Quantcast

Tembang “Macapat” (Berbagai arti nama dalam Kandungan Isinya)

classic Classic list List threaded Threaded
2 messages Options
Reply | Threaded
Open this post in threaded view
|  
Report Content as Inappropriate

Tembang “Macapat” (Berbagai arti nama dalam Kandungan Isinya)

h3rm4n
 Cuma ingin menambah warna

salam

h3m4n



Tembang “Macapat”

(Berbagai arti nama dalam Kandungan Isinya)

 

Tembang macapat merupakan tembang yang konon berasal dari kata “mocone papat papat” (membacanya empat empat), didalam tembang Macapat tersebut dibagi menjadi beberapa jenis nama tembang yang menyiratkan sandi didalam nama jenis tembang macapat  tersebut, berbagai tafsir nama nama jenis tembang macapat ternyata sangat beragam, mungkin hal ini sangat tergantung dari kemampuan daya tafsir dari penafsir arti nama tembang tembang tersebut…. dan sepertinya terpengaruh dari pergolakan sejarah dari budaya yang berada di tanah jawa…. Berbagai tafsir atas nama nama jenis tembang Macapat yang dapat saya kumpulkan sebagai berikut :

 

 

1. Maskumambang

 

memvisualisasikan “jabang bayi” yang masih ada di dalam kandungan ibunya, masih belum kelihatan jenis kelaminnya (bisa lelaki atau perempuan), “kumambang” mengandung arti hidupnya mengabang didalam perut ibunda nya

 

 

2. Mijil

 

artinya sebuah kelahiran dari dalam perut ibunda nya, sudah jelas terlihat jenis kelaminnya.

 

3. Kinanthi

 

berasal dari kata “kanthi” atau tuntunan yang berarti di tuntun supaya bisa berjalan dalam kehidupan di alam dunia.

 

 

4. Sinom

 

berarti “kanoman” (kemudaan/usia muda), berarti adalah waktu luang pada masa muda untuk menimba ilmu sebanyak banyaknya

 

 

 

5. Asmaradana

 

berarti perasaan asmara/cinta, perasaan saling menyukai yang sudah menjadi kodrat ilahi (perasaan lelaki dan perempuan)

 

6. Gambuh

 

berasala dari kata “jumbuh/sarujuk” (cocok) yang berarti sudah cocok kemudian dipertemukan antara pria dan wanita yang sudah memiliki perasaan asmara, agar menjadikan sebuah pernikahan.

 

7. Dhandhanggula

 

menggambarkan hidup orang tersebut sedang merasa senang senang nya, apa yang dicita citakan bisa tercapai, bisa memiliki keluarga, mempunyai keturunan, hidup berkecukupan untuk sekeluarga. Sebab itu dia merasa bergemira hatinya, bisa disebut lagu “dandhanggula”

 

8. Durma

 

berasal dari kata “darma/weweh” (berdarma/memberikan sumbangan). Bila orang sudah merasa berkecukupan maka kemudian timbul rasa welas asihnya kepada sesama yang sedang ada masalah, sebab itu kemudian tibul persaan iba dan ingin memberikan sumbangan kepada semua, sebab itu memang sudah menjadi watak manusia yang ingin selalu berderma akibat dari welas asih hatinya.

 

9. Pangkur

 

”pangkur” berasal dari kata “mungkur” (mundur) yang berarti sudah memundurkan semua hawa napsunya, yang dipikirkan hanya berdarma kepada sesama mahluk;

 

10.Megatruh

 

berasal dari kata “megat roh” (melepaskan roh), roh atau nyawa sudah lepas dari badan jasadnya sebab sudah waktunya kembali ke tempat yang telah digariskan oleh Hyang Maha Kuasa

 

 

11.Pocung / Pucung

 

kalau sudah menjadi “lelayon” (mayat) badan jasad kemudian di pocong sebelum dikubur

 

 

1. Maskumambang

 

Lagu Maskumambang berkumandang

Dinyanyikan oleh dayang-dayang

Menghibur putri yang sedang mengandung

Agar jabang bayi lahir beruntung

 

2. Mijil

 

Lagu Mijil dinyanyikan untuk sang Putri

Sewaktu melahirkan sang bayi

Sebagai hiburan mengalami nyeri

Yang diderita hanya oleh dirinya sendiri

 

4. Kinanti

Lagu Kinanti dilagukan karena cinta

Kepada bayi yang mulai mengenal dunia

Secara perlahan mengenali Ibu dan Bapa

Mengharap cinta kasih yang mesra dari berdua

 

5. Sinom

Lagu Sinom dinyanyikan anak sudah muda belia

Membukakan mata akan kehidupan dunia yang nyata

Berkenalan dengan teman dan sanak saudara

Mempersiapkan diri mengarungi kehidupan didunia

 

 

6. Asmorandana

Lagu Asmorandana dinaynyikan dikala anak menjadi dewasa

Memilih kawan hidup untuk selamanya

Didasarkan kasih sayang dan cinta mesra

Dalam menuju ke jenjang Rumah Tangga

 

 

7. Gambuh

Lagu Gambuh berkumandang diudara

Mengiringi keputusan untuk mempersunting sang dara

Dengan meminang pilihan hati dengan gembira

Sebagai pelambang kesucian hati dan rasa cinta

 

 

8. Durmo

Lagu Durmo kembali dinyanyikan

Sewaktu kedua mempelai naik kepelaminan

Tanda akan syahnya suatu perkawinan

Saatnya keduanya menguatkan tali ikatan

 

 

9. Dandanggulo

Lagu Dandanggulo adalah berikutnya

Cobaan dalam saling memberi jiwa raga

Memberi tanpa mengharap imbalannya

Sebagai bukti akan kuatnya dalam bercinta

 

 

10. Giriso

Lagu Giriso menempati tempat istimewa

Kadang terasa risi dan cemas didalam dada

Apakah betul-betul anaku bahagia

Apakah terpenuhi kebutuhan hidupnya

 

 

11. Pangkur

Lagu Pangkur diciptakan untuk manusia

Yang telah mengalami hidup secukupnya didunia

Yang terbuka mata, hidup ini tidak mengumpulkan dunia saja

Suatu waktu akan ditinggalkan juga

 

 

12. Megatruh

Lagu Megatruh mengelu-elukan kedatangan Malaikat

Dimana saat jiwa akan diangkat

Dimana raga ditinggalkan untuk dirawat

Oleh sekalian keluarga dan kerabat

 

 

13. Pucung

Lagu Pucung dinyanyikan sebagai tanda

Supaya jenazah dimandikan menurut Agama

Dibungkus kain kafan dari kaki ke ujung kepala

Tanda bahwa pulang itu tidak membawa apa-apa

 

14. Wirangrong

 

Lagu Wirangrong adalah lagu penutup

Usailah masa hidup

Wirang artinya mengerti atau tahu cara hidup

Rong artinya lubang kubur dimana hidup ditutup

 

 

Penamaan Metrum Macapat

 

Dalam beberapa teori sastra jawa terdapat nama-nama jenis tembang macapat, kadang didapati bahwa jumlah metrumnya tidak sama. Perbedaan jumlah itu berkaitan dengan dimasukannya beberapa tembang tengahan dan tembang gede ke tembang macapat. Namun demikian nama metrum macapat sesuai dengan jenis tembangnya terdiri dari, Pucung, Mijil, Durma, Kinanthi, Asmaradhana, Pangkur, Sinom, Gambuh, Balabak, Jurudemung, Wirangrong dan Girisa. Penamaan kelimabelas metrum macapat di jabarkan oleh Laginem melelui beberapa sumber baik itu secara etmologi serta keterangan lainnya, kesemuanya dipaparkan berikut ini,

 

•  1). Pangkur

 

Pangkur berasal dari nama punggawa dalam kalangan kependetaan seperti tercantum dalam piagam-piagam berbahasa jawa kuno. Dalam Serat Purwaukara, Pangkur diberiarti buntut atau ekor. Oleh karena itu Pangkur kadang-kadang diberi sasmita atau isyarat tut pungkur berarti mengekor dan tut wuntat berarti mengikuti.

 

•  2). Maskumambang

 

Maskumambang berasal dari kata mas dan kumambang. Mas dari kata Premas yaitu punggawa dalam upacara Shaministis. Kumambang dari kata Kambang dengan sisipan – um. Kambang dari kata Ka- dan Ambang. Kambang selain berarti terapung, juga berarti Kamwang atau kembang. Ambang ada kaitannya dengan Ambangse yang berarti menembang atau mengidung. Dengan demikian, Maskumambang dapat diberi arti punggawa yang melaksanakan upacara Shamanistis, mengucap mantra atau lafal dengan menembang disertai sajian bunga. Dalam Serat Purwaukara, Maskumambang diberi arti Ulam Toya yang berari ikan air tawar, sehingga kadang-kadang di isyaratkan dengan lukisan atau ikan berenang.

 

 

•  3). Sinom

 

Sinom ada hubungannya dengan kata Sinoman, yaitu perkumpulan para pemuda untuk membantu orang punya hajat. Pendapat lain menyatakan bahwa Sinom ada kaitannya dengan upacara-upacara bagi anak-anak muada zaman dahulu. Dalam Serat Purwaukara, Sinom diberi arti seskaring rambut yang berarti anak rambut. Selain itu, Sinom juga diartikan daun muda sehingga kadang-kadang diberi isyarat dengan lukisan daun muda.

 

 

•  4). Asmarandana

 

Asmaradana berasal dari kata Asmara dan Dhana. Asmara adalah nama dewa percintaan. Dhana berasal dari kata Dahana yang berarti api. Nama Asmaradana berkaitan denga peristiwa hangusnya dewa Asmara oleh sorot mata ketiga dewa Siwa seperti disebutkan dalam kakawin Smaradhana karya Mpu Darmaja. Dalam Serat Purwaukara, Smarandana diberi arti remen ing paweweh, berarti suka memberi.

 

 

• 5). Dhangdhanggula

 

Dandhanggula diambil dari nama kata raja Kediri, Prabu Dhandhanggendis yang terkenal sesudah prabu Jayabaya. Dalam Serat Purwaukara, Dhandhanggula diberi arti ngajeng-ajeng kasaean, bermakna menanti-nanti kebaikan.

•  6). Durma

 

Durma dari kata jawa klasik yang berarti harimau. Sesuai dengan arti itu, tembang Durma berwatak atau biasa diguanakan dalam suasana seram.

 

 

•  7). Mijil

 

Mijil berarti keluar. Selain itu , Mijil ada hubungannya dengan Wijil yang bersinonim dengan lawang atau pintu. Kata Lawang juga berarti nama sejenis tumbuh-tumbuhan yang bunganya berbau wangi. Bunga tumbuh-tumbuhan itu dalam bahasa latin disebut heritiera littoralis.

 

 

 

•  8). Kinanthi

 

Kinanthi berarti bergandengan, teman, nama zat atau benda , nam bunga. Sesuai arti itu, tembang Kinanthi berwatak atau biasa digunakan dalam suasana mesra dan senang.

 

 

•  9). Gambuh

 

Gambuh berarti ronggeng, tahu, terbiasa, nama tetumbuhan. Berkenaan dengan hal itu, tembang Gambuh berwatak atau biasa diguanakan dalam suasana tidak ragu-ragu.

 

 

•  10). Wirangrong

 

Wirangrong berarti trenyuh (sedih), nelangsa (penuh derita), kapirangu (ragu-ragu),. Namun dalam teks sastra, Wirangrong digunakan dalam suasana berwibawa.

 

 

•  11). Jurudemung

 

Jurudemung berasal dari kata juru yang berarti tukang, penabuh, dan demung yang berarti nama sebuah perlengkapan gamelan. Dengan demikian, Jurudemung dapat berarti penabuh gamelan. Dalam Serat Purwaukara, Jurudemung diberi arti lelinggir kang landep atau sanding (pisau) yang tajam.

 

 

•  12). Girisa

 

Girisa berarti arik (tenang), wedi (takut), giris (ngeri). Girisa yang berasal dari bahasa Sansekerta, Girica adalah nama dewa Siwa yang bertahta di gunung atau dewa gunung, sehingga disebut Hyang Girinata. Dalam Serat Purwaukara, Girisa diberi arti boten sarwa wegah, bermakna tidak serba enggan, sehingga mempunyai watak selalu ingat.

 

 

•  13). Pucung

 

Pucung adalah nama biji kepayang, yang dalam bahasa latin disebut Pengium edule. Dalam Serat Purwaukara, Pucung berarti kudhuping gegodhongan (kuncup dedaunan) yang biasanya tampak segar. Ucapan cung dalam Pucung cenderung mengacu pada hal-hal yang bersifat lucu, yang menimbulkan kesegaran, misalnya kucung dan kacung. Sehingga tembang Pucung berwatak atau biasa digunakan dalam suasana santai.

 

 

•  14). Megatruh

 

Megatruh berasal dari awalan am, pega dan ruh. Pegat berarti putus, tamat, pisah, cerai. Dan ruh berarti roh. Dalam Serat Purwaukara, Megatruh diberi arti mbucal kan sarwa ala (membuang yang serba jelek). Pegat ada hubungannya dengan peget yang berarti istana, tempat tinggal. Pameget atau pamegat yang berarti jabatan. Samgat atau samget berarti jabatan ahli, guru agama. Dengan demikian, Megatruh berarti petugas yang ahli dalam kerohanian yang selalu menghindari perbuatan jahat.  

 

 

•  15). Balabak,

 

Balabak dalam Serat Purwaukara diberi arti kasilap atau terbenam. Apabila dihubungkan dengan kata bala dan baka, Balabak dapat berarti pasukan atau kelompok burung Bangau. Apabila terbang, pasukan burung Bangau tampak santai. Oleh karena itu tembang Balabak berwatak atau biasa digunakan dalam suasana santai.

 

 

Kemudian mana yang benar? Saya kembalikan kepada pemahaman dan kebijaksanaan para pembaca artikel ini……

 

 
Reply | Threaded
Open this post in threaded view
|  
Report Content as Inappropriate

Re: Tembang “Macapat” (Berbagai arti nama dalam Kandungan Isinya)

ady sarwanto sarwanto
Dear mas Herman
dan kawan-kawan,

terimakasih untuk emailnya, meskipun membuat saya menjadi tambah bingung lo..... he he he

menurut saya, bukan mau cari mana yang benar!
yang pasti, semua tembang tersebut selain memang enak didengar juga mengandung 'pitutur' yang sangat penting dan mendasar.

Saya yakin, tembang macapat tersebut akan sangat bermanfaat dalam memperkuat kualitas 'pengasuhan anak' sejak usia dini dan bahkan sejak masih dalam kandungan.

alangkah berbahagianya anak-anak zaman dahulu kalau yang sudah bisa mendengarkan / merasakan alunan tembang macapat tersebut.
pertanyaan dan tantangan kemudian adalah, bagaimana dengan anak-anak kita sekarang.........

siapa tahu ada semangat dan juga inisiatif untuk meraktualisasikan kembali spiritualitas jawa lewat tembang2 kepada keluarga2 dan anak-anak yang kita cintai.....

salam,
ady




________________________________
From: Herman Adriansyah <[hidden email]>
To: [hidden email]
Cc: [hidden email]
Sent: Tuesday, January 6, 2009 11:57:33 PM
Subject: [Spiritual-Indonesia] Tembang “Macapat” (Berbagai arti nama dalam Kandungan Isinya)



 Cuma ingin menambah warna
salam
h3m4n
 
Tembang “Macapat”
(Berbagai arti nama dalam Kandungan Isinya)
 
Tembang macapat merupakan tembang yang konon berasal dari kata “mocone papat papat” (membacanya empat empat), didalam tembang Macapat tersebut dibagi menjadi beberapa jenis nama tembang yang menyiratkan sandi didalam nama jenis tembang macapat  tersebut, berbagai tafsir nama nama jenis tembang macapat ternyata sangat beragam, mungkin hal ini sangat tergantung dari kemampuan daya tafsir dari penafsir arti nama tembang tembang tersebut…. dan sepertinya terpengaruh dari pergolakan sejarah dari budaya yang berada di tanah jawa…. Berbagai tafsir atas nama nama jenis tembang Macapat yang dapat saya kumpulkan sebagai berikut :
 
 
1. Maskumambang
 
memvisualisasikan “jabang bayi” yang masih ada di dalam kandungan ibunya, masih belum kelihatan jenis kelaminnya (bisa lelaki atau perempuan), “kumambang” mengandung arti hidupnya mengabang didalam perut ibunda nya
 
 
2. Mijil
 
artinya sebuah kelahiran dari dalam perut ibunda nya, sudah jelas terlihat jenis kelaminnya.
 
3. Kinanthi
 
berasal dari kata “kanthi” atau tuntunan yang berarti di tuntun supaya bisa berjalan dalam kehidupan di alam dunia.
 
 
4. Sinom
 
berarti “kanoman” (kemudaan/usia muda), berarti adalah waktu luang pada masa muda untuk menimba ilmu sebanyak banyaknya
 
 
 
5. Asmaradana
 
berarti perasaan asmara/cinta, perasaan saling menyukai yang sudah menjadi kodrat ilahi (perasaan lelaki dan perempuan)
 
6. Gambuh
 
berasala dari kata “jumbuh/sarujuk” (cocok) yang berarti sudah cocok kemudian dipertemukan antara pria dan wanita yang sudah memiliki perasaan asmara, agar menjadikan sebuah pernikahan.
 
7. Dhandhanggula
 
menggambarkan hidup orang tersebut sedang merasa senang senang nya, apa yang dicita citakan bisa tercapai, bisa memiliki keluarga, mempunyai keturunan, hidup berkecukupan untuk sekeluarga. Sebab itu dia merasa bergemira hatinya, bisa disebut lagu “dandhanggula”
 
8. Durma
 
berasal dari kata “darma/weweh” (berdarma/memberika n sumbangan). Bila orang sudah merasa berkecukupan maka kemudian timbul rasa welas asihnya kepada sesama yang sedang ada masalah, sebab itu kemudian tibul persaan iba dan ingin memberikan sumbangan kepada semua, sebab itu memang sudah menjadi watak manusia yang ingin selalu berderma akibat dari welas asih hatinya.
 
9. Pangkur
 
”pangkur” berasal dari kata “mungkur” (mundur) yang berarti sudah memundurkan semua hawa napsunya, yang dipikirkan hanya berdarma kepada sesama mahluk;
 
10.Megatruh
 
berasal dari kata “megat roh” (melepaskan roh), roh atau nyawa sudah lepas dari badan jasadnya sebab sudah waktunya kembali ke tempat yang telah digariskan oleh Hyang Maha Kuasa
 
 
11.Pocung / Pucung
 
kalau sudah menjadi “lelayon” (mayat) badan jasad kemudian di pocong sebelum dikubur
 
 
1. Maskumambang
 
Lagu Maskumambang berkumandang
Dinyanyikan oleh dayang-dayang
Menghibur putri yang sedang mengandung
Agar jabang bayi lahir beruntung
 
2. Mijil
 
Lagu Mijil dinyanyikan untuk sang Putri
Sewaktu melahirkan sang bayi
Sebagai hiburan mengalami nyeri
Yang diderita hanya oleh dirinya sendiri
 
4. Kinanti
Lagu Kinanti dilagukan karena cinta
Kepada bayi yang mulai mengenal dunia
Secara perlahan mengenali Ibu dan Bapa
Mengharap cinta kasih yang mesra dari berdua
 
5. Sinom
Lagu Sinom dinyanyikan anak sudah muda belia
Membukakan mata akan kehidupan dunia yang nyata
Berkenalan dengan teman dan sanak saudara
Mempersiapkan diri mengarungi kehidupan didunia
 
 
6. Asmorandana
Lagu Asmorandana dinaynyikan dikala anak menjadi dewasa
Memilih kawan hidup untuk selamanya
Didasarkan kasih sayang dan cinta mesra
Dalam menuju ke jenjang Rumah Tangga
 
 
7. Gambuh
Lagu Gambuh berkumandang diudara
Mengiringi keputusan untuk mempersunting sang dara
Dengan meminang pilihan hati dengan gembira
Sebagai pelambang kesucian hati dan rasa cinta
 
 
8. Durmo
Lagu Durmo kembali dinyanyikan
Sewaktu kedua mempelai naik kepelaminan
Tanda akan syahnya suatu perkawinan
Saatnya keduanya menguatkan tali ikatan
 
 
9. Dandanggulo
Lagu Dandanggulo adalah berikutnya
Cobaan dalam saling memberi jiwa raga
Memberi tanpa mengharap imbalannya
Sebagai bukti akan kuatnya dalam bercinta
 
 
10. Giriso
Lagu Giriso menempati tempat istimewa
Kadang terasa risi dan cemas didalam dada
Apakah betul-betul anaku bahagia
Apakah terpenuhi kebutuhan hidupnya
 
 
11. Pangkur
Lagu Pangkur diciptakan untuk manusia
Yang telah mengalami hidup secukupnya didunia
Yang terbuka mata, hidup ini tidak mengumpulkan dunia saja
Suatu waktu akan ditinggalkan juga
 
 
12. Megatruh
Lagu Megatruh mengelu-elukan kedatangan Malaikat
Dimana saat jiwa akan diangkat
Dimana raga ditinggalkan untuk dirawat
Oleh sekalian keluarga dan kerabat
 
 
13. Pucung
Lagu Pucung dinyanyikan sebagai tanda
Supaya jenazah dimandikan menurut Agama
Dibungkus kain kafan dari kaki ke ujung kepala
Tanda bahwa pulang itu tidak membawa apa-apa
 
14. Wirangrong
 
Lagu Wirangrong adalah lagu penutup
Usailah masa hidup
Wirang artinya mengerti atau tahu cara hidup
Rong artinya lubang kubur dimana hidup ditutup
 
 
Penamaan Metrum Macapat
 
Dalam beberapa teori sastra jawa terdapat nama-nama jenis tembang macapat, kadang didapati bahwa jumlah metrumnya tidak sama. Perbedaan jumlah itu berkaitan dengan dimasukannya beberapa tembang tengahan dan tembang gede ke tembang macapat. Namun demikian nama metrum macapat sesuai dengan jenis tembangnya terdiri dari, Pucung, Mijil, Durma, Kinanthi, Asmaradhana, Pangkur, Sinom, Gambuh, Balabak, Jurudemung, Wirangrong dan Girisa. Penamaan kelimabelas metrum macapat di jabarkan oleh Laginem melelui beberapa sumber baik itu secara etmologi serta keterangan lainnya, kesemuanya dipaparkan berikut ini,
 
•  1). Pangkur
 
Pangkur berasal dari nama punggawa dalam kalangan kependetaan seperti tercantum dalam piagam-piagam berbahasa jawa kuno. Dalam Serat Purwaukara, Pangkur diberiarti buntut atau ekor. Oleh karena itu Pangkur kadang-kadang diberi sasmita atau isyarat tut pungkur berarti mengekor dan tut wuntat berarti mengikuti.
 
•  2). Maskumambang
 
Maskumambang berasal dari kata mas dan kumambang. Mas dari kata Premas yaitu punggawa dalam upacara Shaministis. Kumambang dari kata Kambang dengan sisipan – um. Kambang dari kata Ka- dan Ambang. Kambang selain berarti terapung, juga berarti Kamwang atau kembang. Ambang ada kaitannya dengan Ambangse yang berarti menembang atau mengidung. Dengan demikian, Maskumambang dapat diberi arti punggawa yang melaksanakan upacara Shamanistis, mengucap mantra atau lafal dengan menembang disertai sajian bunga. Dalam Serat Purwaukara, Maskumambang diberi arti Ulam Toya yang berari ikan air tawar, sehingga kadang-kadang di isyaratkan dengan lukisan atau ikan berenang.
 
 
•  3). Sinom
 
Sinom ada hubungannya dengan kata Sinoman, yaitu perkumpulan para pemuda untuk membantu orang punya hajat. Pendapat lain menyatakan bahwa Sinom ada kaitannya dengan upacara-upacara bagi anak-anak muada zaman dahulu. Dalam Serat Purwaukara, Sinom diberi arti seskaring rambut yang berarti anak rambut. Selain itu, Sinom juga diartikan daun muda sehingga kadang-kadang diberi isyarat dengan lukisan daun muda.
 
 
•  4). Asmarandana
 
Asmaradana berasal dari kata Asmara dan Dhana. Asmara adalah nama dewa percintaan. Dhana berasal dari kata Dahana yang berarti api. Nama Asmaradana berkaitan denga peristiwa hangusnya dewa Asmara oleh sorot mata ketiga dewa Siwa seperti disebutkan dalam kakawin Smaradhana karya Mpu Darmaja. Dalam Serat Purwaukara, Smarandana diberi arti remen ing paweweh, berarti suka memberi.
 
 
• 5). Dhangdhanggula
 
Dandhanggula diambil dari nama kata raja Kediri, Prabu Dhandhanggendis yang terkenal sesudah prabu Jayabaya. Dalam Serat Purwaukara, Dhandhanggula diberi arti ngajeng-ajeng kasaean, bermakna menanti-nanti kebaikan.
•  6). Durma
 
Durma dari kata jawa klasik yang berarti harimau. Sesuai dengan arti itu, tembang Durma berwatak atau biasa diguanakan dalam suasana seram.
 
 
•  7). Mijil
 
Mijil berarti keluar. Selain itu , Mijil ada hubungannya dengan Wijil yang bersinonim dengan lawang atau pintu. Kata Lawang juga berarti nama sejenis tumbuh-tumbuhan yang bunganya berbau wangi. Bunga tumbuh-tumbuhan itu dalam bahasa latin disebut heritiera littoralis.
 
 
 
•  8). Kinanthi
 
Kinanthi berarti bergandengan, teman, nama zat atau benda , nam bunga. Sesuai arti itu, tembang Kinanthi berwatak atau biasa digunakan dalam suasana mesra dan senang.
 
 
•  9). Gambuh
 
Gambuh berarti ronggeng, tahu, terbiasa, nama tetumbuhan. Berkenaan dengan hal itu, tembang Gambuh berwatak atau biasa diguanakan dalam suasana tidak ragu-ragu.
 
 
•  10). Wirangrong
 
Wirangrong berarti trenyuh (sedih), nelangsa (penuh derita), kapirangu (ragu-ragu), . Namun dalam teks sastra, Wirangrong digunakan dalam suasana berwibawa.
 
 
•  11). Jurudemung
 
Jurudemung berasal dari kata juru yang berarti tukang, penabuh, dan demung yang berarti nama sebuah perlengkapan gamelan. Dengan demikian, Jurudemung dapat berarti penabuh gamelan. Dalam Serat Purwaukara, Jurudemung diberi arti lelinggir kang landep atau sanding (pisau) yang tajam.
 
 
•  12). Girisa
 
Girisa berarti arik (tenang), wedi (takut), giris (ngeri). Girisa yang berasal dari bahasa Sansekerta, Girica adalah nama dewa Siwa yang bertahta di gunung atau dewa gunung, sehingga disebut Hyang Girinata. Dalam Serat Purwaukara, Girisa diberi arti boten sarwa wegah, bermakna tidak serba enggan, sehingga mempunyai watak selalu ingat.
 
 
•  13). Pucung
 
Pucung adalah nama biji kepayang, yang dalam bahasa latin disebut Pengium edule. Dalam Serat Purwaukara, Pucung berarti kudhuping gegodhongan (kuncup dedaunan) yang biasanya tampak segar. Ucapan cung dalam Pucung cenderung mengacu pada hal-hal yang bersifat lucu, yang menimbulkan kesegaran, misalnya kucung dan kacung. Sehingga tembang Pucung berwatak atau biasa digunakan dalam suasana santai.
 
 
•  14). Megatruh
 
Megatruh berasal dari awalan am, pega dan ruh. Pegat berarti putus, tamat, pisah, cerai. Dan ruh berarti roh. Dalam Serat Purwaukara, Megatruh diberi arti mbucal kan sarwa ala (membuang yang serba jelek). Pegat ada hubungannya dengan peget yang berarti istana, tempat tinggal. Pameget atau pamegat yang berarti jabatan. Samgat atau samget berarti jabatan ahli, guru agama. Dengan demikian, Megatruh berarti petugas yang ahli dalam kerohanian yang selalu menghindari perbuatan jahat.  
 
 
•  15). Balabak,
 
Balabak dalam Serat Purwaukara diberi arti kasilap atau terbenam. Apabila dihubungkan dengan kata bala dan baka, Balabak dapat berarti pasukan atau kelompok burung Bangau. Apabila terbang, pasukan burung Bangau tampak santai. Oleh karena itu tembang Balabak berwatak atau biasa digunakan dalam suasana santai.
 
 
Kemudian mana yang benar? Saya kembalikan kepada pemahaman dan kebijaksanaan para pembaca artikel ini……
 
 


     
Loading...