Quantcast

Mencari Guru Sejati

classic Classic list List threaded Threaded
6 messages Options
Reply | Threaded
Open this post in threaded view
|  
Report Content as Inappropriate

Mencari Guru Sejati

adji mudhita
Mencari Guru Sejati


  Ada sebuah ceritra tentang seorang murid yang mencari Guru Sejati. Dia
pergi berkeliling negeri. Pada suatu hari dia mendengar berita bahwa
disebuah desa tua ada seorang Guru Sejati yang telah mencapai kesempurnaan.
Namun untuk sampai ke desa tua itu sangatlah sulit. Perjalanannya melewati
lembah-lembah yang curam dan lereng-lereng gunung yang terjal menjulang
tinggi. Dan katanya ada banyak setan dan jin pemangsa manusia di sekitar
hutan dan gunung itu. Sungguh suatu perjalanan yang beresiko tinggi.


              Tetapi karena kemauannya yang kuat diapun pergi mengunjungi
desa tua itu. Ketika sampai, diapun langsung mendatangi tempat tinggal Sang
Guru. Sesampainya di tempat sang Guru dia dipersilahkan untuk duduk menunggu
barang sepuluh menit, karena sang Guru sedang pergi ke sungai. Namun dia tak
mau menunggu begitu lama, maka pergilah dia menyusuri tepi sungai agar
segera dapat bertemu sang Guru.

              Di tepi sungai dia melihat seorang tua yang sederhana, sedang
duduk menatap aliran sungai. Dalam hati dia bertanya, "Inikah Guru yang aku
cari?"

              Sambil menjatuhkan diri diapun berkata, "Maaf Guru, murid
mengganggu ketenangan Guru".

              Si orangtua menengok seraya berkata, "Tidak ada yang
mengganggu pun yang terganggu, duduklah anakku".

              Diapun duduk menghadap sang Guru dan memohon, "Guru yang
Agung, mohon berilah murid petunjuk tentang kesempurnaan yang telah Guru
ketahui!"

              "Anak yang baik, ini bukanlah saat dan tempat yang tepat,
tunggulah dipondok, sepuluh menit lagi aku akan kembali."

              "Oh maaf Guru, hamba tak dapat menunggu begitu lama, siapa
tahu lima menit lagi dunia kiamat."

              Si orang tua tersenyum melihat semangat anak muda ini. Dengan
kewaskitaannya dia melihat anak muda ini akan segera meninggal dunia dalam
beberapa saat, oleh kelainan jantung pada dirinya. Maka orangtua itu
berkata, "Baiklah jika itu yang kamu kehendaki, dengarkanlah baik-baik!"

  "Jika kamu melihat, hanyalah melihat saja." "Jika kamu mendengarkan,
semata-mata hanyalah mendengar." "Jika kamu mencium, hanyalah mencium, dan
jika kamu merasakan, hanyalah merasakan semata."

              Demikianlah dari pelajaran yang singkat ini, sebelum ajalnya
tiba si murid yang cerdas itu tercerahkan.

              Mungkinkah hanya dari pernyataan singkat itu simurid bisa
memperoleh pencerahan? Mungkin saja, seperti halnya biji kecipir yang
betul-betul telah matang dan kering terbungkus didalam kelopaknya. Ketika
kena air hujan, kelopak pembungkusnya pecah dan bijinya terlepas. Sebelum
dia menerima pelajaran diatas, dia tentu telah banyak mengisi diri dengan
belajar dan belajar. Tak ada waktu dan hari tanpa belajar, sehingga dia
sampai pada tingkat inteligensi tertinggi, tingkat kematangan, kedewasaan
batin. Ketika akhirnya diguyur oleh intisari kebenaran, dia langsung meledak
bebas.

              Kalau kita mengamati cerita di atas, tak ada hal yang tak
mungkin, namun untuk itu orang harus memiliki tekad, kemauan, semangat yang
kuat serta keberanian untuk menjadi bebas. Karena hanya didalam kebebasan
orang dapat belajar dengan benar. Kebebasan akan membuat orang dapat melihat
fakta yang ada seperti apa adanya dengan jernih. Jika seseorang masih
terikat atau terbungkus dalam kurungan, betapapun indahnya kurungan itu, dia
tak'an dapat melihat segala sesuatu dengan jelas, dia tak'an dapat
mengarungi luasnya dunia kehidupan.

              Sangkar yang indah membuat seseorang berbangga dengan
kurungannya dan dia terlena didalamnya. Namun tak pernah menyadari dirinya
terjerat dan terbatas. Jika seorang terikat pada satu kepercayaan maka dia
akan melihat fakta yang ada sesuai dengan kepercayaannya. Jika seorang pergi
ke Gereja, dia akan melihat Kristus dan Bunda Maria, sementara yang ke Kuil
akan melihat Dewa Dewi yang gemerlap, yang ke Vihara akan melihat Budhha
demikian juga sama halnya dengan yang lainnya, mereka masing-masing melihat
sesuai dengan kepercayaannya. Karena kepercayaan telah memberi beban
pengaruh kepadanya, sehingga mereka mengalami dan melihat sesuai dengan
keterkondisian batinnya. Fakta yang senyata ada, tak ada sangkut-pautnya
dengan kepercayaan mereka.

              Dapatkah orang melihat fakta ini dengan jelas? Hanya dalam
kebebasan orang dapat melihat fakta dengan jelas seperti apa adanya dan
dapat menjelajahi, menyelami luas serta dalamnya kehidupan. Melihat seperti
ini adalah melihat dari keheningan batin. Hanya batin yang bebas, yang tidak
terikat, yang tidak dibeban pengaruhi oleh kepercayaan, paham, doktrin
apapun, yang menjadi bebas dan hening.

              Lihatlah seluruh kehidupan, bukankah semua agama, organisasi,
sekte, kebangsaan, ras, suku bangsa, aliran telah mengkotak-kotakan;
menjerat manusia ke dalam kelompok yang saling bertentangan? Yang telah
memicu peperangan, permusuhan, kekerasan, dan kebencian.

              Semua penderitaan di muka bumi ini berawal disini, dari
tindakan batin yang terkondisi, yang mempercayai, yang meyakini, yang telah
terindoktrinisasi. Batin seperti ini adalah batin yang keras, kering,
sempit, tumpul dan mati. Batin seperti ini tak'an dapat belajar untuk
memahami dirinya; tak'an dapat membuka dirinya bagi yang maha luas, yang tak
terbatas yaitu Tuhan!

              Untuk mengamati orang tak perlu mempercayai. Karena
kepercayaan adalah hasil dari batin yang terkondisi. Batin yang terkondisi
adalah batin yang ramai, penuh dengan konflik, kecemasan, kebingungan,
kesedihan, kekecewaan; yang terlanjur pintar membantah dan menurut, yang
selalu menyesuaikan diri, yang mengalisa, merekayasa, yang menghitung untung
dan rugi, penuh tipuan, yang mencari menang dan senang. Batin seperti ini
melihat dari refleksi dirinya yang ruwet, sehingga dalam melihat fakta yang
sesungguhnya tidak sesuai dengan apa adanya.

  Karena itu orang mesti mempertanyakan, mengamati dirinya yaitu seluruh
bidang batinnya yang telah terkondisi. Untuk dapat mengamati orang haruslah
diam, mencurahkan seluruh perhatian, pikiran dan hatinya. Dengan energi
perhatian penuh ini, barangkali dia akan dapat melihat dan memahami masalah
dirinya dengan jelas.

  Hanya dengan dipahaminya masalah "sang diri", orang akan terbebas; dan
hanya dalam kebebasan ada persepsi yang jernih; dan hanya dalam kejernihan
kemungkinan ada pencerahan; dan orangpun meledak seperti biji kecipir itu!

  ~ Wayan Windra.


  Bahan diskusi/dialog pada
  Study Group of Krishnamurti
  Alamat: Br.Selat, Beringkit
    Ph. 829871, Hp.08123942933.


  Sedikit disunting oleh Ngestoe Rahardjo.

Reply | Threaded
Open this post in threaded view
|  
Report Content as Inappropriate

Re: Mencari Guru Sejati ( mas Adji + mas AJI )

lu2 syahputri
Dear All....





waduh mas berdua ....

bahasan MENCARI GURU SEJATI  jadi ingat gempuran + guyon 2 tahun yang lalu, dengan kata lain kita ber3 reunian ya ....

titip salam hangat dan kagem selalu buat Ayahanda ( Bp NR )



regard selalu

/Lu2


--- On Tue, 6/3/08, --- sangwaktu <[hidden email]> wrote:
From: --- sangwaktu <[hidden email]>
Subject: [Spiritual-Indonesia] Mencari Guru Sejati
To: [hidden email]
Date: Tuesday, June 3, 2008, 4:38 AM










   
            Mencari Guru Sejati



Ada sebuah ceritra tentang seorang murid yang mencari Guru Sejati. Dia

pergi berkeliling negeri. Pada suatu hari dia mendengar berita bahwa

disebuah desa tua ada seorang Guru Sejati yang telah mencapai kesempurnaan.

Namun untuk sampai ke desa tua itu sangatlah sulit. Perjalanannya melewati

lembah-lembah yang curam dan lereng-lereng gunung yang terjal menjulang

tinggi. Dan katanya ada banyak setan dan jin pemangsa manusia di sekitar

hutan dan gunung itu. Sungguh suatu perjalanan yang beresiko tinggi.



Tetapi karena kemauannya yang kuat diapun pergi mengunjungi

desa tua itu. Ketika sampai, diapun langsung mendatangi tempat tinggal Sang

Guru. Sesampainya di tempat sang Guru dia dipersilahkan untuk duduk menunggu

barang sepuluh menit, karena sang Guru sedang pergi ke sungai. Namun dia tak

mau menunggu begitu lama, maka pergilah dia menyusuri tepi sungai agar

segera dapat bertemu sang Guru.



Di tepi sungai dia melihat seorang tua yang sederhana, sedang

duduk menatap aliran sungai. Dalam hati dia bertanya, "Inikah Guru yang aku

cari?"



Sambil menjatuhkan diri diapun berkata, "Maaf Guru, murid

mengganggu ketenangan Guru".



Si orangtua menengok seraya berkata, "Tidak ada yang

mengganggu pun yang terganggu, duduklah anakku".



Diapun duduk menghadap sang Guru dan memohon, "Guru yang

Agung, mohon berilah murid petunjuk tentang kesempurnaan yang telah Guru

ketahui!"



"Anak yang baik, ini bukanlah saat dan tempat yang tepat,

tunggulah dipondok, sepuluh menit lagi aku akan kembali."



"Oh maaf Guru, hamba tak dapat menunggu begitu lama, siapa

tahu lima menit lagi dunia kiamat."



Si orang tua tersenyum melihat semangat anak muda ini. Dengan

kewaskitaannya dia melihat anak muda ini akan segera meninggal dunia dalam

beberapa saat, oleh kelainan jantung pada dirinya. Maka orangtua itu

berkata, "Baiklah jika itu yang kamu kehendaki, dengarkanlah baik-baik!"



"Jika kamu melihat, hanyalah melihat saja." "Jika kamu mendengarkan,

semata-mata hanyalah mendengar." "Jika kamu mencium, hanyalah mencium, dan

jika kamu merasakan, hanyalah merasakan semata."



Demikianlah dari pelajaran yang singkat ini, sebelum ajalnya

tiba si murid yang cerdas itu tercerahkan.



Mungkinkah hanya dari pernyataan singkat itu simurid bisa

memperoleh pencerahan? Mungkin saja, seperti halnya biji kecipir yang

betul-betul telah matang dan kering terbungkus didalam kelopaknya. Ketika

kena air hujan, kelopak pembungkusnya pecah dan bijinya terlepas. Sebelum

dia menerima pelajaran diatas, dia tentu telah banyak mengisi diri dengan

belajar dan belajar. Tak ada waktu dan hari tanpa belajar, sehingga dia

sampai pada tingkat inteligensi tertinggi, tingkat kematangan, kedewasaan

batin. Ketika akhirnya diguyur oleh intisari kebenaran, dia langsung meledak

bebas.



Kalau kita mengamati cerita di atas, tak ada hal yang tak

mungkin, namun untuk itu orang harus memiliki tekad, kemauan, semangat yang

kuat serta keberanian untuk menjadi bebas. Karena hanya didalam kebebasan

orang dapat belajar dengan benar. Kebebasan akan membuat orang dapat melihat

fakta yang ada seperti apa adanya dengan jernih. Jika seseorang masih

terikat atau terbungkus dalam kurungan, betapapun indahnya kurungan itu, dia

tak'an dapat melihat segala sesuatu dengan jelas, dia tak'an dapat

mengarungi luasnya dunia kehidupan.



Sangkar yang indah membuat seseorang berbangga dengan

kurungannya dan dia terlena didalamnya. Namun tak pernah menyadari dirinya

terjerat dan terbatas. Jika seorang terikat pada satu kepercayaan maka dia

akan melihat fakta yang ada sesuai dengan kepercayaannya. Jika seorang pergi

ke Gereja, dia akan melihat Kristus dan Bunda Maria, sementara yang ke Kuil

akan melihat Dewa Dewi yang gemerlap, yang ke Vihara akan melihat Budhha

demikian juga sama halnya dengan yang lainnya, mereka masing-masing melihat

sesuai dengan kepercayaannya. Karena kepercayaan telah memberi beban

pengaruh kepadanya, sehingga mereka mengalami dan melihat sesuai dengan

keterkondisian batinnya. Fakta yang senyata ada, tak ada sangkut-pautnya

dengan kepercayaan mereka.



Dapatkah orang melihat fakta ini dengan jelas? Hanya dalam

kebebasan orang dapat melihat fakta dengan jelas seperti apa adanya dan

dapat menjelajahi, menyelami luas serta dalamnya kehidupan. Melihat seperti

ini adalah melihat dari keheningan batin. Hanya batin yang bebas, yang tidak

terikat, yang tidak dibeban pengaruhi oleh kepercayaan, paham, doktrin

apapun, yang menjadi bebas dan hening.



Lihatlah seluruh kehidupan, bukankah semua agama, organisasi,

sekte, kebangsaan, ras, suku bangsa, aliran telah mengkotak-kotakan;

menjerat manusia ke dalam kelompok yang saling bertentangan? Yang telah

memicu peperangan, permusuhan, kekerasan, dan kebencian.



Semua penderitaan di muka bumi ini berawal disini, dari

tindakan batin yang terkondisi, yang mempercayai, yang meyakini, yang telah

terindoktrinisasi. Batin seperti ini adalah batin yang keras, kering,

sempit, tumpul dan mati. Batin seperti ini tak'an dapat belajar untuk

memahami dirinya; tak'an dapat membuka dirinya bagi yang maha luas, yang tak

terbatas yaitu Tuhan!



Untuk mengamati orang tak perlu mempercayai. Karena

kepercayaan adalah hasil dari batin yang terkondisi. Batin yang terkondisi

adalah batin yang ramai, penuh dengan konflik, kecemasan, kebingungan,

kesedihan, kekecewaan; yang terlanjur pintar membantah dan menurut, yang

selalu menyesuaikan diri, yang mengalisa, merekayasa, yang menghitung untung

dan rugi, penuh tipuan, yang mencari menang dan senang. Batin seperti ini

melihat dari refleksi dirinya yang ruwet, sehingga dalam melihat fakta yang

sesungguhnya tidak sesuai dengan apa adanya.



Karena itu orang mesti mempertanyakan, mengamati dirinya yaitu seluruh

bidang batinnya yang telah terkondisi. Untuk dapat mengamati orang haruslah

diam, mencurahkan seluruh perhatian, pikiran dan hatinya. Dengan energi

perhatian penuh ini, barangkali dia akan dapat melihat dan memahami masalah

dirinya dengan jelas.



Hanya dengan dipahaminya masalah "sang diri", orang akan terbebas; dan

hanya dalam kebebasan ada persepsi yang jernih; dan hanya dalam kejernihan

kemungkinan ada pencerahan; dan orangpun meledak seperti biji kecipir itu!



~ Wayan Windra.



Bahan diskusi/dialog pada

  Study Group of Krishnamurti

  Alamat: Br.Selat, Beringkit

    Ph. 829871, Hp.08123942933.



Sedikit disunting oleh Ngestoe Rahardjo.




     

   
   
       
         
       
       








       


       
       


     
Reply | Threaded
Open this post in threaded view
|  
Report Content as Inappropriate

Re: Mencari Guru Sejati ( mas Adji + mas AJI )

adji mudhita
wah, mbak lulu,

pas banget! tadi saya buka-buka file, memang ada tuh baca-baca, sempet senyum-senyum sih tadi pagi itu.

nah, posting ini juga nggak tau kenapa, kayaknya pingin POST aja :-)
.


  ----- Original Message -----
  From: syahputri_lu2 syahputri
  To: [hidden email]
  Sent: Tuesday, June 03, 2008 3:46 PM
  Subject: Re: [Spiritual-Indonesia] Mencari Guru Sejati ( mas Adji + mas AJI )


        Dear All....


        waduh mas berdua ....
        bahasan MENCARI GURU SEJATI  jadi ingat gempuran + guyon 2 tahun yang lalu, dengan kata lain kita ber3 reunian ya ....
        titip salam hangat dan kagem selalu buat Ayahanda ( Bp NR )

        regard selalu
        /Lu2


       

   
Reply | Threaded
Open this post in threaded view
|  
Report Content as Inappropriate

Re: Mencari Guru Sejati ( mas Adji + mas AJI )

lu2 syahputri
mas Adji....



senyum2 yang bagaimana ???

apa juga ingat waktu lu2 bener2 tertatih2 mencari si GURU SEJATI itu ??

nah untuk mas Aji .....monggo kita guyonan lagi dengan guru sejati itu ....

hehehehehe.....



regards

/Lu2


--- On Tue, 6/3/08, --- sangwaktu <[hidden email]> wrote:
From: --- sangwaktu <[hidden email]>
Subject: Re: [Spiritual-Indonesia] Mencari Guru Sejati ( mas Adji + mas AJI )
To: [hidden email]
Date: Tuesday, June 3, 2008, 4:54 AM










   
           


wah, mbak lulu,
 
pas banget! tadi saya buka-buka file, memang ada
tuh baca-baca, sempet senyum-senyum sih tadi pagi itu.
 
nah, posting ini juga nggak tau kenapa, kayaknya
pingin POST aja :-)
..

 

  ----- Original Message -----
  From:
  syahputri_lu2 syahputri
  To: Spiritual-Indonesia @yahoogroups. com
 
  Sent: Tuesday, June 03, 2008 3:46
PM
  Subject: Re: [Spiritual-Indonesi a]
  Mencari Guru Sejati ( mas Adji + mas AJI )
 

 
   
   
      Dear
        All....


waduh mas berdua ....
bahasan MENCARI GURU
        SEJATI  jadi ingat gempuran + guyon 2 tahun yang lalu, dengan kata
        lain kita ber3 reunian ya ....
titip salam hangat dan kagem selalu
        buat Ayahanda ( Bp NR )

regard selalu
/Lu2

       
         
         
           
 

     

   
   
       
         
       
       








       


       
       


     
Reply | Threaded
Open this post in threaded view
|  
Report Content as Inappropriate

Re: Mencari Guru Sejati ( mas Adji + mas AJI )

adji mudhita
ya saya tahulah siapa Lulu yang sekarang ;)

waktu itu khan ya memang begitu 'proses'nya hehehehe...
makanya kalau inget-inget lagi suka senyum-senyum ndirian.
.

  ----- Original Message -----
  From: syahputri_lu2 syahputri


        mas Adji....

        senyum2 yang bagaimana ???
        apa juga ingat waktu lu2 bener2 tertatih2 mencari si GURU SEJATI itu ??
        nah untuk mas Aji .....monggo kita guyonan lagi dengan guru sejati itu ....
        hehehehehe.....

        regards
        /Lu2

       

   
Reply | Threaded
Open this post in threaded view
|  
Report Content as Inappropriate

Re: Mencari Guru Sejati

ika_soxer
In reply to this post by adji mudhita
--- In [hidden email], "--- sangwaktu"
<sangwaktu@...> wrote:
>
> Mencari Guru Sejati
>
>
>   Ada sebuah ceritra tentang seorang murid yang mencari Guru
Sejati. Dia
> pergi berkeliling negeri. Pada suatu hari dia mendengar berita bahwa
> disebuah desa tua ada seorang Guru Sejati yang telah mencapai
kesempurnaan.
> Namun untuk sampai ke desa tua itu sangatlah sulit. Perjalanannya
melewati
> lembah-lembah yang curam dan lereng-lereng gunung yang terjal
menjulang
> tinggi. Dan katanya ada banyak setan dan jin pemangsa manusia di
sekitar
> hutan dan gunung itu. Sungguh suatu perjalanan yang beresiko tinggi.
>
>
>               Tetapi karena kemauannya yang kuat diapun pergi
mengunjungi
> desa tua itu. Ketika sampai, diapun langsung mendatangi tempat
tinggal Sang
> Guru. Sesampainya di tempat sang Guru dia dipersilahkan untuk duduk
menunggu
> barang sepuluh menit, karena sang Guru sedang pergi ke sungai.
Namun dia tak
> mau menunggu begitu lama, maka pergilah dia menyusuri tepi sungai
agar
> segera dapat bertemu sang Guru.
>
>               Di tepi sungai dia melihat seorang tua yang
sederhana, sedang
> duduk menatap aliran sungai. Dalam hati dia bertanya, "Inikah Guru
yang aku
> cari?"
>
>               Sambil menjatuhkan diri diapun berkata, "Maaf Guru,
murid
> mengganggu ketenangan Guru".
>
>               Si orangtua menengok seraya berkata, "Tidak ada yang
> mengganggu pun yang terganggu, duduklah anakku".
>
>               Diapun duduk menghadap sang Guru dan memohon, "Guru
yang
> Agung, mohon berilah murid petunjuk tentang kesempurnaan yang telah
Guru
> ketahui!"
>
>               "Anak yang baik, ini bukanlah saat dan tempat yang
tepat,
> tunggulah dipondok, sepuluh menit lagi aku akan kembali."
>
>               "Oh maaf Guru, hamba tak dapat menunggu begitu lama,
siapa
> tahu lima menit lagi dunia kiamat."
>
>               Si orang tua tersenyum melihat semangat anak muda
ini. Dengan
> kewaskitaannya dia melihat anak muda ini akan segera meninggal
dunia dalam
> beberapa saat, oleh kelainan jantung pada dirinya. Maka orangtua itu
> berkata, "Baiklah jika itu yang kamu kehendaki, dengarkanlah baik-
baik!"
>
>   "Jika kamu melihat, hanyalah melihat saja." "Jika kamu
mendengarkan,
> semata-mata hanyalah mendengar." "Jika kamu mencium, hanyalah
mencium, dan
> jika kamu merasakan, hanyalah merasakan semata."
>
>               Demikianlah dari pelajaran yang singkat ini, sebelum
ajalnya
> tiba si murid yang cerdas itu tercerahkan.
>
>               Mungkinkah hanya dari pernyataan singkat itu simurid
bisa
> memperoleh pencerahan? Mungkin saja, seperti halnya biji kecipir
yang
> betul-betul telah matang dan kering terbungkus didalam kelopaknya.
Ketika
> kena air hujan, kelopak pembungkusnya pecah dan bijinya terlepas.
Sebelum
> dia menerima pelajaran diatas, dia tentu telah banyak mengisi diri
dengan
> belajar dan belajar. Tak ada waktu dan hari tanpa belajar, sehingga
dia
> sampai pada tingkat inteligensi tertinggi, tingkat kematangan,
kedewasaan
> batin. Ketika akhirnya diguyur oleh intisari kebenaran, dia
langsung meledak
> bebas.
>
>               Kalau kita mengamati cerita di atas, tak ada hal yang
tak
> mungkin, namun untuk itu orang harus memiliki tekad, kemauan,
semangat yang
> kuat serta keberanian untuk menjadi bebas. Karena hanya didalam
kebebasan
> orang dapat belajar dengan benar. Kebebasan akan membuat orang
dapat melihat
> fakta yang ada seperti apa adanya dengan jernih. Jika seseorang
masih
> terikat atau terbungkus dalam kurungan, betapapun indahnya kurungan
itu, dia
> tak'an dapat melihat segala sesuatu dengan jelas, dia tak'an dapat
> mengarungi luasnya dunia kehidupan.
>
>               Sangkar yang indah membuat seseorang berbangga dengan
> kurungannya dan dia terlena didalamnya. Namun tak pernah menyadari
dirinya
> terjerat dan terbatas. Jika seorang terikat pada satu kepercayaan
maka dia
> akan melihat fakta yang ada sesuai dengan kepercayaannya. Jika
seorang pergi
> ke Gereja, dia akan melihat Kristus dan Bunda Maria, sementara yang
ke Kuil
> akan melihat Dewa Dewi yang gemerlap, yang ke Vihara akan melihat
Budhha
> demikian juga sama halnya dengan yang lainnya, mereka masing-masing
melihat
> sesuai dengan kepercayaannya. Karena kepercayaan telah memberi beban
> pengaruh kepadanya, sehingga mereka mengalami dan melihat sesuai
dengan
> keterkondisian batinnya. Fakta yang senyata ada, tak ada sangkut-
pautnya
> dengan kepercayaan mereka.
>
>               Dapatkah orang melihat fakta ini dengan jelas? Hanya
dalam
> kebebasan orang dapat melihat fakta dengan jelas seperti apa adanya
dan
> dapat menjelajahi, menyelami luas serta dalamnya kehidupan. Melihat
seperti
> ini adalah melihat dari keheningan batin. Hanya batin yang bebas,
yang tidak
> terikat, yang tidak dibeban pengaruhi oleh kepercayaan, paham,
doktrin
> apapun, yang menjadi bebas dan hening.
>
>               Lihatlah seluruh kehidupan, bukankah semua agama,
organisasi,
> sekte, kebangsaan, ras, suku bangsa, aliran telah mengkotak-kotakan;
> menjerat manusia ke dalam kelompok yang saling bertentangan? Yang
telah
> memicu peperangan, permusuhan, kekerasan, dan kebencian.
>
>               Semua penderitaan di muka bumi ini berawal disini,
dari
> tindakan batin yang terkondisi, yang mempercayai, yang meyakini,
yang telah
> terindoktrinisasi. Batin seperti ini adalah batin yang keras,
kering,
> sempit, tumpul dan mati. Batin seperti ini tak'an dapat belajar
untuk
> memahami dirinya; tak'an dapat membuka dirinya bagi yang maha luas,
yang tak
> terbatas yaitu Tuhan!
>
>               Untuk mengamati orang tak perlu mempercayai. Karena
> kepercayaan adalah hasil dari batin yang terkondisi. Batin yang
terkondisi
> adalah batin yang ramai, penuh dengan konflik, kecemasan,
kebingungan,
> kesedihan, kekecewaan; yang terlanjur pintar membantah dan menurut,
yang
> selalu menyesuaikan diri, yang mengalisa, merekayasa, yang
menghitung untung
> dan rugi, penuh tipuan, yang mencari menang dan senang. Batin
seperti ini
> melihat dari refleksi dirinya yang ruwet, sehingga dalam melihat
fakta yang
> sesungguhnya tidak sesuai dengan apa adanya.
>
>   Karena itu orang mesti mempertanyakan, mengamati dirinya yaitu
seluruh
> bidang batinnya yang telah terkondisi. Untuk dapat mengamati orang
haruslah
> diam, mencurahkan seluruh perhatian, pikiran dan hatinya. Dengan
energi
> perhatian penuh ini, barangkali dia akan dapat melihat dan memahami
masalah
> dirinya dengan jelas.
>
>   Hanya dengan dipahaminya masalah "sang diri", orang akan
terbebas; dan
> hanya dalam kebebasan ada persepsi yang jernih; dan hanya dalam
kejernihan
> kemungkinan ada pencerahan; dan orangpun meledak seperti biji
kecipir itu!

>
>   ~ Wayan Windra.
>
>
>   Bahan diskusi/dialog pada
>   Study Group of Krishnamurti
>   Alamat: Br.Selat, Beringkit
>     Ph. 829871, Hp.08123942933.
>
>
>   Sedikit disunting oleh Ngestoe Rahardjo.
>


Loading...