Quantcast

The Book of Mirdad - Kitab Rahasia dari Biara The Ark

classic Classic list List threaded Threaded
2 messages Options
Reply | Threaded
Open this post in threaded view
|  
Report Content as Inappropriate

The Book of Mirdad - Kitab Rahasia dari Biara The Ark

sony-wongso-3

http://www.anandkrishna.org/oneearth-indo/index.php?id=oem-books/oem-booksDetail&oem-booksid=103

The Book of Mirdad - Kitab Rahasia dari Biara The Ark
"Ada jutaan buku yang terdapat di muka bumi ini, namun The Book of Mirdad berada jauh di atas buku-buku lain yang pernah ada"

--OSHO--

The Book of Mirdad - Kitab Rahasia dari Biara The Ark

Karya : Mikhail Naimy - Sahabat & Penulis Biografi Kahlil Gibran
Ukuran : 14,5 x 21 cm
Jumlah : xxxviii + 296 hal
ISBN : 979-26-2002-8
Harga : Rp. 50.000,-

Rajutan sempurna legenda, mistisisme, filosofi dan puisi, buku ini berkisah tentang kedatangan sosok misterius, Mirdad, di sebuah biara yang terletak di sebuah biara yang terletak di sebuah pegunungan terpencil. Kendati mendapatkan penolakan dari Kepala Biara yang culas, Mirdad menjadi Guru bagi Tujuh Biarawan lainnya yang ditugaskan untuk mempertahankan komunitas spiritual warisan Nabi Nuh itu.

Lewat dialog dan argumen, paradoks dan tafsir-tafsir mimpi, Mirdad menyingkap jalan sejati bagi manusia untuk mencapai Pencerahan. Inilah salah satu karya sastra terbaik yang pernah dihasilkan dunia, di tulis oleh Mikhail Naimy, sastrawan besar Lebanon yang juga penulis biografi Kahlil Gibran.

Bila lewat The Prophet, Gibran telah "menyentuh" Tuhan. Lewat The Book of Mirdad, Naimy "memaparkan jalan" menuju Tuhan dengan keindahan bahasa yang melampaui Gibran.

Tentang Penulis:

Mikhail Naimy, lahir tahun 1889 di Baskinta, Lebanon. Sempat mengenyam pendidikan di Palestina dan Rusia, ia meraih gelar Liberal Art and Law dari University of Washington, tahun 1916. Di New York, bersama Kahlil Gibran dan delapan sastrawan muda lainnya, ia mendirikan sebuah gerakan revolusi Sastra Arab yang di kenal sebagai The Mahjar School. Tahun 1932, setelah meninggalnya Gibran, Naimy kembali ke Baskinta dan terus menulis hingga akhir hayatnya di tahun 1988.

----------------
BOOK REVIEW
----------------


Mirdad adalah perjalanan menuju sang hati
Hanya ada satu jalan untuk membaca Mirdad, dengan hatimu.
Hanya ada satu jalan untuk memahami Mirdad, dengan merasakannya dalam hatimu.
Hanya ada satu jalan untuk merayakan Mirdad, di dalam hatimu.

- Mona Darwish, pemerhati budaya asal Lebanon-

The Book of Mirdad adalah sebuah mahakarya dari sastrawan besar Lebanon Mikhail Naimy (1889-1988) penulis biografi Kahlil Gibran yang juga merupakan sahabat dekatnya. Dalam buku ini Mikhail Naimy mengambil kisah Nabi Nuh dan bahteranya kedalam karya monumentalnya ini. Bertahun-tahun setelah banjir besar Nuh dan keluarganya mendarat di pegunungan Ararat dan memutuskan untuk tinggal di daerah tersebut. Menjelang ajalnya Nuh berpesan pada anak-anaknyanya untuk membangun sebuah altar yang dinamai Puncak Mezbah di puncak tertinggi Ararat yang dikelilingi sebuah wisma berbentuk bahtera dalam ukuran yang lebih kecil yang disebut ?Bahtera?. Nuh juga berpesan agar api di altar tetap menyala dan wisma itu menjadi tempat suci sekelompok orang pilihan yang jumlahnya tak pernah melebihi atau kurang dari sembilan orang. Mereka akan dikenal sebagai ?Persaudaraan Bahtera? yang akan terus berada dalam biara Bahtera dan menjalankan semua aturan yang ada dan berdoa kepada
 Tuhan. Sembilan orang ini merupakan simbol dari delapan orang (Nuh beserta keluarganya yang selamat) dan seorang ?Penumpang Gelap?

Beberapa generasi telah berlalu ketika salah seorang dari Sembilan Saudara meninggal, dan datanglah seorang asing (Mirdad) ke gerbang Bahtera yang memohon untuk diterima menjadi anggota pengganti. Sesuai dengan tradisi Bahtera seharusnya orang asing tersebut dapat diterima karena ia adalah orang pertama yang datang setelah kematian salah seorang anggota persaudaraan. Namun Shamadam si Tertua dari anggota persaudaraan yang berpikiran sempit dan keras hati tidak menyukai penampilan Mirdad yang telanjang dan kotor dan penuh luka. Namun karena Mirdad memaksa dirinya untuk diterima dan Shamadan bersikeras untuk menolaknya akhirnya ia memohon si Tertua agar menjadikannya seorang pelayan. Jadilah Mirdad pelayan di Bahtera, sementara itu si Tertua tetap menantikan kedatangan seorang pengganti bagi saudaranya yang meninggal.

Tujuh tahun kemudian dalam sebuah pembicaraan antara kedelapan saudara, timbul perbedaan pendapat yang membingungkan diantara mereka. Dengan maksud mengubah kebingungan menjadi sebuah lelucon, Shamadam, Sang Tertua meminta Mirdad untuk angkat suara dan menunjukkan jalan keluar dari permasalahan yang terjadi. Inilah untuk pertama kalinya dalam tujuh tahun setelah kedatangannya Mirdad membuka suara dan apa yang Shamadam harapkan agar tercipta sebuah lelucon malah terjadi sebaliknya. Mirdad dengan penuh wibawa menguraikan jawaban dan petuah-petuahnya. Semenjak saat itulah ketujuh saudara menganggapnya sebagai Guru, sementara Shamadam sang tertua diam-diam menyimpan ketidaksukaannya dan berusaha mempengaruhi ketujuh saudara lainnya untuk menjauhi Mirdad bahkan berusaha untuk mengusirnya.

Sementara itu ketujuh saudara lainnya semakin lama semakin menghormati dan menganggap Mirdad sebagai Sang Guru dan menjadikannya tempat bertanya berbagai hal mulai dari pertanyaan siapa sebenarnya Mirdad dan berbagai pertanyaan lain yang meliputi berbagai aspek dalam kehidupan manusia. Percakapan para anggota Persaudaraan Bahtera dengan Mirdad inilah yang nantinya akan dicatat oleh Naronda sebagai saudara termuda sehingga memungkinkan percakapan ini menjadi sebuah kitab yang disebut dengan Kitab MIRDAD.

The Book of Mirdad disajikan dalam bentuk cerita berbingkai yang intinya berisi percakapan filosofis antara anggota persaudaraan dengan Mirdad. Tiga bab pertama buku ini diawali dengan kisah seorang pengembara asing yang setelah mendengar legenda biara Bahtera berniat untuk mendaki puncak Ararat untuk membuktikan kebenaran cerita tentang Bahtera dan Puncak Mezbahnya. Dalam perjalanan spiritualnya si pengembara ini menemui banyak tantangan hingga akhirnya mencapai puncak tertinggi dan bertemu dengan seorang biarawan yang ternyata adalah Sang Tertua Biara Bahtera ? Shamadam yang memberinya kitab MIRDAD.

Pada Bab-bab selanjutnya barulah buku ini memuat isi dari Kitab Mirdad yang terdiri dari 37 bab yang berisi percakapan-percakapan antara Mirdad dan kedelapan anggota Persaudaraan Bahtera. Dari dialog-dialog filosofis, argumen dan tafsir mimpi yang terdapat dalam buku ini pembaca akan diajak untuk menyingkap jalan sejati bagi manusia untuk mencapai pencerahan. Tak hanya itu, buku ini juga mengungkap misteri "Penumpang Gelap" yang konon menyertai dan mengajarkan Nabi Nuh ketika dalam bahteranya.

Buku ini memuat banyak sekali jalan-jalan menuju pencerahan jiwa, dalam hubungan antara manusia dengan Tuhan Tuhan Mirdad mengungkapkan bahwa Manusia adalah "Tuhan dalam balutan kain".

Manusia adalah tuhan dalam balutan kain. Waktu adalah balutan kain. Ruang adalah balutan kain. Daging adalah balutan kain, dan semua rasa dan segalanya adalah balutan kain. Sang ibu sangat mengetahui bahwa balutan kain bukanlah bayinya. Namun si bayi tak akan tahu bahwa ia terbalut kain. (hlm 55).

Dalam pengertian ini seolah Mirdad menyatakan bahwa ketidaksadaran akan ketuhannyalah yang membuat manusia hidup dalam penderitaannya.

Maka manusia meminta pertolongan. Tangis pilunya bergema melalui ruang dan waktu. Udara dipenuhi ratapannya. Laut terasa asin karena air matanya. Bumi disesaki makam-makamnya. Surga dikalahkan oleh doa-doanya. Dan semua karena ia tidak mengetahui makna Aku-nya yang merupakan balutan kain sebagaimana bayi yang terbalut kain (hlm 56)

Mirdad mengungkap bahwa manusia haruslah menerima kesadaran akan keilahian manusia. Ketaksadaran manusia akan ketidakilahiannya membuat manusia lupa untuk "membersihkan dan mempersiapkan ladang bagi tumbuh dan berbuahnya anggur ilahi" dalam dirinya.

Dalam hal cinta, Mirdad mengungkap bahwa Cinta adalah hukum Tuhan dan manusia harus hidup untuk belajar mencintai


Engkau hidup untuk belajar mencintai.
Engkau mencintai agar engkau belajar untuk hidup
Tak ada pelajaran lain yang harus dipelajari Manusia. (hlm. 87)



dan cinta haruslah dilakukan tanpa pamrih

Jangan mengharap pamrih dari Cinta. Cinta adalah imbalan untuk Cinta, seperti Kebencian adalah hukuman dari Kebencian.

Jangan menilai apapun berdasarkan Cinta. Karena Cinta tak pernah menilai seseorang kecuali diri sendiri.

Cinta tak dapat dipinjamkan atau disewakan; cinta tak dapat dijual atau dibeli; namun saat Cinta memberi, ia memberikan segalanya; dan ketika ia mengambil, ia mengambil semuanya. Yang ia ambil adalah yang ia beri. Yang ia beri adalah yang ia ambil. Terus demikian hari ini, hari esok dan selamanya (hlm 93).

Di akhir kitabnya Mirdad mengungkapkan bahwa kedatangannya ke biara Bahtera adalah untuk mengingatkan manusia akan bencana air bah yang lebih dasyat dibandingkan air bah di zaman Nuh. Sebab, bencana itu berasal dari dalam diri manusia sendiri.

Air bah bah api dan darah yang akan melanda bumi akan lebih dasyat dari yang terakhir. Akankah kalian siap mengapung, atau kalian akan tenggelam? (hlm 283)

Sekali lagi kukatakan kepadamu, Engkaulah air bah, bahtera dan nahkodanya. Nafsu kalianlah air bahnya. Iman kalianlah nahkodanya. Namun di atas semua itu adalah kehendakmu. Dan lebih dari itu semua adalah pengertianmu. (hlm 284)

Masih banyak lagi hal-hal menarik tentang makna kehidupan akan kita temui ketika membaca buku ini. Buku ini bisa dikatakan sebuah kitab kehidupan. Walau memasukkan unsur legenda dan mistisme yang berkembang dalam tradisi Kristen, Islam dan Yahudi namun buku ini secara jelas menyampaikan berbagai pesan kehidupan yang universal. Rasanya tak ada satupun juga kalimat-kalimat yang sia-sia tertulis dalam buku ini, hampir semuanya mempunyai makna yang dalam.

Dalamnya makna filosofis dalam untaian kalimat-kalimat yang dirangkai secara indah dalam buku ini tentu saja bisa membuat pembaca yang tak sabar akan kesulitan menangkap maknanya, buku ini memang bukan buku yang mudah diselesaikan hanya dalam sekali duduk, namun jika pembaca mau membacanya secara sabar dan memberi ruang untuk merenungkannya secara baik, buku ini akan memunculkan rangkaian mutiara kehidupan indah yang dapat dijadikan tuntunan hidup. Sepertinya buku ini memang bukan buku yang hanya sekali dibaca lalu selesai dan dilupakan, buku ini akan semakin indah dan bermakna jika kita terus membacanya berulang-ulang. Semakin dibaca ulang semakin banyak sarinya diperoleh.

Karena plot dalam buku ini tidak seperti novel maka bab-babnya bisa dibaca ulang mulai dari mana saja sesuai dengan kebutuhan pembacanya. Namun tak ada salahnya juga untuk membaca ulang secara urut mulai dari depan hingga belakang, kedua-duanya memberikan kedalaman makna yang sama.

Bertaburannya kalimat-kalimat bermakna yang terdapat dalam buku ini tentunya memungkin untuk dibuatkan buku kumpulan kata-kata mutiara yang diambil dari buku ini, hal ini sempat pula diusulkan oleh Mula Harahap (praktisi perbukuan) dalam acara bedah buku ini beberapa waktu yang lalu yang menyarankan penerbit agar menerbitkan tersendiri kutipan-kutipan kalimat dalam The Book of Mirdad sebagai kata-kata mutiara.

Akhirnya seperi diungkap oleh Mona Darwish (pemerhati budaya asal Libanon) dalam kata pengantarnya. Ajaran-ajaran Mirdad dalam buku ini, pada hakikatnya mengajak kita untuk mentransformasikan kesadaran agar dapat menemukan cahaya ilahi yang sudah berada dalam diri. The Book of Mirdad tak lain adalah ?ayat? mengagumkan yang dalam harapanku dapat menyinari hati banyak orang di Indonesia. (hlm. xxviii)

Tak berlebihan rasanya jika spiritualis India Osho, seperti yang tertera pada sampul buku ini mengatakan bahwa"Ada jutaan buku yang terdapat di muka bumi ini,namun The Book of Mirdad berada jauh di atas buku-buku lain yang pernah ada"


-OSHO-

@h_tanzil
http://bukuygkubaca.blogspot.com/



      Now surf faster and smarter ! Check out the new Firefox 3 - Yahoo! Edition http://downloads.yahoo.com/in/firefox/
Reply | Threaded
Open this post in threaded view
|  
Report Content as Inappropriate

Re: The Book of Mirdad - Kitab Rahasia dari Biara The Ark

sony-wongso-3
http://www.anandkrishna.org/oneearth-indo/index.php?id=oem-news/oem-newsDetail&oem-newsid=114

7 APRIL 2006: Bedah Buku MIRDAD
Kang Akmal di milis Apresiasi-Sastra setelah menghadiri "60 Minute Celebrate Life with Anand Krishna & Friends". Karena Kang Akmal ini seorang wartawan/jurnalis

From: "Akmal N. Basral"
To:

Jumat, 7 april, saya dikontak shinta dari one earth media, menanyakan apakah saya bisa datang pada "60 minutes celebration of life with Anand Krishna and friends"? Tema pertemuan malam itu adalah diskusi buku "the book of mirdad: kitab rahasia dari biara the ark" yang ditulis oleh mikhail naimy.

Ini adalah acara rutin bulanan yang digelar tiap jumat pertama. Sebelum ini, shinta sudah mengundang saya 2 kali dengan topik bahasan yang berbeda, tapi selalu ada saja kendala yang membuat saya berhalangan datang.

Dan jumat malam itu, kembali saya sempat bimbang, karena bertepatan dengan hari kedua pembacaan puisi ws rendra [yang tak sempat saya saksikan pembacaan malam sebelumnya]. Tapi setelah membaca laporan endah tentang pembacaan puisi mas willy di milis, juga laporan dari seorang kawan via sms, akhirnya saya memutuskan untuk mengetahui lebih jauh tentang the book of mirdad, dan profil penulisnya, mikhail naimy. Mudah-mudahan masih ada kesempatan untuk menyaksikan pembacaan puisi mas willy di lain waktu.

Saya tiba di qb kemang sekitar pukul 19.05. Dari halaman parkir sudah terdengar lagu dinamis, dengan gitar, rebana dan tambourine. Berdentam riang.

Begitu memasuki toko buku qb, seorang wanita berbaju merah menyala menyapa, "mas akmal?" saya tak yakin kami pernah berjumpa sebelumnya, karena itu dengan ragu saya menjawab, "mbak shinta?" dia mengangguk. Suara musik semakin jelas.

Shinta menemani saya masuk ke ruangan kafe yang selalu dijadikan tempat diskusi. Tiga penyanyi perempuan diiringi 5 musisi yang memainkan gitar, tambourine dan rebana sedang tampil. Mereka membawakan lagu-lagu daerah indonesia dari tapanuli atau minang, namun dengan syair baru yang menggambarkan keragaman masyarakat dan indahnya persatuan.

Seakan bisa membaca benak saya, shinta langsung menjelaskan, "itu the torchbearers, kelompok musik yang selalu membuka diskusi buku kita." hmm, menarik juga konsep 'home band' untuk sebuah diskusi buku. Shinta lebih dulu minta maaf karena sudah beberapa kali berniat hendak datang ke acara selasar omah, tapi juga menghadapi kendala di menit-menit terakhir.

Shinta lalu memperkenalkan saya dengan beberapa kawan dari one earth media. Selesai lagu, acara diskusi segera dimulai. Dua pembahas dipanggil ke depan: ahmad yulden erwin dan mula harahap. Dengan mula, penggiat industri perbukuan nasional, saya sudah kenal karena kami pernah sama-sama menjadi pembahas novel "laskar pelangi" (andrea hirata) di depdiknas, desember lalu. Tapi dengan erwin, inilah kali pertama saya bertatap muka langsung, meskipun namanya sudah beberapa kali saya dengar, baik sebagai penyair, aktivis lsm (terutama gerak/gerakan rakyat anti korupsi), dan juga sebagai penerjemah. Buku terjemahan erwin yang sedang saya baca adalah "maarif, kitab kearifan" karya bahauddin walad ayahanda jalaluddin rumi (yang juga diterbitkan one earth media).

Erwin diberi kesempatan bicara pertama, dan menjelaskan seumpama fiksi, maka 'the book of mirdad' adalah cerita berbingkai dengan cerita inti tentang persaudaraan sembilan orang yang menghuni biara bahtera (the ark), sisa artefak peninggal nabi nuh. Ketentraman biara itu akhirnya berubah setelah seorang saudara meninggal dan digantikan dengan datangnya mirdad, seorang pengelana yang tak diketahui asalnya. Mirdad belakangan dianggap sang guru oleh ketujuh biarawan lain kecuali biarawan tertua.

Erwin lalu mengutip beberapa bagian dari kitab itu dan menjelaskan konsep "manusia adalah tuhan yang terbalut kain" dalam pemahaman mirdad. Erwin juga menyebutkan bahwa ketika mikhail naimy (sastrawan arab asal lebanon yang menulis the book of mirdad) di tahun 1950-an, jauh sebelum itu, di nusantara sendiri sudah ada hamzah fansuri yang berkeyakinan, "tuhan dan hamba tiada beda", semacam faham wahdatul wujud yang menafikan sekat antara tuhan dan hamba.

Konsep 'penumpang gelap' dalam bahtera nuh, mendapat sorotan lebih serius dari erwin, karena 'penumpang gelap' ini adalah guru nuh. "bahkan setiap nabi pun mempunyai guru masing-masing yang mungkin tak dikenal luas oleh dunia," katanya.

Mula harahap, seperti biasa dalam posting-postingnya di milis pasarbuku, selalu punya stok humor yang menyegarkan sebelum masuk ke materi. Ia memetakan tiga hal: spiritualitas -- imajinasi -- the book of mirdad, dari sudut pandang seorang penganut kristen protestan. Dalam introduksinya, mula menggambarkan spiritualitas seperti cinta masa kecilnya pada siswi satu kelas yang selalu rindu ingin bertemu, meskipun tak selalu tahu apa yang sebenarnya diinginkan.

Mula bilang, elemen fiksi dan metafor dalam kitab-kitab suci, dan juga buku-buku spiritualis adalah hal yang paling disenanginya, ketimbang sebuah usaha keilmuan untuk membuktikan artefak-artefak relijius seperti bahtera nuh. Imajinasi yang dibiarkan hidup subur dalam menafsirkan ayat, bagi mula adalah salah satu keindahan dalam beragama. Karena itu, ia agak terganggu dengan 'the passion of the christ' garapan mel gibson yang begitu detil dan rinci menggambarkan yesus sebagai tubuh dan daging. Mula berujar, "kadang-kadang saya merasa iri dengan kawan-kawan muslim, karena dalam islam tidak diperbolehkan penggambaran fisik atas nabi dan para manusia suci lainnya. Larangan itu justru baik bagi kita untuk terus menghidupkan imajinasi," katanya.

Tapi kedua pembicara sepakat, bahwa selain indah 'the book of mirdad' juga bukan buku yang mudah untuk dicerna sekali telan. Banyak sekali mutiara yang bertaburan sehingga mula menyarankan penerbit agar menerbitkan tersendiri kutipan-kutipan kalimat dalam the book of mirdad sebagai kata-kata mutiara.

Ketika tiba sesi tanya jawab, moderator menyebutkan nama saya, dan profesi sebagai novelis (bukan wartawan), dan meminta saya untuk berkomentar. Tapi karena saya belum membaca mikhail naimy itu, apa yang bisa saya komentari selain bertanya apa pengertian kedua pembahas tentang konsep "penumpang gelap" itu dalam konteks yang lebih kontemporer sekiranya "bahtera nuh" itu adalah sebuah "perahu besar yang banyak bocor seperti indonesia"?

Erwin menjawab bahwa -- setelah memaparkan sejumlah argumen -- pada akhirnya, "penumpang gelap" dalam setiap bahtera itu adalah diri kita masing-masing. Sedangkan mula, memilih untuk "sama bingungnya" dengan saya kalau harus melihat hal ini dalam konteks indonesia.

Setelah beberapa pertanyaan dan komentar dari audiens lain, akhirnya diadakan penarikan door prize. Ternyata saya terpilih sebagai satu dari dua penerima door prize, berupa buku percakapan achdiat k. Mihardja, anand khrisna, dan maya safira muchtar: tiga generasi dengan satu visi, dan satu buku anand khrisna berjudul menuju indonesia baru, yang banyak mengutip soekarno dan moh. Natsir.

Anand khrisna lalu diminta menutup acara yang sudah sampai di pukul 20.30 itu (berarti sudah 90 menit, tidak 60 menit seperti judul acara).

Dalam rangkumannya, anand menjelaskan banyak background tentang persahabatan mikhail naimy dan kahlil gibran. Keduanya adalah sastrawan arab pendiri the mahjar school di new york. Menurut anand, ia membaca 'the book of mirdad' karena adanya rekomendasi dari osho, spiritualis terkemuka dari india yang menjadi salah seorang inspirator bagi anand. Bagi osho, menurut anand, "jika dari jutaan buku yang ada di bumi ini lenyap, maka dia berusaha mempertahankan 2- 3 buku saja, dan salah satunya adalah the book of mirdad". [endorsement di sampul depan the book of mirdad bertuliskan begini: 'ada jutaan buku yang terdapat di muka bumi ini, namun the book of mirdad berada jauh di atas buku-buku lain yang pernah ada' - osho].

Anand lalu menjelaskan ihwal persahabatan gibran-naimy. Menurut anand, ketika gibran menulis 'sang nabi' (the prophet), penyair lebanon yang banyak dikutip sajak-sajak cintanya itu berkorespondensi secara intensif dengan naimy. Bahkan banyak sekali pemikiran naimy yang merembes masuk ke dalam 'the prophet'. Namun sejauh itu naimy memilih untuk menjadi "penumpang gelap" dan berada di belakang layar. Baru setelah gibran meninggal pada tahun 1931, naimy mulai tampil sebagai penulis biografi gibran dan belakangan juga sebagai sastrawan dan dramawan arab terkemuka.

Menurut anand, persahabatan gibran-naimy yang awalnya tersembunyi dari mata publik itu adalah karena keduanya berasal dari dua kubu kristen yang tak pernah akur di lebanon. Kedua kubu itu bahkan lebih memilih untuk berkomunikasi dengan muslim lebanon ketimbang dengan kubu yang lain. "dan jangan lupa konteks lebanon saat itu, sebagai negeri kristen bentukan prancis, sebagaimana halnya israel sebagai negeri yahudi bentukan inggris," papar anand khrisna.

Anand yang sudah tiga kali membaca the book of mirdad menyatakan jika lewat 'sang nabi' gibran telah 'menyentuh' tuhan, maka lewat 'the book of mirdad', maka naimy 'memaparkan jalan' menuju tuhan dengan keindahan bahasa yang melampaui gibran.

Setelah acara ditutup, anand khrisna mendekati saya, dan dengan ramah menyatakan kegembiraannya karena saya datang pada acara ini. Ia juga mengundang saya untuk datang ke ciawi, sabtu keesokan harinya untuk sebuah diskusi tentang kebangsaan dan sufi mehfil (pesta para sufi). Undangan serupa juga diulangi oleh shinta.

Kemudian saya menghampiri erwin dan mula yang masih di kursi pembahas. Anand ternyata juga beranjak maju ke depan, dan kami berempat terlibat dalam pembicaraan ringan tentang industri perbukuan di tanah air.

Ternyata malam itu bukan hanya saya yang pertama kalinya berbicara dengan anand khrisna, mula harahap pun bilang bahwa saat itulah ia pertama kalinya bicara langsung dengan salah seorang spiritualis indonesia terkemuka itu.

Akhirnya ahad pagi ini, saya sempat juga membaca 'the book of mirdad'. Buku setebal 290 halaman ini tampaknya memang harus dikunyah beberapa kali sebelum sarinya keluar dan menyegarkan jiwa. Mudah-mudahan dalam waktu tidak terlalu lama, saya punya cukup waktu untuk menulis review singkat tentang 'the book of mirdad'.


Loading...