Quantcast

Nikah Beda Agama

classic Classic list List threaded Threaded
41 messages Options
123
Reply | Threaded
Open this post in threaded view
|  
Report Content as Inappropriate

Nikah Beda Agama

wawan-3

Akhirnya saya temukan lagi di Internet artikel ini

salam
wawan

============================================

Dr. Zainun Kamal, MA: Nikah Beda Agama
Oleh Redaksi

Teks-teks suci tidak berdiri pada ruang hampa ketika ia menyapa
manusia. Satu kasus menarik adalah ketika Khalifah Umar melarang
seseorang menikahi ahli kitab, sementara Alquran memperbolehkannya,
menunjukkan intervensi sesuatu di luar teks. Pada kasus lain,
sebagian ulama masih mengharamkan seorang muslimah menikah dengan
laki-laki non-Islam.

Memang banyak peristiwa di sekitar kita yang menunjukkan ambiguitas
teks ketika berhadapan dengan realitas bahwa cinta suci tidak
memandang sekat-sekat etnisitas dan agama. Perkawinan Yasser Arafat
dengan Suha, Jamal Mirdad dengan Lidya Kandouw dan lain-lain menjadi
contoh kecil dari hamparan banyak kasus pernikahan antaragama.

Berikut ini petikan wawancara Dr. Zainun Kamal, pengajar pascasarjana
UIN Syarif Hidayatullah dan alumnus dari Universitas Al-Azhar dan
Kairo University, Mesir dengan Nong Darol Mahmada dari Kajian Utan
Kayu (KUK). Wawancara yang disiarkan Radio 68H dan jaringannya di
seluruh Indonesia pada 20 Juni 2002 ini juga menghadirkan Bimo
Nugroho, salah seorang Direktur Institut Studi Arus dan Informasi
(ISAI) Jakarta yang mengalami secara langsung pernikahan antaragama.

Mas Bimo, Anda adalah seorang pelaku pernikahan antaragama. Anda
seorang Katolik, sedang istri Anda seorang muslimah yang berjilbab.
Apa kendala yang Anda alami dalam pernikahan beda agama ini?

Bimo: Kendala awalnya terjadi ketika melamar. Sebetulnya saya sudah
dekat dengan calon mertua saya sebelum menikah. Tetapi ketika saya
melamar, situasinya menjadi serius sekali. Ketika saya melamar,
mertua saya menjawab begini: "Nak Bimo tahu sendiri kan kami ini
Islam. Jadi, kalau mau menikah dengan anak saya, Nak Bimo harus masuk
Islam dulu!" Saya langsung terdiam dan situasi menjadi hening. Saya
bingung mau jawab apa?

Karena dia menanti jawaban saya, akhirnya yang keluar dari mulut saya
begini: "Pak, saya ini orang Katolik. Tapi ke gereja seminggu sekali
saja bolong-bolong, apalagi bila masuk Islam dan harus salat lima
kali sehari. Wah, saya pasti lebih banyak berdosa bila masuk Islam
daripada tetap di Katolik." Itu saya ucapkan karena tidak ingin masuk
Islam hanya formalitas untuk menikah saja. Akhirnya, saat pernikahan,
orang tua isteri saya tidak bisa hadir. Ini kesulitannya dan
merupakan yang paling berat bagi isteri saya.

Bagaimana dengan prosedur di catatan sipil dan prosesi pernikahan
lain?

Bimo: Oh, kami lancar. Akhirnya kami menikah dengan dua cara juga.
Menikah dengan cara Katolik di gereja –di sana ada dispensasi untuk
menerima isteri saya yang teta Islam —juga pernikahan secara Islam.

Pak Zainun, sebenarnya bagaimana pandangan Islam tentang persoalan
pernikahan antaragama ini?

Zainun: Untuk melihat persoalan ini, mungkin dua hal yang perlu kita
bahas. Dilihat dari hukum positif, negara memang tidak mengizinkan
kawin antaragama. Dalam hukum agama yang umum ada dua penjelasan:
Pertama, secara eksplisit teks Alquran membolehkan laki-laki muslim
menikah dengan perempuan non-muslim. Itu terdapat dalam surat al-
Maidah ayat 5. Bahkan, ada pembahasan ulama yang lebih luas tentang
ayat itu. Umumnya, yang masuk lingkup ahli kitab itu hanya Yahudi dan
Kristen. Tapi dalam ayat itu bukan disebut ahli kitab, tapi alladzîna
ûtû al-Kitâb, orang-orang yang mempunyai kitab suci.

Dalam Alquran terdapat kategorisasi golongan musyrik, mukmin dan ahli
kitab. Orang musyik adalah mereka yang percaya pada adanya Tuhan,
tapi tidak percaya pada kitab suci dan atau tidak percaya pada salah
seorang nabi. Mereka itu adalah musyrik Mekah dan secara hukum Islam
tidak boleh sama sekali dinikahi. Kalau ahli kitab, mereka percaya
pada salah seorang nabi dan salah satu kitab suci.

Yang diistilahkan Alquran dalam surat al-Ma'idah adalah orang-orang
yang diberikan kitab. Mereka percaya bahwa itu adalah kitab suci dan
yang diutus kepada mereka adalah seorang nabi; maka menikahi mereka
itu dibolehkan. Misalnya, orang Budha menganggap mereka punya kitab
suci dan Budha Gauthama adalah seorang Nabi. Konghuchu, dianggap nabi
dan mempunyai kitab suci. Demikian juga dengan Sintho. Mereka itu
dianggap sebagai orang yang diberi kitab dan boleh dikawini. Mereka
kadang mengatakan, ini kitab dari Nabi Ibrahim, kok! Atau kitab dari
Nabi Luth. Yahudi boleh karena jelas diutus padanya Musa. Umat
Nasrani mempunyai nabi Isa. Itu beberapa pendapat. Ulama yang
mempunyai pembahasan yang lebih luas memasukkan Konghuchu, Budha dan
Shinto sebagai yang boleh dikawini. Itu memang sudah dipraktekkan
Islam dan sampai sekarang banyak sekali laki-laki muslim yang menikah
dengan perempuan non-muslim.

Adakah praktik pernikahan antaragama dalam sejarah Islam?

Zainun: Yang mempraktekkan itu misalnya, Yasser Arafat dan itu tidak
menjadi masalah di Palestina sana. Nabi sendiri menikah dengan Maria
Koptik yang semula beragama non-Islam. Utsman kawin dengan salah
seorang ahli kitab. Ada yang dengan Kristen dan juga dengan Yahudi.
Sampai sekarang, praktek pernikahan antaragama itu berjalan terus.
Sebagian ulama melarang, tapi teks secara eksplisit membolehkan.
Persoalan kita tadi, bagaimana kalau sebaliknya, yakni laki-lakinya
non-muslim dan perempuannya Islam seperti kasus Mas Bimo ini.

Pertama-tama perlu saya jelaskan, bahwa teks Alquran secara eksplisit
tidak ada yang melarang. Hanya saja, mayoritas ijtihad para ulama,
termasuk di Indonesia, tidak membolehkannya meski secara teks tidak
ada larangan. Makanya, yang membolehkan memiliki landasannya dan yang
melarang juga punya landasan tertentu. Larangan muslimah menikah
dengan laki-laki non-Islam itu tidak disebutkan dalam Alquran. Ini
merupakan pendapat sebagian ulama.

Lantas bagaimana Anda menyimpulkan dari sesuatu yang tidak diekspli-
sitkan oleh Alquran?

Zainun: Saya ingin menceritakan beberapa kasus. Misalnya, saya pernah
bertemu dengan sepasang suami-isteri. Yang perempuan, pada mulanya
muslim, lantas menikah dengan seorang Belanda, lantas masuk Kristen.
Dan mereka sudah punya tiga anak. Kemudian dalam perjalanannya,
perempuan ini mau kembali masuk Islam dan minta izin kepada suaminya.
Akhirnya diizinkan oleh suaminya dan perempuan itu masuk Islam.
Masalah kita sekarang berbeda, yang suaminya masih Katolik dan
perempuannya Islam. Itu diizinkan sendiri oleh suami. Apakah dalam
kondisi begini akan dibolehkan kalau kita berpegang pada pendapat
pada ulama tadi? Kalau sekiranya ini tidak dibolehkan, tentu saja
wajib cerai. Bagaimana hak perempuan ini? Dia bahkan bisa diusir dari
Belanda. Apakah memang agama itu menempatkan kedudukan wanita seperti
itu? Oleh karena itu, karena tidak ada teks yang tegas tentang itu,
maka ijtihad yang berlaku tentang pernikahan seperti itu tentu perlu
ditinjau kembali.

Yang menjadi persoalan besar dalam pernikahan antaragama ini adalah
persoalan anak. Bagaimana status agama anak Anda karena Anda berbeda
agama?

Bimo: Pernikahan kami sekarang telah melewati masa hampir tujuh
tahun. Kesepakatannya memang terserah pada anak itu mau memilih agama
apa. Tapi kemudian saya melihat kenyataan bahwa di rumah anak-anak
lebih banyak waktu dengan istri saya. Istri saya beragama dengan
baik, shalat lima waktu dan berjilbab. Kemudian anak saya dididik
secara Islam dan saya sendiri berpikir, kalau dia beragama Islam
secara baik, kenapa tidak? Sementara karena saya lebih banyak waktu
di kantor, tidak normal juga kalau saya menuntut anak saya beragama
Katolik sementara saya tidak bisa mencurahkan waktu untuk mendidik
anak saya secara Katolik.

Zainun: Mengenai masalah anak, tadi dijawab oleh Mas Bimo. Karena
yang penting, bagaimana suami-isteri itu mendidik anak secara baik.
Karena dalam semua agama mengandung nilai moral yang sama dan
bersifat universal. Kita mendidik anak untuk berbuat baik pada
orangtuanya. Kita mendidik anak kita supaya jangan berbuat jahat dan
berbuat baik pada siapa saja. Saya kira, itu nilai-nilai universal
yang sangat ditekankan semua agama. Jadi kita didik anak kita secara
baik kemudian dia pilih agama apa, hal itu terserah anak.

Saya kira, salah satu alasan sebagian ulama mengharamkan laki-laki
non-muslim menikah dengan wanita muslim karena dikhawatirkan istri
atau anak-anaknya menjadi murtad. Tapi kalau kita melihat kasus mas
Bimo ini, malah sebaliknya. Anak-anaknya semua ikut ibunya karena
yang banyak mendidik anak di rumah adalah ibunya. Karenanya, dalam
kasus ini, ijtihad dan pendapat para ulama yang melarang wanita
muslim menikah dengan pria non muslim perlu ditinjau ulang.

Bagaimana dengan masalah warisannya?

Zainun: Dalam masalah warisan, pendapat ulama berbeda-beda. Ada yang
menyebut tidak boleh saling mewarisi kalau berbeda agama. Tapi ada
yang berpendapat sesungguhnya sang isteri bisa mewarisi suami dan
tidak bisa sebaliknya. Betapa pun saya kira ada solusi terbaik dari
Alquran. Toh ada wasiat misalnya. Kalaupun terhalang, suami bisa saja
berwasiat, ini rumah kalau saya meninggal nantinya untuk kamu. Atau
buat anak ini dan itu. Itu boleh saja.

Pak Zainun, ada hadis Nabi tentang pernikahan yang memakai empat
kriteria: kecantikan, kekayaan, keturunan dan agamanya. Dan yang
dipentingkan dari kriteria itu adalah agamanya. Bukankah itu
maksudnya adalah agama Islam?

Zainun: Memang ada kriteria itu: agama, kecantikan, kekayaan dan
keturunan. Menurut pendapat sebagian ulama, kita dianjurkan
memprioritaskan agamanya. Kemudian kalau ada orang bilang ini ada
perempuan cantik dan saya ingin kawin dengan dia misalnya. Apakah
tidak sah perkawinannya? Tetap sah. Tapi Nabi menganjurkan memilih
agamanya, artinya orang yang bermoral. Agama dalam arti nilai-nilai
yang baik. Namun bila ada yang lebih memilih kekayaan dan kecantikan
dalam urusan mencari jodoh, maka tidak dilarang oleh agama dan
kawinnya tetap saja sah.

Bagaimana dengan kebijakan Khalifah Umar bin Khattab tentang
pelarangan menikahi ahli kitab?

Zainun: Saya ingin menjelaskan alasan pelarangan itu. Ada seorang
sahabat bernama Hudzaifa al-Yamani yang kawin dengan perempuan
Yahudi, kemudian Umar menulis surat padanya agar menceraikan
istrinya. Kemudian Hudzaifah ini menjawab, apakah perkawinan kami
haram? "Tidak haram, "kata Umar, "hanya saja, saya khawatir
perkawinan kamu itu nantinya berdampak negatif?"

Apa maksudnya? Begini, ada persoalan sosial pada masa itu. Waktu itu
Islam dalam penyebaran ajarannya mengalami banyak sekali tantangan
dari luar. Banyak para sahabat yang meninggal dalam medan perang yang
menyebabkan janda-janda perempuan menjadi membludak. Kalau laki-laki
muslim menikah dengan non-muslim, lantas perempuan muslim, khususnya
para janda ini bagaimana? Karena itu Umar secara politis melihat
tinjauan strategis itu. Karena dia ketika itu berkuasa, maka dia
melarang itu. Larangan Umar bisa dibaca sebagai larangan kekuasaan,
dan bukan larangan agama. Sama saja dengan hukum negara kita sekarang
ini. Dalam kasus ini, laki-laki muslim tidak dibolehkan menikahi
perempuan non-muslim, padahal hukum agama membolehkan. []


Reply | Threaded
Open this post in threaded view
|  
Report Content as Inappropriate

Re: Nikah Beda Agama

bens.sudjanto
Rasa cinta dan kecocokan pribadi dari insan2 yg berbeda agama, adalah jauh
lebih tinggi mengatasi perbedaan agama. Lagipula, tiap manusia lahir di
dunia itu agamanya sudah pasti agama kehidupan dan sepercik rasa cinta.
Ada perkataan" "Bagian Kaisar (Pemerintah dll) berikan kepada Kaisar
(contoh: beri uang dapat surat), bagian Tuhan berikan kepada Tuhan"
Ini soal pilihan dan batas-2 yang jelas, yang menjadi kabur kalau
dibolak-balik bikin capai.
Saya sendiri saja dengan istri walau sama-2 Kristen (Katolik & Protestan)
malahan dapat 3 surat nikah, 1 dari gereja Kristen, 1 dari Katolik dan 1
dari Pemerintah (catatan sipil). Namanya saja sipil, ya sipil-2 saja.
Anggap saja dapat bonus surat nikah dan lebih banyak sanak saudara dari dua
komunitas. Semuanya anak-2 kehidupan, dengan tafsiran cara hidup sendiri-2,
ya biarlah demikian, karena kalau merasa sudah capai ya pasti cari
perubahannya sendiri.

Salam,
bens

On Tue, Feb 17, 2009 at 8:37 PM, selarasmilis <[hidden email]>wrote:

>
> Akhirnya saya temukan lagi di Internet artikel ini
>
> salam
> wawan
>
> ============================================
>
> Dr. Zainun Kamal, MA: Nikah Beda Agama
> Oleh Redaksi
>
> Teks-teks suci tidak berdiri pada ruang hampa ketika ia menyapa
> manusia. Satu kasus menarik adalah ketika Khalifah Umar melarang
> seseorang menikahi ahli kitab, sementara Alquran memperbolehkannya,
> menunjukkan intervensi sesuatu di luar teks. Pada kasus lain,
> sebagian ulama masih mengharamkan seorang muslimah menikah dengan
> laki-laki non-Islam.
>
> Memang banyak peristiwa di sekitar kita yang menunjukkan ambiguitas
> teks ketika berhadapan dengan realitas bahwa cinta suci tidak
> memandang sekat-sekat etnisitas dan agama. Perkawinan Yasser Arafat
> dengan Suha, Jamal Mirdad dengan Lidya Kandouw dan lain-lain menjadi
> contoh kecil dari hamparan banyak kasus pernikahan antaragama.
>
> Berikut ini petikan wawancara Dr. Zainun Kamal, pengajar pascasarjana
> UIN Syarif Hidayatullah dan alumnus dari Universitas Al-Azhar dan
> Kairo University, Mesir dengan Nong Darol Mahmada dari Kajian Utan
> Kayu (KUK). Wawancara yang disiarkan Radio 68H dan jaringannya di
> seluruh Indonesia pada 20 Juni 2002 ini juga menghadirkan Bimo
> Nugroho, salah seorang Direktur Institut Studi Arus dan Informasi
> (ISAI) Jakarta yang mengalami secara langsung pernikahan antaragama.
>
> Mas Bimo, Anda adalah seorang pelaku pernikahan antaragama. Anda
> seorang Katolik, sedang istri Anda seorang muslimah yang berjilbab.
> Apa kendala yang Anda alami dalam pernikahan beda agama ini?
>
> Bimo: Kendala awalnya terjadi ketika melamar. Sebetulnya saya sudah
> dekat dengan calon mertua saya sebelum menikah. Tetapi ketika saya
> melamar, situasinya menjadi serius sekali. Ketika saya melamar,
> mertua saya menjawab begini: "Nak Bimo tahu sendiri kan kami ini
> Islam. Jadi, kalau mau menikah dengan anak saya, Nak Bimo harus masuk
> Islam dulu!" Saya langsung terdiam dan situasi menjadi hening. Saya
> bingung mau jawab apa?
>
> Karena dia menanti jawaban saya, akhirnya yang keluar dari mulut saya
> begini: "Pak, saya ini orang Katolik. Tapi ke gereja seminggu sekali
> saja bolong-bolong, apalagi bila masuk Islam dan harus salat lima
> kali sehari. Wah, saya pasti lebih banyak berdosa bila masuk Islam
> daripada tetap di Katolik." Itu saya ucapkan karena tidak ingin masuk
> Islam hanya formalitas untuk menikah saja. Akhirnya, saat pernikahan,
> orang tua isteri saya tidak bisa hadir. Ini kesulitannya dan
> merupakan yang paling berat bagi isteri saya.
>
> Bagaimana dengan prosedur di catatan sipil dan prosesi pernikahan
> lain?
>
> Bimo: Oh, kami lancar. Akhirnya kami menikah dengan dua cara juga.
> Menikah dengan cara Katolik di gereja –di sana ada dispensasi untuk
> menerima isteri saya yang teta Islam —juga pernikahan secara Islam.
>
> Pak Zainun, sebenarnya bagaimana pandangan Islam tentang persoalan
> pernikahan antaragama ini?
>
> Zainun: Untuk melihat persoalan ini, mungkin dua hal yang perlu kita
> bahas. Dilihat dari hukum positif, negara memang tidak mengizinkan
> kawin antaragama. Dalam hukum agama yang umum ada dua penjelasan:
> Pertama, secara eksplisit teks Alquran membolehkan laki-laki muslim
> menikah dengan perempuan non-muslim. Itu terdapat dalam surat al-
> Maidah ayat 5. Bahkan, ada pembahasan ulama yang lebih luas tentang
> ayat itu. Umumnya, yang masuk lingkup ahli kitab itu hanya Yahudi dan
> Kristen. Tapi dalam ayat itu bukan disebut ahli kitab, tapi alladzîna
> ûtû al-Kitâb, orang-orang yang mempunyai kitab suci.
>
> Dalam Alquran terdapat kategorisasi golongan musyrik, mukmin dan ahli
> kitab. Orang musyik adalah mereka yang percaya pada adanya Tuhan,
> tapi tidak percaya pada kitab suci dan atau tidak percaya pada salah
> seorang nabi. Mereka itu adalah musyrik Mekah dan secara hukum Islam
> tidak boleh sama sekali dinikahi. Kalau ahli kitab, mereka percaya
> pada salah seorang nabi dan salah satu kitab suci.
>
> Yang diistilahkan Alquran dalam surat al-Ma'idah adalah orang-orang
> yang diberikan kitab. Mereka percaya bahwa itu adalah kitab suci dan
> yang diutus kepada mereka adalah seorang nabi; maka menikahi mereka
> itu dibolehkan. Misalnya, orang Budha menganggap mereka punya kitab
> suci dan Budha Gauthama adalah seorang Nabi. Konghuchu, dianggap nabi
> dan mempunyai kitab suci. Demikian juga dengan Sintho. Mereka itu
> dianggap sebagai orang yang diberi kitab dan boleh dikawini. Mereka
> kadang mengatakan, ini kitab dari Nabi Ibrahim, kok! Atau kitab dari
> Nabi Luth. Yahudi boleh karena jelas diutus padanya Musa. Umat
> Nasrani mempunyai nabi Isa. Itu beberapa pendapat. Ulama yang
> mempunyai pembahasan yang lebih luas memasukkan Konghuchu, Budha dan
> Shinto sebagai yang boleh dikawini. Itu memang sudah dipraktekkan
> Islam dan sampai sekarang banyak sekali laki-laki muslim yang menikah
> dengan perempuan non-muslim.
>
> Adakah praktik pernikahan antaragama dalam sejarah Islam?
>
> Zainun: Yang mempraktekkan itu misalnya, Yasser Arafat dan itu tidak
> menjadi masalah di Palestina sana. Nabi sendiri menikah dengan Maria
> Koptik yang semula beragama non-Islam. Utsman kawin dengan salah
> seorang ahli kitab. Ada yang dengan Kristen dan juga dengan Yahudi.
> Sampai sekarang, praktek pernikahan antaragama itu berjalan terus.
> Sebagian ulama melarang, tapi teks secara eksplisit membolehkan.
> Persoalan kita tadi, bagaimana kalau sebaliknya, yakni laki-lakinya
> non-muslim dan perempuannya Islam seperti kasus Mas Bimo ini.
>
> Pertama-tama perlu saya jelaskan, bahwa teks Alquran secara eksplisit
> tidak ada yang melarang. Hanya saja, mayoritas ijtihad para ulama,
> termasuk di Indonesia, tidak membolehkannya meski secara teks tidak
> ada larangan. Makanya, yang membolehkan memiliki landasannya dan yang
> melarang juga punya landasan tertentu. Larangan muslimah menikah
> dengan laki-laki non-Islam itu tidak disebutkan dalam Alquran. Ini
> merupakan pendapat sebagian ulama.
>
> Lantas bagaimana Anda menyimpulkan dari sesuatu yang tidak diekspli-
> sitkan oleh Alquran?
>
> Zainun: Saya ingin menceritakan beberapa kasus. Misalnya, saya pernah
> bertemu dengan sepasang suami-isteri. Yang perempuan, pada mulanya
> muslim, lantas menikah dengan seorang Belanda, lantas masuk Kristen.
> Dan mereka sudah punya tiga anak. Kemudian dalam perjalanannya,
> perempuan ini mau kembali masuk Islam dan minta izin kepada suaminya.
> Akhirnya diizinkan oleh suaminya dan perempuan itu masuk Islam.
> Masalah kita sekarang berbeda, yang suaminya masih Katolik dan
> perempuannya Islam. Itu diizinkan sendiri oleh suami. Apakah dalam
> kondisi begini akan dibolehkan kalau kita berpegang pada pendapat
> pada ulama tadi? Kalau sekiranya ini tidak dibolehkan, tentu saja
> wajib cerai. Bagaimana hak perempuan ini? Dia bahkan bisa diusir dari
> Belanda. Apakah memang agama itu menempatkan kedudukan wanita seperti
> itu? Oleh karena itu, karena tidak ada teks yang tegas tentang itu,
> maka ijtihad yang berlaku tentang pernikahan seperti itu tentu perlu
> ditinjau kembali.
>
> Yang menjadi persoalan besar dalam pernikahan antaragama ini adalah
> persoalan anak. Bagaimana status agama anak Anda karena Anda berbeda
> agama?
>
> Bimo: Pernikahan kami sekarang telah melewati masa hampir tujuh
> tahun. Kesepakatannya memang terserah pada anak itu mau memilih agama
> apa. Tapi kemudian saya melihat kenyataan bahwa di rumah anak-anak
> lebih banyak waktu dengan istri saya. Istri saya beragama dengan
> baik, shalat lima waktu dan berjilbab. Kemudian anak saya dididik
> secara Islam dan saya sendiri berpikir, kalau dia beragama Islam
> secara baik, kenapa tidak? Sementara karena saya lebih banyak waktu
> di kantor, tidak normal juga kalau saya menuntut anak saya beragama
> Katolik sementara saya tidak bisa mencurahkan waktu untuk mendidik
> anak saya secara Katolik.
>
> Zainun: Mengenai masalah anak, tadi dijawab oleh Mas Bimo. Karena
> yang penting, bagaimana suami-isteri itu mendidik anak secara baik.
> Karena dalam semua agama mengandung nilai moral yang sama dan
> bersifat universal. Kita mendidik anak untuk berbuat baik pada
> orangtuanya. Kita mendidik anak kita supaya jangan berbuat jahat dan
> berbuat baik pada siapa saja. Saya kira, itu nilai-nilai universal
> yang sangat ditekankan semua agama. Jadi kita didik anak kita secara
> baik kemudian dia pilih agama apa, hal itu terserah anak.
>
> Saya kira, salah satu alasan sebagian ulama mengharamkan laki-laki
> non-muslim menikah dengan wanita muslim karena dikhawatirkan istri
> atau anak-anaknya menjadi murtad. Tapi kalau kita melihat kasus mas
> Bimo ini, malah sebaliknya. Anak-anaknya semua ikut ibunya karena
> yang banyak mendidik anak di rumah adalah ibunya. Karenanya, dalam
> kasus ini, ijtihad dan pendapat para ulama yang melarang wanita
> muslim menikah dengan pria non muslim perlu ditinjau ulang.
>
> Bagaimana dengan masalah warisannya?
>
> Zainun: Dalam masalah warisan, pendapat ulama berbeda-beda. Ada yang
> menyebut tidak boleh saling mewarisi kalau berbeda agama. Tapi ada
> yang berpendapat sesungguhnya sang isteri bisa mewarisi suami dan
> tidak bisa sebaliknya. Betapa pun saya kira ada solusi terbaik dari
> Alquran. Toh ada wasiat misalnya. Kalaupun terhalang, suami bisa saja
> berwasiat, ini rumah kalau saya meninggal nantinya untuk kamu. Atau
> buat anak ini dan itu. Itu boleh saja.
>
> Pak Zainun, ada hadis Nabi tentang pernikahan yang memakai empat
> kriteria: kecantikan, kekayaan, keturunan dan agamanya. Dan yang
> dipentingkan dari kriteria itu adalah agamanya. Bukankah itu
> maksudnya adalah agama Islam?
>
> Zainun: Memang ada kriteria itu: agama, kecantikan, kekayaan dan
> keturunan. Menurut pendapat sebagian ulama, kita dianjurkan
> memprioritaskan agamanya. Kemudian kalau ada orang bilang ini ada
> perempuan cantik dan saya ingin kawin dengan dia misalnya. Apakah
> tidak sah perkawinannya? Tetap sah. Tapi Nabi menganjurkan memilih
> agamanya, artinya orang yang bermoral. Agama dalam arti nilai-nilai
> yang baik. Namun bila ada yang lebih memilih kekayaan dan kecantikan
> dalam urusan mencari jodoh, maka tidak dilarang oleh agama dan
> kawinnya tetap saja sah.
>
> Bagaimana dengan kebijakan Khalifah Umar bin Khattab tentang
> pelarangan menikahi ahli kitab?
>
> Zainun: Saya ingin menjelaskan alasan pelarangan itu. Ada seorang
> sahabat bernama Hudzaifa al-Yamani yang kawin dengan perempuan
> Yahudi, kemudian Umar menulis surat padanya agar menceraikan
> istrinya. Kemudian Hudzaifah ini menjawab, apakah perkawinan kami
> haram? "Tidak haram, "kata Umar, "hanya saja, saya khawatir
> perkawinan kamu itu nantinya berdampak negatif?"
>
> Apa maksudnya? Begini, ada persoalan sosial pada masa itu. Waktu itu
> Islam dalam penyebaran ajarannya mengalami banyak sekali tantangan
> dari luar. Banyak para sahabat yang meninggal dalam medan perang yang
> menyebabkan janda-janda perempuan menjadi membludak. Kalau laki-laki
> muslim menikah dengan non-muslim, lantas perempuan muslim, khususnya
> para janda ini bagaimana? Karena itu Umar secara politis melihat
> tinjauan strategis itu. Karena dia ketika itu berkuasa, maka dia
> melarang itu. Larangan Umar bisa dibaca sebagai larangan kekuasaan,
> dan bukan larangan agama. Sama saja dengan hukum negara kita sekarang
> ini. Dalam kasus ini, laki-laki muslim tidak dibolehkan menikahi
> perempuan non-muslim, padahal hukum agama membolehkan. []
>
>
>
Reply | Threaded
Open this post in threaded view
|  
Report Content as Inappropriate

Re: Nikah Beda Agama

kanthi_asih
wah, koleksi surat nikahnya lumayan, yah, Mas Bens.
hihihi....

salam,
kanthi asih




--- In [hidden email], benediktus sudjanto
<bens.sudjanto@...> wrote:
>
> Rasa cinta dan kecocokan pribadi dari insan2 yg berbeda agama,
adalah jauh
> lebih tinggi mengatasi perbedaan agama. Lagipula, tiap manusia lahir di
> dunia itu agamanya sudah pasti agama kehidupan dan sepercik rasa cinta.
> Ada perkataan" "Bagian Kaisar (Pemerintah dll) berikan kepada Kaisar
> (contoh: beri uang dapat surat), bagian Tuhan berikan kepada Tuhan"
> Ini soal pilihan dan batas-2 yang jelas, yang menjadi kabur kalau
> dibolak-balik bikin capai.
> Saya sendiri saja dengan istri walau sama-2 Kristen (Katolik &
Protestan)
> malahan dapat 3 surat nikah, 1 dari gereja Kristen, 1 dari Katolik dan 1
> dari Pemerintah (catatan sipil). Namanya saja sipil, ya sipil-2 saja.
> Anggap saja dapat bonus surat nikah dan lebih banyak sanak saudara
dari dua
> komunitas. Semuanya anak-2 kehidupan, dengan tafsiran cara hidup
sendiri-2,
> ya biarlah demikian, karena kalau merasa sudah capai ya pasti cari
> perubahannya sendiri.
>
> Salam,
> bens


Reply | Threaded
Open this post in threaded view
|  
Report Content as Inappropriate

Re: Re: Nikah Beda Agama

bens.sudjanto
Lha ya Mbak Kanthi, ini namanya riwayat nikah bersurat-surat.
Memang heboh lho, karena peristiwa pertama di kota Kudus pernikahan
macam kami, pakai dispensasi Uskup lagi.

Salam,
bens

2009/2/17 kanthi_asih <[hidden email]>
>
> wah, koleksi surat nikahnya lumayan, yah, Mas Bens.
> hihihi....
>
> salam,
> kanthi asih
Reply | Threaded
Open this post in threaded view
|  
Report Content as Inappropriate

Re: Nikah Beda Agama

kanthi_asih
duh, salut dan selamat buat Mas Bens dan istri tercinta!

salam,
kanthi asih




--- In [hidden email], benediktus sudjanto
<bens.sudjanto@...> wrote:

>
> Lha ya Mbak Kanthi, ini namanya riwayat nikah bersurat-surat.
> Memang heboh lho, karena peristiwa pertama di kota Kudus pernikahan
> macam kami, pakai dispensasi Uskup lagi.
>
> Salam,
> bens
>
> 2009/2/17 kanthi_asih <kanthi_asih@...>
> >
> > wah, koleksi surat nikahnya lumayan, yah, Mas Bens.
> > hihihi....
> >
> > salam,
> > kanthi asih
>


Reply | Threaded
Open this post in threaded view
|  
Report Content as Inappropriate

Re: Re: Nikah Beda Agama

iskandar effendi-2
Hendaklah engkau tulus  dan cerdik...
cuma itu saja kan?


2009/2/17 kanthi_asih <[hidden email]>

>   duh, salut dan selamat buat Mas Bens dan istri tercinta!
>
>
> salam,
> kanthi asih
>
> --- In [hidden email]<Spiritual-Indonesia%40yahoogroups.com>,
> benediktus sudjanto
> <bens.sudjanto@...> wrote:
> >
> > Lha ya Mbak Kanthi, ini namanya riwayat nikah bersurat-surat.
> > Memang heboh lho, karena peristiwa pertama di kota Kudus pernikahan
> > macam kami, pakai dispensasi Uskup lagi.
> >
> > Salam,
> > bens
> >
> > 2009/2/17 kanthi_asih <kanthi_asih@...>
> > >
> > > wah, koleksi surat nikahnya lumayan, yah, Mas Bens.
> > > hihihi....
> > >
> > > salam,
> > > kanthi asih
> >
>
>  
>
Reply | Threaded
Open this post in threaded view
|  
Report Content as Inappropriate

Re: Re: Nikah Beda Agama

Teguh Heriyanto
Om Swastiastu

Sekedar mau sharing saja......hehehehe
Kebetulan saya juga berbeda keyakinan dengan istri....
Istri saya muslim  sedangkan saya Hindu.
Agar saya dapat menikah dan menjadi satu keluarga dengan istri  ...yaaaaach.... diakalin aja.
Mula2 kami adakan upacara pernikahan di Pura di bimbing oleh Pemangku. Setelah itu ..... kira2 jarak satu bulan setelahnya kami berdua berangkat ke KUA untuk meresmikan pernikahan kami cara Islam.
Sekarang kami sangat berbahagia dan sudah punya seorang putra. Saya tidak pernah melarang ataupun ikut campur masalah keyakinan istri saya, terserah dia. Awalnya istri sering minta ijin sholat kepada saya ..... hehehehe   aneh  kata saya waktu itu. Kamu ingin menghadap Tuhan kenapa ijin saya ? lakukan saja. Saya pun bebas bermeditasi di rumah, ke Pura atau tidak sembahyang sama sekali pun istri saya tidak pernah mengomentarinya. That is your  way and that is your own business.
Yang sholat  ... silakan sholat, yang ke Pura silakan ke Pura.... Yang ke Gereja silakan ke Gereja. Atau yang ingin ke Wihara  ooooo  monggo kerso.....hehehehe  Dan yang tidak mengenal Tuhan ataupun tidak ingin kenal  yacchh  Ok...Ok... saja. That is YOUR WAY......enjoy it.

Shanty

Teguh Heriyanto  

--- On Tue, 2/17/09, iskandar effendi <[hidden email]> wrote:
From: iskandar effendi <[hidden email]>
Subject: Re: [Spiritual-Indonesia] Re: Nikah Beda Agama
To: [hidden email]
Date: Tuesday, February 17, 2009, 4:47 PM











   
            Hendaklah engkau tulus  dan cerdik...
cuma itu saja kan?


2009/2/17 kanthi_asih <kanthi_asih@ yahoo.com>


















   
            duh, salut dan selamat buat Mas Bens dan istri tercinta!



salam,

kanthi asih



--- In Spiritual-Indonesia @yahoogroups. com, benediktus sudjanto

<bens.sudjanto@ ...> wrote:

>

> Lha ya Mbak Kanthi, ini namanya riwayat nikah bersurat-surat.

> Memang heboh lho, karena peristiwa pertama di kota Kudus pernikahan

> macam kami, pakai dispensasi Uskup lagi.

>

> Salam,

> bens

>

> 2009/2/17 kanthi_asih <kanthi_asih@ ...>

> >

> > wah, koleksi surat nikahnya lumayan, yah, Mas Bens.

> > hihihi....

> >

> > salam,

> > kanthi asih

>




 

     

   
   
       
       
       
       


       


       
       
       
       
       




 

     

   
   
       
         
       
       








       


       
       


     
Reply | Threaded
Open this post in threaded view
|  
Report Content as Inappropriate

Re: Re: Nikah Beda Agama

Nanda-4
Setiap individu ada keinginan unt mengenal mengetahui sang Penciptanya..

Dan masing2 individu mempunyai cara sendiri..

Saling menghargai, memahami, kunci unt masuk kedalam kebersamaan dalam kasih bukaaaan....!!??




Nda

`````````````````````````````
Powered by Telkomsel BlackBerry®

-----Original Message-----
From: Teguh Heriyanto <[hidden email]>

Date: Tue, 17 Feb 2009 17:07:20
To: <[hidden email]>
Subject: Re: [Spiritual-Indonesia] Re: Nikah Beda Agama


Om Swastiastu

Sekedar mau sharing saja......hehehehe
Kebetulan saya juga berbeda keyakinan dengan istri....
Istri saya muslim  sedangkan saya Hindu.
Agar saya dapat menikah dan menjadi satu keluarga dengan istri  ...yaaaaach.... diakalin aja.
Mula2 kami adakan upacara pernikahan di Pura di bimbing oleh Pemangku. Setelah itu ..... kira2 jarak satu bulan setelahnya kami berdua berangkat ke KUA untuk meresmikan pernikahan kami cara Islam.
Sekarang kami sangat berbahagia dan sudah punya seorang putra. Saya tidak pernah melarang ataupun ikut campur masalah keyakinan istri saya, terserah dia. Awalnya istri sering minta ijin sholat kepada saya ..... hehehehe   aneh  kata saya waktu itu. Kamu ingin menghadap Tuhan kenapa ijin saya ? lakukan saja. Saya pun bebas bermeditasi di rumah, ke Pura atau tidak sembahyang sama sekali pun istri saya tidak pernah mengomentarinya. That is your  way and that is your own business.
Yang sholat  ... silakan sholat, yang ke Pura silakan ke Pura.... Yang ke Gereja silakan ke Gereja. Atau yang ingin ke Wihara  ooooo  monggo kerso.....hehehehe  Dan yang tidak mengenal Tuhan ataupun tidak ingin kenal  yacchh  Ok...Ok... saja. That is YOUR WAY......enjoy it.

Shanty

Teguh Heriyanto  

--- On Tue, 2/17/09, iskandar effendi <[hidden email]> wrote:
From: iskandar effendi <[hidden email]>
Subject: Re: [Spiritual-Indonesia] Re: Nikah Beda Agama
To: [hidden email]
Date: Tuesday, February 17, 2009, 4:47 PM











   
            Hendaklah engkau tulus  dan cerdik...
cuma itu saja kan?


2009/2/17 kanthi_asih <kanthi_asih@ yahoo.com>


















   
            duh, salut dan selamat buat Mas Bens dan istri tercinta!



salam,

kanthi asih



--- In Spiritual-Indonesia @yahoogroups. com, benediktus sudjanto

<bens.sudjanto@ ...> wrote:

>

> Lha ya Mbak Kanthi, ini namanya riwayat nikah bersurat-surat.

> Memang heboh lho, karena peristiwa pertama di kota Kudus pernikahan

> macam kami, pakai dispensasi Uskup lagi.

>

> Salam,

> bens

>

> 2009/2/17 kanthi_asih <kanthi_asih@ ...>

> >

> > wah, koleksi surat nikahnya lumayan, yah, Mas Bens.

> > hihihi....

> >

> > salam,

> > kanthi asih

>




 

     

   
   
       
       
       
       


       


       
       
       
       
       




 

     

   
   
       
         
       
       








       


       
       


     
Reply | Threaded
Open this post in threaded view
|  
Report Content as Inappropriate

Re: Re: Nikah Beda Agama

(¯´·.eSTe.·´¯)
In reply to this post by kanthi_asih
tapi banyak juga ya pasangan yang putus (tidak jadi menikah) karena beda
agama
kenapa ya?

2009/2/17 kanthi_asih <[hidden email]>

>   duh, salut dan selamat buat Mas Bens dan istri tercinta!
>
>
> salam,
> kanthi asih
>
> --- In [hidden email]<Spiritual-Indonesia%40yahoogroups.com>,
> benediktus sudjanto
> <bens.sudjanto@...> wrote:
> >
> > Lha ya Mbak Kanthi, ini namanya riwayat nikah bersurat-surat.
> > Memang heboh lho, karena peristiwa pertama di kota Kudus pernikahan
> > macam kami, pakai dispensasi Uskup lagi.
> >
> > Salam,
> > bens
> >
> > 2009/2/17 kanthi_asih <kanthi_asih@...>
> > >
> > > wah, koleksi surat nikahnya lumayan, yah, Mas Bens.
> > > hihihi....
> > >
> > > salam,
> > > kanthi asih
> >
>
>  
>



--
<)^^(>
(( 'o' ))
=(,,)=(,,)=
Reply | Threaded
Open this post in threaded view
|  
Report Content as Inappropriate

Re: Nikah Beda Agama

herawati kusumastuti-2
Yup,bersyukurlah orang-orang yang sudah tau bahwa menikah beda agama
tidak menjadi masalah...


--- In [hidden email], (¯´·.eSTe.·´¯)
<sweet.icecream87@...> wrote:
>
> tapi banyak juga ya pasangan yang putus (tidak jadi menikah) karena beda
> agama
> kenapa ya?
>


Reply | Threaded
Open this post in threaded view
|  
Report Content as Inappropriate

Re: Nikah Beda Agama

herawati kusumastuti-2
In reply to this post by Nanda-4
Yup setuju mbak Nanda...mmm...cuma sekarang buat hra sendiri,belum
ketemu tuh sama orang yang "dah terkontaminasi otaknya" kayak hra jew
:( kenapa tiba2 jadi langka ya??? :(

sabarrrrrrrrrrrrr....


--- In [hidden email], "Nanda" <anandaput@...> wrote:
>
> Setiap individu ada keinginan unt mengenal mengetahui sang Penciptanya..
>
> Dan masing2 individu mempunyai cara sendiri..
>
> Saling menghargai, memahami, kunci unt masuk kedalam kebersamaan
dalam kasih bukaaaan....!!??
>
>
>
>
> Nda
>


Reply | Threaded
Open this post in threaded view
|  
Report Content as Inappropriate

Re: Nikah Beda Agama

danarhadi2000
In reply to this post by herawati kusumastuti-2
Mbakne, kayaknya tanggapan mbakne nggak nyambung dengan argument
mbakne este:

+ mbakne Este:tapi banyak juga ya pasangan yang putus (tidak jadi
menikah) karena beda agama kenapa ya? ---> menekankan adanya masalah,
sampai ada yang putus

- mbakne Kusumo Astuti:Yup,bersyukurlah orang-orang yang sudah tau
bahwa menikah beda agama tidak menjadi masalah... ---> menekankan tak
adanya masalah..

Piye to?

Pada dasarnya, seperti semua didunia ini, yang membuat masalah adalah
manusia. Sistem di wolak walik sesuai pandangan. Kitab Suci itu semua
bisa diputar dari arah mana saja, mau dengar apa..

Mau dengar Yesus ajarkan kasih? buka ayat Matius 5:38-42,

5:38 Kamu telah mendengar firman: Mata ganti mata dan gigi ganti gigi.
5:39 Tetapi Aku berkata kepadamu: Janganlah kamu melawan orang yang
berbuat jahat kepadamu, melainkan siapa pun yang menampar pipi
kananmu, berilah juga kepadanya pipi kirimu.
5:40 Dan kepada orang yang hendak mengadukan engkau karena mengingini
bajumu, serahkanlah juga jubahmu.
5:41 Dan siapa pun yang memaksa engkau berjalan sejauh satu mil,
berjalanlah bersama dia sejauh dua mil.
5:42 Berilah kepada orang yang meminta kepadamu dan janganlah menolak
orang yang mau meminjam dari padamu.


Mau dengar Yesus datang untuk perang? buka ayat Matius 10:34

"Jangan kamu menyangka, bahwa Aku datang untuk membawa damai di atas
bumi; Aku datang bukan untuk membawa damai, melainkan pedang"

Lalu baca terus sampai Matius 10: 37 "Barangsiapa mengasihi bapa atau
ibunya lebih dari pada-Ku, ia tidak layak bagi-Ku; dan barangsiapa
mengasihi anaknya laki-laki atau perempuan lebih dari pada-Ku, ia
tidak layak bagi-Ku"

Ayat ini dipakai oleh kelompok Saksi Yehova untuk memisahkan umat
dari keluarga yang mempunyai kepercayaan lain. Pisah ajeee..

Jadi, mbakne, tergantung manusia, mau dibikin masalah, jadi masalah,
mau tidak jadi masalah ya bukan masalah.

Salam

Danardono

--- In [hidden email], "herawati kusumastuti"
<herasamo@...> wrote:
>
> Yup,bersyukurlah orang-orang yang sudah tau bahwa menikah beda agama
> tidak menjadi masalah...
>
>
> --- In [hidden email], (¯´·.eSTe.·´¯)
> <sweet.icecream87@> wrote:
> >
> > tapi banyak juga ya pasangan yang putus (tidak jadi menikah)
karena beda
> > agama
> > kenapa ya?
> >
>


Reply | Threaded
Open this post in threaded view
|  
Report Content as Inappropriate

Re: Re: Nikah Beda Agama

Teguh Heriyanto
In reply to this post by wawan-3
Om Swastiastu

Sekedar mau sharing saja......hehehehe
Kebetulan saya juga berbeda keyakinan dengan istri....
Istri saya muslim  sedangkan saya Hindu.
Agar saya dapat menikah dan menjadi satu keluarga dengan istri  ...yaaaaach.... diakalin aja.
Mula2 kami adakan upacara pernikahan di Pura di bimbing oleh Pemangku. Setelah itu ..... kira2 jarak satu bulan setelahnya kami berdua berangkat ke KUA untuk meresmikan pernikahan kami cara Islam.
Sekarang kami sangat berbahagia dan sudah punya seorang putra. Saya tidak pernah melarang ataupun ikut campur masalah keyakinan istri saya, terserah dia. Awalnya istri sering minta ijin sholat kepada saya ..... hehehehe   aneh  kata saya waktu itu. Kamu ingin menghadap Tuhan kenapa ijin saya ? lakukan saja. Saya pun bebas bermeditasi di rumah, ke Pura atau tidak sembahyang sama sekali pun istri saya tidak pernah mengomentarinya. That is your  way and that is your own business.
Yang sholat  ... silakan sholat, yang ke Pura silakan ke Pura.... Yang ke Gereja silakan ke Gereja. Atau yang ingin ke Wihara  ooooo  monggo kerso.....hehehehe  Dan yang tidak mengenal Tuhan ataupun tidak ingin kenal  yacchh  Ok...Ok... saja. That is YOUR WAY......enjoy it.

Shanty

Teguh Heriyanto  

--- On Tue, 2/17/09, iskandar effendi <[hidden email]> wrote:
From: iskandar effendi <[hidden email]>
Subject: Re: [Spiritual-Indonesia] Re: Nikah Beda Agama
To: [hidden email]
Date: Tuesday, February 17, 2009, 4:47 PM











   
            Hendaklah engkau tulus  dan cerdik...
cuma itu saja kan?


2009/2/17 kanthi_asih <kanthi_asih@ yahoo.com>


















   
            duh, salut dan selamat buat Mas Bens dan istri tercinta!



salam,

kanthi asih



--- In Spiritual-Indonesia @yahoogroups. com, benediktus sudjanto

<bens.sudjanto@ ...> wrote:

>

> Lha ya Mbak Kanthi, ini namanya riwayat nikah bersurat-surat.

> Memang heboh lho, karena peristiwa pertama di kota Kudus pernikahan

> macam kami, pakai dispensasi Uskup lagi.

>

> Salam,

> bens

>

> 2009/2/17 kanthi_asih <kanthi_asih@ ...>

> >

> > wah, koleksi surat nikahnya lumayan, yah, Mas Bens.

> > hihihi....

> >

> > salam,

> > kanthi asih

>




 

     

   
   
       
       
       
       


       


       
       
       
       
       




 

     

   
   
       
         
       
       








       


       
       


     

Reply | Threaded
Open this post in threaded view
|  
Report Content as Inappropriate

Re: Re: Nikah Beda Agama

Wal Suparmo
Salam,
Kalau Anda menikah secara Islam didepan Penghulu, maka istri Anda harus mengucapkan kalimat syahadat yang berarti SUDAH MASUK ISLAM. Apakah itu hanya Anda anggap sebagai formalitas atau tidak, tetapi kenyataannya demikian dan istri Anda DIANGGAP seorang Islam sehingga tidak menjadi persoalan lagi.Yang dipersoalan Islam, ada anak2 Anda, ikut agama siapa?
Wasalam,
Wal Suparmo

--- Pada Kam, 19/2/09, Teguh Heriyanto <[hidden email]> menulis:

Dari: Teguh Heriyanto <[hidden email]>
Topik: Re: [Spiritual-Indonesia] Re: Nikah Beda Agama
Kepada: [hidden email]
Tanggal: Kamis, 19 Februari, 2009, 10:43 AM






Om Swastiastu

Sekedar mau sharing saja......hehehehe
Kebetulan saya juga berbeda keyakinan dengan istri....
Istri saya muslim  sedangkan saya Hindu.
Agar saya dapat menikah dan menjadi satu keluarga dengan istri  ...yaaaaach. ... diakalin aja.
Mula2 kami adakan upacara pernikahan di Pura di bimbing oleh Pemangku. Setelah itu ..... kira2 jarak satu bulan setelahnya kami berdua berangkat ke KUA untuk meresmikan pernikahan kami cara Islam.
Sekarang kami sangat berbahagia dan sudah punya seorang putra. Saya tidak pernah melarang ataupun ikut campur masalah keyakinan istri saya, terserah dia. Awalnya istri sering minta ijin sholat kepada saya ..... hehehehe   aneh  kata saya waktu itu. Kamu ingin menghadap Tuhan kenapa ijin saya ? lakukan saja. Saya pun bebas bermeditasi di rumah, ke Pura atau tidak sembahyang sama sekali pun istri saya tidak pernah mengomentarinya. That is your  way and that is your own business.
Yang sholat  ... silakan sholat, yang ke Pura silakan ke Pura.... Yang ke Gereja silakan ke Gereja. Atau yang ingin ke Wihara  ooooo  monggo kerso.....hehehehe  Dan yang tidak mengenal Tuhan ataupun tidak ingin kenal  yacchh  Ok...Ok... saja. That is YOUR WAY......enjoy it.

Shanty

Teguh Heriyanto  

--- On Tue, 2/17/09, iskandar effendi <iskandar.effendi@ gmail.com> wrote:
From: iskandar effendi <iskandar.effendi@ gmail.com>
Subject: Re: [Spiritual-Indonesi a] Re: Nikah Beda Agama
To: Spiritual-Indonesia @yahoogroups. com
Date: Tuesday, February 17, 2009, 4:47 PM

Hendaklah engkau tulus  dan cerdik...
cuma itu saja kan?

2009/2/17 kanthi_asih <kanthi_asih@ yahoo.com>

duh, salut dan selamat buat Mas Bens dan istri tercinta!

salam,

kanthi asih

--- In Spiritual-Indonesia @yahoogroups. com, benediktus sudjanto

<bens.sudjanto@ ...> wrote:

>

> Lha ya Mbak Kanthi, ini namanya riwayat nikah bersurat-surat.

> Memang heboh lho, karena peristiwa pertama di kota Kudus pernikahan

> macam kami, pakai dispensasi Uskup lagi.

>

> Salam,

> bens

>

> 2009/2/17 kanthi_asih <kanthi_asih@ ...>

> >

> > wah, koleksi surat nikahnya lumayan, yah, Mas Bens.

> > hihihi....

> >

> > salam,

> > kanthi asih

>








































      Terhubung langsung dengan banyak teman di blog dan situs pribadi Anda? Buat Pingbox terbaru Anda sekarang! http://id.messenger.yahoo.com/pingbox/
Reply | Threaded
Open this post in threaded view
|  
Report Content as Inappropriate

Re: Nikah Beda Agama

Agung Pindha

nimbrug lagi.. nimbrug lagi...
Kakak saya satu kawin sama orang Malang , nikahnya di Bali dulu,
habis itu saya ikut ke Malang ,untuk upacara nikah ala Malang.
tapi nikahnya secara Kejawen , jadi nggak pakai kalimat kalimatan.
Nikahnya ya.. pakai saksi saja , seingat saya nggak pakai haji/ustad.

shanti is sekedar nimbrug.



--- In [hidden email], Wal Suparmo
<wal.suparmo@...> wrote:
>
> Salam,
> Kalau Anda menikah secara Islam didepan Penghulu, maka istri Anda
harus mengucapkan kalimat syahadat yang berarti SUDAH MASUK ISLAM.
Apakah itu hanya Anda anggap sebagai formalitas atau tidak, tetapi
kenyataannya demikian dan istri Anda DIANGGAP seorang Islam sehingga
tidak menjadi persoalan lagi.Yang dipersoalan Islam, ada anak2
Anda, ikut agama siapa?
> Wasalam,
> Wal Suparmo
>
> --- Pada Kam, 19/2/09, Teguh Heriyanto <teguhheriyanto@...>
menulis:

>
> Dari: Teguh Heriyanto <teguhheriyanto@...>
> Topik: Re: [Spiritual-Indonesia] Re: Nikah Beda Agama
> Kepada: [hidden email]
> Tanggal: Kamis, 19 Februari, 2009, 10:43 AM
>
>
>
>
>
>
> Om Swastiastu
>
> Sekedar mau sharing saja......hehehehe
> Kebetulan saya juga berbeda keyakinan dengan istri....
> Istri saya muslim  sedangkan saya Hindu.
> Agar saya dapat menikah dan menjadi satu keluarga dengan
istri  ...yaaaaach. ... diakalin aja.
> Mula2 kami adakan upacara pernikahan di Pura di bimbing oleh
Pemangku. Setelah itu ..... kira2 jarak satu bulan setelahnya kami
berdua berangkat ke KUA untuk meresmikan pernikahan kami cara Islam.
> Sekarang kami sangat berbahagia dan sudah punya seorang putra.
Saya tidak pernah melarang ataupun ikut campur masalah keyakinan
istri saya, terserah dia. Awalnya istri sering minta ijin sholat
kepada saya ..... hehehehe   aneh  kata saya waktu itu. Kamu ingin
menghadap Tuhan kenapa ijin saya ? lakukan saja. Saya pun bebas
bermeditasi di rumah, ke Pura atau tidak sembahyang sama sekali pun
istri saya tidak pernah mengomentarinya. That is your  way and that
is your own business.
> Yang sholat  ... silakan sholat, yang ke Pura silakan ke Pura....
Yang ke Gereja silakan ke Gereja. Atau yang ingin ke Wihara 
ooooo  monggo kerso.....hehehehe  Dan yang tidak mengenal Tuhan
ataupun tidak ingin kenal  yacchh  Ok...Ok... saja. That is YOUR
WAY......enjoy it.
>
> Shanty
>
> Teguh Heriyanto  
>
> --- On Tue, 2/17/09, iskandar effendi <iskandar.effendi@
gmail.com> wrote:

> From: iskandar effendi <iskandar.effendi@ gmail.com>
> Subject: Re: [Spiritual-Indonesi a] Re: Nikah Beda Agama
> To: Spiritual-Indonesia @yahoogroups. com
> Date: Tuesday, February 17, 2009, 4:47 PM
>
> Hendaklah engkau tulus  dan cerdik...
> cuma itu saja kan?
>
> 2009/2/17 kanthi_asih <kanthi_asih@ yahoo.com>
>
> duh, salut dan selamat buat Mas Bens dan istri tercinta!
>
> salam,
>
> kanthi asih
>
> --- In Spiritual-Indonesia @yahoogroups. com, benediktus sudjanto
>
> <bens.sudjanto@ ...> wrote:
>
> >
>
> > Lha ya Mbak Kanthi, ini namanya riwayat nikah bersurat-surat.
>
> > Memang heboh lho, karena peristiwa pertama di kota Kudus
pernikahan

>
> > macam kami, pakai dispensasi Uskup lagi.
>
> >
>
> > Salam,
>
> > bens
>
> >
>
> > 2009/2/17 kanthi_asih <kanthi_asih@ ...>
>
> > >
>
> > > wah, koleksi surat nikahnya lumayan, yah, Mas Bens.
>
> > > hihihi....
>
> > >
>
> > > salam,
>
> > > kanthi asih
>
> >
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>       Terhubung langsung dengan banyak teman di blog dan situs
pribadi Anda? Buat Pingbox terbaru Anda sekarang!
http://id.messenger.yahoo.com/pingbox/
>


Reply | Threaded
Open this post in threaded view
|  
Report Content as Inappropriate

Re: Re: Nikah Beda Agama+Mas Wal.Suparmo

Teguh Heriyanto
Om Swastiastu

Kalo masalah anak,....ya saya serahkan kepada anak saya saja nanti kalo besar mau pilih agama apa...lah wong saya saja  ...sebelum memeluk Hindu, terlahir sebagai muslim. Ibu saya sebelum nikah dengan bapak saya, terlahir katholik. Jadi ya terserah saja nanti lah  suka2 anak saya saja mau milih agama manapun....kalo ternyata dia tidak memilih satu pun agama yang ada dan memilih atheis  heheheheehe  ya....monggo kerso...saya tetap sayang sama dia ...la wong  anak .... hehehehee

Rahayu
Teguh Heriyanto
 
--- On Thu, 2/19/09, IGusti Agung <[hidden email]> wrote:
From: IGusti Agung <[hidden email]>
Subject: [Spiritual-Indonesia] Re: Nikah Beda Agama
To: [hidden email]
Date: Thursday, February 19, 2009, 4:44 AM











   
           

nimbrug lagi.. nimbrug lagi...

Kakak saya satu kawin sama orang Malang , nikahnya di Bali dulu,

habis itu saya ikut ke Malang ,untuk upacara nikah ala Malang.

tapi nikahnya secara Kejawen , jadi nggak pakai kalimat kalimatan.

Nikahnya ya.. pakai saksi saja , seingat saya nggak pakai haji/ustad.



shanti is sekedar nimbrug.



--- In Spiritual-Indonesia @yahoogroups. com, Wal Suparmo

<wal.suparmo@ ...> wrote:

>

> Salam,

> Kalau Anda menikah secara Islam didepan Penghulu, maka istri Anda

harus mengucapkan kalimat syahadat yang berarti SUDAH MASUK ISLAM.

Apakah itu hanya Anda anggap sebagai formalitas atau tidak, tetapi

kenyataannya demikian dan istri Anda DIANGGAP seorang Islam sehingga

tidak menjadi persoalan lagi. Yang dipersoalan Islam, ada anak2

Anda, ikut agama siapa?

> Wasalam,

> Wal Suparmo

>

> --- Pada Kam, 19/2/09, Teguh Heriyanto <teguhheriyanto@ ...>

menulis:

>

> Dari: Teguh Heriyanto <teguhheriyanto@ ...>

> Topik: Re: [Spiritual-Indonesi a] Re: Nikah Beda Agama

> Kepada: Spiritual-Indonesia @yahoogroups. com

> Tanggal: Kamis, 19 Februari, 2009, 10:43 AM

>

>

>

>

>

>

> Om Swastiastu

>

> Sekedar mau sharing saja......hehehehe

> Kebetulan saya juga berbeda keyakinan dengan istri....

> Istri saya muslim  sedangkan saya Hindu.

> Agar saya dapat menikah dan menjadi satu keluarga dengan

istri  ...yaaaaach. ... diakalin aja.

> Mula2 kami adakan upacara pernikahan di Pura di bimbing oleh

Pemangku. Setelah itu ..... kira2 jarak satu bulan setelahnya kami

berdua berangkat ke KUA untuk meresmikan pernikahan kami cara Islam.

> Sekarang kami sangat berbahagia dan sudah punya seorang putra.

Saya tidak pernah melarang ataupun ikut campur masalah keyakinan

istri saya, terserah dia. Awalnya istri sering minta ijin sholat

kepada saya ..... hehehehe   aneh  kata saya waktu itu. Kamu ingin

menghadap Tuhan kenapa ijin saya ? lakukan saja. Saya pun bebas

bermeditasi di rumah, ke Pura atau tidak sembahyang sama sekali pun

istri saya tidak pernah mengomentarinya. That is your  way and that

is your own business.

> Yang sholat  ... silakan sholat, yang ke Pura silakan ke Pura....

Yang ke Gereja silakan ke Gereja. Atau yang ingin ke Wihara 

ooooo  monggo kerso.....hehehehe  Dan yang tidak mengenal Tuhan

ataupun tidak ingin kenal  yacchh  Ok...Ok... saja. That is YOUR

WAY......enjoy it.

>

> Shanty

>

> Teguh Heriyanto  

>

> --- On Tue, 2/17/09, iskandar effendi <iskandar.effendi@

gmail.com> wrote:

> From: iskandar effendi <iskandar.effendi@ gmail.com>

> Subject: Re: [Spiritual-Indonesi a] Re: Nikah Beda Agama

> To: Spiritual-Indonesia @yahoogroups. com

> Date: Tuesday, February 17, 2009, 4:47 PM

>

> Hendaklah engkau tulus  dan cerdik...

> cuma itu saja kan?

>

> 2009/2/17 kanthi_asih <kanthi_asih@ yahoo.com>

>

> duh, salut dan selamat buat Mas Bens dan istri tercinta!

>

> salam,

>

> kanthi asih

>

> --- In Spiritual-Indonesia @yahoogroups. com, benediktus sudjanto

>

> <bens.sudjanto@ ...> wrote:

>

> >

>

> > Lha ya Mbak Kanthi, ini namanya riwayat nikah bersurat-surat.

>

> > Memang heboh lho, karena peristiwa pertama di kota Kudus

pernikahan

>

> > macam kami, pakai dispensasi Uskup lagi.

>

> >

>

> > Salam,

>

> > bens

>

> >

>

> > 2009/2/17 kanthi_asih <kanthi_asih@ ...>

>

> > >

>

> > > wah, koleksi surat nikahnya lumayan, yah, Mas Bens.

>

> > > hihihi....

>

> > >

>

> > > salam,

>

> > > kanthi asih

>

> >

>

>

>

>

>

>

>

>

>

>

>

>

>

>

>

>

>

>

>

>

>

>

>

>

>

>

>

>

>

>

>

>

>

>

>

>

>

>

>

>

>       Terhubung langsung dengan banyak teman di blog dan situs

pribadi Anda? Buat Pingbox terbaru Anda sekarang!

http://id.messenger .yahoo.com/ pingbox/

>




 

     

   
   
       
         
       
       








       


       
       


     
Reply | Threaded
Open this post in threaded view
|  
Report Content as Inappropriate

Re: Re: Nikah Beda Agama+Mas Wal.Suparmo

firman kachah
SETUJU OM

NIKAH BEDA AGAMA? GA ADA MASALAH.... TU



________________________________
From: Teguh Heriyanto <[hidden email]>
To: [hidden email]
Sent: Thursday, February 19, 2009 12:38:12
Subject: Re: [Spiritual-Indonesia] Re: Nikah Beda Agama+Mas Wal.Suparmo


Om Swastiastu

Kalo masalah anak,....ya saya serahkan kepada anak saya saja nanti kalo besar mau pilih agama apa....lah wong saya saja  ...sebelum memeluk Hindu, terlahir sebagai muslim.. Ibu saya sebelum nikah dengan bapak saya, terlahir katholik. Jadi ya terserah saja nanti lah  suka2 anak saya saja mau milih agama manapun....kalo ternyata dia tidak memilih satu pun agama yang ada dan memilih atheis  heheheheehe  ya....monggo kerso...saya tetap sayang sama dia ...la wong  anak .... hehehehee

Rahayu
Teguh Heriyanto
 
--- On Thu, 2/19/09, IGusti Agung <agungpindha@ yahoo.com> wrote:

From: IGusti Agung <agungpindha@ yahoo.com>
Subject: [Spiritual-Indonesi a] Re: Nikah Beda Agama
To: Spiritual-Indonesia @yahoogroups. com
Date: Thursday, February 19, 2009, 4:44 AM



nimbrug lagi.. nimbrug lagi...
Kakak saya satu kawin sama orang Malang , nikahnya di Bali dulu,
habis itu saya ikut ke Malang ,untuk upacara nikah ala Malang.
tapi nikahnya secara Kejawen , jadi nggak pakai kalimat kalimatan.
Nikahnya ya.. pakai saksi saja , seingat saya nggak pakai haji/ustad.

shanti is sekedar nimbrug.

--- In Spiritual-Indonesia @yahoogroups. com, Wal Suparmo
<wal.suparmo@ ...> wrote:
>
> Salam,
> Kalau Anda menikah secara Islam didepan Penghulu, maka istri Anda
harus mengucapkan kalimat syahadat yang berarti SUDAH MASUK ISLAM.
Apakah itu hanya Anda anggap sebagai formalitas atau tidak, tetapi
kenyataannya demikian dan istri Anda DIANGGAP seorang Islam sehingga
tidak menjadi persoalan lagi. Yang dipersoalan Islam, ada anak2
Anda, ikut agama siapa?
> Wasalam,
> Wal Suparmo
>
> --- Pada Kam, 19/2/09, Teguh Heriyanto <teguhheriyanto@ ...>
menulis:

>
> Dari: Teguh Heriyanto <teguhheriyanto@ ...>
> Topik: Re: [Spiritual-Indonesi a] Re: Nikah Beda Agama
> Kepada: Spiritual-Indonesia @yahoogroups. com
> Tanggal: Kamis, 19 Februari, 2009, 10:43 AM
>
>
>
>
>
>
> Om Swastiastu
>
> Sekedar mau sharing saja......hehehehe
> Kebetulan saya juga berbeda keyakinan dengan istri....
> Istri saya muslim  sedangkan saya Hindu.
> Agar saya dapat menikah dan menjadi satu keluarga dengan
istri  ...yaaaaach. ... diakalin aja.
> Mula2 kami adakan upacara pernikahan di Pura di bimbing oleh
Pemangku. Setelah itu ..... kira2 jarak satu bulan setelahnya kami
berdua berangkat ke KUA untuk meresmikan pernikahan kami cara Islam.
> Sekarang kami sangat berbahagia dan sudah punya seorang putra.
Saya tidak pernah melarang ataupun ikut campur masalah keyakinan
istri saya, terserah dia. Awalnya istri sering minta ijin sholat
kepada saya ..... hehehehe   aneh  kata saya waktu itu. Kamu ingin
menghadap Tuhan kenapa ijin saya ? lakukan saja. Saya pun bebas
bermeditasi di rumah, ke Pura atau tidak sembahyang sama sekali pun
istri saya tidak pernah mengomentarinya. That is your  way and that
is your own business.
> Yang sholat  ... silakan sholat, yang ke Pura silakan ke Pura.....
Yang ke Gereja silakan ke Gereja. Atau yang ingin ke Wihara  
ooooo  monggo kerso.....hehehehe  Dan yang tidak mengenal Tuhan
ataupun tidak ingin kenal  yacchh  Ok...Ok... saja. That is YOUR
WAY......enjoy it.
>
> Shanty
>
> Teguh Heriyanto   
>
> --- On Tue, 2/17/09, iskandar effendi <iskandar.effendi@
gmail.com> wrote:

> From: iskandar effendi <iskandar.effendi@ gmail.com>
> Subject: Re: [Spiritual-Indonesi a] Re: Nikah Beda Agama
> To: Spiritual-Indonesia @yahoogroups. com
> Date: Tuesday, February 17, 2009, 4:47 PM
>
> Hendaklah engkau tulus  dan cerdik...
> cuma itu saja kan?
>
> 2009/2/17 kanthi_asih <kanthi_asih@ yahoo.com>
>
> duh, salut dan selamat buat Mas Bens dan istri tercinta!
>
> salam,
>
> kanthi asih
>
> --- In Spiritual-Indonesia @yahoogroups. com, benediktus sudjanto
>
> <bens.sudjanto@ ...> wrote:
>
> >
>
> > Lha ya Mbak Kanthi, ini namanya riwayat nikah bersurat-surat.
>
> > Memang heboh lho, karena peristiwa pertama di kota Kudus
pernikahan

>
> > macam kami, pakai dispensasi Uskup lagi.
>
> >
>
> > Salam,
>
> > bens
>
> >
>
> > 2009/2/17 kanthi_asih <kanthi_asih@ ...>
>
> > >
>
> > > wah, koleksi surat nikahnya lumayan, yah, Mas Bens.
>
> > > hihihi....
>
> > >
>
> > > salam,
>
> > > kanthi asih
>
> >
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>       Terhubung langsung dengan banyak teman di blog dan situs
pribadi Anda? Buat Pingbox terbaru Anda sekarang!
http://id.messenger .yahoo.com/ pingbox/
>

 

   


      New Email names for you!
Get the Email name you&#39;ve always wanted on the new @ymail and @rocketmail.
Hurry before someone else does!
http://mail.promotions.yahoo.com/newdomains/aa/
Reply | Threaded
Open this post in threaded view
|  
Report Content as Inappropriate

Re: Nikah Beda Agama+Mas Wal.Suparmo

Agung Pindha
In reply to this post by Teguh Heriyanto

nah... saya dua pakat  , malah tiga pakat..
biarkan mereka memilih sendiri , kalau nggak milih juga nggak apa apa
ya kan?.Disamping pada masa mereka dewasa , mungkin agama udah nggak
ada pengaruhnya , seperti di negara negara maju lainnya.
Semoga saja demikian , jadi kita melihat orang sebagai manusia ,
sama seperti kita , peduli agamanya apa , tanpa mengecap orang lain
kafir or ini itu.
Rupa2nya keluarga anda keluarga bijaksana , saya yakin
kalau anda tinggal diluar negeri , andapun tidak akan peduli soal
agama . Freedom of choice , hanya kebetulan freedom ini bisa diraih
tanpa pengorbanan , ya nggak , ya kan?

shanti is setuju , let the children lead the way....



--- In [hidden email], Teguh Heriyanto
<teguhheriyanto@...> wrote:
>
> Om Swastiastu
>
> Kalo masalah anak,....ya saya serahkan kepada anak saya saja nanti
kalo besar mau pilih agama apa...lah wong saya saja  ...sebelum
memeluk Hindu, terlahir sebagai muslim. Ibu saya sebelum nikah
dengan bapak saya, terlahir katholik. Jadi ya terserah saja nanti
lah  suka2 anak saya saja mau milih agama manapun....kalo ternyata
dia tidak memilih satu pun agama yang ada dan memilih atheis 
heheheheehe  ya....monggo kerso...saya tetap sayang sama dia ...la
wong  anak .... hehehehee

>
> Rahayu
> Teguh Heriyanto
>  
> --- On Thu, 2/19/09, IGusti Agung <agungpindha@...> wrote:
> From: IGusti Agung <agungpindha@...>
> Subject: [Spiritual-Indonesia] Re: Nikah Beda Agama
> To: [hidden email]
> Date: Thursday, February 19, 2009, 4:44 AM
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>    
>            
>
> nimbrug lagi.. nimbrug lagi...
>
> Kakak saya satu kawin sama orang Malang , nikahnya di Bali dulu,
>
> habis itu saya ikut ke Malang ,untuk upacara nikah ala Malang.
>
> tapi nikahnya secara Kejawen , jadi nggak pakai kalimat kalimatan.
>
> Nikahnya ya.. pakai saksi saja , seingat saya nggak pakai
haji/ustad.

>
>
>
> shanti is sekedar nimbrug.
>
>
>
> --- In Spiritual-Indonesia @yahoogroups. com, Wal Suparmo
>
> <wal.suparmo@ ...> wrote:
>
> >
>
> > Salam,
>
> > Kalau Anda menikah secara Islam didepan Penghulu, maka istri
Anda
>
> harus mengucapkan kalimat syahadat yang berarti SUDAH MASUK ISLAM.
>
> Apakah itu hanya Anda anggap sebagai formalitas atau tidak, tetapi
>
> kenyataannya demikian dan istri Anda DIANGGAP seorang Islam
sehingga

>
> tidak menjadi persoalan lagi. Yang dipersoalan Islam, ada anak2
>
> Anda, ikut agama siapa?
>
> > Wasalam,
>
> > Wal Suparmo
>
> >
>
> > --- Pada Kam, 19/2/09, Teguh Heriyanto <teguhheriyanto@ ...>
>
> menulis:
>
> >
>
> > Dari: Teguh Heriyanto <teguhheriyanto@ ...>
>
> > Topik: Re: [Spiritual-Indonesi a] Re: Nikah Beda Agama
>
> > Kepada: Spiritual-Indonesia @yahoogroups. com
>
> > Tanggal: Kamis, 19 Februari, 2009, 10:43 AM
>
> >
>
> >
>
> >
>
> >
>
> >
>
> >
>
> > Om Swastiastu
>
> >
>
> > Sekedar mau sharing saja......hehehehe
>
> > Kebetulan saya juga berbeda keyakinan dengan istri....
>
> > Istri saya muslim  sedangkan saya Hindu.
>
> > Agar saya dapat menikah dan menjadi satu keluarga dengan
>
> istri  ...yaaaaach. ... diakalin aja.
>
> > Mula2 kami adakan upacara pernikahan di Pura di bimbing oleh
>
> Pemangku. Setelah itu ..... kira2 jarak satu bulan setelahnya kami
>
> berdua berangkat ke KUA untuk meresmikan pernikahan kami cara
Islam.
>
> > Sekarang kami sangat berbahagia dan sudah punya seorang putra.
>
> Saya tidak pernah melarang ataupun ikut campur masalah keyakinan
>
> istri saya, terserah dia. Awalnya istri sering minta ijin sholat
>
> kepada saya ..... hehehehe   aneh  kata saya waktu itu. Kamu
ingin
>
> menghadap Tuhan kenapa ijin saya ? lakukan saja. Saya pun bebas
>
> bermeditasi di rumah, ke Pura atau tidak sembahyang sama sekali
pun
>
> istri saya tidak pernah mengomentarinya. That is your  way and
that
>
> is your own business.
>
> > Yang sholat  ... silakan sholat, yang ke Pura silakan ke
Pura....

>
> Yang ke Gereja silakan ke Gereja. Atau yang ingin ke Wihara 
>
> ooooo  monggo kerso.....hehehehe  Dan yang tidak mengenal Tuhan
>
> ataupun tidak ingin kenal  yacchh  Ok...Ok... saja. That is YOUR
>
> WAY......enjoy it.
>
> >
>
> > Shanty
>
> >
>
> > Teguh Heriyanto  
>
> >
>
> > --- On Tue, 2/17/09, iskandar effendi <iskandar.effendi@
>
> gmail.com> wrote:
>
> > From: iskandar effendi <iskandar.effendi@ gmail.com>
>
> > Subject: Re: [Spiritual-Indonesi a] Re: Nikah Beda Agama
>
> > To: Spiritual-Indonesia @yahoogroups. com
>
> > Date: Tuesday, February 17, 2009, 4:47 PM
>
> >
>
> > Hendaklah engkau tulus  dan cerdik...
>
> > cuma itu saja kan?
>
> >
>
> > 2009/2/17 kanthi_asih <kanthi_asih@ yahoo.com>
>
> >
>
> > duh, salut dan selamat buat Mas Bens dan istri tercinta!
>
> >
>
> > salam,
>
> >
>
> > kanthi asih
>
> >
>
> > --- In Spiritual-Indonesia @yahoogroups. com, benediktus sudjanto
>
> >
>
> > <bens.sudjanto@ ...> wrote:
>
> >
>
> > >
>
> >
>
> > > Lha ya Mbak Kanthi, ini namanya riwayat nikah bersurat-surat.
>
> >
>
> > > Memang heboh lho, karena peristiwa pertama di kota Kudus
>
> pernikahan
>
> >
>
> > > macam kami, pakai dispensasi Uskup lagi.
>
> >
>
> > >
>
> >
>
> > > Salam,
>
> >
>
> > > bens
>
> >
>
> > >
>
> >
>
> > > 2009/2/17 kanthi_asih <kanthi_asih@ ...>
>
> >
>
> > > >
>
> >
>
> > > > wah, koleksi surat nikahnya lumayan, yah, Mas Bens.
>
> >
>
> > > > hihihi....
>
> >
>
> > > >
>
> >
>
> > > > salam,
>
> >
>
> > > > kanthi asih
>
> >
>
> > >
>
> >
>
> >
>
> >
>
> >
>
> >
>
> >
>
> >
>
> >
>
> >
>
> >
>
> >
>
> >
>
> >
>
> >
>
> >
>
> >
>
> >
>
> >
>
> >
>
> >
>
> >
>
> >
>
> >
>
> >
>
> >
>
> >
>
> >
>
> >
>
> >
>
> >
>
> >
>
> >
>
> >
>
> >
>
> >
>
> >
>
> >
>
> >
>
> >
>
> >
>
> >       Terhubung langsung dengan banyak teman di blog dan situs
>
> pribadi Anda? Buat Pingbox terbaru Anda sekarang!
>
> http://id.messenger .yahoo.com/ pingbox/
>
> >
>


Reply | Threaded
Open this post in threaded view
|  
Report Content as Inappropriate

Re: Re: Nikah Beda Agama+Mas Wal.Suparmo

dohan satria-3
Ya Pakat juga,..
Mbah WAl akan percaya kalo ngalami dewe....jadi nggak terkesan takut takut
amat ama perbedaan agama dalam keluarga ...

Salam Sejati

Pada 19 Februari 2009 13:18, IGusti Agung <[hidden email]> menulis:

>    Freedom of choice , hanya kebetulan freedom ini bisa diraih
> tanpa pengorbanan , ya nggak , ya kan?
>
> shanti is setuju , let the children lead the way....
>
> --- In [hidden email]<Spiritual-Indonesia%40yahoogroups.com>,
> Teguh Heriyanto
> <teguhheriyanto@...> wrote:
> >
> > Om Swastiastu
> >
> > Kalo masalah anak,....ya saya serahkan kepada anak saya saja nanti
> kalo besar mau pilih agama apa...lah wong saya saja  ...sebelum
> memeluk Hindu, terlahir sebagai muslim. Ibu saya sebelum nikah
> dengan bapak saya, terlahir katholik. Jadi ya terserah saja nanti
> lah  suka2 anak saya saja mau milih agama manapun....kalo ternyata
> dia tidak memilih satu pun agama yang ada dan memilih atheis
> heheheheehe  ya....monggo kerso...saya tetap sayang sama dia ...la
> wong  anak .... hehehehee
> >
> > Rahayu
> > Teguh Heriyanto
> >
>
Reply | Threaded
Open this post in threaded view
|  
Report Content as Inappropriate

Re: Re: Nikah Beda Agama+Mas Wal.Suparmo

Wal Suparmo
In reply to this post by firman kachah
Salam,
Kalau semua orang mempunyai sikap yang sama dalam hal agama seperti orang tua  Pak TEGUH HERYANTO dan orang tua saya, maka  ketegangan di dunia akan  jauh berkurang dan mungkin TEORI agama Kristen tentang KASIH dan DAMAI  serta teori agama Islam tentang KEBAHAGIAAN UNTUK SEMUA MANUSIA, MEMANG JADI KENYATAAN.Tetapi buktinya tidak begitu, setiap orang tua HARUS mengindoktrinasi dengan doktrine Kristen atau Islam sedari anaknya dalam kandungan.Sehingga terjadi ketegangan antara agama bahkan DIDALAM penganut agama sendiri.
Wsalam,
Wal suparmo

--- Pada Kam, 19/2/09, firman kachah <[hidden email]> menulis:

Dari: firman kachah <[hidden email]>
Topik: Re: [Spiritual-Indonesia] Re: Nikah Beda Agama+Mas Wal.Suparmo
Kepada: [hidden email]
Tanggal: Kamis, 19 Februari, 2009, 12:50 PM







SETUJU OM

NIKAH BEDA AGAMA? GA ADA MASALAH.... TU





From: Teguh Heriyanto <teguhheriyanto@ yahoo.com>
To: Spiritual-Indonesia @yahoogroups. com
Sent: Thursday, February 19, 2009 12:38:12
Subject: Re: [Spiritual-Indonesi a] Re: Nikah Beda Agama+Mas Wal.Suparmo







Om Swastiastu

Kalo masalah anak,....ya saya serahkan kepada anak saya saja nanti kalo besar mau pilih agama apa....lah wong saya saja  ...sebelum memeluk Hindu, terlahir sebagai muslim.. Ibu saya sebelum nikah dengan bapak saya, terlahir katholik. Jadi ya terserah saja nanti lah  suka2 anak saya saja mau milih agama manapun....kalo ternyata dia tidak memilih satu pun agama yang ada dan memilih atheis  heheheheehe  ya....monggo kerso...saya tetap sayang sama dia ...la wong  anak .... hehehehee

Rahayu
Teguh Heriyanto
 
--- On Thu, 2/19/09, IGusti Agung <agungpindha@ yahoo.com> wrote:

From: IGusti Agung <agungpindha@ yahoo.com>
Subject: [Spiritual-Indonesi a] Re: Nikah Beda Agama
To: Spiritual-Indonesia @yahoogroups. com
Date: Thursday, February 19, 2009, 4:44 AM





nimbrug lagi.. nimbrug lagi...
Kakak saya satu kawin sama orang Malang , nikahnya di Bali dulu,
habis itu saya ikut ke Malang ,untuk upacara nikah ala Malang.
tapi nikahnya secara Kejawen , jadi nggak pakai kalimat kalimatan.
Nikahnya ya.. pakai saksi saja , seingat saya nggak pakai haji/ustad.

shanti is sekedar nimbrug.

--- In Spiritual-Indonesia @yahoogroups. com, Wal Suparmo
<wal.suparmo@ ...> wrote:
>
> Salam,
> Kalau Anda menikah secara Islam didepan Penghulu, maka istri Anda
harus mengucapkan kalimat syahadat yang berarti SUDAH MASUK ISLAM.
Apakah itu hanya Anda anggap sebagai formalitas atau tidak, tetapi
kenyataannya demikian dan istri Anda DIANGGAP seorang Islam sehingga
tidak menjadi persoalan lagi. Yang dipersoalan Islam, ada anak2
Anda, ikut agama siapa?
> Wasalam,
> Wal Suparmo
>
> --- Pada Kam, 19/2/09, Teguh Heriyanto <teguhheriyanto@ ...>
menulis:

>
> Dari: Teguh Heriyanto <teguhheriyanto@ ...>
> Topik: Re: [Spiritual-Indonesi a] Re: Nikah Beda Agama
> Kepada: Spiritual-Indonesia @yahoogroups. com
> Tanggal: Kamis, 19 Februari, 2009, 10:43 AM
>
>
>
>
>
>
> Om Swastiastu
>
> Sekedar mau sharing saja......hehehehe
> Kebetulan saya juga berbeda keyakinan dengan istri....
> Istri saya muslim  sedangkan saya Hindu.
> Agar saya dapat menikah dan menjadi satu keluarga dengan
istri  ...yaaaaach. ... diakalin aja.
> Mula2 kami adakan upacara pernikahan di Pura di bimbing oleh
Pemangku. Setelah itu ..... kira2 jarak satu bulan setelahnya kami
berdua berangkat ke KUA untuk meresmikan pernikahan kami cara Islam.
> Sekarang kami sangat berbahagia dan sudah punya seorang putra.
Saya tidak pernah melarang ataupun ikut campur masalah keyakinan
istri saya, terserah dia. Awalnya istri sering minta ijin sholat
kepada saya ..... hehehehe   aneh  kata saya waktu itu. Kamu ingin
menghadap Tuhan kenapa ijin saya ? lakukan saja. Saya pun bebas
bermeditasi di rumah, ke Pura atau tidak sembahyang sama sekali pun
istri saya tidak pernah mengomentarinya. That is your  way and that
is your own business.
> Yang sholat  ... silakan sholat, yang ke Pura silakan ke Pura.....
Yang ke Gereja silakan ke Gereja. Atau yang ingin ke Wihara 
ooooo  monggo kerso.....hehehehe  Dan yang tidak mengenal Tuhan
ataupun tidak ingin kenal  yacchh  Ok...Ok... saja. That is YOUR
WAY......enjoy it.
>
> Shanty
>
> Teguh Heriyanto  
>
> --- On Tue, 2/17/09, iskandar effendi <iskandar.effendi@
gmail.com> wrote:

> From: iskandar effendi <iskandar.effendi@ gmail.com>
> Subject: Re: [Spiritual-Indonesi a] Re: Nikah Beda Agama
> To: Spiritual-Indonesia @yahoogroups. com
> Date: Tuesday, February 17, 2009, 4:47 PM
>
> Hendaklah engkau tulus  dan cerdik...
> cuma itu saja kan?
>
> 2009/2/17 kanthi_asih <kanthi_asih@ yahoo.com>
>
> duh, salut dan selamat buat Mas Bens dan istri tercinta!
>
> salam,
>
> kanthi asih
>
> --- In Spiritual-Indonesia @yahoogroups. com, benediktus sudjanto
>
> <bens.sudjanto@ ...> wrote:
>
> >
>
> > Lha ya Mbak Kanthi, ini namanya riwayat nikah bersurat-surat.
>
> > Memang heboh lho, karena peristiwa pertama di kota Kudus
pernikahan

>
> > macam kami, pakai dispensasi Uskup lagi.
>
> >
>
> > Salam,
>
> > bens
>
> >
>
> > 2009/2/17 kanthi_asih <kanthi_asih@ ...>
>
> > >
>
> > > wah, koleksi surat nikahnya lumayan, yah, Mas Bens.
>
> > > hihihi....
>
> > >
>
> > > salam,
>
> > > kanthi asih
>
> >
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
> Terhubung langsung dengan banyak teman di blog dan situs
pribadi Anda? Buat Pingbox terbaru Anda sekarang!
http://id.messenger .yahoo.com/ pingbox/
>





Get your new Email address!
Grab the Email name you've always wanted before someone else does!















      Mulai chatting dengan teman di Yahoo! Pingbox baru sekarang!! Membuat tempat chat pribadi di blog Anda sekarang sangatlah mudah. http://id.messenger.yahoo.com/pingbox/
123
Loading...