Quantcast

OOT: Kriteria Orang Miskin Indonesia Versi BPS

classic Classic list List threaded Threaded
3 messages Options
Reply | Threaded
Open this post in threaded view
|  
Report Content as Inappropriate

OOT: Kriteria Orang Miskin Indonesia Versi BPS

semar samiaji

Keengganan melaporkan pendapatan sudah menjadi hal yang sangat lumrah…jadi lebih sulit atau tingkat akurasinya bisa lebih rendah dibandingkan dengan pengeluaran yang juga bisa di-aku2 lebih rendah…
 
Jika kemudian angka pengeluaran sebesar IDR 7,000 per hari itu sama dengan penghasilan lebih kurang IDR 210,000 per bulannya…dan itu semua digunakan untuk semua pengeluaran termasuk kebutuhan dasar….kebutuhan dasar berupa pangan, sandang, papan, kesehatan, dan pendidikan….semakin membuktikan kalau yang dianggap miskin itu hanya boleh di sekolah2 yang gratis semuanya (pakaian, buku, uang bulanan, uang jajan, dsb)…hanya bisa sakit yang ringan2 aja dan berobat di balai2 pengobatan seadanya…hanya bisa kontrak rumah dengan listirk seminimal mungkin karena untuk beli nggak kuat bayar cicilan dan bayar tarif listriknya….hanya bisa beli pakaian seadanya, ndak bisa yang ber-merk….dan hanya bisa makan yang benar2 seadanya….
 
Mengapa lebih senang dengan permainan angka yang JELAS2 sudah tidak valid atau pun ndak cocok lagi dengan kenyataan yang ada?...Kenapa untuk jujur mengakui bahwa LEBIH banyak lagi yang miskin dari yang disebutkan sekitar 31,02 juta?...apakah malu ternyata tatanan kehidupan yang demi rakyat ternyata hanya menghasilkan manfaat kepada segelintir saja?...
 
Ternyata, kejujuran itu TIDAK mudah diberikan patokannya…jauh lebih mudah mematok angka kemiskinan….
 
Salam,
ss
 
-----
 
Kriteria Orang Miskin Indonesia Versi BPS
Kamis, 1 Juli 2010, 14:00 WIB
Heri Susanto, Agus Dwi Darmawan
 
 
VIVAnews - Per Maret 2010, Badan Pusat Statistik (BPS) telah mengumumkan bahwa orang miskin di Indonesia mencapai 31,02 juta. Apa kriteria orang masuk kategori miskin?
 
Kepala Badan Pusat Statistik Rusman Heriawan mengatakan bahwa kategori miskin adalah mereka dengan tingkat pengeluaran per kapita per bulan sebesar Rp211.726 atau sekitar Rp7000 per hari. Jumlah ini meningkat dibandingkan kategori miskin tahun 2009 per Maret yang tercatat sebesar Rp200.262 per hari.
 
Rusman mengatakan BPS mencatat orang miskin dari pengeluaran karena pada dasarnya perhitungan dilakukan untuk mengetahui bagaimana pemenuhan terhadap kebutuhan dasar.
 
"Metode kami, kemiskinan diukur dengan konsep kemampuan memenuhi kebutuhan dasar, kenapa? karena kalau tidak memenuhi misal nasi, maka dia akan mati," ujar Rusman di Kantor BPS, Kamis 1 Juli 2010.
 
Pengeluaran, menurut Rusman, dihitung karena BPS tidak mungkin mengukur kemiskinan didasarkan atas pendapatan. "Kalau kami mengukur pendapatan, itu tidak pernah berhasil. Alasannya karena selalu lupa, yang uang transportlah dan macem-macem," kata Rusman.
 
Berbeda dengan cara mengukur didasarkan pengeluaran kebutuhan dasar.
 
Kemiskinan ini diukur yakni dengan mengetahui ketidakmampuan bersangkutan dari sisi ekonomi. Sehingga bisa saja orang miskin itu mendapat bantuan seperti jaminan kesehatan berupa jamkesmas, bantuan subsidi beras murah, bantuan operasional sekolah dan lain-lain.
 
Menurut Rusman bahwa metode ini dipakai sejak tahun 1998 dan dihitung secara konsisten sampai tahun ini. Perhitungan tidak berubah dan selalu mengacu pada prinsip-prinsip dasar yang sama.
 
"Miskin itu apabila penduduk itu memiliki kempuan pengeluaran dibawah garis kemiskinan," katanya.
 
Tahun ini, kata Rusman, peranan komoditi menjadi faktor utama mempengaruhi kemiskinan jauh lebih tinggi, yakni sampai 73 persen, dibanding produk kebutuhan bukan makanan. "Orang miskin yang penting makan," kata dia. Sementara pengeluaran untuk sandang, perumahan, pendidikan dan kesehatan, masih di bawah 30 persen.
 
http://bisnis.vivanews.com/news/read/161590-kriteria-orang-miskin-indonesia-versi-bps 
 







     
Reply | Threaded
Open this post in threaded view
|  
Report Content as Inappropriate

Re: OOT: Kriteria Orang Miskin Indonesia Versi BPS

Frans J Santoso
Om Jusfig, tumben membahasnya mirip Om SS?
Ada apa Om?
.
.
(Sengaja, dengan gaya sangat inosen)
.
-----Original Message-----
From: semar samiaji <[hidden email]>
Sender: [hidden email]
Date: Thu, 1 Jul 2010 16:21:48
To: <[hidden email]>
Reply-To: [hidden email]
Subject: [Spiritual-Indonesia] OOT: Kriteria Orang Miskin Indonesia Versi BPS


Keengganan melaporkan pendapatan sudah menjadi hal yang sangat lumrah…jadi lebih sulit atau tingkat akurasinya bisa lebih rendah dibandingkan dengan pengeluaran yang juga bisa di-aku2 lebih rendah…
 
Jika kemudian angka pengeluaran sebesar IDR 7,000 per hari itu sama dengan penghasilan lebih kurang IDR 210,000 per bulannya…dan itu semua digunakan untuk semua pengeluaran termasuk kebutuhan dasar….kebutuhan dasar berupa pangan, sandang, papan, kesehatan, dan pendidikan….semakin membuktikan kalau yang dianggap miskin itu hanya boleh di sekolah2 yang gratis semuanya (pakaian, buku, uang bulanan, uang jajan, dsb)…hanya bisa sakit yang ringan2 aja dan berobat di balai2 pengobatan seadanya…hanya bisa kontrak rumah dengan listirk seminimal mungkin karena untuk beli nggak kuat bayar cicilan dan bayar tarif listriknya….hanya bisa beli pakaian seadanya, ndak bisa yang ber-merk….dan hanya bisa makan yang benar2 seadanya….
 
Mengapa lebih senang dengan permainan angka yang JELAS2 sudah tidak valid atau pun ndak cocok lagi dengan kenyataan yang ada?...Kenapa untuk jujur mengakui bahwa LEBIH banyak lagi yang miskin dari yang disebutkan sekitar 31,02 juta?...apakah malu ternyata tatanan kehidupan yang demi rakyat ternyata hanya menghasilkan manfaat kepada segelintir saja?...
 
Ternyata, kejujuran itu TIDAK mudah diberikan patokannya…jauh lebih mudah mematok angka kemiskinan….
 
Salam,
ss
 
-----
 
Kriteria Orang Miskin Indonesia Versi BPS
Kamis, 1 Juli 2010, 14:00 WIB
Heri Susanto, Agus Dwi Darmawan
 
 
VIVAnews - Per Maret 2010, Badan Pusat Statistik (BPS) telah mengumumkan bahwa orang miskin di Indonesia mencapai 31,02 juta. Apa kriteria orang masuk kategori miskin?
 
Kepala Badan Pusat Statistik Rusman Heriawan mengatakan bahwa kategori miskin adalah mereka dengan tingkat pengeluaran per kapita per bulan sebesar Rp211.726 atau sekitar Rp7000 per hari. Jumlah ini meningkat dibandingkan kategori miskin tahun 2009 per Maret yang tercatat sebesar Rp200.262 per hari.
 
Rusman mengatakan BPS mencatat orang miskin dari pengeluaran karena pada dasarnya perhitungan dilakukan untuk mengetahui bagaimana pemenuhan terhadap kebutuhan dasar.
 
"Metode kami, kemiskinan diukur dengan konsep kemampuan memenuhi kebutuhan dasar, kenapa? karena kalau tidak memenuhi misal nasi, maka dia akan mati," ujar Rusman di Kantor BPS, Kamis 1 Juli 2010.
 
Pengeluaran, menurut Rusman, dihitung karena BPS tidak mungkin mengukur kemiskinan didasarkan atas pendapatan. "Kalau kami mengukur pendapatan, itu tidak pernah berhasil. Alasannya karena selalu lupa, yang uang transportlah dan macem-macem," kata Rusman.
 
Berbeda dengan cara mengukur didasarkan pengeluaran kebutuhan dasar.
 
Kemiskinan ini diukur yakni dengan mengetahui ketidakmampuan bersangkutan dari sisi ekonomi. Sehingga bisa saja orang miskin itu mendapat bantuan seperti jaminan kesehatan berupa jamkesmas, bantuan subsidi beras murah, bantuan operasional sekolah dan lain-lain.
 
Menurut Rusman bahwa metode ini dipakai sejak tahun 1998 dan dihitung secara konsisten sampai tahun ini. Perhitungan tidak berubah dan selalu mengacu pada prinsip-prinsip dasar yang sama.
 
"Miskin itu apabila penduduk itu memiliki kempuan pengeluaran dibawah garis kemiskinan," katanya.
 
Tahun ini, kata Rusman, peranan komoditi menjadi faktor utama mempengaruhi kemiskinan jauh lebih tinggi, yakni sampai 73 persen, dibanding produk kebutuhan bukan makanan. "Orang miskin yang penting makan," kata dia. Sementara pengeluaran untuk sandang, perumahan, pendidikan dan kesehatan, masih di bawah 30 persen.
 
http://bisnis.vivanews.com/news/read/161590-kriteria-orang-miskin-indonesia-versi-bps 
 







     
Reply | Threaded
Open this post in threaded view
|  
Report Content as Inappropriate

OOT: Kriteria Orang Miskin Indonesia Versi BPS

semar samiaji
HA..HA..HA..HA...kata di tv atau media tertulis....orang pertama yang disensus adalah Presiden RI dan keluarga....padahal, 3 hari sebelum pelaksanaan petugas sensus sama orang2 kelurahan udah dateng ke rumah untuk melakukan tugas sensus...
 
nggak jelas juga siapa yang mau dibohongin ...nggak jelas juga siapa yang hendak di-sanjung2...he..he..he..he...
 
salam aya2 wae,
ss

--- On Thu, 7/1/10, Frans J Santoso <[hidden email]> wrote:


From: Frans J Santoso <[hidden email]>
Subject: Re: [Spiritual-Indonesia] OOT: Kriteria Orang Miskin Indonesia Versi BPS
To: "Spiritual Indonesia" <[hidden email]>
Date: Thursday, July 1, 2010, 3:27 PM


 



Om Jusfig, tumben membahasnya mirip Om SS?
Ada apa Om?
.
.
(Sengaja, dengan gaya sangat inosen)
.


From: semar samiaji <kind_evil_06@ yahoo.com>
Sender: Spiritual-Indonesia @yahoogroups. com
Date: Thu, 1 Jul 2010 16:21:48 +0800 (SGT)
To: <Spiritual-Indonesia @yahoogroups. com>
ReplyTo: Spiritual-Indonesia @yahoogroups. com
Subject: [Spiritual-Indonesi a] OOT: Kriteria Orang Miskin Indonesia Versi BPS

 







Keengganan melaporkan pendapatan sudah menjadi hal yang sangat lumrah…jadi lebih sulit atau tingkat akurasinya bisa lebih rendah dibandingkan dengan pengeluaran yang juga bisa di-aku2 lebih rendah…
 
Jika kemudian angka pengeluaran sebesar IDR 7,000 per hari itu sama dengan penghasilan lebih kurang IDR 210,000 per bulannya…dan itu semua digunakan untuk semua pengeluaran termasuk kebutuhan dasar….kebutuhan dasar berupa pangan, sandang, papan, kesehatan, dan pendidikan….semakin membuktikan kalau yang dianggap miskin itu hanya boleh di sekolah2 yang gratis semuanya (pakaian, buku, uang bulanan, uang jajan, dsb)…hanya bisa sakit yang ringan2 aja dan berobat di balai2 pengobatan seadanya…hanya bisa kontrak rumah dengan listirk seminimal mungkin karena untuk beli nggak kuat bayar cicilan dan bayar tarif listriknya….hanya bisa beli pakaian seadanya, ndak bisa yang ber-merk….dan hanya bisa makan yang benar2 seadanya….
 
Mengapa lebih senang dengan permainan angka yang JELAS2 sudah tidak valid atau pun ndak cocok lagi dengan kenyataan yang ada?...Kenapa untuk jujur mengakui bahwa LEBIH banyak lagi yang miskin dari yang disebutkan sekitar 31,02 juta?...apakah malu ternyata tatanan kehidupan yang demi rakyat ternyata hanya menghasilkan manfaat kepada segelintir saja?...
 
Ternyata, kejujuran itu TIDAK mudah diberikan patokannya…jauh lebih mudah mematok angka kemiskinan….
 
Salam,
ss
 
-----
 
Kriteria Orang Miskin Indonesia Versi BPS
Kamis, 1 Juli 2010, 14:00 WIB
Heri Susanto, Agus Dwi Darmawan
 
 
VIVAnews - Per Maret 2010, Badan Pusat Statistik (BPS) telah mengumumkan bahwa orang miskin di Indonesia mencapai 31,02 juta. Apa kriteria orang masuk kategori miskin?
 
Kepala Badan Pusat Statistik Rusman Heriawan mengatakan bahwa kategori miskin adalah mereka dengan tingkat pengeluaran per kapita per bulan sebesar Rp211.726 atau sekitar Rp7000 per hari. Jumlah ini meningkat dibandingkan kategori miskin tahun 2009 per Maret yang tercatat sebesar Rp200.262 per hari.
 
Rusman mengatakan BPS mencatat orang miskin dari pengeluaran karena pada dasarnya perhitungan dilakukan untuk mengetahui bagaimana pemenuhan terhadap kebutuhan dasar.
 
"Metode kami, kemiskinan diukur dengan konsep kemampuan memenuhi kebutuhan dasar, kenapa? karena kalau tidak memenuhi misal nasi, maka dia akan mati," ujar Rusman di Kantor BPS, Kamis 1 Juli 2010.
 
Pengeluaran, menurut Rusman, dihitung karena BPS tidak mungkin mengukur kemiskinan didasarkan atas pendapatan. "Kalau kami mengukur pendapatan, itu tidak pernah berhasil. Alasannya karena selalu lupa, yang uang transportlah dan macem-macem, " kata Rusman.
 
Berbeda dengan cara mengukur didasarkan pengeluaran kebutuhan dasar.
 
Kemiskinan ini diukur yakni dengan mengetahui ketidakmampuan bersangkutan dari sisi ekonomi. Sehingga bisa saja orang miskin itu mendapat bantuan seperti jaminan kesehatan berupa jamkesmas, bantuan subsidi beras murah, bantuan operasional sekolah dan lain-lain.
 
Menurut Rusman bahwa metode ini dipakai sejak tahun 1998 dan dihitung secara konsisten sampai tahun ini. Perhitungan tidak berubah dan selalu mengacu pada prinsip-prinsip dasar yang sama.
 
"Miskin itu apabila penduduk itu memiliki kempuan pengeluaran dibawah garis kemiskinan," katanya.
 
Tahun ini, kata Rusman, peranan komoditi menjadi faktor utama mempengaruhi kemiskinan jauh lebih tinggi, yakni sampai 73 persen, dibanding produk kebutuhan bukan makanan. "Orang miskin yang penting makan," kata dia. Sementara pengeluaran untuk sandang, perumahan, pendidikan dan kesehatan, masih di bawah 30 persen.
 
http://bisnis. vivanews. com/news/ read/161590- kriteria- orang-miskin- indonesia- versi-bps 
 









     
Loading...