Quantcast

Ngelindur: Spiritualitas Tanpa Guru, Mungkinkah?

classic Classic list List threaded Threaded
44 messages Options
123
Reply | Threaded
Open this post in threaded view
|  
Report Content as Inappropriate

Ngelindur: Spiritualitas Tanpa Guru, Mungkinkah?

paninggilan

dalam laku spiritualitas, semua berpusat pada diri pribadi. meski ada
banyak jalan dan pintu, pada akhirnya adalah diri sendiri
berhadap-hadapan dengan kesadarannya sejati.

sebagai pemula, saya masih merasa di luar pintu itu. namun, dalam
perjalanan menuju pintu itu ada banyak jalan ditawarkan, banyak
simpang dihadapi. ada saya coba beberapa jalan itu tapi tak pernah
sampai ujung, sebab setiap kali saya dihadapkan pada kebosanan karena
"mengharap" hasil yang tak kunjung nyata.

saya membayangkan jalan yang dirintis sendiri, tanpa mengambil
rute-rute yang sudah ada entah rute agama ataupun non-agama. ada
seorang kawan senior di tempat lain yang pernah sharing pengalamannya
"mencari sendiri" di luar jalur-jalur umum itu, tetapi agak sulit
memperoleh metodenya karena bersifat personal dan memang oleh beliau
tidak diformulasikan untuk menjadi sebuah ajaran.

adakah rekan-rekan di milis SI ini yang telah "sampai" melewati pintu
itu lewat jalan yang dirintisnya sendiri, bukan lewat jalur-jalur yang
sudah ada baik yg sudah dikenal luas dalam peta ketuhanan yang umum,
maupun ajaran2 yg diwariskan turun-temurun dalam keluarga maupun
kelompok2 penghayat.

barangkali ada yang bersedia berbagi pengalaman itu?



salam ngelindur,

TSP


Reply | Threaded
Open this post in threaded view
|  
Report Content as Inappropriate

Re: Ngelindur: Spiritualitas Tanpa Guru, Mungkinkah?

semar samiaji
Mas Teguh...jika ada manusia ada yang merasa sudah mencapai apa yang Mas sampaikan, menurut apa yang terkaji dan diyakini sejauh ini adalah sesuatu yang merasa saja....mau pintu apa pun atau pun melalui dalam diri...semuanya berinteraksi Mas...semuanya amat sangat dipengaruhi oleh "daya tahan" diri dalam berkesabaran dalam melakoninya melalui proses pengkajian tiada henti....
 
selama manusia bernafas, proses masih terus berlangsung....dalam proses inilah perlu adanya "ketulusan"...ukuran ketulusan ada di dalam setiap diri...silahkan temukan dan rasakan....jalani saja apa yang ada di dalam diri dengan ketulusan demikian....hanya itu saja koq...setiap desahan nafas....hanya itu....
 
"rekonsiliasi dengan masa lalu, terima apa adanya saat ini, transformasikan dalam ketulusan, lakoni kehidupan semampunya...biarkan semua mengalir apa adanya dalam upaya tuju kesujatian nilai-nilai kemanusiaan sebagai arah kehidupannya..."
 
salam,
ss
 

--- On Wed, 2/25/09, Teguh Setiawan <[hidden email]> wrote:

From: Teguh Setiawan <[hidden email]>
Subject: [Spiritual-Indonesia] Ngelindur: Spiritualitas Tanpa Guru, Mungkinkah?
To: [hidden email]
Date: Wednesday, February 25, 2009, 9:16 AM







dalam laku spiritualitas, semua berpusat pada diri pribadi. meski ada
banyak jalan dan pintu, pada akhirnya adalah diri sendiri
berhadap-hadapan dengan kesadarannya sejati.

sebagai pemula, saya masih merasa di luar pintu itu. namun, dalam
perjalanan menuju pintu itu ada banyak jalan ditawarkan, banyak
simpang dihadapi. ada saya coba beberapa jalan itu tapi tak pernah
sampai ujung, sebab setiap kali saya dihadapkan pada kebosanan karena
"mengharap" hasil yang tak kunjung nyata.

saya membayangkan jalan yang dirintis sendiri, tanpa mengambil
rute-rute yang sudah ada entah rute agama ataupun non-agama. ada
seorang kawan senior di tempat lain yang pernah sharing pengalamannya
"mencari sendiri" di luar jalur-jalur umum itu, tetapi agak sulit
memperoleh metodenya karena bersifat personal dan memang oleh beliau
tidak diformulasikan untuk menjadi sebuah ajaran.

adakah rekan-rekan di milis SI ini yang telah "sampai" melewati pintu
itu lewat jalan yang dirintisnya sendiri, bukan lewat jalur-jalur yang
sudah ada baik yg sudah dikenal luas dalam peta ketuhanan yang umum,
maupun ajaran2 yg diwariskan turun-temurun dalam keluarga maupun
kelompok2 penghayat.

barangkali ada yang bersedia berbagi pengalaman itu?

salam ngelindur,

TSP

















     
Reply | Threaded
Open this post in threaded view
|  
Report Content as Inappropriate

Re: Ngelindur: Spiritualitas Tanpa Guru, Mungkinkah?

ika_soxer
In reply to this post by paninggilan

mas teguh,,,,

mari yuk kita mulai melakukan segala sesuatunya tanpa pengharapan,,,
and then no judgement,,,, biarkan suara2 di kepala ini berbicara apa
adanya,,,, dan kita hanya melihat saja,,,,,

sedang menjalani,,, di pagi yang cerah ini,,, :):):)

ika,




--- In [hidden email], "Teguh Setiawan"
<tspinang@...> wrote:
>
>
> dalam laku spiritualitas, semua berpusat pada diri pribadi. meski
ada
> banyak jalan dan pintu, pada akhirnya adalah diri sendiri
> berhadap-hadapan dengan kesadarannya sejati.
>
> sebagai pemula, saya masih merasa di luar pintu itu. namun, dalam
> perjalanan menuju pintu itu ada banyak jalan ditawarkan, banyak
> simpang dihadapi. ada saya coba beberapa jalan itu tapi tak pernah
> sampai ujung, sebab setiap kali saya dihadapkan pada kebosanan
karena
> "mengharap" hasil yang tak kunjung nyata.
>
> saya membayangkan jalan yang dirintis sendiri, tanpa mengambil
> rute-rute yang sudah ada entah rute agama ataupun non-agama. ada
> seorang kawan senior di tempat lain yang pernah sharing
pengalamannya
> "mencari sendiri" di luar jalur-jalur umum itu, tetapi agak sulit
> memperoleh metodenya karena bersifat personal dan memang oleh beliau
> tidak diformulasikan untuk menjadi sebuah ajaran.
>
> adakah rekan-rekan di milis SI ini yang telah "sampai" melewati
pintu
> itu lewat jalan yang dirintisnya sendiri, bukan lewat jalur-jalur
yang

> sudah ada baik yg sudah dikenal luas dalam peta ketuhanan yang umum,
> maupun ajaran2 yg diwariskan turun-temurun dalam keluarga maupun
> kelompok2 penghayat.
>
> barangkali ada yang bersedia berbagi pengalaman itu?
>
>
>
> salam ngelindur,
>
> TSP
>


Reply | Threaded
Open this post in threaded view
|  
Report Content as Inappropriate

Re: Re: Ngelindur: Spiritualitas Tanpa Guru, Mungkinkah?

firman kachah
betul.... setuju
 ikuti..... jalani....rasakan pagi yang cerah ini.... (tp barusan hujan dit4ku))




________________________________
From: ika_soxer <[hidden email]>
To: [hidden email]
Sent: Wednesday, February 25, 2009 9:44:52
Subject: [Spiritual-Indonesia] Re: Ngelindur: Spiritualitas Tanpa Guru, Mungkinkah?



mas teguh,,,,

mari yuk kita mulai melakukan segala sesuatunya tanpa pengharapan, ,,
and then no judgement,,, , biarkan suara2 di kepala ini berbicara apa
adanya,,,, dan kita hanya melihat saja,,,,,

sedang menjalani,,, di pagi yang cerah ini,,, :):):)

ika,

--- In Spiritual-Indonesia @yahoogroups. com, "Teguh Setiawan"
<tspinang@.. .> wrote:
>
>
> dalam laku spiritualitas, semua berpusat pada diri pribadi. meski
ada
> banyak jalan dan pintu, pada akhirnya adalah diri sendiri
> berhadap-hadapan dengan kesadarannya sejati.
>
> sebagai pemula, saya masih merasa di luar pintu itu. namun, dalam
> perjalanan menuju pintu itu ada banyak jalan ditawarkan, banyak
> simpang dihadapi. ada saya coba beberapa jalan itu tapi tak pernah
> sampai ujung, sebab setiap kali saya dihadapkan pada kebosanan
karena
> "mengharap" hasil yang tak kunjung nyata.
>
> saya membayangkan jalan yang dirintis sendiri, tanpa mengambil
> rute-rute yang sudah ada entah rute agama ataupun non-agama. ada
> seorang kawan senior di tempat lain yang pernah sharing
pengalamannya
> "mencari sendiri" di luar jalur-jalur umum itu, tetapi agak sulit
> memperoleh metodenya karena bersifat personal dan memang oleh beliau
> tidak diformulasikan untuk menjadi sebuah ajaran.
>
> adakah rekan-rekan di milis SI ini yang telah "sampai" melewati
pintu
> itu lewat jalan yang dirintisnya sendiri, bukan lewat jalur-jalur
yang

> sudah ada baik yg sudah dikenal luas dalam peta ketuhanan yang umum,
> maupun ajaran2 yg diwariskan turun-temurun dalam keluarga maupun
> kelompok2 penghayat.
>
> barangkali ada yang bersedia berbagi pengalaman itu?
>
>
>
> salam ngelindur,
>
> TSP
>


   


      New Email addresses available on Yahoo!
Get the Email name you&#39;ve always wanted on the new @ymail and @rocketmail.
Hurry before someone else does!
http://mail.promotions.yahoo.com/newdomains/aa/
Reply | Threaded
Open this post in threaded view
|  
Report Content as Inappropriate

Re: Ngelindur: Spiritualitas Tanpa Guru, Mungkinkah?

get0109i
In reply to this post by paninggilan
Ngelindur dikit,
Manusia ibarat lilin-lilin, ada lilin yang sudah menyala dan ada yang
belum menyala.
Bagi yang belum bisa menyala sendiri, diperlukan lilin yang menyala,
untuk membantu lilin kita supaya bisa juga bernyala misalnya dengan
attutment.
untuk menjaga lilin yang sudah menyala ,dalam laku spiritualitas,
semua berpusat pada diri pribadi.
Meskipun kadang angin sepoi-sepoi malam bisa meredupkan api tersebut.
Ini pengalaman saya bertahun-tahun hasilnya geto-geto juga

salam
geto

--- In [hidden email], "Teguh Setiawan"
<tspinang@...> wrote:

>
>
> dalam laku spiritualitas, semua berpusat pada diri pribadi. meski ada
> banyak jalan dan pintu, pada akhirnya adalah diri sendiri
> berhadap-hadapan dengan kesadarannya sejati.
>
> sebagai pemula, saya masih merasa di luar pintu itu. namun, dalam
> perjalanan menuju pintu itu ada banyak jalan ditawarkan, banyak
> simpang dihadapi. ada saya coba beberapa jalan itu tapi tak pernah
> sampai ujung, sebab setiap kali saya dihadapkan pada kebosanan karena
> "mengharap" hasil yang tak kunjung nyata.
>
> saya membayangkan jalan yang dirintis sendiri, tanpa mengambil
> rute-rute yang sudah ada entah rute agama ataupun non-agama. ada
> seorang kawan senior di tempat lain yang pernah sharing pengalamannya
> "mencari sendiri" di luar jalur-jalur umum itu, tetapi agak sulit
> memperoleh metodenya karena bersifat personal dan memang oleh beliau
> tidak diformulasikan untuk menjadi sebuah ajaran.
>
> adakah rekan-rekan di milis SI ini yang telah "sampai" melewati pintu
> itu lewat jalan yang dirintisnya sendiri, bukan lewat jalur-jalur yang
> sudah ada baik yg sudah dikenal luas dalam peta ketuhanan yang umum,
> maupun ajaran2 yg diwariskan turun-temurun dalam keluarga maupun
> kelompok2 penghayat.
>
> barangkali ada yang bersedia berbagi pengalaman itu?
>
>
>
> salam ngelindur,
>
> TSP
>


Reply | Threaded
Open this post in threaded view
|  
Report Content as Inappropriate

Ngelindur: Spiritualitas Tanpa Guru, Mungkinkah?

semar samiaji
ujud lilin...ada api di atasnya, menerangi sekitar...sesuai ukuran lilinnya, lalu habislah dirinya dalam penerangan itu...apa iya demikian manusia yang menerangi sesama dan alam semesta?...he..he..he.he.he...
 
so, konteksnya "bukan" dari ujud lilinnya....namun, "terangnya"...manusia yang sudah menerangi simbolnya adalah "bulan"....bulan sinarnya dari matahari...terang bulan akan menerangi alam semesta dalam kesejukan...kajian, koq bulan nggak kepanasan terima sinar dari matahari?...pakai kacamata rayban kali yach....he..he..he..he..he..he...
 
lagian kalau simbolnya bulan, nggak ada unsur jualan lagi...kecuali, kue bulan yang rasanya makkknyyossss.....he..he..he..he..he...
 
salam terang bulan,
ss


--- On Wed, 2/25/09, get0109i <[hidden email]> wrote:

From: get0109i <[hidden email]>
Subject: [Spiritual-Indonesia] Re: Ngelindur: Spiritualitas Tanpa Guru, Mungkinkah?
To: [hidden email]
Date: Wednesday, February 25, 2009, 10:38 AM






Ngelindur dikit,
Manusia ibarat lilin-lilin, ada lilin yang sudah menyala dan ada yang
belum menyala.
Bagi yang belum bisa menyala sendiri, diperlukan lilin yang menyala,
untuk membantu lilin kita supaya bisa juga bernyala misalnya dengan
attutment.
untuk menjaga lilin yang sudah menyala ,dalam laku spiritualitas,
semua berpusat pada diri pribadi.
Meskipun kadang angin sepoi-sepoi malam bisa meredupkan api tersebut.
Ini pengalaman saya bertahun-tahun hasilnya geto-geto juga

salam
geto


.
















     
Reply | Threaded
Open this post in threaded view
|  
Report Content as Inappropriate

Bls: Re: Ngelindur: Spiritualitas Tanpa Guru, Mungkinkah?

bamsdoe
In reply to this post by get0109i
Kenapa mesti diibaratkan...kan sebenarnya apa yang harus dijalani manusia itu nyata adanya.
nah untuk itu perlu kesadaran diri untuk menemukan apa yang diharapkan.

seperti contoh.

MAKAN...disini setiap manusia menanggapinya akan lain lain jika dilihat dari pola pikir
tapi ketika ditilik dari RASA akan menemukan cita tersendiri.

semua haruslah dilakukan dikerjakan dengan nyata dan dirasakan...dari hal tersebut yang sering kita tidak sadari akan memberikan suatu manfaat untuk menjalani semuanya.

begitu juga untuk menemukan PINTU HIDUP yang dimaksud, selama kita tidak menyadari yang ada pada kita sangat lamban kita untuk menemukan PINTU itu...banyak cara yang dilakukan seperti halnya...MEGENG NAFAS...MEDITASI...MANGESTI...
DZIKIR....PUASA...dlsb. itu hanya sarana yang sebagian besar dianggap benar bagi diri maupun raga.

banyak buku buku nyang tersaji mungkin dapat memberikan arahan sebagai bahan perbandingan apakah arahan itu berlaku pada diri kita.

nah untuk menyikapi hal tersebut...Lontaran Masalah yang ditulis TS PINANG sangatlah penting untuk dicermati dalam keterbatasan sisa waktu yang kita arungi.

tidaklah ada kata terlambat atau tidak akan bertemu...luangkan waktu yang nantinya akan menjadikan sebuah pertemuan diri disuatu waktu bahkan setiap hari.

Nyatakanlah setiap apa yang akan kita kerjakan atau lakukan DINYATAKAN DENGAN SESUNGGUHNYA dengan PENGHARAPAN YANG BAIK.

selalu tetap ingat tentang bahan jadi diri kita dari mana asalnya, fungsinya apa, belailah dengan kasih sayang...jangan pernah dilupakan.

dan sadarilah bahwa segala sesuatu yang kita lakukan itu ada BAIK dan ada yang BURUK, berkehendaklah menghilangkan sesuatu yang BURUK sekalipun yang terjadi atau yang akan terjadi pada diri kita.

bernyanyilah walaupun tidak semuanya, belailah alam rasakan sentuhannya...angin...hujan...panasnya matahari...tumbuhan...binatang buas sekalipun
sebab semuanya itu adalah esensi sifat yang semuanya ada pada diri kita dan sadarilah selalu.

Hormatilah dan beri kesan kesungguhan dengan senang hati setiap perjumpaan seburuk apapun yang dihadapi dan dijumpai.

selalu mengingatlah siapa saja keluarga kita dan selalu bukalah pintu Maaf didalam kehendak hati kita.

bila masih ada kedua orangtua kita...berikan kasih sayang seperti kita menyayangi diri sendiri...sebab dari dialah sebagai PINTU keberadaan kita saat ini.

bagi yang sudah ditinggal pulang orang tuanya jangan ragu untuk menyesali jika belum penuh membahagiakan...berikan kidung puja hati setiap ingat...beliau tak kemana mana...beliau ada ditengah kedalaman hati kita yang damai.

jangan pernah mendendam ...ucapkan kata kasih sayang dan tersenyumlah jika ada disetiap perjumpaan dengan siapapun.

Bila kau lapar makanlah jangan ditahan atau dibiarkan, bila mengantuk tidurlah sebatas keinginan.

Sesungguhnya KESAKTIAN, KEMULIAAN dlsb termasuk KEMATIAN hanya dimiliki bagi yang HIDUP.......Maka Peluklah HIDUPmu dengan penuh kasih dan sayang...jangan kau sia siakan...HIDUP itu kah GERAK...ya gerakkan semua yang ada pada kita apa adanya penuh kesadaran...


salam rahayu.

nDoe

--- Pada Rab, 25/2/09, get0109i <[hidden email]> menulis:
Dari: get0109i <[hidden email]>
Topik: [Spiritual-Indonesia] Re: Ngelindur: Spiritualitas Tanpa Guru, Mungkinkah?
Kepada: [hidden email]
Tanggal: Rabu, 25 Februari, 2009, 3:38 AM











   
            Ngelindur dikit,

Manusia ibarat lilin-lilin, ada lilin yang sudah menyala dan ada yang

belum menyala.

Bagi yang belum bisa menyala sendiri, diperlukan lilin yang menyala,

untuk membantu lilin kita supaya bisa juga bernyala misalnya dengan

attutment.

untuk menjaga lilin yang sudah menyala ,dalam laku spiritualitas,

semua berpusat pada diri pribadi.

Meskipun kadang angin sepoi-sepoi malam bisa meredupkan api tersebut.

Ini pengalaman saya bertahun-tahun hasilnya geto-geto juga



salam

geto



--- In Spiritual-Indonesia @yahoogroups. com, "Teguh Setiawan"

<tspinang@.. .> wrote:

>

>

> dalam laku spiritualitas, semua berpusat pada diri pribadi. meski ada

> banyak jalan dan pintu, pada akhirnya adalah diri sendiri

> berhadap-hadapan dengan kesadarannya sejati.

>

> sebagai pemula, saya masih merasa di luar pintu itu. namun, dalam

> perjalanan menuju pintu itu ada banyak jalan ditawarkan, banyak

> simpang dihadapi. ada saya coba beberapa jalan itu tapi tak pernah

> sampai ujung, sebab setiap kali saya dihadapkan pada kebosanan karena

> "mengharap" hasil yang tak kunjung nyata.

>

> saya membayangkan jalan yang dirintis sendiri, tanpa mengambil

> rute-rute yang sudah ada entah rute agama ataupun non-agama. ada

> seorang kawan senior di tempat lain yang pernah sharing pengalamannya

> "mencari sendiri" di luar jalur-jalur umum itu, tetapi agak sulit

> memperoleh metodenya karena bersifat personal dan memang oleh beliau

> tidak diformulasikan untuk menjadi sebuah ajaran.

>

> adakah rekan-rekan di milis SI ini yang telah "sampai" melewati pintu

> itu lewat jalan yang dirintisnya sendiri, bukan lewat jalur-jalur yang

> sudah ada baik yg sudah dikenal luas dalam peta ketuhanan yang umum,

> maupun ajaran2 yg diwariskan turun-temurun dalam keluarga maupun

> kelompok2 penghayat.

>

> barangkali ada yang bersedia berbagi pengalaman itu?

>

>

>

> salam ngelindur,

>

> TSP

>




 

     

   
   
       
         
       
       








       


       
       


      Berselancar lebih cepat dan lebih cerdas dengan Firefox 3
http://downloads.yahoo.com/id/firefox/
Reply | Threaded
Open this post in threaded view
|  
Report Content as Inappropriate

Re: Ngelindur: Spiritualitas Tanpa Guru, Mungkinkah?

get0109i
In reply to this post by semar samiaji
Salam warna,
Terimakasih ss sehingga dapat warna baru sedikit.
lilinnya bukan untuk jualan sih, hanya untuk bisa ngelindur bagi yang
susah ngelindur.
Kadang ngelindur kedalam rumah sehingga cahaya dari luar, mau cahaya
matahari atau cahaya bulan tidak dapat menerangi kedalaman rumah,
apalagi pintu hati, jendela sudah tertutup semuanya. PLN lagi irit
minyak, maka diperlukan lilin juga.

salam
geto

--- In [hidden email], semar samiaji
<kind_evil_06@...> wrote:
>
> ujud lilin...ada api di atasnya, menerangi sekitar...sesuai ukuran
lilinnya, lalu habislah dirinya dalam penerangan itu...apa iya
demikian manusia yang menerangi sesama dan alam
semesta?...he..he..he.he.he...
>  
> so, konteksnya "bukan" dari ujud lilinnya....namun,
"terangnya"...manusia yang sudah menerangi simbolnya adalah
"bulan"....bulan sinarnya dari matahari...terang bulan akan menerangi
alam semesta dalam kesejukan...kajian, koq bulan nggak kepanasan
terima sinar dari matahari?...pakai kacamata rayban kali
yach....he..he..he..he..he..he...
>  
> lagian kalau simbolnya bulan, nggak ada unsur jualan lagi...kecuali,
kue bulan yang rasanya makkknyyossss.....he..he..he..he..he...
>  
> salam terang bulan,
> ss
>
>
> --- On Wed, 2/25/09, get0109i <get0109i@...> wrote:
>
> From: get0109i <get0109i@...>
> Subject: [Spiritual-Indonesia] Re: Ngelindur: Spiritualitas Tanpa
Guru, Mungkinkah?

> To: [hidden email]
> Date: Wednesday, February 25, 2009, 10:38 AM
>
>
>
>
>
>
> Ngelindur dikit,
> Manusia ibarat lilin-lilin, ada lilin yang sudah menyala dan ada yang
> belum menyala.
> Bagi yang belum bisa menyala sendiri, diperlukan lilin yang menyala,
> untuk membantu lilin kita supaya bisa juga bernyala misalnya dengan
> attutment.
> untuk menjaga lilin yang sudah menyala ,dalam laku spiritualitas,
> semua berpusat pada diri pribadi.
> Meskipun kadang angin sepoi-sepoi malam bisa meredupkan api tersebut.
> Ini pengalaman saya bertahun-tahun hasilnya geto-geto juga
>
> salam
> geto
>
>
> .
>


Reply | Threaded
Open this post in threaded view
|  
Report Content as Inappropriate

Bls: Re: Ngelindur: Spiritualitas Tanpa Guru, Mungkinkah?

get0109i
In reply to this post by bamsdoe
Terimakasih nDoe,
Dapat saya sarikan untuk menuju pintu HIDUP,
diperlukan untuk memaafkan, menyadari kesalahan kita sendiri,dan
mengasihi sesama walaupun mereka bersikap buruk.
Dan jangan bilang buah itu asam, kalau yang kita makan manis.

salam geto

--- In [hidden email], Bambang Kandoe
<bamsdoe@...> wrote:
>
> Kenapa mesti diibaratkan...kan sebenarnya apa yang harus dijalani
manusia itu nyata adanya.
> nah untuk itu perlu kesadaran diri untuk menemukan apa yang diharapkan.
>
> seperti contoh.
>
> MAKAN...disini setiap manusia menanggapinya akan lain lain jika
dilihat dari pola pikir
> tapi ketika ditilik dari RASA akan menemukan cita tersendiri.
>
> semua haruslah dilakukan dikerjakan dengan nyata dan
dirasakan...dari hal tersebut yang sering kita tidak sadari akan
memberikan suatu manfaat untuk menjalani semuanya.
>
> begitu juga untuk menemukan PINTU HIDUP yang dimaksud, selama kita
tidak menyadari yang ada pada kita sangat lamban kita untuk menemukan
PINTU itu...banyak cara yang dilakukan seperti halnya...MEGENG
NAFAS...MEDITASI...MANGESTI...
> DZIKIR....PUASA...dlsb. itu hanya sarana yang sebagian besar
dianggap benar bagi diri maupun raga.
>
> banyak buku buku nyang tersaji mungkin dapat memberikan arahan
sebagai bahan perbandingan apakah arahan itu berlaku pada diri kita.
>
> nah untuk menyikapi hal tersebut...Lontaran Masalah yang ditulis TS
PINANG sangatlah penting untuk dicermati dalam keterbatasan sisa waktu
yang kita arungi.
>
> tidaklah ada kata terlambat atau tidak akan bertemu...luangkan waktu
yang nantinya akan menjadikan sebuah pertemuan diri disuatu waktu
bahkan setiap hari.
>
> Nyatakanlah setiap apa yang akan kita kerjakan atau lakukan
DINYATAKAN DENGAN SESUNGGUHNYA dengan PENGHARAPAN YANG BAIK.
>
> selalu tetap ingat tentang bahan jadi diri kita dari mana asalnya,
fungsinya apa, belailah dengan kasih sayang...jangan pernah dilupakan.
>
> dan sadarilah bahwa segala sesuatu yang kita lakukan itu ada BAIK
dan ada yang BURUK, berkehendaklah menghilangkan sesuatu yang BURUK
sekalipun yang terjadi atau yang akan terjadi pada diri kita.
>
> bernyanyilah walaupun tidak semuanya, belailah alam rasakan
sentuhannya...angin...hujan...panasnya matahari...tumbuhan...binatang
buas sekalipun
> sebab semuanya itu adalah esensi sifat yang semuanya ada pada diri
kita dan sadarilah selalu.
>
> Hormatilah dan beri kesan kesungguhan dengan senang hati setiap
perjumpaan seburuk apapun yang dihadapi dan dijumpai.
>
> selalu mengingatlah siapa saja keluarga kita dan selalu bukalah
pintu Maaf didalam kehendak hati kita.
>
> bila masih ada kedua orangtua kita...berikan kasih sayang seperti
kita menyayangi diri sendiri...sebab dari dialah sebagai PINTU
keberadaan kita saat ini.
>
> bagi yang sudah ditinggal pulang orang tuanya jangan ragu untuk
menyesali jika belum penuh membahagiakan...berikan kidung puja hati
setiap ingat...beliau tak kemana mana...beliau ada ditengah kedalaman
hati kita yang damai.
>
> jangan pernah mendendam ...ucapkan kata kasih sayang dan
tersenyumlah jika ada disetiap perjumpaan dengan siapapun.
>
> Bila kau lapar makanlah jangan ditahan atau dibiarkan, bila
mengantuk tidurlah sebatas keinginan.
>
> Sesungguhnya KESAKTIAN, KEMULIAAN dlsb termasuk KEMATIAN hanya
dimiliki bagi yang HIDUP.......Maka Peluklah HIDUPmu dengan penuh
kasih dan sayang...jangan kau sia siakan...HIDUP itu kah GERAK...ya
gerakkan semua yang ada pada kita apa adanya penuh kesadaran...
>
>
> salam rahayu.
>
> nDoe
>
> --- Pada Rab, 25/2/09, get0109i <get0109i@...> menulis:
> Dari: get0109i <get0109i@...>
> Topik: [Spiritual-Indonesia] Re: Ngelindur: Spiritualitas Tanpa
Guru, Mungkinkah?

> Kepada: [hidden email]
> Tanggal: Rabu, 25 Februari, 2009, 3:38 AM
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>    
>             Ngelindur dikit,
>
> Manusia ibarat lilin-lilin, ada lilin yang sudah menyala dan ada yang
>
> belum menyala.
>
> Bagi yang belum bisa menyala sendiri, diperlukan lilin yang menyala,
>
> untuk membantu lilin kita supaya bisa juga bernyala misalnya dengan
>
> attutment.
>
> untuk menjaga lilin yang sudah menyala ,dalam laku spiritualitas,
>
> semua berpusat pada diri pribadi.
>
> Meskipun kadang angin sepoi-sepoi malam bisa meredupkan api tersebut.
>
> Ini pengalaman saya bertahun-tahun hasilnya geto-geto juga
>
>
>
> salam
>
> geto
>
>
>
> --- In Spiritual-Indonesia @yahoogroups. com, "Teguh Setiawan"
>
> <tspinang@ .> wrote:
>
> >
>
> >
>
> > dalam laku spiritualitas, semua berpusat pada diri pribadi. meski ada
>
> > banyak jalan dan pintu, pada akhirnya adalah diri sendiri
>
> > berhadap-hadapan dengan kesadarannya sejati.
>
> >
>
> > sebagai pemula, saya masih merasa di luar pintu itu. namun, dalam
>
> > perjalanan menuju pintu itu ada banyak jalan ditawarkan, banyak
>
> > simpang dihadapi. ada saya coba beberapa jalan itu tapi tak pernah
>
> > sampai ujung, sebab setiap kali saya dihadapkan pada kebosanan karena
>
> > "mengharap" hasil yang tak kunjung nyata.
>
> >
>
> > saya membayangkan jalan yang dirintis sendiri, tanpa mengambil
>
> > rute-rute yang sudah ada entah rute agama ataupun non-agama. ada
>
> > seorang kawan senior di tempat lain yang pernah sharing pengalamannya
>
> > "mencari sendiri" di luar jalur-jalur umum itu, tetapi agak sulit
>
> > memperoleh metodenya karena bersifat personal dan memang oleh beliau
>
> > tidak diformulasikan untuk menjadi sebuah ajaran.
>
> >
>
> > adakah rekan-rekan di milis SI ini yang telah "sampai" melewati pintu
>
> > itu lewat jalan yang dirintisnya sendiri, bukan lewat jalur-jalur yang
>
> > sudah ada baik yg sudah dikenal luas dalam peta ketuhanan yang umum,
>
> > maupun ajaran2 yg diwariskan turun-temurun dalam keluarga maupun
>
> > kelompok2 penghayat.
>
> >
>
> > barangkali ada yang bersedia berbagi pengalaman itu?
>
> >
>
> >
>
> >
>
> > salam ngelindur,
>
> >
>
> > TSP
>
> >
>
>
>
>
>  
>
>      
>
>    
>    
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>       Berselancar lebih cepat dan lebih cerdas dengan Firefox 3
> http://downloads.yahoo.com/id/firefox/
>


Reply | Threaded
Open this post in threaded view
|  
Report Content as Inappropriate

Bls: Re: Ngelindur: Spiritualitas Tanpa Guru, Mungkinkah?

bamsdoe
mengertikan...nah selamat menikmati dan selamat menemukan PINTU HIDUP yang SEBENARNYA...gak usah yang NEKO NEKO.


salam

--- Pada Rab, 25/2/09, get0109i <[hidden email]> menulis:
Dari: get0109i <[hidden email]>
Topik: Bls: [Spiritual-Indonesia] Re: Ngelindur: Spiritualitas Tanpa Guru, Mungkinkah?
Kepada: [hidden email]
Tanggal: Rabu, 25 Februari, 2009, 4:59 AM











   
            Terimakasih nDoe,

Dapat saya sarikan untuk menuju pintu HIDUP,

diperlukan untuk memaafkan, menyadari kesalahan kita sendiri,dan

mengasihi sesama walaupun mereka bersikap buruk.

Dan jangan bilang buah itu asam, kalau yang kita makan manis.



salam geto



--- In Spiritual-Indonesia @yahoogroups. com, Bambang Kandoe

<bamsdoe@... > wrote:

>

> Kenapa mesti diibaratkan. ..kan sebenarnya apa yang harus dijalani

manusia itu nyata adanya.

> nah untuk itu perlu kesadaran diri untuk menemukan apa yang diharapkan.

>

> seperti contoh.

>

> MAKAN...disini setiap manusia menanggapinya akan lain lain jika

dilihat dari pola pikir

> tapi ketika ditilik dari RASA akan menemukan cita tersendiri.

>

> semua haruslah dilakukan dikerjakan dengan nyata dan

dirasakan... dari hal tersebut yang sering kita tidak sadari akan

memberikan suatu manfaat untuk menjalani semuanya.

>

> begitu juga untuk menemukan PINTU HIDUP yang dimaksud, selama kita

tidak menyadari yang ada pada kita sangat lamban kita untuk menemukan

PINTU itu...banyak cara yang dilakukan seperti halnya...MEGENG

NAFAS...MEDITASI. ..MANGESTI. ..

> DZIKIR....PUASA. ..dlsb. itu hanya sarana yang sebagian besar

dianggap benar bagi diri maupun raga.

>

> banyak buku buku nyang tersaji mungkin dapat memberikan arahan

sebagai bahan perbandingan apakah arahan itu berlaku pada diri kita.

>

> nah untuk menyikapi hal tersebut...Lontaran Masalah yang ditulis TS

PINANG sangatlah penting untuk dicermati dalam keterbatasan sisa waktu

yang kita arungi.

>

> tidaklah ada kata terlambat atau tidak akan bertemu...luangkan waktu

yang nantinya akan menjadikan sebuah pertemuan diri disuatu waktu

bahkan setiap hari.

>

> Nyatakanlah setiap apa yang akan kita kerjakan atau lakukan

DINYATAKAN DENGAN SESUNGGUHNYA dengan PENGHARAPAN YANG BAIK.

>

> selalu tetap ingat tentang bahan jadi diri kita dari mana asalnya,

fungsinya apa, belailah dengan kasih sayang...jangan pernah dilupakan.

>

> dan sadarilah bahwa segala sesuatu yang kita lakukan itu ada BAIK

dan ada yang BURUK, berkehendaklah menghilangkan sesuatu yang BURUK

sekalipun yang terjadi atau yang akan terjadi pada diri kita.

>

> bernyanyilah walaupun tidak semuanya, belailah alam rasakan

sentuhannya. ..angin.. .hujan... panasnya matahari...tumbuhan ...binatang

buas sekalipun

> sebab semuanya itu adalah esensi sifat yang semuanya ada pada diri

kita dan sadarilah selalu.

>

> Hormatilah dan beri kesan kesungguhan dengan senang hati setiap

perjumpaan seburuk apapun yang dihadapi dan dijumpai.

>

> selalu mengingatlah siapa saja keluarga kita dan selalu bukalah

pintu Maaf didalam kehendak hati kita.

>

> bila masih ada kedua orangtua kita...berikan kasih sayang seperti

kita menyayangi diri sendiri...sebab dari dialah sebagai PINTU

keberadaan kita saat ini.

>

> bagi yang sudah ditinggal pulang orang tuanya jangan ragu untuk

menyesali jika belum penuh membahagiakan. ..berikan kidung puja hati

setiap ingat...beliau tak kemana mana...beliau ada ditengah kedalaman

hati kita yang damai.

>

> jangan pernah mendendam ...ucapkan kata kasih sayang dan

tersenyumlah jika ada disetiap perjumpaan dengan siapapun.

>

> Bila kau lapar makanlah jangan ditahan atau dibiarkan, bila

mengantuk tidurlah sebatas keinginan.

>

> Sesungguhnya KESAKTIAN, KEMULIAAN dlsb termasuk KEMATIAN hanya

dimiliki bagi yang HIDUP....... Maka Peluklah HIDUPmu dengan penuh

kasih dan sayang...jangan kau sia siakan...HIDUP itu kah GERAK...ya

gerakkan semua yang ada pada kita apa adanya penuh kesadaran...

>

>

> salam rahayu.

>

> nDoe

>

> --- Pada Rab, 25/2/09, get0109i <get0109i@.. .> menulis:

> Dari: get0109i <get0109i@.. .>

> Topik: [Spiritual-Indonesi a] Re: Ngelindur: Spiritualitas Tanpa

Guru, Mungkinkah?

> Kepada: Spiritual-Indonesia @yahoogroups. com

> Tanggal: Rabu, 25 Februari, 2009, 3:38 AM

>

>

>

>

>

>

>

>

>

>

>

>    

>             Ngelindur dikit,

>

> Manusia ibarat lilin-lilin, ada lilin yang sudah menyala dan ada yang

>

> belum menyala.

>

> Bagi yang belum bisa menyala sendiri, diperlukan lilin yang menyala,

>

> untuk membantu lilin kita supaya bisa juga bernyala misalnya dengan

>

> attutment.

>

> untuk menjaga lilin yang sudah menyala ,dalam laku spiritualitas,

>

> semua berpusat pada diri pribadi.

>

> Meskipun kadang angin sepoi-sepoi malam bisa meredupkan api tersebut.

>

> Ini pengalaman saya bertahun-tahun hasilnya geto-geto juga

>

>

>

> salam

>

> geto

>

>

>

> --- In Spiritual-Indonesia @yahoogroups. com, "Teguh Setiawan"

>

> <tspinang@ .> wrote:

>

> >

>

> >

>

> > dalam laku spiritualitas, semua berpusat pada diri pribadi. meski ada

>

> > banyak jalan dan pintu, pada akhirnya adalah diri sendiri

>

> > berhadap-hadapan dengan kesadarannya sejati.

>

> >

>

> > sebagai pemula, saya masih merasa di luar pintu itu. namun, dalam

>

> > perjalanan menuju pintu itu ada banyak jalan ditawarkan, banyak

>

> > simpang dihadapi. ada saya coba beberapa jalan itu tapi tak pernah

>

> > sampai ujung, sebab setiap kali saya dihadapkan pada kebosanan karena

>

> > "mengharap" hasil yang tak kunjung nyata.

>

> >

>

> > saya membayangkan jalan yang dirintis sendiri, tanpa mengambil

>

> > rute-rute yang sudah ada entah rute agama ataupun non-agama. ada

>

> > seorang kawan senior di tempat lain yang pernah sharing pengalamannya

>

> > "mencari sendiri" di luar jalur-jalur umum itu, tetapi agak sulit

>

> > memperoleh metodenya karena bersifat personal dan memang oleh beliau

>

> > tidak diformulasikan untuk menjadi sebuah ajaran.

>

> >

>

> > adakah rekan-rekan di milis SI ini yang telah "sampai" melewati pintu

>

> > itu lewat jalan yang dirintisnya sendiri, bukan lewat jalur-jalur yang

>

> > sudah ada baik yg sudah dikenal luas dalam peta ketuhanan yang umum,

>

> > maupun ajaran2 yg diwariskan turun-temurun dalam keluarga maupun

>

> > kelompok2 penghayat.

>

> >

>

> > barangkali ada yang bersedia berbagi pengalaman itu?

>

> >

>

> >

>

> >

>

> > salam ngelindur,

>

> >

>

> > TSP

>

> >

>

>

>

>

>  

>

>      

>

>    

>    

>

>

>

>

>

>

>

>

>

>

>

>

>

>

>

>

>

>

>

>       Berselancar lebih cepat dan lebih cerdas dengan Firefox 3

> http://downloads. yahoo.com/ id/firefox/

>




 

     

   
   
       
         
       
       








       


       
       


      Pamer gaya dengan skin baru yang keren. Coba Yahoo! Messenger 9.0 baru sekarang! http://id.messenger.yahoo.com
Reply | Threaded
Open this post in threaded view
|  
Report Content as Inappropriate

Re: Re: Ngelindur: Spiritualitas Tanpa Guru, Mungkinkah?

frenchleghorn
In reply to this post by get0109i
kayaknya its was impossibble kalo tanpa guru........
kita belajar dari alam pun berarti alam as guru kita....

kita dalam berjalan di dunia ini pun butuh tempat bertanya,diskusi walau ujungnya
balik ke diri kita sendiri

salam

darma

--- On Wed, 2/25/09, get0109i <[hidden email]> wrote:
From: get0109i <[hidden email]>
Subject: [Spiritual-Indonesia] Re: Ngelindur: Spiritualitas Tanpa Guru, Mungkinkah?
To: [hidden email]
Date: Wednesday, February 25, 2009, 10:38 AM











   
            Ngelindur dikit,

Manusia ibarat lilin-lilin, ada lilin yang sudah menyala dan ada yang

belum menyala.

Bagi yang belum bisa menyala sendiri, diperlukan lilin yang menyala,

untuk membantu lilin kita supaya bisa juga bernyala misalnya dengan

attutment.

untuk menjaga lilin yang sudah menyala ,dalam laku spiritualitas,

semua berpusat pada diri pribadi.

Meskipun kadang angin sepoi-sepoi malam bisa meredupkan api tersebut.

Ini pengalaman saya bertahun-tahun hasilnya geto-geto juga



salam

geto



--- In Spiritual-Indonesia @yahoogroups. com, "Teguh Setiawan"

<tspinang@.. .> wrote:

>

>

> dalam laku spiritualitas, semua berpusat pada diri pribadi. meski ada

> banyak jalan dan pintu, pada akhirnya adalah diri sendiri

> berhadap-hadapan dengan kesadarannya sejati.

>

> sebagai pemula, saya masih merasa di luar pintu itu. namun, dalam

> perjalanan menuju pintu itu ada banyak jalan ditawarkan, banyak

> simpang dihadapi. ada saya coba beberapa jalan itu tapi tak pernah

> sampai ujung, sebab setiap kali saya dihadapkan pada kebosanan karena

> "mengharap" hasil yang tak kunjung nyata.

>

> saya membayangkan jalan yang dirintis sendiri, tanpa mengambil

> rute-rute yang sudah ada entah rute agama ataupun non-agama. ada

> seorang kawan senior di tempat lain yang pernah sharing pengalamannya

> "mencari sendiri" di luar jalur-jalur umum itu, tetapi agak sulit

> memperoleh metodenya karena bersifat personal dan memang oleh beliau

> tidak diformulasikan untuk menjadi sebuah ajaran.

>

> adakah rekan-rekan di milis SI ini yang telah "sampai" melewati pintu

> itu lewat jalan yang dirintisnya sendiri, bukan lewat jalur-jalur yang

> sudah ada baik yg sudah dikenal luas dalam peta ketuhanan yang umum,

> maupun ajaran2 yg diwariskan turun-temurun dalam keluarga maupun

> kelompok2 penghayat.

>

> barangkali ada yang bersedia berbagi pengalaman itu?

>

>

>

> salam ngelindur,

>

> TSP

>




 

     

   
   
       
         
       
       








       


       
       


     
Reply | Threaded
Open this post in threaded view
|  
Report Content as Inappropriate

Bls: pak Cik SEMAR...Ngelindur: Spiritualitas Tanpa Guru, Mungkinkah?

Boyos Alambara
In reply to this post by semar samiaji
Allooooooooooooowww pak Cik Semar,
Auuuuuuuuuuuuuuuuuuuummmmm...uhugk..uhugk....

Ijinkan Awak nak ikutan BERSELANCAR neh, mumpung ada bermuncul RIAK GELOMBANG yang MELIUK-LIUK dan BERKELOK-KELOK  serta angin sepoi-sepoi kering...dari CAKAP pak Cik Semar....asyiiiikkkkkk...syuuuuurrr...syuuuuuuuurrrr...

nyeeeek...nyeeeekk...apa betul nya,
....manusia yang sudah menerangi simbolnya adalah "bulan"....( pak cik Semar wrote ).
Bulan JANUARI??? Bulan MAULID??? Bulan SABIT??? Bulan BINTANG???or BUBUI Bulan????...eleeeek...eleeeekk...
Ditempat awak nih, Manusia yg sudah menerangi simbolnya adalah " PHILIPS " ..

kajian, koq bulan nggak kepanasan terima sinar dari matahari?... pakai kacamata rayban kali yach....he.. he..he..he. .he..he.. .

Pak Cik Semar,
pak cik tuh PAYAH KALI jadi Manusia...ditempat awak nih dinamakan SOTA ( SOK TAHU )....darimana nya pak cik tahu, klu " Bulan nggak kepanasan " terima sinar dari matahari????.
emang pak Cik pernah klinong-klinong ke BULAN sono???...naik Dokar??? naik Andhong???

Salam - SOTA

YOGA SASMITHA
 


--- Pada Rab, 25/2/09, semar samiaji <[hidden email]> menulis:
Dari: semar samiaji <[hidden email]>
Topik: [Spiritual-Indonesia] Ngelindur: Spiritualitas Tanpa Guru, Mungkinkah?
Kepada: [hidden email]
Tanggal: Rabu, 25 Februari, 2009, 11:16 AM

ujud lilin...ada api di atasnya, menerangi sekitar...sesuai ukuran lilinnya, lalu habislah dirinya dalam penerangan itu...apa iya demikian manusia yang menerangi sesama dan alam semesta?...he. .he..he.he. he... so, konteksnya "bukan" dari ujud lilinnya.... namun, "terangnya". ..manusia yang sudah menerangi simbolnya adalah "bulan"....bulan sinarnya dari matahari...terang bulan akan menerangi alam semesta dalam kesejukan... kajian, koq bulan nggak kepanasan terima sinar dari matahari?... pakai kacamata rayban kali yach....he.. he..he..he. .he..he.. . lagian kalau simbolnya bulan, nggak ada unsur jualan lagi...kecuali, kue bulan yang rasanya makkknyyossss. ....he..he. .he..he.. he... salam terang bulan,ss

--- On Wed, 2/25/09, get0109i <get0109i@yahoo. com> wrote:
From: get0109i <get0109i@yahoo. com>
Subject: [Spiritual-Indonesi a] Re: Ngelindur: Spiritualitas Tanpa Guru, Mungkinkah?
To: Spiritual-Indonesia @yahoogroups. com
Date: Wednesday, February 25, 2009, 10:38 AM

Ngelindur dikit,
Manusia ibarat lilin-lilin, ada lilin yang sudah menyala dan ada yang
belum menyala.
Bagi yang belum bisa menyala sendiri, diperlukan lilin yang menyala,
untuk membantu lilin kita supaya bisa juga bernyala misalnya dengan
attutment.
untuk menjaga lilin yang sudah menyala ,dalam laku spiritualitas,
semua berpusat pada diri pribadi.
Meskipun kadang angin sepoi-sepoi malam bisa meredupkan api tersebut.
Ini pengalaman saya bertahun-tahun hasilnya geto-geto juga

salam
geto

.

     


      ___________________________________________________________________________
Yahoo! sekarang memiliki alamat Email baru.
Dapatkan nama yang selalu Anda inginkan di domain baru @ymail dan @rocketmail.
Cepat sebelum diambil orang lain!
http://mail.promotions.yahoo.com/newdomains/id/
Reply | Threaded
Open this post in threaded view
|  
Report Content as Inappropriate

Bls: Re: Ngelindur: Spiritualitas Tanpa Guru, Mungkinkah?

get0109i
In reply to this post by bamsdoe
Mas nDoe,
mau tanya yang dimaksud dengan neko neko huruf besar itu apa?
apa penjelasan lilin saya itu?

salam
geto

--- In [hidden email], Bambang Kandoe
<bamsdoe@...> wrote:
>
> mengertikan...nah selamat menikmati dan selamat menemukan PINTU
HIDUP yang SEBENARNYA...gak usah yang NEKO NEKO.
>
>
> salam
>
> --- Pada Rab, 25/2/09, get0109i <get0109i@...> menulis:
> Dari: get0109i <get0109i@...>
> Topik: Bls: [Spiritual-Indonesia] Re: Ngelindur: Spiritualitas Tanpa
Guru, Mungkinkah?

> Kepada: [hidden email]
> Tanggal: Rabu, 25 Februari, 2009, 4:59 AM
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>    
>             Terimakasih nDoe,
>
> Dapat saya sarikan untuk menuju pintu HIDUP,
>
> diperlukan untuk memaafkan, menyadari kesalahan kita sendiri,dan
>
> mengasihi sesama walaupun mereka bersikap buruk.
>
> Dan jangan bilang buah itu asam, kalau yang kita makan manis.
>
>
>
> salam geto
>
>
>
> --- In Spiritual-Indonesia @yahoogroups. com, Bambang Kandoe
>
> <bamsdoe@ > wrote:
>
> >
>
> > Kenapa mesti diibaratkan. ..kan sebenarnya apa yang harus dijalani
>
> manusia itu nyata adanya.
>
> > nah untuk itu perlu kesadaran diri untuk menemukan apa yang
diharapkan.

>
> >
>
> > seperti contoh.
>
> >
>
> > MAKAN...disini setiap manusia menanggapinya akan lain lain jika
>
> dilihat dari pola pikir
>
> > tapi ketika ditilik dari RASA akan menemukan cita tersendiri.
>
> >
>
> > semua haruslah dilakukan dikerjakan dengan nyata dan
>
> dirasakan... dari hal tersebut yang sering kita tidak sadari akan
>
> memberikan suatu manfaat untuk menjalani semuanya.
>
> >
>
> > begitu juga untuk menemukan PINTU HIDUP yang dimaksud, selama kita
>
> tidak menyadari yang ada pada kita sangat lamban kita untuk menemukan
>
> PINTU itu...banyak cara yang dilakukan seperti halnya...MEGENG
>
> NAFAS...MEDITASI. ..MANGESTI. ..
>
> > DZIKIR....PUASA. ..dlsb. itu hanya sarana yang sebagian besar
>
> dianggap benar bagi diri maupun raga.
>
> >
>
> > banyak buku buku nyang tersaji mungkin dapat memberikan arahan
>
> sebagai bahan perbandingan apakah arahan itu berlaku pada diri kita.
>
> >
>
> > nah untuk menyikapi hal tersebut...Lontaran Masalah yang ditulis TS
>
> PINANG sangatlah penting untuk dicermati dalam keterbatasan sisa waktu
>
> yang kita arungi.
>
> >
>
> > tidaklah ada kata terlambat atau tidak akan bertemu...luangkan waktu
>
> yang nantinya akan menjadikan sebuah pertemuan diri disuatu waktu
>
> bahkan setiap hari.
>
> >
>
> > Nyatakanlah setiap apa yang akan kita kerjakan atau lakukan
>
> DINYATAKAN DENGAN SESUNGGUHNYA dengan PENGHARAPAN YANG BAIK.
>
> >
>
> > selalu tetap ingat tentang bahan jadi diri kita dari mana asalnya,
>
> fungsinya apa, belailah dengan kasih sayang...jangan pernah dilupakan.
>
> >
>
> > dan sadarilah bahwa segala sesuatu yang kita lakukan itu ada BAIK
>
> dan ada yang BURUK, berkehendaklah menghilangkan sesuatu yang BURUK
>
> sekalipun yang terjadi atau yang akan terjadi pada diri kita.
>
> >
>
> > bernyanyilah walaupun tidak semuanya, belailah alam rasakan
>
> sentuhannya. ..angin.. .hujan... panasnya matahari...tumbuhan
...binatang

>
> buas sekalipun
>
> > sebab semuanya itu adalah esensi sifat yang semuanya ada pada diri
>
> kita dan sadarilah selalu.
>
> >
>
> > Hormatilah dan beri kesan kesungguhan dengan senang hati setiap
>
> perjumpaan seburuk apapun yang dihadapi dan dijumpai.
>
> >
>
> > selalu mengingatlah siapa saja keluarga kita dan selalu bukalah
>
> pintu Maaf didalam kehendak hati kita.
>
> >
>
> > bila masih ada kedua orangtua kita...berikan kasih sayang seperti
>
> kita menyayangi diri sendiri...sebab dari dialah sebagai PINTU
>
> keberadaan kita saat ini.
>
> >
>
> > bagi yang sudah ditinggal pulang orang tuanya jangan ragu untuk
>
> menyesali jika belum penuh membahagiakan. ..berikan kidung puja hati
>
> setiap ingat...beliau tak kemana mana...beliau ada ditengah kedalaman
>
> hati kita yang damai.
>
> >
>
> > jangan pernah mendendam ...ucapkan kata kasih sayang dan
>
> tersenyumlah jika ada disetiap perjumpaan dengan siapapun.
>
> >
>
> > Bila kau lapar makanlah jangan ditahan atau dibiarkan, bila
>
> mengantuk tidurlah sebatas keinginan.
>
> >
>
> > Sesungguhnya KESAKTIAN, KEMULIAAN dlsb termasuk KEMATIAN hanya
>
> dimiliki bagi yang HIDUP....... Maka Peluklah HIDUPmu dengan penuh
>
> kasih dan sayang...jangan kau sia siakan...HIDUP itu kah GERAK...ya
>
> gerakkan semua yang ada pada kita apa adanya penuh kesadaran...
>
> >
>
> >
>
> > salam rahayu.
>
> >
>
> > nDoe
>
> >
>
> > --- Pada Rab, 25/2/09, get0109i <get0109i@ .> menulis:
>
> > Dari: get0109i <get0109i@ .>
>
> > Topik: [Spiritual-Indonesi a] Re: Ngelindur: Spiritualitas Tanpa
>
> Guru, Mungkinkah?
>
> > Kepada: Spiritual-Indonesia @yahoogroups. com
>
> > Tanggal: Rabu, 25 Februari, 2009, 3:38 AM
>
> >
>
> >
>
> >
>
> >
>
> >
>
> >
>
> >
>
> >
>
> >
>
> >
>
> >
>
> >    
>
> >             Ngelindur dikit,
>
> >
>
> > Manusia ibarat lilin-lilin, ada lilin yang sudah menyala dan ada yang
>
> >
>
> > belum menyala.
>
> >
>
> > Bagi yang belum bisa menyala sendiri, diperlukan lilin yang menyala,
>
> >
>
> > untuk membantu lilin kita supaya bisa juga bernyala misalnya dengan
>
> >
>
> > attutment.
>
> >
>
> > untuk menjaga lilin yang sudah menyala ,dalam laku spiritualitas,
>
> >
>
> > semua berpusat pada diri pribadi.
>
> >
>
> > Meskipun kadang angin sepoi-sepoi malam bisa meredupkan api tersebut.
>
> >
>
> > Ini pengalaman saya bertahun-tahun hasilnya geto-geto juga
>
> >
>
> >
>
> >
>
> > salam
>
> >
>
> > geto
>
> >
>
> >
>
> >
>
> > --- In Spiritual-Indonesia @yahoogroups. com, "Teguh Setiawan"
>
> >
>
> > <tspinang@ .> wrote:
>
> >
>
> > >
>
> >
>
> > >
>
> >
>
> > > dalam laku spiritualitas, semua berpusat pada diri pribadi.
meski ada

>
> >
>
> > > banyak jalan dan pintu, pada akhirnya adalah diri sendiri
>
> >
>
> > > berhadap-hadapan dengan kesadarannya sejati.
>
> >
>
> > >
>
> >
>
> > > sebagai pemula, saya masih merasa di luar pintu itu. namun, dalam
>
> >
>
> > > perjalanan menuju pintu itu ada banyak jalan ditawarkan, banyak
>
> >
>
> > > simpang dihadapi. ada saya coba beberapa jalan itu tapi tak pernah
>
> >
>
> > > sampai ujung, sebab setiap kali saya dihadapkan pada kebosanan
karena

>
> >
>
> > > "mengharap" hasil yang tak kunjung nyata.
>
> >
>
> > >
>
> >
>
> > > saya membayangkan jalan yang dirintis sendiri, tanpa mengambil
>
> >
>
> > > rute-rute yang sudah ada entah rute agama ataupun non-agama. ada
>
> >
>
> > > seorang kawan senior di tempat lain yang pernah sharing
pengalamannya

>
> >
>
> > > "mencari sendiri" di luar jalur-jalur umum itu, tetapi agak sulit
>
> >
>
> > > memperoleh metodenya karena bersifat personal dan memang oleh beliau
>
> >
>
> > > tidak diformulasikan untuk menjadi sebuah ajaran.
>
> >
>
> > >
>
> >
>
> > > adakah rekan-rekan di milis SI ini yang telah "sampai" melewati
pintu
>
> >
>
> > > itu lewat jalan yang dirintisnya sendiri, bukan lewat
jalur-jalur yang

>
> >
>
> > > sudah ada baik yg sudah dikenal luas dalam peta ketuhanan yang umum,
>
> >
>
> > > maupun ajaran2 yg diwariskan turun-temurun dalam keluarga maupun
>
> >
>
> > > kelompok2 penghayat.
>
> >
>
> > >
>
> >
>
> > > barangkali ada yang bersedia berbagi pengalaman itu?
>
> >
>
> > >
>
> >
>
> > >
>
> >
>
> > >
>
> >
>
> > > salam ngelindur,
>
> >
>
> > >
>
> >
>
> > > TSP
>
> >
>
> > >
>
> >
>
> >
>
> >
>
> >
>
> >  
>
> >
>
> >      
>
> >
>
> >    
>
> >    
>
> >
>
> >
>
> >
>
> >
>
> >
>
> >
>
> >
>
> >
>
> >
>
> >
>
> >
>
> >
>
> >
>
> >
>
> >
>
> >
>
> >
>
> >
>
> >
>
> >       Berselancar lebih cepat dan lebih cerdas dengan Firefox 3
>
> > http://downloads. yahoo.com/ id/firefox/
>
> >
>
>
>
>
>  
>
>      
>
>    
>    
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>       Pamer gaya dengan skin baru yang keren. Coba Yahoo! Messenger
9.0 baru sekarang! http://id.messenger.yahoo.com
>


Reply | Threaded
Open this post in threaded view
|  
Report Content as Inappropriate

Bls: Re: Ngelindur: Spiritualitas Tanpa Guru, Mungkinkah?

bamsdoe
NEKO NEKO...itu yang ANEH ANEH...gak ada hubungannya dengan LILIN je.


salam gitu

--- Pada Rab, 25/2/09, get0109i <[hidden email]> menulis:
Dari: get0109i <[hidden email]>
Topik: Bls: [Spiritual-Indonesia] Re: Ngelindur: Spiritualitas Tanpa Guru, Mungkinkah?
Kepada: [hidden email]
Tanggal: Rabu, 25 Februari, 2009, 5:43 AM











   
            Mas nDoe,

mau tanya yang dimaksud dengan neko neko huruf besar itu apa?

apa penjelasan lilin saya itu?



salam

geto



--- In Spiritual-Indonesia @yahoogroups. com, Bambang Kandoe

<bamsdoe@... > wrote:

>

> mengertikan. ..nah selamat menikmati dan selamat menemukan PINTU

HIDUP yang SEBENARNYA.. .gak usah yang NEKO NEKO.

>

>

> salam

>

> --- Pada Rab, 25/2/09, get0109i <get0109i@.. .> menulis:

> Dari: get0109i <get0109i@.. .>

> Topik: Bls: [Spiritual-Indonesi a] Re: Ngelindur: Spiritualitas Tanpa

Guru, Mungkinkah?

> Kepada: Spiritual-Indonesia @yahoogroups. com

> Tanggal: Rabu, 25 Februari, 2009, 4:59 AM

>

>

>

>

>

>

>

>

>

>

>

>    

>             Terimakasih nDoe,

>

> Dapat saya sarikan untuk menuju pintu HIDUP,

>

> diperlukan untuk memaafkan, menyadari kesalahan kita sendiri,dan

>

> mengasihi sesama walaupun mereka bersikap buruk.

>

> Dan jangan bilang buah itu asam, kalau yang kita makan manis.

>

>

>

> salam geto

>

>

>

> --- In Spiritual-Indonesia @yahoogroups. com, Bambang Kandoe

>

> <bamsdoe@ > wrote:

>

> >

>

> > Kenapa mesti diibaratkan. ..kan sebenarnya apa yang harus dijalani

>

> manusia itu nyata adanya.

>

> > nah untuk itu perlu kesadaran diri untuk menemukan apa yang

diharapkan.

>

> >

>

> > seperti contoh.

>

> >

>

> > MAKAN...disini setiap manusia menanggapinya akan lain lain jika

>

> dilihat dari pola pikir

>

> > tapi ketika ditilik dari RASA akan menemukan cita tersendiri.

>

> >

>

> > semua haruslah dilakukan dikerjakan dengan nyata dan

>

> dirasakan... dari hal tersebut yang sering kita tidak sadari akan

>

> memberikan suatu manfaat untuk menjalani semuanya.

>

> >

>

> > begitu juga untuk menemukan PINTU HIDUP yang dimaksud, selama kita

>

> tidak menyadari yang ada pada kita sangat lamban kita untuk menemukan

>

> PINTU itu...banyak cara yang dilakukan seperti halnya...MEGENG

>

> NAFAS...MEDITASI. ..MANGESTI. ..

>

> > DZIKIR....PUASA. ..dlsb. itu hanya sarana yang sebagian besar

>

> dianggap benar bagi diri maupun raga.

>

> >

>

> > banyak buku buku nyang tersaji mungkin dapat memberikan arahan

>

> sebagai bahan perbandingan apakah arahan itu berlaku pada diri kita.

>

> >

>

> > nah untuk menyikapi hal tersebut...Lontaran Masalah yang ditulis TS

>

> PINANG sangatlah penting untuk dicermati dalam keterbatasan sisa waktu

>

> yang kita arungi.

>

> >

>

> > tidaklah ada kata terlambat atau tidak akan bertemu...luangkan waktu

>

> yang nantinya akan menjadikan sebuah pertemuan diri disuatu waktu

>

> bahkan setiap hari.

>

> >

>

> > Nyatakanlah setiap apa yang akan kita kerjakan atau lakukan

>

> DINYATAKAN DENGAN SESUNGGUHNYA dengan PENGHARAPAN YANG BAIK.

>

> >

>

> > selalu tetap ingat tentang bahan jadi diri kita dari mana asalnya,

>

> fungsinya apa, belailah dengan kasih sayang...jangan pernah dilupakan.

>

> >

>

> > dan sadarilah bahwa segala sesuatu yang kita lakukan itu ada BAIK

>

> dan ada yang BURUK, berkehendaklah menghilangkan sesuatu yang BURUK

>

> sekalipun yang terjadi atau yang akan terjadi pada diri kita.

>

> >

>

> > bernyanyilah walaupun tidak semuanya, belailah alam rasakan

>

> sentuhannya. ..angin.. .hujan... panasnya matahari...tumbuhan

....binatang

>

> buas sekalipun

>

> > sebab semuanya itu adalah esensi sifat yang semuanya ada pada diri

>

> kita dan sadarilah selalu.

>

> >

>

> > Hormatilah dan beri kesan kesungguhan dengan senang hati setiap

>

> perjumpaan seburuk apapun yang dihadapi dan dijumpai.

>

> >

>

> > selalu mengingatlah siapa saja keluarga kita dan selalu bukalah

>

> pintu Maaf didalam kehendak hati kita.

>

> >

>

> > bila masih ada kedua orangtua kita...berikan kasih sayang seperti

>

> kita menyayangi diri sendiri...sebab dari dialah sebagai PINTU

>

> keberadaan kita saat ini.

>

> >

>

> > bagi yang sudah ditinggal pulang orang tuanya jangan ragu untuk

>

> menyesali jika belum penuh membahagiakan. ..berikan kidung puja hati

>

> setiap ingat...beliau tak kemana mana...beliau ada ditengah kedalaman

>

> hati kita yang damai.

>

> >

>

> > jangan pernah mendendam ...ucapkan kata kasih sayang dan

>

> tersenyumlah jika ada disetiap perjumpaan dengan siapapun.

>

> >

>

> > Bila kau lapar makanlah jangan ditahan atau dibiarkan, bila

>

> mengantuk tidurlah sebatas keinginan.

>

> >

>

> > Sesungguhnya KESAKTIAN, KEMULIAAN dlsb termasuk KEMATIAN hanya

>

> dimiliki bagi yang HIDUP....... Maka Peluklah HIDUPmu dengan penuh

>

> kasih dan sayang...jangan kau sia siakan...HIDUP itu kah GERAK...ya

>

> gerakkan semua yang ada pada kita apa adanya penuh kesadaran...

>

> >

>

> >

>

> > salam rahayu.

>

> >

>

> > nDoe

>

> >

>

> > --- Pada Rab, 25/2/09, get0109i <get0109i@ .> menulis:

>

> > Dari: get0109i <get0109i@ .>

>

> > Topik: [Spiritual-Indonesi a] Re: Ngelindur: Spiritualitas Tanpa

>

> Guru, Mungkinkah?

>

> > Kepada: Spiritual-Indonesia @yahoogroups. com

>

> > Tanggal: Rabu, 25 Februari, 2009, 3:38 AM

>

> >

>

> >

>

> >

>

> >

>

> >

>

> >

>

> >

>

> >

>

> >

>

> >

>

> >

>

> >    

>

> >             Ngelindur dikit,

>

> >

>

> > Manusia ibarat lilin-lilin, ada lilin yang sudah menyala dan ada yang

>

> >

>

> > belum menyala.

>

> >

>

> > Bagi yang belum bisa menyala sendiri, diperlukan lilin yang menyala,

>

> >

>

> > untuk membantu lilin kita supaya bisa juga bernyala misalnya dengan

>

> >

>

> > attutment.

>

> >

>

> > untuk menjaga lilin yang sudah menyala ,dalam laku spiritualitas,

>

> >

>

> > semua berpusat pada diri pribadi.

>

> >

>

> > Meskipun kadang angin sepoi-sepoi malam bisa meredupkan api tersebut.

>

> >

>

> > Ini pengalaman saya bertahun-tahun hasilnya geto-geto juga

>

> >

>

> >

>

> >

>

> > salam

>

> >

>

> > geto

>

> >

>

> >

>

> >

>

> > --- In Spiritual-Indonesia @yahoogroups. com, "Teguh Setiawan"

>

> >

>

> > <tspinang@ .> wrote:

>

> >

>

> > >

>

> >

>

> > >

>

> >

>

> > > dalam laku spiritualitas, semua berpusat pada diri pribadi.

meski ada

>

> >

>

> > > banyak jalan dan pintu, pada akhirnya adalah diri sendiri

>

> >

>

> > > berhadap-hadapan dengan kesadarannya sejati.

>

> >

>

> > >

>

> >

>

> > > sebagai pemula, saya masih merasa di luar pintu itu. namun, dalam

>

> >

>

> > > perjalanan menuju pintu itu ada banyak jalan ditawarkan, banyak

>

> >

>

> > > simpang dihadapi. ada saya coba beberapa jalan itu tapi tak pernah

>

> >

>

> > > sampai ujung, sebab setiap kali saya dihadapkan pada kebosanan

karena

>

> >

>

> > > "mengharap" hasil yang tak kunjung nyata.

>

> >

>

> > >

>

> >

>

> > > saya membayangkan jalan yang dirintis sendiri, tanpa mengambil

>

> >

>

> > > rute-rute yang sudah ada entah rute agama ataupun non-agama. ada

>

> >

>

> > > seorang kawan senior di tempat lain yang pernah sharing

pengalamannya

>

> >

>

> > > "mencari sendiri" di luar jalur-jalur umum itu, tetapi agak sulit

>

> >

>

> > > memperoleh metodenya karena bersifat personal dan memang oleh beliau

>

> >

>

> > > tidak diformulasikan untuk menjadi sebuah ajaran.

>

> >

>

> > >

>

> >

>

> > > adakah rekan-rekan di milis SI ini yang telah "sampai" melewati

pintu

>

> >

>

> > > itu lewat jalan yang dirintisnya sendiri, bukan lewat

jalur-jalur yang

>

> >

>

> > > sudah ada baik yg sudah dikenal luas dalam peta ketuhanan yang umum,

>

> >

>

> > > maupun ajaran2 yg diwariskan turun-temurun dalam keluarga maupun

>

> >

>

> > > kelompok2 penghayat.

>

> >

>

> > >

>

> >

>

> > > barangkali ada yang bersedia berbagi pengalaman itu?

>

> >

>

> > >

>

> >

>

> > >

>

> >

>

> > >

>

> >

>

> > > salam ngelindur,

>

> >

>

> > >

>

> >

>

> > > TSP

>

> >

>

> > >

>

> >

>

> >

>

> >

>

> >

>

> >  

>

> >

>

> >      

>

> >

>

> >    

>

> >    

>

> >

>

> >

>

> >

>

> >

>

> >

>

> >

>

> >

>

> >

>

> >

>

> >

>

> >

>

> >

>

> >

>

> >

>

> >

>

> >

>

> >

>

> >

>

> >

>

> >       Berselancar lebih cepat dan lebih cerdas dengan Firefox 3

>

> > http://downloads. yahoo.com/ id/firefox/

>

> >

>

>

>

>

>  

>

>      

>

>    

>    

>

>

>

>

>

>

>

>

>

>

>

>

>

>

>

>

>

>

>

>       Pamer gaya dengan skin baru yang keren. Coba Yahoo! Messenger

9.0 baru sekarang! http://id.messenger .yahoo.com

>




 

     

   
   
       
         
       
       








       


       
       


      Bersenang-senang di Yahoo! Messenger dengan semua teman. Tambahkan mereka dari email atau jaringan sosial Anda sekarang! http://id.messenger.yahoo.com/invite/
Reply | Threaded
Open this post in threaded view
|  
Report Content as Inappropriate

Re: Re: Ngelindur: Spiritualitas Tanpa Guru, Mungkinkah?

Jesse Jopie Rotinsulu Jr
In reply to this post by frenchleghorn
Betul sekali mbah Darmo, yang namanya manusia itu menurut ajaran Buddha
pasti menderita. Siapapun yang turun dan jadi manusia biasa pasti
menderita karena segala kemampuannya tertutup kecerdasannya di kunci- Maka
tidak makan lapar, tidak minum haus, kena panas bisa kepanasan kena dingin
bisa kedinginan, bisa sakit, bodoh dan tersesat.PROSES balik ke asal
kembalike jati diri yang asli ( berkultivasi).DIAWALI dengan niat yang
tulus untuk pulang- sekali niatan ini terpancar maka ini sangat luar biasa
terlihat dari atas (Buddha, Tao, Shen, Dewa) terlihat berkilauan keemasan
- maka ada banyak Buddha, Tao, Shen, Dewa akan membimbing secara suka
rela/ tanpa pamrih- Guru yang menjaganya dan membimbing dengan secara
berangsur2 membuka INGATAN dan KEMAMPUAN adalah dengan cara MENCARI KE
DALAM diri, melepas segala keterikatan hati- tidak lagi meminta apapun dan
berharap apapun- terus menerus MENINGKATKAN XINXING/ BUDI PEKERTI/AKHLAK.

Bila tidak berkultivasi TETAPI tetapi terus menerus menjadi orang yang
baik dan membayar karma melalui penderitaan dan akhirnya dapat mencapai
kekosongan -sesungguhnya orang baik ini juga memiliki Guru (gaib- bisa
saja tidak disadari)yang mendampingi dan menjaganya- jika De (berkah)nya
sudah sangat banyak ada juga oleh Gurunya dapat dirubah menjadi Gong
(energi kultivasi).Secara KHUSUS ada orang2 berkultivasi dimasa lalu dan
tidak mencapai kesempurnaan kala mati MENYEBUTKAN nama Guru maka- Gurunya
itu akan mengatur reinkarnasinya dan lahir di keluarga yang memungkinkan
dia kembali berkultivasi pada aliran itu- Gurunya tetap menjaganya sejak
dia lahir agar tak dipengaruhi jiwa2 rendah sehingga kemudian hari mulai
terbuka ingatannya dan kembali meneruskan berkultivasi mencapai
kesempurnaan.

Manusia ini tersesat sedemikian rupa di dunia manusia- maka bagian mana
dari dirinya dapat membuatnya naik kembali ke atas? Bahkan para MASTER (
yang terpilih) turun membawa ajaran masih harus berkultivasi dengan
mengatur jauh2 hari Guru2 yang akan membukan ingatannya dan kemampuannya
kembali dalam beberapa tahap sampai tercerahkan/  Kai Gong Kai Wu/ Terbuka
Kemampuan Gong Terbuka Kebijakan- kemudian melangkah keluar mengajarkan
pada manusia Fa/ Tao/ Hukum ortodok.
Dalam ajaran2 kultivasi dari masa ke masa ini sangat jelas harus ada GURU
yang membawa Fa ortodok untuk membimbing dalam satu pintu Fa bila ingin
mencapai kesempurnaan. Jika sudah mencapai kesempurnaan pada satu pintu Fa
itu baru boleh berkultivasi lagi pada satu pintu Fa yang lain.

Bila tidak maka setiap keinginan manusia biasa untuk naik ke atas hanya
menjadi FANTASI saja tidak ada Daya Gong yang perkasa yang dievolusikan
oleh Guru menopangnya naik- kecuali memperoleh futi (hewan yang merasuk/
siluman, hantu liar, alien) dan diperdaya iblis yang mengikuti
harapan2nya/ keterikatan hatinya untuk terkenal dan kaya raya.Orang dengan
Bakat Dasar dapat naik keatas kecuali sangat TERBATAS- yang besar lama2
juga bisa habis karena terperdaya.Demikian pemahaman DaFa yang aku pahami
berkaitan dengan Guru.

Salam,
jesseprakasa/ zhenshanrenhao!!



sang baruna <[hidden email]>
Sent by: [hidden email]
25/02/2009 12:28
Please respond to
[hidden email]


To
[hidden email]
cc

Subject
Re: [Spiritual-Indonesia] Re: Ngelindur: Spiritualitas Tanpa Guru,
Mungkinkah?











kayaknya its was impossibble kalo tanpa guru........
kita belajar dari alam pun berarti alam as guru kita....

kita dalam berjalan di dunia ini pun butuh tempat bertanya,diskusi walau
ujungnya
balik ke diri kita sendiri

salam

darma

--- On Wed, 2/25/09, get0109i <[hidden email]> wrote:
From: get0109i <[hidden email]>
Subject: [Spiritual-Indonesia] Re: Ngelindur: Spiritualitas Tanpa Guru,
Mungkinkah?
To: [hidden email]
Date: Wednesday, February 25, 2009, 10:38 AM

Ngelindur dikit,
Manusia ibarat lilin-lilin, ada lilin yang sudah menyala dan ada yang
belum menyala.
Bagi yang belum bisa menyala sendiri, diperlukan lilin yang menyala,
untuk membantu lilin kita supaya bisa juga bernyala misalnya dengan
attutment.
untuk menjaga lilin yang sudah menyala ,dalam laku spiritualitas,
semua berpusat pada diri pribadi.
Meskipun kadang angin sepoi-sepoi malam bisa meredupkan api tersebut.
Ini pengalaman saya bertahun-tahun hasilnya geto-geto juga

salam
geto

--- In Spiritual-Indonesia @yahoogroups. com, "Teguh Setiawan"
<tspinang@.. .> wrote:

>
>
> dalam laku spiritualitas, semua berpusat pada diri pribadi. meski ada
> banyak jalan dan pintu, pada akhirnya adalah diri sendiri
> berhadap-hadapan dengan kesadarannya sejati.
>
> sebagai pemula, saya masih merasa di luar pintu itu. namun, dalam
> perjalanan menuju pintu itu ada banyak jalan ditawarkan, banyak
> simpang dihadapi. ada saya coba beberapa jalan itu tapi tak pernah
> sampai ujung, sebab setiap kali saya dihadapkan pada kebosanan karena
> "mengharap" hasil yang tak kunjung nyata.
>
> saya membayangkan jalan yang dirintis sendiri, tanpa mengambil
> rute-rute yang sudah ada entah rute agama ataupun non-agama. ada
> seorang kawan senior di tempat lain yang pernah sharing pengalamannya
> "mencari sendiri" di luar jalur-jalur umum itu, tetapi agak sulit
> memperoleh metodenya karena bersifat personal dan memang oleh beliau
> tidak diformulasikan untuk menjadi sebuah ajaran.
>
> adakah rekan-rekan di milis SI ini yang telah "sampai" melewati pintu
> itu lewat jalan yang dirintisnya sendiri, bukan lewat jalur-jalur yang
> sudah ada baik yg sudah dikenal luas dalam peta ketuhanan yang umum,
> maupun ajaran2 yg diwariskan turun-temurun dalam keluarga maupun
> kelompok2 penghayat.
>
> barangkali ada yang bersedia berbagi pengalaman itu?
>
>
>
> salam ngelindur,
>
> TSP
>



Reply | Threaded
Open this post in threaded view
|  
Report Content as Inappropriate

Re: Ngelindur: Spiritualitas Tanpa Guru, Mungkinkah?

wawan-3

menurutku manusia merasa menderita karena pernah merasakan
kebahagiaan, ketika rasa kebahagiaan itu menurun/degradasi,maka
manusia menyebutnya menderita, dan menurutku 2 hal itu tidak perlu
ditolak atau dihindari, tapi keduanya dinikmati apa adanya saja

salam
wawan

--- In [hidden email], Jesse Jopie Rotinsulu Jr
<jesse.rotinsulu@...> wrote:
>
> Betul sekali mbah Darmo, yang namanya manusia itu menurut ajaran
Buddha

Reply | Threaded
Open this post in threaded view
|  
Report Content as Inappropriate

Re: Re: Ngelindur: Spiritualitas Tanpa Guru, Mungkinkah?

Jesse Jopie Rotinsulu Jr
Mas Wawan,
Ini bukan persoalan psikologis semata- walau kita bisa memahaminya.Ini
soal karma dan bagaimana membayar karma.Tidak ada yang kebetulan dalam
kehidupan kita- artinya apa? adalah akibat dari semua sebab yang kita
perbuat selama ribuan kali bereinkarnasi terakumulasi karma pada kehidupan
saat ini.

Karma ini berhubungan dengan segala kemelekatan hati kita ( Segala Qing
(perasaan dan nafsu).Ketika manusia harus membayar karma artinya saatnya
melepas keterikatan hati melalui penderitaan- umumnya ada tiga bentuk
yaitu: penderitaan fisik, mental dan kehilangan.Bila harus melepas karma
manusia pasti menderita- sebesar apa daya tahannya sebesar itu karma yang
akan membuatnya menderita- sebab bila ada penderitaan yang tak
menggoyahkan hati kita itu bukan karma kita (itu pasti) sebab kita tak
berada pada tingkat itu.

Jadi BILA ADA penderitaan saat mulai membayar karma KEMUDIAN hati kita tak
tergerak lagi maka karma itu sudah tidak eksis pada tingkat itu- dia akan
mencari bagian karma yang lebih tinggi lagi.

Salam,
jesseprakasa/zhanshanrenhao!!




"selarasmilis" <[hidden email]>
Sent by: [hidden email]
25/02/2009 14:06
Please respond to
[hidden email]


To
[hidden email]
cc

Subject
[Spiritual-Indonesia] Re: Ngelindur: Spiritualitas Tanpa Guru, Mungkinkah?










menurutku manusia merasa menderita karena pernah merasakan
kebahagiaan, ketika rasa kebahagiaan itu menurun/degradasi,maka
manusia menyebutnya menderita, dan menurutku 2 hal itu tidak perlu
ditolak atau dihindari, tapi keduanya dinikmati apa adanya saja

salam
wawan

--- In [hidden email], Jesse Jopie Rotinsulu Jr
<jesse.rotinsulu@...> wrote:
>
> Betul sekali mbah Darmo, yang namanya manusia itu menurut ajaran
Buddha


Reply | Threaded
Open this post in threaded view
|  
Report Content as Inappropriate

Re: Ngelindur: Spiritualitas Tanpa Guru, Mungkinkah?

dohan satria-3
In reply to this post by paninggilan
Mas Teguh,.
Saya paham,..yg dimaksud r
aku hanya bisa menyampaikan,..kita tak bedanya bakteri bila dilihat
dlm Macrosc0p..
Laju terus mas..hanya dgn kesetiaan pada kesungguhan,..simbol2 yg
terlintas waktu itu..akan mjdi nyata,..Tidak perlu ragu karena merasa
belum tersentuh kasat indera,.dan nyata,..semua iyu bekerja diluar
parameter manusia,..dan sukses selalu...

Salam Sejati
do2
>
> TSP
>
>
>


--

~o*''Salam Sejati"*o~
           Dodo
Reply | Threaded
Open this post in threaded view
|  
Report Content as Inappropriate

Re: Bls: pak Cik SEMAR...Ngelindur: Spiritualitas Tanpa Guru, Mungkinkah?

semar samiaji
In reply to this post by Boyos Alambara
sekedar berbagi aja....
 
perjalanan selama ini menunjukkan bukti yang paling meminta kesabaran tertinggi saat berhadapan dengan orang kepala batu....he..he..he..he..he..he..mesti sabar jeung ikhlaskan setiap kata yang juga membatu...he..he..he..he..he....semoga kelakuan nggak balik ke jaman batu...he..he..he..he..he..he...

--- On Wed, 2/25/09, Boyos Alambara <[hidden email]> wrote:

From: Boyos Alambara <[hidden email]>
Subject: Bls: pak Cik SEMAR...[Spiritual-Indonesia] Ngelindur: Spiritualitas Tanpa Guru, Mungkinkah?
To: [hidden email]
Date: Wednesday, February 25, 2009, 12:42 PM










Allooooooooooooowww pak Cik Semar,
Auuuuuuuuuuuuuuuuuu uummmmm.. .uhugk..uhugk. ...

Ijinkan Awak nak ikutan BERSELANCAR neh, mumpung ada bermuncul RIAK GELOMBANG yang MELIUK-LIUK dan BERKELOK-KELOK serta angin sepoi-sepoi kering...dari CAKAP pak Cik Semar....asyiiiikkk kkk...syuuuuurrr ...syuuuuuuuurrr r...

nyeeeek...nyeeeekk. ..apa betul nya,
....manusia yang sudah menerangi simbolnya adalah "bulan"....( pak cik Semar wrote ).
Bulan JANUARI??? Bulan MAULID??? Bulan SABIT??? Bulan BINTANG???or BUBUI Bulan????... eleeeek.. .eleeeekk. ..
Ditempat awak nih, Manusia yg sudah menerangi simbolnya adalah " PHILIPS " ..

kajian, koq bulan nggak kepanasan terima sinar dari matahari?... pakai kacamata rayban kali yach....he.. he..he..he. .he..he.. .

Pak Cik Semar,
pak cik tuh PAYAH KALI jadi Manusia...ditempat awak nih dinamakan SOTA ( SOK TAHU )....darimana nya pak cik tahu, klu " Bulan nggak kepanasan " terima sinar dari matahari???? .
emang pak Cik pernah klinong-klinong ke BULAN sono???...naik Dokar??? naik Andhong???

Salam - SOTA

YOGA SASMITHA




 




Recent Activity


 26
New Members

 9
New FilesVisit Your Group



Give Back
Yahoo! for Good
Get inspired
by a good cause.

Y! Toolbar
Get it Free!
easy 1-click access
to your groups.

Yahoo! Groups
Start a group
in 3 easy steps.
Connect with others.
.
















     
Reply | Threaded
Open this post in threaded view
|  
Report Content as Inappropriate

Re: Re: Ngelindur: Spiritualitas Tanpa Guru, Mungkinkah?

semar samiaji
In reply to this post by get0109i
punten Mas...hanya cara pandang aja yang sedikit berbeda...Mas konteksnya kepada "sosok"....sementara, saya konteksnya kepada "isinya"....hanya itu sich...

--- On Wed, 2/25/09, get0109i <[hidden email]> wrote:

From: get0109i <[hidden email]>
Subject: [Spiritual-Indonesia] Re: Ngelindur: Spiritualitas Tanpa Guru, Mungkinkah?
To: [hidden email]
Date: Wednesday, February 25, 2009, 11:41 AM






Salam warna,
Terimakasih ss sehingga dapat warna baru sedikit.
lilinnya bukan untuk jualan sih, hanya untuk bisa ngelindur bagi yang
susah ngelindur.
Kadang ngelindur kedalam rumah sehingga cahaya dari luar, mau cahaya
matahari atau cahaya bulan tidak dapat menerangi kedalaman rumah,
apalagi pintu hati, jendela sudah tertutup semuanya. PLN lagi irit
minyak, maka diperlukan lilin juga.

salam
geto

--- In Spiritual-Indonesia @yahoogroups. com, semar samiaji
<kind_evil_06@ ...> wrote:
>
> ujud lilin...ada api di atasnya, menerangi sekitar...sesuai ukuran
lilinnya, lalu habislah dirinya dalam penerangan itu...apa iya
demikian manusia yang menerangi sesama dan alam
semesta?...he. .he..he.he. he...
>  
> so, konteksnya "bukan" dari ujud lilinnya.... namun,
"terangnya". ..manusia yang sudah menerangi simbolnya adalah
"bulan"....bulan sinarnya dari matahari...terang bulan akan menerangi
alam semesta dalam kesejukan... kajian, koq bulan nggak kepanasan
terima sinar dari matahari?... pakai kacamata rayban kali
yach....he.. he..he..he. .he..he.. .
>  
> lagian kalau simbolnya bulan, nggak ada unsur jualan lagi...kecuali,
kue bulan yang rasanya makkknyyossss. ....he..he. .he..he.. he...
>  
> salam terang bulan,
> ss
>
>
> --- On Wed, 2/25/09, get0109i <get0109i@.. .> wrote:
>
> From: get0109i <get0109i@.. .>
> Subject: [Spiritual-Indonesi a] Re: Ngelindur: Spiritualitas Tanpa
Guru, Mungkinkah?

> To: Spiritual-Indonesia @yahoogroups. com
> Date: Wednesday, February 25, 2009, 10:38 AM
>
>
>
>
>
>
> Ngelindur dikit,
> Manusia ibarat lilin-lilin, ada lilin yang sudah menyala dan ada yang
> belum menyala.
> Bagi yang belum bisa menyala sendiri, diperlukan lilin yang menyala,
> untuk membantu lilin kita supaya bisa juga bernyala misalnya dengan
> attutment.
> untuk menjaga lilin yang sudah menyala ,dalam laku spiritualitas,
> semua berpusat pada diri pribadi.
> Meskipun kadang angin sepoi-sepoi malam bisa meredupkan api tersebut.
> Ini pengalaman saya bertahun-tahun hasilnya geto-geto juga
>
> salam
> geto
>
>
> .
>

















     
123
Loading...