliran kepercayaan yang
muncul dari masuknya berbagai macam agama ke jawa. Kejawen mengakui
adanya Tuhan Gusti Allah tetapi juga mengakui mistik yang berkembang
dari ajaran tasawuf agama-agama
 yang ada.
>
> Tindakan tersebut dibagi  tiga bagian yaitu tindakan simbolis
dalam religi, tindakan simbolis dalam tradisi dan tindakan simbolis
dalam seni. Tindakan simbolis dalam religi, adalah contoh kebiasaan
orang Jawa yang percaya bahwa Tuhan adalah zat yang tidak mampu
dijangkau oleh pikiran manusia, karenanya harus di simbolkan agar
dapat di akui keberadaannya misalnya dengan menyebut Tuhan dengan
Gusti Ingkang Murbheng Dumadi, Gusti Ingkang Maha Kuaos, Hyang Manon
dan sebagainya.
>
> Tindakan simbolis dalam tradisi dimisalkan dengan adanya tradisi
upacara kematian yaitu medo'akan orang yang meninggal pada tiga
hari, tujuh hari, empatpuluh hari, seratus hari, satu tahun, dua
tahun, tiga tahun, dan seribu harinya setelah seseorang meninggal
(tahlillan). Dan tindakan simbolis dalam seni dicontohkan dengan
berbagai macam warna yang terlukis pada wajah wayang kulit; warna
 
ini menggambarkan karakter dari masing-masing tokoh dalam wayang.
>
> Perkembangan budaya jawa yang mulai tergilas oleh perkembangan
teknologi yang mempengaruhi pola pikir dan tindakan orang jawa dalam
kehidupan. Maka orang mulai berfikir bagaimana bisa membuktikan hal
gaib secara empiris tersebut dengan menggunakan berbagai macam
metode tanpa mengindahkan unsur kesakralan. Bahkan terkadang
kepercayaan itu kehilangan unsur kesakralannya karena dijadikan
sebagai obyek exploitasi dan penelitian.
>
> Kebiasaan orang Jawa yang percaya bahwa segala sesuatu adalah
simbol dari hakikat kehidupan, seperti syarat sebuah rumah harus
memiliki empat buah soko guru (tiang penyangga) yang melambangkan
empat unsur alam yaitu tanah, air, api, dan udara, yang ke empatnya
dipercaya akan memperkuat rumah baik secara fisik dan mental
penghuni rumah tersebut. Namun dengan adanya teknologi konstruksi
 
yang semakin maju, keberadaan soko guru itu tidak lagi menjadi
syarat pembangunan rumah. Dengan analisa tersebut dapat diperkirakan
bagaimana nantinya faham simbolisme akan bergeser dari budaya jawa.
Tapi bahwa simbolisme tidak akan terpengaruh oleh kehidupan manusia
tapi kehidupan manusialah yang tergantung pada simbolisme. Dan
sampai kapanpun simbolisme akan terus berkembang mengikuti
berputarnya sangkakala.
>
> Mangkunegara IV (Sembah dan Budiluhur)
> Mangkunegara IV memiliki empat ajaran utama yang meliputi sembah
raga, sembah cipta (kalbu), sembah jiwa, dan sembah rasa.
>
> Sembah Raga
> Sembah raga ialah menyembah Tuhan dengan mengutamakan gerak laku
badaniah atau amal perbuatan yang bersifat lahiriah. Cara bersucinya
sama dengan sembahyang biasa, yaitu dengan mempergunakan air
(wudhu). Sembah yang demikian biasa dikerjakan lima kali sehari
semalam dengan
 mengindahkan pedoman secara tepat, tekun dan terus
menerus, seperti bait berikut:
>
> Sembah raga puniku / pakartining wong amagang laku / sesucine
asarana saking warih / kang wus lumrah limang wektu / wantu wataking
wawaton
>
> Sembah raga, sebagai bagian pertama dari empat sembah yang
merupakan perjalanan hidup yang panjang ditamsilkan sebagai orang
yang magang laku (calon pelaku atau penempuh perjalanan hidup
kerohanian), orang menjalani tahap awal kehidupan bertapa (sembah
raga puniku, pakartining wong amagang laku). Sembah ini didahului
dengan bersuci yang menggunakan air (sesucine asarana saking warih).
Yang berlaku umum sembah raga ditunaikan sehari semalam lima kali.
Atau dengan kata lain bahwa untuk menunaikan sembah ini telah
ditetapkan waktu-waktunya lima kali dalam sehari semalam (kang wus
lumrah limang wektu). Sembah lima waktu merupakan shalat fardlu yang
wajib
 ditunaikan (setiap muslim) dengan memenuhi segala syarat dan
rukunnya (wantu wataking wawaton). Sembah raga yang demikian ini
wajib ditunaikan terus-menerus tiada henti (wantu) seumur hidup.
Dengan keharusan memenuhi segala ketentuan syarat dan rukun yang
wajib dipedomani (wataking wawaton). Watak suatu
> waton (pedoman) harus dipedomani. Tanpa mempedomani syarat dan
rukun, maka sembah itu tidak sah.
>
> Sembah raga tersebut, meskipun lebih menekankan gerak laku
badaniah, namun bukan berarti mengabaikan aspek rohaniah, sebab
orang yang magang laku selain ia menghadirkan seperangkat fisiknya,
ia juga menghadirkan seperangkat aspek spiritualnya sehingga ia
meningkat ke tahap kerohanian yang lebih tinggi.
>
> Sembah Cipta( Kalbu )
> Sembah ini kadang-kadang disebut sembah cipta dan kadang-kadang
disebut sembah kalbu, seperti terungkap pada Pupuh Gambuh bait 1 dan
Pupuh Gambuh
 bait 11 berikut :
> Samengkon sembah kalbu / yen lumintu uga dadi laku / laku agung
kang kagungan narapati / patitis teteking kawruh / meruhi marang
kang momong.
>
> Apabila cipta mengandung arti gagasan, angan-angan, harapan atau
keinginan yang tersimpan di dalam hati, kalbu berarti hati , maka
sembah cipta di sini mengandung arti sembah kalbu atau sembah hati,
bukan sembah gagasan atau angan-angan.
> Apabila sembah raga menekankan penggunaan air untuk membasuh
segala kotoran dan najis lahiriah, maka sembah kalbu menekankan
pengekangan hawa nafsu yang dapat mengakibatkan terjadinya berbagai
pelanggaran dan dosa (sucine tanpa banyu, amung nyunyuda hardaning
kalbu).
>
> Thaharah (bersuci) itu, demikian kata Al-Ghazali, ada empat
tingkat.
> Pertama,membersihka n hadats dan najis yang bersifat lahiriah.
> Kedua,membersihkan anggota badan dari berbagai pelanggaran
 dan
dosa.
> Ketiga,membersihkan hati dari akhlak yang tercela dan budi pekerti
yang hina.
> Keempat,membersihka n hati nurani dari apa yang selain Allah. Dan
yang keempat inilah taharah pada Nabi dan Shiddiqin.
>
> Jika thaharah yang pertama dan kedua menurut Al-Ghazali masih
menekankan bentuk lahiriah berupa hadats dan najis yang melekat di
badan yang berupa pelanggaran dan dosa yang dilakukan oleh anggota
tubuh. Cara membersihkannya dibasuh dengan air. Sedangkan kotoran
yang kedua dibersihkan dan dibasuh tanpa air yaitu dengan menahan
dan menjauhkan diri dari pelanggaran dan dosa. Thaharah yang ketiga
dan keempat juga tanpa menggunakan air. Tetapi dengan membersihkan
hati dari budi jahat dan mengosongkan hati dari apa saja yang selain
Allah.
>
> Sembah Jiwa
> Sembah jiwa adalah sembah kepada Hyang Sukma ( Allah ) dengan
mengutamakan peran jiwa. Jika sembah
 cipta (kalbu) mengutamakan
peran kalbu, maka sembah jiwa lebih halus dan mendalam dengan
menggunakan jiwa atau al-ruh. Sembah ini hendaknya diresapi secara
menyeluruh tanpa henti setiap hari dan dilaksanakan dengan tekun
secara terus-menerus, seperti terlihat pada bait berikut:
> Samengko kang tinutur / Sembah katri kang sayekti katur / Mring
Hyang Sukma suksmanen saari-ari / Arahen dipun kecakup / Sembahing
jiwa sutengong.
>
> Dalam rangkaian ajaran sembah Mangkunegara IV yang telah disebut
terdahulu, sembah jiwa ini menempati kedudukan yang sangat penting.
Ia disebut pepuntoning laku (pokok tujuan atau akhir perjalanan
suluk). Inilah akhir perjalanan hidup batiniah. Cara bersucinya
tidak seperti pada sembah raga dengan air wudlu atau mandi, tidak
pula seperti pada sembah kalbu dengan menundukkan hawa nafsu, tetapi
dengan awas emut (selalu waspada dan ingat/dzikir kepada keadaan
 
alam baka/langgeng) , alam Ilahi.
>
> Betapa penting dan mendalamnya sembah jiwa ini, tampak dengan
jelas pada bait berikut :
> Sayekti luwih perlu / ingaranan pepuntoning laku / Kalakuan kang
tumrap bangsaning batin / Sucine lan awas emut / Mring alaming lama
amota.
>
> Berbeda dengan sembah raga dan sembah kalbu, ditinjau dari segi
perjalanan suluk, sembah ini adalah tingkat permulaan (wong amagang
laku) dan sembah yang kedua adalah tingkat lanjutan. Ditinjau dari
segi tata cara pelaksanaannya, sembah yang pertama menekankan
kesucian jasmaniah dengan menggunakan air dan sembah yang kedua
menekankan kesucian kalbu dari pengaruh jahat hawa nafsu lalu
membuangnya dan menukarnya dengan sifat utama. Sedangkan sembah
ketiga menekankan pengisian seluruh aspek jiwa dengan dzikir kepada
Allah seraya mengosongkannya dari apa saja yang selain Allah.
>
> Pelaksanaan
 sembah jiwa ialah dengan berniat teguh di dalam hati
untuk mengemaskan segenap aspek jiwa, lalu diikatnya kuat-kuat untuk
diarahkan kepada tujuan yang hendak dicapai tanpa melepaskan apa
yang telah dipegang pada saat itu. Dengan demikian triloka (alam
semesta) tergulung menjadi satu. Begitu pula jagad besar dan jagad
kecil digulungkan disatupadukan. Di situlah terlihat alam yang
bersinar gemerlapan. Maka untuk menghadapi keadaan yang menggumkan
itu, hendaklah perasaan hati dipertebal dan diperteguh jangan
terpengaruh apa yang terjadi. Hal yang demikian itu dijelaskan
Mangkunegara IV pada bait berikut:
> "Ruktine ngangkah ngukud / ngiket ngruket triloka kakukud / jagad
agung ginulung lan jagad alit / den kandel kumandel kulup / mring
kelaping alam kono."
>
> Sembah Rasa
> Sembah rasa ini berlainan dengan sembah-sembah yang sebelumnya. Ia
didasarkan kepada rasa cemas. Sembah yang
 keempat ini ialah sembah
yang dihayati dengan merasakan intisari kehidupan makhluk semesta
alam,  demikian menurut Mangkunegara IV.
> Jika sembah kalbu mengandung arti menyembah Tuhan dengan alat
batin kalbu atau hati seperti disebutkan sebelumnya, sembah jiwa
berarti menyembah Tuhan dengan alat batin jiwa atau ruh, maka sembah
rasa berarti menyembah Tuhan dengan menggunakan alat batin inti ruh.
Alat batin yang belakangan ini adalah alat batin yang paling dalam
dan paling halus yang menurut Mangkunegara IV disebut telenging
kalbu (lubuk hati yang paling dalam) atau disebut wosing jiwangga
(inti ruh yang paling halus).
> Dengan demikian menurut Mangkunegara IV, dalam diri manusia
terdapat tiga buah alat batin yaitu, kalbu, jiwa/ruh dan inti
jiwa/inti ruh (telengking kalbu atau wosing jiwangga) yang
memperlihatkan susunan urutan kedalaman dan kehalusannya.
>
> Pelaksanaan sembah
 rasa itu tidak lagi memerlukan petunjuk dan
bimbingan guru seperti ketiga sembah sebelumnya, tetapi harus
dilakukan salik sendiri dengan kekuatan batinnya, seperti
diungkapkan Mangkunegara IV dalam bait berikut:
> Semongko ingsun tutur / gantya sembah lingkang kaping catur /
sembah rasa karasa wosing dumadi / dadi wus tanpa tuduh / mung
kalawan kasing batos.
>
> Apabila sembah jiwa dipandang sebagai sembah pada proses
pencapaian tujuan akhir perjalanan suluk (pepuntoning laku), maka
sembah rasa adalah sembah yang dilakukan bukan dalam perjalanan
suluk itu, melainkan sembah yang dilakukan di tempat tujuan akhir
suluk. Dengan kata lain, seorang salik telah tiba di tempat yang
dituju. Dan di sinilah akhir perjalanan suluknya. Untuk sampai di
sini, seorang salik masih tetap dibimbing gurunya seperti telah
disebut di muka. Setelah ia diantarkan sampai selamat oleh gurunya
untuk memasuki
 pintu gerbang, tempat sembah yang keempat, maka
selanjutnya ia harus mandiri melakukan sembah rasa.
>
> Pada tingkatan ini, seorang salik dapat melaksanakan sendiri
sembah rasa sesuai petunjuk-petunjuk gurunya. Pada tingkat ini ia
dipandang telah memiliki kematangan rohani. Oleh karena itu, ia
dipandang telah cukup ahli dalam melakukan sembah dengan
mempergunakan aspek-aspek batiniahnya sendiri.
>
> Di sini, dituntut kemandirian, keberanian dan keteguhan hati
seorang salik, tanpa menyandarkan kepada orang lain. Kejernihan
batinlah yang menjadi modal utama. Hal ini sesuai dengan wejangan
Amongraga kepada Tambangraras dalam Centini bait 156. Sembah
tersebut, demikian dinyatakan Amongraga, sungguh sangat mendalam,
tidak dapat diselami dengan kata-kata, tidak dapat pula dimintakan
bimbingan guru. Oleh karena itu, seorang salik harus merampungkannya
sendiri dengan segala ketenangan,
 kejernihan batin dan kecintaan
yang mendalam untuk melebur diri di muara samudera luas tanpa tepi
dan berjalan menuju kesempurnaan. Kesemuanya itu tergantung pada
diri sendiri, seperti terlihat pada bait berikut:
> Iku luwih banget gawat neki / ing rarasantang keneng rinasa / tan
kena ginurokake / yeku yayi dan rampung / eneng onengira kang
ening / sungapan ing lautan / tanpa tepinipun / pelayaran ing
kesidan / aneng sira dewe tan Iyan iku yayi eneng ening wardaya.
>






     
     

   
   
       
         
       
       








       


       
       


     
Reply | Threaded
Open this post in threaded view
|  
Report Content as Inappropriate

Re: Kejawen Islam ( AJI PAMELENG )

bambang satrio
In reply to this post by Mas Dipo

Semoga saya bisa menjalankannya, Mang Dipo.

RAHAYU, BS



--- In [hidden email], mang dipo <dipo1601@...>
wrote:
>
> Mas BS,
> Terima kasih atas kirimannya dan semoga apa yang tertulis didalam
serat itu sudah dijalankan semuanya, karena didalam isi serat
tersebut tersirat pelajaran dan tatacara yang disebut: "Sholat Da'im"
> Berbahagialah bagi seseorang yang mengetahui dan sudah
menjalankannya.

> Salam rahayu, dipo
>
>
>
> ----- Original Message ----
> From: bambang satrio <gathomalioboro@...>
> To: [hidden email]
> Sent: Sunday, July 20, 2008 6:10:56 PM
> Subject: [Spiritual-Indonesia] Re: Kejawen Islam ( AJI PAMELENG )
>
>
> RAHAYU
>
> Salam Kenal Mang Dipo dan Mas Bus.
> Hanya sekedar menambahkan tentang asal usul KEJAWEN ISLAM, semoga
> ada gunanya buat rekan-rekan SI semua :
>
> AJI PAMELENG
>
> Tegesipun aji = ratu, pameleng = pasamaden; mengku pikajeng :
> tandaning sedya ingkang luhur piyambak. Dene empaning pandamelan
wau
> winastan manekung, pujabrata, mesu budi, mesu cipta, ngeningaken
> utawi angluhuraken paningal, matiraga lan sasaminipun.
>
> Papan ingkang kangge nindakaken wau panepen, panekungan, pamujan,
> pamurcitan, pamursitan, pahoman, paheningan lan sanes-sanesipun.
> Dene wedharing kawruh winastan daiwan, dawan, tirtaamerta,
> tirtakamandhanu, tirtanirwala, mahosadi, kawasanan, kawaspadan,
> kawicaksanaan, sastracetha, utawi sastrajendrayuningr at
pangruwating
> diyu lan sapanunggalanipun.
>
> Menggah pigunanipun kawruh lan pandamel wau, perlu kangge
sarananing
> panembah murid manggih kawilujengan, margi saged anindakaken
dhateng
> sawarnaning pandamel sae, punapadene kangge sarana duk kita darbe
> sedya nunuwun kanugrahaning gesang kita pribadi (Pangeran), inggih
> nunuwun bab punapa kemawon ingkang limrah kenging linampahan
saking
> pandamel kita ingkang boten tilar murwat.
>
> Wondene purwanipun ing jagad teka wonten kawruh pasamaden, bilih
> miturut saking tembung-tembungipun , sanyata kathah ingkang
nagngge
> basa Sansekrit; yen makaten tetela manawi wimbaning kawruh
pasamaden
> wau saking tumitising kawicaksananipun bangsa Indhu ing jaman kina
> makina, ingkang sampun boten kasumerepan petang ewoning taun.
> Bokmanawi kemawon papantaranipun kalihan nalika bangsa Indhu
> amurwani iyasa candhi dalah reca-recanipun. Dene kawruh wau ing
> sakawit inggih namung kangge bangsa Indhu, boten nawang bangsa
Indhu
> ingkang agami punapa kemawon, katamtokaken mesthi ngrasuk
pasamaden.
> Awit inggih namung kawruh pasamaden punika ingkang dados mukaning
> saliring kawruh sajagad, lan ugi dados pangajenging piwulan agami.
>
> Ing ngalami lami bangsa Indhu sami lumeber dhateng ing Tanah Jawi
> lan sanes sanesipun, serta sami anggelaraken agaminipun tuwin
kawruh
> sanes sanesipun; makaten ugi kawruh pasamaden inggih boten kantun.
> Kawruh pamasaden wonten ing Tanah Jawi saget ngrembaka tuwuhipun,
> margi bangsa Jawi tan pilih drajad sami remen puruita lan saged
> nandangaken dating pangolahing kawruh punika, awit kawruh wau
saget
> nocoki kalihan dhadhasaring pamanahipun titiyang Jawi, mila
kalayan

> gampil rumasukipun wonten ing balung sungsuming titiyang Jawi.
> Kasembuh malih saking kathahing bangsa Indhu kados sinuntak sami
> angajawi, nedya anggelar agami Jawi lan kawruh kawicaksananipun.
> Bebasan sakedeping netra, bangsa Jawi ing sa'indhengipun maratah
> sampun sami angrasuk agami Indhu, lan ugi sampun sami saget
> ngraosaken kabegjan, kamulyan, kawilujengan lan sasaminipun, margi
> saking wohing kawruh pandamel wau.
>
> Ing wusana katungka dhatengipun titiyang bangsa Arab sami lumebet
> ing Tanah jawi, ingkang ugi ambekta kawruh lan agaminipun
Mohammad,
> kasebut agami Islam, temah nyunyuda tumangkaring agami Indhu,
sebab
> lajeng wonten ingkang angrasuk agami Islam. Namung kemawon
wedharing

> agami Islam boten andarbeni kawruh pasamaden, kados kasebut ing
> nginggil.
>
> Sareng golonganipun tiyang Islam sampun saget ngendhih Nagari,
> inggih punika adeging Karaton Bintara (Demak), ing ngriku lajeng
> angawisi kalayan kenceng, titiyang Jawi boten kenging anindakaken
> kawruh pasamaden, mekaten ugi sami kinen nilar agaminipun lami,
> serta kedah santun angrasuk agami Islam.
>
> Ananging boten ta manawi bangsa Jawi lajeng anut purun santun
agami
> Islam sadaya, purunipun wau namung margi saking ajrih paukuman
> wisesaning Nata, dados Islam-ipun wau namung wonten ing lahir
> kemawon, utawi Islam pangaran-aran, yen batosipun taksih
angrungkepi
> agamipun lami. Milo bab kawruh pasamaden inggih taksih lajeng
> katindakaken, ananging pamulang pamedharing kawruh pasamaden wau,
> ingkang karan nama wejangan (wijang-wijang) sarana lampah
> dhedhemitan, katindakaken ing wanci ndalu sasampunipun jam 12, ugi
> papaning pamejang boten kenging kaubah wangon, kadosta ing ara-
ara,
> ing wana, ing lepen lan sasaminipun ing papan ingkang sepen.
> Pamejangipun srana bisikan boten kenging kapireng ngasanes,
sanadyan
> suket godhong, kewan tuwin bangsanipun gegremetan kutu-kutu
> walangataga ugi boten kenging miring, yen miring lajeng malih
dados
> manungsa. Mila linggihipun Kyai Guru ajeng-ajengan aben bathuk
> kaliyan pun murid, serta sanget pamantos-mantosipun Kyai Guru, pun
> murid boten kenging nularaken wewejanganipun (kawruhipun) dhateng
> tiyang sanes, bilih dereng angsal palilah Guru, yen nerak bade
> angsal wilalat manggih sapudendhaning Pangeran. Panindak ingkang
> mekaten punika, purwanipun namung tetep kangge panjagi, supados
> pamulanging kawruh pasamaden boten katupiksan dhateng
pamarintahing
> agami Islam. Sebab yen ngantos kasumerepan, tamtu manggih pidana.
>
> Dumuginipun ing jaman samangke, sanadyan Nagari sampun boten
> angarubiru dhateng wontenipun wewejangan kawruh pasamaden, nanging
> panindaking wejangan wau taksih kalestantunaken sarana dhedhemitan
> kados kawursita ing nginggil. Mila lajeng angsal paparab saking
> panyedaning titiyang ingkang boten remen, utami tiyang ingkang
> anglampahi sarengating agami Islam, bilih wontening wejangan
kawruh
> pasamaden wau lajeng kawastan ilmu klenik. Purwo saking tembung
> klenik, lajeng angandhakaken tembung abangan lan putihan. Ingkang
> kasebut abangan punika tiyang ingkang boten nindakaken saraking
> agami Islam, dene putihan mastani tiyang Jawi ingkang teluh
manjing

> agami Islam sarta anglampahi sadaya sarak sarengating agami Islam
> wau, inggih punika ingkang kasebut nama santri. Mila santri karan
> putihan, margi miturut panganggenipun titiyang agami Islam, bilih
> santri punika sarwo-sarwi langkung resik utawi suci tinimbang
> kaliyan titiyang ingkang boten angrasuk agami Islam.
>
> Mangsuli wontening kawruh pasamaden anggenipun sanget winados,
> menggah ingkang dados sababipun kapretalakaken ing nginggil. Dene
> yen saleresipun ingkang nama wados-wados wau pancen boten wonten;
> dados inggih kenging-kenging kemawon kawulangaken dhateng sok
> tiyanga, boten mawang nem sepuh, serta kenging kawejangaken ing
> sawanci-wancinipun, uger tiyang wau pancen ambetahaken kawruh
> pasamaden kasebat. Sebab wontenipun sadaya punika supados
> kasumerepan dhateng ingakathah, langkung-langkung kawruh pasamaden
> punika ingkang sanyata dados mukaning sadaya kawruh. Mila wajib
> sinebar dados seserepaning tiyang nem sepuh wadarin ing
> saindengipun, tanpa nawang andhap inggiling darajadipun.
>
> Amarengi wahyaning mangsakala, wusana wonten kaelokaning
lalampahan
> ingkang boten kanyana-nyana; ing pawingkingipun bab kawruh
pasamaden
> wau lajeng muncul katampen dhateng tiyang Islam, margi yakin bilih
> kawruh pasamaden wau, pancen musthikaning gagayuhan ingkang saged
> andhatengaken ing kawilujengan, kamulyan, katentreman, lan
> sasaminipun. Mila kawruh wau dening tiyang ingkang sampun suluh
> papadhanging raosipun inggih punika Seh Sitijenar, ingkang ugi
dados
> pramugarining agami Islam apangkat Wali, lajeng kadhapuk ing
ndalem

> serat karanganipun, ingkang lajeng winastan daim, wirid saking
> tembung daiwan kasebut ing nginggil. Punapadene lajeng kaewoaken
> dados saperanganing panembah, sarana dipun wewahi tembungipun,
> lajeng mungel : salat daim (salat - basa arab, daim saking daiwan
> basa Sansekrit). Milanipun dipun wewahi basa arab, namung
> kawigatosan kangge mikekahaken kapitadosanipun murid-muridipun
> ingkang sampun sami necep agami Islam. Punapadene tembung salat
> lajeng kapilah kalih prakawis. Sapisan salat 5 wekdal, kasebut
> salat sarengat, ateges panembah lahir. Kaping kalih salat daim,
> punika panembahing batos; mangertosipun : anekadaken manunggaling
> pribadinipun, utawi kasebut loroning atunggil.
> Kitab karanganipun Seh Sitijenar wau lajeng kangge paugeraning
> piwulang. Sareng sampun angsal kawigatosaning ngakathah, ing
ngriku
> salat 5 wekdal lan sarak agami sanes-sanesipun lajeng kasuwak
boten
> kawulangaken babar pisan. Ingkang pinindeng namung mumuruk
> tumindaking salat daim kemawon. Mila titiyang Jawi ingkang suwau
> manjing agami Islam, langkung-langkung ingkang dereng, lajeng sami
> ambyuk maguru dhateng Seh Sitijenar, margi piwulangipun langkung
> gampil, terang lan nyata.
>
> Wondene purwanipun Seh Sitijenar kaserenan kawruh pasamaden,
ingkang

> mijeni Kyai Ageng Pengging, sebab Seh Sitijenar punika
> mitradarmanipun Kyai Ageng Pengging. Kawruh pasamaden, dening Seh
> Sitijenar lajeng katularaken Raden Watiswara, inggih Pangeran
> Panggung, ingkang ugi apangkat Wali. Lajeng tunimbal dhateng Sunan
> Geseng, inggih Ki Cakrajaya, tiyang asal saking Pagelen, ingkang
> kacarios saderengipun dados Wali, Ki Cakrajaya wau pandamelanipun
> anderes nitis gendhis. Salajengipun sumrambah kawiridaken dhateng
> ingakatah. Makaten ugi sakabat-sakabatipun Seh Sitijenar ingkang
> sampun kabuka raosipun, dening Seh Sitijenar kinen sami madeg
> paguron amiridaken kawruh pasamaden wau. Sangsaya dangu sangsaya
> ngrebda, anyuremaken panguwaosing para Wali, anggenipun
amencaraken
> piwulang agami Islam. Yen kalajeng-lajeng masjid saestu badhe
suwung.

>
> Ngawekani sampun ngantos wonten kadadosan ingkang makaten, temah
> Kyai Ageng Pengging tuwin Seh Sitijenar sasekabatipun ingkang sami
> pinejahan katigas jangganipun dening para Wali, saking dhawuhipun
> Sultan Demak. Makaten ugi Pangeran Panggung boten kantun, kapidana
> kalebetaken ing brama gesang-gesangan wonten samadyaning alun-alun
> Demak, kangge pangewan-ewan murih titiyang sami ajrih, lajeng sami
> mantuni utawi nglepeh piwulangipun Seh Sitijenar.
>
> Kacariyos sariranipun Pangeran Panggung boten tumawa dening
> mawerdining Hyang Brama, lajeng oncat medal saking salebeting latu
> murub, nilar nagari Demak. Kanjeng Sultan Bintara tuwin para Wali
> sami kablerengen kaprabawan katiyasaning Pangeran Panggung, temah
> kamitenggengen kadi tugu sinukarta. Sareng sampun sawatawis tebih
> tindakipun Sang Pangeran, Kanjeng Sultan tuwin para Wali saweg
sami
> enget bilih Pangeran Panggung kalis saking pidana, temah sami
rumaos
> kawon angsal sihing Pangeran. Katungka unjuking wadyabala, atur
> uninga bilih Sunan Geseng, inggih Ki Cakrajaya, kesah anututi
> lampahipun Pangeran Panggung. Ing ngriku Kanjeng Sultan katetangi
> dukanipun, temah dhawahing bendu, para sakabat tuwin murid-
muridipun

> Seh Sitijenar ingkang kapikut lajeng sami pinejahan. Ingkang boten
> kacepeng sami lumajar pados gesang.
>
> Para sakabatipun Seh Sitijenar ingkang taksih wilujeng
> kakantunanipun ingkang sami pejah, ugi taksih sami madeg paguron
> nglestantunaken pencaring kawruh pasamaden, nanging mawi sislintru
> tinutupan wuwulang sarengating agami Islam, murih boten ka'arubiru
> dening para Wali pramugarining praja. Dene piwulangipun kados ing
> ngandhap punika :
>
> Pamulanging kawruh pasamaden ingkang lajeng karan salat daim,
> karangkepan wuwulang salat 5 wekdal tuwin rukuning Islam sanes-
> sanesipun malih. Wewejanganipun salat daim wau lajeng winastan
> wiridan naksobandiyah, dene panindaking piwulang kawastan tafakur.
> Saweneh wonten ingkang pamulangipun ing saderengipun para murid
> nampi wiridan salat daim, langkung rumiyin kalatih lampah
> dhidhikiran lan maos ayat-ayat. Wiwit punika wuwulangan pasamaden
> lajeng wonten wanrni kalih, inggih punika :
>
> 1. Piwulang pasamaden wiwiridan saking para sekabatipun Seh
> Sitijenar, ingkang sarana tinutupan utawi aling-aling sarak
rukuning
> agami Islam. Wuwulangan wau dumuginipun ing jaman samangke sampun
> mleset saking jejer ing sakawit, mila para guru samangke, ingkang
> sami miridaken kawruh pasamaden, ingkang dipun santuni nama
> naksobandiyah utawi satariyah, nginten bilih kawruh wau wiwiridan
> saking ngulami ing Jabalkuber (Mekah). Salajengipun para Kyai guru
> wau, amastani guru klenik dhateng para ingkang sami miridaken
kawruh
> pasamaden miturut wawaton Jawi pipiridan saking Seh Sitijenar.
> Punapadene para Kyai guru wau nyukani paparab nama Kiniyai,
> pikajengipun : guru ingkang mulangaken ilmuning setan. Dene nama
> Kyai, punika guru ingkang mulangaken ilmuning para nabi.
>
> 2. Piwulang pasamaden miturut Jawi, wiji saking Kyai Ageng
> Pengging, ingkang kapencaraken dening Seh Sitijenar (ingkang ing
> samangke karan klenik), punika ing sakawit, ingkang dados
purwaning
> piwulang, dumunung wonten panggulawenthahing wawatekan 5 prakawis,
> kados ing ngandhap punika :
>
> 1. Setya tuhu utawi temen lan jujur.
> 2. Santosa, adil paramarta, tanggeljawab boten lewerweh.
> 3. Leres ing samubarang damel, sabar welas asih ing sasami,
> boten ngunggul-unggulaken dhirinipun, tebih saking watak
panganiaya.
> 4. Pinter saliring kawruh, langkung-langkung pinter ngecani
> manahing sasami-sami, punapadene pinter angereh kamurkaning manah
> pribadi, boten anguthuh melik anggendhong lali, margi saking
> dayaning mas picis rajabrana.
> 5. Susila anor-raga, tansah nganggeni tatakrami, maweh
> rereseping paningal tuwin sengseming pamiharsa, dhateng ingkang
sami

> kataman.
>
> Lampah 5 prakawis wau kedah linampahan winantu ing pujabrata
> anandangaken ulah samadi, inggih amesu cipta angeningaken
> pranawaning paningal. Awit saking makaten punika mila tumrap
> panindaking agami Jawi (Buda), bab kawruh pasamaden tuwin lampah 5
> prakawis wau kedah kawulangaken dhateng sadaya titiyang enem sepuh
> boten pilih andhap inggiling darajatipun. Mila makaten, sebab
> musthikaning kawruh tuwin luhur-luhuring kamanungsan, punika bilih
> tetep samadinipun, kuwasa anindakaken lampah 5 prakawis kados
> kawursita ing nginggil. Temah kita manggen ing sasananing
> katrenteman, dene wontening katentreman mahanani harja kerta lan
> kamardikan kita sami. Yen boten makaten, ngantos sabujading jagad,
> kita badhe nandhang papa cintraka, kagiles dening rodha jantraning
> jagad, margi kacidraning manah kita pribadi.
>
> Bab kawruh pasamaden ingkang lajeng karan wiridan naksobandiyah
lan
> satariyah, ingkang ing nguni wiwiridan saking Seh Sitijenar,
sampun
> ka'andharaken ing nginggil, namung kemawon tumandangipun boten
> kawedharaken. Ing riki namung badhe anggelaraken lampah
tumandanging
> samadi sacara Jawi, ingkang dereng kacarobosan agami sanes, inggih
> punika makaten :
>
> Para nupiksa, mugi sampun kalintu panampi, bilih samadi punika
> angicalaken rahsaning gesang utawi nyawanipun (gesangipun) medal
> saking badan wadhag. Panampi makaten punika, purwanipun mirid
saking
> cariyos lalampahanipun Sri Kresna ing Dwarawati, utawi Sang Arjuna
> yen angraga-suksma. Mugi kawuninganana, bilih cariyos makaten
punika
> tetep namung kangge pasemon utawi pralambang.
>
> Ing samangke wiwit wedharaken lampahing samadi makaten : tembung
> samadi = sarasa - rasa tunggal - maligining rasa - rasa jati -
rasa

> nalika dereng makarti. Dene makartining rasa jalaran saking
> panggulawenthah utawi piwulang, punapadene pangalaman-pangalam an
> ingkang tinampen utawi kasandhang ing sadinten-dintenipun . Inggih
> makartining rasa punika ingkang kawastanan pikir. Saking dayaning
> panggulawenthah, piwulang tuwin pangalaman-pangalam an wau, pikir
> lajeng gadhah panganggep awon lan sae, temah anuwuhaken tatacara,
> pamacak lan sanes-sanesipun ingkang lajeng dados pakulinan. Punapa
> panganggep awon sae, ingkang sampun dados tata-cara margi sampun
> dados pakulinan punika, yen awon inggih awon sayektos, yen sae
> inggih sae temenan, punika dereng tamtu, jer punika namung
> pakulinaning panganggep. Dene panganggep, boten yekti, tetep
namung
> ngenggeni pakulinaning tata-cara, dados inggih dede kajaten utawi
> kasunyatan. Menggah pikajenganipun samadi ing riki, boten wonten
> sanes namung badhe nyumerepi kajaten, dene sarananipun boten
wonten
> malih kajawi nyumerepi utawi anyilahaken panganggep saking
> makartining rasa, kasebut sirnaning papan lan tulis. Inggih ing
riku
> punika jumenenging rasa jati kang nyata, kang yekti, kang weruh
> tanpa tuduh. Wondene kasembadanipun kedah angendelaken ing
> saniskara, sarana angereh solahing anggota (badan). Mangrehing
> anggota wau ingkang langkung pikantuk kalihan sareyan malumah,
saha
> sidhakep utawi kalurusaken mangandhap, epek-epek kiwa tengen
> tumempel ing pupu kiwa tengen, suku ingkang lurus, dalamakan suku
> ingkang tengen katumpangaken ing dalamakan suku kiwa, mila lajeng
> kasebut sidhakep suku (saluku) tunggal. Punapadene angendelna
> ebahing netra (mripat), inggih punika ingkang kawastanan meleng.
> Lampah makaten wau ingkang kuwasa ngendelaken osiking cipta
> (panggagas), tuwin amuntu ilining rahsa, dene pancering paningal
> kasipatna amandeng pucuking grana medal saking sa'antawising netra
> kakalih, inggih punika ing papasu, dene pamandengipun kedah
kalayan
> angeremaken netra kakalih pisan.
>
> Sasampunipun lajeng nata lebet wedaling napas (ambegan) makaten :
> panariking napas saking puser kasengkakna minggah anglangkungi
> cethak ingga dumugi ing suhunan (utek = embun-embunan) , sarta
mawi
> kaendelna ing sawatawis dangunipun. Sumengkanipun napas wau
> kadosdene darbe raos angangkat punapa-punapa, dene temenipun
ingkang
> kados kita angkat, punika ilining rahsa ingkang kita pepet saking
> sumengkaning napas wau, menawi sampun kraos awrat panyangginipun
> napas, inggih lajeng ka'edhakna kalayan alon-alon. Inggih patrap
> ingkang makaten punika ingkang kawastanan sastracetha. Tegesipun
> cetha = empaning kawruh, cetha = antebing swara cethak, inggih
> cethaking tutuk kita punika. Mila winastan makaten, awit duk kita
> mangreh sumengkaning napas anglangkungi dhadha lajeng minggah
malih
> anglangkungi cethak ingga dumugi suhunan. Menawi napas kita dipun
> ereh, dados namung manut lampahing napas piyambak, tamtu boten
saget
> dumugi ing suhunan, margi saweg dumugi ing cethak lajeng sampun
> medhak malih. Punapadene ugi winastan daiwan (dawan),
pikajengipun :
> mangreh lebet wedaling napas ingkang panjang lan sareh, sarwi
> mocapaken mantra sarana kabatos kemawon, inggih punika mungel `hu'
> kasarengan kalihan lumebeting napas, inggih panariking napas
saking
> puser, minggah dumugi ing suhunan. Lajeng `ya', kasarengan kalihan
> wedaling napas, inggih medhaking napas saking suhunan dumugi ing
> puser, minggah mandhaping napas wau anglangkungi dhadha lan
cethak.
> Dene, anggenipun kawastanan sastracetha, margi nalika mocapaken
> mantra sastra kakalih : hu - ya, wedaling swara ingkang namung
> kabatos wau, ugi kawistara saking dayaning cethak. (Ungeling
mantra
> utawi panebut kakalih : hu – ya, ing wiridan naksobandiyah
kaewahan
> dados mungel, hu – Allah, panebutipun ugi kasarengan lampahing
> napas. Dene ing wiridan satariyah, panebut wau mungel : hailah –
> haillolah, nanging tanpa angereh lampahing napas).
>
> Menggah lebet medaling napas kados kasebut ing nginggil,
> sa'angkatanipun namung kuwasa angambali rambah kaping tiga, mila
> makaten, awit napas kita sampun boten kadugi manawi kinen
> anandangana malih, jalaran sampun menggeh-menggeh. Dene manawi
> sampun sareh, inggih lajeng ka'angkatana malih, makaten
salajengipun
> ngantos marambah-rambah sakuwawinipun, margi saya kuwawi dangu,
> sangsaya langkung prayogi sanget. Dene sa'angkataning pandamel wau
> kawastan : tripandurat, tegesipun tri = tiga, pandu = suci, rat =
> jagad – badan – enggen, suraosipun : kaping tiga napas kita saget
> tumameng ing ngabyantaraning ingkang Maha suci manggen ing
> salebeting suhunan (ingkang dipun suwuni). Inggih punika ingkang
> kabasakaken paworing kawula Gusti, tegesipun : manawi napas kita
> sumengka, kita jumeneng gusti, yen tumedhak, wangsul dados kawula.
> Bab punika para nupiksa sampun kalintu tampi ! Menggah ingkang
dipun
> wastani kawula gusti punika dede napas kita, nanging dayaning
cipta
> kita. Dados ulah samadi punika, pokokipun kita kedah amanjangaken
> panjing wijiling napas (lebet wedaling napas), kalihan
angeningaken
> (ambeningaken) paningal, sebab paningal punika kadadosan saking
> rahsa.
>
> Wondene patraping samadi kados kasebut ing nginggil wau, ugi
kenging
> karancagaken, uger kita tansah lumintu tanpa pedhot mangeh panjing
> wijiling napas, kalihan lenggah, lumampah, utawi nyambutdamel
inggih
> kedah boten kenging tilar mangreh lebet wedaling napas wau,
ingkang
> sarana mocapaken mantra mungel : hu – ya, kados ingkang kajarwa
ing

> nginggil.
>
> Kajawi punika, wirid saking tembung daiwan punika ugi taksih darbe
> maksud sanesipun malih, inggih punika ateges panjang tanpa ujung,
> utawi ateges langgeng. Dene pikajengipun amastani bilih wontening
> napas kita punika sanyata wahananing gesang kita ingkang langgeng,
> inggih wontening ambegan kita. Dene ambegan punika, sanyata
> wontening angin ingkang tansah mlebet medal tanpa kendel, ingkang
> sasarengan kalihan keketeg panglampahing rah (roh). Bilih kakalih
> wau kendel boten makarti nama pejah, inggih risaking badan wadhag
> wangsul dados babakalan malih. Mila sayogyanipun lampahing napas
> inggih ambegan kita ingkang tansah mlebet medal tanpa kendel,
kedah
> kapanjang-panjangan a lampahipun, murih panjanga ugi umur kita,
temah
> saget awet wonten ing donya tutug panyawangipun dhateng anak,
putu,
> buyut, canggah, wareng, ingkang babranahan.
>
> Wontenipun andharan ing nginggil, mratelakaken bilih kawruh
> pasamaden punika sanyata langkung ageng pigunanipun, mila lajeng
> sinebut sastrajendrayuningr at pangruwating diyu. Tegesipun sastra
=
> empaning kawruh, jendra = saking panggarbaning tembung harja
endra.
> Tegesipun harja = raharja, endra = ratu – dewa, yu = rahayu –
> wilujeng, ningrat = jagad – enggen – badan. Suraosipun :
> Musthikaning kawruh ingkang kuwasa amartani ing karahayon,
kaharjan,
> katentreman lan sapatunggalipun. Dene tegesesipun pangruwating
diyu
> = amalihaken diyu; dene diyu = danawa – raksasa – asura – buta,
> punika kangge pasemoning piawon, penyakit, rereget, babaya,
> pepeteng, kabodhohan lan sanesipun. Dados diyu punika
> kosokwangsulipun dewa, engkang ateges pinter, sae, wilujeng lan
> sapanunggilipun. Mengku suraos amastani ingkang saget anyirnakaken
> saliring piawon tuwin samubarang babaya pekewed. Mangertosipun,
> sinten ingkang tansah ajeg lumintu anandangaken ulah samadi,
punika
> bilih ing suwaunipun tiyang awon, lajeng sirna piawonipun, malih
> dados tiyang sae lampahipun. Tiyang sakit sirna sakitipun, dados
> saras, tiyang murka daksiya lajeng narimah sabar, welasasih.
Tiyang
> goroh lajeng dados temen. Tiyang bodho dados pinter. Tiyang pinter
> dados pinter sanget. Makaten ugi tiyang golongan sudra dados
waesia,

> waesia dados satriya, satriya dados brahmana, brahmana sumengka
> pangawak braja asarira bathara.
>
> RAHAYU
>
> BS
>
> --- In Spiritual-Indonesia @yahoogroups. com, bustanus salatin
> <ki_ageng_jenar@ ...> wrote:
> >
> > buku SATRIO PANINGIT, BENCANA NUSANTARA, MANUNGGALINGKAWULOG
USTI
> dalam UNIVERSALITAS KEAGAMAAN
> > ISBN:978-979- 17824-0-1/ barcode
> >  
> > Bab 10: Kajian Tafsir Huruf Muqota'ah: Pandangan Siti Jenar dan
> Husain ibnu Mansur al-Hallaj dalam Manunggaling Kawulo Gusti
> >  
> > Syekh Siti Jenar begitu sering dihubung-hubungkan dengan al-
Husain
> ibnu Mansur al-Hallaj atau singkatnya Al-Hallaj saja, sufi Persia
> abad ke-10, yang sepintas lalu ajarannya mirip dengan Siti Jenar,
> karena ia memohon dibunuh agar tubuhnya tidak menjadi penghalang
> penyatuannya kembali dengan Tuhan. Adalah Al-Hallaj yang karena
> konsep satunya Tuhan dan dunia mengucapkan kalimat, "Akulah
> Kebenaran/ Anna al Haq," yang menjadi alasan bagi hukuman matinya
> pada 922 Masehi di Baghdad. Seperti Syekh Siti Jenar pula, nama Al-
> Hallaj menjadi monumen keberbedaan dalam penghayatan agama,
sehingga
> bahkan diandaikan bahwa jika secara historis Syekh Siti Jenar tak
> ada, maka dongengnya adalah personifikasi saja dari ajaran Al-
> Hallaj, bagi yang mendukung maupun yang menindas ajaran tersebut.
> > petikan atas kutipan dari Serat Siti Jenar yang diterbitkan oleh
> Tan Khoen Swie, Kediri, pada 1922:
> > Kawula dan gusti sudah ada dalam diriku, siang dan malam tidak
> dapat memisahkan diriku dari mereka. Tetapi hanya saat ini nama
> kawula-gusti itu berlaku, yakni selama saya mati. Nanti, kalau
saya
> sudah hidup lagi, gusti dan kawula lenyap, yang tinggal hanya
> hidupku, ketenteraman langgeng dalam Ada sendiri.
> > Hai Pangeran Bayat, bila kau belum menyadari kebenaran kata-
kataku
> maka dengan tepat dapat dikatakan, bahwa kau masih terbenam dalam
> masa kematian. Di sini memang banyak hiburan aneka warna. Lebih
> banyak lagi hal-hal yang menimbulkan hawa nafsu. Tetapi kau tidak
> melihat, bahwa itu hanya akibat pancaindera.
> > Itu hanya impian yang sama sekali tidak mengandung kebenaran dan
> sebentar lagi akan lenyap. Gilalah orang yang terikat padanya,
tidak

> seperti Syeh Siti Jenar. Saya tidak merasa tertarik, tak sudi
> tersesat dalam kerajaan kematian. Satu-satunya yang kuusahakan,
> ialah kembali kepada kehidupan
> > Dalam pupuhnya, Syekh Siti Jenar merasa malu apabila harus
> berdebat masalah agama. Alasannya sederhana, yaitu dalam agama
> apapun, setiap pemeluk sebenarnya menyembah zat Yang Maha Kuasa.
> Hanya saja masing - masing menyembah dengan menyebut nama yang
> berbeda - beda dan menjalankan ajaran dengan cara yang belum tentu
> sama. Oleh karena itu, masing - masing pemeluk tidak perlu saling
> berdebat untuk mendapat pengakuan bahwa agamanya yang paling benar.
> > Syekh Siti Jenar juga mengajarkan agar seseorang dapat lebih
> mengutamakan prinsip ikhlas dalam menjalankan ibadah. Orang yang
> beribadah dengan mengharapkan surga atau pahala berarti belum bisa
> disebut ikhlas.
> > Manunggaling Kawula Gusti, Dalam ajarannya ini, pendukungnya
> berpendapat bahwa Syekh Siti Jenar tidak pernah menyebut dirinya
> sebagai Tuhan. Manunggaling Kawula Gusti dianggap bukan berarti
> bercampurnya Tuhan dengan Makhluknya, melainkan bahwa Sang
Pencipta
> adalah tempat kembali semua makhluk. Dan dengan kembali kepada
> Tuhannya, manusia telah menjadi sangat dekat dengan Tuhannya.
> > Dan dalam ajarannya, 'Manunggaling Kawula Gusti' adalah bahwa di
> dalam diri manusia terdapat ruh yang berasal dari ruh Tuhan sesuai
> dengan ayat Al Qur'an yang menerangkan tentang penciptaan manusia
("

> Ketika Tuhanmu berfirman kepada malaikat: "Sesungguhnya Aku akan
> menciptakan manusia dari tanah. Maka apabila telah Kusempurnakan
> kejadiannya dan Kutiupkan kepadanya roh Ku; maka hendaklah kamu
> tersungkur dengan bersujud kepadanya (Shaad; 71-72)"). Dengan
> demikian ruh manusia akan menyatu dengan ruh Tuhan dikala
> penyembahan terhadap Tuhan terjadi.
> > Riwayat pertemuan Ibrahim ibn Sam'an dengan Husain bin Mansur al
> Hallaj ( Kutipan dari Buku Husain bin Manshur al Hallaj, karangan
> Louis Massignon)
> > Aku melihat al Hallaj pada suatu hari di masjid al Mansur: Aku
> memiliki 2 dinar dalam sakuku dan aku berpikir untuk menghabiskan
> uang itu untuk hal-hal yang melanggar hukum. Seseorang datang dan
> memintah sedekah.Dan Husain bin Mansur al Hallaj berkata:' Ibnu
> Sam'an berikanlah sedekah  dengan apa yang kamu simpan di dalam
> jubahmu, aku terdiam dan menangis, " oh syaikh,bagaimana engkau
> mengetahui hal itu?'' Al Hallaj berkata:' Setiap hati yang
> mengosongkan diri dari yang selain Alloh, dapat membaca kesadaran
> orang dan menyaksikan apa yang ghoib''. Ibnu Sam'an berkata:''
> o,syaikh ajarilah aku sebuah hikmah''. Kemudian berkata al
> Hallaj :''Orang yang mencari Tuhan dibalik huruf miim dan ain akan
> menemukan Nya.Dan seseorang yang mencarinya dalam konsonan idhafah
> antara alif dan nun, orang itu akan kehilangan Dia. Karena Dia itu
> Maha Suci, di luar jangkauan pikiran dan diatas yang terselubung ,
> yang berada di dalam diri setiap
> > orang. Kembalilah kepada Tuhan, Titik Terakhir adalah Dia. Tidak
> ada "Mengapa" di hari akhir kecuali Dia.Bagi manusia "MA/ yaitu
miim
> dan ain" milik Dia berada dalam miim dan ain makna ""MA"" ini
adalah

> Tuhan Maha Suci. Dia mengajak makhluk terbang menuju Tuhan. "miim"
> membimbing ke Dia dari atas ke bawah. "ain"membimbing ke Dia dari
> Jauh dan Luas.
> >  
> > Ilmu Huruf Muqota'ah
> > Ilmu huruf, yang didasarkan pada satu bahsa suci, tentulah
> memiliki sebuah fondasi mistis yang diperlukan. Orang bisa
> menemukan  doktrin ini dalam puisi mistis yang terkenal Ghulsyan-i
> Raz (Taman Mawar), karya Syabistari: " Bagi orang yang jiwanya
> adalah manifestasi Tuhan yaitu al Qur'an, keseluruhan alam ini
> adalah huruf-huruf vokalNya dan substansinya adalah huruf konsonan
> Nya " Pasal 200-209 puisi Ghulsyan-i Raz.
> > Abu Ishaq Quhistani, sufi Islam, menegaskan pentingnya ilmu
huruf
> dengan menyatakan bahwa " ilmu huruf adalah akar dari segala
ilmu ".
> Secara skematis ilmu huruf mengandung :
> >
> > Simbolisme ketuhanan dan metafisika atau /metakosmik
> > Simbolisme universal / makrokosmik yang didasarkan pada
> korespondensi antara huruf-huruf dan benda astrologis (ruang
> angkasa/ planet/ lambang zodiak dll)
> > Simbolisme manusia dan individu yang didasarkan pada
korespondensi
> fisiologis/organ tubuh
> > Jumlah huruf muqatta'ah (terpotong) ada 14 huruf yaitu :alif lam
> miim,ha miim, alif lam ra, tha ha,ha miim ain sin qaf, ya sin, kaf
> ha ya `ain shad, kaf dan nun. Kalau dirangkai keseluruhannya
menjadi
> sebuah kalimat : Shiratu `aliyin haqqun namsikuhu (jalan Ali
adalah
> kebenaran yang kita pegang). huruf muqatta'ah (terpotong) adalah
> huruf-huruf yang merupakan rumusan dialog antara Alloh swt dengan
> kekasihnya (para Nabi dan para Wali)
> > Apa Makna miim dan ain sehingga dapat menemukan Tuhan dan
bertemu

> dengan Nya dan Mengapa ketika mencari Tuhan dibalik huruf alif dan
> nun maka tidak bisa bertemu dengan Nya?
> > Tafsir Miim (numerology Arabiyah)::
> >
> > Huruf miim merupakan muhammad rosulillah atau Ahmad, yang
> merupakan pintu menuju Ahad yang merupakan wahdaniyah Allah.
> Perbedaan antara  Ahad dan Ahmad adalah huruf arab Miim (muhammad
> rosulillah - penutup jalur risalah dan kenabian)
> > Miim juga berarti malakuti / keagungan / penguasaan atas seluruh
> langit bumi, ayat Kursi merupakan ayat yang mengandung banyak
huruf

> miim didalamya
> > Huruf miim bernilai 40, 40 hari khalwat dengan ikhlas dengan
> mengamalkan surat al ikhlas dan ayat Kursi (ayat yang banyak
> mengandung huruf miim /sujud jadi sujud adalah cara menggapai
> keagungan). Juga surat al ikhlas di awali dengan qulhuwa allohu
> ahad. Jadi perwujudan ahad di dunia adalah ahmad, ketika manusia
> menjadi ahmad maka merupakan tajalli/ penampakan sang Mahakuasa
> dalam diri manusia. Sekali lagi bedakan Ahmad dan Ahad terletak
> huruf miim.
> > Huruf miim membentuk, posisi sujud dalam solat, sujud merupakan
> posisi kedekatan dengan Alloh, bahkan sujud merupakan simbol dari
> wahdaniyah Allah. Metode untuk mendekat (muqorrobin/ kewalian)
> kepada Tuhan yang paling cepat adalah dengan sujud yang lama dalam
> Sholat. Hadits qudsi Allah berfirman : " Barangsiapa memusuhi
waliku
> sungguh kuumumkan perang kepadanya, tiadalah hamba Ku mendekat
> kepada Ku dengan hal hal yg fardhu- 17 rokaat, dan Hamba Ku terus
> mendekat kepada Ku dengan hal hal yg sunnah- 34 rokaat qobliyah
dan
> bakdiyah- baginya hingga Aku mencintainya, bila Aku mencintainya
> maka aku menjadi telinganya yg ia gunakan untuk mendengar, dan
> matanya yg ia gunakan untuk melihat, dan menjadi tangannya yg ia
> gunakan untuk memerangi, dan kakinya yg ia gunakan untuk
melangkah,
> bila ia meminta pada Ku niscaya kuberi permintaannya. ..." (shahih
> Bukhari hadits no.6137).
> >  
> > Tafsir Ain,Yaa,Sin, Nuun,Aliif (numerology Arabiyah):
> >
> > Huruf ain bermakna sayidina Ali bin Abu tholib merupakan pintu
> gerbang keilmuan. Sesuai hadits Nabi yang menyatakan bahwa
Muhammad
> rosulluloh adalah gudang ilmu dan Sayidina Ali adalah pintunya.
> Huruf ayn membentuk posisi rukuk dalam sujud, dalam riwayat
asbabun
> nuzul quran ada ayat yang berkenaan dengan Ali bin abu thalib,
yaitu
> orang yang rukuk kemudian dalam posisi rukuk dalam solat melakukan
> sedekah berupa cincin. Inilah ayat quran itu: Walimu hanyalah
Allah,
> Rasul-Nya dan mereka yang beriman yang menegakkan salat, membayar
> zakat seraya rukuk. (QS. al-Mâ`idah: 55)
> > Kunci sholat yang merupakan adab tatakrama/ kepasrahaan total
ila
> allohu ada di rukuk/ huruf ain, sujud/ huruf miim adalah kedekatan
> (muqorobin- fana asma dan tajalli asma), barangsiapa tidak tahu
adab
> ( rukuknya)  maka tidak layak untuk dekat (muqorobin).
> > Huruf Ain bernilai 70.sedang huruf Ya bernilai 10 dan huruf Sin
> bernilai 60. jadi secara matematis yaitu 70(ain)= yaa(10)+sin( 60)
> jadi Ya + Seen = Ain merupakan Quran dalam surat 36 adalah surat
Ya
> Seen. ayat ke 58 dari surat Yasin adalah Salaamun Qawlam Mir
Rabbir
> Raheem. Jadi 5+8=13, posisi huruf ke 13 dalam abjad Arab adalah
> huruf Miim/ Sujud. Jadi untuk mengerti Ain/ rukuk  kita harus
> mengerti tafsir huruf Yaa dan Tafsir huruf Sin. Dengan mengerti
Yaa
> dan Sin kita akan sampai kepada Sayidina Ali bin Abu Tholib.
> > Kyai Kholil Bangkalan, salah seorang pencetak kyai besar
Nahdlatul
> Ulama, selama perjalanan pesantren Keboncandi, Pasuruan-Sidogiri
> kyai kholil Bangkalan sewaktu muda selalu membaca YaSin, hingga
> khatam berkali-kali
> > Huruf Ya adalah akhir dari abjad Arab and Alif awal dari abjad
> Arab. Huruf  Ya/ hamba memimpin/cenderung ke arah Alif/ Alloh.
Huwal
> Awwalu wa Hu wal Akhiru.
> > Rincian huruf Awwalu  :
> > Alif(1)+waw( 6)+lam(30) =37ß-à3+7=10, (Ya=10),
> > 10 ß-à1+0=1ß-àpertama.
> > ·         Rincian huruf Akhiru :: Alif(1)+Kho( 600)+Ro(200) =
801ß-

> à8+0 +1= 9 ß-à terakhir adalah 9, angka 9 dalam numerology arab
> adalah huruf Ta yang bermakna penyucian atau Tahara/penyucian dan
> bulan ke 9 dalam Arab/ Qomariah adalah bulan ramadhon yaitu bulan
> puasa
> > ·         Penyucian kalbu dari kecintan diri dan dunia merupakan
> tingkat awal penyucian untuk bersuluk kepada Alloh. Sesungguhnya
> kotoran maknawi terbesar yang tidak bisa disucikan meskipun dengan
> tujuh lautan dan para nabi pun tidak mampu menghilangkannya adalah
> kotora kejahilan ganda (pura-pura tahu padahal tidak tahu).
> Kekeruhan ini mungkin akan memadamkan cahaya petunjuk dan
meredupkan
> api kerinduan yang merupakan buraq untuk bermikraj mencapai
berbagai
> maqom spiritual.( Imam Khomeini dalam Hakikat dan Rahasia Sholat)
> > ·          dan Alif(1)+ Ta(9)=10ß-à (Ya=10=hamba) , nilai huruf
> (Ya=10), jadi seorang Hamba yaitu simbol Ya harus melakukan Puasa/
> penyucian jiwa/ tazkiyah nafs simbol (Ta=9) untuk Alloh semata
> simbol (Alif=1) atau Hamba harus sabar dengan KetentuanNya atau
> nrimo ing pandum, karena hasil puasa Lillah Billah menjadikan
orang
> sabar atau innalloha ma'ashobirin (Sesungguhnya Alloh bersama (MA
> terdiri huruf miim dan ain lihat al Baqarah:153 ) orang yang
sabar.
> Lihat bersama adalah Ma yaitu ma'asshobirin. Disini terungkap
> rahasia mim dan ayn yaitu MA seperti yang diucapkan oleh Husain
bin
> Mansur al Hallaj. jadi Sabar adalah kunci menemukan Tuhan. Para
> mufassir menafsirkan sabar dengan melakukan puasa. Pahala puasa
> hanya Alloh yang tahu. Artinya Hak menilai puasa langsung di
tangan
> Alloh bukan di tangan para malaikat. Sabda Rosullulloh saw Puasa
> yang dilakukan khusus untuk-Ku/ puasa Lillah Billah dan cukuplah
Aku
> sebagai pahalanya
> > ·         Mempelajari Ilmu Ketuhanan akan menjadikan orang
> bersabar, seperti dialog Nabi Musa as dan Nabi Khidr as yaitu
> Bagaimana kamu dapat sabar terhadap persoalan yang kamu samasekali
> belum memiliki pengetahuan yang cukup tentangNya(QS 18:68).
> Barangsiapa menghadapi kesengsaraan dengan hati terbuka,
menunjukkan
> kesabaran dengan penuh ketenangan dan martabat, termasuk dalam
> golongan orang terpilih dan bagian untuknya adalah Berikanlah
kabar

> gembira (keberhasilan dan kejayaan) kepada orang yang sabar (QS
> 2:155),
> >
> > Dalam Islam, kemampuan mengendalikan emosi dan menahan diri
> disebut sabar. Orang yang paling sabar adalah orang yang paling
> tinggi dalam kecerdasan emosionalnya. Ia biasanya tabah dalam
> menghadapi kesulitan. Ketika belajar orang ini tekun. Ia berhasil
> mengatasi berbagai gangguan dan tidak memperturutkan emosi-nya.
> > Gabungan rincian Awwalu dan Akhiru adalah Seorang Hamba
> (Ya=10=hamba) karena  Akhiru(9)+ Awwalu (1)=10ß-à (Ya=10=hamba) ,
> jadi seorang Hamba menampung Asma Alloh yang lengkap dan memiliki
> potensi untuk menampakkan sifat ketuhanan
> > Huruf Sin bernilai 60 dalam numerology Arab, merupakan simbol
dari
> sirr Muhammad, sirr adalah rahasia ketuhanan yang disimpan dalam
> diri manusia sebagai hamba. Huruf sin dalam INSAN. huruf alif nya
> adalah Alloh, huruf  sin adalah rahasia /sirr ketuhanan, 2 huruf
nun
> adalah simbol hukum dunia dan akhirat yang merupakan
> representasi /perwakilan kitab suci al Qur'an.
> > Huruf Yaa/ simbol Hamba digunakan untuk memanggil seseorang atau
> menarik perhatian sesorang. Ya adalah simbol seorang Hamba
menyembah
> dan menyebut Tuhannya Ya Alloh Ya Robbi dll.Yaa juga digunakan
oleh
> Alloh memanggil Hambanya.Ya juga berarti simbol antara yang
disembah
> dan menyembah, tetapi posisi Ya=10/ hamba selalu cenderung kepada
> Alif=1 atau Alloh karena Alloh sebagai Awwalu, dalam ilmu huruf,
> > Alif(1)+waw( 6)+lam(30) =37ß-à3+7=10 adalah Yaa menyatu dengan
Alif
> (10ß-à1+0=1) atau dibalik Yaa ada Alif atau di dalam Manusia ada
> Tuhan atau istilah Wahdatul Wujud nya Ibnu Arobi yaitu antara
> penyembah dan yang disembah itu sama tapi tidak serupa atau
menurut

> istilah ajaran Syekh Siti Jenar, yaitu Manunggaling Kawula
> Gusti. "PERSAMAAN" antara manusia dan Allah. Hal inilah yang
> dimaksudkan dalam sabda Nabi saw.: "Sesungguhnya Allah menciptakan
> manusia dalam kemiripan dengan diriNya sendiri." Lebih jauh lagi
> Allah telah berfirman: "Hambaku mendekat kepadaKu sehingga Aku
> menjadikannya sahabatKu. Aku pun menjadi telinganya, matanya dan
> lidahnya." Juga Allah berfirman kepada Musa as.: "Aku pernah sakit
> tapi engkau tidak menjengukku! " Musa menjawab: "Ya Allah, Engkau
> adalah Rabb langit dan bumi; bagaimana Engkau bisa sakit?" Allah
> berfirman: "Salah seorang hambaKu sakit; dan dengan menjenguknya
> berarti engkau telah mengunjungiKu. "Memang ini adalah suatu
> > masalah yang agak berbahaya untuk diperbincangkan, karena hal
ini

> berada di balik pemahaman orang-orang awam. Seseorang yang cerdas
> sekalipun bisa tersandung dalam membicarakan soal ini dan percaya
> pada inkarnasi dan kersekutuan dengan Allah.
> > Tafsir huruf Nun dan Alif- Pencari Tuhan dibalik huruf alif dan
> nun maka tidak bisa bertemu dengan Nya::
> >
> > Bernilai 50 dalam numerology Arab.
> > Tafsir huruf INSAN, memiliki 2 huruf nun merupakan simbol alam
> dunia/ jasad dan alam akhirat/ ruh/ jiwa. Ruh yang disucikan akan
> memperoleh Nur/ surga sedangkan Ruh yang dikotori akan memperoleh
> Nar/ neraka.
> > Tafsir Alif dan Nun: Penggambaran Simbolis Huruf dan Alif Nun
> merupakan lambang sebuah perahu (syariat) dan sebuah Jiwa/
> individu /personal mengarungi lautan / medan ujian, kayuh/sampan (
> membentuk huruf Alif) kiri kanan adalah wilayah pilihan manusia (
> sunnatulloh adalah qadha' qadar baik buruk) yang telah ditetapkan
> oleh Alloh arti simbol Alif. Individu yang sedang menaiki perahu (
> simbol Nun), sampan/kayuh adalah alat/ pilihan yang akan
mengerakkan
> jiwanya menuju 3 pilihan yaitu, pertama, arah perahu ke  kiri
> berarti ashabul syimal/ Nun menjadi Naar/ neraka, kedua arah
perahu
> ke  kanan berarti ashabul yamin/ Nun menjadi Nur/cahaya, ketiga
arah
> perahu tidak ke  kiri dan tidak ke kanan tetapi tengah berarti
> sabiqunal awwalun/ terdahulu mencapai tujuan - ini adalah golongan
> para pencinta yaitu menyembah karena kerinduan ingin bertemu
dengan
> sang Khaliq – ini adalah jawaban isyarah tersembunyi dari Husain
bin
> Manshur al Hallaj- yaitu para nabi
> > dengan simbol miim (arti bathinnya adalah sujud) yaitu Muhammad
> saw dan ain (arti bathinnya adalah rukuk) yaitu sayidina Ali bin
> Abuthalib
> > Huruf Nun Mengingatkan Kita juga  kepada  Zunnun/ Nabi Yunus as
> yang naik perahu di tengah lautan dan ditelan Ikan karena
> meninggalkan Kaum nya sebelum ada perintah dari ALLOH swt.
> > Zikir Zunnun / N.Yunus  - doa keselamatan menghadapi medan
ujian :
> wa dzan nuni idz dzahaba mughadziban fa dhanna an lan naqdiro
alayhi
> fa nada fid dhulumati an laila antan subhanaka inni kuntu
> minadolimin fastajabna lahu wa najjaynahu minal ghammi wa
kadzalika

> nunjil mukminina (Anbiya :87-88).
> >  
> > Kesimpulan:
> > ·        Tafsir Yaa Sin akan membuka rahasia huruf `'MA'' yaitu
> miim dan ain seperti yang dikatakan oleh Husain bin Mansur al
> Hallaj:
> > Quran dalam surat 36 adalah surat Ya Seen. ayat ke 58 dari surat
> Yasin adalah Salaamun Qawlam Mir Rabbir Raheem
> > "Rahasia Ketuhanan ada dalam diri manusia, agar manusia mampu
> menampakkan atau men-tajallikan Ketuhanan dalam dirinya maka
> perintah solat (Rukuk, Sujud) adalah sarana 'Manunggaling Kawula
> Gusti dan sodaqoh ( menebarkan hasil usaha kebenaran/ pengabdian
> masyarakat/ agen perubahan/ social agent) kepada sesama makhluk
> Tuhan (kesalehan sosial) yang merupakan perwujudan dari Salaamun
> Qawlam Mir Rabbir Raheem"
> > ·         Tafsir YaaSin adalah simbol manusia sempurna yaitu
hamba
> yang mampu menampung rahasia Alloh swt dan didalam sirr itu
seorang

> penyembah dan disembah bertemu dan berdialog, ibarat sebuah pohon
> lengkap dengan pokoknya, cabangnya dan puncaknya. Imam al Baqir
> berkata: Maukah kamu akau beritahu pokok-pokok Islam, cabang dan
> puncaknya dan pintu kebaikan? Sulaiman bin Khalid berkata: Tentu,
> lalu jawab Imam al Baqir: Pokoknya adalah sholat, cabangnya adalah
> zakat, dan puncaknya adalah membela kaum tertindas dan menegakkan
> keadilan. Pintu kebaikan itu adalah :
> > 1.      Puasa merupakan perisai api neraka
> > 2.      Sedekah itu menghapus dosa
> > 3.      Sholat di malam hari untuk berzikir
> >  
> > Tafsir Rukuk/Huruf Ain
> > Etika rukuk adalah meninggikan maqam rububiyah Nya yang agung,
> mulia dan merendahkan maqam ubudiyah seorang hamba yang lemah,
faqir
> dan hina. Rukuk adalah awal ketundukkan dan sujud adalah
> puncaknya.Yang melakukan rukuk dengan sempurna dan benar akan
> menemukan keselarasan pada sujud. Imam Shadiq berkata" rukuk yang
> benar kepada Alloh adalah menghiasi dengan cahaya keindahan asma
> Nya. Rukuk adalah yang pertama dan sujud adalah yang kedua. Dalam
> rukuk ada adab penghambaan dan dalam sujud ada kedekatan/Qurb
dengan
> Zat yang disembah. Simbol rukuk adalah hamba dengan hati tunduk
> kepada Alloh, merasa hina dan takut di bawah kekuasaan-Nya.
> Merendahkan anggota badan karena gelisah dan takut tidak
memperoleh
> manfaat rukuk.
> >  
> > Tafsir Sujud/Huruf Mim
> > Sujud merupakan puncak ketundukan dan puncak kekhusyukan seorang
> hamba, sebaik-baik wasilah taqarrub ila Alloh, sebaik-baik posisi
> untuk mencapai cahaya-cahaya tajalli Asma  Alloh swt dan maqam
Qurb
> dengan Nya. N. Saw bersabda : "lamakanlah sujudmu", sebab tiada
amal
> yang lebih berat dan paling tak disukai oleh syetan saat melihat
> anak Adam sedang sujud, karena dia telah diperintahakan sujud dan
> dia tidak patuh. Sujud merupakan sebab mendekatnya hamba dengan
sang
> Kholik. Wahai orang yang beriman, mintalah pertolongan dengan
sabar

> dan solat, sesungguhnya Alloh bersama orang yang sabar (al
> Baqarah:153)
> >  
> > Tafsir Salam/Huruf Yaa Sin
> > Salam adalah salah satu nama Alloh. Arti Salam dari sisi Alloh
> adalah keselamatan zat, sifat, perbuatan-Nya. Adapun Zatnya
> terpelihara dari kelenyapan, perubahan dan dari segala kekurangan.
> Salam dari sisi Hamba adalah doa,yaitu memohon keselamatan kepada
> Alloh untuk orang yang kita ucapkan salam /selamat dari segala
> cobaaan dan bencana dunia akhirat. Salam juga berarti ungkapan
> Kepasrahan/ ketundukan kepada Sunnatulloh ( Quran Hadits). Menurut
> Imam Shadiq "salam adalah orang yang melaksanakan perintah Alloh
dan
> melakukan sunnah Rosulillah dengan ikhlas (intinya Ahad dan
Ahmad),
> juga selamat  dari bencana dunia dan akhirat. Salam juga bermakna
> penghormatan kepada hamba yang sholih (assalamu alaina wa ala
> ibadilahis sholihin) dan malaikat pencatat amal
> >  Al Futuhat al Makkiyah, Karangan Ibnu Aroby, merujuk empat
> perjalanan akal dalam bab 69 tentang rahasia rahasia shalat
sebagai
> perjalanan spiritual manusia. Perintah sholat 51 rokaat kepada
Nabi
> Muhammad saw saat isro miroj: Tuhan memerintahkan hambaNya itu
> supaya setiap Muslim setiap hari sembahyang limapuluh kali.
Kemudian
> untuk umatnya menjadi 17 rokaat wajib di lima waktu dan sisanya 34
> rokaat menjadi sunah muakkad- qobliyah dan bakdiya.
> > Mulla Shadra dalam bukunya al Asfar al Arba'ah mengatakan:
> > "Ketahuilah bahwa para pesuluk diantara orang Arif/ Irfan dan
para
> Wali menempuh empat perjalanan akal :
> >
> > Perjalanan makhluk kepada kebenaran –diskusi metafisika umum
(min
> al khalq ila al Haq)
> > Pesuluk mempelajari dasar-dasar metafisika umum dan
> dalilnya.pesuluk cenderung pada kajian semantik dan metafisika
dasar
> terhadap firman Ttuhan dalam Quran.
> >
> > Perjalanan bersama kebenaran didalam  kebenaran- pengalaman
> metafisika khusus dengan pengalaman pribadi (bi al Haq fi al Haq)
> > Pesuluk akan melihat sifat dan namaNya yang tertinggi baik nama
> yang mewujudkan rahmatNya dan murkaNya. Hukum nama nama Alloh ini
di
> dalam kejamakannya akan mewujud di dalam diri pesuluk.Hal ini
> dikenal dengan makam wahidiyah atau tujuh substansi halus
(lataif).
> Pesuluk akan mengalami rasa takut dan harapan (al khauf wa al raja)
> >
> > Perjalanan dari Kebenaran menuju makhluk  (min al Haq ila al al
> khalq)
> > Setelah mengalami fase peniadaan diri,pesuluk menerima karunia
> Tuhan dan kembali kepada kesadaran diri. Pesuluk menyaksikan
> penciptaan dan alam kejamakan dalam diri makhluk tetapi dengan
mata
> yang lain, dengan pendengaran yang berbeda. Puncak perjalan ketiga
> membawa pesuluk menuju kesucian/Wilayah( kewalian)
> >
> > Perjalanan bersama Kebenaran di dalam makhluk (bi al Haq fi al
> khalq)
> > Maqam penetapan hukum dan pembedaan dari baik dan buruk.ini
adalah
> derajat kenabian,penetapan hukum dan kepemimpinan atas umat
manusia
> yang berhubungan dengan urusan urusan mereka yang beragam dan
> berbeda-beda serta bagaimana mereka saling berinteraksi satu sama
> lain. seorang `arif tak akan benar-benar mencapai maqam spiritual
> tertinggi jika tidak memanifestasikan keimanan-puncak, yang telah
> diraihnya lewat dua perjalanan pertama, dalam bentuk concern
sosial
> politik untuk mereformasi masyarakat dan membebaskan kaum
tertindas
> dari rantai penindasannya. Tidak lain maqam penetapan hukum
> (legislatif) atau melibatkan diri dalam kemasyarakatan dan
hubungan

> social, merupakan perwujudan penebaran salam kepada makhluk yaitu
> Salaamun Qawlam Mir Rabbir Raheem yang merupakan inti tafsir      
> Yaa Sin.
> >
> > --- On Sun, 7/20/08, mang dipo <dipo1601@ .> wrote:
> >
> > From: mang dipo <dipo1601@ .>
> > Subject: [Spiritual-Indonesi a] Kejawen Islam
> > To: Spiritual-Indonesia @yahoogroups. com
> > Date: Sunday, July 20, 2008, 1:46 AM
> >
> >
> >
> >
> >
> >
> >
> >
> >
> > Mari kita mengutip satu tembang Jawa
> > Tak uwisi gunem iki                      saya akhiri pembicaraan
> ini
> > Niyatku mung aweh wikan           saya hanya ingin memberi tahu
> > Kabatinan akeh lire                      kabatinan banyak
macamnya
> > Lan gawat ka liwat-liwat              dan artinya sangat gawat
> > Mulo dipun prayitno                      maka itu berhati-hatilah
> > Ojo keliru pamilihmu                     Jangan kamu salah pilih
> > Lamun mardi kebatinan                  kalau belajar kebatinan
> >
> > Tembang ini menggambarkan nasihat seorang tua (pinisepuh) kepada
> mereka yang ingin mempelajari kabatinan cara kejawen. Kiranya
perlu
> dipahami bahwa tujuan hakiki dari kejawen adalah berusaha
> mendapatkan ilmu sejati untuk mencapai hidup sejati, dan berada
> dalam keadaan harmonis hubungan antara kawula (manusia) dan Gusti
> (Pencipta) ( jumbuhing kawula Gusti ) /pendekatan kepada Yang Maha
> Kuasa secara total.
> >
> > Keadaan spiritual ini bisa dicapai oleh setiap orang yang
percaya
> kepada Tuhan, yang mempunyai moral yang baik, bersih dan jujur.
> beberapa laku harus dipraktekkan dengan kesadaran dan ketetapan
hati
> yang mantap. Pencari dan penghayat ilmu sejati diwajibkan untuk
> melakukan sesuatu yang berguna bagi semua orang serta  melalui
> kebersihan hati dan tindakannya. Cipta, rasa, karsa dan karya
> (kuasa) harus baik, benar, suci dan ditujukan untuk mamayu
hayuning
> bawono. Ati suci jumbuhing Kawulo Gusti : hati suci itu adalah
> hubungan yang serasi antara Kawulo dan Gusti,  kejawen merupakan
> aset dari orang Jawa tradisional  yang berusaha memahami dan
mencari
> makna dan  hakekat hidup yang mengandung nilai-nilai.
> >
> > Dalam budaya jawa dikenal adanya simbolisme, yaitu suatu faham
> yang menggunakan lambang atau simbol untuk membimbing pemikiran
> manusia kearah pemahaman terhadap suatu hal secara lebih dalam.
> Manusia mempergunakan simbol sebagai media penghantar komunikasi
> antar sesama dan segala sesuatu yang dilakukan manusia merupakan
> perlambang dari tindakan atau bahkan karakter dari manusia itu
> selanjutnya. Ilmu pengetahuan adalah simbol-simbol dari Tuhan,
yang
> diturunkan kepada manusia, dan oleh manusia simbol-simbol itu
> ditelaah dibuktikan dan kemudian diubah menjadi simbol-simbol yang
> lebih mudah difahami agar bisa diterima oleh manusia lain yang
> memiliki daya tangkap yang berberda-beda.
> >
> > Biasanya sebutan orang Jawa adalah orang yang hidup di wilayah
> sebelah timur sungai Citanduy dan Cilosari. Bukan berarti wilayah
di
> sebelah barat-nya bukan wilayah pulau Jawa. Masyarakat Jawa adalah
> masyarakat yang menjunjung tinggi rasa kekeluargaan dan suka
> bergotong royong dengan semboyannya "saiyeg saekoproyo " yang
> berarti sekata satu tujuan.
> >
> > Kisah suku Jawa diawali dengan kedatangan seorang satriya
> pinandita yang bernama Aji Saka, sampai kemudian satriya itu
menulis
> sebuah sajak yang kemudian sajak tersebut diakui menjadi huruf
jawa
> dan digunakan sebagai tanda dimulainya penanggalan tarikh Caka.
> >
> > Kejawena dalah faham orang jawa atau aliran kepercayaan yang
> muncul dari masuknya berbagai macam agama ke jawa. Kejawen
mengakui
> adanya Tuhan Gusti Allah tetapi juga mengakui mistik yang
berkembang
> dari ajaran tasawuf agama-agama yang ada.
> >
> > Tindakan tersebut dibagi  tiga bagian yaitu tindakan simbolis
> dalam religi, tindakan simbolis dalam tradisi dan tindakan
simbolis
> dalam seni. Tindakan simbolis dalam religi, adalah contoh
kebiasaan
> orang Jawa yang percaya bahwa Tuhan adalah zat yang tidak mampu
> dijangkau oleh pikiran manusia, karenanya harus di simbolkan agar
> dapat di akui keberadaannya misalnya dengan menyebut Tuhan dengan
> Gusti Ingkang Murbheng Dumadi, Gusti Ingkang Maha Kuaos, Hyang
Manon

> dan sebagainya.
> >
> > Tindakan simbolis dalam tradisi dimisalkan dengan adanya tradisi
> upacara kematian yaitu medo'akan orang yang meninggal pada tiga
> hari, tujuh hari, empatpuluh hari, seratus hari, satu tahun, dua
> tahun, tiga tahun, dan seribu harinya setelah seseorang meninggal
> (tahlillan). Dan tindakan simbolis dalam seni dicontohkan dengan
> berbagai macam warna yang terlukis pada wajah wayang kulit; warna
> ini menggambarkan karakter dari masing-masing tokoh dalam wayang.
> >
> > Perkembangan budaya jawa yang mulai tergilas oleh perkembangan
> teknologi yang mempengaruhi pola pikir dan tindakan orang jawa
dalam
> kehidupan. Maka orang mulai berfikir bagaimana bisa membuktikan
hal
> gaib secara empiris tersebut dengan menggunakan berbagai macam
> metode tanpa mengindahkan unsur kesakralan. Bahkan terkadang
> kepercayaan itu kehilangan unsur kesakralannya karena dijadikan
> sebagai obyek exploitasi dan penelitian.
> >
> > Kebiasaan orang Jawa yang percaya bahwa segala sesuatu adalah
> simbol dari hakikat kehidupan, seperti syarat sebuah rumah harus
> memiliki empat buah soko guru (tiang penyangga) yang melambangkan
> empat unsur alam yaitu tanah, air, api, dan udara, yang ke
empatnya
> dipercaya akan memperkuat rumah baik secara fisik dan mental
> penghuni rumah tersebut. Namun dengan adanya teknologi konstruksi
> yang semakin maju, keberadaan soko guru itu tidak lagi menjadi
> syarat pembangunan rumah. Dengan analisa tersebut dapat
diperkirakan
> bagaimana nantinya faham simbolisme akan bergeser dari budaya
jawa.
> Tapi bahwa simbolisme tidak akan terpengaruh oleh kehidupan
manusia

> tapi kehidupan manusialah yang tergantung pada simbolisme. Dan
> sampai kapanpun simbolisme akan terus berkembang mengikuti
> berputarnya sangkakala.
> >
> > Mangkunegara IV (Sembah dan Budiluhur)
> > Mangkunegara IV memiliki empat ajaran utama yang meliputi sembah
> raga, sembah cipta (kalbu), sembah jiwa, dan sembah rasa.
> >
> > Sembah Raga
> > Sembah raga ialah menyembah Tuhan dengan mengutamakan gerak laku
> badaniah atau amal perbuatan yang bersifat lahiriah. Cara
bersucinya
> sama dengan sembahyang biasa, yaitu dengan mempergunakan air
> (wudhu). Sembah yang demikian biasa dikerjakan lima kali sehari
> semalam dengan mengindahkan pedoman secara tepat, tekun dan terus
> menerus, seperti bait berikut:
> >
> > Sembah raga puniku / pakartining wong amagang laku / sesucine
> asarana saking warih / kang wus lumrah limang wektu / wantu
wataking
> wawaton
> >
> > Sembah raga, sebagai bagian pertama dari empat sembah yang
> merupakan perjalanan hidup yang panjang ditamsilkan sebagai orang
> yang magang laku (calon pelaku atau penempuh perjalanan hidup
> kerohanian), orang menjalani tahap awal kehidupan bertapa (sembah
> raga puniku, pakartining wong amagang laku). Sembah ini didahului
> dengan bersuci yang menggunakan air (sesucine asarana saking
warih).
> Yang berlaku umum sembah raga ditunaikan sehari semalam lima kali.
> Atau dengan kata lain bahwa untuk menunaikan sembah ini telah
> ditetapkan waktu-waktunya lima kali dalam sehari semalam (kang wus
> lumrah limang wektu). Sembah lima waktu merupakan shalat fardlu
yang

> wajib ditunaikan (setiap muslim) dengan memenuhi segala syarat dan
> rukunnya (wantu wataking wawaton). Sembah raga yang demikian ini
> wajib ditunaikan terus-menerus tiada henti (wantu) seumur hidup.
> Dengan keharusan memenuhi segala ketentuan syarat dan rukun yang
> wajib dipedomani (wataking wawaton). Watak suatu
> > waton (pedoman) harus dipedomani. Tanpa mempedomani syarat dan
> rukun, maka sembah itu tidak sah.
> >
> > Sembah raga tersebut, meskipun lebih menekankan gerak laku
> badaniah, namun bukan berarti mengabaikan aspek rohaniah, sebab
> orang yang magang laku selain ia menghadirkan seperangkat
fisiknya,
> ia juga menghadirkan seperangkat aspek spiritualnya sehingga ia
> meningkat ke tahap kerohanian yang lebih tinggi.
> >
> > Sembah Cipta( Kalbu )
> > Sembah ini kadang-kadang disebut sembah cipta dan kadang-kadang
> disebut sembah kalbu, seperti terungkap pada Pupuh Gambuh bait 1
dan
> Pupuh Gambuh bait 11 berikut :
> > Samengkon sembah kalbu / yen lumintu uga dadi laku / laku agung
> kang kagungan narapati / patitis teteking kawruh / meruhi marang
> kang momong.
> >
> > Apabila cipta mengandung arti gagasan, angan-angan, harapan atau
> keinginan yang tersimpan di dalam hati, kalbu berarti hati , maka
> sembah cipta di sini mengandung arti sembah kalbu atau sembah
hati,
> bukan sembah gagasan atau angan-angan.
> > Apabila sembah raga menekankan penggunaan air untuk membasuh
> segala kotoran dan najis lahiriah, maka sembah kalbu menekankan
> pengekangan hawa nafsu yang dapat mengakibatkan terjadinya
berbagai
> pelanggaran dan dosa (sucine tanpa banyu, amung nyunyuda hardaning
> kalbu).
> >
> > Thaharah (bersuci) itu, demikian kata Al-Ghazali, ada empat
> tingkat.
> > Pertama,membersihka n hadats dan najis yang bersifat lahiriah.
> > Kedua,membersihkan anggota badan dari berbagai pelanggaran dan
> dosa.
> > Ketiga,membersihkan hati dari akhlak yang tercela dan budi
pekerti
> yang hina.
> > Keempat,membersihka n hati nurani dari apa yang selain Allah.
Dan
> yang keempat inilah taharah pada Nabi dan Shiddiqin.
> >
> > Jika thaharah yang pertama dan kedua menurut Al-Ghazali masih
> menekankan bentuk lahiriah berupa hadats dan najis yang melekat di
> badan yang berupa pelanggaran dan dosa yang dilakukan oleh anggota
> tubuh. Cara membersihkannya dibasuh dengan air. Sedangkan kotoran
> yang kedua dibersihkan dan dibasuh tanpa air yaitu dengan menahan
> dan menjauhkan diri dari pelanggaran dan dosa. Thaharah yang
ketiga
> dan keempat juga tanpa menggunakan air. Tetapi dengan membersihkan
> hati dari budi jahat dan mengosongkan hati dari apa saja yang
selain

> Allah.
> >
> > Sembah Jiwa
> > Sembah jiwa adalah sembah kepada Hyang Sukma ( Allah ) dengan
> mengutamakan peran jiwa. Jika sembah cipta (kalbu) mengutamakan
> peran kalbu, maka sembah jiwa lebih halus dan mendalam dengan
> menggunakan jiwa atau al-ruh. Sembah ini hendaknya diresapi secara
> menyeluruh tanpa henti setiap hari dan dilaksanakan dengan tekun
> secara terus-menerus, seperti terlihat pada bait berikut:
> > Samengko kang tinutur / Sembah katri kang sayekti katur / Mring
> Hyang Sukma suksmanen saari-ari / Arahen dipun kecakup / Sembahing
> jiwa sutengong.
> >
> > Dalam rangkaian ajaran sembah Mangkunegara IV yang telah disebut
> terdahulu, sembah jiwa ini menempati kedudukan yang sangat
penting.
> Ia disebut pepuntoning laku (pokok tujuan atau akhir perjalanan
> suluk). Inilah akhir perjalanan hidup batiniah. Cara bersucinya
> tidak seperti pada sembah raga dengan air wudlu atau mandi, tidak
> pula seperti pada sembah kalbu dengan menundukkan hawa nafsu,
tetapi
> dengan awas emut (selalu waspada dan ingat/dzikir kepada keadaan
> alam baka/langgeng) , alam Ilahi.
> >
> > Betapa penting dan mendalamnya sembah jiwa ini, tampak dengan
> jelas pada bait berikut :
> > Sayekti luwih perlu / ingaranan pepuntoning laku / Kalakuan kang
> tumrap bangsaning batin / Sucine lan awas emut / Mring alaming
lama
> amota.
> >
> > Berbeda dengan sembah raga dan sembah kalbu, ditinjau dari segi
> perjalanan suluk, sembah ini adalah tingkat permulaan (wong
amagang
> laku) dan sembah yang kedua adalah tingkat lanjutan. Ditinjau dari
> segi tata cara pelaksanaannya, sembah yang pertama menekankan
> kesucian jasmaniah dengan menggunakan air dan sembah yang kedua
> menekankan kesucian kalbu dari pengaruh jahat hawa nafsu lalu
> membuangnya dan menukarnya dengan sifat utama. Sedangkan sembah
> ketiga menekankan pengisian seluruh aspek jiwa dengan dzikir
kepada
> Allah seraya mengosongkannya dari apa saja yang selain Allah.
> >
> > Pelaksanaan sembah jiwa ialah dengan berniat teguh di dalam hati
> untuk mengemaskan segenap aspek jiwa, lalu diikatnya kuat-kuat
untuk
> diarahkan kepada tujuan yang hendak dicapai tanpa melepaskan apa
> yang telah dipegang pada saat itu. Dengan demikian triloka (alam
> semesta) tergulung menjadi satu. Begitu pula jagad besar dan jagad
> kecil digulungkan disatupadukan. Di situlah terlihat alam yang
> bersinar gemerlapan. Maka untuk menghadapi keadaan yang menggumkan
> itu, hendaklah perasaan hati dipertebal dan diperteguh jangan
> terpengaruh apa yang terjadi. Hal yang demikian itu dijelaskan
> Mangkunegara IV pada bait berikut:
> > "Ruktine ngangkah ngukud / ngiket ngruket triloka kakukud /
jagad
> agung ginulung lan jagad alit / den kandel kumandel kulup / mring
> kelaping alam kono."
> >
> > Sembah Rasa
> > Sembah rasa ini berlainan dengan sembah-sembah yang sebelumnya.
Ia
> didasarkan kepada rasa cemas. Sembah yang keempat ini ialah sembah
> yang dihayati dengan merasakan intisari kehidupan makhluk semesta
> alam,  demikian menurut Mangkunegara IV.
> > Jika sembah kalbu mengandung arti menyembah Tuhan dengan alat
> batin kalbu atau hati seperti disebutkan sebelumnya, sembah jiwa
> berarti menyembah Tuhan dengan alat batin jiwa atau ruh, maka
sembah
> rasa berarti menyembah Tuhan dengan menggunakan alat batin inti
ruh.

> Alat batin yang belakangan ini adalah alat batin yang paling dalam
> dan paling halus yang menurut Mangkunegara IV disebut telenging
> kalbu (lubuk hati yang paling dalam) atau disebut wosing jiwangga
> (inti ruh yang paling halus).
> > Dengan demikian menurut Mangkunegara IV, dalam diri manusia
> terdapat tiga buah alat batin yaitu, kalbu, jiwa/ruh dan inti
> jiwa/inti ruh (telengking kalbu atau wosing jiwangga) yang
> memperlihatkan susunan urutan kedalaman dan kehalusannya.
> >
> > Pelaksanaan sembah rasa itu tidak lagi memerlukan petunjuk dan
> bimbingan guru seperti ketiga sembah sebelumnya, tetapi harus
> dilakukan salik sendiri dengan kekuatan batinnya, seperti
> diungkapkan Mangkunegara IV dalam bait berikut:
> > Semongko ingsun tutur / gantya sembah lingkang kaping catur /
> sembah rasa karasa wosing dumadi / dadi wus tanpa tuduh / mung
> kalawan kasing batos.
> >
> > Apabila sembah jiwa dipandang sebagai sembah pada proses
> pencapaian tujuan akhir perjalanan suluk (pepuntoning laku), maka
> sembah rasa adalah sembah yang dilakukan bukan dalam perjalanan
> suluk itu, melainkan sembah yang dilakukan di tempat tujuan akhir
> suluk. Dengan kata lain, seorang salik telah tiba di tempat yang
> dituju. Dan di sinilah akhir perjalanan suluknya. Untuk sampai di
> sini, seorang salik masih tetap dibimbing gurunya seperti telah
> disebut di muka. Setelah ia diantarkan sampai selamat oleh gurunya
> untuk memasuki pintu gerbang, tempat sembah yang keempat, maka
> selanjutnya ia harus mandiri melakukan sembah rasa.
> >
> > Pada tingkatan ini, seorang salik dapat melaksanakan sendiri
> sembah rasa sesuai petunjuk-petunjuk gurunya. Pada tingkat ini ia
> dipandang telah memiliki kematangan rohani. Oleh karena itu, ia
> dipandang telah cukup ahli dalam melakukan sembah dengan
> mempergunakan aspek-aspek batiniahnya sendiri.
> >
> > Di sini, dituntut kemandirian, keberanian dan keteguhan hati
> seorang salik, tanpa menyandarkan kepada orang lain. Kejernihan
> batinlah yang menjadi modal utama. Hal ini sesuai dengan wejangan
> Amongraga kepada Tambangraras dalam Centini bait 156. Sembah
> tersebut, demikian dinyatakan Amongraga, sungguh sangat mendalam,
> tidak dapat diselami dengan kata-kata, tidak dapat pula dimintakan
> bimbingan guru. Oleh karena itu, seorang salik harus
merampungkannya
> sendiri dengan segala ketenangan, kejernihan batin dan kecintaan
> yang mendalam untuk melebur diri di muara samudera luas tanpa tepi
> dan berjalan menuju kesempurnaan. Kesemuanya itu tergantung pada
> diri sendiri, seperti terlihat pada bait berikut:
> > Iku luwih banget gawat neki / ing rarasantang keneng rinasa /
tan
> kena ginurokake / yeku yayi dan rampung / eneng onengira kang
> ening / sungapan ing lautan / tanpa tepinipun / pelayaran ing
> kesidan / aneng sira dewe tan Iyan iku yayi eneng ening wardaya.
> >
>


Reply | Threaded
Open this post in threaded view
|  
Report Content as Inappropriate

To mas Bambang -Re: Kejawen Islam ( AJI PAMELENG )

Sudrajat IDSRG Ass MGR OPS
In reply to this post by bambang satrio
 
            Dear   mas  Bambang S.
 
 
            Artikel….yang melengkapi…, apiikk…langsung saya
simpen..meskipun belum di print.
 
            Cuma ada pertanyaa…sedikit…boleh ?.
 
-          Meditasi….Syeikh Siti Jennar …., bagaimana…ya. ?
 
-          Meditasi… Sunan Kudus….,  beda …lho…?.
 
-          Meditasi….Sunan  Kali Jaga…mungkin juga berbeda dengan kedua
tokoh itu.
 
Mungkin…, bisa sedikit di singgung ? – ya,…biar dongengnya..semakin
seru..dan ramai.
 
 
Thanks / Sudrajat
 
 
 
-----Original Message-----
From: [hidden email]
[mailto:[hidden email]] On Behalf Of bambang satrio
Sent: Sunday, July 20, 2008 6:11 PM
To: [hidden email]
Subject: [Spiritual-Indonesia] Re: Kejawen Islam ( AJI PAMELENG )
 
RAHAYU

Salam Kenal Mang Dipo dan Mas Bus.
Hanya sekedar menambahkan tentang asal usul KEJAWEN ISLAM, semoga
ada gunanya buat rekan-rekan SI semua :

AJI PAMELENG

Tegesipun aji = ratu, pameleng = pasamaden; mengku pikajeng :
tandaning sedya ingkang luhur piyambak. Dene empaning pandamelan wau
winastan manekung, pujabrata, mesu budi, mesu cipta, ngeningaken
utawi angluhuraken paningal, matiraga lan sasaminipun.

Papan ingkang kangge nindakaken wau panepen, panekungan, pamujan,
pamurcitan, pamursitan, pahoman, paheningan lan sanes-sanesipun.
Dene wedharing kawruh winastan daiwan, dawan, tirtaamerta,
tirtakamandhanu, tirtanirwala, mahosadi, kawasanan, kawaspadan,
kawicaksanaan, sastracetha, utawi sastrajendrayuningrat pangruwating
diyu lan sapanunggalanipun.

Menggah pigunanipun kawruh lan pandamel wau, perlu kangge sarananing
panembah murid manggih kawilujengan, margi saged anindakaken dhateng
sawarnaning pandamel sae, punapadene kangge sarana duk kita darbe
sedya nunuwun kanugrahaning gesang kita pribadi (Pangeran), inggih
nunuwun bab punapa kemawon ingkang limrah kenging linampahan saking
pandamel kita ingkang boten tilar murwat.

Wondene purwanipun ing jagad teka wonten kawruh pasamaden, bilih
miturut saking tembung-tembungipun, sanyata kathah ingkang nagngge
basa Sansekrit; yen makaten tetela manawi wimbaning kawruh pasamaden
wau saking tumitising kawicaksananipun bangsa Indhu ing jaman kina
makina, ingkang sampun boten kasumerepan petang ewoning taun.
Bokmanawi kemawon papantaranipun kalihan nalika bangsa Indhu
amurwani iyasa candhi dalah reca-recanipun. Dene kawruh wau ing
sakawit inggih namung kangge bangsa Indhu, boten nawang bangsa Indhu
ingkang agami punapa kemawon, katamtokaken mesthi ngrasuk pasamaden.
Awit inggih namung kawruh pasamaden punika ingkang dados mukaning
saliring kawruh sajagad, lan ugi dados pangajenging piwulan agami.

Ing ngalami lami bangsa Indhu sami lumeber dhateng ing Tanah Jawi
lan sanes sanesipun, serta sami anggelaraken agaminipun tuwin kawruh
sanes sanesipun; makaten ugi kawruh pasamaden inggih boten kantun.
Kawruh pamasaden wonten ing Tanah Jawi saget ngrembaka tuwuhipun,
margi bangsa Jawi tan pilih drajad sami remen puruita lan saged
nandangaken dating pangolahing kawruh punika, awit kawruh wau saget
nocoki kalihan dhadhasaring pamanahipun titiyang Jawi, mila kalayan
gampil rumasukipun wonten ing balung sungsuming titiyang Jawi.
Kasembuh malih saking kathahing bangsa Indhu kados sinuntak sami
angajawi, nedya anggelar agami Jawi lan kawruh kawicaksananipun.
Bebasan sakedeping netra, bangsa Jawi ing sa'indhengipun maratah
sampun sami angrasuk agami Indhu, lan ugi sampun sami saget
ngraosaken kabegjan, kamulyan, kawilujengan lan sasaminipun, margi
saking wohing kawruh pandamel wau.

Ing wusana katungka dhatengipun titiyang bangsa Arab sami lumebet
ing Tanah jawi, ingkang ugi ambekta kawruh lan agaminipun Mohammad,
kasebut agami Islam, temah nyunyuda tumangkaring agami Indhu, sebab
lajeng wonten ingkang angrasuk agami Islam. Namung kemawon wedharing
agami Islam boten andarbeni kawruh pasamaden, kados kasebut ing
nginggil.

Sareng golonganipun tiyang Islam sampun saget ngendhih Nagari,
inggih punika adeging Karaton Bintara (Demak), ing ngriku lajeng
angawisi kalayan kenceng, titiyang Jawi boten kenging anindakaken
kawruh pasamaden, mekaten ugi sami kinen nilar agaminipun lami,
serta kedah santun angrasuk agami Islam.

Ananging boten ta manawi bangsa Jawi lajeng anut purun santun agami
Islam sadaya, purunipun wau namung margi saking ajrih paukuman
wisesaning Nata, dados Islam-ipun wau namung wonten ing lahir
kemawon, utawi Islam pangaran-aran, yen batosipun taksih angrungkepi
agamipun lami. Milo bab kawruh pasamaden inggih taksih lajeng
katindakaken, ananging pamulang pamedharing kawruh pasamaden wau,
ingkang karan nama wejangan (wijang-wijang) sarana lampah
dhedhemitan, katindakaken ing wanci ndalu sasampunipun jam 12, ugi
papaning pamejang boten kenging kaubah wangon, kadosta ing ara-ara,
ing wana, ing lepen lan sasaminipun ing papan ingkang sepen.
Pamejangipun srana bisikan boten kenging kapireng ngasanes, sanadyan
suket godhong, kewan tuwin bangsanipun gegremetan kutu-kutu
walangataga ugi boten kenging miring, yen miring lajeng malih dados
manungsa. Mila linggihipun Kyai Guru ajeng-ajengan aben bathuk
kaliyan pun murid, serta sanget pamantos-mantosipun Kyai Guru, pun
murid boten kenging nularaken wewejanganipun (kawruhipun) dhateng
tiyang sanes, bilih dereng angsal palilah Guru, yen nerak bade
angsal wilalat manggih sapudendhaning Pangeran. Panindak ingkang
mekaten punika, purwanipun namung tetep kangge panjagi, supados
pamulanging kawruh pasamaden boten katupiksan dhateng pamarintahing
agami Islam. Sebab yen ngantos kasumerepan, tamtu manggih pidana.

Dumuginipun ing jaman samangke, sanadyan Nagari sampun boten
angarubiru dhateng wontenipun wewejangan kawruh pasamaden, nanging
panindaking wejangan wau taksih kalestantunaken sarana dhedhemitan
kados kawursita ing nginggil. Mila lajeng angsal paparab saking
panyedaning titiyang ingkang boten remen, utami tiyang ingkang
anglampahi sarengating agami Islam, bilih wontening wejangan kawruh
pasamaden wau lajeng kawastan ilmu klenik. Purwo saking tembung
klenik, lajeng angandhakaken tembung abangan lan putihan. Ingkang
kasebut abangan punika tiyang ingkang boten nindakaken saraking
agami Islam, dene putihan mastani tiyang Jawi ingkang teluh manjing
agami Islam sarta anglampahi sadaya sarak sarengating agami Islam
wau, inggih punika ingkang kasebut nama santri. Mila santri karan
putihan, margi miturut panganggenipun titiyang agami Islam, bilih
santri punika sarwo-sarwi langkung resik utawi suci tinimbang
kaliyan titiyang ingkang boten angrasuk agami Islam.

Mangsuli wontening kawruh pasamaden anggenipun sanget winados,
menggah ingkang dados sababipun kapretalakaken ing nginggil. Dene
yen saleresipun ingkang nama wados-wados wau pancen boten wonten;
dados inggih kenging-kenging kemawon kawulangaken dhateng sok
tiyanga, boten mawang nem sepuh, serta kenging kawejangaken ing
sawanci-wancinipun, uger tiyang wau pancen ambetahaken kawruh
pasamaden kasebat. Sebab wontenipun sadaya punika supados
kasumerepan dhateng ingakathah, langkung-langkung kawruh pasamaden
punika ingkang sanyata dados mukaning sadaya kawruh. Mila wajib
sinebar dados seserepaning tiyang nem sepuh wadarin ing
saindengipun, tanpa nawang andhap inggiling darajadipun.

Amarengi wahyaning mangsakala, wusana wonten kaelokaning lalampahan
ingkang boten kanyana-nyana; ing pawingkingipun bab kawruh pasamaden
wau lajeng muncul katampen dhateng tiyang Islam, margi yakin bilih
kawruh pasamaden wau, pancen musthikaning gagayuhan ingkang saged
andhatengaken ing kawilujengan, kamulyan, katentreman, lan
sasaminipun. Mila kawruh wau dening tiyang ingkang sampun suluh
papadhanging raosipun inggih punika Seh Sitijenar, ingkang ugi dados
pramugarining agami Islam apangkat Wali, lajeng kadhapuk ing ndalem
serat karanganipun, ingkang lajeng winastan daim, wirid saking
tembung daiwan kasebut ing nginggil. Punapadene lajeng kaewoaken
dados saperanganing panembah, sarana dipun wewahi tembungipun,
lajeng mungel : salat daim (salat - basa arab, daim saking daiwan
basa Sansekrit). Milanipun dipun wewahi basa arab, namung
kawigatosan kangge mikekahaken kapitadosanipun murid-muridipun
ingkang sampun sami necep agami Islam. Punapadene tembung salat
lajeng kapilah kalih prakawis. Sapisan salat 5 wekdal, kasebut
salat sarengat, ateges panembah lahir. Kaping kalih salat daim,
punika panembahing batos; mangertosipun : anekadaken manunggaling
pribadinipun, utawi kasebut loroning atunggil.
Kitab karanganipun Seh Sitijenar wau lajeng kangge paugeraning
piwulang. Sareng sampun angsal kawigatosaning ngakathah, ing ngriku
salat 5 wekdal lan sarak agami sanes-sanesipun lajeng kasuwak boten
kawulangaken babar pisan. Ingkang pinindeng namung mumuruk
tumindaking salat daim kemawon. Mila titiyang Jawi ingkang suwau
manjing agami Islam, langkung-langkung ingkang dereng, lajeng sami
ambyuk maguru dhateng Seh Sitijenar, margi piwulangipun langkung
gampil, terang lan nyata.

Wondene purwanipun Seh Sitijenar kaserenan kawruh pasamaden, ingkang
mijeni Kyai Ageng Pengging, sebab Seh Sitijenar punika
mitradarmanipun Kyai Ageng Pengging. Kawruh pasamaden, dening Seh
Sitijenar lajeng katularaken Raden Watiswara, inggih Pangeran
Panggung, ingkang ugi apangkat Wali. Lajeng tunimbal dhateng Sunan
Geseng, inggih Ki Cakrajaya, tiyang asal saking Pagelen, ingkang
kacarios saderengipun dados Wali, Ki Cakrajaya wau pandamelanipun
anderes nitis gendhis. Salajengipun sumrambah kawiridaken dhateng
ingakatah. Makaten ugi sakabat-sakabatipun Seh Sitijenar ingkang
sampun kabuka raosipun, dening Seh Sitijenar kinen sami madeg
paguron amiridaken kawruh pasamaden wau. Sangsaya dangu sangsaya
ngrebda, anyuremaken panguwaosing para Wali, anggenipun amencaraken
piwulang agami Islam. Yen kalajeng-lajeng masjid saestu badhe suwung.

Ngawekani sampun ngantos wonten kadadosan ingkang makaten, temah
Kyai Ageng Pengging tuwin Seh Sitijenar sasekabatipun ingkang sami
pinejahan katigas jangganipun dening para Wali, saking dhawuhipun
Sultan Demak. Makaten ugi Pangeran Panggung boten kantun, kapidana
kalebetaken ing brama gesang-gesangan wonten samadyaning alun-alun
Demak, kangge pangewan-ewan murih titiyang sami ajrih, lajeng sami
mantuni utawi nglepeh piwulangipun Seh Sitijenar.

Kacariyos sariranipun Pangeran Panggung boten tumawa dening
mawerdining Hyang Brama, lajeng oncat medal saking salebeting latu
murub, nilar nagari Demak. Kanjeng Sultan Bintara tuwin para Wali
sami kablerengen kaprabawan katiyasaning Pangeran Panggung, temah
kamitenggengen kadi tugu sinukarta. Sareng sampun sawatawis tebih
tindakipun Sang Pangeran, Kanjeng Sultan tuwin para Wali saweg sami
enget bilih Pangeran Panggung kalis saking pidana, temah sami rumaos
kawon angsal sihing Pangeran. Katungka unjuking wadyabala, atur
uninga bilih Sunan Geseng, inggih Ki Cakrajaya, kesah anututi
lampahipun Pangeran Panggung. Ing ngriku Kanjeng Sultan katetangi
dukanipun, temah dhawahing bendu, para sakabat tuwin murid-muridipun
Seh Sitijenar ingkang kapikut lajeng sami pinejahan. Ingkang boten
kacepeng sami lumajar pados gesang.

Para sakabatipun Seh Sitijenar ingkang taksih wilujeng
kakantunanipun ingkang sami pejah, ugi taksih sami madeg paguron
nglestantunaken pencaring kawruh pasamaden, nanging mawi sislintru
tinutupan wuwulang sarengating agami Islam, murih boten ka'arubiru
dening para Wali pramugarining praja. Dene piwulangipun kados ing
ngandhap punika :

Pamulanging kawruh pasamaden ingkang lajeng karan salat daim,
karangkepan wuwulang salat 5 wekdal tuwin rukuning Islam sanes-
sanesipun malih. Wewejanganipun salat daim wau lajeng winastan
wiridan naksobandiyah, dene panindaking piwulang kawastan tafakur.
Saweneh wonten ingkang pamulangipun ing saderengipun para murid
nampi wiridan salat daim, langkung rumiyin kalatih lampah
dhidhikiran lan maos ayat-ayat. Wiwit punika wuwulangan pasamaden
lajeng wonten wanrni kalih, inggih punika :

1. Piwulang pasamaden wiwiridan saking para sekabatipun Seh
Sitijenar, ingkang sarana tinutupan utawi aling-aling sarak rukuning
agami Islam. Wuwulangan wau dumuginipun ing jaman samangke sampun
mleset saking jejer ing sakawit, mila para guru samangke, ingkang
sami miridaken kawruh pasamaden, ingkang dipun santuni nama
naksobandiyah utawi satariyah, nginten bilih kawruh wau wiwiridan
saking ngulami ing Jabalkuber (Mekah). Salajengipun para Kyai guru
wau, amastani guru klenik dhateng para ingkang sami miridaken kawruh
pasamaden miturut wawaton Jawi pipiridan saking Seh Sitijenar.
Punapadene para Kyai guru wau nyukani paparab nama Kiniyai,
pikajengipun : guru ingkang mulangaken ilmuning setan. Dene nama
Kyai, punika guru ingkang mulangaken ilmuning para nabi.

2. Piwulang pasamaden miturut Jawi, wiji saking Kyai Ageng
Pengging, ingkang kapencaraken dening Seh Sitijenar (ingkang ing
samangke karan klenik), punika ing sakawit, ingkang dados purwaning
piwulang, dumunung wonten panggulawenthahing wawatekan 5 prakawis,
kados ing ngandhap punika :

1. Setya tuhu utawi temen lan jujur.
2. Santosa, adil paramarta, tanggeljawab boten lewerweh.
3. Leres ing samubarang damel, sabar welas asih ing sasami,
boten ngunggul-unggulaken dhirinipun, tebih saking watak panganiaya.
4. Pinter saliring kawruh, langkung-langkung pinter ngecani
manahing sasami-sami, punapadene pinter angereh kamurkaning manah
pribadi, boten anguthuh melik anggendhong lali, margi saking
dayaning mas picis rajabrana.
5. Susila anor-raga, tansah nganggeni tatakrami, maweh
rereseping paningal tuwin sengseming pamiharsa, dhateng ingkang sami
kataman.

Lampah 5 prakawis wau kedah linampahan winantu ing pujabrata
anandangaken ulah samadi, inggih amesu cipta angeningaken
pranawaning paningal. Awit saking makaten punika mila tumrap
panindaking agami Jawi (Buda), bab kawruh pasamaden tuwin lampah 5
prakawis wau kedah kawulangaken dhateng sadaya titiyang enem sepuh
boten pilih andhap inggiling darajatipun. Mila makaten, sebab
musthikaning kawruh tuwin luhur-luhuring kamanungsan, punika bilih
tetep samadinipun, kuwasa anindakaken lampah 5 prakawis kados
kawursita ing nginggil. Temah kita manggen ing sasananing
katrenteman, dene wontening katentreman mahanani harja kerta lan
kamardikan kita sami. Yen boten makaten, ngantos sabujading jagad,
kita badhe nandhang papa cintraka, kagiles dening rodha jantraning
jagad, margi kacidraning manah kita pribadi.

Bab kawruh pasamaden ingkang lajeng karan wiridan naksobandiyah lan
satariyah, ingkang ing nguni wiwiridan saking Seh Sitijenar, sampun
ka'andharaken ing nginggil, namung kemawon tumandangipun boten
kawedharaken. Ing riki namung badhe anggelaraken lampah tumandanging
samadi sacara Jawi, ingkang dereng kacarobosan agami sanes, inggih
punika makaten :

Para nupiksa, mugi sampun kalintu panampi, bilih samadi punika
angicalaken rahsaning gesang utawi nyawanipun (gesangipun) medal
saking badan wadhag. Panampi makaten punika, purwanipun mirid saking
cariyos lalampahanipun Sri Kresna ing Dwarawati, utawi Sang Arjuna
yen angraga-suksma. Mugi kawuninganana, bilih cariyos makaten punika
tetep namung kangge pasemon utawi pralambang.

Ing samangke wiwit wedharaken lampahing samadi makaten : tembung
samadi = sarasa - rasa tunggal - maligining rasa - rasa jati - rasa
nalika dereng makarti. Dene makartining rasa jalaran saking
panggulawenthah utawi piwulang, punapadene pangalaman-pangalaman
ingkang tinampen utawi kasandhang ing sadinten-dintenipun. Inggih
makartining rasa punika ingkang kawastanan pikir. Saking dayaning
panggulawenthah, piwulang tuwin pangalaman-pangalaman wau, pikir
lajeng gadhah panganggep awon lan sae, temah anuwuhaken tatacara,
pamacak lan sanes-sanesipun ingkang lajeng dados pakulinan. Punapa
panganggep awon sae, ingkang sampun dados tata-cara margi sampun
dados pakulinan punika, yen awon inggih awon sayektos, yen sae
inggih sae temenan, punika dereng tamtu, jer punika namung
pakulinaning panganggep. Dene panganggep, boten yekti, tetep namung
ngenggeni pakulinaning tata-cara, dados inggih dede kajaten utawi
kasunyatan. Menggah pikajenganipun samadi ing riki, boten wonten
sanes namung badhe nyumerepi kajaten, dene sarananipun boten wonten
malih kajawi nyumerepi utawi anyilahaken panganggep saking
makartining rasa, kasebut sirnaning papan lan tulis. Inggih ing riku
punika jumenenging rasa jati kang nyata, kang yekti, kang weruh
tanpa tuduh. Wondene kasembadanipun kedah angendelaken ing
saniskara, sarana angereh solahing anggota (badan). Mangrehing
anggota wau ingkang langkung pikantuk kalihan sareyan malumah, saha
sidhakep utawi kalurusaken mangandhap, epek-epek kiwa tengen
tumempel ing pupu kiwa tengen, suku ingkang lurus, dalamakan suku
ingkang tengen katumpangaken ing dalamakan suku kiwa, mila lajeng
kasebut sidhakep suku (saluku) tunggal. Punapadene angendelna
ebahing netra (mripat), inggih punika ingkang kawastanan meleng.
Lampah makaten wau ingkang kuwasa ngendelaken osiking cipta
(panggagas), tuwin amuntu ilining rahsa, dene pancering paningal
kasipatna amandeng pucuking grana medal saking sa'antawising netra
kakalih, inggih punika ing papasu, dene pamandengipun kedah kalayan
angeremaken netra kakalih pisan.

Sasampunipun lajeng nata lebet wedaling napas (ambegan) makaten :
panariking napas saking puser kasengkakna minggah anglangkungi
cethak ingga dumugi ing suhunan (utek = embun-embunan), sarta mawi
kaendelna ing sawatawis dangunipun. Sumengkanipun napas wau
kadosdene darbe raos angangkat punapa-punapa, dene temenipun ingkang
kados kita angkat, punika ilining rahsa ingkang kita pepet saking
sumengkaning napas wau, menawi sampun kraos awrat panyangginipun
napas, inggih lajeng ka'edhakna kalayan alon-alon. Inggih patrap
ingkang makaten punika ingkang kawastanan sastracetha. Tegesipun
cetha = empaning kawruh, cetha = antebing swara cethak, inggih
cethaking tutuk kita punika. Mila winastan makaten, awit duk kita
mangreh sumengkaning napas anglangkungi dhadha lajeng minggah malih
anglangkungi cethak ingga dumugi suhunan. Menawi napas kita dipun
ereh, dados namung manut lampahing napas piyambak, tamtu boten saget
dumugi ing suhunan, margi saweg dumugi ing cethak lajeng sampun
medhak malih. Punapadene ugi winastan daiwan (dawan), pikajengipun :
mangreh lebet wedaling napas ingkang panjang lan sareh, sarwi
mocapaken mantra sarana kabatos kemawon, inggih punika mungel `hu'
kasarengan kalihan lumebeting napas, inggih panariking napas saking
puser, minggah dumugi ing suhunan. Lajeng `ya', kasarengan kalihan
wedaling napas, inggih medhaking napas saking suhunan dumugi ing
puser, minggah mandhaping napas wau anglangkungi dhadha lan cethak.
Dene, anggenipun kawastanan sastracetha, margi nalika mocapaken
mantra sastra kakalih : hu - ya, wedaling swara ingkang namung
kabatos wau, ugi kawistara saking dayaning cethak. (Ungeling mantra
utawi panebut kakalih : hu – ya, ing wiridan naksobandiyah kaewahan
dados mungel, hu – Allah, panebutipun ugi kasarengan lampahing
napas. Dene ing wiridan satariyah, panebut wau mungel : hailah –
haillolah, nanging tanpa angereh lampahing napas).

Menggah lebet medaling napas kados kasebut ing nginggil,
sa'angkatanipun namung kuwasa angambali rambah kaping tiga, mila
makaten, awit napas kita sampun boten kadugi manawi kinen
anandangana malih, jalaran sampun menggeh-menggeh. Dene manawi
sampun sareh, inggih lajeng ka'angkatana malih, makaten salajengipun
ngantos marambah-rambah sakuwawinipun, margi saya kuwawi dangu,
sangsaya langkung prayogi sanget. Dene sa'angkataning pandamel wau
kawastan : tripandurat, tegesipun tri = tiga, pandu = suci, rat =
jagad – badan – enggen, suraosipun : kaping tiga napas kita saget
tumameng ing ngabyantaraning ingkang Maha suci manggen ing
salebeting suhunan (ingkang dipun suwuni). Inggih punika ingkang
kabasakaken paworing kawula Gusti, tegesipun : manawi napas kita
sumengka, kita jumeneng gusti, yen tumedhak, wangsul dados kawula.
Bab punika para nupiksa sampun kalintu tampi ! Menggah ingkang dipun
wastani kawula gusti punika dede napas kita, nanging dayaning cipta
kita. Dados ulah samadi punika, pokokipun kita kedah amanjangaken
panjing wijiling napas (lebet wedaling napas), kalihan angeningaken
(ambeningaken) paningal, sebab paningal punika kadadosan saking
rahsa.

Wondene patraping samadi kados kasebut ing nginggil wau, ugi kenging
karancagaken, uger kita tansah lumintu tanpa pedhot mangeh panjing
wijiling napas, kalihan lenggah, lumampah, utawi nyambutdamel inggih
kedah boten kenging tilar mangreh lebet wedaling napas wau, ingkang
sarana mocapaken mantra mungel : hu – ya, kados ingkang kajarwa ing
nginggil.

Kajawi punika, wirid saking tembung daiwan punika ugi taksih darbe
maksud sanesipun malih, inggih punika ateges panjang tanpa ujung,
utawi ateges langgeng. Dene pikajengipun amastani bilih wontening
napas kita punika sanyata wahananing gesang kita ingkang langgeng,
inggih wontening ambegan kita. Dene ambegan punika, sanyata
wontening angin ingkang tansah mlebet medal tanpa kendel, ingkang
sasarengan kalihan keketeg panglampahing rah (roh). Bilih kakalih
wau kendel boten makarti nama pejah, inggih risaking badan wadhag
wangsul dados babakalan malih. Mila sayogyanipun lampahing napas
inggih ambegan kita ingkang tansah mlebet medal tanpa kendel, kedah
kapanjang-panjangana lampahipun, murih panjanga ugi umur kita, temah
saget awet wonten ing donya tutug panyawangipun dhateng anak, putu,
buyut, canggah, wareng, ingkang babranahan.

Wontenipun andharan ing nginggil, mratelakaken bilih kawruh
pasamaden punika sanyata langkung ageng pigunanipun, mila lajeng
sinebut sastrajendrayuningrat pangruwating diyu. Tegesipun sastra =
empaning kawruh, jendra = saking panggarbaning tembung harja endra.
Tegesipun harja = raharja, endra = ratu – dewa, yu = rahayu –
wilujeng, ningrat = jagad – enggen – badan. Suraosipun :
Musthikaning kawruh ingkang kuwasa amartani ing karahayon, kaharjan,
katentreman lan sapatunggalipun. Dene tegesesipun pangruwating diyu
= amalihaken diyu; dene diyu = danawa – raksasa – asura – buta,
punika kangge pasemoning piawon, penyakit, rereget, babaya,
pepeteng, kabodhohan lan sanesipun. Dados diyu punika
kosokwangsulipun dewa, engkang ateges pinter, sae, wilujeng lan
sapanunggilipun. Mengku suraos amastani ingkang saget anyirnakaken
saliring piawon tuwin samubarang babaya pekewed. Mangertosipun,
sinten ingkang tansah ajeg lumintu anandangaken ulah samadi, punika
bilih ing suwaunipun tiyang awon, lajeng sirna piawonipun, malih
dados tiyang sae lampahipun. Tiyang sakit sirna sakitipun, dados
saras, tiyang murka daksiya lajeng narimah sabar, welasasih. Tiyang
goroh lajeng dados temen. Tiyang bodho dados pinter. Tiyang pinter
dados pinter sanget. Makaten ugi tiyang golongan sudra dados waesia,
waesia dados satriya, satriya dados brahmana, brahmana sumengka
pangawak braja asarira bathara.

RAHAYU

BS

--- In Spiritual-Indonesia
<mailto:Spiritual-Indonesia%40yahoogroups.com> @yahoogroups.com,
bustanus salatin
<ki_ageng_jenar@...> wrote:
>
> buku SATRIO PANINGIT, BENCANA NUSANTARA, MANUNGGALINGKAWULOGUSTI
dalam UNIVERSALITAS KEAGAMAAN
> ISBN:978-979-17824-0-1/barcode
>  
> Bab 10: Kajian Tafsir Huruf Muqota'ah: Pandangan Siti Jenar dan
Husain ibnu Mansur al-Hallaj dalam Manunggaling Kawulo Gusti
>  
> Syekh Siti Jenar begitu sering dihubung-hubungkan dengan al-Husain
ibnu Mansur al-Hallaj atau singkatnya Al-Hallaj saja, sufi Persia
abad ke-10, yang sepintas lalu ajarannya mirip dengan Siti Jenar,
karena ia memohon dibunuh agar tubuhnya tidak menjadi penghalang
penyatuannya kembali dengan Tuhan. Adalah Al-Hallaj yang karena
konsep satunya Tuhan dan dunia mengucapkan kalimat, "Akulah
Kebenaran/ Anna al Haq," yang menjadi alasan bagi hukuman matinya
pada 922 Masehi di Baghdad. Seperti Syekh Siti Jenar pula, nama Al-
Hallaj menjadi monumen keberbedaan dalam penghayatan agama, sehingga
bahkan diandaikan bahwa jika secara historis Syekh Siti Jenar tak
ada, maka dongengnya adalah personifikasi saja dari ajaran Al-
Hallaj, bagi yang mendukung maupun yang menindas ajaran tersebut.
> petikan atas kutipan dari Serat Siti Jenar yang diterbitkan oleh
Tan Khoen Swie, Kediri, pada 1922:
> Kawula dan gusti sudah ada dalam diriku, siang dan malam tidak
dapat memisahkan diriku dari mereka. Tetapi hanya saat ini nama
kawula-gusti itu berlaku, yakni selama saya mati. Nanti, kalau saya
sudah hidup lagi, gusti dan kawula lenyap, yang tinggal hanya
hidupku, ketenteraman langgeng dalam Ada sendiri.
> Hai Pangeran Bayat, bila kau belum menyadari kebenaran kata-kataku
maka dengan tepat dapat dikatakan, bahwa kau masih terbenam dalam
masa kematian. Di sini memang banyak hiburan aneka warna. Lebih
banyak lagi hal-hal yang menimbulkan hawa nafsu. Tetapi kau tidak
melihat, bahwa itu hanya akibat pancaindera.
> Itu hanya impian yang sama sekali tidak mengandung kebenaran dan
sebentar lagi akan lenyap. Gilalah orang yang terikat padanya, tidak
seperti Syeh Siti Jenar. Saya tidak merasa tertarik, tak sudi
tersesat dalam kerajaan kematian. Satu-satunya yang kuusahakan,
ialah kembali kepada kehidupan
> Dalam pupuhnya, Syekh Siti Jenar merasa malu apabila harus
berdebat masalah agama. Alasannya sederhana, yaitu dalam agama
apapun, setiap pemeluk sebenarnya menyembah zat Yang Maha Kuasa.
Hanya saja masing - masing menyembah dengan menyebut nama yang
berbeda - beda dan menjalankan ajaran dengan cara yang belum tentu
sama. Oleh karena itu, masing - masing pemeluk tidak perlu saling
berdebat untuk mendapat pengakuan bahwa agamanya yang paling benar.
> Syekh Siti Jenar juga mengajarkan agar seseorang dapat lebih
mengutamakan prinsip ikhlas dalam menjalankan ibadah. Orang yang
beribadah dengan mengharapkan surga atau pahala berarti belum bisa
disebut ikhlas.
> Manunggaling Kawula Gusti, Dalam ajarannya ini, pendukungnya
berpendapat bahwa Syekh Siti Jenar tidak pernah menyebut dirinya
sebagai Tuhan. Manunggaling Kawula Gusti dianggap bukan berarti
bercampurnya Tuhan dengan Makhluknya, melainkan bahwa Sang Pencipta
adalah tempat kembali semua makhluk. Dan dengan kembali kepada
Tuhannya, manusia telah menjadi sangat dekat dengan Tuhannya.
> Dan dalam ajarannya, 'Manunggaling Kawula Gusti' adalah bahwa di
dalam diri manusia terdapat ruh yang berasal dari ruh Tuhan sesuai
dengan ayat Al Qur'an yang menerangkan tentang penciptaan manusia ("
Ketika Tuhanmu berfirman kepada malaikat: "Sesungguhnya Aku akan
menciptakan manusia dari tanah. Maka apabila telah Kusempurnakan
kejadiannya dan Kutiupkan kepadanya roh Ku; maka hendaklah kamu
tersungkur dengan bersujud kepadanya (Shaad; 71-72)"). Dengan
demikian ruh manusia akan menyatu dengan ruh Tuhan dikala
penyembahan terhadap Tuhan terjadi.
> Riwayat pertemuan Ibrahim ibn Sam'an dengan Husain bin Mansur al
Hallaj ( Kutipan dari Buku Husain bin Manshur al Hallaj, karangan
Louis Massignon)
> Aku melihat al Hallaj pada suatu hari di masjid al Mansur: Aku
memiliki 2 dinar dalam sakuku dan aku berpikir untuk menghabiskan
uang itu untuk hal-hal yang melanggar hukum. Seseorang datang dan
memintah sedekah.Dan Husain bin Mansur al Hallaj berkata:' Ibnu
Sam'an berikanlah sedekah  dengan apa yang kamu simpan di dalam
jubahmu, aku terdiam dan menangis, " oh syaikh,bagaimana engkau
mengetahui hal itu?'' Al Hallaj berkata:' Setiap hati yang
mengosongkan diri dari yang selain Alloh, dapat membaca kesadaran
orang dan menyaksikan apa yang ghoib''. Ibnu Sam'an berkata:''
o,syaikh ajarilah aku sebuah hikmah''. Kemudian berkata al
Hallaj :''Orang yang mencari Tuhan dibalik huruf miim dan ain akan
menemukan Nya.Dan seseorang yang mencarinya dalam konsonan idhafah
antara alif dan nun, orang itu akan kehilangan Dia. Karena Dia itu
Maha Suci, di luar jangkauan pikiran dan diatas yang terselubung ,
yang berada di dalam diri setiap
> orang. Kembalilah kepada Tuhan, Titik Terakhir adalah Dia. Tidak
ada "Mengapa" di hari akhir kecuali Dia.Bagi manusia "MA/ yaitu miim
dan ain" milik Dia berada dalam miim dan ain makna ""MA"" ini adalah
Tuhan Maha Suci. Dia mengajak makhluk terbang menuju Tuhan. "miim"
membimbing ke Dia dari atas ke bawah. "ain"membimbing ke Dia dari
Jauh dan Luas.
>  
> Ilmu Huruf Muqota'ah
> Ilmu huruf, yang didasarkan pada satu bahsa suci, tentulah
memiliki sebuah fondasi mistis yang diperlukan. Orang bisa
menemukan  doktrin ini dalam puisi mistis yang terkenal Ghulsyan-i
Raz (Taman Mawar), karya Syabistari: " Bagi orang yang jiwanya
adalah manifestasi Tuhan yaitu al Qur'an, keseluruhan alam ini
adalah huruf-huruf vokalNya dan substansinya adalah huruf konsonan
Nya " Pasal 200-209 puisi Ghulsyan-i Raz.
> Abu Ishaq Quhistani, sufi Islam, menegaskan pentingnya ilmu huruf
dengan menyatakan bahwa " ilmu huruf adalah akar dari segala ilmu ".
Secara skematis ilmu huruf mengandung :
>
> Simbolisme ketuhanan dan metafisika atau /metakosmik
> Simbolisme universal / makrokosmik yang didasarkan pada
korespondensi antara huruf-huruf dan benda astrologis (ruang
angkasa/ planet/ lambang zodiak dll)
> Simbolisme manusia dan individu yang didasarkan pada korespondensi
fisiologis/organ tubuh
> Jumlah huruf muqatta'ah (terpotong) ada 14 huruf yaitu :alif lam
miim,ha miim, alif lam ra, tha ha,ha miim ain sin qaf, ya sin, kaf
ha ya `ain shad, kaf dan nun. Kalau dirangkai keseluruhannya menjadi
sebuah kalimat : Shiratu `aliyin haqqun namsikuhu (jalan Ali adalah
kebenaran yang kita pegang). huruf muqatta'ah (terpotong) adalah
huruf-huruf yang merupakan rumusan dialog antara Alloh swt dengan
kekasihnya (para Nabi dan para Wali)
> Apa Makna miim dan ain sehingga dapat menemukan Tuhan dan bertemu
dengan Nya dan Mengapa ketika mencari Tuhan dibalik huruf alif dan
nun maka tidak bisa bertemu dengan Nya?
> Tafsir Miim (numerology Arabiyah)::
>
> Huruf miim merupakan muhammad rosulillah atau Ahmad, yang
merupakan pintu menuju Ahad yang merupakan wahdaniyah Allah.
Perbedaan antara  Ahad dan Ahmad adalah huruf arab Miim (muhammad
rosulillah - penutup jalur risalah dan kenabian)
> Miim juga berarti malakuti / keagungan / penguasaan atas seluruh
langit bumi, ayat Kursi merupakan ayat yang mengandung banyak huruf
miim didalamya
> Huruf miim bernilai 40, 40 hari khalwat dengan ikhlas dengan
mengamalkan surat al ikhlas dan ayat Kursi (ayat yang banyak
mengandung huruf miim /sujud jadi sujud adalah cara menggapai
keagungan). Juga surat al ikhlas di awali dengan qulhuwa allohu
ahad. Jadi perwujudan ahad di dunia adalah ahmad, ketika manusia
menjadi ahmad maka merupakan tajalli/ penampakan sang Mahakuasa
dalam diri manusia. Sekali lagi bedakan Ahmad dan Ahad terletak
huruf miim.
> Huruf miim membentuk, posisi sujud dalam solat, sujud merupakan
posisi kedekatan dengan Alloh, bahkan sujud merupakan simbol dari
wahdaniyah Allah. Metode untuk mendekat (muqorrobin/ kewalian)
kepada Tuhan yang paling cepat adalah dengan sujud yang lama dalam
Sholat. Hadits qudsi Allah berfirman : " Barangsiapa memusuhi waliku
sungguh kuumumkan perang kepadanya, tiadalah hamba Ku mendekat
kepada Ku dengan hal hal yg fardhu- 17 rokaat, dan Hamba Ku terus
mendekat kepada Ku dengan hal hal yg sunnah- 34 rokaat qobliyah dan
bakdiyah- baginya hingga Aku mencintainya, bila Aku mencintainya
maka aku menjadi telinganya yg ia gunakan untuk mendengar, dan
matanya yg ia gunakan untuk melihat, dan menjadi tangannya yg ia
gunakan untuk memerangi, dan kakinya yg ia gunakan untuk melangkah,
bila ia meminta pada Ku niscaya kuberi permintaannya...." (shahih
Bukhari hadits no.6137).
>  
> Tafsir Ain,Yaa,Sin,Nuun,Aliif (numerology Arabiyah):
>
> Huruf ain bermakna sayidina Ali bin Abu tholib merupakan pintu
gerbang keilmuan. Sesuai hadits Nabi yang menyatakan bahwa Muhammad
rosulluloh adalah gudang ilmu dan Sayidina Ali adalah pintunya.
Huruf ayn membentuk posisi rukuk dalam sujud, dalam riwayat asbabun
nuzul quran ada ayat yang berkenaan dengan Ali bin abu thalib, yaitu
orang yang rukuk kemudian dalam posisi rukuk dalam solat melakukan
sedekah berupa cincin. Inilah ayat quran itu: Walimu hanyalah Allah,
Rasul-Nya dan mereka yang beriman yang menegakkan salat, membayar
zakat seraya rukuk. (QS. al-Mâ`idah: 55)
> Kunci sholat yang merupakan adab tatakrama/ kepasrahaan total ila
allohu ada di rukuk/ huruf ain, sujud/ huruf miim adalah kedekatan
(muqorobin- fana asma dan tajalli asma), barangsiapa tidak tahu adab
( rukuknya)  maka tidak layak untuk dekat (muqorobin).
> Huruf Ain bernilai 70.sedang huruf Ya bernilai 10 dan huruf Sin
bernilai 60. jadi secara matematis yaitu 70(ain)= yaa(10)+sin(60)
jadi Ya + Seen = Ain merupakan Quran dalam surat 36 adalah surat Ya
Seen. ayat ke 58 dari surat Yasin adalah Salaamun Qawlam Mir Rabbir
Raheem. Jadi 5+8=13, posisi huruf ke 13 dalam abjad Arab adalah
huruf Miim/ Sujud. Jadi untuk mengerti Ain/ rukuk  kita harus
mengerti tafsir huruf Yaa dan Tafsir huruf Sin. Dengan mengerti Yaa
dan Sin kita akan sampai kepada Sayidina Ali bin Abu Tholib.
> Kyai Kholil Bangkalan, salah seorang pencetak kyai besar Nahdlatul
Ulama, selama perjalanan pesantren Keboncandi, Pasuruan-Sidogiri
kyai kholil Bangkalan sewaktu muda selalu membaca YaSin, hingga
khatam berkali-kali
> Huruf Ya adalah akhir dari abjad Arab and Alif awal dari abjad
Arab. Huruf  Ya/ hamba memimpin/cenderung ke arah Alif/ Alloh. Huwal
Awwalu wa Hu wal Akhiru.
> Rincian huruf Awwalu  :
> Alif(1)+waw(6)+lam(30)=37ß-à3+7=10,(Ya=10),
> 10 ß-à1+0=1ß-àpertama.
> ·         Rincian huruf Akhiru :: Alif(1)+Kho(600)+Ro(200)= 801ß-
à8+0 +1= 9 ß-à terakhir adalah 9, angka 9 dalam numerology arab
adalah huruf Ta yang bermakna penyucian atau Tahara/penyucian dan
bulan ke 9 dalam Arab/ Qomariah adalah bulan ramadhon yaitu bulan
puasa
> ·         Penyucian kalbu dari kecintan diri dan dunia merupakan
tingkat awal penyucian untuk bersuluk kepada Alloh. Sesungguhnya
kotoran maknawi terbesar yang tidak bisa disucikan meskipun dengan
tujuh lautan dan para nabi pun tidak mampu menghilangkannya adalah
kotora kejahilan ganda (pura-pura tahu padahal tidak tahu).
Kekeruhan ini mungkin akan memadamkan cahaya petunjuk dan meredupkan
api kerinduan yang merupakan buraq untuk bermikraj mencapai berbagai
maqom spiritual.( Imam Khomeini dalam Hakikat dan Rahasia Sholat)
> ·          dan Alif(1)+ Ta(9)=10ß-à (Ya=10=hamba) , nilai huruf
(Ya=10), jadi seorang Hamba yaitu simbol Ya harus melakukan Puasa/
penyucian jiwa/ tazkiyah nafs simbol (Ta=9) untuk Alloh semata
simbol (Alif=1) atau Hamba harus sabar dengan KetentuanNya atau
nrimo ing pandum, karena hasil puasa Lillah Billah menjadikan orang
sabar atau innalloha ma'ashobirin (Sesungguhnya Alloh bersama (MA
terdiri huruf miim dan ain lihat al Baqarah:153 ) orang yang sabar.
Lihat bersama adalah Ma yaitu ma'asshobirin. Disini terungkap
rahasia mim dan ayn yaitu MA seperti yang diucapkan oleh Husain bin
Mansur al Hallaj. jadi Sabar adalah kunci menemukan Tuhan. Para
mufassir menafsirkan sabar dengan melakukan puasa. Pahala puasa
hanya Alloh yang tahu. Artinya Hak menilai puasa langsung di tangan
Alloh bukan di tangan para malaikat. Sabda Rosullulloh saw Puasa
yang dilakukan khusus untuk-Ku/ puasa Lillah Billah dan cukuplah Aku
sebagai pahalanya
> ·         Mempelajari Ilmu Ketuhanan akan menjadikan orang
bersabar, seperti dialog Nabi Musa as dan Nabi Khidr as yaitu
Bagaimana kamu dapat sabar terhadap persoalan yang kamu samasekali
belum memiliki pengetahuan yang cukup tentangNya(QS 18:68).
Barangsiapa menghadapi kesengsaraan dengan hati terbuka, menunjukkan
kesabaran dengan penuh ketenangan dan martabat, termasuk dalam
golongan orang terpilih dan bagian untuknya adalah Berikanlah kabar
gembira (keberhasilan dan kejayaan) kepada orang yang sabar (QS
2:155),
>
> Dalam Islam, kemampuan mengendalikan emosi dan menahan diri
disebut sabar. Orang yang paling sabar adalah orang yang paling
tinggi dalam kecerdasan emosionalnya. Ia biasanya tabah dalam
menghadapi kesulitan. Ketika belajar orang ini tekun. Ia berhasil
mengatasi berbagai gangguan dan tidak memperturutkan emosi-nya.
> Gabungan rincian Awwalu dan Akhiru adalah Seorang Hamba
(Ya=10=hamba) karena  Akhiru(9)+ Awwalu (1)=10ß-à (Ya=10=hamba) ,
jadi seorang Hamba menampung Asma Alloh yang lengkap dan memiliki
potensi untuk menampakkan sifat ketuhanan
> Huruf Sin bernilai 60 dalam numerology Arab, merupakan simbol dari
sirr Muhammad, sirr adalah rahasia ketuhanan yang disimpan dalam
diri manusia sebagai hamba. Huruf sin dalam INSAN. huruf alif nya
adalah Alloh, huruf  sin adalah rahasia /sirr ketuhanan, 2 huruf nun
adalah simbol hukum dunia dan akhirat yang merupakan
representasi /perwakilan kitab suci al Qur'an.
> Huruf Yaa/ simbol Hamba digunakan untuk memanggil seseorang atau
menarik perhatian sesorang. Ya adalah simbol seorang Hamba menyembah
dan menyebut Tuhannya Ya Alloh Ya Robbi dll.Yaa juga digunakan oleh
Alloh memanggil Hambanya.Ya juga berarti simbol antara yang disembah
dan menyembah, tetapi posisi Ya=10/ hamba selalu cenderung kepada
Alif=1 atau Alloh karena Alloh sebagai Awwalu, dalam ilmu huruf,
> Alif(1)+waw(6)+lam(30)=37ß-à3+7=10 adalah Yaa menyatu dengan Alif
(10ß-à1+0=1) atau dibalik Yaa ada Alif atau di dalam Manusia ada
Tuhan atau istilah Wahdatul Wujud nya Ibnu Arobi yaitu antara
penyembah dan yang disembah itu sama tapi tidak serupa atau menurut
istilah ajaran Syekh Siti Jenar, yaitu Manunggaling Kawula
Gusti. "PERSAMAAN" antara manusia dan Allah. Hal inilah yang
dimaksudkan dalam sabda Nabi saw.: "Sesungguhnya Allah menciptakan
manusia dalam kemiripan dengan diriNya sendiri." Lebih jauh lagi
Allah telah berfirman: "Hambaku mendekat kepadaKu sehingga Aku
menjadikannya sahabatKu. Aku pun menjadi telinganya, matanya dan
lidahnya." Juga Allah berfirman kepada Musa as.: "Aku pernah sakit
tapi engkau tidak menjengukku!" Musa menjawab: "Ya Allah, Engkau
adalah Rabb langit dan bumi; bagaimana Engkau bisa sakit?" Allah
berfirman: "Salah seorang hambaKu sakit; dan dengan menjenguknya
berarti engkau telah mengunjungiKu. "Memang ini adalah suatu
> masalah yang agak berbahaya untuk diperbincangkan, karena hal ini
berada di balik pemahaman orang-orang awam. Seseorang yang cerdas
sekalipun bisa tersandung dalam membicarakan soal ini dan percaya
pada inkarnasi dan kersekutuan dengan Allah.
> Tafsir huruf Nun dan Alif- Pencari Tuhan dibalik huruf alif dan
nun maka tidak bisa bertemu dengan Nya::
>
> Bernilai 50 dalam numerology Arab.
> Tafsir huruf INSAN, memiliki 2 huruf nun merupakan simbol alam
dunia/ jasad dan alam akhirat/ ruh/ jiwa. Ruh yang disucikan akan
memperoleh Nur/ surga sedangkan Ruh yang dikotori akan memperoleh
Nar/ neraka.
> Tafsir Alif dan Nun: Penggambaran Simbolis Huruf dan Alif Nun
merupakan lambang sebuah perahu (syariat) dan sebuah Jiwa/
individu /personal mengarungi lautan / medan ujian, kayuh/sampan (
membentuk huruf Alif) kiri kanan adalah wilayah pilihan manusia (
sunnatulloh adalah qadha' qadar baik buruk) yang telah ditetapkan
oleh Alloh arti simbol Alif. Individu yang sedang menaiki perahu (
simbol Nun), sampan/kayuh adalah alat/ pilihan yang akan mengerakkan
jiwanya menuju 3 pilihan yaitu, pertama, arah perahu ke  kiri
berarti ashabul syimal/ Nun menjadi Naar/ neraka, kedua arah perahu
ke  kanan berarti ashabul yamin/ Nun menjadi Nur/cahaya, ketiga arah
perahu tidak ke  kiri dan tidak ke kanan tetapi tengah berarti
sabiqunal awwalun/ terdahulu mencapai tujuan - ini adalah golongan
para pencinta yaitu menyembah karena kerinduan ingin bertemu dengan
sang Khaliq – ini adalah jawaban isyarah tersembunyi dari Husain bin
Manshur al Hallaj- yaitu para nabi
> dengan simbol miim (arti bathinnya adalah sujud) yaitu Muhammad
saw dan ain (arti bathinnya adalah rukuk) yaitu sayidina Ali bin
Abuthalib
> Huruf Nun Mengingatkan Kita juga  kepada  Zunnun/ Nabi Yunus as
yang naik perahu di tengah lautan dan ditelan Ikan karena
meninggalkan Kaum nya sebelum ada perintah dari ALLOH swt.
> Zikir Zunnun / N.Yunus  - doa keselamatan menghadapi medan ujian :
wa dzan nuni idz dzahaba mughadziban fa dhanna an lan naqdiro alayhi
fa nada fid dhulumati an laila antan subhanaka inni kuntu
minadolimin fastajabna lahu wa najjaynahu minal ghammi wa kadzalika
nunjil mukminina (Anbiya :87-88).
>  
> Kesimpulan:
> ·        Tafsir Yaa Sin akan membuka rahasia huruf `'MA'' yaitu
miim dan ain seperti yang dikatakan oleh Husain bin Mansur al
Hallaj:
> Quran dalam surat 36 adalah surat Ya Seen. ayat ke 58 dari surat
Yasin adalah Salaamun Qawlam Mir Rabbir Raheem
> "Rahasia Ketuhanan ada dalam diri manusia, agar manusia mampu
menampakkan atau men-tajallikan Ketuhanan dalam dirinya maka
perintah solat (Rukuk, Sujud) adalah sarana 'Manunggaling Kawula
Gusti dan sodaqoh ( menebarkan hasil usaha kebenaran/ pengabdian
masyarakat/ agen perubahan/ social agent) kepada sesama makhluk
Tuhan (kesalehan sosial) yang merupakan perwujudan dari Salaamun
Qawlam Mir Rabbir Raheem"
> ·         Tafsir YaaSin adalah simbol manusia sempurna yaitu hamba
yang mampu menampung rahasia Alloh swt dan didalam sirr itu seorang
penyembah dan disembah bertemu dan berdialog, ibarat sebuah pohon
lengkap dengan pokoknya, cabangnya dan puncaknya. Imam al Baqir
berkata: Maukah kamu akau beritahu pokok-pokok Islam, cabang dan
puncaknya dan pintu kebaikan? Sulaiman bin Khalid berkata: Tentu,
lalu jawab Imam al Baqir: Pokoknya adalah sholat, cabangnya adalah
zakat, dan puncaknya adalah membela kaum tertindas dan menegakkan
keadilan. Pintu kebaikan itu adalah :
> 1.      Puasa merupakan perisai api neraka
> 2.      Sedekah itu menghapus dosa
> 3.      Sholat di malam hari untuk berzikir
>  
> Tafsir Rukuk/Huruf Ain
> Etika rukuk adalah meninggikan maqam rububiyah Nya yang agung,
mulia dan merendahkan maqam ubudiyah seorang hamba yang lemah, faqir
dan hina. Rukuk adalah awal ketundukkan dan sujud adalah
puncaknya.Yang melakukan rukuk dengan sempurna dan benar akan
menemukan keselarasan pada sujud. Imam Shadiq berkata" rukuk yang
benar kepada Alloh adalah menghiasi dengan cahaya keindahan asma
Nya. Rukuk adalah yang pertama dan sujud adalah yang kedua. Dalam
rukuk ada adab penghambaan dan dalam sujud ada kedekatan/Qurb dengan
Zat yang disembah. Simbol rukuk adalah hamba dengan hati tunduk
kepada Alloh, merasa hina dan takut di bawah kekuasaan-Nya.
Merendahkan anggota badan karena gelisah dan takut tidak memperoleh
manfaat rukuk.
>  
> Tafsir Sujud/Huruf Mim
> Sujud merupakan puncak ketundukan dan puncak kekhusyukan seorang
hamba, sebaik-baik wasilah taqarrub ila Alloh, sebaik-baik posisi
untuk mencapai cahaya-cahaya tajalli Asma  Alloh swt dan maqam Qurb
dengan Nya. N. Saw bersabda : "lamakanlah sujudmu", sebab tiada amal
yang lebih berat dan paling tak disukai oleh syetan saat melihat
anak Adam sedang sujud, karena dia telah diperintahakan sujud dan
dia tidak patuh. Sujud merupakan sebab mendekatnya hamba dengan sang
Kholik. Wahai orang yang beriman, mintalah pertolongan dengan sabar
dan solat, sesungguhnya Alloh bersama orang yang sabar (al
Baqarah:153)
>  
> Tafsir Salam/Huruf Yaa Sin
> Salam adalah salah satu nama Alloh. Arti Salam dari sisi Alloh
adalah keselamatan zat, sifat, perbuatan-Nya. Adapun Zatnya
terpelihara dari kelenyapan, perubahan dan dari segala kekurangan.
Salam dari sisi Hamba adalah doa,yaitu memohon keselamatan kepada
Alloh untuk orang yang kita ucapkan salam /selamat dari segala
cobaaan dan bencana dunia akhirat. Salam juga berarti ungkapan
Kepasrahan/ ketundukan kepada Sunnatulloh ( Quran Hadits). Menurut
Imam Shadiq "salam adalah orang yang melaksanakan perintah Alloh dan
melakukan sunnah Rosulillah dengan ikhlas (intinya Ahad dan Ahmad),
juga selamat  dari bencana dunia dan akhirat. Salam juga bermakna
penghormatan kepada hamba yang sholih (assalamu alaina wa ala
ibadilahis sholihin) dan malaikat pencatat amal
>  Al Futuhat al Makkiyah, Karangan Ibnu Aroby, merujuk empat
perjalanan akal dalam bab 69 tentang rahasia rahasia shalat sebagai
perjalanan spiritual manusia. Perintah sholat 51 rokaat kepada Nabi
Muhammad saw saat isro miroj: Tuhan memerintahkan hambaNya itu
supaya setiap Muslim setiap hari sembahyang limapuluh kali. Kemudian
untuk umatnya menjadi 17 rokaat wajib di lima waktu dan sisanya 34
rokaat menjadi sunah muakkad- qobliyah dan bakdiya.
> Mulla Shadra dalam bukunya al Asfar al Arba'ah mengatakan:
> "Ketahuilah bahwa para pesuluk diantara orang Arif/ Irfan dan para
Wali menempuh empat perjalanan akal :
>
> Perjalanan makhluk kepada kebenaran –diskusi metafisika umum (min
al khalq ila al Haq)
> Pesuluk mempelajari dasar-dasar metafisika umum dan
dalilnya.pesuluk cenderung pada kajian semantik dan metafisika dasar
terhadap firman Ttuhan dalam Quran.
>
> Perjalanan bersama kebenaran didalam  kebenaran- pengalaman
metafisika khusus dengan pengalaman pribadi (bi al Haq fi al Haq)
> Pesuluk akan melihat sifat dan namaNya yang tertinggi baik nama
yang mewujudkan rahmatNya dan murkaNya. Hukum nama nama Alloh ini di
dalam kejamakannya akan mewujud di dalam diri pesuluk.Hal ini
dikenal dengan makam wahidiyah atau tujuh substansi halus (lataif).
Pesuluk akan mengalami rasa takut dan harapan (al khauf wa al raja)
>
> Perjalanan dari Kebenaran menuju makhluk  (min al Haq ila al al
khalq)
> Setelah mengalami fase peniadaan diri,pesuluk menerima karunia
Tuhan dan kembali kepada kesadaran diri. Pesuluk menyaksikan
penciptaan dan alam kejamakan dalam diri makhluk tetapi dengan mata
yang lain, dengan pendengaran yang berbeda. Puncak perjalan ketiga
membawa pesuluk menuju kesucian/Wilayah(kewalian)
>
> Perjalanan bersama Kebenaran di dalam makhluk (bi al Haq fi al
khalq)
> Maqam penetapan hukum dan pembedaan dari baik dan buruk.ini adalah
derajat kenabian,penetapan hukum dan kepemimpinan atas umat manusia
yang berhubungan dengan urusan urusan mereka yang beragam dan
berbeda-beda serta bagaimana mereka saling berinteraksi satu sama
lain. seorang `arif tak akan benar-benar mencapai maqam spiritual
tertinggi jika tidak memanifestasikan keimanan-puncak, yang telah
diraihnya lewat dua perjalanan pertama, dalam bentuk concern sosial
politik untuk mereformasi masyarakat dan membebaskan kaum tertindas
dari rantai penindasannya.Tidak lain maqam penetapan hukum
(legislatif) atau melibatkan diri dalam kemasyarakatan dan hubungan
social, merupakan perwujudan penebaran salam kepada makhluk yaitu
Salaamun Qawlam Mir Rabbir Raheem yang merupakan inti tafsir      
Yaa Sin.
>
> --- On Sun, 7/20/08, mang dipo <dipo1601@...> wrote:
>
> From: mang dipo <dipo1601@...>
> Subject: [Spiritual-Indonesia] Kejawen Islam
> To: Spiritual-Indonesia <mailto:Spiritual-Indonesia%40yahoogroups.com>
@yahoogroups.com

> Date: Sunday, July 20, 2008, 1:46 AM
>
>
>
>
>
>
>
>
>
> Mari kita mengutip satu tembang Jawa
> Tak uwisi gunem iki                      saya akhiri pembicaraan
ini
> Niyatku mung aweh wikan           saya hanya ingin memberi tahu
> Kabatinan akeh lire                      kabatinan banyak macamnya
> Lan gawat ka liwat-liwat              dan artinya sangat gawat
> Mulo dipun prayitno                      maka itu berhati-hatilah
> Ojo keliru pamilihmu                     Jangan kamu salah pilih
> Lamun mardi kebatinan                  kalau belajar kebatinan
>
> Tembang ini menggambarkan nasihat seorang tua (pinisepuh) kepada
mereka yang ingin mempelajari kabatinan cara kejawen. Kiranya perlu
dipahami bahwa tujuan hakiki dari kejawen adalah berusaha
mendapatkan ilmu sejati untuk mencapai hidup sejati, dan berada
dalam keadaan harmonis hubungan antara kawula (manusia) dan Gusti
(Pencipta) ( jumbuhing kawula Gusti ) /pendekatan kepada Yang Maha
Kuasa secara total.
>
> Keadaan spiritual ini bisa dicapai oleh setiap orang yang percaya
kepada Tuhan, yang mempunyai moral yang baik, bersih dan jujur.
beberapa laku harus dipraktekkan dengan kesadaran dan ketetapan hati
yang mantap. Pencari dan penghayat ilmu sejati diwajibkan untuk
melakukan sesuatu yang berguna bagi semua orang serta  melalui
kebersihan hati dan tindakannya. Cipta, rasa, karsa dan karya
(kuasa) harus baik, benar, suci dan ditujukan untuk mamayu hayuning
bawono. Ati suci jumbuhing Kawulo Gusti : hati suci itu adalah
hubungan yang serasi antara Kawulo dan Gusti,  kejawen merupakan
aset dari orang Jawa tradisional  yang berusaha memahami dan mencari
makna dan  hakekat hidup yang mengandung nilai-nilai.
>
> Dalam budaya jawa dikenal adanya simbolisme, yaitu suatu faham
yang menggunakan lambang atau simbol untuk membimbing pemikiran
manusia kearah pemahaman terhadap suatu hal secara lebih dalam.
Manusia mempergunakan simbol sebagai media penghantar komunikasi
antar sesama dan segala sesuatu yang dilakukan manusia merupakan
perlambang dari tindakan atau bahkan karakter dari manusia itu
selanjutnya. Ilmu pengetahuan adalah simbol-simbol dari Tuhan, yang
diturunkan kepada manusia, dan oleh manusia simbol-simbol itu
ditelaah dibuktikan dan kemudian diubah menjadi simbol-simbol yang
lebih mudah difahami agar bisa diterima oleh manusia lain yang
memiliki daya tangkap yang berberda-beda.
>
> Biasanya sebutan orang Jawa adalah orang yang hidup di wilayah
sebelah timur sungai Citanduy dan Cilosari. Bukan berarti wilayah di
sebelah barat-nya bukan wilayah pulau Jawa. Masyarakat Jawa adalah
masyarakat yang menjunjung tinggi rasa kekeluargaan dan suka
bergotong royong dengan semboyannya "saiyeg saekoproyo " yang
berarti sekata satu tujuan.
>
> Kisah suku Jawa diawali dengan kedatangan seorang satriya
pinandita yang bernama Aji Saka, sampai kemudian satriya itu menulis
sebuah sajak yang kemudian sajak tersebut diakui menjadi huruf jawa
dan digunakan sebagai tanda dimulainya penanggalan tarikh Caka.
>
> Kejawena dalah faham orang jawa atau aliran kepercayaan yang
muncul dari masuknya berbagai macam agama ke jawa. Kejawen mengakui
adanya Tuhan Gusti Allah tetapi juga mengakui mistik yang berkembang
dari ajaran tasawuf agama-agama yang ada.
>
> Tindakan tersebut dibagi  tiga bagian yaitu tindakan simbolis
dalam religi, tindakan simbolis dalam tradisi dan tindakan simbolis
dalam seni. Tindakan simbolis dalam religi, adalah contoh kebiasaan
orang Jawa yang percaya bahwa Tuhan adalah zat yang tidak mampu
dijangkau oleh pikiran manusia, karenanya harus di simbolkan agar
dapat di akui keberadaannya misalnya dengan menyebut Tuhan dengan
Gusti Ingkang Murbheng Dumadi, Gusti Ingkang Maha Kuaos, Hyang Manon
dan sebagainya.
>
> Tindakan simbolis dalam tradisi dimisalkan dengan adanya tradisi
upacara kematian yaitu medo'akan orang yang meninggal pada tiga
hari, tujuh hari, empatpuluh hari, seratus hari, satu tahun, dua
tahun, tiga tahun, dan seribu harinya setelah seseorang meninggal
(tahlillan). Dan tindakan simbolis dalam seni dicontohkan dengan
berbagai macam warna yang terlukis pada wajah wayang kulit; warna
ini menggambarkan karakter dari masing-masing tokoh dalam wayang.
>
> Perkembangan budaya jawa yang mulai tergilas oleh perkembangan
teknologi yang mempengaruhi pola pikir dan tindakan orang jawa dalam
kehidupan. Maka orang mulai berfikir bagaimana bisa membuktikan hal
gaib secara empiris tersebut dengan menggunakan berbagai macam
metode tanpa mengindahkan unsur kesakralan. Bahkan terkadang
kepercayaan itu kehilangan unsur kesakralannya karena dijadikan
sebagai obyek exploitasi dan penelitian.
>
> Kebiasaan orang Jawa yang percaya bahwa segala sesuatu adalah
simbol dari hakikat kehidupan, seperti syarat sebuah rumah harus
memiliki empat buah soko guru (tiang penyangga) yang melambangkan
empat unsur alam yaitu tanah, air, api, dan udara, yang ke empatnya
dipercaya akan memperkuat rumah baik secara fisik dan mental
penghuni rumah tersebut. Namun dengan adanya teknologi konstruksi
yang semakin maju, keberadaan soko guru itu tidak lagi menjadi
syarat pembangunan rumah. Dengan analisa tersebut dapat diperkirakan
bagaimana nantinya faham simbolisme akan bergeser dari budaya jawa.
Tapi bahwa simbolisme tidak akan terpengaruh oleh kehidupan manusia
tapi kehidupan manusialah yang tergantung pada simbolisme. Dan
sampai kapanpun simbolisme akan terus berkembang mengikuti
berputarnya sangkakala.
>
> Mangkunegara IV (Sembah dan Budiluhur)
> Mangkunegara IV memiliki empat ajaran utama yang meliputi sembah
raga, sembah cipta (kalbu), sembah jiwa, dan sembah rasa.
>
> Sembah Raga
> Sembah raga ialah menyembah Tuhan dengan mengutamakan gerak laku
badaniah atau amal perbuatan yang bersifat lahiriah. Cara bersucinya
sama dengan sembahyang biasa, yaitu dengan mempergunakan air
(wudhu). Sembah yang demikian biasa dikerjakan lima kali sehari
semalam dengan mengindahkan pedoman secara tepat, tekun dan terus
menerus, seperti bait berikut:
>
> Sembah raga puniku / pakartining wong amagang laku / sesucine
asarana saking warih / kang wus lumrah limang wektu / wantu wataking
wawaton
>
> Sembah raga, sebagai bagian pertama dari empat sembah yang
merupakan perjalanan hidup yang panjang ditamsilkan sebagai orang
yang magang laku (calon pelaku atau penempuh perjalanan hidup
kerohanian), orang menjalani tahap awal kehidupan bertapa (sembah
raga puniku, pakartining wong amagang laku). Sembah ini didahului
dengan bersuci yang menggunakan air (sesucine asarana saking warih).
Yang berlaku umum sembah raga ditunaikan sehari semalam lima kali.
Atau dengan kata lain bahwa untuk menunaikan sembah ini telah
ditetapkan waktu-waktunya lima kali dalam sehari semalam (kang wus
lumrah limang wektu). Sembah lima waktu merupakan shalat fardlu yang
wajib ditunaikan (setiap muslim) dengan memenuhi segala syarat dan
rukunnya (wantu wataking wawaton). Sembah raga yang demikian ini
wajib ditunaikan terus-menerus tiada henti (wantu) seumur hidup.
Dengan keharusan memenuhi segala ketentuan syarat dan rukun yang
wajib dipedomani (wataking wawaton). Watak suatu
> waton (pedoman) harus dipedomani. Tanpa mempedomani syarat dan
rukun, maka sembah itu tidak sah.
>
> Sembah raga tersebut, meskipun lebih menekankan gerak laku
badaniah, namun bukan berarti mengabaikan aspek rohaniah, sebab
orang yang magang laku selain ia menghadirkan seperangkat fisiknya,
ia juga menghadirkan seperangkat aspek spiritualnya sehingga ia
meningkat ke tahap kerohanian yang lebih tinggi.
>
> Sembah Cipta( Kalbu )
> Sembah ini kadang-kadang disebut sembah cipta dan kadang-kadang
disebut sembah kalbu, seperti terungkap pada Pupuh Gambuh bait 1 dan
Pupuh Gambuh bait 11 berikut :
> Samengkon sembah kalbu / yen lumintu uga dadi laku / laku agung
kang kagungan narapati / patitis teteking kawruh / meruhi marang
kang momong.
>
> Apabila cipta mengandung arti gagasan, angan-angan, harapan atau
keinginan yang tersimpan di dalam hati, kalbu berarti hati , maka
sembah cipta di sini mengandung arti sembah kalbu atau sembah hati,
bukan sembah gagasan atau angan-angan.
> Apabila sembah raga menekankan penggunaan air untuk membasuh
segala kotoran dan najis lahiriah, maka sembah kalbu menekankan
pengekangan hawa nafsu yang dapat mengakibatkan terjadinya berbagai
pelanggaran dan dosa (sucine tanpa banyu, amung nyunyuda hardaning
kalbu).
>
> Thaharah (bersuci) itu, demikian kata Al-Ghazali, ada empat
tingkat.
> Pertama,membersihka n hadats dan najis yang bersifat lahiriah.
> Kedua,membersihkan anggota badan dari berbagai pelanggaran dan
dosa.
> Ketiga,membersihkan hati dari akhlak yang tercela dan budi pekerti
yang hina.
> Keempat,membersihka n hati nurani dari apa yang selain Allah. Dan
yang keempat inilah taharah pada Nabi dan Shiddiqin.
>
> Jika thaharah yang pertama dan kedua menurut Al-Ghazali masih
menekankan bentuk lahiriah berupa hadats dan najis yang melekat di
badan yang berupa pelanggaran dan dosa yang dilakukan oleh anggota
tubuh. Cara membersihkannya dibasuh dengan air. Sedangkan kotoran
yang kedua dibersihkan dan dibasuh tanpa air yaitu dengan menahan
dan menjauhkan diri dari pelanggaran dan dosa. Thaharah yang ketiga
dan keempat juga tanpa menggunakan air. Tetapi dengan membersihkan
hati dari budi jahat dan mengosongkan hati dari apa saja yang selain
Allah.
>
> Sembah Jiwa
> Sembah jiwa adalah sembah kepada Hyang Sukma ( Allah ) dengan
mengutamakan peran jiwa. Jika sembah cipta (kalbu) mengutamakan
peran kalbu, maka sembah jiwa lebih halus dan mendalam dengan
menggunakan jiwa atau al-ruh. Sembah ini hendaknya diresapi secara
menyeluruh tanpa henti setiap hari dan dilaksanakan dengan tekun
secara terus-menerus, seperti terlihat pada bait berikut:
> Samengko kang tinutur / Sembah katri kang sayekti katur / Mring
Hyang Sukma suksmanen saari-ari / Arahen dipun kecakup / Sembahing
jiwa sutengong.
>
> Dalam rangkaian ajaran sembah Mangkunegara IV yang telah disebut
terdahulu, sembah jiwa ini menempati kedudukan yang sangat penting.
Ia disebut pepuntoning laku (pokok tujuan atau akhir perjalanan
suluk). Inilah akhir perjalanan hidup batiniah. Cara bersucinya
tidak seperti pada sembah raga dengan air wudlu atau mandi, tidak
pula seperti pada sembah kalbu dengan menundukkan hawa nafsu, tetapi
dengan awas emut (selalu waspada dan ingat/dzikir kepada keadaan
alam baka/langgeng) , alam Ilahi.
>
> Betapa penting dan mendalamnya sembah jiwa ini, tampak dengan
jelas pada bait berikut :
> Sayekti luwih perlu / ingaranan pepuntoning laku / Kalakuan kang
tumrap bangsaning batin / Sucine lan awas emut / Mring alaming lama
amota.
>
> Berbeda dengan sembah raga dan sembah kalbu, ditinjau dari segi
perjalanan suluk, sembah ini adalah tingkat permulaan (wong amagang
laku) dan sembah yang kedua adalah tingkat lanjutan. Ditinjau dari
segi tata cara pelaksanaannya, sembah yang pertama menekankan
kesucian jasmaniah dengan menggunakan air dan sembah yang kedua
menekankan kesucian kalbu dari pengaruh jahat hawa nafsu lalu
membuangnya dan menukarnya dengan sifat utama. Sedangkan sembah
ketiga menekankan pengisian seluruh aspek jiwa dengan dzikir kepada
Allah seraya mengosongkannya dari apa saja yang selain Allah.
>
> Pelaksanaan sembah jiwa ialah dengan berniat teguh di dalam hati
untuk mengemaskan segenap aspek jiwa, lalu diikatnya kuat-kuat untuk
diarahkan kepada tujuan yang hendak dicapai tanpa melepaskan apa
yang telah dipegang pada saat itu. Dengan demikian triloka (alam
semesta) tergulung menjadi satu. Begitu pula jagad besar dan jagad
kecil digulungkan disatupadukan. Di situlah terlihat alam yang
bersinar gemerlapan. Maka untuk menghadapi keadaan yang menggumkan
itu, hendaklah perasaan hati dipertebal dan diperteguh jangan
terpengaruh apa yang terjadi. Hal yang demikian itu dijelaskan
Mangkunegara IV pada bait berikut:
> "Ruktine ngangkah ngukud / ngiket ngruket triloka kakukud / jagad
agung ginulung lan jagad alit / den kandel kumandel kulup / mring
kelaping alam kono."
>
> Sembah Rasa
> Sembah rasa ini berlainan dengan sembah-sembah yang sebelumnya. Ia
didasarkan kepada rasa cemas. Sembah yang keempat ini ialah sembah
yang dihayati dengan merasakan intisari kehidupan makhluk semesta
alam,  demikian menurut Mangkunegara IV.
> Jika sembah kalbu mengandung arti menyembah Tuhan dengan alat
batin kalbu atau hati seperti disebutkan sebelumnya, sembah jiwa
berarti menyembah Tuhan dengan alat batin jiwa atau ruh, maka sembah
rasa berarti menyembah Tuhan dengan menggunakan alat batin inti ruh.
Alat batin yang belakangan ini adalah alat batin yang paling dalam
dan paling halus yang menurut Mangkunegara IV disebut telenging
kalbu (lubuk hati yang paling dalam) atau disebut wosing jiwangga
(inti ruh yang paling halus).
> Dengan demikian menurut Mangkunegara IV, dalam diri manusia
terdapat tiga buah alat batin yaitu, kalbu, jiwa/ruh dan inti
jiwa/inti ruh (telengking kalbu atau wosing jiwangga) yang
memperlihatkan susunan urutan kedalaman dan kehalusannya.
>
> Pelaksanaan sembah rasa itu tidak lagi memerlukan petunjuk dan
bimbingan guru seperti ketiga sembah sebelumnya, tetapi harus
dilakukan salik sendiri dengan kekuatan batinnya, seperti
diungkapkan Mangkunegara IV dalam bait berikut:
> Semongko ingsun tutur / gantya sembah lingkang kaping catur /
sembah rasa karasa wosing dumadi / dadi wus tanpa tuduh / mung
kalawan kasing batos.
>
> Apabila sembah jiwa dipandang sebagai sembah pada proses
pencapaian tujuan akhir perjalanan suluk (pepuntoning laku), maka
sembah rasa adalah sembah yang dilakukan bukan dalam perjalanan
suluk itu, melainkan sembah yang dilakukan di tempat tujuan akhir
suluk. Dengan kata lain, seorang salik telah tiba di tempat yang
dituju. Dan di sinilah akhir perjalanan suluknya. Untuk sampai di
sini, seorang salik masih tetap dibimbing gurunya seperti telah
disebut di muka. Setelah ia diantarkan sampai selamat oleh gurunya
untuk memasuki pintu gerbang, tempat sembah yang keempat, maka
selanjutnya ia harus mandiri melakukan sembah rasa.
>
> Pada tingkatan ini, seorang salik dapat melaksanakan sendiri
sembah rasa sesuai petunjuk-petunjuk gurunya. Pada tingkat ini ia
dipandang telah memiliki kematangan rohani. Oleh karena itu, ia
dipandang telah cukup ahli dalam melakukan sembah dengan
mempergunakan aspek-aspek batiniahnya sendiri.
>
> Di sini, dituntut kemandirian, keberanian dan keteguhan hati
seorang salik, tanpa menyandarkan kepada orang lain. Kejernihan
batinlah yang menjadi modal utama. Hal ini sesuai dengan wejangan
Amongraga kepada Tambangraras dalam Centini bait 156. Sembah
tersebut, demikian dinyatakan Amongraga, sungguh sangat mendalam,
tidak dapat diselami dengan kata-kata, tidak dapat pula dimintakan
bimbingan guru. Oleh karena itu, seorang salik harus merampungkannya
sendiri dengan segala ketenangan, kejernihan batin dan kecintaan
yang mendalam untuk melebur diri di muara samudera luas tanpa tepi
dan berjalan menuju kesempurnaan. Kesemuanya itu tergantung pada
diri sendiri, seperti terlihat pada bait berikut:
> Iku luwih banget gawat neki / ing rarasantang keneng rinasa / tan
kena ginurokake / yeku yayi dan rampung / eneng onengira kang
ening / sungapan ing lautan / tanpa tepinipun / pelayaran ing
kesidan / aneng sira dewe tan Iyan iku yayi eneng ening wardaya.
>
 
Reply | Threaded
Open this post in threaded view
|  
Report Content as Inappropriate

To mas Bambang -Re: Kejawen Islam ( AJI PAMELENG )

bambang satrio
RAHAYU

Mas Drajat...  

Saya pribadi dalam meditasi, nggak menggunakan methode yang
diajarkan Seh Sitijenar secara keseluruhan, terutama dengan menahan
PERNAPASAN. Jadi hanya dikir saja. Tetapi itu sudah lama tidak saya
lakukan, kira=kira 5 tahun yang lalu. Sekarang hanya DIAM, MENENG
berusaha WENING.    

Tetapi waktu masih menggunakan dikir, memang pernah ada pengalaman
tertentu. Mendengar suara LEMAH LEMBUT dalam hati (disalahke yo ra
popo mas, wong mendengar kok pakai hati), tetapi yang jelas, ucapan
itu sangat berguna bagi saya pribadi.

Untuk meditasi...Sunan Kudus maupun Sunan Kalijaga, saya nggak
mengerti mas. Maaf, bener-bener nggak tahu, jadi nggak bisa
komentar.

RAHAYU. bs


--- In [hidden email], "Sudrajat"
<sudrajat@...> wrote:

>
>  
>             Dear   mas  Bambang S.
>  
>  
>             Artikel….yang melengkapi…, apiikk…langsung saya
> simpen..meskipun belum di print.
>  
>             Cuma ada pertanyaa…sedikit…boleh ?.
>  
> -          Meditasi….Syeikh Siti Jennar …., bagaimana…ya. ?
>  
> -          Meditasi… Sunan Kudus….,  beda …lho…?.
>  
> -          Meditasi….Sunan  Kali Jaga…mungkin juga berbeda dengan
kedua

> tokoh itu.
>  
> Mungkin…, bisa sedikit di singgung ? – ya,…biar dongengnya..semakin
> seru..dan ramai.
>  
>  
> Thanks / Sudrajat
>  
>  
>  
> -----Original Message-----
> From: [hidden email]
> [mailto:[hidden email]] On Behalf Of bambang
satrio

> Sent: Sunday, July 20, 2008 6:11 PM
> To: [hidden email]
> Subject: [Spiritual-Indonesia] Re: Kejawen Islam ( AJI PAMELENG )
>  
> RAHAYU
>
> Salam Kenal Mang Dipo dan Mas Bus.
> Hanya sekedar menambahkan tentang asal usul KEJAWEN ISLAM, semoga
> ada gunanya buat rekan-rekan SI semua :
>
> AJI PAMELENG
>
> Tegesipun aji = ratu, pameleng = pasamaden; mengku pikajeng :
> tandaning sedya ingkang luhur piyambak. Dene empaning pandamelan
wau
> winastan manekung, pujabrata, mesu budi, mesu cipta, ngeningaken
> utawi angluhuraken paningal, matiraga lan sasaminipun.
>
> Papan ingkang kangge nindakaken wau panepen, panekungan, pamujan,
> pamurcitan, pamursitan, pahoman, paheningan lan sanes-sanesipun.
> Dene wedharing kawruh winastan daiwan, dawan, tirtaamerta,
> tirtakamandhanu, tirtanirwala, mahosadi, kawasanan, kawaspadan,
> kawicaksanaan, sastracetha, utawi sastrajendrayuningrat
pangruwating
> diyu lan sapanunggalanipun.
>
> Menggah pigunanipun kawruh lan pandamel wau, perlu kangge
sarananing
> panembah murid manggih kawilujengan, margi saged anindakaken
dhateng
> sawarnaning pandamel sae, punapadene kangge sarana duk kita darbe
> sedya nunuwun kanugrahaning gesang kita pribadi (Pangeran), inggih
> nunuwun bab punapa kemawon ingkang limrah kenging linampahan
saking
> pandamel kita ingkang boten tilar murwat.
>
> Wondene purwanipun ing jagad teka wonten kawruh pasamaden, bilih
> miturut saking tembung-tembungipun, sanyata kathah ingkang nagngge
> basa Sansekrit; yen makaten tetela manawi wimbaning kawruh
pasamaden
> wau saking tumitising kawicaksananipun bangsa Indhu ing jaman kina
> makina, ingkang sampun boten kasumerepan petang ewoning taun.
> Bokmanawi kemawon papantaranipun kalihan nalika bangsa Indhu
> amurwani iyasa candhi dalah reca-recanipun. Dene kawruh wau ing
> sakawit inggih namung kangge bangsa Indhu, boten nawang bangsa
Indhu
> ingkang agami punapa kemawon, katamtokaken mesthi ngrasuk
pasamaden.
> Awit inggih namung kawruh pasamaden punika ingkang dados mukaning
> saliring kawruh sajagad, lan ugi dados pangajenging piwulan agami.
>
> Ing ngalami lami bangsa Indhu sami lumeber dhateng ing Tanah Jawi
> lan sanes sanesipun, serta sami anggelaraken agaminipun tuwin
kawruh
> sanes sanesipun; makaten ugi kawruh pasamaden inggih boten kantun.
> Kawruh pamasaden wonten ing Tanah Jawi saget ngrembaka tuwuhipun,
> margi bangsa Jawi tan pilih drajad sami remen puruita lan saged
> nandangaken dating pangolahing kawruh punika, awit kawruh wau
saget
> nocoki kalihan dhadhasaring pamanahipun titiyang Jawi, mila
kalayan

> gampil rumasukipun wonten ing balung sungsuming titiyang Jawi.
> Kasembuh malih saking kathahing bangsa Indhu kados sinuntak sami
> angajawi, nedya anggelar agami Jawi lan kawruh kawicaksananipun.
> Bebasan sakedeping netra, bangsa Jawi ing sa'indhengipun maratah
> sampun sami angrasuk agami Indhu, lan ugi sampun sami saget
> ngraosaken kabegjan, kamulyan, kawilujengan lan sasaminipun, margi
> saking wohing kawruh pandamel wau.
>
> Ing wusana katungka dhatengipun titiyang bangsa Arab sami lumebet
> ing Tanah jawi, ingkang ugi ambekta kawruh lan agaminipun
Mohammad,
> kasebut agami Islam, temah nyunyuda tumangkaring agami Indhu,
sebab
> lajeng wonten ingkang angrasuk agami Islam. Namung kemawon
wedharing

> agami Islam boten andarbeni kawruh pasamaden, kados kasebut ing
> nginggil.
>
> Sareng golonganipun tiyang Islam sampun saget ngendhih Nagari,
> inggih punika adeging Karaton Bintara (Demak), ing ngriku lajeng
> angawisi kalayan kenceng, titiyang Jawi boten kenging anindakaken
> kawruh pasamaden, mekaten ugi sami kinen nilar agaminipun lami,
> serta kedah santun angrasuk agami Islam.
>
> Ananging boten ta manawi bangsa Jawi lajeng anut purun santun
agami
> Islam sadaya, purunipun wau namung margi saking ajrih paukuman
> wisesaning Nata, dados Islam-ipun wau namung wonten ing lahir
> kemawon, utawi Islam pangaran-aran, yen batosipun taksih
angrungkepi
> agamipun lami. Milo bab kawruh pasamaden inggih taksih lajeng
> katindakaken, ananging pamulang pamedharing kawruh pasamaden wau,
> ingkang karan nama wejangan (wijang-wijang) sarana lampah
> dhedhemitan, katindakaken ing wanci ndalu sasampunipun jam 12, ugi
> papaning pamejang boten kenging kaubah wangon, kadosta ing ara-
ara,
> ing wana, ing lepen lan sasaminipun ing papan ingkang sepen.
> Pamejangipun srana bisikan boten kenging kapireng ngasanes,
sanadyan
> suket godhong, kewan tuwin bangsanipun gegremetan kutu-kutu
> walangataga ugi boten kenging miring, yen miring lajeng malih
dados
> manungsa. Mila linggihipun Kyai Guru ajeng-ajengan aben bathuk
> kaliyan pun murid, serta sanget pamantos-mantosipun Kyai Guru, pun
> murid boten kenging nularaken wewejanganipun (kawruhipun) dhateng
> tiyang sanes, bilih dereng angsal palilah Guru, yen nerak bade
> angsal wilalat manggih sapudendhaning Pangeran. Panindak ingkang
> mekaten punika, purwanipun namung tetep kangge panjagi, supados
> pamulanging kawruh pasamaden boten katupiksan dhateng
pamarintahing
> agami Islam. Sebab yen ngantos kasumerepan, tamtu manggih pidana.
>
> Dumuginipun ing jaman samangke, sanadyan Nagari sampun boten
> angarubiru dhateng wontenipun wewejangan kawruh pasamaden, nanging
> panindaking wejangan wau taksih kalestantunaken sarana dhedhemitan
> kados kawursita ing nginggil. Mila lajeng angsal paparab saking
> panyedaning titiyang ingkang boten remen, utami tiyang ingkang
> anglampahi sarengating agami Islam, bilih wontening wejangan
kawruh
> pasamaden wau lajeng kawastan ilmu klenik. Purwo saking tembung
> klenik, lajeng angandhakaken tembung abangan lan putihan. Ingkang
> kasebut abangan punika tiyang ingkang boten nindakaken saraking
> agami Islam, dene putihan mastani tiyang Jawi ingkang teluh
manjing

> agami Islam sarta anglampahi sadaya sarak sarengating agami Islam
> wau, inggih punika ingkang kasebut nama santri. Mila santri karan
> putihan, margi miturut panganggenipun titiyang agami Islam, bilih
> santri punika sarwo-sarwi langkung resik utawi suci tinimbang
> kaliyan titiyang ingkang boten angrasuk agami Islam.
>
> Mangsuli wontening kawruh pasamaden anggenipun sanget winados,
> menggah ingkang dados sababipun kapretalakaken ing nginggil. Dene
> yen saleresipun ingkang nama wados-wados wau pancen boten wonten;
> dados inggih kenging-kenging kemawon kawulangaken dhateng sok
> tiyanga, boten mawang nem sepuh, serta kenging kawejangaken ing
> sawanci-wancinipun, uger tiyang wau pancen ambetahaken kawruh
> pasamaden kasebat. Sebab wontenipun sadaya punika supados
> kasumerepan dhateng ingakathah, langkung-langkung kawruh pasamaden
> punika ingkang sanyata dados mukaning sadaya kawruh. Mila wajib
> sinebar dados seserepaning tiyang nem sepuh wadarin ing
> saindengipun, tanpa nawang andhap inggiling darajadipun.
>
> Amarengi wahyaning mangsakala, wusana wonten kaelokaning
lalampahan
> ingkang boten kanyana-nyana; ing pawingkingipun bab kawruh
pasamaden
> wau lajeng muncul katampen dhateng tiyang Islam, margi yakin bilih
> kawruh pasamaden wau, pancen musthikaning gagayuhan ingkang saged
> andhatengaken ing kawilujengan, kamulyan, katentreman, lan
> sasaminipun. Mila kawruh wau dening tiyang ingkang sampun suluh
> papadhanging raosipun inggih punika Seh Sitijenar, ingkang ugi
dados
> pramugarining agami Islam apangkat Wali, lajeng kadhapuk ing
ndalem

> serat karanganipun, ingkang lajeng winastan daim, wirid saking
> tembung daiwan kasebut ing nginggil. Punapadene lajeng kaewoaken
> dados saperanganing panembah, sarana dipun wewahi tembungipun,
> lajeng mungel : salat daim (salat - basa arab, daim saking daiwan
> basa Sansekrit). Milanipun dipun wewahi basa arab, namung
> kawigatosan kangge mikekahaken kapitadosanipun murid-muridipun
> ingkang sampun sami necep agami Islam. Punapadene tembung salat
> lajeng kapilah kalih prakawis. Sapisan salat 5 wekdal, kasebut
> salat sarengat, ateges panembah lahir. Kaping kalih salat daim,
> punika panembahing batos; mangertosipun : anekadaken manunggaling
> pribadinipun, utawi kasebut loroning atunggil.
> Kitab karanganipun Seh Sitijenar wau lajeng kangge paugeraning
> piwulang. Sareng sampun angsal kawigatosaning ngakathah, ing
ngriku
> salat 5 wekdal lan sarak agami sanes-sanesipun lajeng kasuwak
boten
> kawulangaken babar pisan. Ingkang pinindeng namung mumuruk
> tumindaking salat daim kemawon. Mila titiyang Jawi ingkang suwau
> manjing agami Islam, langkung-langkung ingkang dereng, lajeng sami
> ambyuk maguru dhateng Seh Sitijenar, margi piwulangipun langkung
> gampil, terang lan nyata.
>
> Wondene purwanipun Seh Sitijenar kaserenan kawruh pasamaden,
ingkang

> mijeni Kyai Ageng Pengging, sebab Seh Sitijenar punika
> mitradarmanipun Kyai Ageng Pengging. Kawruh pasamaden, dening Seh
> Sitijenar lajeng katularaken Raden Watiswara, inggih Pangeran
> Panggung, ingkang ugi apangkat Wali. Lajeng tunimbal dhateng Sunan
> Geseng, inggih Ki Cakrajaya, tiyang asal saking Pagelen, ingkang
> kacarios saderengipun dados Wali, Ki Cakrajaya wau pandamelanipun
> anderes nitis gendhis. Salajengipun sumrambah kawiridaken dhateng
> ingakatah. Makaten ugi sakabat-sakabatipun Seh Sitijenar ingkang
> sampun kabuka raosipun, dening Seh Sitijenar kinen sami madeg
> paguron amiridaken kawruh pasamaden wau. Sangsaya dangu sangsaya
> ngrebda, anyuremaken panguwaosing para Wali, anggenipun
amencaraken
> piwulang agami Islam. Yen kalajeng-lajeng masjid saestu badhe
suwung.

>
> Ngawekani sampun ngantos wonten kadadosan ingkang makaten, temah
> Kyai Ageng Pengging tuwin Seh Sitijenar sasekabatipun ingkang sami
> pinejahan katigas jangganipun dening para Wali, saking dhawuhipun
> Sultan Demak. Makaten ugi Pangeran Panggung boten kantun, kapidana
> kalebetaken ing brama gesang-gesangan wonten samadyaning alun-alun
> Demak, kangge pangewan-ewan murih titiyang sami ajrih, lajeng sami
> mantuni utawi nglepeh piwulangipun Seh Sitijenar.
>
> Kacariyos sariranipun Pangeran Panggung boten tumawa dening
> mawerdining Hyang Brama, lajeng oncat medal saking salebeting latu
> murub, nilar nagari Demak. Kanjeng Sultan Bintara tuwin para Wali
> sami kablerengen kaprabawan katiyasaning Pangeran Panggung, temah
> kamitenggengen kadi tugu sinukarta. Sareng sampun sawatawis tebih
> tindakipun Sang Pangeran, Kanjeng Sultan tuwin para Wali saweg
sami
> enget bilih Pangeran Panggung kalis saking pidana, temah sami
rumaos
> kawon angsal sihing Pangeran. Katungka unjuking wadyabala, atur
> uninga bilih Sunan Geseng, inggih Ki Cakrajaya, kesah anututi
> lampahipun Pangeran Panggung. Ing ngriku Kanjeng Sultan katetangi
> dukanipun, temah dhawahing bendu, para sakabat tuwin murid-
muridipun

> Seh Sitijenar ingkang kapikut lajeng sami pinejahan. Ingkang boten
> kacepeng sami lumajar pados gesang.
>
> Para sakabatipun Seh Sitijenar ingkang taksih wilujeng
> kakantunanipun ingkang sami pejah, ugi taksih sami madeg paguron
> nglestantunaken pencaring kawruh pasamaden, nanging mawi sislintru
> tinutupan wuwulang sarengating agami Islam, murih boten ka'arubiru
> dening para Wali pramugarining praja. Dene piwulangipun kados ing
> ngandhap punika :
>
> Pamulanging kawruh pasamaden ingkang lajeng karan salat daim,
> karangkepan wuwulang salat 5 wekdal tuwin rukuning Islam sanes-
> sanesipun malih. Wewejanganipun salat daim wau lajeng winastan
> wiridan naksobandiyah, dene panindaking piwulang kawastan tafakur.
> Saweneh wonten ingkang pamulangipun ing saderengipun para murid
> nampi wiridan salat daim, langkung rumiyin kalatih lampah
> dhidhikiran lan maos ayat-ayat. Wiwit punika wuwulangan pasamaden
> lajeng wonten wanrni kalih, inggih punika :
>
> 1. Piwulang pasamaden wiwiridan saking para sekabatipun Seh
> Sitijenar, ingkang sarana tinutupan utawi aling-aling sarak
rukuning
> agami Islam. Wuwulangan wau dumuginipun ing jaman samangke sampun
> mleset saking jejer ing sakawit, mila para guru samangke, ingkang
> sami miridaken kawruh pasamaden, ingkang dipun santuni nama
> naksobandiyah utawi satariyah, nginten bilih kawruh wau wiwiridan
> saking ngulami ing Jabalkuber (Mekah). Salajengipun para Kyai guru
> wau, amastani guru klenik dhateng para ingkang sami miridaken
kawruh
> pasamaden miturut wawaton Jawi pipiridan saking Seh Sitijenar.
> Punapadene para Kyai guru wau nyukani paparab nama Kiniyai,
> pikajengipun : guru ingkang mulangaken ilmuning setan. Dene nama
> Kyai, punika guru ingkang mulangaken ilmuning para nabi.
>
> 2. Piwulang pasamaden miturut Jawi, wiji saking Kyai Ageng
> Pengging, ingkang kapencaraken dening Seh Sitijenar (ingkang ing
> samangke karan klenik), punika ing sakawit, ingkang dados
purwaning
> piwulang, dumunung wonten panggulawenthahing wawatekan 5 prakawis,
> kados ing ngandhap punika :
>
> 1. Setya tuhu utawi temen lan jujur.
> 2. Santosa, adil paramarta, tanggeljawab boten lewerweh.
> 3. Leres ing samubarang damel, sabar welas asih ing sasami,
> boten ngunggul-unggulaken dhirinipun, tebih saking watak
panganiaya.
> 4. Pinter saliring kawruh, langkung-langkung pinter ngecani
> manahing sasami-sami, punapadene pinter angereh kamurkaning manah
> pribadi, boten anguthuh melik anggendhong lali, margi saking
> dayaning mas picis rajabrana.
> 5. Susila anor-raga, tansah nganggeni tatakrami, maweh
> rereseping paningal tuwin sengseming pamiharsa, dhateng ingkang
sami

> kataman.
>
> Lampah 5 prakawis wau kedah linampahan winantu ing pujabrata
> anandangaken ulah samadi, inggih amesu cipta angeningaken
> pranawaning paningal. Awit saking makaten punika mila tumrap
> panindaking agami Jawi (Buda), bab kawruh pasamaden tuwin lampah 5
> prakawis wau kedah kawulangaken dhateng sadaya titiyang enem sepuh
> boten pilih andhap inggiling darajatipun. Mila makaten, sebab
> musthikaning kawruh tuwin luhur-luhuring kamanungsan, punika bilih
> tetep samadinipun, kuwasa anindakaken lampah 5 prakawis kados
> kawursita ing nginggil. Temah kita manggen ing sasananing
> katrenteman, dene wontening katentreman mahanani harja kerta lan
> kamardikan kita sami. Yen boten makaten, ngantos sabujading jagad,
> kita badhe nandhang papa cintraka, kagiles dening rodha jantraning
> jagad, margi kacidraning manah kita pribadi.
>
> Bab kawruh pasamaden ingkang lajeng karan wiridan naksobandiyah
lan
> satariyah, ingkang ing nguni wiwiridan saking Seh Sitijenar,
sampun
> ka'andharaken ing nginggil, namung kemawon tumandangipun boten
> kawedharaken. Ing riki namung badhe anggelaraken lampah
tumandanging
> samadi sacara Jawi, ingkang dereng kacarobosan agami sanes, inggih
> punika makaten :
>
> Para nupiksa, mugi sampun kalintu panampi, bilih samadi punika
> angicalaken rahsaning gesang utawi nyawanipun (gesangipun) medal
> saking badan wadhag. Panampi makaten punika, purwanipun mirid
saking
> cariyos lalampahanipun Sri Kresna ing Dwarawati, utawi Sang Arjuna
> yen angraga-suksma. Mugi kawuninganana, bilih cariyos makaten
punika
> tetep namung kangge pasemon utawi pralambang.
>
> Ing samangke wiwit wedharaken lampahing samadi makaten : tembung
> samadi = sarasa - rasa tunggal - maligining rasa - rasa jati -
rasa

> nalika dereng makarti. Dene makartining rasa jalaran saking
> panggulawenthah utawi piwulang, punapadene pangalaman-pangalaman
> ingkang tinampen utawi kasandhang ing sadinten-dintenipun. Inggih
> makartining rasa punika ingkang kawastanan pikir. Saking dayaning
> panggulawenthah, piwulang tuwin pangalaman-pangalaman wau, pikir
> lajeng gadhah panganggep awon lan sae, temah anuwuhaken tatacara,
> pamacak lan sanes-sanesipun ingkang lajeng dados pakulinan. Punapa
> panganggep awon sae, ingkang sampun dados tata-cara margi sampun
> dados pakulinan punika, yen awon inggih awon sayektos, yen sae
> inggih sae temenan, punika dereng tamtu, jer punika namung
> pakulinaning panganggep. Dene panganggep, boten yekti, tetep
namung
> ngenggeni pakulinaning tata-cara, dados inggih dede kajaten utawi
> kasunyatan. Menggah pikajenganipun samadi ing riki, boten wonten
> sanes namung badhe nyumerepi kajaten, dene sarananipun boten
wonten
> malih kajawi nyumerepi utawi anyilahaken panganggep saking
> makartining rasa, kasebut sirnaning papan lan tulis. Inggih ing
riku
> punika jumenenging rasa jati kang nyata, kang yekti, kang weruh
> tanpa tuduh. Wondene kasembadanipun kedah angendelaken ing
> saniskara, sarana angereh solahing anggota (badan). Mangrehing
> anggota wau ingkang langkung pikantuk kalihan sareyan malumah,
saha
> sidhakep utawi kalurusaken mangandhap, epek-epek kiwa tengen
> tumempel ing pupu kiwa tengen, suku ingkang lurus, dalamakan suku
> ingkang tengen katumpangaken ing dalamakan suku kiwa, mila lajeng
> kasebut sidhakep suku (saluku) tunggal. Punapadene angendelna
> ebahing netra (mripat), inggih punika ingkang kawastanan meleng.
> Lampah makaten wau ingkang kuwasa ngendelaken osiking cipta
> (panggagas), tuwin amuntu ilining rahsa, dene pancering paningal
> kasipatna amandeng pucuking grana medal saking sa'antawising netra
> kakalih, inggih punika ing papasu, dene pamandengipun kedah
kalayan
> angeremaken netra kakalih pisan.
>
> Sasampunipun lajeng nata lebet wedaling napas (ambegan) makaten :
> panariking napas saking puser kasengkakna minggah anglangkungi
> cethak ingga dumugi ing suhunan (utek = embun-embunan), sarta mawi
> kaendelna ing sawatawis dangunipun. Sumengkanipun napas wau
> kadosdene darbe raos angangkat punapa-punapa, dene temenipun
ingkang
> kados kita angkat, punika ilining rahsa ingkang kita pepet saking
> sumengkaning napas wau, menawi sampun kraos awrat panyangginipun
> napas, inggih lajeng ka'edhakna kalayan alon-alon. Inggih patrap
> ingkang makaten punika ingkang kawastanan sastracetha. Tegesipun
> cetha = empaning kawruh, cetha = antebing swara cethak, inggih
> cethaking tutuk kita punika. Mila winastan makaten, awit duk kita
> mangreh sumengkaning napas anglangkungi dhadha lajeng minggah
malih
> anglangkungi cethak ingga dumugi suhunan. Menawi napas kita dipun
> ereh, dados namung manut lampahing napas piyambak, tamtu boten
saget
> dumugi ing suhunan, margi saweg dumugi ing cethak lajeng sampun
> medhak malih. Punapadene ugi winastan daiwan (dawan),
pikajengipun :
> mangreh lebet wedaling napas ingkang panjang lan sareh, sarwi
> mocapaken mantra sarana kabatos kemawon, inggih punika mungel `hu'
> kasarengan kalihan lumebeting napas, inggih panariking napas
saking
> puser, minggah dumugi ing suhunan. Lajeng `ya', kasarengan kalihan
> wedaling napas, inggih medhaking napas saking suhunan dumugi ing
> puser, minggah mandhaping napas wau anglangkungi dhadha lan
cethak.
> Dene, anggenipun kawastanan sastracetha, margi nalika mocapaken
> mantra sastra kakalih : hu - ya, wedaling swara ingkang namung
> kabatos wau, ugi kawistara saking dayaning cethak. (Ungeling
mantra
> utawi panebut kakalih : hu – ya, ing wiridan naksobandiyah
kaewahan
> dados mungel, hu – Allah, panebutipun ugi kasarengan lampahing
> napas. Dene ing wiridan satariyah, panebut wau mungel : hailah –
> haillolah, nanging tanpa angereh lampahing napas).
>
> Menggah lebet medaling napas kados kasebut ing nginggil,
> sa'angkatanipun namung kuwasa angambali rambah kaping tiga, mila
> makaten, awit napas kita sampun boten kadugi manawi kinen
> anandangana malih, jalaran sampun menggeh-menggeh. Dene manawi
> sampun sareh, inggih lajeng ka'angkatana malih, makaten
salajengipun
> ngantos marambah-rambah sakuwawinipun, margi saya kuwawi dangu,
> sangsaya langkung prayogi sanget. Dene sa'angkataning pandamel wau
> kawastan : tripandurat, tegesipun tri = tiga, pandu = suci, rat =
> jagad – badan – enggen, suraosipun : kaping tiga napas kita saget
> tumameng ing ngabyantaraning ingkang Maha suci manggen ing
> salebeting suhunan (ingkang dipun suwuni). Inggih punika ingkang
> kabasakaken paworing kawula Gusti, tegesipun : manawi napas kita
> sumengka, kita jumeneng gusti, yen tumedhak, wangsul dados kawula.
> Bab punika para nupiksa sampun kalintu tampi ! Menggah ingkang
dipun
> wastani kawula gusti punika dede napas kita, nanging dayaning
cipta
> kita. Dados ulah samadi punika, pokokipun kita kedah amanjangaken
> panjing wijiling napas (lebet wedaling napas), kalihan
angeningaken
> (ambeningaken) paningal, sebab paningal punika kadadosan saking
> rahsa.
>
> Wondene patraping samadi kados kasebut ing nginggil wau, ugi
kenging
> karancagaken, uger kita tansah lumintu tanpa pedhot mangeh panjing
> wijiling napas, kalihan lenggah, lumampah, utawi nyambutdamel
inggih
> kedah boten kenging tilar mangreh lebet wedaling napas wau,
ingkang
> sarana mocapaken mantra mungel : hu – ya, kados ingkang kajarwa
ing

> nginggil.
>
> Kajawi punika, wirid saking tembung daiwan punika ugi taksih darbe
> maksud sanesipun malih, inggih punika ateges panjang tanpa ujung,
> utawi ateges langgeng. Dene pikajengipun amastani bilih wontening
> napas kita punika sanyata wahananing gesang kita ingkang langgeng,
> inggih wontening ambegan kita. Dene ambegan punika, sanyata
> wontening angin ingkang tansah mlebet medal tanpa kendel, ingkang
> sasarengan kalihan keketeg panglampahing rah (roh). Bilih kakalih
> wau kendel boten makarti nama pejah, inggih risaking badan wadhag
> wangsul dados babakalan malih. Mila sayogyanipun lampahing napas
> inggih ambegan kita ingkang tansah mlebet medal tanpa kendel,
kedah
> kapanjang-panjangana lampahipun, murih panjanga ugi umur kita,
temah
> saget awet wonten ing donya tutug panyawangipun dhateng anak,
putu,
> buyut, canggah, wareng, ingkang babranahan.
>
> Wontenipun andharan ing nginggil, mratelakaken bilih kawruh
> pasamaden punika sanyata langkung ageng pigunanipun, mila lajeng
> sinebut sastrajendrayuningrat pangruwating diyu. Tegesipun sastra
=
> empaning kawruh, jendra = saking panggarbaning tembung harja
endra.
> Tegesipun harja = raharja, endra = ratu – dewa, yu = rahayu –
> wilujeng, ningrat = jagad – enggen – badan. Suraosipun :
> Musthikaning kawruh ingkang kuwasa amartani ing karahayon,
kaharjan,
> katentreman lan sapatunggalipun. Dene tegesesipun pangruwating
diyu
> = amalihaken diyu; dene diyu = danawa – raksasa – asura – buta,
> punika kangge pasemoning piawon, penyakit, rereget, babaya,
> pepeteng, kabodhohan lan sanesipun. Dados diyu punika
> kosokwangsulipun dewa, engkang ateges pinter, sae, wilujeng lan
> sapanunggilipun. Mengku suraos amastani ingkang saget anyirnakaken
> saliring piawon tuwin samubarang babaya pekewed. Mangertosipun,
> sinten ingkang tansah ajeg lumintu anandangaken ulah samadi,
punika
> bilih ing suwaunipun tiyang awon, lajeng sirna piawonipun, malih
> dados tiyang sae lampahipun. Tiyang sakit sirna sakitipun, dados
> saras, tiyang murka daksiya lajeng narimah sabar, welasasih.
Tiyang
> goroh lajeng dados temen. Tiyang bodho dados pinter. Tiyang pinter
> dados pinter sanget. Makaten ugi tiyang golongan sudra dados
waesia,

> waesia dados satriya, satriya dados brahmana, brahmana sumengka
> pangawak braja asarira bathara.
>
> RAHAYU
>
> BS
>
> --- In Spiritual-Indonesia
> <mailto:Spiritual-Indonesia%40yahoogroups.com> @yahoogroups.com,
> bustanus salatin
> <ki_ageng_jenar@> wrote:
> >
> > buku SATRIO PANINGIT, BENCANA NUSANTARA, MANUNGGALINGKAWULOGUSTI
> dalam UNIVERSALITAS KEAGAMAAN
> > ISBN:978-979-17824-0-1/barcode
> >  
> > Bab 10: Kajian Tafsir Huruf Muqota'ah: Pandangan Siti Jenar dan
> Husain ibnu Mansur al-Hallaj dalam Manunggaling Kawulo Gusti
> >  
> > Syekh Siti Jenar begitu sering dihubung-hubungkan dengan al-
Husain
> ibnu Mansur al-Hallaj atau singkatnya Al-Hallaj saja, sufi Persia
> abad ke-10, yang sepintas lalu ajarannya mirip dengan Siti Jenar,
> karena ia memohon dibunuh agar tubuhnya tidak menjadi penghalang
> penyatuannya kembali dengan Tuhan. Adalah Al-Hallaj yang karena
> konsep satunya Tuhan dan dunia mengucapkan kalimat, "Akulah
> Kebenaran/ Anna al Haq," yang menjadi alasan bagi hukuman matinya
> pada 922 Masehi di Baghdad. Seperti Syekh Siti Jenar pula, nama Al-
> Hallaj menjadi monumen keberbedaan dalam penghayatan agama,
sehingga
> bahkan diandaikan bahwa jika secara historis Syekh Siti Jenar tak
> ada, maka dongengnya adalah personifikasi saja dari ajaran Al-
> Hallaj, bagi yang mendukung maupun yang menindas ajaran tersebut.
> > petikan atas kutipan dari Serat Siti Jenar yang diterbitkan oleh
> Tan Khoen Swie, Kediri, pada 1922:
> > Kawula dan gusti sudah ada dalam diriku, siang dan malam tidak
> dapat memisahkan diriku dari mereka. Tetapi hanya saat ini nama
> kawula-gusti itu berlaku, yakni selama saya mati. Nanti, kalau
saya
> sudah hidup lagi, gusti dan kawula lenyap, yang tinggal hanya
> hidupku, ketenteraman langgeng dalam Ada sendiri.
> > Hai Pangeran Bayat, bila kau belum menyadari kebenaran kata-
kataku
> maka dengan tepat dapat dikatakan, bahwa kau masih terbenam dalam
> masa kematian. Di sini memang banyak hiburan aneka warna. Lebih
> banyak lagi hal-hal yang menimbulkan hawa nafsu. Tetapi kau tidak
> melihat, bahwa itu hanya akibat pancaindera.
> > Itu hanya impian yang sama sekali tidak mengandung kebenaran dan
> sebentar lagi akan lenyap. Gilalah orang yang terikat padanya,
tidak

> seperti Syeh Siti Jenar. Saya tidak merasa tertarik, tak sudi
> tersesat dalam kerajaan kematian. Satu-satunya yang kuusahakan,
> ialah kembali kepada kehidupan
> > Dalam pupuhnya, Syekh Siti Jenar merasa malu apabila harus
> berdebat masalah agama. Alasannya sederhana, yaitu dalam agama
> apapun, setiap pemeluk sebenarnya menyembah zat Yang Maha Kuasa.
> Hanya saja masing - masing menyembah dengan menyebut nama yang
> berbeda - beda dan menjalankan ajaran dengan cara yang belum tentu
> sama. Oleh karena itu, masing - masing pemeluk tidak perlu saling
> berdebat untuk mendapat pengakuan bahwa agamanya yang paling benar.
> > Syekh Siti Jenar juga mengajarkan agar seseorang dapat lebih
> mengutamakan prinsip ikhlas dalam menjalankan ibadah. Orang yang
> beribadah dengan mengharapkan surga atau pahala berarti belum bisa
> disebut ikhlas.
> > Manunggaling Kawula Gusti, Dalam ajarannya ini, pendukungnya
> berpendapat bahwa Syekh Siti Jenar tidak pernah menyebut dirinya
> sebagai Tuhan. Manunggaling Kawula Gusti dianggap bukan berarti
> bercampurnya Tuhan dengan Makhluknya, melainkan bahwa Sang
Pencipta
> adalah tempat kembali semua makhluk. Dan dengan kembali kepada
> Tuhannya, manusia telah menjadi sangat dekat dengan Tuhannya.
> > Dan dalam ajarannya, 'Manunggaling Kawula Gusti' adalah bahwa di
> dalam diri manusia terdapat ruh yang berasal dari ruh Tuhan sesuai
> dengan ayat Al Qur'an yang menerangkan tentang penciptaan manusia
("

> Ketika Tuhanmu berfirman kepada malaikat: "Sesungguhnya Aku akan
> menciptakan manusia dari tanah. Maka apabila telah Kusempurnakan
> kejadiannya dan Kutiupkan kepadanya roh Ku; maka hendaklah kamu
> tersungkur dengan bersujud kepadanya (Shaad; 71-72)"). Dengan
> demikian ruh manusia akan menyatu dengan ruh Tuhan dikala
> penyembahan terhadap Tuhan terjadi.
> > Riwayat pertemuan Ibrahim ibn Sam'an dengan Husain bin Mansur al
> Hallaj ( Kutipan dari Buku Husain bin Manshur al Hallaj, karangan
> Louis Massignon)
> > Aku melihat al Hallaj pada suatu hari di masjid al Mansur: Aku
> memiliki 2 dinar dalam sakuku dan aku berpikir untuk menghabiskan
> uang itu untuk hal-hal yang melanggar hukum. Seseorang datang dan
> memintah sedekah.Dan Husain bin Mansur al Hallaj berkata:' Ibnu
> Sam'an berikanlah sedekah  dengan apa yang kamu simpan di dalam
> jubahmu, aku terdiam dan menangis, " oh syaikh,bagaimana engkau
> mengetahui hal itu?'' Al Hallaj berkata:' Setiap hati yang
> mengosongkan diri dari yang selain Alloh, dapat membaca kesadaran
> orang dan menyaksikan apa yang ghoib''. Ibnu Sam'an berkata:''
> o,syaikh ajarilah aku sebuah hikmah''. Kemudian berkata al
> Hallaj :''Orang yang mencari Tuhan dibalik huruf miim dan ain akan
> menemukan Nya.Dan seseorang yang mencarinya dalam konsonan idhafah
> antara alif dan nun, orang itu akan kehilangan Dia. Karena Dia itu
> Maha Suci, di luar jangkauan pikiran dan diatas yang terselubung ,
> yang berada di dalam diri setiap
> > orang. Kembalilah kepada Tuhan, Titik Terakhir adalah Dia. Tidak
> ada "Mengapa" di hari akhir kecuali Dia.Bagi manusia "MA/ yaitu
miim
> dan ain" milik Dia berada dalam miim dan ain makna ""MA"" ini
adalah

> Tuhan Maha Suci. Dia mengajak makhluk terbang menuju Tuhan. "miim"
> membimbing ke Dia dari atas ke bawah. "ain"membimbing ke Dia dari
> Jauh dan Luas.
> >  
> > Ilmu Huruf Muqota'ah
> > Ilmu huruf, yang didasarkan pada satu bahsa suci, tentulah
> memiliki sebuah fondasi mistis yang diperlukan. Orang bisa
> menemukan  doktrin ini dalam puisi mistis yang terkenal Ghulsyan-i
> Raz (Taman Mawar), karya Syabistari: " Bagi orang yang jiwanya
> adalah manifestasi Tuhan yaitu al Qur'an, keseluruhan alam ini
> adalah huruf-huruf vokalNya dan substansinya adalah huruf konsonan
> Nya " Pasal 200-209 puisi Ghulsyan-i Raz.
> > Abu Ishaq Quhistani, sufi Islam, menegaskan pentingnya ilmu
huruf
> dengan menyatakan bahwa " ilmu huruf adalah akar dari segala
ilmu ".
> Secara skematis ilmu huruf mengandung :
> >
> > Simbolisme ketuhanan dan metafisika atau /metakosmik
> > Simbolisme universal / makrokosmik yang didasarkan pada
> korespondensi antara huruf-huruf dan benda astrologis (ruang
> angkasa/ planet/ lambang zodiak dll)
> > Simbolisme manusia dan individu yang didasarkan pada
korespondensi
> fisiologis/organ tubuh
> > Jumlah huruf muqatta'ah (terpotong) ada 14 huruf yaitu :alif lam
> miim,ha miim, alif lam ra, tha ha,ha miim ain sin qaf, ya sin, kaf
> ha ya `ain shad, kaf dan nun. Kalau dirangkai keseluruhannya
menjadi
> sebuah kalimat : Shiratu `aliyin haqqun namsikuhu (jalan Ali
adalah
> kebenaran yang kita pegang). huruf muqatta'ah (terpotong) adalah
> huruf-huruf yang merupakan rumusan dialog antara Alloh swt dengan
> kekasihnya (para Nabi dan para Wali)
> > Apa Makna miim dan ain sehingga dapat menemukan Tuhan dan
bertemu

> dengan Nya dan Mengapa ketika mencari Tuhan dibalik huruf alif dan
> nun maka tidak bisa bertemu dengan Nya?
> > Tafsir Miim (numerology Arabiyah)::
> >
> > Huruf miim merupakan muhammad rosulillah atau Ahmad, yang
> merupakan pintu menuju Ahad yang merupakan wahdaniyah Allah.
> Perbedaan antara  Ahad dan Ahmad adalah huruf arab Miim (muhammad
> rosulillah - penutup jalur risalah dan kenabian)
> > Miim juga berarti malakuti / keagungan / penguasaan atas seluruh
> langit bumi, ayat Kursi merupakan ayat yang mengandung banyak
huruf

> miim didalamya
> > Huruf miim bernilai 40, 40 hari khalwat dengan ikhlas dengan
> mengamalkan surat al ikhlas dan ayat Kursi (ayat yang banyak
> mengandung huruf miim /sujud jadi sujud adalah cara menggapai
> keagungan). Juga surat al ikhlas di awali dengan qulhuwa allohu
> ahad. Jadi perwujudan ahad di dunia adalah ahmad, ketika manusia
> menjadi ahmad maka merupakan tajalli/ penampakan sang Mahakuasa
> dalam diri manusia. Sekali lagi bedakan Ahmad dan Ahad terletak
> huruf miim.
> > Huruf miim membentuk, posisi sujud dalam solat, sujud merupakan
> posisi kedekatan dengan Alloh, bahkan sujud merupakan simbol dari
> wahdaniyah Allah. Metode untuk mendekat (muqorrobin/ kewalian)
> kepada Tuhan yang paling cepat adalah dengan sujud yang lama dalam
> Sholat. Hadits qudsi Allah berfirman : " Barangsiapa memusuhi
waliku
> sungguh kuumumkan perang kepadanya, tiadalah hamba Ku mendekat
> kepada Ku dengan hal hal yg fardhu- 17 rokaat, dan Hamba Ku terus
> mendekat kepada Ku dengan hal hal yg sunnah- 34 rokaat qobliyah
dan
> bakdiyah- baginya hingga Aku mencintainya, bila Aku mencintainya
> maka aku menjadi telinganya yg ia gunakan untuk mendengar, dan
> matanya yg ia gunakan untuk melihat, dan menjadi tangannya yg ia
> gunakan untuk memerangi, dan kakinya yg ia gunakan untuk
melangkah,
> bila ia meminta pada Ku niscaya kuberi permintaannya...." (shahih
> Bukhari hadits no.6137).
> >  
> > Tafsir Ain,Yaa,Sin,Nuun,Aliif (numerology Arabiyah):
> >
> > Huruf ain bermakna sayidina Ali bin Abu tholib merupakan pintu
> gerbang keilmuan. Sesuai hadits Nabi yang menyatakan bahwa
Muhammad
> rosulluloh adalah gudang ilmu dan Sayidina Ali adalah pintunya.
> Huruf ayn membentuk posisi rukuk dalam sujud, dalam riwayat
asbabun
> nuzul quran ada ayat yang berkenaan dengan Ali bin abu thalib,
yaitu
> orang yang rukuk kemudian dalam posisi rukuk dalam solat melakukan
> sedekah berupa cincin. Inilah ayat quran itu: Walimu hanyalah
Allah,
> Rasul-Nya dan mereka yang beriman yang menegakkan salat, membayar
> zakat seraya rukuk. (QS. al-Mâ`idah: 55)
> > Kunci sholat yang merupakan adab tatakrama/ kepasrahaan total
ila
> allohu ada di rukuk/ huruf ain, sujud/ huruf miim adalah kedekatan
> (muqorobin- fana asma dan tajalli asma), barangsiapa tidak tahu
adab
> ( rukuknya)  maka tidak layak untuk dekat (muqorobin).
> > Huruf Ain bernilai 70.sedang huruf Ya bernilai 10 dan huruf Sin
> bernilai 60. jadi secara matematis yaitu 70(ain)= yaa(10)+sin(60)
> jadi Ya + Seen = Ain merupakan Quran dalam surat 36 adalah surat
Ya
> Seen. ayat ke 58 dari surat Yasin adalah Salaamun Qawlam Mir
Rabbir
> Raheem. Jadi 5+8=13, posisi huruf ke 13 dalam abjad Arab adalah
> huruf Miim/ Sujud. Jadi untuk mengerti Ain/ rukuk  kita harus
> mengerti tafsir huruf Yaa dan Tafsir huruf Sin. Dengan mengerti
Yaa
> dan Sin kita akan sampai kepada Sayidina Ali bin Abu Tholib.
> > Kyai Kholil Bangkalan, salah seorang pencetak kyai besar
Nahdlatul
> Ulama, selama perjalanan pesantren Keboncandi, Pasuruan-Sidogiri
> kyai kholil Bangkalan sewaktu muda selalu membaca YaSin, hingga
> khatam berkali-kali
> > Huruf Ya adalah akhir dari abjad Arab and Alif awal dari abjad
> Arab. Huruf  Ya/ hamba memimpin/cenderung ke arah Alif/ Alloh.
Huwal

> Awwalu wa Hu wal Akhiru.
> > Rincian huruf Awwalu  :
> > Alif(1)+waw(6)+lam(30)=37ß-à3+7=10,(Ya=10),
> > 10 ß-à1+0=1ß-àpertama.
> > ·         Rincian huruf Akhiru :: Alif(1)+Kho(600)+Ro(200)= 801ß-
> à8+0 +1= 9 ß-à terakhir adalah 9, angka 9 dalam numerology arab
> adalah huruf Ta yang bermakna penyucian atau Tahara/penyucian dan
> bulan ke 9 dalam Arab/ Qomariah adalah bulan ramadhon yaitu bulan
> puasa
> > ·         Penyucian kalbu dari kecintan diri dan dunia merupakan
> tingkat awal penyucian untuk bersuluk kepada Alloh. Sesungguhnya
> kotoran maknawi terbesar yang tidak bisa disucikan meskipun dengan
> tujuh lautan dan para nabi pun tidak mampu menghilangkannya adalah
> kotora kejahilan ganda (pura-pura tahu padahal tidak tahu).
> Kekeruhan ini mungkin akan memadamkan cahaya petunjuk dan
meredupkan
> api kerinduan yang merupakan buraq untuk bermikraj mencapai
berbagai
> maqom spiritual.( Imam Khomeini dalam Hakikat dan Rahasia Sholat)
> > ·          dan Alif(1)+ Ta(9)=10ß-à (Ya=10=hamba) , nilai huruf
> (Ya=10), jadi seorang Hamba yaitu simbol Ya harus melakukan Puasa/
> penyucian jiwa/ tazkiyah nafs simbol (Ta=9) untuk Alloh semata
> simbol (Alif=1) atau Hamba harus sabar dengan KetentuanNya atau
> nrimo ing pandum, karena hasil puasa Lillah Billah menjadikan
orang
> sabar atau innalloha ma'ashobirin (Sesungguhnya Alloh bersama (MA
> terdiri huruf miim dan ain lihat al Baqarah:153 ) orang yang
sabar.
> Lihat bersama adalah Ma yaitu ma'asshobirin. Disini terungkap
> rahasia mim dan ayn yaitu MA seperti yang diucapkan oleh Husain
bin
> Mansur al Hallaj. jadi Sabar adalah kunci menemukan Tuhan. Para
> mufassir menafsirkan sabar dengan melakukan puasa. Pahala puasa
> hanya Alloh yang tahu. Artinya Hak menilai puasa langsung di
tangan
> Alloh bukan di tangan para malaikat. Sabda Rosullulloh saw Puasa
> yang dilakukan khusus untuk-Ku/ puasa Lillah Billah dan cukuplah
Aku
> sebagai pahalanya
> > ·         Mempelajari Ilmu Ketuhanan akan menjadikan orang
> bersabar, seperti dialog Nabi Musa as dan Nabi Khidr as yaitu
> Bagaimana kamu dapat sabar terhadap persoalan yang kamu samasekali
> belum memiliki pengetahuan yang cukup tentangNya(QS 18:68).
> Barangsiapa menghadapi kesengsaraan dengan hati terbuka,
menunjukkan
> kesabaran dengan penuh ketenangan dan martabat, termasuk dalam
> golongan orang terpilih dan bagian untuknya adalah Berikanlah
kabar

> gembira (keberhasilan dan kejayaan) kepada orang yang sabar (QS
> 2:155),
> >
> > Dalam Islam, kemampuan mengendalikan emosi dan menahan diri
> disebut sabar. Orang yang paling sabar adalah orang yang paling
> tinggi dalam kecerdasan emosionalnya. Ia biasanya tabah dalam
> menghadapi kesulitan. Ketika belajar orang ini tekun. Ia berhasil
> mengatasi berbagai gangguan dan tidak memperturutkan emosi-nya.
> > Gabungan rincian Awwalu dan Akhiru adalah Seorang Hamba
> (Ya=10=hamba) karena  Akhiru(9)+ Awwalu (1)=10ß-à (Ya=10=hamba) ,
> jadi seorang Hamba menampung Asma Alloh yang lengkap dan memiliki
> potensi untuk menampakkan sifat ketuhanan
> > Huruf Sin bernilai 60 dalam numerology Arab, merupakan simbol
dari
> sirr Muhammad, sirr adalah rahasia ketuhanan yang disimpan dalam
> diri manusia sebagai hamba. Huruf sin dalam INSAN. huruf alif nya
> adalah Alloh, huruf  sin adalah rahasia /sirr ketuhanan, 2 huruf
nun
> adalah simbol hukum dunia dan akhirat yang merupakan
> representasi /perwakilan kitab suci al Qur'an.
> > Huruf Yaa/ simbol Hamba digunakan untuk memanggil seseorang atau
> menarik perhatian sesorang. Ya adalah simbol seorang Hamba
menyembah
> dan menyebut Tuhannya Ya Alloh Ya Robbi dll.Yaa juga digunakan
oleh
> Alloh memanggil Hambanya.Ya juga berarti simbol antara yang
disembah
> dan menyembah, tetapi posisi Ya=10/ hamba selalu cenderung kepada
> Alif=1 atau Alloh karena Alloh sebagai Awwalu, dalam ilmu huruf,
> > Alif(1)+waw(6)+lam(30)=37ß-à3+7=10 adalah Yaa menyatu dengan
Alif
> (10ß-à1+0=1) atau dibalik Yaa ada Alif atau di dalam Manusia ada
> Tuhan atau istilah Wahdatul Wujud nya Ibnu Arobi yaitu antara
> penyembah dan yang disembah itu sama tapi tidak serupa atau
menurut

> istilah ajaran Syekh Siti Jenar, yaitu Manunggaling Kawula
> Gusti. "PERSAMAAN" antara manusia dan Allah. Hal inilah yang
> dimaksudkan dalam sabda Nabi saw.: "Sesungguhnya Allah menciptakan
> manusia dalam kemiripan dengan diriNya sendiri." Lebih jauh lagi
> Allah telah berfirman: "Hambaku mendekat kepadaKu sehingga Aku
> menjadikannya sahabatKu. Aku pun menjadi telinganya, matanya dan
> lidahnya." Juga Allah berfirman kepada Musa as.: "Aku pernah sakit
> tapi engkau tidak menjengukku!" Musa menjawab: "Ya Allah, Engkau
> adalah Rabb langit dan bumi; bagaimana Engkau bisa sakit?" Allah
> berfirman: "Salah seorang hambaKu sakit; dan dengan menjenguknya
> berarti engkau telah mengunjungiKu. "Memang ini adalah suatu
> > masalah yang agak berbahaya untuk diperbincangkan, karena hal
ini

> berada di balik pemahaman orang-orang awam. Seseorang yang cerdas
> sekalipun bisa tersandung dalam membicarakan soal ini dan percaya
> pada inkarnasi dan kersekutuan dengan Allah.
> > Tafsir huruf Nun dan Alif- Pencari Tuhan dibalik huruf alif dan
> nun maka tidak bisa bertemu dengan Nya::
> >
> > Bernilai 50 dalam numerology Arab.
> > Tafsir huruf INSAN, memiliki 2 huruf nun merupakan simbol alam
> dunia/ jasad dan alam akhirat/ ruh/ jiwa. Ruh yang disucikan akan
> memperoleh Nur/ surga sedangkan Ruh yang dikotori akan memperoleh
> Nar/ neraka.
> > Tafsir Alif dan Nun: Penggambaran Simbolis Huruf dan Alif Nun
> merupakan lambang sebuah perahu (syariat) dan sebuah Jiwa/
> individu /personal mengarungi lautan / medan ujian, kayuh/sampan (
> membentuk huruf Alif) kiri kanan adalah wilayah pilihan manusia (
> sunnatulloh adalah qadha' qadar baik buruk) yang telah ditetapkan
> oleh Alloh arti simbol Alif. Individu yang sedang menaiki perahu (
> simbol Nun), sampan/kayuh adalah alat/ pilihan yang akan
mengerakkan
> jiwanya menuju 3 pilihan yaitu, pertama, arah perahu ke  kiri
> berarti ashabul syimal/ Nun menjadi Naar/ neraka, kedua arah
perahu
> ke  kanan berarti ashabul yamin/ Nun menjadi Nur/cahaya, ketiga
arah
> perahu tidak ke  kiri dan tidak ke kanan tetapi tengah berarti
> sabiqunal awwalun/ terdahulu mencapai tujuan - ini adalah golongan
> para pencinta yaitu menyembah karena kerinduan ingin bertemu
dengan
> sang Khaliq – ini adalah jawaban isyarah tersembunyi dari Husain
bin
> Manshur al Hallaj- yaitu para nabi
> > dengan simbol miim (arti bathinnya adalah sujud) yaitu Muhammad
> saw dan ain (arti bathinnya adalah rukuk) yaitu sayidina Ali bin
> Abuthalib
> > Huruf Nun Mengingatkan Kita juga  kepada  Zunnun/ Nabi Yunus as
> yang naik perahu di tengah lautan dan ditelan Ikan karena
> meninggalkan Kaum nya sebelum ada perintah dari ALLOH swt.
> > Zikir Zunnun / N.Yunus  - doa keselamatan menghadapi medan
ujian :
> wa dzan nuni idz dzahaba mughadziban fa dhanna an lan naqdiro
alayhi
> fa nada fid dhulumati an laila antan subhanaka inni kuntu
> minadolimin fastajabna lahu wa najjaynahu minal ghammi wa
kadzalika

> nunjil mukminina (Anbiya :87-88).
> >  
> > Kesimpulan:
> > ·        Tafsir Yaa Sin akan membuka rahasia huruf `'MA'' yaitu
> miim dan ain seperti yang dikatakan oleh Husain bin Mansur al
> Hallaj:
> > Quran dalam surat 36 adalah surat Ya Seen. ayat ke 58 dari surat
> Yasin adalah Salaamun Qawlam Mir Rabbir Raheem
> > "Rahasia Ketuhanan ada dalam diri manusia, agar manusia mampu
> menampakkan atau men-tajallikan Ketuhanan dalam dirinya maka
> perintah solat (Rukuk, Sujud) adalah sarana 'Manunggaling Kawula
> Gusti dan sodaqoh ( menebarkan hasil usaha kebenaran/ pengabdian
> masyarakat/ agen perubahan/ social agent) kepada sesama makhluk
> Tuhan (kesalehan sosial) yang merupakan perwujudan dari Salaamun
> Qawlam Mir Rabbir Raheem"
> > ·         Tafsir YaaSin adalah simbol manusia sempurna yaitu
hamba
> yang mampu menampung rahasia Alloh swt dan didalam sirr itu
seorang

> penyembah dan disembah bertemu dan berdialog, ibarat sebuah pohon
> lengkap dengan pokoknya, cabangnya dan puncaknya. Imam al Baqir
> berkata: Maukah kamu akau beritahu pokok-pokok Islam, cabang dan
> puncaknya dan pintu kebaikan? Sulaiman bin Khalid berkata: Tentu,
> lalu jawab Imam al Baqir: Pokoknya adalah sholat, cabangnya adalah
> zakat, dan puncaknya adalah membela kaum tertindas dan menegakkan
> keadilan. Pintu kebaikan itu adalah :
> > 1.      Puasa merupakan perisai api neraka
> > 2.      Sedekah itu menghapus dosa
> > 3.      Sholat di malam hari untuk berzikir
> >  
> > Tafsir Rukuk/Huruf Ain
> > Etika rukuk adalah meninggikan maqam rububiyah Nya yang agung,
> mulia dan merendahkan maqam ubudiyah seorang hamba yang lemah,
faqir
> dan hina. Rukuk adalah awal ketundukkan dan sujud adalah
> puncaknya.Yang melakukan rukuk dengan sempurna dan benar akan
> menemukan keselarasan pada sujud. Imam Shadiq berkata" rukuk yang
> benar kepada Alloh adalah menghiasi dengan cahaya keindahan asma
> Nya. Rukuk adalah yang pertama dan sujud adalah yang kedua. Dalam
> rukuk ada adab penghambaan dan dalam sujud ada kedekatan/Qurb
dengan
> Zat yang disembah. Simbol rukuk adalah hamba dengan hati tunduk
> kepada Alloh, merasa hina dan takut di bawah kekuasaan-Nya.
> Merendahkan anggota badan karena gelisah dan takut tidak
memperoleh
> manfaat rukuk.
> >  
> > Tafsir Sujud/Huruf Mim
> > Sujud merupakan puncak ketundukan dan puncak kekhusyukan seorang
> hamba, sebaik-baik wasilah taqarrub ila Alloh, sebaik-baik posisi
> untuk mencapai cahaya-cahaya tajalli Asma  Alloh swt dan maqam
Qurb
> dengan Nya. N. Saw bersabda : "lamakanlah sujudmu", sebab tiada
amal
> yang lebih berat dan paling tak disukai oleh syetan saat melihat
> anak Adam sedang sujud, karena dia telah diperintahakan sujud dan
> dia tidak patuh. Sujud merupakan sebab mendekatnya hamba dengan
sang
> Kholik. Wahai orang yang beriman, mintalah pertolongan dengan
sabar

> dan solat, sesungguhnya Alloh bersama orang yang sabar (al
> Baqarah:153)
> >  
> > Tafsir Salam/Huruf Yaa Sin
> > Salam adalah salah satu nama Alloh. Arti Salam dari sisi Alloh
> adalah keselamatan zat, sifat, perbuatan-Nya. Adapun Zatnya
> terpelihara dari kelenyapan, perubahan dan dari segala kekurangan.
> Salam dari sisi Hamba adalah doa,yaitu memohon keselamatan kepada
> Alloh untuk orang yang kita ucapkan salam /selamat dari segala
> cobaaan dan bencana dunia akhirat. Salam juga berarti ungkapan
> Kepasrahan/ ketundukan kepada Sunnatulloh ( Quran Hadits). Menurut
> Imam Shadiq "salam adalah orang yang melaksanakan perintah Alloh
dan
> melakukan sunnah Rosulillah dengan ikhlas (intinya Ahad dan
Ahmad),
> juga selamat  dari bencana dunia dan akhirat. Salam juga bermakna
> penghormatan kepada hamba yang sholih (assalamu alaina wa ala
> ibadilahis sholihin) dan malaikat pencatat amal
> >  Al Futuhat al Makkiyah, Karangan Ibnu Aroby, merujuk empat
> perjalanan akal dalam bab 69 tentang rahasia rahasia shalat
sebagai
> perjalanan spiritual manusia. Perintah sholat 51 rokaat kepada
Nabi
> Muhammad saw saat isro miroj: Tuhan memerintahkan hambaNya itu
> supaya setiap Muslim setiap hari sembahyang limapuluh kali.
Kemudian
> untuk umatnya menjadi 17 rokaat wajib di lima waktu dan sisanya 34
> rokaat menjadi sunah muakkad- qobliyah dan bakdiya.
> > Mulla Shadra dalam bukunya al Asfar al Arba'ah mengatakan:
> > "Ketahuilah bahwa para pesuluk diantara orang Arif/ Irfan dan
para
> Wali menempuh empat perjalanan akal :
> >
> > Perjalanan makhluk kepada kebenaran –diskusi metafisika umum
(min
> al khalq ila al Haq)
> > Pesuluk mempelajari dasar-dasar metafisika umum dan
> dalilnya.pesuluk cenderung pada kajian semantik dan metafisika
dasar
> terhadap firman Ttuhan dalam Quran.
> >
> > Perjalanan bersama kebenaran didalam  kebenaran- pengalaman
> metafisika khusus dengan pengalaman pribadi (bi al Haq fi al Haq)
> > Pesuluk akan melihat sifat dan namaNya yang tertinggi baik nama
> yang mewujudkan rahmatNya dan murkaNya. Hukum nama nama Alloh ini
di
> dalam kejamakannya akan mewujud di dalam diri pesuluk.Hal ini
> dikenal dengan makam wahidiyah atau tujuh substansi halus
(lataif).
> Pesuluk akan mengalami rasa takut dan harapan (al khauf wa al raja)
> >
> > Perjalanan dari Kebenaran menuju makhluk  (min al Haq ila al al
> khalq)
> > Setelah mengalami fase peniadaan diri,pesuluk menerima karunia
> Tuhan dan kembali kepada kesadaran diri. Pesuluk menyaksikan
> penciptaan dan alam kejamakan dalam diri makhluk tetapi dengan
mata
> yang lain, dengan pendengaran yang berbeda. Puncak perjalan ketiga
> membawa pesuluk menuju kesucian/Wilayah(kewalian)
> >
> > Perjalanan bersama Kebenaran di dalam makhluk (bi al Haq fi al
> khalq)
> > Maqam penetapan hukum dan pembedaan dari baik dan buruk.ini
adalah
> derajat kenabian,penetapan hukum dan kepemimpinan atas umat
manusia
> yang berhubungan dengan urusan urusan mereka yang beragam dan
> berbeda-beda serta bagaimana mereka saling berinteraksi satu sama
> lain. seorang `arif tak akan benar-benar mencapai maqam spiritual
> tertinggi jika tidak memanifestasikan keimanan-puncak, yang telah
> diraihnya lewat dua perjalanan pertama, dalam bentuk concern
sosial
> politik untuk mereformasi masyarakat dan membebaskan kaum
tertindas
> dari rantai penindasannya.Tidak lain maqam penetapan hukum
> (legislatif) atau melibatkan diri dalam kemasyarakatan dan
hubungan
> social, merupakan perwujudan penebaran salam kepada makhluk yaitu
> Salaamun Qawlam Mir Rabbir Raheem yang merupakan inti tafsir      
> Yaa Sin.
> >
> > --- On Sun, 7/20/08, mang dipo <dipo1601@> wrote:
> >
> > From: mang dipo <dipo1601@>
> > Subject: [Spiritual-Indonesia] Kejawen Islam
> > To: Spiritual-Indonesia <mailto:Spiritual-Indonesia%
40yahoogroups.com>

> @yahoogroups.com
> > Date: Sunday, July 20, 2008, 1:46 AM
> >
> >
> >
> >
> >
> >
> >
> >
> >
> > Mari kita mengutip satu tembang Jawa
> > Tak uwisi gunem iki                      saya akhiri pembicaraan
> ini
> > Niyatku mung aweh wikan           saya hanya ingin memberi tahu
> > Kabatinan akeh lire                      kabatinan banyak
macamnya
> > Lan gawat ka liwat-liwat              dan artinya sangat gawat
> > Mulo dipun prayitno                      maka itu berhati-hatilah
> > Ojo keliru pamilihmu                     Jangan kamu salah pilih
> > Lamun mardi kebatinan                  kalau belajar kebatinan
> >
> > Tembang ini menggambarkan nasihat seorang tua (pinisepuh) kepada
> mereka yang ingin mempelajari kabatinan cara kejawen. Kiranya
perlu
> dipahami bahwa tujuan hakiki dari kejawen adalah berusaha
> mendapatkan ilmu sejati untuk mencapai hidup sejati, dan berada
> dalam keadaan harmonis hubungan antara kawula (manusia) dan Gusti
> (Pencipta) ( jumbuhing kawula Gusti ) /pendekatan kepada Yang Maha
> Kuasa secara total.
> >
> > Keadaan spiritual ini bisa dicapai oleh setiap orang yang
percaya
> kepada Tuhan, yang mempunyai moral yang baik, bersih dan jujur.
> beberapa laku harus dipraktekkan dengan kesadaran dan ketetapan
hati
> yang mantap. Pencari dan penghayat ilmu sejati diwajibkan untuk
> melakukan sesuatu yang berguna bagi semua orang serta  melalui
> kebersihan hati dan tindakannya. Cipta, rasa, karsa dan karya
> (kuasa) harus baik, benar, suci dan ditujukan untuk mamayu
hayuning
> bawono. Ati suci jumbuhing Kawulo Gusti : hati suci itu adalah
> hubungan yang serasi antara Kawulo dan Gusti,  kejawen merupakan
> aset dari orang Jawa tradisional  yang berusaha memahami dan
mencari
> makna dan  hakekat hidup yang mengandung nilai-nilai.
> >
> > Dalam budaya jawa dikenal adanya simbolisme, yaitu suatu faham
> yang menggunakan lambang atau simbol untuk membimbing pemikiran
> manusia kearah pemahaman terhadap suatu hal secara lebih dalam.
> Manusia mempergunakan simbol sebagai media penghantar komunikasi
> antar sesama dan segala sesuatu yang dilakukan manusia merupakan
> perlambang dari tindakan atau bahkan karakter dari manusia itu
> selanjutnya. Ilmu pengetahuan adalah simbol-simbol dari Tuhan,
yang
> diturunkan kepada manusia, dan oleh manusia simbol-simbol itu
> ditelaah dibuktikan dan kemudian diubah menjadi simbol-simbol yang
> lebih mudah difahami agar bisa diterima oleh manusia lain yang
> memiliki daya tangkap yang berberda-beda.
> >
> > Biasanya sebutan orang Jawa adalah orang yang hidup di wilayah
> sebelah timur sungai Citanduy dan Cilosari. Bukan berarti wilayah
di
> sebelah barat-nya bukan wilayah pulau Jawa. Masyarakat Jawa adalah
> masyarakat yang menjunjung tinggi rasa kekeluargaan dan suka
> bergotong royong dengan semboyannya "saiyeg saekoproyo " yang
> berarti sekata satu tujuan.
> >
> > Kisah suku Jawa diawali dengan kedatangan seorang satriya
> pinandita yang bernama Aji Saka, sampai kemudian satriya itu
menulis
> sebuah sajak yang kemudian sajak tersebut diakui menjadi huruf
jawa
> dan digunakan sebagai tanda dimulainya penanggalan tarikh Caka.
> >
> > Kejawena dalah faham orang jawa atau aliran kepercayaan yang
> muncul dari masuknya berbagai macam agama ke jawa. Kejawen
mengakui
> adanya Tuhan Gusti Allah tetapi juga mengakui mistik yang
berkembang
> dari ajaran tasawuf agama-agama yang ada.
> >
> > Tindakan tersebut dibagi  tiga bagian yaitu tindakan simbolis
> dalam religi, tindakan simbolis dalam tradisi dan tindakan
simbolis
> dalam seni. Tindakan simbolis dalam religi, adalah contoh
kebiasaan
> orang Jawa yang percaya bahwa Tuhan adalah zat yang tidak mampu
> dijangkau oleh pikiran manusia, karenanya harus di simbolkan agar
> dapat di akui keberadaannya misalnya dengan menyebut Tuhan dengan
> Gusti Ingkang Murbheng Dumadi, Gusti Ingkang Maha Kuaos, Hyang
Manon

> dan sebagainya.
> >
> > Tindakan simbolis dalam tradisi dimisalkan dengan adanya tradisi
> upacara kematian yaitu medo'akan orang yang meninggal pada tiga
> hari, tujuh hari, empatpuluh hari, seratus hari, satu tahun, dua
> tahun, tiga tahun, dan seribu harinya setelah seseorang meninggal
> (tahlillan). Dan tindakan simbolis dalam seni dicontohkan dengan
> berbagai macam warna yang terlukis pada wajah wayang kulit; warna
> ini menggambarkan karakter dari masing-masing tokoh dalam wayang.
> >
> > Perkembangan budaya jawa yang mulai tergilas oleh perkembangan
> teknologi yang mempengaruhi pola pikir dan tindakan orang jawa
dalam
> kehidupan. Maka orang mulai berfikir bagaimana bisa membuktikan
hal
> gaib secara empiris tersebut dengan menggunakan berbagai macam
> metode tanpa mengindahkan unsur kesakralan. Bahkan terkadang
> kepercayaan itu kehilangan unsur kesakralannya karena dijadikan
> sebagai obyek exploitasi dan penelitian.
> >
> > Kebiasaan orang Jawa yang percaya bahwa segala sesuatu adalah
> simbol dari hakikat kehidupan, seperti syarat sebuah rumah harus
> memiliki empat buah soko guru (tiang penyangga) yang melambangkan
> empat unsur alam yaitu tanah, air, api, dan udara, yang ke
empatnya
> dipercaya akan memperkuat rumah baik secara fisik dan mental
> penghuni rumah tersebut. Namun dengan adanya teknologi konstruksi
> yang semakin maju, keberadaan soko guru itu tidak lagi menjadi
> syarat pembangunan rumah. Dengan analisa tersebut dapat
diperkirakan
> bagaimana nantinya faham simbolisme akan bergeser dari budaya
jawa.
> Tapi bahwa simbolisme tidak akan terpengaruh oleh kehidupan
manusia

> tapi kehidupan manusialah yang tergantung pada simbolisme. Dan
> sampai kapanpun simbolisme akan terus berkembang mengikuti
> berputarnya sangkakala.
> >
> > Mangkunegara IV (Sembah dan Budiluhur)
> > Mangkunegara IV memiliki empat ajaran utama yang meliputi sembah
> raga, sembah cipta (kalbu), sembah jiwa, dan sembah rasa.
> >
> > Sembah Raga
> > Sembah raga ialah menyembah Tuhan dengan mengutamakan gerak laku
> badaniah atau amal perbuatan yang bersifat lahiriah. Cara
bersucinya
> sama dengan sembahyang biasa, yaitu dengan mempergunakan air
> (wudhu). Sembah yang demikian biasa dikerjakan lima kali sehari
> semalam dengan mengindahkan pedoman secara tepat, tekun dan terus
> menerus, seperti bait berikut:
> >
> > Sembah raga puniku / pakartining wong amagang laku / sesucine
> asarana saking warih / kang wus lumrah limang wektu / wantu
wataking
> wawaton
> >
> > Sembah raga, sebagai bagian pertama dari empat sembah yang
> merupakan perjalanan hidup yang panjang ditamsilkan sebagai orang
> yang magang laku (calon pelaku atau penempuh perjalanan hidup
> kerohanian), orang menjalani tahap awal kehidupan bertapa (sembah
> raga puniku, pakartining wong amagang laku). Sembah ini didahului
> dengan bersuci yang menggunakan air (sesucine asarana saking
warih).
> Yang berlaku umum sembah raga ditunaikan sehari semalam lima kali.
> Atau dengan kata lain bahwa untuk menunaikan sembah ini telah
> ditetapkan waktu-waktunya lima kali dalam sehari semalam (kang wus
> lumrah limang wektu). Sembah lima waktu merupakan shalat fardlu
yang

> wajib ditunaikan (setiap muslim) dengan memenuhi segala syarat dan
> rukunnya (wantu wataking wawaton). Sembah raga yang demikian ini
> wajib ditunaikan terus-menerus tiada henti (wantu) seumur hidup.
> Dengan keharusan memenuhi segala ketentuan syarat dan rukun yang
> wajib dipedomani (wataking wawaton). Watak suatu
> > waton (pedoman) harus dipedomani. Tanpa mempedomani syarat dan
> rukun, maka sembah itu tidak sah.
> >
> > Sembah raga tersebut, meskipun lebih menekankan gerak laku
> badaniah, namun bukan berarti mengabaikan aspek rohaniah, sebab
> orang yang magang laku selain ia menghadirkan seperangkat
fisiknya,
> ia juga menghadirkan seperangkat aspek spiritualnya sehingga ia
> meningkat ke tahap kerohanian yang lebih tinggi.
> >
> > Sembah Cipta( Kalbu )
> > Sembah ini kadang-kadang disebut sembah cipta dan kadang-kadang
> disebut sembah kalbu, seperti terungkap pada Pupuh Gambuh bait 1
dan
> Pupuh Gambuh bait 11 berikut :
> > Samengkon sembah kalbu / yen lumintu uga dadi laku / laku agung
> kang kagungan narapati / patitis teteking kawruh / meruhi marang
> kang momong.
> >
> > Apabila cipta mengandung arti gagasan, angan-angan, harapan atau
> keinginan yang tersimpan di dalam hati, kalbu berarti hati , maka
> sembah cipta di sini mengandung arti sembah kalbu atau sembah
hati,
> bukan sembah gagasan atau angan-angan.
> > Apabila sembah raga menekankan penggunaan air untuk membasuh
> segala kotoran dan najis lahiriah, maka sembah kalbu menekankan
> pengekangan hawa nafsu yang dapat mengakibatkan terjadinya
berbagai
> pelanggaran dan dosa (sucine tanpa banyu, amung nyunyuda hardaning
> kalbu).
> >
> > Thaharah (bersuci) itu, demikian kata Al-Ghazali, ada empat
> tingkat.
> > Pertama,membersihka n hadats dan najis yang bersifat lahiriah.
> > Kedua,membersihkan anggota badan dari berbagai pelanggaran dan
> dosa.
> > Ketiga,membersihkan hati dari akhlak yang tercela dan budi
pekerti
> yang hina.
> > Keempat,membersihka n hati nurani dari apa yang selain Allah.
Dan
> yang keempat inilah taharah pada Nabi dan Shiddiqin.
> >
> > Jika thaharah yang pertama dan kedua menurut Al-Ghazali masih
> menekankan bentuk lahiriah berupa hadats dan najis yang melekat di
> badan yang berupa pelanggaran dan dosa yang dilakukan oleh anggota
> tubuh. Cara membersihkannya dibasuh dengan air. Sedangkan kotoran
> yang kedua dibersihkan dan dibasuh tanpa air yaitu dengan menahan
> dan menjauhkan diri dari pelanggaran dan dosa. Thaharah yang
ketiga
> dan keempat juga tanpa menggunakan air. Tetapi dengan membersihkan
> hati dari budi jahat dan mengosongkan hati dari apa saja yang
selain

> Allah.
> >
> > Sembah Jiwa
> > Sembah jiwa adalah sembah kepada Hyang Sukma ( Allah ) dengan
> mengutamakan peran jiwa. Jika sembah cipta (kalbu) mengutamakan
> peran kalbu, maka sembah jiwa lebih halus dan mendalam dengan
> menggunakan jiwa atau al-ruh. Sembah ini hendaknya diresapi secara
> menyeluruh tanpa henti setiap hari dan dilaksanakan dengan tekun
> secara terus-menerus, seperti terlihat pada bait berikut:
> > Samengko kang tinutur / Sembah katri kang sayekti katur / Mring
> Hyang Sukma suksmanen saari-ari / Arahen dipun kecakup / Sembahing
> jiwa sutengong.
> >
> > Dalam rangkaian ajaran sembah Mangkunegara IV yang telah disebut
> terdahulu, sembah jiwa ini menempati kedudukan yang sangat
penting.
> Ia disebut pepuntoning laku (pokok tujuan atau akhir perjalanan
> suluk). Inilah akhir perjalanan hidup batiniah. Cara bersucinya
> tidak seperti pada sembah raga dengan air wudlu atau mandi, tidak
> pula seperti pada sembah kalbu dengan menundukkan hawa nafsu,
tetapi
> dengan awas emut (selalu waspada dan ingat/dzikir kepada keadaan
> alam baka/langgeng) , alam Ilahi.
> >
> > Betapa penting dan mendalamnya sembah jiwa ini, tampak dengan
> jelas pada bait berikut :
> > Sayekti luwih perlu / ingaranan pepuntoning laku / Kalakuan kang
> tumrap bangsaning batin / Sucine lan awas emut / Mring alaming
lama
> amota.
> >
> > Berbeda dengan sembah raga dan sembah kalbu, ditinjau dari segi
> perjalanan suluk, sembah ini adalah tingkat permulaan (wong
amagang
> laku) dan sembah yang kedua adalah tingkat lanjutan. Ditinjau dari
> segi tata cara pelaksanaannya, sembah yang pertama menekankan
> kesucian jasmaniah dengan menggunakan air dan sembah yang kedua
> menekankan kesucian kalbu dari pengaruh jahat hawa nafsu lalu
> membuangnya dan menukarnya dengan sifat utama. Sedangkan sembah
> ketiga menekankan pengisian seluruh aspek jiwa dengan dzikir
kepada
> Allah seraya mengosongkannya dari apa saja yang selain Allah.
> >
> > Pelaksanaan sembah jiwa ialah dengan berniat teguh di dalam hati
> untuk mengemaskan segenap aspek jiwa, lalu diikatnya kuat-kuat
untuk
> diarahkan kepada tujuan yang hendak dicapai tanpa melepaskan apa
> yang telah dipegang pada saat itu. Dengan demikian triloka (alam
> semesta) tergulung menjadi satu. Begitu pula jagad besar dan jagad
> kecil digulungkan disatupadukan. Di situlah terlihat alam yang
> bersinar gemerlapan. Maka untuk menghadapi keadaan yang menggumkan
> itu, hendaklah perasaan hati dipertebal dan diperteguh jangan
> terpengaruh apa yang terjadi. Hal yang demikian itu dijelaskan
> Mangkunegara IV pada bait berikut:
> > "Ruktine ngangkah ngukud / ngiket ngruket triloka kakukud /
jagad
> agung ginulung lan jagad alit / den kandel kumandel kulup / mring
> kelaping alam kono."
> >
> > Sembah Rasa
> > Sembah rasa ini berlainan dengan sembah-sembah yang sebelumnya.
Ia
> didasarkan kepada rasa cemas. Sembah yang keempat ini ialah sembah
> yang dihayati dengan merasakan intisari kehidupan makhluk semesta
> alam,  demikian menurut Mangkunegara IV.
> > Jika sembah kalbu mengandung arti menyembah Tuhan dengan alat
> batin kalbu atau hati seperti disebutkan sebelumnya, sembah jiwa
> berarti menyembah Tuhan dengan alat batin jiwa atau ruh, maka
sembah
> rasa berarti menyembah Tuhan dengan menggunakan alat batin inti
ruh.

> Alat batin yang belakangan ini adalah alat batin yang paling dalam
> dan paling halus yang menurut Mangkunegara IV disebut telenging
> kalbu (lubuk hati yang paling dalam) atau disebut wosing jiwangga
> (inti ruh yang paling halus).
> > Dengan demikian menurut Mangkunegara IV, dalam diri manusia
> terdapat tiga buah alat batin yaitu, kalbu, jiwa/ruh dan inti
> jiwa/inti ruh (telengking kalbu atau wosing jiwangga) yang
> memperlihatkan susunan urutan kedalaman dan kehalusannya.
> >
> > Pelaksanaan sembah rasa itu tidak lagi memerlukan petunjuk dan
> bimbingan guru seperti ketiga sembah sebelumnya, tetapi harus
> dilakukan salik sendiri dengan kekuatan batinnya, seperti
> diungkapkan Mangkunegara IV dalam bait berikut:
> > Semongko ingsun tutur / gantya sembah lingkang kaping catur /
> sembah rasa karasa wosing dumadi / dadi wus tanpa tuduh / mung
> kalawan kasing batos.
> >
> > Apabila sembah jiwa dipandang sebagai sembah pada proses
> pencapaian tujuan akhir perjalanan suluk (pepuntoning laku), maka
> sembah rasa adalah sembah yang dilakukan bukan dalam perjalanan
> suluk itu, melainkan sembah yang dilakukan di tempat tujuan akhir
> suluk. Dengan kata lain, seorang salik telah tiba di tempat yang
> dituju. Dan di sinilah akhir perjalanan suluknya. Untuk sampai di
> sini, seorang salik masih tetap dibimbing gurunya seperti telah
> disebut di muka. Setelah ia diantarkan sampai selamat oleh gurunya
> untuk memasuki pintu gerbang, tempat sembah yang keempat, maka
> selanjutnya ia harus mandiri melakukan sembah rasa.
> >
> > Pada tingkatan ini, seorang salik dapat melaksanakan sendiri
> sembah rasa sesuai petunjuk-petunjuk gurunya. Pada tingkat ini ia
> dipandang telah memiliki kematangan rohani. Oleh karena itu, ia
> dipandang telah cukup ahli dalam melakukan sembah dengan
> mempergunakan aspek-aspek batiniahnya sendiri.
> >
> > Di sini, dituntut kemandirian, keberanian dan keteguhan hati
> seorang salik, tanpa menyandarkan kepada orang lain. Kejernihan
> batinlah yang menjadi modal utama. Hal ini sesuai dengan wejangan
> Amongraga kepada Tambangraras dalam Centini bait 156. Sembah
> tersebut, demikian dinyatakan Amongraga, sungguh sangat mendalam,
> tidak dapat diselami dengan kata-kata, tidak dapat pula dimintakan
> bimbingan guru. Oleh karena itu, seorang salik harus
merampungkannya
> sendiri dengan segala ketenangan, kejernihan batin dan kecintaan
> yang mendalam untuk melebur diri di muara samudera luas tanpa tepi
> dan berjalan menuju kesempurnaan. Kesemuanya itu tergantung pada
> diri sendiri, seperti terlihat pada bait berikut:
> > Iku luwih banget gawat neki / ing rarasantang keneng rinasa /
tan
> kena ginurokake / yeku yayi dan rampung / eneng onengira kang
> ening / sungapan ing lautan / tanpa tepinipun / pelayaran ing
> kesidan / aneng sira dewe tan Iyan iku yayi eneng ening wardaya.
> >
>


Reply | Threaded
Open this post in threaded view
|  
Report Content as Inappropriate

Re: To mas Bambang -Re: Kejawen Islam ( AJI PAMELENG )

Wal Suparmo
Salam,
Meditasi atau MANEKUNG dalam  salah satu mazhab Kejawen adalah HENING,HENENG dan HAWAS. 
Wasalam,
Wal suparmo
--- On Mon, 21/7/08, bambang satrio <[hidden email]> wrote:

From: bambang satrio <[hidden email]>
Subject: To mas Bambang -[Spiritual-Indonesia] Re: Kejawen Islam ( AJI PAMELENG )
To: [hidden email]
Date: Monday, 21 July, 2008, 8:06 PM






RAHAYU

Mas Drajat...

Saya pribadi dalam meditasi, nggak menggunakan methode yang
diajarkan Seh Sitijenar secara keseluruhan, terutama dengan menahan
PERNAPASAN. Jadi hanya dikir saja. Tetapi itu sudah lama tidak saya
lakukan, kira=kira 5 tahun yang lalu. Sekarang hanya DIAM, MENENG
berusaha WENING.

Tetapi waktu masih menggunakan dikir, memang pernah ada pengalaman
tertentu. Mendengar suara LEMAH LEMBUT dalam hati (disalahke yo ra
popo mas, wong mendengar kok pakai hati), tetapi yang jelas, ucapan
itu sangat berguna bagi saya pribadi.

Untuk meditasi...Sunan Kudus maupun Sunan Kalijaga, saya nggak
mengerti mas. Maaf, bener-bener nggak tahu, jadi nggak bisa
komentar.

RAHAYU. bs

--- In Spiritual-Indonesia @yahoogroups. com, "Sudrajat"
<sudrajat@.. .> wrote:

>
>
> Dear mas Bambang S.
>
>
> Artikel….yang melengkapi…, apiikk…langsung saya
> simpen..meskipun belum di print.
>
> Cuma ada pertanyaa…sedikit… boleh ?.
>
> - Meditasi….Syeikh Siti Jennar …., bagaimana…ya. ?
>
> - Meditasi… Sunan Kudus…., beda …lho…?.
>
> - Meditasi….Sunan Kali Jaga…mungkin juga berbeda dengan
kedua

> tokoh itu.
>
> Mungkin…, bisa sedikit di singgung ? – ya,…biar dongengnya.. semakin
> seru..dan ramai.
>
>
> Thanks / Sudrajat
>
>
>
> -----Original Message-----
> From: Spiritual-Indonesia @yahoogroups. com
> [mailto:Spiritual-Indonesia @yahoogroups. com] On Behalf Of bambang
satrio

> Sent: Sunday, July 20, 2008 6:11 PM
> To: Spiritual-Indonesia @yahoogroups. com
> Subject: [Spiritual-Indonesi a] Re: Kejawen Islam ( AJI PAMELENG )
>
> RAHAYU
>
> Salam Kenal Mang Dipo dan Mas Bus.
> Hanya sekedar menambahkan tentang asal usul KEJAWEN ISLAM, semoga
> ada gunanya buat rekan-rekan SI semua :
>
> AJI PAMELENG
>
> Tegesipun aji = ratu, pameleng = pasamaden; mengku pikajeng :
> tandaning sedya ingkang luhur piyambak. Dene empaning pandamelan
wau
> winastan manekung, pujabrata, mesu budi, mesu cipta, ngeningaken
> utawi angluhuraken paningal, matiraga lan sasaminipun.
>
> Papan ingkang kangge nindakaken wau panepen, panekungan, pamujan,
> pamurcitan, pamursitan, pahoman, paheningan lan sanes-sanesipun.
> Dene wedharing kawruh winastan daiwan, dawan, tirtaamerta,
> tirtakamandhanu, tirtanirwala, mahosadi, kawasanan, kawaspadan,
> kawicaksanaan, sastracetha, utawi sastrajendrayuningr at
pangruwating
> diyu lan sapanunggalanipun.
>
> Menggah pigunanipun kawruh lan pandamel wau, perlu kangge
sarananing
> panembah murid manggih kawilujengan, margi saged anindakaken
dhateng
> sawarnaning pandamel sae, punapadene kangge sarana duk kita darbe
> sedya nunuwun kanugrahaning gesang kita pribadi (Pangeran), inggih
> nunuwun bab punapa kemawon ingkang limrah kenging linampahan
saking
> pandamel kita ingkang boten tilar murwat.
>
> Wondene purwanipun ing jagad teka wonten kawruh pasamaden, bilih
> miturut saking tembung-tembungipun , sanyata kathah ingkang nagngge
> basa Sansekrit; yen makaten tetela manawi wimbaning kawruh
pasamaden
> wau saking tumitising kawicaksananipun bangsa Indhu ing jaman kina
> makina, ingkang sampun boten kasumerepan petang ewoning taun.
> Bokmanawi kemawon papantaranipun kalihan nalika bangsa Indhu
> amurwani iyasa candhi dalah reca-recanipun. Dene kawruh wau ing
> sakawit inggih namung kangge bangsa Indhu, boten nawang bangsa
Indhu
> ingkang agami punapa kemawon, katamtokaken mesthi ngrasuk
pasamaden.
> Awit inggih namung kawruh pasamaden punika ingkang dados mukaning
> saliring kawruh sajagad, lan ugi dados pangajenging piwulan agami.
>
> Ing ngalami lami bangsa Indhu sami lumeber dhateng ing Tanah Jawi
> lan sanes sanesipun, serta sami anggelaraken agaminipun tuwin
kawruh
> sanes sanesipun; makaten ugi kawruh pasamaden inggih boten kantun.
> Kawruh pamasaden wonten ing Tanah Jawi saget ngrembaka tuwuhipun,
> margi bangsa Jawi tan pilih drajad sami remen puruita lan saged
> nandangaken dating pangolahing kawruh punika, awit kawruh wau
saget
> nocoki kalihan dhadhasaring pamanahipun titiyang Jawi, mila
kalayan

> gampil rumasukipun wonten ing balung sungsuming titiyang Jawi.
> Kasembuh malih saking kathahing bangsa Indhu kados sinuntak sami
> angajawi, nedya anggelar agami Jawi lan kawruh kawicaksananipun.
> Bebasan sakedeping netra, bangsa Jawi ing sa'indhengipun maratah
> sampun sami angrasuk agami Indhu, lan ugi sampun sami saget
> ngraosaken kabegjan, kamulyan, kawilujengan lan sasaminipun, margi
> saking wohing kawruh pandamel wau.
>
> Ing wusana katungka dhatengipun titiyang bangsa Arab sami lumebet
> ing Tanah jawi, ingkang ugi ambekta kawruh lan agaminipun
Mohammad,
> kasebut agami Islam, temah nyunyuda tumangkaring agami Indhu,
sebab
> lajeng wonten ingkang angrasuk agami Islam. Namung kemawon
wedharing

> agami Islam boten andarbeni kawruh pasamaden, kados kasebut ing
> nginggil.
>
> Sareng golonganipun tiyang Islam sampun saget ngendhih Nagari,
> inggih punika adeging Karaton Bintara (Demak), ing ngriku lajeng
> angawisi kalayan kenceng, titiyang Jawi boten kenging anindakaken
> kawruh pasamaden, mekaten ugi sami kinen nilar agaminipun lami,
> serta kedah santun angrasuk agami Islam.
>
> Ananging boten ta manawi bangsa Jawi lajeng anut purun santun
agami
> Islam sadaya, purunipun wau namung margi saking ajrih paukuman
> wisesaning Nata, dados Islam-ipun wau namung wonten ing lahir
> kemawon, utawi Islam pangaran-aran, yen batosipun taksih
angrungkepi
> agamipun lami. Milo bab kawruh pasamaden inggih taksih lajeng
> katindakaken, ananging pamulang pamedharing kawruh pasamaden wau,
> ingkang karan nama wejangan (wijang-wijang) sarana lampah
> dhedhemitan, katindakaken ing wanci ndalu sasampunipun jam 12, ugi
> papaning pamejang boten kenging kaubah wangon, kadosta ing ara-
ara,
> ing wana, ing lepen lan sasaminipun ing papan ingkang sepen.
> Pamejangipun srana bisikan boten kenging kapireng ngasanes,
sanadyan
> suket godhong, kewan tuwin bangsanipun gegremetan kutu-kutu
> walangataga ugi boten kenging miring, yen miring lajeng malih
dados
> manungsa. Mila linggihipun Kyai Guru ajeng-ajengan aben bathuk
> kaliyan pun murid, serta sanget pamantos-mantosipun Kyai Guru, pun
> murid boten kenging nularaken wewejanganipun (kawruhipun) dhateng
> tiyang sanes, bilih dereng angsal palilah Guru, yen nerak bade
> angsal wilalat manggih sapudendhaning Pangeran. Panindak ingkang
> mekaten punika, purwanipun namung tetep kangge panjagi, supados
> pamulanging kawruh pasamaden boten katupiksan dhateng
pamarintahing
> agami Islam. Sebab yen ngantos kasumerepan, tamtu manggih pidana.
>
> Dumuginipun ing jaman samangke, sanadyan Nagari sampun boten
> angarubiru dhateng wontenipun wewejangan kawruh pasamaden, nanging
> panindaking wejangan wau taksih kalestantunaken sarana dhedhemitan
> kados kawursita ing nginggil. Mila lajeng angsal paparab saking
> panyedaning titiyang ingkang boten remen, utami tiyang ingkang
> anglampahi sarengating agami Islam, bilih wontening wejangan
kawruh
> pasamaden wau lajeng kawastan ilmu klenik. Purwo saking tembung
> klenik, lajeng angandhakaken tembung abangan lan putihan. Ingkang
> kasebut abangan punika tiyang ingkang boten nindakaken saraking
> agami Islam, dene putihan mastani tiyang Jawi ingkang teluh
manjing

> agami Islam sarta anglampahi sadaya sarak sarengating agami Islam
> wau, inggih punika ingkang kasebut nama santri. Mila santri karan
> putihan, margi miturut panganggenipun titiyang agami Islam, bilih
> santri punika sarwo-sarwi langkung resik utawi suci tinimbang
> kaliyan titiyang ingkang boten angrasuk agami Islam.
>
> Mangsuli wontening kawruh pasamaden anggenipun sanget winados,
> menggah ingkang dados sababipun kapretalakaken ing nginggil. Dene
> yen saleresipun ingkang nama wados-wados wau pancen boten wonten;
> dados inggih kenging-kenging kemawon kawulangaken dhateng sok
> tiyanga, boten mawang nem sepuh, serta kenging kawejangaken ing
> sawanci-wancinipun, uger tiyang wau pancen ambetahaken kawruh
> pasamaden kasebat. Sebab wontenipun sadaya punika supados
> kasumerepan dhateng ingakathah, langkung-langkung kawruh pasamaden
> punika ingkang sanyata dados mukaning sadaya kawruh. Mila wajib
> sinebar dados seserepaning tiyang nem sepuh wadarin ing
> saindengipun, tanpa nawang andhap inggiling darajadipun.
>
> Amarengi wahyaning mangsakala, wusana wonten kaelokaning
lalampahan
> ingkang boten kanyana-nyana; ing pawingkingipun bab kawruh
pasamaden
> wau lajeng muncul katampen dhateng tiyang Islam, margi yakin bilih
> kawruh pasamaden wau, pancen musthikaning gagayuhan ingkang saged
> andhatengaken ing kawilujengan, kamulyan, katentreman, lan
> sasaminipun. Mila kawruh wau dening tiyang ingkang sampun suluh
> papadhanging raosipun inggih punika Seh Sitijenar, ingkang ugi
dados
> pramugarining agami Islam apangkat Wali, lajeng kadhapuk ing
ndalem

> serat karanganipun, ingkang lajeng winastan daim, wirid saking
> tembung daiwan kasebut ing nginggil. Punapadene lajeng kaewoaken
> dados saperanganing panembah, sarana dipun wewahi tembungipun,
> lajeng mungel : salat daim (salat - basa arab, daim saking daiwan
> basa Sansekrit). Milanipun dipun wewahi basa arab, namung
> kawigatosan kangge mikekahaken kapitadosanipun murid-muridipun
> ingkang sampun sami necep agami Islam. Punapadene tembung salat
> lajeng kapilah kalih prakawis. Sapisan salat 5 wekdal, kasebut
> salat sarengat, ateges panembah lahir. Kaping kalih salat daim,
> punika panembahing batos; mangertosipun : anekadaken manunggaling
> pribadinipun, utawi kasebut loroning atunggil.
> Kitab karanganipun Seh Sitijenar wau lajeng kangge paugeraning
> piwulang. Sareng sampun angsal kawigatosaning ngakathah, ing
ngriku
> salat 5 wekdal lan sarak agami sanes-sanesipun lajeng kasuwak
boten
> kawulangaken babar pisan. Ingkang pinindeng namung mumuruk
> tumindaking salat daim kemawon. Mila titiyang Jawi ingkang suwau
> manjing agami Islam, langkung-langkung ingkang dereng, lajeng sami
> ambyuk maguru dhateng Seh Sitijenar, margi piwulangipun langkung
> gampil, terang lan nyata.
>
> Wondene purwanipun Seh Sitijenar kaserenan kawruh pasamaden,
ingkang

> mijeni Kyai Ageng Pengging, sebab Seh Sitijenar punika
> mitradarmanipun Kyai Ageng Pengging. Kawruh pasamaden, dening Seh
> Sitijenar lajeng katularaken Raden Watiswara, inggih Pangeran
> Panggung, ingkang ugi apangkat Wali. Lajeng tunimbal dhateng Sunan
> Geseng, inggih Ki Cakrajaya, tiyang asal saking Pagelen, ingkang
> kacarios saderengipun dados Wali, Ki Cakrajaya wau pandamelanipun
> anderes nitis gendhis. Salajengipun sumrambah kawiridaken dhateng
> ingakatah. Makaten ugi sakabat-sakabatipun Seh Sitijenar ingkang
> sampun kabuka raosipun, dening Seh Sitijenar kinen sami madeg
> paguron amiridaken kawruh pasamaden wau. Sangsaya dangu sangsaya
> ngrebda, anyuremaken panguwaosing para Wali, anggenipun
amencaraken
> piwulang agami Islam. Yen kalajeng-lajeng masjid saestu badhe
suwung.

>
> Ngawekani sampun ngantos wonten kadadosan ingkang makaten, temah
> Kyai Ageng Pengging tuwin Seh Sitijenar sasekabatipun ingkang sami
> pinejahan katigas jangganipun dening para Wali, saking dhawuhipun
> Sultan Demak. Makaten ugi Pangeran Panggung boten kantun, kapidana
> kalebetaken ing brama gesang-gesangan wonten samadyaning alun-alun
> Demak, kangge pangewan-ewan murih titiyang sami ajrih, lajeng sami
> mantuni utawi nglepeh piwulangipun Seh Sitijenar.
>
> Kacariyos sariranipun Pangeran Panggung boten tumawa dening
> mawerdining Hyang Brama, lajeng oncat medal saking salebeting latu
> murub, nilar nagari Demak. Kanjeng Sultan Bintara tuwin para Wali
> sami kablerengen kaprabawan katiyasaning Pangeran Panggung, temah
> kamitenggengen kadi tugu sinukarta. Sareng sampun sawatawis tebih
> tindakipun Sang Pangeran, Kanjeng Sultan tuwin para Wali saweg
sami
> enget bilih Pangeran Panggung kalis saking pidana, temah sami
rumaos
> kawon angsal sihing Pangeran. Katungka unjuking wadyabala, atur
> uninga bilih Sunan Geseng, inggih Ki Cakrajaya, kesah anututi
> lampahipun Pangeran Panggung. Ing ngriku Kanjeng Sultan katetangi
> dukanipun, temah dhawahing bendu, para sakabat tuwin murid-
muridipun

> Seh Sitijenar ingkang kapikut lajeng sami pinejahan. Ingkang boten
> kacepeng sami lumajar pados gesang.
>
> Para sakabatipun Seh Sitijenar ingkang taksih wilujeng
> kakantunanipun ingkang sami pejah, ugi taksih sami madeg paguron
> nglestantunaken pencaring kawruh pasamaden, nanging mawi sislintru
> tinutupan wuwulang sarengating agami Islam, murih boten ka'arubiru
> dening para Wali pramugarining praja. Dene piwulangipun kados ing
> ngandhap punika :
>
> Pamulanging kawruh pasamaden ingkang lajeng karan salat daim,
> karangkepan wuwulang salat 5 wekdal tuwin rukuning Islam sanes-
> sanesipun malih. Wewejanganipun salat daim wau lajeng winastan
> wiridan naksobandiyah, dene panindaking piwulang kawastan tafakur.
> Saweneh wonten ingkang pamulangipun ing saderengipun para murid
> nampi wiridan salat daim, langkung rumiyin kalatih lampah
> dhidhikiran lan maos ayat-ayat. Wiwit punika wuwulangan pasamaden
> lajeng wonten wanrni kalih, inggih punika :
>
> 1. Piwulang pasamaden wiwiridan saking para sekabatipun Seh
> Sitijenar, ingkang sarana tinutupan utawi aling-aling sarak
rukuning
> agami Islam. Wuwulangan wau dumuginipun ing jaman samangke sampun
> mleset saking jejer ing sakawit, mila para guru samangke, ingkang
> sami miridaken kawruh pasamaden, ingkang dipun santuni nama
> naksobandiyah utawi satariyah, nginten bilih kawruh wau wiwiridan
> saking ngulami ing Jabalkuber (Mekah). Salajengipun para Kyai guru
> wau, amastani guru klenik dhateng para ingkang sami miridaken
kawruh
> pasamaden miturut wawaton Jawi pipiridan saking Seh Sitijenar.
> Punapadene para Kyai guru wau nyukani paparab nama Kiniyai,
> pikajengipun : guru ingkang mulangaken ilmuning setan. Dene nama
> Kyai, punika guru ingkang mulangaken ilmuning para nabi.
>
> 2. Piwulang pasamaden miturut Jawi, wiji saking Kyai Ageng
> Pengging, ingkang kapencaraken dening Seh Sitijenar (ingkang ing
> samangke karan klenik), punika ing sakawit, ingkang dados
purwaning
> piwulang, dumunung wonten panggulawenthahing wawatekan 5 prakawis,
> kados ing ngandhap punika :
>
> 1. Setya tuhu utawi temen lan jujur.
> 2. Santosa, adil paramarta, tanggeljawab boten lewerweh.
> 3. Leres ing samubarang damel, sabar welas asih ing sasami,
> boten ngunggul-unggulaken dhirinipun, tebih saking watak
panganiaya.
> 4. Pinter saliring kawruh, langkung-langkung pinter ngecani
> manahing sasami-sami, punapadene pinter angereh kamurkaning manah
> pribadi, boten anguthuh melik anggendhong lali, margi saking
> dayaning mas picis rajabrana.
> 5. Susila anor-raga, tansah nganggeni tatakrami, maweh
> rereseping paningal tuwin sengseming pamiharsa, dhateng ingkang
sami

> kataman.
>
> Lampah 5 prakawis wau kedah linampahan winantu ing pujabrata
> anandangaken ulah samadi, inggih amesu cipta angeningaken
> pranawaning paningal. Awit saking makaten punika mila tumrap
> panindaking agami Jawi (Buda), bab kawruh pasamaden tuwin lampah 5
> prakawis wau kedah kawulangaken dhateng sadaya titiyang enem sepuh
> boten pilih andhap inggiling darajatipun. Mila makaten, sebab
> musthikaning kawruh tuwin luhur-luhuring kamanungsan, punika bilih
> tetep samadinipun, kuwasa anindakaken lampah 5 prakawis kados
> kawursita ing nginggil. Temah kita manggen ing sasananing
> katrenteman, dene wontening katentreman mahanani harja kerta lan
> kamardikan kita sami. Yen boten makaten, ngantos sabujading jagad,
> kita badhe nandhang papa cintraka, kagiles dening rodha jantraning
> jagad, margi kacidraning manah kita pribadi.
>
> Bab kawruh pasamaden ingkang lajeng karan wiridan naksobandiyah
lan
> satariyah, ingkang ing nguni wiwiridan saking Seh Sitijenar,
sampun
> ka'andharaken ing nginggil, namung kemawon tumandangipun boten
> kawedharaken. Ing riki namung badhe anggelaraken lampah
tumandanging
> samadi sacara Jawi, ingkang dereng kacarobosan agami sanes, inggih
> punika makaten :
>
> Para nupiksa, mugi sampun kalintu panampi, bilih samadi punika
> angicalaken rahsaning gesang utawi nyawanipun (gesangipun) medal
> saking badan wadhag. Panampi makaten punika, purwanipun mirid
saking
> cariyos lalampahanipun Sri Kresna ing Dwarawati, utawi Sang Arjuna
> yen angraga-suksma. Mugi kawuninganana, bilih cariyos makaten
punika
> tetep namung kangge pasemon utawi pralambang.
>
> Ing samangke wiwit wedharaken lampahing samadi makaten : tembung
> samadi = sarasa - rasa tunggal - maligining rasa - rasa jati -
rasa

> nalika dereng makarti. Dene makartining rasa jalaran saking
> panggulawenthah utawi piwulang, punapadene pangalaman-pangalam an
> ingkang tinampen utawi kasandhang ing sadinten-dintenipun . Inggih
> makartining rasa punika ingkang kawastanan pikir. Saking dayaning
> panggulawenthah, piwulang tuwin pangalaman-pangalam an wau, pikir
> lajeng gadhah panganggep awon lan sae, temah anuwuhaken tatacara,
> pamacak lan sanes-sanesipun ingkang lajeng dados pakulinan. Punapa
> panganggep awon sae, ingkang sampun dados tata-cara margi sampun
> dados pakulinan punika, yen awon inggih awon sayektos, yen sae
> inggih sae temenan, punika dereng tamtu, jer punika namung
> pakulinaning panganggep. Dene panganggep, boten yekti, tetep
namung
> ngenggeni pakulinaning tata-cara, dados inggih dede kajaten utawi
> kasunyatan. Menggah pikajenganipun samadi ing riki, boten wonten
> sanes namung badhe nyumerepi kajaten, dene sarananipun boten
wonten
> malih kajawi nyumerepi utawi anyilahaken panganggep saking
> makartining rasa, kasebut sirnaning papan lan tulis. Inggih ing
riku
> punika jumenenging rasa jati kang nyata, kang yekti, kang weruh
> tanpa tuduh. Wondene kasembadanipun kedah angendelaken ing
> saniskara, sarana angereh solahing anggota (badan). Mangrehing
> anggota wau ingkang langkung pikantuk kalihan sareyan malumah,
saha
> sidhakep utawi kalurusaken mangandhap, epek-epek kiwa tengen
> tumempel ing pupu kiwa tengen, suku ingkang lurus, dalamakan suku
> ingkang tengen katumpangaken ing dalamakan suku kiwa, mila lajeng
> kasebut sidhakep suku (saluku) tunggal. Punapadene angendelna
> ebahing netra (mripat), inggih punika ingkang kawastanan meleng.
> Lampah makaten wau ingkang kuwasa ngendelaken osiking cipta
> (panggagas), tuwin amuntu ilining rahsa, dene pancering paningal
> kasipatna amandeng pucuking grana medal saking sa'antawising netra
> kakalih, inggih punika ing papasu, dene pamandengipun kedah
kalayan
> angeremaken netra kakalih pisan.
>
> Sasampunipun lajeng nata lebet wedaling napas (ambegan) makaten :
> panariking napas saking puser kasengkakna minggah anglangkungi
> cethak ingga dumugi ing suhunan (utek = embun-embunan) , sarta mawi
> kaendelna ing sawatawis dangunipun. Sumengkanipun napas wau
> kadosdene darbe raos angangkat punapa-punapa, dene temenipun
ingkang
> kados kita angkat, punika ilining rahsa ingkang kita pepet saking
> sumengkaning napas wau, menawi sampun kraos awrat panyangginipun
> napas, inggih lajeng ka'edhakna kalayan alon-alon. Inggih patrap
> ingkang makaten punika ingkang kawastanan sastracetha. Tegesipun
> cetha = empaning kawruh, cetha = antebing swara cethak, inggih
> cethaking tutuk kita punika. Mila winastan makaten, awit duk kita
> mangreh sumengkaning napas anglangkungi dhadha lajeng minggah
malih
> anglangkungi cethak ingga dumugi suhunan. Menawi napas kita dipun
> ereh, dados namung manut lampahing napas piyambak, tamtu boten
saget
> dumugi ing suhunan, margi saweg dumugi ing cethak lajeng sampun
> medhak malih. Punapadene ugi winastan daiwan (dawan),
pikajengipun :
> mangreh lebet wedaling napas ingkang panjang lan sareh, sarwi
> mocapaken mantra sarana kabatos kemawon, inggih punika mungel `hu'
> kasarengan kalihan lumebeting napas, inggih panariking napas
saking
> puser, minggah dumugi ing suhunan. Lajeng `ya', kasarengan kalihan
> wedaling napas, inggih medhaking napas saking suhunan dumugi ing
> puser, minggah mandhaping napas wau anglangkungi dhadha lan
cethak.
> Dene, anggenipun kawastanan sastracetha, margi nalika mocapaken
> mantra sastra kakalih : hu - ya, wedaling swara ingkang namung
> kabatos wau, ugi kawistara saking dayaning cethak. (Ungeling
mantra
> utawi panebut kakalih : hu – ya, ing wiridan naksobandiyah
kaewahan
> dados mungel, hu – Allah, panebutipun ugi kasarengan lampahing
> napas. Dene ing wiridan satariyah, panebut wau mungel : hailah –
> haillolah, nanging tanpa angereh lampahing napas).
>
> Menggah lebet medaling napas kados kasebut ing nginggil,
> sa'angkatanipun namung kuwasa angambali rambah kaping tiga, mila
> makaten, awit napas kita sampun boten kadugi manawi kinen
> anandangana malih, jalaran sampun menggeh-menggeh. Dene manawi
> sampun sareh, inggih lajeng ka'angkatana malih, makaten
salajengipun
> ngantos marambah-rambah sakuwawinipun, margi saya kuwawi dangu,
> sangsaya langkung prayogi sanget. Dene sa'angkataning pandamel wau
> kawastan : tripandurat, tegesipun tri = tiga, pandu = suci, rat =
> jagad – badan – enggen, suraosipun : kaping tiga napas kita saget
> tumameng ing ngabyantaraning ingkang Maha suci manggen ing
> salebeting suhunan (ingkang dipun suwuni). Inggih punika ingkang
> kabasakaken paworing kawula Gusti, tegesipun : manawi napas kita
> sumengka, kita jumeneng gusti, yen tumedhak, wangsul dados kawula.
> Bab punika para nupiksa sampun kalintu tampi ! Menggah ingkang
dipun
> wastani kawula gusti punika dede napas kita, nanging dayaning
cipta
> kita. Dados ulah samadi punika, pokokipun kita kedah amanjangaken
> panjing wijiling napas (lebet wedaling napas), kalihan
angeningaken
> (ambeningaken) paningal, sebab paningal punika kadadosan saking
> rahsa.
>
> Wondene patraping samadi kados kasebut ing nginggil wau, ugi
kenging
> karancagaken, uger kita tansah lumintu tanpa pedhot mangeh panjing
> wijiling napas, kalihan lenggah, lumampah, utawi nyambutdamel
inggih
> kedah boten kenging tilar mangreh lebet wedaling napas wau,
ingkang
> sarana mocapaken mantra mungel : hu – ya, kados ingkang kajarwa
ing

> nginggil.
>
> Kajawi punika, wirid saking tembung daiwan punika ugi taksih darbe
> maksud sanesipun malih, inggih punika ateges panjang tanpa ujung,
> utawi ateges langgeng. Dene pikajengipun amastani bilih wontening
> napas kita punika sanyata wahananing gesang kita ingkang langgeng,
> inggih wontening ambegan kita. Dene ambegan punika, sanyata
> wontening angin ingkang tansah mlebet medal tanpa kendel, ingkang
> sasarengan kalihan keketeg panglampahing rah (roh). Bilih kakalih
> wau kendel boten makarti nama pejah, inggih risaking badan wadhag
> wangsul dados babakalan malih. Mila sayogyanipun lampahing napas
> inggih ambegan kita ingkang tansah mlebet medal tanpa kendel,
kedah
> kapanjang-panjangan a lampahipun, murih panjanga ugi umur kita,
temah
> saget awet wonten ing donya tutug panyawangipun dhateng anak,
putu,
> buyut, canggah, wareng, ingkang babranahan.
>
> Wontenipun andharan ing nginggil, mratelakaken bilih kawruh
> pasamaden punika sanyata langkung ageng pigunanipun, mila lajeng
> sinebut sastrajendrayuningr at pangruwating diyu. Tegesipun sastra
=
> empaning kawruh, jendra = saking panggarbaning tembung harja
endra.
> Tegesipun harja = raharja, endra = ratu – dewa, yu = rahayu –
> wilujeng, ningrat = jagad – enggen – badan. Suraosipun :
> Musthikaning kawruh ingkang kuwasa amartani ing karahayon,
kaharjan,
> katentreman lan sapatunggalipun. Dene tegesesipun pangruwating
diyu
> = amalihaken diyu; dene diyu = danawa – raksasa – asura – buta,
> punika kangge pasemoning piawon, penyakit, rereget, babaya,
> pepeteng, kabodhohan lan sanesipun. Dados diyu punika
> kosokwangsulipun dewa, engkang ateges pinter, sae, wilujeng lan
> sapanunggilipun. Mengku suraos amastani ingkang saget anyirnakaken
> saliring piawon tuwin samubarang babaya pekewed. Mangertosipun,
> sinten ingkang tansah ajeg lumintu anandangaken ulah samadi,
punika
> bilih ing suwaunipun tiyang awon, lajeng sirna piawonipun, malih
> dados tiyang sae lampahipun. Tiyang sakit sirna sakitipun, dados
> saras, tiyang murka daksiya lajeng narimah sabar, welasasih.
Tiyang
> goroh lajeng dados temen. Tiyang bodho dados pinter. Tiyang pinter
> dados pinter sanget. Makaten ugi tiyang golongan sudra dados
waesia,

> waesia dados satriya, satriya dados brahmana, brahmana sumengka
> pangawak braja asarira bathara.
>
> RAHAYU
>
> BS
>
> --- In Spiritual-Indonesia
> <mailto:Spiritual- Indonesia% 40yahoogroups. com> @yahoogroups. com,
> bustanus salatin
> <ki_ageng_jenar@ > wrote:
> >
> > buku SATRIO PANINGIT, BENCANA NUSANTARA, MANUNGGALINGKAWULOG USTI
> dalam UNIVERSALITAS KEAGAMAAN
> > ISBN:978-979- 17824-0-1/ barcode
> >
> > Bab 10: Kajian Tafsir Huruf Muqota'ah: Pandangan Siti Jenar dan
> Husain ibnu Mansur al-Hallaj dalam Manunggaling Kawulo Gusti
> >
> > Syekh Siti Jenar begitu sering dihubung-hubungkan dengan al-
Husain
> ibnu Mansur al-Hallaj atau singkatnya Al-Hallaj saja, sufi Persia
> abad ke-10, yang sepintas lalu ajarannya mirip dengan Siti Jenar,
> karena ia memohon dibunuh agar tubuhnya tidak menjadi penghalang
> penyatuannya kembali dengan Tuhan. Adalah Al-Hallaj yang karena
> konsep satunya Tuhan dan dunia mengucapkan kalimat, "Akulah
> Kebenaran/ Anna al Haq," yang menjadi alasan bagi hukuman matinya
> pada 922 Masehi di Baghdad. Seperti Syekh Siti Jenar pula, nama Al-
> Hallaj menjadi monumen keberbedaan dalam penghayatan agama,
sehingga
> bahkan diandaikan bahwa jika secara historis Syekh Siti Jenar tak
> ada, maka dongengnya adalah personifikasi saja dari ajaran Al-
> Hallaj, bagi yang mendukung maupun yang menindas ajaran tersebut.
> > petikan atas kutipan dari Serat Siti Jenar yang diterbitkan oleh
> Tan Khoen Swie, Kediri, pada 1922:
> > Kawula dan gusti sudah ada dalam diriku, siang dan malam tidak
> dapat memisahkan diriku dari mereka. Tetapi hanya saat ini nama
> kawula-gusti itu berlaku, yakni selama saya mati. Nanti, kalau
saya
> sudah hidup lagi, gusti dan kawula lenyap, yang tinggal hanya
> hidupku, ketenteraman langgeng dalam Ada sendiri.
> > Hai Pangeran Bayat, bila kau belum menyadari kebenaran kata-
kataku
> maka dengan tepat dapat dikatakan, bahwa kau masih terbenam dalam
> masa kematian. Di sini memang banyak hiburan aneka warna. Lebih
> banyak lagi hal-hal yang menimbulkan hawa nafsu. Tetapi kau tidak
> melihat, bahwa itu hanya akibat pancaindera.
> > Itu hanya impian yang sama sekali tidak mengandung kebenaran dan
> sebentar lagi akan lenyap. Gilalah orang yang terikat padanya,
tidak

> seperti Syeh Siti Jenar. Saya tidak merasa tertarik, tak sudi
> tersesat dalam kerajaan kematian. Satu-satunya yang kuusahakan,
> ialah kembali kepada kehidupan
> > Dalam pupuhnya, Syekh Siti Jenar merasa malu apabila harus
> berdebat masalah agama. Alasannya sederhana, yaitu dalam agama
> apapun, setiap pemeluk sebenarnya menyembah zat Yang Maha Kuasa.
> Hanya saja masing - masing menyembah dengan menyebut nama yang
> berbeda - beda dan menjalankan ajaran dengan cara yang belum tentu
> sama. Oleh karena itu, masing - masing pemeluk tidak perlu saling
> berdebat untuk mendapat pengakuan bahwa agamanya yang paling benar.
> > Syekh Siti Jenar juga mengajarkan agar seseorang dapat lebih
> mengutamakan prinsip ikhlas dalam menjalankan ibadah. Orang yang
> beribadah dengan mengharapkan surga atau pahala berarti belum bisa
> disebut ikhlas.
> > Manunggaling Kawula Gusti, Dalam ajarannya ini, pendukungnya
> berpendapat bahwa Syekh Siti Jenar tidak pernah menyebut dirinya
> sebagai Tuhan. Manunggaling Kawula Gusti dianggap bukan berarti
> bercampurnya Tuhan dengan Makhluknya, melainkan bahwa Sang
Pencipta
> adalah tempat kembali semua makhluk. Dan dengan kembali kepada
> Tuhannya, manusia telah menjadi sangat dekat dengan Tuhannya.
> > Dan dalam ajarannya, 'Manunggaling Kawula Gusti' adalah bahwa di
> dalam diri manusia terdapat ruh yang berasal dari ruh Tuhan sesuai
> dengan ayat Al Qur'an yang menerangkan tentang penciptaan manusia
("

> Ketika Tuhanmu berfirman kepada malaikat: "Sesungguhnya Aku akan
> menciptakan manusia dari tanah. Maka apabila telah Kusempurnakan
> kejadiannya dan Kutiupkan kepadanya roh Ku; maka hendaklah kamu
> tersungkur dengan bersujud kepadanya (Shaad; 71-72)"). Dengan
> demikian ruh manusia akan menyatu dengan ruh Tuhan dikala
> penyembahan terhadap Tuhan terjadi.
> > Riwayat pertemuan Ibrahim ibn Sam'an dengan Husain bin Mansur al
> Hallaj ( Kutipan dari Buku Husain bin Manshur al Hallaj, karangan
> Louis Massignon)
> > Aku melihat al Hallaj pada suatu hari di masjid al Mansur: Aku
> memiliki 2 dinar dalam sakuku dan aku berpikir untuk menghabiskan
> uang itu untuk hal-hal yang melanggar hukum. Seseorang datang dan
> memintah sedekah.Dan Husain bin Mansur al Hallaj berkata:' Ibnu
> Sam'an berikanlah sedekah dengan apa yang kamu simpan di dalam
> jubahmu, aku terdiam dan menangis, " oh syaikh,bagaimana engkau
> mengetahui hal itu?'' Al Hallaj berkata:' Setiap hati yang
> mengosongkan diri dari yang selain Alloh, dapat membaca kesadaran
> orang dan menyaksikan apa yang ghoib''. Ibnu Sam'an berkata:''
> o,syaikh ajarilah aku sebuah hikmah''. Kemudian berkata al
> Hallaj :''Orang yang mencari Tuhan dibalik huruf miim dan ain akan
> menemukan Nya.Dan seseorang yang mencarinya dalam konsonan idhafah
> antara alif dan nun, orang itu akan kehilangan Dia. Karena Dia itu
> Maha Suci, di luar jangkauan pikiran dan diatas yang terselubung ,
> yang berada di dalam diri setiap
> > orang. Kembalilah kepada Tuhan, Titik Terakhir adalah Dia. Tidak
> ada "Mengapa" di hari akhir kecuali Dia.Bagi manusia "MA/ yaitu
miim
> dan ain" milik Dia berada dalam miim dan ain makna ""MA"" ini
adalah

> Tuhan Maha Suci. Dia mengajak makhluk terbang menuju Tuhan. "miim"
> membimbing ke Dia dari atas ke bawah. "ain"membimbing ke Dia dari
> Jauh dan Luas.
> >
> > Ilmu Huruf Muqota'ah
> > Ilmu huruf, yang didasarkan pada satu bahsa suci, tentulah
> memiliki sebuah fondasi mistis yang diperlukan. Orang bisa
> menemukan doktrin ini dalam puisi mistis yang terkenal Ghulsyan-i
> Raz (Taman Mawar), karya Syabistari: " Bagi orang yang jiwanya
> adalah manifestasi Tuhan yaitu al Qur'an, keseluruhan alam ini
> adalah huruf-huruf vokalNya dan substansinya adalah huruf konsonan
> Nya " Pasal 200-209 puisi Ghulsyan-i Raz.
> > Abu Ishaq Quhistani, sufi Islam, menegaskan pentingnya ilmu
huruf
> dengan menyatakan bahwa " ilmu huruf adalah akar dari segala
ilmu ".
> Secara skematis ilmu huruf mengandung :
> >
> > Simbolisme ketuhanan dan metafisika atau /metakosmik
> > Simbolisme universal / makrokosmik yang didasarkan pada
> korespondensi antara huruf-huruf dan benda astrologis (ruang
> angkasa/ planet/ lambang zodiak dll)
> > Simbolisme manusia dan individu yang didasarkan pada
korespondensi
> fisiologis/organ tubuh
> > Jumlah huruf muqatta'ah (terpotong) ada 14 huruf yaitu :alif lam
> miim,ha miim, alif lam ra, tha ha,ha miim ain sin qaf, ya sin, kaf
> ha ya `ain shad, kaf dan nun. Kalau dirangkai keseluruhannya
menjadi
> sebuah kalimat : Shiratu `aliyin haqqun namsikuhu (jalan Ali
adalah
> kebenaran yang kita pegang). huruf muqatta'ah (terpotong) adalah
> huruf-huruf yang merupakan rumusan dialog antara Alloh swt dengan
> kekasihnya (para Nabi dan para Wali)
> > Apa Makna miim dan ain sehingga dapat menemukan Tuhan dan
bertemu

> dengan Nya dan Mengapa ketika mencari Tuhan dibalik huruf alif dan
> nun maka tidak bisa bertemu dengan Nya?
> > Tafsir Miim (numerology Arabiyah)::
> >
> > Huruf miim merupakan muhammad rosulillah atau Ahmad, yang
> merupakan pintu menuju Ahad yang merupakan wahdaniyah Allah.
> Perbedaan antara Ahad dan Ahmad adalah huruf arab Miim (muhammad
> rosulillah - penutup jalur risalah dan kenabian)
> > Miim juga berarti malakuti / keagungan / penguasaan atas seluruh
> langit bumi, ayat Kursi merupakan ayat yang mengandung banyak
huruf

> miim didalamya
> > Huruf miim bernilai 40, 40 hari khalwat dengan ikhlas dengan
> mengamalkan surat al ikhlas dan ayat Kursi (ayat yang banyak
> mengandung huruf miim /sujud jadi sujud adalah cara menggapai
> keagungan). Juga surat al ikhlas di awali dengan qulhuwa allohu
> ahad. Jadi perwujudan ahad di dunia adalah ahmad, ketika manusia
> menjadi ahmad maka merupakan tajalli/ penampakan sang Mahakuasa
> dalam diri manusia. Sekali lagi bedakan Ahmad dan Ahad terletak
> huruf miim.
> > Huruf miim membentuk, posisi sujud dalam solat, sujud merupakan
> posisi kedekatan dengan Alloh, bahkan sujud merupakan simbol dari
> wahdaniyah Allah. Metode untuk mendekat (muqorrobin/ kewalian)
> kepada Tuhan yang paling cepat adalah dengan sujud yang lama dalam
> Sholat. Hadits qudsi Allah berfirman : " Barangsiapa memusuhi
waliku
> sungguh kuumumkan perang kepadanya, tiadalah hamba Ku mendekat
> kepada Ku dengan hal hal yg fardhu- 17 rokaat, dan Hamba Ku terus
> mendekat kepada Ku dengan hal hal yg sunnah- 34 rokaat qobliyah
dan
> bakdiyah- baginya hingga Aku mencintainya, bila Aku mencintainya
> maka aku menjadi telinganya yg ia gunakan untuk mendengar, dan
> matanya yg ia gunakan untuk melihat, dan menjadi tangannya yg ia
> gunakan untuk memerangi, dan kakinya yg ia gunakan untuk
melangkah,
> bila ia meminta pada Ku niscaya kuberi permintaannya. ..." (shahih
> Bukhari hadits no.6137).
> >
> > Tafsir Ain,Yaa,Sin, Nuun,Aliif (numerology Arabiyah):
> >
> > Huruf ain bermakna sayidina Ali bin Abu tholib merupakan pintu
> gerbang keilmuan. Sesuai hadits Nabi yang menyatakan bahwa
Muhammad
> rosulluloh adalah gudang ilmu dan Sayidina Ali adalah pintunya.
> Huruf ayn membentuk posisi rukuk dalam sujud, dalam riwayat
asbabun
> nuzul quran ada ayat yang berkenaan dengan Ali bin abu thalib,
yaitu
> orang yang rukuk kemudian dalam posisi rukuk dalam solat melakukan
> sedekah berupa cincin. Inilah ayat quran itu: Walimu hanyalah
Allah,
> Rasul-Nya dan mereka yang beriman yang menegakkan salat, membayar
> zakat seraya rukuk. (QS. al-Mâ`idah: 55)
> > Kunci sholat yang merupakan adab tatakrama/ kepasrahaan total
ila
> allohu ada di rukuk/ huruf ain, sujud/ huruf miim adalah kedekatan
> (muqorobin- fana asma dan tajalli asma), barangsiapa tidak tahu
adab
> ( rukuknya) maka tidak layak untuk dekat (muqorobin).
> > Huruf Ain bernilai 70.sedang huruf Ya bernilai 10 dan huruf Sin
> bernilai 60. jadi secara matematis yaitu 70(ain)= yaa(10)+sin( 60)
> jadi Ya + Seen = Ain merupakan Quran dalam surat 36 adalah surat
Ya
> Seen. ayat ke 58 dari surat Yasin adalah Salaamun Qawlam Mir
Rabbir
> Raheem. Jadi 5+8=13, posisi huruf ke 13 dalam abjad Arab adalah
> huruf Miim/ Sujud. Jadi untuk mengerti Ain/ rukuk kita harus
> mengerti tafsir huruf Yaa dan Tafsir huruf Sin. Dengan mengerti
Yaa
> dan Sin kita akan sampai kepada Sayidina Ali bin Abu Tholib.
> > Kyai Kholil Bangkalan, salah seorang pencetak kyai besar
Nahdlatul
> Ulama, selama perjalanan pesantren Keboncandi, Pasuruan-Sidogiri
> kyai kholil Bangkalan sewaktu muda selalu membaca YaSin, hingga
> khatam berkali-kali
> > Huruf Ya adalah akhir dari abjad Arab and Alif awal dari abjad
> Arab. Huruf Ya/ hamba memimpin/cenderung ke arah Alif/ Alloh.
Huwal

> Awwalu wa Hu wal Akhiru.
> > Rincian huruf Awwalu :
> > Alif(1)+waw( 6)+lam(30) =37ß-à3+7=10, (Ya=10),
> > 10 ß-à1+0=1ß-àpertama.
> > · Rincian huruf Akhiru :: Alif(1)+Kho( 600)+Ro(200) = 801ß-
> à8+0 +1= 9 ß-à terakhir adalah 9, angka 9 dalam numerology arab
> adalah huruf Ta yang bermakna penyucian atau Tahara/penyucian dan
> bulan ke 9 dalam Arab/ Qomariah adalah bulan ramadhon yaitu bulan
> puasa
> > · Penyucian kalbu dari kecintan diri dan dunia merupakan
> tingkat awal penyucian untuk bersuluk kepada Alloh. Sesungguhnya
> kotoran maknawi terbesar yang tidak bisa disucikan meskipun dengan
> tujuh lautan dan para nabi pun tidak mampu menghilangkannya adalah
> kotora kejahilan ganda (pura-pura tahu padahal tidak tahu).
> Kekeruhan ini mungkin akan memadamkan cahaya petunjuk dan
meredupkan
> api kerinduan yang merupakan buraq untuk bermikraj mencapai
berbagai
> maqom spiritual.( Imam Khomeini dalam Hakikat dan Rahasia Sholat)
> > · dan Alif(1)+ Ta(9)=10ß-à (Ya=10=hamba) , nilai huruf
> (Ya=10), jadi seorang Hamba yaitu simbol Ya harus melakukan Puasa/
> penyucian jiwa/ tazkiyah nafs simbol (Ta=9) untuk Alloh semata
> simbol (Alif=1) atau Hamba harus sabar dengan KetentuanNya atau
> nrimo ing pandum, karena hasil puasa Lillah Billah menjadikan
orang
> sabar atau innalloha ma'ashobirin (Sesungguhnya Alloh bersama (MA
> terdiri huruf miim dan ain lihat al Baqarah:153 ) orang yang
sabar.
> Lihat bersama adalah Ma yaitu ma'asshobirin. Disini terungkap
> rahasia mim dan ayn yaitu MA seperti yang diucapkan oleh Husain
bin
> Mansur al Hallaj. jadi Sabar adalah kunci menemukan Tuhan. Para
> mufassir menafsirkan sabar dengan melakukan puasa. Pahala puasa
> hanya Alloh yang tahu. Artinya Hak menilai puasa langsung di
tangan
> Alloh bukan di tangan para malaikat. Sabda Rosullulloh saw Puasa
> yang dilakukan khusus untuk-Ku/ puasa Lillah Billah dan cukuplah
Aku
> sebagai pahalanya
> > · Mempelajari Ilmu Ketuhanan akan menjadikan orang
> bersabar, seperti dialog Nabi Musa as dan Nabi Khidr as yaitu
> Bagaimana kamu dapat sabar terhadap persoalan yang kamu samasekali
> belum memiliki pengetahuan yang cukup tentangNya(QS 18:68).
> Barangsiapa menghadapi kesengsaraan dengan hati terbuka,
menunjukkan
> kesabaran dengan penuh ketenangan dan martabat, termasuk dalam
> golongan orang terpilih dan bagian untuknya adalah Berikanlah
kabar

> gembira (keberhasilan dan kejayaan) kepada orang yang sabar (QS
> 2:155),
> >
> > Dalam Islam, kemampuan mengendalikan emosi dan menahan diri
> disebut sabar. Orang yang paling sabar adalah orang yang paling
> tinggi dalam kecerdasan emosionalnya. Ia biasanya tabah dalam
> menghadapi kesulitan. Ketika belajar orang ini tekun. Ia berhasil
> mengatasi berbagai gangguan dan tidak memperturutkan emosi-nya.
> > Gabungan rincian Awwalu dan Akhiru adalah Seorang Hamba
> (Ya=10=hamba) karena Akhiru(9)+ Awwalu (1)=10ß-à (Ya=10=hamba) ,
> jadi seorang Hamba menampung Asma Alloh yang lengkap dan memiliki
> potensi untuk menampakkan sifat ketuhanan
> > Huruf Sin bernilai 60 dalam numerology Arab, merupakan simbol
dari
> sirr Muhammad, sirr adalah rahasia ketuhanan yang disimpan dalam
> diri manusia sebagai hamba. Huruf sin dalam INSAN. huruf alif nya
> adalah Alloh, huruf sin adalah rahasia /sirr ketuhanan, 2 huruf
nun
> adalah simbol hukum dunia dan akhirat yang merupakan
> representasi /perwakilan kitab suci al Qur'an.
> > Huruf Yaa/ simbol Hamba digunakan untuk memanggil seseorang atau
> menarik perhatian sesorang. Ya adalah simbol seorang Hamba
menyembah
> dan menyebut Tuhannya Ya Alloh Ya Robbi dll.Yaa juga digunakan
oleh
> Alloh memanggil Hambanya.Ya juga berarti simbol antara yang
disembah
> dan menyembah, tetapi posisi Ya=10/ hamba selalu cenderung kepada
> Alif=1 atau Alloh karena Alloh sebagai Awwalu, dalam ilmu huruf,
> > Alif(1)+waw( 6)+lam(30) =37ß-à3+7=10 adalah Yaa menyatu dengan
Alif
> (10ß-à1+0=1) atau dibalik Yaa ada Alif atau di dalam Manusia ada
> Tuhan atau istilah Wahdatul Wujud nya Ibnu Arobi yaitu antara
> penyembah dan yang disembah itu sama tapi tidak serupa atau
menurut

> istilah ajaran Syekh Siti Jenar, yaitu Manunggaling Kawula
> Gusti. "PERSAMAAN" antara manusia dan Allah. Hal inilah yang
> dimaksudkan dalam sabda Nabi saw.: "Sesungguhnya Allah menciptakan
> manusia dalam kemiripan dengan diriNya sendiri." Lebih jauh lagi
> Allah telah berfirman: "Hambaku mendekat kepadaKu sehingga Aku
> menjadikannya sahabatKu. Aku pun menjadi telinganya, matanya dan
> lidahnya." Juga Allah berfirman kepada Musa as.: "Aku pernah sakit
> tapi engkau tidak menjengukku! " Musa menjawab: "Ya Allah, Engkau
> adalah Rabb langit dan bumi; bagaimana Engkau bisa sakit?" Allah
> berfirman: "Salah seorang hambaKu sakit; dan dengan menjenguknya
> berarti engkau telah mengunjungiKu. "Memang ini adalah suatu
> > masalah yang agak berbahaya untuk diperbincangkan, karena hal
ini

> berada di balik pemahaman orang-orang awam. Seseorang yang cerdas
> sekalipun bisa tersandung dalam membicarakan soal ini dan percaya
> pada inkarnasi dan kersekutuan dengan Allah.
> > Tafsir huruf Nun dan Alif- Pencari Tuhan dibalik huruf alif dan
> nun maka tidak bisa bertemu dengan Nya::
> >
> > Bernilai 50 dalam numerology Arab.
> > Tafsir huruf INSAN, memiliki 2 huruf nun merupakan simbol alam
> dunia/ jasad dan alam akhirat/ ruh/ jiwa. Ruh yang disucikan akan
> memperoleh Nur/ surga sedangkan Ruh yang dikotori akan memperoleh
> Nar/ neraka.
> > Tafsir Alif dan Nun: Penggambaran Simbolis Huruf dan Alif Nun
> merupakan lambang sebuah perahu (syariat) dan sebuah Jiwa/
> individu /personal mengarungi lautan / medan ujian, kayuh/sampan (
> membentuk huruf Alif) kiri kanan adalah wilayah pilihan manusia (
> sunnatulloh adalah qadha' qadar baik buruk) yang telah ditetapkan
> oleh Alloh arti simbol Alif. Individu yang sedang menaiki perahu (
> simbol Nun), sampan/kayuh adalah alat/ pilihan yang akan
mengerakkan
> jiwanya menuju 3 pilihan yaitu, pertama, arah perahu ke kiri
> berarti ashabul syimal/ Nun menjadi Naar/ neraka, kedua arah
perahu
> ke kanan berarti ashabul yamin/ Nun menjadi Nur/cahaya, ketiga
arah
> perahu tidak ke kiri dan tidak ke kanan tetapi tengah berarti
> sabiqunal awwalun/ terdahulu mencapai tujuan - ini adalah golongan
> para pencinta yaitu menyembah karena kerinduan ingin bertemu
dengan
> sang Khaliq – ini adalah jawaban isyarah tersembunyi dari Husain
bin
> Manshur al Hallaj- yaitu para nabi
> > dengan simbol miim (arti bathinnya adalah sujud) yaitu Muhammad
> saw dan ain (arti bathinnya adalah rukuk) yaitu sayidina Ali bin
> Abuthalib
> > Huruf Nun Mengingatkan Kita juga kepada Zunnun/ Nabi Yunus as
> yang naik perahu di tengah lautan dan ditelan Ikan karena
> meninggalkan Kaum nya sebelum ada perintah dari ALLOH swt.
> > Zikir Zunnun / N.Yunus - doa keselamatan menghadapi medan
ujian :
> wa dzan nuni idz dzahaba mughadziban fa dhanna an lan naqdiro
alayhi
> fa nada fid dhulumati an laila antan subhanaka inni kuntu
> minadolimin fastajabna lahu wa najjaynahu minal ghammi wa
kadzalika

> nunjil mukminina (Anbiya :87-88).
> >
> > Kesimpulan:
> > · Tafsir Yaa Sin akan membuka rahasia huruf `'MA'' yaitu
> miim dan ain seperti yang dikatakan oleh Husain bin Mansur al
> Hallaj:
> > Quran dalam surat 36 adalah surat Ya Seen. ayat ke 58 dari surat
> Yasin adalah Salaamun Qawlam Mir Rabbir Raheem
> > "Rahasia Ketuhanan ada dalam diri manusia, agar manusia mampu
> menampakkan atau men-tajallikan Ketuhanan dalam dirinya maka
> perintah solat (Rukuk, Sujud) adalah sarana 'Manunggaling Kawula
> Gusti dan sodaqoh ( menebarkan hasil usaha kebenaran/ pengabdian
> masyarakat/ agen perubahan/ social agent) kepada sesama makhluk
> Tuhan (kesalehan sosial) yang merupakan perwujudan dari Salaamun
> Qawlam Mir Rabbir Raheem"
> > · Tafsir YaaSin adalah simbol manusia sempurna yaitu
hamba
> yang mampu menampung rahasia Alloh swt dan didalam sirr itu
seorang

> penyembah dan disembah bertemu dan berdialog, ibarat sebuah pohon
> lengkap dengan pokoknya, cabangnya dan puncaknya. Imam al Baqir
> berkata: Maukah kamu akau beritahu pokok-pokok Islam, cabang dan
> puncaknya dan pintu kebaikan? Sulaiman bin Khalid berkata: Tentu,
> lalu jawab Imam al Baqir: Pokoknya adalah sholat, cabangnya adalah
> zakat, dan puncaknya adalah membela kaum tertindas dan menegakkan
> keadilan. Pintu kebaikan itu adalah :
> > 1. Puasa merupakan perisai api neraka
> > 2. Sedekah itu menghapus dosa
> > 3. Sholat di malam hari untuk berzikir
> >
> > Tafsir Rukuk/Huruf Ain
> > Etika rukuk adalah meninggikan maqam rububiyah Nya yang agung,
> mulia dan merendahkan maqam ubudiyah seorang hamba yang lemah,
faqir
> dan hina. Rukuk adalah awal ketundukkan dan sujud adalah
> puncaknya.Yang melakukan rukuk dengan sempurna dan benar akan
> menemukan keselarasan pada sujud. Imam Shadiq berkata" rukuk yang
> benar kepada Alloh adalah menghiasi dengan cahaya keindahan asma
> Nya. Rukuk adalah yang pertama dan sujud adalah yang kedua. Dalam
> rukuk ada adab penghambaan dan dalam sujud ada kedekatan/Qurb
dengan
> Zat yang disembah. Simbol rukuk adalah hamba dengan hati tunduk
> kepada Alloh, merasa hina dan takut di bawah kekuasaan-Nya.
> Merendahkan anggota badan karena gelisah dan takut tidak
memperoleh
> manfaat rukuk.
> >
> > Tafsir Sujud/Huruf Mim
> > Sujud merupakan puncak ketundukan dan puncak kekhusyukan seorang
> hamba, sebaik-baik wasilah taqarrub ila Alloh, sebaik-baik posisi
> untuk mencapai cahaya-cahaya tajalli Asma Alloh swt dan maqam
Qurb
> dengan Nya. N. Saw bersabda : "lamakanlah sujudmu", sebab tiada
amal
> yang lebih berat dan paling tak disukai oleh syetan saat melihat
> anak Adam sedang sujud, karena dia telah diperintahakan sujud dan
> dia tidak patuh. Sujud merupakan sebab mendekatnya hamba dengan
sang
> Kholik. Wahai orang yang beriman, mintalah pertolongan dengan
sabar

> dan solat, sesungguhnya Alloh bersama orang yang sabar (al
> Baqarah:153)
> >
> > Tafsir Salam/Huruf Yaa Sin
> > Salam adalah salah satu nama Alloh. Arti Salam dari sisi Alloh
> adalah keselamatan zat, sifat, perbuatan-Nya. Adapun Zatnya
> terpelihara dari kelenyapan, perubahan dan dari segala kekurangan.
> Salam dari sisi Hamba adalah doa,yaitu memohon keselamatan kepada
> Alloh untuk orang yang kita ucapkan salam /selamat dari segala
> cobaaan dan bencana dunia akhirat. Salam juga berarti ungkapan
> Kepasrahan/ ketundukan kepada Sunnatulloh ( Quran Hadits). Menurut
> Imam Shadiq "salam adalah orang yang melaksanakan perintah Alloh
dan
> melakukan sunnah Rosulillah dengan ikhlas (intinya Ahad dan
Ahmad),
> juga selamat dari bencana dunia dan akhirat. Salam juga bermakna
> penghormatan kepada hamba yang sholih (assalamu alaina wa ala
> ibadilahis sholihin) dan malaikat pencatat amal
> > Al Futuhat al Makkiyah, Karangan Ibnu Aroby, merujuk empat
> perjalanan akal dalam bab 69 tentang rahasia rahasia shalat
sebagai
> perjalanan spiritual manusia. Perintah sholat 51 rokaat kepada
Nabi
> Muhammad saw saat isro miroj: Tuhan memerintahkan hambaNya itu
> supaya setiap Muslim setiap hari sembahyang limapuluh kali.
Kemudian
> untuk umatnya menjadi 17 rokaat wajib di lima waktu dan sisanya 34
> rokaat menjadi sunah muakkad- qobliyah dan bakdiya.
> > Mulla Shadra dalam bukunya al Asfar al Arba'ah mengatakan:
> > "Ketahuilah bahwa para pesuluk diantara orang Arif/ Irfan dan
para
> Wali menempuh empat perjalanan akal :
> >
> > Perjalanan makhluk kepada kebenaran –diskusi metafisika umum
(min
> al khalq ila al Haq)
> > Pesuluk mempelajari dasar-dasar metafisika umum dan
> dalilnya.pesuluk cenderung pada kajian semantik dan metafisika
dasar
> terhadap firman Ttuhan dalam Quran.
> >
> > Perjalanan bersama kebenaran didalam kebenaran- pengalaman
> metafisika khusus dengan pengalaman pribadi (bi al Haq fi al Haq)
> > Pesuluk akan melihat sifat dan namaNya yang tertinggi baik nama
> yang mewujudkan rahmatNya dan murkaNya. Hukum nama nama Alloh ini
di
> dalam kejamakannya akan mewujud di dalam diri pesuluk.Hal ini
> dikenal dengan makam wahidiyah atau tujuh substansi halus
(lataif).
> Pesuluk akan mengalami rasa takut dan harapan (al khauf wa al raja)
> >
> > Perjalanan dari Kebenaran menuju makhluk (min al Haq ila al al
> khalq)
> > Setelah mengalami fase peniadaan diri,pesuluk menerima karunia
> Tuhan dan kembali kepada kesadaran diri. Pesuluk menyaksikan
> penciptaan dan alam kejamakan dalam diri makhluk tetapi dengan
mata
> yang lain, dengan pendengaran yang berbeda. Puncak perjalan ketiga
> membawa pesuluk menuju kesucian/Wilayah( kewalian)
> >
> > Perjalanan bersama Kebenaran di dalam makhluk (bi al Haq fi al
> khalq)
> > Maqam penetapan hukum dan pembedaan dari baik dan buruk.ini
adalah
> derajat kenabian,penetapan hukum dan kepemimpinan atas umat
manusia
> yang berhubungan dengan urusan urusan mereka yang beragam dan
> berbeda-beda serta bagaimana mereka saling berinteraksi satu sama
> lain. seorang `arif tak akan benar-benar mencapai maqam spiritual
> tertinggi jika tidak memanifestasikan keimanan-puncak, yang telah
> diraihnya lewat dua perjalanan pertama, dalam bentuk concern
sosial
> politik untuk mereformasi masyarakat dan membebaskan kaum
tertindas
> dari rantai penindasannya. Tidak lain maqam penetapan hukum
> (legislatif) atau melibatkan diri dalam kemasyarakatan dan
hubungan
> social, merupakan perwujudan penebaran salam kepada makhluk yaitu
> Salaamun Qawlam Mir Rabbir Raheem yang merupakan inti tafsir
> Yaa Sin.
> >
> > --- On Sun, 7/20/08, mang dipo <dipo1601@> wrote:
> >
> > From: mang dipo <dipo1601@>
> > Subject: [Spiritual-Indonesi a] Kejawen Islam
> > To: Spiritual-Indonesia <mailto:Spiritual- Indonesia%
40yahoogroups. com>

> @yahoogroups. com
> > Date: Sunday, July 20, 2008, 1:46 AM
> >
> >
> >
> >
> >
> >
> >
> >
> >
> > Mari kita mengutip satu tembang Jawa
> > Tak uwisi gunem iki saya akhiri pembicaraan
> ini
> > Niyatku mung aweh wikan saya hanya ingin memberi tahu
> > Kabatinan akeh lire kabatinan banyak
macamnya
> > Lan gawat ka liwat-liwat dan artinya sangat gawat
> > Mulo dipun prayitno maka itu berhati-hatilah
> > Ojo keliru pamilihmu Jangan kamu salah pilih
> > Lamun mardi kebatinan kalau belajar kebatinan
> >
> > Tembang ini menggambarkan nasihat seorang tua (pinisepuh) kepada
> mereka yang ingin mempelajari kabatinan cara kejawen. Kiranya
perlu
> dipahami bahwa tujuan hakiki dari kejawen adalah berusaha
> mendapatkan ilmu sejati untuk mencapai hidup sejati, dan berada
> dalam keadaan harmonis hubungan antara kawula (manusia) dan Gusti
> (Pencipta) ( jumbuhing kawula Gusti ) /pendekatan kepada Yang Maha
> Kuasa secara total.
> >
> > Keadaan spiritual ini bisa dicapai oleh setiap orang yang
percaya
> kepada Tuhan, yang mempunyai moral yang baik, bersih dan jujur.
> beberapa laku harus dipraktekkan dengan kesadaran dan ketetapan
hati
> yang mantap. Pencari dan penghayat ilmu sejati diwajibkan untuk
> melakukan sesuatu yang berguna bagi semua orang serta melalui
> kebersihan hati dan tindakannya. Cipta, rasa, karsa dan karya
> (kuasa) harus baik, benar, suci dan ditujukan untuk mamayu
hayuning
> bawono. Ati suci jumbuhing Kawulo Gusti : hati suci itu adalah
> hubungan yang serasi antara Kawulo dan Gusti, kejawen merupakan
> aset dari orang Jawa tradisional yang berusaha memahami dan
mencari
> makna dan hakekat hidup yang mengandung nilai-nilai.
> >
> > Dalam budaya jawa dikenal adanya simbolisme, yaitu suatu faham
> yang menggunakan lambang atau simbol untuk membimbing pemikiran
> manusia kearah pemahaman terhadap suatu hal secara lebih dalam.
> Manusia mempergunakan simbol sebagai media penghantar komunikasi
> antar sesama dan segala sesuatu yang dilakukan manusia merupakan
> perlambang dari tindakan atau bahkan karakter dari manusia itu
> selanjutnya. Ilmu pengetahuan adalah simbol-simbol dari Tuhan,
yang
> diturunkan kepada manusia, dan oleh manusia simbol-simbol itu
> ditelaah dibuktikan dan kemudian diubah menjadi simbol-simbol yang
> lebih mudah difahami agar bisa diterima oleh manusia lain yang
> memiliki daya tangkap yang berberda-beda.
> >
> > Biasanya sebutan orang Jawa adalah orang yang hidup di wilayah
> sebelah timur sungai Citanduy dan Cilosari. Bukan berarti wilayah
di
> sebelah barat-nya bukan wilayah pulau Jawa. Masyarakat Jawa adalah
> masyarakat yang menjunjung tinggi rasa kekeluargaan dan suka
> bergotong royong dengan semboyannya "saiyeg saekoproyo " yang
> berarti sekata satu tujuan.
> >
> > Kisah suku Jawa diawali dengan kedatangan seorang satriya
> pinandita yang bernama Aji Saka, sampai kemudian satriya itu
menulis
> sebuah sajak yang kemudian sajak tersebut diakui menjadi huruf
jawa
> dan digunakan sebagai tanda dimulainya penanggalan tarikh Caka.
> >
> > Kejawena dalah faham orang jawa atau aliran kepercayaan yang
> muncul dari masuknya berbagai macam agama ke jawa. Kejawen
mengakui
> adanya Tuhan Gusti Allah tetapi juga mengakui mistik yang
berkembang
> dari ajaran tasawuf agama-agama yang ada.
> >
> > Tindakan tersebut dibagi tiga bagian yaitu tindakan simbolis
> dalam religi, tindakan simbolis dalam tradisi dan tindakan
simbolis
> dalam seni. Tindakan simbolis dalam religi, adalah contoh
kebiasaan
> orang Jawa yang percaya bahwa Tuhan adalah zat yang tidak mampu
> dijangkau oleh pikiran manusia, karenanya harus di simbolkan agar
> dapat di akui keberadaannya misalnya dengan menyebut Tuhan dengan
> Gusti Ingkang Murbheng Dumadi, Gusti Ingkang Maha Kuaos, Hyang
Manon

> dan sebagainya.
> >
> > Tindakan simbolis dalam tradisi dimisalkan dengan adanya tradisi
> upacara kematian yaitu medo'akan orang yang meninggal pada tiga
> hari, tujuh hari, empatpuluh hari, seratus hari, satu tahun, dua
> tahun, tiga tahun, dan seribu harinya setelah seseorang meninggal
> (tahlillan). Dan tindakan simbolis dalam seni dicontohkan dengan
> berbagai macam warna yang terlukis pada wajah wayang kulit; warna
> ini menggambarkan karakter dari masing-masing tokoh dalam wayang.
> >
> > Perkembangan budaya jawa yang mulai tergilas oleh perkembangan
> teknologi yang mempengaruhi pola pikir dan tindakan orang jawa
dalam
> kehidupan. Maka orang mulai berfikir bagaimana bisa membuktikan
hal
> gaib secara empiris tersebut dengan menggunakan berbagai macam
> metode tanpa mengindahkan unsur kesakralan. Bahkan terkadang
> kepercayaan itu kehilangan unsur kesakralannya karena dijadikan
> sebagai obyek exploitasi dan penelitian.
> >
> > Kebiasaan orang Jawa yang percaya bahwa segala sesuatu adalah
> simbol dari hakikat kehidupan, seperti syarat sebuah rumah harus
> memiliki empat buah soko guru (tiang penyangga) yang melambangkan
> empat unsur alam yaitu tanah, air, api, dan udara, yang ke
empatnya
> dipercaya akan memperkuat rumah baik secara fisik dan mental
> penghuni rumah tersebut. Namun dengan adanya teknologi konstruksi
> yang semakin maju, keberadaan soko guru itu tidak lagi menjadi
> syarat pembangunan rumah. Dengan analisa tersebut dapat
diperkirakan
> bagaimana nantinya faham simbolisme akan bergeser dari budaya
jawa.
> Tapi bahwa simbolisme tidak akan terpengaruh oleh kehidupan
manusia

> tapi kehidupan manusialah yang tergantung pada simbolisme. Dan
> sampai kapanpun simbolisme akan terus berkembang mengikuti
> berputarnya sangkakala.
> >
> > Mangkunegara IV (Sembah dan Budiluhur)
> > Mangkunegara IV memiliki empat ajaran utama yang meliputi sembah
> raga, sembah cipta (kalbu), sembah jiwa, dan sembah rasa.
> >
> > Sembah Raga
> > Sembah raga ialah menyembah Tuhan dengan mengutamakan gerak laku
> badaniah atau amal perbuatan yang bersifat lahiriah. Cara
bersucinya
> sama dengan sembahyang biasa, yaitu dengan mempergunakan air
> (wudhu). Sembah yang demikian biasa dikerjakan lima kali sehari
> semalam dengan mengindahkan pedoman secara tepat, tekun dan terus
> menerus, seperti bait berikut:
> >
> > Sembah raga puniku / pakartining wong amagang laku / sesucine
> asarana saking warih / kang wus lumrah limang wektu / wantu
wataking
> wawaton
> >
> > Sembah raga, sebagai bagian pertama dari empat sembah yang
> merupakan perjalanan hidup yang panjang ditamsilkan sebagai orang
> yang magang laku (calon pelaku atau penempuh perjalanan hidup
> kerohanian), orang menjalani tahap awal kehidupan bertapa (sembah
> raga puniku, pakartining wong amagang laku). Sembah ini didahului
> dengan bersuci yang menggunakan air (sesucine asarana saking
warih).
> Yang berlaku umum sembah raga ditunaikan sehari semalam lima kali.
> Atau dengan kata lain bahwa untuk menunaikan sembah ini telah
> ditetapkan waktu-waktunya lima kali dalam sehari semalam (kang wus
> lumrah limang wektu). Sembah lima waktu merupakan shalat fardlu
yang

> wajib ditunaikan (setiap muslim) dengan memenuhi segala syarat dan
> rukunnya (wantu wataking wawaton). Sembah raga yang demikian ini
> wajib ditunaikan terus-menerus tiada henti (wantu) seumur hidup.
> Dengan keharusan memenuhi segala ketentuan syarat dan rukun yang
> wajib dipedomani (wataking wawaton). Watak suatu
> > waton (pedoman) harus dipedomani. Tanpa mempedomani syarat dan
> rukun, maka sembah itu tidak sah.
> >
> > Sembah raga tersebut, meskipun lebih menekankan gerak laku
> badaniah, namun bukan berarti mengabaikan aspek rohaniah, sebab
> orang yang magang laku selain ia menghadirkan seperangkat
fisiknya,
> ia juga menghadirkan seperangkat aspek spiritualnya sehingga ia
> meningkat ke tahap kerohanian yang lebih tinggi.
> >
> > Sembah Cipta( Kalbu )
> > Sembah ini kadang-kadang disebut sembah cipta dan kadang-kadang
> disebut sembah kalbu, seperti terungkap pada Pupuh Gambuh bait 1
dan
> Pupuh Gambuh bait 11 berikut :
> > Samengkon sembah kalbu / yen lumintu uga dadi laku / laku agung
> kang kagungan narapati / patitis teteking kawruh / meruhi marang
> kang momong.
> >
> > Apabila cipta mengandung arti gagasan, angan-angan, harapan atau
> keinginan yang tersimpan di dalam hati, kalbu berarti hati , maka
> sembah cipta di sini mengandung arti sembah kalbu atau sembah
hati,
> bukan sembah gagasan atau angan-angan.
> > Apabila sembah raga menekankan penggunaan air untuk membasuh
> segala kotoran dan najis lahiriah, maka sembah kalbu menekankan
> pengekangan hawa nafsu yang dapat mengakibatkan terjadinya
berbagai
> pelanggaran dan dosa (sucine tanpa banyu, amung nyunyuda hardaning
> kalbu).
> >
> > Thaharah (bersuci) itu, demikian kata Al-Ghazali, ada empat
> tingkat.
> > Pertama,membersihka n hadats dan najis yang bersifat lahiriah.
> > Kedua,membersihkan anggota badan dari berbagai pelanggaran dan
> dosa.
> > Ketiga,membersihkan hati dari akhlak yang tercela dan budi
pekerti
> yang hina.
> > Keempat,membersihka n hati nurani dari apa yang selain Allah.
Dan
> yang keempat inilah taharah pada Nabi dan Shiddiqin.
> >
> > Jika thaharah yang pertama dan kedua menurut Al-Ghazali masih
> menekankan bentuk lahiriah berupa hadats dan najis yang melekat di
> badan yang berupa pelanggaran dan dosa yang dilakukan oleh anggota
> tubuh. Cara membersihkannya dibasuh dengan air. Sedangkan kotoran
> yang kedua dibersihkan dan dibasuh tanpa air yaitu dengan menahan
> dan menjauhkan diri dari pelanggaran dan dosa. Thaharah yang
ketiga
> dan keempat juga tanpa menggunakan air. Tetapi dengan membersihkan
> hati dari budi jahat dan mengosongkan hati dari apa saja yang
selain

> Allah.
> >
> > Sembah Jiwa
> > Sembah jiwa adalah sembah kepada Hyang Sukma ( Allah ) dengan
> mengutamakan peran jiwa. Jika sembah cipta (kalbu) mengutamakan
> peran kalbu, maka sembah jiwa lebih halus dan mendalam dengan
> menggunakan jiwa atau al-ruh. Sembah ini hendaknya diresapi secara
> menyeluruh tanpa henti setiap hari dan dilaksanakan dengan tekun
> secara terus-menerus, seperti terlihat pada bait berikut:
> > Samengko kang tinutur / Sembah katri kang sayekti katur / Mring
> Hyang Sukma suksmanen saari-ari / Arahen dipun kecakup / Sembahing
> jiwa sutengong.
> >
> > Dalam rangkaian ajaran sembah Mangkunegara IV yang telah disebut
> terdahulu, sembah jiwa ini menempati kedudukan yang sangat
penting.
> Ia disebut pepuntoning laku (pokok tujuan atau akhir perjalanan
> suluk). Inilah akhir perjalanan hidup batiniah. Cara bersucinya
> tidak seperti pada sembah raga dengan air wudlu atau mandi, tidak
> pula seperti pada sembah kalbu dengan menundukkan hawa nafsu,
tetapi
> dengan awas emut (selalu waspada dan ingat/dzikir kepada keadaan
> alam baka/langgeng) , alam Ilahi.
> >
> > Betapa penting dan mendalamnya sembah jiwa ini, tampak dengan
> jelas pada bait berikut :
> > Sayekti luwih perlu / ingaranan pepuntoning laku / Kalakuan kang
> tumrap bangsaning batin / Sucine lan awas emut / Mring alaming
lama
> amota.
> >
> > Berbeda dengan sembah raga dan sembah kalbu, ditinjau dari segi
> perjalanan suluk, sembah ini adalah tingkat permulaan (wong
amagang
> laku) dan sembah yang kedua adalah tingkat lanjutan. Ditinjau dari
> segi tata cara pelaksanaannya, sembah yang pertama menekankan
> kesucian jasmaniah dengan menggunakan air dan sembah yang kedua
> menekankan kesucian kalbu dari pengaruh jahat hawa nafsu lalu
> membuangnya dan menukarnya dengan sifat utama. Sedangkan sembah
> ketiga menekankan pengisian seluruh aspek jiwa dengan dzikir
kepada
> Allah seraya mengosongkannya dari apa saja yang selain Allah.
> >
> > Pelaksanaan sembah jiwa ialah dengan berniat teguh di dalam hati
> untuk mengemaskan segenap aspek jiwa, lalu diikatnya kuat-kuat
untuk
> diarahkan kepada tujuan yang hendak dicapai tanpa melepaskan apa
> yang telah dipegang pada saat itu. Dengan demikian triloka (alam
> semesta) tergulung menjadi satu. Begitu pula jagad besar dan jagad
> kecil digulungkan disatupadukan. Di situlah terlihat alam yang
> bersinar gemerlapan. Maka untuk menghadapi keadaan yang menggumkan
> itu, hendaklah perasaan hati dipertebal dan diperteguh jangan
> terpengaruh apa yang terjadi. Hal yang demikian itu dijelaskan
> Mangkunegara IV pada bait berikut:
> > "Ruktine ngangkah ngukud / ngiket ngruket triloka kakukud /
jagad
> agung ginulung lan jagad alit / den kandel kumandel kulup / mring
> kelaping alam kono."
> >
> > Sembah Rasa
> > Sembah rasa ini berlainan dengan sembah-sembah yang sebelumnya.
Ia
> didasarkan kepada rasa cemas. Sembah yang keempat ini ialah sembah
> yang dihayati dengan merasakan intisari kehidupan makhluk semesta
> alam, demikian menurut Mangkunegara IV.
> > Jika sembah kalbu mengandung arti menyembah Tuhan dengan alat
> batin kalbu atau hati seperti disebutkan sebelumnya, sembah jiwa
> berarti menyembah Tuhan dengan alat batin jiwa atau ruh, maka
sembah
> rasa berarti menyembah Tuhan dengan menggunakan alat batin inti
ruh.

> Alat batin yang belakangan ini adalah alat batin yang paling dalam
> dan paling halus yang menurut Mangkunegara IV disebut telenging
> kalbu (lubuk hati yang paling dalam) atau disebut wosing jiwangga
> (inti ruh yang paling halus).
> > Dengan demikian menurut Mangkunegara IV, dalam diri manusia
> terdapat tiga buah alat batin yaitu, kalbu, jiwa/ruh dan inti
> jiwa/inti ruh (telengking kalbu atau wosing jiwangga) yang
> memperlihatkan susunan urutan kedalaman dan kehalusannya.
> >
> > Pelaksanaan sembah rasa itu tidak lagi memerlukan petunjuk dan
> bimbingan guru seperti ketiga sembah sebelumnya, tetapi harus
> dilakukan salik sendiri dengan kekuatan batinnya, seperti
> diungkapkan Mangkunegara IV dalam bait berikut:
> > Semongko ingsun tutur / gantya sembah lingkang kaping catur /
> sembah rasa karasa wosing dumadi / dadi wus tanpa tuduh / mung
> kalawan kasing batos.
> >
> > Apabila sembah jiwa dipandang sebagai sembah pada proses
> pencapaian tujuan akhir perjalanan suluk (pepuntoning laku), maka
> sembah rasa adalah sembah yang dilakukan bukan dalam perjalanan
> suluk itu, melainkan sembah yang dilakukan di tempat tujuan akhir
> suluk. Dengan kata lain, seorang salik telah tiba di tempat yang
> dituju. Dan di sinilah akhir perjalanan suluknya. Untuk sampai di
> sini, seorang salik masih tetap dibimbing gurunya seperti telah
> disebut di muka. Setelah ia diantarkan sampai selamat oleh gurunya
> untuk memasuki pintu gerbang, tempat sembah yang keempat, maka
> selanjutnya ia harus mandiri melakukan sembah rasa.
> >
> > Pada tingkatan ini, seorang salik dapat melaksanakan sendiri
> sembah rasa sesuai petunjuk-petunjuk gurunya. Pada tingkat ini ia
> dipandang telah memiliki kematangan rohani. Oleh karena itu, ia
> dipandang telah cukup ahli dalam melakukan sembah dengan
> mempergunakan aspek-aspek batiniahnya sendiri.
> >
> > Di sini, dituntut kemandirian, keberanian dan keteguhan hati
> seorang salik, tanpa menyandarkan kepada orang lain. Kejernihan
> batinlah yang menjadi modal utama. Hal ini sesuai dengan wejangan
> Amongraga kepada Tambangraras dalam Centini bait 156. Sembah
> tersebut, demikian dinyatakan Amongraga, sungguh sangat mendalam,
> tidak dapat diselami dengan kata-kata, tidak dapat pula dimintakan
> bimbingan guru. Oleh karena itu, seorang salik harus
merampungkannya
> sendiri dengan segala ketenangan, kejernihan batin dan kecintaan
> yang mendalam untuk melebur diri di muara samudera luas tanpa tepi
> dan berjalan menuju kesempurnaan. Kesemuanya itu tergantung pada
> diri sendiri, seperti terlihat pada bait berikut:
> > Iku luwih banget gawat neki / ing rarasantang keneng rinasa /
tan
> kena ginurokake / yeku yayi dan rampung / eneng onengira kang
> ening / sungapan ing lautan / tanpa tepinipun / pelayaran ing
> kesidan / aneng sira dewe tan Iyan iku yayi eneng ening wardaya.
> >
>

 













Send instant messages to your online friends http://uk.messenger.yahoo.com 
Reply | Threaded
Open this post in threaded view
|  
Report Content as Inappropriate

To mas Bambang -Re: Kejawen Islam ( AJI PAMELENG )

bambang satrio
RAHAYU

Betul Pak Wal,

WENING...
WENANG...
WASKITO...
WASPODO...
WICAKSONO...

SALAM, bs

--- In [hidden email], Wal Suparmo
<wal.suparmo@...> wrote:
>
> Salam,
> Meditasi atau MANEKUNG dalam  salah satu mazhab Kejawen adalah
HENING,HENENG dan HAWAS. 
> Wasalam,
> Wal suparmo
> --- On Mon, 21/7/08, bambang satrio <gathomalioboro@...> wrote:
>
> From: bambang satrio <gathomalioboro@...>
> Subject: To mas Bambang -[Spiritual-Indonesia] Re: Kejawen Islam (
AJI PAMELENG )

> To: [hidden email]
> Date: Monday, 21 July, 2008, 8:06 PM
>
>
>
>
>
>
> RAHAYU
>
> Mas Drajat...
>
> Saya pribadi dalam meditasi, nggak menggunakan methode yang
> diajarkan Seh Sitijenar secara keseluruhan, terutama dengan
menahan
> PERNAPASAN. Jadi hanya dikir saja. Tetapi itu sudah lama tidak
saya
> lakukan, kira=kira 5 tahun yang lalu. Sekarang hanya DIAM, MENENG
> berusaha WENING.
>
> Tetapi waktu masih menggunakan dikir, memang pernah ada pengalaman
> tertentu. Mendengar suara LEMAH LEMBUT dalam hati (disalahke yo ra
> popo mas, wong mendengar kok pakai hati), tetapi yang jelas,
ucapan

> itu sangat berguna bagi saya pribadi.
>
> Untuk meditasi...Sunan Kudus maupun Sunan Kalijaga, saya nggak
> mengerti mas. Maaf, bener-bener nggak tahu, jadi nggak bisa
> komentar.
>
> RAHAYU. bs
>
> --- In Spiritual-Indonesia @yahoogroups. com, "Sudrajat"
> <sudrajat@ .> wrote:
> >
> >
> > Dear mas Bambang S.
> >
> >
> > Artikel….yang melengkapi…, apiikk…langsung saya
> > simpen..meskipun belum di print.
> >
> > Cuma ada pertanyaa…sedikit… boleh ?.
> >
> > - Meditasi….Syeikh Siti Jennar …., bagaimana…ya. ?
> >
> > - Meditasi… Sunan Kudus…., beda …lho…?.
> >
> > - Meditasi….Sunan Kali Jaga…mungkin juga berbeda dengan
> kedua
> > tokoh itu.
> >
> > Mungkin…, bisa sedikit di singgung ? â€" ya,…biar
dongengnya.. semakin

> > seru..dan ramai.
> >
> >
> > Thanks / Sudrajat
> >
> >
> >
> > -----Original Message-----
> > From: Spiritual-Indonesia @yahoogroups. com
> > [mailto:Spiritual-Indonesia @yahoogroups. com] On Behalf Of
bambang
> satrio
> > Sent: Sunday, July 20, 2008 6:11 PM
> > To: Spiritual-Indonesia @yahoogroups. com
> > Subject: [Spiritual-Indonesi a] Re: Kejawen Islam ( AJI
PAMELENG )
> >
> > RAHAYU
> >
> > Salam Kenal Mang Dipo dan Mas Bus.
> > Hanya sekedar menambahkan tentang asal usul KEJAWEN ISLAM,
semoga

> > ada gunanya buat rekan-rekan SI semua :
> >
> > AJI PAMELENG
> >
> > Tegesipun aji = ratu, pameleng = pasamaden; mengku pikajeng :
> > tandaning sedya ingkang luhur piyambak. Dene empaning pandamelan
> wau
> > winastan manekung, pujabrata, mesu budi, mesu cipta, ngeningaken
> > utawi angluhuraken paningal, matiraga lan sasaminipun.
> >
> > Papan ingkang kangge nindakaken wau panepen, panekungan,
pamujan,

> > pamurcitan, pamursitan, pahoman, paheningan lan sanes-sanesipun.
> > Dene wedharing kawruh winastan daiwan, dawan, tirtaamerta,
> > tirtakamandhanu, tirtanirwala, mahosadi, kawasanan, kawaspadan,
> > kawicaksanaan, sastracetha, utawi sastrajendrayuningr at
> pangruwating
> > diyu lan sapanunggalanipun.
> >
> > Menggah pigunanipun kawruh lan pandamel wau, perlu kangge
> sarananing
> > panembah murid manggih kawilujengan, margi saged anindakaken
> dhateng
> > sawarnaning pandamel sae, punapadene kangge sarana duk kita
darbe
> > sedya nunuwun kanugrahaning gesang kita pribadi (Pangeran),
inggih
> > nunuwun bab punapa kemawon ingkang limrah kenging linampahan
> saking
> > pandamel kita ingkang boten tilar murwat.
> >
> > Wondene purwanipun ing jagad teka wonten kawruh pasamaden, bilih
> > miturut saking tembung-tembungipun , sanyata kathah ingkang
nagngge
> > basa Sansekrit; yen makaten tetela manawi wimbaning kawruh
> pasamaden
> > wau saking tumitising kawicaksananipun bangsa Indhu ing jaman
kina
> > makina, ingkang sampun boten kasumerepan petang ewoning taun.
> > Bokmanawi kemawon papantaranipun kalihan nalika bangsa Indhu
> > amurwani iyasa candhi dalah reca-recanipun. Dene kawruh wau ing
> > sakawit inggih namung kangge bangsa Indhu, boten nawang bangsa
> Indhu
> > ingkang agami punapa kemawon, katamtokaken mesthi ngrasuk
> pasamaden.
> > Awit inggih namung kawruh pasamaden punika ingkang dados
mukaning
> > saliring kawruh sajagad, lan ugi dados pangajenging piwulan
agami.
> >
> > Ing ngalami lami bangsa Indhu sami lumeber dhateng ing Tanah
Jawi
> > lan sanes sanesipun, serta sami anggelaraken agaminipun tuwin
> kawruh
> > sanes sanesipun; makaten ugi kawruh pasamaden inggih boten
kantun.
> > Kawruh pamasaden wonten ing Tanah Jawi saget ngrembaka
tuwuhipun,

> > margi bangsa Jawi tan pilih drajad sami remen puruita lan saged
> > nandangaken dating pangolahing kawruh punika, awit kawruh wau
> saget
> > nocoki kalihan dhadhasaring pamanahipun titiyang Jawi, mila
> kalayan
> > gampil rumasukipun wonten ing balung sungsuming titiyang Jawi.
> > Kasembuh malih saking kathahing bangsa Indhu kados sinuntak sami
> > angajawi, nedya anggelar agami Jawi lan kawruh kawicaksananipun.
> > Bebasan sakedeping netra, bangsa Jawi ing sa'indhengipun maratah
> > sampun sami angrasuk agami Indhu, lan ugi sampun sami saget
> > ngraosaken kabegjan, kamulyan, kawilujengan lan sasaminipun,
margi
> > saking wohing kawruh pandamel wau.
> >
> > Ing wusana katungka dhatengipun titiyang bangsa Arab sami
lumebet

> > ing Tanah jawi, ingkang ugi ambekta kawruh lan agaminipun
> Mohammad,
> > kasebut agami Islam, temah nyunyuda tumangkaring agami Indhu,
> sebab
> > lajeng wonten ingkang angrasuk agami Islam. Namung kemawon
> wedharing
> > agami Islam boten andarbeni kawruh pasamaden, kados kasebut ing
> > nginggil.
> >
> > Sareng golonganipun tiyang Islam sampun saget ngendhih Nagari,
> > inggih punika adeging Karaton Bintara (Demak), ing ngriku lajeng
> > angawisi kalayan kenceng, titiyang Jawi boten kenging
anindakaken

> > kawruh pasamaden, mekaten ugi sami kinen nilar agaminipun lami,
> > serta kedah santun angrasuk agami Islam.
> >
> > Ananging boten ta manawi bangsa Jawi lajeng anut purun santun
> agami
> > Islam sadaya, purunipun wau namung margi saking ajrih paukuman
> > wisesaning Nata, dados Islam-ipun wau namung wonten ing lahir
> > kemawon, utawi Islam pangaran-aran, yen batosipun taksih
> angrungkepi
> > agamipun lami. Milo bab kawruh pasamaden inggih taksih lajeng
> > katindakaken, ananging pamulang pamedharing kawruh pasamaden
wau,
> > ingkang karan nama wejangan (wijang-wijang) sarana lampah
> > dhedhemitan, katindakaken ing wanci ndalu sasampunipun jam 12,
ugi

> > papaning pamejang boten kenging kaubah wangon, kadosta ing ara-
> ara,
> > ing wana, ing lepen lan sasaminipun ing papan ingkang sepen.
> > Pamejangipun srana bisikan boten kenging kapireng ngasanes,
> sanadyan
> > suket godhong, kewan tuwin bangsanipun gegremetan kutu-kutu
> > walangataga ugi boten kenging miring, yen miring lajeng malih
> dados
> > manungsa. Mila linggihipun Kyai Guru ajeng-ajengan aben bathuk
> > kaliyan pun murid, serta sanget pamantos-mantosipun Kyai Guru,
pun
> > murid boten kenging nularaken wewejanganipun (kawruhipun)
dhateng
> > tiyang sanes, bilih dereng angsal palilah Guru, yen nerak bade
> > angsal wilalat manggih sapudendhaning Pangeran. Panindak ingkang
> > mekaten punika, purwanipun namung tetep kangge panjagi, supados
> > pamulanging kawruh pasamaden boten katupiksan dhateng
> pamarintahing
> > agami Islam. Sebab yen ngantos kasumerepan, tamtu manggih pidana.
> >
> > Dumuginipun ing jaman samangke, sanadyan Nagari sampun boten
> > angarubiru dhateng wontenipun wewejangan kawruh pasamaden,
nanging
> > panindaking wejangan wau taksih kalestantunaken sarana
dhedhemitan
> > kados kawursita ing nginggil. Mila lajeng angsal paparab saking
> > panyedaning titiyang ingkang boten remen, utami tiyang ingkang
> > anglampahi sarengating agami Islam, bilih wontening wejangan
> kawruh
> > pasamaden wau lajeng kawastan ilmu klenik. Purwo saking tembung
> > klenik, lajeng angandhakaken tembung abangan lan putihan.
Ingkang
> > kasebut abangan punika tiyang ingkang boten nindakaken saraking
> > agami Islam, dene putihan mastani tiyang Jawi ingkang teluh
> manjing
> > agami Islam sarta anglampahi sadaya sarak sarengating agami
Islam
> > wau, inggih punika ingkang kasebut nama santri. Mila santri
karan
> > putihan, margi miturut panganggenipun titiyang agami Islam,
bilih
> > santri punika sarwo-sarwi langkung resik utawi suci tinimbang
> > kaliyan titiyang ingkang boten angrasuk agami Islam.
> >
> > Mangsuli wontening kawruh pasamaden anggenipun sanget winados,
> > menggah ingkang dados sababipun kapretalakaken ing nginggil.
Dene
> > yen saleresipun ingkang nama wados-wados wau pancen boten
wonten;
> > dados inggih kenging-kenging kemawon kawulangaken dhateng sok
> > tiyanga, boten mawang nem sepuh, serta kenging kawejangaken ing
> > sawanci-wancinipun, uger tiyang wau pancen ambetahaken kawruh
> > pasamaden kasebat. Sebab wontenipun sadaya punika supados
> > kasumerepan dhateng ingakathah, langkung-langkung kawruh
pasamaden
> > punika ingkang sanyata dados mukaning sadaya kawruh. Mila wajib
> > sinebar dados seserepaning tiyang nem sepuh wadarin ing
> > saindengipun, tanpa nawang andhap inggiling darajadipun.
> >
> > Amarengi wahyaning mangsakala, wusana wonten kaelokaning
> lalampahan
> > ingkang boten kanyana-nyana; ing pawingkingipun bab kawruh
> pasamaden
> > wau lajeng muncul katampen dhateng tiyang Islam, margi yakin
bilih
> > kawruh pasamaden wau, pancen musthikaning gagayuhan ingkang
saged

> > andhatengaken ing kawilujengan, kamulyan, katentreman, lan
> > sasaminipun. Mila kawruh wau dening tiyang ingkang sampun suluh
> > papadhanging raosipun inggih punika Seh Sitijenar, ingkang ugi
> dados
> > pramugarining agami Islam apangkat Wali, lajeng kadhapuk ing
> ndalem
> > serat karanganipun, ingkang lajeng winastan daim, wirid saking
> > tembung daiwan kasebut ing nginggil. Punapadene lajeng kaewoaken
> > dados saperanganing panembah, sarana dipun wewahi tembungipun,
> > lajeng mungel : salat daim (salat - basa arab, daim saking
daiwan
> > basa Sansekrit). Milanipun dipun wewahi basa arab, namung
> > kawigatosan kangge mikekahaken kapitadosanipun murid-muridipun
> > ingkang sampun sami necep agami Islam. Punapadene tembung salat
> > lajeng kapilah kalih prakawis. Sapisan salat 5 wekdal, kasebut
> > salat sarengat, ateges panembah lahir. Kaping kalih salat daim,
> > punika panembahing batos; mangertosipun : anekadaken
manunggaling
> > pribadinipun, utawi kasebut loroning atunggil.
> > Kitab karanganipun Seh Sitijenar wau lajeng kangge paugeraning
> > piwulang. Sareng sampun angsal kawigatosaning ngakathah, ing
> ngriku
> > salat 5 wekdal lan sarak agami sanes-sanesipun lajeng kasuwak
> boten
> > kawulangaken babar pisan. Ingkang pinindeng namung mumuruk
> > tumindaking salat daim kemawon. Mila titiyang Jawi ingkang suwau
> > manjing agami Islam, langkung-langkung ingkang dereng, lajeng
sami
> > ambyuk maguru dhateng Seh Sitijenar, margi piwulangipun langkung
> > gampil, terang lan nyata.
> >
> > Wondene purwanipun Seh Sitijenar kaserenan kawruh pasamaden,
> ingkang
> > mijeni Kyai Ageng Pengging, sebab Seh Sitijenar punika
> > mitradarmanipun Kyai Ageng Pengging. Kawruh pasamaden, dening
Seh
> > Sitijenar lajeng katularaken Raden Watiswara, inggih Pangeran
> > Panggung, ingkang ugi apangkat Wali. Lajeng tunimbal dhateng
Sunan
> > Geseng, inggih Ki Cakrajaya, tiyang asal saking Pagelen, ingkang
> > kacarios saderengipun dados Wali, Ki Cakrajaya wau
pandamelanipun
> > anderes nitis gendhis. Salajengipun sumrambah kawiridaken
dhateng

> > ingakatah. Makaten ugi sakabat-sakabatipun Seh Sitijenar ingkang
> > sampun kabuka raosipun, dening Seh Sitijenar kinen sami madeg
> > paguron amiridaken kawruh pasamaden wau. Sangsaya dangu sangsaya
> > ngrebda, anyuremaken panguwaosing para Wali, anggenipun
> amencaraken
> > piwulang agami Islam. Yen kalajeng-lajeng masjid saestu badhe
> suwung.
> >
> > Ngawekani sampun ngantos wonten kadadosan ingkang makaten, temah
> > Kyai Ageng Pengging tuwin Seh Sitijenar sasekabatipun ingkang
sami
> > pinejahan katigas jangganipun dening para Wali, saking
dhawuhipun
> > Sultan Demak. Makaten ugi Pangeran Panggung boten kantun,
kapidana
> > kalebetaken ing brama gesang-gesangan wonten samadyaning alun-
alun
> > Demak, kangge pangewan-ewan murih titiyang sami ajrih, lajeng
sami
> > mantuni utawi nglepeh piwulangipun Seh Sitijenar.
> >
> > Kacariyos sariranipun Pangeran Panggung boten tumawa dening
> > mawerdining Hyang Brama, lajeng oncat medal saking salebeting
latu
> > murub, nilar nagari Demak. Kanjeng Sultan Bintara tuwin para
Wali
> > sami kablerengen kaprabawan katiyasaning Pangeran Panggung,
temah
> > kamitenggengen kadi tugu sinukarta. Sareng sampun sawatawis
tebih
> > tindakipun Sang Pangeran, Kanjeng Sultan tuwin para Wali saweg
> sami
> > enget bilih Pangeran Panggung kalis saking pidana, temah sami
> rumaos
> > kawon angsal sihing Pangeran. Katungka unjuking wadyabala, atur
> > uninga bilih Sunan Geseng, inggih Ki Cakrajaya, kesah anututi
> > lampahipun Pangeran Panggung. Ing ngriku Kanjeng Sultan
katetangi
> > dukanipun, temah dhawahing bendu, para sakabat tuwin murid-
> muridipun
> > Seh Sitijenar ingkang kapikut lajeng sami pinejahan. Ingkang
boten
> > kacepeng sami lumajar pados gesang.
> >
> > Para sakabatipun Seh Sitijenar ingkang taksih wilujeng
> > kakantunanipun ingkang sami pejah, ugi taksih sami madeg paguron
> > nglestantunaken pencaring kawruh pasamaden, nanging mawi
sislintru
> > tinutupan wuwulang sarengating agami Islam, murih boten
ka'arubiru
> > dening para Wali pramugarining praja. Dene piwulangipun kados
ing
> > ngandhap punika :
> >
> > Pamulanging kawruh pasamaden ingkang lajeng karan salat daim,
> > karangkepan wuwulang salat 5 wekdal tuwin rukuning Islam sanes-
> > sanesipun malih. Wewejanganipun salat daim wau lajeng winastan
> > wiridan naksobandiyah, dene panindaking piwulang kawastan
tafakur.
> > Saweneh wonten ingkang pamulangipun ing saderengipun para murid
> > nampi wiridan salat daim, langkung rumiyin kalatih lampah
> > dhidhikiran lan maos ayat-ayat. Wiwit punika wuwulangan
pasamaden
> > lajeng wonten wanrni kalih, inggih punika :
> >
> > 1. Piwulang pasamaden wiwiridan saking para sekabatipun Seh
> > Sitijenar, ingkang sarana tinutupan utawi aling-aling sarak
> rukuning
> > agami Islam. Wuwulangan wau dumuginipun ing jaman samangke
sampun
> > mleset saking jejer ing sakawit, mila para guru samangke,
ingkang
> > sami miridaken kawruh pasamaden, ingkang dipun santuni nama
> > naksobandiyah utawi satariyah, nginten bilih kawruh wau
wiwiridan
> > saking ngulami ing Jabalkuber (Mekah). Salajengipun para Kyai
guru

> > wau, amastani guru klenik dhateng para ingkang sami miridaken
> kawruh
> > pasamaden miturut wawaton Jawi pipiridan saking Seh Sitijenar.
> > Punapadene para Kyai guru wau nyukani paparab nama Kiniyai,
> > pikajengipun : guru ingkang mulangaken ilmuning setan. Dene nama
> > Kyai, punika guru ingkang mulangaken ilmuning para nabi.
> >
> > 2. Piwulang pasamaden miturut Jawi, wiji saking Kyai Ageng
> > Pengging, ingkang kapencaraken dening Seh Sitijenar (ingkang ing
> > samangke karan klenik), punika ing sakawit, ingkang dados
> purwaning
> > piwulang, dumunung wonten panggulawenthahing wawatekan 5
prakawis,
> > kados ing ngandhap punika :
> >
> > 1. Setya tuhu utawi temen lan jujur.
> > 2. Santosa, adil paramarta, tanggeljawab boten lewerweh.
> > 3. Leres ing samubarang damel, sabar welas asih ing sasami,
> > boten ngunggul-unggulaken dhirinipun, tebih saking watak
> panganiaya.
> > 4. Pinter saliring kawruh, langkung-langkung pinter ngecani
> > manahing sasami-sami, punapadene pinter angereh kamurkaning
manah

> > pribadi, boten anguthuh melik anggendhong lali, margi saking
> > dayaning mas picis rajabrana.
> > 5. Susila anor-raga, tansah nganggeni tatakrami, maweh
> > rereseping paningal tuwin sengseming pamiharsa, dhateng ingkang
> sami
> > kataman.
> >
> > Lampah 5 prakawis wau kedah linampahan winantu ing pujabrata
> > anandangaken ulah samadi, inggih amesu cipta angeningaken
> > pranawaning paningal. Awit saking makaten punika mila tumrap
> > panindaking agami Jawi (Buda), bab kawruh pasamaden tuwin lampah
5
> > prakawis wau kedah kawulangaken dhateng sadaya titiyang enem
sepuh
> > boten pilih andhap inggiling darajatipun. Mila makaten, sebab
> > musthikaning kawruh tuwin luhur-luhuring kamanungsan, punika
bilih
> > tetep samadinipun, kuwasa anindakaken lampah 5 prakawis kados
> > kawursita ing nginggil. Temah kita manggen ing sasananing
> > katrenteman, dene wontening katentreman mahanani harja kerta lan
> > kamardikan kita sami. Yen boten makaten, ngantos sabujading
jagad,
> > kita badhe nandhang papa cintraka, kagiles dening rodha
jantraning

> > jagad, margi kacidraning manah kita pribadi.
> >
> > Bab kawruh pasamaden ingkang lajeng karan wiridan naksobandiyah
> lan
> > satariyah, ingkang ing nguni wiwiridan saking Seh Sitijenar,
> sampun
> > ka'andharaken ing nginggil, namung kemawon tumandangipun boten
> > kawedharaken. Ing riki namung badhe anggelaraken lampah
> tumandanging
> > samadi sacara Jawi, ingkang dereng kacarobosan agami sanes,
inggih
> > punika makaten :
> >
> > Para nupiksa, mugi sampun kalintu panampi, bilih samadi punika
> > angicalaken rahsaning gesang utawi nyawanipun (gesangipun) medal
> > saking badan wadhag. Panampi makaten punika, purwanipun mirid
> saking
> > cariyos lalampahanipun Sri Kresna ing Dwarawati, utawi Sang
Arjuna
> > yen angraga-suksma. Mugi kawuninganana, bilih cariyos makaten
> punika
> > tetep namung kangge pasemon utawi pralambang.
> >
> > Ing samangke wiwit wedharaken lampahing samadi makaten : tembung
> > samadi = sarasa - rasa tunggal - maligining rasa - rasa jati -
> rasa
> > nalika dereng makarti. Dene makartining rasa jalaran saking
> > panggulawenthah utawi piwulang, punapadene pangalaman-pangalam
an
> > ingkang tinampen utawi kasandhang ing sadinten-dintenipun .
Inggih
> > makartining rasa punika ingkang kawastanan pikir. Saking
dayaning
> > panggulawenthah, piwulang tuwin pangalaman-pangalam an wau,
pikir
> > lajeng gadhah panganggep awon lan sae, temah anuwuhaken
tatacara,
> > pamacak lan sanes-sanesipun ingkang lajeng dados pakulinan.
Punapa
> > panganggep awon sae, ingkang sampun dados tata-cara margi sampun
> > dados pakulinan punika, yen awon inggih awon sayektos, yen sae
> > inggih sae temenan, punika dereng tamtu, jer punika namung
> > pakulinaning panganggep. Dene panganggep, boten yekti, tetep
> namung
> > ngenggeni pakulinaning tata-cara, dados inggih dede kajaten
utawi

> > kasunyatan. Menggah pikajenganipun samadi ing riki, boten wonten
> > sanes namung badhe nyumerepi kajaten, dene sarananipun boten
> wonten
> > malih kajawi nyumerepi utawi anyilahaken panganggep saking
> > makartining rasa, kasebut sirnaning papan lan tulis. Inggih ing
> riku
> > punika jumenenging rasa jati kang nyata, kang yekti, kang weruh
> > tanpa tuduh. Wondene kasembadanipun kedah angendelaken ing
> > saniskara, sarana angereh solahing anggota (badan). Mangrehing
> > anggota wau ingkang langkung pikantuk kalihan sareyan malumah,
> saha
> > sidhakep utawi kalurusaken mangandhap, epek-epek kiwa tengen
> > tumempel ing pupu kiwa tengen, suku ingkang lurus, dalamakan
suku
> > ingkang tengen katumpangaken ing dalamakan suku kiwa, mila
lajeng
> > kasebut sidhakep suku (saluku) tunggal. Punapadene angendelna
> > ebahing netra (mripat), inggih punika ingkang kawastanan meleng.
> > Lampah makaten wau ingkang kuwasa ngendelaken osiking cipta
> > (panggagas), tuwin amuntu ilining rahsa, dene pancering paningal
> > kasipatna amandeng pucuking grana medal saking sa'antawising
netra
> > kakalih, inggih punika ing papasu, dene pamandengipun kedah
> kalayan
> > angeremaken netra kakalih pisan.
> >
> > Sasampunipun lajeng nata lebet wedaling napas (ambegan)
makaten :
> > panariking napas saking puser kasengkakna minggah anglangkungi
> > cethak ingga dumugi ing suhunan (utek = embun-embunan) , sarta
mawi
> > kaendelna ing sawatawis dangunipun. Sumengkanipun napas wau
> > kadosdene darbe raos angangkat punapa-punapa, dene temenipun
> ingkang
> > kados kita angkat, punika ilining rahsa ingkang kita pepet
saking
> > sumengkaning napas wau, menawi sampun kraos awrat panyangginipun
> > napas, inggih lajeng ka'edhakna kalayan alon-alon. Inggih patrap
> > ingkang makaten punika ingkang kawastanan sastracetha. Tegesipun
> > cetha = empaning kawruh, cetha = antebing swara cethak, inggih
> > cethaking tutuk kita punika. Mila winastan makaten, awit duk
kita
> > mangreh sumengkaning napas anglangkungi dhadha lajeng minggah
> malih
> > anglangkungi cethak ingga dumugi suhunan. Menawi napas kita
dipun
> > ereh, dados namung manut lampahing napas piyambak, tamtu boten
> saget
> > dumugi ing suhunan, margi saweg dumugi ing cethak lajeng sampun
> > medhak malih. Punapadene ugi winastan daiwan (dawan),
> pikajengipun :
> > mangreh lebet wedaling napas ingkang panjang lan sareh, sarwi
> > mocapaken mantra sarana kabatos kemawon, inggih punika mungel
`hu'
> > kasarengan kalihan lumebeting napas, inggih panariking napas
> saking
> > puser, minggah dumugi ing suhunan. Lajeng `ya', kasarengan
kalihan

> > wedaling napas, inggih medhaking napas saking suhunan dumugi ing
> > puser, minggah mandhaping napas wau anglangkungi dhadha lan
> cethak.
> > Dene, anggenipun kawastanan sastracetha, margi nalika mocapaken
> > mantra sastra kakalih : hu - ya, wedaling swara ingkang namung
> > kabatos wau, ugi kawistara saking dayaning cethak. (Ungeling
> mantra
> > utawi panebut kakalih : hu â€" ya, ing wiridan naksobandiyah
> kaewahan
> > dados mungel, hu â€" Allah, panebutipun ugi kasarengan lampahing
> > napas. Dene ing wiridan satariyah, panebut wau mungel : hailah
â€"

> > haillolah, nanging tanpa angereh lampahing napas).
> >
> > Menggah lebet medaling napas kados kasebut ing nginggil,
> > sa'angkatanipun namung kuwasa angambali rambah kaping tiga, mila
> > makaten, awit napas kita sampun boten kadugi manawi kinen
> > anandangana malih, jalaran sampun menggeh-menggeh. Dene manawi
> > sampun sareh, inggih lajeng ka'angkatana malih, makaten
> salajengipun
> > ngantos marambah-rambah sakuwawinipun, margi saya kuwawi dangu,
> > sangsaya langkung prayogi sanget. Dene sa'angkataning pandamel
wau
> > kawastan : tripandurat, tegesipun tri = tiga, pandu = suci, rat
=
> > jagad â€" badan â€" enggen, suraosipun : kaping tiga napas kita
saget
> > tumameng ing ngabyantaraning ingkang Maha suci manggen ing
> > salebeting suhunan (ingkang dipun suwuni). Inggih punika ingkang
> > kabasakaken paworing kawula Gusti, tegesipun : manawi napas kita
> > sumengka, kita jumeneng gusti, yen tumedhak, wangsul dados
kawula.
> > Bab punika para nupiksa sampun kalintu tampi ! Menggah ingkang
> dipun
> > wastani kawula gusti punika dede napas kita, nanging dayaning
> cipta
> > kita. Dados ulah samadi punika, pokokipun kita kedah
amanjangaken
> > panjing wijiling napas (lebet wedaling napas), kalihan
> angeningaken
> > (ambeningaken) paningal, sebab paningal punika kadadosan saking
> > rahsa.
> >
> > Wondene patraping samadi kados kasebut ing nginggil wau, ugi
> kenging
> > karancagaken, uger kita tansah lumintu tanpa pedhot mangeh
panjing
> > wijiling napas, kalihan lenggah, lumampah, utawi nyambutdamel
> inggih
> > kedah boten kenging tilar mangreh lebet wedaling napas wau,
> ingkang
> > sarana mocapaken mantra mungel : hu â€" ya, kados ingkang
kajarwa
> ing
> > nginggil.
> >
> > Kajawi punika, wirid saking tembung daiwan punika ugi taksih
darbe
> > maksud sanesipun malih, inggih punika ateges panjang tanpa
ujung,
> > utawi ateges langgeng. Dene pikajengipun amastani bilih
wontening
> > napas kita punika sanyata wahananing gesang kita ingkang
langgeng,
> > inggih wontening ambegan kita. Dene ambegan punika, sanyata
> > wontening angin ingkang tansah mlebet medal tanpa kendel,
ingkang
> > sasarengan kalihan keketeg panglampahing rah (roh). Bilih
kakalih
> > wau kendel boten makarti nama pejah, inggih risaking badan
wadhag

> > wangsul dados babakalan malih. Mila sayogyanipun lampahing napas
> > inggih ambegan kita ingkang tansah mlebet medal tanpa kendel,
> kedah
> > kapanjang-panjangan a lampahipun, murih panjanga ugi umur kita,
> temah
> > saget awet wonten ing donya tutug panyawangipun dhateng anak,
> putu,
> > buyut, canggah, wareng, ingkang babranahan.
> >
> > Wontenipun andharan ing nginggil, mratelakaken bilih kawruh
> > pasamaden punika sanyata langkung ageng pigunanipun, mila lajeng
> > sinebut sastrajendrayuningr at pangruwating diyu. Tegesipun
sastra
> =
> > empaning kawruh, jendra = saking panggarbaning tembung harja
> endra.
> > Tegesipun harja = raharja, endra = ratu â€" dewa, yu = rahayu
â€"
> > wilujeng, ningrat = jagad â€" enggen â€" badan. Suraosipun :
> > Musthikaning kawruh ingkang kuwasa amartani ing karahayon,
> kaharjan,
> > katentreman lan sapatunggalipun. Dene tegesesipun pangruwating
> diyu
> > = amalihaken diyu; dene diyu = danawa â€" raksasa â€" asura â€"
buta,
> > punika kangge pasemoning piawon, penyakit, rereget, babaya,
> > pepeteng, kabodhohan lan sanesipun. Dados diyu punika
> > kosokwangsulipun dewa, engkang ateges pinter, sae, wilujeng lan
> > sapanunggilipun. Mengku suraos amastani ingkang saget
anyirnakaken
> > saliring piawon tuwin samubarang babaya pekewed. Mangertosipun,
> > sinten ingkang tansah ajeg lumintu anandangaken ulah samadi,
> punika
> > bilih ing suwaunipun tiyang awon, lajeng sirna piawonipun, malih
> > dados tiyang sae lampahipun. Tiyang sakit sirna sakitipun, dados
> > saras, tiyang murka daksiya lajeng narimah sabar, welasasih.
> Tiyang
> > goroh lajeng dados temen. Tiyang bodho dados pinter. Tiyang
pinter

> > dados pinter sanget. Makaten ugi tiyang golongan sudra dados
> waesia,
> > waesia dados satriya, satriya dados brahmana, brahmana sumengka
> > pangawak braja asarira bathara.
> >
> > RAHAYU
> >
> > BS
> >
> > --- In Spiritual-Indonesia
> > <mailto:Spiritual- Indonesia% 40yahoogroups. com> @yahoogroups.
com,
> > bustanus salatin
> > <ki_ageng_jenar@ > wrote:
> > >
> > > buku SATRIO PANINGIT, BENCANA NUSANTARA, MANUNGGALINGKAWULOG
USTI
> > dalam UNIVERSALITAS KEAGAMAAN
> > > ISBN:978-979- 17824-0-1/ barcode
> > >
> > > Bab 10: Kajian Tafsir Huruf Muqota'ah: Pandangan Siti Jenar
dan
> > Husain ibnu Mansur al-Hallaj dalam Manunggaling Kawulo Gusti
> > >
> > > Syekh Siti Jenar begitu sering dihubung-hubungkan dengan al-
> Husain
> > ibnu Mansur al-Hallaj atau singkatnya Al-Hallaj saja, sufi
Persia
> > abad ke-10, yang sepintas lalu ajarannya mirip dengan Siti
Jenar,
> > karena ia memohon dibunuh agar tubuhnya tidak menjadi penghalang
> > penyatuannya kembali dengan Tuhan. Adalah Al-Hallaj yang karena
> > konsep satunya Tuhan dan dunia mengucapkan kalimat, "Akulah
> > Kebenaran/ Anna al Haq," yang menjadi alasan bagi hukuman
matinya
> > pada 922 Masehi di Baghdad. Seperti Syekh Siti Jenar pula, nama
Al-
> > Hallaj menjadi monumen keberbedaan dalam penghayatan agama,
> sehingga
> > bahkan diandaikan bahwa jika secara historis Syekh Siti Jenar
tak
> > ada, maka dongengnya adalah personifikasi saja dari ajaran Al-
> > Hallaj, bagi yang mendukung maupun yang menindas ajaran tersebut.
> > > petikan atas kutipan dari Serat Siti Jenar yang diterbitkan
oleh

> > Tan Khoen Swie, Kediri, pada 1922:
> > > Kawula dan gusti sudah ada dalam diriku, siang dan malam tidak
> > dapat memisahkan diriku dari mereka. Tetapi hanya saat ini nama
> > kawula-gusti itu berlaku, yakni selama saya mati. Nanti, kalau
> saya
> > sudah hidup lagi, gusti dan kawula lenyap, yang tinggal hanya
> > hidupku, ketenteraman langgeng dalam Ada sendiri.
> > > Hai Pangeran Bayat, bila kau belum menyadari kebenaran kata-
> kataku
> > maka dengan tepat dapat dikatakan, bahwa kau masih terbenam
dalam
> > masa kematian. Di sini memang banyak hiburan aneka warna. Lebih
> > banyak lagi hal-hal yang menimbulkan hawa nafsu. Tetapi kau
tidak
> > melihat, bahwa itu hanya akibat pancaindera.
> > > Itu hanya impian yang sama sekali tidak mengandung kebenaran
dan

> > sebentar lagi akan lenyap. Gilalah orang yang terikat padanya,
> tidak
> > seperti Syeh Siti Jenar. Saya tidak merasa tertarik, tak sudi
> > tersesat dalam kerajaan kematian. Satu-satunya yang kuusahakan,
> > ialah kembali kepada kehidupan
> > > Dalam pupuhnya, Syekh Siti Jenar merasa malu apabila harus
> > berdebat masalah agama. Alasannya sederhana, yaitu dalam agama
> > apapun, setiap pemeluk sebenarnya menyembah zat Yang Maha Kuasa.
> > Hanya saja masing - masing menyembah dengan menyebut nama yang
> > berbeda - beda dan menjalankan ajaran dengan cara yang belum
tentu
> > sama. Oleh karena itu, masing - masing pemeluk tidak perlu
saling
> > berdebat untuk mendapat pengakuan bahwa agamanya yang paling
benar.
> > > Syekh Siti Jenar juga mengajarkan agar seseorang dapat lebih
> > mengutamakan prinsip ikhlas dalam menjalankan ibadah. Orang yang
> > beribadah dengan mengharapkan surga atau pahala berarti belum
bisa
> > disebut ikhlas.
> > > Manunggaling Kawula Gusti, Dalam ajarannya ini, pendukungnya
> > berpendapat bahwa Syekh Siti Jenar tidak pernah menyebut dirinya
> > sebagai Tuhan. Manunggaling Kawula Gusti dianggap bukan berarti
> > bercampurnya Tuhan dengan Makhluknya, melainkan bahwa Sang
> Pencipta
> > adalah tempat kembali semua makhluk. Dan dengan kembali kepada
> > Tuhannya, manusia telah menjadi sangat dekat dengan Tuhannya.
> > > Dan dalam ajarannya, 'Manunggaling Kawula Gusti' adalah bahwa
di
> > dalam diri manusia terdapat ruh yang berasal dari ruh Tuhan
sesuai
> > dengan ayat Al Qur'an yang menerangkan tentang penciptaan
manusia
> ("
> > Ketika Tuhanmu berfirman kepada malaikat: "Sesungguhnya Aku akan
> > menciptakan manusia dari tanah. Maka apabila telah Kusempurnakan
> > kejadiannya dan Kutiupkan kepadanya roh Ku; maka hendaklah kamu
> > tersungkur dengan bersujud kepadanya (Shaad; 71-72)"). Dengan
> > demikian ruh manusia akan menyatu dengan ruh Tuhan dikala
> > penyembahan terhadap Tuhan terjadi.
> > > Riwayat pertemuan Ibrahim ibn Sam'an dengan Husain bin Mansur
al
> > Hallaj ( Kutipan dari Buku Husain bin Manshur al Hallaj,
karangan
> > Louis Massignon)
> > > Aku melihat al Hallaj pada suatu hari di masjid al Mansur: Aku
> > memiliki 2 dinar dalam sakuku dan aku berpikir untuk
menghabiskan
> > uang itu untuk hal-hal yang melanggar hukum. Seseorang datang
dan
> > memintah sedekah.Dan Husain bin Mansur al Hallaj berkata:' Ibnu
> > Sam'an berikanlah sedekah dengan apa yang kamu simpan di dalam
> > jubahmu, aku terdiam dan menangis, " oh syaikh,bagaimana engkau
> > mengetahui hal itu?'' Al Hallaj berkata:' Setiap hati yang
> > mengosongkan diri dari yang selain Alloh, dapat membaca
kesadaran
> > orang dan menyaksikan apa yang ghoib''. Ibnu Sam'an berkata:''
> > o,syaikh ajarilah aku sebuah hikmah''. Kemudian berkata al
> > Hallaj :''Orang yang mencari Tuhan dibalik huruf miim dan ain
akan
> > menemukan Nya.Dan seseorang yang mencarinya dalam konsonan
idhafah
> > antara alif dan nun, orang itu akan kehilangan Dia. Karena Dia
itu
> > Maha Suci, di luar jangkauan pikiran dan diatas yang
terselubung ,
> > yang berada di dalam diri setiap
> > > orang. Kembalilah kepada Tuhan, Titik Terakhir adalah Dia.
Tidak
> > ada "Mengapa" di hari akhir kecuali Dia.Bagi manusia "MA/ yaitu
> miim
> > dan ain" milik Dia berada dalam miim dan ain makna ""MA"" ini
> adalah
> > Tuhan Maha Suci. Dia mengajak makhluk terbang menuju
Tuhan. "miim"
> > membimbing ke Dia dari atas ke bawah. "ain"membimbing ke Dia
dari
> > Jauh dan Luas.
> > >
> > > Ilmu Huruf Muqota'ah
> > > Ilmu huruf, yang didasarkan pada satu bahsa suci, tentulah
> > memiliki sebuah fondasi mistis yang diperlukan. Orang bisa
> > menemukan doktrin ini dalam puisi mistis yang terkenal Ghulsyan-
i
> > Raz (Taman Mawar), karya Syabistari: " Bagi orang yang jiwanya
> > adalah manifestasi Tuhan yaitu al Qur'an, keseluruhan alam ini
> > adalah huruf-huruf vokalNya dan substansinya adalah huruf
konsonan

> > Nya " Pasal 200-209 puisi Ghulsyan-i Raz.
> > > Abu Ishaq Quhistani, sufi Islam, menegaskan pentingnya ilmu
> huruf
> > dengan menyatakan bahwa " ilmu huruf adalah akar dari segala
> ilmu ".
> > Secara skematis ilmu huruf mengandung :
> > >
> > > Simbolisme ketuhanan dan metafisika atau /metakosmik
> > > Simbolisme universal / makrokosmik yang didasarkan pada
> > korespondensi antara huruf-huruf dan benda astrologis (ruang
> > angkasa/ planet/ lambang zodiak dll)
> > > Simbolisme manusia dan individu yang didasarkan pada
> korespondensi
> > fisiologis/organ tubuh
> > > Jumlah huruf muqatta'ah (terpotong) ada 14 huruf yaitu :alif
lam
> > miim,ha miim, alif lam ra, tha ha,ha miim ain sin qaf, ya sin,
kaf
> > ha ya `ain shad, kaf dan nun. Kalau dirangkai keseluruhannya
> menjadi
> > sebuah kalimat : Shiratu `aliyin haqqun namsikuhu (jalan Ali
> adalah
> > kebenaran yang kita pegang). huruf muqatta'ah (terpotong) adalah
> > huruf-huruf yang merupakan rumusan dialog antara Alloh swt
dengan
> > kekasihnya (para Nabi dan para Wali)
> > > Apa Makna miim dan ain sehingga dapat menemukan Tuhan dan
> bertemu
> > dengan Nya dan Mengapa ketika mencari Tuhan dibalik huruf alif
dan
> > nun maka tidak bisa bertemu dengan Nya?
> > > Tafsir Miim (numerology Arabiyah)::
> > >
> > > Huruf miim merupakan muhammad rosulillah atau Ahmad, yang
> > merupakan pintu menuju Ahad yang merupakan wahdaniyah Allah.
> > Perbedaan antara Ahad dan Ahmad adalah huruf arab Miim (muhammad
> > rosulillah - penutup jalur risalah dan kenabian)
> > > Miim juga berarti malakuti / keagungan / penguasaan atas
seluruh

> > langit bumi, ayat Kursi merupakan ayat yang mengandung banyak
> huruf
> > miim didalamya
> > > Huruf miim bernilai 40, 40 hari khalwat dengan ikhlas dengan
> > mengamalkan surat al ikhlas dan ayat Kursi (ayat yang banyak
> > mengandung huruf miim /sujud jadi sujud adalah cara menggapai
> > keagungan). Juga surat al ikhlas di awali dengan qulhuwa allohu
> > ahad. Jadi perwujudan ahad di dunia adalah ahmad, ketika manusia
> > menjadi ahmad maka merupakan tajalli/ penampakan sang Mahakuasa
> > dalam diri manusia. Sekali lagi bedakan Ahmad dan Ahad terletak
> > huruf miim.
> > > Huruf miim membentuk, posisi sujud dalam solat, sujud
merupakan
> > posisi kedekatan dengan Alloh, bahkan sujud merupakan simbol
dari
> > wahdaniyah Allah. Metode untuk mendekat (muqorrobin/ kewalian)
> > kepada Tuhan yang paling cepat adalah dengan sujud yang lama
dalam
> > Sholat. Hadits qudsi Allah berfirman : " Barangsiapa memusuhi
> waliku
> > sungguh kuumumkan perang kepadanya, tiadalah hamba Ku mendekat
> > kepada Ku dengan hal hal yg fardhu- 17 rokaat, dan Hamba Ku
terus
> > mendekat kepada Ku dengan hal hal yg sunnah- 34 rokaat qobliyah
> dan
> > bakdiyah- baginya hingga Aku mencintainya, bila Aku mencintainya
> > maka aku menjadi telinganya yg ia gunakan untuk mendengar, dan
> > matanya yg ia gunakan untuk melihat, dan menjadi tangannya yg ia
> > gunakan untuk memerangi, dan kakinya yg ia gunakan untuk
> melangkah,
> > bila ia meminta pada Ku niscaya kuberi permintaannya. ..."
(shahih

> > Bukhari hadits no.6137).
> > >
> > > Tafsir Ain,Yaa,Sin, Nuun,Aliif (numerology Arabiyah):
> > >
> > > Huruf ain bermakna sayidina Ali bin Abu tholib merupakan pintu
> > gerbang keilmuan. Sesuai hadits Nabi yang menyatakan bahwa
> Muhammad
> > rosulluloh adalah gudang ilmu dan Sayidina Ali adalah pintunya.
> > Huruf ayn membentuk posisi rukuk dalam sujud, dalam riwayat
> asbabun
> > nuzul quran ada ayat yang berkenaan dengan Ali bin abu thalib,
> yaitu
> > orang yang rukuk kemudian dalam posisi rukuk dalam solat
melakukan
> > sedekah berupa cincin. Inilah ayat quran itu: Walimu hanyalah
> Allah,
> > Rasul-Nya dan mereka yang beriman yang menegakkan salat,
membayar
> > zakat seraya rukuk. (QS. al-Mâ`idah: 55)
> > > Kunci sholat yang merupakan adab tatakrama/ kepasrahaan total
> ila
> > allohu ada di rukuk/ huruf ain, sujud/ huruf miim adalah
kedekatan
> > (muqorobin- fana asma dan tajalli asma), barangsiapa tidak tahu
> adab
> > ( rukuknya) maka tidak layak untuk dekat (muqorobin).
> > > Huruf Ain bernilai 70.sedang huruf Ya bernilai 10 dan huruf
Sin
> > bernilai 60. jadi secara matematis yaitu 70(ain)= yaa(10)+sin(
60)

> > jadi Ya + Seen = Ain merupakan Quran dalam surat 36 adalah surat
> Ya
> > Seen. ayat ke 58 dari surat Yasin adalah Salaamun Qawlam Mir
> Rabbir
> > Raheem. Jadi 5+8=13, posisi huruf ke 13 dalam abjad Arab adalah
> > huruf Miim/ Sujud. Jadi untuk mengerti Ain/ rukuk kita harus
> > mengerti tafsir huruf Yaa dan Tafsir huruf Sin. Dengan mengerti
> Yaa
> > dan Sin kita akan sampai kepada Sayidina Ali bin Abu Tholib.
> > > Kyai Kholil Bangkalan, salah seorang pencetak kyai besar
> Nahdlatul
> > Ulama, selama perjalanan pesantren Keboncandi, Pasuruan-Sidogiri
> > kyai kholil Bangkalan sewaktu muda selalu membaca YaSin, hingga
> > khatam berkali-kali
> > > Huruf Ya adalah akhir dari abjad Arab and Alif awal dari abjad
> > Arab. Huruf Ya/ hamba memimpin/cenderung ke arah Alif/ Alloh.
> Huwal
> > Awwalu wa Hu wal Akhiru.
> > > Rincian huruf Awwalu :
> > > Alif(1)+waw( 6)+lam(30) =37ß-à3+7=10, (Ya=10),
> > > 10 ß-à1+0=1ß-àpertama.
> > > · Rincian huruf Akhiru :: Alif(1)+Kho( 600)+Ro(200) = 801ß-
> > à8+0 +1= 9 ß-à terakhir adalah 9, angka 9 dalam numerology
arab
> > adalah huruf Ta yang bermakna penyucian atau Tahara/penyucian
dan
> > bulan ke 9 dalam Arab/ Qomariah adalah bulan ramadhon yaitu
bulan
> > puasa
> > > · Penyucian kalbu dari kecintan diri dan dunia merupakan
> > tingkat awal penyucian untuk bersuluk kepada Alloh. Sesungguhnya
> > kotoran maknawi terbesar yang tidak bisa disucikan meskipun
dengan
> > tujuh lautan dan para nabi pun tidak mampu menghilangkannya
adalah
> > kotora kejahilan ganda (pura-pura tahu padahal tidak tahu).
> > Kekeruhan ini mungkin akan memadamkan cahaya petunjuk dan
> meredupkan
> > api kerinduan yang merupakan buraq untuk bermikraj mencapai
> berbagai
> > maqom spiritual.( Imam Khomeini dalam Hakikat dan Rahasia Sholat)
> > > · dan Alif(1)+ Ta(9)=10ß-à (Ya=10=hamba) , nilai huruf
> > (Ya=10), jadi seorang Hamba yaitu simbol Ya harus melakukan
Puasa/
> > penyucian jiwa/ tazkiyah nafs simbol (Ta=9) untuk Alloh semata
> > simbol (Alif=1) atau Hamba harus sabar dengan KetentuanNya atau
> > nrimo ing pandum, karena hasil puasa Lillah Billah menjadikan
> orang
> > sabar atau innalloha ma'ashobirin (Sesungguhnya Alloh bersama
(MA

> > terdiri huruf miim dan ain lihat al Baqarah:153 ) orang yang
> sabar.
> > Lihat bersama adalah Ma yaitu ma'asshobirin. Disini terungkap
> > rahasia mim dan ayn yaitu MA seperti yang diucapkan oleh Husain
> bin
> > Mansur al Hallaj. jadi Sabar adalah kunci menemukan Tuhan. Para
> > mufassir menafsirkan sabar dengan melakukan puasa. Pahala puasa
> > hanya Alloh yang tahu. Artinya Hak menilai puasa langsung di
> tangan
> > Alloh bukan di tangan para malaikat. Sabda Rosullulloh saw Puasa
> > yang dilakukan khusus untuk-Ku/ puasa Lillah Billah dan cukuplah
> Aku
> > sebagai pahalanya
> > > · Mempelajari Ilmu Ketuhanan akan menjadikan orang
> > bersabar, seperti dialog Nabi Musa as dan Nabi Khidr as yaitu
> > Bagaimana kamu dapat sabar terhadap persoalan yang kamu
samasekali

> > belum memiliki pengetahuan yang cukup tentangNya(QS 18:68).
> > Barangsiapa menghadapi kesengsaraan dengan hati terbuka,
> menunjukkan
> > kesabaran dengan penuh ketenangan dan martabat, termasuk dalam
> > golongan orang terpilih dan bagian untuknya adalah Berikanlah
> kabar
> > gembira (keberhasilan dan kejayaan) kepada orang yang sabar (QS
> > 2:155),
> > >
> > > Dalam Islam, kemampuan mengendalikan emosi dan menahan diri
> > disebut sabar. Orang yang paling sabar adalah orang yang paling
> > tinggi dalam kecerdasan emosionalnya. Ia biasanya tabah dalam
> > menghadapi kesulitan. Ketika belajar orang ini tekun. Ia
berhasil
> > mengatasi berbagai gangguan dan tidak memperturutkan emosi-nya.
> > > Gabungan rincian Awwalu dan Akhiru adalah Seorang Hamba
> > (Ya=10=hamba) karena Akhiru(9)+ Awwalu (1)=10ß-à
(Ya=10=hamba) ,
> > jadi seorang Hamba menampung Asma Alloh yang lengkap dan
memiliki
> > potensi untuk menampakkan sifat ketuhanan
> > > Huruf Sin bernilai 60 dalam numerology Arab, merupakan simbol
> dari
> > sirr Muhammad, sirr adalah rahasia ketuhanan yang disimpan dalam
> > diri manusia sebagai hamba. Huruf sin dalam INSAN. huruf alif
nya
> > adalah Alloh, huruf sin adalah rahasia /sirr ketuhanan, 2 huruf
> nun
> > adalah simbol hukum dunia dan akhirat yang merupakan
> > representasi /perwakilan kitab suci al Qur'an.
> > > Huruf Yaa/ simbol Hamba digunakan untuk memanggil seseorang
atau
> > menarik perhatian sesorang. Ya adalah simbol seorang Hamba
> menyembah
> > dan menyebut Tuhannya Ya Alloh Ya Robbi dll.Yaa juga digunakan
> oleh
> > Alloh memanggil Hambanya.Ya juga berarti simbol antara yang
> disembah
> > dan menyembah, tetapi posisi Ya=10/ hamba selalu cenderung
kepada
> > Alif=1 atau Alloh karena Alloh sebagai Awwalu, dalam ilmu huruf,
> > > Alif(1)+waw( 6)+lam(30) =37ß-à3+7=10 adalah Yaa menyatu
dengan
> Alif
> > (10ß-à1+0=1) atau dibalik Yaa ada Alif atau di dalam Manusia
ada
> > Tuhan atau istilah Wahdatul Wujud nya Ibnu Arobi yaitu antara
> > penyembah dan yang disembah itu sama tapi tidak serupa atau
> menurut
> > istilah ajaran Syekh Siti Jenar, yaitu Manunggaling Kawula
> > Gusti. "PERSAMAAN" antara manusia dan Allah. Hal inilah yang
> > dimaksudkan dalam sabda Nabi saw.: "Sesungguhnya Allah
menciptakan
> > manusia dalam kemiripan dengan diriNya sendiri." Lebih jauh lagi
> > Allah telah berfirman: "Hambaku mendekat kepadaKu sehingga Aku
> > menjadikannya sahabatKu. Aku pun menjadi telinganya, matanya dan
> > lidahnya." Juga Allah berfirman kepada Musa as.: "Aku pernah
sakit
> > tapi engkau tidak menjengukku! " Musa menjawab: "Ya Allah,
Engkau
> > adalah Rabb langit dan bumi; bagaimana Engkau bisa sakit?" Allah
> > berfirman: "Salah seorang hambaKu sakit; dan dengan menjenguknya
> > berarti engkau telah mengunjungiKu. "Memang ini adalah suatu
> > > masalah yang agak berbahaya untuk diperbincangkan, karena hal
> ini
> > berada di balik pemahaman orang-orang awam. Seseorang yang
cerdas
> > sekalipun bisa tersandung dalam membicarakan soal ini dan
percaya
> > pada inkarnasi dan kersekutuan dengan Allah.
> > > Tafsir huruf Nun dan Alif- Pencari Tuhan dibalik huruf alif
dan
> > nun maka tidak bisa bertemu dengan Nya::
> > >
> > > Bernilai 50 dalam numerology Arab.
> > > Tafsir huruf INSAN, memiliki 2 huruf nun merupakan simbol alam
> > dunia/ jasad dan alam akhirat/ ruh/ jiwa. Ruh yang disucikan
akan
> > memperoleh Nur/ surga sedangkan Ruh yang dikotori akan
memperoleh
> > Nar/ neraka.
> > > Tafsir Alif dan Nun: Penggambaran Simbolis Huruf dan Alif Nun
> > merupakan lambang sebuah perahu (syariat) dan sebuah Jiwa/
> > individu /personal mengarungi lautan / medan ujian, kayuh/sampan
(
> > membentuk huruf Alif) kiri kanan adalah wilayah pilihan manusia
(
> > sunnatulloh adalah qadha' qadar baik buruk) yang telah
ditetapkan
> > oleh Alloh arti simbol Alif. Individu yang sedang menaiki perahu
(
> > simbol Nun), sampan/kayuh adalah alat/ pilihan yang akan
> mengerakkan
> > jiwanya menuju 3 pilihan yaitu, pertama, arah perahu ke kiri
> > berarti ashabul syimal/ Nun menjadi Naar/ neraka, kedua arah
> perahu
> > ke kanan berarti ashabul yamin/ Nun menjadi Nur/cahaya, ketiga
> arah
> > perahu tidak ke kiri dan tidak ke kanan tetapi tengah berarti
> > sabiqunal awwalun/ terdahulu mencapai tujuan - ini adalah
golongan
> > para pencinta yaitu menyembah karena kerinduan ingin bertemu
> dengan
> > sang Khaliq â€" ini adalah jawaban isyarah tersembunyi dari
Husain
> bin
> > Manshur al Hallaj- yaitu para nabi
> > > dengan simbol miim (arti bathinnya adalah sujud) yaitu
Muhammad

> > saw dan ain (arti bathinnya adalah rukuk) yaitu sayidina Ali bin
> > Abuthalib
> > > Huruf Nun Mengingatkan Kita juga kepada Zunnun/ Nabi Yunus as
> > yang naik perahu di tengah lautan dan ditelan Ikan karena
> > meninggalkan Kaum nya sebelum ada perintah dari ALLOH swt.
> > > Zikir Zunnun / N.Yunus - doa keselamatan menghadapi medan
> ujian :
> > wa dzan nuni idz dzahaba mughadziban fa dhanna an lan naqdiro
> alayhi
> > fa nada fid dhulumati an laila antan subhanaka inni kuntu
> > minadolimin fastajabna lahu wa najjaynahu minal ghammi wa
> kadzalika
> > nunjil mukminina (Anbiya :87-88).
> > >
> > > Kesimpulan:
> > > · Tafsir Yaa Sin akan membuka rahasia huruf `'MA'' yaitu
> > miim dan ain seperti yang dikatakan oleh Husain bin Mansur al
> > Hallaj:
> > > Quran dalam surat 36 adalah surat Ya Seen. ayat ke 58 dari
surat

> > Yasin adalah Salaamun Qawlam Mir Rabbir Raheem
> > > "Rahasia Ketuhanan ada dalam diri manusia, agar manusia mampu
> > menampakkan atau men-tajallikan Ketuhanan dalam dirinya maka
> > perintah solat (Rukuk, Sujud) adalah sarana 'Manunggaling Kawula
> > Gusti dan sodaqoh ( menebarkan hasil usaha kebenaran/ pengabdian
> > masyarakat/ agen perubahan/ social agent) kepada sesama makhluk
> > Tuhan (kesalehan sosial) yang merupakan perwujudan dari Salaamun
> > Qawlam Mir Rabbir Raheem"
> > > · Tafsir YaaSin adalah simbol manusia sempurna yaitu
> hamba
> > yang mampu menampung rahasia Alloh swt dan didalam sirr itu
> seorang
> > penyembah dan disembah bertemu dan berdialog, ibarat sebuah
pohon
> > lengkap dengan pokoknya, cabangnya dan puncaknya. Imam al Baqir
> > berkata: Maukah kamu akau beritahu pokok-pokok Islam, cabang dan
> > puncaknya dan pintu kebaikan? Sulaiman bin Khalid berkata:
Tentu,
> > lalu jawab Imam al Baqir: Pokoknya adalah sholat, cabangnya
adalah
> > zakat, dan puncaknya adalah membela kaum tertindas dan
menegakkan

> > keadilan. Pintu kebaikan itu adalah :
> > > 1. Puasa merupakan perisai api neraka
> > > 2. Sedekah itu menghapus dosa
> > > 3. Sholat di malam hari untuk berzikir
> > >
> > > Tafsir Rukuk/Huruf Ain
> > > Etika rukuk adalah meninggikan maqam rububiyah Nya yang agung,
> > mulia dan merendahkan maqam ubudiyah seorang hamba yang lemah,
> faqir
> > dan hina. Rukuk adalah awal ketundukkan dan sujud adalah
> > puncaknya.Yang melakukan rukuk dengan sempurna dan benar akan
> > menemukan keselarasan pada sujud. Imam Shadiq berkata" rukuk
yang
> > benar kepada Alloh adalah menghiasi dengan cahaya keindahan asma
> > Nya. Rukuk adalah yang pertama dan sujud adalah yang kedua.
Dalam

> > rukuk ada adab penghambaan dan dalam sujud ada kedekatan/Qurb
> dengan
> > Zat yang disembah. Simbol rukuk adalah hamba dengan hati tunduk
> > kepada Alloh, merasa hina dan takut di bawah kekuasaan-Nya.
> > Merendahkan anggota badan karena gelisah dan takut tidak
> memperoleh
> > manfaat rukuk.
> > >
> > > Tafsir Sujud/Huruf Mim
> > > Sujud merupakan puncak ketundukan dan puncak kekhusyukan
seorang
> > hamba, sebaik-baik wasilah taqarrub ila Alloh, sebaik-baik
posisi
> > untuk mencapai cahaya-cahaya tajalli Asma Alloh swt dan maqam
> Qurb
> > dengan Nya. N. Saw bersabda : "lamakanlah sujudmu", sebab tiada
> amal
> > yang lebih berat dan paling tak disukai oleh syetan saat melihat
> > anak Adam sedang sujud, karena dia telah diperintahakan sujud
dan

> > dia tidak patuh. Sujud merupakan sebab mendekatnya hamba dengan
> sang
> > Kholik. Wahai orang yang beriman, mintalah pertolongan dengan
> sabar
> > dan solat, sesungguhnya Alloh bersama orang yang sabar (al
> > Baqarah:153)
> > >
> > > Tafsir Salam/Huruf Yaa Sin
> > > Salam adalah salah satu nama Alloh. Arti Salam dari sisi Alloh
> > adalah keselamatan zat, sifat, perbuatan-Nya. Adapun Zatnya
> > terpelihara dari kelenyapan, perubahan dan dari segala
kekurangan.
> > Salam dari sisi Hamba adalah doa,yaitu memohon keselamatan
kepada
> > Alloh untuk orang yang kita ucapkan salam /selamat dari segala
> > cobaaan dan bencana dunia akhirat. Salam juga berarti ungkapan
> > Kepasrahan/ ketundukan kepada Sunnatulloh ( Quran Hadits).
Menurut

> > Imam Shadiq "salam adalah orang yang melaksanakan perintah Alloh
> dan
> > melakukan sunnah Rosulillah dengan ikhlas (intinya Ahad dan
> Ahmad),
> > juga selamat dari bencana dunia dan akhirat. Salam juga bermakna
> > penghormatan kepada hamba yang sholih (assalamu alaina wa ala
> > ibadilahis sholihin) dan malaikat pencatat amal
> > > Al Futuhat al Makkiyah, Karangan Ibnu Aroby, merujuk empat
> > perjalanan akal dalam bab 69 tentang rahasia rahasia shalat
> sebagai
> > perjalanan spiritual manusia. Perintah sholat 51 rokaat kepada
> Nabi
> > Muhammad saw saat isro miroj: Tuhan memerintahkan hambaNya itu
> > supaya setiap Muslim setiap hari sembahyang limapuluh kali.
> Kemudian
> > untuk umatnya menjadi 17 rokaat wajib di lima waktu dan sisanya
34

> > rokaat menjadi sunah muakkad- qobliyah dan bakdiya.
> > > Mulla Shadra dalam bukunya al Asfar al Arba'ah mengatakan:
> > > "Ketahuilah bahwa para pesuluk diantara orang Arif/ Irfan dan
> para
> > Wali menempuh empat perjalanan akal :
> > >
> > > Perjalanan makhluk kepada kebenaran â€"diskusi metafisika umum
> (min
> > al khalq ila al Haq)
> > > Pesuluk mempelajari dasar-dasar metafisika umum dan
> > dalilnya.pesuluk cenderung pada kajian semantik dan metafisika
> dasar
> > terhadap firman Ttuhan dalam Quran.
> > >
> > > Perjalanan bersama kebenaran didalam kebenaran- pengalaman
> > metafisika khusus dengan pengalaman pribadi (bi al Haq fi al Haq)
> > > Pesuluk akan melihat sifat dan namaNya yang tertinggi baik
nama
> > yang mewujudkan rahmatNya dan murkaNya. Hukum nama nama Alloh
ini
> di
> > dalam kejamakannya akan mewujud di dalam diri pesuluk.Hal ini
> > dikenal dengan makam wahidiyah atau tujuh substansi halus
> (lataif).
> > Pesuluk akan mengalami rasa takut dan harapan (al khauf wa al
raja)
> > >
> > > Perjalanan dari Kebenaran menuju makhluk (min al Haq ila al al
> > khalq)
> > > Setelah mengalami fase peniadaan diri,pesuluk menerima karunia
> > Tuhan dan kembali kepada kesadaran diri. Pesuluk menyaksikan
> > penciptaan dan alam kejamakan dalam diri makhluk tetapi dengan
> mata
> > yang lain, dengan pendengaran yang berbeda. Puncak perjalan
ketiga

> > membawa pesuluk menuju kesucian/Wilayah( kewalian)
> > >
> > > Perjalanan bersama Kebenaran di dalam makhluk (bi al Haq fi al
> > khalq)
> > > Maqam penetapan hukum dan pembedaan dari baik dan buruk.ini
> adalah
> > derajat kenabian,penetapan hukum dan kepemimpinan atas umat
> manusia
> > yang berhubungan dengan urusan urusan mereka yang beragam dan
> > berbeda-beda serta bagaimana mereka saling berinteraksi satu
sama
> > lain. seorang `arif tak akan benar-benar mencapai maqam
spiritual
> > tertinggi jika tidak memanifestasikan keimanan-puncak, yang
telah
> > diraihnya lewat dua perjalanan pertama, dalam bentuk concern
> sosial
> > politik untuk mereformasi masyarakat dan membebaskan kaum
> tertindas
> > dari rantai penindasannya. Tidak lain maqam penetapan hukum
> > (legislatif) atau melibatkan diri dalam kemasyarakatan dan
> hubungan
> > social, merupakan perwujudan penebaran salam kepada makhluk
yaitu

> > Salaamun Qawlam Mir Rabbir Raheem yang merupakan inti tafsir
> > Yaa Sin.
> > >
> > > --- On Sun, 7/20/08, mang dipo <dipo1601@> wrote:
> > >
> > > From: mang dipo <dipo1601@>
> > > Subject: [Spiritual-Indonesi a] Kejawen Islam
> > > To: Spiritual-Indonesia <mailto:Spiritual- Indonesia%
> 40yahoogroups. com>
> > @yahoogroups. com
> > > Date: Sunday, July 20, 2008, 1:46 AM
> > >
> > >
> > >
> > >
> > >
> > >
> > >
> > >
> > >
> > > Mari kita mengutip satu tembang Jawa
> > > Tak uwisi gunem iki saya akhiri pembicaraan
> > ini
> > > Niyatku mung aweh wikan saya hanya ingin memberi tahu
> > > Kabatinan akeh lire kabatinan banyak
> macamnya
> > > Lan gawat ka liwat-liwat dan artinya sangat gawat
> > > Mulo dipun prayitno maka itu berhati-hatilah
> > > Ojo keliru pamilihmu Jangan kamu salah pilih
> > > Lamun mardi kebatinan kalau belajar kebatinan
> > >
> > > Tembang ini menggambarkan nasihat seorang tua (pinisepuh)
kepada
> > mereka yang ingin mempelajari kabatinan cara kejawen. Kiranya
> perlu
> > dipahami bahwa tujuan hakiki dari kejawen adalah berusaha
> > mendapatkan ilmu sejati untuk mencapai hidup sejati, dan berada
> > dalam keadaan harmonis hubungan antara kawula (manusia) dan
Gusti
> > (Pencipta) ( jumbuhing kawula Gusti ) /pendekatan kepada Yang
Maha

> > Kuasa secara total.
> > >
> > > Keadaan spiritual ini bisa dicapai oleh setiap orang yang
> percaya
> > kepada Tuhan, yang mempunyai moral yang baik, bersih dan jujur.
> > beberapa laku harus dipraktekkan dengan kesadaran dan ketetapan
> hati
> > yang mantap. Pencari dan penghayat ilmu sejati diwajibkan untuk
> > melakukan sesuatu yang berguna bagi semua orang serta melalui
> > kebersihan hati dan tindakannya. Cipta, rasa, karsa dan karya
> > (kuasa) harus baik, benar, suci dan ditujukan untuk mamayu
> hayuning
> > bawono. Ati suci jumbuhing Kawulo Gusti : hati suci itu adalah
> > hubungan yang serasi antara Kawulo dan Gusti, kejawen merupakan
> > aset dari orang Jawa tradisional yang berusaha memahami dan
> mencari
> > makna dan hakekat hidup yang mengandung nilai-nilai.
> > >
> > > Dalam budaya jawa dikenal adanya simbolisme, yaitu suatu faham
> > yang menggunakan lambang atau simbol untuk membimbing pemikiran
> > manusia kearah pemahaman terhadap suatu hal secara lebih dalam.
> > Manusia mempergunakan simbol sebagai media penghantar komunikasi
> > antar sesama dan segala sesuatu yang dilakukan manusia merupakan
> > perlambang dari tindakan atau bahkan karakter dari manusia itu
> > selanjutnya. Ilmu pengetahuan adalah simbol-simbol dari Tuhan,
> yang
> > diturunkan kepada manusia, dan oleh manusia simbol-simbol itu
> > ditelaah dibuktikan dan kemudian diubah menjadi simbol-simbol
yang
> > lebih mudah difahami agar bisa diterima oleh manusia lain yang
> > memiliki daya tangkap yang berberda-beda.
> > >
> > > Biasanya sebutan orang Jawa adalah orang yang hidup di wilayah
> > sebelah timur sungai Citanduy dan Cilosari. Bukan berarti
wilayah
> di
> > sebelah barat-nya bukan wilayah pulau Jawa. Masyarakat Jawa
adalah

> > masyarakat yang menjunjung tinggi rasa kekeluargaan dan suka
> > bergotong royong dengan semboyannya "saiyeg saekoproyo " yang
> > berarti sekata satu tujuan.
> > >
> > > Kisah suku Jawa diawali dengan kedatangan seorang satriya
> > pinandita yang bernama Aji Saka, sampai kemudian satriya itu
> menulis
> > sebuah sajak yang kemudian sajak tersebut diakui menjadi huruf
> jawa
> > dan digunakan sebagai tanda dimulainya penanggalan tarikh Caka.
> > >
> > > Kejawena dalah faham orang jawa atau aliran kepercayaan yang
> > muncul dari masuknya berbagai macam agama ke jawa. Kejawen
> mengakui
> > adanya Tuhan Gusti Allah tetapi juga mengakui mistik yang
> berkembang
> > dari ajaran tasawuf agama-agama yang ada.
> > >
> > > Tindakan tersebut dibagi tiga bagian yaitu tindakan simbolis
> > dalam religi, tindakan simbolis dalam tradisi dan tindakan
> simbolis
> > dalam seni. Tindakan simbolis dalam religi, adalah contoh
> kebiasaan
> > orang Jawa yang percaya bahwa Tuhan adalah zat yang tidak mampu
> > dijangkau oleh pikiran manusia, karenanya harus di simbolkan
agar
> > dapat di akui keberadaannya misalnya dengan menyebut Tuhan
dengan
> > Gusti Ingkang Murbheng Dumadi, Gusti Ingkang Maha Kuaos, Hyang
> Manon
> > dan sebagainya.
> > >
> > > Tindakan simbolis dalam tradisi dimisalkan dengan adanya
tradisi
> > upacara kematian yaitu medo'akan orang yang meninggal pada tiga
> > hari, tujuh hari, empatpuluh hari, seratus hari, satu tahun, dua
> > tahun, tiga tahun, dan seribu harinya setelah seseorang
meninggal
> > (tahlillan). Dan tindakan simbolis dalam seni dicontohkan dengan
> > berbagai macam warna yang terlukis pada wajah wayang kulit;
warna

> > ini menggambarkan karakter dari masing-masing tokoh dalam wayang.
> > >
> > > Perkembangan budaya jawa yang mulai tergilas oleh perkembangan
> > teknologi yang mempengaruhi pola pikir dan tindakan orang jawa
> dalam
> > kehidupan. Maka orang mulai berfikir bagaimana bisa membuktikan
> hal
> > gaib secara empiris tersebut dengan menggunakan berbagai macam
> > metode tanpa mengindahkan unsur kesakralan. Bahkan terkadang
> > kepercayaan itu kehilangan unsur kesakralannya karena dijadikan
> > sebagai obyek exploitasi dan penelitian.
> > >
> > > Kebiasaan orang Jawa yang percaya bahwa segala sesuatu adalah
> > simbol dari hakikat kehidupan, seperti syarat sebuah rumah harus
> > memiliki empat buah soko guru (tiang penyangga) yang
melambangkan
> > empat unsur alam yaitu tanah, air, api, dan udara, yang ke
> empatnya
> > dipercaya akan memperkuat rumah baik secara fisik dan mental
> > penghuni rumah tersebut. Namun dengan adanya teknologi
konstruksi

> > yang semakin maju, keberadaan soko guru itu tidak lagi menjadi
> > syarat pembangunan rumah. Dengan analisa tersebut dapat
> diperkirakan
> > bagaimana nantinya faham simbolisme akan bergeser dari budaya
> jawa.
> > Tapi bahwa simbolisme tidak akan terpengaruh oleh kehidupan
> manusia
> > tapi kehidupan manusialah yang tergantung pada simbolisme. Dan
> > sampai kapanpun simbolisme akan terus berkembang mengikuti
> > berputarnya sangkakala.
> > >
> > > Mangkunegara IV (Sembah dan Budiluhur)
> > > Mangkunegara IV memiliki empat ajaran utama yang meliputi
sembah
> > raga, sembah cipta (kalbu), sembah jiwa, dan sembah rasa.
> > >
> > > Sembah Raga
> > > Sembah raga ialah menyembah Tuhan dengan mengutamakan gerak
laku
> > badaniah atau amal perbuatan yang bersifat lahiriah. Cara
> bersucinya
> > sama dengan sembahyang biasa, yaitu dengan mempergunakan air
> > (wudhu). Sembah yang demikian biasa dikerjakan lima kali sehari
> > semalam dengan mengindahkan pedoman secara tepat, tekun dan
terus
> > menerus, seperti bait berikut:
> > >
> > > Sembah raga puniku / pakartining wong amagang laku / sesucine
> > asarana saking warih / kang wus lumrah limang wektu / wantu
> wataking
> > wawaton
> > >
> > > Sembah raga, sebagai bagian pertama dari empat sembah yang
> > merupakan perjalanan hidup yang panjang ditamsilkan sebagai
orang
> > yang magang laku (calon pelaku atau penempuh perjalanan hidup
> > kerohanian), orang menjalani tahap awal kehidupan bertapa
(sembah
> > raga puniku, pakartining wong amagang laku). Sembah ini
didahului
> > dengan bersuci yang menggunakan air (sesucine asarana saking
> warih).
> > Yang berlaku umum sembah raga ditunaikan sehari semalam lima
kali.
> > Atau dengan kata lain bahwa untuk menunaikan sembah ini telah
> > ditetapkan waktu-waktunya lima kali dalam sehari semalam (kang
wus
> > lumrah limang wektu). Sembah lima waktu merupakan shalat fardlu
> yang
> > wajib ditunaikan (setiap muslim) dengan memenuhi segala syarat
dan

> > rukunnya (wantu wataking wawaton). Sembah raga yang demikian ini
> > wajib ditunaikan terus-menerus tiada henti (wantu) seumur hidup.
> > Dengan keharusan memenuhi segala ketentuan syarat dan rukun yang
> > wajib dipedomani (wataking wawaton). Watak suatu
> > > waton (pedoman) harus dipedomani. Tanpa mempedomani syarat dan
> > rukun, maka sembah itu tidak sah.
> > >
> > > Sembah raga tersebut, meskipun lebih menekankan gerak laku
> > badaniah, namun bukan berarti mengabaikan aspek rohaniah, sebab
> > orang yang magang laku selain ia menghadirkan seperangkat
> fisiknya,
> > ia juga menghadirkan seperangkat aspek spiritualnya sehingga ia
> > meningkat ke tahap kerohanian yang lebih tinggi.
> > >
> > > Sembah Cipta( Kalbu )
> > > Sembah ini kadang-kadang disebut sembah cipta dan kadang-
kadang
> > disebut sembah kalbu, seperti terungkap pada Pupuh Gambuh bait 1
> dan
> > Pupuh Gambuh bait 11 berikut :
> > > Samengkon sembah kalbu / yen lumintu uga dadi laku / laku
agung
> > kang kagungan narapati / patitis teteking kawruh / meruhi marang
> > kang momong.
> > >
> > > Apabila cipta mengandung arti gagasan, angan-angan, harapan
atau
> > keinginan yang tersimpan di dalam hati, kalbu berarti hati ,
maka
> > sembah cipta di sini mengandung arti sembah kalbu atau sembah
> hati,
> > bukan sembah gagasan atau angan-angan.
> > > Apabila sembah raga menekankan penggunaan air untuk membasuh
> > segala kotoran dan najis lahiriah, maka sembah kalbu menekankan
> > pengekangan hawa nafsu yang dapat mengakibatkan terjadinya
> berbagai
> > pelanggaran dan dosa (sucine tanpa banyu, amung nyunyuda
hardaning

> > kalbu).
> > >
> > > Thaharah (bersuci) itu, demikian kata Al-Ghazali, ada empat
> > tingkat.
> > > Pertama,membersihka n hadats dan najis yang bersifat lahiriah.
> > > Kedua,membersihkan anggota badan dari berbagai pelanggaran dan
> > dosa.
> > > Ketiga,membersihkan hati dari akhlak yang tercela dan budi
> pekerti
> > yang hina.
> > > Keempat,membersihka n hati nurani dari apa yang selain Allah.
> Dan
> > yang keempat inilah taharah pada Nabi dan Shiddiqin.
> > >
> > > Jika thaharah yang pertama dan kedua menurut Al-Ghazali masih
> > menekankan bentuk lahiriah berupa hadats dan najis yang melekat
di
> > badan yang berupa pelanggaran dan dosa yang dilakukan oleh
anggota
> > tubuh. Cara membersihkannya dibasuh dengan air. Sedangkan
kotoran
> > yang kedua dibersihkan dan dibasuh tanpa air yaitu dengan
menahan
> > dan menjauhkan diri dari pelanggaran dan dosa. Thaharah yang
> ketiga
> > dan keempat juga tanpa menggunakan air. Tetapi dengan
membersihkan
> > hati dari budi jahat dan mengosongkan hati dari apa saja yang
> selain
> > Allah.
> > >
> > > Sembah Jiwa
> > > Sembah jiwa adalah sembah kepada Hyang Sukma ( Allah ) dengan
> > mengutamakan peran jiwa. Jika sembah cipta (kalbu) mengutamakan
> > peran kalbu, maka sembah jiwa lebih halus dan mendalam dengan
> > menggunakan jiwa atau al-ruh. Sembah ini hendaknya diresapi
secara
> > menyeluruh tanpa henti setiap hari dan dilaksanakan dengan tekun
> > secara terus-menerus, seperti terlihat pada bait berikut:
> > > Samengko kang tinutur / Sembah katri kang sayekti katur /
Mring
> > Hyang Sukma suksmanen saari-ari / Arahen dipun kecakup /
Sembahing
> > jiwa sutengong.
> > >
> > > Dalam rangkaian ajaran sembah Mangkunegara IV yang telah
disebut
> > terdahulu, sembah jiwa ini menempati kedudukan yang sangat
> penting.
> > Ia disebut pepuntoning laku (pokok tujuan atau akhir perjalanan
> > suluk). Inilah akhir perjalanan hidup batiniah. Cara bersucinya
> > tidak seperti pada sembah raga dengan air wudlu atau mandi,
tidak
> > pula seperti pada sembah kalbu dengan menundukkan hawa nafsu,
> tetapi
> > dengan awas emut (selalu waspada dan ingat/dzikir kepada keadaan
> > alam baka/langgeng) , alam Ilahi.
> > >
> > > Betapa penting dan mendalamnya sembah jiwa ini, tampak dengan
> > jelas pada bait berikut :
> > > Sayekti luwih perlu / ingaranan pepuntoning laku / Kalakuan
kang
> > tumrap bangsaning batin / Sucine lan awas emut / Mring alaming
> lama
> > amota.
> > >
> > > Berbeda dengan sembah raga dan sembah kalbu, ditinjau dari
segi
> > perjalanan suluk, sembah ini adalah tingkat permulaan (wong
> amagang
> > laku) dan sembah yang kedua adalah tingkat lanjutan. Ditinjau
dari
> > segi tata cara pelaksanaannya, sembah yang pertama menekankan
> > kesucian jasmaniah dengan menggunakan air dan sembah yang kedua
> > menekankan kesucian kalbu dari pengaruh jahat hawa nafsu lalu
> > membuangnya dan menukarnya dengan sifat utama. Sedangkan sembah
> > ketiga menekankan pengisian seluruh aspek jiwa dengan dzikir
> kepada
> > Allah seraya mengosongkannya dari apa saja yang selain Allah.
> > >
> > > Pelaksanaan sembah jiwa ialah dengan berniat teguh di dalam
hati
> > untuk mengemaskan segenap aspek jiwa, lalu diikatnya kuat-kuat
> untuk
> > diarahkan kepada tujuan yang hendak dicapai tanpa melepaskan apa
> > yang telah dipegang pada saat itu. Dengan demikian triloka (alam
> > semesta) tergulung menjadi satu. Begitu pula jagad besar dan
jagad
> > kecil digulungkan disatupadukan. Di situlah terlihat alam yang
> > bersinar gemerlapan. Maka untuk menghadapi keadaan yang
menggumkan
> > itu, hendaklah perasaan hati dipertebal dan diperteguh jangan
> > terpengaruh apa yang terjadi. Hal yang demikian itu dijelaskan
> > Mangkunegara IV pada bait berikut:
> > > "Ruktine ngangkah ngukud / ngiket ngruket triloka kakukud /
> jagad
> > agung ginulung lan jagad alit / den kandel kumandel kulup /
mring
> > kelaping alam kono."
> > >
> > > Sembah Rasa
> > > Sembah rasa ini berlainan dengan sembah-sembah yang
sebelumnya.
> Ia
> > didasarkan kepada rasa cemas. Sembah yang keempat ini ialah
sembah
> > yang dihayati dengan merasakan intisari kehidupan makhluk
semesta
> > alam, demikian menurut Mangkunegara IV.
> > > Jika sembah kalbu mengandung arti menyembah Tuhan dengan alat
> > batin kalbu atau hati seperti disebutkan sebelumnya, sembah jiwa
> > berarti menyembah Tuhan dengan alat batin jiwa atau ruh, maka
> sembah
> > rasa berarti menyembah Tuhan dengan menggunakan alat batin inti
> ruh.
> > Alat batin yang belakangan ini adalah alat batin yang paling
dalam
> > dan paling halus yang menurut Mangkunegara IV disebut telenging
> > kalbu (lubuk hati yang paling dalam) atau disebut wosing
jiwangga

> > (inti ruh yang paling halus).
> > > Dengan demikian menurut Mangkunegara IV, dalam diri manusia
> > terdapat tiga buah alat batin yaitu, kalbu, jiwa/ruh dan inti
> > jiwa/inti ruh (telengking kalbu atau wosing jiwangga) yang
> > memperlihatkan susunan urutan kedalaman dan kehalusannya.
> > >
> > > Pelaksanaan sembah rasa itu tidak lagi memerlukan petunjuk dan
> > bimbingan guru seperti ketiga sembah sebelumnya, tetapi harus
> > dilakukan salik sendiri dengan kekuatan batinnya, seperti
> > diungkapkan Mangkunegara IV dalam bait berikut:
> > > Semongko ingsun tutur / gantya sembah lingkang kaping catur /
> > sembah rasa karasa wosing dumadi / dadi wus tanpa tuduh / mung
> > kalawan kasing batos.
> > >
> > > Apabila sembah jiwa dipandang sebagai sembah pada proses
> > pencapaian tujuan akhir perjalanan suluk (pepuntoning laku),
maka
> > sembah rasa adalah sembah yang dilakukan bukan dalam perjalanan
> > suluk itu, melainkan sembah yang dilakukan di tempat tujuan
akhir
> > suluk. Dengan kata lain, seorang salik telah tiba di tempat yang
> > dituju. Dan di sinilah akhir perjalanan suluknya. Untuk sampai
di
> > sini, seorang salik masih tetap dibimbing gurunya seperti telah
> > disebut di muka. Setelah ia diantarkan sampai selamat oleh
gurunya
> > untuk memasuki pintu gerbang, tempat sembah yang keempat, maka
> > selanjutnya ia harus mandiri melakukan sembah rasa.
> > >
> > > Pada tingkatan ini, seorang salik dapat melaksanakan sendiri
> > sembah rasa sesuai petunjuk-petunjuk gurunya. Pada tingkat ini
ia
> > dipandang telah memiliki kematangan rohani. Oleh karena itu, ia
> > dipandang telah cukup ahli dalam melakukan sembah dengan
> > mempergunakan aspek-aspek batiniahnya sendiri.
> > >
> > > Di sini, dituntut kemandirian, keberanian dan keteguhan hati
> > seorang salik, tanpa menyandarkan kepada orang lain. Kejernihan
> > batinlah yang menjadi modal utama. Hal ini sesuai dengan
wejangan
> > Amongraga kepada Tambangraras dalam Centini bait 156. Sembah
> > tersebut, demikian dinyatakan Amongraga, sungguh sangat
mendalam,
> > tidak dapat diselami dengan kata-kata, tidak dapat pula
dimintakan
> > bimbingan guru. Oleh karena itu, seorang salik harus
> merampungkannya
> > sendiri dengan segala ketenangan, kejernihan batin dan kecintaan
> > yang mendalam untuk melebur diri di muara samudera luas tanpa
tepi

> > dan berjalan menuju kesempurnaan. Kesemuanya itu tergantung pada
> > diri sendiri, seperti terlihat pada bait berikut:
> > > Iku luwih banget gawat neki / ing rarasantang keneng rinasa /
> tan
> > kena ginurokake / yeku yayi dan rampung / eneng onengira kang
> > ening / sungapan ing lautan / tanpa tepinipun / pelayaran ing
> > kesidan / aneng sira dewe tan Iyan iku yayi eneng ening wardaya.
> > >
> >
>
>  
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
> Send instant messages to your online friends
http://uk.messenger.yahoo.com
>


Reply | Threaded
Open this post in threaded view
|  
Report Content as Inappropriate

Re: To mas Bambang -Re: Kejawen Islam ( AJI PAMELENG )

Mas Dipo
In reply to this post by Sudrajat IDSRG Ass MGR OPS
Pak Wal..,
Monggo sekali-kali ilmu Kejawennya di ajarkan kepada kita semua..
Sumonggo, dipo



----- Original Message ----
From: Wal Suparmo <[hidden email]>


Salam,
Meditasi atau MANEKUNG dalam  salah satu mazhab Kejawen adalah HENING,HENENG dan HAWAS. 
Wasalam,
Wal suparmo
--- On Mon, 21/7/08, bambang satrio <gathomalioboro@ yahoo.com> wrote:

From: bambang satrio <gathomalioboro@ yahoo.com>
Subject: To mas Bambang -[Spiritual- Indonesia] Re: Kejawen Islam ( AJI PAMELENG )
To: Spiritual-Indonesia @yahoogroups. com
Date: Monday, 21 July, 2008, 8:06 PM


RAHAYU

Mas Drajat...

Saya pribadi dalam meditasi, nggak menggunakan methode yang
diajarkan Seh Sitijenar secara keseluruhan, terutama dengan menahan
PERNAPASAN. Jadi hanya dikir saja. Tetapi itu sudah lama tidak saya
lakukan, kira=kira 5 tahun yang lalu. Sekarang hanya DIAM, MENENG
berusaha WENING.

Tetapi waktu masih menggunakan dikir, memang pernah ada pengalaman
tertentu. Mendengar suara LEMAH LEMBUT dalam hati (disalahke yo ra
popo mas, wong mendengar kok pakai hati), tetapi yang jelas, ucapan
itu sangat berguna bagi saya pribadi.

Untuk meditasi...Sunan Kudus maupun Sunan Kalijaga, saya nggak
mengerti mas. Maaf, bener-bener nggak tahu, jadi nggak bisa
komentar.

RAHAYU. bs

--- In Spiritual-Indonesia @yahoogroups. com, "Sudrajat"
<sudrajat@.. .> wrote:

>
>
> Dear mas Bambang S.
>
>
> Artikel….yang melengkapi…, apiikk…langsung saya
> simpen..meskipun belum di print.
>
> Cuma ada pertanyaa…sedikit… boleh ?.
>
> - Meditasi….Syeikh Siti Jennar …., bagaimana…ya. ?
>
> - Meditasi… Sunan Kudus…., beda …lho…?.
>
> - Meditasi….Sunan Kali Jaga…mungkin juga berbeda dengan
kedua

> tokoh itu.
>
> Mungkin…, bisa sedikit di singgung ? – ya,…biar dongengnya.. semakin
> seru..dan ramai.
>
>
> Thanks / Sudrajat
>
>
>
> -----Original Message-----
> From: Spiritual-Indonesia @yahoogroups. com
> [mailto:Spiritual-Indonesia @yahoogroups. com] On Behalf Of bambang
satrio

> Sent: Sunday, July 20, 2008 6:11 PM
> To: Spiritual-Indonesia @yahoogroups. com
> Subject: [Spiritual-Indonesi a] Re: Kejawen Islam ( AJI PAMELENG )
>
> RAHAYU
>
> Salam Kenal Mang Dipo dan Mas Bus.
> Hanya sekedar menambahkan tentang asal usul KEJAWEN ISLAM, semoga
> ada gunanya buat rekan-rekan SI semua :
>
> AJI PAMELENG
>
> Tegesipun aji = ratu, pameleng = pasamaden; mengku pikajeng :
> tandaning sedya ingkang luhur piyambak. Dene empaning pandamelan
wau
> winastan manekung, pujabrata, mesu budi, mesu cipta, ngeningaken
> utawi angluhuraken paningal, matiraga lan sasaminipun.
>
> Papan ingkang kangge nindakaken wau panepen, panekungan, pamujan,
> pamurcitan, pamursitan, pahoman, paheningan lan sanes-sanesipun.
> Dene wedharing kawruh winastan daiwan, dawan, tirtaamerta,
> tirtakamandhanu, tirtanirwala, mahosadi, kawasanan, kawaspadan,
> kawicaksanaan, sastracetha, utawi sastrajendrayuningr at
pangruwating
> diyu lan sapanunggalanipun.
>
> Menggah pigunanipun kawruh lan pandamel wau, perlu kangge
sarananing
> panembah murid manggih kawilujengan, margi saged anindakaken
dhateng
> sawarnaning pandamel sae, punapadene kangge sarana duk kita darbe
> sedya nunuwun kanugrahaning gesang kita pribadi (Pangeran), inggih
> nunuwun bab punapa kemawon ingkang limrah kenging linampahan
saking
> pandamel kita ingkang boten tilar murwat.
>
> Wondene purwanipun ing jagad teka wonten kawruh pasamaden, bilih
> miturut saking tembung-tembungipun , sanyata kathah ingkang nagngge
> basa Sansekrit; yen makaten tetela manawi wimbaning kawruh
pasamaden
> wau saking tumitising kawicaksananipun bangsa Indhu ing jaman kina
> makina, ingkang sampun boten kasumerepan petang ewoning taun.
> Bokmanawi kemawon papantaranipun kalihan nalika bangsa Indhu
> amurwani iyasa candhi dalah reca-recanipun. Dene kawruh wau ing
> sakawit inggih namung kangge bangsa Indhu, boten nawang bangsa
Indhu
> ingkang agami punapa kemawon, katamtokaken mesthi ngrasuk
pasamaden.
> Awit inggih namung kawruh pasamaden punika ingkang dados mukaning
> saliring kawruh sajagad, lan ugi dados pangajenging piwulan agami.
>
> Ing ngalami lami bangsa Indhu sami lumeber dhateng ing Tanah Jawi
> lan sanes sanesipun, serta sami anggelaraken agaminipun tuwin
kawruh
> sanes sanesipun; makaten ugi kawruh pasamaden inggih boten kantun.
> Kawruh pamasaden wonten ing Tanah Jawi saget ngrembaka tuwuhipun,
> margi bangsa Jawi tan pilih drajad sami remen puruita lan saged
> nandangaken dating pangolahing kawruh punika, awit kawruh wau
saget
> nocoki kalihan dhadhasaring pamanahipun titiyang Jawi, mila
kalayan

> gampil rumasukipun wonten ing balung sungsuming titiyang Jawi.
> Kasembuh malih saking kathahing bangsa Indhu kados sinuntak sami
> angajawi, nedya anggelar agami Jawi lan kawruh kawicaksananipun.
> Bebasan sakedeping netra, bangsa Jawi ing sa'indhengipun maratah
> sampun sami angrasuk agami Indhu, lan ugi sampun sami saget
> ngraosaken kabegjan, kamulyan, kawilujengan lan sasaminipun, margi
> saking wohing kawruh pandamel wau.
>
> Ing wusana katungka dhatengipun titiyang bangsa Arab sami lumebet
> ing Tanah jawi, ingkang ugi ambekta kawruh lan agaminipun
Mohammad,
> kasebut agami Islam, temah nyunyuda tumangkaring agami Indhu,
sebab
> lajeng wonten ingkang angrasuk agami Islam. Namung kemawon
wedharing

> agami Islam boten andarbeni kawruh pasamaden, kados kasebut ing
> nginggil.
>
> Sareng golonganipun tiyang Islam sampun saget ngendhih Nagari,
> inggih punika adeging Karaton Bintara (Demak), ing ngriku lajeng
> angawisi kalayan kenceng, titiyang Jawi boten kenging anindakaken
> kawruh pasamaden, mekaten ugi sami kinen nilar agaminipun lami,
> serta kedah santun angrasuk agami Islam.
>
> Ananging boten ta manawi bangsa Jawi lajeng anut purun santun
agami
> Islam sadaya, purunipun wau namung margi saking ajrih paukuman
> wisesaning Nata, dados Islam-ipun wau namung wonten ing lahir
> kemawon, utawi Islam pangaran-aran, yen batosipun taksih
angrungkepi
> agamipun lami. Milo bab kawruh pasamaden inggih taksih lajeng
> katindakaken, ananging pamulang pamedharing kawruh pasamaden wau,
> ingkang karan nama wejangan (wijang-wijang) sarana lampah
> dhedhemitan, katindakaken ing wanci ndalu sasampunipun jam 12, ugi
> papaning pamejang boten kenging kaubah wangon, kadosta ing ara-
ara,
> ing wana, ing lepen lan sasaminipun ing papan ingkang sepen.
> Pamejangipun srana bisikan boten kenging kapireng ngasanes,
sanadyan
> suket godhong, kewan tuwin bangsanipun gegremetan kutu-kutu
> walangataga ugi boten kenging miring, yen miring lajeng malih
dados
> manungsa. Mila linggihipun Kyai Guru ajeng-ajengan aben bathuk
> kaliyan pun murid, serta sanget pamantos-mantosipun Kyai Guru, pun
> murid boten kenging nularaken wewejanganipun (kawruhipun) dhateng
> tiyang sanes, bilih dereng angsal palilah Guru, yen nerak bade
> angsal wilalat manggih sapudendhaning Pangeran. Panindak ingkang
> mekaten punika, purwanipun namung tetep kangge panjagi, supados
> pamulanging kawruh pasamaden boten katupiksan dhateng
pamarintahing
> agami Islam. Sebab yen ngantos kasumerepan, tamtu manggih pidana.
>
> Dumuginipun ing jaman samangke, sanadyan Nagari sampun boten
> angarubiru dhateng wontenipun wewejangan kawruh pasamaden, nanging
> panindaking wejangan wau taksih kalestantunaken sarana dhedhemitan
> kados kawursita ing nginggil. Mila lajeng angsal paparab saking
> panyedaning titiyang ingkang boten remen, utami tiyang ingkang
> anglampahi sarengating agami Islam, bilih wontening wejangan
kawruh
> pasamaden wau lajeng kawastan ilmu klenik. Purwo saking tembung
> klenik, lajeng angandhakaken tembung abangan lan putihan. Ingkang
> kasebut abangan punika tiyang ingkang boten nindakaken saraking
> agami Islam, dene putihan mastani tiyang Jawi ingkang teluh
manjing

> agami Islam sarta anglampahi sadaya sarak sarengating agami Islam
> wau, inggih punika ingkang kasebut nama santri. Mila santri karan
> putihan, margi miturut panganggenipun titiyang agami Islam, bilih
> santri punika sarwo-sarwi langkung resik utawi suci tinimbang
> kaliyan titiyang ingkang boten angrasuk agami Islam.
>
> Mangsuli wontening kawruh pasamaden anggenipun sanget winados,
> menggah ingkang dados sababipun kapretalakaken ing nginggil. Dene
> yen saleresipun ingkang nama wados-wados wau pancen boten wonten;
> dados inggih kenging-kenging kemawon kawulangaken dhateng sok
> tiyanga, boten mawang nem sepuh, serta kenging kawejangaken ing
> sawanci-wancinipun, uger tiyang wau pancen ambetahaken kawruh
> pasamaden kasebat. Sebab wontenipun sadaya punika supados
> kasumerepan dhateng ingakathah, langkung-langkung kawruh pasamaden
> punika ingkang sanyata dados mukaning sadaya kawruh. Mila wajib
> sinebar dados seserepaning tiyang nem sepuh wadarin ing
> saindengipun, tanpa nawang andhap inggiling darajadipun.
>
> Amarengi wahyaning mangsakala, wusana wonten kaelokaning
lalampahan
> ingkang boten kanyana-nyana; ing pawingkingipun bab kawruh
pasamaden
> wau lajeng muncul katampen dhateng tiyang Islam, margi yakin bilih
> kawruh pasamaden wau, pancen musthikaning gagayuhan ingkang saged
> andhatengaken ing kawilujengan, kamulyan, katentreman, lan
> sasaminipun. Mila kawruh wau dening tiyang ingkang sampun suluh
> papadhanging raosipun inggih punika Seh Sitijenar, ingkang ugi
dados
> pramugarining agami Islam apangkat Wali, lajeng kadhapuk ing
ndalem

> serat karanganipun, ingkang lajeng winastan daim, wirid saking
> tembung daiwan kasebut ing nginggil. Punapadene lajeng kaewoaken
> dados saperanganing panembah, sarana dipun wewahi tembungipun,
> lajeng mungel : salat daim (salat - basa arab, daim saking daiwan
> basa Sansekrit). Milanipun dipun wewahi basa arab, namung
> kawigatosan kangge mikekahaken kapitadosanipun murid-muridipun
> ingkang sampun sami necep agami Islam. Punapadene tembung salat
> lajeng kapilah kalih prakawis. Sapisan salat 5 wekdal, kasebut
> salat sarengat, ateges panembah lahir. Kaping kalih salat daim,
> punika panembahing batos; mangertosipun : anekadaken manunggaling
> pribadinipun, utawi kasebut loroning atunggil.
> Kitab karanganipun Seh Sitijenar wau lajeng kangge paugeraning
> piwulang. Sareng sampun angsal kawigatosaning ngakathah, ing
ngriku
> salat 5 wekdal lan sarak agami sanes-sanesipun lajeng kasuwak
boten
> kawulangaken babar pisan. Ingkang pinindeng namung mumuruk
> tumindaking salat daim kemawon. Mila titiyang Jawi ingkang suwau
> manjing agami Islam, langkung-langkung ingkang dereng, lajeng sami
> ambyuk maguru dhateng Seh Sitijenar, margi piwulangipun langkung
> gampil, terang lan nyata.
>
> Wondene purwanipun Seh Sitijenar kaserenan kawruh pasamaden,
ingkang

> mijeni Kyai Ageng Pengging, sebab Seh Sitijenar punika
> mitradarmanipun Kyai Ageng Pengging. Kawruh pasamaden, dening Seh
> Sitijenar lajeng katularaken Raden Watiswara, inggih Pangeran
> Panggung, ingkang ugi apangkat Wali. Lajeng tunimbal dhateng Sunan
> Geseng, inggih Ki Cakrajaya, tiyang asal saking Pagelen, ingkang
> kacarios saderengipun dados Wali, Ki Cakrajaya wau pandamelanipun
> anderes nitis gendhis. Salajengipun sumrambah kawiridaken dhateng
> ingakatah. Makaten ugi sakabat-sakabatipun Seh Sitijenar ingkang
> sampun kabuka raosipun, dening Seh Sitijenar kinen sami madeg
> paguron amiridaken kawruh pasamaden wau. Sangsaya dangu sangsaya
> ngrebda, anyuremaken panguwaosing para Wali, anggenipun
amencaraken
> piwulang agami Islam. Yen kalajeng-lajeng masjid saestu badhe
suwung.

>
> Ngawekani sampun ngantos wonten kadadosan ingkang makaten, temah
> Kyai Ageng Pengging tuwin Seh Sitijenar sasekabatipun ingkang sami
> pinejahan katigas jangganipun dening para Wali, saking dhawuhipun
> Sultan Demak. Makaten ugi Pangeran Panggung boten kantun, kapidana
> kalebetaken ing brama gesang-gesangan wonten samadyaning alun-alun
> Demak, kangge pangewan-ewan murih titiyang sami ajrih, lajeng sami
> mantuni utawi nglepeh piwulangipun Seh Sitijenar.
>
> Kacariyos sariranipun Pangeran Panggung boten tumawa dening
> mawerdining Hyang Brama, lajeng oncat medal saking salebeting latu
> murub, nilar nagari Demak. Kanjeng Sultan Bintara tuwin para Wali
> sami kablerengen kaprabawan katiyasaning Pangeran Panggung, temah
> kamitenggengen kadi tugu sinukarta. Sareng sampun sawatawis tebih
> tindakipun Sang Pangeran, Kanjeng Sultan tuwin para Wali saweg
sami
> enget bilih Pangeran Panggung kalis saking pidana, temah sami
rumaos
> kawon angsal sihing Pangeran. Katungka unjuking wadyabala, atur
> uninga bilih Sunan Geseng, inggih Ki Cakrajaya, kesah anututi
> lampahipun Pangeran Panggung. Ing ngriku Kanjeng Sultan katetangi
> dukanipun, temah dhawahing bendu, para sakabat tuwin murid-
muridipun

> Seh Sitijenar ingkang kapikut lajeng sami pinejahan. Ingkang boten
> kacepeng sami lumajar pados gesang.
>
> Para sakabatipun Seh Sitijenar ingkang taksih wilujeng
> kakantunanipun ingkang sami pejah, ugi taksih sami madeg paguron
> nglestantunaken pencaring kawruh pasamaden, nanging mawi sislintru
> tinutupan wuwulang sarengating agami Islam, murih boten ka'arubiru
> dening para Wali pramugarining praja. Dene piwulangipun kados ing
> ngandhap punika :
>
> Pamulanging kawruh pasamaden ingkang lajeng karan salat daim,
> karangkepan wuwulang salat 5 wekdal tuwin rukuning Islam sanes-
> sanesipun malih. Wewejanganipun salat daim wau lajeng winastan
> wiridan naksobandiyah, dene panindaking piwulang kawastan tafakur.
> Saweneh wonten ingkang pamulangipun ing saderengipun para murid
> nampi wiridan salat daim, langkung rumiyin kalatih lampah
> dhidhikiran lan maos ayat-ayat. Wiwit punika wuwulangan pasamaden
> lajeng wonten wanrni kalih, inggih punika :
>
> 1. Piwulang pasamaden wiwiridan saking para sekabatipun Seh
> Sitijenar, ingkang sarana tinutupan utawi aling-aling sarak
rukuning
> agami Islam. Wuwulangan wau dumuginipun ing jaman samangke sampun
> mleset saking jejer ing sakawit, mila para guru samangke, ingkang
> sami miridaken kawruh pasamaden, ingkang dipun santuni nama
> naksobandiyah utawi satariyah, nginten bilih kawruh wau wiwiridan
> saking ngulami ing Jabalkuber (Mekah). Salajengipun para Kyai guru
> wau, amastani guru klenik dhateng para ingkang sami miridaken
kawruh
> pasamaden miturut wawaton Jawi pipiridan saking Seh Sitijenar.
> Punapadene para Kyai guru wau nyukani paparab nama Kiniyai,
> pikajengipun : guru ingkang mulangaken ilmuning setan. Dene nama
> Kyai, punika guru ingkang mulangaken ilmuning para nabi.
>
> 2. Piwulang pasamaden miturut Jawi, wiji saking Kyai Ageng
> Pengging, ingkang kapencaraken dening Seh Sitijenar (ingkang ing
> samangke karan klenik), punika ing sakawit, ingkang dados
purwaning
> piwulang, dumunung wonten panggulawenthahing wawatekan 5 prakawis,
> kados ing ngandhap punika :
>
> 1. Setya tuhu utawi temen lan jujur.
> 2. Santosa, adil paramarta, tanggeljawab boten lewerweh.
> 3. Leres ing samubarang damel, sabar welas asih ing sasami,
> boten ngunggul-unggulaken dhirinipun, tebih saking watak
panganiaya.
> 4. Pinter saliring kawruh, langkung-langkung pinter ngecani
> manahing sasami-sami, punapadene pinter angereh kamurkaning manah
> pribadi, boten anguthuh melik anggendhong lali, margi saking
> dayaning mas picis rajabrana.
> 5. Susila anor-raga, tansah nganggeni tatakrami, maweh
> rereseping paningal tuwin sengseming pamiharsa, dhateng ingkang
sami

> kataman.
>
> Lampah 5 prakawis wau kedah linampahan winantu ing pujabrata
> anandangaken ulah samadi, inggih amesu cipta angeningaken
> pranawaning paningal. Awit saking makaten punika mila tumrap
> panindaking agami Jawi (Buda), bab kawruh pasamaden tuwin lampah 5
> prakawis wau kedah kawulangaken dhateng sadaya titiyang enem sepuh
> boten pilih andhap inggiling darajatipun. Mila makaten, sebab
> musthikaning kawruh tuwin luhur-luhuring kamanungsan, punika bilih
> tetep samadinipun, kuwasa anindakaken lampah 5 prakawis kados
> kawursita ing nginggil. Temah kita manggen ing sasananing
> katrenteman, dene wontening katentreman mahanani harja kerta lan
> kamardikan kita sami. Yen boten makaten, ngantos sabujading jagad,
> kita badhe nandhang papa cintraka, kagiles dening rodha jantraning
> jagad, margi kacidraning manah kita pribadi.
>
> Bab kawruh pasamaden ingkang lajeng karan wiridan naksobandiyah
lan
> satariyah, ingkang ing nguni wiwiridan saking Seh Sitijenar,
sampun
> ka'andharaken ing nginggil, namung kemawon tumandangipun boten
> kawedharaken. Ing riki namung badhe anggelaraken lampah
tumandanging
> samadi sacara Jawi, ingkang dereng kacarobosan agami sanes, inggih
> punika makaten :
>
> Para nupiksa, mugi sampun kalintu panampi, bilih samadi punika
> angicalaken rahsaning gesang utawi nyawanipun (gesangipun) medal
> saking badan wadhag. Panampi makaten punika, purwanipun mirid
saking
> cariyos lalampahanipun Sri Kresna ing Dwarawati, utawi Sang Arjuna
> yen angraga-suksma. Mugi kawuninganana, bilih cariyos makaten
punika
> tetep namung kangge pasemon utawi pralambang.
>
> Ing samangke wiwit wedharaken lampahing samadi makaten : tembung
> samadi = sarasa - rasa tunggal - maligining rasa - rasa jati -
rasa

> nalika dereng makarti. Dene makartining rasa jalaran saking
> panggulawenthah utawi piwulang, punapadene pangalaman-pangalam an
> ingkang tinampen utawi kasandhang ing sadinten-dintenipun . Inggih
> makartining rasa punika ingkang kawastanan pikir. Saking dayaning
> panggulawenthah, piwulang tuwin pangalaman-pangalam an wau, pikir
> lajeng gadhah panganggep awon lan sae, temah anuwuhaken tatacara,
> pamacak lan sanes-sanesipun ingkang lajeng dados pakulinan. Punapa
> panganggep awon sae, ingkang sampun dados tata-cara margi sampun
> dados pakulinan punika, yen awon inggih awon sayektos, yen sae
> inggih sae temenan, punika dereng tamtu, jer punika namung
> pakulinaning panganggep. Dene panganggep, boten yekti, tetep
namung
> ngenggeni pakulinaning tata-cara, dados inggih dede kajaten utawi
> kasunyatan. Menggah pikajenganipun samadi ing riki, boten wonten
> sanes namung badhe nyumerepi kajaten, dene sarananipun boten
wonten
> malih kajawi nyumerepi utawi anyilahaken panganggep saking
> makartining rasa, kasebut sirnaning papan lan tulis. Inggih ing
riku
> punika jumenenging rasa jati kang nyata, kang yekti, kang weruh
> tanpa tuduh. Wondene kasembadanipun kedah angendelaken ing
> saniskara, sarana angereh solahing anggota (badan). Mangrehing
> anggota wau ingkang langkung pikantuk kalihan sareyan malumah,
saha
> sidhakep utawi kalurusaken mangandhap, epek-epek kiwa tengen
> tumempel ing pupu kiwa tengen, suku ingkang lurus, dalamakan suku
> ingkang tengen katumpangaken ing dalamakan suku kiwa, mila lajeng
> kasebut sidhakep suku (saluku) tunggal. Punapadene angendelna
> ebahing netra (mripat), inggih punika ingkang kawastanan meleng.
> Lampah makaten wau ingkang kuwasa ngendelaken osiking cipta
> (panggagas), tuwin amuntu ilining rahsa, dene pancering paningal
> kasipatna amandeng pucuking grana medal saking sa'antawising netra
> kakalih, inggih punika ing papasu, dene pamandengipun kedah
kalayan
> angeremaken netra kakalih pisan.
>
> Sasampunipun lajeng nata lebet wedaling napas (ambegan) makaten :
> panariking napas saking puser kasengkakna minggah anglangkungi
> cethak ingga dumugi ing suhunan (utek = embun-embunan) , sarta mawi
> kaendelna ing sawatawis dangunipun. Sumengkanipun napas wau
> kadosdene darbe raos angangkat punapa-punapa, dene temenipun
ingkang
> kados kita angkat, punika ilining rahsa ingkang kita pepet saking
> sumengkaning napas wau, menawi sampun kraos awrat panyangginipun
> napas, inggih lajeng ka'edhakna kalayan alon-alon. Inggih patrap
> ingkang makaten punika ingkang kawastanan sastracetha. Tegesipun
> cetha = empaning kawruh, cetha = antebing swara cethak, inggih
> cethaking tutuk kita punika. Mila winastan makaten, awit duk kita
> mangreh sumengkaning napas anglangkungi dhadha lajeng minggah
malih
> anglangkungi cethak ingga dumugi suhunan. Menawi napas kita dipun
> ereh, dados namung manut lampahing napas piyambak, tamtu boten
saget
> dumugi ing suhunan, margi saweg dumugi ing cethak lajeng sampun
> medhak malih. Punapadene ugi winastan daiwan (dawan),
pikajengipun :
> mangreh lebet wedaling napas ingkang panjang lan sareh, sarwi
> mocapaken mantra sarana kabatos kemawon, inggih punika mungel `hu'
> kasarengan kalihan lumebeting napas, inggih panariking napas
saking
> puser, minggah dumugi ing suhunan. Lajeng `ya', kasarengan kalihan
> wedaling napas, inggih medhaking napas saking suhunan dumugi ing
> puser, minggah mandhaping napas wau anglangkungi dhadha lan
cethak.
> Dene, anggenipun kawastanan sastracetha, margi nalika mocapaken
> mantra sastra kakalih : hu - ya, wedaling swara ingkang namung
> kabatos wau, ugi kawistara saking dayaning cethak. (Ungeling
mantra
> utawi panebut kakalih : hu – ya, ing wiridan naksobandiyah
kaewahan
> dados mungel, hu – Allah, panebutipun ugi kasarengan lampahing
> napas. Dene ing wiridan satariyah, panebut wau mungel : hailah –
> haillolah, nanging tanpa angereh lampahing napas).
>
> Menggah lebet medaling napas kados kasebut ing nginggil,
> sa'angkatanipun namung kuwasa angambali rambah kaping tiga, mila
> makaten, awit napas kita sampun boten kadugi manawi kinen
> anandangana malih, jalaran sampun menggeh-menggeh. Dene manawi
> sampun sareh, inggih lajeng ka'angkatana malih, makaten
salajengipun
> ngantos marambah-rambah sakuwawinipun, margi saya kuwawi dangu,
> sangsaya langkung prayogi sanget. Dene sa'angkataning pandamel wau
> kawastan : tripandurat, tegesipun tri = tiga, pandu = suci, rat =
> jagad – badan – enggen, suraosipun : kaping tiga napas kita saget
> tumameng ing ngabyantaraning ingkang Maha suci manggen ing
> salebeting suhunan (ingkang dipun suwuni). Inggih punika ingkang
> kabasakaken paworing kawula Gusti, tegesipun : manawi napas kita
> sumengka, kita jumeneng gusti, yen tumedhak, wangsul dados kawula.
> Bab punika para nupiksa sampun kalintu tampi ! Menggah ingkang
dipun
> wastani kawula gusti punika dede napas kita, nanging dayaning
cipta
> kita. Dados ulah samadi punika, pokokipun kita kedah amanjangaken
> panjing wijiling napas (lebet wedaling napas), kalihan
angeningaken
> (ambeningaken) paningal, sebab paningal punika kadadosan saking
> rahsa.
>
> Wondene patraping samadi kados kasebut ing nginggil wau, ugi
kenging
> karancagaken, uger kita tansah lumintu tanpa pedhot mangeh panjing
> wijiling napas, kalihan lenggah, lumampah, utawi nyambutdamel
inggih
> kedah boten kenging tilar mangreh lebet wedaling napas wau,
ingkang
> sarana mocapaken mantra mungel : hu – ya, kados ingkang kajarwa
ing

> nginggil.
>
> Kajawi punika, wirid saking tembung daiwan punika ugi taksih darbe
> maksud sanesipun malih, inggih punika ateges panjang tanpa ujung,
> utawi ateges langgeng. Dene pikajengipun amastani bilih wontening
> napas kita punika sanyata wahananing gesang kita ingkang langgeng,
> inggih wontening ambegan kita. Dene ambegan punika, sanyata
> wontening angin ingkang tansah mlebet medal tanpa kendel, ingkang
> sasarengan kalihan keketeg panglampahing rah (roh). Bilih kakalih
> wau kendel boten makarti nama pejah, inggih risaking badan wadhag
> wangsul dados babakalan malih. Mila sayogyanipun lampahing napas
> inggih ambegan kita ingkang tansah mlebet medal tanpa kendel,
kedah
> kapanjang-panjangan a lampahipun, murih panjanga ugi umur kita,
temah
> saget awet wonten ing donya tutug panyawangipun dhateng anak,
putu,
> buyut, canggah, wareng, ingkang babranahan.
>
> Wontenipun andharan ing nginggil, mratelakaken bilih kawruh
> pasamaden punika sanyata langkung ageng pigunanipun, mila lajeng
> sinebut sastrajendrayuningr at pangruwating diyu. Tegesipun sastra
=
> empaning kawruh, jendra = saking panggarbaning tembung harja
endra.
> Tegesipun harja = raharja, endra = ratu – dewa, yu = rahayu –
> wilujeng, ningrat = jagad – enggen – badan. Suraosipun :
> Musthikaning kawruh ingkang kuwasa amartani ing karahayon,
kaharjan,
> katentreman lan sapatunggalipun. Dene tegesesipun pangruwating
diyu
> = amalihaken diyu; dene diyu = danawa – raksasa – asura – buta,
> punika kangge pasemoning piawon, penyakit, rereget, babaya,
> pepeteng, kabodhohan lan sanesipun. Dados diyu punika
> kosokwangsulipun dewa, engkang ateges pinter, sae, wilujeng lan
> sapanunggilipun. Mengku suraos amastani ingkang saget anyirnakaken
> saliring piawon tuwin samubarang babaya pekewed. Mangertosipun,
> sinten ingkang tansah ajeg lumintu anandangaken ulah samadi,
punika
> bilih ing suwaunipun tiyang awon, lajeng sirna piawonipun, malih
> dados tiyang sae lampahipun. Tiyang sakit sirna sakitipun, dados
> saras, tiyang murka daksiya lajeng narimah sabar, welasasih.
Tiyang
> goroh lajeng dados temen. Tiyang bodho dados pinter. Tiyang pinter
> dados pinter sanget. Makaten ugi tiyang golongan sudra dados
waesia,

> waesia dados satriya, satriya dados brahmana, brahmana sumengka
> pangawak braja asarira bathara.
>
> RAHAYU
>
> BS
>
> --- In Spiritual-Indonesia
> <mailto:Spiritual- Indonesia% 40yahoogroups. com> @yahoogroups. com,
> bustanus salatin
> <ki_ageng_jenar@ > wrote:
> >
> > buku SATRIO PANINGIT, BENCANA NUSANTARA, MANUNGGALINGKAWULOG USTI
> dalam UNIVERSALITAS KEAGAMAAN
> > ISBN:978-979- 17824-0-1/ barcode
> >
> > Bab 10: Kajian Tafsir Huruf Muqota'ah: Pandangan Siti Jenar dan
> Husain ibnu Mansur al-Hallaj dalam Manunggaling Kawulo Gusti
> >
> > Syekh Siti Jenar begitu sering dihubung-hubungkan dengan al-
Husain
> ibnu Mansur al-Hallaj atau singkatnya Al-Hallaj saja, sufi Persia
> abad ke-10, yang sepintas lalu ajarannya mirip dengan Siti Jenar,
> karena ia memohon dibunuh agar tubuhnya tidak menjadi penghalang
> penyatuannya kembali dengan Tuhan. Adalah Al-Hallaj yang karena
> konsep satunya Tuhan dan dunia mengucapkan kalimat, "Akulah
> Kebenaran/ Anna al Haq," yang menjadi alasan bagi hukuman matinya
> pada 922 Masehi di Baghdad. Seperti Syekh Siti Jenar pula, nama Al-
> Hallaj menjadi monumen keberbedaan dalam penghayatan agama,
sehingga
> bahkan diandaikan bahwa jika secara historis Syekh Siti Jenar tak
> ada, maka dongengnya adalah personifikasi saja dari ajaran Al-
> Hallaj, bagi yang mendukung maupun yang menindas ajaran tersebut.
> > petikan atas kutipan dari Serat Siti Jenar yang diterbitkan oleh
> Tan Khoen Swie, Kediri, pada 1922:
> > Kawula dan gusti sudah ada dalam diriku, siang dan malam tidak
> dapat memisahkan diriku dari mereka. Tetapi hanya saat ini nama
> kawula-gusti itu berlaku, yakni selama saya mati. Nanti, kalau
saya
> sudah hidup lagi, gusti dan kawula lenyap, yang tinggal hanya
> hidupku, ketenteraman langgeng dalam Ada sendiri.
> > Hai Pangeran Bayat, bila kau belum menyadari kebenaran kata-
kataku
> maka dengan tepat dapat dikatakan, bahwa kau masih terbenam dalam
> masa kematian. Di sini memang banyak hiburan aneka warna. Lebih
> banyak lagi hal-hal yang menimbulkan hawa nafsu. Tetapi kau tidak
> melihat, bahwa itu hanya akibat pancaindera.
> > Itu hanya impian yang sama sekali tidak mengandung kebenaran dan
> sebentar lagi akan lenyap. Gilalah orang yang terikat padanya,
tidak

> seperti Syeh Siti Jenar. Saya tidak merasa tertarik, tak sudi
> tersesat dalam kerajaan kematian. Satu-satunya yang kuusahakan,
> ialah kembali kepada kehidupan
> > Dalam pupuhnya, Syekh Siti Jenar merasa malu apabila harus
> berdebat masalah agama. Alasannya sederhana, yaitu dalam agama
> apapun, setiap pemeluk sebenarnya menyembah zat Yang Maha Kuasa.
> Hanya saja masing - masing menyembah dengan menyebut nama yang
> berbeda - beda dan menjalankan ajaran dengan cara yang belum tentu
> sama. Oleh karena itu, masing - masing pemeluk tidak perlu saling
> berdebat untuk mendapat pengakuan bahwa agamanya yang paling benar.
> > Syekh Siti Jenar juga mengajarkan agar seseorang dapat lebih
> mengutamakan prinsip ikhlas dalam menjalankan ibadah. Orang yang
> beribadah dengan mengharapkan surga atau pahala berarti belum bisa
> disebut ikhlas.
> > Manunggaling Kawula Gusti, Dalam ajarannya ini, pendukungnya
> berpendapat bahwa Syekh Siti Jenar tidak pernah menyebut dirinya
> sebagai Tuhan. Manunggaling Kawula Gusti dianggap bukan berarti
> bercampurnya Tuhan dengan Makhluknya, melainkan bahwa Sang
Pencipta
> adalah tempat kembali semua makhluk. Dan dengan kembali kepada
> Tuhannya, manusia telah menjadi sangat dekat dengan Tuhannya.
> > Dan dalam ajarannya, 'Manunggaling Kawula Gusti' adalah bahwa di
> dalam diri manusia terdapat ruh yang berasal dari ruh Tuhan sesuai
> dengan ayat Al Qur'an yang menerangkan tentang penciptaan manusia
("

> Ketika Tuhanmu berfirman kepada malaikat: "Sesungguhnya Aku akan
> menciptakan manusia dari tanah. Maka apabila telah Kusempurnakan
> kejadiannya dan Kutiupkan kepadanya roh Ku; maka hendaklah kamu
> tersungkur dengan bersujud kepadanya (Shaad; 71-72)"). Dengan
> demikian ruh manusia akan menyatu dengan ruh Tuhan dikala
> penyembahan terhadap Tuhan terjadi.
> > Riwayat pertemuan Ibrahim ibn Sam'an dengan Husain bin Mansur al
> Hallaj ( Kutipan dari Buku Husain bin Manshur al Hallaj, karangan
> Louis Massignon)
> > Aku melihat al Hallaj pada suatu hari di masjid al Mansur: Aku
> memiliki 2 dinar dalam sakuku dan aku berpikir untuk menghabiskan
> uang itu untuk hal-hal yang melanggar hukum. Seseorang datang dan
> memintah sedekah.Dan Husain bin Mansur al Hallaj berkata:' Ibnu
> Sam'an berikanlah sedekah dengan apa yang kamu simpan di dalam
> jubahmu, aku terdiam dan menangis, " oh syaikh,bagaimana engkau
> mengetahui hal itu?'' Al Hallaj berkata:' Setiap hati yang
> mengosongkan diri dari yang selain Alloh, dapat membaca kesadaran
> orang dan menyaksikan apa yang ghoib''. Ibnu Sam'an berkata:''
> o,syaikh ajarilah aku sebuah hikmah''. Kemudian berkata al
> Hallaj :''Orang yang mencari Tuhan dibalik huruf miim dan ain akan
> menemukan Nya.Dan seseorang yang mencarinya dalam konsonan idhafah
> antara alif dan nun, orang itu akan kehilangan Dia. Karena Dia itu
> Maha Suci, di luar jangkauan pikiran dan diatas yang terselubung ,
> yang berada di dalam diri setiap
> > orang. Kembalilah kepada Tuhan, Titik Terakhir adalah Dia. Tidak
> ada "Mengapa" di hari akhir kecuali Dia.Bagi manusia "MA/ yaitu
miim
> dan ain" milik Dia berada dalam miim dan ain makna ""MA"" ini
adalah

> Tuhan Maha Suci. Dia mengajak makhluk terbang menuju Tuhan. "miim"
> membimbing ke Dia dari atas ke bawah. "ain"membimbing ke Dia dari
> Jauh dan Luas.
> >
> > Ilmu Huruf Muqota'ah
> > Ilmu huruf, yang didasarkan pada satu bahsa suci, tentulah
> memiliki sebuah fondasi mistis yang diperlukan. Orang bisa
> menemukan doktrin ini dalam puisi mistis yang terkenal Ghulsyan-i
> Raz (Taman Mawar), karya Syabistari: " Bagi orang yang jiwanya
> adalah manifestasi Tuhan yaitu al Qur'an, keseluruhan alam ini
> adalah huruf-huruf vokalNya dan substansinya adalah huruf konsonan
> Nya " Pasal 200-209 puisi Ghulsyan-i Raz.
> > Abu Ishaq Quhistani, sufi Islam, menegaskan pentingnya ilmu
huruf
> dengan menyatakan bahwa " ilmu huruf adalah akar dari segala
ilmu ".
> Secara skematis ilmu huruf mengandung :
> >
> > Simbolisme ketuhanan dan metafisika atau /metakosmik
> > Simbolisme universal / makrokosmik yang didasarkan pada
> korespondensi antara huruf-huruf dan benda astrologis (ruang
> angkasa/ planet/ lambang zodiak dll)
> > Simbolisme manusia dan individu yang didasarkan pada
korespondensi
> fisiologis/organ tubuh
> > Jumlah huruf muqatta'ah (terpotong) ada 14 huruf yaitu :alif lam
> miim,ha miim, alif lam ra, tha ha,ha miim ain sin qaf, ya sin, kaf
> ha ya `ain shad, kaf dan nun. Kalau dirangkai keseluruhannya
menjadi
> sebuah kalimat : Shiratu `aliyin haqqun namsikuhu (jalan Ali
adalah
> kebenaran yang kita pegang). huruf muqatta'ah (terpotong) adalah
> huruf-huruf yang merupakan rumusan dialog antara Alloh swt dengan
> kekasihnya (para Nabi dan para Wali)
> > Apa Makna miim dan ain sehingga dapat menemukan Tuhan dan
bertemu

> dengan Nya dan Mengapa ketika mencari Tuhan dibalik huruf alif dan
> nun maka tidak bisa bertemu dengan Nya?
> > Tafsir Miim (numerology Arabiyah)::
> >
> > Huruf miim merupakan muhammad rosulillah atau Ahmad, yang
> merupakan pintu menuju Ahad yang merupakan wahdaniyah Allah.
> Perbedaan antara Ahad dan Ahmad adalah huruf arab Miim (muhammad
> rosulillah - penutup jalur risalah dan kenabian)
> > Miim juga berarti malakuti / keagungan / penguasaan atas seluruh
> langit bumi, ayat Kursi merupakan ayat yang mengandung banyak
huruf

> miim didalamya
> > Huruf miim bernilai 40, 40 hari khalwat dengan ikhlas dengan
> mengamalkan surat al ikhlas dan ayat Kursi (ayat yang banyak
> mengandung huruf miim /sujud jadi sujud adalah cara menggapai
> keagungan). Juga surat al ikhlas di awali dengan qulhuwa allohu
> ahad. Jadi perwujudan ahad di dunia adalah ahmad, ketika manusia
> menjadi ahmad maka merupakan tajalli/ penampakan sang Mahakuasa
> dalam diri manusia. Sekali lagi bedakan Ahmad dan Ahad terletak
> huruf miim.
> > Huruf miim membentuk, posisi sujud dalam solat, sujud merupakan
> posisi kedekatan dengan Alloh, bahkan sujud merupakan simbol dari
> wahdaniyah Allah. Metode untuk mendekat (muqorrobin/ kewalian)
> kepada Tuhan yang paling cepat adalah dengan sujud yang lama dalam
> Sholat. Hadits qudsi Allah berfirman : " Barangsiapa memusuhi
waliku
> sungguh kuumumkan perang kepadanya, tiadalah hamba Ku mendekat
> kepada Ku dengan hal hal yg fardhu- 17 rokaat, dan Hamba Ku terus
> mendekat kepada Ku dengan hal hal yg sunnah- 34 rokaat qobliyah
dan
> bakdiyah- baginya hingga Aku mencintainya, bila Aku mencintainya
> maka aku menjadi telinganya yg ia gunakan untuk mendengar, dan
> matanya yg ia gunakan untuk melihat, dan menjadi tangannya yg ia
> gunakan untuk memerangi, dan kakinya yg ia gunakan untuk
melangkah,
> bila ia meminta pada Ku niscaya kuberi permintaannya. ..." (shahih
> Bukhari hadits no.6137).
> >
> > Tafsir Ain,Yaa,Sin, Nuun,Aliif (numerology Arabiyah):
> >
> > Huruf ain bermakna sayidina Ali bin Abu tholib merupakan pintu
> gerbang keilmuan. Sesuai hadits Nabi yang menyatakan bahwa
Muhammad
> rosulluloh adalah gudang ilmu dan Sayidina Ali adalah pintunya.
> Huruf ayn membentuk posisi rukuk dalam sujud, dalam riwayat
asbabun
> nuzul quran ada ayat yang berkenaan dengan Ali bin abu thalib,
yaitu
> orang yang rukuk kemudian dalam posisi rukuk dalam solat melakukan
> sedekah berupa cincin. Inilah ayat quran itu: Walimu hanyalah
Allah,
> Rasul-Nya dan mereka yang beriman yang menegakkan salat, membayar
> zakat seraya rukuk. (QS. al-Mâ`idah: 55)
> > Kunci sholat yang merupakan adab tatakrama/ kepasrahaan total
ila
> allohu ada di rukuk/ huruf ain, sujud/ huruf miim adalah kedekatan
> (muqorobin- fana asma dan tajalli asma), barangsiapa tidak tahu
adab
> ( rukuknya) maka tidak layak untuk dekat (muqorobin).
> > Huruf Ain bernilai 70.sedang huruf Ya bernilai 10 dan huruf Sin
> bernilai 60. jadi secara matematis yaitu 70(ain)= yaa(10)+sin( 60)
> jadi Ya + Seen = Ain merupakan Quran dalam surat 36 adalah surat
Ya
> Seen. ayat ke 58 dari surat Yasin adalah Salaamun Qawlam Mir
Rabbir
> Raheem. Jadi 5+8=13, posisi huruf ke 13 dalam abjad Arab adalah
> huruf Miim/ Sujud. Jadi untuk mengerti Ain/ rukuk kita harus
> mengerti tafsir huruf Yaa dan Tafsir huruf Sin. Dengan mengerti
Yaa
> dan Sin kita akan sampai kepada Sayidina Ali bin Abu Tholib..
> > Kyai Kholil Bangkalan, salah seorang pencetak kyai besar
Nahdlatul
> Ulama, selama perjalanan pesantren Keboncandi, Pasuruan-Sidogiri
> kyai kholil Bangkalan sewaktu muda selalu membaca YaSin, hingga
> khatam berkali-kali
> > Huruf Ya adalah akhir dari abjad Arab and Alif awal dari abjad
> Arab. Huruf Ya/ hamba memimpin/cenderung ke arah Alif/ Alloh.
Huwal

> Awwalu wa Hu wal Akhiru.
> > Rincian huruf Awwalu :
> > Alif(1)+waw( 6)+lam(30) =37ß-à3+7=10, (Ya=10),
> > 10 ß-à1+0=1ß-àpertama.
> > · Rincian huruf Akhiru :: Alif(1)+Kho( 600)+Ro(200) = 801ß-
> à8+0 +1= 9 ß-à terakhir adalah 9, angka 9 dalam numerology arab
> adalah huruf Ta yang bermakna penyucian atau Tahara/penyucian dan
> bulan ke 9 dalam Arab/ Qomariah adalah bulan ramadhon yaitu bulan
> puasa
> > · Penyucian kalbu dari kecintan diri dan dunia merupakan
> tingkat awal penyucian untuk bersuluk kepada Alloh. Sesungguhnya
> kotoran maknawi terbesar yang tidak bisa disucikan meskipun dengan
> tujuh lautan dan para nabi pun tidak mampu menghilangkannya adalah
> kotora kejahilan ganda (pura-pura tahu padahal tidak tahu).
> Kekeruhan ini mungkin akan memadamkan cahaya petunjuk dan
meredupkan
> api kerinduan yang merupakan buraq untuk bermikraj mencapai
berbagai
> maqom spiritual.( Imam Khomeini dalam Hakikat dan Rahasia Sholat)
> > · dan Alif(1)+ Ta(9)=10ß-à (Ya=10=hamba) , nilai huruf
> (Ya=10), jadi seorang Hamba yaitu simbol Ya harus melakukan Puasa/
> penyucian jiwa/ tazkiyah nafs simbol (Ta=9) untuk Alloh semata
> simbol (Alif=1) atau Hamba harus sabar dengan KetentuanNya atau
> nrimo ing pandum, karena hasil puasa Lillah Billah menjadikan
orang
> sabar atau innalloha ma'ashobirin (Sesungguhnya Alloh bersama (MA
> terdiri huruf miim dan ain lihat al Baqarah:153 ) orang yang
sabar.
> Lihat bersama adalah Ma yaitu ma'asshobirin. Disini terungkap
> rahasia mim dan ayn yaitu MA seperti yang diucapkan oleh Husain
bin
> Mansur al Hallaj. jadi Sabar adalah kunci menemukan Tuhan. Para
> mufassir menafsirkan sabar dengan melakukan puasa. Pahala puasa
> hanya Alloh yang tahu. Artinya Hak menilai puasa langsung di
tangan
> Alloh bukan di tangan para malaikat. Sabda Rosullulloh saw Puasa
> yang dilakukan khusus untuk-Ku/ puasa Lillah Billah dan cukuplah
Aku
> sebagai pahalanya
> > · Mempelajari Ilmu Ketuhanan akan menjadikan orang
> bersabar, seperti dialog Nabi Musa as dan Nabi Khidr as yaitu
> Bagaimana kamu dapat sabar terhadap persoalan yang kamu samasekali
> belum memiliki pengetahuan yang cukup tentangNya(QS 18:68).
> Barangsiapa menghadapi kesengsaraan dengan hati terbuka,
menunjukkan
> kesabaran dengan penuh ketenangan dan martabat, termasuk dalam
> golongan orang terpilih dan bagian untuknya adalah Berikanlah
kabar

> gembira (keberhasilan dan kejayaan) kepada orang yang sabar (QS
> 2:155),
> >
> > Dalam Islam, kemampuan mengendalikan emosi dan menahan diri
> disebut sabar. Orang yang paling sabar adalah orang yang paling
> tinggi dalam kecerdasan emosionalnya. Ia biasanya tabah dalam
> menghadapi kesulitan. Ketika belajar orang ini tekun. Ia berhasil
> mengatasi berbagai gangguan dan tidak memperturutkan emosi-nya.
> > Gabungan rincian Awwalu dan Akhiru adalah Seorang Hamba
> (Ya=10=hamba) karena Akhiru(9)+ Awwalu (1)=10ß-à (Ya=10=hamba) ,
> jadi seorang Hamba menampung Asma Alloh yang lengkap dan memiliki
> potensi untuk menampakkan sifat ketuhanan
> > Huruf Sin bernilai 60 dalam numerology Arab, merupakan simbol
dari
> sirr Muhammad, sirr adalah rahasia ketuhanan yang disimpan dalam
> diri manusia sebagai hamba. Huruf sin dalam INSAN. huruf alif nya
> adalah Alloh, huruf sin adalah rahasia /sirr ketuhanan, 2 huruf
nun
> adalah simbol hukum dunia dan akhirat yang merupakan
> representasi /perwakilan kitab suci al Qur'an..
> > Huruf Yaa/ simbol Hamba digunakan untuk memanggil seseorang atau
> menarik perhatian sesorang. Ya adalah simbol seorang Hamba
menyembah
> dan menyebut Tuhannya Ya Alloh Ya Robbi dll.Yaa juga digunakan
oleh
> Alloh memanggil Hambanya.Ya juga berarti simbol antara yang
disembah
> dan menyembah, tetapi posisi Ya=10/ hamba selalu cenderung kepada
> Alif=1 atau Alloh karena Alloh sebagai Awwalu, dalam ilmu huruf,
> > Alif(1)+waw( 6)+lam(30) =37ß-à3+7=10 adalah Yaa menyatu dengan
Alif
> (10ß-à1+0=1) atau dibalik Yaa ada Alif atau di dalam Manusia ada
> Tuhan atau istilah Wahdatul Wujud nya Ibnu Arobi yaitu antara
> penyembah dan yang disembah itu sama tapi tidak serupa atau
menurut

> istilah ajaran Syekh Siti Jenar, yaitu Manunggaling Kawula
> Gusti. "PERSAMAAN" antara manusia dan Allah. Hal inilah yang
> dimaksudkan dalam sabda Nabi saw.: "Sesungguhnya Allah menciptakan
> manusia dalam kemiripan dengan diriNya sendiri." Lebih jauh lagi
> Allah telah berfirman: "Hambaku mendekat kepadaKu sehingga Aku
> menjadikannya sahabatKu. Aku pun menjadi telinganya, matanya dan
> lidahnya." Juga Allah berfirman kepada Musa as.: "Aku pernah sakit
> tapi engkau tidak menjengukku! " Musa menjawab: "Ya Allah, Engkau
> adalah Rabb langit dan bumi; bagaimana Engkau bisa sakit?" Allah
> berfirman: "Salah seorang hambaKu sakit; dan dengan menjenguknya
> berarti engkau telah mengunjungiKu. . "Memang ini adalah suatu
> > masalah yang agak berbahaya untuk diperbincangkan, karena hal
ini

> berada di balik pemahaman orang-orang awam. Seseorang yang cerdas
> sekalipun bisa tersandung dalam membicarakan soal ini dan percaya
> pada inkarnasi dan kersekutuan dengan Allah.
> > Tafsir huruf Nun dan Alif- Pencari Tuhan dibalik huruf alif dan
> nun maka tidak bisa bertemu dengan Nya::
> >
> > Bernilai 50 dalam numerology Arab.
> > Tafsir huruf INSAN, memiliki 2 huruf nun merupakan simbol alam
> dunia/ jasad dan alam akhirat/ ruh/ jiwa. Ruh yang disucikan akan
> memperoleh Nur/ surga sedangkan Ruh yang dikotori akan memperoleh
> Nar/ neraka.
> > Tafsir Alif dan Nun: Penggambaran Simbolis Huruf dan Alif Nun
> merupakan lambang sebuah perahu (syariat) dan sebuah Jiwa/
> individu /personal mengarungi lautan / medan ujian, kayuh/sampan (
> membentuk huruf Alif) kiri kanan adalah wilayah pilihan manusia (
> sunnatulloh adalah qadha' qadar baik buruk) yang telah ditetapkan
> oleh Alloh arti simbol Alif. Individu yang sedang menaiki perahu (
> simbol Nun), sampan/kayuh adalah alat/ pilihan yang akan
mengerakkan
> jiwanya menuju 3 pilihan yaitu, pertama, arah perahu ke kiri
> berarti ashabul syimal/ Nun menjadi Naar/ neraka, kedua arah
perahu
> ke kanan berarti ashabul yamin/ Nun menjadi Nur/cahaya, ketiga
arah
> perahu tidak ke kiri dan tidak ke kanan tetapi tengah berarti
> sabiqunal awwalun/ terdahulu mencapai tujuan - ini adalah golongan
> para pencinta yaitu menyembah karena kerinduan ingin bertemu
dengan
> sang Khaliq – ini adalah jawaban isyarah tersembunyi dari Husain
bin
> Manshur al Hallaj- yaitu para nabi
> > dengan simbol miim (arti bathinnya adalah sujud) yaitu Muhammad
> saw dan ain (arti bathinnya adalah rukuk) yaitu sayidina Ali bin
> Abuthalib
> > Huruf Nun Mengingatkan Kita juga kepada Zunnun/ Nabi Yunus as
> yang naik perahu di tengah lautan dan ditelan Ikan karena
> meninggalkan Kaum nya sebelum ada perintah dari ALLOH swt.
> > Zikir Zunnun / N.Yunus - doa keselamatan menghadapi medan
ujian :
> wa dzan nuni idz dzahaba mughadziban fa dhanna an lan naqdiro
alayhi
> fa nada fid dhulumati an laila antan subhanaka inni kuntu
> minadolimin fastajabna lahu wa najjaynahu minal ghammi wa
kadzalika

> nunjil mukminina (Anbiya :87-88).
> >
> > Kesimpulan:
> > · Tafsir Yaa Sin akan membuka rahasia huruf `'MA'' yaitu
> miim dan ain seperti yang dikatakan oleh Husain bin Mansur al
> Hallaj:
> > Quran dalam surat 36 adalah surat Ya Seen. ayat ke 58 dari surat
> Yasin adalah Salaamun Qawlam Mir Rabbir Raheem
> > "Rahasia Ketuhanan ada dalam diri manusia, agar manusia mampu
> menampakkan atau men-tajallikan Ketuhanan dalam dirinya maka
> perintah solat (Rukuk, Sujud) adalah sarana 'Manunggaling Kawula
> Gusti dan sodaqoh ( menebarkan hasil usaha kebenaran/ pengabdian
> masyarakat/ agen perubahan/ social agent) kepada sesama makhluk
> Tuhan (kesalehan sosial) yang merupakan perwujudan dari Salaamun
> Qawlam Mir Rabbir Raheem"
> > · Tafsir YaaSin adalah simbol manusia sempurna yaitu
hamba
> yang mampu menampung rahasia Alloh swt dan didalam sirr itu
seorang

> penyembah dan disembah bertemu dan berdialog, ibarat sebuah pohon
> lengkap dengan pokoknya, cabangnya dan puncaknya. Imam al Baqir
> berkata: Maukah kamu akau beritahu pokok-pokok Islam, cabang dan
> puncaknya dan pintu kebaikan? Sulaiman bin Khalid berkata: Tentu,
> lalu jawab Imam al Baqir: Pokoknya adalah sholat, cabangnya adalah
> zakat, dan puncaknya adalah membela kaum tertindas dan menegakkan
> keadilan. Pintu kebaikan itu adalah :
> > 1. Puasa merupakan perisai api neraka
> > 2. Sedekah itu menghapus dosa
> > 3. Sholat di malam hari untuk berzikir
> >
> > Tafsir Rukuk/Huruf Ain
> > Etika rukuk adalah meninggikan maqam rububiyah Nya yang agung,
> mulia dan merendahkan maqam ubudiyah seorang hamba yang lemah,
faqir
> dan hina. Rukuk adalah awal ketundukkan dan sujud adalah
> puncaknya.Yang melakukan rukuk dengan sempurna dan benar akan
> menemukan keselarasan pada sujud. Imam Shadiq berkata" rukuk yang
> benar kepada Alloh adalah menghiasi dengan cahaya keindahan asma
> Nya. Rukuk adalah yang pertama dan sujud adalah yang kedua. Dalam
> rukuk ada adab penghambaan dan dalam sujud ada kedekatan/Qurb
dengan
> Zat yang disembah. Simbol rukuk adalah hamba dengan hati tunduk
> kepada Alloh, merasa hina dan takut di bawah kekuasaan-Nya.
> Merendahkan anggota badan karena gelisah dan takut tidak
memperoleh
> manfaat rukuk.
> >
> > Tafsir Sujud/Huruf Mim
> > Sujud merupakan puncak ketundukan dan puncak kekhusyukan seorang
> hamba, sebaik-baik wasilah taqarrub ila Alloh, sebaik-baik posisi
> untuk mencapai cahaya-cahaya tajalli Asma Alloh swt dan maqam
Qurb
> dengan Nya. N. Saw bersabda : "lamakanlah sujudmu", sebab tiada
amal
> yang lebih berat dan paling tak disukai oleh syetan saat melihat
> anak Adam sedang sujud, karena dia telah diperintahakan sujud dan
> dia tidak patuh. Sujud merupakan sebab mendekatnya hamba dengan
sang
> Kholik. Wahai orang yang beriman, mintalah pertolongan dengan
sabar

> dan solat, sesungguhnya Alloh bersama orang yang sabar (al
> Baqarah:153)
> >
> > Tafsir Salam/Huruf Yaa Sin
> > Salam adalah salah satu nama Alloh. Arti Salam dari sisi Alloh
> adalah keselamatan zat, sifat, perbuatan-Nya. Adapun Zatnya
> terpelihara dari kelenyapan, perubahan dan dari segala kekurangan.
> Salam dari sisi Hamba adalah doa,yaitu memohon keselamatan kepada
> Alloh untuk orang yang kita ucapkan salam /selamat dari segala
> cobaaan dan bencana dunia akhirat. Salam juga berarti ungkapan
> Kepasrahan/ ketundukan kepada Sunnatulloh ( Quran Hadits). Menurut
> Imam Shadiq "salam adalah orang yang melaksanakan perintah Alloh
dan
> melakukan sunnah Rosulillah dengan ikhlas (intinya Ahad dan
Ahmad),
> juga selamat dari bencana dunia dan akhirat. Salam juga bermakna
> penghormatan kepada hamba yang sholih (assalamu alaina wa ala
> ibadilahis sholihin) dan malaikat pencatat amal
> > Al Futuhat al Makkiyah, Karangan Ibnu Aroby, merujuk empat
> perjalanan akal dalam bab 69 tentang rahasia rahasia shalat
sebagai
> perjalanan spiritual manusia. Perintah sholat 51 rokaat kepada
Nabi
> Muhammad saw saat isro miroj: Tuhan memerintahkan hambaNya itu
> supaya setiap Muslim setiap hari sembahyang limapuluh kali.
Kemudian
> untuk umatnya menjadi 17 rokaat wajib di lima waktu dan sisanya 34
> rokaat menjadi sunah muakkad- qobliyah dan bakdiya.
> > Mulla Shadra dalam bukunya al Asfar al Arba'ah mengatakan:
> > "Ketahuilah bahwa para pesuluk diantara orang Arif/ Irfan dan
para
> Wali menempuh empat perjalanan akal :
> >
> > Perjalanan makhluk kepada kebenaran –diskusi metafisika umum
(min
> al khalq ila al Haq)
> > Pesuluk mempelajari dasar-dasar metafisika umum dan
> dalilnya.pesuluk cenderung pada kajian semantik dan metafisika
dasar
> terhadap firman Ttuhan dalam Quran.
> >
> > Perjalanan bersama kebenaran didalam kebenaran- pengalaman
> metafisika khusus dengan pengalaman pribadi (bi al Haq fi al Haq)
> > Pesuluk akan melihat sifat dan namaNya yang tertinggi baik nama
> yang mewujudkan rahmatNya dan murkaNya. Hukum nama nama Alloh ini
di
> dalam kejamakannya akan mewujud di dalam diri pesuluk.Hal ini
> dikenal dengan makam wahidiyah atau tujuh substansi halus
(lataif).
> Pesuluk akan mengalami rasa takut dan harapan (al khauf wa al raja)
> >
> > Perjalanan dari Kebenaran menuju makhluk (min al Haq ila al al
> khalq)
> > Setelah mengalami fase peniadaan diri,pesuluk menerima karunia
> Tuhan dan kembali kepada kesadaran diri. Pesuluk menyaksikan
> penciptaan dan alam kejamakan dalam diri makhluk tetapi dengan
mata
> yang lain, dengan pendengaran yang berbeda. Puncak perjalan ketiga
> membawa pesuluk menuju kesucian/Wilayah( kewalian)
> >
> > Perjalanan bersama Kebenaran di dalam makhluk (bi al Haq fi al
> khalq)
> > Maqam penetapan hukum dan pembedaan dari baik dan buruk.ini
adalah
> derajat kenabian,penetapan hukum dan kepemimpinan atas umat
manusia
> yang berhubungan dengan urusan urusan mereka yang beragam dan
> berbeda-beda serta bagaimana mereka saling berinteraksi satu sama
> lain. seorang `arif tak akan benar-benar mencapai maqam spiritual
> tertinggi jika tidak memanifestasikan keimanan-puncak, yang telah
> diraihnya lewat dua perjalanan pertama, dalam bentuk concern
sosial
> politik untuk mereformasi masyarakat dan membebaskan kaum
tertindas
> dari rantai penindasannya. . Tidak lain maqam penetapan hukum
> (legislatif) atau melibatkan diri dalam kemasyarakatan dan
hubungan
> social, merupakan perwujudan penebaran salam kepada makhluk yaitu
> Salaamun Qawlam Mir Rabbir Raheem yang merupakan inti tafsir
> Yaa Sin.
> >
> > --- On Sun, 7/20/08, mang dipo <dipo1601@> wrote:
> >
> > From: mang dipo <dipo1601@>
> > Subject: [Spiritual-Indonesi a] Kejawen Islam
> > To: Spiritual-Indonesia <mailto:Spiritual- Indonesia%
40yahoogroups. com>

> @yahoogroups. com
> > Date: Sunday, July 20, 2008, 1:46 AM
> >
> >
> >
> >
> >
> >
> >
> >
> >
> > Mari kita mengutip satu tembang Jawa
> > Tak uwisi gunem iki saya akhiri pembicaraan
> ini
> > Niyatku mung aweh wikan saya hanya ingin memberi tahu
> > Kabatinan akeh lire kabatinan banyak
macamnya
> > Lan gawat ka liwat-liwat dan artinya sangat gawat
> > Mulo dipun prayitno maka itu berhati-hatilah
> > Ojo keliru pamilihmu Jangan kamu salah pilih
> > Lamun mardi kebatinan kalau belajar kebatinan
> >
> > Tembang ini menggambarkan nasihat seorang tua (pinisepuh) kepada
> mereka yang ingin mempelajari kabatinan cara kejawen. Kiranya
perlu
> dipahami bahwa tujuan hakiki dari kejawen adalah berusaha
> mendapatkan ilmu sejati untuk mencapai hidup sejati, dan berada
> dalam keadaan harmonis hubungan antara kawula (manusia) dan Gusti
> (Pencipta) ( jumbuhing kawula Gusti ) /pendekatan kepada Yang Maha
> Kuasa secara total.
> >
> > Keadaan spiritual ini bisa dicapai oleh setiap orang yang
percaya
> kepada Tuhan, yang mempunyai moral yang baik, bersih dan jujur.
> beberapa laku harus dipraktekkan dengan kesadaran dan ketetapan
hati
> yang mantap. Pencari dan penghayat ilmu sejati diwajibkan untuk
> melakukan sesuatu yang berguna bagi semua orang serta melalui
> kebersihan hati dan tindakannya. Cipta, rasa, karsa dan karya
> (kuasa) harus baik, benar, suci dan ditujukan untuk mamayu
hayuning
> bawono. Ati suci jumbuhing Kawulo Gusti : hati suci itu adalah
> hubungan yang serasi antara Kawulo dan Gusti, kejawen merupakan
> aset dari orang Jawa tradisional yang berusaha memahami dan
mencari
> makna dan hakekat hidup yang mengandung nilai-nilai.
> >
> > Dalam budaya jawa dikenal adanya simbolisme, yaitu suatu faham
> yang menggunakan lambang atau simbol untuk membimbing pemikiran
> manusia kearah pemahaman terhadap suatu hal secara lebih dalam.
> Manusia mempergunakan simbol sebagai media penghantar komunikasi
> antar sesama dan segala sesuatu yang dilakukan manusia merupakan
> perlambang dari tindakan atau bahkan karakter dari manusia itu
> selanjutnya. Ilmu pengetahuan adalah simbol-simbol dari Tuhan,
yang
> diturunkan kepada manusia, dan oleh manusia simbol-simbol itu
> ditelaah dibuktikan dan kemudian diubah menjadi simbol-simbol yang
> lebih mudah difahami agar bisa diterima oleh manusia lain yang
> memiliki daya tangkap yang berberda-beda.
> >
> > Biasanya sebutan orang Jawa adalah orang yang hidup di wilayah
> sebelah timur sungai Citanduy dan Cilosari. Bukan berarti wilayah
di
> sebelah barat-nya bukan wilayah pulau Jawa. Masyarakat Jawa adalah
> masyarakat yang menjunjung tinggi rasa kekeluargaan dan suka
> bergotong royong dengan semboyannya "saiyeg saekoproyo " yang
> berarti sekata satu tujuan.
> >
> > Kisah suku Jawa diawali dengan kedatangan seorang satriya
> pinandita yang bernama Aji Saka, sampai kemudian satriya itu
menulis
> sebuah sajak yang kemudian sajak tersebut diakui menjadi huruf
jawa
> dan digunakan sebagai tanda dimulainya penanggalan tarikh Caka.
> >
> > Kejawena dalah faham orang jawa atau aliran kepercayaan yang
> muncul dari masuknya berbagai macam agama ke jawa. Kejawen
mengakui
> adanya Tuhan Gusti Allah tetapi juga mengakui mistik yang
berkembang
> dari ajaran tasawuf agama-agama yang ada..
> >
> > Tindakan tersebut dibagi tiga bagian yaitu tindakan simbolis
> dalam religi, tindakan simbolis dalam tradisi dan tindakan
simbolis
> dalam seni. Tindakan simbolis dalam religi, adalah contoh
kebiasaan
> orang Jawa yang percaya bahwa Tuhan adalah zat yang tidak mampu
> dijangkau oleh pikiran manusia, karenanya harus di simbolkan agar
> dapat di akui keberadaannya misalnya dengan menyebut Tuhan dengan
> Gusti Ingkang Murbheng Dumadi, Gusti Ingkang Maha Kuaos, Hyang
Manon

> dan sebagainya.
> >
> > Tindakan simbolis dalam tradisi dimisalkan dengan adanya tradisi
> upacara kematian yaitu medo'akan orang yang meninggal pada tiga
> hari, tujuh hari, empatpuluh hari, seratus hari, satu tahun, dua
> tahun, tiga tahun, dan seribu harinya setelah seseorang meninggal
> (tahlillan). Dan tindakan simbolis dalam seni dicontohkan dengan
> berbagai macam warna yang terlukis pada wajah wayang kulit; warna
> ini menggambarkan karakter dari masing-masing tokoh dalam wayang.
> >
> > Perkembangan budaya jawa yang mulai tergilas oleh perkembangan
> teknologi yang mempengaruhi pola pikir dan tindakan orang jawa
dalam
> kehidupan. Maka orang mulai berfikir bagaimana bisa membuktikan
hal
> gaib secara empiris tersebut dengan menggunakan berbagai macam
> metode tanpa mengindahkan unsur kesakralan. Bahkan terkadang
> kepercayaan itu kehilangan unsur kesakralannya karena dijadikan
> sebagai obyek exploitasi dan penelitian.
> >
> > Kebiasaan orang Jawa yang percaya bahwa segala sesuatu adalah
> simbol dari hakikat kehidupan, seperti syarat sebuah rumah harus
> memiliki empat buah soko guru (tiang penyangga) yang melambangkan
> empat unsur alam yaitu tanah, air, api, dan udara, yang ke
empatnya
> dipercaya akan memperkuat rumah baik secara fisik dan mental
> penghuni rumah tersebut. Namun dengan adanya teknologi konstruksi
> yang semakin maju, keberadaan soko guru itu tidak lagi menjadi
> syarat pembangunan rumah. Dengan analisa tersebut dapat
diperkirakan
> bagaimana nantinya faham simbolisme akan bergeser dari budaya
jawa.
> Tapi bahwa simbolisme tidak akan terpengaruh oleh kehidupan
manusia

> tapi kehidupan manusialah yang tergantung pada simbolisme. Dan
> sampai kapanpun simbolisme akan terus berkembang mengikuti
> berputarnya sangkakala.
> >
> > Mangkunegara IV (Sembah dan Budiluhur)
> > Mangkunegara IV memiliki empat ajaran utama yang meliputi sembah
> raga, sembah cipta (kalbu), sembah jiwa, dan sembah rasa.
> >
> > Sembah Raga
> > Sembah raga ialah menyembah Tuhan dengan mengutamakan gerak laku
> badaniah atau amal perbuatan yang bersifat lahiriah. Cara
bersucinya
> sama dengan sembahyang biasa, yaitu dengan mempergunakan air
> (wudhu). Sembah yang demikian biasa dikerjakan lima kali sehari
> semalam dengan mengindahkan pedoman secara tepat, tekun dan terus
> menerus, seperti bait berikut:
> >
> > Sembah raga puniku / pakartining wong amagang laku / sesucine
> asarana saking warih / kang wus lumrah limang wektu / wantu
wataking
> wawaton
> >
> > Sembah raga, sebagai bagian pertama dari empat sembah yang
> merupakan perjalanan hidup yang panjang ditamsilkan sebagai orang
> yang magang laku (calon pelaku atau penempuh perjalanan hidup
> kerohanian), orang menjalani tahap awal kehidupan bertapa (sembah
> raga puniku, pakartining wong amagang laku). Sembah ini didahului
> dengan bersuci yang menggunakan air (sesucine asarana saking
warih).
> Yang berlaku umum sembah raga ditunaikan sehari semalam lima kali.
> Atau dengan kata lain bahwa untuk menunaikan sembah ini telah
> ditetapkan waktu-waktunya lima kali dalam sehari semalam (kang wus
> lumrah limang wektu). Sembah lima waktu merupakan shalat fardlu
yang

> wajib ditunaikan (setiap muslim) dengan memenuhi segala syarat dan
> rukunnya (wantu wataking wawaton). Sembah raga yang demikian ini
> wajib ditunaikan terus-menerus tiada henti (wantu) seumur hidup.
> Dengan keharusan memenuhi segala ketentuan syarat dan rukun yang
> wajib dipedomani (wataking wawaton). Watak suatu
> > waton (pedoman) harus dipedomani. Tanpa mempedomani syarat dan
> rukun, maka sembah itu tidak sah.
> >
> > Sembah raga tersebut, meskipun lebih menekankan gerak laku
> badaniah, namun bukan berarti mengabaikan aspek rohaniah, sebab
> orang yang magang laku selain ia menghadirkan seperangkat
fisiknya,
> ia juga menghadirkan seperangkat aspek spiritualnya sehingga ia
> meningkat ke tahap kerohanian yang lebih tinggi.
> >
> > Sembah Cipta( Kalbu )
> > Sembah ini kadang-kadang disebut sembah cipta dan kadang-kadang
> disebut sembah kalbu, seperti terungkap pada Pupuh Gambuh bait 1
dan
> Pupuh Gambuh bait 11 berikut :
> > Samengkon sembah kalbu / yen lumintu uga dadi laku / laku agung
> kang kagungan narapati / patitis teteking kawruh / meruhi marang
> kang momong.
> >
> > Apabila cipta mengandung arti gagasan, angan-angan, harapan atau
> keinginan yang tersimpan di dalam hati, kalbu berarti hati , maka
> sembah cipta di sini mengandung arti sembah kalbu atau sembah
hati,
> bukan sembah gagasan atau angan-angan.
> > Apabila sembah raga menekankan penggunaan air untuk membasuh
> segala kotoran dan najis lahiriah, maka sembah kalbu menekankan
> pengekangan hawa nafsu yang dapat mengakibatkan terjadinya
berbagai
> pelanggaran dan dosa (sucine tanpa banyu, amung nyunyuda hardaning
> kalbu).
> >
> > Thaharah (bersuci) itu, demikian kata Al-Ghazali, ada empat
> tingkat.
> > Pertama,membersihka n hadats dan najis yang bersifat lahiriah.
> > Kedua,membersihkan anggota badan dari berbagai pelanggaran dan
> dosa.
> > Ketiga,membersihkan hati dari akhlak yang tercela dan budi
pekerti
> yang hina.
> > Keempat,membersihka n hati nurani dari apa yang selain Allah.
Dan
> yang keempat inilah taharah pada Nabi dan Shiddiqin.
> >
> > Jika thaharah yang pertama dan kedua menurut Al-Ghazali masih
> menekankan bentuk lahiriah berupa hadats dan najis yang melekat di
> badan yang berupa pelanggaran dan dosa yang dilakukan oleh anggota
> tubuh. Cara membersihkannya dibasuh dengan air. Sedangkan kotoran
> yang kedua dibersihkan dan dibasuh tanpa air yaitu dengan menahan
> dan menjauhkan diri dari pelanggaran dan dosa. Thaharah yang
ketiga
> dan keempat juga tanpa menggunakan air. Tetapi dengan membersihkan
> hati dari budi jahat dan mengosongkan hati dari apa saja yang
selain

> Allah.
> >
> > Sembah Jiwa
> > Sembah jiwa adalah sembah kepada Hyang Sukma ( Allah ) dengan
> mengutamakan peran jiwa. Jika sembah cipta (kalbu) mengutamakan
> peran kalbu, maka sembah jiwa lebih halus dan mendalam dengan
> menggunakan jiwa atau al-ruh. Sembah ini hendaknya diresapi secara
> menyeluruh tanpa henti setiap hari dan dilaksanakan dengan tekun
> secara terus-menerus, seperti terlihat pada bait berikut:
> > Samengko kang tinutur / Sembah katri kang sayekti katur / Mring
> Hyang Sukma suksmanen saari-ari / Arahen dipun kecakup / Sembahing
> jiwa sutengong.
> >
> > Dalam rangkaian ajaran sembah Mangkunegara IV yang telah disebut
> terdahulu, sembah jiwa ini menempati kedudukan yang sangat
penting.
> Ia disebut pepuntoning laku (pokok tujuan atau akhir perjalanan
> suluk). Inilah akhir perjalanan hidup batiniah. Cara bersucinya
> tidak seperti pada sembah raga dengan air wudlu atau mandi, tidak
> pula seperti pada sembah kalbu dengan menundukkan hawa nafsu,
tetapi
> dengan awas emut (selalu waspada dan ingat/dzikir kepada keadaan
> alam baka/langgeng) , alam Ilahi.
> >
> > Betapa penting dan mendalamnya sembah jiwa ini, tampak dengan
> jelas pada bait berikut :
> > Sayekti luwih perlu / ingaranan pepuntoning laku / Kalakuan kang
> tumrap bangsaning batin / Sucine lan awas emut / Mring alaming
lama
> amota.
> >
> > Berbeda dengan sembah raga dan sembah kalbu, ditinjau dari segi
> perjalanan suluk, sembah ini adalah tingkat permulaan (wong
amagang
> laku) dan sembah yang kedua adalah tingkat lanjutan. Ditinjau dari
> segi tata cara pelaksanaannya, sembah yang pertama menekankan
> kesucian jasmaniah dengan menggunakan air dan sembah yang kedua
> menekankan kesucian kalbu dari pengaruh jahat hawa nafsu lalu
> membuangnya dan menukarnya dengan sifat utama.. Sedangkan sembah
> ketiga menekankan pengisian seluruh aspek jiwa dengan dzikir
kepada
> Allah seraya mengosongkannya dari apa saja yang selain Allah.
> >
> > Pelaksanaan sembah jiwa ialah dengan berniat teguh di dalam hati
> untuk mengemaskan segenap aspek jiwa, lalu diikatnya kuat-kuat
untuk
> diarahkan kepada tujuan yang hendak dicapai tanpa melepaskan apa
> yang telah dipegang pada saat itu. Dengan demikian triloka (alam
> semesta) tergulung menjadi satu. Begitu pula jagad besar dan jagad
> kecil digulungkan disatupadukan. Di situlah terlihat alam yang
> bersinar gemerlapan. Maka untuk menghadapi keadaan yang menggumkan
> itu, hendaklah perasaan hati dipertebal dan diperteguh jangan
> terpengaruh apa yang terjadi. Hal yang demikian itu dijelaskan
> Mangkunegara IV pada bait berikut:
> > "Ruktine ngangkah ngukud / ngiket ngruket triloka kakukud /
jagad
> agung ginulung lan jagad alit / den kandel kumandel kulup / mring
> kelaping alam kono."
> >
> > Sembah Rasa
> > Sembah rasa ini berlainan dengan sembah-sembah yang sebelumnya.
Ia
> didasarkan kepada rasa cemas. Sembah yang keempat ini ialah sembah
> yang dihayati dengan merasakan intisari kehidupan makhluk semesta
> alam, demikian menurut Mangkunegara IV.
> > Jika sembah kalbu mengandung arti menyembah Tuhan dengan alat
> batin kalbu atau hati seperti disebutkan sebelumnya, sembah jiwa
> berarti menyembah Tuhan dengan alat batin jiwa atau ruh, maka
sembah
> rasa berarti menyembah Tuhan dengan menggunakan alat batin inti
ruh.

> Alat batin yang belakangan ini adalah alat batin yang paling dalam
> dan paling halus yang menurut Mangkunegara IV disebut telenging
> kalbu (lubuk hati yang paling dalam) atau disebut wosing jiwangga
> (inti ruh yang paling halus).
> > Dengan demikian menurut Mangkunegara IV, dalam diri manusia
> terdapat tiga buah alat batin yaitu, kalbu, jiwa/ruh dan inti
> jiwa/inti ruh (telengking kalbu atau wosing jiwangga) yang
> memperlihatkan susunan urutan kedalaman dan kehalusannya.
> >
> > Pelaksanaan sembah rasa itu tidak lagi memerlukan petunjuk dan
> bimbingan guru seperti ketiga sembah sebelumnya, tetapi harus
> dilakukan salik sendiri dengan kekuatan batinnya, seperti
> diungkapkan Mangkunegara IV dalam bait berikut:
> > Semongko ingsun tutur / gantya sembah lingkang kaping catur /
> sembah rasa karasa wosing dumadi / dadi wus tanpa tuduh / mung
> kalawan kasing batos.
> >
> > Apabila sembah jiwa dipandang sebagai sembah pada proses
> pencapaian tujuan akhir perjalanan suluk (pepuntoning laku), maka
> sembah rasa adalah sembah yang dilakukan bukan dalam perjalanan
> suluk itu, melainkan sembah yang dilakukan di tempat tujuan akhir
> suluk. Dengan kata lain, seorang salik telah tiba di tempat yang
> dituju. Dan di sinilah akhir perjalanan suluknya. Untuk sampai di
> sini, seorang salik masih tetap dibimbing gurunya seperti telah
> disebut di muka. Setelah ia diantarkan sampai selamat oleh gurunya
> untuk memasuki pintu gerbang, tempat sembah yang keempat, maka
> selanjutnya ia harus mandiri melakukan sembah rasa.
> >
> > Pada tingkatan ini, seorang salik dapat melaksanakan sendiri
> sembah rasa sesuai petunjuk-petunjuk gurunya. Pada tingkat ini ia
> dipandang telah memiliki kematangan rohani. Oleh karena itu, ia
> dipandang telah cukup ahli dalam melakukan sembah dengan
> mempergunakan aspek-aspek batiniahnya sendiri.
> >
> > Di sini, dituntut kemandirian, keberanian dan keteguhan hati
> seorang salik, tanpa menyandarkan kepada orang lain. Kejernihan
> batinlah yang menjadi modal utama. Hal ini sesuai dengan wejangan
> Amongraga kepada Tambangraras dalam Centini bait 156. Sembah
> tersebut, demikian dinyatakan Amongraga, sungguh sangat mendalam,
> tidak dapat diselami dengan kata-kata, tidak dapat pula dimintakan
> bimbingan guru. Oleh karena itu, seorang salik harus
merampungkannya
> sendiri dengan segala ketenangan, kejernihan batin dan kecintaan
> yang mendalam untuk melebur diri di muara samudera luas tanpa tepi
> dan berjalan menuju kesempurnaan. Kesemuanya itu tergantung pada
> diri sendiri, seperti terlihat pada bait berikut:
> > Iku luwih banget gawat neki / ing rarasantang keneng rinasa /
tan
> kena ginurokake / yeku yayi dan rampung / eneng onengira kang
> ening / sungapan ing lautan / tanpa tepinipun / pelayaran ing
> kesidan / aneng sira dewe tan Iyan iku yayi eneng ening wardaya.
> >
>

 
Send instant messages to your online friends http://uk.messenger .yahoo.com  


     
Reply | Threaded
Open this post in threaded view
|  
Report Content as Inappropriate

To mas Bambang Satrio -Re: Kejawen Islam -- > Syech Siti Jenar...tidak dibunuh atau mati sendiri ??

Sudrajat IDSRG Ass MGR OPS
In reply to this post by bambang satrio
 
 
 
            Dear   Mas Bambang…yang berbudi.
 
            Salam Rahayu.
 
 
            Sama sama kita tidak mengertinya.., hanya kira kira.., jadi
no problem untuk berani tulis . Siapa tahu
            Justru  dari tulisan kita, ada khadang lain yang lebih
mumpuni dan berpengalaman sudi memberikan pencerahan
            Dan berbagi ilmu & pengetahuannya.
 
            Syeik Siti Jennar…,  kalau tidak salah…di serat syeikh Siti
Jennar  sedikit tertulis…cara meditasi Beliau.
 
            Sedangkan…Meditasi dari Sunan Kudus…, ada penahanan
napasnya.., sehingga lebih banyak ke kanuragan
            Nya. Pelajaran ini..saya dapat dari Gurunya mbak Hanie.
 
            Untuk Sunan Kali Jaga.., ini juga saya belum jelas. Karena
Beliau sangat sakti …konon..dari sembilan wali Beliau
            Lah..yang sudah pernah bertemu dengan nabi Khidir. Sangat
Arief…., tapi konon pernah tapa pendem di pinggir
            Kali. Jadi..ada juga mungkin ada kanuragannya.., ada juga
ketuhanan nya. Mungkin…lho.
 
            Sekarang hanya DIAM, MENENG berusaha WENING.    --- > apik
tenan
            Nah…iki sing kelihatannya…kepenak…, alami saja..tidak usah
banyak cara dan aturan.
            Iki..mungkin meditasi..ne wong jowo ( di baca ilmu ne wong
jawa / bukan suku jawa  - apa bedanya yaa ? ? )
 
            Sama sama belajarnya...mas.  Dari saya,...Gusti Allah…yang
aku sembah./manembah / tak suwini..dudu Gusti
            Allah..sing kaya wong sing ngaku ngaku duwe agama.
            Ayoo..pada pada ora ngertine.. , aku wani tulis.
            Sing aku sembah ..sing tak jaluki tulung / petunjuk.., saka
ragaku ini..ya  Gusti pangeranku dewe.., sing Urip
            , sing tulis, sing Hidup. Ya..kepenak ta.  Dadi ora
nyalahke..kae…gusti Allah…sing  Maha Kuasa sak jroning
            jagad gumelar iki.
            ya…wis..sing kepenak..priye.., kanggo carane lan kabutuhan
awake dewe dewe . Sebab Uripku…ya..ora bisa
            ngajari Urip pe panjenengan, uga kasak baline ( demikian
pula sebaliknya ).
 
            Khusus…Syeikh Siti Jenar.., di buku no.1. di bawah…,
tertulis..pada saat ada upacara mau di hukum mati, Beliau
            Sudah di gantikan dengan yang lain ( tidak jelas..orang lain
atau penjelmaannya ).  Beliau kemudian pergi ke Kepulauan
            Karimunjawa sampai wafatnya.
 
            1. Ngelmu  Islam  - Prof. Dr. Poerbatjaroko ( Guru Besar
Fak. Sastra UI ).
 
            Buku kelanjutannya  saya tidak punya.
 
            2. Ngelmu  Kasampurnaan – Prof. Mr. Umar Seno Adji ( Mantan
Jaksa Agung RI . Rektor Univ. Kusumadwipayana )
 
            3.  Ngelmu Kapu Djanggan  -  Kyai Tubagus Abdulah –
padepokan gunung mas Banten.
 
            Ilmu dan pengetahuan dari buku ini.., hanya untuk memuaskan
pikiran saja. Tidak wajib.
 
           
            Kepareng..matur nuwun.  Nyuwun pangapuro..mbok bilih..katah
ingkang klintu ./ salah.
 
            Matur nuwun.
            Sudrajat
           
 
-----Original Message-----
From: [hidden email]
[mailto:[hidden email]] On Behalf Of bambang satrio
Sent: Monday, July 21, 2008 8:06 PM
To: [hidden email]
Subject: To mas Bambang -[Spiritual-Indonesia] Re: Kejawen Islam ( AJI
PAMELENG )
 
RAHAYU

Mas Drajat...

Saya pribadi dalam meditasi, nggak menggunakan methode yang
diajarkan Seh Sitijenar secara keseluruhan, terutama dengan menahan
PERNAPASAN. Jadi hanya dikir saja. Tetapi itu sudah lama tidak saya
lakukan, kira=kira 5 tahun yang lalu. Sekarang hanya DIAM, MENENG
berusaha WENING.

Tetapi waktu masih menggunakan dikir, memang pernah ada pengalaman
tertentu. Mendengar suara LEMAH LEMBUT dalam hati (disalahke yo ra
popo mas, wong mendengar kok pakai hati), tetapi yang jelas, ucapan
itu sangat berguna bagi saya pribadi.

Untuk meditasi...Sunan Kudus maupun Sunan Kalijaga, saya nggak
mengerti mas. Maaf, bener-bener nggak tahu, jadi nggak bisa
komentar.

RAHAYU. bs

--- In Spiritual-Indonesia
<mailto:Spiritual-Indonesia%40yahoogroups.com> @yahoogroups.com,
"Sudrajat"
<sudrajat@...> wrote:

>
>
> Dear mas Bambang S.
>
>
> Artikel….yang melengkapi…, apiikk…langsung saya
> simpen..meskipun belum di print.
>
> Cuma ada pertanyaa…sedikit…boleh ?.
>
> - Meditasi….Syeikh Siti Jennar …., bagaimana…ya. ?
>
> - Meditasi… Sunan Kudus…., beda …lho…?.
>
> - Meditasi….Sunan Kali Jaga…mungkin juga berbeda dengan
kedua

> tokoh itu.
>
> Mungkin…, bisa sedikit di singgung ? – ya,…biar dongengnya..semakin
> seru..dan ramai.
>
>
> Thanks / Sudrajat
>
>
>
> -----Original Message-----
> From: Spiritual-Indonesia
<mailto:Spiritual-Indonesia%40yahoogroups.com> @yahoogroups.com
> [mailto:Spiritual-Indonesia
<mailto:Spiritual-Indonesia%40yahoogroups.com> @yahoogroups.com] On
Behalf Of bambang
satrio
> Sent: Sunday, July 20, 2008 6:11 PM
> To: Spiritual-Indonesia <mailto:Spiritual-Indonesia%40yahoogroups.com>
@yahoogroups.com

> Subject: [Spiritual-Indonesia] Re: Kejawen Islam ( AJI PAMELENG )
>
> RAHAYU
>
> Salam Kenal Mang Dipo dan Mas Bus.
> Hanya sekedar menambahkan tentang asal usul KEJAWEN ISLAM, semoga
> ada gunanya buat rekan-rekan SI semua :
>
> AJI PAMELENG
>
> Tegesipun aji = ratu, pameleng = pasamaden; mengku pikajeng :
> tandaning sedya ingkang luhur piyambak. Dene empaning pandamelan
wau
> winastan manekung, pujabrata, mesu budi, mesu cipta, ngeningaken
> utawi angluhuraken paningal, matiraga lan sasaminipun.
>
> Papan ingkang kangge nindakaken wau panepen, panekungan, pamujan,
> pamurcitan, pamursitan, pahoman, paheningan lan sanes-sanesipun.
> Dene wedharing kawruh winastan daiwan, dawan, tirtaamerta,
> tirtakamandhanu, tirtanirwala, mahosadi, kawasanan, kawaspadan,
> kawicaksanaan, sastracetha, utawi sastrajendrayuningrat
pangruwating
> diyu lan sapanunggalanipun.
>
> Menggah pigunanipun kawruh lan pandamel wau, perlu kangge
sarananing
> panembah murid manggih kawilujengan, margi saged anindakaken
dhateng
> sawarnaning pandamel sae, punapadene kangge sarana duk kita darbe
> sedya nunuwun kanugrahaning gesang kita pribadi (Pangeran), inggih
> nunuwun bab punapa kemawon ingkang limrah kenging linampahan
saking
> pandamel kita ingkang boten tilar murwat.
>
> Wondene purwanipun ing jagad teka wonten kawruh pasamaden, bilih
> miturut saking tembung-tembungipun, sanyata kathah ingkang nagngge
> basa Sansekrit; yen makaten tetela manawi wimbaning kawruh
pasamaden
> wau saking tumitising kawicaksananipun bangsa Indhu ing jaman kina
> makina, ingkang sampun boten kasumerepan petang ewoning taun.
> Bokmanawi kemawon papantaranipun kalihan nalika bangsa Indhu
> amurwani iyasa candhi dalah reca-recanipun. Dene kawruh wau ing
> sakawit inggih namung kangge bangsa Indhu, boten nawang bangsa
Indhu
> ingkang agami punapa kemawon, katamtokaken mesthi ngrasuk
pasamaden.
> Awit inggih namung kawruh pasamaden punika ingkang dados mukaning
> saliring kawruh sajagad, lan ugi dados pangajenging piwulan agami.
>
> Ing ngalami lami bangsa Indhu sami lumeber dhateng ing Tanah Jawi
> lan sanes sanesipun, serta sami anggelaraken agaminipun tuwin
kawruh
> sanes sanesipun; makaten ugi kawruh pasamaden inggih boten kantun.
> Kawruh pamasaden wonten ing Tanah Jawi saget ngrembaka tuwuhipun,
> margi bangsa Jawi tan pilih drajad sami remen puruita lan saged
> nandangaken dating pangolahing kawruh punika, awit kawruh wau
saget
> nocoki kalihan dhadhasaring pamanahipun titiyang Jawi, mila
kalayan

> gampil rumasukipun wonten ing balung sungsuming titiyang Jawi.
> Kasembuh malih saking kathahing bangsa Indhu kados sinuntak sami
> angajawi, nedya anggelar agami Jawi lan kawruh kawicaksananipun.
> Bebasan sakedeping netra, bangsa Jawi ing sa'indhengipun maratah
> sampun sami angrasuk agami Indhu, lan ugi sampun sami saget
> ngraosaken kabegjan, kamulyan, kawilujengan lan sasaminipun, margi
> saking wohing kawruh pandamel wau.
>
> Ing wusana katungka dhatengipun titiyang bangsa Arab sami lumebet
> ing Tanah jawi, ingkang ugi ambekta kawruh lan agaminipun
Mohammad,
> kasebut agami Islam, temah nyunyuda tumangkaring agami Indhu,
sebab
> lajeng wonten ingkang angrasuk agami Islam. Namung kemawon
wedharing

> agami Islam boten andarbeni kawruh pasamaden, kados kasebut ing
> nginggil.
>
> Sareng golonganipun tiyang Islam sampun saget ngendhih Nagari,
> inggih punika adeging Karaton Bintara (Demak), ing ngriku lajeng
> angawisi kalayan kenceng, titiyang Jawi boten kenging anindakaken
> kawruh pasamaden, mekaten ugi sami kinen nilar agaminipun lami,
> serta kedah santun angrasuk agami Islam.
>
> Ananging boten ta manawi bangsa Jawi lajeng anut purun santun
agami
> Islam sadaya, purunipun wau namung margi saking ajrih paukuman
> wisesaning Nata, dados Islam-ipun wau namung wonten ing lahir
> kemawon, utawi Islam pangaran-aran, yen batosipun taksih
angrungkepi
> agamipun lami. Milo bab kawruh pasamaden inggih taksih lajeng
> katindakaken, ananging pamulang pamedharing kawruh pasamaden wau,
> ingkang karan nama wejangan (wijang-wijang) sarana lampah
> dhedhemitan, katindakaken ing wanci ndalu sasampunipun jam 12, ugi
> papaning pamejang boten kenging kaubah wangon, kadosta ing ara-
ara,
> ing wana, ing lepen lan sasaminipun ing papan ingkang sepen.
> Pamejangipun srana bisikan boten kenging kapireng ngasanes,
sanadyan
> suket godhong, kewan tuwin bangsanipun gegremetan kutu-kutu
> walangataga ugi boten kenging miring, yen miring lajeng malih
dados
> manungsa. Mila linggihipun Kyai Guru ajeng-ajengan aben bathuk
> kaliyan pun murid, serta sanget pamantos-mantosipun Kyai Guru, pun
> murid boten kenging nularaken wewejanganipun (kawruhipun) dhateng
> tiyang sanes, bilih dereng angsal palilah Guru, yen nerak bade
> angsal wilalat manggih sapudendhaning Pangeran. Panindak ingkang
> mekaten punika, purwanipun namung tetep kangge panjagi, supados
> pamulanging kawruh pasamaden boten katupiksan dhateng
pamarintahing
> agami Islam. Sebab yen ngantos kasumerepan, tamtu manggih pidana.
>
> Dumuginipun ing jaman samangke, sanadyan Nagari sampun boten
> angarubiru dhateng wontenipun wewejangan kawruh pasamaden, nanging
> panindaking wejangan wau taksih kalestantunaken sarana dhedhemitan
> kados kawursita ing nginggil. Mila lajeng angsal paparab saking
> panyedaning titiyang ingkang boten remen, utami tiyang ingkang
> anglampahi sarengating agami Islam, bilih wontening wejangan
kawruh
> pasamaden wau lajeng kawastan ilmu klenik. Purwo saking tembung
> klenik, lajeng angandhakaken tembung abangan lan putihan. Ingkang
> kasebut abangan punika tiyang ingkang boten nindakaken saraking
> agami Islam, dene putihan mastani tiyang Jawi ingkang teluh
manjing

> agami Islam sarta anglampahi sadaya sarak sarengating agami Islam
> wau, inggih punika ingkang kasebut nama santri. Mila santri karan
> putihan, margi miturut panganggenipun titiyang agami Islam, bilih
> santri punika sarwo-sarwi langkung resik utawi suci tinimbang
> kaliyan titiyang ingkang boten angrasuk agami Islam.
>
> Mangsuli wontening kawruh pasamaden anggenipun sanget winados,
> menggah ingkang dados sababipun kapretalakaken ing nginggil. Dene
> yen saleresipun ingkang nama wados-wados wau pancen boten wonten;
> dados inggih kenging-kenging kemawon kawulangaken dhateng sok
> tiyanga, boten mawang nem sepuh, serta kenging kawejangaken ing
> sawanci-wancinipun, uger tiyang wau pancen ambetahaken kawruh
> pasamaden kasebat. Sebab wontenipun sadaya punika supados
> kasumerepan dhateng ingakathah, langkung-langkung kawruh pasamaden
> punika ingkang sanyata dados mukaning sadaya kawruh. Mila wajib
> sinebar dados seserepaning tiyang nem sepuh wadarin ing
> saindengipun, tanpa nawang andhap inggiling darajadipun.
>
> Amarengi wahyaning mangsakala, wusana wonten kaelokaning
lalampahan
> ingkang boten kanyana-nyana; ing pawingkingipun bab kawruh
pasamaden
> wau lajeng muncul katampen dhateng tiyang Islam, margi yakin bilih
> kawruh pasamaden wau, pancen musthikaning gagayuhan ingkang saged
> andhatengaken ing kawilujengan, kamulyan, katentreman, lan
> sasaminipun. Mila kawruh wau dening tiyang ingkang sampun suluh
> papadhanging raosipun inggih punika Seh Sitijenar, ingkang ugi
dados
> pramugarining agami Islam apangkat Wali, lajeng kadhapuk ing
ndalem

> serat karanganipun, ingkang lajeng winastan daim, wirid saking
> tembung daiwan kasebut ing nginggil. Punapadene lajeng kaewoaken
> dados saperanganing panembah, sarana dipun wewahi tembungipun,
> lajeng mungel : salat daim (salat - basa arab, daim saking daiwan
> basa Sansekrit). Milanipun dipun wewahi basa arab, namung
> kawigatosan kangge mikekahaken kapitadosanipun murid-muridipun
> ingkang sampun sami necep agami Islam. Punapadene tembung salat
> lajeng kapilah kalih prakawis. Sapisan salat 5 wekdal, kasebut
> salat sarengat, ateges panembah lahir. Kaping kalih salat daim,
> punika panembahing batos; mangertosipun : anekadaken manunggaling
> pribadinipun, utawi kasebut loroning atunggil.
> Kitab karanganipun Seh Sitijenar wau lajeng kangge paugeraning
> piwulang. Sareng sampun angsal kawigatosaning ngakathah, ing
ngriku
> salat 5 wekdal lan sarak agami sanes-sanesipun lajeng kasuwak
boten
> kawulangaken babar pisan. Ingkang pinindeng namung mumuruk
> tumindaking salat daim kemawon. Mila titiyang Jawi ingkang suwau
> manjing agami Islam, langkung-langkung ingkang dereng, lajeng sami
> ambyuk maguru dhateng Seh Sitijenar, margi piwulangipun langkung
> gampil, terang lan nyata.
>
> Wondene purwanipun Seh Sitijenar kaserenan kawruh pasamaden,
ingkang

> mijeni Kyai Ageng Pengging, sebab Seh Sitijenar punika
> mitradarmanipun Kyai Ageng Pengging. Kawruh pasamaden, dening Seh
> Sitijenar lajeng katularaken Raden Watiswara, inggih Pangeran
> Panggung, ingkang ugi apangkat Wali. Lajeng tunimbal dhateng Sunan
> Geseng, inggih Ki Cakrajaya, tiyang asal saking Pagelen, ingkang
> kacarios saderengipun dados Wali, Ki Cakrajaya wau pandamelanipun
> anderes nitis gendhis. Salajengipun sumrambah kawiridaken dhateng
> ingakatah. Makaten ugi sakabat-sakabatipun Seh Sitijenar ingkang
> sampun kabuka raosipun, dening Seh Sitijenar kinen sami madeg
> paguron amiridaken kawruh pasamaden wau. Sangsaya dangu sangsaya
> ngrebda, anyuremaken panguwaosing para Wali, anggenipun
amencaraken
> piwulang agami Islam. Yen kalajeng-lajeng masjid saestu badhe
suwung.

>
> Ngawekani sampun ngantos wonten kadadosan ingkang makaten, temah
> Kyai Ageng Pengging tuwin Seh Sitijenar sasekabatipun ingkang sami
> pinejahan katigas jangganipun dening para Wali, saking dhawuhipun
> Sultan Demak. Makaten ugi Pangeran Panggung boten kantun, kapidana
> kalebetaken ing brama gesang-gesangan wonten samadyaning alun-alun
> Demak, kangge pangewan-ewan murih titiyang sami ajrih, lajeng sami
> mantuni utawi nglepeh piwulangipun Seh Sitijenar.
>
> Kacariyos sariranipun Pangeran Panggung boten tumawa dening
> mawerdining Hyang Brama, lajeng oncat medal saking salebeting latu
> murub, nilar nagari Demak. Kanjeng Sultan Bintara tuwin para Wali
> sami kablerengen kaprabawan katiyasaning Pangeran Panggung, temah
> kamitenggengen kadi tugu sinukarta. Sareng sampun sawatawis tebih
> tindakipun Sang Pangeran, Kanjeng Sultan tuwin para Wali saweg
sami
> enget bilih Pangeran Panggung kalis saking pidana, temah sami
rumaos
> kawon angsal sihing Pangeran. Katungka unjuking wadyabala, atur
> uninga bilih Sunan Geseng, inggih Ki Cakrajaya, kesah anututi
> lampahipun Pangeran Panggung. Ing ngriku Kanjeng Sultan katetangi
> dukanipun, temah dhawahing bendu, para sakabat tuwin murid-
muridipun

> Seh Sitijenar ingkang kapikut lajeng sami pinejahan. Ingkang boten
> kacepeng sami lumajar pados gesang.
>
> Para sakabatipun Seh Sitijenar ingkang taksih wilujeng
> kakantunanipun ingkang sami pejah, ugi taksih sami madeg paguron
> nglestantunaken pencaring kawruh pasamaden, nanging mawi sislintru
> tinutupan wuwulang sarengating agami Islam, murih boten ka'arubiru
> dening para Wali pramugarining praja. Dene piwulangipun kados ing
> ngandhap punika :
>
> Pamulanging kawruh pasamaden ingkang lajeng karan salat daim,
> karangkepan wuwulang salat 5 wekdal tuwin rukuning Islam sanes-
> sanesipun malih. Wewejanganipun salat daim wau lajeng winastan
> wiridan naksobandiyah, dene panindaking piwulang kawastan tafakur.
> Saweneh wonten ingkang pamulangipun ing saderengipun para murid
> nampi wiridan salat daim, langkung rumiyin kalatih lampah
> dhidhikiran lan maos ayat-ayat. Wiwit punika wuwulangan pasamaden
> lajeng wonten wanrni kalih, inggih punika :
>
> 1. Piwulang pasamaden wiwiridan saking para sekabatipun Seh
> Sitijenar, ingkang sarana tinutupan utawi aling-aling sarak
rukuning
> agami Islam. Wuwulangan wau dumuginipun ing jaman samangke sampun
> mleset saking jejer ing sakawit, mila para guru samangke, ingkang
> sami miridaken kawruh pasamaden, ingkang dipun santuni nama
> naksobandiyah utawi satariyah, nginten bilih kawruh wau wiwiridan
> saking ngulami ing Jabalkuber (Mekah). Salajengipun para Kyai guru
> wau, amastani guru klenik dhateng para ingkang sami miridaken
kawruh
> pasamaden miturut wawaton Jawi pipiridan saking Seh Sitijenar.
> Punapadene para Kyai guru wau nyukani paparab nama Kiniyai,
> pikajengipun : guru ingkang mulangaken ilmuning setan. Dene nama
> Kyai, punika guru ingkang mulangaken ilmuning para nabi.
>
> 2. Piwulang pasamaden miturut Jawi, wiji saking Kyai Ageng
> Pengging, ingkang kapencaraken dening Seh Sitijenar (ingkang ing
> samangke karan klenik), punika ing sakawit, ingkang dados
purwaning
> piwulang, dumunung wonten panggulawenthahing wawatekan 5 prakawis,
> kados ing ngandhap punika :
>
> 1. Setya tuhu utawi temen lan jujur.
> 2. Santosa, adil paramarta, tanggeljawab boten lewerweh.
> 3. Leres ing samubarang damel, sabar welas asih ing sasami,
> boten ngunggul-unggulaken dhirinipun, tebih saking watak
panganiaya.
> 4. Pinter saliring kawruh, langkung-langkung pinter ngecani
> manahing sasami-sami, punapadene pinter angereh kamurkaning manah
> pribadi, boten anguthuh melik anggendhong lali, margi saking
> dayaning mas picis rajabrana.
> 5. Susila anor-raga, tansah nganggeni tatakrami, maweh
> rereseping paningal tuwin sengseming pamiharsa, dhateng ingkang
sami

> kataman.
>
> Lampah 5 prakawis wau kedah linampahan winantu ing pujabrata
> anandangaken ulah samadi, inggih amesu cipta angeningaken
> pranawaning paningal. Awit saking makaten punika mila tumrap
> panindaking agami Jawi (Buda), bab kawruh pasamaden tuwin lampah 5
> prakawis wau kedah kawulangaken dhateng sadaya titiyang enem sepuh
> boten pilih andhap inggiling darajatipun. Mila makaten, sebab
> musthikaning kawruh tuwin luhur-luhuring kamanungsan, punika bilih
> tetep samadinipun, kuwasa anindakaken lampah 5 prakawis kados
> kawursita ing nginggil. Temah kita manggen ing sasananing
> katrenteman, dene wontening katentreman mahanani harja kerta lan
> kamardikan kita sami. Yen boten makaten, ngantos sabujading jagad,
> kita badhe nandhang papa cintraka, kagiles dening rodha jantraning
> jagad, margi kacidraning manah kita pribadi.
>
> Bab kawruh pasamaden ingkang lajeng karan wiridan naksobandiyah
lan
> satariyah, ingkang ing nguni wiwiridan saking Seh Sitijenar,
sampun
> ka'andharaken ing nginggil, namung kemawon tumandangipun boten
> kawedharaken. Ing riki namung badhe anggelaraken lampah
tumandanging
> samadi sacara Jawi, ingkang dereng kacarobosan agami sanes, inggih
> punika makaten :
>
> Para nupiksa, mugi sampun kalintu panampi, bilih samadi punika
> angicalaken rahsaning gesang utawi nyawanipun (gesangipun) medal
> saking badan wadhag. Panampi makaten punika, purwanipun mirid
saking
> cariyos lalampahanipun Sri Kresna ing Dwarawati, utawi Sang Arjuna
> yen angraga-suksma. Mugi kawuninganana, bilih cariyos makaten
punika
> tetep namung kangge pasemon utawi pralambang.
>
> Ing samangke wiwit wedharaken lampahing samadi makaten : tembung
> samadi = sarasa - rasa tunggal - maligining rasa - rasa jati -
rasa

> nalika dereng makarti. Dene makartining rasa jalaran saking
> panggulawenthah utawi piwulang, punapadene pangalaman-pangalaman
> ingkang tinampen utawi kasandhang ing sadinten-dintenipun. Inggih
> makartining rasa punika ingkang kawastanan pikir. Saking dayaning
> panggulawenthah, piwulang tuwin pangalaman-pangalaman wau, pikir
> lajeng gadhah panganggep awon lan sae, temah anuwuhaken tatacara,
> pamacak lan sanes-sanesipun ingkang lajeng dados pakulinan. Punapa
> panganggep awon sae, ingkang sampun dados tata-cara margi sampun
> dados pakulinan punika, yen awon inggih awon sayektos, yen sae
> inggih sae temenan, punika dereng tamtu, jer punika namung
> pakulinaning panganggep. Dene panganggep, boten yekti, tetep
namung
> ngenggeni pakulinaning tata-cara, dados inggih dede kajaten utawi
> kasunyatan. Menggah pikajenganipun samadi ing riki, boten wonten
> sanes namung badhe nyumerepi kajaten, dene sarananipun boten
wonten
> malih kajawi nyumerepi utawi anyilahaken panganggep saking
> makartining rasa, kasebut sirnaning papan lan tulis. Inggih ing
riku
> punika jumenenging rasa jati kang nyata, kang yekti, kang weruh
> tanpa tuduh. Wondene kasembadanipun kedah angendelaken ing
> saniskara, sarana angereh solahing anggota (badan). Mangrehing
> anggota wau ingkang langkung pikantuk kalihan sareyan malumah,
saha
> sidhakep utawi kalurusaken mangandhap, epek-epek kiwa tengen
> tumempel ing pupu kiwa tengen, suku ingkang lurus, dalamakan suku
> ingkang tengen katumpangaken ing dalamakan suku kiwa, mila lajeng
> kasebut sidhakep suku (saluku) tunggal. Punapadene angendelna
> ebahing netra (mripat), inggih punika ingkang kawastanan meleng.
> Lampah makaten wau ingkang kuwasa ngendelaken osiking cipta
> (panggagas), tuwin amuntu ilining rahsa, dene pancering paningal
> kasipatna amandeng pucuking grana medal saking sa'antawising netra
> kakalih, inggih punika ing papasu, dene pamandengipun kedah
kalayan
> angeremaken netra kakalih pisan.
>
> Sasampunipun lajeng nata lebet wedaling napas (ambegan) makaten :
> panariking napas saking puser kasengkakna minggah anglangkungi
> cethak ingga dumugi ing suhunan (utek = embun-embunan), sarta mawi
> kaendelna ing sawatawis dangunipun. Sumengkanipun napas wau
> kadosdene darbe raos angangkat punapa-punapa, dene temenipun
ingkang
> kados kita angkat, punika ilining rahsa ingkang kita pepet saking
> sumengkaning napas wau, menawi sampun kraos awrat panyangginipun
> napas, inggih lajeng ka'edhakna kalayan alon-alon. Inggih patrap
> ingkang makaten punika ingkang kawastanan sastracetha. Tegesipun
> cetha = empaning kawruh, cetha = antebing swara cethak, inggih
> cethaking tutuk kita punika. Mila winastan makaten, awit duk kita
> mangreh sumengkaning napas anglangkungi dhadha lajeng minggah
malih
> anglangkungi cethak ingga dumugi suhunan. Menawi napas kita dipun
> ereh, dados namung manut lampahing napas piyambak, tamtu boten
saget
> dumugi ing suhunan, margi saweg dumugi ing cethak lajeng sampun
> medhak malih. Punapadene ugi winastan daiwan (dawan),
pikajengipun :
> mangreh lebet wedaling napas ingkang panjang lan sareh, sarwi
> mocapaken mantra sarana kabatos kemawon, inggih punika mungel `hu'
> kasarengan kalihan lumebeting napas, inggih panariking napas
saking
> puser, minggah dumugi ing suhunan. Lajeng `ya', kasarengan kalihan
> wedaling napas, inggih medhaking napas saking suhunan dumugi ing
> puser, minggah mandhaping napas wau anglangkungi dhadha lan
cethak.
> Dene, anggenipun kawastanan sastracetha, margi nalika mocapaken
> mantra sastra kakalih : hu - ya, wedaling swara ingkang namung
> kabatos wau, ugi kawistara saking dayaning cethak. (Ungeling
mantra
> utawi panebut kakalih : hu – ya, ing wiridan naksobandiyah
kaewahan
> dados mungel, hu – Allah, panebutipun ugi kasarengan lampahing
> napas. Dene ing wiridan satariyah, panebut wau mungel : hailah –
> haillolah, nanging tanpa angereh lampahing napas).
>
> Menggah lebet medaling napas kados kasebut ing nginggil,
> sa'angkatanipun namung kuwasa angambali rambah kaping tiga, mila
> makaten, awit napas kita sampun boten kadugi manawi kinen
> anandangana malih, jalaran sampun menggeh-menggeh. Dene manawi
> sampun sareh, inggih lajeng ka'angkatana malih, makaten
salajengipun
> ngantos marambah-rambah sakuwawinipun, margi saya kuwawi dangu,
> sangsaya langkung prayogi sanget. Dene sa'angkataning pandamel wau
> kawastan : tripandurat, tegesipun tri = tiga, pandu = suci, rat =
> jagad – badan – enggen, suraosipun : kaping tiga napas kita saget
> tumameng ing ngabyantaraning ingkang Maha suci manggen ing
> salebeting suhunan (ingkang dipun suwuni). Inggih punika ingkang
> kabasakaken paworing kawula Gusti, tegesipun : manawi napas kita
> sumengka, kita jumeneng gusti, yen tumedhak, wangsul dados kawula.
> Bab punika para nupiksa sampun kalintu tampi ! Menggah ingkang
dipun
> wastani kawula gusti punika dede napas kita, nanging dayaning
cipta
> kita. Dados ulah samadi punika, pokokipun kita kedah amanjangaken
> panjing wijiling napas (lebet wedaling napas), kalihan
angeningaken
> (ambeningaken) paningal, sebab paningal punika kadadosan saking
> rahsa.
>
> Wondene patraping samadi kados kasebut ing nginggil wau, ugi
kenging
> karancagaken, uger kita tansah lumintu tanpa pedhot mangeh panjing
> wijiling napas, kalihan lenggah, lumampah, utawi nyambutdamel
inggih
> kedah boten kenging tilar mangreh lebet wedaling napas wau,
ingkang
> sarana mocapaken mantra mungel : hu – ya, kados ingkang kajarwa
ing

> nginggil.
>
> Kajawi punika, wirid saking tembung daiwan punika ugi taksih darbe
> maksud sanesipun malih, inggih punika ateges panjang tanpa ujung,
> utawi ateges langgeng. Dene pikajengipun amastani bilih wontening
> napas kita punika sanyata wahananing gesang kita ingkang langgeng,
> inggih wontening ambegan kita. Dene ambegan punika, sanyata
> wontening angin ingkang tansah mlebet medal tanpa kendel, ingkang
> sasarengan kalihan keketeg panglampahing rah (roh). Bilih kakalih
> wau kendel boten makarti nama pejah, inggih risaking badan wadhag
> wangsul dados babakalan malih. Mila sayogyanipun lampahing napas
> inggih ambegan kita ingkang tansah mlebet medal tanpa kendel,
kedah
> kapanjang-panjangana lampahipun, murih panjanga ugi umur kita,
temah
> saget awet wonten ing donya tutug panyawangipun dhateng anak,
putu,
> buyut, canggah, wareng, ingkang babranahan.
>
> Wontenipun andharan ing nginggil, mratelakaken bilih kawruh
> pasamaden punika sanyata langkung ageng pigunanipun, mila lajeng
> sinebut sastrajendrayuningrat pangruwating diyu. Tegesipun sastra
=
> empaning kawruh, jendra = saking panggarbaning tembung harja
endra.
> Tegesipun harja = raharja, endra = ratu – dewa, yu = rahayu –
> wilujeng, ningrat = jagad – enggen – badan. Suraosipun :
> Musthikaning kawruh ingkang kuwasa amartani ing karahayon,
kaharjan,
> katentreman lan sapatunggalipun. Dene tegesesipun pangruwating
diyu
> = amalihaken diyu; dene diyu = danawa – raksasa – asura – buta,
> punika kangge pasemoning piawon, penyakit, rereget, babaya,
> pepeteng, kabodhohan lan sanesipun. Dados diyu punika
> kosokwangsulipun dewa, engkang ateges pinter, sae, wilujeng lan
> sapanunggilipun. Mengku suraos amastani ingkang saget anyirnakaken
> saliring piawon tuwin samubarang babaya pekewed. Mangertosipun,
> sinten ingkang tansah ajeg lumintu anandangaken ulah samadi,
punika
> bilih ing suwaunipun tiyang awon, lajeng sirna piawonipun, malih
> dados tiyang sae lampahipun. Tiyang sakit sirna sakitipun, dados
> saras, tiyang murka daksiya lajeng narimah sabar, welasasih.
Tiyang
> goroh lajeng dados temen. Tiyang bodho dados pinter. Tiyang pinter
> dados pinter sanget. Makaten ugi tiyang golongan sudra dados
waesia,

> waesia dados satriya, satriya dados brahmana, brahmana sumengka
> pangawak braja asarira bathara.
>
> RAHAYU
>
> BS
>
> --- In Spiritual-Indonesia
> <mailto:Spiritual-Indonesia%40yahoogroups.com> @yahoogroups.com,
> bustanus salatin
> <ki_ageng_jenar@> wrote:
> >
> > buku SATRIO PANINGIT, BENCANA NUSANTARA, MANUNGGALINGKAWULOGUSTI
> dalam UNIVERSALITAS KEAGAMAAN
> > ISBN:978-979-17824-0-1/barcode
> >
> > Bab 10: Kajian Tafsir Huruf Muqota'ah: Pandangan Siti Jenar dan
> Husain ibnu Mansur al-Hallaj dalam Manunggaling Kawulo Gusti
> >
> > Syekh Siti Jenar begitu sering dihubung-hubungkan dengan al-
Husain
> ibnu Mansur al-Hallaj atau singkatnya Al-Hallaj saja, sufi Persia
> abad ke-10, yang sepintas lalu ajarannya mirip dengan Siti Jenar,
> karena ia memohon dibunuh agar tubuhnya tidak menjadi penghalang
> penyatuannya kembali dengan Tuhan. Adalah Al-Hallaj yang karena
> konsep satunya Tuhan dan dunia mengucapkan kalimat, "Akulah
> Kebenaran/ Anna al Haq," yang menjadi alasan bagi hukuman matinya
> pada 922 Masehi di Baghdad. Seperti Syekh Siti Jenar pula, nama Al-
> Hallaj menjadi monumen keberbedaan dalam penghayatan agama,
sehingga
> bahkan diandaikan bahwa jika secara historis Syekh Siti Jenar tak
> ada, maka dongengnya adalah personifikasi saja dari ajaran Al-
> Hallaj, bagi yang mendukung maupun yang menindas ajaran tersebut.
> > petikan atas kutipan dari Serat Siti Jenar yang diterbitkan oleh
> Tan Khoen Swie, Kediri, pada 1922:
> > Kawula dan gusti sudah ada dalam diriku, siang dan malam tidak
> dapat memisahkan diriku dari mereka. Tetapi hanya saat ini nama
> kawula-gusti itu berlaku, yakni selama saya mati. Nanti, kalau
saya
> sudah hidup lagi, gusti dan kawula lenyap, yang tinggal hanya
> hidupku, ketenteraman langgeng dalam Ada sendiri.
> > Hai Pangeran Bayat, bila kau belum menyadari kebenaran kata-
kataku
> maka dengan tepat dapat dikatakan, bahwa kau masih terbenam dalam
> masa kematian. Di sini memang banyak hiburan aneka warna. Lebih
> banyak lagi hal-hal yang menimbulkan hawa nafsu. Tetapi kau tidak
> melihat, bahwa itu hanya akibat pancaindera.
> > Itu hanya impian yang sama sekali tidak mengandung kebenaran dan
> sebentar lagi akan lenyap. Gilalah orang yang terikat padanya,
tidak

> seperti Syeh Siti Jenar. Saya tidak merasa tertarik, tak sudi
> tersesat dalam kerajaan kematian. Satu-satunya yang kuusahakan,
> ialah kembali kepada kehidupan
> > Dalam pupuhnya, Syekh Siti Jenar merasa malu apabila harus
> berdebat masalah agama. Alasannya sederhana, yaitu dalam agama
> apapun, setiap pemeluk sebenarnya menyembah zat Yang Maha Kuasa.
> Hanya saja masing - masing menyembah dengan menyebut nama yang
> berbeda - beda dan menjalankan ajaran dengan cara yang belum tentu
> sama. Oleh karena itu, masing - masing pemeluk tidak perlu saling
> berdebat untuk mendapat pengakuan bahwa agamanya yang paling benar.
> > Syekh Siti Jenar juga mengajarkan agar seseorang dapat lebih
> mengutamakan prinsip ikhlas dalam menjalankan ibadah. Orang yang
> beribadah dengan mengharapkan surga atau pahala berarti belum bisa
> disebut ikhlas.
> > Manunggaling Kawula Gusti, Dalam ajarannya ini, pendukungnya
> berpendapat bahwa Syekh Siti Jenar tidak pernah menyebut dirinya
> sebagai Tuhan. Manunggaling Kawula Gusti dianggap bukan berarti
> bercampurnya Tuhan dengan Makhluknya, melainkan bahwa Sang
Pencipta
> adalah tempat kembali semua makhluk. Dan dengan kembali kepada
> Tuhannya, manusia telah menjadi sangat dekat dengan Tuhannya.
> > Dan dalam ajarannya, 'Manunggaling Kawula Gusti' adalah bahwa di
> dalam diri manusia terdapat ruh yang berasal dari ruh Tuhan sesuai
> dengan ayat Al Qur'an yang menerangkan tentang penciptaan manusia
("

> Ketika Tuhanmu berfirman kepada malaikat: "Sesungguhnya Aku akan
> menciptakan manusia dari tanah. Maka apabila telah Kusempurnakan
> kejadiannya dan Kutiupkan kepadanya roh Ku; maka hendaklah kamu
> tersungkur dengan bersujud kepadanya (Shaad; 71-72)"). Dengan
> demikian ruh manusia akan menyatu dengan ruh Tuhan dikala
> penyembahan terhadap Tuhan terjadi.
> > Riwayat pertemuan Ibrahim ibn Sam'an dengan Husain bin Mansur al
> Hallaj ( Kutipan dari Buku Husain bin Manshur al Hallaj, karangan
> Louis Massignon)
> > Aku melihat al Hallaj pada suatu hari di masjid al Mansur: Aku
> memiliki 2 dinar dalam sakuku dan aku berpikir untuk menghabiskan
> uang itu untuk hal-hal yang melanggar hukum. Seseorang datang dan
> memintah sedekah.Dan Husain bin Mansur al Hallaj berkata:' Ibnu
> Sam'an berikanlah sedekah dengan apa yang kamu simpan di dalam
> jubahmu, aku terdiam dan menangis, " oh syaikh,bagaimana engkau
> mengetahui hal itu?'' Al Hallaj berkata:' Setiap hati yang
> mengosongkan diri dari yang selain Alloh, dapat membaca kesadaran
> orang dan menyaksikan apa yang ghoib''. Ibnu Sam'an berkata:''
> o,syaikh ajarilah aku sebuah hikmah''. Kemudian berkata al
> Hallaj :''Orang yang mencari Tuhan dibalik huruf miim dan ain akan
> menemukan Nya.Dan seseorang yang mencarinya dalam konsonan idhafah
> antara alif dan nun, orang itu akan kehilangan Dia. Karena Dia itu
> Maha Suci, di luar jangkauan pikiran dan diatas yang terselubung ,
> yang berada di dalam diri setiap
> > orang. Kembalilah kepada Tuhan, Titik Terakhir adalah Dia. Tidak
> ada "Mengapa" di hari akhir kecuali Dia.Bagi manusia "MA/ yaitu
miim
> dan ain" milik Dia berada dalam miim dan ain makna ""MA"" ini
adalah

> Tuhan Maha Suci. Dia mengajak makhluk terbang menuju Tuhan. "miim"
> membimbing ke Dia dari atas ke bawah. "ain"membimbing ke Dia dari
> Jauh dan Luas.
> >
> > Ilmu Huruf Muqota'ah
> > Ilmu huruf, yang didasarkan pada satu bahsa suci, tentulah
> memiliki sebuah fondasi mistis yang diperlukan. Orang bisa
> menemukan doktrin ini dalam puisi mistis yang terkenal Ghulsyan-i
> Raz (Taman Mawar), karya Syabistari: " Bagi orang yang jiwanya
> adalah manifestasi Tuhan yaitu al Qur'an, keseluruhan alam ini
> adalah huruf-huruf vokalNya dan substansinya adalah huruf konsonan
> Nya " Pasal 200-209 puisi Ghulsyan-i Raz.
> > Abu Ishaq Quhistani, sufi Islam, menegaskan pentingnya ilmu
huruf
> dengan menyatakan bahwa " ilmu huruf adalah akar dari segala
ilmu ".
> Secara skematis ilmu huruf mengandung :
> >
> > Simbolisme ketuhanan dan metafisika atau /metakosmik
> > Simbolisme universal / makrokosmik yang didasarkan pada
> korespondensi antara huruf-huruf dan benda astrologis (ruang
> angkasa/ planet/ lambang zodiak dll)
> > Simbolisme manusia dan individu yang didasarkan pada
korespondensi
> fisiologis/organ tubuh
> > Jumlah huruf muqatta'ah (terpotong) ada 14 huruf yaitu :alif lam
> miim,ha miim, alif lam ra, tha ha,ha miim ain sin qaf, ya sin, kaf
> ha ya `ain shad, kaf dan nun. Kalau dirangkai keseluruhannya
menjadi
> sebuah kalimat : Shiratu `aliyin haqqun namsikuhu (jalan Ali
adalah
> kebenaran yang kita pegang). huruf muqatta'ah (terpotong) adalah
> huruf-huruf yang merupakan rumusan dialog antara Alloh swt dengan
> kekasihnya (para Nabi dan para Wali)
> > Apa Makna miim dan ain sehingga dapat menemukan Tuhan dan
bertemu

> dengan Nya dan Mengapa ketika mencari Tuhan dibalik huruf alif dan
> nun maka tidak bisa bertemu dengan Nya?
> > Tafsir Miim (numerology Arabiyah)::
> >
> > Huruf miim merupakan muhammad rosulillah atau Ahmad, yang
> merupakan pintu menuju Ahad yang merupakan wahdaniyah Allah.
> Perbedaan antara Ahad dan Ahmad adalah huruf arab Miim (muhammad
> rosulillah - penutup jalur risalah dan kenabian)
> > Miim juga berarti malakuti / keagungan / penguasaan atas seluruh
> langit bumi, ayat Kursi merupakan ayat yang mengandung banyak
huruf

> miim didalamya
> > Huruf miim bernilai 40, 40 hari khalwat dengan ikhlas dengan
> mengamalkan surat al ikhlas dan ayat Kursi (ayat yang banyak
> mengandung huruf miim /sujud jadi sujud adalah cara menggapai
> keagungan). Juga surat al ikhlas di awali dengan qulhuwa allohu
> ahad. Jadi perwujudan ahad di dunia adalah ahmad, ketika manusia
> menjadi ahmad maka merupakan tajalli/ penampakan sang Mahakuasa
> dalam diri manusia. Sekali lagi bedakan Ahmad dan Ahad terletak
> huruf miim.
> > Huruf miim membentuk, posisi sujud dalam solat, sujud merupakan
> posisi kedekatan dengan Alloh, bahkan sujud merupakan simbol dari
> wahdaniyah Allah. Metode untuk mendekat (muqorrobin/ kewalian)
> kepada Tuhan yang paling cepat adalah dengan sujud yang lama dalam
> Sholat. Hadits qudsi Allah berfirman : " Barangsiapa memusuhi
waliku
> sungguh kuumumkan perang kepadanya, tiadalah hamba Ku mendekat
> kepada Ku dengan hal hal yg fardhu- 17 rokaat, dan Hamba Ku terus
> mendekat kepada Ku dengan hal hal yg sunnah- 34 rokaat qobliyah
dan
> bakdiyah- baginya hingga Aku mencintainya, bila Aku mencintainya
> maka aku menjadi telinganya yg ia gunakan untuk mendengar, dan
> matanya yg ia gunakan untuk melihat, dan menjadi tangannya yg ia
> gunakan untuk memerangi, dan kakinya yg ia gunakan untuk
melangkah,
> bila ia meminta pada Ku niscaya kuberi permintaannya...." (shahih
> Bukhari hadits no.6137).
> >
> > Tafsir Ain,Yaa,Sin,Nuun,Aliif (numerology Arabiyah):
> >
> > Huruf ain bermakna sayidina Ali bin Abu tholib merupakan pintu
> gerbang keilmuan. Sesuai hadits Nabi yang menyatakan bahwa
Muhammad
> rosulluloh adalah gudang ilmu dan Sayidina Ali adalah pintunya.
> Huruf ayn membentuk posisi rukuk dalam sujud, dalam riwayat
asbabun
> nuzul quran ada ayat yang berkenaan dengan Ali bin abu thalib,
yaitu
> orang yang rukuk kemudian dalam posisi rukuk dalam solat melakukan
> sedekah berupa cincin. Inilah ayat quran itu: Walimu hanyalah
Allah,
> Rasul-Nya dan mereka yang beriman yang menegakkan salat, membayar
> zakat seraya rukuk. (QS. al-Mâ`idah: 55)
> > Kunci sholat yang merupakan adab tatakrama/ kepasrahaan total
ila
> allohu ada di rukuk/ huruf ain, sujud/ huruf miim adalah kedekatan
> (muqorobin- fana asma dan tajalli asma), barangsiapa tidak tahu
adab
> ( rukuknya) maka tidak layak untuk dekat (muqorobin).
> > Huruf Ain bernilai 70.sedang huruf Ya bernilai 10 dan huruf Sin
> bernilai 60. jadi secara matematis yaitu 70(ain)= yaa(10)+sin(60)
> jadi Ya + Seen = Ain merupakan Quran dalam surat 36 adalah surat
Ya
> Seen. ayat ke 58 dari surat Yasin adalah Salaamun Qawlam Mir
Rabbir
> Raheem. Jadi 5+8=13, posisi huruf ke 13 dalam abjad Arab adalah
> huruf Miim/ Sujud. Jadi untuk mengerti Ain/ rukuk kita harus
> mengerti tafsir huruf Yaa dan Tafsir huruf Sin. Dengan mengerti
Yaa
> dan Sin kita akan sampai kepada Sayidina Ali bin Abu Tholib.
> > Kyai Kholil Bangkalan, salah seorang pencetak kyai besar
Nahdlatul
> Ulama, selama perjalanan pesantren Keboncandi, Pasuruan-Sidogiri
> kyai kholil Bangkalan sewaktu muda selalu membaca YaSin, hingga
> khatam berkali-kali
> > Huruf Ya adalah akhir dari abjad Arab and Alif awal dari abjad
> Arab. Huruf Ya/ hamba memimpin/cenderung ke arah Alif/ Alloh.
Huwal

> Awwalu wa Hu wal Akhiru.
> > Rincian huruf Awwalu :
> > Alif(1)+waw(6)+lam(30)=37ß-à3+7=10,(Ya=10),
> > 10 ß-à1+0=1ß-àpertama.
> > · Rincian huruf Akhiru :: Alif(1)+Kho(600)+Ro(200)= 801ß-
> à8+0 +1= 9 ß-à terakhir adalah 9, angka 9 dalam numerology arab
> adalah huruf Ta yang bermakna penyucian atau Tahara/penyucian dan
> bulan ke 9 dalam Arab/ Qomariah adalah bulan ramadhon yaitu bulan
> puasa
> > · Penyucian kalbu dari kecintan diri dan dunia merupakan
> tingkat awal penyucian untuk bersuluk kepada Alloh. Sesungguhnya
> kotoran maknawi terbesar yang tidak bisa disucikan meskipun dengan
> tujuh lautan dan para nabi pun tidak mampu menghilangkannya adalah
> kotora kejahilan ganda (pura-pura tahu padahal tidak tahu).
> Kekeruhan ini mungkin akan memadamkan cahaya petunjuk dan
meredupkan
> api kerinduan yang merupakan buraq untuk bermikraj mencapai
berbagai
> maqom spiritual.( Imam Khomeini dalam Hakikat dan Rahasia Sholat)
> > · dan Alif(1)+ Ta(9)=10ß-à (Ya=10=hamba) , nilai huruf
> (Ya=10), jadi seorang Hamba yaitu simbol Ya harus melakukan Puasa/
> penyucian jiwa/ tazkiyah nafs simbol (Ta=9) untuk Alloh semata
> simbol (Alif=1) atau Hamba harus sabar dengan KetentuanNya atau
> nrimo ing pandum, karena hasil puasa Lillah Billah menjadikan
orang
> sabar atau innalloha ma'ashobirin (Sesungguhnya Alloh bersama (MA
> terdiri huruf miim dan ain lihat al Baqarah:153 ) orang yang
sabar.
> Lihat bersama adalah Ma yaitu ma'asshobirin. Disini terungkap
> rahasia mim dan ayn yaitu MA seperti yang diucapkan oleh Husain
bin
> Mansur al Hallaj. jadi Sabar adalah kunci menemukan Tuhan. Para
> mufassir menafsirkan sabar dengan melakukan puasa. Pahala puasa
> hanya Alloh yang tahu. Artinya Hak menilai puasa langsung di
tangan
> Alloh bukan di tangan para malaikat. Sabda Rosullulloh saw Puasa
> yang dilakukan khusus untuk-Ku/ puasa Lillah Billah dan cukuplah
Aku
> sebagai pahalanya
> > · Mempelajari Ilmu Ketuhanan akan menjadikan orang
> bersabar, seperti dialog Nabi Musa as dan Nabi Khidr as yaitu
> Bagaimana kamu dapat sabar terhadap persoalan yang kamu samasekali
> belum memiliki pengetahuan yang cukup tentangNya(QS 18:68).
> Barangsiapa menghadapi kesengsaraan dengan hati terbuka,
menunjukkan
> kesabaran dengan penuh ketenangan dan martabat, termasuk dalam
> golongan orang terpilih dan bagian untuknya adalah Berikanlah
kabar

> gembira (keberhasilan dan kejayaan) kepada orang yang sabar (QS
> 2:155),
> >
> > Dalam Islam, kemampuan mengendalikan emosi dan menahan diri
> disebut sabar. Orang yang paling sabar adalah orang yang paling
> tinggi dalam kecerdasan emosionalnya. Ia biasanya tabah dalam
> menghadapi kesulitan. Ketika belajar orang ini tekun. Ia berhasil
> mengatasi berbagai gangguan dan tidak memperturutkan emosi-nya.
> > Gabungan rincian Awwalu dan Akhiru adalah Seorang Hamba
> (Ya=10=hamba) karena Akhiru(9)+ Awwalu (1)=10ß-à (Ya=10=hamba) ,
> jadi seorang Hamba menampung Asma Alloh yang lengkap dan memiliki
> potensi untuk menampakkan sifat ketuhanan
> > Huruf Sin bernilai 60 dalam numerology Arab, merupakan simbol
dari
> sirr Muhammad, sirr adalah rahasia ketuhanan yang disimpan dalam
> diri manusia sebagai hamba. Huruf sin dalam INSAN. huruf alif nya
> adalah Alloh, huruf sin adalah rahasia /sirr ketuhanan, 2 huruf
nun
> adalah simbol hukum dunia dan akhirat yang merupakan
> representasi /perwakilan kitab suci al Qur'an.
> > Huruf Yaa/ simbol Hamba digunakan untuk memanggil seseorang atau
> menarik perhatian sesorang. Ya adalah simbol seorang Hamba
menyembah
> dan menyebut Tuhannya Ya Alloh Ya Robbi dll.Yaa juga digunakan
oleh
> Alloh memanggil Hambanya.Ya juga berarti simbol antara yang
disembah
> dan menyembah, tetapi posisi Ya=10/ hamba selalu cenderung kepada
> Alif=1 atau Alloh karena Alloh sebagai Awwalu, dalam ilmu huruf,
> > Alif(1)+waw(6)+lam(30)=37ß-à3+7=10 adalah Yaa menyatu dengan
Alif
> (10ß-à1+0=1) atau dibalik Yaa ada Alif atau di dalam Manusia ada
> Tuhan atau istilah Wahdatul Wujud nya Ibnu Arobi yaitu antara
> penyembah dan yang disembah itu sama tapi tidak serupa atau
menurut

> istilah ajaran Syekh Siti Jenar, yaitu Manunggaling Kawula
> Gusti. "PERSAMAAN" antara manusia dan Allah. Hal inilah yang
> dimaksudkan dalam sabda Nabi saw.: "Sesungguhnya Allah menciptakan
> manusia dalam kemiripan dengan diriNya sendiri." Lebih jauh lagi
> Allah telah berfirman: "Hambaku mendekat kepadaKu sehingga Aku
> menjadikannya sahabatKu. Aku pun menjadi telinganya, matanya dan
> lidahnya." Juga Allah berfirman kepada Musa as.: "Aku pernah sakit
> tapi engkau tidak menjengukku!" Musa menjawab: "Ya Allah, Engkau
> adalah Rabb langit dan bumi; bagaimana Engkau bisa sakit?" Allah
> berfirman: "Salah seorang hambaKu sakit; dan dengan menjenguknya
> berarti engkau telah mengunjungiKu. "Memang ini adalah suatu
> > masalah yang agak berbahaya untuk diperbincangkan, karena hal
ini

> berada di balik pemahaman orang-orang awam. Seseorang yang cerdas
> sekalipun bisa tersandung dalam membicarakan soal ini dan percaya
> pada inkarnasi dan kersekutuan dengan Allah.
> > Tafsir huruf Nun dan Alif- Pencari Tuhan dibalik huruf alif dan
> nun maka tidak bisa bertemu dengan Nya::
> >
> > Bernilai 50 dalam numerology Arab.
> > Tafsir huruf INSAN, memiliki 2 huruf nun merupakan simbol alam
> dunia/ jasad dan alam akhirat/ ruh/ jiwa. Ruh yang disucikan akan
> memperoleh Nur/ surga sedangkan Ruh yang dikotori akan memperoleh
> Nar/ neraka.
> > Tafsir Alif dan Nun: Penggambaran Simbolis Huruf dan Alif Nun
> merupakan lambang sebuah perahu (syariat) dan sebuah Jiwa/
> individu /personal mengarungi lautan / medan ujian, kayuh/sampan (
> membentuk huruf Alif) kiri kanan adalah wilayah pilihan manusia (
> sunnatulloh adalah qadha' qadar baik buruk) yang telah ditetapkan
> oleh Alloh arti simbol Alif. Individu yang sedang menaiki perahu (
> simbol Nun), sampan/kayuh adalah alat/ pilihan yang akan
mengerakkan
> jiwanya menuju 3 pilihan yaitu, pertama, arah perahu ke kiri
> berarti ashabul syimal/ Nun menjadi Naar/ neraka, kedua arah
perahu
> ke kanan berarti ashabul yamin/ Nun menjadi Nur/cahaya, ketiga
arah
> perahu tidak ke kiri dan tidak ke kanan tetapi tengah berarti
> sabiqunal awwalun/ terdahulu mencapai tujuan - ini adalah golongan
> para pencinta yaitu menyembah karena kerinduan ingin bertemu
dengan
> sang Khaliq – ini adalah jawaban isyarah tersembunyi dari Husain
bin
> Manshur al Hallaj- yaitu para nabi
> > dengan simbol miim (arti bathinnya adalah sujud) yaitu Muhammad
> saw dan ain (arti bathinnya adalah rukuk) yaitu sayidina Ali bin
> Abuthalib
> > Huruf Nun Mengingatkan Kita juga kepada Zunnun/ Nabi Yunus as
> yang naik perahu di tengah lautan dan ditelan Ikan karena
> meninggalkan Kaum nya sebelum ada perintah dari ALLOH swt.
> > Zikir Zunnun / N.Yunus - doa keselamatan menghadapi medan
ujian :
> wa dzan nuni idz dzahaba mughadziban fa dhanna an lan naqdiro
alayhi
> fa nada fid dhulumati an laila antan subhanaka inni kuntu
> minadolimin fastajabna lahu wa najjaynahu minal ghammi wa
kadzalika

> nunjil mukminina (Anbiya :87-88).
> >
> > Kesimpulan:
> > · Tafsir Yaa Sin akan membuka rahasia huruf `'MA'' yaitu
> miim dan ain seperti yang dikatakan oleh Husain bin Mansur al
> Hallaj:
> > Quran dalam surat 36 adalah surat Ya Seen. ayat ke 58 dari surat
> Yasin adalah Salaamun Qawlam Mir Rabbir Raheem
> > "Rahasia Ketuhanan ada dalam diri manusia, agar manusia mampu
> menampakkan atau men-tajallikan Ketuhanan dalam dirinya maka
> perintah solat (Rukuk, Sujud) adalah sarana 'Manunggaling Kawula
> Gusti dan sodaqoh ( menebarkan hasil usaha kebenaran/ pengabdian
> masyarakat/ agen perubahan/ social agent) kepada sesama makhluk
> Tuhan (kesalehan sosial) yang merupakan perwujudan dari Salaamun
> Qawlam Mir Rabbir Raheem"
> > · Tafsir YaaSin adalah simbol manusia sempurna yaitu
hamba
> yang mampu menampung rahasia Alloh swt dan didalam sirr itu
seorang

> penyembah dan disembah bertemu dan berdialog, ibarat sebuah pohon
> lengkap dengan pokoknya, cabangnya dan puncaknya. Imam al Baqir
> berkata: Maukah kamu akau beritahu pokok-pokok Islam, cabang dan
> puncaknya dan pintu kebaikan? Sulaiman bin Khalid berkata: Tentu,
> lalu jawab Imam al Baqir: Pokoknya adalah sholat, cabangnya adalah
> zakat, dan puncaknya adalah membela kaum tertindas dan menegakkan
> keadilan. Pintu kebaikan itu adalah :
> > 1. Puasa merupakan perisai api neraka
> > 2. Sedekah itu menghapus dosa
> > 3. Sholat di malam hari untuk berzikir
> >
> > Tafsir Rukuk/Huruf Ain
> > Etika rukuk adalah meninggikan maqam rububiyah Nya yang agung,
> mulia dan merendahkan maqam ubudiyah seorang hamba yang lemah,
faqir
> dan hina. Rukuk adalah awal ketundukkan dan sujud adalah
> puncaknya.Yang melakukan rukuk dengan sempurna dan benar akan
> menemukan keselarasan pada sujud. Imam Shadiq berkata" rukuk yang
> benar kepada Alloh adalah menghiasi dengan cahaya keindahan asma
> Nya. Rukuk adalah yang pertama dan sujud adalah yang kedua. Dalam
> rukuk ada adab penghambaan dan dalam sujud ada kedekatan/Qurb
dengan
> Zat yang disembah. Simbol rukuk adalah hamba dengan hati tunduk
> kepada Alloh, merasa hina dan takut di bawah kekuasaan-Nya.
> Merendahkan anggota badan karena gelisah dan takut tidak
memperoleh
> manfaat rukuk.
> >
> > Tafsir Sujud/Huruf Mim
> > Sujud merupakan puncak ketundukan dan puncak kekhusyukan seorang
> hamba, sebaik-baik wasilah taqarrub ila Alloh, sebaik-baik posisi
> untuk mencapai cahaya-cahaya tajalli Asma Alloh swt dan maqam
Qurb
> dengan Nya. N. Saw bersabda : "lamakanlah sujudmu", sebab tiada
amal
> yang lebih berat dan paling tak disukai oleh syetan saat melihat
> anak Adam sedang sujud, karena dia telah diperintahakan sujud dan
> dia tidak patuh. Sujud merupakan sebab mendekatnya hamba dengan
sang
> Kholik. Wahai orang yang beriman, mintalah pertolongan dengan
sabar

> dan solat, sesungguhnya Alloh bersama orang yang sabar (al
> Baqarah:153)
> >
> > Tafsir Salam/Huruf Yaa Sin
> > Salam adalah salah satu nama Alloh. Arti Salam dari sisi Alloh
> adalah keselamatan zat, sifat, perbuatan-Nya. Adapun Zatnya
> terpelihara dari kelenyapan, perubahan dan dari segala kekurangan.
> Salam dari sisi Hamba adalah doa,yaitu memohon keselamatan kepada
> Alloh untuk orang yang kita ucapkan salam /selamat dari segala
> cobaaan dan bencana dunia akhirat. Salam juga berarti ungkapan
> Kepasrahan/ ketundukan kepada Sunnatulloh ( Quran Hadits). Menurut
> Imam Shadiq "salam adalah orang yang melaksanakan perintah Alloh
dan
> melakukan sunnah Rosulillah dengan ikhlas (intinya Ahad dan
Ahmad),
> juga selamat dari bencana dunia dan akhirat. Salam juga bermakna
> penghormatan kepada hamba yang sholih (assalamu alaina wa ala
> ibadilahis sholihin) dan malaikat pencatat amal
> > Al Futuhat al Makkiyah, Karangan Ibnu Aroby, merujuk empat
> perjalanan akal dalam bab 69 tentang rahasia rahasia shalat
sebagai
> perjalanan spiritual manusia. Perintah sholat 51 rokaat kepada
Nabi
> Muhammad saw saat isro miroj: Tuhan memerintahkan hambaNya itu
> supaya setiap Muslim setiap hari sembahyang limapuluh kali.
Kemudian
> untuk umatnya menjadi 17 rokaat wajib di lima waktu dan sisanya 34
> rokaat menjadi sunah muakkad- qobliyah dan bakdiya.
> > Mulla Shadra dalam bukunya al Asfar al Arba'ah mengatakan:
> > "Ketahuilah bahwa para pesuluk diantara orang Arif/ Irfan dan
para
> Wali menempuh empat perjalanan akal :
> >
> > Perjalanan makhluk kepada kebenaran –diskusi metafisika umum
(min
> al khalq ila al Haq)
> > Pesuluk mempelajari dasar-dasar metafisika umum dan
> dalilnya.pesuluk cenderung pada kajian semantik dan metafisika
dasar
> terhadap firman Ttuhan dalam Quran.
> >
> > Perjalanan bersama kebenaran didalam kebenaran- pengalaman
> metafisika khusus dengan pengalaman pribadi (bi al Haq fi al Haq)
> > Pesuluk akan melihat sifat dan namaNya yang tertinggi baik nama
> yang mewujudkan rahmatNya dan murkaNya. Hukum nama nama Alloh ini
di
> dalam kejamakannya akan mewujud di dalam diri pesuluk.Hal ini
> dikenal dengan makam wahidiyah atau tujuh substansi halus
(lataif).
> Pesuluk akan mengalami rasa takut dan harapan (al khauf wa al raja)
> >
> > Perjalanan dari Kebenaran menuju makhluk (min al Haq ila al al
> khalq)
> > Setelah mengalami fase peniadaan diri,pesuluk menerima karunia
> Tuhan dan kembali kepada kesadaran diri. Pesuluk menyaksikan
> penciptaan dan alam kejamakan dalam diri makhluk tetapi dengan
mata
> yang lain, dengan pendengaran yang berbeda. Puncak perjalan ketiga
> membawa pesuluk menuju kesucian/Wilayah(kewalian)
> >
> > Perjalanan bersama Kebenaran di dalam makhluk (bi al Haq fi al
> khalq)
> > Maqam penetapan hukum dan pembedaan dari baik dan buruk.ini
adalah
> derajat kenabian,penetapan hukum dan kepemimpinan atas umat
manusia
> yang berhubungan dengan urusan urusan mereka yang beragam dan
> berbeda-beda serta bagaimana mereka saling berinteraksi satu sama
> lain. seorang `arif tak akan benar-benar mencapai maqam spiritual
> tertinggi jika tidak memanifestasikan keimanan-puncak, yang telah
> diraihnya lewat dua perjalanan pertama, dalam bentuk concern
sosial
> politik untuk mereformasi masyarakat dan membebaskan kaum
tertindas
> dari rantai penindasannya.Tidak lain maqam penetapan hukum
> (legislatif) atau melibatkan diri dalam kemasyarakatan dan
hubungan
> social, merupakan perwujudan penebaran salam kepada makhluk yaitu
> Salaamun Qawlam Mir Rabbir Raheem yang merupakan inti tafsir
> Yaa Sin.
> >
> > --- On Sun, 7/20/08, mang dipo <dipo1601@> wrote:
> >
> > From: mang dipo <dipo1601@>
> > Subject: [Spiritual-Indonesia] Kejawen Islam
> > To: Spiritual-Indonesia <mailto:Spiritual-Indonesia%
40yahoogroups.com>

> @yahoogroups.com
> > Date: Sunday, July 20, 2008, 1:46 AM
> >
> >
> >
> >
> >
> >
> >
> >
> >
> > Mari kita mengutip satu tembang Jawa
> > Tak uwisi gunem iki saya akhiri pembicaraan
> ini
> > Niyatku mung aweh wikan saya hanya ingin memberi tahu
> > Kabatinan akeh lire kabatinan banyak
macamnya
> > Lan gawat ka liwat-liwat dan artinya sangat gawat
> > Mulo dipun prayitno maka itu berhati-hatilah
> > Ojo keliru pamilihmu Jangan kamu salah pilih
> > Lamun mardi kebatinan kalau belajar kebatinan
> >
> > Tembang ini menggambarkan nasihat seorang tua (pinisepuh) kepada
> mereka yang ingin mempelajari kabatinan cara kejawen. Kiranya
perlu
> dipahami bahwa tujuan hakiki dari kejawen adalah berusaha
> mendapatkan ilmu sejati untuk mencapai hidup sejati, dan berada
> dalam keadaan harmonis hubungan antara kawula (manusia) dan Gusti
> (Pencipta) ( jumbuhing kawula Gusti ) /pendekatan kepada Yang Maha
> Kuasa secara total.
> >
> > Keadaan spiritual ini bisa dicapai oleh setiap orang yang
percaya
> kepada Tuhan, yang mempunyai moral yang baik, bersih dan jujur.
> beberapa laku harus dipraktekkan dengan kesadaran dan ketetapan
hati
> yang mantap. Pencari dan penghayat ilmu sejati diwajibkan untuk
> melakukan sesuatu yang berguna bagi semua orang serta melalui
> kebersihan hati dan tindakannya. Cipta, rasa, karsa dan karya
> (kuasa) harus baik, benar, suci dan ditujukan untuk mamayu
hayuning
> bawono. Ati suci jumbuhing Kawulo Gusti : hati suci itu adalah
> hubungan yang serasi antara Kawulo dan Gusti, kejawen merupakan
> aset dari orang Jawa tradisional yang berusaha memahami dan
mencari
> makna dan hakekat hidup yang mengandung nilai-nilai.
> >
> > Dalam budaya jawa dikenal adanya simbolisme, yaitu suatu faham
> yang menggunakan lambang atau simbol untuk membimbing pemikiran
> manusia kearah pemahaman terhadap suatu hal secara lebih dalam.
> Manusia mempergunakan simbol sebagai media penghantar komunikasi
> antar sesama dan segala sesuatu yang dilakukan manusia merupakan
> perlambang dari tindakan atau bahkan karakter dari manusia itu
> selanjutnya. Ilmu pengetahuan adalah simbol-simbol dari Tuhan,
yang
> diturunkan kepada manusia, dan oleh manusia simbol-simbol itu
> ditelaah dibuktikan dan kemudian diubah menjadi simbol-simbol yang
> lebih mudah difahami agar bisa diterima oleh manusia lain yang
> memiliki daya tangkap yang berberda-beda.
> >
> > Biasanya sebutan orang Jawa adalah orang yang hidup di wilayah
> sebelah timur sungai Citanduy dan Cilosari. Bukan berarti wilayah
di
> sebelah barat-nya bukan wilayah pulau Jawa. Masyarakat Jawa adalah
> masyarakat yang menjunjung tinggi rasa kekeluargaan dan suka
> bergotong royong dengan semboyannya "saiyeg saekoproyo " yang
> berarti sekata satu tujuan.
> >
> > Kisah suku Jawa diawali dengan kedatangan seorang satriya
> pinandita yang bernama Aji Saka, sampai kemudian satriya itu
menulis
> sebuah sajak yang kemudian sajak tersebut diakui menjadi huruf
jawa
> dan digunakan sebagai tanda dimulainya penanggalan tarikh Caka.
> >
> > Kejawena dalah faham orang jawa atau aliran kepercayaan yang
> muncul dari masuknya berbagai macam agama ke jawa. Kejawen
mengakui
> adanya Tuhan Gusti Allah tetapi juga mengakui mistik yang
berkembang
> dari ajaran tasawuf agama-agama yang ada.
> >
> > Tindakan tersebut dibagi tiga bagian yaitu tindakan simbolis
> dalam religi, tindakan simbolis dalam tradisi dan tindakan
simbolis
> dalam seni. Tindakan simbolis dalam religi, adalah contoh
kebiasaan
> orang Jawa yang percaya bahwa Tuhan adalah zat yang tidak mampu
> dijangkau oleh pikiran manusia, karenanya harus di simbolkan agar
> dapat di akui keberadaannya misalnya dengan menyebut Tuhan dengan
> Gusti Ingkang Murbheng Dumadi, Gusti Ingkang Maha Kuaos, Hyang
Manon

> dan sebagainya.
> >
> > Tindakan simbolis dalam tradisi dimisalkan dengan adanya tradisi
> upacara kematian yaitu medo'akan orang yang meninggal pada tiga
> hari, tujuh hari, empatpuluh hari, seratus hari, satu tahun, dua
> tahun, tiga tahun, dan seribu harinya setelah seseorang meninggal
> (tahlillan). Dan tindakan simbolis dalam seni dicontohkan dengan
> berbagai macam warna yang terlukis pada wajah wayang kulit; warna
> ini menggambarkan karakter dari masing-masing tokoh dalam wayang.
> >
> > Perkembangan budaya jawa yang mulai tergilas oleh perkembangan
> teknologi yang mempengaruhi pola pikir dan tindakan orang jawa
dalam
> kehidupan. Maka orang mulai berfikir bagaimana bisa membuktikan
hal
> gaib secara empiris tersebut dengan menggunakan berbagai macam
> metode tanpa mengindahkan unsur kesakralan. Bahkan terkadang
> kepercayaan itu kehilangan unsur kesakralannya karena dijadikan
> sebagai obyek exploitasi dan penelitian.
> >
> > Kebiasaan orang Jawa yang percaya bahwa segala sesuatu adalah
> simbol dari hakikat kehidupan, seperti syarat sebuah rumah harus
> memiliki empat buah soko guru (tiang penyangga) yang melambangkan
> empat unsur alam yaitu tanah, air, api, dan udara, yang ke
empatnya
> dipercaya akan memperkuat rumah baik secara fisik dan mental
> penghuni rumah tersebut. Namun dengan adanya teknologi konstruksi
> yang semakin maju, keberadaan soko guru itu tidak lagi menjadi
> syarat pembangunan rumah. Dengan analisa tersebut dapat
diperkirakan
> bagaimana nantinya faham simbolisme akan bergeser dari budaya
jawa.
> Tapi bahwa simbolisme tidak akan terpengaruh oleh kehidupan
manusia

> tapi kehidupan manusialah yang tergantung pada simbolisme. Dan
> sampai kapanpun simbolisme akan terus berkembang mengikuti
> berputarnya sangkakala.
> >
> > Mangkunegara IV (Sembah dan Budiluhur)
> > Mangkunegara IV memiliki empat ajaran utama yang meliputi sembah
> raga, sembah cipta (kalbu), sembah jiwa, dan sembah rasa.
> >
> > Sembah Raga
> > Sembah raga ialah menyembah Tuhan dengan mengutamakan gerak laku
> badaniah atau amal perbuatan yang bersifat lahiriah. Cara
bersucinya
> sama dengan sembahyang biasa, yaitu dengan mempergunakan air
> (wudhu). Sembah yang demikian biasa dikerjakan lima kali sehari
> semalam dengan mengindahkan pedoman secara tepat, tekun dan terus
> menerus, seperti bait berikut:
> >
> > Sembah raga puniku / pakartining wong amagang laku / sesucine
> asarana saking warih / kang wus lumrah limang wektu / wantu
wataking
> wawaton
> >
> > Sembah raga, sebagai bagian pertama dari empat sembah yang
> merupakan perjalanan hidup yang panjang ditamsilkan sebagai orang
> yang magang laku (calon pelaku atau penempuh perjalanan hidup
> kerohanian), orang menjalani tahap awal kehidupan bertapa (sembah
> raga puniku, pakartining wong amagang laku). Sembah ini didahului
> dengan bersuci yang menggunakan air (sesucine asarana saking
warih).
> Yang berlaku umum sembah raga ditunaikan sehari semalam lima kali.
> Atau dengan kata lain bahwa untuk menunaikan sembah ini telah
> ditetapkan waktu-waktunya lima kali dalam sehari semalam (kang wus
> lumrah limang wektu). Sembah lima waktu merupakan shalat fardlu
yang

> wajib ditunaikan (setiap muslim) dengan memenuhi segala syarat dan
> rukunnya (wantu wataking wawaton). Sembah raga yang demikian ini
> wajib ditunaikan terus-menerus tiada henti (wantu) seumur hidup.
> Dengan keharusan memenuhi segala ketentuan syarat dan rukun yang
> wajib dipedomani (wataking wawaton). Watak suatu
> > waton (pedoman) harus dipedomani. Tanpa mempedomani syarat dan
> rukun, maka sembah itu tidak sah.
> >
> > Sembah raga tersebut, meskipun lebih menekankan gerak laku
> badaniah, namun bukan berarti mengabaikan aspek rohaniah, sebab
> orang yang magang laku selain ia menghadirkan seperangkat
fisiknya,
> ia juga menghadirkan seperangkat aspek spiritualnya sehingga ia
> meningkat ke tahap kerohanian yang lebih tinggi.
> >
> > Sembah Cipta( Kalbu )
> > Sembah ini kadang-kadang disebut sembah cipta dan kadang-kadang
> disebut sembah kalbu, seperti terungkap pada Pupuh Gambuh bait 1
dan
> Pupuh Gambuh bait 11 berikut :
> > Samengkon sembah kalbu / yen lumintu uga dadi laku / laku agung
> kang kagungan narapati / patitis teteking kawruh / meruhi marang
> kang momong.
> >
> > Apabila cipta mengandung arti gagasan, angan-angan, harapan atau
> keinginan yang tersimpan di dalam hati, kalbu berarti hati , maka
> sembah cipta di sini mengandung arti sembah kalbu atau sembah
hati,
> bukan sembah gagasan atau angan-angan.
> > Apabila sembah raga menekankan penggunaan air untuk membasuh
> segala kotoran dan najis lahiriah, maka sembah kalbu menekankan
> pengekangan hawa nafsu yang dapat mengakibatkan terjadinya
berbagai
> pelanggaran dan dosa (sucine tanpa banyu, amung nyunyuda hardaning
> kalbu).
> >
> > Thaharah (bersuci) itu, demikian kata Al-Ghazali, ada empat
> tingkat.
> > Pertama,membersihka n hadats dan najis yang bersifat lahiriah.
> > Kedua,membersihkan anggota badan dari berbagai pelanggaran dan
> dosa.
> > Ketiga,membersihkan hati dari akhlak yang tercela dan budi
pekerti
> yang hina.
> > Keempat,membersihka n hati nurani dari apa yang selain Allah.
Dan
> yang keempat inilah taharah pada Nabi dan Shiddiqin.
> >
> > Jika thaharah yang pertama dan kedua menurut Al-Ghazali masih
> menekankan bentuk lahiriah berupa hadats dan najis yang melekat di
> badan yang berupa pelanggaran dan dosa yang dilakukan oleh anggota
> tubuh. Cara membersihkannya dibasuh dengan air. Sedangkan kotoran
> yang kedua dibersihkan dan dibasuh tanpa air yaitu dengan menahan
> dan menjauhkan diri dari pelanggaran dan dosa. Thaharah yang
ketiga
> dan keempat juga tanpa menggunakan air. Tetapi dengan membersihkan
> hati dari budi jahat dan mengosongkan hati dari apa saja yang
selain

> Allah.
> >
> > Sembah Jiwa
> > Sembah jiwa adalah sembah kepada Hyang Sukma ( Allah ) dengan
> mengutamakan peran jiwa. Jika sembah cipta (kalbu) mengutamakan
> peran kalbu, maka sembah jiwa lebih halus dan mendalam dengan
> menggunakan jiwa atau al-ruh. Sembah ini hendaknya diresapi secara
> menyeluruh tanpa henti setiap hari dan dilaksanakan dengan tekun
> secara terus-menerus, seperti terlihat pada bait berikut:
> > Samengko kang tinutur / Sembah katri kang sayekti katur / Mring
> Hyang Sukma suksmanen saari-ari / Arahen dipun kecakup / Sembahing
> jiwa sutengong.
> >
> > Dalam rangkaian ajaran sembah Mangkunegara IV yang telah disebut
> terdahulu, sembah jiwa ini menempati kedudukan yang sangat
penting.
> Ia disebut pepuntoning laku (pokok tujuan atau akhir perjalanan
> suluk). Inilah akhir perjalanan hidup batiniah. Cara bersucinya
> tidak seperti pada sembah raga dengan air wudlu atau mandi, tidak
> pula seperti pada sembah kalbu dengan menundukkan hawa nafsu,
tetapi
> dengan awas emut (selalu waspada dan ingat/dzikir kepada keadaan
> alam baka/langgeng) , alam Ilahi.
> >
> > Betapa penting dan mendalamnya sembah jiwa ini, tampak dengan
> jelas pada bait berikut :
> > Sayekti luwih perlu / ingaranan pepuntoning laku / Kalakuan kang
> tumrap bangsaning batin / Sucine lan awas emut / Mring alaming
lama
> amota.
> >
> > Berbeda dengan sembah raga dan sembah kalbu, ditinjau dari segi
> perjalanan suluk, sembah ini adalah tingkat permulaan (wong
amagang
> laku) dan sembah yang kedua adalah tingkat lanjutan. Ditinjau dari
> segi tata cara pelaksanaannya, sembah yang pertama menekankan
> kesucian jasmaniah dengan menggunakan air dan sembah yang kedua
> menekankan kesucian kalbu dari pengaruh jahat hawa nafsu lalu
> membuangnya dan menukarnya dengan sifat utama. Sedangkan sembah
> ketiga menekankan pengisian seluruh aspek jiwa dengan dzikir
kepada
> Allah seraya mengosongkannya dari apa saja yang selain Allah.
> >
> > Pelaksanaan sembah jiwa ialah dengan berniat teguh di dalam hati
> untuk mengemaskan segenap aspek jiwa, lalu diikatnya kuat-kuat
untuk
> diarahkan kepada tujuan yang hendak dicapai tanpa melepaskan apa
> yang telah dipegang pada saat itu. Dengan demikian triloka (alam
> semesta) tergulung menjadi satu. Begitu pula jagad besar dan jagad
> kecil digulungkan disatupadukan. Di situlah terlihat alam yang
> bersinar gemerlapan. Maka untuk menghadapi keadaan yang menggumkan
> itu, hendaklah perasaan hati dipertebal dan diperteguh jangan
> terpengaruh apa yang terjadi. Hal yang demikian itu dijelaskan
> Mangkunegara IV pada bait berikut:
> > "Ruktine ngangkah ngukud / ngiket ngruket triloka kakukud /
jagad
> agung ginulung lan jagad alit / den kandel kumandel kulup / mring
> kelaping alam kono."
> >
> > Sembah Rasa
> > Sembah rasa ini berlainan dengan sembah-sembah yang sebelumnya.
Ia
> didasarkan kepada rasa cemas. Sembah yang keempat ini ialah sembah
> yang dihayati dengan merasakan intisari kehidupan makhluk semesta
> alam, demikian menurut Mangkunegara IV.
> > Jika sembah kalbu mengandung arti menyembah Tuhan dengan alat
> batin kalbu atau hati seperti disebutkan sebelumnya, sembah jiwa
> berarti menyembah Tuhan dengan alat batin jiwa atau ruh, maka
sembah
> rasa berarti menyembah Tuhan dengan menggunakan alat batin inti
ruh.

> Alat batin yang belakangan ini adalah alat batin yang paling dalam
> dan paling halus yang menurut Mangkunegara IV disebut telenging
> kalbu (lubuk hati yang paling dalam) atau disebut wosing jiwangga
> (inti ruh yang paling halus).
> > Dengan demikian menurut Mangkunegara IV, dalam diri manusia
> terdapat tiga buah alat batin yaitu, kalbu, jiwa/ruh dan inti
> jiwa/inti ruh (telengking kalbu atau wosing jiwangga) yang
> memperlihatkan susunan urutan kedalaman dan kehalusannya.
> >
> > Pelaksanaan sembah rasa itu tidak lagi memerlukan petunjuk dan
> bimbingan guru seperti ketiga sembah sebelumnya, tetapi harus
> dilakukan salik sendiri dengan kekuatan batinnya, seperti
> diungkapkan Mangkunegara IV dalam bait berikut:
> > Semongko ingsun tutur / gantya sembah lingkang kaping catur /
> sembah rasa karasa wosing dumadi / dadi wus tanpa tuduh / mung
> kalawan kasing batos.
> >
> > Apabila sembah jiwa dipandang sebagai sembah pada proses
> pencapaian tujuan akhir perjalanan suluk (pepuntoning laku), maka
> sembah rasa adalah sembah yang dilakukan bukan dalam perjalanan
> suluk itu, melainkan sembah yang dilakukan di tempat tujuan akhir
> suluk. Dengan kata lain, seorang salik telah tiba di tempat yang
> dituju. Dan di sinilah akhir perjalanan suluknya. Untuk sampai di
> sini, seorang salik masih tetap dibimbing gurunya seperti telah
> disebut di muka. Setelah ia diantarkan sampai selamat oleh gurunya
> untuk memasuki pintu gerbang, tempat sembah yang keempat, maka
> selanjutnya ia harus mandiri melakukan sembah rasa.
> >
> > Pada tingkatan ini, seorang salik dapat melaksanakan sendiri
> sembah rasa sesuai petunjuk-petunjuk gurunya. Pada tingkat ini ia
> dipandang telah memiliki kematangan rohani. Oleh karena itu, ia
> dipandang telah cukup ahli dalam melakukan sembah dengan
> mempergunakan aspek-aspek batiniahnya sendiri.
> >
> > Di sini, dituntut kemandirian, keberanian dan keteguhan hati
> seorang salik, tanpa menyandarkan kepada orang lain. Kejernihan
> batinlah yang menjadi modal utama. Hal ini sesuai dengan wejangan
> Amongraga kepada Tambangraras dalam Centini bait 156. Sembah
> tersebut, demikian dinyatakan Amongraga, sungguh sangat mendalam,
> tidak dapat diselami dengan kata-kata, tidak dapat pula dimintakan
> bimbingan guru. Oleh karena itu, seorang salik harus
merampungkannya
> sendiri dengan segala ketenangan, kejernihan batin dan kecintaan
> yang mendalam untuk melebur diri di muara samudera luas tanpa tepi
> dan berjalan menuju kesempurnaan. Kesemuanya itu tergantung pada
> diri sendiri, seperti terlihat pada bait berikut:
> > Iku luwih banget gawat neki / ing rarasantang keneng rinasa /
tan
> kena ginurokake / yeku yayi dan rampung / eneng onengira kang
> ening / sungapan ing lautan / tanpa tepinipun / pelayaran ing
> kesidan / aneng sira dewe tan Iyan iku yayi eneng ening wardaya.
> >
>
 
Reply | Threaded
Open this post in threaded view
|  
Report Content as Inappropriate

To mas Bambang Satrio -Re: Kejawen Islam -- > Syech Siti Jenar...tidak dibunuh atau mati sendiri ??

bambang satrio
RAHAYU

Terimakasih mas Drajat.
Pernafasan memang cenderung ke Kanuragan, makanya saya sudah lama
tidak memakainya. Takut jadi wong ampuh mas.

Mungkin hanya berdiam bukanlah meditasi ala wong jowo saja mas. Saya
masih ingat sebuah ucapan seseorang, bahwa: ILMU KASEPUHAN itu
adalah; dalam menjalankannya tidak memengharapkan apa-apa.
 
Berpuasa (laku prihatin)
bukan karena adanya KEINGINAN
apalagi mengharap PAHALA.

Meditasi (dikir)
Bukan untuk mencapai TUJUAN
apalagi mengharapkan HASIL.

Jadi (menurut saya), untuk mendekat dengan Gusti, sebenarnya caranya
sangat simple, nggak ribet, nggak banyak aturan. Dan itu juga sering
kita jumpai ketika kita ngomong2 dengan orang yang berbeda konsep
(tapi sudah sampai), kenyataannya mempunyai banyak KESAMAAN
pemahamannya. Jadi, mungkin itu metode yang universal.

Seperti dengan uraian mas Drajad tentang Gusti, ya memang begitu.
Berarti kan sama juga. Yang sering diperdebatkan adalah pencapaian
KESADARAN tentang KEBENARAN yang belum sama, jadi terkadang
(seperti) ada perbedaan, padahal menurut saya, setiap manusia selalu
berbeda capaian kesadaraannya. Ketika sudah sama, banyak yang klop
kok.

SALAM. bs




--- In [hidden email], "Sudrajat"
<sudrajat@...> wrote:

>
>  
>  
>  
>             Dear   Mas Bambang…yang berbudi.
>  
>             Salam Rahayu.
>  
>  
>             Sama sama kita tidak mengertinya.., hanya kira kira..,
jadi
> no problem untuk berani tulis . Siapa tahu
>             Justru  dari tulisan kita, ada khadang lain yang lebih
> mumpuni dan berpengalaman sudi memberikan pencerahan
>             Dan berbagi ilmu & pengetahuannya.
>  
>             Syeik Siti Jennar…,  kalau tidak salah…di serat syeikh
Siti
> Jennar  sedikit tertulis…cara meditasi Beliau.
>  
>             Sedangkan…Meditasi dari Sunan Kudus…, ada penahanan
> napasnya.., sehingga lebih banyak ke kanuragan
>             Nya. Pelajaran ini..saya dapat dari Gurunya mbak Hanie.
>  
>             Untuk Sunan Kali Jaga.., ini juga saya belum jelas.
Karena
> Beliau sangat sakti …konon..dari sembilan wali Beliau
>             Lah..yang sudah pernah bertemu dengan nabi Khidir.
Sangat
> Arief…., tapi konon pernah tapa pendem di pinggir
>             Kali. Jadi..ada juga mungkin ada kanuragannya.., ada
juga
> ketuhanan nya. Mungkin…lho.
>  
>             Sekarang hanya DIAM, MENENG berusaha WENING.    --- >
apik
> tenan
>             Nah…iki sing kelihatannya…kepenak…, alami saja..tidak
usah
> banyak cara dan aturan.
>             Iki..mungkin meditasi..ne wong jowo ( di baca ilmu ne
wong
> jawa / bukan suku jawa  - apa bedanya yaa ? ? )
>  
>             Sama sama belajarnya...mas.  Dari saya,...Gusti Allah…
yang
> aku sembah./manembah / tak suwini..dudu Gusti
>             Allah..sing kaya wong sing ngaku ngaku duwe agama.
>             Ayoo..pada pada ora ngertine.. , aku wani tulis.
>             Sing aku sembah ..sing tak jaluki tulung / petunjuk..,
saka
> ragaku ini..ya  Gusti pangeranku dewe.., sing Urip
>             , sing tulis, sing Hidup. Ya..kepenak ta.  Dadi ora
> nyalahke..kae…gusti Allah…sing  Maha Kuasa sak jroning
>             jagad gumelar iki.
>             ya…wis..sing kepenak..priye.., kanggo carane lan
kabutuhan
> awake dewe dewe . Sebab Uripku…ya..ora bisa
>             ngajari Urip pe panjenengan, uga kasak baline (
demikian
> pula sebaliknya ).
>  
>             Khusus…Syeikh Siti Jenar.., di buku no.1. di bawah…,
> tertulis..pada saat ada upacara mau di hukum mati, Beliau
>             Sudah di gantikan dengan yang lain ( tidak
jelas..orang lain
> atau penjelmaannya ).  Beliau kemudian pergi ke Kepulauan
>             Karimunjawa sampai wafatnya.
>  
>             1. Ngelmu  Islam  - Prof. Dr. Poerbatjaroko ( Guru
Besar
> Fak. Sastra UI ).
>  
>             Buku kelanjutannya  saya tidak punya.
>  
>             2. Ngelmu  Kasampurnaan – Prof. Mr. Umar Seno Adji (
Mantan
> Jaksa Agung RI . Rektor Univ. Kusumadwipayana )
>  
>             3.  Ngelmu Kapu Djanggan  -  Kyai Tubagus Abdulah –
> padepokan gunung mas Banten.
>  
>             Ilmu dan pengetahuan dari buku ini.., hanya untuk
memuaskan
> pikiran saja. Tidak wajib.
>  
>            
>             Kepareng..matur nuwun.  Nyuwun pangapuro..mbok
bilih..katah
> ingkang klintu ./ salah.
>  
>             Matur nuwun.
>             Sudrajat
>            
>  
> -----Original Message-----
> From: [hidden email]
> [mailto:[hidden email]] On Behalf Of bambang
satrio
> Sent: Monday, July 21, 2008 8:06 PM
> To: [hidden email]
> Subject: To mas Bambang -[Spiritual-Indonesia] Re: Kejawen Islam (
AJI
> PAMELENG )
>  
> RAHAYU
>
> Mas Drajat...
>
> Saya pribadi dalam meditasi, nggak menggunakan methode yang
> diajarkan Seh Sitijenar secara keseluruhan, terutama dengan
menahan
> PERNAPASAN. Jadi hanya dikir saja. Tetapi itu sudah lama tidak
saya
> lakukan, kira=kira 5 tahun yang lalu. Sekarang hanya DIAM, MENENG
> berusaha WENING.
>
> Tetapi waktu masih menggunakan dikir, memang pernah ada pengalaman
> tertentu. Mendengar suara LEMAH LEMBUT dalam hati (disalahke yo ra
> popo mas, wong mendengar kok pakai hati), tetapi yang jelas,
ucapan

> itu sangat berguna bagi saya pribadi.
>
> Untuk meditasi...Sunan Kudus maupun Sunan Kalijaga, saya nggak
> mengerti mas. Maaf, bener-bener nggak tahu, jadi nggak bisa
> komentar.
>
> RAHAYU. bs
>
> --- In Spiritual-Indonesia
> <mailto:Spiritual-Indonesia%40yahoogroups.com> @yahoogroups.com,
> "Sudrajat"
> <sudrajat@> wrote:
> >
> >
> > Dear mas Bambang S.
> >
> >
> > Artikel….yang melengkapi…, apiikk…langsung saya
> > simpen..meskipun belum di print.
> >
> > Cuma ada pertanyaa…sedikit…boleh ?.
> >
> > - Meditasi….Syeikh Siti Jennar …., bagaimana…ya. ?
> >
> > - Meditasi… Sunan Kudus…., beda …lho…?.
> >
> > - Meditasi….Sunan Kali Jaga…mungkin juga berbeda dengan
> kedua
> > tokoh itu.
> >
> > Mungkin…, bisa sedikit di singgung ? – ya,…biar
dongengnya..semakin

> > seru..dan ramai.
> >
> >
> > Thanks / Sudrajat
> >
> >
> >
> > -----Original Message-----
> > From: Spiritual-Indonesia
> <mailto:Spiritual-Indonesia%40yahoogroups.com> @yahoogroups.com
> > [mailto:Spiritual-Indonesia
> <mailto:Spiritual-Indonesia%40yahoogroups.com> @yahoogroups.com] On
> Behalf Of bambang
> satrio
> > Sent: Sunday, July 20, 2008 6:11 PM
> > To: Spiritual-Indonesia <mailto:Spiritual-Indonesia%
40yahoogroups.com>
> @yahoogroups.com
> > Subject: [Spiritual-Indonesia] Re: Kejawen Islam ( AJI PAMELENG )
> >
> > RAHAYU
> >
> > Salam Kenal Mang Dipo dan Mas Bus.
> > Hanya sekedar menambahkan tentang asal usul KEJAWEN ISLAM,
semoga

> > ada gunanya buat rekan-rekan SI semua :
> >
> > AJI PAMELENG
> >
> > Tegesipun aji = ratu, pameleng = pasamaden; mengku pikajeng :
> > tandaning sedya ingkang luhur piyambak. Dene empaning pandamelan
> wau
> > winastan manekung, pujabrata, mesu budi, mesu cipta, ngeningaken
> > utawi angluhuraken paningal, matiraga lan sasaminipun.
> >
> > Papan ingkang kangge nindakaken wau panepen, panekungan,
pamujan,

> > pamurcitan, pamursitan, pahoman, paheningan lan sanes-sanesipun.
> > Dene wedharing kawruh winastan daiwan, dawan, tirtaamerta,
> > tirtakamandhanu, tirtanirwala, mahosadi, kawasanan, kawaspadan,
> > kawicaksanaan, sastracetha, utawi sastrajendrayuningrat
> pangruwating
> > diyu lan sapanunggalanipun.
> >
> > Menggah pigunanipun kawruh lan pandamel wau, perlu kangge
> sarananing
> > panembah murid manggih kawilujengan, margi saged anindakaken
> dhateng
> > sawarnaning pandamel sae, punapadene kangge sarana duk kita
darbe
> > sedya nunuwun kanugrahaning gesang kita pribadi (Pangeran),
inggih
> > nunuwun bab punapa kemawon ingkang limrah kenging linampahan
> saking
> > pandamel kita ingkang boten tilar murwat.
> >
> > Wondene purwanipun ing jagad teka wonten kawruh pasamaden, bilih
> > miturut saking tembung-tembungipun, sanyata kathah ingkang
nagngge
> > basa Sansekrit; yen makaten tetela manawi wimbaning kawruh
> pasamaden
> > wau saking tumitising kawicaksananipun bangsa Indhu ing jaman
kina
> > makina, ingkang sampun boten kasumerepan petang ewoning taun.
> > Bokmanawi kemawon papantaranipun kalihan nalika bangsa Indhu
> > amurwani iyasa candhi dalah reca-recanipun. Dene kawruh wau ing
> > sakawit inggih namung kangge bangsa Indhu, boten nawang bangsa
> Indhu
> > ingkang agami punapa kemawon, katamtokaken mesthi ngrasuk
> pasamaden.
> > Awit inggih namung kawruh pasamaden punika ingkang dados
mukaning
> > saliring kawruh sajagad, lan ugi dados pangajenging piwulan
agami.
> >
> > Ing ngalami lami bangsa Indhu sami lumeber dhateng ing Tanah
Jawi
> > lan sanes sanesipun, serta sami anggelaraken agaminipun tuwin
> kawruh
> > sanes sanesipun; makaten ugi kawruh pasamaden inggih boten
kantun.
> > Kawruh pamasaden wonten ing Tanah Jawi saget ngrembaka
tuwuhipun,

> > margi bangsa Jawi tan pilih drajad sami remen puruita lan saged
> > nandangaken dating pangolahing kawruh punika, awit kawruh wau
> saget
> > nocoki kalihan dhadhasaring pamanahipun titiyang Jawi, mila
> kalayan
> > gampil rumasukipun wonten ing balung sungsuming titiyang Jawi.
> > Kasembuh malih saking kathahing bangsa Indhu kados sinuntak sami
> > angajawi, nedya anggelar agami Jawi lan kawruh kawicaksananipun.
> > Bebasan sakedeping netra, bangsa Jawi ing sa'indhengipun maratah
> > sampun sami angrasuk agami Indhu, lan ugi sampun sami saget
> > ngraosaken kabegjan, kamulyan, kawilujengan lan sasaminipun,
margi
> > saking wohing kawruh pandamel wau.
> >
> > Ing wusana katungka dhatengipun titiyang bangsa Arab sami
lumebet

> > ing Tanah jawi, ingkang ugi ambekta kawruh lan agaminipun
> Mohammad,
> > kasebut agami Islam, temah nyunyuda tumangkaring agami Indhu,
> sebab
> > lajeng wonten ingkang angrasuk agami Islam. Namung kemawon
> wedharing
> > agami Islam boten andarbeni kawruh pasamaden, kados kasebut ing
> > nginggil.
> >
> > Sareng golonganipun tiyang Islam sampun saget ngendhih Nagari,
> > inggih punika adeging Karaton Bintara (Demak), ing ngriku lajeng
> > angawisi kalayan kenceng, titiyang Jawi boten kenging
anindakaken

> > kawruh pasamaden, mekaten ugi sami kinen nilar agaminipun lami,
> > serta kedah santun angrasuk agami Islam.
> >
> > Ananging boten ta manawi bangsa Jawi lajeng anut purun santun
> agami
> > Islam sadaya, purunipun wau namung margi saking ajrih paukuman
> > wisesaning Nata, dados Islam-ipun wau namung wonten ing lahir
> > kemawon, utawi Islam pangaran-aran, yen batosipun taksih
> angrungkepi
> > agamipun lami. Milo bab kawruh pasamaden inggih taksih lajeng
> > katindakaken, ananging pamulang pamedharing kawruh pasamaden
wau,
> > ingkang karan nama wejangan (wijang-wijang) sarana lampah
> > dhedhemitan, katindakaken ing wanci ndalu sasampunipun jam 12,
ugi

> > papaning pamejang boten kenging kaubah wangon, kadosta ing ara-
> ara,
> > ing wana, ing lepen lan sasaminipun ing papan ingkang sepen.
> > Pamejangipun srana bisikan boten kenging kapireng ngasanes,
> sanadyan
> > suket godhong, kewan tuwin bangsanipun gegremetan kutu-kutu
> > walangataga ugi boten kenging miring, yen miring lajeng malih
> dados
> > manungsa. Mila linggihipun Kyai Guru ajeng-ajengan aben bathuk
> > kaliyan pun murid, serta sanget pamantos-mantosipun Kyai Guru,
pun
> > murid boten kenging nularaken wewejanganipun (kawruhipun)
dhateng
> > tiyang sanes, bilih dereng angsal palilah Guru, yen nerak bade
> > angsal wilalat manggih sapudendhaning Pangeran. Panindak ingkang
> > mekaten punika, purwanipun namung tetep kangge panjagi, supados
> > pamulanging kawruh pasamaden boten katupiksan dhateng
> pamarintahing
> > agami Islam. Sebab yen ngantos kasumerepan, tamtu manggih pidana.
> >
> > Dumuginipun ing jaman samangke, sanadyan Nagari sampun boten
> > angarubiru dhateng wontenipun wewejangan kawruh pasamaden,
nanging
> > panindaking wejangan wau taksih kalestantunaken sarana
dhedhemitan
> > kados kawursita ing nginggil. Mila lajeng angsal paparab saking
> > panyedaning titiyang ingkang boten remen, utami tiyang ingkang
> > anglampahi sarengating agami Islam, bilih wontening wejangan
> kawruh
> > pasamaden wau lajeng kawastan ilmu klenik. Purwo saking tembung
> > klenik, lajeng angandhakaken tembung abangan lan putihan.
Ingkang
> > kasebut abangan punika tiyang ingkang boten nindakaken saraking
> > agami Islam, dene putihan mastani tiyang Jawi ingkang teluh
> manjing
> > agami Islam sarta anglampahi sadaya sarak sarengating agami
Islam
> > wau, inggih punika ingkang kasebut nama santri. Mila santri
karan
> > putihan, margi miturut panganggenipun titiyang agami Islam,
bilih
> > santri punika sarwo-sarwi langkung resik utawi suci tinimbang
> > kaliyan titiyang ingkang boten angrasuk agami Islam.
> >
> > Mangsuli wontening kawruh pasamaden anggenipun sanget winados,
> > menggah ingkang dados sababipun kapretalakaken ing nginggil.
Dene
> > yen saleresipun ingkang nama wados-wados wau pancen boten
wonten;
> > dados inggih kenging-kenging kemawon kawulangaken dhateng sok
> > tiyanga, boten mawang nem sepuh, serta kenging kawejangaken ing
> > sawanci-wancinipun, uger tiyang wau pancen ambetahaken kawruh
> > pasamaden kasebat. Sebab wontenipun sadaya punika supados
> > kasumerepan dhateng ingakathah, langkung-langkung kawruh
pasamaden
> > punika ingkang sanyata dados mukaning sadaya kawruh. Mila wajib
> > sinebar dados seserepaning tiyang nem sepuh wadarin ing
> > saindengipun, tanpa nawang andhap inggiling darajadipun.
> >
> > Amarengi wahyaning mangsakala, wusana wonten kaelokaning
> lalampahan
> > ingkang boten kanyana-nyana; ing pawingkingipun bab kawruh
> pasamaden
> > wau lajeng muncul katampen dhateng tiyang Islam, margi yakin
bilih
> > kawruh pasamaden wau, pancen musthikaning gagayuhan ingkang
saged

> > andhatengaken ing kawilujengan, kamulyan, katentreman, lan
> > sasaminipun. Mila kawruh wau dening tiyang ingkang sampun suluh
> > papadhanging raosipun inggih punika Seh Sitijenar, ingkang ugi
> dados
> > pramugarining agami Islam apangkat Wali, lajeng kadhapuk ing
> ndalem
> > serat karanganipun, ingkang lajeng winastan daim, wirid saking
> > tembung daiwan kasebut ing nginggil. Punapadene lajeng kaewoaken
> > dados saperanganing panembah, sarana dipun wewahi tembungipun,
> > lajeng mungel : salat daim (salat - basa arab, daim saking
daiwan
> > basa Sansekrit). Milanipun dipun wewahi basa arab, namung
> > kawigatosan kangge mikekahaken kapitadosanipun murid-muridipun
> > ingkang sampun sami necep agami Islam. Punapadene tembung salat
> > lajeng kapilah kalih prakawis. Sapisan salat 5 wekdal, kasebut
> > salat sarengat, ateges panembah lahir. Kaping kalih salat daim,
> > punika panembahing batos; mangertosipun : anekadaken
manunggaling
> > pribadinipun, utawi kasebut loroning atunggil.
> > Kitab karanganipun Seh Sitijenar wau lajeng kangge paugeraning
> > piwulang. Sareng sampun angsal kawigatosaning ngakathah, ing
> ngriku
> > salat 5 wekdal lan sarak agami sanes-sanesipun lajeng kasuwak
> boten
> > kawulangaken babar pisan. Ingkang pinindeng namung mumuruk
> > tumindaking salat daim kemawon. Mila titiyang Jawi ingkang suwau
> > manjing agami Islam, langkung-langkung ingkang dereng, lajeng
sami
> > ambyuk maguru dhateng Seh Sitijenar, margi piwulangipun langkung
> > gampil, terang lan nyata.
> >
> > Wondene purwanipun Seh Sitijenar kaserenan kawruh pasamaden,
> ingkang
> > mijeni Kyai Ageng Pengging, sebab Seh Sitijenar punika
> > mitradarmanipun Kyai Ageng Pengging. Kawruh pasamaden, dening
Seh
> > Sitijenar lajeng katularaken Raden Watiswara, inggih Pangeran
> > Panggung, ingkang ugi apangkat Wali. Lajeng tunimbal dhateng
Sunan
> > Geseng, inggih Ki Cakrajaya, tiyang asal saking Pagelen, ingkang
> > kacarios saderengipun dados Wali, Ki Cakrajaya wau
pandamelanipun
> > anderes nitis gendhis. Salajengipun sumrambah kawiridaken
dhateng

> > ingakatah. Makaten ugi sakabat-sakabatipun Seh Sitijenar ingkang
> > sampun kabuka raosipun, dening Seh Sitijenar kinen sami madeg
> > paguron amiridaken kawruh pasamaden wau. Sangsaya dangu sangsaya
> > ngrebda, anyuremaken panguwaosing para Wali, anggenipun
> amencaraken
> > piwulang agami Islam. Yen kalajeng-lajeng masjid saestu badhe
> suwung.
> >
> > Ngawekani sampun ngantos wonten kadadosan ingkang makaten, temah
> > Kyai Ageng Pengging tuwin Seh Sitijenar sasekabatipun ingkang
sami
> > pinejahan katigas jangganipun dening para Wali, saking
dhawuhipun
> > Sultan Demak. Makaten ugi Pangeran Panggung boten kantun,
kapidana
> > kalebetaken ing brama gesang-gesangan wonten samadyaning alun-
alun
> > Demak, kangge pangewan-ewan murih titiyang sami ajrih, lajeng
sami
> > mantuni utawi nglepeh piwulangipun Seh Sitijenar.
> >
> > Kacariyos sariranipun Pangeran Panggung boten tumawa dening
> > mawerdining Hyang Brama, lajeng oncat medal saking salebeting
latu
> > murub, nilar nagari Demak. Kanjeng Sultan Bintara tuwin para
Wali
> > sami kablerengen kaprabawan katiyasaning Pangeran Panggung,
temah
> > kamitenggengen kadi tugu sinukarta. Sareng sampun sawatawis
tebih
> > tindakipun Sang Pangeran, Kanjeng Sultan tuwin para Wali saweg
> sami
> > enget bilih Pangeran Panggung kalis saking pidana, temah sami
> rumaos
> > kawon angsal sihing Pangeran. Katungka unjuking wadyabala, atur
> > uninga bilih Sunan Geseng, inggih Ki Cakrajaya, kesah anututi
> > lampahipun Pangeran Panggung. Ing ngriku Kanjeng Sultan
katetangi
> > dukanipun, temah dhawahing bendu, para sakabat tuwin murid-
> muridipun
> > Seh Sitijenar ingkang kapikut lajeng sami pinejahan. Ingkang
boten
> > kacepeng sami lumajar pados gesang.
> >
> > Para sakabatipun Seh Sitijenar ingkang taksih wilujeng
> > kakantunanipun ingkang sami pejah, ugi taksih sami madeg paguron
> > nglestantunaken pencaring kawruh pasamaden, nanging mawi
sislintru
> > tinutupan wuwulang sarengating agami Islam, murih boten
ka'arubiru
> > dening para Wali pramugarining praja. Dene piwulangipun kados
ing
> > ngandhap punika :
> >
> > Pamulanging kawruh pasamaden ingkang lajeng karan salat daim,
> > karangkepan wuwulang salat 5 wekdal tuwin rukuning Islam sanes-
> > sanesipun malih. Wewejanganipun salat daim wau lajeng winastan
> > wiridan naksobandiyah, dene panindaking piwulang kawastan
tafakur.
> > Saweneh wonten ingkang pamulangipun ing saderengipun para murid
> > nampi wiridan salat daim, langkung rumiyin kalatih lampah
> > dhidhikiran lan maos ayat-ayat. Wiwit punika wuwulangan
pasamaden
> > lajeng wonten wanrni kalih, inggih punika :
> >
> > 1. Piwulang pasamaden wiwiridan saking para sekabatipun Seh
> > Sitijenar, ingkang sarana tinutupan utawi aling-aling sarak
> rukuning
> > agami Islam. Wuwulangan wau dumuginipun ing jaman samangke
sampun
> > mleset saking jejer ing sakawit, mila para guru samangke,
ingkang
> > sami miridaken kawruh pasamaden, ingkang dipun santuni nama
> > naksobandiyah utawi satariyah, nginten bilih kawruh wau
wiwiridan
> > saking ngulami ing Jabalkuber (Mekah). Salajengipun para Kyai
guru

> > wau, amastani guru klenik dhateng para ingkang sami miridaken
> kawruh
> > pasamaden miturut wawaton Jawi pipiridan saking Seh Sitijenar.
> > Punapadene para Kyai guru wau nyukani paparab nama Kiniyai,
> > pikajengipun : guru ingkang mulangaken ilmuning setan. Dene nama
> > Kyai, punika guru ingkang mulangaken ilmuning para nabi.
> >
> > 2. Piwulang pasamaden miturut Jawi, wiji saking Kyai Ageng
> > Pengging, ingkang kapencaraken dening Seh Sitijenar (ingkang ing
> > samangke karan klenik), punika ing sakawit, ingkang dados
> purwaning
> > piwulang, dumunung wonten panggulawenthahing wawatekan 5
prakawis,
> > kados ing ngandhap punika :
> >
> > 1. Setya tuhu utawi temen lan jujur.
> > 2. Santosa, adil paramarta, tanggeljawab boten lewerweh.
> > 3. Leres ing samubarang damel, sabar welas asih ing sasami,
> > boten ngunggul-unggulaken dhirinipun, tebih saking watak
> panganiaya.
> > 4. Pinter saliring kawruh, langkung-langkung pinter ngecani
> > manahing sasami-sami, punapadene pinter angereh kamurkaning
manah

> > pribadi, boten anguthuh melik anggendhong lali, margi saking
> > dayaning mas picis rajabrana.
> > 5. Susila anor-raga, tansah nganggeni tatakrami, maweh
> > rereseping paningal tuwin sengseming pamiharsa, dhateng ingkang
> sami
> > kataman.
> >
> > Lampah 5 prakawis wau kedah linampahan winantu ing pujabrata
> > anandangaken ulah samadi, inggih amesu cipta angeningaken
> > pranawaning paningal. Awit saking makaten punika mila tumrap
> > panindaking agami Jawi (Buda), bab kawruh pasamaden tuwin lampah
5
> > prakawis wau kedah kawulangaken dhateng sadaya titiyang enem
sepuh
> > boten pilih andhap inggiling darajatipun. Mila makaten, sebab
> > musthikaning kawruh tuwin luhur-luhuring kamanungsan, punika
bilih
> > tetep samadinipun, kuwasa anindakaken lampah 5 prakawis kados
> > kawursita ing nginggil. Temah kita manggen ing sasananing
> > katrenteman, dene wontening katentreman mahanani harja kerta lan
> > kamardikan kita sami. Yen boten makaten, ngantos sabujading
jagad,
> > kita badhe nandhang papa cintraka, kagiles dening rodha
jantraning

> > jagad, margi kacidraning manah kita pribadi.
> >
> > Bab kawruh pasamaden ingkang lajeng karan wiridan naksobandiyah
> lan
> > satariyah, ingkang ing nguni wiwiridan saking Seh Sitijenar,
> sampun
> > ka'andharaken ing nginggil, namung kemawon tumandangipun boten
> > kawedharaken. Ing riki namung badhe anggelaraken lampah
> tumandanging
> > samadi sacara Jawi, ingkang dereng kacarobosan agami sanes,
inggih
> > punika makaten :
> >
> > Para nupiksa, mugi sampun kalintu panampi, bilih samadi punika
> > angicalaken rahsaning gesang utawi nyawanipun (gesangipun) medal
> > saking badan wadhag. Panampi makaten punika, purwanipun mirid
> saking
> > cariyos lalampahanipun Sri Kresna ing Dwarawati, utawi Sang
Arjuna

> > yen angraga-suksma. Mugi kawuninganana, bilih cariyos makaten
> punika
> > tetep namung kangge pasemon utawi pralambang.
> >
> > Ing samangke wiwit wedharaken lampahing samadi makaten : tembung
> > samadi = sarasa - rasa tunggal - maligining rasa - rasa jati -
> rasa
> > nalika dereng makarti. Dene makartining rasa jalaran saking
> > panggulawenthah utawi piwulang, punapadene pangalaman-pangalaman
> > ingkang tinampen utawi kasandhang ing sadinten-dintenipun.
Inggih
> > makartining rasa punika ingkang kawastanan pikir. Saking
dayaning
> > panggulawenthah, piwulang tuwin pangalaman-pangalaman wau, pikir
> > lajeng gadhah panganggep awon lan sae, temah anuwuhaken
tatacara,
> > pamacak lan sanes-sanesipun ingkang lajeng dados pakulinan.
Punapa
> > panganggep awon sae, ingkang sampun dados tata-cara margi sampun
> > dados pakulinan punika, yen awon inggih awon sayektos, yen sae
> > inggih sae temenan, punika dereng tamtu, jer punika namung
> > pakulinaning panganggep. Dene panganggep, boten yekti, tetep
> namung
> > ngenggeni pakulinaning tata-cara, dados inggih dede kajaten
utawi

> > kasunyatan. Menggah pikajenganipun samadi ing riki, boten wonten
> > sanes namung badhe nyumerepi kajaten, dene sarananipun boten
> wonten
> > malih kajawi nyumerepi utawi anyilahaken panganggep saking
> > makartining rasa, kasebut sirnaning papan lan tulis. Inggih ing
> riku
> > punika jumenenging rasa jati kang nyata, kang yekti, kang weruh
> > tanpa tuduh. Wondene kasembadanipun kedah angendelaken ing
> > saniskara, sarana angereh solahing anggota (badan). Mangrehing
> > anggota wau ingkang langkung pikantuk kalihan sareyan malumah,
> saha
> > sidhakep utawi kalurusaken mangandhap, epek-epek kiwa tengen
> > tumempel ing pupu kiwa tengen, suku ingkang lurus, dalamakan
suku
> > ingkang tengen katumpangaken ing dalamakan suku kiwa, mila
lajeng
> > kasebut sidhakep suku (saluku) tunggal. Punapadene angendelna
> > ebahing netra (mripat), inggih punika ingkang kawastanan meleng.
> > Lampah makaten wau ingkang kuwasa ngendelaken osiking cipta
> > (panggagas), tuwin amuntu ilining rahsa, dene pancering paningal
> > kasipatna amandeng pucuking grana medal saking sa'antawising
netra
> > kakalih, inggih punika ing papasu, dene pamandengipun kedah
> kalayan
> > angeremaken netra kakalih pisan.
> >
> > Sasampunipun lajeng nata lebet wedaling napas (ambegan)
makaten :
> > panariking napas saking puser kasengkakna minggah anglangkungi
> > cethak ingga dumugi ing suhunan (utek = embun-embunan), sarta
mawi
> > kaendelna ing sawatawis dangunipun. Sumengkanipun napas wau
> > kadosdene darbe raos angangkat punapa-punapa, dene temenipun
> ingkang
> > kados kita angkat, punika ilining rahsa ingkang kita pepet
saking
> > sumengkaning napas wau, menawi sampun kraos awrat panyangginipun
> > napas, inggih lajeng ka'edhakna kalayan alon-alon. Inggih patrap
> > ingkang makaten punika ingkang kawastanan sastracetha. Tegesipun
> > cetha = empaning kawruh, cetha = antebing swara cethak, inggih
> > cethaking tutuk kita punika. Mila winastan makaten, awit duk
kita
> > mangreh sumengkaning napas anglangkungi dhadha lajeng minggah
> malih
> > anglangkungi cethak ingga dumugi suhunan. Menawi napas kita
dipun
> > ereh, dados namung manut lampahing napas piyambak, tamtu boten
> saget
> > dumugi ing suhunan, margi saweg dumugi ing cethak lajeng sampun
> > medhak malih. Punapadene ugi winastan daiwan (dawan),
> pikajengipun :
> > mangreh lebet wedaling napas ingkang panjang lan sareh, sarwi
> > mocapaken mantra sarana kabatos kemawon, inggih punika mungel
`hu'
> > kasarengan kalihan lumebeting napas, inggih panariking napas
> saking
> > puser, minggah dumugi ing suhunan. Lajeng `ya', kasarengan
kalihan

> > wedaling napas, inggih medhaking napas saking suhunan dumugi ing
> > puser, minggah mandhaping napas wau anglangkungi dhadha lan
> cethak.
> > Dene, anggenipun kawastanan sastracetha, margi nalika mocapaken
> > mantra sastra kakalih : hu - ya, wedaling swara ingkang namung
> > kabatos wau, ugi kawistara saking dayaning cethak. (Ungeling
> mantra
> > utawi panebut kakalih : hu – ya, ing wiridan naksobandiyah
> kaewahan
> > dados mungel, hu – Allah, panebutipun ugi kasarengan lampahing
> > napas. Dene ing wiridan satariyah, panebut wau mungel : hailah –
> > haillolah, nanging tanpa angereh lampahing napas).
> >
> > Menggah lebet medaling napas kados kasebut ing nginggil,
> > sa'angkatanipun namung kuwasa angambali rambah kaping tiga, mila
> > makaten, awit napas kita sampun boten kadugi manawi kinen
> > anandangana malih, jalaran sampun menggeh-menggeh. Dene manawi
> > sampun sareh, inggih lajeng ka'angkatana malih, makaten
> salajengipun
> > ngantos marambah-rambah sakuwawinipun, margi saya kuwawi dangu,
> > sangsaya langkung prayogi sanget. Dene sa'angkataning pandamel
wau
> > kawastan : tripandurat, tegesipun tri = tiga, pandu = suci, rat
=
> > jagad – badan – enggen, suraosipun : kaping tiga napas kita
saget
> > tumameng ing ngabyantaraning ingkang Maha suci manggen ing
> > salebeting suhunan (ingkang dipun suwuni). Inggih punika ingkang
> > kabasakaken paworing kawula Gusti, tegesipun : manawi napas kita
> > sumengka, kita jumeneng gusti, yen tumedhak, wangsul dados
kawula.
> > Bab punika para nupiksa sampun kalintu tampi ! Menggah ingkang
> dipun
> > wastani kawula gusti punika dede napas kita, nanging dayaning
> cipta
> > kita. Dados ulah samadi punika, pokokipun kita kedah
amanjangaken
> > panjing wijiling napas (lebet wedaling napas), kalihan
> angeningaken
> > (ambeningaken) paningal, sebab paningal punika kadadosan saking
> > rahsa.
> >
> > Wondene patraping samadi kados kasebut ing nginggil wau, ugi
> kenging
> > karancagaken, uger kita tansah lumintu tanpa pedhot mangeh
panjing
> > wijiling napas, kalihan lenggah, lumampah, utawi nyambutdamel
> inggih
> > kedah boten kenging tilar mangreh lebet wedaling napas wau,
> ingkang
> > sarana mocapaken mantra mungel : hu – ya, kados ingkang kajarwa
> ing
> > nginggil.
> >
> > Kajawi punika, wirid saking tembung daiwan punika ugi taksih
darbe
> > maksud sanesipun malih, inggih punika ateges panjang tanpa
ujung,
> > utawi ateges langgeng. Dene pikajengipun amastani bilih
wontening
> > napas kita punika sanyata wahananing gesang kita ingkang
langgeng,
> > inggih wontening ambegan kita. Dene ambegan punika, sanyata
> > wontening angin ingkang tansah mlebet medal tanpa kendel,
ingkang
> > sasarengan kalihan keketeg panglampahing rah (roh). Bilih
kakalih
> > wau kendel boten makarti nama pejah, inggih risaking badan
wadhag

> > wangsul dados babakalan malih. Mila sayogyanipun lampahing napas
> > inggih ambegan kita ingkang tansah mlebet medal tanpa kendel,
> kedah
> > kapanjang-panjangana lampahipun, murih panjanga ugi umur kita,
> temah
> > saget awet wonten ing donya tutug panyawangipun dhateng anak,
> putu,
> > buyut, canggah, wareng, ingkang babranahan.
> >
> > Wontenipun andharan ing nginggil, mratelakaken bilih kawruh
> > pasamaden punika sanyata langkung ageng pigunanipun, mila lajeng
> > sinebut sastrajendrayuningrat pangruwating diyu. Tegesipun
sastra

> =
> > empaning kawruh, jendra = saking panggarbaning tembung harja
> endra.
> > Tegesipun harja = raharja, endra = ratu – dewa, yu = rahayu –
> > wilujeng, ningrat = jagad – enggen – badan. Suraosipun :
> > Musthikaning kawruh ingkang kuwasa amartani ing karahayon,
> kaharjan,
> > katentreman lan sapatunggalipun. Dene tegesesipun pangruwating
> diyu
> > = amalihaken diyu; dene diyu = danawa – raksasa – asura – buta,
> > punika kangge pasemoning piawon, penyakit, rereget, babaya,
> > pepeteng, kabodhohan lan sanesipun. Dados diyu punika
> > kosokwangsulipun dewa, engkang ateges pinter, sae, wilujeng lan
> > sapanunggilipun. Mengku suraos amastani ingkang saget
anyirnakaken
> > saliring piawon tuwin samubarang babaya pekewed. Mangertosipun,
> > sinten ingkang tansah ajeg lumintu anandangaken ulah samadi,
> punika
> > bilih ing suwaunipun tiyang awon, lajeng sirna piawonipun, malih
> > dados tiyang sae lampahipun. Tiyang sakit sirna sakitipun, dados
> > saras, tiyang murka daksiya lajeng narimah sabar, welasasih.
> Tiyang
> > goroh lajeng dados temen. Tiyang bodho dados pinter. Tiyang
pinter

> > dados pinter sanget. Makaten ugi tiyang golongan sudra dados
> waesia,
> > waesia dados satriya, satriya dados brahmana, brahmana sumengka
> > pangawak braja asarira bathara.
> >
> > RAHAYU
> >
> > BS
> >
> > --- In Spiritual-Indonesia
> > <mailto:Spiritual-Indonesia%40yahoogroups.com> @yahoogroups.com,
> > bustanus salatin
> > <ki_ageng_jenar@> wrote:
> > >
> > > buku SATRIO PANINGIT, BENCANA NUSANTARA,
MANUNGGALINGKAWULOGUSTI
> > dalam UNIVERSALITAS KEAGAMAAN
> > > ISBN:978-979-17824-0-1/barcode
> > >
> > > Bab 10: Kajian Tafsir Huruf Muqota'ah: Pandangan Siti Jenar
dan
> > Husain ibnu Mansur al-Hallaj dalam Manunggaling Kawulo Gusti
> > >
> > > Syekh Siti Jenar begitu sering dihubung-hubungkan dengan al-
> Husain
> > ibnu Mansur al-Hallaj atau singkatnya Al-Hallaj saja, sufi
Persia
> > abad ke-10, yang sepintas lalu ajarannya mirip dengan Siti
Jenar,
> > karena ia memohon dibunuh agar tubuhnya tidak menjadi penghalang
> > penyatuannya kembali dengan Tuhan. Adalah Al-Hallaj yang karena
> > konsep satunya Tuhan dan dunia mengucapkan kalimat, "Akulah
> > Kebenaran/ Anna al Haq," yang menjadi alasan bagi hukuman
matinya
> > pada 922 Masehi di Baghdad. Seperti Syekh Siti Jenar pula, nama
Al-
> > Hallaj menjadi monumen keberbedaan dalam penghayatan agama,
> sehingga
> > bahkan diandaikan bahwa jika secara historis Syekh Siti Jenar
tak
> > ada, maka dongengnya adalah personifikasi saja dari ajaran Al-
> > Hallaj, bagi yang mendukung maupun yang menindas ajaran tersebut.
> > > petikan atas kutipan dari Serat Siti Jenar yang diterbitkan
oleh

> > Tan Khoen Swie, Kediri, pada 1922:
> > > Kawula dan gusti sudah ada dalam diriku, siang dan malam tidak
> > dapat memisahkan diriku dari mereka. Tetapi hanya saat ini nama
> > kawula-gusti itu berlaku, yakni selama saya mati. Nanti, kalau
> saya
> > sudah hidup lagi, gusti dan kawula lenyap, yang tinggal hanya
> > hidupku, ketenteraman langgeng dalam Ada sendiri.
> > > Hai Pangeran Bayat, bila kau belum menyadari kebenaran kata-
> kataku
> > maka dengan tepat dapat dikatakan, bahwa kau masih terbenam
dalam
> > masa kematian. Di sini memang banyak hiburan aneka warna. Lebih
> > banyak lagi hal-hal yang menimbulkan hawa nafsu. Tetapi kau
tidak
> > melihat, bahwa itu hanya akibat pancaindera.
> > > Itu hanya impian yang sama sekali tidak mengandung kebenaran
dan

> > sebentar lagi akan lenyap. Gilalah orang yang terikat padanya,
> tidak
> > seperti Syeh Siti Jenar. Saya tidak merasa tertarik, tak sudi
> > tersesat dalam kerajaan kematian. Satu-satunya yang kuusahakan,
> > ialah kembali kepada kehidupan
> > > Dalam pupuhnya, Syekh Siti Jenar merasa malu apabila harus
> > berdebat masalah agama. Alasannya sederhana, yaitu dalam agama
> > apapun, setiap pemeluk sebenarnya menyembah zat Yang Maha Kuasa.
> > Hanya saja masing - masing menyembah dengan menyebut nama yang
> > berbeda - beda dan menjalankan ajaran dengan cara yang belum
tentu
> > sama. Oleh karena itu, masing - masing pemeluk tidak perlu
saling
> > berdebat untuk mendapat pengakuan bahwa agamanya yang paling
benar.
> > > Syekh Siti Jenar juga mengajarkan agar seseorang dapat lebih
> > mengutamakan prinsip ikhlas dalam menjalankan ibadah. Orang yang
> > beribadah dengan mengharapkan surga atau pahala berarti belum
bisa
> > disebut ikhlas.
> > > Manunggaling Kawula Gusti, Dalam ajarannya ini, pendukungnya
> > berpendapat bahwa Syekh Siti Jenar tidak pernah menyebut dirinya
> > sebagai Tuhan. Manunggaling Kawula Gusti dianggap bukan berarti
> > bercampurnya Tuhan dengan Makhluknya, melainkan bahwa Sang
> Pencipta
> > adalah tempat kembali semua makhluk. Dan dengan kembali kepada
> > Tuhannya, manusia telah menjadi sangat dekat dengan Tuhannya.
> > > Dan dalam ajarannya, 'Manunggaling Kawula Gusti' adalah bahwa
di
> > dalam diri manusia terdapat ruh yang berasal dari ruh Tuhan
sesuai
> > dengan ayat Al Qur'an yang menerangkan tentang penciptaan
manusia
> ("
> > Ketika Tuhanmu berfirman kepada malaikat: "Sesungguhnya Aku akan
> > menciptakan manusia dari tanah. Maka apabila telah Kusempurnakan
> > kejadiannya dan Kutiupkan kepadanya roh Ku; maka hendaklah kamu
> > tersungkur dengan bersujud kepadanya (Shaad; 71-72)"). Dengan
> > demikian ruh manusia akan menyatu dengan ruh Tuhan dikala
> > penyembahan terhadap Tuhan terjadi.
> > > Riwayat pertemuan Ibrahim ibn Sam'an dengan Husain bin Mansur
al
> > Hallaj ( Kutipan dari Buku Husain bin Manshur al Hallaj,
karangan
> > Louis Massignon)
> > > Aku melihat al Hallaj pada suatu hari di masjid al Mansur: Aku
> > memiliki 2 dinar dalam sakuku dan aku berpikir untuk
menghabiskan
> > uang itu untuk hal-hal yang melanggar hukum. Seseorang datang
dan
> > memintah sedekah.Dan Husain bin Mansur al Hallaj berkata:' Ibnu
> > Sam'an berikanlah sedekah dengan apa yang kamu simpan di dalam
> > jubahmu, aku terdiam dan menangis, " oh syaikh,bagaimana engkau
> > mengetahui hal itu?'' Al Hallaj berkata:' Setiap hati yang
> > mengosongkan diri dari yang selain Alloh, dapat membaca
kesadaran
> > orang dan menyaksikan apa yang ghoib''. Ibnu Sam'an berkata:''
> > o,syaikh ajarilah aku sebuah hikmah''. Kemudian berkata al
> > Hallaj :''Orang yang mencari Tuhan dibalik huruf miim dan ain
akan
> > menemukan Nya.Dan seseorang yang mencarinya dalam konsonan
idhafah
> > antara alif dan nun, orang itu akan kehilangan Dia. Karena Dia
itu
> > Maha Suci, di luar jangkauan pikiran dan diatas yang
terselubung ,
> > yang berada di dalam diri setiap
> > > orang. Kembalilah kepada Tuhan, Titik Terakhir adalah Dia.
Tidak
> > ada "Mengapa" di hari akhir kecuali Dia.Bagi manusia "MA/ yaitu
> miim
> > dan ain" milik Dia berada dalam miim dan ain makna ""MA"" ini
> adalah
> > Tuhan Maha Suci. Dia mengajak makhluk terbang menuju
Tuhan. "miim"
> > membimbing ke Dia dari atas ke bawah. "ain"membimbing ke Dia
dari
> > Jauh dan Luas.
> > >
> > > Ilmu Huruf Muqota'ah
> > > Ilmu huruf, yang didasarkan pada satu bahsa suci, tentulah
> > memiliki sebuah fondasi mistis yang diperlukan. Orang bisa
> > menemukan doktrin ini dalam puisi mistis yang terkenal Ghulsyan-
i
> > Raz (Taman Mawar), karya Syabistari: " Bagi orang yang jiwanya
> > adalah manifestasi Tuhan yaitu al Qur'an, keseluruhan alam ini
> > adalah huruf-huruf vokalNya dan substansinya adalah huruf
konsonan

> > Nya " Pasal 200-209 puisi Ghulsyan-i Raz.
> > > Abu Ishaq Quhistani, sufi Islam, menegaskan pentingnya ilmu
> huruf
> > dengan menyatakan bahwa " ilmu huruf adalah akar dari segala
> ilmu ".
> > Secara skematis ilmu huruf mengandung :
> > >
> > > Simbolisme ketuhanan dan metafisika atau /metakosmik
> > > Simbolisme universal / makrokosmik yang didasarkan pada
> > korespondensi antara huruf-huruf dan benda astrologis (ruang
> > angkasa/ planet/ lambang zodiak dll)
> > > Simbolisme manusia dan individu yang didasarkan pada
> korespondensi
> > fisiologis/organ tubuh
> > > Jumlah huruf muqatta'ah (terpotong) ada 14 huruf yaitu :alif
lam
> > miim,ha miim, alif lam ra, tha ha,ha miim ain sin qaf, ya sin,
kaf
> > ha ya `ain shad, kaf dan nun. Kalau dirangkai keseluruhannya
> menjadi
> > sebuah kalimat : Shiratu `aliyin haqqun namsikuhu (jalan Ali
> adalah
> > kebenaran yang kita pegang). huruf muqatta'ah (terpotong) adalah
> > huruf-huruf yang merupakan rumusan dialog antara Alloh swt
dengan
> > kekasihnya (para Nabi dan para Wali)
> > > Apa Makna miim dan ain sehingga dapat menemukan Tuhan dan
> bertemu
> > dengan Nya dan Mengapa ketika mencari Tuhan dibalik huruf alif
dan
> > nun maka tidak bisa bertemu dengan Nya?
> > > Tafsir Miim (numerology Arabiyah)::
> > >
> > > Huruf miim merupakan muhammad rosulillah atau Ahmad, yang
> > merupakan pintu menuju Ahad yang merupakan wahdaniyah Allah.
> > Perbedaan antara Ahad dan Ahmad adalah huruf arab Miim (muhammad
> > rosulillah - penutup jalur risalah dan kenabian)
> > > Miim juga berarti malakuti / keagungan / penguasaan atas
seluruh

> > langit bumi, ayat Kursi merupakan ayat yang mengandung banyak
> huruf
> > miim didalamya
> > > Huruf miim bernilai 40, 40 hari khalwat dengan ikhlas dengan
> > mengamalkan surat al ikhlas dan ayat Kursi (ayat yang banyak
> > mengandung huruf miim /sujud jadi sujud adalah cara menggapai
> > keagungan). Juga surat al ikhlas di awali dengan qulhuwa allohu
> > ahad. Jadi perwujudan ahad di dunia adalah ahmad, ketika manusia
> > menjadi ahmad maka merupakan tajalli/ penampakan sang Mahakuasa
> > dalam diri manusia. Sekali lagi bedakan Ahmad dan Ahad terletak
> > huruf miim.
> > > Huruf miim membentuk, posisi sujud dalam solat, sujud
merupakan
> > posisi kedekatan dengan Alloh, bahkan sujud merupakan simbol
dari
> > wahdaniyah Allah. Metode untuk mendekat (muqorrobin/ kewalian)
> > kepada Tuhan yang paling cepat adalah dengan sujud yang lama
dalam
> > Sholat. Hadits qudsi Allah berfirman : " Barangsiapa memusuhi
> waliku
> > sungguh kuumumkan perang kepadanya, tiadalah hamba Ku mendekat
> > kepada Ku dengan hal hal yg fardhu- 17 rokaat, dan Hamba Ku
terus
> > mendekat kepada Ku dengan hal hal yg sunnah- 34 rokaat qobliyah
> dan
> > bakdiyah- baginya hingga Aku mencintainya, bila Aku mencintainya
> > maka aku menjadi telinganya yg ia gunakan untuk mendengar, dan
> > matanya yg ia gunakan untuk melihat, dan menjadi tangannya yg ia
> > gunakan untuk memerangi, dan kakinya yg ia gunakan untuk
> melangkah,
> > bila ia meminta pada Ku niscaya kuberi permintaannya...."
(shahih

> > Bukhari hadits no.6137).
> > >
> > > Tafsir Ain,Yaa,Sin,Nuun,Aliif (numerology Arabiyah):
> > >
> > > Huruf ain bermakna sayidina Ali bin Abu tholib merupakan pintu
> > gerbang keilmuan. Sesuai hadits Nabi yang menyatakan bahwa
> Muhammad
> > rosulluloh adalah gudang ilmu dan Sayidina Ali adalah pintunya.
> > Huruf ayn membentuk posisi rukuk dalam sujud, dalam riwayat
> asbabun
> > nuzul quran ada ayat yang berkenaan dengan Ali bin abu thalib,
> yaitu
> > orang yang rukuk kemudian dalam posisi rukuk dalam solat
melakukan
> > sedekah berupa cincin. Inilah ayat quran itu: Walimu hanyalah
> Allah,
> > Rasul-Nya dan mereka yang beriman yang menegakkan salat,
membayar
> > zakat seraya rukuk. (QS. al-Mâ`idah: 55)
> > > Kunci sholat yang merupakan adab tatakrama/ kepasrahaan total
> ila
> > allohu ada di rukuk/ huruf ain, sujud/ huruf miim adalah
kedekatan
> > (muqorobin- fana asma dan tajalli asma), barangsiapa tidak tahu
> adab
> > ( rukuknya) maka tidak layak untuk dekat (muqorobin).
> > > Huruf Ain bernilai 70.sedang huruf Ya bernilai 10 dan huruf
Sin
> > bernilai 60. jadi secara matematis yaitu 70(ain)= yaa(10)+sin
(60)

> > jadi Ya + Seen = Ain merupakan Quran dalam surat 36 adalah surat
> Ya
> > Seen. ayat ke 58 dari surat Yasin adalah Salaamun Qawlam Mir
> Rabbir
> > Raheem. Jadi 5+8=13, posisi huruf ke 13 dalam abjad Arab adalah
> > huruf Miim/ Sujud. Jadi untuk mengerti Ain/ rukuk kita harus
> > mengerti tafsir huruf Yaa dan Tafsir huruf Sin. Dengan mengerti
> Yaa
> > dan Sin kita akan sampai kepada Sayidina Ali bin Abu Tholib.
> > > Kyai Kholil Bangkalan, salah seorang pencetak kyai besar
> Nahdlatul
> > Ulama, selama perjalanan pesantren Keboncandi, Pasuruan-Sidogiri
> > kyai kholil Bangkalan sewaktu muda selalu membaca YaSin, hingga
> > khatam berkali-kali
> > > Huruf Ya adalah akhir dari abjad Arab and Alif awal dari abjad
> > Arab. Huruf Ya/ hamba memimpin/cenderung ke arah Alif/ Alloh.
> Huwal
> > Awwalu wa Hu wal Akhiru.
> > > Rincian huruf Awwalu :
> > > Alif(1)+waw(6)+lam(30)=37ß-à3+7=10,(Ya=10),
> > > 10 ß-à1+0=1ß-àpertama.
> > > · Rincian huruf Akhiru :: Alif(1)+Kho(600)+Ro(200)= 801ß-
> > à8+0 +1= 9 ß-à terakhir adalah 9, angka 9 dalam numerology arab
> > adalah huruf Ta yang bermakna penyucian atau Tahara/penyucian
dan
> > bulan ke 9 dalam Arab/ Qomariah adalah bulan ramadhon yaitu
bulan
> > puasa
> > > · Penyucian kalbu dari kecintan diri dan dunia merupakan
> > tingkat awal penyucian untuk bersuluk kepada Alloh. Sesungguhnya
> > kotoran maknawi terbesar yang tidak bisa disucikan meskipun
dengan
> > tujuh lautan dan para nabi pun tidak mampu menghilangkannya
adalah
> > kotora kejahilan ganda (pura-pura tahu padahal tidak tahu).
> > Kekeruhan ini mungkin akan memadamkan cahaya petunjuk dan
> meredupkan
> > api kerinduan yang merupakan buraq untuk bermikraj mencapai
> berbagai
> > maqom spiritual.( Imam Khomeini dalam Hakikat dan Rahasia Sholat)
> > > · dan Alif(1)+ Ta(9)=10ß-à (Ya=10=hamba) , nilai huruf
> > (Ya=10), jadi seorang Hamba yaitu simbol Ya harus melakukan
Puasa/
> > penyucian jiwa/ tazkiyah nafs simbol (Ta=9) untuk Alloh semata
> > simbol (Alif=1) atau Hamba harus sabar dengan KetentuanNya atau
> > nrimo ing pandum, karena hasil puasa Lillah Billah menjadikan
> orang
> > sabar atau innalloha ma'ashobirin (Sesungguhnya Alloh bersama
(MA

> > terdiri huruf miim dan ain lihat al Baqarah:153 ) orang yang
> sabar.
> > Lihat bersama adalah Ma yaitu ma'asshobirin. Disini terungkap
> > rahasia mim dan ayn yaitu MA seperti yang diucapkan oleh Husain
> bin
> > Mansur al Hallaj. jadi Sabar adalah kunci menemukan Tuhan. Para
> > mufassir menafsirkan sabar dengan melakukan puasa. Pahala puasa
> > hanya Alloh yang tahu. Artinya Hak menilai puasa langsung di
> tangan
> > Alloh bukan di tangan para malaikat. Sabda Rosullulloh saw Puasa
> > yang dilakukan khusus untuk-Ku/ puasa Lillah Billah dan cukuplah
> Aku
> > sebagai pahalanya
> > > · Mempelajari Ilmu Ketuhanan akan menjadikan orang
> > bersabar, seperti dialog Nabi Musa as dan Nabi Khidr as yaitu
> > Bagaimana kamu dapat sabar terhadap persoalan yang kamu
samasekali

> > belum memiliki pengetahuan yang cukup tentangNya(QS 18:68).
> > Barangsiapa menghadapi kesengsaraan dengan hati terbuka,
> menunjukkan
> > kesabaran dengan penuh ketenangan dan martabat, termasuk dalam
> > golongan orang terpilih dan bagian untuknya adalah Berikanlah
> kabar
> > gembira (keberhasilan dan kejayaan) kepada orang yang sabar (QS
> > 2:155),
> > >
> > > Dalam Islam, kemampuan mengendalikan emosi dan menahan diri
> > disebut sabar. Orang yang paling sabar adalah orang yang paling
> > tinggi dalam kecerdasan emosionalnya. Ia biasanya tabah dalam
> > menghadapi kesulitan. Ketika belajar orang ini tekun. Ia
berhasil
> > mengatasi berbagai gangguan dan tidak memperturutkan emosi-nya.
> > > Gabungan rincian Awwalu dan Akhiru adalah Seorang Hamba
> > (Ya=10=hamba) karena Akhiru(9)+ Awwalu (1)=10ß-à (Ya=10=hamba) ,
> > jadi seorang Hamba menampung Asma Alloh yang lengkap dan
memiliki
> > potensi untuk menampakkan sifat ketuhanan
> > > Huruf Sin bernilai 60 dalam numerology Arab, merupakan simbol
> dari
> > sirr Muhammad, sirr adalah rahasia ketuhanan yang disimpan dalam
> > diri manusia sebagai hamba. Huruf sin dalam INSAN. huruf alif
nya
> > adalah Alloh, huruf sin adalah rahasia /sirr ketuhanan, 2 huruf
> nun
> > adalah simbol hukum dunia dan akhirat yang merupakan
> > representasi /perwakilan kitab suci al Qur'an.
> > > Huruf Yaa/ simbol Hamba digunakan untuk memanggil seseorang
atau
> > menarik perhatian sesorang. Ya adalah simbol seorang Hamba
> menyembah
> > dan menyebut Tuhannya Ya Alloh Ya Robbi dll.Yaa juga digunakan
> oleh
> > Alloh memanggil Hambanya.Ya juga berarti simbol antara yang
> disembah
> > dan menyembah, tetapi posisi Ya=10/ hamba selalu cenderung
kepada

> > Alif=1 atau Alloh karena Alloh sebagai Awwalu, dalam ilmu huruf,
> > > Alif(1)+waw(6)+lam(30)=37ß-à3+7=10 adalah Yaa menyatu dengan
> Alif
> > (10ß-à1+0=1) atau dibalik Yaa ada Alif atau di dalam Manusia ada
> > Tuhan atau istilah Wahdatul Wujud nya Ibnu Arobi yaitu antara
> > penyembah dan yang disembah itu sama tapi tidak serupa atau
> menurut
> > istilah ajaran Syekh Siti Jenar, yaitu Manunggaling Kawula
> > Gusti. "PERSAMAAN" antara manusia dan Allah. Hal inilah yang
> > dimaksudkan dalam sabda Nabi saw.: "Sesungguhnya Allah
menciptakan
> > manusia dalam kemiripan dengan diriNya sendiri." Lebih jauh lagi
> > Allah telah berfirman: "Hambaku mendekat kepadaKu sehingga Aku
> > menjadikannya sahabatKu. Aku pun menjadi telinganya, matanya dan
> > lidahnya." Juga Allah berfirman kepada Musa as.: "Aku pernah
sakit
> > tapi engkau tidak menjengukku!" Musa menjawab: "Ya Allah, Engkau
> > adalah Rabb langit dan bumi; bagaimana Engkau bisa sakit?" Allah
> > berfirman: "Salah seorang hambaKu sakit; dan dengan menjenguknya
> > berarti engkau telah mengunjungiKu. "Memang ini adalah suatu
> > > masalah yang agak berbahaya untuk diperbincangkan, karena hal
> ini
> > berada di balik pemahaman orang-orang awam. Seseorang yang
cerdas
> > sekalipun bisa tersandung dalam membicarakan soal ini dan
percaya
> > pada inkarnasi dan kersekutuan dengan Allah.
> > > Tafsir huruf Nun dan Alif- Pencari Tuhan dibalik huruf alif
dan
> > nun maka tidak bisa bertemu dengan Nya::
> > >
> > > Bernilai 50 dalam numerology Arab.
> > > Tafsir huruf INSAN, memiliki 2 huruf nun merupakan simbol alam
> > dunia/ jasad dan alam akhirat/ ruh/ jiwa. Ruh yang disucikan
akan
> > memperoleh Nur/ surga sedangkan Ruh yang dikotori akan
memperoleh
> > Nar/ neraka.
> > > Tafsir Alif dan Nun: Penggambaran Simbolis Huruf dan Alif Nun
> > merupakan lambang sebuah perahu (syariat) dan sebuah Jiwa/
> > individu /personal mengarungi lautan / medan ujian, kayuh/sampan
(
> > membentuk huruf Alif) kiri kanan adalah wilayah pilihan manusia
(
> > sunnatulloh adalah qadha' qadar baik buruk) yang telah
ditetapkan
> > oleh Alloh arti simbol Alif. Individu yang sedang menaiki perahu
(
> > simbol Nun), sampan/kayuh adalah alat/ pilihan yang akan
> mengerakkan
> > jiwanya menuju 3 pilihan yaitu, pertama, arah perahu ke kiri
> > berarti ashabul syimal/ Nun menjadi Naar/ neraka, kedua arah
> perahu
> > ke kanan berarti ashabul yamin/ Nun menjadi Nur/cahaya, ketiga
> arah
> > perahu tidak ke kiri dan tidak ke kanan tetapi tengah berarti
> > sabiqunal awwalun/ terdahulu mencapai tujuan - ini adalah
golongan
> > para pencinta yaitu menyembah karena kerinduan ingin bertemu
> dengan
> > sang Khaliq – ini adalah jawaban isyarah tersembunyi dari Husain
> bin
> > Manshur al Hallaj- yaitu para nabi
> > > dengan simbol miim (arti bathinnya adalah sujud) yaitu
Muhammad

> > saw dan ain (arti bathinnya adalah rukuk) yaitu sayidina Ali bin
> > Abuthalib
> > > Huruf Nun Mengingatkan Kita juga kepada Zunnun/ Nabi Yunus as
> > yang naik perahu di tengah lautan dan ditelan Ikan karena
> > meninggalkan Kaum nya sebelum ada perintah dari ALLOH swt.
> > > Zikir Zunnun / N.Yunus - doa keselamatan menghadapi medan
> ujian :
> > wa dzan nuni idz dzahaba mughadziban fa dhanna an lan naqdiro
> alayhi
> > fa nada fid dhulumati an laila antan subhanaka inni kuntu
> > minadolimin fastajabna lahu wa najjaynahu minal ghammi wa
> kadzalika
> > nunjil mukminina (Anbiya :87-88).
> > >
> > > Kesimpulan:
> > > · Tafsir Yaa Sin akan membuka rahasia huruf `'MA'' yaitu
> > miim dan ain seperti yang dikatakan oleh Husain bin Mansur al
> > Hallaj:
> > > Quran dalam surat 36 adalah surat Ya Seen. ayat ke 58 dari
surat

> > Yasin adalah Salaamun Qawlam Mir Rabbir Raheem
> > > "Rahasia Ketuhanan ada dalam diri manusia, agar manusia mampu
> > menampakkan atau men-tajallikan Ketuhanan dalam dirinya maka
> > perintah solat (Rukuk, Sujud) adalah sarana 'Manunggaling Kawula
> > Gusti dan sodaqoh ( menebarkan hasil usaha kebenaran/ pengabdian
> > masyarakat/ agen perubahan/ social agent) kepada sesama makhluk
> > Tuhan (kesalehan sosial) yang merupakan perwujudan dari Salaamun
> > Qawlam Mir Rabbir Raheem"
> > > · Tafsir YaaSin adalah simbol manusia sempurna yaitu
> hamba
> > yang mampu menampung rahasia Alloh swt dan didalam sirr itu
> seorang
> > penyembah dan disembah bertemu dan berdialog, ibarat sebuah
pohon
> > lengkap dengan pokoknya, cabangnya dan puncaknya. Imam al Baqir
> > berkata: Maukah kamu akau beritahu pokok-pokok Islam, cabang dan
> > puncaknya dan pintu kebaikan? Sulaiman bin Khalid berkata:
Tentu,
> > lalu jawab Imam al Baqir: Pokoknya adalah sholat, cabangnya
adalah
> > zakat, dan puncaknya adalah membela kaum tertindas dan
menegakkan

> > keadilan. Pintu kebaikan itu adalah :
> > > 1. Puasa merupakan perisai api neraka
> > > 2. Sedekah itu menghapus dosa
> > > 3. Sholat di malam hari untuk berzikir
> > >
> > > Tafsir Rukuk/Huruf Ain
> > > Etika rukuk adalah meninggikan maqam rububiyah Nya yang agung,
> > mulia dan merendahkan maqam ubudiyah seorang hamba yang lemah,
> faqir
> > dan hina. Rukuk adalah awal ketundukkan dan sujud adalah
> > puncaknya.Yang melakukan rukuk dengan sempurna dan benar akan
> > menemukan keselarasan pada sujud. Imam Shadiq berkata" rukuk
yang
> > benar kepada Alloh adalah menghiasi dengan cahaya keindahan asma
> > Nya. Rukuk adalah yang pertama dan sujud adalah yang kedua.
Dalam

> > rukuk ada adab penghambaan dan dalam sujud ada kedekatan/Qurb
> dengan
> > Zat yang disembah. Simbol rukuk adalah hamba dengan hati tunduk
> > kepada Alloh, merasa hina dan takut di bawah kekuasaan-Nya.
> > Merendahkan anggota badan karena gelisah dan takut tidak
> memperoleh
> > manfaat rukuk.
> > >
> > > Tafsir Sujud/Huruf Mim
> > > Sujud merupakan puncak ketundukan dan puncak kekhusyukan
seorang
> > hamba, sebaik-baik wasilah taqarrub ila Alloh, sebaik-baik
posisi
> > untuk mencapai cahaya-cahaya tajalli Asma Alloh swt dan maqam
> Qurb
> > dengan Nya. N. Saw bersabda : "lamakanlah sujudmu", sebab tiada
> amal
> > yang lebih berat dan paling tak disukai oleh syetan saat melihat
> > anak Adam sedang sujud, karena dia telah diperintahakan sujud
dan

> > dia tidak patuh. Sujud merupakan sebab mendekatnya hamba dengan
> sang
> > Kholik. Wahai orang yang beriman, mintalah pertolongan dengan
> sabar
> > dan solat, sesungguhnya Alloh bersama orang yang sabar (al
> > Baqarah:153)
> > >
> > > Tafsir Salam/Huruf Yaa Sin
> > > Salam adalah salah satu nama Alloh. Arti Salam dari sisi Alloh
> > adalah keselamatan zat, sifat, perbuatan-Nya. Adapun Zatnya
> > terpelihara dari kelenyapan, perubahan dan dari segala
kekurangan.
> > Salam dari sisi Hamba adalah doa,yaitu memohon keselamatan
kepada
> > Alloh untuk orang yang kita ucapkan salam /selamat dari segala
> > cobaaan dan bencana dunia akhirat. Salam juga berarti ungkapan
> > Kepasrahan/ ketundukan kepada Sunnatulloh ( Quran Hadits).
Menurut

> > Imam Shadiq "salam adalah orang yang melaksanakan perintah Alloh
> dan
> > melakukan sunnah Rosulillah dengan ikhlas (intinya Ahad dan
> Ahmad),
> > juga selamat dari bencana dunia dan akhirat. Salam juga bermakna
> > penghormatan kepada hamba yang sholih (assalamu alaina wa ala
> > ibadilahis sholihin) dan malaikat pencatat amal
> > > Al Futuhat al Makkiyah, Karangan Ibnu Aroby, merujuk empat
> > perjalanan akal dalam bab 69 tentang rahasia rahasia shalat
> sebagai
> > perjalanan spiritual manusia. Perintah sholat 51 rokaat kepada
> Nabi
> > Muhammad saw saat isro miroj: Tuhan memerintahkan hambaNya itu
> > supaya setiap Muslim setiap hari sembahyang limapuluh kali.
> Kemudian
> > untuk umatnya menjadi 17 rokaat wajib di lima waktu dan sisanya
34

> > rokaat menjadi sunah muakkad- qobliyah dan bakdiya.
> > > Mulla Shadra dalam bukunya al Asfar al Arba'ah mengatakan:
> > > "Ketahuilah bahwa para pesuluk diantara orang Arif/ Irfan dan
> para
> > Wali menempuh empat perjalanan akal :
> > >
> > > Perjalanan makhluk kepada kebenaran –diskusi metafisika umum
> (min
> > al khalq ila al Haq)
> > > Pesuluk mempelajari dasar-dasar metafisika umum dan
> > dalilnya.pesuluk cenderung pada kajian semantik dan metafisika
> dasar
> > terhadap firman Ttuhan dalam Quran.
> > >
> > > Perjalanan bersama kebenaran didalam kebenaran- pengalaman
> > metafisika khusus dengan pengalaman pribadi (bi al Haq fi al Haq)
> > > Pesuluk akan melihat sifat dan namaNya yang tertinggi baik
nama
> > yang mewujudkan rahmatNya dan murkaNya. Hukum nama nama Alloh
ini
> di
> > dalam kejamakannya akan mewujud di dalam diri pesuluk.Hal ini
> > dikenal dengan makam wahidiyah atau tujuh substansi halus
> (lataif).
> > Pesuluk akan mengalami rasa takut dan harapan (al khauf wa al
raja)
> > >
> > > Perjalanan dari Kebenaran menuju makhluk (min al Haq ila al al
> > khalq)
> > > Setelah mengalami fase peniadaan diri,pesuluk menerima karunia
> > Tuhan dan kembali kepada kesadaran diri. Pesuluk menyaksikan
> > penciptaan dan alam kejamakan dalam diri makhluk tetapi dengan
> mata
> > yang lain, dengan pendengaran yang berbeda. Puncak perjalan
ketiga

> > membawa pesuluk menuju kesucian/Wilayah(kewalian)
> > >
> > > Perjalanan bersama Kebenaran di dalam makhluk (bi al Haq fi al
> > khalq)
> > > Maqam penetapan hukum dan pembedaan dari baik dan buruk.ini
> adalah
> > derajat kenabian,penetapan hukum dan kepemimpinan atas umat
> manusia
> > yang berhubungan dengan urusan urusan mereka yang beragam dan
> > berbeda-beda serta bagaimana mereka saling berinteraksi satu
sama
> > lain. seorang `arif tak akan benar-benar mencapai maqam
spiritual
> > tertinggi jika tidak memanifestasikan keimanan-puncak, yang
telah
> > diraihnya lewat dua perjalanan pertama, dalam bentuk concern
> sosial
> > politik untuk mereformasi masyarakat dan membebaskan kaum
> tertindas
> > dari rantai penindasannya.Tidak lain maqam penetapan hukum
> > (legislatif) atau melibatkan diri dalam kemasyarakatan dan
> hubungan
> > social, merupakan perwujudan penebaran salam kepada makhluk
yaitu

> > Salaamun Qawlam Mir Rabbir Raheem yang merupakan inti tafsir
> > Yaa Sin.
> > >
> > > --- On Sun, 7/20/08, mang dipo <dipo1601@> wrote:
> > >
> > > From: mang dipo <dipo1601@>
> > > Subject: [Spiritual-Indonesia] Kejawen Islam
> > > To: Spiritual-Indonesia <mailto:Spiritual-Indonesia%
> 40yahoogroups.com>
> > @yahoogroups.com
> > > Date: Sunday, July 20, 2008, 1:46 AM
> > >
> > >
> > >
> > >
> > >
> > >
> > >
> > >
> > >
> > > Mari kita mengutip satu tembang Jawa
> > > Tak uwisi gunem iki saya akhiri pembicaraan
> > ini
> > > Niyatku mung aweh wikan saya hanya ingin memberi tahu
> > > Kabatinan akeh lire kabatinan banyak
> macamnya
> > > Lan gawat ka liwat-liwat dan artinya sangat gawat
> > > Mulo dipun prayitno maka itu berhati-hatilah
> > > Ojo keliru pamilihmu Jangan kamu salah pilih
> > > Lamun mardi kebatinan kalau belajar kebatinan
> > >
> > > Tembang ini menggambarkan nasihat seorang tua (pinisepuh)
kepada
> > mereka yang ingin mempelajari kabatinan cara kejawen. Kiranya
> perlu
> > dipahami bahwa tujuan hakiki dari kejawen adalah berusaha
> > mendapatkan ilmu sejati untuk mencapai hidup sejati, dan berada
> > dalam keadaan harmonis hubungan antara kawula (manusia) dan
Gusti
> > (Pencipta) ( jumbuhing kawula Gusti ) /pendekatan kepada Yang
Maha

> > Kuasa secara total.
> > >
> > > Keadaan spiritual ini bisa dicapai oleh setiap orang yang
> percaya
> > kepada Tuhan, yang mempunyai moral yang baik, bersih dan jujur.
> > beberapa laku harus dipraktekkan dengan kesadaran dan ketetapan
> hati
> > yang mantap. Pencari dan penghayat ilmu sejati diwajibkan untuk
> > melakukan sesuatu yang berguna bagi semua orang serta melalui
> > kebersihan hati dan tindakannya. Cipta, rasa, karsa dan karya
> > (kuasa) harus baik, benar, suci dan ditujukan untuk mamayu
> hayuning
> > bawono. Ati suci jumbuhing Kawulo Gusti : hati suci itu adalah
> > hubungan yang serasi antara Kawulo dan Gusti, kejawen merupakan
> > aset dari orang Jawa tradisional yang berusaha memahami dan
> mencari
> > makna dan hakekat hidup yang mengandung nilai-nilai.
> > >
> > > Dalam budaya jawa dikenal adanya simbolisme, yaitu suatu faham
> > yang menggunakan lambang atau simbol untuk membimbing pemikiran
> > manusia kearah pemahaman terhadap suatu hal secara lebih dalam.
> > Manusia mempergunakan simbol sebagai media penghantar komunikasi
> > antar sesama dan segala sesuatu yang dilakukan manusia merupakan
> > perlambang dari tindakan atau bahkan karakter dari manusia itu
> > selanjutnya. Ilmu pengetahuan adalah simbol-simbol dari Tuhan,
> yang
> > diturunkan kepada manusia, dan oleh manusia simbol-simbol itu
> > ditelaah dibuktikan dan kemudian diubah menjadi simbol-simbol
yang
> > lebih mudah difahami agar bisa diterima oleh manusia lain yang
> > memiliki daya tangkap yang berberda-beda.
> > >
> > > Biasanya sebutan orang Jawa adalah orang yang hidup di wilayah
> > sebelah timur sungai Citanduy dan Cilosari. Bukan berarti
wilayah
> di
> > sebelah barat-nya bukan wilayah pulau Jawa. Masyarakat Jawa
adalah

> > masyarakat yang menjunjung tinggi rasa kekeluargaan dan suka
> > bergotong royong dengan semboyannya "saiyeg saekoproyo " yang
> > berarti sekata satu tujuan.
> > >
> > > Kisah suku Jawa diawali dengan kedatangan seorang satriya
> > pinandita yang bernama Aji Saka, sampai kemudian satriya itu
> menulis
> > sebuah sajak yang kemudian sajak tersebut diakui menjadi huruf
> jawa
> > dan digunakan sebagai tanda dimulainya penanggalan tarikh Caka.
> > >
> > > Kejawena dalah faham orang jawa atau aliran kepercayaan yang
> > muncul dari masuknya berbagai macam agama ke jawa. Kejawen
> mengakui
> > adanya Tuhan Gusti Allah tetapi juga mengakui mistik yang
> berkembang
> > dari ajaran tasawuf agama-agama yang ada.
> > >
> > > Tindakan tersebut dibagi tiga bagian yaitu tindakan simbolis
> > dalam religi, tindakan simbolis dalam tradisi dan tindakan
> simbolis
> > dalam seni. Tindakan simbolis dalam religi, adalah contoh
> kebiasaan
> > orang Jawa yang percaya bahwa Tuhan adalah zat yang tidak mampu
> > dijangkau oleh pikiran manusia, karenanya harus di simbolkan
agar
> > dapat di akui keberadaannya misalnya dengan menyebut Tuhan
dengan
> > Gusti Ingkang Murbheng Dumadi, Gusti Ingkang Maha Kuaos, Hyang
> Manon
> > dan sebagainya.
> > >
> > > Tindakan simbolis dalam tradisi dimisalkan dengan adanya
tradisi
> > upacara kematian yaitu medo'akan orang yang meninggal pada tiga
> > hari, tujuh hari, empatpuluh hari, seratus hari, satu tahun, dua
> > tahun, tiga tahun, dan seribu harinya setelah seseorang
meninggal
> > (tahlillan). Dan tindakan simbolis dalam seni dicontohkan dengan
> > berbagai macam warna yang terlukis pada wajah wayang kulit;
warna

> > ini menggambarkan karakter dari masing-masing tokoh dalam wayang.
> > >
> > > Perkembangan budaya jawa yang mulai tergilas oleh perkembangan
> > teknologi yang mempengaruhi pola pikir dan tindakan orang jawa
> dalam
> > kehidupan. Maka orang mulai berfikir bagaimana bisa membuktikan
> hal
> > gaib secara empiris tersebut dengan menggunakan berbagai macam
> > metode tanpa mengindahkan unsur kesakralan. Bahkan terkadang
> > kepercayaan itu kehilangan unsur kesakralannya karena dijadikan
> > sebagai obyek exploitasi dan penelitian.
> > >
> > > Kebiasaan orang Jawa yang percaya bahwa segala sesuatu adalah
> > simbol dari hakikat kehidupan, seperti syarat sebuah rumah harus
> > memiliki empat buah soko guru (tiang penyangga) yang
melambangkan
> > empat unsur alam yaitu tanah, air, api, dan udara, yang ke
> empatnya
> > dipercaya akan memperkuat rumah baik secara fisik dan mental
> > penghuni rumah tersebut. Namun dengan adanya teknologi
konstruksi

> > yang semakin maju, keberadaan soko guru itu tidak lagi menjadi
> > syarat pembangunan rumah. Dengan analisa tersebut dapat
> diperkirakan
> > bagaimana nantinya faham simbolisme akan bergeser dari budaya
> jawa.
> > Tapi bahwa simbolisme tidak akan terpengaruh oleh kehidupan
> manusia
> > tapi kehidupan manusialah yang tergantung pada simbolisme. Dan
> > sampai kapanpun simbolisme akan terus berkembang mengikuti
> > berputarnya sangkakala.
> > >
> > > Mangkunegara IV (Sembah dan Budiluhur)
> > > Mangkunegara IV memiliki empat ajaran utama yang meliputi
sembah
> > raga, sembah cipta (kalbu), sembah jiwa, dan sembah rasa.
> > >
> > > Sembah Raga
> > > Sembah raga ialah menyembah Tuhan dengan mengutamakan gerak
laku
> > badaniah atau amal perbuatan yang bersifat lahiriah. Cara
> bersucinya
> > sama dengan sembahyang biasa, yaitu dengan mempergunakan air
> > (wudhu). Sembah yang demikian biasa dikerjakan lima kali sehari
> > semalam dengan mengindahkan pedoman secara tepat, tekun dan
terus
> > menerus, seperti bait berikut:
> > >
> > > Sembah raga puniku / pakartining wong amagang laku / sesucine
> > asarana saking warih / kang wus lumrah limang wektu / wantu
> wataking
> > wawaton
> > >
> > > Sembah raga, sebagai bagian pertama dari empat sembah yang
> > merupakan perjalanan hidup yang panjang ditamsilkan sebagai
orang
> > yang magang laku (calon pelaku atau penempuh perjalanan hidup
> > kerohanian), orang menjalani tahap awal kehidupan bertapa
(sembah
> > raga puniku, pakartining wong amagang laku). Sembah ini
didahului
> > dengan bersuci yang menggunakan air (sesucine asarana saking
> warih).
> > Yang berlaku umum sembah raga ditunaikan sehari semalam lima
kali.
> > Atau dengan kata lain bahwa untuk menunaikan sembah ini telah
> > ditetapkan waktu-waktunya lima kali dalam sehari semalam (kang
wus
> > lumrah limang wektu). Sembah lima waktu merupakan shalat fardlu
> yang
> > wajib ditunaikan (setiap muslim) dengan memenuhi segala syarat
dan

> > rukunnya (wantu wataking wawaton). Sembah raga yang demikian ini
> > wajib ditunaikan terus-menerus tiada henti (wantu) seumur hidup.
> > Dengan keharusan memenuhi segala ketentuan syarat dan rukun yang
> > wajib dipedomani (wataking wawaton). Watak suatu
> > > waton (pedoman) harus dipedomani. Tanpa mempedomani syarat dan
> > rukun, maka sembah itu tidak sah.
> > >
> > > Sembah raga tersebut, meskipun lebih menekankan gerak laku
> > badaniah, namun bukan berarti mengabaikan aspek rohaniah, sebab
> > orang yang magang laku selain ia menghadirkan seperangkat
> fisiknya,
> > ia juga menghadirkan seperangkat aspek spiritualnya sehingga ia
> > meningkat ke tahap kerohanian yang lebih tinggi.
> > >
> > > Sembah Cipta( Kalbu )
> > > Sembah ini kadang-kadang disebut sembah cipta dan kadang-
kadang
> > disebut sembah kalbu, seperti terungkap pada Pupuh Gambuh bait 1
> dan
> > Pupuh Gambuh bait 11 berikut :
> > > Samengkon sembah kalbu / yen lumintu uga dadi laku / laku
agung
> > kang kagungan narapati / patitis teteking kawruh / meruhi marang
> > kang momong.
> > >
> > > Apabila cipta mengandung arti gagasan, angan-angan, harapan
atau
> > keinginan yang tersimpan di dalam hati, kalbu berarti hati ,
maka
> > sembah cipta di sini mengandung arti sembah kalbu atau sembah
> hati,
> > bukan sembah gagasan atau angan-angan.
> > > Apabila sembah raga menekankan penggunaan air untuk membasuh
> > segala kotoran dan najis lahiriah, maka sembah kalbu menekankan
> > pengekangan hawa nafsu yang dapat mengakibatkan terjadinya
> berbagai
> > pelanggaran dan dosa (sucine tanpa banyu, amung nyunyuda
hardaning

> > kalbu).
> > >
> > > Thaharah (bersuci) itu, demikian kata Al-Ghazali, ada empat
> > tingkat.
> > > Pertama,membersihka n hadats dan najis yang bersifat lahiriah.
> > > Kedua,membersihkan anggota badan dari berbagai pelanggaran dan
> > dosa.
> > > Ketiga,membersihkan hati dari akhlak yang tercela dan budi
> pekerti
> > yang hina.
> > > Keempat,membersihka n hati nurani dari apa yang selain Allah.
> Dan
> > yang keempat inilah taharah pada Nabi dan Shiddiqin.
> > >
> > > Jika thaharah yang pertama dan kedua menurut Al-Ghazali masih
> > menekankan bentuk lahiriah berupa hadats dan najis yang melekat
di
> > badan yang berupa pelanggaran dan dosa yang dilakukan oleh
anggota
> > tubuh. Cara membersihkannya dibasuh dengan air. Sedangkan
kotoran
> > yang kedua dibersihkan dan dibasuh tanpa air yaitu dengan
menahan
> > dan menjauhkan diri dari pelanggaran dan dosa. Thaharah yang
> ketiga
> > dan keempat juga tanpa menggunakan air. Tetapi dengan
membersihkan
> > hati dari budi jahat dan mengosongkan hati dari apa saja yang
> selain
> > Allah.
> > >
> > > Sembah Jiwa
> > > Sembah jiwa adalah sembah kepada Hyang Sukma ( Allah ) dengan
> > mengutamakan peran jiwa. Jika sembah cipta (kalbu) mengutamakan
> > peran kalbu, maka sembah jiwa lebih halus dan mendalam dengan
> > menggunakan jiwa atau al-ruh. Sembah ini hendaknya diresapi
secara
> > menyeluruh tanpa henti setiap hari dan dilaksanakan dengan tekun
> > secara terus-menerus, seperti terlihat pada bait berikut:
> > > Samengko kang tinutur / Sembah katri kang sayekti katur /
Mring
> > Hyang Sukma suksmanen saari-ari / Arahen dipun kecakup /
Sembahing
> > jiwa sutengong.
> > >
> > > Dalam rangkaian ajaran sembah Mangkunegara IV yang telah
disebut
> > terdahulu, sembah jiwa ini menempati kedudukan yang sangat
> penting.
> > Ia disebut pepuntoning laku (pokok tujuan atau akhir perjalanan
> > suluk). Inilah akhir perjalanan hidup batiniah. Cara bersucinya
> > tidak seperti pada sembah raga dengan air wudlu atau mandi,
tidak
> > pula seperti pada sembah kalbu dengan menundukkan hawa nafsu,
> tetapi
> > dengan awas emut (selalu waspada dan ingat/dzikir kepada keadaan
> > alam baka/langgeng) , alam Ilahi.
> > >
> > > Betapa penting dan mendalamnya sembah jiwa ini, tampak dengan
> > jelas pada bait berikut :
> > > Sayekti luwih perlu / ingaranan pepuntoning laku / Kalakuan
kang
> > tumrap bangsaning batin / Sucine lan awas emut / Mring alaming
> lama
> > amota.
> > >
> > > Berbeda dengan sembah raga dan sembah kalbu, ditinjau dari
segi
> > perjalanan suluk, sembah ini adalah tingkat permulaan (wong
> amagang
> > laku) dan sembah yang kedua adalah tingkat lanjutan. Ditinjau
dari
> > segi tata cara pelaksanaannya, sembah yang pertama menekankan
> > kesucian jasmaniah dengan menggunakan air dan sembah yang kedua
> > menekankan kesucian kalbu dari pengaruh jahat hawa nafsu lalu
> > membuangnya dan menukarnya dengan sifat utama. Sedangkan sembah
> > ketiga menekankan pengisian seluruh aspek jiwa dengan dzikir
> kepada
> > Allah seraya mengosongkannya dari apa saja yang selain Allah.
> > >
> > > Pelaksanaan sembah jiwa ialah dengan berniat teguh di dalam
hati
> > untuk mengemaskan segenap aspek jiwa, lalu diikatnya kuat-kuat
> untuk
> > diarahkan kepada tujuan yang hendak dicapai tanpa melepaskan apa
> > yang telah dipegang pada saat itu. Dengan demikian triloka (alam
> > semesta) tergulung menjadi satu. Begitu pula jagad besar dan
jagad
> > kecil digulungkan disatupadukan. Di situlah terlihat alam yang
> > bersinar gemerlapan. Maka untuk menghadapi keadaan yang
menggumkan
> > itu, hendaklah perasaan hati dipertebal dan diperteguh jangan
> > terpengaruh apa yang terjadi. Hal yang demikian itu dijelaskan
> > Mangkunegara IV pada bait berikut:
> > > "Ruktine ngangkah ngukud / ngiket ngruket triloka kakukud /
> jagad
> > agung ginulung lan jagad alit / den kandel kumandel kulup /
mring
> > kelaping alam kono."
> > >
> > > Sembah Rasa
> > > Sembah rasa ini berlainan dengan sembah-sembah yang
sebelumnya.
> Ia
> > didasarkan kepada rasa cemas. Sembah yang keempat ini ialah
sembah
> > yang dihayati dengan merasakan intisari kehidupan makhluk
semesta
> > alam, demikian menurut Mangkunegara IV.
> > > Jika sembah kalbu mengandung arti menyembah Tuhan dengan alat
> > batin kalbu atau hati seperti disebutkan sebelumnya, sembah jiwa
> > berarti menyembah Tuhan dengan alat batin jiwa atau ruh, maka
> sembah
> > rasa berarti menyembah Tuhan dengan menggunakan alat batin inti
> ruh.
> > Alat batin yang belakangan ini adalah alat batin yang paling
dalam
> > dan paling halus yang menurut Mangkunegara IV disebut telenging
> > kalbu (lubuk hati yang paling dalam) atau disebut wosing
jiwangga

> > (inti ruh yang paling halus).
> > > Dengan demikian menurut Mangkunegara IV, dalam diri manusia
> > terdapat tiga buah alat batin yaitu, kalbu, jiwa/ruh dan inti
> > jiwa/inti ruh (telengking kalbu atau wosing jiwangga) yang
> > memperlihatkan susunan urutan kedalaman dan kehalusannya.
> > >
> > > Pelaksanaan sembah rasa itu tidak lagi memerlukan petunjuk dan
> > bimbingan guru seperti ketiga sembah sebelumnya, tetapi harus
> > dilakukan salik sendiri dengan kekuatan batinnya, seperti
> > diungkapkan Mangkunegara IV dalam bait berikut:
> > > Semongko ingsun tutur / gantya sembah lingkang kaping catur /
> > sembah rasa karasa wosing dumadi / dadi wus tanpa tuduh / mung
> > kalawan kasing batos.
> > >
> > > Apabila sembah jiwa dipandang sebagai sembah pada proses
> > pencapaian tujuan akhir perjalanan suluk (pepuntoning laku),
maka
> > sembah rasa adalah sembah yang dilakukan bukan dalam perjalanan
> > suluk itu, melainkan sembah yang dilakukan di tempat tujuan
akhir
> > suluk. Dengan kata lain, seorang salik telah tiba di tempat yang
> > dituju. Dan di sinilah akhir perjalanan suluknya. Untuk sampai
di
> > sini, seorang salik masih tetap dibimbing gurunya seperti telah
> > disebut di muka. Setelah ia diantarkan sampai selamat oleh
gurunya
> > untuk memasuki pintu gerbang, tempat sembah yang keempat, maka
> > selanjutnya ia harus mandiri melakukan sembah rasa.
> > >
> > > Pada tingkatan ini, seorang salik dapat melaksanakan sendiri
> > sembah rasa sesuai petunjuk-petunjuk gurunya. Pada tingkat ini
ia
> > dipandang telah memiliki kematangan rohani. Oleh karena itu, ia
> > dipandang telah cukup ahli dalam melakukan sembah dengan
> > mempergunakan aspek-aspek batiniahnya sendiri.
> > >
> > > Di sini, dituntut kemandirian, keberanian dan keteguhan hati
> > seorang salik, tanpa menyandarkan kepada orang lain. Kejernihan
> > batinlah yang menjadi modal utama. Hal ini sesuai dengan
wejangan
> > Amongraga kepada Tambangraras dalam Centini bait 156. Sembah
> > tersebut, demikian dinyatakan Amongraga, sungguh sangat
mendalam,
> > tidak dapat diselami dengan kata-kata, tidak dapat pula
dimintakan
> > bimbingan guru. Oleh karena itu, seorang salik harus
> merampungkannya
> > sendiri dengan segala ketenangan, kejernihan batin dan kecintaan
> > yang mendalam untuk melebur diri di muara samudera luas tanpa
tepi

> > dan berjalan menuju kesempurnaan. Kesemuanya itu tergantung pada
> > diri sendiri, seperti terlihat pada bait berikut:
> > > Iku luwih banget gawat neki / ing rarasantang keneng rinasa /
> tan
> > kena ginurokake / yeku yayi dan rampung / eneng onengira kang
> > ening / sungapan ing lautan / tanpa tepinipun / pelayaran ing
> > kesidan / aneng sira dewe tan Iyan iku yayi eneng ening wardaya.
> > >
> >
>


Reply | Threaded
Open this post in threaded view
|  
Report Content as Inappropriate

To mas Bambang Satrio -Re: Kejawen Islam -- > Syech Siti Jenar...tidak dibunuh atau mati sendiri ??

edy_pekalongan
In reply to this post by Sudrajat IDSRG Ass MGR OPS
minta ijin ikut mendongeng...

kalo saya sendiri pernah dapet petunjuk cara meditasi untuk tolak
balak dari seorang tokoh wali , beliau  ciri2nya suka   berjalan
tanpa alas kaki , celana kolor hitam dan pakai udheng udheng ( ikat
kepala jawa ) , ( ngerti sendiri siapa yang saya maksudkan kalo yang
sudah pernah kontak batin ).

beliau mengajarkan . bahwa ketika memulai meditasi duduk , santai
saja tanpa harus mengatur nafas , tapi pakai nafas halus sambil  
harus mengaktifkan hawa murni . setelah itu meniatkan diri terhubung
dengan sang pencipta ( dengan tahapan tertentu ).

dan meminta bantuan 7 malaikat untuk menempati tujuh posisi di tubuh
kita ( cara gampang bahasa yoganya .minta malaikat menempati 7 cakra
yang  di tulang punggung sampai ubun2 itu lho )

lalu menyalurkan hawa murni ke lidah ...

dan mulailah membaca kidung tolak balak ciptaan beliau. 3x

setiap selesai membaca kidung , di tiupkan ke air .

setelah selesai air itu di minum ( biar tidak haus ..he4x )

setelah saya praktekkan , membaca syair/kidung  beliau saja ( dengan
cara diatas ) ternyata bisa untuk menetralisir hawa negatif.

 
itu sedikit dongengan , meditasi tolak balak, sambil membaca syair.

bagi orang awam pasti dikira sedang latihan menyanyi lagu jawa/
menghapal syair jawa.

maap , jika dongengan ini tidak berkenan .

salam,
edy
pekalongan



--- In [hidden email], "Sudrajat"
<sudrajat@...> wrote:

>
>  
>  
>  
>             Dear   Mas Bambang…yang berbudi.
>  
>             Salam Rahayu.
>  
>  
>             Sama sama kita tidak mengertinya.., hanya kira kira..,
jadi
> no problem untuk berani tulis . Siapa tahu
>             Justru  dari tulisan kita, ada khadang lain yang lebih
> mumpuni dan berpengalaman sudi memberikan pencerahan
>             Dan berbagi ilmu & pengetahuannya.
>  
>             Syeik Siti Jennar…,  kalau tidak salah…di serat syeikh
Siti
> Jennar  sedikit tertulis…cara meditasi Beliau.
>  
>             Sedangkan…Meditasi dari Sunan Kudus…, ada penahanan
> napasnya.., sehingga lebih banyak ke kanuragan
>             Nya. Pelajaran ini..saya dapat dari Gurunya mbak Hanie.
>  
>             Untuk Sunan Kali Jaga.., ini juga saya belum jelas.
Karena
> Beliau sangat sakti …konon..dari sembilan wali Beliau
>             Lah..yang sudah pernah bertemu dengan nabi Khidir.
Sangat
> Arief…., tapi konon pernah tapa pendem di pinggir
>             Kali. Jadi..ada juga mungkin ada kanuragannya.., ada
juga
> ketuhanan nya. Mungkin…lho.
>  
>             Sekarang hanya DIAM, MENENG berusaha WENING.    --- >
apik
> tenan
>             Nah…iki sing kelihatannya…kepenak…, alami saja..tidak
usah
> banyak cara dan aturan.
>             Iki..mungkin meditasi..ne wong jowo ( di baca ilmu ne
wong
> jawa / bukan suku jawa  - apa bedanya yaa ? ? )
>  
>             Sama sama belajarnya...mas.  Dari saya,...Gusti Allah…
yang
> aku sembah./manembah / tak suwini..dudu Gusti
>             Allah..sing kaya wong sing ngaku ngaku duwe agama.
>             Ayoo..pada pada ora ngertine.. , aku wani tulis.
>             Sing aku sembah ..sing tak jaluki tulung / petunjuk..,
saka
> ragaku ini..ya  Gusti pangeranku dewe.., sing Urip
>             , sing tulis, sing Hidup. Ya..kepenak ta.  Dadi ora
> nyalahke..kae…gusti Allah…sing  Maha Kuasa sak jroning
>             jagad gumelar iki.
>             ya…wis..sing kepenak..priye.., kanggo carane lan
kabutuhan
> awake dewe dewe . Sebab Uripku…ya..ora bisa
>             ngajari Urip pe panjenengan, uga kasak baline (
demikian
> pula sebaliknya ).
>  
>             Khusus…Syeikh Siti Jenar.., di buku no.1. di bawah…,
> tertulis..pada saat ada upacara mau di hukum mati, Beliau
>             Sudah di gantikan dengan yang lain ( tidak
jelas..orang lain
> atau penjelmaannya ).  Beliau kemudian pergi ke Kepulauan
>             Karimunjawa sampai wafatnya.
>  
>             1. Ngelmu  Islam  - Prof. Dr. Poerbatjaroko ( Guru
Besar
> Fak. Sastra UI ).
>  
>             Buku kelanjutannya  saya tidak punya.
>  
>             2. Ngelmu  Kasampurnaan – Prof. Mr. Umar Seno Adji (
Mantan
> Jaksa Agung RI . Rektor Univ. Kusumadwipayana )
>  
>             3.  Ngelmu Kapu Djanggan  -  Kyai Tubagus Abdulah –
> padepokan gunung mas Banten.
>  
>             Ilmu dan pengetahuan dari buku ini.., hanya untuk
memuaskan
> pikiran saja. Tidak wajib.
>  
>            
>             Kepareng..matur nuwun.  Nyuwun pangapuro..mbok
bilih..katah
> ingkang klintu ./ salah.
>  
>             Matur nuwun.
>             Sudrajat
>            
>  
> -----Original Message-----
> From: [hidden email]
> [mailto:[hidden email]] On Behalf Of bambang
satrio
> Sent: Monday, July 21, 2008 8:06 PM
> To: [hidden email]
> Subject: To mas Bambang -[Spiritual-Indonesia] Re: Kejawen Islam (
AJI
> PAMELENG )
>  
> RAHAYU
>
> Mas Drajat...
>
> Saya pribadi dalam meditasi, nggak menggunakan methode yang
> diajarkan Seh Sitijenar secara keseluruhan, terutama dengan
menahan
> PERNAPASAN. Jadi hanya dikir saja. Tetapi itu sudah lama tidak
saya
> lakukan, kira=kira 5 tahun yang lalu. Sekarang hanya DIAM, MENENG
> berusaha WENING.
>
> Tetapi waktu masih menggunakan dikir, memang pernah ada pengalaman
> tertentu. Mendengar suara LEMAH LEMBUT dalam hati (disalahke yo ra
> popo mas, wong mendengar kok pakai hati), tetapi yang jelas,
ucapan

> itu sangat berguna bagi saya pribadi.
>
> Untuk meditasi...Sunan Kudus maupun Sunan Kalijaga, saya nggak
> mengerti mas. Maaf, bener-bener nggak tahu, jadi nggak bisa
> komentar.
>
> RAHAYU. bs
>
> --- In Spiritual-Indonesia
> <mailto:Spiritual-Indonesia%40yahoogroups.com> @yahoogroups.com,
> "Sudrajat"
> <sudrajat@> wrote:
> >
> >
> > Dear mas Bambang S.
> >
> >
> > Artikel….yang melengkapi…, apiikk…langsung saya
> > simpen..meskipun belum di print.
> >
> > Cuma ada pertanyaa…sedikit…boleh ?.
> >
> > - Meditasi….Syeikh Siti Jennar …., bagaimana…ya. ?
> >
> > - Meditasi… Sunan Kudus…., beda …lho…?.
> >
> > - Meditasi….Sunan Kali Jaga…mungkin juga berbeda dengan
> kedua
> > tokoh itu.
> >
> > Mungkin…, bisa sedikit di singgung ? – ya,…biar
dongengnya..semakin

> > seru..dan ramai.
> >
> >
> > Thanks / Sudrajat
> >
> >
> >
> > -----Original Message-----
> > From: Spiritual-Indonesia
> <mailto:Spiritual-Indonesia%40yahoogroups.com> @yahoogroups.com
> > [mailto:Spiritual-Indonesia
> <mailto:Spiritual-Indonesia%40yahoogroups.com> @yahoogroups.com] On
> Behalf Of bambang
> satrio
> > Sent: Sunday, July 20, 2008 6:11 PM
> > To: Spiritual-Indonesia <mailto:Spiritual-Indonesia%
40yahoogroups.com>
> @yahoogroups.com
> > Subject: [Spiritual-Indonesia] Re: Kejawen Islam ( AJI PAMELENG )
> >
> > RAHAYU
> >
> > Salam Kenal Mang Dipo dan Mas Bus.
> > Hanya sekedar menambahkan tentang asal usul KEJAWEN ISLAM,
semoga

> > ada gunanya buat rekan-rekan SI semua :
> >
> > AJI PAMELENG
> >
> > Tegesipun aji = ratu, pameleng = pasamaden; mengku pikajeng :
> > tandaning sedya ingkang luhur piyambak. Dene empaning pandamelan
> wau
> > winastan manekung, pujabrata, mesu budi, mesu cipta, ngeningaken
> > utawi angluhuraken paningal, matiraga lan sasaminipun.
> >
> > Papan ingkang kangge nindakaken wau panepen, panekungan,
pamujan,

> > pamurcitan, pamursitan, pahoman, paheningan lan sanes-sanesipun.
> > Dene wedharing kawruh winastan daiwan, dawan, tirtaamerta,
> > tirtakamandhanu, tirtanirwala, mahosadi, kawasanan, kawaspadan,
> > kawicaksanaan, sastracetha, utawi sastrajendrayuningrat
> pangruwating
> > diyu lan sapanunggalanipun.
> >
> > Menggah pigunanipun kawruh lan pandamel wau, perlu kangge
> sarananing
> > panembah murid manggih kawilujengan, margi saged anindakaken
> dhateng
> > sawarnaning pandamel sae, punapadene kangge sarana duk kita
darbe
> > sedya nunuwun kanugrahaning gesang kita pribadi (Pangeran),
inggih
> > nunuwun bab punapa kemawon ingkang limrah kenging linampahan
> saking
> > pandamel kita ingkang boten tilar murwat.
> >
> > Wondene purwanipun ing jagad teka wonten kawruh pasamaden, bilih
> > miturut saking tembung-tembungipun, sanyata kathah ingkang
nagngge
> > basa Sansekrit; yen makaten tetela manawi wimbaning kawruh
> pasamaden
> > wau saking tumitising kawicaksananipun bangsa Indhu ing jaman
kina
> > makina, ingkang sampun boten kasumerepan petang ewoning taun.
> > Bokmanawi kemawon papantaranipun kalihan nalika bangsa Indhu
> > amurwani iyasa candhi dalah reca-recanipun. Dene kawruh wau ing
> > sakawit inggih namung kangge bangsa Indhu, boten nawang bangsa
> Indhu
> > ingkang agami punapa kemawon, katamtokaken mesthi ngrasuk
> pasamaden.
> > Awit inggih namung kawruh pasamaden punika ingkang dados
mukaning
> > saliring kawruh sajagad, lan ugi dados pangajenging piwulan
agami.
> >
> > Ing ngalami lami bangsa Indhu sami lumeber dhateng ing Tanah
Jawi
> > lan sanes sanesipun, serta sami anggelaraken agaminipun tuwin
> kawruh
> > sanes sanesipun; makaten ugi kawruh pasamaden inggih boten
kantun.
> > Kawruh pamasaden wonten ing Tanah Jawi saget ngrembaka
tuwuhipun,

> > margi bangsa Jawi tan pilih drajad sami remen puruita lan saged
> > nandangaken dating pangolahing kawruh punika, awit kawruh wau
> saget
> > nocoki kalihan dhadhasaring pamanahipun titiyang Jawi, mila
> kalayan
> > gampil rumasukipun wonten ing balung sungsuming titiyang Jawi.
> > Kasembuh malih saking kathahing bangsa Indhu kados sinuntak sami
> > angajawi, nedya anggelar agami Jawi lan kawruh kawicaksananipun.
> > Bebasan sakedeping netra, bangsa Jawi ing sa'indhengipun maratah
> > sampun sami angrasuk agami Indhu, lan ugi sampun sami saget
> > ngraosaken kabegjan, kamulyan, kawilujengan lan sasaminipun,
margi
> > saking wohing kawruh pandamel wau.
> >
> > Ing wusana katungka dhatengipun titiyang bangsa Arab sami
lumebet

> > ing Tanah jawi, ingkang ugi ambekta kawruh lan agaminipun
> Mohammad,
> > kasebut agami Islam, temah nyunyuda tumangkaring agami Indhu,
> sebab
> > lajeng wonten ingkang angrasuk agami Islam. Namung kemawon
> wedharing
> > agami Islam boten andarbeni kawruh pasamaden, kados kasebut ing
> > nginggil.
> >
> > Sareng golonganipun tiyang Islam sampun saget ngendhih Nagari,
> > inggih punika adeging Karaton Bintara (Demak), ing ngriku lajeng
> > angawisi kalayan kenceng, titiyang Jawi boten kenging
anindakaken

> > kawruh pasamaden, mekaten ugi sami kinen nilar agaminipun lami,
> > serta kedah santun angrasuk agami Islam.
> >
> > Ananging boten ta manawi bangsa Jawi lajeng anut purun santun
> agami
> > Islam sadaya, purunipun wau namung margi saking ajrih paukuman
> > wisesaning Nata, dados Islam-ipun wau namung wonten ing lahir
> > kemawon, utawi Islam pangaran-aran, yen batosipun taksih
> angrungkepi
> > agamipun lami. Milo bab kawruh pasamaden inggih taksih lajeng
> > katindakaken, ananging pamulang pamedharing kawruh pasamaden
wau,
> > ingkang karan nama wejangan (wijang-wijang) sarana lampah
> > dhedhemitan, katindakaken ing wanci ndalu sasampunipun jam 12,
ugi

> > papaning pamejang boten kenging kaubah wangon, kadosta ing ara-
> ara,
> > ing wana, ing lepen lan sasaminipun ing papan ingkang sepen.
> > Pamejangipun srana bisikan boten kenging kapireng ngasanes,
> sanadyan
> > suket godhong, kewan tuwin bangsanipun gegremetan kutu-kutu
> > walangataga ugi boten kenging miring, yen miring lajeng malih
> dados
> > manungsa. Mila linggihipun Kyai Guru ajeng-ajengan aben bathuk
> > kaliyan pun murid, serta sanget pamantos-mantosipun Kyai Guru,
pun
> > murid boten kenging nularaken wewejanganipun (kawruhipun)
dhateng
> > tiyang sanes, bilih dereng angsal palilah Guru, yen nerak bade
> > angsal wilalat manggih sapudendhaning Pangeran. Panindak ingkang
> > mekaten punika, purwanipun namung tetep kangge panjagi, supados
> > pamulanging kawruh pasamaden boten katupiksan dhateng
> pamarintahing
> > agami Islam. Sebab yen ngantos kasumerepan, tamtu manggih pidana.
> >
> > Dumuginipun ing jaman samangke, sanadyan Nagari sampun boten
> > angarubiru dhateng wontenipun wewejangan kawruh pasamaden,
nanging
> > panindaking wejangan wau taksih kalestantunaken sarana
dhedhemitan
> > kados kawursita ing nginggil. Mila lajeng angsal paparab saking
> > panyedaning titiyang ingkang boten remen, utami tiyang ingkang
> > anglampahi sarengating agami Islam, bilih wontening wejangan
> kawruh
> > pasamaden wau lajeng kawastan ilmu klenik. Purwo saking tembung
> > klenik, lajeng angandhakaken tembung abangan lan putihan.
Ingkang
> > kasebut abangan punika tiyang ingkang boten nindakaken saraking
> > agami Islam, dene putihan mastani tiyang Jawi ingkang teluh
> manjing
> > agami Islam sarta anglampahi sadaya sarak sarengating agami
Islam
> > wau, inggih punika ingkang kasebut nama santri. Mila santri
karan
> > putihan, margi miturut panganggenipun titiyang agami Islam,
bilih
> > santri punika sarwo-sarwi langkung resik utawi suci tinimbang
> > kaliyan titiyang ingkang boten angrasuk agami Islam.
> >
> > Mangsuli wontening kawruh pasamaden anggenipun sanget winados,
> > menggah ingkang dados sababipun kapretalakaken ing nginggil.
Dene
> > yen saleresipun ingkang nama wados-wados wau pancen boten
wonten;
> > dados inggih kenging-kenging kemawon kawulangaken dhateng sok
> > tiyanga, boten mawang nem sepuh, serta kenging kawejangaken ing
> > sawanci-wancinipun, uger tiyang wau pancen ambetahaken kawruh
> > pasamaden kasebat. Sebab wontenipun sadaya punika supados
> > kasumerepan dhateng ingakathah, langkung-langkung kawruh
pasamaden
> > punika ingkang sanyata dados mukaning sadaya kawruh. Mila wajib
> > sinebar dados seserepaning tiyang nem sepuh wadarin ing
> > saindengipun, tanpa nawang andhap inggiling darajadipun.
> >
> > Amarengi wahyaning mangsakala, wusana wonten kaelokaning
> lalampahan
> > ingkang boten kanyana-nyana; ing pawingkingipun bab kawruh
> pasamaden
> > wau lajeng muncul katampen dhateng tiyang Islam, margi yakin
bilih
> > kawruh pasamaden wau, pancen musthikaning gagayuhan ingkang
saged

> > andhatengaken ing kawilujengan, kamulyan, katentreman, lan
> > sasaminipun. Mila kawruh wau dening tiyang ingkang sampun suluh
> > papadhanging raosipun inggih punika Seh Sitijenar, ingkang ugi
> dados
> > pramugarining agami Islam apangkat Wali, lajeng kadhapuk ing
> ndalem
> > serat karanganipun, ingkang lajeng winastan daim, wirid saking
> > tembung daiwan kasebut ing nginggil. Punapadene lajeng kaewoaken
> > dados saperanganing panembah, sarana dipun wewahi tembungipun,
> > lajeng mungel : salat daim (salat - basa arab, daim saking
daiwan
> > basa Sansekrit). Milanipun dipun wewahi basa arab, namung
> > kawigatosan kangge mikekahaken kapitadosanipun murid-muridipun
> > ingkang sampun sami necep agami Islam. Punapadene tembung salat
> > lajeng kapilah kalih prakawis. Sapisan salat 5 wekdal, kasebut
> > salat sarengat, ateges panembah lahir. Kaping kalih salat daim,
> > punika panembahing batos; mangertosipun : anekadaken
manunggaling
> > pribadinipun, utawi kasebut loroning atunggil.
> > Kitab karanganipun Seh Sitijenar wau lajeng kangge paugeraning
> > piwulang. Sareng sampun angsal kawigatosaning ngakathah, ing
> ngriku
> > salat 5 wekdal lan sarak agami sanes-sanesipun lajeng kasuwak
> boten
> > kawulangaken babar pisan. Ingkang pinindeng namung mumuruk
> > tumindaking salat daim kemawon. Mila titiyang Jawi ingkang suwau
> > manjing agami Islam, langkung-langkung ingkang dereng, lajeng
sami
> > ambyuk maguru dhateng Seh Sitijenar, margi piwulangipun langkung
> > gampil, terang lan nyata.
> >
> > Wondene purwanipun Seh Sitijenar kaserenan kawruh pasamaden,
> ingkang
> > mijeni Kyai Ageng Pengging, sebab Seh Sitijenar punika
> > mitradarmanipun Kyai Ageng Pengging. Kawruh pasamaden, dening
Seh
> > Sitijenar lajeng katularaken Raden Watiswara, inggih Pangeran
> > Panggung, ingkang ugi apangkat Wali. Lajeng tunimbal dhateng
Sunan
> > Geseng, inggih Ki Cakrajaya, tiyang asal saking Pagelen, ingkang
> > kacarios saderengipun dados Wali, Ki Cakrajaya wau
pandamelanipun
> > anderes nitis gendhis. Salajengipun sumrambah kawiridaken
dhateng

> > ingakatah. Makaten ugi sakabat-sakabatipun Seh Sitijenar ingkang
> > sampun kabuka raosipun, dening Seh Sitijenar kinen sami madeg
> > paguron amiridaken kawruh pasamaden wau. Sangsaya dangu sangsaya
> > ngrebda, anyuremaken panguwaosing para Wali, anggenipun
> amencaraken
> > piwulang agami Islam. Yen kalajeng-lajeng masjid saestu badhe
> suwung.
> >
> > Ngawekani sampun ngantos wonten kadadosan ingkang makaten, temah
> > Kyai Ageng Pengging tuwin Seh Sitijenar sasekabatipun ingkang
sami
> > pinejahan katigas jangganipun dening para Wali, saking
dhawuhipun
> > Sultan Demak. Makaten ugi Pangeran Panggung boten kantun,
kapidana
> > kalebetaken ing brama gesang-gesangan wonten samadyaning alun-
alun
> > Demak, kangge pangewan-ewan murih titiyang sami ajrih, lajeng
sami
> > mantuni utawi nglepeh piwulangipun Seh Sitijenar.
> >
> > Kacariyos sariranipun Pangeran Panggung boten tumawa dening
> > mawerdining Hyang Brama, lajeng oncat medal saking salebeting
latu
> > murub, nilar nagari Demak. Kanjeng Sultan Bintara tuwin para
Wali
> > sami kablerengen kaprabawan katiyasaning Pangeran Panggung,
temah
> > kamitenggengen kadi tugu sinukarta. Sareng sampun sawatawis
tebih
> > tindakipun Sang Pangeran, Kanjeng Sultan tuwin para Wali saweg
> sami
> > enget bilih Pangeran Panggung kalis saking pidana, temah sami
> rumaos
> > kawon angsal sihing Pangeran. Katungka unjuking wadyabala, atur
> > uninga bilih Sunan Geseng, inggih Ki Cakrajaya, kesah anututi
> > lampahipun Pangeran Panggung. Ing ngriku Kanjeng Sultan
katetangi
> > dukanipun, temah dhawahing bendu, para sakabat tuwin murid-
> muridipun
> > Seh Sitijenar ingkang kapikut lajeng sami pinejahan. Ingkang
boten
> > kacepeng sami lumajar pados gesang.
> >
> > Para sakabatipun Seh Sitijenar ingkang taksih wilujeng
> > kakantunanipun ingkang sami pejah, ugi taksih sami madeg paguron
> > nglestantunaken pencaring kawruh pasamaden, nanging mawi
sislintru
> > tinutupan wuwulang sarengating agami Islam, murih boten
ka'arubiru
> > dening para Wali pramugarining praja. Dene piwulangipun kados
ing
> > ngandhap punika :
> >
> > Pamulanging kawruh pasamaden ingkang lajeng karan salat daim,
> > karangkepan wuwulang salat 5 wekdal tuwin rukuning Islam sanes-
> > sanesipun malih. Wewejanganipun salat daim wau lajeng winastan
> > wiridan naksobandiyah, dene panindaking piwulang kawastan
tafakur.
> > Saweneh wonten ingkang pamulangipun ing saderengipun para murid
> > nampi wiridan salat daim, langkung rumiyin kalatih lampah
> > dhidhikiran lan maos ayat-ayat. Wiwit punika wuwulangan
pasamaden
> > lajeng wonten wanrni kalih, inggih punika :
> >
> > 1. Piwulang pasamaden wiwiridan saking para sekabatipun Seh
> > Sitijenar, ingkang sarana tinutupan utawi aling-aling sarak
> rukuning
> > agami Islam. Wuwulangan wau dumuginipun ing jaman samangke
sampun
> > mleset saking jejer ing sakawit, mila para guru samangke,
ingkang
> > sami miridaken kawruh pasamaden, ingkang dipun santuni nama
> > naksobandiyah utawi satariyah, nginten bilih kawruh wau
wiwiridan
> > saking ngulami ing Jabalkuber (Mekah). Salajengipun para Kyai
guru

> > wau, amastani guru klenik dhateng para ingkang sami miridaken
> kawruh
> > pasamaden miturut wawaton Jawi pipiridan saking Seh Sitijenar.
> > Punapadene para Kyai guru wau nyukani paparab nama Kiniyai,
> > pikajengipun : guru ingkang mulangaken ilmuning setan. Dene nama
> > Kyai, punika guru ingkang mulangaken ilmuning para nabi.
> >
> > 2. Piwulang pasamaden miturut Jawi, wiji saking Kyai Ageng
> > Pengging, ingkang kapencaraken dening Seh Sitijenar (ingkang ing
> > samangke karan klenik), punika ing sakawit, ingkang dados
> purwaning
> > piwulang, dumunung wonten panggulawenthahing wawatekan 5
prakawis,
> > kados ing ngandhap punika :
> >
> > 1. Setya tuhu utawi temen lan jujur.
> > 2. Santosa, adil paramarta, tanggeljawab boten lewerweh.
> > 3. Leres ing samubarang damel, sabar welas asih ing sasami,
> > boten ngunggul-unggulaken dhirinipun, tebih saking watak
> panganiaya.
> > 4. Pinter saliring kawruh, langkung-langkung pinter ngecani
> > manahing sasami-sami, punapadene pinter angereh kamurkaning
manah

> > pribadi, boten anguthuh melik anggendhong lali, margi saking
> > dayaning mas picis rajabrana.
> > 5. Susila anor-raga, tansah nganggeni tatakrami, maweh
> > rereseping paningal tuwin sengseming pamiharsa, dhateng ingkang
> sami
> > kataman.
> >
> > Lampah 5 prakawis wau kedah linampahan winantu ing pujabrata
> > anandangaken ulah samadi, inggih amesu cipta angeningaken
> > pranawaning paningal. Awit saking makaten punika mila tumrap
> > panindaking agami Jawi (Buda),