Quantcast

Syekh Siti Jenar & Suluk Nusantara BAgian IV

classic Classic list List threaded Threaded
13 messages Options
Reply | Threaded
Open this post in threaded view
|  
Report Content as Inappropriate

Syekh Siti Jenar & Suluk Nusantara BAgian IV

the_most_braveheart
Syekh Siti Jenar & Suluk Nusantara

Nah yang sering terjadi di kalangan pengamal ajaran SSJ dari kalangan
grass-root yang sejak awal memang tidak berada di lingkungan kaum
agamis, menggunakan klaim bahwa SSJ menolak syariat dengan tujuan
utama agar mereka tidak menjalani syariat. Bahkan berbeda jauh dengan
SSJ yang menganggap syariat adalah sarana penting untuk menjaga
kerendahan hati dan merupakan pijakan awal untuk mencapai ma'rifat
setelah melalui thariqat dan hakikat, mereka yang dari kalangan
grass-root justru menganggap bahwa syariat adalah lambang kerendahan
maqam ruhani. Ini sangat berlawanan dengan ajaran SSJ.

Mereka terjebak oleh ketidak-fahaman dan terjerat sifat takabur.
Bahkan karena grass-root tak terdidik dan tidak mampu mewadahi ajaran
SSJ yang sarat dengan pemikiran filosofis, mereka menafsirkan ajaran
SSJ dengan ilmu otak-atik matuk. Ini sangat berbeda dengan pengamal
ajaran SSJ dari kalangan bangsawan dan ulama (sayangnya mereka menutup
diri dan merahasiakan ajarannya secara sangat eksklusif).

Terkait dengan tanya diatas, betulkah Jenar dieksekusi (hukuman mati)
oleh Wali Songo? Kalau benar, apa sebabnya? Ajarannya kah, atau lebih
kepada kepentingan politik rezim Demak?
SSJ tidak dihukum mati Walisongo. Tapi ajarannya dilarang oleh
Trenggana, Sultan Demak. Latarnya jelas politis. Keikut-sertaan
Walisongo dalam proses pelarangan ajaran SSJ, menurut saya,  lebih
disebabkan oleh "keharusan moral" untuk memihak kepentingan Trenggana
dalam kapasitas keluarga. Hendaknya diingat, bahwa Trenggana adalah
cucu Sunan Ampel. Sunan Bonang adalah uwaknya. Sunan Drajat adalah
pamannya. Sunan Giri II adalah sepupunya. Sunan Kalijaga adalah
mertuanya. Sunan Gunung Jati adalah besannya. Sunan Ngudung sepupu
jauhnya.
 
Proses politisasi  itu terlihat dari kisah dieksekusinya SSJ di Masjid
Demak dan di Masjid Kasepuhan Cirebon dengan  skenario yang mirip. Apa
bisa satu orang dieksekusi dua kali? Dan mayat keduanya diganti
anjing. Ironisnya dikisahkan mayat SSJ menebarkan bau wangi dan
darahnya menuliskan kalimah Laailaha ilallah Muhammadur rasulullah.

Bukankah skenario itu menaikkan pamor SSJ yang matinya sangat
menakjubkan? Sebaliknya menjelekkan Walisongo sebagai ulama-ulama curang.?
Pengikut SSJ justru tidak suka dengan cerita versi itu. Mereka yakin
SSJ tidak dieksekusi. Hanya ajaran SSJ yang dilarang oleh penguasa
dewasa itu dengan dukungan formal Walisongo.

Apakah ekses politik dari ajaran Siti Jenar, sehingga ia patut
"disingkirkan" oleh otoritas yang ada? Kepentingan siapakah yang
paling terusik?
Ajaran egalitarianisme SSJ yang meneladani ajaran Nabi Saw dan
sahabat, jelas menimbulkan dampak langsung dengan eksesnya karena
dewasa itu bisa dianggap sangat berbahaya bagi sistem kekuasaan di
Jawa yang menganut konsep Dewaraja (raja adalah titisan Tuhan) yang
berlangsung meski orang sudah memeluk Islam. Kata ganti "Ingsun" yang
digunakan oleh SSJ dan pengikut (Sunan Giri dan warga Gresik juga
sama) adalah penghinaan spiritual terhadap raja. Karena kata ganti
tersebut di era itu hanya hak diucapkan oleh raja. Selain raja, orang
 harus menggunakan kata ganti Kula atau  Kawula (Jawa), Abdi (Sunda),
saya atau sahaya (Melayu) yang bermakna budak. Bahkan  di hadapan
raja, orang  harus menggunakan kata ganti diri "patik" (anjing).
Gagasan SSJ tentang komunitas "masyarakat" yang berasal dari istilah
Arab musyarakah (orang sederajat  yang bekerja sama)menggantikan
komunitas "kawula"  (budak)  di desa-desa Lemah Abang benar-benar
membahayakan sistem kekuasaan dewasa itu.

Demikianlah, para pengikut SSJ yang disebut "kaum Abangan" (pengikut
Syaikh Lemah Abang atau penduduk desa Lemah Abang) diposisikan sebagai
kelompok murtad yang harus dibasmi. Pernyataan Sunan Giri II yang
berbunyi,"SSJ kafir inda al-naas wa mu'min inda Allah" menunjuk
sinyalemen adanya latar politis di balik "penggusuran" ajaran SSJ.

Banyak orang yang melihat tasawuf falsafi: tasawuf yang berangkat dari
paradigma penyatuan khalik-makhluk secara mistis, merupakan sisi agama
yang rumit, ekslusif, disamping sering dianggap menyimpang. Bagaimana
Jenar bisa fungsional, khususnya bagi kegersangan spiritual masyarakat
kota?
Sejak semula ajaran SSJ memang rumit dan sangat eksklusif. Tarikat
Akmaliyah sendiri sangat tertutup. Di kalangan internal ada ketentuan
yang mengatur para pengikut untuk tidak membahas ajaran SSJ kepada
orang luar. Mereka mengikuti aturan yang berbunyi, "Ajaran ini haram
dibicarakan kepada orang-orang yang tidak sama iktikadnya." Dengan
ketentuan itu, kayaknya ajaran SSJ memang sulit disosialisasi sebagai
ajaran yang terbuka dan bersifat umum. Namun demikian, di era global
ketika pengetahuan manusia sudah mencapai tahap yang paling tinggi
dari sejarah peradaban manusia, ajaran SSJ ternyata bisa diterima
sebagai sesuatu yang masuk akal dan sepertinya  bisa diamalkan.

Di era global sekarang ini, pemikiran, gagasan, konsep, dan pandangan
SSJ justru banyak dijadikan kajian oleh orang Islam maupun non-Islam.
Nah yang paling sulit dari ajaran SSJ untuk diaplikasi secara umum
adalah pemahaman terhadap konsep Allah sebagai Sang Suwung  yang
meliputi segala. Sebab pada tahap ruhani itu, orang jadi aneh karena
ia merasa selalu  diliputi dan 'dilihat' Allah di mana saja berada
sehingga pemikiran, ucapan, tindakan, dan gerak-geriknya sering
menjadi ewuh-pakewuh dan tidak normal. Karena itu, menurut saya, yang
paling sesuai dipelajari orang di era sekarang ini cukuplah ajaran
filosofis SSJ sebagaimana banyak ditulis orang dan bukan tarikatnya.

Reply | Threaded
Open this post in threaded view
|  
Report Content as Inappropriate

Re: Syekh Siti Jenar & Suluk Nusantara BAgian IV

Mas Dipo
Mas Bambang,
Silahkan dilanjut..
Saya duduk menyimak...

Salam, dipo



________________________________
From: the_most_braveheart <[hidden email]>
To: [hidden email]
Sent: Tuesday, January 20, 2009 12:10:21 PM
Subject: [Spiritual-Indonesia] Syekh Siti Jenar & Suluk Nusantara BAgian IV


Syekh Siti Jenar & Suluk Nusantara

Nah yang sering terjadi di kalangan pengamal ajaran SSJ dari kalangan
grass-root yang sejak awal memang tidak berada di lingkungan kaum
agamis, menggunakan klaim bahwa SSJ menolak syariat dengan tujuan
utama agar mereka tidak menjalani syariat. Bahkan berbeda jauh dengan
SSJ yang menganggap syariat adalah sarana penting untuk menjaga
kerendahan hati dan merupakan pijakan awal untuk mencapai ma'rifat
setelah melalui thariqat dan hakikat, mereka yang dari kalangan
grass-root justru menganggap bahwa syariat adalah lambang kerendahan
maqam ruhani. Ini sangat berlawanan dengan ajaran SSJ.

Mereka terjebak oleh ketidak-fahaman dan terjerat sifat takabur.
Bahkan karena grass-root tak terdidik dan tidak mampu mewadahi ajaran
SSJ yang sarat dengan pemikiran filosofis, mereka menafsirkan ajaran
SSJ dengan ilmu otak-atik matuk. Ini sangat berbeda dengan pengamal
ajaran SSJ dari kalangan bangsawan dan ulama (sayangnya mereka menutup
diri dan merahasiakan ajarannya secara sangat eksklusif).

Terkait dengan tanya diatas, betulkah Jenar dieksekusi (hukuman mati)
oleh Wali Songo? Kalau benar, apa sebabnya? Ajarannya kah, atau lebih
kepada kepentingan politik rezim Demak?
SSJ tidak dihukum mati Walisongo. Tapi ajarannya dilarang oleh
Trenggana, Sultan Demak. Latarnya jelas politis. Keikut-sertaan
Walisongo dalam proses pelarangan ajaran SSJ, menurut saya, lebih
disebabkan oleh "keharusan moral" untuk memihak kepentingan Trenggana
dalam kapasitas keluarga. Hendaknya diingat, bahwa Trenggana adalah
cucu Sunan Ampel. Sunan Bonang adalah uwaknya. Sunan Drajat adalah
pamannya. Sunan Giri II adalah sepupunya. Sunan Kalijaga adalah
mertuanya. Sunan Gunung Jati adalah besannya. Sunan Ngudung sepupu
jauhnya.

Proses politisasi itu terlihat dari kisah dieksekusinya SSJ di Masjid
Demak dan di Masjid Kasepuhan Cirebon dengan skenario yang mirip. Apa
bisa satu orang dieksekusi dua kali? Dan mayat keduanya diganti
anjing. Ironisnya dikisahkan mayat SSJ menebarkan bau wangi dan
darahnya menuliskan kalimah Laailaha ilallah Muhammadur rasulullah.

Bukankah skenario itu menaikkan pamor SSJ yang matinya sangat
menakjubkan? Sebaliknya menjelekkan Walisongo sebagai ulama-ulama curang.?
Pengikut SSJ justru tidak suka dengan cerita versi itu. Mereka yakin
SSJ tidak dieksekusi. Hanya ajaran SSJ yang dilarang oleh penguasa
dewasa itu dengan dukungan formal Walisongo.

Apakah ekses politik dari ajaran Siti Jenar, sehingga ia patut
"disingkirkan" oleh otoritas yang ada? Kepentingan siapakah yang
paling terusik?
Ajaran egalitarianisme SSJ yang meneladani ajaran Nabi Saw dan
sahabat, jelas menimbulkan dampak langsung dengan eksesnya karena
dewasa itu bisa dianggap sangat berbahaya bagi sistem kekuasaan di
Jawa yang menganut konsep Dewaraja (raja adalah titisan Tuhan) yang
berlangsung meski orang sudah memeluk Islam. Kata ganti "Ingsun" yang
digunakan oleh SSJ dan pengikut (Sunan Giri dan warga Gresik juga
sama) adalah penghinaan spiritual terhadap raja. Karena kata ganti
tersebut di era itu hanya hak diucapkan oleh raja. Selain raja, orang
harus menggunakan kata ganti Kula atau Kawula (Jawa), Abdi (Sunda),
saya atau sahaya (Melayu) yang bermakna budak. Bahkan di hadapan
raja, orang harus menggunakan kata ganti diri "patik" (anjing).
Gagasan SSJ tentang komunitas "masyarakat" yang berasal dari istilah
Arab musyarakah (orang sederajat yang bekerja sama)menggantikan
komunitas "kawula" (budak) di desa-desa Lemah Abang benar-benar
membahayakan sistem kekuasaan dewasa itu.

Demikianlah, para pengikut SSJ yang disebut "kaum Abangan" (pengikut
Syaikh Lemah Abang atau penduduk desa Lemah Abang) diposisikan sebagai
kelompok murtad yang harus dibasmi. Pernyataan Sunan Giri II yang
berbunyi,"SSJ kafir inda al-naas wa mu'min inda Allah" menunjuk
sinyalemen adanya latar politis di balik "penggusuran" ajaran SSJ.

Banyak orang yang melihat tasawuf falsafi: tasawuf yang berangkat dari
paradigma penyatuan khalik-makhluk secara mistis, merupakan sisi agama
yang rumit, ekslusif, disamping sering dianggap menyimpang. Bagaimana
Jenar bisa fungsional, khususnya bagi kegersangan spiritual masyarakat
kota?
Sejak semula ajaran SSJ memang rumit dan sangat eksklusif. Tarikat
Akmaliyah sendiri sangat tertutup. Di kalangan internal ada ketentuan
yang mengatur para pengikut untuk tidak membahas ajaran SSJ kepada
orang luar. Mereka mengikuti aturan yang berbunyi, "Ajaran ini haram
dibicarakan kepada orang-orang yang tidak sama iktikadnya." Dengan
ketentuan itu, kayaknya ajaran SSJ memang sulit disosialisasi sebagai
ajaran yang terbuka dan bersifat umum. Namun demikian, di era global
ketika pengetahuan manusia sudah mencapai tahap yang paling tinggi
dari sejarah peradaban manusia, ajaran SSJ ternyata bisa diterima
sebagai sesuatu yang masuk akal dan sepertinya bisa diamalkan.

Di era global sekarang ini, pemikiran, gagasan, konsep, dan pandangan
SSJ justru banyak dijadikan kajian oleh orang Islam maupun non-Islam.
Nah yang paling sulit dari ajaran SSJ untuk diaplikasi secara umum
adalah pemahaman terhadap konsep Allah sebagai Sang Suwung yang
meliputi segala. Sebab pada tahap ruhani itu, orang jadi aneh karena
ia merasa selalu diliputi dan 'dilihat' Allah di mana saja berada
sehingga pemikiran, ucapan, tindakan, dan gerak-geriknya sering
menjadi ewuh-pakewuh dan tidak normal. Karena itu, menurut saya, yang
paling sesuai dipelajari orang di era sekarang ini cukuplah ajaran
filosofis SSJ sebagaimana banyak ditulis orang dan bukan tarikatnya.

 


     
Reply | Threaded
Open this post in threaded view
|  
Report Content as Inappropriate

Re: Syekh Siti Jenar & Suluk Nusantara BAgian IV

the_most_braveheart
hehehe...uda kelar mas wawancaranya MAs Agus Sunyoto in..saya sadur
dari sufi news.com..pengennya nyari keberadaan tarekat Akmaliyah ini,
eh yg ketemu malah pesantren akmaliah..Tapi boleh juga pesantrennya,
dari syareat sampe makrifat, mereka juga jual buku...keren2
juga..search aja tarekat akmaliah di google..KAlo di Sumbar ada
tarekat yg fenomenal juga: Syattariah, konon katanya peninggalan SSj
juga..Di Riau sampe heboh kemaren karena banyak ummat Islam laen yg
ngamati tingkah laku mereka..Saya aneh aja lihat fenomena masyarakat
kita ini, merasa diri benar hingga orang lain dan aliran lain perlu
diawasi dan dilihat2 cara shalatnya,ibadahnya dll hehehe...

Monggo dari pengalaman dan wawasan MAs Dipo sendiri tentang Ma'rifat
dibabarkan juga...APakah NAbi Elia juga Sufi? Daniel n HEzkiel juga
mungkin tahu ceritanya?


SAlam

Reply | Threaded
Open this post in threaded view
|  
Report Content as Inappropriate

Re: Syekh Siti Jenar & Suluk Nusantara BAgian IV

Wal Suparmo
In reply to this post by Mas Dipo
Salam,
Pak Dipo sambil leyehan MENYIMAK jarike si Genduk ( ala Syeh Puji).
Yopora? " Alert! Alert! banking!banking!( bukan bank BCA lho) seperti yang dalami crew Adam Air dengan kapal  bambunya yang akhirnya fatal dan harus berteriak allahu akbar!
Wasalam,
Wal Suparmo

--- Pada Sel, 20/1/09, Mas Dipo <[hidden email]> menulis:

Dari: Mas Dipo <[hidden email]>
Topik: Re: [Spiritual-Indonesia] Syekh Siti Jenar & Suluk Nusantara BAgian IV
Kepada: [hidden email]
Tanggal: Selasa, 20 Januari, 2009, 12:24 PM








Mas Bambang,
Silahkan dilanjut..
Saya duduk menyimak...
 
Salam, dipo




From: the_most_braveheart <the_most_braveheart @yahoo.com>
To: Spiritual-Indonesia @yahoogroups. com
Sent: Tuesday, January 20, 2009 12:10:21 PM
Subject: [Spiritual-Indonesi a] Syekh Siti Jenar & Suluk Nusantara BAgian IV



Syekh Siti Jenar & Suluk Nusantara

Nah yang sering terjadi di kalangan pengamal ajaran SSJ dari kalangan
grass-root yang sejak awal memang tidak berada di lingkungan kaum
agamis, menggunakan klaim bahwa SSJ menolak syariat dengan tujuan
utama agar mereka tidak menjalani syariat. Bahkan berbeda jauh dengan
SSJ yang menganggap syariat adalah sarana penting untuk menjaga
kerendahan hati dan merupakan pijakan awal untuk mencapai ma'rifat
setelah melalui thariqat dan hakikat, mereka yang dari kalangan
grass-root justru menganggap bahwa syariat adalah lambang kerendahan
maqam ruhani. Ini sangat berlawanan dengan ajaran SSJ.

Mereka terjebak oleh ketidak-fahaman dan terjerat sifat takabur.
Bahkan karena grass-root tak terdidik dan tidak mampu mewadahi ajaran
SSJ yang sarat dengan pemikiran filosofis, mereka menafsirkan ajaran
SSJ dengan ilmu otak-atik matuk. Ini sangat berbeda dengan pengamal
ajaran SSJ dari kalangan bangsawan dan ulama (sayangnya mereka menutup
diri dan merahasiakan ajarannya secara sangat eksklusif).

Terkait dengan tanya diatas, betulkah Jenar dieksekusi (hukuman mati)
oleh Wali Songo? Kalau benar, apa sebabnya? Ajarannya kah, atau lebih
kepada kepentingan politik rezim Demak?
SSJ tidak dihukum mati Walisongo. Tapi ajarannya dilarang oleh
Trenggana, Sultan Demak. Latarnya jelas politis. Keikut-sertaan
Walisongo dalam proses pelarangan ajaran SSJ, menurut saya, lebih
disebabkan oleh "keharusan moral" untuk memihak kepentingan Trenggana
dalam kapasitas keluarga. Hendaknya diingat, bahwa Trenggana adalah
cucu Sunan Ampel. Sunan Bonang adalah uwaknya. Sunan Drajat adalah
pamannya. Sunan Giri II adalah sepupunya. Sunan Kalijaga adalah
mertuanya. Sunan Gunung Jati adalah besannya. Sunan Ngudung sepupu
jauhnya.

Proses politisasi itu terlihat dari kisah dieksekusinya SSJ di Masjid
Demak dan di Masjid Kasepuhan Cirebon dengan skenario yang mirip. Apa
bisa satu orang dieksekusi dua kali? Dan mayat keduanya diganti
anjing. Ironisnya dikisahkan mayat SSJ menebarkan bau wangi dan
darahnya menuliskan kalimah Laailaha ilallah Muhammadur rasulullah.

Bukankah skenario itu menaikkan pamor SSJ yang matinya sangat
menakjubkan? Sebaliknya menjelekkan Walisongo sebagai ulama-ulama curang.?
Pengikut SSJ justru tidak suka dengan cerita versi itu. Mereka yakin
SSJ tidak dieksekusi. Hanya ajaran SSJ yang dilarang oleh penguasa
dewasa itu dengan dukungan formal Walisongo.

Apakah ekses politik dari ajaran Siti Jenar, sehingga ia patut
"disingkirkan" oleh otoritas yang ada? Kepentingan siapakah yang
paling terusik?
Ajaran egalitarianisme SSJ yang meneladani ajaran Nabi Saw dan
sahabat, jelas menimbulkan dampak langsung dengan eksesnya karena
dewasa itu bisa dianggap sangat berbahaya bagi sistem kekuasaan di
Jawa yang menganut konsep Dewaraja (raja adalah titisan Tuhan) yang
berlangsung meski orang sudah memeluk Islam. Kata ganti "Ingsun" yang
digunakan oleh SSJ dan pengikut (Sunan Giri dan warga Gresik juga
sama) adalah penghinaan spiritual terhadap raja. Karena kata ganti
tersebut di era itu hanya hak diucapkan oleh raja. Selain raja, orang
harus menggunakan kata ganti Kula atau Kawula (Jawa), Abdi (Sunda),
saya atau sahaya (Melayu) yang bermakna budak. Bahkan di hadapan
raja, orang harus menggunakan kata ganti diri "patik" (anjing).
Gagasan SSJ tentang komunitas "masyarakat" yang berasal dari istilah
Arab musyarakah (orang sederajat yang bekerja sama)menggantikan
komunitas "kawula" (budak) di desa-desa Lemah Abang benar-benar
membahayakan sistem kekuasaan dewasa itu.

Demikianlah, para pengikut SSJ yang disebut "kaum Abangan" (pengikut
Syaikh Lemah Abang atau penduduk desa Lemah Abang) diposisikan sebagai
kelompok murtad yang harus dibasmi. Pernyataan Sunan Giri II yang
berbunyi,"SSJ kafir inda al-naas wa mu'min inda Allah" menunjuk
sinyalemen adanya latar politis di balik "penggusuran" ajaran SSJ.

Banyak orang yang melihat tasawuf falsafi: tasawuf yang berangkat dari
paradigma penyatuan khalik-makhluk secara mistis, merupakan sisi agama
yang rumit, ekslusif, disamping sering dianggap menyimpang. Bagaimana
Jenar bisa fungsional, khususnya bagi kegersangan spiritual masyarakat
kota?
Sejak semula ajaran SSJ memang rumit dan sangat eksklusif. Tarikat
Akmaliyah sendiri sangat tertutup. Di kalangan internal ada ketentuan
yang mengatur para pengikut untuk tidak membahas ajaran SSJ kepada
orang luar. Mereka mengikuti aturan yang berbunyi, "Ajaran ini haram
dibicarakan kepada orang-orang yang tidak sama iktikadnya." Dengan
ketentuan itu, kayaknya ajaran SSJ memang sulit disosialisasi sebagai
ajaran yang terbuka dan bersifat umum. Namun demikian, di era global
ketika pengetahuan manusia sudah mencapai tahap yang paling tinggi
dari sejarah peradaban manusia, ajaran SSJ ternyata bisa diterima
sebagai sesuatu yang masuk akal dan sepertinya bisa diamalkan.

Di era global sekarang ini, pemikiran, gagasan, konsep, dan pandangan
SSJ justru banyak dijadikan kajian oleh orang Islam maupun non-Islam.
Nah yang paling sulit dari ajaran SSJ untuk diaplikasi secara umum
adalah pemahaman terhadap konsep Allah sebagai Sang Suwung yang
meliputi segala. Sebab pada tahap ruhani itu, orang jadi aneh karena
ia merasa selalu diliputi dan 'dilihat' Allah di mana saja berada
sehingga pemikiran, ucapan, tindakan, dan gerak-geriknya sering
menjadi ewuh-pakewuh dan tidak normal. Karena itu, menurut saya, yang
paling sesuai dipelajari orang di era sekarang ini cukuplah ajaran
filosofis SSJ sebagaimana banyak ditulis orang dan bukan tarikatnya.


 














      Mulai chatting dengan teman di Yahoo! Pingbox baru sekarang!! Membuat tempat chat pribadi di blog Anda sekarang sangatlah mudah. http://id.messenger.yahoo.com/pingbox/
Reply | Threaded
Open this post in threaded view
|  
Report Content as Inappropriate

Re: Syekh Siti Jenar & Suluk Nusantara BAgian IV

Mas Dipo
Pak Wal,
Betul tekali.. Hehehe..

Salam sambil leyeh-leyeh, dipo

 
Powered by Telkomsel BlackBerry®

-----Original Message-----
From: Wal Suparmo <[hidden email]>

Date: Thu, 22 Jan 2009 12:29:45
To: <[hidden email]>
Subject: Re: [Spiritual-Indonesia] Syekh Siti Jenar & Suluk Nusantara BAgian IV


Salam,
Pak Dipo sambil leyehan MENYIMAK jarike si Genduk ( ala Syeh Puji).
Yopora? " Alert! Alert! banking!banking!( bukan bank BCA lho) seperti yang dalami crew Adam Air dengan kapal  bambunya yang akhirnya fatal dan harus berteriak allahu akbar!
Wasalam,
Wal Suparmo

--- Pada Sel, 20/1/09, Mas Dipo <[hidden email]> menulis:

Dari: Mas Dipo <[hidden email]>
Topik: Re: [Spiritual-Indonesia] Syekh Siti Jenar & Suluk Nusantara BAgian IV
Kepada: [hidden email]
Tanggal: Selasa, 20 Januari, 2009, 12:24 PM








Mas Bambang,
Silahkan dilanjut..
Saya duduk menyimak...
 
Salam, dipo




From: the_most_braveheart <the_most_braveheart @yahoo.com>
To: Spiritual-Indonesia @yahoogroups. com
Sent: Tuesday, January 20, 2009 12:10:21 PM
Subject: [Spiritual-Indonesi a] Syekh Siti Jenar & Suluk Nusantara BAgian IV



Syekh Siti Jenar & Suluk Nusantara

Nah yang sering terjadi di kalangan pengamal ajaran SSJ dari kalangan
grass-root yang sejak awal memang tidak berada di lingkungan kaum
agamis, menggunakan klaim bahwa SSJ menolak syariat dengan tujuan
utama agar mereka tidak menjalani syariat. Bahkan berbeda jauh dengan
SSJ yang menganggap syariat adalah sarana penting untuk menjaga
kerendahan hati dan merupakan pijakan awal untuk mencapai ma'rifat
setelah melalui thariqat dan hakikat, mereka yang dari kalangan
grass-root justru menganggap bahwa syariat adalah lambang kerendahan
maqam ruhani. Ini sangat berlawanan dengan ajaran SSJ.

Mereka terjebak oleh ketidak-fahaman dan terjerat sifat takabur.
Bahkan karena grass-root tak terdidik dan tidak mampu mewadahi ajaran
SSJ yang sarat dengan pemikiran filosofis, mereka menafsirkan ajaran
SSJ dengan ilmu otak-atik matuk. Ini sangat berbeda dengan pengamal
ajaran SSJ dari kalangan bangsawan dan ulama (sayangnya mereka menutup
diri dan merahasiakan ajarannya secara sangat eksklusif).

Terkait dengan tanya diatas, betulkah Jenar dieksekusi (hukuman mati)
oleh Wali Songo? Kalau benar, apa sebabnya? Ajarannya kah, atau lebih
kepada kepentingan politik rezim Demak?
SSJ tidak dihukum mati Walisongo. Tapi ajarannya dilarang oleh
Trenggana, Sultan Demak. Latarnya jelas politis. Keikut-sertaan
Walisongo dalam proses pelarangan ajaran SSJ, menurut saya, lebih
disebabkan oleh "keharusan moral" untuk memihak kepentingan Trenggana
dalam kapasitas keluarga. Hendaknya diingat, bahwa Trenggana adalah
cucu Sunan Ampel. Sunan Bonang adalah uwaknya. Sunan Drajat adalah
pamannya. Sunan Giri II adalah sepupunya. Sunan Kalijaga adalah
mertuanya. Sunan Gunung Jati adalah besannya. Sunan Ngudung sepupu
jauhnya.

Proses politisasi itu terlihat dari kisah dieksekusinya SSJ di Masjid
Demak dan di Masjid Kasepuhan Cirebon dengan skenario yang mirip. Apa
bisa satu orang dieksekusi dua kali? Dan mayat keduanya diganti
anjing. Ironisnya dikisahkan mayat SSJ menebarkan bau wangi dan
darahnya menuliskan kalimah Laailaha ilallah Muhammadur rasulullah.

Bukankah skenario itu menaikkan pamor SSJ yang matinya sangat
menakjubkan? Sebaliknya menjelekkan Walisongo sebagai ulama-ulama curang.?
Pengikut SSJ justru tidak suka dengan cerita versi itu. Mereka yakin
SSJ tidak dieksekusi. Hanya ajaran SSJ yang dilarang oleh penguasa
dewasa itu dengan dukungan formal Walisongo.

Apakah ekses politik dari ajaran Siti Jenar, sehingga ia patut
"disingkirkan" oleh otoritas yang ada? Kepentingan siapakah yang
paling terusik?
Ajaran egalitarianisme SSJ yang meneladani ajaran Nabi Saw dan
sahabat, jelas menimbulkan dampak langsung dengan eksesnya karena
dewasa itu bisa dianggap sangat berbahaya bagi sistem kekuasaan di
Jawa yang menganut konsep Dewaraja (raja adalah titisan Tuhan) yang
berlangsung meski orang sudah memeluk Islam. Kata ganti "Ingsun" yang
digunakan oleh SSJ dan pengikut (Sunan Giri dan warga Gresik juga
sama) adalah penghinaan spiritual terhadap raja. Karena kata ganti
tersebut di era itu hanya hak diucapkan oleh raja. Selain raja, orang
harus menggunakan kata ganti Kula atau Kawula (Jawa), Abdi (Sunda),
saya atau sahaya (Melayu) yang bermakna budak. Bahkan di hadapan
raja, orang harus menggunakan kata ganti diri "patik" (anjing).
Gagasan SSJ tentang komunitas "masyarakat" yang berasal dari istilah
Arab musyarakah (orang sederajat yang bekerja sama)menggantikan
komunitas "kawula" (budak) di desa-desa Lemah Abang benar-benar
membahayakan sistem kekuasaan dewasa itu.

Demikianlah, para pengikut SSJ yang disebut "kaum Abangan" (pengikut
Syaikh Lemah Abang atau penduduk desa Lemah Abang) diposisikan sebagai
kelompok murtad yang harus dibasmi. Pernyataan Sunan Giri II yang
berbunyi,"SSJ kafir inda al-naas wa mu'min inda Allah" menunjuk
sinyalemen adanya latar politis di balik "penggusuran" ajaran SSJ.

Banyak orang yang melihat tasawuf falsafi: tasawuf yang berangkat dari
paradigma penyatuan khalik-makhluk secara mistis, merupakan sisi agama
yang rumit, ekslusif, disamping sering dianggap menyimpang. Bagaimana
Jenar bisa fungsional, khususnya bagi kegersangan spiritual masyarakat
kota?
Sejak semula ajaran SSJ memang rumit dan sangat eksklusif. Tarikat
Akmaliyah sendiri sangat tertutup. Di kalangan internal ada ketentuan
yang mengatur para pengikut untuk tidak membahas ajaran SSJ kepada
orang luar. Mereka mengikuti aturan yang berbunyi, "Ajaran ini haram
dibicarakan kepada orang-orang yang tidak sama iktikadnya." Dengan
ketentuan itu, kayaknya ajaran SSJ memang sulit disosialisasi sebagai
ajaran yang terbuka dan bersifat umum. Namun demikian, di era global
ketika pengetahuan manusia sudah mencapai tahap yang paling tinggi
dari sejarah peradaban manusia, ajaran SSJ ternyata bisa diterima
sebagai sesuatu yang masuk akal dan sepertinya bisa diamalkan.

Di era global sekarang ini, pemikiran, gagasan, konsep, dan pandangan
SSJ justru banyak dijadikan kajian oleh orang Islam maupun non-Islam.
Nah yang paling sulit dari ajaran SSJ untuk diaplikasi secara umum
adalah pemahaman terhadap konsep Allah sebagai Sang Suwung yang
meliputi segala. Sebab pada tahap ruhani itu, orang jadi aneh karena
ia merasa selalu diliputi dan 'dilihat' Allah di mana saja berada
sehingga pemikiran, ucapan, tindakan, dan gerak-geriknya sering
menjadi ewuh-pakewuh dan tidak normal. Karena itu, menurut saya, yang
paling sesuai dipelajari orang di era sekarang ini cukuplah ajaran
filosofis SSJ sebagaimana banyak ditulis orang dan bukan tarikatnya.


 














      Mulai chatting dengan teman di Yahoo! Pingbox baru sekarang!! Membuat tempat chat pribadi di blog Anda sekarang sangatlah mudah. http://id.messenger.yahoo.com/pingbox/
Reply | Threaded
Open this post in threaded view
|  
Report Content as Inappropriate

Re: Syekh Siti Jenar & Suluk Nusantara BAgian IV

Adi Brama
Yang jelas SSJ dijebak oleh politik,
mana lanjutanya mas nDoe ???




________________________________
From: "[hidden email]" <[hidden email]>
To: [hidden email]
Sent: Thursday, January 22, 2009 11:44:17 AM
Subject: Re: [Spiritual-Indonesia] Syekh Siti Jenar & Suluk Nusantara BAgian IV


Pak Wal,
Betul tekali.. Hehehe..

Salam sambil leyeh-leyeh, dipo


Powered by Telkomsel BlackBerry®
________________________________
From: Wal Suparmo
Date: Thu, 22 Jan 2009 12:29:45 +0800 (SGT)
To: <Spiritual-Indonesia @yahoogroups. com>
Subject: Re: [Spiritual-Indonesi a] Syekh Siti Jenar Suluk Nusantara BAgian IV

Salam,
Pak Dipo sambil leyehan MENYIMAK jarike si Genduk ( ala Syeh Puji).
Yopora? " Alert! Alert! banking!banking! ( bukan bank BCA lho) seperti yang dalami crew Adam Air dengan kapal  bambunya yang akhirnya fatal dan harus berteriak allahu akbar!
Wasalam,
Wal Suparmo

--- Pada Sel, 20/1/09, Mas Dipo <dipo1601@yahoo. com> menulis:

Dari: Mas Dipo <dipo1601@yahoo. com>
Topik: Re: [Spiritual-Indonesi a] Syekh Siti Jenar & Suluk Nusantara BAgian IV
Kepada: Spiritual-Indonesia @yahoogroups. com
Tanggal: Selasa, 20 Januari, 2009, 12:24 PM


Mas Bambang,
Silahkan dilanjut..
Saya duduk menyimak...

Salam, dipo



________________________________
From: the_most_braveheart <the_most_braveheart @yahoo.com>
To: Spiritual-Indonesia @yahoogroups. com
Sent: Tuesday, January 20, 2009 12:10:21 PM
Subject: [Spiritual-Indonesi a] Syekh Siti Jenar & Suluk Nusantara BAgian IV


Syekh Siti Jenar & Suluk Nusantara

Nah yang sering terjadi di kalangan pengamal ajaran SSJ dari kalangan
grass-root yang sejak awal memang tidak berada di lingkungan kaum
agamis, menggunakan klaim bahwa SSJ menolak syariat dengan tujuan
utama agar mereka tidak menjalani syariat. Bahkan berbeda jauh dengan
SSJ yang menganggap syariat adalah sarana penting untuk menjaga
kerendahan hati dan merupakan pijakan awal untuk mencapai ma'rifat
setelah melalui thariqat dan hakikat, mereka yang dari kalangan
grass-root justru menganggap bahwa syariat adalah lambang kerendahan
maqam ruhani. Ini sangat berlawanan dengan ajaran SSJ.

Mereka terjebak oleh ketidak-fahaman dan terjerat sifat takabur.
Bahkan karena grass-root tak terdidik dan tidak mampu mewadahi ajaran
SSJ yang sarat dengan pemikiran filosofis, mereka menafsirkan ajaran
SSJ dengan ilmu otak-atik matuk. Ini sangat berbeda dengan pengamal
ajaran SSJ dari kalangan bangsawan dan ulama (sayangnya mereka menutup
diri dan merahasiakan ajarannya secara sangat eksklusif).

Terkait dengan tanya diatas, betulkah Jenar dieksekusi (hukuman mati)
oleh Wali Songo? Kalau benar, apa sebabnya? Ajarannya kah, atau lebih
kepada kepentingan politik rezim Demak?
SSJ tidak dihukum mati Walisongo. Tapi ajarannya dilarang oleh
Trenggana, Sultan Demak. Latarnya jelas politis. Keikut-sertaan
Walisongo dalam proses pelarangan ajaran SSJ, menurut saya, lebih
disebabkan oleh "keharusan moral" untuk memihak kepentingan Trenggana
dalam kapasitas keluarga. Hendaknya diingat, bahwa Trenggana adalah
cucu Sunan Ampel. Sunan Bonang adalah uwaknya. Sunan Drajat adalah
pamannya. Sunan Giri II adalah sepupunya. Sunan Kalijaga adalah
mertuanya. Sunan Gunung Jati adalah besannya. Sunan Ngudung sepupu
jauhnya.

Proses politisasi itu terlihat dari kisah dieksekusinya SSJ di Masjid
Demak dan di Masjid Kasepuhan Cirebon dengan skenario yang mirip. Apa
bisa satu orang dieksekusi dua kali? Dan mayat keduanya diganti
anjing. Ironisnya dikisahkan mayat SSJ menebarkan bau wangi dan
darahnya menuliskan kalimah Laailaha ilallah Muhammadur rasulullah.

Bukankah skenario itu menaikkan pamor SSJ yang matinya sangat
menakjubkan? Sebaliknya menjelekkan Walisongo sebagai ulama-ulama curang.?
Pengikut SSJ justru tidak suka dengan cerita versi itu. Mereka yakin
SSJ tidak dieksekusi. Hanya ajaran SSJ yang dilarang oleh penguasa
dewasa itu dengan dukungan formal Walisongo.

Apakah ekses politik dari ajaran Siti Jenar, sehingga ia patut
"disingkirkan" oleh otoritas yang ada? Kepentingan siapakah yang
paling terusik?
Ajaran egalitarianisme SSJ yang meneladani ajaran Nabi Saw dan
sahabat, jelas menimbulkan dampak langsung dengan eksesnya karena
dewasa itu bisa dianggap sangat berbahaya bagi sistem kekuasaan di
Jawa yang menganut konsep Dewaraja (raja adalah titisan Tuhan) yang
berlangsung meski orang sudah memeluk Islam. Kata ganti "Ingsun" yang
digunakan oleh SSJ dan pengikut (Sunan Giri dan warga Gresik juga
sama) adalah penghinaan spiritual terhadap raja. Karena kata ganti
tersebut di era itu hanya hak diucapkan oleh raja. Selain raja, orang
harus menggunakan kata ganti Kula atau Kawula (Jawa), Abdi (Sunda),
saya atau sahaya (Melayu) yang bermakna budak. Bahkan di hadapan
raja, orang harus menggunakan kata ganti diri "patik" (anjing)..
Gagasan SSJ tentang komunitas "masyarakat" yang berasal dari istilah
Arab musyarakah (orang sederajat yang bekerja sama)menggantikan
komunitas "kawula" (budak) di desa-desa Lemah Abang benar-benar
membahayakan sistem kekuasaan dewasa itu.

Demikianlah, para pengikut SSJ yang disebut "kaum Abangan" (pengikut
Syaikh Lemah Abang atau penduduk desa Lemah Abang) diposisikan sebagai
kelompok murtad yang harus dibasmi. Pernyataan Sunan Giri II yang
berbunyi,"SSJ kafir inda al-naas wa mu'min inda Allah" menunjuk
sinyalemen adanya latar politis di balik "penggusuran" ajaran SSJ.

Banyak orang yang melihat tasawuf falsafi: tasawuf yang berangkat dari
paradigma penyatuan khalik-makhluk secara mistis, merupakan sisi agama
yang rumit, ekslusif, disamping sering dianggap menyimpang. Bagaimana
Jenar bisa fungsional, khususnya bagi kegersangan spiritual masyarakat
kota?
Sejak semula ajaran SSJ memang rumit dan sangat eksklusif. Tarikat
Akmaliyah sendiri sangat tertutup. Di kalangan internal ada ketentuan
yang mengatur para pengikut untuk tidak membahas ajaran SSJ kepada
orang luar. Mereka mengikuti aturan yang berbunyi, "Ajaran ini haram
dibicarakan kepada orang-orang yang tidak sama iktikadnya." Dengan
ketentuan itu, kayaknya ajaran SSJ memang sulit disosialisasi sebagai
ajaran yang terbuka dan bersifat umum. Namun demikian, di era global
ketika pengetahuan manusia sudah mencapai tahap yang paling tinggi
dari sejarah peradaban manusia, ajaran SSJ ternyata bisa diterima
sebagai sesuatu yang masuk akal dan sepertinya bisa diamalkan.

Di era global sekarang ini, pemikiran, gagasan, konsep, dan pandangan
SSJ justru banyak dijadikan kajian oleh orang Islam maupun non-Islam.
Nah yang paling sulit dari ajaran SSJ untuk diaplikasi secara umum
adalah pemahaman terhadap konsep Allah sebagai Sang Suwung yang
meliputi segala. Sebab pada tahap ruhani itu, orang jadi aneh karena
ia merasa selalu diliputi dan 'dilihat' Allah di mana saja berada
sehingga pemikiran, ucapan, tindakan, dan gerak-geriknya sering
menjadi ewuh-pakewuh dan tidak normal. Karena itu, menurut saya, yang
paling sesuai dipelajari orang di era sekarang ini cukuplah ajaran
filosofis SSJ sebagaimana banyak ditulis orang dan bukan tarikatnya.


 

________________________________
Coba Yahoo! Messenger 9.0 baru Akhirnya datang juga!  


     
Reply | Threaded
Open this post in threaded view
|  
Report Content as Inappropriate

Re: Syekh Siti Jenar & Suluk Nusantara BAgian IV

frenchleghorn
SSJ gak dijebak oleh politik cuman suasana pada waktu itu kental dengan
politik saling sikut dan kekawatiran bangkitnya power mojopahit yang diwakili
oleh kebo kenanga as murid SSJ.........pus yang kacau sumbr tulisan tentang dia
yg ada tulisan dari pihak keraton........nukilan kisah beliau dibikin jelek
 
salam
 
darma

--- On Thu, 1/22/09, Adi Brama <[hidden email]> wrote:

From: Adi Brama <[hidden email]>
Subject: Re: [Spiritual-Indonesia] Syekh Siti Jenar & Suluk Nusantara BAgian IV
To: [hidden email]
Date: Thursday, January 22, 2009, 12:08 PM








Yang jelas SSJ dijebak oleh politik,
mana lanjutanya mas nDoe ???





From: "dipo1601@yahoo. com" <dipo1601@yahoo. com>
To: Spiritual-Indonesia @yahoogroups. com
Sent: Thursday, January 22, 2009 11:44:17 AM
Subject: Re: [Spiritual-Indonesi a] Syekh Siti Jenar & Suluk Nusantara BAgian IV



Pak Wal,
Betul tekali.. Hehehe..

Salam sambil leyeh-leyeh, dipo


Powered by Telkomsel BlackBerry®


From: Wal Suparmo
Date: Thu, 22 Jan 2009 12:29:45 +0800 (SGT)
To: <Spiritual-Indonesia @yahoogroups. com>
Subject: Re: [Spiritual-Indonesi a] Syekh Siti Jenar Suluk Nusantara BAgian IV








Salam,
Pak Dipo sambil leyehan MENYIMAK jarike si Genduk ( ala Syeh Puji).
Yopora? " Alert! Alert! banking!banking! ( bukan bank BCA lho) seperti yang dalami crew Adam Air dengan kapal  bambunya yang akhirnya fatal dan harus berteriak allahu akbar!
Wasalam,
Wal Suparmo

--- Pada Sel, 20/1/09, Mas Dipo <dipo1601@yahoo. com> menulis:

Dari: Mas Dipo <dipo1601@yahoo. com>
Topik: Re: [Spiritual-Indonesi a] Syekh Siti Jenar & Suluk Nusantara BAgian IV
Kepada: Spiritual-Indonesia @yahoogroups. com
Tanggal: Selasa, 20 Januari, 2009, 12:24 PM






Mas Bambang,
Silahkan dilanjut...
Saya duduk menyimak...
 
Salam, dipo




From: the_most_braveheart <the_most_braveheart @yahoo.com>
To: Spiritual-Indonesia @yahoogroups. com
Sent: Tuesday, January 20, 2009 12:10:21 PM
Subject: [Spiritual-Indonesi a] Syekh Siti Jenar & Suluk Nusantara BAgian IV



Syekh Siti Jenar & Suluk Nusantara

Nah yang sering terjadi di kalangan pengamal ajaran SSJ dari kalangan
grass-root yang sejak awal memang tidak berada di lingkungan kaum
agamis, menggunakan klaim bahwa SSJ menolak syariat dengan tujuan
utama agar mereka tidak menjalani syariat. Bahkan berbeda jauh dengan
SSJ yang menganggap syariat adalah sarana penting untuk menjaga
kerendahan hati dan merupakan pijakan awal untuk mencapai ma'rifat
setelah melalui thariqat dan hakikat, mereka yang dari kalangan
grass-root justru menganggap bahwa syariat adalah lambang kerendahan
maqam ruhani. Ini sangat berlawanan dengan ajaran SSJ.

Mereka terjebak oleh ketidak-fahaman dan terjerat sifat takabur.
Bahkan karena grass-root tak terdidik dan tidak mampu mewadahi ajaran
SSJ yang sarat dengan pemikiran filosofis, mereka menafsirkan ajaran
SSJ dengan ilmu otak-atik matuk. Ini sangat berbeda dengan pengamal
ajaran SSJ dari kalangan bangsawan dan ulama (sayangnya mereka menutup
diri dan merahasiakan ajarannya secara sangat eksklusif).

Terkait dengan tanya diatas, betulkah Jenar dieksekusi (hukuman mati)
oleh Wali Songo? Kalau benar, apa sebabnya? Ajarannya kah, atau lebih
kepada kepentingan politik rezim Demak?
SSJ tidak dihukum mati Walisongo. Tapi ajarannya dilarang oleh
Trenggana, Sultan Demak. Latarnya jelas politis. Keikut-sertaan
Walisongo dalam proses pelarangan ajaran SSJ, menurut saya, lebih
disebabkan oleh "keharusan moral" untuk memihak kepentingan Trenggana
dalam kapasitas keluarga. Hendaknya diingat, bahwa Trenggana adalah
cucu Sunan Ampel. Sunan Bonang adalah uwaknya. Sunan Drajat adalah
pamannya. Sunan Giri II adalah sepupunya. Sunan Kalijaga adalah
mertuanya. Sunan Gunung Jati adalah besannya. Sunan Ngudung sepupu
jauhnya.

Proses politisasi itu terlihat dari kisah dieksekusinya SSJ di Masjid
Demak dan di Masjid Kasepuhan Cirebon dengan skenario yang mirip. Apa
bisa satu orang dieksekusi dua kali? Dan mayat keduanya diganti
anjing. Ironisnya dikisahkan mayat SSJ menebarkan bau wangi dan
darahnya menuliskan kalimah Laailaha ilallah Muhammadur rasulullah.

Bukankah skenario itu menaikkan pamor SSJ yang matinya sangat
menakjubkan? Sebaliknya menjelekkan Walisongo sebagai ulama-ulama curang.?
Pengikut SSJ justru tidak suka dengan cerita versi itu. Mereka yakin
SSJ tidak dieksekusi. Hanya ajaran SSJ yang dilarang oleh penguasa
dewasa itu dengan dukungan formal Walisongo.

Apakah ekses politik dari ajaran Siti Jenar, sehingga ia patut
"disingkirkan" oleh otoritas yang ada? Kepentingan siapakah yang
paling terusik?
Ajaran egalitarianisme SSJ yang meneladani ajaran Nabi Saw dan
sahabat, jelas menimbulkan dampak langsung dengan eksesnya karena
dewasa itu bisa dianggap sangat berbahaya bagi sistem kekuasaan di
Jawa yang menganut konsep Dewaraja (raja adalah titisan Tuhan) yang
berlangsung meski orang sudah memeluk Islam. Kata ganti "Ingsun" yang
digunakan oleh SSJ dan pengikut (Sunan Giri dan warga Gresik juga
sama) adalah penghinaan spiritual terhadap raja. Karena kata ganti
tersebut di era itu hanya hak diucapkan oleh raja. Selain raja, orang
harus menggunakan kata ganti Kula atau Kawula (Jawa), Abdi (Sunda),
saya atau sahaya (Melayu) yang bermakna budak. Bahkan di hadapan
raja, orang harus menggunakan kata ganti diri "patik" (anjing).
Gagasan SSJ tentang komunitas "masyarakat" yang berasal dari istilah
Arab musyarakah (orang sederajat yang bekerja sama)menggantikan
komunitas "kawula" (budak) di desa-desa Lemah Abang benar-benar
membahayakan sistem kekuasaan dewasa itu.

Demikianlah, para pengikut SSJ yang disebut "kaum Abangan" (pengikut
Syaikh Lemah Abang atau penduduk desa Lemah Abang) diposisikan sebagai
kelompok murtad yang harus dibasmi. Pernyataan Sunan Giri II yang
berbunyi,"SSJ kafir inda al-naas wa mu'min inda Allah" menunjuk
sinyalemen adanya latar politis di balik "penggusuran" ajaran SSJ.

Banyak orang yang melihat tasawuf falsafi: tasawuf yang berangkat dari
paradigma penyatuan khalik-makhluk secara mistis, merupakan sisi agama
yang rumit, ekslusif, disamping sering dianggap menyimpang. Bagaimana
Jenar bisa fungsional, khususnya bagi kegersangan spiritual masyarakat
kota?
Sejak semula ajaran SSJ memang rumit dan sangat eksklusif. Tarikat
Akmaliyah sendiri sangat tertutup. Di kalangan internal ada ketentuan
yang mengatur para pengikut untuk tidak membahas ajaran SSJ kepada
orang luar. Mereka mengikuti aturan yang berbunyi, "Ajaran ini haram
dibicarakan kepada orang-orang yang tidak sama iktikadnya." Dengan
ketentuan itu, kayaknya ajaran SSJ memang sulit disosialisasi sebagai
ajaran yang terbuka dan bersifat umum. Namun demikian, di era global
ketika pengetahuan manusia sudah mencapai tahap yang paling tinggi
dari sejarah peradaban manusia, ajaran SSJ ternyata bisa diterima
sebagai sesuatu yang masuk akal dan sepertinya bisa diamalkan.

Di era global sekarang ini, pemikiran, gagasan, konsep, dan pandangan
SSJ justru banyak dijadikan kajian oleh orang Islam maupun non-Islam.
Nah yang paling sulit dari ajaran SSJ untuk diaplikasi secara umum
adalah pemahaman terhadap konsep Allah sebagai Sang Suwung yang
meliputi segala. Sebab pada tahap ruhani itu, orang jadi aneh karena
ia merasa selalu diliputi dan 'dilihat' Allah di mana saja berada
sehingga pemikiran, ucapan, tindakan, dan gerak-geriknya sering
menjadi ewuh-pakewuh dan tidak normal. Karena itu, menurut saya, yang
paling sesuai dipelajari orang di era sekarang ini cukuplah ajaran
filosofis SSJ sebagaimana banyak ditulis orang dan bukan tarikatnya.





Coba Yahoo! Messenger 9.0 baru Akhirnya datang juga!

 














     
Reply | Threaded
Open this post in threaded view
|  
Report Content as Inappropriate

Re: Syekh Siti Jenar & Suluk Nusantara BAgian IV

Adi Brama
Stuju mas Dar,
memang begitulah adanya, Ki Kebo Kenanga sbg pejabat excekutive yg terjebak.
sampe dihukum mati oleh kraton dg algojo sunan kudus
Salam,

 



________________________________
From: sang baruna <[hidden email]>
To: [hidden email]
Sent: Thursday, January 22, 2009 12:31:38 PM
Subject: Re: [Spiritual-Indonesia] Syekh Siti Jenar & Suluk Nusantara BAgian IV


SSJ gak dijebak oleh politik cuman suasana pada waktu itu kental dengan
politik saling sikut dan kekawatiran bangkitnya power mojopahit yang diwakili
oleh kebo kenanga as murid SSJ......... pus yang kacau sumbr tulisan tentang dia
yg ada tulisan dari pihak keraton..... ...nukilan kisah beliau dibikin jelek

salam

darma

--- On Thu, 1/22/09, Adi Brama <adibrama@yahoo. com> wrote:

From: Adi Brama <adibrama@yahoo. com>
Subject: Re: [Spiritual-Indonesi a] Syekh Siti Jenar & Suluk Nusantara BAgian IV
To: Spiritual-Indonesia @yahoogroups. com
Date: Thursday, January 22, 2009, 12:08 PM


Yang jelas SSJ dijebak oleh politik,
mana lanjutanya mas nDoe ???




________________________________
From: "dipo1601@yahoo. com" <dipo1601@yahoo. com>
To: Spiritual-Indonesia @yahoogroups. com
Sent: Thursday, January 22, 2009 11:44:17 AM
Subject: Re: [Spiritual-Indonesi a] Syekh Siti Jenar & Suluk Nusantara BAgian IV


Pak Wal,
Betul tekali.. Hehehe..

Salam sambil leyeh-leyeh, dipo


Powered by Telkomsel BlackBerry®

________________________________
From: Wal Suparmo
Date: Thu, 22 Jan 2009 12:29:45 +0800 (SGT)
To: <Spiritual-Indonesia @yahoogroups. com>
Subject: Re: [Spiritual-Indonesi a] Syekh Siti Jenar Suluk Nusantara BAgian IV

Salam,
Pak Dipo sambil leyehan MENYIMAK jarike si Genduk ( ala Syeh Puji).
Yopora? " Alert! Alert! banking!banking! ( bukan bank BCA lho) seperti yang dalami crew Adam Air dengan kapal  bambunya yang akhirnya fatal dan harus berteriak allahu akbar!
Wasalam,
Wal Suparmo

--- Pada Sel, 20/1/09, Mas Dipo <dipo1601@yahoo. com> menulis:

Dari: Mas Dipo <dipo1601@yahoo. com>
Topik: Re: [Spiritual-Indonesi a] Syekh Siti Jenar & Suluk Nusantara BAgian IV
Kepada: Spiritual-Indonesia @yahoogroups. com
Tanggal: Selasa, 20 Januari, 2009, 12:24 PM


Mas Bambang,
Silahkan dilanjut...
Saya duduk menyimak...

Salam, dipo



________________________________
From: the_most_braveheart <the_most_braveheart @yahoo.com>
To: Spiritual-Indonesia @yahoogroups. com
Sent: Tuesday, January 20, 2009 12:10:21 PM
Subject: [Spiritual-Indonesi a] Syekh Siti Jenar & Suluk Nusantara BAgian IV


Syekh Siti Jenar & Suluk Nusantara

Nah yang sering terjadi di kalangan pengamal ajaran SSJ dari kalangan
grass-root yang sejak awal memang tidak berada di lingkungan kaum
agamis, menggunakan klaim bahwa SSJ menolak syariat dengan tujuan
utama agar mereka tidak menjalani syariat. Bahkan berbeda jauh dengan
SSJ yang menganggap syariat adalah sarana penting untuk menjaga
kerendahan hati dan merupakan pijakan awal untuk mencapai ma'rifat
setelah melalui thariqat dan hakikat, mereka yang dari kalangan
grass-root justru menganggap bahwa syariat adalah lambang kerendahan
maqam ruhani. Ini sangat berlawanan dengan ajaran SSJ.

Mereka terjebak oleh ketidak-fahaman dan terjerat sifat takabur.
Bahkan karena grass-root tak terdidik dan tidak mampu mewadahi ajaran
SSJ yang sarat dengan pemikiran filosofis, mereka menafsirkan ajaran
SSJ dengan ilmu otak-atik matuk. Ini sangat berbeda dengan pengamal
ajaran SSJ dari kalangan bangsawan dan ulama (sayangnya mereka menutup
diri dan merahasiakan ajarannya secara sangat eksklusif).

Terkait dengan tanya diatas, betulkah Jenar dieksekusi (hukuman mati)
oleh Wali Songo? Kalau benar, apa sebabnya? Ajarannya kah, atau lebih
kepada kepentingan politik rezim Demak?
SSJ tidak dihukum mati Walisongo. Tapi ajarannya dilarang oleh
Trenggana, Sultan Demak. Latarnya jelas politis. Keikut-sertaan
Walisongo dalam proses pelarangan ajaran SSJ, menurut saya, lebih
disebabkan oleh "keharusan moral" untuk memihak kepentingan Trenggana
dalam kapasitas keluarga. Hendaknya diingat, bahwa Trenggana adalah
cucu Sunan Ampel. Sunan Bonang adalah uwaknya. Sunan Drajat adalah
pamannya. Sunan Giri II adalah sepupunya. Sunan Kalijaga adalah
mertuanya. Sunan Gunung Jati adalah besannya. Sunan Ngudung sepupu
jauhnya..

Proses politisasi itu terlihat dari kisah dieksekusinya SSJ di Masjid
Demak dan di Masjid Kasepuhan Cirebon dengan skenario yang mirip. Apa
bisa satu orang dieksekusi dua kali? Dan mayat keduanya diganti
anjing.. Ironisnya dikisahkan mayat SSJ menebarkan bau wangi dan
darahnya menuliskan kalimah Laailaha ilallah Muhammadur rasulullah.

Bukankah skenario itu menaikkan pamor SSJ yang matinya sangat
menakjubkan? Sebaliknya menjelekkan Walisongo sebagai ulama-ulama curang.?
Pengikut SSJ justru tidak suka dengan cerita versi itu. Mereka yakin
SSJ tidak dieksekusi. Hanya ajaran SSJ yang dilarang oleh penguasa
dewasa itu dengan dukungan formal Walisongo.

Apakah ekses politik dari ajaran Siti Jenar, sehingga ia patut
"disingkirkan" oleh otoritas yang ada? Kepentingan siapakah yang
paling terusik?
Ajaran egalitarianisme SSJ yang meneladani ajaran Nabi Saw dan
sahabat, jelas menimbulkan dampak langsung dengan eksesnya karena
dewasa itu bisa dianggap sangat berbahaya bagi sistem kekuasaan di
Jawa yang menganut konsep Dewaraja (raja adalah titisan Tuhan) yang
berlangsung meski orang sudah memeluk Islam. Kata ganti "Ingsun" yang
digunakan oleh SSJ dan pengikut (Sunan Giri dan warga Gresik juga
sama) adalah penghinaan spiritual terhadap raja. Karena kata ganti
tersebut di era itu hanya hak diucapkan oleh raja. Selain raja, orang
harus menggunakan kata ganti Kula atau Kawula (Jawa), Abdi (Sunda),
saya atau sahaya (Melayu) yang bermakna budak. Bahkan di hadapan
raja, orang harus menggunakan kata ganti diri "patik" (anjing).
Gagasan SSJ tentang komunitas "masyarakat" yang berasal dari istilah
Arab musyarakah (orang sederajat yang bekerja sama)menggantikan
komunitas "kawula" (budak) di desa-desa Lemah Abang benar-benar
membahayakan sistem kekuasaan dewasa itu.

Demikianlah, para pengikut SSJ yang disebut "kaum Abangan" (pengikut
Syaikh Lemah Abang atau penduduk desa Lemah Abang) diposisikan sebagai
kelompok murtad yang harus dibasmi. Pernyataan Sunan Giri II yang
berbunyi,"SSJ kafir inda al-naas wa mu'min inda Allah" menunjuk
sinyalemen adanya latar politis di balik "penggusuran" ajaran SSJ.

Banyak orang yang melihat tasawuf falsafi: tasawuf yang berangkat dari
paradigma penyatuan khalik-makhluk secara mistis, merupakan sisi agama
yang rumit, ekslusif, disamping sering dianggap menyimpang. Bagaimana
Jenar bisa fungsional, khususnya bagi kegersangan spiritual masyarakat
kota?
Sejak semula ajaran SSJ memang rumit dan sangat eksklusif. Tarikat
Akmaliyah sendiri sangat tertutup. Di kalangan internal ada ketentuan
yang mengatur para pengikut untuk tidak membahas ajaran SSJ kepada
orang luar. Mereka mengikuti aturan yang berbunyi, "Ajaran ini haram
dibicarakan kepada orang-orang yang tidak sama iktikadnya." Dengan
ketentuan itu, kayaknya ajaran SSJ memang sulit disosialisasi sebagai
ajaran yang terbuka dan bersifat umum. Namun demikian, di era global
ketika pengetahuan manusia sudah mencapai tahap yang paling tinggi
dari sejarah peradaban manusia, ajaran SSJ ternyata bisa diterima
sebagai sesuatu yang masuk akal dan sepertinya bisa diamalkan.

Di era global sekarang ini, pemikiran, gagasan, konsep, dan pandangan
SSJ justru banyak dijadikan kajian oleh orang Islam maupun non-Islam.
Nah yang paling sulit dari ajaran SSJ untuk diaplikasi secara umum
adalah pemahaman terhadap konsep Allah sebagai Sang Suwung yang
meliputi segala. Sebab pada tahap ruhani itu, orang jadi aneh karena
ia merasa selalu diliputi dan 'dilihat' Allah di mana saja berada
sehingga pemikiran, ucapan, tindakan, dan gerak-geriknya sering
menjadi ewuh-pakewuh dan tidak normal. Karena itu, menurut saya, yang
paling sesuai dipelajari orang di era sekarang ini cukuplah ajaran
filosofis SSJ sebagaimana banyak ditulis orang dan bukan tarikatnya.


 
________________________________
Coba Yahoo! Messenger 9.0 baru Akhirnya datang juga!
 
 


     
Reply | Threaded
Open this post in threaded view
|  
Report Content as Inappropriate

Re: Syekh Siti Jenar & Suluk Nusantara BAgian IV

Mas Dipo
Ki Kebo Kenongo gak dijebak oleh Sunan Kudus, justru dia malah belajar kepada Beliau ilmu Sejati.

Nuwun, dipo

Powered by Telkomsel BlackBerry®

-----Original Message-----
From: Adi Brama <[hidden email]>

Date: Thu, 22 Jan 2009 01:13:30
To: <[hidden email]>
Subject: Re: [Spiritual-Indonesia] Syekh Siti Jenar & Suluk Nusantara BAgian IV


Stuju mas Dar,
memang begitulah adanya, Ki Kebo Kenanga sbg pejabat excekutive yg terjebak.
sampe dihukum mati oleh kraton dg algojo sunan kudus
Salam,

 



________________________________
From: sang baruna <[hidden email]>
To: [hidden email]
Sent: Thursday, January 22, 2009 12:31:38 PM
Subject: Re: [Spiritual-Indonesia] Syekh Siti Jenar & Suluk Nusantara BAgian IV


SSJ gak dijebak oleh politik cuman suasana pada waktu itu kental dengan
politik saling sikut dan kekawatiran bangkitnya power mojopahit yang diwakili
oleh kebo kenanga as murid SSJ......... pus yang kacau sumbr tulisan tentang dia
yg ada tulisan dari pihak keraton..... ...nukilan kisah beliau dibikin jelek

salam

darma

--- On Thu, 1/22/09, Adi Brama <adibrama@yahoo. com> wrote:

From: Adi Brama <adibrama@yahoo. com>
Subject: Re: [Spiritual-Indonesi a] Syekh Siti Jenar & Suluk Nusantara BAgian IV
To: Spiritual-Indonesia @yahoogroups. com
Date: Thursday, January 22, 2009, 12:08 PM


Yang jelas SSJ dijebak oleh politik,
mana lanjutanya mas nDoe ???




________________________________
From: "dipo1601@yahoo. com" <dipo1601@yahoo. com>
To: Spiritual-Indonesia @yahoogroups. com
Sent: Thursday, January 22, 2009 11:44:17 AM
Subject: Re: [Spiritual-Indonesi a] Syekh Siti Jenar & Suluk Nusantara BAgian IV


Pak Wal,
Betul tekali.. Hehehe..

Salam sambil leyeh-leyeh, dipo


Powered by Telkomsel BlackBerry®

________________________________
From: Wal Suparmo
Date: Thu, 22 Jan 2009 12:29:45 +0800 (SGT)
To: <Spiritual-Indonesia @yahoogroups. com>
Subject: Re: [Spiritual-Indonesi a] Syekh Siti Jenar Suluk Nusantara BAgian IV

Salam,
Pak Dipo sambil leyehan MENYIMAK jarike si Genduk ( ala Syeh Puji).
Yopora? " Alert! Alert! banking!banking! ( bukan bank BCA lho) seperti yang dalami crew Adam Air dengan kapal  bambunya yang akhirnya fatal dan harus berteriak allahu akbar!
Wasalam,
Wal Suparmo

--- Pada Sel, 20/1/09, Mas Dipo <dipo1601@yahoo. com> menulis:

Dari: Mas Dipo <dipo1601@yahoo. com>
Topik: Re: [Spiritual-Indonesi a] Syekh Siti Jenar & Suluk Nusantara BAgian IV
Kepada: Spiritual-Indonesia @yahoogroups. com
Tanggal: Selasa, 20 Januari, 2009, 12:24 PM


Mas Bambang,
Silahkan dilanjut...
Saya duduk menyimak...

Salam, dipo



________________________________
From: the_most_braveheart <the_most_braveheart @yahoo.com>
To: Spiritual-Indonesia @yahoogroups. com
Sent: Tuesday, January 20, 2009 12:10:21 PM
Subject: [Spiritual-Indonesi a] Syekh Siti Jenar & Suluk Nusantara BAgian IV


Syekh Siti Jenar & Suluk Nusantara

Nah yang sering terjadi di kalangan pengamal ajaran SSJ dari kalangan
grass-root yang sejak awal memang tidak berada di lingkungan kaum
agamis, menggunakan klaim bahwa SSJ menolak syariat dengan tujuan
utama agar mereka tidak menjalani syariat. Bahkan berbeda jauh dengan
SSJ yang menganggap syariat adalah sarana penting untuk menjaga
kerendahan hati dan merupakan pijakan awal untuk mencapai ma'rifat
setelah melalui thariqat dan hakikat, mereka yang dari kalangan
grass-root justru menganggap bahwa syariat adalah lambang kerendahan
maqam ruhani. Ini sangat berlawanan dengan ajaran SSJ.

Mereka terjebak oleh ketidak-fahaman dan terjerat sifat takabur.
Bahkan karena grass-root tak terdidik dan tidak mampu mewadahi ajaran
SSJ yang sarat dengan pemikiran filosofis, mereka menafsirkan ajaran
SSJ dengan ilmu otak-atik matuk. Ini sangat berbeda dengan pengamal
ajaran SSJ dari kalangan bangsawan dan ulama (sayangnya mereka menutup
diri dan merahasiakan ajarannya secara sangat eksklusif).

Terkait dengan tanya diatas, betulkah Jenar dieksekusi (hukuman mati)
oleh Wali Songo? Kalau benar, apa sebabnya? Ajarannya kah, atau lebih
kepada kepentingan politik rezim Demak?
SSJ tidak dihukum mati Walisongo. Tapi ajarannya dilarang oleh
Trenggana, Sultan Demak. Latarnya jelas politis. Keikut-sertaan
Walisongo dalam proses pelarangan ajaran SSJ, menurut saya, lebih
disebabkan oleh "keharusan moral" untuk memihak kepentingan Trenggana
dalam kapasitas keluarga. Hendaknya diingat, bahwa Trenggana adalah
cucu Sunan Ampel. Sunan Bonang adalah uwaknya. Sunan Drajat adalah
pamannya. Sunan Giri II adalah sepupunya. Sunan Kalijaga adalah
mertuanya. Sunan Gunung Jati adalah besannya. Sunan Ngudung sepupu
jauhnya..

Proses politisasi itu terlihat dari kisah dieksekusinya SSJ di Masjid
Demak dan di Masjid Kasepuhan Cirebon dengan skenario yang mirip. Apa
bisa satu orang dieksekusi dua kali? Dan mayat keduanya diganti
anjing.. Ironisnya dikisahkan mayat SSJ menebarkan bau wangi dan
darahnya menuliskan kalimah Laailaha ilallah Muhammadur rasulullah.

Bukankah skenario itu menaikkan pamor SSJ yang matinya sangat
menakjubkan? Sebaliknya menjelekkan Walisongo sebagai ulama-ulama curang.?
Pengikut SSJ justru tidak suka dengan cerita versi itu. Mereka yakin
SSJ tidak dieksekusi. Hanya ajaran SSJ yang dilarang oleh penguasa
dewasa itu dengan dukungan formal Walisongo.

Apakah ekses politik dari ajaran Siti Jenar, sehingga ia patut
"disingkirkan" oleh otoritas yang ada? Kepentingan siapakah yang
paling terusik?
Ajaran egalitarianisme SSJ yang meneladani ajaran Nabi Saw dan
sahabat, jelas menimbulkan dampak langsung dengan eksesnya karena
dewasa itu bisa dianggap sangat berbahaya bagi sistem kekuasaan di
Jawa yang menganut konsep Dewaraja (raja adalah titisan Tuhan) yang
berlangsung meski orang sudah memeluk Islam. Kata ganti "Ingsun" yang
digunakan oleh SSJ dan pengikut (Sunan Giri dan warga Gresik juga
sama) adalah penghinaan spiritual terhadap raja. Karena kata ganti
tersebut di era itu hanya hak diucapkan oleh raja. Selain raja, orang
harus menggunakan kata ganti Kula atau Kawula (Jawa), Abdi (Sunda),
saya atau sahaya (Melayu) yang bermakna budak. Bahkan di hadapan
raja, orang harus menggunakan kata ganti diri "patik" (anjing).
Gagasan SSJ tentang komunitas "masyarakat" yang berasal dari istilah
Arab musyarakah (orang sederajat yang bekerja sama)menggantikan
komunitas "kawula" (budak) di desa-desa Lemah Abang benar-benar
membahayakan sistem kekuasaan dewasa itu.

Demikianlah, para pengikut SSJ yang disebut "kaum Abangan" (pengikut
Syaikh Lemah Abang atau penduduk desa Lemah Abang) diposisikan sebagai
kelompok murtad yang harus dibasmi. Pernyataan Sunan Giri II yang
berbunyi,"SSJ kafir inda al-naas wa mu'min inda Allah" menunjuk
sinyalemen adanya latar politis di balik "penggusuran" ajaran SSJ.

Banyak orang yang melihat tasawuf falsafi: tasawuf yang berangkat dari
paradigma penyatuan khalik-makhluk secara mistis, merupakan sisi agama
yang rumit, ekslusif, disamping sering dianggap menyimpang. Bagaimana
Jenar bisa fungsional, khususnya bagi kegersangan spiritual masyarakat
kota?
Sejak semula ajaran SSJ memang rumit dan sangat eksklusif. Tarikat
Akmaliyah sendiri sangat tertutup. Di kalangan internal ada ketentuan
yang mengatur para pengikut untuk tidak membahas ajaran SSJ kepada
orang luar. Mereka mengikuti aturan yang berbunyi, "Ajaran ini haram
dibicarakan kepada orang-orang yang tidak sama iktikadnya." Dengan
ketentuan itu, kayaknya ajaran SSJ memang sulit disosialisasi sebagai
ajaran yang terbuka dan bersifat umum. Namun demikian, di era global
ketika pengetahuan manusia sudah mencapai tahap yang paling tinggi
dari sejarah peradaban manusia, ajaran SSJ ternyata bisa diterima
sebagai sesuatu yang masuk akal dan sepertinya bisa diamalkan.

Di era global sekarang ini, pemikiran, gagasan, konsep, dan pandangan
SSJ justru banyak dijadikan kajian oleh orang Islam maupun non-Islam.
Nah yang paling sulit dari ajaran SSJ untuk diaplikasi secara umum
adalah pemahaman terhadap konsep Allah sebagai Sang Suwung yang
meliputi segala. Sebab pada tahap ruhani itu, orang jadi aneh karena
ia merasa selalu diliputi dan 'dilihat' Allah di mana saja berada
sehingga pemikiran, ucapan, tindakan, dan gerak-geriknya sering
menjadi ewuh-pakewuh dan tidak normal. Karena itu, menurut saya, yang
paling sesuai dipelajari orang di era sekarang ini cukuplah ajaran
filosofis SSJ sebagaimana banyak ditulis orang dan bukan tarikatnya.


 
________________________________
Coba Yahoo! Messenger 9.0 baru Akhirnya datang juga!
 
 


     
Reply | Threaded
Open this post in threaded view
|  
Report Content as Inappropriate

Dear Dipo

noura1712

Mas Dipo
Apa ilmu sejati itu apa hanya milik wong jowo ?


Salam
Ra






Sent from my BlackBerry®
powered by Sinyal Kuat INDOSAT

-----Original Message-----
From: [hidden email]

Date: Thu, 22 Jan 2009 09:42:02
To: <[hidden email]>
Subject: Re: [Spiritual-Indonesia] Syekh Siti Jenar & Suluk Nusantara BAgian IV


Ki Kebo Kenongo gak dijebak oleh Sunan Kudus, justru dia malah belajar kepada Beliau ilmu Sejati.

Nuwun, dipo

Powered by Telkomsel BlackBerry®

-----Original Message-----
From: Adi Brama <[hidden email]>

Date: Thu, 22 Jan 2009 01:13:30
To: <[hidden email]>
Subject: Re: [Spiritual-Indonesia] Syekh Siti Jenar & Suluk Nusantara BAgian IV


Stuju mas Dar,
memang begitulah adanya, Ki Kebo Kenanga sbg pejabat excekutive yg terjebak.
sampe dihukum mati oleh kraton dg algojo sunan kudus
Salam,

 



________________________________
From: sang baruna <[hidden email]>
To: [hidden email]
Sent: Thursday, January 22, 2009 12:31:38 PM
Subject: Re: [Spiritual-Indonesia] Syekh Siti Jenar & Suluk Nusantara BAgian IV


SSJ gak dijebak oleh politik cuman suasana pada waktu itu kental dengan
politik saling sikut dan kekawatiran bangkitnya power mojopahit yang diwakili
oleh kebo kenanga as murid SSJ......... pus yang kacau sumbr tulisan tentang dia
yg ada tulisan dari pihak keraton..... ...nukilan kisah beliau dibikin jelek

salam

darma

--- On Thu, 1/22/09, Adi Brama <adibrama@yahoo. com> wrote:

From: Adi Brama <adibrama@yahoo. com>
Subject: Re: [Spiritual-Indonesi a] Syekh Siti Jenar & Suluk Nusantara BAgian IV
To: Spiritual-Indonesia @yahoogroups. com
Date: Thursday, January 22, 2009, 12:08 PM


Yang jelas SSJ dijebak oleh politik,
mana lanjutanya mas nDoe ???




________________________________
From: "dipo1601@yahoo. com" <dipo1601@yahoo. com>
To: Spiritual-Indonesia @yahoogroups. com
Sent: Thursday, January 22, 2009 11:44:17 AM
Subject: Re: [Spiritual-Indonesi a] Syekh Siti Jenar & Suluk Nusantara BAgian IV


Pak Wal,
Betul tekali.. Hehehe..

Salam sambil leyeh-leyeh, dipo


Powered by Telkomsel BlackBerry®

________________________________
From: Wal Suparmo
Date: Thu, 22 Jan 2009 12:29:45 +0800 (SGT)
To: <Spiritual-Indonesia @yahoogroups. com>
Subject: Re: [Spiritual-Indonesi a] Syekh Siti Jenar Suluk Nusantara BAgian IV

Salam,
Pak Dipo sambil leyehan MENYIMAK jarike si Genduk ( ala Syeh Puji).
Yopora? " Alert! Alert! banking!banking! ( bukan bank BCA lho) seperti yang dalami crew Adam Air dengan kapal  bambunya yang akhirnya fatal dan harus berteriak allahu akbar!
Wasalam,
Wal Suparmo

--- Pada Sel, 20/1/09, Mas Dipo <dipo1601@yahoo. com> menulis:

Dari: Mas Dipo <dipo1601@yahoo. com>
Topik: Re: [Spiritual-Indonesi a] Syekh Siti Jenar & Suluk Nusantara BAgian IV
Kepada: Spiritual-Indonesia @yahoogroups. com
Tanggal: Selasa, 20 Januari, 2009, 12:24 PM


Mas Bambang,
Silahkan dilanjut...
Saya duduk menyimak...

Salam, dipo



________________________________
From: the_most_braveheart <the_most_braveheart @yahoo.com>
To: Spiritual-Indonesia @yahoogroups. com
Sent: Tuesday, January 20, 2009 12:10:21 PM
Subject: [Spiritual-Indonesi a] Syekh Siti Jenar & Suluk Nusantara BAgian IV


Syekh Siti Jenar & Suluk Nusantara

Nah yang sering terjadi di kalangan pengamal ajaran SSJ dari kalangan
grass-root yang sejak awal memang tidak berada di lingkungan kaum
agamis, menggunakan klaim bahwa SSJ menolak syariat dengan tujuan
utama agar mereka tidak menjalani syariat. Bahkan berbeda jauh dengan
SSJ yang menganggap syariat adalah sarana penting untuk menjaga
kerendahan hati dan merupakan pijakan awal untuk mencapai ma'rifat
setelah melalui thariqat dan hakikat, mereka yang dari kalangan
grass-root justru menganggap bahwa syariat adalah lambang kerendahan
maqam ruhani. Ini sangat berlawanan dengan ajaran SSJ.

Mereka terjebak oleh ketidak-fahaman dan terjerat sifat takabur.
Bahkan karena grass-root tak terdidik dan tidak mampu mewadahi ajaran
SSJ yang sarat dengan pemikiran filosofis, mereka menafsirkan ajaran
SSJ dengan ilmu otak-atik matuk. Ini sangat berbeda dengan pengamal
ajaran SSJ dari kalangan bangsawan dan ulama (sayangnya mereka menutup
diri dan merahasiakan ajarannya secara sangat eksklusif).

Terkait dengan tanya diatas, betulkah Jenar dieksekusi (hukuman mati)
oleh Wali Songo? Kalau benar, apa sebabnya? Ajarannya kah, atau lebih
kepada kepentingan politik rezim Demak?
SSJ tidak dihukum mati Walisongo. Tapi ajarannya dilarang oleh
Trenggana, Sultan Demak. Latarnya jelas politis. Keikut-sertaan
Walisongo dalam proses pelarangan ajaran SSJ, menurut saya, lebih
disebabkan oleh "keharusan moral" untuk memihak kepentingan Trenggana
dalam kapasitas keluarga. Hendaknya diingat, bahwa Trenggana adalah
cucu Sunan Ampel. Sunan Bonang adalah uwaknya. Sunan Drajat adalah
pamannya. Sunan Giri II adalah sepupunya. Sunan Kalijaga adalah
mertuanya. Sunan Gunung Jati adalah besannya. Sunan Ngudung sepupu
jauhnya..

Proses politisasi itu terlihat dari kisah dieksekusinya SSJ di Masjid
Demak dan di Masjid Kasepuhan Cirebon dengan skenario yang mirip. Apa
bisa satu orang dieksekusi dua kali? Dan mayat keduanya diganti
anjing.. Ironisnya dikisahkan mayat SSJ menebarkan bau wangi dan
darahnya menuliskan kalimah Laailaha ilallah Muhammadur rasulullah.

Bukankah skenario itu menaikkan pamor SSJ yang matinya sangat
menakjubkan? Sebaliknya menjelekkan Walisongo sebagai ulama-ulama curang.?
Pengikut SSJ justru tidak suka dengan cerita versi itu. Mereka yakin
SSJ tidak dieksekusi. Hanya ajaran SSJ yang dilarang oleh penguasa
dewasa itu dengan dukungan formal Walisongo.

Apakah ekses politik dari ajaran Siti Jenar, sehingga ia patut
"disingkirkan" oleh otoritas yang ada? Kepentingan siapakah yang
paling terusik?
Ajaran egalitarianisme SSJ yang meneladani ajaran Nabi Saw dan
sahabat, jelas menimbulkan dampak langsung dengan eksesnya karena
dewasa itu bisa dianggap sangat berbahaya bagi sistem kekuasaan di
Jawa yang menganut konsep Dewaraja (raja adalah titisan Tuhan) yang
berlangsung meski orang sudah memeluk Islam. Kata ganti "Ingsun" yang
digunakan oleh SSJ dan pengikut (Sunan Giri dan warga Gresik juga
sama) adalah penghinaan spiritual terhadap raja. Karena kata ganti
tersebut di era itu hanya hak diucapkan oleh raja. Selain raja, orang
harus menggunakan kata ganti Kula atau Kawula (Jawa), Abdi (Sunda),
saya atau sahaya (Melayu) yang bermakna budak. Bahkan di hadapan
raja, orang harus menggunakan kata ganti diri "patik" (anjing).
Gagasan SSJ tentang komunitas "masyarakat" yang berasal dari istilah
Arab musyarakah (orang sederajat yang bekerja sama)menggantikan
komunitas "kawula" (budak) di desa-desa Lemah Abang benar-benar
membahayakan sistem kekuasaan dewasa itu.

Demikianlah, para pengikut SSJ yang disebut "kaum Abangan" (pengikut
Syaikh Lemah Abang atau penduduk desa Lemah Abang) diposisikan sebagai
kelompok murtad yang harus dibasmi. Pernyataan Sunan Giri II yang
berbunyi,"SSJ kafir inda al-naas wa mu'min inda Allah" menunjuk
sinyalemen adanya latar politis di balik "penggusuran" ajaran SSJ.

Banyak orang yang melihat tasawuf falsafi: tasawuf yang berangkat dari
paradigma penyatuan khalik-makhluk secara mistis, merupakan sisi agama
yang rumit, ekslusif, disamping sering dianggap menyimpang. Bagaimana
Jenar bisa fungsional, khususnya bagi kegersangan spiritual masyarakat
kota?
Sejak semula ajaran SSJ memang rumit dan sangat eksklusif. Tarikat
Akmaliyah sendiri sangat tertutup. Di kalangan internal ada ketentuan
yang mengatur para pengikut untuk tidak membahas ajaran SSJ kepada
orang luar. Mereka mengikuti aturan yang berbunyi, "Ajaran ini haram
dibicarakan kepada orang-orang yang tidak sama iktikadnya." Dengan
ketentuan itu, kayaknya ajaran SSJ memang sulit disosialisasi sebagai
ajaran yang terbuka dan bersifat umum. Namun demikian, di era global
ketika pengetahuan manusia sudah mencapai tahap yang paling tinggi
dari sejarah peradaban manusia, ajaran SSJ ternyata bisa diterima
sebagai sesuatu yang masuk akal dan sepertinya bisa diamalkan.

Di era global sekarang ini, pemikiran, gagasan, konsep, dan pandangan
SSJ justru banyak dijadikan kajian oleh orang Islam maupun non-Islam.
Nah yang paling sulit dari ajaran SSJ untuk diaplikasi secara umum
adalah pemahaman terhadap konsep Allah sebagai Sang Suwung yang
meliputi segala. Sebab pada tahap ruhani itu, orang jadi aneh karena
ia merasa selalu diliputi dan 'dilihat' Allah di mana saja berada
sehingga pemikiran, ucapan, tindakan, dan gerak-geriknya sering
menjadi ewuh-pakewuh dan tidak normal. Karena itu, menurut saya, yang
paling sesuai dipelajari orang di era sekarang ini cukuplah ajaran
filosofis SSJ sebagaimana banyak ditulis orang dan bukan tarikatnya.


 
________________________________
Coba Yahoo! Messenger 9.0 baru Akhirnya datang juga!
 
 


     
Reply | Threaded
Open this post in threaded view
|  
Report Content as Inappropriate

Re: Dear Dipo

Mas Dipo
Tidak..
Semua ber-hak untuk mendapatkan ilmu itu.

Salam, dipo


Powered by Telkomsel BlackBerry®

-----Original Message-----
From: [hidden email]

Date: Thu, 22 Jan 2009 09:44:07
To: <[hidden email]>
Subject: [Spiritual-Indonesia] Dear Dipo



Mas Dipo
Apa ilmu sejati itu apa hanya milik wong jowo ?


Salam
Ra






Sent from my BlackBerry®
powered by Sinyal Kuat INDOSAT

-----Original Message-----
From: [hidden email]

Date: Thu, 22 Jan 2009 09:42:02
To: <[hidden email]>
Subject: Re: [Spiritual-Indonesia] Syekh Siti Jenar & Suluk Nusantara BAgian IV


Ki Kebo Kenongo gak dijebak oleh Sunan Kudus, justru dia malah belajar kepada Beliau ilmu Sejati.

Nuwun, dipo

Powered by Telkomsel BlackBerry®

-----Original Message-----
From: Adi Brama <[hidden email]>

Date: Thu, 22 Jan 2009 01:13:30
To: <[hidden email]>
Subject: Re: [Spiritual-Indonesia] Syekh Siti Jenar & Suluk Nusantara BAgian IV


Stuju mas Dar,
memang begitulah adanya, Ki Kebo Kenanga sbg pejabat excekutive yg terjebak.
sampe dihukum mati oleh kraton dg algojo sunan kudus
Salam,

 



________________________________
From: sang baruna <[hidden email]>
To: [hidden email]
Sent: Thursday, January 22, 2009 12:31:38 PM
Subject: Re: [Spiritual-Indonesia] Syekh Siti Jenar & Suluk Nusantara BAgian IV


SSJ gak dijebak oleh politik cuman suasana pada waktu itu kental dengan
politik saling sikut dan kekawatiran bangkitnya power mojopahit yang diwakili
oleh kebo kenanga as murid SSJ......... pus yang kacau sumbr tulisan tentang dia
yg ada tulisan dari pihak keraton..... ...nukilan kisah beliau dibikin jelek

salam

darma

--- On Thu, 1/22/09, Adi Brama <adibrama@yahoo. com> wrote:

From: Adi Brama <adibrama@yahoo. com>
Subject: Re: [Spiritual-Indonesi a] Syekh Siti Jenar & Suluk Nusantara BAgian IV
To: Spiritual-Indonesia @yahoogroups. com
Date: Thursday, January 22, 2009, 12:08 PM


Yang jelas SSJ dijebak oleh politik,
mana lanjutanya mas nDoe ???




________________________________
From: "dipo1601@yahoo. com" <dipo1601@yahoo. com>
To: Spiritual-Indonesia @yahoogroups. com
Sent: Thursday, January 22, 2009 11:44:17 AM
Subject: Re: [Spiritual-Indonesi a] Syekh Siti Jenar & Suluk Nusantara BAgian IV


Pak Wal,
Betul tekali.. Hehehe..

Salam sambil leyeh-leyeh, dipo


Powered by Telkomsel BlackBerry®

________________________________
From: Wal Suparmo
Date: Thu, 22 Jan 2009 12:29:45 +0800 (SGT)
To: <Spiritual-Indonesia @yahoogroups. com>
Subject: Re: [Spiritual-Indonesi a] Syekh Siti Jenar Suluk Nusantara BAgian IV

Salam,
Pak Dipo sambil leyehan MENYIMAK jarike si Genduk ( ala Syeh Puji).
Yopora? " Alert! Alert! banking!banking! ( bukan bank BCA lho) seperti yang dalami crew Adam Air dengan kapal  bambunya yang akhirnya fatal dan harus berteriak allahu akbar!
Wasalam,
Wal Suparmo

--- Pada Sel, 20/1/09, Mas Dipo <dipo1601@yahoo. com> menulis:

Dari: Mas Dipo <dipo1601@yahoo. com>
Topik: Re: [Spiritual-Indonesi a] Syekh Siti Jenar & Suluk Nusantara BAgian IV
Kepada: Spiritual-Indonesia @yahoogroups. com
Tanggal: Selasa, 20 Januari, 2009, 12:24 PM


Mas Bambang,
Silahkan dilanjut...
Saya duduk menyimak...

Salam, dipo



________________________________
From: the_most_braveheart <the_most_braveheart @yahoo.com>
To: Spiritual-Indonesia @yahoogroups. com
Sent: Tuesday, January 20, 2009 12:10:21 PM
Subject: [Spiritual-Indonesi a] Syekh Siti Jenar & Suluk Nusantara BAgian IV


Syekh Siti Jenar & Suluk Nusantara

Nah yang sering terjadi di kalangan pengamal ajaran SSJ dari kalangan
grass-root yang sejak awal memang tidak berada di lingkungan kaum
agamis, menggunakan klaim bahwa SSJ menolak syariat dengan tujuan
utama agar mereka tidak menjalani syariat. Bahkan berbeda jauh dengan
SSJ yang menganggap syariat adalah sarana penting untuk menjaga
kerendahan hati dan merupakan pijakan awal untuk mencapai ma'rifat
setelah melalui thariqat dan hakikat, mereka yang dari kalangan
grass-root justru menganggap bahwa syariat adalah lambang kerendahan
maqam ruhani. Ini sangat berlawanan dengan ajaran SSJ.

Mereka terjebak oleh ketidak-fahaman dan terjerat sifat takabur.
Bahkan karena grass-root tak terdidik dan tidak mampu mewadahi ajaran
SSJ yang sarat dengan pemikiran filosofis, mereka menafsirkan ajaran
SSJ dengan ilmu otak-atik matuk. Ini sangat berbeda dengan pengamal
ajaran SSJ dari kalangan bangsawan dan ulama (sayangnya mereka menutup
diri dan merahasiakan ajarannya secara sangat eksklusif).

Terkait dengan tanya diatas, betulkah Jenar dieksekusi (hukuman mati)
oleh Wali Songo? Kalau benar, apa sebabnya? Ajarannya kah, atau lebih
kepada kepentingan politik rezim Demak?
SSJ tidak dihukum mati Walisongo. Tapi ajarannya dilarang oleh
Trenggana, Sultan Demak. Latarnya jelas politis. Keikut-sertaan
Walisongo dalam proses pelarangan ajaran SSJ, menurut saya, lebih
disebabkan oleh "keharusan moral" untuk memihak kepentingan Trenggana
dalam kapasitas keluarga. Hendaknya diingat, bahwa Trenggana adalah
cucu Sunan Ampel. Sunan Bonang adalah uwaknya. Sunan Drajat adalah
pamannya. Sunan Giri II adalah sepupunya. Sunan Kalijaga adalah
mertuanya. Sunan Gunung Jati adalah besannya. Sunan Ngudung sepupu
jauhnya..

Proses politisasi itu terlihat dari kisah dieksekusinya SSJ di Masjid
Demak dan di Masjid Kasepuhan Cirebon dengan skenario yang mirip. Apa
bisa satu orang dieksekusi dua kali? Dan mayat keduanya diganti
anjing.. Ironisnya dikisahkan mayat SSJ menebarkan bau wangi dan
darahnya menuliskan kalimah Laailaha ilallah Muhammadur rasulullah.

Bukankah skenario itu menaikkan pamor SSJ yang matinya sangat
menakjubkan? Sebaliknya menjelekkan Walisongo sebagai ulama-ulama curang.?
Pengikut SSJ justru tidak suka dengan cerita versi itu. Mereka yakin
SSJ tidak dieksekusi. Hanya ajaran SSJ yang dilarang oleh penguasa
dewasa itu dengan dukungan formal Walisongo.

Apakah ekses politik dari ajaran Siti Jenar, sehingga ia patut
"disingkirkan" oleh otoritas yang ada? Kepentingan siapakah yang
paling terusik?
Ajaran egalitarianisme SSJ yang meneladani ajaran Nabi Saw dan
sahabat, jelas menimbulkan dampak langsung dengan eksesnya karena
dewasa itu bisa dianggap sangat berbahaya bagi sistem kekuasaan di
Jawa yang menganut konsep Dewaraja (raja adalah titisan Tuhan) yang
berlangsung meski orang sudah memeluk Islam. Kata ganti "Ingsun" yang
digunakan oleh SSJ dan pengikut (Sunan Giri dan warga Gresik juga
sama) adalah penghinaan spiritual terhadap raja. Karena kata ganti
tersebut di era itu hanya hak diucapkan oleh raja. Selain raja, orang
harus menggunakan kata ganti Kula atau Kawula (Jawa), Abdi (Sunda),
saya atau sahaya (Melayu) yang bermakna budak. Bahkan di hadapan
raja, orang harus menggunakan kata ganti diri "patik" (anjing).
Gagasan SSJ tentang komunitas "masyarakat" yang berasal dari istilah
Arab musyarakah (orang sederajat yang bekerja sama)menggantikan
komunitas "kawula" (budak) di desa-desa Lemah Abang benar-benar
membahayakan sistem kekuasaan dewasa itu.

Demikianlah, para pengikut SSJ yang disebut "kaum Abangan" (pengikut
Syaikh Lemah Abang atau penduduk desa Lemah Abang) diposisikan sebagai
kelompok murtad yang harus dibasmi. Pernyataan Sunan Giri II yang
berbunyi,"SSJ kafir inda al-naas wa mu'min inda Allah" menunjuk
sinyalemen adanya latar politis di balik "penggusuran" ajaran SSJ.

Banyak orang yang melihat tasawuf falsafi: tasawuf yang berangkat dari
paradigma penyatuan khalik-makhluk secara mistis, merupakan sisi agama
yang rumit, ekslusif, disamping sering dianggap menyimpang. Bagaimana
Jenar bisa fungsional, khususnya bagi kegersangan spiritual masyarakat
kota?
Sejak semula ajaran SSJ memang rumit dan sangat eksklusif. Tarikat
Akmaliyah sendiri sangat tertutup. Di kalangan internal ada ketentuan
yang mengatur para pengikut untuk tidak membahas ajaran SSJ kepada
orang luar. Mereka mengikuti aturan yang berbunyi, "Ajaran ini haram
dibicarakan kepada orang-orang yang tidak sama iktikadnya." Dengan
ketentuan itu, kayaknya ajaran SSJ memang sulit disosialisasi sebagai
ajaran yang terbuka dan bersifat umum. Namun demikian, di era global
ketika pengetahuan manusia sudah mencapai tahap yang paling tinggi
dari sejarah peradaban manusia, ajaran SSJ ternyata bisa diterima
sebagai sesuatu yang masuk akal dan sepertinya bisa diamalkan.

Di era global sekarang ini, pemikiran, gagasan, konsep, dan pandangan
SSJ justru banyak dijadikan kajian oleh orang Islam maupun non-Islam.
Nah yang paling sulit dari ajaran SSJ untuk diaplikasi secara umum
adalah pemahaman terhadap konsep Allah sebagai Sang Suwung yang
meliputi segala. Sebab pada tahap ruhani itu, orang jadi aneh karena
ia merasa selalu diliputi dan 'dilihat' Allah di mana saja berada
sehingga pemikiran, ucapan, tindakan, dan gerak-geriknya sering
menjadi ewuh-pakewuh dan tidak normal. Karena itu, menurut saya, yang
paling sesuai dipelajari orang di era sekarang ini cukuplah ajaran
filosofis SSJ sebagaimana banyak ditulis orang dan bukan tarikatnya.


 
________________________________
Coba Yahoo! Messenger 9.0 baru Akhirnya datang juga!
 
 


     
Reply | Threaded
Open this post in threaded view
|  
Report Content as Inappropriate

Re: Dear Dipo

frenchleghorn
In reply to this post by noura1712
ilmu sejati......ehmm........lakune mati sajroning urip


darma

--- On Thu, 1/22/09, [hidden email] <[hidden email]> wrote:
From: [hidden email] <[hidden email]>
Subject: [Spiritual-Indonesia] Dear Dipo
To: [hidden email]
Date: Thursday, January 22, 2009, 4:44 PM










   
               

Mas Dipo
Apa ilmu sejati itu apa hanya milik wong jowo ?


Salam
Ra





Sent from my BlackBerry®
powered by Sinyal Kuat INDOSATFrom:  dipo1601@yahoo. com
Date: Thu, 22 Jan 2009 09:42:02 +0000
To: <Spiritual-Indonesia @yahoogroups. com>
Subject: Re: [Spiritual-Indonesi a] Syekh Siti Jenar  Suluk Nusantara BAgian IV
                   
    Ki Kebo Kenongo gak dijebak oleh Sunan Kudus, justru dia malah belajar kepada Beliau ilmu Sejati.

Nuwun, dipo
Powered by Telkomsel BlackBerry®From:  Adi Brama
Date: Thu, 22 Jan 2009 01:13:30 -0800 (PST)
To: <Spiritual-Indonesia @yahoogroups. com>
Subject: Re: [Spiritual-Indonesi a] Syekh Siti Jenar  Suluk Nusantara BAgian IV
                    Stuju mas Dar,memang begitulah adanya, Ki Kebo Kenanga sbg pejabat excekutive yg terjebak.sampe dihukum mati oleh kraton dg algojo sunan kudusSalam,
 
From: sang baruna <sbaruna@yahoo. com>
To: Spiritual-Indonesia @yahoogroups. com
Sent: Thursday, January 22, 2009 12:31:38 PM
Subject: Re: [Spiritual-Indonesi a] Syekh Siti Jenar & Suluk Nusantara BAgian IV

SSJ gak dijebak oleh politik cuman suasana pada waktu itu kental dengan politik saling sikut dan kekawatiran bangkitnya power mojopahit yang diwakilioleh kebo kenanga as murid SSJ......... . pus yang kacau sumbr tulisan tentang diayg ada tulisan dari pihak keraton..... ...nukilan kisah beliau dibikin jelek salam darma

--- On Thu, 1/22/09, Adi Brama <adibrama@yahoo. com> wrote:
From: Adi Brama <adibrama@yahoo. com>
Subject: Re: [Spiritual-Indonesi a] Syekh Siti Jenar & Suluk Nusantara BAgian IV
To: Spiritual-Indonesia @yahoogroups. com
Date: Thursday, January 22, 2009, 12:08 PM

Yang jelas SSJ dijebak oleh politik,mana lanjutanya mas nDoe ???

From: "dipo1601@yahoo. com" <dipo1601@yahoo. . com>
To: Spiritual-Indonesia @yahoogroups. com
Sent: Thursday, January 22, 2009 11:44:17 AM
Subject: Re: [Spiritual-Indonesi a] Syekh Siti Jenar & Suluk Nusantara BAgian IV

Pak Wal,
Betul tekali.. Hehehe..

Salam sambil leyeh-leyeh, dipo

Powered by Telkomsel BlackBerry®From: Wal Suparmo
Date: Thu, 22 Jan 2009 12:29:45 +0800 (SGT)
To: <Spiritual-Indonesia @yahoogroups. com>
Subject: Re: [Spiritual-Indonesi a] Syekh Siti Jenar Suluk Nusantara BAgian IV
Salam,Pak Dipo sambil leyehan MENYIMAK jarike si Genduk ( ala Syeh Puji).Yopora? " Alert! Alert! banking!banking! ( bukan bank BCA lho) seperti yang dalami crew Adam Air dengan kapal  bambunya yang akhirnya fatal dan harus berteriak allahu akbar!Wasalam,Wal Suparmo

--- Pada Sel, 20/1/09, Mas Dipo <dipo1601@yahoo. com> menulis:
Dari: Mas Dipo <dipo1601@yahoo. com>
Topik: Re: [Spiritual-Indonesi a] Syekh Siti Jenar & Suluk Nusantara BAgian IV
Kepada: Spiritual-Indonesia @yahoogroups. com
Tanggal: Selasa, 20 Januari, 2009, 12:24 PM

Mas Bambang,Silahkan dilanjut....
Saya duduk menyimak... Salam, dipo
From: the_most_braveheart <the_most_braveheart @yahoo.com>
To: Spiritual-Indonesia @yahoogroups. com
Sent: Tuesday, January 20, 2009 12:10:21 PM
Subject: [Spiritual-Indonesi a] Syekh Siti Jenar & Suluk Nusantara BAgian IV

Syekh Siti Jenar & Suluk Nusantara

Nah yang sering terjadi di kalangan pengamal ajaran SSJ dari kalangan
grass-root yang sejak awal memang tidak berada di lingkungan kaum
agamis, menggunakan klaim bahwa SSJ menolak syariat dengan tujuan
utama agar mereka tidak menjalani syariat. Bahkan berbeda jauh dengan
SSJ yang menganggap syariat adalah sarana penting untuk menjaga
kerendahan hati dan merupakan pijakan awal untuk mencapai ma'rifat
setelah melalui thariqat dan hakikat, mereka yang dari kalangan
grass-root justru menganggap bahwa syariat adalah lambang kerendahan
maqam ruhani. Ini sangat berlawanan dengan ajaran SSJ.

Mereka terjebak oleh ketidak-fahaman dan terjerat sifat takabur.
Bahkan karena grass-root tak terdidik dan tidak mampu mewadahi ajaran
SSJ yang sarat dengan pemikiran filosofis, mereka menafsirkan ajaran
SSJ dengan ilmu otak-atik matuk. Ini sangat berbeda dengan pengamal
ajaran SSJ  dari kalangan bangsawan dan ulama (sayangnya mereka menutup
diri dan merahasiakan ajarannya secara sangat eksklusif).

Terkait dengan tanya diatas, betulkah Jenar dieksekusi (hukuman mati)
oleh Wali Songo? Kalau benar, apa sebabnya? Ajarannya kah, atau lebih
kepada kepentingan politik rezim Demak?
SSJ tidak dihukum mati Walisongo. Tapi ajarannya dilarang oleh
Trenggana, Sultan Demak. Latarnya jelas politis. Keikut-sertaan
Walisongo dalam proses pelarangan ajaran SSJ, menurut saya, lebih
disebabkan oleh "keharusan moral" untuk memihak kepentingan Trenggana
dalam kapasitas keluarga. Hendaknya diingat, bahwa Trenggana adalah
cucu Sunan Ampel. Sunan Bonang adalah uwaknya. Sunan Drajat adalah
pamannya. Sunan Giri II adalah sepupunya. Sunan Kalijaga adalah
mertuanya. Sunan Gunung Jati adalah besannya. Sunan Ngudung sepupu
jauhnya.

Proses politisasi itu terlihat dari kisah dieksekusinya SSJ di Masjid
Demak  dan di Masjid Kasepuhan Cirebon dengan skenario yang mirip. Apa
bisa satu orang dieksekusi dua kali? Dan mayat keduanya diganti
anjing. Ironisnya dikisahkan mayat SSJ menebarkan bau wangi dan
darahnya menuliskan kalimah Laailaha ilallah Muhammadur rasulullah.

Bukankah skenario itu menaikkan pamor SSJ yang matinya sangat
menakjubkan? Sebaliknya menjelekkan Walisongo sebagai ulama-ulama curang.?
Pengikut SSJ justru tidak suka dengan cerita versi itu. Mereka yakin
SSJ tidak dieksekusi. Hanya ajaran SSJ yang dilarang oleh penguasa
dewasa itu dengan dukungan formal Walisongo.

Apakah ekses politik dari ajaran Siti Jenar, sehingga ia patut
"disingkirkan" oleh otoritas yang ada? Kepentingan siapakah yang
paling terusik?
Ajaran egalitarianisme SSJ yang meneladani ajaran Nabi Saw dan
sahabat, jelas menimbulkan dampak langsung dengan eksesnya karena
dewasa itu bisa dianggap sangat berbahaya bagi sistem kekuasaan  di
Jawa yang menganut konsep Dewaraja (raja adalah titisan Tuhan) yang
berlangsung meski orang sudah memeluk Islam. Kata ganti "Ingsun" yang
digunakan oleh SSJ dan pengikut (Sunan Giri dan warga Gresik juga
sama) adalah penghinaan spiritual terhadap raja. Karena kata ganti
tersebut di era itu hanya hak diucapkan oleh raja. Selain raja, orang
harus menggunakan kata ganti Kula atau Kawula (Jawa), Abdi (Sunda),
saya atau sahaya (Melayu) yang bermakna budak. Bahkan di hadapan
raja, orang harus menggunakan kata ganti diri "patik" (anjing).
Gagasan SSJ tentang komunitas "masyarakat" yang berasal dari istilah
Arab musyarakah (orang sederajat yang bekerja sama)menggantikan
komunitas "kawula" (budak) di desa-desa Lemah Abang benar-benar
membahayakan sistem kekuasaan dewasa itu.

Demikianlah, para pengikut SSJ yang disebut "kaum Abangan" (pengikut
Syaikh Lemah Abang atau penduduk desa Lemah Abang) diposisikan  sebagai
kelompok murtad yang harus dibasmi. Pernyataan Sunan Giri II yang
berbunyi,"SSJ kafir inda al-naas wa mu'min inda Allah" menunjuk
sinyalemen adanya latar politis di balik "penggusuran" ajaran SSJ.

Banyak orang yang melihat tasawuf falsafi: tasawuf yang berangkat dari
paradigma penyatuan khalik-makhluk secara mistis, merupakan sisi agama
yang rumit, ekslusif, disamping sering dianggap menyimpang. Bagaimana
Jenar bisa fungsional, khususnya bagi kegersangan spiritual masyarakat
kota?
Sejak semula ajaran SSJ memang rumit dan sangat eksklusif. Tarikat
Akmaliyah sendiri sangat tertutup. Di kalangan internal ada ketentuan
yang mengatur para pengikut untuk tidak membahas ajaran SSJ kepada
orang luar. Mereka mengikuti aturan yang berbunyi, "Ajaran ini haram
dibicarakan kepada orang-orang yang tidak sama iktikadnya." Dengan
ketentuan itu, kayaknya ajaran SSJ memang sulit disosialisasi sebagai
ajaran yang  terbuka dan bersifat umum. Namun demikian, di era global
ketika pengetahuan manusia sudah mencapai tahap yang paling tinggi
dari sejarah peradaban manusia, ajaran SSJ ternyata bisa diterima
sebagai sesuatu yang masuk akal dan sepertinya bisa diamalkan.

Di era global sekarang ini, pemikiran, gagasan, konsep, dan pandangan
SSJ justru banyak dijadikan kajian oleh orang Islam maupun non-Islam.
Nah yang paling sulit dari ajaran SSJ untuk diaplikasi secara umum
adalah pemahaman terhadap konsep Allah sebagai Sang Suwung yang
meliputi segala. Sebab pada tahap ruhani itu, orang jadi aneh karena
ia merasa selalu diliputi dan 'dilihat' Allah di mana saja berada
sehingga pemikiran, ucapan, tindakan, dan gerak-geriknya sering
menjadi ewuh-pakewuh dan tidak normal. Karena itu, menurut saya, yang
paling sesuai dipelajari orang di era sekarang ini cukuplah ajaran
filosofis SSJ sebagaimana banyak ditulis orang dan bukan  tarikatnya.



Coba Yahoo! Messenger 9.0 baru Akhirnya datang juga!


                                         
     

   
   
       
         
       
       








       


       
       


     
Reply | Threaded
Open this post in threaded view
|  
Report Content as Inappropriate

Re: Syekh Siti Jenar & Suluk Nusantara BAgian IV

Adi Brama
In reply to this post by Mas Dipo
Tul mas Dipo ilmu sejati dari sikut,
tapi yg nyebak bukan Sunan Kudus lho, iklim politik

Salam,
Bram




________________________________
From: "[hidden email]" <[hidden email]>
To: [hidden email]
Sent: Thursday, January 22, 2009 4:42:02 PM
Subject: Re: [Spiritual-Indonesia] Syekh Siti Jenar & Suluk Nusantara BAgian IV


Ki Kebo Kenongo gak dijebak oleh Sunan Kudus, justru dia malah belajar kepada Beliau ilmu Sejati.

Nuwun, dipo

Powered by Telkomsel BlackBerry®
________________________________
From: Adi Brama
Date: Thu, 22 Jan 2009 01:13:30 -0800 (PST)
To: <Spiritual-Indonesia @yahoogroups. com>
Subject: Re: [Spiritual-Indonesi a] Syekh Siti Jenar Suluk Nusantara BAgian IV

Stuju mas Dar,
memang begitulah adanya, Ki Kebo Kenanga sbg pejabat excekutive yg terjebak.
sampe dihukum mati oleh kraton dg algojo sunan kudus
Salam,

 



________________________________
From: sang baruna <sbaruna@yahoo. com>
To: Spiritual-Indonesia @yahoogroups. com
Sent: Thursday, January 22, 2009 12:31:38 PM
Subject: Re: [Spiritual-Indonesi a] Syekh Siti Jenar & Suluk Nusantara BAgian IV


SSJ gak dijebak oleh politik cuman suasana pada waktu itu kental dengan
politik saling sikut dan kekawatiran bangkitnya power mojopahit yang diwakili
oleh kebo kenanga as murid SSJ......... . pus yang kacau sumbr tulisan tentang dia
yg ada tulisan dari pihak keraton..... ...nukilan kisah beliau dibikin jelek

salam

darma

--- On Thu, 1/22/09, Adi Brama <adibrama@yahoo. com> wrote:

From: Adi Brama <adibrama@yahoo. com>
Subject: Re: [Spiritual-Indonesi a] Syekh Siti Jenar & Suluk Nusantara BAgian IV
To: Spiritual-Indonesia @yahoogroups. com
Date: Thursday, January 22, 2009, 12:08 PM


Yang jelas SSJ dijebak oleh politik,
mana lanjutanya mas nDoe ???




________________________________
From: "dipo1601@yahoo. com" <dipo1601@yahoo. . com>
To: Spiritual-Indonesia @yahoogroups. com
Sent: Thursday, January 22, 2009 11:44:17 AM
Subject: Re: [Spiritual-Indonesi a] Syekh Siti Jenar & Suluk Nusantara BAgian IV


Pak Wal,
Betul tekali.. Hehehe..

Salam sambil leyeh-leyeh, dipo


Powered by Telkomsel BlackBerry®

________________________________
From: Wal Suparmo
Date: Thu, 22 Jan 2009 12:29:45 +0800 (SGT)
To: <Spiritual-Indonesia @yahoogroups. com>
Subject: Re: [Spiritual-Indonesi a] Syekh Siti Jenar Suluk Nusantara BAgian IV

Salam,
Pak Dipo sambil leyehan MENYIMAK jarike si Genduk ( ala Syeh Puji).
Yopora? " Alert! Alert! banking!banking! ( bukan bank BCA lho) seperti yang dalami crew Adam Air dengan kapal  bambunya yang akhirnya fatal dan harus berteriak allahu akbar!
Wasalam,
Wal Suparmo

--- Pada Sel, 20/1/09, Mas Dipo <dipo1601@yahoo. com> menulis:

Dari: Mas Dipo <dipo1601@yahoo. com>
Topik: Re: [Spiritual-Indonesi a] Syekh Siti Jenar & Suluk Nusantara BAgian IV
Kepada: Spiritual-Indonesia @yahoogroups. com
Tanggal: Selasa, 20 Januari, 2009, 12:24 PM


Mas Bambang,
Silahkan dilanjut....
Saya duduk menyimak...

Salam, dipo



________________________________
From: the_most_braveheart <the_most_braveheart @yahoo.com>
To: Spiritual-Indonesia @yahoogroups. com
Sent: Tuesday, January 20, 2009 12:10:21 PM
Subject: [Spiritual-Indonesi a] Syekh Siti Jenar & Suluk Nusantara BAgian IV


Syekh Siti Jenar & Suluk Nusantara

Nah yang sering terjadi di kalangan pengamal ajaran SSJ dari kalangan
grass-root yang sejak awal memang tidak berada di lingkungan kaum
agamis, menggunakan klaim bahwa SSJ menolak syariat dengan tujuan
utama agar mereka tidak menjalani syariat. Bahkan berbeda jauh dengan
SSJ yang menganggap syariat adalah sarana penting untuk menjaga
kerendahan hati dan merupakan pijakan awal untuk mencapai ma'rifat
setelah melalui thariqat dan hakikat, mereka yang dari kalangan
grass-root justru menganggap bahwa syariat adalah lambang kerendahan
maqam ruhani. Ini sangat berlawanan dengan ajaran SSJ.

Mereka terjebak oleh ketidak-fahaman dan terjerat sifat takabur.
Bahkan karena grass-root tak terdidik dan tidak mampu mewadahi ajaran
SSJ yang sarat dengan pemikiran filosofis, mereka menafsirkan ajaran
SSJ dengan ilmu otak-atik matuk. Ini sangat berbeda dengan pengamal
ajaran SSJ dari kalangan bangsawan dan ulama (sayangnya mereka menutup
diri dan merahasiakan ajarannya secara sangat eksklusif).

Terkait dengan tanya diatas, betulkah Jenar dieksekusi (hukuman mati)
oleh Wali Songo? Kalau benar, apa sebabnya? Ajarannya kah, atau lebih
kepada kepentingan politik rezim Demak?
SSJ tidak dihukum mati Walisongo. Tapi ajarannya dilarang oleh
Trenggana, Sultan Demak. Latarnya jelas politis. Keikut-sertaan
Walisongo dalam proses pelarangan ajaran SSJ, menurut saya, lebih
disebabkan oleh "keharusan moral" untuk memihak kepentingan Trenggana
dalam kapasitas keluarga. Hendaknya diingat, bahwa Trenggana adalah
cucu Sunan Ampel. Sunan Bonang adalah uwaknya. Sunan Drajat adalah
pamannya. Sunan Giri II adalah sepupunya. Sunan Kalijaga adalah
mertuanya. Sunan Gunung Jati adalah besannya. Sunan Ngudung sepupu
jauhnya.

Proses politisasi itu terlihat dari kisah dieksekusinya SSJ di Masjid
Demak dan di Masjid Kasepuhan Cirebon dengan skenario yang mirip. Apa
bisa satu orang dieksekusi dua kali? Dan mayat keduanya diganti
anjing. Ironisnya dikisahkan mayat SSJ menebarkan bau wangi dan
darahnya menuliskan kalimah Laailaha ilallah Muhammadur rasulullah..

Bukankah skenario itu menaikkan pamor SSJ yang matinya sangat
menakjubkan? Sebaliknya menjelekkan Walisongo sebagai ulama-ulama curang.?
Pengikut SSJ justru tidak suka dengan cerita versi itu. Mereka yakin
SSJ tidak dieksekusi. Hanya ajaran SSJ yang dilarang oleh penguasa
dewasa itu dengan dukungan formal Walisongo.

Apakah ekses politik dari ajaran Siti Jenar, sehingga ia patut
"disingkirkan" oleh otoritas yang ada? Kepentingan siapakah yang
paling terusik?
Ajaran egalitarianisme SSJ yang meneladani ajaran Nabi Saw dan
sahabat, jelas menimbulkan dampak langsung dengan eksesnya karena
dewasa itu bisa dianggap sangat berbahaya bagi sistem kekuasaan di
Jawa yang menganut konsep Dewaraja (raja adalah titisan Tuhan) yang
berlangsung meski orang sudah memeluk Islam. Kata ganti "Ingsun" yang
digunakan oleh SSJ dan pengikut (Sunan Giri dan warga Gresik juga
sama) adalah penghinaan spiritual terhadap raja. Karena kata ganti
tersebut di era itu hanya hak diucapkan oleh raja. Selain raja, orang
harus menggunakan kata ganti Kula atau Kawula (Jawa), Abdi (Sunda),
saya atau sahaya (Melayu) yang bermakna budak. Bahkan di hadapan
raja, orang harus menggunakan kata ganti diri "patik" (anjing).
Gagasan SSJ tentang komunitas "masyarakat" yang berasal dari istilah
Arab musyarakah (orang sederajat yang bekerja sama)menggantikan
komunitas "kawula" (budak) di desa-desa Lemah Abang benar-benar
membahayakan sistem kekuasaan dewasa itu.

Demikianlah, para pengikut SSJ yang disebut "kaum Abangan" (pengikut
Syaikh Lemah Abang atau penduduk desa Lemah Abang) diposisikan sebagai
kelompok murtad yang harus dibasmi. Pernyataan Sunan Giri II yang
berbunyi,"SSJ kafir inda al-naas wa mu'min inda Allah" menunjuk
sinyalemen adanya latar politis di balik "penggusuran" ajaran SSJ.

Banyak orang yang melihat tasawuf falsafi: tasawuf yang berangkat dari
paradigma penyatuan khalik-makhluk secara mistis, merupakan sisi agama
yang rumit, ekslusif, disamping sering dianggap menyimpang. Bagaimana
Jenar bisa fungsional, khususnya bagi kegersangan spiritual masyarakat
kota?
Sejak semula ajaran SSJ memang rumit dan sangat eksklusif. Tarikat
Akmaliyah sendiri sangat tertutup. Di kalangan internal ada ketentuan
yang mengatur para pengikut untuk tidak membahas ajaran SSJ kepada
orang luar. Mereka mengikuti aturan yang berbunyi, "Ajaran ini haram
dibicarakan kepada orang-orang yang tidak sama iktikadnya." Dengan
ketentuan itu, kayaknya ajaran SSJ memang sulit disosialisasi sebagai
ajaran yang terbuka dan bersifat umum. Namun demikian, di era global
ketika pengetahuan manusia sudah mencapai tahap yang paling tinggi
dari sejarah peradaban manusia, ajaran SSJ ternyata bisa diterima
sebagai sesuatu yang masuk akal dan sepertinya bisa diamalkan.

Di era global sekarang ini, pemikiran, gagasan, konsep, dan pandangan
SSJ justru banyak dijadikan kajian oleh orang Islam maupun non-Islam.
Nah yang paling sulit dari ajaran SSJ untuk diaplikasi secara umum
adalah pemahaman terhadap konsep Allah sebagai Sang Suwung yang
meliputi segala. Sebab pada tahap ruhani itu, orang jadi aneh karena
ia merasa selalu diliputi dan 'dilihat' Allah di mana saja berada
sehingga pemikiran, ucapan, tindakan, dan gerak-geriknya sering
menjadi ewuh-pakewuh dan tidak normal. Karena itu, menurut saya, yang
paling sesuai dipelajari orang di era sekarang ini cukuplah ajaran
filosofis SSJ sebagaimana banyak ditulis orang dan bukan tarikatnya.


 
________________________________
Coba Yahoo! Messenger 9.0 baru Akhirnya datang juga!
 

 


     
Loading...