Quantcast

PENGALAMAN GAIB

classic Classic list List threaded Threaded
11 messages Options
Reply | Threaded
Open this post in threaded view
|  
Report Content as Inappropriate

PENGALAMAN GAIB

Mas Dipo
PENGALAMAN GAIB
TENTANG RUH
Tulisan ini sengaja saya paparkan, tanpa niat dan maksud sedikit pun untuk unjuk diri dan wujud kesombongan. Semata-mata sekedar untuk berbagi pengalaman kepada saudara-saudara yang budiman. Saya yakin di antara para pembaca pasti ada yang memiliki pengalaman spiritual berbeda dan lebih mendalam lagi. Karena Tuhan Maha Pemurah, Maha Adil, Maha Bijak, pasti melimpahkan segala rahmat, petunjuk, kemurahan, dan mukjizat, dalam wujud yang berbeda-beda kepada manusia mahluk ciptaanNya. Tanpa kecuali, dan tanpa membedakan apapun agama dan sistem kepercayaan anda. Sehingga, apapun latar belakang agama dan kepercayaan, anda pasti memiliki dan pernah merasakan sentuhan di mana Kekuasan dan Mukjizat Tuhan terasa begitu dekat dengan diri anda.
 
Kisah ini kualami pada saat aku masih usia 5-8 tahun. Waktu itu orang tuaku bingung dan sedih karena 3 kali dalam seminggu aku mengalami kejadian misterius. Ortu ku menuturkan, tiba-tiba aku tampak seperti orang pingsan selama 1-2 jam lamanya. Anehnya ke mana saja berobat, dokter selalu menghasilkan diagnosis yang berbeda-beda.
Pada saat diriku dianggap “pingsan” itu, apa yang sebenarnya alami sangat berbeda. Peristiwa selalu terjadi sore hari, awalnya aku mulai merasakan gejala aneh, mendengar suara teman-temanku yang sedang bermain seolah terdengar suara dalam dua dimensi. Di satu sisi aku mendengar suara mereka secara jelas di telingaku, tetapi di sisi lain aku mendengar suara-suara misterius seperti nun jauh di “sana”, yang sulit aku deskripsikan. Perasaanku semakin ketakutan, lantas pulang ke rumah. Sampai di rumah aku merasa tiba-tiba pandangan gelap gulita lalu muncul ada titik sinar putih, lama-kelamaan semakin besar seperti lorong. Hanyut diriku menyusuri lorong secara cepat, kemudian tiba-tiba masuk ke dalam ruang yang maha luas, terang benderang, ibarat seperti di atas awan putih yang menghampar di langit. Di sana aku bertemu sosok laki-laki maupun perempuan yang rata-rata berusia setengah baya, dan ada tak pernah kukenal sebelumnya. Mereka mengajarkan
 sesuatu kepadaku, tentang berbagai “ilmu linuwih” maupun pengetahuan tentang sejatinya Tuhan. Anehnya, selama menyampaikan ajaran-ajaran mereka tanpa pernah menyebut dalil salah satu agama apapun sebagaimana sering dilakukan oleh penceramah agama.
Siapakah orang-orang itu ?
Kesadaranku tiba-tiba pulih, bersamaan dengan perasaan seolah diantar pulang kembali oleh orang-orang itu. Setelah sadar aku berfikir siapakah mereka ? dan pada saat peristiwa itu kembali terjadi pada diriku, aku sempat bertanya (A), “Panjenengan sinten to…?
 
Mereka menjawab (M);“Aku eyang-eyangmu dewe ngger…ojo wedi, kene kene..siro dak paringi “sipat kandel” supoyo uripmu mbesok manggih kabegjan lan antuk kamulyan sejatining urip.
A ; “Njih..sendiko eyang…dalem ngesto’aken dawuh !
M ; “Iki eyang buyutmu, aku eyang canggahmu, lan kae kabeh poro leluhurmu kang nurunake sliramu ngger…!
Dalam setiap “pertemuan” di alam “sana” beliau selalu berpesan,”Tansah-o manembah marang Gusti Ingkang Akaryo Jagad..tansah eling lan waspodo, terusno lakumu ngger…wis becik..eyang-eyangmu kabeh tansah paring donga lan pengestu marang sliramu ngger ! Ojo parang tumuleh, lakumu tansah dak jangkung lan dak jampangi.
Kemudian aku dengar beliau menyebut satu persatu nama-nama mereka, persis seperti nama-nama leluhur kami (yang sudah lama wafat) yang tersimpan dalam catatan silsilah (pohon famili) yang masih disimpan rapi oleh kedua orang tua ku.
Mengapa Mereka Tidak dalam Siksaan Tuhan ?
Konon menurut cerita orang tua kami, leluhur-leluhurku yang namanya tersebut dalam silsilah, dan pernah aku temui di dalam dimensi gaib itu, ada yang beragama Islam, ada yang non Islam. Eyang canggahku bahkan penganut kuat ajaran Kejawen. Aku mulai berfikir dan bertanya, mengapa beliau masih bisa kutemui dalam keadaan baik-baik semua ? Jika agama di dunia ini yang benar hanya satu, mengapa beliau semua tetap dalam kondisi baik. Sebab waktu itu bayanganku sebagai “anak kemarin sore” yang masih awam, jika si A tidak memeluk agama ini, itu … berarti salah dan menjadi orang tersesat, maka mereka tak akan diterima di sisi Tuhan. Tetapi kenyataannya kok demikian adanya ? Mengapa mereka yang selain agama Islam kok tidak dalam siksaan Tuhan ?
 
Pada saat peristiwa itu semakin sering terulang, kesadaranku juga semakin meningkat walaupun berada dalam dimensi “lain”, tetap tak ada bedanya sebagaimana bercengkerama dengan kawan-kawan bermainku yang masih hidup. Aku dapat bertanya apa saja tentang yang gaib. Semua jawaban beliau-beliau amat sangat gamblang, jelas, tegas, sangat memuaskan dahaga spiritualku.
Lalu pada suatu waktu, sampailah saatnya “dibukakan” mata hatiku akan rahasia besar, tentang Kebesaran Tuhan, tentang Keadilan Tuhan, tentang Kebijaksanaan Tuhan. Namun dengan berat hati saya belum bisa memaparkan bagaimana rahasia besar tersebut secara rinci dan detail. Tidak bijaksana kiranya saya mengungkap rahasia besar Dzat Ilahi pada media ini, karena dapat menimbulkan fitnah. Saya terdorong untuk bersikap bijak, bisa “ngemong” bagi saudara-saudara kita yang belum cukup bekal landasan ilmu untuk memahami dengan arif dan bijaksana akan rahasia besar alam gaib. Namun demikian, secara garis besar saya pribadi dapat mengambil kesimpulan dari peristiwa yang saya alami sebagai berikut;
Betapa Tuhan itu :
LEBIH DARI MAHA ADIL
LEBIH DARI MAHA BIJAKSANA
LEBIH DARI MAHA BESAR
LEBIH DARI MAHA KUASA
LEBIH DARI MAHA KASIH DAN PENYAYANG
LEBIH DARI MAHA LEMBUT
LEBIH DARI MAHA PEMURAH
 
Akhirnya, sampailah saya sampai pada pemahaman:
ALANGKAH DAMAINYA DUNIA INI
JIKA SEMUA ORANG MENGALAMI SAMA DENGAN APA YANG PERNAH SAYA ALAMI
JIKA TUHAN MEMBERI KESEMPATAN KEPADA SELURUH MANUSIA
UNTUK MELIHAT RAHASIA KEKUASAAN”NYA”
PASTI LAH TAK KAN ADA LAGI PERANG ANTAR AGAMA
TAK KAN ADA LAGI DEBAT KUSIR SIAPA SEJATINYA TUHAN
TAK KAN ADA LAGI RASA KEBENCIAN DAN PERMUSUHAN ANTAR AGAMA
TAK KAN ADA LAGI SALING CURIGA DI ANTARA UMAT
 
SAYA TELAH MENDAPATKAN PEMAHAMAN YANG AMAT SANGAT BERHARGA,
BETAPA TUHAN ITU LEBIH DARI MAHA SEGALANYA
DARI SEMUA WUJUD KE-MAHA-AN TUHAN
YANG TERTULIS DI DALAM KITAB SUCI DAN AGAMA MANA PUN
 
Sasmita Gaib
 
Peristiwa gaib itu lantas berhenti sejak aku berusia 8 tahun. Pada saat remaja kehidupanku sangat berbeda dengan teman-teman. Orang tuanku guru SD, enam bersaudara semua sekolah. Maklum jika kemudian orang tua gajinya minus, sekalipun sudah bekerja sambilan freeland, sebagai petani. Kubantu orang tua bekerja keras di sawah hingga aku beranjak kuliah di UGM. Dengan susah payah kuselesaikan S1 walaupun aku harus menanam pohon pisang banyak-banyak di tanah kering pinggir sungai agar supaya bisa ku jual setiap seminggu satu tandan pisang untuk beaya kuliah. Ternyata belum mencukupi kebutuhan kuliahku juga, sehingga aku tetap harus makan sekali sehari selama 7 tahun sejak kelas 2 SMA.
Sejak 5 tahun yang lalu, peristiwa itu menghampiriku kembali beberapa kali, tetapi kali ini aku diajarkan tentang ilmu meraga sukma atau lolos sukma. Bagi orang Jawa ilmu ini sudah tak asing lagi. Sebuah ilmu untuk memisahkan badan halus kita dengan badan kasar. Badan halus kita keluar dari badan kasar, selanjutnya dapat melanglang jagad raya menembus dimensi gaib. Aku semakin dapat membuktikan sendiri apa yang pernah diajarkan oleh leluhurku di alam “sana”. Kutemukan ternyata adalah perbedaan dimensi gaibnya para setan, demit, jin priprayangan, siluman yang suasananya serba bau tak sedap, anyir, gelap remang-remang, lembab, basah, licin dan terdapat aneka ragam rupa bentuk mahluk Tuhan yang menyeramkan. Kudapatkan pula ternyata dimensi gaibnya para leluhur berbeda dengan dimensi gaibnya setan, demit brekasakan.
Sungguh berbanding terbalik, ruh para leluhur berada dalam dimensi yang serba indah, menyenangkan dan nyaman serasa aku tak ingin kembali lagi ke dalam badan kasarku lagi. Para ruh berkelompok-kelompok dalam keluarga besar, menempati “rumah-rumah” yang indah, ada yang besar ada yang sedang, ada yang kecil, bentuknya benar-benar tak bisa dilukiskan dengan kata-kata. Adalah sebuah rahasia, bahwa semua jenis mahluk halus sebangsa jin jahat, setan, demit, siluman dsb ternyata tidak dapat masuk ke dalam dimensi ruh yang suci. Sehingga di dalam dimensi gaibnya ruh tak ditemukan satupun adanya mahluk halus jenis demit, jin, setan, siluman dsb.
Jenis makhluk halus tersebut berada dalam dimensi gaib-nya (metafisik) bumi, yang lebih dekat dengan dimensi fisik manusia. Tetapi, badan halus yang tak lain adalah ruh kita, guru sejati kita, dapat merasuk ke dalam dimensi gaib-nya jin setan, atau dimensi gaibnya para leluhur, tergantung mana yang kita kehendaki.
Aku pernah bertemu dengan beberapa leluhur agung masa lampau, mereka berkisah tentang sejarah bumi nusantara yang sebenarnya. Dalam alam ruh tak kutemukan kebohongan, kepalsuan, angkara, yang ada hanyalah kejujuran dan semua kebaikan. Tersibaklah kepalsuan dan kebohongan duniawi secara lugas (tanpa tedeng aling-aling). Untuk membuktikan semua ini pernah kulakukan kroscek kepada seseorang (yang masih hidup) tentang apa yang dia alami waktu kecil, ajaran apa yang menjadi pegangan hidup sewaktu dewasa, falsafah apa yang dia kuasai, dan ternyata tepat sekali kejadiannya. Padahal yang bersangkutan sebelumnya tak pernah bercerita apa-apa tentang hal itu.
Untuk bertemu ruh leluhur yang diinginkan kadang dengan mudah dapat segera bertemu. Kadang sulit sekali bertemu. Aku sadari bahwa semua ini atas berkat izin Tuhan Yang Maha Kuasa, terasa semakin kecil kedirian ini ketika dihadapkan pada Kebesaran Tuhan yang sungguh dahsyat. Aku pernah mencoba untuk bertemu dengan tokoh dalam “dunia hitam” era tahun 1980-1990an yang telah mati. Namun sulit untuk dapat bertemu, karena ia telah berada di alam pembalasan. Ada ruh yang semasa hidupnya saya kenal dengan baik, ia memiliki tabiat mulia, dan berbudi luhur, ia sedikit bercerita bagaimana ia pernah menjalani hukuman di alam pembalasan kurang lebih jika dikonversi dengan waktu bumi adalah 11 tahun lamanya.
Bimbingan dan Wejangan Gaib
Tepatnya lima tahun yang lalu, sejak aku mengenal berbagai ruang atau dimensi gaib, mata telanjangku sepertinya menjadi semakin awas melihat yang gaib tanpa harus melakukan “lolos sukma”. Pandanganku pada obyek gaib semakin nampak jelas. Tampak secara jelas siapa leluhur yang sedang rawuh. Aku sangat bersyukur kepada Tuhan YME, karena telah memberiku anugerah hakikat pengetahuan sejati. Aku semakin intens “bertemu” secara langsung dengan para leluhur agung, ada yang bekas pemimpin, ada yang ratu gung binatoro, bahkan Kanjeng Ratu Kidul yang biasa dipahami secara negatif, beliau bukanlah dari bangsa jin, setan, siluman. Tetapi dari entitas bidadari sehingga ajarannya begitu luhur, dia sungguh sebagai sosok ratu “gaib” yang arif bijaksana, dan sangat religius, melebihi rata-rata religiusitas manusia. Para leluhur itu, banyak memberikan wejangan dan bimbingan spiritual tanpa pernah mempersoalkan apa agamaku. Lebih dahsyat lagi, pernah bertemu
 dengan para leluhur yang semuanya dalam kondisi sangat baik, padahal beliau memiliki latar belakang agama yang berbeda-beda seperti yang ada di nusantara ini.
 
Pesan dari para leluhur, yang kiranya etis aku sampaikan di ruang publik ini, adalah sebagai berikut;
Untuk meraih kemuliaan sejati (kamulyan sejati/syurga);
1. harus selalu ingat dan tunduk kepada Tuhan
2. tak boleh menyakiti hati dan mencelakai orang lain
3. hati tak boleh kotor dengan rasa iri dan kebencian
4. ringan menolong orang susah, tanpa pamrih dan jangan takabur (tapa ngrame)
5. sedekahlah (donodriyah) ; yang paling tinggi nilainya di hadapan Tuhan adalah sedekah materi, kedua sedekah tenaga, ketiga sedekah tutur-kata yang baik, keempat yang paling rendah nilainya adalah sedekah doa.
6. ikhlas setinggi-tingginya, yakni keikhlasan yang dapat diumpamakan dengan orang buang hajad besar
7. jangan ikuti “air bah” yang suka menerjang aturan dan hakekat kemanusiaan, tetapi ikutilah “aliran air sungai” atau tapa ngeli (mengikuti kehendak Tuhan) agar mencapai pada muara keberuntungan kemudian masuk ke dalam lautan kemuliaan hidup.
8. jika kamu berbuat baik pada orang lain, jangan harapkan balasannya, sekalipun kamu dibalas dengan kejahatan. Sebaliknya bertransaksilah dengan Tuhan, jangan dengan orang itu, sebab transaksi dengan Tuhan akan mendatangkan kebaikan yang berlipat ganda untuk diri kita sendiri melalui banyak orang disekitarmu. Intinya, jangan sekali-kali kamu membangkit atau mengungkit-ungkit kebaikan yang pernah kamu lakukan pada orang lain, tetapi kuburlah kebaikan dalam-dalam hingga kamu lupa (tapa mendhem)
9. anugerah agung itu tak ada yang gratis, semua memakai “uang tebusan” berupa keprihatinan, dan penderitaan. Penderitaan dan keprihatinan yang kamu jalani dengan ikhlas dan legowo itu sesungguhnya akan menjadi tabungan “uang tebusan” yang akan ditukar dengan anugrah. Semakin besar penderitaan, semakin besar anugrah yang telah disiapkan Tuhan untuk mu. Maka dalam penderitaan kamu jangan suka grenengan, grundelan, karena tindakan itu hanya akan menghapus tabungan “uang tebusan” mu. Penderitaan yang telah kamu jalani sekian lama hanya menjadi sia-sia, kamu tak kan memperoleh apa-apa darinya kecuali penderitaan itu saja. (tapa mbisu)
Semua perbuatan itu yang baik maupun yang jahat, pasti akan berbalik berlipat kepada diri kita sendiri. Dan setiap kebaikan yang kita lakukan pada orang lain akan menjadi “pagar” yang mengelilingi diri kita sendiri. Sehingga kita tak bisa dicelakai orang lain, sebaliknya akan mendapat keselamatan, serta meraih ilmu kabegjan (keberuntungan). Jika diungkapkan dalam perumpamaan, kita akan menjadi seperti bola, semakin kuat dibanting maka semakin tinggi pantulan ke atasnya.
Demikianlah sepotong pengalaman gaib yang pernah saya alami, semoga dapat menjadikan wahana komparasi, tanpa harus mengedepankan emosi dan nalar yang dangkal. Marilah kita kaji bersama, berangkat dari sikap netral, kejernihan hati dan kebeningan jiwa.
 
(Kiriman dari dari salah satu rekan dipo yang tidak mau disebutkan namanya)


     
Reply | Threaded
Open this post in threaded view
|  
Report Content as Inappropriate

Re: PENGALAMAN GAIB

Agung Pindha

Terimakasih banyak atas sharingnya Mang Dipo dan Mas Bens.
Sangat berguna bagi saya , terutama tentang agama.
Wejangan dari leluhur yang cocok sekali dilaksanakan oleh kita semua
meratakan tembok batas agama , sehingga kita dapat melihat semua
manusia adalah sama dan berasal dari satu.
terimakasih....




--- In [hidden email], mang dipo <dipo1601@...>
wrote:
>
> PENGALAMAN GAIB
> TENTANG RUH
> Tulisan ini sengaja saya paparkan, tanpa niat dan maksud sedikit
pun untuk unjuk diri dan wujud kesombongan. Semata-mata sekedar
untuk berbagi pengalaman kepada saudara-saudara yang budiman. Saya
yakin di antara para pembaca pasti ada yang memiliki pengalaman
spiritual berbeda dan lebih mendalam lagi. Karena Tuhan Maha
Pemurah, Maha Adil, Maha Bijak, pasti melimpahkan segala
rahmat, petunjuk, kemurahan, dan mukjizat, dalam wujud yang berbeda-
beda kepada manusia mahluk ciptaanNya. Tanpa kecuali, dan tanpa
membedakan apapun agama dan sistem kepercayaan anda. Sehingga,
apapun latar belakang agama dan kepercayaan, anda pasti memiliki dan
pernah merasakan sentuhan di mana Kekuasan dan Mukjizat Tuhan terasa
begitu dekat dengan diri anda.
>  
> Kisah ini kualami pada saat aku masih usia 5-8 tahun. Waktu itu
orang tuaku bingung dan sedih karena 3 kali dalam seminggu aku
mengalami kejadian misterius. Ortu ku menuturkan, tiba-tiba aku
tampak seperti orang pingsan selama 1-2 jam lamanya. Anehnya ke mana
saja berobat, dokter selalu menghasilkan diagnosis yang berbeda-beda.
> Pada saat diriku dianggap "pingsan" itu, apa yang sebenarnya alami
sangat berbeda. Peristiwa selalu terjadi sore hari, awalnya aku
mulai merasakan gejala aneh, mendengar suara teman-temanku yang
sedang bermain seolah terdengar suara dalam dua dimensi. Di satu
sisi aku mendengar suara mereka secara jelas di telingaku, tetapi di
sisi lain aku mendengar suara-suara misterius seperti nun jauh
di "sana", yang sulit aku deskripsikan. Perasaanku semakin
ketakutan, lantas pulang ke rumah. Sampai di rumah aku merasa tiba-
tiba pandangan gelap gulita lalu muncul ada titik sinar putih, lama-
kelamaan semakin besar seperti lorong. Hanyut diriku menyusuri
lorong secara cepat, kemudian tiba-tiba masuk ke dalam ruang yang
maha luas, terang benderang, ibarat seperti di atas awan putih yang
menghampar di langit. Di sana aku bertemu sosok laki-laki maupun
perempuan yang rata-rata berusia setengah baya, dan ada tak pernah
kukenal sebelumnya. Mereka mengajarkan
>  sesuatu kepadaku, tentang berbagai "ilmu linuwih" maupun
pengetahuan tentang sejatinya Tuhan. Anehnya, selama menyampaikan
ajaran-ajaran mereka tanpa pernah menyebut dalil salah satu agama
apapun sebagaimana sering dilakukan oleh penceramah agama.
> Siapakah orang-orang itu ?
> Kesadaranku tiba-tiba pulih, bersamaan dengan perasaan seolah
diantar pulang kembali oleh orang-orang itu. Setelah sadar aku
berfikir siapakah mereka ? dan pada saat peristiwa itu kembali
terjadi pada diriku, aku sempat bertanya (A), "Panjenengan sinten
to…?
>  
> Mereka menjawab (M);"Aku eyang-eyangmu dewe ngger…ojo wedi, kene
kene..siro dak paringi "sipat kandel" supoyo uripmu mbesok manggih
kabegjan lan antuk kamulyan sejatining urip.
> A ; "Njih..sendiko eyang…dalem ngesto'aken dawuh !
> M ; "Iki eyang buyutmu, aku eyang canggahmu, lan kae kabeh poro
leluhurmu kang nurunake sliramu ngger…!
> Dalam setiap "pertemuan" di alam "sana" beliau selalu
berpesan,"Tansah-o manembah marang Gusti Ingkang Akaryo
Jagad..tansah eling lan waspodo, terusno lakumu ngger…wis
becik..eyang-eyangmu kabeh tansah paring donga lan pengestu marang
sliramu ngger ! Ojo parang tumuleh, lakumu tansah dak jangkung lan
dak jampangi.
> Kemudian aku dengar beliau menyebut satu persatu nama-nama mereka,
persis seperti nama-nama leluhur kami (yang sudah lama wafat) yang
tersimpan dalam catatan silsilah (pohon famili) yang masih disimpan
rapi oleh kedua orang tua ku.
> Mengapa Mereka Tidak dalam Siksaan Tuhan ?
> Konon menurut cerita orang tua kami, leluhur-leluhurku yang
namanya tersebut dalam silsilah, dan pernah aku temui di dalam
dimensi gaib itu, ada yang beragama Islam, ada yang non Islam. Eyang
canggahku bahkan penganut kuat ajaran Kejawen. Aku mulai berfikir
dan bertanya, mengapa beliau masih bisa kutemui dalam keadaan baik-
baik semua ? Jika agama di dunia ini yang benar hanya satu, mengapa
beliau semua tetap dalam kondisi baik. Sebab waktu itu bayanganku
sebagai "anak kemarin sore" yang masih awam, jika si A tidak memeluk
agama ini, itu … berarti salah dan menjadi orang tersesat, maka
mereka tak akan diterima di sisi Tuhan. Tetapi kenyataannya kok
demikian adanya ? Mengapa mereka yang selain agama Islam kok tidak
dalam siksaan Tuhan ?
>  
> Pada saat peristiwa itu semakin sering terulang, kesadaranku juga
semakin meningkat walaupun berada dalam dimensi "lain", tetap tak
ada bedanya sebagaimana bercengkerama dengan kawan-kawan bermainku
yang masih hidup. Aku dapat bertanya apa saja tentang yang gaib.
Semua jawaban beliau-beliau amat sangat gamblang, jelas, tegas,
sangat memuaskan dahaga spiritualku.
> Lalu pada suatu waktu, sampailah saatnya "dibukakan" mata hatiku
akan rahasia besar, tentang Kebesaran Tuhan, tentang Keadilan Tuhan,
tentang Kebijaksanaan Tuhan. Namun dengan berat hati saya belum bisa
memaparkan bagaimana rahasia besar tersebut secara rinci dan detail.
Tidak bijaksana kiranya saya mengungkap rahasia besar Dzat Ilahi
pada media ini, karena dapat menimbulkan fitnah. Saya terdorong
untuk bersikap bijak, bisa "ngemong" bagi saudara-saudara kita yang
belum cukup bekal landasan ilmu untuk memahami dengan arif dan
bijaksana akan rahasia besar alam gaib. Namun demikian, secara garis
besar saya pribadi dapat mengambil kesimpulan dari peristiwa yang
saya alami sebagai berikut;

> Betapa Tuhan itu :
> LEBIH DARI MAHA ADIL
> LEBIH DARI MAHA BIJAKSANA
> LEBIH DARI MAHA BESAR
> LEBIH DARI MAHA KUASA
> LEBIH DARI MAHA KASIH DAN PENYAYANG
> LEBIH DARI MAHA LEMBUT
> LEBIH DARI MAHA PEMURAH
>  
> Akhirnya, sampailah saya sampai pada pemahaman:
> ALANGKAH DAMAINYA DUNIA INI
> JIKA SEMUA ORANG MENGALAMI SAMA DENGAN APA YANG PERNAH SAYA ALAMI
> JIKA TUHAN MEMBERI KESEMPATAN KEPADA SELURUH MANUSIA
> UNTUK MELIHAT RAHASIA KEKUASAAN"NYA"
> PASTI LAH TAK KAN ADA LAGI PERANG ANTAR AGAMA
> TAK KAN ADA LAGI DEBAT KUSIR SIAPA SEJATINYA TUHAN
> TAK KAN ADA LAGI RASA KEBENCIAN DAN PERMUSUHAN ANTAR AGAMA
> TAK KAN ADA LAGI SALING CURIGA DI ANTARA UMAT
>  
> SAYA TELAH MENDAPATKAN PEMAHAMAN YANG AMAT SANGAT BERHARGA,
> BETAPA TUHAN ITU LEBIH DARI MAHA SEGALANYA
> DARI SEMUA WUJUD KE-MAHA-AN TUHAN
> YANG TERTULIS DI DALAM KITAB SUCI DAN AGAMA MANA PUN
>  
> Sasmita Gaib
>  
> Peristiwa gaib itu lantas berhenti sejak aku berusia 8 tahun. Pada
saat remaja kehidupanku sangat berbeda dengan teman-teman. Orang
tuanku guru SD, enam bersaudara semua sekolah. Maklum jika kemudian
orang tua gajinya minus, sekalipun sudah bekerja sambilan freeland,
sebagai petani. Kubantu orang tua bekerja keras di sawah hingga aku
beranjak kuliah di UGM. Dengan susah payah kuselesaikan S1 walaupun
aku harus menanam pohon pisang banyak-banyak di tanah kering pinggir
sungai agar supaya bisa ku jual setiap seminggu satu tandan pisang
untuk beaya kuliah. Ternyata belum mencukupi kebutuhan kuliahku
juga, sehingga aku tetap harus makan sekali sehari selama 7 tahun
sejak kelas 2 SMA.
> Sejak 5 tahun yang lalu, peristiwa itu menghampiriku kembali
beberapa kali, tetapi kali ini aku diajarkan tentang ilmu meraga
sukma atau lolos sukma. Bagi orang Jawa ilmu ini sudah tak asing
lagi. Sebuah ilmu untuk memisahkan badan halus kita dengan badan
kasar. Badan halus kita keluar dari badan kasar, selanjutnya dapat
melanglang jagad raya menembus dimensi gaib. Aku semakin dapat
membuktikan sendiri apa yang pernah diajarkan oleh leluhurku di
alam "sana". Kutemukan ternyata adalah perbedaan dimensi gaibnya
para setan, demit, jin priprayangan, siluman yang suasananya serba
bau tak sedap, anyir, gelap remang-remang, lembab, basah, licin dan
terdapat aneka ragam rupa bentuk mahluk Tuhan yang menyeramkan.
Kudapatkan pula ternyata dimensi gaibnya para leluhur berbeda dengan
dimensi gaibnya setan, demit brekasakan.
> Sungguh berbanding terbalik, ruh para leluhur berada dalam dimensi
yang serba indah, menyenangkan dan nyaman serasa aku tak ingin
kembali lagi ke dalam badan kasarku lagi. Para ruh berkelompok-
kelompok dalam keluarga besar, menempati "rumah-rumah" yang indah,
ada yang besar ada yang sedang, ada yang kecil, bentuknya benar-
benar tak bisa dilukiskan dengan kata-kata. Adalah sebuah rahasia,
bahwa semua jenis mahluk halus sebangsa jin jahat, setan, demit,
siluman dsb ternyata tidak dapat masuk ke dalam dimensi ruh yang
suci. Sehingga di dalam dimensi gaibnya ruh tak ditemukan satupun
adanya mahluk halus jenis demit, jin, setan, siluman dsb.
> Jenis makhluk halus tersebut berada dalam dimensi gaib-nya
(metafisik) bumi, yang lebih dekat dengan dimensi fisik manusia.
Tetapi, badan halus yang tak lain adalah ruh kita, guru sejati kita,
dapat merasuk ke dalam dimensi gaib-nya jin setan, atau dimensi
gaibnya para leluhur, tergantung mana yang kita kehendaki.
> Aku pernah bertemu dengan beberapa leluhur agung masa lampau,
mereka berkisah tentang sejarah bumi nusantara yang sebenarnya.
Dalam alam ruh tak kutemukan kebohongan, kepalsuan, angkara, yang
ada hanyalah kejujuran dan semua kebaikan. Tersibaklah kepalsuan dan
kebohongan duniawi secara lugas (tanpa tedeng aling-aling). Untuk
membuktikan semua ini pernah kulakukan kroscek kepada seseorang
(yang masih hidup) tentang apa yang dia alami waktu kecil, ajaran
apa yang menjadi pegangan hidup sewaktu dewasa, falsafah apa yang
dia kuasai, dan ternyata tepat sekali kejadiannya. Padahal yang
bersangkutan sebelumnya tak pernah bercerita apa-apa tentang hal itu.
> Untuk bertemu ruh leluhur yang diinginkan kadang dengan mudah
dapat segera bertemu. Kadang sulit sekali bertemu. Aku sadari bahwa
semua ini atas berkat izin Tuhan Yang Maha Kuasa, terasa semakin
kecil kedirian ini ketika dihadapkan pada Kebesaran Tuhan yang
sungguh dahsyat. Aku pernah mencoba untuk bertemu dengan tokoh
dalam "dunia hitam" era tahun 1980-1990an yang telah mati. Namun
sulit untuk dapat bertemu, karena ia telah berada di alam
pembalasan. Ada ruh yang semasa hidupnya saya kenal dengan baik, ia
memiliki tabiat mulia, dan berbudi luhur, ia sedikit bercerita
bagaimana ia pernah menjalani hukuman di alam pembalasan kurang
lebih jika dikonversi dengan waktu bumi adalah 11 tahun lamanya.
> Bimbingan dan Wejangan Gaib
> Tepatnya lima tahun yang lalu, sejak aku mengenal berbagai ruang
atau dimensi gaib, mata telanjangku sepertinya menjadi semakin awas
melihat yang gaib tanpa harus melakukan "lolos sukma". Pandanganku
pada obyek gaib semakin nampak jelas. Tampak secara jelas siapa
leluhur yang sedang rawuh. Aku sangat bersyukur kepada Tuhan YME,
karena telah memberiku anugerah hakikat pengetahuan sejati. Aku
semakin intens "bertemu" secara langsung dengan para leluhur agung,
ada yang bekas pemimpin, ada yang ratu gung binatoro, bahkan Kanjeng
Ratu Kidul yang biasa dipahami secara negatif, beliau bukanlah dari
bangsa jin, setan, siluman. Tetapi dari entitas bidadari sehingga
ajarannya begitu luhur, dia sungguh sebagai sosok ratu "gaib" yang
arif bijaksana, dan sangat religius, melebihi rata-rata religiusitas
manusia. Para leluhur itu, banyak memberikan wejangan dan bimbingan
spiritual tanpa pernah mempersoalkan apa agamaku. Lebih dahsyat
lagi, pernah bertemu
>  dengan para leluhur yang semuanya dalam kondisi sangat baik,
padahal beliau memiliki latar belakang agama yang berbeda-beda
seperti yang ada di nusantara ini.
>  
> Pesan dari para leluhur, yang kiranya etis aku sampaikan di ruang
publik ini, adalah sebagai berikut;
> Untuk meraih kemuliaan sejati (kamulyan sejati/syurga);
> 1. harus selalu ingat dan tunduk kepada Tuhan
> 2. tak boleh menyakiti hati dan mencelakai orang lain
> 3. hati tak boleh kotor dengan rasa iri dan kebencian
> 4. ringan menolong orang susah, tanpa pamrih dan jangan takabur
(tapa ngrame)
> 5. sedekahlah (donodriyah) ; yang paling tinggi nilainya di
hadapan Tuhan adalah sedekah materi, kedua sedekah tenaga, ketiga
sedekah tutur-kata yang baik, keempat yang paling rendah nilainya
adalah sedekah doa.
> 6. ikhlas setinggi-tingginya, yakni keikhlasan yang dapat
diumpamakan dengan orang buang hajad besar
> 7. jangan ikuti "air bah" yang suka menerjang aturan dan hakekat
kemanusiaan, tetapi ikutilah "aliran air sungai" atau tapa ngeli
(mengikuti kehendak Tuhan) agar mencapai pada muara keberuntungan
kemudian masuk ke dalam lautan kemuliaan hidup.
> 8. jika kamu berbuat baik pada orang lain, jangan harapkan
balasannya, sekalipun kamu dibalas dengan kejahatan. Sebaliknya
bertransaksilah dengan Tuhan, jangan dengan orang itu, sebab
transaksi dengan Tuhan akan mendatangkan kebaikan yang berlipat
ganda untuk diri kita sendiri melalui banyak orang disekitarmu.
Intinya, jangan sekali-kali kamu membangkit atau mengungkit-ungkit
kebaikan yang pernah kamu lakukan pada orang lain, tetapi kuburlah
kebaikan dalam-dalam hingga kamu lupa (tapa mendhem)
> 9. anugerah agung itu tak ada yang gratis, semua memakai "uang
tebusan" berupa keprihatinan, dan penderitaan. Penderitaan dan
keprihatinan yang kamu jalani dengan ikhlas dan legowo itu
sesungguhnya akan menjadi tabungan "uang tebusan" yang akan ditukar
dengan anugrah. Semakin besar penderitaan, semakin besar anugrah
yang telah disiapkan Tuhan untuk mu. Maka dalam penderitaan kamu
jangan suka grenengan, grundelan, karena tindakan itu hanya akan
menghapus tabungan "uang tebusan" mu. Penderitaan yang telah kamu
jalani sekian lama hanya menjadi sia-sia, kamu tak kan memperoleh
apa-apa darinya kecuali penderitaan itu saja. (tapa mbisu)
> Semua perbuatan itu yang baik maupun yang jahat, pasti akan
berbalik berlipat kepada diri kita sendiri. Dan setiap kebaikan yang
kita lakukan pada orang lain akan menjadi "pagar" yang mengelilingi
diri kita sendiri. Sehingga kita tak bisa dicelakai orang lain,
sebaliknya akan mendapat keselamatan, serta meraih ilmu kabegjan
(keberuntungan). Jika diungkapkan dalam perumpamaan, kita akan
menjadi seperti bola, semakin kuat dibanting maka semakin tinggi
pantulan ke atasnya.
> Demikianlah sepotong pengalaman gaib yang pernah saya alami,
semoga dapat menjadikan wahana komparasi, tanpa harus mengedepankan
emosi dan nalar yang dangkal. Marilah kita kaji bersama, berangkat
dari sikap netral, kejernihan hati dan kebeningan jiwa.
>  
> (Kiriman dari dari salah satu rekan dipo yang tidak mau disebutkan
namanya)
>


Reply | Threaded
Open this post in threaded view
|  
Report Content as Inappropriate

Bls: PENGALAMAN GAIB

hera_gls20
In reply to this post by Mas Dipo
       




________________________________
Dari: mang dipo <[hidden email]>
Kepada: [hidden email]
Terkirim: Selasa, 18 November, 2008 22:22:00
Topik: [Spiritual-Indonesia] PENGALAMAN GAIB


PENGALAMAN GAIB
Tulisan ini sengaja saya paparkan, tanpa niat dan maksud sedikit pun untuk unjuk diri dan wujud kesombongan. Semata-mata sekedar untuk berbagi pengalaman kepada saudara-saudara yang budiman. Saya yakin di antara para pembaca pasti ada yang memiliki pengalaman spiritual berbeda dan lebih mendalam lagi. Karena Tuhan Maha Pemurah, Maha Adil, Maha Bijak, pasti melimpahkan segala rahmat, petunjuk, kemurahan, dan mukjizat, dalam wujud yang berbeda-beda kepada manusia mahluk ciptaanNya. Tanpa kecuali, dan tanpa membedakan apapun agama dan sistem kepercayaan anda. Sehingga, apapun latar belakang agama dan kepercayaan, anda pasti memiliki dan pernah merasakan sentuhan di mana Kekuasan dan Mukjizat Tuhan terasa begitu dekat dengan diri anda.
 
TENTANG RUH
Kisah ini kualami pada saat aku masih usia 5-8 tahun. Waktu itu orang tuaku bingung dan sedih karena 3 kali dalam seminggu aku mengalami kejadian misterius. Ortu ku menuturkan, tiba-tiba aku tampak seperti orang pingsan selama 1-2 jam lamanya. Anehnya ke mana saja berobat, dokter selalu menghasilkan diagnosis yang berbeda-beda.
Pada saat diriku dianggap “pingsan” itu, apa yang sebenarnya alami sangat berbeda. Peristiwa selalu terjadi sore hari, awalnya aku mulai merasakan gejala aneh, mendengar suara teman-temanku yang sedang bermain seolah terdengar suara dalam dua dimensi. Di satu sisi aku mendengar suara mereka secara jelas di telingaku, tetapi di sisi lain aku mendengar suara-suara misterius seperti nun jauh di “sana”, yang sulit aku deskripsikan. Perasaanku semakin ketakutan, lantas pulang ke rumah. Sampai di rumah aku merasa tiba-tiba pandangan gelap gulita lalu muncul ada titik sinar putih, lama-kelamaan semakin besar seperti lorong. Hanyut diriku menyusuri lorong secara cepat, kemudian tiba-tiba masuk ke dalam ruang yang maha luas, terang benderang, ibarat seperti di atas awan putih yang menghampar di langit. Di sana aku bertemu sosok laki-laki maupun perempuan yang rata-rata berusia setengah baya, dan ada tak pernah kukenal sebelumnya. Mereka mengajarkan
 sesuatu kepadaku, tentang berbagai “ilmu linuwih” maupun pengetahuan tentang sejatinya Tuhan. Anehnya, selama menyampaikan ajaran-ajaran mereka tanpa pernah menyebut dalil salah satu agama apapun sebagaimana sering dilakukan oleh penceramah agama.
Siapakah orang-orang itu ?
Kesadaranku tiba-tiba pulih, bersamaan dengan perasaan seolah diantar pulang kembali oleh orang-orang itu. Setelah sadar aku berfikir siapakah mereka ? dan pada saat peristiwa itu kembali terjadi pada diriku, aku sempat bertanya (A), “Panjenengan sinten to…?
 
Mereka menjawab (M);“Aku eyang-eyangmu dewe ngger…ojo wedi, kene kene..siro dak paringi “sipat kandel” supoyo uripmu mbesok manggih kabegjan lan antuk kamulyan sejatining urip.
A ; “Njih..sendiko eyang…dalem ngesto’aken dawuh !
M ; “Iki eyang buyutmu, aku eyang canggahmu, lan kae kabeh poro leluhurmu kang nurunake sliramu ngger…!
Dalam setiap “pertemuan” di alam “sana” beliau selalu berpesan,”Tansah-o manembah marang Gusti Ingkang Akaryo Jagad..tansah eling lan waspodo, terusno lakumu ngger…wis becik..eyang- eyangmu kabeh tansah paring donga lan pengestu marang sliramu ngger ! Ojo parang tumuleh, lakumu tansah dak jangkung lan dak jampangi.
Kemudian aku dengar beliau menyebut satu persatu nama-nama mereka, persis seperti nama-nama leluhur kami (yang sudah lama wafat) yang tersimpan dalam catatan silsilah (pohon famili) yang masih disimpan rapi oleh kedua orang tua ku.
Mengapa Mereka Tidak dalam Siksaan Tuhan ?
Konon menurut cerita orang tua kami, leluhur-leluhurku yang namanya tersebut dalam silsilah, dan pernah aku temui di dalam dimensi gaib itu, ada yang beragama Islam, ada yang non Islam. Eyang canggahku bahkan penganut kuat ajaran Kejawen. Aku mulai berfikir dan bertanya, mengapa beliau masih bisa kutemui dalam keadaan baik-baik semua ? Jika agama di dunia ini yang benar hanya satu, mengapa beliau semua tetap dalam kondisi baik. Sebab waktu itu bayanganku sebagai “anak kemarin sore” yang masih awam, jika si A tidak memeluk agama ini, itu … berarti salah dan menjadi orang tersesat, maka mereka tak akan diterima di sisi Tuhan. Tetapi kenyataannya kok demikian adanya ? Mengapa mereka yang selain agama Islam kok tidak dalam siksaan Tuhan ?
 
Pada saat peristiwa itu semakin sering terulang, kesadaranku juga semakin meningkat walaupun berada dalam dimensi “lain”, tetap tak ada bedanya sebagaimana bercengkerama dengan kawan-kawan bermainku yang masih hidup. Aku dapat bertanya apa saja tentang yang gaib. Semua jawaban beliau-beliau amat sangat gamblang, jelas, tegas, sangat memuaskan dahaga spiritualku.
Lalu pada suatu waktu, sampailah saatnya “dibukakan” mata hatiku akan rahasia besar, tentang Kebesaran Tuhan, tentang Keadilan Tuhan, tentang Kebijaksanaan Tuhan. Namun dengan berat hati saya belum bisa memaparkan bagaimana rahasia besar tersebut secara rinci dan detail. Tidak bijaksana kiranya saya mengungkap rahasia besar Dzat Ilahi pada media ini, karena dapat menimbulkan fitnah. Saya terdorong untuk bersikap bijak, bisa “ngemong” bagi saudara-saudara kita yang belum cukup bekal landasan ilmu untuk memahami dengan arif dan bijaksana akan rahasia besar alam gaib. Namun demikian, secara garis besar saya pribadi dapat mengambil kesimpulan dari peristiwa yang saya alami sebagai berikut;
Betapa Tuhan itu :
LEBIH DARI MAHA ADIL  
LEBIH DARI MAHA BIJAKSANA
LEBIH DARI MAHA BESAR
LEBIH DARI MAHA KUASA
LEBIH DARI MAHA KASIH DAN PENYAYANG
LEBIH DARI MAHA LEMBUT
LEBIH DARI MAHA PEMURAH
 
Akhirnya, sampailah saya sampai pada pemahaman:
ALANGKAH DAMAINYA DUNIA INI  
JIKA SEMUA ORANG MENGALAMI SAMA DENGAN APA YANG PERNAH SAYA ALAMI
JIKA TUHAN MEMBERI KESEMPATAN KEPADA SELURUH MANUSIA
UNTUK MELIHAT RAHASIA KEKUASAAN”NYA”
PASTI LAH TAK KAN ADA LAGI PERANG ANTAR AGAMA
TAK KAN ADA LAGI DEBAT KUSIR SIAPA SEJATINYA TUHAN
TAK KAN ADA LAGI RASA KEBENCIAN DAN PERMUSUHAN ANTAR AGAMA
TAK KAN ADA LAGI SALING CURIGA DI ANTARA UMAT
 
SAYA TELAH MENDAPATKAN PEMAHAMAN YANG AMAT SANGAT BERHARGA,
BETAPA TUHAN ITU LEBIH DARI MAHA SEGALANYA
DARI SEMUA WUJUD KE-MAHA-AN TUHAN
YANG TERTULIS DI DALAM KITAB SUCI DAN AGAMA MANA PUN
 
Sasmita Gaib
 
Peristiwa gaib itu lantas berhenti sejak aku berusia 8 tahun. Pada saat remaja kehidupanku sangat berbeda dengan teman-teman. Orang tuanku guru SD, enam bersaudara semua sekolah. Maklum jika kemudian orang tua gajinya minus, sekalipun sudah bekerja sambilan freeland, sebagai petani. Kubantu orang tua bekerja keras di sawah hingga aku beranjak kuliah di UGM. Dengan susah payah kuselesaikan S1 walaupun aku harus menanam pohon pisang banyak-banyak di tanah kering pinggir sungai agar supaya bisa ku jual setiap seminggu satu tandan pisang untuk beaya kuliah. Ternyata belum mencukupi kebutuhan kuliahku juga, sehingga aku tetap harus makan sekali sehari selama 7 tahun sejak kelas 2 SMA.
Sejak 5 tahun yang lalu, peristiwa itu menghampiriku kembali beberapa kali, tetapi kali ini aku diajarkan tentang ilmu meraga sukma atau lolos sukma. Bagi orang Jawa ilmu ini sudah tak asing lagi. Sebuah ilmu untuk memisahkan badan halus kita dengan badan kasar. Badan halus kita keluar dari badan kasar, selanjutnya dapat melanglang jagad raya menembus dimensi gaib. Aku semakin dapat membuktikan sendiri apa yang pernah diajarkan oleh leluhurku di alam “sana”. Kutemukan ternyata adalah perbedaan dimensi gaibnya para setan, demit, jin priprayangan, siluman yang suasananya serba bau tak sedap, anyir, gelap remang-remang, lembab, basah, licin dan terdapat aneka ragam rupa bentuk mahluk Tuhan yang menyeramkan. Kudapatkan pula ternyata dimensi gaibnya para leluhur berbeda dengan dimensi gaibnya setan, demit brekasakan.
Sungguh berbanding terbalik, ruh para leluhur berada dalam dimensi yang serba indah, menyenangkan dan nyaman serasa aku tak ingin kembali lagi ke dalam badan kasarku lagi. Para ruh berkelompok- kelompok dalam keluarga besar, menempati “rumah-rumah” yang indah, ada yang besar ada yang sedang, ada yang kecil, bentuknya benar-benar tak bisa dilukiskan dengan kata-kata. Adalah sebuah rahasia, bahwa semua jenis mahluk halus sebangsa jin jahat, setan, demit, siluman dsb ternyata tidak dapat masuk ke dalam dimensi ruh yang suci. Sehingga di dalam dimensi gaibnya ruh tak ditemukan satupun adanya mahluk halus jenis demit, jin, setan, siluman dsb.
Jenis makhluk halus tersebut berada dalam dimensi gaib-nya (metafisik) bumi, yang lebih dekat dengan dimensi fisik manusia. Tetapi, badan halus yang tak lain adalah ruh kita, guru sejati kita, dapat merasuk ke dalam dimensi gaib-nya jin setan, atau dimensi gaibnya para leluhur, tergantung mana yang kita kehendaki.
Aku pernah bertemu dengan beberapa leluhur agung masa lampau, mereka berkisah tentang sejarah bumi nusantara yang sebenarnya. Dalam alam ruh tak kutemukan kebohongan, kepalsuan, angkara, yang ada hanyalah kejujuran dan semua kebaikan. Tersibaklah kepalsuan dan kebohongan duniawi secara lugas (tanpa tedeng aling-aling). Untuk membuktikan semua ini pernah kulakukan kroscek kepada seseorang (yang masih hidup) tentang apa yang dia alami waktu kecil, ajaran apa yang menjadi pegangan hidup sewaktu dewasa, falsafah apa yang dia kuasai, dan ternyata tepat sekali kejadiannya. Padahal yang bersangkutan sebelumnya tak pernah bercerita apa-apa tentang hal itu.
Untuk bertemu ruh leluhur yang diinginkan kadang dengan mudah dapat segera bertemu. Kadang sulit sekali bertemu. Aku sadari bahwa semua ini atas berkat izin Tuhan Yang Maha Kuasa, terasa semakin kecil kedirian ini ketika dihadapkan pada Kebesaran Tuhan yang sungguh dahsyat. Aku pernah mencoba untuk bertemu dengan tokoh dalam “dunia hitam” era tahun 1980-1990an yang telah mati. Namun sulit untuk dapat bertemu, karena ia telah berada di alam pembalasan. Ada ruh yang semasa hidupnya saya kenal dengan baik, ia memiliki tabiat mulia, dan berbudi luhur, ia sedikit bercerita bagaimana ia pernah menjalani hukuman di alam pembalasan kurang lebih jika dikonversi dengan waktu bumi adalah 11 tahun lamanya.
Bimbingan dan Wejangan Gaib
Tepatnya lima tahun yang lalu, sejak aku mengenal berbagai ruang atau dimensi gaib, mata telanjangku sepertinya menjadi semakin awas melihat yang gaib tanpa harus melakukan “lolos sukma”. Pandanganku pada obyek gaib semakin nampak jelas. Tampak secara jelas siapa leluhur yang sedang rawuh. Aku sangat bersyukur kepada Tuhan YME, karena telah memberiku anugerah hakikat pengetahuan sejati. Aku semakin intens “bertemu” secara langsung dengan para leluhur agung, ada yang bekas pemimpin, ada yang ratu gung binatoro, bahkan Kanjeng Ratu Kidul yang biasa dipahami secara negatif, beliau bukanlah dari bangsa jin, setan, siluman. Tetapi dari entitas bidadari sehingga ajarannya begitu luhur, dia sungguh sebagai sosok ratu “gaib” yang arif bijaksana, dan sangat religius, melebihi rata-rata religiusitas manusia. Para leluhur itu, banyak memberikan wejangan dan bimbingan spiritual tanpa pernah mempersoalkan apa agamaku. Lebih dahsyat lagi, pernah bertemu
 dengan para leluhur yang semuanya dalam kondisi sangat baik, padahal beliau memiliki latar belakang agama yang berbeda-beda seperti yang ada di nusantara ini.
 
Pesan dari para leluhur, yang kiranya etis aku sampaikan di ruang publik ini, adalah sebagai berikut;
Untuk meraih kemuliaan sejati (kamulyan sejati/syurga);
1. harus selalu ingat dan tunduk kepada Tuhan
2. tak boleh menyakiti hati dan mencelakai orang lain
3. hati tak boleh kotor dengan rasa iri dan kebencian
4. ringan menolong orang susah, tanpa pamrih dan jangan takabur (tapa ngrame)
5. sedekahlah (donodriyah) ; yang paling tinggi nilainya di hadapan Tuhan adalah sedekah materi, kedua sedekah tenaga, ketiga sedekah tutur-kata yang baik, keempat yang paling rendah nilainya adalah sedekah doa.
6. ikhlas setinggi-tingginya, yakni keikhlasan yang dapat diumpamakan dengan orang buang hajad besar
7. jangan ikuti “air bah” yang suka menerjang aturan dan hakekat kemanusiaan, tetapi ikutilah “aliran air sungai” atau tapa ngeli (mengikuti kehendak Tuhan) agar mencapai pada muara keberuntungan kemudian masuk ke dalam lautan kemuliaan hidup.
8. jika kamu berbuat baik pada orang lain, jangan harapkan balasannya, sekalipun kamu dibalas dengan kejahatan. Sebaliknya bertransaksilah dengan Tuhan, jangan dengan orang itu, sebab transaksi dengan Tuhan akan mendatangkan kebaikan yang berlipat ganda untuk diri kita sendiri melalui banyak orang disekitarmu. Intinya, jangan sekali-kali kamu membangkit atau mengungkit-ungkit kebaikan yang pernah kamu lakukan pada orang lain, tetapi kuburlah kebaikan dalam-dalam hingga kamu lupa (tapa mendhem)
9. anugerah agung itu tak ada yang gratis, semua memakai “uang tebusan” berupa keprihatinan, dan penderitaan. Penderitaan dan keprihatinan yang kamu jalani dengan ikhlas dan legowo itu sesungguhnya akan menjadi tabungan “uang tebusan” yang akan ditukar dengan anugrah. Semakin besar penderitaan, semakin besar anugrah yang telah disiapkan Tuhan untuk mu. Maka dalam penderitaan kamu jangan suka grenengan, grundelan, karena tindakan itu hanya akan menghapus tabungan “uang tebusan” mu. Penderitaan yang telah kamu jalani sekian lama hanya menjadi sia-sia, kamu tak kan memperoleh apa-apa darinya kecuali penderitaan itu saja. (tapa mbisu)
Semua perbuatan itu yang baik maupun yang jahat, pasti akan berbalik berlipat kepada diri kita sendiri. Dan setiap kebaikan yang kita lakukan pada orang lain akan menjadi “pagar” yang mengelilingi diri kita sendiri. Sehingga kita tak bisa dicelakai orang lain, sebaliknya akan mendapat keselamatan, serta meraih ilmu kabegjan (keberuntungan) . Jika diungkapkan dalam perumpamaan, kita akan menjadi seperti bola, semakin kuat dibanting maka semakin tinggi pantulan ke atasnya.
Demikianlah sepotong pengalaman gaib yang pernah saya alami, semoga dapat menjadikan wahana komparasi, tanpa harus mengedepankan emosi dan nalar yang dangkal. Marilah kita kaji bersama, berangkat dari sikap netral, kejernihan hati dan kebeningan jiwa.
 
(Kiriman dari dari salah satu rekan dipo yang tidak mau disebutkan namanya)
   


      ___________________________________________________________________________
Yahoo! sekarang memiliki alamat Email baru.
Dapatkan nama yang selalu Anda inginkan di domain baru @ymail dan @rocketmail.
Cepat sebelum diambil orang lain!
http://mail.promotions.yahoo.com/newdomains/id/
Reply | Threaded
Open this post in threaded view
|  
Report Content as Inappropriate

Re: Bls: PENGALAMAN GAIB

angel michael
he he he silahkan bikin kebohongan baru dan merasa benar,
yg baca melebihi hal ini akan tertawa, yang dibawahnya akan
merasa menemukan jawaban, semua fikiran punya prosesnya
sendiri, yg merasa levelnya sama dgn cerita ini merasa nah
ini gw banget...

yg merasa beda tertawa dan melihat kebohongan baru atas
nama tuhan, selalu tuhan yang dijadikan sandaran kebohongan
atas nama kebenaran itu, ada yang sadar tidak berbohong lagi
hingga mengusir jauh kata tuhan menjadi imajinasi saya, ada
yang terus menggunakan nama tuhan untuk membuat
kebohongan baru, silahkan saja he he he it's a custom world
do whatever you like as long as never hurt and kill others (^_^)



=============================








2008/11/19 aira hera <[hidden email]>

>
>
>
> ------------------------------
> *Dari:* mang dipo <[hidden email]>
> *Kepada:* [hidden email]
> *Terkirim:* Selasa, 18 November, 2008 22:22:00
> *Topik:* [Spiritual-Indonesia] PENGALAMAN GAIB
>
>  PENGALAMAN GAIB  **
> **
>
> **
>
> *Tulisan ini sengaja saya paparkan, tanpa niat dan maksud sedikit pun
> untuk unjuk diri dan wujud kesombongan. Semata-mata sekedar untuk berbagi
> pengalaman kepada saudara-saudara yang budiman. Saya yakin di antara para
> pembaca pasti ada yang memiliki pengalaman spiritual berbeda dan lebih
> mendalam lagi. Karena Tuhan Maha Pemurah, Maha Adil, Maha Bijak, pasti
> melimpahkan segala rahmat, petunjuk, kemurahan, dan mukjizat, dalam wujud
> yang berbeda-beda kepada manusia mahluk ciptaanNya. Tanpa kecuali, dan tanpa
> membedakan apapun agama dan sistem kepercayaan anda. Sehingga, apapun latar
> belakang agama dan kepercayaan, anda pasti memiliki dan pernah merasakan
> sentuhan di mana Kekuasan dan Mukjizat Tuhan terasa begitu dekat dengan diri
> anda.*
>
> * *
>
> *TENTANG RUH*
>
> Kisah ini kualami pada saat aku masih usia 5-8 tahun. Waktu itu orang tuaku
> bingung dan sedih karena 3 kali dalam seminggu aku mengalami kejadian
> misterius. Ortu ku menuturkan, tiba-tiba aku tampak seperti orang pingsan
> selama 1-2 jam lamanya. Anehnya ke mana saja berobat, dokter selalu
> menghasilkan diagnosis yang berbeda-beda.
>
> Pada saat diriku dianggap "pingsan" itu, apa yang sebenarnya alami sangat
> berbeda. Peristiwa selalu terjadi sore hari, awalnya aku mulai merasakan
> gejala aneh, mendengar suara teman-temanku yang sedang bermain seolah
> terdengar suara dalam dua dimensi. Di satu sisi aku mendengar suara mereka
> secara jelas di telingaku, tetapi di sisi lain aku mendengar suara-suara
> misterius seperti nun jauh di "sana", yang sulit aku deskripsikan.
> Perasaanku semakin ketakutan, lantas pulang ke rumah. Sampai di rumah aku
> merasa tiba-tiba pandangan gelap gulita lalu muncul ada titik sinar putih,
> lama-kelamaan semakin besar seperti lorong. Hanyut diriku menyusuri lorong
> secara cepat, kemudian tiba-tiba masuk ke dalam ruang yang maha luas, terang
> benderang, ibarat seperti di atas awan putih yang menghampar di langit. Di
> sana aku bertemu sosok laki-laki maupun perempuan yang rata-rata berusia
> setengah baya, dan ada tak pernah kukenal sebelumnya. Mereka mengajarkan
> sesuatu kepadaku, tentang berbagai "*ilmu linuwih*" maupun pengetahuan
> tentang sejatinya Tuhan. Anehnya, selama menyampaikan ajaran-ajaran mereka
> tanpa pernah menyebut dalil salah satu agama apapun sebagaimana sering
> dilakukan oleh penceramah agama.
>
> *Siapakah orang-orang itu ?*
>
> Kesadaranku tiba-tiba pulih, bersamaan dengan perasaan seolah diantar
> pulang kembali oleh orang-orang itu. Setelah sadar aku berfikir siapakah
> mereka ? dan pada saat peristiwa itu kembali terjadi pada diriku, aku sempat
> bertanya (A), "*Panjenengan sinten to…?*
>
>
>
> Mereka menjawab (M);* "Aku eyang-eyangmu dewe ngger…ojo wedi, kene
> kene..siro dak paringi "sipat kandel" supoyo uripmu mbesok manggih kabegjan
> lan antuk kamulyan sejatining urip*.
>
> A ; "*Njih..sendiko eyang…dalem ngesto'aken dawuh !*
>
> M ; *"Iki eyang buyutmu, aku eyang canggahmu, lan kae kabeh poro leluhurmu
> kang nurunake sliramu ngger…! *
>
> Dalam setiap "pertemuan" di alam "sana" beliau selalu berpesan,"*Tansah-o
> manembah marang Gusti Ingkang Akaryo Jagad..tansah eling lan waspodo,
> terusno lakumu ngger…wis becik..eyang- eyangmu kabeh tansah paring donga lan
> pengestu marang sliramu ngger ! Ojo parang tumuleh, lakumu tansah dak
> jangkung lan dak jampangi.*
>
> Kemudian aku dengar beliau menyebut satu persatu nama-nama mereka, persis
> seperti nama-nama leluhur kami (yang sudah lama wafat) yang tersimpan dalam
> catatan silsilah (pohon famili) yang masih disimpan rapi oleh kedua orang
> tua ku.
>
> *Mengapa Mereka Tidak dalam Siksaan Tuhan ?*
>
> Konon menurut cerita orang tua kami, leluhur-leluhurku yang namanya
> tersebut dalam silsilah, dan pernah aku temui di dalam dimensi gaib itu, ada
> yang beragama Islam, ada yang non Islam. Eyang canggahku bahkan penganut
> kuat ajaran Kejawen. Aku mulai berfikir dan bertanya, mengapa beliau masih
> bisa kutemui dalam keadaan baik-baik semua ? Jika agama di dunia ini yang
> benar hanya satu, mengapa beliau semua tetap dalam kondisi baik. Sebab waktu
> itu bayanganku sebagai "anak kemarin sore" yang masih awam, jika si A tidak
> memeluk agama ini, itu … berarti salah dan menjadi orang tersesat, maka
> mereka tak akan diterima di sisi Tuhan. Tetapi kenyataannya kok demikian
> adanya ? Mengapa mereka yang selain agama Islam kok tidak dalam siksaan
> Tuhan ?
>
>
>
> Pada saat peristiwa itu semakin sering terulang, kesadaranku juga semakin
> meningkat walaupun berada dalam dimensi "lain", tetap tak ada bedanya
> sebagaimana bercengkerama dengan kawan-kawan bermainku yang masih hidup. Aku
> dapat bertanya apa saja tentang yang gaib. Semua jawaban beliau-beliau amat
> sangat gamblang, jelas, tegas, sangat memuaskan dahaga spiritualku.
>
> Lalu pada suatu waktu, sampailah saatnya "dibukakan" mata hatiku akan
> rahasia besar, tentang Kebesaran Tuhan, tentang Keadilan Tuhan, tentang
> Kebijaksanaan Tuhan. Namun dengan berat hati saya belum bisa memaparkan
> bagaimana rahasia besar tersebut secara rinci dan detail. Tidak bijaksana
> kiranya saya mengungkap rahasia besar Dzat Ilahi pada media ini, karena
> dapat menimbulkan fitnah. Saya terdorong untuk bersikap bijak, bisa "*
> ngemong*" bagi saudara-saudara kita yang belum cukup bekal landasan ilmu
> untuk memahami dengan arif dan bijaksana akan rahasia besar alam gaib. Namun
> demikian, secara garis besar saya pribadi dapat mengambil kesimpulan dari
> peristiwa yang saya alami sebagai berikut;
>
> *Betapa Tuhan itu :*
>
> LEBIH DARI MAHA ADIL
>
>   LEBIH DARI MAHA BIJAKSANA
>
> LEBIH DARI MAHA BESAR
>
> LEBIH DARI MAHA KUASA
>
> LEBIH DARI MAHA KASIH DAN PENYAYANG
>
> LEBIH DARI MAHA LEMBUT
>
> LEBIH DARI MAHA PEMURAH
>
>
>
> *Akhirnya, sampailah saya sampai pada pemahaman:*
>
> ALANGKAH DAMAINYA DUNIA INI
>
>   JIKA SEMUA ORANG MENGALAMI SAMA DENGAN APA YANG PERNAH SAYA ALAMI
>
> JIKA TUHAN MEMBERI KESEMPATAN KEPADA SELURUH MANUSIA
>
> UNTUK MELIHAT RAHASIA KEKUASAAN"NYA"
>
> PASTI LAH TAK KAN ADA LAGI PERANG ANTAR AGAMA
>
> TAK KAN ADA LAGI DEBAT KUSIR SIAPA SEJATINYA TUHAN
>
> TAK KAN ADA LAGI RASA KEBENCIAN DAN PERMUSUHAN ANTAR AGAMA
>
> TAK KAN ADA LAGI SALING CURIGA DI ANTARA UMAT
>
>
>
> SAYA TELAH MENDAPATKAN PEMAHAMAN YANG AMAT SANGAT BERHARGA,
>
> BETAPA TUHAN ITU LEBIH DARI MAHA SEGALANYA
>
> DARI SEMUA WUJUD KE-MAHA-AN TUHAN
>
> YANG TERTULIS DI DALAM KITAB SUCI DAN AGAMA MANA PUN
>
>
> **
> **
>
> **
>
> *Sasmita Gaib*
>
> * *
>
> **
>
> Peristiwa gaib itu lantas berhenti sejak aku berusia 8 tahun. Pada saat
> remaja kehidupanku sangat berbeda dengan teman-teman. Orang tuanku guru SD,
> enam bersaudara semua sekolah. Maklum jika kemudian orang tua gajinya minus,
> sekalipun sudah bekerja sambilan freeland, sebagai petani. Kubantu orang tua
> bekerja keras di sawah hingga aku beranjak kuliah di UGM. Dengan susah payah
> kuselesaikan S1 walaupun aku harus menanam pohon pisang banyak-banyak di
> tanah kering pinggir sungai agar supaya bisa ku jual setiap seminggu satu
> tandan pisang untuk beaya kuliah. Ternyata belum mencukupi kebutuhan
> kuliahku juga, sehingga aku tetap harus makan sekali sehari selama 7 tahun
> sejak kelas 2 SMA.
>
> Sejak 5 tahun yang lalu, peristiwa itu menghampiriku kembali beberapa kali,
> tetapi kali ini aku diajarkan tentang ilmu *meraga sukma* atau *lolos
> sukma*. Bagi orang Jawa ilmu ini sudah tak asing lagi. Sebuah ilmu untuk
> memisahkan *badan halus* kita dengan *badan kasar*. Badan halus kita
> keluar dari badan kasar, selanjutnya dapat melanglang jagad raya menembus
> dimensi gaib. Aku semakin dapat membuktikan sendiri apa yang pernah
> diajarkan oleh leluhurku di alam "sana". Kutemukan ternyata adalah perbedaan
> dimensi gaibnya para setan, demit, jin priprayangan, siluman yang suasananya
> serba bau tak sedap, anyir, gelap remang-remang, lembab, basah, licin dan
> terdapat aneka ragam rupa bentuk mahluk Tuhan yang menyeramkan. Kudapatkan
> pula ternyata dimensi gaibnya para leluhur berbeda dengan dimensi gaibnya
> setan, demit *brekasakan*.
>
> Sungguh berbanding terbalik, ruh para leluhur berada dalam dimensi yang
> serba indah, menyenangkan dan nyaman serasa aku tak ingin kembali lagi ke
> dalam badan kasarku lagi. Para ruh berkelompok- kelompok dalam keluarga
> besar, menempati "rumah-rumah" yang indah, ada yang besar ada yang sedang,
> ada yang kecil, bentuknya benar-benar tak bisa dilukiskan dengan kata-kata.
> Adalah sebuah rahasia, bahwa semua jenis mahluk halus sebangsa jin jahat,
> setan, demit, siluman dsb ternyata tidak dapat masuk ke dalam dimensi ruh
> yang suci. Sehingga di dalam dimensi gaibnya ruh tak ditemukan satupun
> adanya mahluk halus jenis demit, jin, setan, siluman dsb.
>
> Jenis makhluk halus tersebut berada dalam dimensi gaib-nya (metafisik)
> bumi, yang lebih dekat dengan dimensi fisik manusia. Tetapi, badan halus
> yang tak lain adalah ruh kita, guru sejati kita, dapat merasuk ke dalam
> dimensi gaib-nya jin setan, atau dimensi gaibnya para leluhur, tergantung
> mana yang kita kehendaki.
>
> Aku pernah bertemu dengan beberapa leluhur agung masa lampau, mereka
> berkisah tentang sejarah bumi nusantara yang sebenarnya. Dalam alam ruh tak
> kutemukan kebohongan, kepalsuan, angkara, yang ada hanyalah kejujuran dan
> semua kebaikan. Tersibaklah kepalsuan dan kebohongan duniawi secara lugas
> (tanpa *tedeng aling-aling*). Untuk membuktikan semua ini pernah kulakukan
> kroscek kepada seseorang (yang masih hidup) tentang apa yang dia alami waktu
> kecil, ajaran apa yang menjadi pegangan hidup sewaktu dewasa, falsafah apa
> yang dia kuasai, dan ternyata tepat sekali kejadiannya. Padahal yang
> bersangkutan sebelumnya tak pernah bercerita apa-apa tentang hal itu.
>
> Untuk bertemu ruh leluhur yang diinginkan kadang dengan mudah dapat segera
> bertemu. Kadang sulit sekali bertemu. Aku sadari bahwa semua ini atas berkat
> izin Tuhan Yang Maha Kuasa, terasa semakin kecil kedirian ini ketika
> dihadapkan pada Kebesaran Tuhan yang sungguh dahsyat. Aku pernah mencoba
> untuk bertemu dengan tokoh dalam "dunia hitam" era tahun 1980-1990an yang
> telah mati. Namun sulit untuk dapat bertemu, karena ia telah berada di alam
> pembalasan. Ada ruh yang semasa hidupnya saya kenal dengan baik, ia memiliki
> tabiat mulia, dan berbudi luhur, ia sedikit bercerita bagaimana ia pernah
> menjalani hukuman di alam pembalasan kurang lebih jika dikonversi dengan
> waktu bumi adalah 11 tahun lamanya.
>
> *Bimbingan dan Wejangan Gaib*
>
> Tepatnya lima tahun yang lalu, sejak aku mengenal berbagai ruang atau
> dimensi gaib, mata telanjangku sepertinya menjadi semakin awas melihat yang
> gaib tanpa harus melakukan "lolos sukma". Pandanganku pada obyek gaib
> semakin nampak jelas. Tampak secara jelas siapa leluhur yang sedang *rawuh
> *. Aku sangat bersyukur kepada Tuhan YME, karena telah memberiku anugerah
> hakikat pengetahuan sejati. Aku semakin intens "bertemu" secara langsung
> dengan para leluhur agung, ada yang bekas pemimpin, ada yang ratu gung
> binatoro, bahkan *Kanjeng Ratu Kidul* yang biasa dipahami secara negatif,
> beliau bukanlah dari bangsa jin, setan, siluman. Tetapi dari entitas *
> bidadari* sehingga ajarannya begitu luhur, dia sungguh sebagai sosok ratu
> "gaib" yang arif bijaksana, dan sangat religius, melebihi rata-rata
> religiusitas manusia. *Para leluhur itu, banyak memberikan wejangan dan
> bimbingan spiritual tanpa pernah mempersoalkan apa agamaku.* Lebih dahsyat
> lagi, pernah bertemu dengan para leluhur yang semuanya dalam kondisi sangat
> baik, padahal beliau memiliki latar belakang agama yang berbeda-beda seperti
> yang ada di nusantara ini.
>
>
>
> Pesan dari para leluhur, yang kiranya etis aku sampaikan di ruang publik
> ini, adalah sebagai berikut;
>
> Untuk meraih kemuliaan sejati (*kamulyan sejati*/syurga);
>
> 1. harus selalu ingat dan tunduk kepada Tuhan
>
> 2. tak boleh menyakiti hati dan mencelakai orang lain
>
> 3. hati tak boleh kotor dengan rasa iri dan kebencian
>
> 4. ringan menolong orang susah, tanpa pamrih dan jangan takabur (*tapa
> ngrame)*
>
> 5. sedekahlah (*donodriyah*) ; yang paling tinggi nilainya di hadapan
> Tuhan adalah *sedekah materi*, kedua sedekah tenaga, ketiga sedekah *tutur-kata
> yang baik*, keempat yang paling rendah nilainya adalah *sedekah doa*.
>
> 6. ikhlas setinggi-tingginya, yakni keikhlasan yang dapat diumpamakan
> dengan orang *buang hajad besar*
>
> 7. jangan ikuti "air bah" yang suka menerjang aturan dan hakekat
> kemanusiaan, tetapi ikutilah "aliran air sungai" atau *tapa ngeli*(mengikuti kehendak Tuhan) agar mencapai pada muara keberuntungan kemudian
> masuk ke dalam lautan kemuliaan hidup.
>
> 8. jika kamu berbuat baik pada orang lain, jangan harapkan balasannya,
> sekalipun kamu dibalas dengan kejahatan. Sebaliknya *bertransaksilah
> dengan Tuhan*, jangan dengan orang itu, sebab transaksi dengan Tuhan akan
> mendatangkan kebaikan yang berlipat ganda untuk diri kita sendiri melalui
> banyak orang disekitarmu. Intinya, jangan sekali-kali kamu membangkit atau
> mengungkit-ungkit kebaikan yang pernah kamu lakukan pada orang lain, tetapi
> kuburlah kebaikan dalam-dalam hingga kamu lupa (*tapa mendhem)*
>
> 9. anugerah agung itu tak ada yang gratis, semua memakai "uang tebusan"
> berupa keprihatinan, dan penderitaan. Penderitaan dan keprihatinan yang kamu
> jalani dengan ikhlas dan legowo itu sesungguhnya akan menjadi tabungan *"uang
> tebusan"* yang akan ditukar dengan anugrah. Semakin besar penderitaan,
> semakin besar anugrah yang telah disiapkan Tuhan untuk mu. Maka dalam
> penderitaan kamu jangan suka *grenengan*, grundelan, karena tindakan itu
> hanya akan menghapus tabungan "uang tebusan" mu. Penderitaan yang telah kamu
> jalani sekian lama hanya menjadi sia-sia, kamu tak kan memperoleh apa-apa
> darinya kecuali penderitaan itu saja. (*tapa mbisu)*
>
> Semua perbuatan itu yang baik maupun yang jahat, pasti akan berbalik
> berlipat kepada diri kita sendiri. Dan setiap kebaikan yang kita lakukan
> pada orang lain akan menjadi "pagar" yang mengelilingi diri kita sendiri.
> Sehingga kita tak bisa dicelakai orang lain, sebaliknya akan mendapat
> keselamatan, serta meraih *ilmu kabegjan* (keberuntungan) . Jika
> diungkapkan dalam perumpamaan, *kita akan menjadi seperti bola, semakin
> kuat dibanting maka semakin tinggi pantulan ke atasnya*.
>
> Demikianlah sepotong pengalaman gaib yang pernah saya alami, semoga dapat
> menjadikan wahana komparasi, tanpa harus mengedepankan emosi dan nalar yang
> dangkal. Marilah kita kaji bersama, berangkat dari sikap netral, kejernihan
> hati dan kebeningan jiwa.
>
>
>
> (Kiriman dari dari salah satu rekan dipo yang tidak mau disebutkan namanya)
>
>
> ------------------------------
>  Dapatkan alamat Email baru Anda!
> <http://sg.rd.yahoo.com/id/mail/domainchoice/mail/signature/*http://mail.promotions.yahoo.com/newdomains/id/>
> Dapatkan nama yang selalu Anda inginkan sebelum diambil orang lain!
>
>
Reply | Threaded
Open this post in threaded view
|  
Report Content as Inappropriate

Bls: Bls: PENGALAMAN GAIB

hera_gls20
   




________________________________
Dari: angel michael <[hidden email]>
Kepada: [hidden email]
Terkirim: Rabu, 19 November, 2008 08:29:00
Topik: Re: Bls: [Spiritual-Indonesia] PENGALAMAN GAIB


he he he silahkan bikin kebohongan baru dan merasa benar,
yg baca melebihi hal ini akan tertawa, yang dibawahnya akan
merasa menemukan jawaban, semua fikiran punya prosesnya
sendiri, yg merasa levelnya sama dgn cerita ini merasa nah
ini gw banget...

yg merasa beda tertawa dan melihat kebohongan baru atas
nama tuhan, selalu tuhan yang dijadikan sandaran kebohongan
atas nama kebenaran itu, ada yang sadar tidak berbohong lagi
hingga mengusir jauh kata tuhan menjadi imajinasi saya, ada
yang terus menggunakan nama tuhan untuk membuat
kebohongan baru, silahkan saja he he he it's a custom world
do whatever you like as long as never hurt and kill others (^_^)



============ ========= ========









2008/11/19 aira hera <hera_gls20@yahoo. co.id>

       




________________________________
Dari: mang dipo <dipo1601@yahoo. com>
Kepada: spiritual-indonesia @yahoogroups. com
Terkirim: Selasa, 18 November, 2008 22:22:00
Topik: [Spiritual-Indonesi a] PENGALAMAN GAIB


PENGALAMAN GAIB
Tulisan ini sengaja saya paparkan, tanpa niat dan maksud sedikit pun untuk unjuk diri dan wujud kesombongan. Semata-mata sekedar untuk berbagi pengalaman kepada saudara-saudara yang budiman. Saya yakin di antara para pembaca pasti ada yang memiliki pengalaman spiritual berbeda dan lebih mendalam lagi. Karena Tuhan Maha Pemurah, Maha Adil, Maha Bijak, pasti melimpahkan segala rahmat, petunjuk, kemurahan, dan mukjizat, dalam wujud yang berbeda-beda kepada manusia mahluk ciptaanNya. Tanpa kecuali, dan tanpa membedakan apapun agama dan sistem kepercayaan anda. Sehingga, apapun latar belakang agama dan kepercayaan, anda pasti memiliki dan pernah merasakan sentuhan di mana Kekuasan dan Mukjizat Tuhan terasa begitu dekat dengan diri anda.
 
TENTANG RUH
Kisah ini kualami pada saat aku masih usia 5-8 tahun. Waktu itu orang tuaku bingung dan sedih karena 3 kali dalam seminggu aku mengalami kejadian misterius. Ortu ku menuturkan, tiba-tiba aku tampak seperti orang pingsan selama 1-2 jam lamanya. Anehnya ke mana saja berobat, dokter selalu menghasilkan diagnosis yang berbeda-beda.
Pada saat diriku dianggap "pingsan" itu, apa yang sebenarnya alami sangat berbeda. Peristiwa selalu terjadi sore hari, awalnya aku mulai merasakan gejala aneh, mendengar suara teman-temanku yang sedang bermain seolah terdengar suara dalam dua dimensi. Di satu sisi aku mendengar suara mereka secara jelas di telingaku, tetapi di sisi lain aku mendengar suara-suara misterius seperti nun jauh di "sana", yang sulit aku deskripsikan. Perasaanku semakin ketakutan, lantas pulang ke rumah. Sampai di rumah aku merasa tiba-tiba pandangan gelap gulita lalu muncul ada titik sinar putih, lama-kelamaan semakin besar seperti lorong. Hanyut diriku menyusuri lorong secara cepat, kemudian tiba-tiba masuk ke dalam ruang yang maha luas, terang benderang, ibarat seperti di atas awan putih yang menghampar di langit. Di sana aku bertemu sosok laki-laki maupun perempuan yang rata-rata berusia setengah baya, dan ada tak pernah kukenal sebelumnya. Mereka mengajarkan sesuatu
 kepadaku, tentang berbagai "ilmu linuwih" maupun pengetahuan tentang sejatinya Tuhan. Anehnya, selama menyampaikan ajaran-ajaran mereka tanpa pernah menyebut dalil salah satu agama apapun sebagaimana sering dilakukan oleh penceramah agama.
Siapakah orang-orang itu ?
Kesadaranku tiba-tiba pulih, bersamaan dengan perasaan seolah diantar pulang kembali oleh orang-orang itu. Setelah sadar aku berfikir siapakah mereka ? dan pada saat peristiwa itu kembali terjadi pada diriku, aku sempat bertanya (A), "Panjenengan sinten to…?
 
Mereka menjawab (M);"Aku eyang-eyangmu dewe ngger…ojo wedi, kene kene..siro dak paringi "sipat kandel" supoyo uripmu mbesok manggih kabegjan lan antuk kamulyan sejatining urip.
A ; "Njih..sendiko eyang…dalem ngesto'aken dawuh !
M ; "Iki eyang buyutmu, aku eyang canggahmu, lan kae kabeh poro leluhurmu kang nurunake sliramu ngger…!
Dalam setiap "pertemuan" di alam "sana" beliau selalu berpesan,"Tansah-o manembah marang Gusti Ingkang Akaryo Jagad..tansah eling lan waspodo, terusno lakumu ngger…wis becik..eyang- eyangmu kabeh tansah paring donga lan pengestu marang sliramu ngger ! Ojo parang tumuleh, lakumu tansah dak jangkung lan dak jampangi.
Kemudian aku dengar beliau menyebut satu persatu nama-nama mereka, persis seperti nama-nama leluhur kami (yang sudah lama wafat) yang tersimpan dalam catatan silsilah (pohon famili) yang masih disimpan rapi oleh kedua orang tua ku.
Mengapa Mereka Tidak dalam Siksaan Tuhan ?
Konon menurut cerita orang tua kami, leluhur-leluhurku yang namanya tersebut dalam silsilah, dan pernah aku temui di dalam dimensi gaib itu, ada yang beragama Islam, ada yang non Islam. Eyang canggahku bahkan penganut kuat ajaran Kejawen. Aku mulai berfikir dan bertanya, mengapa beliau masih bisa kutemui dalam keadaan baik-baik semua ? Jika agama di dunia ini yang benar hanya satu, mengapa beliau semua tetap dalam kondisi baik. Sebab waktu itu bayanganku sebagai "anak kemarin sore" yang masih awam, jika si A tidak memeluk agama ini, itu … berarti salah dan menjadi orang tersesat, maka mereka tak akan diterima di sisi Tuhan. Tetapi kenyataannya kok demikian adanya ? Mengapa mereka yang selain agama Islam kok tidak dalam siksaan Tuhan ?
 
Pada saat peristiwa itu semakin sering terulang, kesadaranku juga semakin meningkat walaupun berada dalam dimensi "lain", tetap tak ada bedanya sebagaimana bercengkerama dengan kawan-kawan bermainku yang masih hidup. Aku dapat bertanya apa saja tentang yang gaib. Semua jawaban beliau-beliau amat sangat gamblang, jelas, tegas, sangat memuaskan dahaga spiritualku.
Lalu pada suatu waktu, sampailah saatnya "dibukakan" mata hatiku akan rahasia besar, tentang Kebesaran Tuhan, tentang Keadilan Tuhan, tentang Kebijaksanaan Tuhan. Namun dengan berat hati saya belum bisa memaparkan bagaimana rahasia besar tersebut secara rinci dan detail. Tidak bijaksana kiranya saya mengungkap rahasia besar Dzat Ilahi pada media ini, karena dapat menimbulkan fitnah. Saya terdorong untuk bersikap bijak, bisa "ngemong" bagi saudara-saudara kita yang belum cukup bekal landasan ilmu untuk memahami dengan arif dan bijaksana akan rahasia besar alam gaib. Namun demikian, secara garis besar saya pribadi dapat mengambil kesimpulan dari peristiwa yang saya alami sebagai berikut;
Betapa Tuhan itu :
LEBIH DARI MAHA ADIL  
LEBIH DARI MAHA BIJAKSANA
LEBIH DARI MAHA BESAR
LEBIH DARI MAHA KUASA
LEBIH DARI MAHA KASIH DAN PENYAYANG
LEBIH DARI MAHA LEMBUT
LEBIH DARI MAHA PEMURAH
 
Akhirnya, sampailah saya sampai pada pemahaman:
ALANGKAH DAMAINYA DUNIA INI  
JIKA SEMUA ORANG MENGALAMI SAMA DENGAN APA YANG PERNAH SAYA ALAMI
JIKA TUHAN MEMBERI KESEMPATAN KEPADA SELURUH MANUSIA
UNTUK MELIHAT RAHASIA KEKUASAAN"NYA"
PASTI LAH TAK KAN ADA LAGI PERANG ANTAR AGAMA
TAK KAN ADA LAGI DEBAT KUSIR SIAPA SEJATINYA TUHAN
TAK KAN ADA LAGI RASA KEBENCIAN DAN PERMUSUHAN ANTAR AGAMA
TAK KAN ADA LAGI SALING CURIGA DI ANTARA UMAT
 
SAYA TELAH MENDAPATKAN PEMAHAMAN YANG AMAT SANGAT BERHARGA,
BETAPA TUHAN ITU LEBIH DARI MAHA SEGALANYA
DARI SEMUA WUJUD KE-MAHA-AN TUHAN
YANG TERTULIS DI DALAM KITAB SUCI DAN AGAMA MANA PUN
 
Sasmita Gaib
 
Peristiwa gaib itu lantas berhenti sejak aku berusia 8 tahun. Pada saat remaja kehidupanku sangat berbeda dengan teman-teman. Orang tuanku guru SD, enam bersaudara semua sekolah. Maklum jika kemudian orang tua gajinya minus, sekalipun sudah bekerja sambilan freeland, sebagai petani. Kubantu orang tua bekerja keras di sawah hingga aku beranjak kuliah di UGM. Dengan susah payah kuselesaikan S1 walaupun aku harus menanam pohon pisang banyak-banyak di tanah kering pinggir sungai agar supaya bisa ku jual setiap seminggu satu tandan pisang untuk beaya kuliah. Ternyata belum mencukupi kebutuhan kuliahku juga, sehingga aku tetap harus makan sekali sehari selama 7 tahun sejak kelas 2 SMA.
Sejak 5 tahun yang lalu, peristiwa itu menghampiriku kembali beberapa kali, tetapi kali ini aku diajarkan tentang ilmu meraga sukma atau lolos sukma. Bagi orang Jawa ilmu ini sudah tak asing lagi. Sebuah ilmu untuk memisahkan badan halus kita dengan badan kasar. Badan halus kita keluar dari badan kasar, selanjutnya dapat melanglang jagad raya menembus dimensi gaib. Aku semakin dapat membuktikan sendiri apa yang pernah diajarkan oleh leluhurku di alam "sana". Kutemukan ternyata adalah perbedaan dimensi gaibnya para setan, demit, jin priprayangan, siluman yang suasananya serba bau tak sedap, anyir, gelap remang-remang, lembab, basah, licin dan terdapat aneka ragam rupa bentuk mahluk Tuhan yang menyeramkan. Kudapatkan pula ternyata dimensi gaibnya para leluhur berbeda dengan dimensi gaibnya setan, demit brekasakan.
Sungguh berbanding terbalik, ruh para leluhur berada dalam dimensi yang serba indah, menyenangkan dan nyaman serasa aku tak ingin kembali lagi ke dalam badan kasarku lagi. Para ruh berkelompok- kelompok dalam keluarga besar, menempati "rumah-rumah" yang indah, ada yang besar ada yang sedang, ada yang kecil, bentuknya benar-benar tak bisa dilukiskan dengan kata-kata. Adalah sebuah rahasia, bahwa semua jenis mahluk halus sebangsa jin jahat, setan, demit, siluman dsb ternyata tidak dapat masuk ke dalam dimensi ruh yang suci. Sehingga di dalam dimensi gaibnya ruh tak ditemukan satupun adanya mahluk halus jenis demit, jin, setan, siluman dsb.
Jenis makhluk halus tersebut berada dalam dimensi gaib-nya (metafisik) bumi, yang lebih dekat dengan dimensi fisik manusia. Tetapi, badan halus yang tak lain adalah ruh kita, guru sejati kita, dapat merasuk ke dalam dimensi gaib-nya jin setan, atau dimensi gaibnya para leluhur, tergantung mana yang kita kehendaki.
Aku pernah bertemu dengan beberapa leluhur agung masa lampau, mereka berkisah tentang sejarah bumi nusantara yang sebenarnya. Dalam alam ruh tak kutemukan kebohongan, kepalsuan, angkara, yang ada hanyalah kejujuran dan semua kebaikan. Tersibaklah kepalsuan dan kebohongan duniawi secara lugas (tanpa tedeng aling-aling). Untuk membuktikan semua ini pernah kulakukan kroscek kepada seseorang (yang masih hidup) tentang apa yang dia alami waktu kecil, ajaran apa yang menjadi pegangan hidup sewaktu dewasa, falsafah apa yang dia kuasai, dan ternyata tepat sekali kejadiannya. Padahal yang bersangkutan sebelumnya tak pernah bercerita apa-apa tentang hal itu.
Untuk bertemu ruh leluhur yang diinginkan kadang dengan mudah dapat segera bertemu. Kadang sulit sekali bertemu. Aku sadari bahwa semua ini atas berkat izin Tuhan Yang Maha Kuasa, terasa semakin kecil kedirian ini ketika dihadapkan pada Kebesaran Tuhan yang sungguh dahsyat. Aku pernah mencoba untuk bertemu dengan tokoh dalam "dunia hitam" era tahun 1980-1990an yang telah mati. Namun sulit untuk dapat bertemu, karena ia telah berada di alam pembalasan. Ada ruh yang semasa hidupnya saya kenal dengan baik, ia memiliki tabiat mulia, dan berbudi luhur, ia sedikit bercerita bagaimana ia pernah menjalani hukuman di alam pembalasan kurang lebih jika dikonversi dengan waktu bumi adalah 11 tahun lamanya.
Bimbingan dan Wejangan Gaib
Tepatnya lima tahun yang lalu, sejak aku mengenal berbagai ruang atau dimensi gaib, mata telanjangku sepertinya menjadi semakin awas melihat yang gaib tanpa harus melakukan "lolos sukma". Pandanganku pada obyek gaib semakin nampak jelas. Tampak secara jelas siapa leluhur yang sedang rawuh. Aku sangat bersyukur kepada Tuhan YME, karena telah memberiku anugerah hakikat pengetahuan sejati. Aku semakin intens "bertemu" secara langsung dengan para leluhur agung, ada yang bekas pemimpin, ada yang ratu gung binatoro, bahkan Kanjeng Ratu Kidul yang biasa dipahami secara negatif, beliau bukanlah dari bangsa jin, setan, siluman. Tetapi dari entitas bidadari sehingga ajarannya begitu luhur, dia sungguh sebagai sosok ratu "gaib" yang arif bijaksana, dan sangat religius, melebihi rata-rata religiusitas manusia. Para leluhur itu, banyak memberikan wejangan dan bimbingan spiritual tanpa pernah mempersoalkan apa agamaku. Lebih dahsyat lagi, pernah bertemu dengan para
 leluhur yang semuanya dalam kondisi sangat baik, padahal beliau memiliki latar belakang agama yang berbeda-beda seperti yang ada di nusantara ini.
 
Pesan dari para leluhur, yang kiranya etis aku sampaikan di ruang publik ini, adalah sebagai berikut;
Untuk meraih kemuliaan sejati (kamulyan sejati/syurga);
1. harus selalu ingat dan tunduk kepada Tuhan
2. tak boleh menyakiti hati dan mencelakai orang lain
3. hati tak boleh kotor dengan rasa iri dan kebencian
4. ringan menolong orang susah, tanpa pamrih dan jangan takabur (tapa ngrame)
5. sedekahlah (donodriyah) ; yang paling tinggi nilainya di hadapan Tuhan adalah sedekah materi, kedua sedekah tenaga, ketiga sedekah tutur-kata yang baik, keempat yang paling rendah nilainya adalah sedekah doa.
6. ikhlas setinggi-tingginya, yakni keikhlasan yang dapat diumpamakan dengan orang buang hajad besar
7. jangan ikuti "air bah" yang suka menerjang aturan dan hakekat kemanusiaan, tetapi ikutilah "aliran air sungai" atau tapa ngeli (mengikuti kehendak Tuhan) agar mencapai pada muara keberuntungan kemudian masuk ke dalam lautan kemuliaan hidup.
8. jika kamu berbuat baik pada orang lain, jangan harapkan balasannya, sekalipun kamu dibalas dengan kejahatan. Sebaliknya bertransaksilah dengan Tuhan, jangan dengan orang itu, sebab transaksi dengan Tuhan akan mendatangkan kebaikan yang berlipat ganda untuk diri kita sendiri melalui banyak orang disekitarmu. Intinya, jangan sekali-kali kamu membangkit atau mengungkit-ungkit kebaikan yang pernah kamu lakukan pada orang lain, tetapi kuburlah kebaikan dalam-dalam hingga kamu lupa (tapa mendhem)
9. anugerah agung itu tak ada yang gratis, semua memakai "uang tebusan" berupa keprihatinan, dan penderitaan. Penderitaan dan keprihatinan yang kamu jalani dengan ikhlas dan legowo itu sesungguhnya akan menjadi tabungan "uang tebusan" yang akan ditukar dengan anugrah. Semakin besar penderitaan, semakin besar anugrah yang telah disiapkan Tuhan untuk mu. Maka dalam penderitaan kamu jangan suka grenengan, grundelan, karena tindakan itu hanya akan menghapus tabungan "uang tebusan" mu. Penderitaan yang telah kamu jalani sekian lama hanya menjadi sia-sia, kamu tak kan memperoleh apa-apa darinya kecuali penderitaan itu saja. (tapa mbisu)
Semua perbuatan itu yang baik maupun yang jahat, pasti akan berbalik berlipat kepada diri kita sendiri. Dan setiap kebaikan yang kita lakukan pada orang lain akan menjadi "pagar" yang mengelilingi diri kita sendiri. Sehingga kita tak bisa dicelakai orang lain, sebaliknya akan mendapat keselamatan, serta meraih ilmu kabegjan (keberuntungan) . Jika diungkapkan dalam perumpamaan, kita akan menjadi seperti bola, semakin kuat dibanting maka semakin tinggi pantulan ke atasnya.
Demikianlah sepotong pengalaman gaib yang pernah saya alami, semoga dapat menjadikan wahana komparasi, tanpa harus mengedepankan emosi dan nalar yang dangkal. Marilah kita kaji bersama, berangkat dari sikap netral, kejernihan hati dan kebeningan jiwa.
 
(Kiriman dari dari salah satu rekan dipo yang tidak mau disebutkan namanya)

________________________________
 Dapatkan alamat Email baru Anda!  
Dapatkan nama yang selalu Anda inginkan sebelum diambil orang lain!  
   


      ___________________________________________________________________________
Dapatkan nama yang Anda sukai!
Sekarang Anda dapat memiliki email di @ymail.com dan @rocketmail.com.
http://mail.promotions.yahoo.com/newdomains/id/
Reply | Threaded
Open this post in threaded view
|  
Report Content as Inappropriate

Bls: PENGALAMAN GAIB

kadis kadis
In reply to this post by Mas Dipo
MATUR NUWUN.. KANG DIPO TELAH BERBAGI PENGALAMAN.
Surat yang tersirat dari cerita pengalaman.. sangat berharga bagi saya.
damai untuk alam semesta
 
kadis_btg




________________________________
Dari: mang dipo <[hidden email]>
Kepada: [hidden email]
Terkirim: Selasa, 18 November, 2008 23:22:00
Topik: [Spiritual-Indonesia] PENGALAMAN GAIB


PENGALAMAN GAIB
TENTANG RUH
Tulisan ini sengaja saya paparkan, tanpa niat dan maksud sedikit pun untuk unjuk diri dan wujud kesombongan. Semata-mata sekedar untuk berbagi pengalaman kepada saudara-saudara yang budiman. Saya yakin di antara para pembaca pasti ada yang memiliki pengalaman spiritual berbeda dan lebih mendalam lagi. Karena Tuhan Maha Pemurah, Maha Adil, Maha Bijak, pasti melimpahkan segala rahmat, petunjuk, kemurahan, dan mukjizat, dalam wujud yang berbeda-beda kepada manusia mahluk ciptaanNya. Tanpa kecuali, dan tanpa membedakan apapun agama dan sistem kepercayaan anda. Sehingga, apapun latar belakang agama dan kepercayaan, anda pasti memiliki dan pernah merasakan sentuhan di mana Kekuasan dan Mukjizat Tuhan terasa begitu dekat dengan diri anda.
 
Kisah ini kualami pada saat aku masih usia 5-8 tahun. Waktu itu orang tuaku bingung dan sedih karena 3 kali dalam seminggu aku mengalami kejadian misterius. Ortu ku menuturkan, tiba-tiba aku tampak seperti orang pingsan selama 1-2 jam lamanya. Anehnya ke mana saja berobat, dokter selalu menghasilkan diagnosis yang berbeda-beda.
Pada saat diriku dianggap “pingsan” itu, apa yang sebenarnya alami sangat berbeda. Peristiwa selalu terjadi sore hari, awalnya aku mulai merasakan gejala aneh, mendengar suara teman-temanku yang sedang bermain seolah terdengar suara dalam dua dimensi. Di satu sisi aku mendengar suara mereka secara jelas di telingaku, tetapi di sisi lain aku mendengar suara-suara misterius seperti nun jauh di “sana”, yang sulit aku deskripsikan. Perasaanku semakin ketakutan, lantas pulang ke rumah. Sampai di rumah aku merasa tiba-tiba pandangan gelap gulita lalu muncul ada titik sinar putih, lama-kelamaan semakin besar seperti lorong. Hanyut diriku menyusuri lorong secara cepat, kemudian tiba-tiba masuk ke dalam ruang yang maha luas, terang benderang, ibarat seperti di atas awan putih yang menghampar di langit. Di sana aku bertemu sosok laki-laki maupun perempuan yang rata-rata berusia setengah baya, dan ada tak pernah kukenal sebelumnya. Mereka mengajarkan
 sesuatu kepadaku, tentang berbagai “ilmu linuwih” maupun pengetahuan tentang sejatinya Tuhan. Anehnya, selama menyampaikan ajaran-ajaran mereka tanpa pernah menyebut dalil salah satu agama apapun sebagaimana sering dilakukan oleh penceramah agama.
Siapakah orang-orang itu ?
Kesadaranku tiba-tiba pulih, bersamaan dengan perasaan seolah diantar pulang kembali oleh orang-orang itu. Setelah sadar aku berfikir siapakah mereka ? dan pada saat peristiwa itu kembali terjadi pada diriku, aku sempat bertanya (A), “Panjenengan sinten to…?
 
Mereka menjawab (M);“Aku eyang-eyangmu dewe ngger…ojo wedi, kene kene..siro dak paringi “sipat kandel” supoyo uripmu mbesok manggih kabegjan lan antuk kamulyan sejatining urip.
A ; “Njih..sendiko eyang…dalem ngesto’aken dawuh !
M ; “Iki eyang buyutmu, aku eyang canggahmu, lan kae kabeh poro leluhurmu kang nurunake sliramu ngger…!
Dalam setiap “pertemuan” di alam “sana” beliau selalu berpesan,”Tansah-o manembah marang Gusti Ingkang Akaryo Jagad..tansah eling lan waspodo, terusno lakumu ngger…wis becik..eyang- eyangmu kabeh tansah paring donga lan pengestu marang sliramu ngger ! Ojo parang tumuleh, lakumu tansah dak jangkung lan dak jampangi.
Kemudian aku dengar beliau menyebut satu persatu nama-nama mereka, persis seperti nama-nama leluhur kami (yang sudah lama wafat) yang tersimpan dalam catatan silsilah (pohon famili) yang masih disimpan rapi oleh kedua orang tua ku.
Mengapa Mereka Tidak dalam Siksaan Tuhan ?
Konon menurut cerita orang tua kami, leluhur-leluhurku yang namanya tersebut dalam silsilah, dan pernah aku temui di dalam dimensi gaib itu, ada yang beragama Islam, ada yang non Islam. Eyang canggahku bahkan penganut kuat ajaran Kejawen. Aku mulai berfikir dan bertanya, mengapa beliau masih bisa kutemui dalam keadaan baik-baik semua ? Jika agama di dunia ini yang benar hanya satu, mengapa beliau semua tetap dalam kondisi baik. Sebab waktu itu bayanganku sebagai “anak kemarin sore” yang masih awam, jika si A tidak memeluk agama ini, itu … berarti salah dan menjadi orang tersesat, maka mereka tak akan diterima di sisi Tuhan. Tetapi kenyataannya kok demikian adanya ? Mengapa mereka yang selain agama Islam kok tidak dalam siksaan Tuhan ?
 
Pada saat peristiwa itu semakin sering terulang, kesadaranku juga semakin meningkat walaupun berada dalam dimensi “lain”, tetap tak ada bedanya sebagaimana bercengkerama dengan kawan-kawan bermainku yang masih hidup. Aku dapat bertanya apa saja tentang yang gaib. Semua jawaban beliau-beliau amat sangat gamblang, jelas, tegas, sangat memuaskan dahaga spiritualku.
Lalu pada suatu waktu, sampailah saatnya “dibukakan” mata hatiku akan rahasia besar, tentang Kebesaran Tuhan, tentang Keadilan Tuhan, tentang Kebijaksanaan Tuhan. Namun dengan berat hati saya belum bisa memaparkan bagaimana rahasia besar tersebut secara rinci dan detail. Tidak bijaksana kiranya saya mengungkap rahasia besar Dzat Ilahi pada media ini, karena dapat menimbulkan fitnah. Saya terdorong untuk bersikap bijak, bisa “ngemong” bagi saudara-saudara kita yang belum cukup bekal landasan ilmu untuk memahami dengan arif dan bijaksana akan rahasia besar alam gaib. Namun demikian, secara garis besar saya pribadi dapat mengambil kesimpulan dari peristiwa yang saya alami sebagai berikut;
Betapa Tuhan itu :
LEBIH DARI MAHA ADIL
LEBIH DARI MAHA BIJAKSANA
LEBIH DARI MAHA BESAR
LEBIH DARI MAHA KUASA
LEBIH DARI MAHA KASIH DAN PENYAYANG
LEBIH DARI MAHA LEMBUT
LEBIH DARI MAHA PEMURAH
 
Akhirnya, sampailah saya sampai pada pemahaman:
ALANGKAH DAMAINYA DUNIA INI
JIKA SEMUA ORANG MENGALAMI SAMA DENGAN APA YANG PERNAH SAYA ALAMI
JIKA TUHAN MEMBERI KESEMPATAN KEPADA SELURUH MANUSIA
UNTUK MELIHAT RAHASIA KEKUASAAN”NYA”
PASTI LAH TAK KAN ADA LAGI PERANG ANTAR AGAMA
TAK KAN ADA LAGI DEBAT KUSIR SIAPA SEJATINYA TUHAN
TAK KAN ADA LAGI RASA KEBENCIAN DAN PERMUSUHAN ANTAR AGAMA
TAK KAN ADA LAGI SALING CURIGA DI ANTARA UMAT
 
SAYA TELAH MENDAPATKAN PEMAHAMAN YANG AMAT SANGAT BERHARGA,
BETAPA TUHAN ITU LEBIH DARI MAHA SEGALANYA
DARI SEMUA WUJUD KE-MAHA-AN TUHAN
YANG TERTULIS DI DALAM KITAB SUCI DAN AGAMA MANA PUN
 
Sasmita Gaib
 
Peristiwa gaib itu lantas berhenti sejak aku berusia 8 tahun. Pada saat remaja kehidupanku sangat berbeda dengan teman-teman. Orang tuanku guru SD, enam bersaudara semua sekolah. Maklum jika kemudian orang tua gajinya minus, sekalipun sudah bekerja sambilan freeland, sebagai petani. Kubantu orang tua bekerja keras di sawah hingga aku beranjak kuliah di UGM. Dengan susah payah kuselesaikan S1 walaupun aku harus menanam pohon pisang banyak-banyak di tanah kering pinggir sungai agar supaya bisa ku jual setiap seminggu satu tandan pisang untuk beaya kuliah. Ternyata belum mencukupi kebutuhan kuliahku juga, sehingga aku tetap harus makan sekali sehari selama 7 tahun sejak kelas 2 SMA.
Sejak 5 tahun yang lalu, peristiwa itu menghampiriku kembali beberapa kali, tetapi kali ini aku diajarkan tentang ilmu meraga sukma atau lolos sukma. Bagi orang Jawa ilmu ini sudah tak asing lagi. Sebuah ilmu untuk memisahkan badan halus kita dengan badan kasar. Badan halus kita keluar dari badan kasar, selanjutnya dapat melanglang jagad raya menembus dimensi gaib. Aku semakin dapat membuktikan sendiri apa yang pernah diajarkan oleh leluhurku di alam “sana”. Kutemukan ternyata adalah perbedaan dimensi gaibnya para setan, demit, jin priprayangan, siluman yang suasananya serba bau tak sedap, anyir, gelap remang-remang, lembab, basah, licin dan terdapat aneka ragam rupa bentuk mahluk Tuhan yang menyeramkan. Kudapatkan pula ternyata dimensi gaibnya para leluhur berbeda dengan dimensi gaibnya setan, demit brekasakan.
Sungguh berbanding terbalik, ruh para leluhur berada dalam dimensi yang serba indah, menyenangkan dan nyaman serasa aku tak ingin kembali lagi ke dalam badan kasarku lagi. Para ruh berkelompok- kelompok dalam keluarga besar, menempati “rumah-rumah” yang indah, ada yang besar ada yang sedang, ada yang kecil, bentuknya benar-benar tak bisa dilukiskan dengan kata-kata. Adalah sebuah rahasia, bahwa semua jenis mahluk halus sebangsa jin jahat, setan, demit, siluman dsb ternyata tidak dapat masuk ke dalam dimensi ruh yang suci. Sehingga di dalam dimensi gaibnya ruh tak ditemukan satupun adanya mahluk halus jenis demit, jin, setan, siluman dsb.
Jenis makhluk halus tersebut berada dalam dimensi gaib-nya (metafisik) bumi, yang lebih dekat dengan dimensi fisik manusia. Tetapi, badan halus yang tak lain adalah ruh kita, guru sejati kita, dapat merasuk ke dalam dimensi gaib-nya jin setan, atau dimensi gaibnya para leluhur, tergantung mana yang kita kehendaki.
Aku pernah bertemu dengan beberapa leluhur agung masa lampau, mereka berkisah tentang sejarah bumi nusantara yang sebenarnya. Dalam alam ruh tak kutemukan kebohongan, kepalsuan, angkara, yang ada hanyalah kejujuran dan semua kebaikan. Tersibaklah kepalsuan dan kebohongan duniawi secara lugas (tanpa tedeng aling-aling). Untuk membuktikan semua ini pernah kulakukan kroscek kepada seseorang (yang masih hidup) tentang apa yang dia alami waktu kecil, ajaran apa yang menjadi pegangan hidup sewaktu dewasa, falsafah apa yang dia kuasai, dan ternyata tepat sekali kejadiannya. Padahal yang bersangkutan sebelumnya tak pernah bercerita apa-apa tentang hal itu.
Untuk bertemu ruh leluhur yang diinginkan kadang dengan mudah dapat segera bertemu. Kadang sulit sekali bertemu. Aku sadari bahwa semua ini atas berkat izin Tuhan Yang Maha Kuasa, terasa semakin kecil kedirian ini ketika dihadapkan pada Kebesaran Tuhan yang sungguh dahsyat. Aku pernah mencoba untuk bertemu dengan tokoh dalam “dunia hitam” era tahun 1980-1990an yang telah mati. Namun sulit untuk dapat bertemu, karena ia telah berada di alam pembalasan. Ada ruh yang semasa hidupnya saya kenal dengan baik, ia memiliki tabiat mulia, dan berbudi luhur, ia sedikit bercerita bagaimana ia pernah menjalani hukuman di alam pembalasan kurang lebih jika dikonversi dengan waktu bumi adalah 11 tahun lamanya.
Bimbingan dan Wejangan Gaib
Tepatnya lima tahun yang lalu, sejak aku mengenal berbagai ruang atau dimensi gaib, mata telanjangku sepertinya menjadi semakin awas melihat yang gaib tanpa harus melakukan “lolos sukma”. Pandanganku pada obyek gaib semakin nampak jelas. Tampak secara jelas siapa leluhur yang sedang rawuh. Aku sangat bersyukur kepada Tuhan YME, karena telah memberiku anugerah hakikat pengetahuan sejati. Aku semakin intens “bertemu” secara langsung dengan para leluhur agung, ada yang bekas pemimpin, ada yang ratu gung binatoro, bahkan Kanjeng Ratu Kidul yang biasa dipahami secara negatif, beliau bukanlah dari bangsa jin, setan, siluman. Tetapi dari entitas bidadari sehingga ajarannya begitu luhur, dia sungguh sebagai sosok ratu “gaib” yang arif bijaksana, dan sangat religius, melebihi rata-rata religiusitas manusia. Para leluhur itu, banyak memberikan wejangan dan bimbingan spiritual tanpa pernah mempersoalkan apa agamaku. Lebih dahsyat lagi, pernah bertemu
 dengan para leluhur yang semuanya dalam kondisi sangat baik, padahal beliau memiliki latar belakang agama yang berbeda-beda seperti yang ada di nusantara ini.
 
Pesan dari para leluhur, yang kiranya etis aku sampaikan di ruang publik ini, adalah sebagai berikut;
Untuk meraih kemuliaan sejati (kamulyan sejati/syurga);
1. harus selalu ingat dan tunduk kepada Tuhan
2. tak boleh menyakiti hati dan mencelakai orang lain
3. hati tak boleh kotor dengan rasa iri dan kebencian
4. ringan menolong orang susah, tanpa pamrih dan jangan takabur (tapa ngrame)
5. sedekahlah (donodriyah) ; yang paling tinggi nilainya di hadapan Tuhan adalah sedekah materi, kedua sedekah tenaga, ketiga sedekah tutur-kata yang baik, keempat yang paling rendah nilainya adalah sedekah doa.
6. ikhlas setinggi-tingginya, yakni keikhlasan yang dapat diumpamakan dengan orang buang hajad besar
7. jangan ikuti “air bah” yang suka menerjang aturan dan hakekat kemanusiaan, tetapi ikutilah “aliran air sungai” atau tapa ngeli (mengikuti kehendak Tuhan) agar mencapai pada muara keberuntungan kemudian masuk ke dalam lautan kemuliaan hidup.
8. jika kamu berbuat baik pada orang lain, jangan harapkan balasannya, sekalipun kamu dibalas dengan kejahatan. Sebaliknya bertransaksilah dengan Tuhan, jangan dengan orang itu, sebab transaksi dengan Tuhan akan mendatangkan kebaikan yang berlipat ganda untuk diri kita sendiri melalui banyak orang disekitarmu. Intinya, jangan sekali-kali kamu membangkit atau mengungkit-ungkit kebaikan yang pernah kamu lakukan pada orang lain, tetapi kuburlah kebaikan dalam-dalam hingga kamu lupa (tapa mendhem)
9. anugerah agung itu tak ada yang gratis, semua memakai “uang tebusan” berupa keprihatinan, dan penderitaan. Penderitaan dan keprihatinan yang kamu jalani dengan ikhlas dan legowo itu sesungguhnya akan menjadi tabungan “uang tebusan” yang akan ditukar dengan anugrah. Semakin besar penderitaan, semakin besar anugrah yang telah disiapkan Tuhan untuk mu. Maka dalam penderitaan kamu jangan suka grenengan, grundelan, karena tindakan itu hanya akan menghapus tabungan “uang tebusan” mu. Penderitaan yang telah kamu jalani sekian lama hanya menjadi sia-sia, kamu tak kan memperoleh apa-apa darinya kecuali penderitaan itu saja. (tapa mbisu)
Semua perbuatan itu yang baik maupun yang jahat, pasti akan berbalik berlipat kepada diri kita sendiri. Dan setiap kebaikan yang kita lakukan pada orang lain akan menjadi “pagar” yang mengelilingi diri kita sendiri. Sehingga kita tak bisa dicelakai orang lain, sebaliknya akan mendapat keselamatan, serta meraih ilmu kabegjan (keberuntungan) . Jika diungkapkan dalam perumpamaan, kita akan menjadi seperti bola, semakin kuat dibanting maka semakin tinggi pantulan ke atasnya.
Demikianlah sepotong pengalaman gaib yang pernah saya alami, semoga dapat menjadikan wahana komparasi, tanpa harus mengedepankan emosi dan nalar yang dangkal. Marilah kita kaji bersama, berangkat dari sikap netral, kejernihan hati dan kebeningan jiwa.
 
(Kiriman dari dari salah satu rekan dipo yang tidak mau disebutkan namanya)
 


      ___________________________________________________________________________
Dapatkan nama yang Anda sukai!
Sekarang Anda dapat memiliki email di @ymail.com dan @rocketmail.com.
http://mail.promotions.yahoo.com/newdomains/id/
Reply | Threaded
Open this post in threaded view
|  
Report Content as Inappropriate

Re: Bls: Bls: PENGALAMAN GAIB

sekar-2
In reply to this post by hera_gls20
Laaaah.... masa sih buhung...

berani menulis cerita, apakah bukan kebenaran yang diceritakan..?

kecuali sedang membuat cerita tuk menghibur,
seperti komik atau novel dan sejenisnya ....


bukankah ini cerita pengalaman...?

kan bisa sajah terjadi, keajaiban keajaiban andai Allah menghendaki..
hehehe... sesungguhnya saya juga ga ngerti,




cinta : sekar ayu





--- On Wed, 11/19/08, aira hera <[hidden email]> wrote:
From: aira hera <[hidden email]>
Subject: Bls: Bls: [Spiritual-Indonesia] PENGALAMAN GAIB
To: [hidden email]
Date: Wednesday, November 19, 2008, 2:02 AM





   

Dari: angel michael <[hidden email]>
Kepada:
 [hidden email]
Terkirim: Rabu, 19 November, 2008 08:29:00
Topik: Re: Bls: [Spiritual-Indonesia] PENGALAMAN GAIB









   
            he he he silahkan bikin kebohongan baru dan merasa benar,
yg baca melebihi hal ini akan tertawa, yang dibawahnya akan
merasa menemukan jawaban, semua fikiran punya prosesnya
sendiri, yg merasa levelnya sama dgn cerita ini merasa nah

ini gw banget...

yg merasa beda tertawa dan melihat kebohongan baru atas
nama tuhan, selalu tuhan yang dijadikan sandaran kebohongan
atas nama kebenaran itu, ada yang sadar tidak berbohong lagi
hingga mengusir jauh kata tuhan menjadi imajinasi saya, ada

yang terus menggunakan nama tuhan untuk membuat
kebohongan baru, silahkan saja he he he it's a custom world
do whatever you like as long as never hurt and kill others (^_^)



============ ========= ========









2008/11/19 aira hera <hera_gls20@yahoo. co.id>

















   
                   



Dari: mang dipo <dipo1601@yahoo. com>

Kepada: spiritual-indonesia @yahoogroups. com
Terkirim: Selasa, 18 November, 2008 22:22:00

Topik: [Spiritual-Indonesi a] PENGALAMAN GAIB









   
           
PENGALAMAN GAIB





Tulisan ini sengaja saya paparkan, tanpa niat dan maksud sedikit pun untuk unjuk diri dan wujud kesombongan. Semata-mata sekedar untuk berbagi pengalaman kepada saudara-saudara yang budiman. Saya yakin di antara para pembaca pasti ada yang memiliki pengalaman spiritual berbeda dan lebih mendalam lagi. Karena Tuhan Maha Pemurah, Maha Adil, Maha Bijak, pasti melimpahkan segala rahmat, petunjuk, kemurahan, dan mukjizat, dalam wujud yang berbeda-beda kepada manusia mahluk ciptaanNya. Tanpa kecuali, dan tanpa membedakan apapun agama dan sistem kepercayaan anda. Sehingga, apapun latar belakang agama dan kepercayaan, anda pasti memiliki dan pernah merasakan sentuhan di mana Kekuasan dan Mukjizat Tuhan terasa begitu dekat dengan diri anda.

 
TENTANG RUH
Kisah ini kualami pada saat aku masih usia 5-8 tahun. Waktu itu orang tuaku bingung dan sedih karena 3 kali dalam seminggu aku mengalami kejadian misterius. Ortu ku menuturkan, tiba-tiba aku tampak seperti orang pingsan selama 1-2 jam lamanya. Anehnya ke mana saja berobat, dokter selalu menghasilkan diagnosis yang berbeda-beda.

Pada saat diriku dianggap "pingsan" itu, apa yang sebenarnya alami sangat berbeda. Peristiwa selalu terjadi sore hari, awalnya aku mulai merasakan gejala aneh, mendengar suara teman-temanku yang sedang bermain seolah terdengar suara dalam dua dimensi. Di satu sisi aku mendengar suara mereka secara jelas di telingaku, tetapi di sisi lain aku mendengar suara-suara misterius seperti nun jauh di "sana", yang sulit aku deskripsikan. Perasaanku semakin ketakutan, lantas pulang ke rumah. Sampai di rumah aku merasa tiba-tiba pandangan gelap gulita lalu muncul ada titik sinar putih, lama-kelamaan semakin besar seperti lorong. Hanyut diriku menyusuri lorong secara cepat, kemudian tiba-tiba masuk ke dalam ruang yang maha luas, terang benderang, ibarat seperti di atas awan putih yang menghampar di langit. Di sana aku bertemu sosok laki-laki maupun perempuan yang rata-rata berusia setengah baya, dan ada tak pernah kukenal
 sebelumnya. Mereka mengajarkan sesuatu kepadaku, tentang berbagai "ilmu linuwih" maupun pengetahuan tentang sejatinya Tuhan. Anehnya, selama menyampaikan ajaran-ajaran mereka tanpa pernah menyebut dalil salah satu agama apapun sebagaimana sering dilakukan oleh penceramah agama.

Siapakah orang-orang itu ?
Kesadaranku tiba-tiba pulih, bersamaan dengan perasaan seolah diantar pulang kembali oleh orang-orang itu. Setelah sadar aku berfikir siapakah mereka ? dan pada saat peristiwa itu kembali terjadi pada diriku, aku sempat bertanya (A), "Panjenengan sinten to…?

 
Mereka menjawab (M); "Aku eyang-eyangmu dewe ngger…ojo wedi, kene kene..siro dak paringi "sipat kandel" supoyo uripmu mbesok manggih kabegjan lan antuk kamulyan sejatining urip.

A ; "Njih..sendiko eyang…dalem ngesto'aken dawuh !
M ; "Iki eyang buyutmu, aku eyang canggahmu, lan kae kabeh poro leluhurmu kang nurunake sliramu ngger…!
Dalam setiap "pertemuan" di alam "sana" beliau selalu berpesan,"Tansah-o manembah marang Gusti Ingkang Akaryo Jagad..tansah eling lan waspodo, terusno lakumu ngger…wis becik..eyang- eyangmu kabeh tansah paring donga lan pengestu marang sliramu ngger ! Ojo parang tumuleh, lakumu tansah dak jangkung lan dak jampangi.

Kemudian aku dengar beliau menyebut satu persatu nama-nama mereka, persis seperti nama-nama leluhur kami (yang sudah lama wafat) yang tersimpan dalam catatan silsilah (pohon famili) yang masih disimpan rapi oleh kedua orang tua ku.

Mengapa Mereka Tidak dalam Siksaan Tuhan ?
Konon menurut cerita orang tua kami, leluhur-leluhurku yang namanya tersebut dalam silsilah, dan pernah aku temui di dalam dimensi gaib itu, ada yang beragama Islam, ada yang non Islam. Eyang canggahku bahkan penganut kuat ajaran Kejawen. Aku mulai berfikir dan bertanya, mengapa beliau masih bisa kutemui dalam keadaan baik-baik semua ? Jika agama di dunia ini yang benar hanya satu, mengapa beliau semua tetap dalam kondisi baik. Sebab waktu itu bayanganku sebagai "anak kemarin sore" yang masih awam, jika si A tidak memeluk agama ini, itu … berarti salah dan menjadi orang tersesat, maka mereka tak akan diterima di sisi Tuhan. Tetapi kenyataannya kok demikian adanya ? Mengapa mereka yang selain agama Islam kok tidak dalam siksaan Tuhan ?

 
Pada saat peristiwa itu semakin sering terulang, kesadaranku juga semakin meningkat walaupun berada dalam dimensi "lain", tetap tak ada bedanya sebagaimana bercengkerama dengan kawan-kawan bermainku yang masih hidup. Aku dapat bertanya apa saja tentang yang gaib. Semua jawaban beliau-beliau amat sangat gamblang, jelas, tegas, sangat memuaskan dahaga spiritualku.

Lalu pada suatu waktu, sampailah saatnya "dibukakan" mata hatiku akan rahasia besar, tentang Kebesaran Tuhan, tentang Keadilan Tuhan, tentang Kebijaksanaan Tuhan. Namun dengan berat hati saya belum bisa memaparkan bagaimana rahasia besar tersebut secara rinci dan detail. Tidak bijaksana kiranya saya mengungkap rahasia besar Dzat Ilahi pada media ini, karena dapat menimbulkan fitnah. Saya terdorong untuk bersikap bijak, bisa "ngemong" bagi saudara-saudara kita yang belum cukup bekal landasan ilmu untuk memahami dengan arif dan bijaksana akan rahasia besar alam gaib. Namun demikian, secara garis besar saya pribadi dapat mengambil kesimpulan dari peristiwa yang saya alami sebagai berikut;

Betapa Tuhan itu :

LEBIH DARI MAHA ADIL




LEBIH DARI MAHA BIJAKSANA
LEBIH DARI MAHA BESAR
LEBIH DARI MAHA KUASA
LEBIH DARI MAHA KASIH DAN PENYAYANG
LEBIH DARI MAHA LEMBUT
LEBIH DARI MAHA PEMURAH

 
Akhirnya, sampailah saya sampai pada pemahaman:

ALANGKAH DAMAINYA DUNIA INI




JIKA SEMUA ORANG MENGALAMI SAMA DENGAN APA YANG PERNAH SAYA ALAMI
JIKA TUHAN MEMBERI KESEMPATAN KEPADA SELURUH MANUSIA
UNTUK MELIHAT RAHASIA KEKUASAAN"NYA"
PASTI LAH TAK KAN ADA LAGI PERANG ANTAR AGAMA
TAK KAN ADA LAGI DEBAT KUSIR SIAPA SEJATINYA TUHAN
TAK KAN ADA LAGI RASA KEBENCIAN DAN PERMUSUHAN ANTAR AGAMA
TAK KAN ADA LAGI SALING CURIGA DI ANTARA UMAT
 
SAYA TELAH MENDAPATKAN PEMAHAMAN YANG AMAT SANGAT BERHARGA,
BETAPA TUHAN ITU LEBIH DARI MAHA SEGALANYA
DARI SEMUA WUJUD KE-MAHA-AN TUHAN
YANG TERTULIS DI DALAM KITAB SUCI DAN AGAMA MANA PUN
 



Sasmita Gaib
 

Peristiwa gaib itu lantas berhenti sejak aku berusia 8 tahun. Pada saat remaja kehidupanku sangat berbeda dengan teman-teman. Orang tuanku guru SD, enam bersaudara semua sekolah. Maklum jika kemudian orang tua gajinya minus, sekalipun sudah bekerja sambilan freeland, sebagai petani. Kubantu orang tua bekerja keras di sawah hingga aku beranjak kuliah di UGM. Dengan susah payah kuselesaikan S1 walaupun aku harus menanam pohon pisang banyak-banyak di tanah kering pinggir sungai agar supaya bisa ku jual setiap seminggu satu tandan pisang untuk beaya kuliah. Ternyata belum mencukupi kebutuhan kuliahku juga, sehingga aku tetap harus makan sekali sehari selama 7 tahun sejak kelas 2 SMA.

Sejak 5 tahun yang lalu, peristiwa itu menghampiriku kembali beberapa kali, tetapi kali ini aku diajarkan tentang ilmu meraga sukma atau lolos sukma. Bagi orang Jawa ilmu ini sudah tak asing lagi. Sebuah ilmu untuk memisahkan badan halus kita dengan badan kasar. Badan halus kita keluar dari badan kasar, selanjutnya dapat melanglang jagad raya menembus dimensi gaib. Aku semakin dapat membuktikan sendiri apa yang pernah diajarkan oleh leluhurku di alam "sana". Kutemukan ternyata adalah perbedaan dimensi gaibnya para setan, demit, jin priprayangan, siluman yang suasananya serba bau tak sedap, anyir, gelap remang-remang, lembab, basah, licin dan terdapat aneka ragam rupa bentuk mahluk Tuhan yang menyeramkan. Kudapatkan pula ternyata dimensi gaibnya para leluhur berbeda dengan dimensi gaibnya setan, demit brekasakan.

Sungguh berbanding terbalik, ruh para leluhur berada dalam dimensi yang serba indah, menyenangkan dan nyaman serasa aku tak ingin kembali lagi ke dalam badan kasarku lagi. Para ruh berkelompok- kelompok dalam keluarga besar, menempati "rumah-rumah" yang indah, ada yang besar ada yang sedang, ada yang kecil, bentuknya benar-benar tak bisa dilukiskan dengan kata-kata. Adalah sebuah rahasia, bahwa semua jenis mahluk halus sebangsa jin jahat, setan, demit, siluman dsb ternyata tidak dapat masuk ke dalam dimensi ruh yang suci. Sehingga di dalam dimensi gaibnya ruh tak ditemukan satupun adanya mahluk halus jenis demit, jin, setan, siluman dsb.

Jenis makhluk halus tersebut berada dalam dimensi gaib-nya (metafisik) bumi, yang lebih dekat dengan dimensi fisik manusia. Tetapi, badan halus yang tak lain adalah ruh kita, guru sejati kita, dapat merasuk ke dalam dimensi gaib-nya jin setan, atau dimensi gaibnya para leluhur, tergantung mana yang kita kehendaki.

Aku pernah bertemu dengan beberapa leluhur agung masa lampau, mereka berkisah tentang sejarah bumi nusantara yang sebenarnya. Dalam alam ruh tak kutemukan kebohongan, kepalsuan, angkara, yang ada hanyalah kejujuran dan semua kebaikan. Tersibaklah kepalsuan dan kebohongan duniawi secara lugas (tanpa tedeng aling-aling). Untuk membuktikan semua ini pernah kulakukan kroscek kepada seseorang (yang masih hidup) tentang apa yang dia alami waktu kecil, ajaran apa yang menjadi pegangan hidup sewaktu dewasa, falsafah apa yang dia kuasai, dan ternyata tepat sekali kejadiannya. Padahal yang bersangkutan sebelumnya tak pernah bercerita apa-apa tentang hal itu.

Untuk bertemu ruh leluhur yang diinginkan kadang dengan mudah dapat segera bertemu. Kadang sulit sekali bertemu. Aku sadari bahwa semua ini atas berkat izin Tuhan Yang Maha Kuasa, terasa semakin kecil kedirian ini ketika dihadapkan pada Kebesaran Tuhan yang sungguh dahsyat. Aku pernah mencoba untuk bertemu dengan tokoh dalam "dunia hitam" era tahun 1980-1990an yang telah mati. Namun sulit untuk dapat bertemu, karena ia telah berada di alam pembalasan. Ada ruh yang semasa hidupnya saya kenal dengan baik, ia memiliki tabiat mulia, dan berbudi luhur, ia sedikit bercerita bagaimana ia pernah menjalani hukuman di alam pembalasan kurang lebih jika dikonversi dengan waktu bumi adalah 11 tahun lamanya.

Bimbingan dan Wejangan Gaib
Tepatnya lima tahun yang lalu, sejak aku mengenal berbagai ruang atau dimensi gaib, mata telanjangku sepertinya menjadi semakin awas melihat yang gaib tanpa harus melakukan "lolos sukma". Pandanganku pada obyek gaib semakin nampak jelas. Tampak secara jelas siapa leluhur yang sedang rawuh. Aku sangat bersyukur kepada Tuhan YME, karena telah memberiku anugerah hakikat pengetahuan sejati. Aku semakin intens "bertemu" secara langsung dengan para leluhur agung, ada yang bekas pemimpin, ada yang ratu gung binatoro, bahkan Kanjeng Ratu Kidul yang biasa dipahami secara negatif, beliau bukanlah dari bangsa jin, setan, siluman. Tetapi dari entitas bidadari sehingga ajarannya begitu luhur, dia sungguh sebagai sosok ratu "gaib" yang arif bijaksana, dan sangat religius, melebihi rata-rata religiusitas manusia. Para leluhur itu, banyak memberikan wejangan dan bimbingan
 spiritual tanpa pernah mempersoalkan apa agamaku. Lebih dahsyat lagi, pernah bertemu dengan para leluhur yang semuanya dalam kondisi sangat baik, padahal beliau memiliki latar belakang agama yang berbeda-beda seperti yang ada di nusantara ini.

 
Pesan dari para leluhur, yang kiranya etis aku sampaikan di ruang publik ini, adalah sebagai berikut;
Untuk meraih kemuliaan sejati (kamulyan sejati/syurga);
1. harus selalu ingat dan tunduk kepada Tuhan
2. tak boleh menyakiti hati dan mencelakai orang lain
3. hati tak boleh kotor dengan rasa iri dan kebencian
4. ringan menolong orang susah, tanpa pamrih dan jangan takabur (tapa ngrame)
5. sedekahlah (donodriyah) ; yang paling tinggi nilainya di hadapan Tuhan adalah sedekah materi, kedua sedekah tenaga, ketiga sedekah tutur-kata yang baik, keempat yang paling rendah nilainya adalah sedekah doa.

6. ikhlas setinggi-tingginya, yakni keikhlasan yang dapat diumpamakan dengan orang buang hajad besar
7. jangan ikuti "air bah" yang suka menerjang aturan dan hakekat kemanusiaan, tetapi ikutilah "aliran air sungai" atau tapa ngeli (mengikuti kehendak Tuhan) agar mencapai pada muara keberuntungan kemudian masuk ke dalam lautan kemuliaan hidup.

8. jika kamu berbuat baik pada orang lain, jangan harapkan balasannya, sekalipun kamu dibalas dengan kejahatan. Sebaliknya bertransaksilah dengan Tuhan, jangan dengan orang itu, sebab transaksi dengan Tuhan akan mendatangkan kebaikan yang berlipat ganda untuk diri kita sendiri melalui banyak orang disekitarmu. Intinya, jangan sekali-kali kamu membangkit atau mengungkit-ungkit kebaikan yang pernah kamu lakukan pada orang lain, tetapi kuburlah kebaikan dalam-dalam hingga kamu lupa (tapa mendhem)

9. anugerah agung itu tak ada yang gratis, semua memakai "uang tebusan" berupa keprihatinan, dan penderitaan. Penderitaan dan keprihatinan yang kamu jalani dengan ikhlas dan legowo itu sesungguhnya akan menjadi tabungan "uang tebusan" yang akan ditukar dengan anugrah. Semakin besar penderitaan, semakin besar anugrah yang telah disiapkan Tuhan untuk mu. Maka dalam penderitaan kamu jangan suka grenengan, grundelan, karena tindakan itu hanya akan menghapus tabungan "uang tebusan" mu. Penderitaan yang telah kamu jalani sekian lama hanya menjadi sia-sia, kamu tak kan memperoleh apa-apa darinya kecuali penderitaan itu saja. (tapa mbisu)

Semua perbuatan itu yang baik maupun yang jahat, pasti akan berbalik berlipat kepada diri kita sendiri. Dan setiap kebaikan yang kita lakukan pada orang lain akan menjadi "pagar" yang mengelilingi diri kita sendiri. Sehingga kita tak bisa dicelakai orang lain, sebaliknya akan mendapat keselamatan, serta meraih ilmu kabegjan (keberuntungan) . Jika diungkapkan dalam perumpamaan, kita akan menjadi seperti bola, semakin kuat dibanting maka semakin tinggi pantulan ke atasnya.

Demikianlah sepotong pengalaman gaib yang pernah saya alami, semoga dapat menjadikan wahana komparasi, tanpa harus mengedepankan emosi dan nalar yang dangkal. Marilah kita kaji bersama, berangkat dari sikap netral, kejernihan hati dan kebeningan jiwa.

 
(Kiriman dari dari salah satu rekan dipo yang tidak mau disebutkan namanya)


     
     


       
       

        Dapatkan alamat Email baru Anda!  

Dapatkan nama yang selalu Anda inginkan sebelum diambil orang lain!
     

   
   
       
       
       
       


       


       
       
       
       
       




     


       
       

        Yahoo! sekarang memiliki alamat Email baru  
 Dapatkan nama yang selalu Anda inginkan di domain baru @ymail dan @rocketmail. br>
Cepat sebelum diambil orang lain!




     
Reply | Threaded
Open this post in threaded view
|  
Report Content as Inappropriate

Re: Bls: Bls: PENGALAMAN GAIB

Frans J Santoso

  [:)]  aku ngerti koq  [:p]

cinta  [:*]

-- In [hidden email], Delima Sekar Arum
<delimasekararum@...> wrote:

> hehehe... sesungguhnya saya juga ga ngerti,
>
> cinta : sekar ayu


Reply | Threaded
Open this post in threaded view
|  
Report Content as Inappropriate

Re: Bls: Bls: PENGALAMAN GAIB

sekar-2
 hehe Lucu...




cinta : sekar ayu

--- On Wed, 11/19/08, Frans J Santoso <[hidden email]> wrote:
From: Frans J Santoso <[hidden email]>
Subject: Re: Bls: Bls: [Spiritual-Indonesia] PENGALAMAN GAIB
To: [hidden email]
Date: Wednesday, November 19, 2008, 5:48 AM









 aku ngerti koq
cinta
-- In [hidden email], Delima Sekar Arum <delimasekararum@...> wrote:

> hehehe... sesungguhnya saya juga ga ngerti,

> cinta : sekar ayu






     
Reply | Threaded
Open this post in threaded view
|  
Report Content as Inappropriate

Re: PENGALAMAN GAIB

kanthi_asih
In reply to this post by Mas Dipo
matur nuwun, Mang Dipo.

salam hangat....



--- In [hidden email], mang dipo <dipo1601@...>
wrote:
>
> PENGALAMAN GAIB
> TENTANG RUH
> Tulisan ini sengaja saya paparkan, tanpa niat dan maksud sedikit
pun untuk unjuk diri dan wujud kesombongan. Semata-mata sekedar untuk
berbagi pengalaman kepada saudara-saudara yang budiman. Saya yakin di
antara para pembaca pasti ada yang memiliki pengalaman spiritual
berbeda dan lebih mendalam lagi. Karena Tuhan Maha Pemurah, Maha
Adil, Maha Bijak, pasti melimpahkan segala rahmat, petunjuk,
kemurahan, dan mukjizat, dalam wujud yang berbeda-beda kepada manusia
mahluk ciptaanNya. Tanpa kecuali, dan tanpa membedakan apapun agama
dan sistem kepercayaan anda. Sehingga, apapun latar belakang agama
dan kepercayaan, anda pasti memiliki dan pernah merasakan sentuhan di
mana Kekuasan dan Mukjizat Tuhan terasa begitu dekat dengan diri anda.
>  
> Kisah ini kualami pada saat aku masih usia 5-8 tahun. Waktu itu
orang tuaku bingung dan sedih karena 3 kali dalam seminggu aku
mengalami kejadian misterius. Ortu ku menuturkan, tiba-tiba aku
tampak seperti orang pingsan selama 1-2 jam lamanya. Anehnya ke mana
saja berobat, dokter selalu menghasilkan diagnosis yang berbeda-beda.
> Pada saat diriku dianggap "pingsan" itu, apa yang sebenarnya alami
sangat berbeda. Peristiwa selalu terjadi sore hari, awalnya aku mulai
merasakan gejala aneh, mendengar suara teman-temanku yang sedang
bermain seolah terdengar suara dalam dua dimensi. Di satu sisi aku
mendengar suara mereka secara jelas di telingaku, tetapi di sisi lain
aku mendengar suara-suara misterius seperti nun jauh di "sana", yang
sulit aku deskripsikan. Perasaanku semakin ketakutan, lantas pulang
ke rumah. Sampai di rumah aku merasa tiba-tiba pandangan gelap gulita
lalu muncul ada titik sinar putih, lama-kelamaan semakin besar
seperti lorong. Hanyut diriku menyusuri lorong secara cepat, kemudian
tiba-tiba masuk ke dalam ruang yang maha luas, terang benderang,
ibarat seperti di atas awan putih yang menghampar di langit. Di sana
aku bertemu sosok laki-laki maupun perempuan yang rata-rata berusia
setengah baya, dan ada tak pernah kukenal sebelumnya. Mereka
mengajarkan
>  sesuatu kepadaku, tentang berbagai "ilmu linuwih" maupun
pengetahuan tentang sejatinya Tuhan. Anehnya, selama menyampaikan
ajaran-ajaran mereka tanpa pernah menyebut dalil salah satu agama
apapun sebagaimana sering dilakukan oleh penceramah agama.
> Siapakah orang-orang itu ?
> Kesadaranku tiba-tiba pulih, bersamaan dengan perasaan seolah
diantar pulang kembali oleh orang-orang itu. Setelah sadar aku
berfikir siapakah mereka ? dan pada saat peristiwa itu kembali
terjadi pada diriku, aku sempat bertanya (A), "Panjenengan sinten to…?
>  
> Mereka menjawab (M);"Aku eyang-eyangmu dewe ngger…ojo wedi, kene
kene..siro dak paringi "sipat kandel" supoyo uripmu mbesok manggih
kabegjan lan antuk kamulyan sejatining urip.
> A ; "Njih..sendiko eyang…dalem ngesto'aken dawuh !
> M ; "Iki eyang buyutmu, aku eyang canggahmu, lan kae kabeh poro
leluhurmu kang nurunake sliramu ngger…!
> Dalam setiap "pertemuan" di alam "sana" beliau selalu
berpesan,"Tansah-o manembah marang Gusti Ingkang Akaryo Jagad..tansah
eling lan waspodo, terusno lakumu ngger…wis becik..eyang-eyangmu
kabeh tansah paring donga lan pengestu marang sliramu ngger ! Ojo
parang tumuleh, lakumu tansah dak jangkung lan dak jampangi.
> Kemudian aku dengar beliau menyebut satu persatu nama-nama mereka,
persis seperti nama-nama leluhur kami (yang sudah lama wafat) yang
tersimpan dalam catatan silsilah (pohon famili) yang masih disimpan
rapi oleh kedua orang tua ku.
> Mengapa Mereka Tidak dalam Siksaan Tuhan ?
> Konon menurut cerita orang tua kami, leluhur-leluhurku yang namanya
tersebut dalam silsilah, dan pernah aku temui di dalam dimensi gaib
itu, ada yang beragama Islam, ada yang non Islam. Eyang canggahku
bahkan penganut kuat ajaran Kejawen. Aku mulai berfikir dan bertanya,
mengapa beliau masih bisa kutemui dalam keadaan baik-baik semua ?
Jika agama di dunia ini yang benar hanya satu, mengapa beliau semua
tetap dalam kondisi baik. Sebab waktu itu bayanganku sebagai "anak
kemarin sore" yang masih awam, jika si A tidak memeluk agama ini, itu
… berarti salah dan menjadi orang tersesat, maka mereka tak akan
diterima di sisi Tuhan. Tetapi kenyataannya kok demikian adanya ?
Mengapa mereka yang selain agama Islam kok tidak dalam siksaan Tuhan ?
>  
> Pada saat peristiwa itu semakin sering terulang, kesadaranku juga
semakin meningkat walaupun berada dalam dimensi "lain", tetap tak ada
bedanya sebagaimana bercengkerama dengan kawan-kawan bermainku yang
masih hidup. Aku dapat bertanya apa saja tentang yang gaib. Semua
jawaban beliau-beliau amat sangat gamblang, jelas, tegas, sangat
memuaskan dahaga spiritualku.
> Lalu pada suatu waktu, sampailah saatnya "dibukakan" mata hatiku
akan rahasia besar, tentang Kebesaran Tuhan, tentang Keadilan Tuhan,
tentang Kebijaksanaan Tuhan. Namun dengan berat hati saya belum bisa
memaparkan bagaimana rahasia besar tersebut secara rinci dan detail.
Tidak bijaksana kiranya saya mengungkap rahasia besar Dzat Ilahi pada
media ini, karena dapat menimbulkan fitnah. Saya terdorong untuk
bersikap bijak, bisa "ngemong" bagi saudara-saudara kita yang belum
cukup bekal landasan ilmu untuk memahami dengan arif dan bijaksana
akan rahasia besar alam gaib. Namun demikian, secara garis besar saya
pribadi dapat mengambil kesimpulan dari peristiwa yang saya alami
sebagai berikut;

> Betapa Tuhan itu :
> LEBIH DARI MAHA ADIL
> LEBIH DARI MAHA BIJAKSANA
> LEBIH DARI MAHA BESAR
> LEBIH DARI MAHA KUASA
> LEBIH DARI MAHA KASIH DAN PENYAYANG
> LEBIH DARI MAHA LEMBUT
> LEBIH DARI MAHA PEMURAH
>  
> Akhirnya, sampailah saya sampai pada pemahaman:
> ALANGKAH DAMAINYA DUNIA INI
> JIKA SEMUA ORANG MENGALAMI SAMA DENGAN APA YANG PERNAH SAYA ALAMI
> JIKA TUHAN MEMBERI KESEMPATAN KEPADA SELURUH MANUSIA
> UNTUK MELIHAT RAHASIA KEKUASAAN"NYA"
> PASTI LAH TAK KAN ADA LAGI PERANG ANTAR AGAMA
> TAK KAN ADA LAGI DEBAT KUSIR SIAPA SEJATINYA TUHAN
> TAK KAN ADA LAGI RASA KEBENCIAN DAN PERMUSUHAN ANTAR AGAMA
> TAK KAN ADA LAGI SALING CURIGA DI ANTARA UMAT
>  
> SAYA TELAH MENDAPATKAN PEMAHAMAN YANG AMAT SANGAT BERHARGA,
> BETAPA TUHAN ITU LEBIH DARI MAHA SEGALANYA
> DARI SEMUA WUJUD KE-MAHA-AN TUHAN
> YANG TERTULIS DI DALAM KITAB SUCI DAN AGAMA MANA PUN
>  
> Sasmita Gaib
>  
> Peristiwa gaib itu lantas berhenti sejak aku berusia 8 tahun. Pada
saat remaja kehidupanku sangat berbeda dengan teman-teman. Orang
tuanku guru SD, enam bersaudara semua sekolah. Maklum jika kemudian
orang tua gajinya minus, sekalipun sudah bekerja sambilan freeland,
sebagai petani. Kubantu orang tua bekerja keras di sawah hingga aku
beranjak kuliah di UGM. Dengan susah payah kuselesaikan S1 walaupun
aku harus menanam pohon pisang banyak-banyak di tanah kering pinggir
sungai agar supaya bisa ku jual setiap seminggu satu tandan pisang
untuk beaya kuliah. Ternyata belum mencukupi kebutuhan kuliahku juga,
sehingga aku tetap harus makan sekali sehari selama 7 tahun sejak
kelas 2 SMA.
> Sejak 5 tahun yang lalu, peristiwa itu menghampiriku kembali
beberapa kali, tetapi kali ini aku diajarkan tentang ilmu meraga
sukma atau lolos sukma. Bagi orang Jawa ilmu ini sudah tak asing
lagi. Sebuah ilmu untuk memisahkan badan halus kita dengan badan
kasar. Badan halus kita keluar dari badan kasar, selanjutnya dapat
melanglang jagad raya menembus dimensi gaib. Aku semakin dapat
membuktikan sendiri apa yang pernah diajarkan oleh leluhurku di
alam "sana". Kutemukan ternyata adalah perbedaan dimensi gaibnya para
setan, demit, jin priprayangan, siluman yang suasananya serba bau tak
sedap, anyir, gelap remang-remang, lembab, basah, licin dan terdapat
aneka ragam rupa bentuk mahluk Tuhan yang menyeramkan. Kudapatkan
pula ternyata dimensi gaibnya para leluhur berbeda dengan dimensi
gaibnya setan, demit brekasakan.
> Sungguh berbanding terbalik, ruh para leluhur berada dalam dimensi
yang serba indah, menyenangkan dan nyaman serasa aku tak ingin
kembali lagi ke dalam badan kasarku lagi. Para ruh berkelompok-
kelompok dalam keluarga besar, menempati "rumah-rumah" yang indah,
ada yang besar ada yang sedang, ada yang kecil, bentuknya benar-benar
tak bisa dilukiskan dengan kata-kata. Adalah sebuah rahasia, bahwa
semua jenis mahluk halus sebangsa jin jahat, setan, demit, siluman
dsb ternyata tidak dapat masuk ke dalam dimensi ruh yang suci.
Sehingga di dalam dimensi gaibnya ruh tak ditemukan satupun adanya
mahluk halus jenis demit, jin, setan, siluman dsb.
> Jenis makhluk halus tersebut berada dalam dimensi gaib-nya
(metafisik) bumi, yang lebih dekat dengan dimensi fisik manusia.
Tetapi, badan halus yang tak lain adalah ruh kita, guru sejati kita,
dapat merasuk ke dalam dimensi gaib-nya jin setan, atau dimensi
gaibnya para leluhur, tergantung mana yang kita kehendaki.
> Aku pernah bertemu dengan beberapa leluhur agung masa lampau,
mereka berkisah tentang sejarah bumi nusantara yang sebenarnya. Dalam
alam ruh tak kutemukan kebohongan, kepalsuan, angkara, yang ada
hanyalah kejujuran dan semua kebaikan. Tersibaklah kepalsuan dan
kebohongan duniawi secara lugas (tanpa tedeng aling-aling). Untuk
membuktikan semua ini pernah kulakukan kroscek kepada seseorang (yang
masih hidup) tentang apa yang dia alami waktu kecil, ajaran apa yang
menjadi pegangan hidup sewaktu dewasa, falsafah apa yang dia kuasai,
dan ternyata tepat sekali kejadiannya. Padahal yang bersangkutan
sebelumnya tak pernah bercerita apa-apa tentang hal itu.
> Untuk bertemu ruh leluhur yang diinginkan kadang dengan mudah dapat
segera bertemu. Kadang sulit sekali bertemu. Aku sadari bahwa semua
ini atas berkat izin Tuhan Yang Maha Kuasa, terasa semakin kecil
kedirian ini ketika dihadapkan pada Kebesaran Tuhan yang sungguh
dahsyat. Aku pernah mencoba untuk bertemu dengan tokoh dalam "dunia
hitam" era tahun 1980-1990an yang telah mati. Namun sulit untuk dapat
bertemu, karena ia telah berada di alam pembalasan. Ada ruh yang
semasa hidupnya saya kenal dengan baik, ia memiliki tabiat mulia, dan
berbudi luhur, ia sedikit bercerita bagaimana ia pernah menjalani
hukuman di alam pembalasan kurang lebih jika dikonversi dengan waktu
bumi adalah 11 tahun lamanya.
> Bimbingan dan Wejangan Gaib
> Tepatnya lima tahun yang lalu, sejak aku mengenal berbagai ruang
atau dimensi gaib, mata telanjangku sepertinya menjadi semakin awas
melihat yang gaib tanpa harus melakukan "lolos sukma". Pandanganku
pada obyek gaib semakin nampak jelas. Tampak secara jelas siapa
leluhur yang sedang rawuh. Aku sangat bersyukur kepada Tuhan YME,
karena telah memberiku anugerah hakikat pengetahuan sejati. Aku
semakin intens "bertemu" secara langsung dengan para leluhur agung,
ada yang bekas pemimpin, ada yang ratu gung binatoro, bahkan Kanjeng
Ratu Kidul yang biasa dipahami secara negatif, beliau bukanlah dari
bangsa jin, setan, siluman. Tetapi dari entitas bidadari sehingga
ajarannya begitu luhur, dia sungguh sebagai sosok ratu "gaib" yang
arif bijaksana, dan sangat religius, melebihi rata-rata religiusitas
manusia. Para leluhur itu, banyak memberikan wejangan dan bimbingan
spiritual tanpa pernah mempersoalkan apa agamaku. Lebih dahsyat lagi,
pernah bertemu
>  dengan para leluhur yang semuanya dalam kondisi sangat baik,
padahal beliau memiliki latar belakang agama yang berbeda-beda
seperti yang ada di nusantara ini.
>  
> Pesan dari para leluhur, yang kiranya etis aku sampaikan di ruang
publik ini, adalah sebagai berikut;
> Untuk meraih kemuliaan sejati (kamulyan sejati/syurga);
> 1. harus selalu ingat dan tunduk kepada Tuhan
> 2. tak boleh menyakiti hati dan mencelakai orang lain
> 3. hati tak boleh kotor dengan rasa iri dan kebencian
> 4. ringan menolong orang susah, tanpa pamrih dan jangan takabur
(tapa ngrame)
> 5. sedekahlah (donodriyah) ; yang paling tinggi nilainya di hadapan
Tuhan adalah sedekah materi, kedua sedekah tenaga, ketiga sedekah
tutur-kata yang baik, keempat yang paling rendah nilainya adalah
sedekah doa.
> 6. ikhlas setinggi-tingginya, yakni keikhlasan yang dapat
diumpamakan dengan orang buang hajad besar
> 7. jangan ikuti "air bah" yang suka menerjang aturan dan hakekat
kemanusiaan, tetapi ikutilah "aliran air sungai" atau tapa ngeli
(mengikuti kehendak Tuhan) agar mencapai pada muara keberuntungan
kemudian masuk ke dalam lautan kemuliaan hidup.
> 8. jika kamu berbuat baik pada orang lain, jangan harapkan
balasannya, sekalipun kamu dibalas dengan kejahatan. Sebaliknya
bertransaksilah dengan Tuhan, jangan dengan orang itu, sebab
transaksi dengan Tuhan akan mendatangkan kebaikan yang berlipat ganda
untuk diri kita sendiri melalui banyak orang disekitarmu. Intinya,
jangan sekali-kali kamu membangkit atau mengungkit-ungkit kebaikan
yang pernah kamu lakukan pada orang lain, tetapi kuburlah kebaikan
dalam-dalam hingga kamu lupa (tapa mendhem)
> 9. anugerah agung itu tak ada yang gratis, semua memakai "uang
tebusan" berupa keprihatinan, dan penderitaan. Penderitaan dan
keprihatinan yang kamu jalani dengan ikhlas dan legowo itu
sesungguhnya akan menjadi tabungan "uang tebusan" yang akan ditukar
dengan anugrah. Semakin besar penderitaan, semakin besar anugrah yang
telah disiapkan Tuhan untuk mu. Maka dalam penderitaan kamu jangan
suka grenengan, grundelan, karena tindakan itu hanya akan menghapus
tabungan "uang tebusan" mu. Penderitaan yang telah kamu jalani sekian
lama hanya menjadi sia-sia, kamu tak kan memperoleh apa-apa darinya
kecuali penderitaan itu saja. (tapa mbisu)
> Semua perbuatan itu yang baik maupun yang jahat, pasti akan
berbalik berlipat kepada diri kita sendiri. Dan setiap kebaikan yang
kita lakukan pada orang lain akan menjadi "pagar" yang mengelilingi
diri kita sendiri. Sehingga kita tak bisa dicelakai orang lain,
sebaliknya akan mendapat keselamatan, serta meraih ilmu kabegjan
(keberuntungan). Jika diungkapkan dalam perumpamaan, kita akan
menjadi seperti bola, semakin kuat dibanting maka semakin tinggi
pantulan ke atasnya.
> Demikianlah sepotong pengalaman gaib yang pernah saya alami, semoga
dapat menjadikan wahana komparasi, tanpa harus mengedepankan emosi
dan nalar yang dangkal. Marilah kita kaji bersama, berangkat dari
sikap netral, kejernihan hati dan kebeningan jiwa.
>  
> (Kiriman dari dari salah satu rekan dipo yang tidak mau disebutkan
namanya)
>


Reply | Threaded
Open this post in threaded view
|  
Report Content as Inappropriate

Re: Bls: Bls: PENGALAMAN GAIB

kanthi_asih
In reply to this post by sekar-2
idih, kok pake dibahas, lho....
lha mbok ya biar ...

ihiiik....


--- In [hidden email], Delima Sekar Arum
<delimasekararum@...> wrote:

>
> Laaaah.... masa sih buhung...
>
> berani menulis cerita, apakah bukan kebenaran yang diceritakan..?
>
> kecuali sedang membuat cerita tuk menghibur,
> seperti komik atau novel dan sejenisnya ....
>
>
> bukankah ini cerita pengalaman...?
>
> kan bisa sajah terjadi, keajaiban keajaiban andai Allah
menghendaki..

> hehehe... sesungguhnya saya juga ga ngerti,
>
>
>
>
> cinta : sekar ayu
>
>
>
>
>
> --- On Wed, 11/19/08, aira hera <hera_gls20@...> wrote:
> From: aira hera <hera_gls20@...>
> Subject: Bls: Bls: [Spiritual-Indonesia] PENGALAMAN GAIB
> To: [hidden email]
> Date: Wednesday, November 19, 2008, 2:02 AM
>
>
>
>
>
>    
>
> Dari: angel michael <angelmichael69@...>
> Kepada:
>  [hidden email]
> Terkirim: Rabu, 19 November, 2008 08:29:00
> Topik: Re: Bls: [Spiritual-Indonesia] PENGALAMAN GAIB
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>    
>             he he he silahkan bikin kebohongan baru dan merasa
benar,

> yg baca melebihi hal ini akan tertawa, yang dibawahnya akan
> merasa menemukan jawaban, semua fikiran punya prosesnya
> sendiri, yg merasa levelnya sama dgn cerita ini merasa nah
>
> ini gw banget...
>
> yg merasa beda tertawa dan melihat kebohongan baru atas
> nama tuhan, selalu tuhan yang dijadikan sandaran kebohongan
> atas nama kebenaran itu, ada yang sadar tidak berbohong lagi
> hingga mengusir jauh kata tuhan menjadi imajinasi saya, ada
>
> yang terus menggunakan nama tuhan untuk membuat
> kebohongan baru, silahkan saja he he he it's a custom world
> do whatever you like as long as never hurt and kill others (^_^)
>
>
>
> ============ ========= ========
>
>
>
>
>
>
>
>
>
> 2008/11/19 aira hera <hera_gls20@yahoo. co.id>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>    
>                    
>
>
>
> Dari: mang dipo <dipo1601@yahoo. com>
>
> Kepada: spiritual-indonesia @yahoogroups. com
> Terkirim: Selasa, 18 November, 2008 22:22:00
>
> Topik: [Spiritual-Indonesi a] PENGALAMAN GAIB
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>    
>            
> PENGALAMAN GAIB
>
>
>
>
>
> Tulisan ini sengaja saya paparkan, tanpa niat dan maksud sedikit
pun untuk unjuk diri dan wujud kesombongan. Semata-mata sekedar untuk
berbagi pengalaman kepada saudara-saudara yang budiman. Saya yakin di
antara para pembaca pasti ada yang memiliki pengalaman spiritual
berbeda dan lebih mendalam lagi. Karena Tuhan Maha Pemurah, Maha
Adil, Maha Bijak, pasti melimpahkan segala rahmat, petunjuk,
kemurahan, dan mukjizat, dalam wujud yang berbeda-beda kepada manusia
mahluk ciptaanNya. Tanpa kecuali, dan tanpa membedakan apapun agama
dan sistem kepercayaan anda. Sehingga, apapun latar belakang agama
dan kepercayaan, anda pasti memiliki dan pernah merasakan sentuhan di
mana Kekuasan dan Mukjizat Tuhan terasa begitu dekat dengan diri anda.
>
>  
> TENTANG RUH
> Kisah ini kualami pada saat aku masih usia 5-8 tahun. Waktu itu
orang tuaku bingung dan sedih karena 3 kali dalam seminggu aku
mengalami kejadian misterius. Ortu ku menuturkan, tiba-tiba aku
tampak seperti orang pingsan selama 1-2 jam lamanya. Anehnya ke mana
saja berobat, dokter selalu menghasilkan diagnosis yang berbeda-beda.
>
> Pada saat diriku dianggap "pingsan" itu, apa yang sebenarnya alami
sangat berbeda. Peristiwa selalu terjadi sore hari, awalnya aku mulai
merasakan gejala aneh, mendengar suara teman-temanku yang sedang
bermain seolah terdengar suara dalam dua dimensi. Di satu sisi aku
mendengar suara mereka secara jelas di telingaku, tetapi di sisi lain
aku mendengar suara-suara misterius seperti nun jauh di "sana", yang
sulit aku deskripsikan. Perasaanku semakin ketakutan, lantas pulang
ke rumah. Sampai di rumah aku merasa tiba-tiba pandangan gelap gulita
lalu muncul ada titik sinar putih, lama-kelamaan semakin besar
seperti lorong. Hanyut diriku menyusuri lorong secara cepat, kemudian
tiba-tiba masuk ke dalam ruang yang maha luas, terang benderang,
ibarat seperti di atas awan putih yang menghampar di langit. Di sana
aku bertemu sosok laki-laki maupun perempuan yang rata-rata berusia
setengah baya, dan ada tak pernah kukenal
>  sebelumnya. Mereka mengajarkan sesuatu kepadaku, tentang
berbagai "ilmu linuwih" maupun pengetahuan tentang sejatinya Tuhan.
Anehnya, selama menyampaikan ajaran-ajaran mereka tanpa pernah
menyebut dalil salah satu agama apapun sebagaimana sering dilakukan
oleh penceramah agama.
>
> Siapakah orang-orang itu ?
> Kesadaranku tiba-tiba pulih, bersamaan dengan perasaan seolah
diantar pulang kembali oleh orang-orang itu. Setelah sadar aku
berfikir siapakah mereka ? dan pada saat peristiwa itu kembali
terjadi pada diriku, aku sempat bertanya (A), "Panjenengan sinten to…?
>
>  
> Mereka menjawab (M); "Aku eyang-eyangmu dewe ngger…ojo wedi, kene
kene..siro dak paringi "sipat kandel" supoyo uripmu mbesok manggih
kabegjan lan antuk kamulyan sejatining urip.
>
> A ; "Njih..sendiko eyang…dalem ngesto'aken dawuh !
> M ; "Iki eyang buyutmu, aku eyang canggahmu, lan kae kabeh poro
leluhurmu kang nurunake sliramu ngger…!
> Dalam setiap "pertemuan" di alam "sana" beliau selalu
berpesan,"Tansah-o manembah marang Gusti Ingkang Akaryo Jagad..tansah
eling lan waspodo, terusno lakumu ngger…wis becik..eyang- eyangmu
kabeh tansah paring donga lan pengestu marang sliramu ngger ! Ojo
parang tumuleh, lakumu tansah dak jangkung lan dak jampangi.
>
> Kemudian aku dengar beliau menyebut satu persatu nama-nama mereka,
persis seperti nama-nama leluhur kami (yang sudah lama wafat) yang
tersimpan dalam catatan silsilah (pohon famili) yang masih disimpan
rapi oleh kedua orang tua ku.
>
> Mengapa Mereka Tidak dalam Siksaan Tuhan ?
> Konon menurut cerita orang tua kami, leluhur-leluhurku yang namanya
tersebut dalam silsilah, dan pernah aku temui di dalam dimensi gaib
itu, ada yang beragama Islam, ada yang non Islam. Eyang canggahku
bahkan penganut kuat ajaran Kejawen. Aku mulai berfikir dan bertanya,
mengapa beliau masih bisa kutemui dalam keadaan baik-baik semua ?
Jika agama di dunia ini yang benar hanya satu, mengapa beliau semua
tetap dalam kondisi baik. Sebab waktu itu bayanganku sebagai "anak
kemarin sore" yang masih awam, jika si A tidak memeluk agama ini, itu
… berarti salah dan menjadi orang tersesat, maka mereka tak akan
diterima di sisi Tuhan. Tetapi kenyataannya kok demikian adanya ?
Mengapa mereka yang selain agama Islam kok tidak dalam siksaan Tuhan ?
>
>  
> Pada saat peristiwa itu semakin sering terulang, kesadaranku juga
semakin meningkat walaupun berada dalam dimensi "lain", tetap tak ada
bedanya sebagaimana bercengkerama dengan kawan-kawan bermainku yang
masih hidup. Aku dapat bertanya apa saja tentang yang gaib. Semua
jawaban beliau-beliau amat sangat gamblang, jelas, tegas, sangat
memuaskan dahaga spiritualku.
>
> Lalu pada suatu waktu, sampailah saatnya "dibukakan" mata hatiku
akan rahasia besar, tentang Kebesaran Tuhan, tentang Keadilan Tuhan,
tentang Kebijaksanaan Tuhan. Namun dengan berat hati saya belum bisa
memaparkan bagaimana rahasia besar tersebut secara rinci dan detail.
Tidak bijaksana kiranya saya mengungkap rahasia besar Dzat Ilahi pada
media ini, karena dapat menimbulkan fitnah. Saya terdorong untuk
bersikap bijak, bisa "ngemong" bagi saudara-saudara kita yang belum
cukup bekal landasan ilmu untuk memahami dengan arif dan bijaksana
akan rahasia besar alam gaib. Namun demikian, secara garis besar saya
pribadi dapat mengambil kesimpulan dari peristiwa yang saya alami
sebagai berikut;

>
> Betapa Tuhan itu :
>
> LEBIH DARI MAHA ADIL
>
>
>
>
> LEBIH DARI MAHA BIJAKSANA
> LEBIH DARI MAHA BESAR
> LEBIH DARI MAHA KUASA
> LEBIH DARI MAHA KASIH DAN PENYAYANG
> LEBIH DARI MAHA LEMBUT
> LEBIH DARI MAHA PEMURAH
>
>  
> Akhirnya, sampailah saya sampai pada pemahaman:
>
> ALANGKAH DAMAINYA DUNIA INI
>
>
>
>
> JIKA SEMUA ORANG MENGALAMI SAMA DENGAN APA YANG PERNAH SAYA ALAMI
> JIKA TUHAN MEMBERI KESEMPATAN KEPADA SELURUH MANUSIA
> UNTUK MELIHAT RAHASIA KEKUASAAN"NYA"
> PASTI LAH TAK KAN ADA LAGI PERANG ANTAR AGAMA
> TAK KAN ADA LAGI DEBAT KUSIR SIAPA SEJATINYA TUHAN
> TAK KAN ADA LAGI RASA KEBENCIAN DAN PERMUSUHAN ANTAR AGAMA
> TAK KAN ADA LAGI SALING CURIGA DI ANTARA UMAT
>  
> SAYA TELAH MENDAPATKAN PEMAHAMAN YANG AMAT SANGAT BERHARGA,
> BETAPA TUHAN ITU LEBIH DARI MAHA SEGALANYA
> DARI SEMUA WUJUD KE-MAHA-AN TUHAN
> YANG TERTULIS DI DALAM KITAB SUCI DAN AGAMA MANA PUN
>  
>
>
>
> Sasmita Gaib
>  
>
> Peristiwa gaib itu lantas berhenti sejak aku berusia 8 tahun. Pada
saat remaja kehidupanku sangat berbeda dengan teman-teman. Orang
tuanku guru SD, enam bersaudara semua sekolah. Maklum jika kemudian
orang tua gajinya minus, sekalipun sudah bekerja sambilan freeland,
sebagai petani. Kubantu orang tua bekerja keras di sawah hingga aku
beranjak kuliah di UGM. Dengan susah payah kuselesaikan S1 walaupun
aku harus menanam pohon pisang banyak-banyak di tanah kering pinggir
sungai agar supaya bisa ku jual setiap seminggu satu tandan pisang
untuk beaya kuliah. Ternyata belum mencukupi kebutuhan kuliahku juga,
sehingga aku tetap harus makan sekali sehari selama 7 tahun sejak
kelas 2 SMA.
>
> Sejak 5 tahun yang lalu, peristiwa itu menghampiriku kembali
beberapa kali, tetapi kali ini aku diajarkan tentang ilmu meraga
sukma atau lolos sukma. Bagi orang Jawa ilmu ini sudah tak asing
lagi. Sebuah ilmu untuk memisahkan badan halus kita dengan badan
kasar. Badan halus kita keluar dari badan kasar, selanjutnya dapat
melanglang jagad raya menembus dimensi gaib. Aku semakin dapat
membuktikan sendiri apa yang pernah diajarkan oleh leluhurku di
alam "sana". Kutemukan ternyata adalah perbedaan dimensi gaibnya para
setan, demit, jin priprayangan, siluman yang suasananya serba bau tak
sedap, anyir, gelap remang-remang, lembab, basah, licin dan terdapat
aneka ragam rupa bentuk mahluk Tuhan yang menyeramkan. Kudapatkan
pula ternyata dimensi gaibnya para leluhur berbeda dengan dimensi
gaibnya setan, demit brekasakan.
>
> Sungguh berbanding terbalik, ruh para leluhur berada dalam dimensi
yang serba indah, menyenangkan dan nyaman serasa aku tak ingin
kembali lagi ke dalam badan kasarku lagi. Para ruh berkelompok-
kelompok dalam keluarga besar, menempati "rumah-rumah" yang indah,
ada yang besar ada yang sedang, ada yang kecil, bentuknya benar-benar
tak bisa dilukiskan dengan kata-kata. Adalah sebuah rahasia, bahwa
semua jenis mahluk halus sebangsa jin jahat, setan, demit, siluman
dsb ternyata tidak dapat masuk ke dalam dimensi ruh yang suci.
Sehingga di dalam dimensi gaibnya ruh tak ditemukan satupun adanya
mahluk halus jenis demit, jin, setan, siluman dsb.
>
> Jenis makhluk halus tersebut berada dalam dimensi gaib-nya
(metafisik) bumi, yang lebih dekat dengan dimensi fisik manusia.
Tetapi, badan halus yang tak lain adalah ruh kita, guru sejati kita,
dapat merasuk ke dalam dimensi gaib-nya jin setan, atau dimensi
gaibnya para leluhur, tergantung mana yang kita kehendaki.
>
> Aku pernah bertemu dengan beberapa leluhur agung masa lampau,
mereka berkisah tentang sejarah bumi nusantara yang sebenarnya. Dalam
alam ruh tak kutemukan kebohongan, kepalsuan, angkara, yang ada
hanyalah kejujuran dan semua kebaikan. Tersibaklah kepalsuan dan
kebohongan duniawi secara lugas (tanpa tedeng aling-aling). Untuk
membuktikan semua ini pernah kulakukan kroscek kepada seseorang (yang
masih hidup) tentang apa yang dia alami waktu kecil, ajaran apa yang
menjadi pegangan hidup sewaktu dewasa, falsafah apa yang dia kuasai,
dan ternyata tepat sekali kejadiannya. Padahal yang bersangkutan
sebelumnya tak pernah bercerita apa-apa tentang hal itu.
>
> Untuk bertemu ruh leluhur yang diinginkan kadang dengan mudah dapat
segera bertemu. Kadang sulit sekali bertemu. Aku sadari bahwa semua
ini atas berkat izin Tuhan Yang Maha Kuasa, terasa semakin kecil
kedirian ini ketika dihadapkan pada Kebesaran Tuhan yang sungguh
dahsyat. Aku pernah mencoba untuk bertemu dengan tokoh dalam "dunia
hitam" era tahun 1980-1990an yang telah mati. Namun sulit untuk dapat
bertemu, karena ia telah berada di alam pembalasan. Ada ruh yang
semasa hidupnya saya kenal dengan baik, ia memiliki tabiat mulia, dan
berbudi luhur, ia sedikit bercerita bagaimana ia pernah menjalani
hukuman di alam pembalasan kurang lebih jika dikonversi dengan waktu
bumi adalah 11 tahun lamanya.
>
> Bimbingan dan Wejangan Gaib
> Tepatnya lima tahun yang lalu, sejak aku mengenal berbagai ruang
atau dimensi gaib, mata telanjangku sepertinya menjadi semakin awas
melihat yang gaib tanpa harus melakukan "lolos sukma". Pandanganku
pada obyek gaib semakin nampak jelas. Tampak secara jelas siapa
leluhur yang sedang rawuh. Aku sangat bersyukur kepada Tuhan YME,
karena telah memberiku anugerah hakikat pengetahuan sejati. Aku
semakin intens "bertemu" secara langsung dengan para leluhur agung,
ada yang bekas pemimpin, ada yang ratu gung binatoro, bahkan Kanjeng
Ratu Kidul yang biasa dipahami secara negatif, beliau bukanlah dari
bangsa jin, setan, siluman. Tetapi dari entitas bidadari sehingga
ajarannya begitu luhur, dia sungguh sebagai sosok ratu "gaib" yang
arif bijaksana, dan sangat religius, melebihi rata-rata religiusitas
manusia. Para leluhur itu, banyak memberikan wejangan dan bimbingan
>  spiritual tanpa pernah mempersoalkan apa agamaku. Lebih dahsyat
lagi, pernah bertemu dengan para leluhur yang semuanya dalam kondisi
sangat baik, padahal beliau memiliki latar belakang agama yang
berbeda-beda seperti yang ada di nusantara ini.
>
>  
> Pesan dari para leluhur, yang kiranya etis aku sampaikan di ruang
publik ini, adalah sebagai berikut;
> Untuk meraih kemuliaan sejati (kamulyan sejati/syurga);
> 1. harus selalu ingat dan tunduk kepada Tuhan
> 2. tak boleh menyakiti hati dan mencelakai orang lain
> 3. hati tak boleh kotor dengan rasa iri dan kebencian
> 4. ringan menolong orang susah, tanpa pamrih dan jangan takabur
(tapa ngrame)
> 5. sedekahlah (donodriyah) ; yang paling tinggi nilainya di hadapan
Tuhan adalah sedekah materi, kedua sedekah tenaga, ketiga sedekah
tutur-kata yang baik, keempat yang paling rendah nilainya adalah
sedekah doa.
>
> 6. ikhlas setinggi-tingginya, yakni keikhlasan yang dapat
diumpamakan dengan orang buang hajad besar
> 7. jangan ikuti "air bah" yang suka menerjang aturan dan hakekat
kemanusiaan, tetapi ikutilah "aliran air sungai" atau tapa ngeli
(mengikuti kehendak Tuhan) agar mencapai pada muara keberuntungan
kemudian masuk ke dalam lautan kemuliaan hidup.
>
> 8. jika kamu berbuat baik pada orang lain, jangan harapkan
balasannya, sekalipun kamu dibalas dengan kejahatan. Sebaliknya
bertransaksilah dengan Tuhan, jangan dengan orang itu, sebab
transaksi dengan Tuhan akan mendatangkan kebaikan yang berlipat ganda
untuk diri kita sendiri melalui banyak orang disekitarmu. Intinya,
jangan sekali-kali kamu membangkit atau mengungkit-ungkit kebaikan
yang pernah kamu lakukan pada orang lain, tetapi kuburlah kebaikan
dalam-dalam hingga kamu lupa (tapa mendhem)
>
> 9. anugerah agung itu tak ada yang gratis, semua memakai "uang
tebusan" berupa keprihatinan, dan penderitaan. Penderitaan dan
keprihatinan yang kamu jalani dengan ikhlas dan legowo itu
sesungguhnya akan menjadi tabungan "uang tebusan" yang akan ditukar
dengan anugrah. Semakin besar penderitaan, semakin besar anugrah yang
telah disiapkan Tuhan untuk mu. Maka dalam penderitaan kamu jangan
suka grenengan, grundelan, karena tindakan itu hanya akan menghapus
tabungan "uang tebusan" mu. Penderitaan yang telah kamu jalani sekian
lama hanya menjadi sia-sia, kamu tak kan memperoleh apa-apa darinya
kecuali penderitaan itu saja. (tapa mbisu)
>
> Semua perbuatan itu yang baik maupun yang jahat, pasti akan
berbalik berlipat kepada diri kita sendiri. Dan setiap kebaikan yang
kita lakukan pada orang lain akan menjadi "pagar" yang mengelilingi
diri kita sendiri. Sehingga kita tak bisa dicelakai orang lain,
sebaliknya akan mendapat keselamatan, serta meraih ilmu kabegjan
(keberuntungan) . Jika diungkapkan dalam perumpamaan, kita akan
menjadi seperti bola, semakin kuat dibanting maka semakin tinggi
pantulan ke atasnya.
>
> Demikianlah sepotong pengalaman gaib yang pernah saya alami, semoga
dapat menjadikan wahana komparasi, tanpa harus mengedepankan emosi
dan nalar yang dangkal. Marilah kita kaji bersama, berangkat dari
sikap netral, kejernihan hati dan kebeningan jiwa.
>
>  
> (Kiriman dari dari salah satu rekan dipo yang tidak mau disebutkan
namanya)

>
>
>      
>      
>
>
>
>
>
>         Dapatkan alamat Email baru Anda!  
>
> Dapatkan nama yang selalu Anda inginkan sebelum diambil orang lain!
>      
>
>    
>    
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>      
>
>
>
>
>
>         Yahoo! sekarang memiliki alamat Email baru  
>  Dapatkan nama yang selalu Anda inginkan di domain baru @ymail dan
@rocketmail. br>
> Cepat sebelum diambil orang lain!
>


Loading...