Quantcast

Siapakah Semar itu?

classic Classic list List threaded Threaded
6 messages Options
Reply | Threaded
Open this post in threaded view
|  
Report Content as Inappropriate

Siapakah Semar itu?

Mas Dipo
Semar dalam bahasa Jawa (filosofi Jawa) disebut Badranaya
Bebadra = Membangun sarana dari dasar
Naya = Nayaka = Utusan mangrasul
Artinya: Mengembani sifat membangun dan melaksanakan perintah Allah demi kesejahteraan manusia
Filosofi, Biologis Semar
Javanologi : Semar = Haseming samar-samar (Fenomena harafiah makna kehidupan Sang Penuntun). Semar tidak lelaki dan bukan perempuan, tangan kanannya keatas dan tangan kirinya kebelakang. Maknanya : “Sebagai pribadi tokoh semar hendak mengatakan simbul Sang Maha Tumggal”. Sedang tangan kirinya bermakna “berserah total dan mutlak serta selakigus simbul keilmuan yang netral namun simpatik”.
Domisili semar adalah sebagai lurah karangdempel / (karang = gersang) dempel = keteguhan jiwa. Rambut semar “kuncung” (jarwadasa/pribahasa jawa kuno) maknanya hendak mengatakan : akuning sang kuncung = sebagai kepribadian pelayan.
Semar sebagai pelayan mengejawantah melayani umat, tanpa pamrih, untuk melaksanakan ibadah amaliah sesuai dengan sabda Ilahi. Semar barjalan menghadap keatas maknanya : “dalam perjalanan anak manusia perwujudannya ia memberikan teladan agar selalu memandang keatas (sang Khaliq ) yang maha pengasih serta penyayang umat”.
Kain semar Parangkusumorojo: perwujudan Dewonggowantah (untuk menuntun manusia) agar memayuhayuning bawono : mengadakan keadilan dan kebenaran di bumi.
Ciri sosok semar adalah :
Semar berkuncung seperti kanak kanak,namun juga berwajah sangat tua
Semar tertawannya selalu diakhiri nada tangisan
Semar berwajah mata menangis namun mulutnya tertawa
Semar berprofil berdiri sekaligus jongkok
Semar tak pernah menyuruh namun memberikan konsekwensi atas nasehatnya
Kebudayaan Jawa telah melahirkan religi dalam wujud kepercayaan terhadap Tuhan yang Maha Esa, yaitu adanya wujud tokoh wayang Semar, jauh sebelum masuknya kebudayaan Hindu, Budha dan Isalam di tanah Jawa.
Dikalangan spiritual Jawa ,Tokoh wayang Semar ternyata dipandang bukan sebagai fakta historis, tetapi lebih bersifat mitologi dan symbolis tentang KeEsa-an, yaitu: Suatu lambang dari pengejawantahan expresi, persepsi dan pengertian tentang Illahi yang menunjukkan pada konsepsi spiritual . Pengertian ini tidak lain hanyalah suatu bukti yang kuat bahwa orang Jawa sejak jaman prasejarah adalah Relegius dan ber keTuhan-an yang Maha Esa.
Dari tokoh Semar wayang ini akan dapat dikupas ,dimengerti dan dihayati sampai dimana wujud religi yang telah dilahirkan oleh kebudayaan Jawa .Gambar tokoh Semar nampaknya merupakan simbol pengertian atau konsepsi dari aspek sifat Ilahi, yang kalau dibaca bunyinya katanya ber bunyi :
Semar(pralambang ngelmu gaib) - kasampurnaning pati.
Bojo sira arsa mardi kamardikan, ajwa samar sumingkiring dur-kamurkan Mardikaartinya “merdekanya jiwa dan sukma“, maksudnya dalam keadaan tidak dijajah oleh hawa nafsu dan keduniawian, agar dalam menuju kematian sempurna tak ternodai oleh dosa. Manusia jawa yang sejati dalam membersihkan jiwa (ora kebanda ing kadonyan, ora samar marang bisane sirna durka murkamu) artinya : “dalam menguji budi pekerti secara sungguh-sungguh akan dapat mengendalikan dan mengarahkan hawa nafsu menjadi suatu kekuatan menuju kesempurnaan hidup”.
Filsafat Ha-Na-Ca-Ra-Ka dalam lakon Semar Mbabar Jati Diri
 
Dalam Etika Jawa disebutkan bahwa Semar dalam pewayangan adalah punakawan ” Abdi ” Pamomong ” yang paling dicintai. Apabila muncul di depan layar, ia disambut oleh gelombang simpati para penonton. Seakan-akan para penonton merasa berada dibawah pengayomannya.
Simpati para penonton itu ada hubungannya dengan mitologi Jawa atau Nusantara yang menganggap bahwa Semar merupakan tokoh yang berasal dari Jawa atau Nusantara. Ia merupakan dewa asli Jawa yang paling berkuasa. Meskipun berpenampilan sederhana, sebagai rakyat biasa, bahkan sebagai abdi, Semar adalah seorang dewa yang mengatasi semua dewa. Ia adalah dewa yang ngejawantah ” menjelma ” ( menjadi manusia ) yang kemudian menjadi pamong para Pandawa dan ksatria utama lainnya yang tidak terkalahkan.
Oleh karena para Pandawa merupakan nenek moyang raja-raja Jawa. Semar diyakini sebagai pamong dan danyang pulau Jawa dan seluruh dunia. Ia merupakan pribadi yang bernilai paling bijaksana berkat sikap bathinnya dan bukan karena sikap lahir dan keterdidikannya. Ia merupakan pamong yang sepi ing pamrih, rame ing ngawe ” sepi akan maksud, rajin dalam bekerja dan memayu hayuning bawana ” menjaga kedamaian dunia.
Dari segi etimologi, joinboll  berpendapat bahwa Semar berasal dari sar yang berarti sinar ” cahaya “. jadi Semar berarti suatu yang memancarkan cahaya atau dewa cahaya, sehingga ia disebut juga Nurcahya atau Nurrasa yang didalam dirinya terdapat atau bersemayam Nur Muhammad, Nur Illahi atau sifat Ilahiah. Semar yang memiliki rupa dan bentuk yang samar, tetapi mempunyai segala kelebihan yang telah disebutkan itu, merupakan simbol yang bersifat Ilahiah pula. Sehubungan dengan itu, Prodjosoebroto berpendapat dan menggambarkan ( dalam bentuk kaligrafi ) bahwa jasat Semar penuh dengan kalimat Allah.
 
Sifat ilahiah itu ditunjukkan pula dengan sebutan badranaya yang berarti ” pimpinan rahmani ” yakni pimpinan yang penuh dengan belas kasih. Semar juga dapat dijadikan simbol rasa eling ” rasa ingat ”, yakni ingat kepada Yang Maha Pencipta dan segala ciptaanNYA yang berupa alam semesta. Oleh karena itu sifat ilahiah itu pula, Semar dijadikan simbol aliran kebatinan Sapta Darma.
Berkenaan dengan mitologi yang merekfleksikan segala kelebihan dan sifat ilahiah pada pribadi Semar, maka timbul gagasan agar dalam pementasan wayang disuguhkan lakon ” Semar Mbabar Jati Diri “. gagasan itu muncul dari presiden Suharto dihadapan para dalang yang sedang mengikuti Rapat Paripurna Pepadi di Jakarta pada tanggal, 20-23 Januari 1995.
Tujuanya agar para dalang ikut berperan serta menyukseskan program pemerintah dalam pembangunan manusia seutuhnya, termasuk pembudayaan P4. Gagasan itu disambut para dalang dengan menggelar lakon tersebut. Para dalang yang pernah mementaskan lakon itu antara lain : Gitopurbacarita, Panut Darmaka, Anom Suroto, Subana, Cermomanggolo dan manteb Soedarsono. Dikemukan oleh Arum bahwa dalam pementasan wayang kulit dengan lakon ” Semar Mbabar Jadi Diri ” diharapkan agar khalayak mampu memahami dan menghayati kawruh sangkan paraning dumadi ” ilmu asal dan tujuan hidup, yang digali dari falsafat aksara Jawa Ha-Na-Ca-Ra-Ka. Pemahaman dan penghayatan kawruh sangkan paraning dumadi yang bersumber filsafat aksara Jawa itu sejalan dengan pemikiran Soenarto Timoer bahwa filsafat Ha-Na-Ca-Ra-Ka mengandung makna sebagai sumber daya yang dapat memberikan tuntunan dan menjadi panutan ke arah keselamatan hidup. Sumber daya itu dapat disimbolkan dengan Semar yang
 berpengawak sastra dentawyanjana. Bahkan jika mengacu pendapat Warsito bahwa aksara Jawa itu diciptakan Semar, maka tepatlah apabila pemahaman dan penghayatan kawruh sangkan paraning dumadi tersebut bersumberkan filsafat Ha-Na-Ca-Ra-Ka


     
Reply | Threaded
Open this post in threaded view
|  
Report Content as Inappropriate

Bls: Siapakah Semar itu?

karyan karyan


Biyuh...biyuh...
Kok asi jan tenan-tenan PERCIS koyo soko asline semburat neng Alas kumitir yah Kang??. Njenengan tak injen, tak awat-awati soko kadoan opo yoh ora weruh aku tah Kang??.

Kang Dipo,
Ngelmu-ngelmu Jawa sangat jarang yang dipaparkan secara tertulis
dengan gamblang. Kebanyakan dengan simbul-simbul yang benar-benar rumit
untuk dipahami secara awam. Terlebih-lebih tentang ‘ngelmu- ngelmu’
yang sangat penting dan mendasar sebagaimana ‘Kawruh Sangkan Paran’.
Kita tidak tahu mengapa hal itu terjadi. Bahkan pemahaman yang
terwariskan kepada kita telah memposisikan ‘ngelmu-ngelmu’ tersebut
sebagai ‘sinengker’ yang artinya tidak boleh dibicarakan secara umum.
Perlu prasyarat-prasyarat tertentu yang harus ‘dilakoni’ oleh orang
yang berkehendak mempelajari dan memahami. Maka akibatnya bagi awam
terposisikan untuk ‘manut miturut’ mengikuti para ‘sesepuh’ yang
diyakini telah mampu menguasai ‘ngelmu-ngelmu rungsit lungid’ tersebut.

Salam - nginjen
KARI-YAN



--- Pada Rab, 16/7/08, mang dipo <[hidden email]> menulis:
Dari: mang dipo <[hidden email]>
Topik: [Spiritual-Indonesia] Siapakah Semar itu?
Kepada: [hidden email]
Tanggal: Rabu, 16 Juli, 2008, 3:50 PM










   
           


Semar dalam bahasa Jawa (filosofi Jawa) disebut Badranaya
Bebadra = Membangun sarana dari dasar
Naya = Nayaka = Utusan mangrasul

Artinya : Mengembani sifat membangun dan melaksanakan perintah Allah demi kesejahteraan manusia

Filosofi, Biologis Semar
Javanologi : Semar = Haseming samar-samar (Fenomena harafiah makna kehidupan Sang Penuntun). Semar tidak lelaki dan bukan perempuan, tangan kanannya keatas dan tangan kirinya kebelakang. Maknanya : “Sebagai pribadi tokoh semar hendak mengatakan simbul Sang Maha Tumggal”. Sedang tangan kirinya bermakna “berserah total dan mutlak serta selakigus simbul keilmuan yang netral namun simpatik”.
 
Domisili semar adalah sebagai lurah karangdempel / (karang = gersang) dempel = keteguhan jiwa. Rambut semar “kuncung” (jarwadasa/pribahas a jawa kuno) maknanya hendak mengatakan : akuning sang kuncung = sebagai kepribadian pelayan.
 
Semar sebagai pelayan mengejawantah melayani umat, tanpa pamrih, untuk melaksanakan ibadah amaliah sesuai dengan sabda Ilahi. Semar barjalan menghadap keatas maknanya : “dalam perjalanan anak manusia perwujudannya ia memberikan teladan agar selalu memandang keatas (sang Khaliq ) yang maha pengasih serta penyayang umat”.
 
Kain semar Parangkusumorojo: perwujudan Dewonggowantah (untuk menuntun manusia) agar memayuhayuning bawono : mengadakan keadilan dan kebenaran di bumi.
Ciri sosok semar adalah :

Semar berkuncung seperti kanak kanak,namun juga berwajah sangat tua
Semar tertawannya selalu diakhiri nada tangisan
Semar berwajah mata menangis namun mulutnya tertawa
Semar berprofil berdiri sekaligus jongkok
Semar tak pernah menyuruh namun memberikan konsekwensi atas nasehatnya
 

Kebudayaan Jawa telah melahirkan religi dalam wujud kepercayaan terhadap Tuhan yang Maha Esa, yaitu adanya wujud tokoh wayang Semar, jauh sebelum masuknya kebudayaan Hindu, Budha dan Isalam di tanah Jawa.
 
Dikalangan spiritual Jawa ,Tokoh wayang Semar ternyata dipandang bukan sebagai fakta historis, tetapi lebih bersifat mitologi dan symbolis tentang KeEsa-an, yaitu: Suatu lambang dari pengejawantahan expresi, persepsi dan pengertian tentang Illahi yang menunjukkan pada konsepsi spiritual . Pengertian ini tidak lain hanyalah suatu bukti yang kuat bahwa orang Jawa sejak jaman prasejarah adalah Relegius dan ber keTuhan-an yang Maha Esa.
 
Dari tokoh Semar wayang ini akan dapat dikupas ,dimengerti dan dihayati sampai dimana wujud religi yang telah dilahirkan oleh kebudayaan Jawa .Gambar tokoh Semar nampaknya merupakan simbol pengertian atau konsepsi dari aspek sifat Ilahi, yang kalau dibaca bunyinya katanya ber bunyi :
 

Semar (pralambang ngelmu gaib) - kasampurnaning pati.
Bojo sira arsa mardi kamardikan, ajwa samar sumingkiring dur-kamurkan Mardika artinya “merdekanya jiwa dan sukma“, maksudnya dalam keadaan tidak dijajah oleh hawa nafsu dan keduniawian, agar dalam menuju kematian sempurna tak ternodai oleh dosa. Manusia jawa yang sejati dalam membersihkan jiwa (ora kebanda ing kadonyan, ora samar marang bisane sirna durka murkamu) artinya : “dalam menguji budi pekerti secara sungguh-sungguh akan dapat mengendalikan dan mengarahkan hawa nafsu menjadi suatu kekuatan menuju kesempurnaan hidup”.
 
Filsafat Ha-Na-Ca-Ra- Ka dalam lakon Semar Mbabar Jati Diri
 
Dalam Etika Jawa disebutkan bahwa Semar dalam pewayangan adalah punakawan ” Abdi ” Pamomong ” yang paling dicintai. Apabila muncul di depan layar, ia disambut oleh gelombang simpati para penonton. Seakan-akan para penonton merasa berada dibawah pengayomannya.
 
Simpati para penonton itu ada hubungannya dengan mitologi Jawa atau Nusantara yang menganggap bahwa Semar merupakan tokoh yang berasal dari Jawa atau Nusantara. Ia merupakan dewa asli Jawa yang paling berkuasa. Meskipun berpenampilan sederhana, sebagai rakyat biasa, bahkan sebagai abdi, Semar adalah seorang dewa yang mengatasi semua dewa. Ia adalah dewa yang ngejawantah ” menjelma ” ( menjadi manusia ) yang kemudian menjadi pamong para Pandawa dan ksatria utama lainnya yang tidak terkalahkan.
 
Oleh karena para Pandawa merupakan nenek moyang raja-raja Jawa. Semar diyakini sebagai pamong dan danyang pulau Jawa dan seluruh dunia. Ia merupakan pribadi yang bernilai paling bijaksana berkat sikap bathinnya dan bukan karena sikap lahir dan keterdidikannya. Ia merupakan pamong yang sepi ing pamrih, rame ing ngawe ” sepi akan maksud, rajin dalam bekerja dan memayu hayuning bawana ” menjaga kedamaian dunia.
 
Dari segi etimologi, joinboll  berpendapat bahwa Semar berasal dari sar yang berarti sinar ” cahaya “. jadi Semar berarti suatu yang memancarkan cahaya atau dewa cahaya, sehingga ia disebut juga Nurcahya atau Nurrasa yang didalam dirinya terdapat atau bersemayam Nur Muhammad, Nur Illahi atau sifat Ilahiah. Semar yang memiliki rupa dan bentuk yang samar, tetapi mempunyai segala kelebihan yang telah disebutkan itu, merupakan simbol yang bersifat Ilahiah pula. Sehubungan dengan itu, Prodjosoebroto berpendapat dan menggambarkan ( dalam bentuk kaligrafi ) bahwa jasat Semar penuh dengan kalimat Allah.
 
Sifat ilahiah itu ditunjukkan pula dengan sebutan badranaya yang berarti ” pimpinan rahmani ” yakni pimpinan yang penuh dengan belas kasih. Semar juga dapat dijadikan simbol rasa eling ” rasa ingat ”, yakni ingat kepada Yang Maha Pencipta dan segala ciptaanNYA yang berupa alam semesta. Oleh karena itu sifat ilahiah itu pula, Semar dijadikan simbol aliran kebatinan Sapta Darma.
 
Berkenaan dengan mitologi yang merekfleksikan segala kelebihan dan sifat ilahiah pada pribadi Semar, maka timbul gagasan agar dalam pementasan wayang disuguhkan lakon ” Semar Mbabar Jati Diri “. gagasan itu muncul dari presiden Suharto dihadapan para dalang yang sedang mengikuti Rapat Paripurna Pepadi di Jakarta pada tanggal, 20-23 Januari 1995.
 
Tujuanya agar para dalang ikut berperan serta menyukseskan program pemerintah dalam pembangunan manusia seutuhnya, termasuk pembudayaan P4. Gagasan itu disambut para dalang dengan menggelar lakon tersebut. Para dalang yang pernah mementaskan lakon itu antara lain : Gitopurbacarita, Panut Darmaka, Anom Suroto, Subana, Cermomanggolo dan manteb Soedarsono. Dikemukan oleh Arum bahwa dalam pementasan wayang kulit dengan lakon ” Semar Mbabar Jadi Diri ” diharapkan agar khalayak mampu memahami dan menghayati kawruh sangkan paraning dumadi ” ilmu asal dan tujuan hidup, yang digali dari falsafat aksara Jawa Ha-Na-Ca-Ra- Ka. Pemahaman dan penghayatan kawruh sangkan paraning dumadi yang bersumber filsafat aksara Jawa itu sejalan dengan pemikiran Soenarto Timoer bahwa filsafat
 Ha-Na-Ca-Ra- Ka mengandung makna sebagai sumber daya yang dapat memberikan tuntunan dan menjadi panutan ke arah keselamatan hidup. Sumber daya itu dapat disimbolkan dengan Semar yang berpengawak sastra dentawyanjana. Bahkan jika mengacu pendapat Warsito bahwa aksara Jawa itu diciptakan Semar, maka tepatlah apabila pemahaman dan penghayatan kawruh sangkan paraning dumadi tersebut bersumberkan filsafat Ha-Na-Ca-Ra- Ka


     
     

   
   
       
         
       
       








       


       
       


      ___________________________________________________________________________
Nama baru untuk Anda!
Dapatkan nama yang selalu Anda inginkan di domain baru @ymail dan @rocketmail.
Cepat sebelum diambil orang lain!
http://mail.promotions.yahoo.com/newdomains/id/
Reply | Threaded
Open this post in threaded view
|  
Report Content as Inappropriate

Re: Bls: Siapakah Semar itu?

bustanus salatin
semar gareng petruk bagong  dan batara guru,sapat ditemui di langit 5.tapi memang sukar tidak sembarang orang bisa.tetapi sebelumnya bertemu dengan N muhammad dulu,lalu bertemu semar dkk.hanya pengalaman pribadi

--- On Wed, 7/16/08, karyan karyan <[hidden email]> wrote:

From: karyan karyan <[hidden email]>
Subject: Bls: [Spiritual-Indonesia] Siapakah Semar itu?
To: [hidden email]
Date: Wednesday, July 16, 2008, 9:58 AM












Biyuh...biyuh. ..
Kok asi jan tenan-tenan PERCIS koyo soko asline semburat neng Alas kumitir yah Kang??. Njenengan tak injen, tak awat-awati soko kadoan opo yoh ora weruh aku tah Kang??.

Kang Dipo,
Ngelmu-ngelmu Jawa sangat jarang yang dipaparkan secara tertulis dengan gamblang. Kebanyakan dengan simbul-simbul yang benar-benar rumit untuk dipahami secara awam. Terlebih-lebih tentang ‘ngelmu- ngelmu’ yang sangat penting dan mendasar sebagaimana ‘Kawruh Sangkan Paran’.
Kita tidak tahu mengapa hal itu terjadi. Bahkan pemahaman yang terwariskan kepada kita telah memposisikan ‘ngelmu-ngelmu’ tersebut sebagai ‘sinengker’ yang artinya tidak boleh dibicarakan secara umum. Perlu prasyarat-prasyarat tertentu yang harus ‘dilakoni’ oleh orang yang berkehendak mempelajari dan memahami. Maka akibatnya bagi awam terposisikan untuk ‘manut miturut’ mengikuti para ‘sesepuh’ yang diyakini telah mampu menguasai ‘ngelmu-ngelmu rungsit lungid’ tersebut.

Salam - nginjen
KARI-YAN



--- Pada Rab, 16/7/08, mang dipo <dipo1601@yahoo. com> menulis:

Dari: mang dipo <dipo1601@yahoo. com>
Topik: [Spiritual-Indonesi a] Siapakah Semar itu?
Kepada: Spiritual-Indonesia @yahoogroups. com
Tanggal: Rabu, 16 Juli, 2008, 3:50 PM








Semar dalam bahasa Jawa (filosofi Jawa) disebut Badranaya
Bebadra = Membangun sarana dari dasar
Naya = Nayaka = Utusan mangrasul

Artinya : Mengembani sifat membangun dan melaksanakan perintah Allah demi kesejahteraan manusia

Filosofi, Biologis Semar
Javanologi : Semar = Haseming samar-samar (Fenomena harafiah makna kehidupan Sang Penuntun). Semar tidak lelaki dan bukan perempuan, tangan kanannya keatas dan tangan kirinya kebelakang. Maknanya : “Sebagai pribadi tokoh semar hendak mengatakan simbul Sang Maha Tumggal”. Sedang tangan kirinya bermakna “berserah total dan mutlak serta selakigus simbul keilmuan yang netral namun simpatik”.
 
Domisili semar adalah sebagai lurah karangdempel / (karang = gersang) dempel = keteguhan jiwa. Rambut semar “kuncung” (jarwadasa/pribahas a jawa kuno) maknanya hendak mengatakan : akuning sang kuncung = sebagai kepribadian pelayan.
 
Semar sebagai pelayan mengejawantah melayani umat, tanpa pamrih, untuk melaksanakan ibadah amaliah sesuai dengan sabda Ilahi. Semar barjalan menghadap keatas maknanya : “dalam perjalanan anak manusia perwujudannya ia memberikan teladan agar selalu memandang keatas (sang Khaliq ) yang maha pengasih serta penyayang umat”.
 
Kain semar Parangkusumorojo: perwujudan Dewonggowantah (untuk menuntun manusia) agar memayuhayuning bawono : mengadakan keadilan dan kebenaran di bumi.
Ciri sosok semar adalah :

Semar berkuncung seperti kanak kanak,namun juga berwajah sangat tua
Semar tertawannya selalu diakhiri nada tangisan
Semar berwajah mata menangis namun mulutnya tertawa
Semar berprofil berdiri sekaligus jongkok
Semar tak pernah menyuruh namun memberikan konsekwensi atas nasehatnya
 

Kebudayaan Jawa telah melahirkan religi dalam wujud kepercayaan terhadap Tuhan yang Maha Esa, yaitu adanya wujud tokoh wayang Semar, jauh sebelum masuknya kebudayaan Hindu, Budha dan Isalam di tanah Jawa.
 
Dikalangan spiritual Jawa ,Tokoh wayang Semar ternyata dipandang bukan sebagai fakta historis, tetapi lebih bersifat mitologi dan symbolis tentang KeEsa-an, yaitu: Suatu lambang dari pengejawantahan expresi, persepsi dan pengertian tentang Illahi yang menunjukkan pada konsepsi spiritual . Pengertian ini tidak lain hanyalah suatu bukti yang kuat bahwa orang Jawa sejak jaman prasejarah adalah Relegius dan ber keTuhan-an yang Maha Esa.
 
Dari tokoh Semar wayang ini akan dapat dikupas ,dimengerti dan dihayati sampai dimana wujud religi yang telah dilahirkan oleh kebudayaan Jawa .Gambar tokoh Semar nampaknya merupakan simbol pengertian atau konsepsi dari aspek sifat Ilahi, yang kalau dibaca bunyinya katanya ber bunyi :
 

Semar (pralambang ngelmu gaib) - kasampurnaning pati.
Bojo sira arsa mardi kamardikan, ajwa samar sumingkiring dur-kamurkan Mardika artinya “merdekanya jiwa dan sukma“, maksudnya dalam keadaan tidak dijajah oleh hawa nafsu dan keduniawian, agar dalam menuju kematian sempurna tak ternodai oleh dosa. Manusia jawa yang sejati dalam membersihkan jiwa (ora kebanda ing kadonyan, ora samar marang bisane sirna durka murkamu) artinya : “dalam menguji budi pekerti secara sungguh-sungguh akan dapat mengendalikan dan mengarahkan hawa nafsu menjadi suatu kekuatan menuju kesempurnaan hidup”.
 
Filsafat Ha-Na-Ca-Ra- Ka dalam lakon Semar Mbabar Jati Diri
 
Dalam Etika Jawa disebutkan bahwa Semar dalam pewayangan adalah punakawan ” Abdi ” Pamomong ” yang paling dicintai. Apabila muncul di depan layar, ia disambut oleh gelombang simpati para penonton. Seakan-akan para penonton merasa berada dibawah pengayomannya.
 
Simpati para penonton itu ada hubungannya dengan mitologi Jawa atau Nusantara yang menganggap bahwa Semar merupakan tokoh yang berasal dari Jawa atau Nusantara. Ia merupakan dewa asli Jawa yang paling berkuasa. Meskipun berpenampilan sederhana, sebagai rakyat biasa, bahkan sebagai abdi, Semar adalah seorang dewa yang mengatasi semua dewa. Ia adalah dewa yang ngejawantah ” menjelma ” ( menjadi manusia ) yang kemudian menjadi pamong para Pandawa dan ksatria utama lainnya yang tidak terkalahkan.
 
Oleh karena para Pandawa merupakan nenek moyang raja-raja Jawa. Semar diyakini sebagai pamong dan danyang pulau Jawa dan seluruh dunia. Ia merupakan pribadi yang bernilai paling bijaksana berkat sikap bathinnya dan bukan karena sikap lahir dan keterdidikannya. Ia merupakan pamong yang sepi ing pamrih, rame ing ngawe ” sepi akan maksud, rajin dalam bekerja dan memayu hayuning bawana ” menjaga kedamaian dunia.
 
Dari segi etimologi, joinboll  berpendapat bahwa Semar berasal dari sar yang berarti sinar ” cahaya “. jadi Semar berarti suatu yang memancarkan cahaya atau dewa cahaya, sehingga ia disebut juga Nurcahya atau Nurrasa yang didalam dirinya terdapat atau bersemayam Nur Muhammad, Nur Illahi atau sifat Ilahiah. Semar yang memiliki rupa dan bentuk yang samar, tetapi mempunyai segala kelebihan yang telah disebutkan itu, merupakan simbol yang bersifat Ilahiah pula. Sehubungan dengan itu, Prodjosoebroto berpendapat dan menggambarkan ( dalam bentuk kaligrafi ) bahwa jasat Semar penuh dengan kalimat Allah.
 
Sifat ilahiah itu ditunjukkan pula dengan sebutan badranaya yang berarti ” pimpinan rahmani ” yakni pimpinan yang penuh dengan belas kasih. Semar juga dapat dijadikan simbol rasa eling ” rasa ingat ”, yakni ingat kepada Yang Maha Pencipta dan segala ciptaanNYA yang berupa alam semesta. Oleh karena itu sifat ilahiah itu pula, Semar dijadikan simbol aliran kebatinan Sapta Darma.
 
Berkenaan dengan mitologi yang merekfleksikan segala kelebihan dan sifat ilahiah pada pribadi Semar, maka timbul gagasan agar dalam pementasan wayang disuguhkan lakon ” Semar Mbabar Jati Diri “. gagasan itu muncul dari presiden Suharto dihadapan para dalang yang sedang mengikuti Rapat Paripurna Pepadi di Jakarta pada tanggal, 20-23 Januari 1995.
 
Tujuanya agar para dalang ikut berperan serta menyukseskan program pemerintah dalam pembangunan manusia seutuhnya, termasuk pembudayaan P4. Gagasan itu disambut para dalang dengan menggelar lakon tersebut. Para dalang yang pernah mementaskan lakon itu antara lain : Gitopurbacarita, Panut Darmaka, Anom Suroto, Subana, Cermomanggolo dan manteb Soedarsono. Dikemukan oleh Arum bahwa dalam pementasan wayang kulit dengan lakon ” Semar Mbabar Jadi Diri ” diharapkan agar khalayak mampu memahami dan menghayati kawruh sangkan paraning dumadi ” ilmu asal dan tujuan hidup, yang digali dari falsafat aksara Jawa Ha-Na-Ca-Ra- Ka. Pemahaman dan penghayatan kawruh sangkan paraning dumadi yang bersumber filsafat aksara Jawa itu sejalan dengan pemikiran Soenarto Timoer bahwa filsafat Ha-Na-Ca-Ra- Ka mengandung makna sebagai sumber daya yang dapat memberikan tuntunan dan menjadi panutan ke arah keselamatan hidup. Sumber daya itu dapat disimbolkan dengan Semar yang
 berpengawak sastra dentawyanjana. Bahkan jika mengacu pendapat Warsito bahwa aksara Jawa itu diciptakan Semar, maka tepatlah apabila pemahaman dan penghayatan kawruh sangkan paraning dumadi tersebut bersumberkan filsafat Ha-Na-Ca-Ra- Ka



Dapatkan nama yang Anda sukai!
Sekarang Anda dapat memiliki email di @ymail.com dan @rocketmail. com.
 














     
Reply | Threaded
Open this post in threaded view
|  
Report Content as Inappropriate

Re: Bls: Siapakah Semar itu?

karyan karyan

MAYA                adalah cahaya hitam.
Cahaya hitam tersebut untuk menyamarkan                segala sesuatu.

Yang                ada itu sesungguhnya tidak ada.

Yang sesungguhnya ada, ternyata bukan.

Yang bukan dikira iya.

Yang wanter (bersemangat) hatinya, hilang kewanterane (semangatnya),                sebab takut kalau keliru.

Maya, atau Ismaya, cahaya hitam, juga disebut SEMAR artinya tersamar,                atau tidak jelas.
Jadi...??jangan terjebak dalam kilatan-kilatan yang sudah semestinya kita LALUI dalam perjalanan.

Salam
KARI-YAN



--- Pada Rab, 16/7/08, bustanus salatin <[hidden email]> menulis:
Dari: bustanus salatin <[hidden email]>
Topik: Re: Bls: [Spiritual-Indonesia] Siapakah Semar itu?
Kepada: [hidden email]
Tanggal: Rabu, 16 Juli, 2008, 9:35 PM










   
            semar gareng petruk bagong  dan batara guru,sapat ditemui di langit 5.tapi memang sukar tidak sembarang orang bisa.tetapi sebelumnya bertemu dengan N muhammad dulu,lalu bertemu semar dkk.hanya pengalaman pribadi

--- On Wed, 7/16/08, karyan karyan <karyan_btg@yahoo. co.id> wrote:

From: karyan karyan <karyan_btg@yahoo. co.id>
Subject: Bls: [Spiritual-Indonesi a] Siapakah Semar itu?
To: Spiritual-Indonesia @yahoogroups. com
Date: Wednesday, July 16, 2008, 9:58 AM










Biyuh...biyuh. ..
Kok asi jan tenan-tenan PERCIS koyo soko asline semburat neng Alas kumitir yah Kang??. Njenengan tak injen, tak awat-awati soko kadoan opo yoh ora weruh aku tah Kang??.

Kang Dipo,
Ngelmu-ngelmu Jawa sangat jarang yang dipaparkan secara tertulis dengan gamblang. Kebanyakan dengan simbul-simbul yang benar-benar rumit untuk dipahami secara awam. Terlebih-lebih tentang ‘ngelmu- ngelmu’ yang sangat penting dan mendasar sebagaimana ‘Kawruh Sangkan Paran’.
Kita tidak tahu mengapa hal itu terjadi. Bahkan pemahaman yang terwariskan kepada kita telah memposisikan ‘ngelmu-ngelmu’ tersebut sebagai ‘sinengker’ yang artinya tidak boleh dibicarakan secara umum. Perlu prasyarat-prasyarat tertentu yang harus ‘dilakoni’ oleh orang yang berkehendak mempelajari dan memahami. Maka akibatnya bagi awam terposisikan untuk ‘manut miturut’ mengikuti para ‘sesepuh’ yang diyakini telah mampu menguasai ‘ngelmu-ngelmu rungsit lungid’ tersebut.

Salam - nginjen
KARI-YAN



--- Pada Rab, 16/7/08, mang dipo <dipo1601@yahoo. com> menulis:

Dari: mang dipo <dipo1601@yahoo. com>
Topik: [Spiritual-Indonesi a] Siapakah Semar itu?
Kepada: Spiritual-Indonesia @yahoogroups. com
Tanggal: Rabu, 16 Juli, 2008, 3:50 PM








Semar dalam bahasa Jawa (filosofi Jawa) disebut Badranaya
Bebadra = Membangun sarana dari dasar
Naya = Nayaka = Utusan mangrasul

Artinya : Mengembani sifat membangun dan melaksanakan perintah Allah demi kesejahteraan manusia

Filosofi, Biologis Semar
Javanologi : Semar = Haseming samar-samar (Fenomena harafiah makna kehidupan Sang Penuntun). Semar tidak lelaki dan bukan perempuan, tangan kanannya keatas dan tangan kirinya kebelakang. Maknanya : “Sebagai pribadi tokoh semar hendak mengatakan simbul Sang Maha Tumggal”. Sedang tangan kirinya bermakna “berserah total dan mutlak serta selakigus simbul keilmuan yang netral namun simpatik”.
 
Domisili semar adalah sebagai lurah karangdempel / (karang = gersang) dempel = keteguhan jiwa. Rambut semar “kuncung” (jarwadasa/pribahas a jawa kuno) maknanya hendak mengatakan : akuning sang kuncung = sebagai kepribadian pelayan.
 
Semar sebagai pelayan mengejawantah melayani umat, tanpa pamrih, untuk melaksanakan ibadah amaliah sesuai dengan sabda Ilahi. Semar barjalan menghadap keatas maknanya : “dalam perjalanan anak manusia perwujudannya ia memberikan teladan agar selalu memandang keatas (sang Khaliq ) yang maha pengasih serta penyayang umat”.
 
Kain semar Parangkusumorojo: perwujudan Dewonggowantah (untuk menuntun manusia) agar memayuhayuning bawono : mengadakan keadilan dan kebenaran di bumi.
Ciri sosok semar adalah :

Semar berkuncung seperti kanak kanak,namun juga berwajah sangat tua
Semar tertawannya selalu diakhiri nada tangisan
Semar berwajah mata menangis namun mulutnya tertawa
Semar berprofil berdiri sekaligus jongkok
Semar tak pernah menyuruh namun memberikan konsekwensi atas nasehatnya
 

Kebudayaan Jawa telah melahirkan religi dalam wujud kepercayaan terhadap Tuhan yang Maha Esa, yaitu adanya wujud tokoh wayang Semar, jauh sebelum masuknya kebudayaan Hindu, Budha dan Isalam di tanah Jawa.
 
Dikalangan spiritual Jawa ,Tokoh wayang Semar ternyata dipandang bukan sebagai fakta historis, tetapi lebih bersifat mitologi dan symbolis tentang KeEsa-an, yaitu: Suatu lambang dari pengejawantahan expresi, persepsi dan pengertian tentang Illahi yang menunjukkan pada konsepsi spiritual . Pengertian ini tidak lain hanyalah suatu bukti yang kuat bahwa orang Jawa sejak jaman prasejarah adalah Relegius dan ber keTuhan-an yang Maha Esa.
 
Dari tokoh Semar wayang ini akan dapat dikupas ,dimengerti dan dihayati sampai dimana wujud religi yang telah dilahirkan oleh kebudayaan Jawa .Gambar tokoh Semar nampaknya merupakan simbol pengertian atau konsepsi dari aspek sifat Ilahi, yang kalau dibaca bunyinya katanya ber bunyi :
 

Semar (pralambang ngelmu gaib) - kasampurnaning pati.
Bojo sira arsa mardi kamardikan, ajwa samar sumingkiring dur-kamurkan Mardika artinya “merdekanya jiwa dan sukma“, maksudnya dalam keadaan tidak dijajah oleh hawa nafsu dan keduniawian, agar dalam menuju kematian sempurna tak ternodai oleh dosa. Manusia jawa yang sejati dalam membersihkan jiwa (ora kebanda ing kadonyan, ora samar marang bisane sirna durka murkamu) artinya : “dalam menguji budi pekerti secara sungguh-sungguh akan dapat mengendalikan dan mengarahkan hawa nafsu menjadi suatu kekuatan menuju kesempurnaan hidup”.
 
Filsafat Ha-Na-Ca-Ra- Ka dalam lakon Semar Mbabar Jati Diri
 
Dalam Etika Jawa disebutkan bahwa Semar dalam pewayangan adalah punakawan ” Abdi ” Pamomong ” yang paling dicintai. Apabila muncul di depan layar, ia disambut oleh gelombang simpati para penonton. Seakan-akan para penonton merasa berada dibawah pengayomannya.
 
Simpati para penonton itu ada hubungannya dengan mitologi Jawa atau Nusantara yang menganggap bahwa Semar merupakan tokoh yang berasal dari Jawa atau Nusantara. Ia merupakan dewa asli Jawa yang paling berkuasa. Meskipun berpenampilan sederhana, sebagai rakyat biasa, bahkan sebagai abdi, Semar adalah seorang dewa yang mengatasi semua dewa. Ia adalah dewa yang ngejawantah ” menjelma ” ( menjadi manusia ) yang kemudian menjadi pamong para Pandawa dan ksatria utama lainnya yang tidak terkalahkan.
 
Oleh karena para Pandawa merupakan nenek moyang raja-raja Jawa. Semar diyakini sebagai pamong dan danyang pulau Jawa dan seluruh dunia. Ia merupakan pribadi yang bernilai paling bijaksana berkat sikap bathinnya dan bukan karena sikap lahir dan keterdidikannya. Ia merupakan pamong yang sepi ing pamrih, rame ing ngawe ” sepi akan maksud, rajin dalam bekerja dan memayu hayuning bawana ” menjaga kedamaian dunia.
 
Dari segi etimologi, joinboll  berpendapat bahwa Semar berasal dari sar yang berarti sinar ” cahaya “. jadi Semar berarti suatu yang memancarkan cahaya atau dewa cahaya, sehingga ia disebut juga Nurcahya atau Nurrasa yang didalam dirinya terdapat atau bersemayam Nur Muhammad, Nur Illahi atau sifat Ilahiah. Semar yang memiliki rupa dan bentuk yang samar, tetapi mempunyai segala kelebihan yang telah disebutkan itu, merupakan simbol yang bersifat Ilahiah pula. Sehubungan dengan itu, Prodjosoebroto berpendapat dan menggambarkan ( dalam bentuk kaligrafi ) bahwa jasat Semar penuh dengan kalimat Allah.
 
Sifat ilahiah itu ditunjukkan pula dengan sebutan badranaya yang berarti ” pimpinan rahmani ” yakni pimpinan yang penuh dengan belas kasih. Semar juga dapat dijadikan simbol rasa eling ” rasa ingat ”, yakni ingat kepada Yang Maha Pencipta dan segala ciptaanNYA yang berupa alam semesta. Oleh karena itu sifat ilahiah itu pula, Semar dijadikan simbol aliran kebatinan Sapta Darma.
 
Berkenaan dengan mitologi yang merekfleksikan segala kelebihan dan sifat ilahiah pada pribadi Semar, maka timbul gagasan agar dalam pementasan wayang disuguhkan lakon ” Semar Mbabar Jati Diri “. gagasan itu muncul dari presiden Suharto dihadapan para dalang yang sedang mengikuti Rapat Paripurna Pepadi di Jakarta pada tanggal, 20-23 Januari 1995.
 
Tujuanya agar para dalang ikut berperan serta menyukseskan program pemerintah dalam pembangunan manusia seutuhnya, termasuk pembudayaan P4. Gagasan itu disambut para dalang dengan menggelar lakon tersebut. Para dalang yang pernah mementaskan lakon itu antara lain : Gitopurbacarita, Panut Darmaka, Anom Suroto, Subana, Cermomanggolo dan manteb Soedarsono. Dikemukan oleh Arum bahwa dalam pementasan wayang kulit dengan lakon ” Semar Mbabar Jadi Diri ” diharapkan agar khalayak mampu memahami dan menghayati kawruh sangkan paraning dumadi ” ilmu asal dan tujuan hidup, yang digali dari falsafat aksara Jawa Ha-Na-Ca-Ra- Ka. Pemahaman dan penghayatan kawruh sangkan paraning dumadi yang bersumber filsafat aksara Jawa itu sejalan dengan pemikiran Soenarto Timoer bahwa filsafat Ha-Na-Ca-Ra- Ka mengandung makna sebagai sumber
 daya yang dapat memberikan tuntunan dan menjadi panutan ke arah keselamatan hidup. Sumber daya itu dapat disimbolkan dengan Semar yang berpengawak sastra dentawyanjana. Bahkan jika mengacu pendapat Warsito bahwa aksara Jawa itu diciptakan Semar, maka tepatlah apabila pemahaman dan penghayatan kawruh sangkan paraning dumadi tersebut bersumberkan filsafat Ha-Na-Ca-Ra- Ka



Dapatkan nama yang Anda sukai!
Sekarang Anda dapat memiliki email di @ymail.com dan @rocketmail. com.





     
     

   
   
       
         
       
       








       


       
       


      ___________________________________________________________________________
Nama baru untuk Anda!
Dapatkan nama yang selalu Anda inginkan di domain baru @ymail dan @rocketmail.
Cepat sebelum diambil orang lain!
http://mail.promotions.yahoo.com/newdomains/id/
Reply | Threaded
Open this post in threaded view
|  
Report Content as Inappropriate

Re: Bls: Siapakah Semar itu?

bustanus salatin
halo bos.
 
kesimpulan:
Siapakah Semar itu? adalah cahaya hitam. Cahaya hitam tersebut untuk menyamarkan segala sesuatu.jadi semar tidak ada
,nah kalo batar guru khan bukan cahaya hitam tapi putih .jadi gmana ?
 

--- On Wed, 7/16/08, karyan karyan <[hidden email]> wrote:

From: karyan karyan <[hidden email]>
Subject: Re: Bls: [Spiritual-Indonesia] Siapakah Semar itu?
To: [hidden email]
Date: Wednesday, July 16, 2008, 12:19 PM











MAYA adalah cahaya hitam.

Cahaya hitam tersebut untuk menyamarkan segala sesuatu.
Yang ada itu sesungguhnya tidak ada.
Yang sesungguhnya ada, ternyata bukan.
Yang bukan dikira iya.
Yang wanter (bersemangat) hatinya, hilang kewanterane (semangatnya) , sebab takut kalau keliru.


Maya, atau Ismaya, cahaya hitam, juga disebut SEMAR artinya tersamar, atau tidak jelas.


Jadi...??
jangan terjebak dalam kilatan-kilatan yang sudah semestinya kita LALUI dalam perjalanan.




Salam

KARI-YAN



--- Pada Rab, 16/7/08, bustanus salatin <ki_ageng_jenar@ yahoo.com> menulis:

Dari: bustanus salatin <ki_ageng_jenar@ yahoo.com>
Topik: Re: Bls: [Spiritual-Indonesi a] Siapakah Semar itu?
Kepada: Spiritual-Indonesia @yahoogroups. com
Tanggal: Rabu, 16 Juli, 2008, 9:35 PM








semar gareng petruk bagong  dan batara guru,sapat ditemui di langit 5.tapi memang sukar tidak sembarang orang bisa.tetapi sebelumnya bertemu dengan N muhammad dulu,lalu bertemu semar dkk.hanya pengalaman pribadi

--- On Wed, 7/16/08, karyan karyan <karyan_btg@yahoo. co.id> wrote:

From: karyan karyan <karyan_btg@yahoo. co.id>
Subject: Bls: [Spiritual-Indonesi a] Siapakah Semar itu?
To: Spiritual-Indonesia @yahoogroups. com
Date: Wednesday, July 16, 2008, 9:58 AM










Biyuh...biyuh. ..
Kok asi jan tenan-tenan PERCIS koyo soko asline semburat neng Alas kumitir yah Kang??. Njenengan tak injen, tak awat-awati soko kadoan opo yoh ora weruh aku tah Kang??.

Kang Dipo,
Ngelmu-ngelmu Jawa sangat jarang yang dipaparkan secara tertulis dengan gamblang. Kebanyakan dengan simbul-simbul yang benar-benar rumit untuk dipahami secara awam. Terlebih-lebih tentang ‘ngelmu- ngelmu’ yang sangat penting dan mendasar sebagaimana ‘Kawruh Sangkan Paran’.
Kita tidak tahu mengapa hal itu terjadi. Bahkan pemahaman yang terwariskan kepada kita telah memposisikan ‘ngelmu-ngelmu’ tersebut sebagai ‘sinengker’ yang artinya tidak boleh dibicarakan secara umum. Perlu prasyarat-prasyarat tertentu yang harus ‘dilakoni’ oleh orang yang berkehendak mempelajari dan memahami. Maka akibatnya bagi awam terposisikan untuk ‘manut miturut’ mengikuti para ‘sesepuh’ yang diyakini telah mampu menguasai ‘ngelmu-ngelmu rungsit lungid’ tersebut.

Salam - nginjen
KARI-YAN



--- Pada Rab, 16/7/08, mang dipo <dipo1601@yahoo. com> menulis:

Dari: mang dipo <dipo1601@yahoo. com>
Topik: [Spiritual-Indonesi a] Siapakah Semar itu?
Kepada: Spiritual-Indonesia @yahoogroups. com
Tanggal: Rabu, 16 Juli, 2008, 3:50 PM








Semar dalam bahasa Jawa (filosofi Jawa) disebut Badranaya
Bebadra = Membangun sarana dari dasar
Naya = Nayaka = Utusan mangrasul

Artinya : Mengembani sifat membangun dan melaksanakan perintah Allah demi kesejahteraan manusia

Filosofi, Biologis Semar
Javanologi : Semar = Haseming samar-samar (Fenomena harafiah makna kehidupan Sang Penuntun). Semar tidak lelaki dan bukan perempuan, tangan kanannya keatas dan tangan kirinya kebelakang. Maknanya : “Sebagai pribadi tokoh semar hendak mengatakan simbul Sang Maha Tumggal”. Sedang tangan kirinya bermakna “berserah total dan mutlak serta selakigus simbul keilmuan yang netral namun simpatik”.
 
Domisili semar adalah sebagai lurah karangdempel / (karang = gersang) dempel = keteguhan jiwa. Rambut semar “kuncung” (jarwadasa/pribahas a jawa kuno) maknanya hendak mengatakan : akuning sang kuncung = sebagai kepribadian pelayan.
 
Semar sebagai pelayan mengejawantah melayani umat, tanpa pamrih, untuk melaksanakan ibadah amaliah sesuai dengan sabda Ilahi. Semar barjalan menghadap keatas maknanya : “dalam perjalanan anak manusia perwujudannya ia memberikan teladan agar selalu memandang keatas (sang Khaliq ) yang maha pengasih serta penyayang umat”.
 
Kain semar Parangkusumorojo: perwujudan Dewonggowantah (untuk menuntun manusia) agar memayuhayuning bawono : mengadakan keadilan dan kebenaran di bumi.
Ciri sosok semar adalah :

Semar berkuncung seperti kanak kanak,namun juga berwajah sangat tua
Semar tertawannya selalu diakhiri nada tangisan
Semar berwajah mata menangis namun mulutnya tertawa
Semar berprofil berdiri sekaligus jongkok
Semar tak pernah menyuruh namun memberikan konsekwensi atas nasehatnya
 

Kebudayaan Jawa telah melahirkan religi dalam wujud kepercayaan terhadap Tuhan yang Maha Esa, yaitu adanya wujud tokoh wayang Semar, jauh sebelum masuknya kebudayaan Hindu, Budha dan Isalam di tanah Jawa.
 
Dikalangan spiritual Jawa ,Tokoh wayang Semar ternyata dipandang bukan sebagai fakta historis, tetapi lebih bersifat mitologi dan symbolis tentang KeEsa-an, yaitu: Suatu lambang dari pengejawantahan expresi, persepsi dan pengertian tentang Illahi yang menunjukkan pada konsepsi spiritual . Pengertian ini tidak lain hanyalah suatu bukti yang kuat bahwa orang Jawa sejak jaman prasejarah adalah Relegius dan ber keTuhan-an yang Maha Esa.
 
Dari tokoh Semar wayang ini akan dapat dikupas ,dimengerti dan dihayati sampai dimana wujud religi yang telah dilahirkan oleh kebudayaan Jawa .Gambar tokoh Semar nampaknya merupakan simbol pengertian atau konsepsi dari aspek sifat Ilahi, yang kalau dibaca bunyinya katanya ber bunyi :
 

Semar (pralambang ngelmu gaib) - kasampurnaning pati.
Bojo sira arsa mardi kamardikan, ajwa samar sumingkiring dur-kamurkan Mardika artinya “merdekanya jiwa dan sukma“, maksudnya dalam keadaan tidak dijajah oleh hawa nafsu dan keduniawian, agar dalam menuju kematian sempurna tak ternodai oleh dosa. Manusia jawa yang sejati dalam membersihkan jiwa (ora kebanda ing kadonyan, ora samar marang bisane sirna durka murkamu) artinya : “dalam menguji budi pekerti secara sungguh-sungguh akan dapat mengendalikan dan mengarahkan hawa nafsu menjadi suatu kekuatan menuju kesempurnaan hidup”.
 
Filsafat Ha-Na-Ca-Ra- Ka dalam lakon Semar Mbabar Jati Diri
 
Dalam Etika Jawa disebutkan bahwa Semar dalam pewayangan adalah punakawan ” Abdi ” Pamomong ” yang paling dicintai. Apabila muncul di depan layar, ia disambut oleh gelombang simpati para penonton. Seakan-akan para penonton merasa berada dibawah pengayomannya.
 
Simpati para penonton itu ada hubungannya dengan mitologi Jawa atau Nusantara yang menganggap bahwa Semar merupakan tokoh yang berasal dari Jawa atau Nusantara. Ia merupakan dewa asli Jawa yang paling berkuasa. Meskipun berpenampilan sederhana, sebagai rakyat biasa, bahkan sebagai abdi, Semar adalah seorang dewa yang mengatasi semua dewa. Ia adalah dewa yang ngejawantah ” menjelma ” ( menjadi manusia ) yang kemudian menjadi pamong para Pandawa dan ksatria utama lainnya yang tidak terkalahkan.
 
Oleh karena para Pandawa merupakan nenek moyang raja-raja Jawa. Semar diyakini sebagai pamong dan danyang pulau Jawa dan seluruh dunia. Ia merupakan pribadi yang bernilai paling bijaksana berkat sikap bathinnya dan bukan karena sikap lahir dan keterdidikannya. Ia merupakan pamong yang sepi ing pamrih, rame ing ngawe ” sepi akan maksud, rajin dalam bekerja dan memayu hayuning bawana ” menjaga kedamaian dunia.
 
Dari segi etimologi, joinboll  berpendapat bahwa Semar berasal dari sar yang berarti sinar ” cahaya “. jadi Semar berarti suatu yang memancarkan cahaya atau dewa cahaya, sehingga ia disebut juga Nurcahya atau Nurrasa yang didalam dirinya terdapat atau bersemayam Nur Muhammad, Nur Illahi atau sifat Ilahiah. Semar yang memiliki rupa dan bentuk yang samar, tetapi mempunyai segala kelebihan yang telah disebutkan itu, merupakan simbol yang bersifat Ilahiah pula. Sehubungan dengan itu, Prodjosoebroto berpendapat dan menggambarkan ( dalam bentuk kaligrafi ) bahwa jasat Semar penuh dengan kalimat Allah.
 
Sifat ilahiah itu ditunjukkan pula dengan sebutan badranaya yang berarti ” pimpinan rahmani ” yakni pimpinan yang penuh dengan belas kasih. Semar juga dapat dijadikan simbol rasa eling ” rasa ingat ”, yakni ingat kepada Yang Maha Pencipta dan segala ciptaanNYA yang berupa alam semesta. Oleh karena itu sifat ilahiah itu pula, Semar dijadikan simbol aliran kebatinan Sapta Darma.
 
Berkenaan dengan mitologi yang merekfleksikan segala kelebihan dan sifat ilahiah pada pribadi Semar, maka timbul gagasan agar dalam pementasan wayang disuguhkan lakon ” Semar Mbabar Jati Diri “. gagasan itu muncul dari presiden Suharto dihadapan para dalang yang sedang mengikuti Rapat Paripurna Pepadi di Jakarta pada tanggal, 20-23 Januari 1995.
 
Tujuanya agar para dalang ikut berperan serta menyukseskan program pemerintah dalam pembangunan manusia seutuhnya, termasuk pembudayaan P4. Gagasan itu disambut para dalang dengan menggelar lakon tersebut. Para dalang yang pernah mementaskan lakon itu antara lain : Gitopurbacarita, Panut Darmaka, Anom Suroto, Subana, Cermomanggolo dan manteb Soedarsono. Dikemukan oleh Arum bahwa dalam pementasan wayang kulit dengan lakon ” Semar Mbabar Jadi Diri ” diharapkan agar khalayak mampu memahami dan menghayati kawruh sangkan paraning dumadi ” ilmu asal dan tujuan hidup, yang digali dari falsafat aksara Jawa Ha-Na-Ca-Ra- Ka. Pemahaman dan penghayatan kawruh sangkan paraning dumadi yang bersumber filsafat aksara Jawa itu sejalan dengan pemikiran Soenarto Timoer bahwa filsafat Ha-Na-Ca-Ra- Ka mengandung makna sebagai sumber daya yang dapat memberikan tuntunan dan menjadi panutan ke arah keselamatan hidup. Sumber daya itu dapat disimbolkan dengan Semar yang
 berpengawak sastra dentawyanjana. Bahkan jika mengacu pendapat Warsito bahwa aksara Jawa itu diciptakan Semar, maka tepatlah apabila pemahaman dan penghayatan kawruh sangkan paraning dumadi tersebut bersumberkan filsafat Ha-Na-Ca-Ra- Ka



Dapatkan nama yang Anda sukai!
Sekarang Anda dapat memiliki email di @ymail.com dan @rocketmail. com.




Yahoo! sekarang memiliki alamat Email baru
Dapatkan nama yang selalu Anda inginkan di domain baru @ymail dan @rocketmail. br> Cepat sebelum diambil orang lain!
 














     
Reply | Threaded
Open this post in threaded view
|  
Report Content as Inappropriate

Re: Bls: Siapakah Semar itu?

ndoe45
bila bicara warna...warna HITAM itu kumpulan dari warna warna pokok.

jadi sejatinya didalam Hitam/kepekatan/kekosongan itu ada harmonisasi.

dan harmonisasi itu akan terjadi dengan nya bila ada hubungan yang selaras

warna dan rupa warna itu sendiri.




nDoe...senang rupa dan warna...gampang nyebutnya bentuknya apa.





bustanus salatin wrote:

>
> halo bos.
>
>  
>
> kesimpulan:
>
> Siapakah Semar itu? *adalah cahaya hitam. *Cahaya hitam tersebut untuk
> menyamarkan segala sesuatu.jadi semar tidak ada
> ,nah kalo batar guru khan bukan cahaya hitam tapi putih .jadi gmana ?
>
>  
>
>
> --- On *Wed, 7/16/08, karyan karyan /<[hidden email]>/* wrote:
>
>     From: karyan karyan <[hidden email]>
>     Subject: Re: Bls: [Spiritual-Indonesia] Siapakah Semar itu?
>     To: [hidden email]
>     Date: Wednesday, July 16, 2008, 12:19 PM
>
>
>     MAYA adalah cahaya hitam.
>
>     Cahaya hitam tersebut untuk menyamarkan segala sesuatu.
>
>     Yang ada itu sesungguhnya tidak ada.
>     Yang sesungguhnya ada, ternyata bukan.
>     Yang bukan dikira iya.
>     Yang wanter (bersemangat) hatinya, hilang kewanterane
>     (semangatnya) , sebab takut kalau keliru.
>
>
>     Maya, atau Ismaya, cahaya hitam, juga disebut SEMAR artinya
>     tersamar, atau tidak jelas.
>
>
>     Jadi...??
>
>     jangan terjebak dalam kilatan-kilatan yang sudah semestinya kita
>     LALUI dalam perjalanan.
>
>
>
>     Salam
>
>     KARI-YAN
>
>
>
>
>     --- Pada *Rab, 16/7/08, bustanus salatin /<ki_ageng_jenar@
>     yahoo.com>/* menulis:
>
>         Dari: bustanus salatin <ki_ageng_jenar@ yahoo.com>
>         Topik: Re: Bls: [Spiritual-Indonesi a] Siapakah Semar itu?
>         Kepada: Spiritual-Indonesia @yahoogroups. com
>         Tanggal: Rabu, 16 Juli, 2008, 9:35 PM
>
>         semar gareng petruk bagong  dan batara guru,sapat ditemui di
>         langit 5.tapi memang sukar tidak sembarang orang bisa.tetapi
>         sebelumnya bertemu dengan N muhammad dulu,lalu bertemu semar
>         dkk.hanya pengalaman pribadi
>
>         --- On *Wed, 7/16/08, karyan karyan /<karyan_btg@yahoo.
>         co.id>/* wrote:
>
>             From: karyan karyan <karyan_btg@yahoo. co.id>
>             Subject: Bls: [Spiritual-Indonesi a] Siapakah Semar itu?
>             To: Spiritual-Indonesia @yahoogroups. com
>             Date: Wednesday, July 16, 2008, 9:58 AM
>
>
>
>             Biyuh...biyuh. ..
>             Kok asi jan tenan-tenan PERCIS koyo soko asline semburat
>             neng Alas kumitir yah Kang??. Njenengan tak injen, tak
>             awat-awati soko kadoan opo yoh ora weruh aku tah Kang??.
>
>             Kang Dipo,
>             Ngelmu-ngelmu Jawa sangat jarang yang dipaparkan secara
>             tertulis dengan gamblang. Kebanyakan dengan simbul-simbul
>             yang benar-benar rumit untuk dipahami secara awam.
>             Terlebih-lebih tentang ‘ngelmu- ngelmu’ yang sangat
>             penting dan mendasar sebagaimana ‘Kawruh Sangkan Paran’.
>
>             Kita tidak tahu mengapa hal itu terjadi. Bahkan pemahaman
>             yang terwariskan kepada kita telah memposisikan
>             ‘ngelmu-ngelmu’ tersebut sebagai ‘sinengker’ yang artinya
>             tidak boleh dibicarakan secara umum. Perlu
>             prasyarat-prasyarat tertentu yang harus ‘dilakoni’ oleh
>             orang yang berkehendak mempelajari dan memahami. Maka
>             akibatnya bagi awam terposisikan untuk ‘manut miturut’
>             mengikuti para ‘sesepuh’ yang diyakini telah mampu
>             menguasai ‘ngelmu-ngelmu rungsit lungid’ tersebut.
>
>
>
>             Salam - nginjen
>             KARI-YAN
>
>
>
>             --- Pada *Rab, 16/7/08, mang dipo /<dipo1601@yahoo. com>/*
>             menulis:
>
>                 Dari: mang dipo <dipo1601@yahoo. com>
>                 Topik: [Spiritual-Indonesi a] Siapakah Semar itu?
>                 Kepada: Spiritual-Indonesia @yahoogroups. com
>                 Tanggal: Rabu, 16 Juli, 2008, 3:50 PM
>
>                 Semar dalam bahasa Jawa (filosofi Jawa) disebut
>                 /Badranaya/
>
>                 Bebadra = Membangun sarana dari dasar
>
>                 Naya = Nayaka = Utusan mangrasul
>
>                 /Artinya/ : Mengembani sifat membangun dan
>                 melaksanakan perintah Allah demi kesejahteraan manusia
>
>                 **
>
>                 *Filosofi, Biologis Semar*
>
>                 Javanologi : Semar = Haseming samar-samar (Fenomena
>                 harafiah makna kehidupan Sang Penuntun). Semar tidak
>                 lelaki dan bukan perempuan, tangan kanannya keatas dan
>                 tangan kirinya kebelakang. Maknanya : “Sebagai pribadi
>                 tokoh semar hendak mengatakan simbul */Sang Maha
>                 Tumggal”./* Sedang tangan kirinya bermakna “/berserah
>                 total dan mutlak serta selakigus simbul keilmuan yang
>                 netral namun simpatik”. /
>
>                 //
>
>                 Domisili semar adalah sebagai lurah *karangdempel* /
>                 (*karang *= gersang) *dempel *= keteguhan jiwa. Rambut
>                 semar “*/kuncung” /*(jarwadasa/pribahas a jawa kuno)
>                 maknanya hendak mengatakan : */akuning sang/*
>                 */kuncung = sebagai kepribadian pelayan./*
>
>                 *//*
>
>                 Semar sebagai pelayan mengejawantah melayani umat,
>                 tanpa pamrih, untuk melaksanakan ibadah amaliah sesuai
>                 dengan sabda *Ilahi*. Semar barjalan menghadap keatas
>                 maknanya : “dalam perjalanan anak manusia
>                 perwujudannya ia memberikan teladan agar selalu
>                 memandang keatas (sang Khaliq ) yang maha pengasih
>                 serta penyayang umat”.
>
>                  
>
>                 Kain semar Parangkusumorojo: perwujudan
>                 *Dewonggowantah* (untuk menuntun manusia) agar
>                 memayuhayuning bawono : mengadakan keadilan dan
>                 kebenaran di bumi.
>
>                 Ciri sosok semar adalah :
>
>                 //
>
>                 /Semar berkuncung seperti kanak kanak,namun juga
>                 berwajah sangat tua/
>
>                 /Semar tertawannya selalu diakhiri nada tangisan/
>
>                 /Semar berwajah mata menangis namun mulutnya tertawa/
>
>                 /Semar berprofil berdiri sekaligus jongkok/
>
>                 /Semar tak pernah menyuruh namun memberikan
>                 konsekwensi atas nasehatnya/
>
>                 //
>
>                 Kebudayaan Jawa telah melahirkan religi dalam wujud
>                 kepercayaan terhadap Tuhan yang Maha Esa, yaitu adanya
>                 wujud tokoh wayang Semar, jauh sebelum masuknya
>                 kebudayaan Hindu, Budha dan Isalam di tanah Jawa.
>
>                  
>
>                 Dikalangan spiritual Jawa ,Tokoh wayang Semar ternyata
>                 dipandang bukan sebagai fakta historis, tetapi lebih
>                 bersifat mitologi dan symbolis tentang KeEsa-an,
>                 yaitu: Suatu lambang dari pengejawantahan expresi,
>                 persepsi dan pengertian tentang Illahi yang
>                 menunjukkan pada konsepsi spiritual . Pengertian ini
>                 tidak lain hanyalah suatu bukti yang kuat bahwa orang
>                 Jawa sejak jaman prasejarah adalah Relegius dan ber
>                 keTuhan-an yang Maha Esa.
>
>                  
>
>                 Dari tokoh Semar wayang ini akan dapat dikupas
>                 ,dimengerti dan dihayati sampai dimana wujud religi
>                 yang telah dilahirkan oleh kebudayaan Jawa .Gambar
>                 tokoh Semar nampaknya merupakan simbol pengertian atau
>                 konsepsi dari aspek sifat Ilahi, yang kalau dibaca
>                 bunyinya katanya ber bunyi :
>
>                  
>
>                 *//*
>
>                 */Semar/*/ (pralambang ngelmu gaib) - *kasampurnaning
>                 pati. */
>
>                 /Bojo sira arsa mardi kamardikan, ajwa samar
>                 sumingkiring dur-kamurkan Mardika/ artinya
>                 “/merdekanya jiwa dan sukma/“, maksudnya dalam keadaan
>                 tidak dijajah oleh hawa nafsu dan keduniawian, agar
>                 dalam menuju kematian sempurna tak ternodai oleh dosa.
>                 Manusia jawa yang sejati dalam membersihkan jiwa (ora
>                 kebanda ing kadonyan, ora samar marang bisane sirna
>                 durka murkamu) artinya : “dalam menguji budi pekerti
>                 secara sungguh-sungguh akan dapat mengendalikan dan
>                 mengarahkan hawa nafsu menjadi suatu kekuatan menuju
>                 /kesempurnaan hidup”//./
>
>                  
>
>                 *Filsafat Ha-Na-Ca-Ra- Ka dalam lakon Semar Mbabar
>                 Jati Diri*
>
>                 * *
>
>                 Dalam Etika Jawa disebutkan bahwa Semar dalam
>                 pewayangan adalah punakawan ” Abdi ” Pamomong ” yang
>                 paling dicintai. Apabila muncul di depan layar, ia
>                 disambut oleh gelombang simpati para penonton.
>                 Seakan-akan para penonton merasa berada dibawah
>                 pengayomannya.
>
>                  
>
>                 Simpati para penonton itu ada hubungannya dengan
>                 mitologi Jawa atau Nusantara yang menganggap bahwa
>                 Semar merupakan tokoh yang berasal dari Jawa atau
>                 Nusantara. Ia merupakan dewa asli Jawa yang paling
>                 berkuasa. Meskipun berpenampilan sederhana, sebagai
>                 rakyat biasa, bahkan sebagai abdi, Semar adalah
>                 seorang dewa yang mengatasi semua dewa. Ia adalah dewa
>                 yang ngejawantah ” menjelma ” ( menjadi manusia ) yang
>                 kemudian menjadi pamong para Pandawa dan ksatria utama
>                 lainnya yang tidak terkalahkan.
>
>                  
>
>                 Oleh karena para Pandawa merupakan nenek moyang
>                 raja-raja Jawa. Semar diyakini sebagai pamong dan
>                 danyang pulau Jawa dan seluruh dunia. Ia merupakan
>                 pribadi yang bernilai paling bijaksana berkat sikap
>                 bathinnya dan bukan karena sikap lahir dan
>                 keterdidikannya. Ia merupakan pamong yang sepi ing
>                 pamrih, rame ing ngawe ” sepi akan maksud, rajin dalam
>                 bekerja dan memayu hayuning bawana ” menjaga kedamaian
>                 dunia.
>
>                  
>
>                 Dari segi etimologi, joinboll  berpendapat bahwa Semar
>                 berasal dari sar yang berarti sinar ” cahaya “. jadi
>                 Semar berarti suatu yang memancarkan cahaya atau dewa
>                 cahaya, sehingga ia disebut juga Nurcahya atau Nurrasa
>                 yang didalam dirinya terdapat atau bersemayam Nur
>                 Muhammad, Nur Illahi atau sifat Ilahiah. Semar yang
>                 memiliki rupa dan bentuk yang samar, tetapi mempunyai
>                 segala kelebihan yang telah disebutkan itu, merupakan
>                 simbol yang bersifat Ilahiah pula. Sehubungan dengan
>                 itu, Prodjosoebroto berpendapat dan menggambarkan (
>                 dalam bentuk kaligrafi ) bahwa jasat Semar penuh
>                 dengan kalimat Allah.
>
>                  
>
>                 Sifat ilahiah itu ditunjukkan pula dengan sebutan
>                 badranaya yang berarti ” pimpinan rahmani ” yakni
>                 pimpinan yang penuh dengan belas kasih. Semar juga
>                 dapat dijadikan simbol rasa eling ” rasa ingat ”,
>                 yakni ingat kepada Yang Maha Pencipta dan segala
>                 ciptaanNYA yang berupa alam semesta. Oleh karena itu
>                 sifat ilahiah itu pula, Semar dijadikan simbol aliran
>                 kebatinan Sapta Darma.
>
>                  
>
>                 Berkenaan dengan mitologi yang merekfleksikan segala
>                 kelebihan dan sifat ilahiah pada pribadi Semar, maka
>                 timbul gagasan agar dalam pementasan wayang disuguhkan
>                 lakon ” Semar Mbabar Jati Diri “. gagasan itu muncul
>                 dari presiden Suharto dihadapan para dalang yang
>                 sedang mengikuti Rapat Paripurna Pepadi di Jakarta
>                 pada tanggal, 20-23 Januari 1995.
>
>                  
>
>                 Tujuanya agar para dalang ikut berperan serta
>                 menyukseskan program pemerintah dalam pembangunan
>                 manusia seutuhnya, termasuk pembudayaan P4. Gagasan
>                 itu disambut para dalang dengan menggelar lakon
>                 tersebut. Para dalang yang pernah mementaskan lakon
>                 itu antara lain : Gitopurbacarita, Panut Darmaka, Anom
>                 Suroto, Subana, Cermomanggolo dan manteb Soedarsono.
>                 Dikemukan oleh Arum bahwa dalam pementasan wayang
>                 kulit dengan lakon ” Semar Mbabar Jadi Diri ”
>                 diharapkan agar khalayak mampu memahami dan menghayati
>                 kawruh sangkan paraning dumadi ” ilmu asal dan tujuan
>                 hidup, yang digali dari falsafat aksara Jawa
>                 Ha-Na-Ca-Ra- Ka. Pemahaman dan penghayatan kawruh
>                 sangkan paraning dumadi yang bersumber filsafat aksara
>                 Jawa itu sejalan dengan pemikiran Soenarto Timoer
>                 bahwa filsafat Ha-Na-Ca-Ra- Ka mengandung makna
>                 sebagai sumber daya yang dapat memberikan tuntunan dan
>                 menjadi panutan ke arah keselamatan hidup. Sumber daya
>                 itu dapat disimbolkan dengan Semar yang berpengawak
>                 sastra dentawyanjana. Bahkan jika mengacu pendapat
>                 Warsito bahwa aksara Jawa itu diciptakan Semar, maka
>                 tepatlah apabila pemahaman dan penghayatan kawruh
>                 sangkan paraning dumadi tersebut bersumberkan filsafat
>                 Ha-Na-Ca-Ra- Ka
>
>
>
>             ------------------------------------------------------------------------
>             Dapatkan nama yang Anda sukai!
>             <http://sg.rd.yahoo.com/id/mail/domainchoice/mail/signature/*http://mail.promotions.yahoo.com/newdomains/id/>
>             Sekarang Anda dapat memiliki email di @ymail.com dan
>             @rocketmail. com.
>
>
>
>     ------------------------------------------------------------------------
>     Yahoo! sekarang memiliki alamat Email baru
>     <http://sg.rd.yahoo.com/id/mail/domainchoice/mail/signature/*http://mail.promotions.yahoo.com/newdomains/id/>
>     Dapatkan nama yang selalu Anda inginkan di domain baru @ymail dan
>     @rocketmail. br> Cepat sebelum diambil orang lain!
>
>
>  


------------------------------------

Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/Spiritual-Indonesia/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/Spiritual-Indonesia/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    mailto:[hidden email]
    mailto:[hidden email]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [hidden email]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/

Loading...